Sabtu, 17 Januari 2015

Hogwart's Beloved : Chapter 23



Chapter 23 : Forever My Home
                                                (Setting : HP 5)

"Apa yang harus kulakukan?" Tanya Fred. Dia dan George sedang berdiri di Aula Depan di Minggu pagi, sehari setelah pertandingan dimana mereka berdua di larang bermain Quidditch lagi. Fred bisa di katakan membuat Nicole marah malamnya dan pagi ini gadis itu bangun pagi-pagi sekali untuk mengirim surat, begitu kata Gisselle. Sehingga Fred belum ada kesempatan untuk meminta maaf sampai makan pagi sekarang ini.

“Datang padanya, dan minta maaflah secara jantan.” Kata George sambil menepuk punggung saudara kembarnya sebelum melangkah masuk ke dalam Aula Utama, membuat Fred mau tidak mau mengikuti langkahnya dengan enggan.

“Pagi.” Kata George dengan riang seraya duduk di sebelah Gisselle. Gisselle membalas sapaan pacarnya dengan nada riang juga sementara Nicole membalas dengan nadanya yang biasa. Fred menelan ludah nya dan berjalan ke sebelah Nicole dan duduk disana.

"Pagi." Kata Fred dengan gugup. George dan Gisselle mencuri-curi pandang ke arah mereka dengan penasaran sementara Nicole membalas sapaan Fred dengan nada yang biasa, mungkin sedikit dingin. "Ma-maaf soal yang kemarin. Aku terlalu terbawa emosi."

Nicole menyibakkan rambutnya ke belakang dan memandang Fred dengan tajam. Betapa Fred membenci saat dimana Nicole memandangnya seperti itu, rasanya seperti sedang dibaca secara menyeluruh oleh gadis berambut cokelat tua itu.

"Tidak apa-apa. Bukan masalah." Kata Nicole pada akhirnya. "Aku juga terbawa emosi kemarin malam, maaf."

"Kau tidak akan melapor pada Oliver kan?"

Nicole mengerjapkan matanya beberapa kali. "Memangnya kenapa kalau aku menceritakan hal ini pada Oliver?"

"Yaa.." Muka George terlihat sama cemasnya dengan Fred. "Kalau Oliver tahu, dia akan terbang kesini dan membunuh kita. Terutama juga dia tahu mengenai kami di larang bermain lagi.."

Nicole terdiam sejenak sebelum akhirnya tertawa kecil. "Sayang sekali, Natte sudah terbang mengantar surat untuk Oliver pagi tadi." Dan secara otomatis kedua pemuda kembar itu menundukan kepala mereka dan mengerang frustasi, membuat mau tidak mau Nicole nyengir melihat tingjah mereka.

"Tenang saja, aku tidak menceritakan tentang kau berteriak padaku, Fred."

"Sama saja!" Protes Fred. "Dia akan membunuh kita karena membuat diri kita di larang bermain Quidditch lagi!"

"Aku tidak bisa memprotes hal itu."

"Nicole!!"

***

November pun berakhir dan Desember pun tiba. Pekerjaan Nicole sebagai Ketua Murid pun mulai datang bertubi-tubi. Pekerjaan Elly, Ron dan Hermione sebagai prefect pun mulai bertambah banyak, walau tidak sebanyak tugas Nicole dan Robert, yang merupakan prefect mencangkup Ketua Murid.

"Kau tidak bisa ikut hari ini?" Tanya Gisselle untuk kesekian kalinya sejak Nicole mengatakan bahwa ia tidak bisa ikut latihan LD malam ini. Nicole menjawabnya dengan anggukan sekali lagi.

"Tidak. Aku sudah bilang pada Harry juga. Filch memintaku dan Robert mengawasi pemasangan hiasan untuk acara Natal nanti lalu ber patroli di koridor." Jawab Nicole dengan malas. Gadis berambut pendek itu ingin sekali tidak membolos tugasnya hari ini dan mengikuti latihan LD. Namun itu malah akan membuat Umbridge semakin mengawasinya dengan ketat.

Setelah mengucapkan 'sampai nanti'nya dengan enggan pada Gisselle, si kembar, Lee dan Feli, Nicole menyusul Robert yang berada di Aula Utama dan memulai tugas mereka. Sekitar 3 jam kemudian baru mereka di ijinkan kembali ke ruang rekreasi masing-masing.

Cahaya di ruang rekreasi Gryffindor sudah redup ketika Nicole memasukinya. Api di perapian tetap menyala walau kecil dan tidak ada satu anak pun di ruang rekreasi, pasti mereka semua telah tidur di kamar masing-masing. Baru saja Nicole hendak mengikuti jejak mereka ketika Neville berlari dari turun dari kamarnya.

"Ada apa?" Tanya Nicole, keningnya berkerut karena heran melihat Neville yang pucat pasi. Terakhir kali ia melihat kejadian mirip dengan ini adalah saat Sirius mencoba membunuh Scabbers di ranjang Ron, dua tahun yang lalu.

"Harry.." Kata Neville terbata-bata. "..mendapat dari mimpi buruk dan tampak kesakitan."

"Kesakitan? Di dahinya?"

Neville mengangguk. Nicole langsung berbalik dan berjalan keluar dari ruang rekreasi, diikuti oleh pemuda berumur 15 tahun itu. Beberapa hantu yang sedang berpatroli melihat mereka, namun tidak mengatakan apa-apa selain sapaan dan pandangan penasaran.

"Nicole? Ada apa? Mr. Longbottom kenapa anda ada disini juga? Ada apa ini?" Tanya McGonagall dengan kening berkerut saat Nicole dan Neville berdiri di hadapannya. Nicole dengan ekspresi serius, Neville dengan ekspresi campuran takut dan cemas. Dengan singkat Nicole menceritakan apa yang terjadi dan kening McGonagall semakin berkerut. Wanita tua itu tanpa berkata apapun lagi memimpin jalan balik ke asrama Gryffindor.

"Apa yang terjadi?" Tanya Gisselle saat Nicole akhirnya masuk ke dalam kamar. McGonagall membawa Harry dan Ron pergi ke ruang kepala sekolah setelah mendengarkan penjelasan mimpi Harry yang mengerikan sementara Nicole kembali ke kamar untuk beristirahat. Memutuskan untuk tidak membuat sahabatnya khawatir malam-malam, Nicole menggeleng dan menyuruh Gisselle kembali tidur.

Berita bahwa Harry dan keluarga Weasley meninggalkan sekolah dengan terburu-buru menyebar di pagi hari namun tidak ada yang mengetahui lengkapnya kecuali teman sekamar Harry, Nicole, Gisselle dan tentu saja, Elly. Ketiga gadis itu merencanakan akan berangkat ke Grimmauld Place nomor 12 begitu liburan Natal dimulai.

"Aku benci Bus Kesatria." Kata Gisselle saat mereka bertiga dan Hermione turun dari bus ajaib itu. Dengan cepat, setelah bertukar sapa singkat dan menaruh barang, mereka sudah berkumpul di kamar Harry dan Ron bersama kedua pemilik kamar itu di tambah oleh Ginny. Setelah keributan singkat dan mereka semua berhasil mengembalikan tingkah Harry seperti semula, tugas natal mereka pun di mulai, menghias rumah.

Sirius yang terobsesi menghias rumahnya dengan nuansa Natal dan secara tidak langsung menyuruh Nicole membantunya dan menghias lebih giat dari yang lainnya.

"Tolong jelaskan.." Kata Nicole saat ia sedang memasang hiasan di salah satu jendela. "Kenapa kau menyuruhku memasang ini sementara kau bisa menyuruh yang lain."

"Karena kau tampaknya yang paling santai dan bisa mengerjakan ini dengan cepat."

Nicole memutar bola matanya dengan kesal, "Terima kasih banyak." Gerutunya yang di jawab Sirius hanya dengan senyuman saja. Melihat bahwa ia tidak akan mungkin bisa menghindar dari desakan Sirius itu, Nicole memutuskan untuk melakukan 'penghiasan' rumah itu dengan cepat.

Natal berlangsung sederhana namun hangat dan menyenangkan, hanya saja, setelah Natal berlalu, kondisi Sirius berubah 180 derajat dari sebelumnya. Pria itu semakin mudah marah dan moodnya selalu tidak baik.

"Kau bertingkah seperti anak kecil." Kata Nicole seraya bersandar di ambang pintu kamar Buckbeak, tempat Sirius sedang merajuk. Melihat Sirius mengabaikannya, Nicole melemparkan segumpalan kertas yang ia temukan di dekat kakinya, ke kepala pria itu.

"Jangan mengabaikanku, Black." Protes Nicole. Sirius sudah akan membalas perkataan gadis itu dengan teriakan lainnya namun Nicole lebih cepat. "Aku tahu kau murung karena rumah ini akan sepi kembali, namun bertahanlah selama enam bulan lagi."

"Dan setelah enam bulan, liburan musim panas berlalu, rumah ini kembali sepi." Gerutu Sirius lagi.

Nicole menghela nafas pasrah, "Aku akan mengunjungimu sesering yang ku bisa."

"Pelatihan menjadi Auror tidak mudah, Ravensdale."

"Aku akan bisa melakukannya."

Mata Sirius bertatap dengan mata milik Nicole. Abu-abu bertemu hijau. "Baiklah, kau berhasil meyakinkanku." Gerutu Sirius lagi, walau dalam hati sebenarnya ia mensyukuri hal itu. "Kau sebaiknya menepati janji itu."

Nicole tersenyum puas, "Akan kulakukan."

***

Semester baru pun dimulai dan pekerjaan Nicole semakin berat saja. Tidak hanya ia harus berhadapan dengan NEWT di akhir tahun ajaran ini, tingkah Fred dan George semakin di luar kendali.

"Kalian tidak berniat untuk lulus?" Tanya Nicole. Fred dan George baru saja selesai mempromosikan barang-barang ciptaan mereka di ruang rekreasi.

"Seperti yang kami katakan berulang kali, Nicole sayang.." Kata Fred. Pemuda itu menghindari bantal kursi yang di lempar Nicole sebelum melanjutkan, "Kami punya rencana yang lebih besar daripada hanya lulus dari Hogwarts."

"Kalian tahu, kalian membuat Gisselle khawatir setengah mati." Gumam Nicole seraya menerima bantal kursi yang ia lempar tadi dari Fred. Gisselle menoleh dengan cepat ke arah Nicole lalu menatap si kembar dan menggeleng dengan panik.

"Tidak kok!" Kata Gisselle dengan cepat.

"Jadi kau tidak khawatir tentang ku?" Kata George. Pemuda itu memasang ekspresi kecewa yang jelas dibuat-buat namun berhasil membuat Gisselle semakin panik.

"Jangan menggodanya seperti itu." Kata Nicole, yang kali ini melempar bantal kursi pada George, yang di tangkap pemuda itu sambil nyengir lebar.

"Kenapa aku dilarang menggoda pacarku sendiri?" Kata George dengan cengiran menyebalkan masih terpasang di wajahnya. Nicole memutar bola matanya dan mengeluarkan dengusan kesal.

"Ngomong-ngomong soal pacar, Nicole, apakah Oliver akan mengunjungimu Valentine ini di Hogsmeade?" Tamya Fred.

"Tidak. Memangnya kenapa?"

Fred bertukar pandang dengan George, keduanya mempunyai ekspresi jahil menyebalkan di mukanya. "Karena, kau akan sendirian di hari Valentine ini."

Melihat ekspresi heran Nicole, si kembar tidak dapat menahan tawa mereka lagi. "Aku akan pergi bersama Angelina, George dengan Gisselle dan Lee dengan Feli." Jelas Fred.

"Oh. Oke." Reaksi datar dari Nicole membuat cengiran menghilang dari wajah Fred dan George. "Lagipula aku mungkin tidak akan pergi."

"Tidak seru."

"Kau membosankan Nicole."

Setelah mengatakan hal itu, si kembar berpandang-pandangan kembali dan dengan kompak melempar bantal kursi kepada Nicole, membuat sang gadis berdiri dan mengejar mereka keliling ruang rekreasi.

***

Runtutan kejadian besar seperti lepasnya tawanan Azkaban, wawancara Harry dan berbagai kejadian lainnya tampaknya membuat Umbridge mengawasi Nicole lebih ketat lagi, walaupun gadis itu jelas tidak terlibat dalam hal apapun.

"Jadi, kau tidak bisa ikut lagi?" Tanya Elly saat Nicole, Gisselle dan Elly sedang duduk bertiga di perpustakaan yang sepi. Mereka memutuskan untuk belajar hingga larut malam disana.

Nicole menggeleng. Ia memang sudah memberi tahu Harry bahwa ia tidak bisa mengikuti kegiatan DA selanjutnya, lagi, hari itu. Umbridge lebih menganggapnya sebagi ancaman daripada Harry karena dia adalah cucu Dumbledore yang sudah cukup umur.

"Ngomong-ngomong Elly.." Kata Gisselle seraya menambahkan tanda titik di catatannya. "Harry tampaknya semakin membenci Profesor Snape akhir-akhir ini. Tidakah sebaiknya ia di beritahu?"

Elly mengerutkan dahinya dan menggeleng. "Aku masih di larang untuk mengatakan apapun pada Harry."

Gisselle sudah hendak membuka mulut ketika suara langkah kaki menarik perhatian mereka. Fred dan George melangkah masuk dengan cengiran lebar di wajah mereka, langsung dapat dipastikan penjualan produk mereka lancar. Kedua pemuda kembar itu melihat para gadis yang duduk dan segera berjalan mendekati.

"Kalian berjualan benda-benda itu lagi?" Tanya Elly saat Fred dan George menarik kursi dan duduk bersama mereka. "Benda itu benda-benda berbahaya!"

"Tentu saja tidak, buktinya kami masih sehat." Jawab Fred sebelum ia menoleh ke arah Nicole. "Kau ikut perkumpulan hari ini?"

"Sayangnya tidak bisa, lagi." Jawab Nicole dan kedua pemuda kembar mengerang kecewa. "Jangan melebih-lebih kan." Lanjut Nicole seraya melirik jamnya, "Aku harus pergi sekarang. Sampai nanti." Dan gadis berambut cokelat tua itu membereskan barangnya dan mulai berjalan pergi dari perpustakaan. Professor Umbridge punya 'tugas' untuknya. Bah, gadis itu yakin itu hanya alasan agar bisa mengawasinya sekaligus mengorek informasi.

Dengan enggan, Nicole menemui Robert di depan Aula Utama dan bersama-sama pergi ke ruangan professor menyebalkan tersebut.

"Kau kecewa tidak bisa mengikuti pertemuan lagi?" Tanya Robert dengan suara kecil. Pemuda itu juga memiliki kesulitan mengikuti pertemuan DA walau tidak seperti Nicole yang nyaris tidak pernah bisa mengikuti pertemuan.

Nicole mengangguk, "Tentu saja. Ku harap ia tidak memberi tugas yang aneh-aneh malam ini."

Robert hanya tertawa kecil. Tidak lama kemudian mereka sudah mengetuk pintu ruangan Umbridge. Jawaban yang menyuruh mereka masuk pun terdengar, dan kedua murid kelas tujuh itu pun masuk hanya untuk mendapatkan Umbridge yang tampaknya sedang menghibur seorang murid. Nicole mengenalinya sebagai teman Cho dan Feli, Marietta Edgecombe.

“Ravensdale, Abernathy.” Sapa Umbridge dengan suara manis-menjijikan miliknya yang biasa. “Kalian berdua murid terpintar di sekolah ini bukan?”

“Kami tidak bisa mengatakan bahwa hal itu benar, Profesor.” Jawab Robert dengan sopan sementara Nicole sibuk memperhatikan Marietta yang menunduk dan tampaknya sedang menangis.

“Apa yang kau lakukan padanya?” Kata Nicole dengan tajam, “..Sir.” Tambahnya sebagai bentuk sopan-santun walau gadis itu jelas sekali enggan bersopan-santun pada wanita di depannya ini. Umbridge tersenyum, dengan sedikit mengerikan sebenarnya, kepada Nicole, sebelum membuka mulutnya kembali.

“Bagaimana jika kau yang menjelaskan, nona Ravensdale?” Kata Umbridge. Nicole hanya menatap dengan bingung dan tidak sempat menjawab karena pintu terbuka dan sekelompok anak Slytherin. Baik Nicole dan Robert menatap dengan kaget dan tidak dapat berkata apa-apa.

“Anda memanggil kami, Profesor?” Tanya Malfoy yang berdiri paling depan. Pemuda itu tampak kaget sekaligus sedikit takut ketika melihat Nicole, namun dengan cepat melupakan ketakutannya mengingat bahwa ia lebih berkuasa daripada Nicole selama Umbridge masih di pihaknya.

“Oh bagus sekali. Aku ingin kalian memeriksa lantai tujuh. Ada sebuah ruangan ajaib yang hanya datang jika dibutuhkan saja. Aku ingin kalian membutuhkan—“ Umbridge menghentikan kata-katanya hanya untuk melihat ekspresi Nicole yang terkejut luar biasa, sekaligus sedikit panik. “—tempat untuk belatih melawan Ilmu Hitam yang di pimpin Harry Potter.”

Malfoy tersenyum puas dan membungkuk sebelum keluar ruangan bersama kelompoknya. “Lakukan sesuatu padanya.” Perintah Umbridge pada Robert seraya menunjuk Marietta. “Dan kau, ikut denganku.” Lanjut Umbridge pada Nicole. Mau tidak mau, Nicole mengikuti wanita kecil itu yang ikut berlari ke arah lantai tujuh, untuk menangkap Harry dan yang lain. Nicole hanya bisa berharap pertemuan hari itu sudah berakhir, walau ia tidak tahu itu agak tidak mungkin.

Terdengar keributan yang jelas sekali ketika mereka sampai di lantai tujuh. Betapa leganya Nicole ketika sepertinya tidak ada satu pun anggota yang tertangkap. Namun hatinya langsung mencelos ketika ia mendengar suara Malfoy.

“Profesor! Dapat satu nih!!”

Umbridger mempercepat langkahnya walau jelas profesor itu sudah kehabisan tenaga. Nicole mengikuti tepat di belakang dan matanya melebar kaget ketika melihat Harry lah yang tertangkap.

"Dia!" seru Umbridge girang sekali melihat Harry di lantai. "Hebat, Draco, hebat, oh, bagus sekali, lima puluh angka untuk Slytherin! Biar kutangani dia sekarang, bangun, Potter!"

Harry dan Nicole bertukar pandang saat pemuda itu di paksa bangun oleh Malfoy. Umbridge sendiri juga menatap puas ke arah Nicole sebelum berjalan ke salah satu papan dan mencopot secarik kertas yang di tempel disana. “Kalian terlibat masalah besar anak-anak, oh sangat besar.” Kata Umbridge setelah membaca kertas itu, yang Nicole duga adalah daftar nama anggota LD.

Setelah menyuruh Malfoy untuk tetap mencari, Umbridge membawa Nicole dan Harry ke ruang kepala sekolah yang ternyata sudah penuh dengan berbagai macam orang. Nicole hanya berdiri diam saja, bertukar pandang singkat dengan kakeknya sementara Harry di interogasi oleh sang Menteri Sihir, Cornelius Fudge. Bahkan saat Marietta dipanggil atau Dumbledore terdengar marah saat Umbridge memaksa Marietta berbicara, Nicole tetap diam dan memasang muka datar. Ia tahu itu yang kakeknya inginkan saat ini, dan ia berencana melakukan permintaan kakeknya.

Bagus sekali, kata Fudge, senyum melebar di wajahnya. Pria ini baru saja menerima secarik kertas daftar LD dari Umbridge. “Bagus sekali, Dolores. Dan... Astaga...” Ia mendongak memandang Dumbledore, yang masih berdiri di sebelah Marietta, tongkat sihirnya dipegang kendur di tangannya.

Lihat bagaimana mereka menamakan diri? kata Fudge pelan. Laskar Dumbledore.

Dumbledore mengulurkan tangan dan mengambil perkamen dari Fudge. Dia memandang judul yang dituliskan Hermione beberapa bulan lalu dan sejenak tampaknya tak bisa berbicara. Kemudian dia mendongak, tersenyum.

Yah, permainan sudah berakhir," katanya terus terang. Apakah kau menginginkan pengakuan tertulis dariku, Cornelius, atau apakah pernyataan di depan semua saksi ini cukup?

Setelah kata-kata Dumbledore itu, keadaan ruangan mendadak menjadi kacau. Fudge bertindak bodoh dengan berusaha menangkap Dumbledore, yang jelas sekali gagal. Keadaan ruangan itu kacau balau dan semua orang di pihak Fudge pingsan.

Sayangnya aku harus menyihir Kingsley juga, kalau tidak akan sangat mencurigakan, kata Dumbledore pelan. Ia mendekati Nicole, McGonagall, dan Harry. “Dia bertindak luar biasa cepat, mengubah ingatan Miss Edgecombe seperti itu saat yang lain tengah melihat ke arah lain. Sampaikan terima kasihku kepadanya, Minerva.

Kau akan ke mana, Dumbledore? bisik Profesor McGonagall. Grimmauld Place?

Oh tidak, kata Dumbledore, tersenyum muram, Aku tidak pergi untuk bersembunyi. Fudge tak lama lagi akan menyesal mengeluarkanku dari Hogwarts, aku berjanji.

“Jangan khawatir.” Kata Dumbledore seraya menepuk kepala Nicole. “Pertahankan Hogwarts untukku.”

“Tenang saja.” Jawab Nicole seraya mengangguk. “Kau akan segera kembali kan?”

Dumbledore tersenyum pada cucunya itu. “Tentu saja.”

Profesor tua itu menoleh dan menatap Harry, memberikan perintahnya pada pemuda itu sebelum menghilang bersama Fawkes. Dan sesaat kemudian, Fudge dan yang lain bangun hanya untuk bertingkah panik dan mencari Dumbledore walau jelas mereka tidak akan mungkin menemukannya.

“Katakan, Ravensdale.” Kata Fudge. “Dimana kakekmu bersembunyi.”

“Sayangnya pak Menteri, saya juga tidak tahu.”

Fudge tampak geram, “Aku tahu cita-citamu adalah menjadi Auror, Ravensdale. Aku bisa membuat hal itu mustahil terjadi jika kau menentangku kau tahu.”

“Pak Menteri, kurasa kita sudah membahas hal ini.” Kata Kingsley. “Akan susah menolak gadis ini dengan mudah melihat nilai-nilainya yang…menjulang.”

Fudge melirik Kingsley dengan marah sebelum melunak. “Ya ya. Kurasa kau benar.” Pria itu menatap Nicole kembali namun tidak mengatakan apa-apa selain menyuruh McGonagall membawa Nicole, Harry dan Marietta kembali ke asrama masing-masing.

“Kau yakin semuanya akan baik-baik saja?” Kata Harry. McGonagall meninggalkan mereka untuk mengantar Marietta ke rumah sakit sekolah. Nicole diam sejenak sebelum menjawab pertanyaan pemuda yang lebih muda itu.

“Tentu saja. Tidak ada masa susah yang berlangsung selamanya.”

Masa susah memang tidak mungkin berlangsung selamanya, namun jelas bisa menjadi lebih buruk. Nicole sendiri berulang kali di wawancari oleh Umbridge, yang telah menjadi kepala sekolah, di ruangannya dengan suguhan minuman. Gadis itu yakin minuman itu telah di tetesi Veritaserum dari Snape. Mempercayai Snape seperti kakeknya, gadis itu tidak ragu untuk meminum suguhan dari Umbridge, dan benar, Veritaserum yang diberikan Snape untuk Umbridge palsu.

“Kalian serius?” Tanya Elly. Ia, Gisselle dan Nicole baru saja diceritakan mengenai rencana Harry dari orangnya sendiri.

“Aku harus mendapat kepastian kak.” Kata Harry. Elly hanya mengigit bibir bawahnya dengan cemas. Ia juga ingin tahu seperti Harry, kepastian mengenai sifat ayah mereka yang baru saja di ketahui Harry di ingatan Snape.

“Tapi ini terlalu berbahaya.” Kata Elly lagi. Namun keputusan Harry sudah tidak bisa diubah. Gisselle sendiri menghabiskan hari-hari berikutnya dengan berusaha membujuk pacarnya agar tidak melakukan hal yang aneh-aneh karena si kembar telah mengajukan diri sebagai pengalih perhatian. Dan usaha Gisselle sama sia-sianya seperti usaha Elly.

“Bahkan Nicole pun tidak bisa menghentikan kami sekarang.” Kata Fred ketika Gisselle meminta bantuan Nicole. Apapun yang dilakukan ketiga gadis itu, Elly, Gisselle dan Nicole, tidak ada yang bisa mengubah rencana Harry.

Sore di hari dimana Harry akan melakukan rencananya, si kembar tidak tanggung-tanggung dalam melakukan peran mereka sebagai ‘pengalih perhatian’. Kembang api, berbagai macam produk buatan si kembar, dan rawa-rawa di tengah Aula membuat Umbridge kalang kabut sebelum akhirnya ia berhasil memojokan mereka di Aula, dengan seluruh murid menonton. Nicole, Gisselle dan Elly termasuk diantaranya. Gisselle menggenggam tangan kedua temannya, cemas karena George dan kata-kata Umbridge terhadap si kembar.

“George.” Kata Fred, “Kurasa kita sudah cukup mendapat pendidikan formal.”

"Yeah, aku juga merasa begitu," ujar George ringan.

“Sudah waktunya menguji bakat kita di dunia yang sesungguhnya, bagaimana menurutmu?”

“Benar sekali.”

Sebelum Umbridge sempat mengucapkan sepatah kata pun, si kembar mengangkat tongkat sihir dan berkata bersamaan. “Accio sapu!”

Gisselle memekik kaget ketika mendadak terdengar suara benturan keras dan sepasang sapu milik si kembar melesat mendekati sang pemilik. Sebelum melesat pergi, George menatap ke arah Gisselle, memberikan pacarnya itu sebuah tatapan permintaan maaf. Si kembar pun meninggalkan sekolah setelah meminta Peeves menyengsarakan Umbridge, yang herannya, di turuti oleh hantu nakal itu.

Kisah pelarian Fred dan George sangan populer hingga tampaknya itu akan menjadi legenda. Semua orang menjadi bersemangat setelah kejadian itu, semua kecuali Gisselle. Gadis itu menjadi murung sejak pacarnya meninggalkan sekolah tanpa perpisahan yang layak. Nicole dan Elly sudah berusaha menghiburnya dengan mengatakan pada liburan berikutnya Gisselle dapat menemui George kembali, namun tampaknya itu tidak berpengaruh.

Hari-hari berlalu di Hogwarts. Kemenangan Quidditch dan pada akhirnya, ujian NEWT berhasil membuat pikiran Gisselle teralihkan dan gadis itu kembali seperti normal.

“Tidak buruk.” Kata Gisselle saat ia, Nicole dan Lee berjalan kembali ke ruang rekreasi malam hari setelah ujian Sejarah mereka. Lee menatap Gisselle seakan-akan gadis itu sudah gila namun tidak mengatakan apa-apa. Suara langkah kaki yang berlari mendekati mereka membuat ketiga murid itu terlonjak kaget.

“Nicole!!” Feli berlari ke arahnya dengan sekuat tenaga. Gagal menghentikan larinya sendiri, gadis itu menabrak Lee hingga mereka berdua terjatuh. Muka Lee merah padam namun ia melindungi Feli dari lantai yang dingin.

“K-kalian tidak apa-apa?’ Tanya Gisselle. Feli, yang mukanya merah juga karena menyadari posisinya dengan Lee saat terjatuh tadi langsung berdiri dan mendekati Nicole.

“Profesor McGonagall!! Ia di serang tadi!”

Mendengar kata-kata Feli, Nicole memberikan tasnya pada Lee yang baru saja bangun dan langsung berlari pergi. Gadis itu menemukan wanita itu tidak sadarkan diri di rumah sakit sekolah, sedang di rawat oleh Madam Pomfrey.

“Benar-benar tidak tahu malu!” Kata Madam Pomfrey. Wanita itu menangis seraya merawat McGonagall. Atas desakan Nicole, akhirnya Madam Pomfrey menceritakan apa yang terjadi sebenarnya.

“Kendalikan emosimu, Nicole.” Kata wanita yang lebih tua itu. “Dengan Hagrid meninggalkan sekolah dan kondisi Minerva yang seperti ini, kita tidak bisa membuat kau terkena masalah juga.”

Nicole mengangguk. Ia telah berjanji pada kakeknya untuk mempertahankan Hogwarts. Apapun yang terjadi, ia harus tetap berada di Hogwarts sampai saatnya ia lulus nanti. Terutama saat Harry dan Elly masih berada di sekolah itu.

Kejadian malam itu pun menjadi rahasia umum seluruh sekolah. McGonagall sendiri telah di pindahkan ke St. Mungo untuk di rawat lebih lanjut. Hari ujian terakhir pun berlalu dengan suram. Nicole baru saja kembali dari kandang burung hantu, mengirim surat untuk Oliver ketika Harry berlari ke arahnya dengan Ron dan Hermione mengejar di belakang pemuda itu.

“Nicole!” Kata Harry. “Voldemort menangkap Sirius!”

Perlu beberapa saat untuk Nicole mencerna kata-kata Harry. “Tidak mungkin, Harry.”

“Itulah yang kami katakan dari tadi.” Timpal Hermione.

“Tapi aku melihatnya!!” Kata Harry kembali. “Seperti aku melihat Mr. Weasley! Aku melihat Voldemort menyiksa Sirius!”

Nicole menggeleng. “Tidak. Itu pasti hanya tipuan dari Voldemort. Kau benar-benar harus menutup pikiranmu, Harry.”

Harry tidak mengatakan apa-apa lagi. Nicole menatap tiga sekawan itu pergi dengan diam, berharap Harry menyerah mengenai tipuan Voldemort yang dilihatnya.

Namun sayangnya Nicole salah.

Desas-desus mengatakan bahwa Harry di tangkap oleh Umbridge membuat Nicole panik. Tidak hanya dia, Gisselle dan Elly turut panik ketika Nicole menceritakannya.

“Pemuda bodoh itu!” Umpat Elly. Kesal dan cemas karena adik semata wayangnya itu.

“Apa yang bisa kita lakukan Nicole?” Tanya Gisselle yang sudah siap menangis. Nicole dengan cepat mengajak kedua temannya ke kantor Snape, dimana profesor itu baru saja balik dari kantor Umbridge.

“Masuk. Cepat.” Kata Snape. Pria itu menutup pintu ruangannya dan menatap ketiga gadis didepannya.

“Bagaimana anak itu bisa percaya bahwa Black tertangkap?” Tanya Snape dengan cepat dan Nicole menceritakan pada yang Harry katakan padanya beberapa hari yang lalu.

“Aku akan menghubungi Sirius. Kalian pastikan Harry tidak pergi dari kastil ini.” Perintah Snape. Nicole, Elly dan Gisselle saling berpandangan lalu berlari keluar, mencari Harry dan yang lain di kantor Umbridge. Namun yang mereka temukan hanya Malfoy dan beberapa anak Slytherin lainnya tergeletak di lantai ruangan karena terkena berbagai mantra. Ketiga gadis itu segera berlari kembali untuk mencari, namun sia-sia karena Harry dan yang lain telah pergi ke Kementrian Sihir.

“Gawat.” Kata Snape ketika mereka bertemu pria itu di koridor dan menceritakan segalanya. “Kalian kembali ke ruang rekreasi, aku akan menghubungi Orde kembali.”

“Aku mau menyusul adikku!” Kata Elly.

“Tidak!!” Kata Snape luar biasa tegas. “Ini jebakan, Elly, kembalilah ke asramamu.” Lanjut Snape, suaranya melembut. “Kalian juga, aku akan menangani hal ini.” Snape mengangguk ke arah Nicole dan Gisselle sebelum melesat pergi.

Memutuskan untuk mematuhi perintah Snape, Nicole dan Gisselle kembali ke ruang rekreasi Gryffindor sementara Elly ke ruang rekreasi Hufflepuff. Hingga larut malam, baik Nicole maupun Gisselle tidak naik ke kamar mereka walau pada akhirnya Gisselle tertidur di sofa di ruang rekreasi, sementara Nicole berjalan mengelilingi ruang rekreasi dengan cemas.

Sudah larut sekali ketika Nicole mendengar suara Fawkes. Gadis itu segera membangunkan Gisselle dan bersama, mereka berlari keluar ruang rekreasi dan bertemu Elly di tangga. Gadis itu juga mendengar suara Fawkes dan memutuskan untuk keluar dan mengecek.

“Harry!!” Kata Elly ketika ia melihat adiknya. Melihat keadaan Harry, Nicole menyuruh Elly dan Gisselle menemani Harry ke rumah sakit sekolah sementara ia melanjutkan ke ruang kepala sekolah, dimana ia percaya, kakeknya telah kembali.

“Ah Nicole.” Kata Dumbledore saat Nicole memasuki ruangan kepala sekolah. Pria tua itu sedang membersihkan kekacauan yang tadi disebabkan oleh Harry.

“Apa yang terjadi?” Tanya Nicole. Dumbledore tersenyum sedih dan menyuruh Nicole untuk duduk sebelum menceritakan semuanya termasuk kenyataan bahwa Harry baru saja kehilangan walinya. Gadis itu tahu mengenai ramalan Harry tentu saja, namun berita bahwa Sirius telah tiada membuatnya kehilangan kata-kata.

Gadis itu mengepalkan tangannya dengan erat hingga kuku-kukunya membuat telapak tangannya berdarah. Bibir bawahnya ia gigit agar ia tidak mengeluarkan isakan. Namun matanya mengkhianatinya, ia menangis lagi, sama seperti saat ia kehilangan Cedric. Bagaimana pun juga Sirius sudah seperti sahabatnya walau mereka sering bertengkar.

Dumbledore berjalan mendekati cucunya dan memeluk gadis itu dengan lembut. Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut profesor tua itu. Namun pelukan hangat Dumbledore sudah cukup untuk menghibur Nicole.

***

“Jadi. Ini saatnya?”

Nicole, Elly dan Gisselle berpandang-pandangan. Hari ini adalah hari dimana mereka akan meninggalkan Hogwarts dan tidak akan kembali di musim gugur mendatang. Mereka sudah lulus dan sudah saatnya menghadapi dunia luar.

Koper sudah dipak, perpisahan sudah di ucapkan, bahkan foto kenang-kenangan sudah di ambil di depan kastil Hogwarts tercinta mereka. Nicole menatap foto dimana dirinya, Elly dan Gisselle saling merangkul dan tertawa di depan Hogwarts.

Tidak seperti sebelumnya, Nicole menaiki Hogwarts Express kali ini. Dia akan pulang ke rumah miliknya dan kakeknya di Godric’s Hollow sebelum akhirnya menjalani pelatihan di Kementrian sihir.

“Nicole.”

Gadis berambut cokelat tua itu pun menoleh dan menatap kakeknya yang ikut mengantar walau hanya sampai halaman depan Hogwarts. Guru-guru lain pun berdiri di belakang sang kepala sekolah, McGonagall juga ada disana. Profesor perempuan itu sudah sembuh sepenuhnya. Umbridge tidak ada tentu saja, mengingat ia sudah di usir oleh Peeves.

Nicole berbalik dan memeluk kakeknya. Dumbledore sendiri tersenyum dan mencium dahi cucunya.

“Hogwarts akan selalu menjadi rumahmu.” Kata Dumbledore. Air mata berlinang dimatanya, sama seperti Nicole dan beberapa guru lain, seperti Sprout yang terang-terangan mengelap air matanya yang sudah mengalir deras.

“Aku tahu.” Jawab Nicole. “Hogwarts adalah rumahku.”

“Semoga berhasil, sayang.” Lanjut Dumbledore. “Memang waktu tidak terasa, rasanya baru kemarin kau belajar berjalan dan terjatuh di tangga.”

Nicole tertawa. Dumbledore sendiri ikut terkekeh. Setelah berkeliling dan memberi pelukan atau jabatan tangan pada guru-guru dan staff yang sudah ia anggap sebagai keluarga sendiri dan memberi pelukan sekali lagi pada kakeknya, Nicole berbalik dan berjalan pergi. Meninggalkan Hogwarts dan menuju dunia luar yang lebih berbahaya.

***TBC***

A/N : MAAF LAMAAA~
Udah lama aneh lagi huhuhuhuhu TT__TT
Endingnya ga jelas masa ewe
Anyway, mohon maaf apabila ada kesalahan *bows*

Original Plot by : Our Queen, JK Rowling
The ‘new’ plot Made by : Liz
Take out with full credits please~ ^^

0 komentar:

Posting Komentar