Sabtu, 17 Mei 2014

Hogwarts' Beloved : Chapter 5

Chapter 5 : It Doesn’t Sound Like A Bad Idea
                                           (Setting : 1 years prior HP1 )

Liburan Natal telah berakhir dan musim semi sudah di depan mata. Di bawah pimpinan Charlie, team Gryffindor berlatih keras untuk memenangkan kejuaraan Quiddith tahun ini. Tidak jarang Nicole dan Gisselle melihat si kembar berlatih keras hingga larut malam. Hari ini pun tidak jauh berbeda. Nicole yang masih bangun, bisa mendengar suara mereka memasuki ruang rekreasi dan masuk kedalam kamar mereka masing-masing. Terutama karena di team ada Angelina yang juga merupakan teman sekamar Nicole dan Gisselle, Nicole bisa mendengar dengan jelas pintu kamarnya di buka ketika Angelina masuk ke dalam kamar.

Setelah beberapa lama berguling ke kanan dan ke kiri di ranjangnya sendiri, Nicole memutuskan kalau dia tidak bisa tidur dan akan berjalan-jalan sejenak ke ruang rekreasi. Gadis berambut cokelat itu segera turun dari ranjangnya dan mengambil syalnya lalu berjalan keluar dari kamar, semua ia lakukan tanpa suara sekecil apapun. Ia tidak mau membangunkan Gisselle yang sudah tidur pulas, dan Angelina yang jelas membutuhkan istirahat untuk menghadapi pertandingan besok.

Perapian di ruang rekreasi masih menyala, walau kecil dan sudah sedikit redup. Nicole hendak mengambil tempat di kursi yang paling dekat dengan perapian, namun betapa kagetnya dia ketika ia mendapati kursi itu telah di tempati oleh seorang pemuda berambut cokelat yang berbadan tegap, Oliver Wood. Pemuda itu tertidur pulas di kursi nyaman. Di tangannya terdapat papan yang Nicole kenali sebagai papan yang biasa Charlie gunakan untuk menjelaskan taktik Quidditch. Ia pasti tertidur ketika sedang me-review ulang taktik.

Tanpa sadar, Nicole mengambil tempat duduk diseberangnya, dimana ia bisa memperhatikan pemuda itu dengan jelas. Pemuda itu bisa masuk angin jika ia tetap tidur disana, tapi Nicole tidak tega untuk membangunkannya. Lalu, sebuah ide terlintas di benaknya. Nicole berdiri dan mendekati Oliver lalu melepaskan syal yang melilit lehernya tadi dan memasangkannya pada Oliver. Perlu waktu yang cukup lama dan kehati-hatian yang luar biasa karena Nicole berusaha sebisa mungkin untuk tidak membangunkan Oliver.

Setelah berhasil, gadis itu berbisik pelan, “Semoga berhasil.” Dan tersenyum pada pemuda itu, lalu segera berbalik dan berjalan menuju kamarnya lagi. Ia tidak tahu bahwa saat ia sedang memasangkan syalnya, Oliver terbangun namun pemuda itu tidak bergerak ataupun melakukan apapun. Ia berpura-pura masih tertidur ketika Nicole memakaikan syalnya dan berbisik. Setelah mendengar pintu kamar yang tertutup, tanda Nicole telah kembali ke kamarnya, Oliver membuka matanya dan memandang syal yang ia pakai sekarang.

“Berantakan..” Gumam Oliver sambil tertawa kecil melihat cara Nicole melilitkan syalnya dengan berantakan. Ia menggenggam syal itu dengan erat, mukanya semakin memerah ketika ia mengingat kejadian yang baru saja terjadi.

Oliver menampar kedua pipinya dengan pelan untuk kembali memfokuskan dirinya dan bangkit berdiri. “Aku harus berusaha sekuat tenaga besok, untuk Gryffindor dan untuk dirinya juga.”

***

Pertandingan pagi itu adalah Gryffindor melawan Ravenclaw. Jika mereka menang, Gryffindor akan naik ke posisi dua dalam turnamen. Jika nanti mereka mengalahkan Slytherin di pertandingan berikutnya, mereka akan memenangkan piala Quidditch. Seluruh sekolah bersemangat untuk menonton pertandingan yang akan dilakukan sebentar lagi. Nicole sedang berusaha membujuk Gisselle untuk sarapan. Gadis itu tidak bermain, tapi ia justru yang menjadi tegang seakan-akan menggantikan si kembar yang makan dengan lahap.

“Kau harus makan!” Kata Nicole sambil berusaha membuat Gisselle memakan roti bakarnya. Gisselle hanya mengigit ujung rotinya sambil sesekali melirik ke arah Fred dan George. “Mereka akan baik-baik saja. Tapi kau tidak akan baik-baik saja bila tidak makan!” Omel Nicole lagi, kali ini berhasil membuat Gisselle makan lebih banyak dari sebelumnya.

“Ke ruang ganti.” Charlie yang duduk tidak jauh dari mereka berdua mendadak berdiri, dan seluruh anggota teamnya ikut serta, termasuk Oliver dan si kembar. Nicole dan Gisselle mengucapkan selamat berhasil pada semua anggota team Gryffindor yang dapat mendengar mereka sebelum mereka mengikuti Charlie berjalan menuju ruang ganti.

Setelah makan pagi, lebih cepat dari yang lain karena mereka ingin mendapat tempat yang bagus, Nicole, Gisselle, Elly dan Cedric berjalan menuju lapangan Quidditch. Nicole yang tidak memiliki syalnya, mengigil kedinginan ketika angin musim dingin menerpanya.

“Nicole, dimana syalmu?” Tanya Elly ketika menyadari temannya tidak memakai syal. Otomatis Cedric dan Gisselle juga menoleh ke arah Nicole.

“Eh, syalku..” Nicole bingung menjawab pertanyaan Elly, disebabkan karena ia enggan menceritakan bahwa dia memberikan syalnya pada Oliver kemarin malam. Kecanggungannya karena tidak menjawab pertanyaan tadi diselamatkan dengan kenyataan bahwa Elly dan Cedric harus berjalan ke arah yang berbeda untuk dapat duduk di kursi penonton milik Hufflepuff. Setelah mengucapkan ‘sampai nanti’, Nicole dan Gisselle berjalan kearah yang lain.

Tepat ketika mereka hendak naik ke atas untuk mencapai kursi penonton, Oliver berlari sambil meneriakan nama Nicole, membuat gadis itu terkejut. Tidak hanya Nicole, bahkan Gisselle pun kaget. Untung saja daerah tersebut masih sepi karena sebagian besar anak menunggu saat-saat terakhir untuk memasuki lapangan agar tidak terkena udara dingin terlalu lama.

“Nicole!” Panggil Oliver sekali lagi. Nicole berjalan pelan menuju pemuda itu dan berhenti tepat di depannya sementara Gisselle menunggu di belakangnya.

“Ini.” Ujar Oliver seraya melilitkan syal pada Nicole, “Kau bisa masuk angin bila tidak memakainya.”

Muka Nicole langsung memerah, apalagi ketika Oliver memakaikan syal padanya, muka pemuda itu otomatis mendekat dengan mukanya sendiri. Oliver juge menyadari hal yang sama karena mendadak mukanya memerah juga dan buru-buru berjalan mundur ketika sudah selesai memasangkan syal itu.

"T-t-terima kasih atas syalnya. Sampai nanti!" Oliver buru-buru berbalik dan berjalan pergi menuju ruang ganti, tempat tim Quidditch Gryffindor sedang bersiap-siap untuk bertanding.

Nicole ragu sejenak, sebelum akhirnya berteriak ke punggung Oliver. "Semoga berhasil!!" Oliver berhenti berjalan dan menoleh. Dari ekspresinya, dia jelas merasa terkejut. Namun lalu dia tersenyum dan mengangkat kepalan tangannya. Nicole menatap punggung pemuda itu sampai hilang dari pandangan, baru berbalik dan berjalan ke arah Gisselle yang sepertinya menganggap kalau dia sedang menjadi pengganggu dalam sesuatu.

Kedua gadis itu mengambil tempat favorite mereka di kursi penonton Gryffindor. Kursi di belakang mereka mulai diisi oleh murid-murid yang lain. Gisselle dengan malu-malu menoleh ke arah Nicole.

"Nicole?"

"Hm?"

"Boleh aku bertanya sesuatu?" Sebagai jawaban, Nicole mengangguk pada sahabatnya itu. Gisselle tampak takut untuk mengatakan pertanyaannya itu selama sesaat sementara Nicole menunggu dengan sabar.

"A-a-apakah kau sedang menyukai seseorang?"

Pertanyaan Gisselle nyaris membuat Nicole terjungkal dari kursinya. "A-apa?"

"M-m-maaf!! Aku tidak bermaksud, maksudku, aku hanya penasaran. Kau tidak perlu menjawab bila tidak mau." Kata Gisselle terburu-buru setelah melihat reaksi Nicole. Tapi Nicole hanya menggeleng.

"Tidak apa-apa. Aku hanya terkejut tadi. Menyukai seseorang ya.." Nicole melipat kedua lengannya, berpikir sejenak. "Entahlah, aku tidak yakin."

"Maksudmu?"

"Aku tidak yakin dengan perasaanku sendiri."

Gisselle kembali merasa ragu dan takut sejenak, walau akhirnya memberanikan diri juga. "A-apakah kau punya perasaan p-pada G--" Kata-kata Gisselle terpotong suara Lee, yang volumenya sudah di besarkan dengan sihir, membuka pertandingan Quidditch hari itu. Memang bukan salah pemuda itu, tapi Gisselle merasa sedikit kesal karena rasanya di ganggu saat dia akhirnya berhasil mengumpulkan keberanian.

Seakan-akan mendapat 'berkat', selama pertandingan, Oliver tidak mengijinkan Quaffle dari tim Ravenclaw masuk kedalam gawang Gryffindor sama sekali. Pertandingan berjalan sepihak. 25 menit setelah pertandingan dimulai, Charlie menangkap snitchnya dan Gryffindor menang. Seluruh stadion Quiddicth penuh dengan sorakan dari kerumunan berwarna merah dan emas. Nicole dan Gisselle ikut bersorak bersama anak Gryffindor yang lain, walau suara sorakan Gisselle masih terlalu pelan untuk ukuran sebuah 'sorakan'.

Pesta kemenangan pun langsung diadakan di ruang rekreasi. Makanan dan minuman dibawa oleh si kembar dari dapur, mereka mengetahuinya setelah mendesak Nicole memberitahu mereka karena jalan masuknya tidak tercantum di Peta Perampok, peta ajaib Hogwarts yang mereka temukan di kantor Filch tahun lalu.

Sementara Fred dan George mempertunjukan berbagai lelucon di tengah ruangan, Nicole mengambil tempat duduk sedikit jauh dari mereka. Berbeda dengan si kembar, Nicole tidak suka menjadi pusat perhatian, sudah cukup ia di perhatikan secara berlebihan karena dia adalah cucu angkat Dumbledore saja.

Oliver melihat sosok yang dicarinya itu duduk di sofa dekat jendela dan memutuskan untuk duduk disampingnya. Nicole tidak memprotes saat pemuda itu langsung duduk di sebelahnya.

"Selamat atas kemenangan kalian." Kata Nicole sambil memberikan Oliver senyuman kecil. Oliver membalas senyum itu.

"Terima kasih atas ucapannya, dan bantuanmu juga." Balas Oliver. Nicole mengangkat kedua alisnya, bingung.

"Bantuanku?"

"Syal itu. Yang kau berikan malam-malam." Mendengar perkataan Oliver, muka Nicole merah padam. "Aku terbangun saat itu kau tahu." Lanjut Oliver, tertawa melihat muka Nicole.

"Tapi kau berpura-pura tertidur!" Kata Nicole, setengah kesal setengah malu. Oliver mengangguk sambil terus tertawa. "Kenapa.. kau.. urgh!" Nicole kehabisan kata-kata untuk memarahi pemuda di sebelahnya ini, mukanya merah padam karena malu sekarang.

"Tapi benar loh, terima kasih. Karena syal dan ucapanmu itu, aku bisa bermain dengan baik tadi." Kata Oliver sambil menatap langsung ke mata Nicole. Gadis itu hanya hisa bertahan beberapa detik sebelum memalingkan mukanya.

"Sama-sama." Jawabnya.

Keheningan yang agak canggung muncul di antara mereka berdua. Setelah beberapa saat, Oliver berdeham untuk memecah keheningan. "Akan kubalas nanti. Hmm, enaknya aku memberi balasan apa ya?" Pemuda itu mengusap dagunya, berpikir keras.

Nicole tercengang, lalu ia menggeleng. "Tidak perlu, aku tidak mengharapkan balasan apapun kok."

Oliver masih sibuk berpikir. "Oh tidak. Itu tidak sopan namanya." Gumamnya. "Sayang kau belum mendapat ijin pergi ke Hogsmeade. Atau kau mau menunggu sampai tahun depan? Hmm.." Nicole tidak mengatakan apa-apa, ia membiarkan Oliver bergumam sendiri karena gadis itu tidak tahu harus berkomentar apa.

"Akan kupikirkan nanti saja! Kau mau kue? Aku mau mengambil kue." Perkataan yang tiba-tiba dari Oliver membuat Nicole tertawa. Pemuda itu sedikit aneh, tapi ia bisa membuat Nicole tertawa dengan cara yang berbeda dari si kembar. Nicole menganggukan kepalanya sebagai jawaban, dan Oliver langsung bangkit berdiri. Menurut Nicole Ravensdale, Oliver Wood adalah pemuda yang cukup menarik.

***

Tanpa terasa, ujian akhir sudah di depan mata. Seluruh murid sudah mulai bersiap-siap untuk menghadapinya, tidak terkecuali Nicole, Gisselle dan Elly. Mereka bertiga berkumpul di perpustakaan untuk mengulang kembali pelajaran-pelajaran, dan membahas bagian yang belum mereka mengerti. Semua berjalan dengan damai sampai tiba-tiba si kembar dan Lee masuk kedalam perpustakaan.

"Malaikat-malaikat kami! Bantulah kami!!" Kata si kembar bersamaan dengan muka memohon yang berlebihan. Lee pun memasang muka yang sama. Sudah dapat ditebak sebenarnya, mereka telah melakukan hal itu sejak tahun lalu. Nicole mendelik kesal pada ketiga pemuda itu.

"Baiklah. Fred, kau dengan Gisselle, George denganku dan Lee dengan Elly." Kata Nicole sambil berdiri dan mengumpulkan bukunya agar mereka bisa pindah. Ketiga pemuda itu tidak bisa belajar jika di kumpulkan di satu tempat.

"Maaf." Kata Elly, dia memandang kelima teman-temannya dengan pandangan meminta maaf. "Aku sudah berjanji akan belajar dengan Cedric setelah ini, jadi.."

"Jadi Lee tidak perlu belajar." Kata si kembar bersamaan.

"Hey!" Protes Lee.

"Gurumu pergi untuk pacaran.." Kata Fred.
"..jadi kau tidak punya guru dan tidak bisa belajar.." Sahut George melengkapi kalimat saudara kembarnya.

Nicole menjitak kedua pemuda berambut merah itu agar tidak menggoda Elly dan Lee lebih jauh. "Elly bilang dia akan belajar, bukan pacaran. Baiklah, kalian berdua ikut aku, Lee ikut Gisselle." Kata Nicole. Elly mengucapkan terima kasih dan kembali membaca bukunya sambil menunggu Cedric kembali dari latihan Quidditchnya. Sama seperti si kembar, pemuda tampan dari Hufflepuff itu berhasil diterima di team Quidditch asramanya, namun menjadi Seeker alih-alih Beater.

Dengan segera Nicole meraih tangan si kembar dan menyeret mereka berdua ke sisi lain perpustakaan, sementara Lee dan Gisselle berjalan ke sisi yang berbeda. Gisselle tampak murung saat ia melihat Nicole menarik Fred dan George pergi. Ia menjadi tidak focus ketika mengajari Lee. Hal itu membuat ‘murid’nya menjadi bingung.

“Gisselle?” Panggil Lee untuk kesekian kalinya karena pikiran gadis brunette itu sedang melayang ke tempat lain. Gisselle tersentak kaget dan mengejap-ngejapkan matanya beberapa kali sebelum memfokuskan dirinya pada Lee lagi.

“Ada apa? Kau menjadi tidak fokus sejak kita berpisah dari Nicole, Fred dan George." Tanya Lee langsung pada sasaran. Gisselle tampak ragu untuk menceritakan keengganannya melihat George bersama Nicole, walau akhirnya ia memutuskan untuk meminta nasihat Lee.

"Apa?!" Teriak Lee ketika Gisselle menceritakan perasaannya. "Kau menyukai Geo-- umpht!!" Mulut Lee langsung di tutup oleh Gisselle, yang mukanya sudah merah padam, sebelum pemuda berkulit hitam itu memberi tahu seluruh perpustakaan rahasia Gisselle. Beberapa saat kemudian, Madam Pince datang entah darimana dan mengusir mereka berdua karena suara teriakan Lee dianggap telah menganggu ketenangan perpustakaan. Maka dengan enggan, mereka berdua membereskan buku mereka dan berjalan kembali ke ruang rekreasi.

"Aku tidak menyangka.. benar-benar tidak menyangka." Gumam Lee sepanjang perjalanan. Gisselle telah menceritakan perasaan dan ketakutannya pada Lee. Bagaimana ia takut akan kalah pada Nicole jika sahabatnya itu juga menyukai George. "Tapi aku tidak yakin Nicole menyukai George."

Pernyataan terakhir dari Lee membuat Gisselle menatapnya dengan penuh harapan. Lee langsung menjadi salah tingkah saat melihat pandangan gadis itu. "Eh, ya. Menurutku sih begitu. Menurutku Nicole menganggap Fred dan George sebagai adik saja, tidak lebih."

Gisselle mengangguk-angguk tanda ia mengerti pendapat Lee, lalu berpikir keras sehingga ia mengabaikan Lee selama beberapa saat.

"Kenapa kau tidak bertanya padanya? Pada Nicole?"

"Aku sudah bertanya. Dan dia berkata kalau dia sedang tidak yakin dengan perasaannya." Jawab Gisselle. Ia kemudian terdiam sejenak. "B-b-bagaimana kalau dia membicarakan George saat itu?"

Lee mengusap-usap dagunya, berpikir. "Apakah Nicole dekat dengan pemuda lain selain diriku, Cedric dan si kembar? Karena menurutku tidak mungkin Nicole mempunyai perasaan pada kami semua."

Gisselle sudah hendak menggeleng ketika ia teringat sesuatu. "Ia dekat dengan salah satu pemain Quidditch dari asrama kita. Ia memiliki rambut berwarna gelap dan postur tubuh yang tegap. Kalau tidak salah, Nicole memanggilnya Oliver."

Lee mengernyit, "Oliver? Oliver Wood?" Ia kembali berpikir lagi. "Hmm mungkin saja. Kau harus menanyakannya sendiri pada Nicole, Gisselle. Atau kau tidak akan mengetahui jawabannya!"

Dan Gisselle berpikir, jarang sekali Lee berbicara sebijak itu.

***

Nicole duduk di hadapan si kembar yang sedang mengerjakan soal-soal darinya. Karena bosan, akhirnya dia mengambil sebuah buku dari rak dan mulai membacanya seraya menunggu Fred dan George selesai.

"Hey Nicole?"

"Hm?" Balas gadis itu tanpa mengalihkan pandangan dari bukunya sama sekali. Fred berdiri dan berjalan ke samping Nicole, lalu membungkuk dan berbisik di kupingnya.

"Kau ini tidak peka ya." Bisikan Fred membuat Nicole nyaris terjungkal dari kursinya. Gadis bermata hijau cerah itu memandang Fred dengan geram, dan mendapat balasan sebuah cengiran jail dari Fred, sementara George hanya menahan tawa memandang mereka.

"Apa maksudmu berbisik seperti tadi? Dan apa maksudmu tidak peka?" Kata Nicole, jelas kesal dengan perlakuan Fred. Fred tertawa tanpa suara dan kembali duduk di tempatnya.

"Kau tidak tahu? Itu artinya kau masih tidak peka." Jawab Fred sambil menyerahkan kertas jawabannya pada Nicole dengan acuh tak acuh. George juga melakukan hal yang sama. Memutuskan untuk mengabaikan tindakan Fred, Nicole mendengus kesal lalu mulai memeriksa kedua lembar jawaban itu. Setelah mencoret dimana-mana dan membetulkannya, ia mengembalikan kertas-kertas itu.

"Kalian bisa lulus, namun dengan nilai pas-pas an bila kalian hanya berusaha sekeras itu." Namun si kembar hanya menyerap kata-kata pertama Nicole dan bangkit berdiri dengan senang. Dengan secepat kilat mereka membereskan barang mereka, mengambil posisi disebelah kanan dan kiri Nicole lalu mengecup pipi gadis itu sebelum berlari keluar. Nicole yang terkejut luar biasa, tidak bisa memberikan balasan apa-apa karena si kembar telah berlari pergi.

Memutuskan bahwa ia masih punya banyak waktu, Nicole memutuskan untuk mencari udara segar di halaman Hogwarts. Ia membereskan barang-barangnya dan mengembalikan buku yang tidak ia pinjam ke rak sebelum berjalan keluar. Dari sudut matanya, ia sekilas melihat Elly dan Cedric yang sedang tertawa tanpa suara bersama, terlihat sangat dekat.

Halaman Hogwarts ternyata penuh dengan anak-anak yang bertujuan sama dengan Nicole, beberapa duduk berpasangan dan berdekatan antara satu dengan yang lain. Pacaran, pikir Nicole. Ia tidak pernah menganggap hal seperti itu penting, hal seperti menyukai seseorang, atau bahkan memulai hubungan, tapi pertanyaan Gisselle di pertandingan Quidditch yang lalu masih terngiang di kepalanya. Dan akhir-akhir ini dia memikirkan jawaban yang sebenarnya.

Nicole menggelengkan kepalanya dan memutuskan untuk melanjutkan membaca bukunya. Ia mengeluarkan buku tersebut dari tasnya dan mencari tempat duduk yang kosong. Setelah menemukannya, ia duduk dan segera membaca. Nicole senang membaca, hal itu membuat dirinya lupa akan sekelilingnya, termasuk melupakan masalah-masalah yang ada. Biasanya ia tidak akan terganggu oleh apapun, tapi langkah kaki seseorang yang berhenti di depannya menarik perhatiannya.

"Kau senang membaca?" Oliver menunjuk buku di tengan Nicole seraya duduk di sampingnya. "Terlihat rumit, apa yang sedang kau baca?"

Nicole menutup bukunya untuk menunjukan judul yang terpasang di sampul depan. "Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam, volume 3." Jawab Nicole. Oliver hanya mengangguk-angguk walau jelas ia merasa kagum sekaligus bingung ketika membaca judul buku yang di pegang Nicole.

"Ah ya, aku mencarimu dari tadi.." Kata Oliver seraya merogoh kantongnya, "..untuk memberimu ini." Dia meletakan sebuah boneka beruang kecil yang memakai pita ke atas pangkuan Nicole.

Nicole mengangkat dan memandang boneka mungil itu kalu menoleh ke arah Oliver dengan bingung. Oliver melihat ekspresi Nicole dan mukanya menjadi merah, sedikit salah tingkah.

“Sudah kubilang aku harus membalas jasamu.” Kata Oliver, menghindari bertemu mata dengan Nicole yang masih menatapnya dengan bingung. “K-kau.. tidak menyukainya?”

Betapa senangnya hati Oliver ketika Nicole menggeleng, “Tidak, aku hanya bingung saja kok.” Gadis itu mengambil boneka dari pangkuannya dan tersenyum seraya menatap hadiah yang baru diterimanya itu. Tanpa sadar, keeper team Gryffindor itu terus memandang gadis di sebelahnya ini.

Nicole, yang merasa seperti sedang di perhatikan, menoleh dengan tiba-tiba dan mata mereka bertemu dalam sekejap dan jarak antara wajah mereka berdua bisa dibilang cukup dekat sehingga baik Oliver maupun Nicole langsung menolehkan kepala mereka ke arah sebaliknya dengan muka yang merah padam.

“T-terima kasih.” Kata Nicole terbata-bata karena masih terkejut dengan kejadian sebelumnya. Oliver juga mengucapkan sama-sama dengan dengan cara yang sama. Karena merasa canggung duduk diam berdua namun tidak berbicara atau bahkan saling memandang, Nicole menutup bukunya dan berdiri.

“A-aku harus pergi. S-sampai nanti.” Nicole baru saja selangkah berjalan ketika tangannya di genggam oleh Oliver, yang sebenarnya juga melakukan hal itu dengan tidak sengaja.

Nicole menoleh dan menatap Oliver, yang tampaknya masih belum sadar ia menahan tangan gadis tersebut. Beberapa detik mereka bertahan dalam posisi itu dan kemudian Oliver menyadari apa yang ia lakukan dan melepaskan tangan Nicole dengan segera.

“Maaf!” Gumamnya dengan cepat dan menolak bertemu pandang dengan Nicole. Mukanya merah padam demikian juga muka milik Nicole. Setelah menggumamkan tidak apa-apa, gadis itu berjalan pergi dengan sedikit terburu-buru.

Setelah berjalan cukup jauh, dia mulai berjalan dengan kecepatan yang normal kembali sambil memandang hadiah yang baru saja ia terima. Nicole memeluk boneka kecil itu dan tersenyum kecil, mungkin menyukai seseorang bukanlah hal yang buruk.

***TBC***

A/N : Mohon maaf apabila ada kesalahan *bows*

Made by : Liz
Take out with full credits please~ ^^

0 komentar:

Posting Komentar