Chapter 23 : Forever My Home
(Setting :
HP 5)
"Apa yang
harus kulakukan?" Tanya Fred. Dia dan George sedang berdiri di Aula Depan
di Minggu pagi, sehari setelah pertandingan dimana mereka berdua di larang
bermain Quidditch lagi. Fred bisa di katakan membuat Nicole marah malamnya dan
pagi ini gadis itu bangun pagi-pagi sekali untuk mengirim surat, begitu kata
Gisselle. Sehingga Fred belum ada kesempatan untuk meminta maaf sampai makan
pagi sekarang ini.
“Datang
padanya, dan minta maaflah secara jantan.” Kata George sambil menepuk punggung
saudara kembarnya sebelum melangkah masuk ke dalam Aula Utama, membuat Fred mau
tidak mau mengikuti langkahnya dengan enggan.
“Pagi.” Kata
George dengan riang seraya duduk di sebelah Gisselle. Gisselle membalas sapaan
pacarnya dengan nada riang juga sementara Nicole membalas dengan nadanya yang
biasa. Fred menelan ludah nya dan berjalan ke sebelah Nicole dan duduk disana.
"Pagi."
Kata Fred dengan gugup. George dan Gisselle mencuri-curi pandang ke arah mereka
dengan penasaran sementara Nicole membalas sapaan Fred dengan nada yang biasa,
mungkin sedikit dingin. "Ma-maaf soal yang kemarin. Aku terlalu terbawa
emosi."
Nicole
menyibakkan rambutnya ke belakang dan memandang Fred dengan tajam. Betapa Fred
membenci saat dimana Nicole memandangnya seperti itu, rasanya seperti sedang
dibaca secara menyeluruh oleh gadis berambut cokelat tua itu.
"Tidak
apa-apa. Bukan masalah." Kata Nicole pada akhirnya. "Aku juga terbawa
emosi kemarin malam, maaf."
"Kau
tidak akan melapor pada Oliver kan?"
Nicole
mengerjapkan matanya beberapa kali. "Memangnya kenapa kalau aku
menceritakan hal ini pada Oliver?"
"Yaa.."
Muka George terlihat sama cemasnya dengan Fred. "Kalau Oliver tahu, dia
akan terbang kesini dan membunuh kita. Terutama juga dia tahu mengenai kami di
larang bermain lagi.."
Nicole terdiam
sejenak sebelum akhirnya tertawa kecil. "Sayang sekali, Natte sudah
terbang mengantar surat untuk Oliver pagi tadi." Dan secara otomatis kedua
pemuda kembar itu menundukan kepala mereka dan mengerang frustasi, membuat mau
tidak mau Nicole nyengir melihat tingjah mereka.
"Tenang
saja, aku tidak menceritakan tentang kau berteriak padaku, Fred."
"Sama
saja!" Protes Fred. "Dia akan membunuh kita karena membuat diri kita
di larang bermain Quidditch lagi!"
"Aku
tidak bisa memprotes hal itu."
"Nicole!!"
***
November pun
berakhir dan Desember pun tiba. Pekerjaan Nicole sebagai Ketua Murid pun mulai
datang bertubi-tubi. Pekerjaan Elly, Ron dan Hermione sebagai prefect pun mulai
bertambah banyak, walau tidak sebanyak tugas Nicole dan Robert, yang merupakan
prefect mencangkup Ketua Murid.
"Kau
tidak bisa ikut hari ini?" Tanya Gisselle untuk kesekian kalinya sejak
Nicole mengatakan bahwa ia tidak bisa ikut latihan LD malam ini. Nicole
menjawabnya dengan anggukan sekali lagi.
"Tidak.
Aku sudah bilang pada Harry juga. Filch memintaku dan Robert mengawasi
pemasangan hiasan untuk acara Natal nanti lalu ber patroli di koridor."
Jawab Nicole dengan malas. Gadis berambut pendek itu ingin sekali tidak membolos
tugasnya hari ini dan mengikuti latihan LD. Namun itu malah akan membuat Umbridge
semakin mengawasinya dengan ketat.
Setelah
mengucapkan 'sampai nanti'nya dengan enggan pada Gisselle, si kembar, Lee dan
Feli, Nicole menyusul Robert yang berada di Aula Utama dan memulai tugas
mereka. Sekitar 3 jam kemudian baru mereka di ijinkan kembali ke ruang rekreasi
masing-masing.
Cahaya di
ruang rekreasi Gryffindor sudah redup ketika Nicole memasukinya. Api di
perapian tetap menyala walau kecil dan tidak ada satu anak pun di ruang
rekreasi, pasti mereka semua telah tidur di kamar masing-masing. Baru saja
Nicole hendak mengikuti jejak mereka ketika Neville berlari dari turun dari
kamarnya.
"Ada
apa?" Tanya Nicole, keningnya berkerut karena heran melihat Neville yang
pucat pasi. Terakhir kali ia melihat kejadian mirip dengan ini adalah saat
Sirius mencoba membunuh Scabbers di ranjang Ron, dua tahun yang lalu.
"Harry.."
Kata Neville terbata-bata. "..mendapat dari mimpi buruk dan tampak
kesakitan."
"Kesakitan?
Di dahinya?"
Neville
mengangguk. Nicole langsung berbalik dan berjalan keluar dari ruang rekreasi,
diikuti oleh pemuda berumur 15 tahun itu. Beberapa hantu yang sedang berpatroli
melihat mereka, namun tidak mengatakan apa-apa selain sapaan dan pandangan
penasaran.
"Nicole?
Ada apa? Mr. Longbottom kenapa anda ada disini juga? Ada apa ini?" Tanya
McGonagall dengan kening berkerut saat Nicole dan Neville berdiri di
hadapannya. Nicole dengan ekspresi serius, Neville dengan ekspresi campuran
takut dan cemas. Dengan singkat Nicole menceritakan apa yang terjadi dan kening
McGonagall semakin berkerut. Wanita tua itu tanpa berkata apapun lagi memimpin
jalan balik ke asrama Gryffindor.
"Apa yang
terjadi?" Tanya Gisselle saat Nicole akhirnya masuk ke dalam kamar.
McGonagall membawa Harry dan Ron pergi ke ruang kepala sekolah setelah
mendengarkan penjelasan mimpi Harry yang mengerikan sementara Nicole kembali ke
kamar untuk beristirahat. Memutuskan untuk tidak membuat sahabatnya khawatir
malam-malam, Nicole menggeleng dan menyuruh Gisselle kembali tidur.
Berita bahwa
Harry dan keluarga Weasley meninggalkan sekolah dengan terburu-buru menyebar di
pagi hari namun tidak ada yang mengetahui lengkapnya kecuali teman sekamar
Harry, Nicole, Gisselle dan tentu saja, Elly. Ketiga gadis itu merencanakan
akan berangkat ke Grimmauld Place nomor 12 begitu liburan Natal dimulai.
"Aku
benci Bus Kesatria." Kata Gisselle saat mereka bertiga dan Hermione turun
dari bus ajaib itu. Dengan cepat, setelah bertukar sapa singkat dan menaruh
barang, mereka sudah berkumpul di kamar Harry dan Ron bersama kedua pemilik
kamar itu di tambah oleh Ginny. Setelah keributan singkat dan mereka semua
berhasil mengembalikan tingkah Harry seperti semula, tugas natal mereka pun di
mulai, menghias rumah.
Sirius yang
terobsesi menghias rumahnya dengan nuansa Natal dan secara tidak langsung
menyuruh Nicole membantunya dan menghias lebih giat dari yang lainnya.
"Tolong
jelaskan.." Kata Nicole saat ia sedang memasang hiasan di salah satu
jendela. "Kenapa kau menyuruhku memasang ini sementara kau bisa menyuruh
yang lain."
"Karena
kau tampaknya yang paling santai dan bisa mengerjakan ini dengan
cepat."
Nicole memutar
bola matanya dengan kesal, "Terima kasih banyak." Gerutunya yang di
jawab Sirius hanya dengan senyuman saja. Melihat bahwa ia tidak akan mungkin
bisa menghindar dari desakan Sirius itu, Nicole memutuskan untuk melakukan
'penghiasan' rumah itu dengan cepat.
Natal berlangsung sederhana
namun hangat dan menyenangkan, hanya saja, setelah Natal berlalu, kondisi Sirius berubah 180 derajat dari
sebelumnya. Pria itu semakin mudah marah dan moodnya selalu tidak baik.
"Kau
bertingkah seperti anak kecil." Kata Nicole seraya bersandar di ambang
pintu kamar Buckbeak, tempat Sirius sedang merajuk. Melihat Sirius mengabaikannya,
Nicole melemparkan segumpalan kertas yang ia temukan di dekat kakinya, ke
kepala pria itu.
"Jangan
mengabaikanku, Black." Protes Nicole. Sirius sudah akan membalas perkataan
gadis itu dengan teriakan lainnya namun Nicole lebih cepat. "Aku tahu kau
murung karena rumah ini akan sepi kembali, namun bertahanlah selama enam bulan
lagi."
"Dan
setelah enam bulan, liburan musim panas berlalu, rumah ini kembali sepi."
Gerutu Sirius lagi.
Nicole
menghela nafas pasrah, "Aku akan mengunjungimu sesering yang ku
bisa."
"Pelatihan
menjadi Auror tidak mudah, Ravensdale."
"Aku akan
bisa melakukannya."
Mata Sirius
bertatap dengan mata milik Nicole. Abu-abu bertemu hijau. "Baiklah, kau
berhasil meyakinkanku." Gerutu Sirius lagi, walau dalam hati sebenarnya ia
mensyukuri hal itu. "Kau sebaiknya menepati janji itu."
Nicole
tersenyum puas, "Akan kulakukan."
***
Semester baru
pun dimulai dan pekerjaan Nicole semakin berat saja. Tidak hanya ia harus
berhadapan dengan NEWT di akhir tahun ajaran ini, tingkah Fred dan George
semakin di luar kendali.
"Kalian
tidak berniat untuk lulus?" Tanya Nicole. Fred dan George baru saja
selesai mempromosikan barang-barang ciptaan mereka di ruang rekreasi.
"Seperti
yang kami katakan berulang kali, Nicole sayang.." Kata Fred. Pemuda itu
menghindari bantal kursi yang di lempar Nicole sebelum melanjutkan, "Kami
punya rencana yang lebih besar daripada hanya lulus dari Hogwarts."
"Kalian
tahu, kalian membuat Gisselle khawatir setengah mati." Gumam Nicole seraya
menerima bantal kursi yang ia lempar tadi dari Fred. Gisselle menoleh dengan
cepat ke arah Nicole lalu menatap si kembar dan menggeleng dengan panik.
"Tidak
kok!" Kata Gisselle dengan cepat.
"Jadi kau
tidak khawatir tentang ku?" Kata George. Pemuda itu memasang ekspresi kecewa
yang jelas dibuat-buat namun berhasil membuat Gisselle semakin panik.
"Jangan
menggodanya seperti itu." Kata Nicole, yang kali ini melempar bantal kursi
pada George, yang di tangkap pemuda itu sambil nyengir lebar.
"Kenapa
aku dilarang menggoda pacarku sendiri?" Kata George dengan cengiran
menyebalkan masih terpasang di wajahnya. Nicole memutar bola matanya dan
mengeluarkan dengusan kesal.
"Ngomong-ngomong
soal pacar, Nicole, apakah Oliver akan mengunjungimu Valentine ini di
Hogsmeade?" Tamya Fred.
"Tidak.
Memangnya kenapa?"
Fred bertukar
pandang dengan George, keduanya mempunyai ekspresi jahil menyebalkan di
mukanya. "Karena, kau akan sendirian di hari Valentine ini."
Melihat
ekspresi heran Nicole, si kembar tidak dapat menahan tawa mereka lagi. "Aku
akan pergi bersama Angelina, George dengan Gisselle dan Lee dengan Feli."
Jelas Fred.
"Oh.
Oke." Reaksi datar dari Nicole membuat cengiran menghilang dari wajah Fred
dan George. "Lagipula aku mungkin tidak akan pergi."
"Tidak
seru."
"Kau
membosankan Nicole."
Setelah
mengatakan hal itu, si kembar berpandang-pandangan kembali dan dengan kompak
melempar bantal kursi kepada Nicole, membuat sang gadis berdiri dan mengejar
mereka keliling ruang rekreasi.
***
Runtutan
kejadian besar seperti lepasnya tawanan Azkaban, wawancara Harry dan berbagai
kejadian lainnya tampaknya membuat Umbridge mengawasi Nicole lebih ketat lagi,
walaupun gadis itu jelas tidak terlibat dalam hal apapun.
"Jadi,
kau tidak bisa ikut lagi?" Tanya Elly saat Nicole, Gisselle dan Elly
sedang duduk bertiga di perpustakaan yang sepi. Mereka memutuskan untuk belajar
hingga larut malam disana.
Nicole
menggeleng. Ia memang sudah memberi tahu Harry bahwa ia tidak bisa mengikuti
kegiatan DA selanjutnya, lagi, hari
itu. Umbridge lebih menganggapnya sebagi ancaman daripada Harry karena dia
adalah cucu Dumbledore yang sudah cukup umur.
"Ngomong-ngomong
Elly.." Kata Gisselle seraya menambahkan tanda titik di catatannya.
"Harry tampaknya semakin membenci Profesor Snape akhir-akhir ini. Tidakah sebaiknya
ia di beritahu?"
Elly
mengerutkan dahinya dan menggeleng. "Aku masih di larang untuk mengatakan
apapun pada Harry."
Gisselle sudah
hendak membuka mulut ketika suara langkah kaki menarik perhatian mereka. Fred
dan George melangkah masuk dengan cengiran lebar di wajah mereka, langsung
dapat dipastikan penjualan produk mereka lancar. Kedua pemuda kembar itu
melihat para gadis yang duduk dan segera berjalan mendekati.
"Kalian
berjualan benda-benda itu lagi?" Tanya Elly saat Fred dan George menarik
kursi dan duduk bersama mereka. "Benda itu benda-benda berbahaya!"
"Tentu
saja tidak, buktinya kami masih sehat." Jawab Fred sebelum ia menoleh ke
arah Nicole. "Kau ikut perkumpulan hari ini?"
"Sayangnya
tidak bisa, lagi." Jawab Nicole dan kedua pemuda kembar mengerang kecewa.
"Jangan melebih-lebih kan." Lanjut Nicole seraya melirik jamnya,
"Aku harus pergi sekarang. Sampai nanti." Dan gadis berambut cokelat
tua itu membereskan barangnya dan mulai berjalan pergi dari perpustakaan. Professor
Umbridge punya 'tugas' untuknya. Bah, gadis itu yakin itu hanya alasan agar
bisa mengawasinya sekaligus mengorek informasi.
Dengan enggan,
Nicole menemui Robert di depan Aula Utama dan bersama-sama pergi ke ruangan
professor menyebalkan tersebut.
"Kau
kecewa tidak bisa mengikuti pertemuan lagi?" Tanya Robert dengan suara
kecil. Pemuda itu juga memiliki kesulitan mengikuti pertemuan DA walau tidak
seperti Nicole yang nyaris tidak pernah bisa mengikuti pertemuan.
Nicole
mengangguk, "Tentu saja. Ku harap ia tidak memberi tugas yang aneh-aneh
malam ini."
Robert hanya
tertawa kecil. Tidak lama kemudian mereka sudah mengetuk pintu ruangan
Umbridge. Jawaban yang menyuruh mereka masuk pun terdengar, dan kedua murid kelas tujuh itu pun masuk hanya untuk
mendapatkan Umbridge yang tampaknya sedang menghibur seorang murid. Nicole
mengenalinya sebagai teman Cho dan Feli, Marietta Edgecombe.
“Ravensdale, Abernathy.” Sapa Umbridge dengan suara
manis-menjijikan miliknya yang biasa. “Kalian berdua murid terpintar di sekolah
ini bukan?”
“Kami tidak bisa mengatakan bahwa hal itu benar,
Profesor.” Jawab Robert dengan sopan sementara Nicole sibuk memperhatikan
Marietta yang menunduk dan tampaknya sedang menangis.
“Apa yang kau lakukan padanya?” Kata Nicole dengan
tajam, “..Sir.” Tambahnya sebagai bentuk sopan-santun walau gadis itu jelas
sekali enggan bersopan-santun pada wanita di depannya ini. Umbridge tersenyum,
dengan sedikit mengerikan sebenarnya, kepada Nicole, sebelum membuka mulutnya
kembali.
“Bagaimana jika kau yang menjelaskan, nona Ravensdale?”
Kata Umbridge. Nicole hanya menatap dengan bingung dan tidak sempat menjawab
karena pintu terbuka dan sekelompok anak Slytherin. Baik
Nicole dan Robert menatap dengan kaget dan tidak dapat berkata apa-apa.
“Anda memanggil kami, Profesor?” Tanya
Malfoy yang berdiri paling depan. Pemuda itu tampak kaget sekaligus sedikit
takut ketika melihat Nicole, namun dengan cepat melupakan ketakutannya mengingat
bahwa ia lebih berkuasa daripada Nicole selama Umbridge masih di pihaknya.
“Oh bagus sekali. Aku ingin kalian
memeriksa lantai tujuh. Ada sebuah ruangan ajaib yang hanya datang jika
dibutuhkan saja. Aku ingin kalian membutuhkan—“
Umbridge menghentikan kata-katanya hanya untuk melihat ekspresi Nicole yang terkejut luar biasa,
sekaligus sedikit panik. “—tempat untuk belatih melawan Ilmu Hitam yang di
pimpin Harry Potter.”
Malfoy
tersenyum puas dan membungkuk sebelum keluar ruangan bersama kelompoknya. “Lakukan
sesuatu padanya.” Perintah Umbridge pada Robert seraya menunjuk Marietta. “Dan
kau, ikut denganku.” Lanjut Umbridge pada Nicole. Mau tidak mau, Nicole
mengikuti wanita kecil itu yang ikut berlari ke arah lantai tujuh, untuk
menangkap Harry dan yang lain. Nicole hanya bisa berharap pertemuan hari itu
sudah berakhir, walau ia tidak tahu itu agak tidak mungkin.
Terdengar
keributan yang jelas sekali ketika mereka sampai di lantai tujuh. Betapa
leganya Nicole ketika sepertinya tidak ada satu pun anggota yang tertangkap.
Namun hatinya langsung mencelos ketika ia mendengar suara Malfoy.
“Profesor!
Dapat satu nih!!”
Umbridger
mempercepat langkahnya walau jelas profesor itu sudah kehabisan tenaga. Nicole
mengikuti tepat di belakang dan matanya melebar kaget ketika melihat Harry lah
yang tertangkap.
"Dia!" seru
Umbridge girang sekali melihat Harry di lantai. "Hebat, Draco, hebat, oh,
bagus sekali, lima puluh angka untuk Slytherin! Biar kutangani dia sekarang,
bangun, Potter!"
Harry dan Nicole
bertukar pandang saat pemuda itu di paksa bangun oleh Malfoy. Umbridge sendiri
juga menatap puas ke arah Nicole sebelum berjalan ke salah satu papan dan
mencopot secarik kertas yang di tempel disana. “Kalian terlibat masalah besar
anak-anak, oh sangat besar.” Kata Umbridge setelah membaca kertas itu, yang
Nicole duga adalah daftar nama anggota LD.
Setelah menyuruh
Malfoy untuk tetap mencari, Umbridge membawa Nicole dan Harry ke ruang kepala
sekolah yang ternyata sudah penuh dengan berbagai macam orang. Nicole hanya
berdiri diam saja, bertukar pandang singkat dengan kakeknya sementara Harry di
interogasi oleh sang Menteri Sihir, Cornelius Fudge. Bahkan saat Marietta
dipanggil atau Dumbledore terdengar marah saat Umbridge memaksa Marietta
berbicara, Nicole tetap diam dan memasang muka datar. Ia tahu itu yang kakeknya
inginkan saat ini, dan ia berencana melakukan permintaan kakeknya.
“Bagus
sekali,” kata Fudge, senyum melebar di
wajahnya. Pria ini baru saja menerima secarik
kertas daftar LD dari Umbridge. “Bagus sekali, Dolores. Dan... Astaga...” Ia mendongak
memandang Dumbledore, yang masih berdiri di sebelah Marietta, tongkat sihirnya
dipegang kendur di tangannya.
“Lihat
bagaimana mereka menamakan diri?” kata Fudge
pelan. “Laskar Dumbledore.”
Dumbledore mengulurkan tangan dan mengambil
perkamen dari Fudge. Dia memandang judul yang dituliskan Hermione beberapa
bulan lalu dan sejenak tampaknya tak bisa berbicara. Kemudian dia mendongak,
tersenyum.
“Yah,
permainan sudah berakhir," katanya terus terang. “Apakah kau menginginkan pengakuan tertulis dariku, Cornelius, atau
apakah pernyataan di depan semua saksi ini cukup?”
Setelah kata-kata
Dumbledore itu, keadaan ruangan mendadak menjadi kacau. Fudge bertindak bodoh
dengan berusaha menangkap Dumbledore, yang jelas sekali gagal. Keadaan ruangan
itu kacau balau dan semua orang di pihak Fudge pingsan.
“Sayangnya
aku harus menyihir Kingsley juga, kalau tidak akan sangat mencurigakan,” kata Dumbledore pelan. Ia mendekati
Nicole, McGonagall, dan Harry. “Dia bertindak luar biasa cepat,
mengubah ingatan Miss Edgecombe seperti itu saat yang lain tengah melihat ke
arah lain. Sampaikan terima kasihku kepadanya,
Minerva.”
“Kau akan
ke mana, Dumbledore?” bisik
Profesor McGonagall. “Grimmauld
Place?”
“Oh tidak,” kata Dumbledore, tersenyum muram, “Aku
tidak pergi untuk bersembunyi. Fudge tak lama lagi akan menyesal mengeluarkanku
dari Hogwarts, aku berjanji.”
“Jangan khawatir.” Kata
Dumbledore seraya menepuk kepala Nicole. “Pertahankan Hogwarts untukku.”
“Tenang saja.” Jawab Nicole
seraya mengangguk. “Kau akan segera kembali kan?”
Dumbledore tersenyum pada
cucunya itu. “Tentu saja.”
Profesor tua itu menoleh dan
menatap Harry, memberikan perintahnya pada pemuda itu sebelum menghilang
bersama Fawkes. Dan sesaat kemudian, Fudge dan yang lain bangun hanya untuk
bertingkah panik dan mencari Dumbledore walau jelas mereka tidak akan mungkin
menemukannya.
“Katakan, Ravensdale.” Kata
Fudge. “Dimana kakekmu bersembunyi.”
“Sayangnya pak Menteri, saya
juga tidak tahu.”
Fudge tampak geram, “Aku tahu
cita-citamu adalah menjadi Auror, Ravensdale. Aku bisa membuat hal itu mustahil
terjadi jika kau menentangku kau tahu.”
“Pak Menteri, kurasa kita
sudah membahas hal ini.” Kata Kingsley. “Akan susah menolak gadis ini dengan
mudah melihat nilai-nilainya yang…menjulang.”
Fudge melirik Kingsley dengan
marah sebelum melunak. “Ya ya. Kurasa kau benar.” Pria itu menatap Nicole
kembali namun tidak mengatakan apa-apa selain menyuruh McGonagall membawa
Nicole, Harry dan Marietta kembali ke asrama masing-masing.
“Kau yakin semuanya akan
baik-baik saja?” Kata Harry. McGonagall meninggalkan mereka untuk mengantar
Marietta ke rumah sakit sekolah. Nicole diam sejenak sebelum menjawab
pertanyaan pemuda yang lebih muda itu.
“Tentu saja. Tidak ada masa
susah yang berlangsung selamanya.”
Masa susah memang tidak
mungkin berlangsung selamanya, namun jelas bisa menjadi lebih buruk. Nicole
sendiri berulang kali di wawancari oleh Umbridge, yang telah menjadi kepala
sekolah, di ruangannya dengan suguhan minuman. Gadis itu yakin minuman itu
telah di tetesi Veritaserum dari Snape. Mempercayai Snape seperti kakeknya,
gadis itu tidak ragu untuk meminum suguhan dari Umbridge, dan benar,
Veritaserum yang diberikan Snape untuk Umbridge palsu.
“Kalian serius?” Tanya Elly.
Ia, Gisselle dan Nicole baru saja diceritakan mengenai rencana Harry dari
orangnya sendiri.
“Aku harus mendapat kepastian
kak.” Kata Harry. Elly hanya mengigit bibir bawahnya dengan cemas. Ia juga
ingin tahu seperti Harry, kepastian mengenai sifat ayah mereka yang baru saja
di ketahui Harry di ingatan Snape.
“Tapi ini terlalu berbahaya.”
Kata Elly lagi. Namun keputusan Harry sudah tidak bisa diubah. Gisselle sendiri
menghabiskan hari-hari berikutnya dengan berusaha membujuk pacarnya agar tidak
melakukan hal yang aneh-aneh karena si kembar telah mengajukan diri sebagai
pengalih perhatian. Dan usaha Gisselle sama sia-sianya seperti usaha Elly.
“Bahkan Nicole pun tidak bisa
menghentikan kami sekarang.” Kata Fred ketika Gisselle meminta bantuan Nicole.
Apapun yang dilakukan ketiga gadis itu, Elly, Gisselle dan Nicole, tidak ada
yang bisa mengubah rencana Harry.
Sore di hari dimana Harry akan
melakukan rencananya, si kembar tidak tanggung-tanggung dalam melakukan peran
mereka sebagai ‘pengalih perhatian’. Kembang api, berbagai macam produk buatan
si kembar, dan rawa-rawa di tengah Aula membuat Umbridge kalang kabut sebelum
akhirnya ia berhasil memojokan mereka di Aula, dengan seluruh murid menonton.
Nicole, Gisselle dan Elly termasuk diantaranya. Gisselle menggenggam tangan
kedua temannya, cemas karena George dan kata-kata Umbridge terhadap si kembar.
“George.”
Kata Fred, “Kurasa kita sudah cukup mendapat pendidikan formal.”
"Yeah,
aku juga merasa begitu," ujar George ringan.
“Sudah
waktunya menguji bakat kita di dunia yang sesungguhnya, bagaimana menurutmu?”
“Benar
sekali.”
Sebelum
Umbridge sempat mengucapkan sepatah kata pun, si kembar mengangkat tongkat
sihir dan berkata bersamaan. “Accio sapu!”
Gisselle
memekik kaget ketika mendadak terdengar suara benturan keras dan sepasang sapu
milik si kembar melesat mendekati sang pemilik. Sebelum melesat pergi, George
menatap ke arah Gisselle, memberikan pacarnya itu sebuah tatapan permintaan
maaf. Si kembar pun meninggalkan sekolah setelah meminta Peeves menyengsarakan
Umbridge, yang herannya, di turuti oleh hantu nakal itu.
Kisah
pelarian Fred dan George sangan populer hingga tampaknya itu akan menjadi
legenda. Semua orang menjadi bersemangat setelah kejadian itu, semua kecuali
Gisselle. Gadis itu menjadi murung sejak pacarnya meninggalkan sekolah tanpa
perpisahan yang layak. Nicole dan Elly sudah berusaha menghiburnya dengan
mengatakan pada liburan berikutnya Gisselle dapat menemui George kembali, namun
tampaknya itu tidak berpengaruh.
Hari-hari
berlalu di Hogwarts. Kemenangan Quidditch dan pada akhirnya, ujian NEWT
berhasil membuat pikiran Gisselle teralihkan dan gadis itu kembali seperti
normal.
“Tidak
buruk.” Kata Gisselle saat ia, Nicole dan Lee berjalan kembali ke ruang
rekreasi malam hari setelah ujian Sejarah mereka. Lee menatap Gisselle
seakan-akan gadis itu sudah gila namun tidak mengatakan apa-apa. Suara langkah
kaki yang berlari mendekati mereka membuat ketiga murid itu terlonjak kaget.
“Nicole!!”
Feli berlari ke arahnya dengan sekuat tenaga. Gagal menghentikan larinya
sendiri, gadis itu menabrak Lee hingga mereka berdua terjatuh. Muka Lee merah
padam namun ia melindungi Feli dari lantai yang dingin.
“K-kalian
tidak apa-apa?’ Tanya Gisselle. Feli, yang mukanya merah juga karena menyadari
posisinya dengan Lee saat terjatuh tadi langsung berdiri dan mendekati Nicole.
“Profesor
McGonagall!! Ia di serang tadi!”
Mendengar
kata-kata Feli, Nicole memberikan tasnya pada Lee yang baru saja bangun dan
langsung berlari pergi. Gadis itu menemukan wanita itu tidak sadarkan diri di
rumah sakit sekolah, sedang di rawat oleh Madam Pomfrey.
“Benar-benar
tidak tahu malu!” Kata Madam Pomfrey. Wanita itu menangis seraya merawat
McGonagall. Atas desakan Nicole, akhirnya Madam Pomfrey menceritakan apa yang
terjadi sebenarnya.
“Kendalikan
emosimu, Nicole.” Kata wanita yang lebih tua itu. “Dengan Hagrid meninggalkan
sekolah dan kondisi Minerva yang seperti ini, kita tidak bisa membuat kau
terkena masalah juga.”
Nicole
mengangguk. Ia telah berjanji pada kakeknya untuk mempertahankan Hogwarts. Apapun
yang terjadi, ia harus tetap berada di Hogwarts sampai saatnya ia lulus nanti.
Terutama saat Harry dan Elly masih berada di sekolah itu.
Kejadian
malam itu pun menjadi rahasia umum seluruh sekolah. McGonagall sendiri telah di
pindahkan ke St. Mungo untuk di rawat lebih lanjut. Hari ujian terakhir pun
berlalu dengan suram. Nicole baru saja kembali dari kandang burung hantu,
mengirim surat untuk Oliver ketika Harry berlari ke arahnya dengan Ron dan
Hermione mengejar di belakang pemuda itu.
“Nicole!”
Kata Harry. “Voldemort menangkap Sirius!”
Perlu
beberapa saat untuk Nicole mencerna kata-kata Harry. “Tidak mungkin, Harry.”
“Itulah
yang kami katakan dari tadi.” Timpal Hermione.
“Tapi
aku melihatnya!!” Kata Harry kembali. “Seperti aku melihat Mr. Weasley! Aku
melihat Voldemort menyiksa Sirius!”
Nicole
menggeleng. “Tidak. Itu pasti hanya tipuan dari Voldemort. Kau benar-benar
harus menutup pikiranmu, Harry.”
Harry
tidak mengatakan apa-apa lagi. Nicole menatap tiga sekawan itu pergi dengan
diam, berharap Harry menyerah mengenai tipuan Voldemort yang dilihatnya.
Namun
sayangnya Nicole salah.
Desas-desus
mengatakan bahwa Harry di tangkap oleh Umbridge membuat Nicole panik. Tidak
hanya dia, Gisselle dan Elly turut panik ketika Nicole menceritakannya.
“Pemuda
bodoh itu!” Umpat Elly. Kesal dan cemas karena adik semata wayangnya itu.
“Apa
yang bisa kita lakukan Nicole?” Tanya Gisselle yang sudah siap menangis. Nicole
dengan cepat mengajak kedua temannya ke kantor Snape, dimana profesor itu baru
saja balik dari kantor Umbridge.
“Masuk.
Cepat.” Kata Snape. Pria itu menutup pintu ruangannya dan menatap ketiga gadis
didepannya.
“Bagaimana
anak itu bisa percaya bahwa Black tertangkap?” Tanya Snape dengan cepat dan
Nicole menceritakan pada yang Harry katakan padanya beberapa hari yang lalu.
“Aku
akan menghubungi Sirius. Kalian pastikan Harry tidak pergi dari kastil ini.”
Perintah Snape. Nicole, Elly dan Gisselle saling berpandangan lalu berlari
keluar, mencari Harry dan yang lain di kantor Umbridge. Namun yang mereka
temukan hanya Malfoy dan beberapa anak Slytherin lainnya tergeletak di lantai
ruangan karena terkena berbagai mantra. Ketiga gadis itu segera berlari kembali
untuk mencari, namun sia-sia karena Harry dan yang lain telah pergi ke
Kementrian Sihir.
“Gawat.”
Kata Snape ketika mereka bertemu pria itu di koridor dan menceritakan
segalanya. “Kalian kembali ke ruang rekreasi, aku akan menghubungi Orde
kembali.”
“Aku
mau menyusul adikku!” Kata Elly.
“Tidak!!”
Kata Snape luar biasa tegas. “Ini jebakan, Elly, kembalilah ke asramamu.”
Lanjut Snape, suaranya melembut. “Kalian juga, aku akan menangani hal ini.”
Snape mengangguk ke arah Nicole dan Gisselle sebelum melesat pergi.
Memutuskan
untuk mematuhi perintah Snape, Nicole dan Gisselle kembali ke ruang rekreasi
Gryffindor sementara Elly ke ruang rekreasi Hufflepuff. Hingga larut malam,
baik Nicole maupun Gisselle tidak naik ke kamar mereka walau pada akhirnya
Gisselle tertidur di sofa di ruang rekreasi, sementara Nicole berjalan
mengelilingi ruang rekreasi dengan cemas.
Sudah
larut sekali ketika Nicole mendengar suara Fawkes. Gadis itu segera
membangunkan Gisselle dan bersama, mereka berlari keluar ruang rekreasi dan
bertemu Elly di tangga. Gadis itu juga mendengar suara Fawkes dan memutuskan
untuk keluar dan mengecek.
“Harry!!”
Kata Elly ketika ia melihat adiknya. Melihat keadaan Harry, Nicole menyuruh
Elly dan Gisselle menemani Harry ke rumah sakit sekolah sementara ia
melanjutkan ke ruang kepala sekolah, dimana ia percaya, kakeknya telah kembali.
“Ah
Nicole.” Kata Dumbledore saat Nicole memasuki ruangan kepala sekolah. Pria tua
itu sedang membersihkan kekacauan yang tadi disebabkan oleh Harry.
“Apa
yang terjadi?” Tanya Nicole. Dumbledore tersenyum sedih dan menyuruh Nicole
untuk duduk sebelum menceritakan semuanya termasuk kenyataan bahwa Harry baru
saja kehilangan walinya. Gadis itu tahu mengenai ramalan Harry tentu saja,
namun berita bahwa Sirius telah tiada membuatnya kehilangan kata-kata.
Gadis
itu mengepalkan tangannya dengan erat hingga kuku-kukunya membuat telapak
tangannya berdarah. Bibir bawahnya ia gigit agar ia tidak mengeluarkan isakan.
Namun matanya mengkhianatinya, ia menangis lagi, sama seperti saat ia
kehilangan Cedric. Bagaimana pun juga Sirius sudah seperti sahabatnya walau
mereka sering bertengkar.
Dumbledore
berjalan mendekati cucunya dan memeluk gadis itu dengan lembut. Tidak ada
kata-kata yang keluar dari mulut profesor tua itu. Namun pelukan hangat
Dumbledore sudah cukup untuk menghibur Nicole.
***
“Jadi. Ini saatnya?”
Nicole, Elly dan
Gisselle berpandang-pandangan. Hari ini adalah hari dimana mereka akan
meninggalkan Hogwarts dan tidak akan kembali di musim gugur mendatang. Mereka
sudah lulus dan sudah saatnya menghadapi dunia luar.
Koper sudah dipak,
perpisahan sudah di ucapkan, bahkan foto kenang-kenangan sudah di ambil di
depan kastil Hogwarts tercinta mereka. Nicole menatap foto dimana dirinya, Elly
dan Gisselle saling merangkul dan tertawa di depan Hogwarts.
Tidak seperti
sebelumnya, Nicole menaiki Hogwarts Express kali ini. Dia akan pulang ke rumah
miliknya dan kakeknya di Godric’s Hollow sebelum akhirnya menjalani pelatihan
di Kementrian sihir.
“Nicole.”
Gadis berambut cokelat
tua itu pun menoleh dan menatap kakeknya yang ikut mengantar walau hanya sampai
halaman depan Hogwarts. Guru-guru lain pun berdiri di belakang sang kepala
sekolah, McGonagall juga ada disana. Profesor perempuan itu sudah sembuh
sepenuhnya. Umbridge tidak ada tentu saja, mengingat ia sudah di usir oleh Peeves.
Nicole berbalik dan
memeluk kakeknya. Dumbledore sendiri tersenyum dan mencium dahi cucunya.
“Hogwarts akan selalu
menjadi rumahmu.” Kata Dumbledore. Air mata berlinang dimatanya, sama seperti
Nicole dan beberapa guru lain, seperti Sprout yang terang-terangan mengelap air
matanya yang sudah mengalir deras.
“Aku tahu.” Jawab
Nicole. “Hogwarts adalah rumahku.”
“Semoga berhasil,
sayang.” Lanjut Dumbledore. “Memang waktu tidak terasa, rasanya baru kemarin
kau belajar berjalan dan terjatuh di tangga.”
Nicole tertawa.
Dumbledore sendiri ikut terkekeh. Setelah berkeliling dan memberi pelukan atau
jabatan tangan pada guru-guru dan staff yang sudah ia anggap sebagai keluarga
sendiri dan memberi pelukan sekali lagi pada kakeknya, Nicole berbalik dan
berjalan pergi. Meninggalkan Hogwarts dan menuju dunia luar yang lebih berbahaya.
***TBC***
A/N : MAAF LAMAAA~
Udah lama aneh lagi huhuhuhuhu
TT__TT
Endingnya ga jelas masa ewe
Anyway, mohon maaf apabila ada
kesalahan *bows*
Original Plot by : Our Queen, JK Rowling
The ‘new’ plot Made
by : Liz
Take out with full credits please~ ^^

0 komentar:
Posting Komentar