Chapter 5 : It
Doesn’t Sound Like A Bad Idea
(Setting
: 1 years prior HP1 )
Liburan
Natal telah berakhir dan musim semi sudah di depan mata. Di bawah pimpinan
Charlie, team Gryffindor berlatih keras untuk memenangkan kejuaraan Quiddith
tahun ini. Tidak jarang Nicole dan Gisselle melihat si kembar berlatih keras
hingga larut malam. Hari ini pun tidak jauh berbeda. Nicole yang masih bangun,
bisa mendengar suara mereka memasuki ruang rekreasi dan masuk kedalam kamar
mereka masing-masing. Terutama karena di team ada Angelina yang juga merupakan
teman sekamar Nicole dan Gisselle, Nicole bisa mendengar dengan jelas pintu
kamarnya di buka ketika Angelina masuk ke dalam kamar.
Setelah
beberapa lama berguling ke kanan dan ke kiri di ranjangnya sendiri, Nicole
memutuskan kalau dia tidak bisa tidur dan akan berjalan-jalan sejenak ke ruang
rekreasi. Gadis berambut cokelat itu segera turun dari ranjangnya dan mengambil
syalnya lalu berjalan keluar dari kamar, semua ia lakukan tanpa suara sekecil
apapun. Ia tidak mau membangunkan Gisselle yang sudah tidur pulas, dan Angelina
yang jelas membutuhkan istirahat untuk menghadapi pertandingan besok.
Perapian
di ruang rekreasi masih menyala, walau kecil dan sudah sedikit redup. Nicole
hendak mengambil tempat di kursi yang paling dekat dengan perapian, namun
betapa kagetnya dia ketika ia mendapati kursi itu telah di tempati oleh seorang
pemuda berambut cokelat yang berbadan tegap, Oliver Wood. Pemuda itu tertidur
pulas di kursi nyaman. Di tangannya terdapat papan yang Nicole kenali sebagai
papan yang biasa Charlie gunakan untuk menjelaskan taktik Quidditch. Ia pasti
tertidur ketika sedang me-review ulang taktik.
Tanpa
sadar, Nicole mengambil tempat duduk diseberangnya, dimana ia bisa
memperhatikan pemuda itu dengan jelas. Pemuda itu bisa masuk angin jika ia
tetap tidur disana, tapi Nicole tidak tega untuk membangunkannya. Lalu, sebuah
ide terlintas di benaknya. Nicole berdiri dan mendekati Oliver lalu melepaskan
syal yang melilit lehernya tadi dan memasangkannya pada Oliver. Perlu waktu
yang cukup lama dan kehati-hatian yang luar biasa karena Nicole berusaha sebisa
mungkin untuk tidak membangunkan Oliver.
Setelah
berhasil, gadis itu berbisik pelan, “Semoga berhasil.” Dan tersenyum pada
pemuda itu, lalu segera berbalik dan berjalan menuju kamarnya lagi. Ia tidak
tahu bahwa saat ia sedang memasangkan syalnya, Oliver terbangun namun pemuda
itu tidak bergerak ataupun melakukan apapun. Ia berpura-pura masih tertidur
ketika Nicole memakaikan syalnya dan berbisik. Setelah mendengar pintu kamar
yang tertutup, tanda Nicole telah kembali ke kamarnya, Oliver membuka matanya
dan memandang syal yang ia pakai sekarang.
“Berantakan..”
Gumam Oliver sambil tertawa kecil melihat cara Nicole melilitkan syalnya dengan
berantakan. Ia menggenggam syal itu dengan erat, mukanya semakin memerah ketika
ia mengingat kejadian yang baru saja terjadi.
Oliver
menampar kedua pipinya dengan pelan untuk kembali memfokuskan dirinya dan
bangkit berdiri. “Aku harus berusaha sekuat tenaga besok, untuk Gryffindor dan
untuk dirinya juga.”
***
Pertandingan
pagi itu adalah Gryffindor melawan Ravenclaw. Jika mereka menang, Gryffindor
akan naik ke posisi dua dalam turnamen. Jika nanti mereka mengalahkan Slytherin
di pertandingan berikutnya, mereka akan memenangkan piala Quidditch. Seluruh
sekolah bersemangat untuk menonton pertandingan yang akan dilakukan sebentar
lagi. Nicole sedang berusaha membujuk Gisselle untuk sarapan. Gadis itu tidak
bermain, tapi ia justru yang menjadi tegang seakan-akan menggantikan si kembar
yang makan dengan lahap.
“Kau
harus makan!” Kata Nicole sambil berusaha membuat Gisselle memakan roti
bakarnya. Gisselle hanya mengigit ujung rotinya sambil sesekali melirik ke arah
Fred dan George. “Mereka akan baik-baik saja. Tapi kau tidak akan baik-baik
saja bila tidak makan!” Omel Nicole lagi, kali ini berhasil membuat Gisselle
makan lebih banyak dari sebelumnya.
“Ke
ruang ganti.” Charlie yang duduk tidak jauh dari mereka berdua mendadak
berdiri, dan seluruh anggota teamnya ikut serta, termasuk Oliver dan si kembar.
Nicole dan Gisselle mengucapkan selamat berhasil pada semua anggota team
Gryffindor yang dapat mendengar mereka sebelum mereka mengikuti Charlie
berjalan menuju ruang ganti.
Setelah
makan pagi, lebih cepat dari yang lain karena mereka ingin mendapat tempat yang
bagus, Nicole, Gisselle, Elly dan Cedric berjalan menuju lapangan Quidditch.
Nicole yang tidak memiliki syalnya, mengigil kedinginan ketika angin musim
dingin menerpanya.
“Nicole,
dimana syalmu?” Tanya Elly ketika menyadari temannya tidak memakai syal.
Otomatis Cedric dan Gisselle juga menoleh ke arah Nicole.
“Eh,
syalku..” Nicole bingung menjawab pertanyaan Elly, disebabkan karena ia enggan
menceritakan bahwa dia memberikan syalnya pada Oliver kemarin malam.
Kecanggungannya karena tidak menjawab pertanyaan tadi diselamatkan dengan
kenyataan bahwa Elly dan Cedric harus berjalan ke arah yang berbeda untuk dapat
duduk di kursi penonton milik Hufflepuff. Setelah mengucapkan ‘sampai nanti’,
Nicole dan Gisselle berjalan kearah yang lain.
Tepat
ketika mereka hendak naik ke atas untuk mencapai kursi penonton, Oliver berlari
sambil meneriakan nama Nicole, membuat gadis itu terkejut. Tidak hanya Nicole,
bahkan Gisselle pun kaget. Untung saja daerah tersebut masih sepi karena
sebagian besar anak menunggu saat-saat terakhir untuk memasuki lapangan agar
tidak terkena udara dingin terlalu lama.
“Nicole!”
Panggil Oliver sekali lagi. Nicole berjalan pelan menuju pemuda itu dan
berhenti tepat di depannya sementara Gisselle menunggu di belakangnya.
“Ini.”
Ujar Oliver seraya melilitkan syal pada Nicole, “Kau bisa masuk angin bila
tidak memakainya.”
Muka
Nicole langsung memerah, apalagi ketika Oliver memakaikan syal padanya, muka
pemuda itu otomatis mendekat dengan mukanya sendiri. Oliver juge menyadari hal
yang sama karena mendadak mukanya memerah juga dan buru-buru berjalan mundur
ketika sudah selesai memasangkan syal itu.
"T-t-terima
kasih atas syalnya. Sampai nanti!" Oliver buru-buru berbalik dan berjalan
pergi menuju ruang ganti, tempat tim Quidditch Gryffindor sedang bersiap-siap
untuk bertanding.
Nicole
ragu sejenak, sebelum akhirnya berteriak ke punggung Oliver. "Semoga
berhasil!!" Oliver berhenti berjalan dan menoleh. Dari ekspresinya, dia
jelas merasa terkejut. Namun lalu dia tersenyum dan mengangkat kepalan
tangannya. Nicole menatap punggung pemuda itu sampai hilang dari pandangan,
baru berbalik dan berjalan ke arah Gisselle yang sepertinya menganggap kalau
dia sedang menjadi pengganggu dalam sesuatu.
Kedua
gadis itu mengambil tempat favorite mereka di kursi penonton Gryffindor. Kursi
di belakang mereka mulai diisi oleh murid-murid yang lain. Gisselle dengan
malu-malu menoleh ke arah Nicole.
"Nicole?"
"Hm?"
"Boleh
aku bertanya sesuatu?" Sebagai jawaban, Nicole mengangguk pada sahabatnya
itu. Gisselle tampak takut untuk mengatakan pertanyaannya itu selama sesaat
sementara Nicole menunggu dengan sabar.
"A-a-apakah
kau sedang menyukai seseorang?"
Pertanyaan
Gisselle nyaris membuat Nicole terjungkal dari kursinya. "A-apa?"
"M-m-maaf!!
Aku tidak bermaksud, maksudku, aku hanya penasaran. Kau tidak perlu menjawab
bila tidak mau." Kata Gisselle terburu-buru setelah melihat reaksi Nicole.
Tapi Nicole hanya menggeleng.
"Tidak
apa-apa. Aku hanya terkejut tadi. Menyukai seseorang ya.." Nicole melipat
kedua lengannya, berpikir sejenak. "Entahlah, aku tidak yakin."
"Maksudmu?"
"Aku
tidak yakin dengan perasaanku sendiri."
Gisselle
kembali merasa ragu dan takut sejenak, walau akhirnya memberanikan diri juga.
"A-apakah kau punya perasaan p-pada G--" Kata-kata Gisselle terpotong
suara Lee, yang volumenya sudah di besarkan dengan sihir, membuka pertandingan
Quidditch hari itu. Memang bukan salah pemuda itu, tapi Gisselle merasa sedikit
kesal karena rasanya di ganggu saat dia akhirnya berhasil mengumpulkan
keberanian.
Seakan-akan
mendapat 'berkat', selama pertandingan, Oliver tidak mengijinkan Quaffle dari
tim Ravenclaw masuk kedalam gawang Gryffindor sama sekali. Pertandingan
berjalan sepihak. 25 menit setelah pertandingan dimulai, Charlie menangkap
snitchnya dan Gryffindor menang. Seluruh stadion Quiddicth penuh dengan sorakan
dari kerumunan berwarna merah dan emas. Nicole dan Gisselle ikut bersorak
bersama anak Gryffindor yang lain, walau suara sorakan Gisselle masih terlalu
pelan untuk ukuran sebuah 'sorakan'.
Pesta
kemenangan pun langsung diadakan di ruang rekreasi. Makanan dan minuman dibawa
oleh si kembar dari dapur, mereka mengetahuinya setelah mendesak Nicole
memberitahu mereka karena jalan masuknya tidak tercantum di Peta Perampok, peta
ajaib Hogwarts yang mereka temukan di kantor Filch tahun lalu.
Sementara
Fred dan George mempertunjukan berbagai lelucon di tengah ruangan, Nicole
mengambil tempat duduk sedikit jauh dari mereka. Berbeda dengan si kembar,
Nicole tidak suka menjadi pusat perhatian, sudah cukup ia di perhatikan secara
berlebihan karena dia adalah cucu angkat Dumbledore saja.
Oliver
melihat sosok yang dicarinya itu duduk di sofa dekat jendela dan memutuskan
untuk duduk disampingnya. Nicole tidak memprotes saat pemuda itu langsung duduk
di sebelahnya.
"Selamat
atas kemenangan kalian." Kata Nicole sambil memberikan Oliver senyuman
kecil. Oliver membalas senyum itu.
"Terima
kasih atas ucapannya, dan bantuanmu juga." Balas Oliver. Nicole mengangkat
kedua alisnya, bingung.
"Bantuanku?"
"Syal
itu. Yang kau berikan malam-malam." Mendengar perkataan Oliver, muka
Nicole merah padam. "Aku terbangun saat itu kau tahu." Lanjut Oliver,
tertawa melihat muka Nicole.
"Tapi
kau berpura-pura tertidur!" Kata Nicole, setengah kesal setengah malu.
Oliver mengangguk sambil terus tertawa. "Kenapa.. kau.. urgh!" Nicole
kehabisan kata-kata untuk memarahi pemuda di sebelahnya ini, mukanya merah
padam karena malu sekarang.
"Tapi
benar loh, terima kasih. Karena syal dan ucapanmu itu, aku bisa bermain dengan
baik tadi." Kata Oliver sambil menatap langsung ke mata Nicole. Gadis itu
hanya hisa bertahan beberapa detik sebelum memalingkan mukanya.
"Sama-sama."
Jawabnya.
Keheningan
yang agak canggung muncul di antara mereka berdua. Setelah beberapa saat,
Oliver berdeham untuk memecah keheningan. "Akan kubalas nanti. Hmm,
enaknya aku memberi balasan apa ya?" Pemuda itu mengusap dagunya, berpikir
keras.
Nicole
tercengang, lalu ia menggeleng. "Tidak perlu, aku tidak mengharapkan
balasan apapun kok."
Oliver
masih sibuk berpikir. "Oh tidak. Itu tidak sopan namanya." Gumamnya.
"Sayang kau belum mendapat ijin pergi ke Hogsmeade. Atau kau mau menunggu
sampai tahun depan? Hmm.." Nicole tidak mengatakan apa-apa, ia membiarkan
Oliver bergumam sendiri karena gadis itu tidak tahu harus berkomentar apa.
"Akan
kupikirkan nanti saja! Kau mau kue? Aku mau mengambil kue." Perkataan yang
tiba-tiba dari Oliver membuat Nicole tertawa. Pemuda itu sedikit aneh, tapi ia
bisa membuat Nicole tertawa dengan cara yang berbeda dari si kembar. Nicole
menganggukan kepalanya sebagai jawaban, dan Oliver langsung bangkit berdiri.
Menurut Nicole Ravensdale, Oliver Wood adalah pemuda yang cukup menarik.
***
Tanpa
terasa, ujian akhir sudah di depan mata. Seluruh murid sudah mulai bersiap-siap
untuk menghadapinya, tidak terkecuali Nicole, Gisselle dan Elly. Mereka bertiga
berkumpul di perpustakaan untuk mengulang kembali pelajaran-pelajaran, dan
membahas bagian yang belum mereka mengerti. Semua berjalan dengan damai sampai
tiba-tiba si kembar dan Lee masuk kedalam perpustakaan.
"Malaikat-malaikat
kami! Bantulah kami!!" Kata si kembar bersamaan dengan muka memohon yang
berlebihan. Lee pun memasang muka yang sama. Sudah dapat ditebak sebenarnya,
mereka telah melakukan hal itu sejak tahun lalu. Nicole mendelik kesal pada
ketiga pemuda itu.
"Baiklah.
Fred, kau dengan Gisselle, George denganku dan Lee dengan Elly." Kata
Nicole sambil berdiri dan mengumpulkan bukunya agar mereka bisa pindah. Ketiga
pemuda itu tidak bisa belajar jika di kumpulkan di satu tempat.
"Maaf."
Kata Elly, dia memandang kelima teman-temannya dengan pandangan meminta maaf.
"Aku sudah berjanji akan belajar dengan Cedric setelah ini, jadi.."
"Jadi
Lee tidak perlu belajar." Kata si kembar bersamaan.
"Hey!"
Protes Lee.
"Gurumu
pergi untuk pacaran.." Kata Fred.
"..jadi
kau tidak punya guru dan tidak bisa belajar.." Sahut George melengkapi
kalimat saudara kembarnya.
Nicole
menjitak kedua pemuda berambut merah itu agar tidak menggoda Elly dan Lee lebih
jauh. "Elly bilang dia akan belajar, bukan pacaran. Baiklah, kalian berdua
ikut aku, Lee ikut Gisselle." Kata Nicole. Elly mengucapkan terima kasih
dan kembali membaca bukunya sambil menunggu Cedric kembali dari latihan
Quidditchnya. Sama seperti si kembar, pemuda tampan dari Hufflepuff itu berhasil
diterima di team Quidditch asramanya, namun menjadi Seeker alih-alih Beater.
Dengan
segera Nicole meraih tangan si kembar dan menyeret mereka berdua ke sisi lain
perpustakaan, sementara Lee dan Gisselle berjalan ke sisi yang berbeda.
Gisselle tampak murung saat ia melihat Nicole menarik Fred dan George pergi. Ia
menjadi tidak focus ketika mengajari Lee. Hal itu membuat ‘murid’nya menjadi
bingung.
“Gisselle?”
Panggil Lee untuk kesekian kalinya karena pikiran gadis brunette itu sedang
melayang ke tempat lain. Gisselle tersentak kaget dan mengejap-ngejapkan
matanya beberapa kali sebelum memfokuskan dirinya pada Lee lagi.
“Ada
apa? Kau menjadi tidak fokus sejak kita berpisah dari Nicole, Fred dan
George." Tanya Lee langsung pada sasaran. Gisselle tampak ragu untuk
menceritakan keengganannya melihat George bersama Nicole, walau akhirnya ia
memutuskan untuk meminta nasihat Lee.
"Apa?!"
Teriak Lee ketika Gisselle menceritakan perasaannya. "Kau menyukai Geo--
umpht!!" Mulut Lee langsung di tutup oleh Gisselle, yang mukanya sudah
merah padam, sebelum pemuda berkulit hitam itu memberi tahu seluruh
perpustakaan rahasia Gisselle. Beberapa saat kemudian, Madam Pince datang entah
darimana dan mengusir mereka berdua karena suara teriakan Lee dianggap telah
menganggu ketenangan perpustakaan. Maka dengan enggan, mereka berdua
membereskan buku mereka dan berjalan kembali ke ruang rekreasi.
"Aku
tidak menyangka.. benar-benar tidak menyangka." Gumam Lee sepanjang
perjalanan. Gisselle telah menceritakan perasaan dan ketakutannya pada Lee.
Bagaimana ia takut akan kalah pada Nicole jika sahabatnya itu juga menyukai
George. "Tapi aku tidak yakin Nicole menyukai George."
Pernyataan
terakhir dari Lee membuat Gisselle menatapnya dengan penuh harapan. Lee
langsung menjadi salah tingkah saat melihat pandangan gadis itu. "Eh, ya.
Menurutku sih begitu. Menurutku Nicole menganggap Fred dan George sebagai adik
saja, tidak lebih."
Gisselle
mengangguk-angguk tanda ia mengerti pendapat Lee, lalu berpikir keras sehingga
ia mengabaikan Lee selama beberapa saat.
"Kenapa
kau tidak bertanya padanya? Pada Nicole?"
"Aku
sudah bertanya. Dan dia berkata kalau dia sedang tidak yakin dengan
perasaannya." Jawab Gisselle. Ia kemudian terdiam sejenak.
"B-b-bagaimana kalau dia membicarakan George saat itu?"
Lee
mengusap-usap dagunya, berpikir. "Apakah Nicole dekat dengan pemuda lain
selain diriku, Cedric dan si kembar? Karena menurutku tidak mungkin Nicole
mempunyai perasaan pada kami semua."
Gisselle
sudah hendak menggeleng ketika ia teringat sesuatu. "Ia dekat dengan salah
satu pemain Quidditch dari asrama kita. Ia memiliki rambut berwarna gelap dan
postur tubuh yang tegap. Kalau tidak salah, Nicole memanggilnya Oliver."
Lee
mengernyit, "Oliver? Oliver Wood?" Ia kembali berpikir lagi.
"Hmm mungkin saja. Kau harus menanyakannya sendiri pada Nicole, Gisselle.
Atau kau tidak akan mengetahui jawabannya!"
Dan
Gisselle berpikir, jarang sekali Lee berbicara sebijak itu.
***
Nicole
duduk di hadapan si kembar yang sedang mengerjakan soal-soal darinya. Karena
bosan, akhirnya dia mengambil sebuah buku dari rak dan mulai membacanya seraya
menunggu Fred dan George selesai.
"Hey
Nicole?"
"Hm?"
Balas gadis itu tanpa mengalihkan pandangan dari bukunya sama sekali. Fred
berdiri dan berjalan ke samping Nicole, lalu membungkuk dan berbisik di
kupingnya.
"Kau
ini tidak peka ya." Bisikan Fred membuat Nicole nyaris terjungkal dari
kursinya. Gadis bermata hijau cerah itu memandang Fred dengan geram, dan
mendapat balasan sebuah cengiran jail dari Fred, sementara George hanya menahan
tawa memandang mereka.
"Apa
maksudmu berbisik seperti tadi? Dan apa maksudmu tidak peka?" Kata Nicole,
jelas kesal dengan perlakuan Fred. Fred tertawa tanpa suara dan kembali duduk
di tempatnya.
"Kau
tidak tahu? Itu artinya kau masih tidak peka." Jawab Fred sambil
menyerahkan kertas jawabannya pada Nicole dengan acuh tak acuh. George juga
melakukan hal yang sama. Memutuskan untuk mengabaikan tindakan Fred, Nicole
mendengus kesal lalu mulai memeriksa kedua lembar jawaban itu. Setelah mencoret
dimana-mana dan membetulkannya, ia mengembalikan kertas-kertas itu.
"Kalian
bisa lulus, namun dengan nilai pas-pas an bila kalian hanya berusaha sekeras
itu." Namun si kembar hanya menyerap kata-kata pertama Nicole dan bangkit
berdiri dengan senang. Dengan secepat kilat mereka membereskan barang mereka,
mengambil posisi disebelah kanan dan kiri Nicole lalu mengecup pipi gadis itu
sebelum berlari keluar. Nicole yang terkejut luar biasa, tidak bisa memberikan
balasan apa-apa karena si kembar telah berlari pergi.
Memutuskan
bahwa ia masih punya banyak waktu, Nicole memutuskan untuk mencari udara segar
di halaman Hogwarts. Ia membereskan barang-barangnya dan mengembalikan buku
yang tidak ia pinjam ke rak sebelum berjalan keluar. Dari sudut matanya, ia
sekilas melihat Elly dan Cedric yang sedang tertawa tanpa suara bersama,
terlihat sangat dekat.
Halaman
Hogwarts ternyata penuh dengan anak-anak yang bertujuan sama dengan Nicole,
beberapa duduk berpasangan dan berdekatan antara satu dengan yang lain. Pacaran,
pikir Nicole. Ia tidak pernah menganggap hal seperti itu penting, hal seperti
menyukai seseorang, atau bahkan memulai hubungan, tapi pertanyaan Gisselle di
pertandingan Quidditch yang lalu masih terngiang di kepalanya. Dan akhir-akhir
ini dia memikirkan jawaban yang sebenarnya.
Nicole
menggelengkan kepalanya dan memutuskan untuk melanjutkan membaca bukunya. Ia
mengeluarkan buku tersebut dari tasnya dan mencari tempat duduk yang kosong.
Setelah menemukannya, ia duduk dan segera membaca. Nicole senang membaca, hal
itu membuat dirinya lupa akan sekelilingnya, termasuk melupakan masalah-masalah
yang ada. Biasanya ia tidak akan terganggu oleh apapun, tapi langkah kaki
seseorang yang berhenti di depannya menarik perhatiannya.
"Kau
senang membaca?" Oliver menunjuk buku di tengan Nicole seraya duduk di
sampingnya. "Terlihat rumit, apa yang sedang kau baca?"
Nicole
menutup bukunya untuk menunjukan judul yang terpasang di sampul depan.
"Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam, volume 3." Jawab Nicole. Oliver
hanya mengangguk-angguk walau jelas ia merasa kagum sekaligus bingung ketika
membaca judul buku yang di pegang Nicole.
"Ah
ya, aku mencarimu dari tadi.." Kata Oliver seraya merogoh kantongnya,
"..untuk memberimu ini." Dia meletakan sebuah boneka beruang kecil yang
memakai pita ke atas pangkuan Nicole.
Nicole
mengangkat dan memandang boneka mungil itu kalu menoleh ke arah Oliver dengan
bingung. Oliver melihat ekspresi Nicole dan mukanya menjadi merah, sedikit
salah tingkah.
“Sudah
kubilang aku harus membalas jasamu.” Kata Oliver, menghindari bertemu mata
dengan Nicole yang masih menatapnya dengan bingung. “K-kau.. tidak menyukainya?”
Betapa
senangnya hati Oliver ketika Nicole menggeleng, “Tidak, aku hanya bingung saja
kok.” Gadis itu mengambil boneka dari pangkuannya dan tersenyum seraya menatap
hadiah yang baru diterimanya itu. Tanpa sadar, keeper team Gryffindor itu terus
memandang gadis di sebelahnya ini.
Nicole,
yang merasa seperti sedang di perhatikan, menoleh dengan tiba-tiba dan mata
mereka bertemu dalam sekejap dan jarak antara wajah mereka berdua bisa dibilang
cukup dekat sehingga baik Oliver maupun Nicole langsung menolehkan kepala
mereka ke arah sebaliknya dengan muka yang merah padam.
“T-terima
kasih.” Kata Nicole terbata-bata karena masih terkejut dengan kejadian
sebelumnya. Oliver juga mengucapkan sama-sama dengan dengan cara yang sama.
Karena merasa canggung duduk diam berdua namun tidak berbicara atau bahkan
saling memandang, Nicole menutup bukunya dan berdiri.
“A-aku
harus pergi. S-sampai nanti.” Nicole baru saja selangkah berjalan ketika
tangannya di genggam oleh Oliver, yang sebenarnya juga melakukan hal itu dengan
tidak sengaja.
Nicole
menoleh dan menatap Oliver, yang tampaknya masih belum sadar ia menahan tangan
gadis tersebut. Beberapa detik mereka bertahan dalam posisi itu dan kemudian
Oliver menyadari apa yang ia lakukan dan melepaskan tangan Nicole dengan
segera.
“Maaf!”
Gumamnya dengan cepat dan menolak bertemu pandang dengan Nicole. Mukanya merah
padam demikian juga muka milik Nicole. Setelah menggumamkan tidak apa-apa,
gadis itu berjalan pergi dengan sedikit terburu-buru.
Setelah
berjalan cukup jauh, dia mulai berjalan dengan kecepatan yang normal kembali
sambil memandang hadiah yang baru saja ia terima. Nicole memeluk boneka kecil
itu dan tersenyum kecil, mungkin menyukai seseorang bukanlah hal yang buruk.
***TBC***
A/N : Mohon maaf
apabila ada kesalahan *bows*
Made
by : Liz
Take
out with full credits please~ ^^

0 komentar:
Posting Komentar