Title :
HIGHSCHOOL
Chapter : 11
Characters :
-
U-KISS’ member
- Ara
as Park Jae Mee
-
Cynthia as Park Ha Neul
- Mei
as Park Soo Jin
-
Naomi as Kim Soo Hee
-
Icha as Han Young Mee
-
Grace as Hwang Mee Rae
-
Caeli as Lee Ae Ja
-
Nadine as Bu Hyun Ae
- And
other K-pop artist
Rating : T
Disclaimer : I WISH
U-KISS mine, but they’re not T_T
:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:
“Huah~!! Untung
saja Pak Jong Kook sedang berbaik hati~” kata Eli, bernafas
lega sambil mengatur nafasnya yang masih belum beraturan.
“Iya.. Coba kalo dia lagi jelek moodnya
habislah kita..” Sambung Young Mee. Semua temannya menganggukan kepala mereka
menunjukan tanda setuju. Mereka lalu bersama-sama kembali ke kelas dengan
lemas. Namun tepat sebelum mereka tiba di kelas…
“KALIAN!!!” Teriak seseorang dengan
keras membuat seluruh orang yang mendengarnya melompat kaget. Serentak ke 14
anak tersebut menoleh secara bersamaan dan mendapati salah satu guru yang
paling mereka takuti berjalan ke arah mereka.
“Eh? Pak Jong Kook.. ada apa ?” Tanya
Soohyun. Tentu saja perasaan mereka sudah tidak tenang. Pasti ada kesalahan
lagi yang mereka buat dengan guru menyeramkan itu.
“Ini!! Ada tugas dari guru sastra kalian. Kelas sore
tidak diadakan karena ibu ada urusan mendadak. Kalian jangan berisik awas sampai berita itu sampai
ditelingaku, kalian tidak akan lolos.” Ancam Pak Jong Kook sambil menyerahkan
tugas tersebut ke tangan Soohyun. Anak-anak sudah mengenal baik guru mereka
yang satu itu, dia tidak akan main-main dengan ucapannya.
Soohyun
membaca dengan keras isi kertas itu untuk teman temannya.
“Kerjakan
tugas bahasa yang ada pada buku latihan kalian. Akan ku periksa besok pagi saat
pelajaranku. Kalian boleh mengerjakannya diluar kelas. Tapi ingat jangan
berisik. Kalian sudah kutitipkan pada Pak Jong Kook. “
“Perlukah
kita mengerjakannya??” Tanya Kibum, ia sudah malas melihat soal dengan tulisan
yang banyak. “Otakku tidak kuat..”
Teman-temannya
tertawa mendengar pengakuan Kibum. “Ya, kami tahu otakmu tidak kuat Kibum..”
Kata Dongho sambil tertawa puas.
“Awas kalo
ternyata kau tidak kuat juga Dongho!!” Balas Kibum. “Sudah sudah, ayo kita
kerjakan..” Kata Soohee.
:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:
“Youngmee!!”
Panggil Kibum. Gadis yang di panggil pun menoleh, menampilkan wajah kesalnya.
“Apa?? Aku
sibuk!!” Kata Youngmee ketus. Saat ini ia sedang asyik duduk di perpustakaan,
membaca novel yang baru saja di temukannya di rak buku.
“Jangan
galak kaya gitu dong..” Kata Kibum sambil duduk di depan Youngmee.
“Ada perlu apa Kim Kibum??”
“Membahas
masalah Soojin dan Dongho..” Balas Kibum dengan santainya, tidak mempedulikan
deathglare Youngmee.
“Dan kenapa
harus denganku??”
“Karena
tampaknya kau tidak sibuk..”
“Apakah aku
terlihat tidak sibuk??”
“Yap~!”
Youngmee
menhela nafas. “Baiklah, apa yang mau kau bahas??” Katanya sambil menutup
bukunya dengan sedikit kesal.
“Mengapa
mereka bertengkar dan bagaimana cara untuk membuat mereka balik lagi..” Jawab
Kibum.
“Jadi, kau
mau menyelidiki mereka??” Tanya Youngmee. Kibum mengangguk bersemangat. “Ayo
kita selidiki!!”
“Kau seperti
anak kecil. Tapi baiklah..” Jawab Youngmee. “Dimana mereka sekarang??”
“Dongho di
lapangan basket bersama Eli dan Soojin ada di taman bersama Soohee..” Kata
Kibum. “Ayo kita selidiki!!” Kata Kibum lagi sambil menarik tangan Youngmee.
“Yaak!!
Tunggu!! Bukunya ku pinjam dulu!!”
:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:
“Eli..
Eli!!” Panggil Kibum.
Eli yang
sedang duduk beristirahat pun menoleh. Kibum dan Youngmee segera menempelkan
jari telunjuk mereka ke bibir, menyuruh Eli untuk diam.
Eli melirik
Dongho yang masih asyik bermain. “Ho, aku ke kamar kecil dulu ya..” Kata Eli,
memberikan alasan agar dapat keluar dan menemui Kibum dan Youngmee tanpa di
curigai.
“Oh, ok!!”
Balas Dongho tanpa menoleh sama sekali. Ia sibuk dengan bola basketnya sendiri.
“Sip..”
Kata Eli sambil berjalan keluar lapangan dan menuju ke arah Kibum dan Youngmee,
di balik semak semak yang memang cukup tersembunyi dari tempat Dongho sedang
bermain basket.
“Yo, ada
apa??” Kata Eli, tentunya sambil berbisik.
“Kami
sedang menyelidiki mengapa Dongho dan Soojin berantem..” Kata Youngmee
menjelaskan, namun kata-katanya di salip Kibum.
“Bisakah
kau menanyakannya pada Dongho?? Lalu melaporkannya pada kami??” Pinta Kibum
langsung.
Eli tampak
sedikit terkejut, namun kemudian ia mengangguk bersemangat. “Akan ku bantu
kalian sebisaku. Tenang saja!! Eli yang hebat ini pasti bisa menguak informasi
dari Dongho..” Kata Eli sambil menunjukan kedua jempolnya.
“Sip deh,
sekarang ayo kita ke Soojin!!” Kata Kibum sambil menarik tangan Youngmee lagi.
Youngmee hanya bisa pasrah dan melambai pelan ke arah Eli.
Eli menatap
kejadian itu dengan dahi berkerut. “Jangan jangan…” Gumamnya pada dirinya
sendiri. “Ah, tidak mungkin..” Lanjutnya sambil bangkit berdiri dan kembali ke
lapangan, siap mengintrogasi Dongho.
“Kibum!!
Jangan menarik tanganku seperti itu!!” Protes Youngmee. Tiba-tiba Kibum
berhenti berlari dan membuat Youngmee menabrak pemuda itu.
“Aduh,
kenapa berhenti??” Tanya Youngmee sambil melirik Kibum. Kibum tidak mengatakan
apa-apa, ia malah menutup mulut Youngmee dengan tangannya dan menariknya ke
balik vending machine.
Youngmee
memukul tangan Kibum, membuat pemuda itu meringis kesakitan. “Diam dulu!!”
Bisik Kibum, “Kalau kau berjanji diam, akan ku lepaskan..” Bisiknya lagi.
Youngmee
mengangguk sambil terus memukul Kibum. Kibum tidak punya pilihan lain selain
melepaskannya.
“Apa
maksudmu melakukan hal itu tadi hah?!” Omel Youngmee, dalam bisikan tentunya.
“Lihat saja
ke hall tadi..” Jawab Kibum sambil mengelus tangannya yang sakit di pukul oleh
Youngmee tadi.
Youngmee pun melirik ke arah Kibum memandang tadi. Tampaklah Soojin sedang
duduk di kursi yang terletak di pinggir lorong. Tampaknya ia sedang sibuk
membaca.
“Lalu??” Kata Youngmee, masih bingung dan marah.
“Ya kita tidak boleh kelihatan olehnya..” Jawab Kibum, memberikan ekspresi
terpolosnya.
Youngmee memukul pemuda itu, “Tapi ga usah seperti tadi kan !!” Kata Youngmee emosi.
“Maaf maaf..” Kata Kibum, “Ah, Soohee, Soohee~!!” Panggil Kibum saat
melihat sesosok gadis yang di kenalinya sebagai Soohee.
Soohee menoleh dan membuka mulutnya, hendak menyapa balik. Namun Kibum dan
Youngmee segera melakukan hal yang sama pada Eli, menyuruh Soohee diam.
“Kemari~!!” Panggil Youngmee, dalam bisikan tentunya. Soohee melirik
Soojin, memastikan gadis tersebut tidak melihatnya, lalu cepat cepat pergi ke
arah Youngmee dan Kibum.
“Ada apa??”
Bisik Soohee. Kibum pun segera menjelaskan misi mereka, yang di jawab dengan
anggukan setuju dari Soohee.
“Tenang saja, aku akan berusaha semampuku!!” Kata Soohee bersemangat,
terlalu bersemangat sehingga suaranya terlalu keras.
“Soohee??” Panggil Soojin, ternyata ia mendengar kata-kata terakhir Soohee
itu.
Kibum dan Youngmee panik, tampak panik ketika terdengar suara langkah kaki
Soojin yang mendekat.
Soohee buru buru keluar dari tempat Kibum dan Youngmee bersembunyi dan
menemui Soojin.
“Sedang apa kau disitu??” Tanya Soojin penasaran.
“Ee… Aku hendak membeli minum!! Ya aku mau membeli minum, kau mau??”
Soojin menatap sahabatnya itu dengan curiga. “Hmm.. aku yakin tadi kau
mengatakan sesuatu..”
“A-aku berteriak pada vending machine ini. Kau tau imajinasiku luar biasa kan ??” Kata Soohee
dengan gugup, berharap Soojin percaya pada alasan palsu nya itu.
Soojin masih menatap Soohee dengan ragu, namun kemudian ia mengangguk.
“Kalau begitu, aku ingin jus..” Kata Soojin sambil mendekati vending machine
sementara Soohee menghela nafas lega di belakangnya.
“Aman aman…” Gumam Soohee.
“Apa??”
“A-ah.. Tidak ada apa apa..” Kata Soohee buru buru dan mengikuti Soojin memilih
minuman mereka dan segera kembali ke tempat duduk mereka.
Kibum dan Youngmee menghembuskan nafas lega bersamaan. Tanpa sadar, mereka
berdua saling menggenggam tangan satu sama lain karena panik tadi. Youngmee,
yang menyadari hal itu pertama kali segera menarik tangannya dari genggaman
Kibum dengan muka memerah.
“Ny-nyaris saja..” Kata Youngmee terbata-bata, menolak untuk memandang
Kibum saat mengatakan hal tersebut.
Muka Kibum menunjukan kekecewaan, tapi ia segera menyembunyikannya. “Untung
Soohee cerdik mengatasi masalah ini. Sekarang kita tinggal menunggu hasil dari
dirinya dan Eli.” Kata Kibum yang di jawab anggukan Youngmee.
:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:
Haneul memandang kosong buku yang di pinjamnya tadi. Beberapa saat sebelumnya
dia memang sangat tertarik untuk membaca buku tersebut, tapi sekarang
pikirannya sedang berada di tempat lain. Tiba-tiba ia tersentak kaget saat
seseorang menepuk pundaknya.
“Jangan melamun di siang bolong seperti ini Nona.”
Haneul tersenyum pada orang yang menepuk pundaknya tadi, Soohyun. Soohyun
pun balas tersenyum dan duduk di kursi di sebelah Haneul di perpustakaan itu.
“Jadi, mengapa kau melamun di siang hari seperti ini?” Tanya Soohyun sambil
mengambil buku yang berada di tangan Haneul dengan hati-hati sehingga buku
tersebut tetap terbuka pada halaman yang sama.
“Aku tidak melamun.” Jawab Haneul, membiarkan bukunya di ambil oleh
Soohyun. “Hanya sedang memikirkan sesuatu.”
“Dan sesuatu tersebut adalah..?”
Haneul tidak menjawab, otaknya masih terus berputar untuk mencari jalan
keluar. Ya, jalan keluar permasalahan Soojin dan Dongho yang telah menjadi
misteri kelas X-2.
“Young Mee!!”
Serentak Haneul dan Soohyun terlonjak kaget mendengar teriakan nama
tersebut. Dan saat mereka menoleh mereka mendapati Kibum yang terengah-engah
karena habis berlari, berdiri tidak jauh dari tempat dimana mereka duduk.
“Ada apa Kibum?” Tanya Haneul. Kibum tidak menjawab. Ia menoleh ke kanan
dan ke kiri, mencari sesosok gadis yang di carinya sejak tadi.
“Kalau kau mencari Youngmee dia tidak ada disini.” Kata Haneul setelah
menebak apa maksud pemuda yang tampak linglung di depannya ini.
Kibum mengerang frustasi, lalu duduk di sebelah Haneul yang satunya. Jadi
saat ini Haneul sedang di kapit oleh dua orang pemuda. Hal ini membuat Soohyun
mengerutkan keningnya dengan perasaan tidak senang.
“Kau harus membantuku Haneul..” Kata Kibum kemudian, membuat Haneul
tercengang kaget. Seorang Kibum meminta bantuannya?
“Bantuan apa?”
“Ini..” Kibum berdeham pelan. “Kau kan yang membantu Dongho dan Kiseop
benar? Ya jadi, aku juga ingin meminta bantuanmu..”
Soohyun tampak bingung, tapi Haneul tampaknya mengerti apa yang dimaksudkan
oleh Kibum.
“Kau sudah merasa yakin untuk melakukannya?” Tanya Haneul. Soohyun melirik
Haneul lalu Kibum, lalu Haneul lagi dengan bingung. Sementara Kibum hanya
mengangguk pelan.
“Youngmee suka kejutan. Jadi ayo kita berikan kejutan padanya.” Lanjut
Haneul seraya mengeluarkan notes kecil dari tasnya dan mulai mencatat berbagai
hal.
“Kejutan? Kejutan bagaimana?” Tanya Kibum penasaran. Haneul hanya tersenyum
penuh arti.
“Serahkan saja padaku.”
Tiba-tiba terdengar langkah kaki, dan suara familiar menyapa mereka. “Apa
yang sedang kalian lakukan?”
Ketiga murid yang tadi sedang sibuk di meja langsung menoleh dan mendapati
Youngmee menatap mereka dengan heran. Dengan kilat Haneul segera menutup
notesnya. Kibum tampaknya kehilangan kemampuan berkata-kata.
“Membantu Haneul menyelesaikan lagu terbarunya.” Jawab Soohyun
menyelamatkan mereka semua. Youngmee hanya mengangguk-angguk mendengar jawaban
tersebut kemudian duduk di seberang Haneul.
“Aku sudah mendapat kabar dari Eli dan Soohee.” Kata Youngmee pada Kibum.
Tentu saja Haneul dan Soohyun bingung karena mereka tidak mengetahui rencana
Kibum dan Youngmee mengenai Soojin dan Dongho.
“Oh, ini mengenai masalah kelas kita.” Kata Youngmee menjawab pandangan
penuh tanya dari kedua temannya. “Jadi, baik Dongho dan Soojin mengatakan tidak
ada masalah diantara mereka dan tampaknya mereka tidak berbohong. Baik Soojin
dan Dongho menatap lawan bicaranya langsung di matanya.” Lapor Youngmee seperti
agen FBI yang sedang beraksi.
“Kalau mereka tidak berbohong, lalu apa?” Tanya Soohyun.
“Aku juga tidak tahu.”
“Mungkinkah..” Kata Haneul. “Mereka menipu kita?”
Ketiga temannya menatapnya. “Menipu bagaimana?” Tanya Kibum.
“Dulu Dongho pernah menipuku kalau dia marah padaku, kalian tahu cecunguk
satu itu cukup pintar berakting bukan? Soojin juga pintar berakting. Dan mereka
sama-sama berada di ekskul teater.
Ke-empat anak tersebut jatuh terdiam dan berpikir. Youngmee lah yang
memecah keheningan.
“Kalau mereka memang menipu kita, hanya ada satu cara untuk
membuktikannya.”
:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:
Soojin menatap ke-enam temannya yang berdiri mengelilinginya di kelas
mereka. Haneul dan Youngmee telah mengumpulkan semua teman sekelas mereka dan
menjelaskan rencananya. Saat ini Youngmee, Soohyun, Jaemee, Kevin, Eli dan
Soohee berdiri di depan Soojin dan menatapnya dengan tajam.
“Ada apa kawan kawan?” Tanya Soojin, tidak mengetahui sedikitpun rencana
teman-temannya ini.
“Soojin, kita ada sedikit perlu denganmu.” Kata Youngmee dengan senyum
jahilnya.
Di tempat lain, Haneul, Kibum, Kiseop, Aeja, Xander dan Meerae berdiri
mengelilingi Dongho di kantin. Pemuda yang sekilas akan menjadi korban bully
tersebut sedikit panik.
“Ada apa ini?”
“Shin Dongho.” Kata Haneul sambil mendekat dan duduk persis di seberang
Dongho, sementara murid yang lain berdiri mengelilingi mereka. Persis seperti
boss mafia, pikir Dongho saat melihat posisi mereka.
“Kali ini tidak ada acara mengelak lagi. Ada apa dengan dirimu dan Soojin?”
Tanya Haneul.
“Tidak ada apa-apa.” Jawab Dongho, berusaha bersikap santai. “Aku ada
perlu, sampai nanti semua.”
Kibum dan Kiseop dengan sigap menahan Dongho dan memaksa pemuda tersebut
duduk lagi. Dengan terpaksa Dongho kembali duduk dan menatap Haneul yang masih
duduk di tempatnya.
“Tidak usah berbohong. Soojin sudah mengakui semuanya juga kok. Kami hanya
memerlukan pengakuan dirimu.” Kata Haneul.
“Mengaku apanya? Tidak ada apa apa kok!!”
“Tapi Soojin sudah mengaku loh Dongho..”
“Lagipula kalau aku mengaku buat apa? Soojin sudah mengaku kan? Bukannya
kalian lebih percaya dia daripada diriku?” Kata Dongho. Haneul tersenyum penuh
kemenangan.
“Oh, jadi kau mau mengaku? Katakan dengan jelas dong Ho.” Kata Xander,
disambut anggukan kepala yang lain.
Dongho mengehela nafas, “Baiklah aku mengaku. Kami berdua hanya berakting
saling membenci untuk drama kami. Awalnya kami hanya ingin main-main tapi
ternyata tampaknya kalian percaya, jadi kami melanjutkannya.”
Senyuman Haneul melebar. Ia kemudian mendekatkan kepala ke tangan Meerae
yang ternyata memegang HP. “Kau mendengar hal itu Youngmee? Mereka berdua
menipu kita semua ternyata.”
Meerae kemudian memencet tombol speaker supaya jawaban Youngmee bisa
terdengar semuanya. “Oh, kau mendapat pengakuan yang cowo terlebih dahulu
Haneul? Cepat juga. Soojin cukup keras kepala nih, dia tidak mau mengaku.”
Suara Youngmee terdengar dari ujung telepon disana. “Ah, dia mengaku juga
akhirnya.” Lanjutnya
Mulut Dongho menganga lebar, tidak percaya apa yang baru saja ia dengar. Ia
di tipu teman-temannya sendiri?
“Kalian tega seka—“ Belum sempat Dongho menyelesaikan kalimatnya, Haneul
berdiri dan mendekati Dongho.
“Oh? Tega ya Shin Dongho? Kamu pikir betapa khawatirnya kami karena ulah
kalian berdua?” Kata Haneul. Gadis itu kemudian menoleh ke arah teman-temannya
yang lain. “Anak ini dan pacarnya perlu kita hukum. Ayo kawan-kawan!!” Di jawab
dengaan sorakan yang lain. Xander, Kibum dan Kiseop langsung menyeret Dongho ke
arah kelas mereka, tempat Soojin dan yang lain berada.
Ketika mereka sampai di kelas, tampaklah Soojin yang sudah kehabisan nafas.
Ternyata Youngmee dan yang lain sudah memulai hukuman mereka.
“Giliran Dongho.” Kata Youngmee sambil memberi tanda untuk mendudukan
Dongho di salah satu kursi. Dan penyiksaanpun di mulai.
“Apa yang kalian lakukan? Hei!! Hei!! Tunggu!! Hahaha.. Hentikan! Jangan
hahahaha jangan disitu!! Tidak!! Hahahahahaha Hentikaaaaannnn!!!! Hahahahahahaha..”
Dongho langsung di kelitik oleh enam orang sekaligus, dengan sadis dan
tidak ada pengampunan. Sementara Soojin, yang sudah tidak mempunyai tenaga,
hanya bisa menonton dari samping saja.
“Hahahaha hentikan!! Iya maaf!! Hahahahahaha. TOLONG HENTIKAN!! Hahahaha
hihihi hahahahahahaha.”
:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-TBC-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:
Made by : Cynthia & Mei
Take out with full credits please~ ^^
