Sabtu, 25 April 2015

Hogwarts' Beloved : Chapter 26



Chapter 26 : Everything Will  Be Fine
                                                (Setting : HP 7)


Suara pintu yang dibanting tertutup menggema di rumah milik keluarga Scotthill. Sekali lagi Gisselle betengkar dengan kakak dan neneknya. Gadis itu menginginkan untuk sepenuhnya turut serta dalam kegiatan Orde seperti Nicole, tapi kakek neneknya tidak menyetujuinya dan meminta gadis itu tidak melakukan sesuatu yang membuatnya terjebak dalam bahaya.

"Gisselle." Suara neneknya terdengar dari balik pintu. "Ijinkan nenek masuk?"

Dengan enggan Gisselle berdiri dan membuka pintu kamarnya. Neneknya tersenyum dan berjalan masuk. Keheningan menyelimuti selama beberapa saat.

"Kau benar-benar mengingatkanku pada kedua orang tuamu." Kata neneknya. Gisselle mematap neneknya dengan bingung, biasanya nenek dan kakeknya selalu menolak membicarakan orang tuanya.

"Kedua orang tuamu juga memaksa untuk tetap ikut serta dalam perang." Kata neneknya. "Dan mereka tidak pernah kembali lagi."

Gisselle terdiam. Ia menyadari perasaan kakek dan neneknya yang tidak ingin kehilangan satu-satunya cucu yang mereka punyai. Namun Gisselle tidak ingin hanya diam dan menunggu saja, tidak saat semua orang yang ia sayangi bertarung mempertaruhkan nyawa di luar sana. Gadis itu menoleh dan menatap neneknya, namun sebelum ia bisa mengatakan apapun, neneknya memeluknya.

"Aku tahu kau akan tetap pergi. Tatapan matamu sama persis dengan kedua orang tuamu waktu itu." Kata neneknya. "Namun berjanjilah, kembali kesini dengan selamat."

Gisselle merasakan air matanya mengalir. "Tentu saja. Aku berjanji."

***

George menatap berbagai anggota Orde yang keluar masuk rumahnya. The Burrow memang sudah menjadi markas Orde yang baru. Dengan semua pengamanan yang luar biasa ketat, pemuda berambut nerah itu tidak bisa menghubungi sahabat-sahabatnya sama sekali. Ia bahkan belum mendengar kabar dari Gisselle sejak pemakaman Dumbledore, sebulan yang lalu.

"Mengkhawatirkan pacarmu?" Fred menepuk pundak kembarannya sebelum duduk tepat di sebelahnya. "Tenang saja, ia kan berdarah murni. Para pelahap maut tidak akan mengejarnya."

"Aku tahu.." Jawab George. "Tapi ia bersikeras bergabung dengan Orde sepenuhnya. Kurasa ia terpengaruh Nicole.."

"Nicole tidak akan mengijinkannya.."

"Memang tidak." George mengetuk-ngetukan jarinya di atas pangkuannya. "Tapi Gisselle tidak mau menurut."

Fred mengangkat bahunya. "Gisselle gadis yang pintar kawan, ia akan baik-baik saja."

George mengangguk, walau jelas tidak bisa menyingkirkan perasaan buruk yang menghantuinya beberapa hari terakhir. Pemuda itu lalu mengeluarkan sebuah box merah kecil dari kantong celananya, hal yang ia bawa kemana-mana akhir-akhir ini, dan juga hal yang paling ia jaga sejak ia membelinya di kota beberapa hari yang lalu.

Senyuman kecil mengembang di wajahnya ketika mengingat kembali rencananya. George pun membuka box kecil itu, menampilkan cicin perak indah yang berada di dalamnya. Ya, George Weasley akan melamar Gisselle Scotthill setelah pernikahan kakaknya, Bill. Memang kesannya terlalu terburu-buru, namun di saat seperti ini tidak ada yang pasti bukan?

Pemuda itu menyimpan box cincinnya kembali dengan hati-hati di saku celananya dan menepuknya pelan. Semua akan baik-baik saja, ya, mereka akan baik-baik saja.

***

"Kau yakin ini ide yang terbaik?”

Gisselle menatap sahabatnya, Nicole Ravensdale. Mereka baru saja selesai rapat mendadak milik Orde mengenai carai menjemput Harry dan Elly. Terdapat perubahan rencana di saat-saat terakhir dan mereka memutuskan untuk mengikuti usulan Mundungus yang mengatakan bahwa akan ‘membuat’ enam Harry lainnya agar ia susah dikenali mana yang asli. Mendengar usulan Mundungus yang diterima itu, Nicole juga mengusulkan hal yang sama di lakukan pada Elly, walau tidak perlu menjadi tujuh seperti Harry, cukup tiga saja.

“Entahlah. Namun ini lebih baik daripada memindahkan Elly tanpa pengamanan sama sekali.” Jawab Nicole. Besok malam mereka akan memulai misi mereka dan para anggota orde mulai berdatangan untuk membantu. Oliver baru saja tiba beberapa jam yang lalu dan Robert akan datang sore ini bersama Calvin. “Kau sendiri bagaimana? Kau yakin ikut serta dalam hal ini?” Tanya Nicole pada Gisselle.

Gadis brunette itu mengangguk. “Tentu saja. Jika kau dan Elly tergabung di dalamnya, aku tidak akan duduk diam dan menunggu saja!”

Acara esok harinya berjalan dengan lancar. Sesuai dengan rencana, mereka pergi ke rumah keluarga Dursley untuk menjemput Harry dan Elly. Setelah perdebatan, karena baik Harry maupun Elly menolak siapapun menyamar sebagai mereka dan membahayakan diri.

"Baiklah, kalian baru boleh pergi dua jam setelah kami pergi. Lebih jika kau menganggap itu lebih aman." Kata Moody pada Nicole. Ketujuh Harry sudah siap pergi sementara Nicole dan Gisselle sudah memegang ramuan Polyjuice yang berisi rambut Elly.

"Kami mengerti. Semoga berhasil." Kata Nicole. Salah seorang Harry menepuk pundak Gisselle dan saat gadis itu menoleh, pemuda itu memeluknya.

"G-george?"

"Siapa lagi?" Kata George yang sudah berubah menjadi Harry. "Berhati-hatilah okay?" Mata pemuda itu dipenuh kekhawatiran.

Gisselle tersenyum. "Kau yang harus berhati-hati. Kau sedang menyamar sebagai orang yang paling di cari pelahap maut saat ini."

George nyengir dan menepuk kepala Gisselle. "Aku ingin menciumu saat ini tapi pasti akan kelihatan aneh, jadi kutunggu kau di The Burrrows nanti."

"Sudah cukup!" Suara Moody menggelegar. "Ketujuh Potter, bersiap dengan pasangan masing-masing! Kita akan berangkat!"

Enam orang yang tertinggal di Private Drive nomor 4 itu mengawasi dari jendela, bagaimana 14 orang yang tadi berangkat segera terpecah belah dan para pelahap maut bermunculan. Suara ledakan-ledakan menghiasi malam itu.

"Kau tidak boleh keluar!" Kata Nicole, menahan Elly yang hendak berlari ke pintu depan.

"Tapi Harry!"

"Akan lebih baik jika kau tetap tersembunyi!" Nicole menolak untuk melepaskan tangan Elly. "Jika sang Pangeran Kegelapan menangkapmu, ia akan menggunakanmu untuk memancing Harry dan kalian berdua akan terbunuh!"

Elly terdiam dan gadis itu jatuh terduduk. "Aku benci ini." Gumamnya setelah beberapa saat. "Aku benci saat saat seperti ini."

Tidak ada yang berbicara. Para pemuda yang bertugas menjaga 'Trio Elly' berdiri dengan awkward sementara Gisselle membawa Elly ke ruang keluarga dan membuatkan gadis itu teh hangat. Nicole sendiri melanjutkan mengawasi keadaan di luar. Ia harus memastikan keadaan cukup aman sebelum membawa Elly pergi dari rumah itu.

Dua jam yang terasa sangat lama akhirnya berlalu. Nicole dan Gisselle sudah memakai pakaian Elly dan minum ramuan mereka, sehingga saat ini ada tiga Elly di ruang keluarga.

"Baiklah, Gisselle akan pergi bersama Robert, Elly dengan Calvin." Kata Nicole yang saat ini sedang menjadi Elly yang berdiri paling ujung, Oliver berdiri canggung disebelahnya. "Kita akan menggunakan sapu dan menuju lokasi yang sudah di tentukan." Lanjut Nicole. Kelima orang yang mendengarkan mengangguk singkat sebelum berjalan ke depan rumah.

"Sampai nanti." Kata Robert.

Gisselle memeluk Elly dan Nicole. "Berhati-hatilah kalian." Kata gadis brunette itu.

"Kau juga." Jawab Elly.

"Sampai bertemu di The Burrow." Lanjut Nicole.

Gisselle tersenyum dan menaiki sapunya lalu menghilang bersama Robert di langit malam. Elly dan Calvin terbang setelah Gisselle dan Robert, menyisakan Nicole dan Oliver.

"Mereka akan baik-baik saja." Kata Oliver. Pemuda itu mengetahui betul apa yang menjadi kekhawatiran pacarnya itu. Ia sudah mengenal Nicole tujuh tahun lebih. Nicole mengangguk dan menaiki sapunya diikuti oleh Oliver dan mereka terbang ke langit malam.

Sama dengan kejadian yang menimpa Harry dan yang lain, Nicole dan Oliver juga bertemu dengan pelahap maut. Walau tidak sebanyak yang mengejar Harry, tapi tetap saja mereka membuat Nicole dan Oliver cukup kewalahan. Nicole nyaris saja tersambar mantra Crucio.

Para pelahap maut yang mengejarnya semakin menipis, sebagian besar sudah terkalahkan dan yang lainnya mundur, menyadari bahwa tidak ada gunanya mereka mengejar lagi.

"Jika ini menimpa kita, Elly dan Gisselle.." Gumam Nicole. Oliver segera terbang kesampingnya untuk menenangkan gadis itu.

"Tenang saja. Mereka akan baik-baik saja." Kata pemuda berusia 21 tahun itu.

Nicole mengigit bibir bagian bawahnya. "Kuharap begitu."

*

"Kau baik-baik saja?" Tanya Calvin pada Elly. Mereka berdua baru saja di hadang sekelompok pelahat maut, yang sama seperti Nicole dan Oliver, terkalahkan dan mundur.

Elly mengangguk namun ia memegang erat tangan Calvin dengan satu tangan. Calvin balik menggenggamnya, menyadari bahwa Elly masih terguncang. Gadis itu belum sepenuhnya pulih dari kejadian tiga tahun yang lalu, saat Cedric Diggory tewas terbunuh. Tidak memerlukan waktu yang lama sebelum mereka tiba di tempat portkey yang akan membawa mereka ke The Burrow.

"Elly?" Suara Ginny menyambutnya. Suasana rumah The Burrow tampak agak berantakan. George terbaring di sofa dan Mrs. Weasley sedang merawatnya. Begitu melihat adiknya, Elly langsung berlari dan memeluk Harry.

"Apa yang terjadi? Dimana yang lain?" Kata Calvin, menyadari sebagian besar orang dewasa disana tidak ada.

"Mad Eye tewas." Jawab Fred yang duduk di dekat George. "Yang lain pergi untuk mencari jenazahnya."

"Elly?" Panggil George dengan suara pelan. Elly berjalan mendekat sambil tersenyum lemah.

"Aku bisa membedakan kalian mulai sekarang." Kata gadis itu.

George terkekeh. "Terima kasih telah melindungi sahabat kita, sobat." Kata George pada Calvin yang membalasnya dengan anggukan singkat namun sopan.

"Dimana Gisselle?" Tanya Hermione kemudian, menyadari ada sesuatu yang salah. "Bukankah ia dan Robert seharusnya tiba sebelum kalian?"

"Seharusnya seperti itu." Jawab Calvin. Ekspresinya yang biasanya tenang di penuhi kekhawatiran. Robert adalah sahabatnya, tentu saja ia khawatir. “Portkey mereka ada di depan jadi mungkin mereka ketinggalan portkey dan terpaksa terbang kesini.”

Suara letupan ringan terdengar dari luar dan otomatis semuanya berjalan keluar rumah, kecuali George dan Mrs. Weasley tentunya.

"Nicole!" Teriak Elly saat menyadari siapa yang tiba berikutnya. Nicole sudah kembali ke wujudnya yang semula. Gadis berambut cokelat itu berlari dan memeluk Elly dengan erat.

"Nyaris tanpa luka pastinya, Nona Auror." Kata Fred sambil terkekeh pelan namun pemuda itu memberikan Nicole sebuah pelukan juga.

“Dimana George? Dan Gisselle?” Tanya Nicole ketika dua dari sahabatnya menghilang. Fred dan Elly bertukar pandangan cemas.

“George di dalam, sedang di rawat oleh Mum.” Kata Fred. “Tapi Gisselle dan Robert belum kembali.”

Muka Nicole jelas menyiratkan kekhawatiran dan tentu saja, panik. Gadis itu menjadi mudah takut kehilangan seseorang sejak kematian kakeknya. Nicole nyaris saja berbalik dan hendak berjalan pergi dengan linglung, lupa kalau akan susah baginya untuk mencari Gisselle dan Roberth, jika Oliver tidak menahan tangannya.

“Kau hendak kemana?”

“Mencari Gisselle.” Kata Nicole dengan singkat.

“Mencari kemana?” Balas Oliver dengan pelan. “Tenanglah, dan kita tunggu mereka disini.”

Nicole menggigit bibir bawahnya, dan selama beberapa waktu tidak membalas perkataan Oliver. Yang lain sudah cemas gadis itu akan tetap memutuskan untuk mencari Gisselle. Tidak ada yang dapat menghentikannya bila Nicole sudah memutuskan seperti itu.

“Baiklah.” Satu kata dari Nicole dan semuanya langsung menghembuskan nafas lega. Mereka berhasil membujuk Nicole untuk menunggu di dalam yang ternyata sebuah kesalahan besar. Menyatukan Nicole, Elly dan George menambah kekhawatiran yang ada. Mrs. Weasley sudah menyuruh mereka semua beristirahat namun tidak ada yang mau beranjak, terutama George yang baru saja di rawat. Pemuda berambut merah itu tidak bergerak dari sofa tempat ia duduk sama sekali.

Mendadak, bunyi ‘buk’ terdengar dari luar, membuat semua orang otomatis berdiri dan berlari keluar. Nicole adalah yang pertama keluar dari rumah, disusul oleh Elly, Calvin, Oliver dan Fred. Setelah melihat apa yang menyebabkan bunyi tersebut, Nicole mempercepat larinya dan berteriak meminta bantuan.

Yang gadis itu lihat adalah Gisselle, gadis itu terbaring di tanah dengan tubuh yang penuh luka, kaleng bekas yang menjadi Portkeynya tergeletak tidak jauh darinya. Calvin, pemuda pertama yang tiba di sisi Nicole dan Elly, yang tiba kedua setelah Nicole, segera mendekat dan mengangkat Gisselle selembut mungkin dan penuh kehatian-hatian.

“Cepat, kedalam rumah.” Kata Fred, mukanya pucat pasi.

George, yang menunggu di dalam rumah, langsung terduduk begitu melihat Gisselle yang di bawa Calvin masuk ke dalam rumah. Rasa pusing dan lemas karena kehilangan darah di lupakannya sama sekali ketika ia mengambil Gisselle dari Calvin dan menaruhnya di pelukannya.

“Gisselle.” Kata George, tidak lebih dari suara memanggilnya yang biasa, hanya saja kali ini sedikit bergetar. Mukanya di penuhi dengan kekhawatiran.

Mendengar suara pacarnya, Gisselle membuka matanya dengan perlahan dan tersenyum kecil ketika ia melihat George, namun itu tidak membuat George menjadi lega.

“Gisselle! Apa yang terjadi?” Tanya pemuda berambut merah itu.

“Tenang George. Kita harus mengobati luka-luka Gisselle terlebih dahulu.” Kata Oliver, namun Gisselle menggeleng.

“Luka-lukaku sudah tidak bisa di rawat lagi.” Tangan Gisselle berpindah ke daerah perutnya, yang tampaknya terluka paling parah di banding yang lain.

“Jangan berkata begitu!” Seru Nicole.

Gisselle menggeleng kembali. “Aku tahu badanku lebih dari siapapun, Nicole. Aku tahu luka-luka ini sudah terlalu parah. Dan ingat, aku adalah penyembuh di St. Mungo, aku tahu hal ini lebih dari siapapun.”

“Tidak!” Kata George, Fred dan Elly bersamaan.

“Gisselle…” Kata Calvin yang dari tadi diam saja. “Robert.. dimana dia?”

Ekspresi muka Gisselle langsung berubah. Gadis itu tampak seperti siap menangis. “Maafkan aku.” Katanya dengan suara pelan. “Tapi..Robert..”

Semua orang menunggu Gisselle melanjutkan kata-katanya. Si gadis brunette mengehela nafas panjang sebelum melanjutkan,

“Robert tewas saat melindungiku.”

Keheningan kembali menyelimuti mereka. Tidak ada yang berbicara selama beberapa saat hingga akhirnya Calvin memecah keheningan.

“Bukan salahmu.” Kata Calvin, suaranya tercekat. “Si bodoh itu memang seperti itu.”

Gisselle membuka mulutnya, hendak mengatakan sesuatu namun alih-alih kata-kata yang keluar dari mulutnya, gadis itu terbatuk, dan hal itu membuat George panik.

“Kita harus mengobatimu!” Seru pemuda itu, namun Gisselle menggeleng lagi.

“Aku tidak punya waktu banyak.” Ujar gadis itu dengan pelan. “Tolong biarkan aku melanjutkan..” Tambahnya ketika ia melihat George dan yang lain sudah siap memprotes kata-katanya tadi. Gadis itu meminta Nicole, Elly dan Fred mendekat, sementara tangan George ia genggam dengan erat. Mrs. Weasley dan yang lain mundur, memberikan space untuk Gisselle dan sahabat-sahabatnya. Air mata sudah mengalir dari mata Mrs. Weasley

“Terima kasih..” Gisselle menatap sahabatnya satu persatu. Ia sangat menyesali tidak bisa melihat Lee untuk terakhir kalinya, namun apa boleh buat. Gadis itu menarik nafas dalam dalam dan melanjutkan. “Terima kasih, untuk saat-saat terbaik dalam hidupku.”

Suara Gisselle sudah lemah, mukanya semakin pucat, dan George dapat merasakan tangan gadis itu semakin lemas dalam genggamannya.

“Aku tidak pernah menyesal bertemu kalian.” Lanjut gadis itu. “Nicole, Elly.. Jaga diri kalian. Jangan berakhir seperti diriku.”

“Jangan berkata begitu gadis bodoh, kau tidak akan kemana-mana.” Timpal Nicole. Gisselle hanya tertawa kecil mendengar jawaban sahabatnya. Ia lalu menatap Oliver yang berdiri tidak jauh dari Nicole.

“Jaga Nicole dengan baik, jika tidak maka aku tidak akan memaafkanmu.”

Oliver mengangguk, “Tenang saja.”

Gisselle kembali memandang kedua sahabat terdekatnya. “Tolong jangan menangis.” Katanya setelah melihat air mata Elly yang sudah mengalir. “Aku tidak ingin berpisah dengan tangisan seperti ini. Aku ingin melihat senyuman kalian sebagai yang terakhir, bukan tangisan.”

Tangan Gisselle yang lain terarah kepada Fred, yang langsung di genggam lembut oleh pemuda itu. “Fred, tolong jaga George ya?”

“Tentu saja.” Fred mengangguk dengan mantab walau jelas pemuda itu juga sedang menahan tangisnya. Gisselle tersenyum padanya dan terakhir, ia memandang George.

“George, dengar.” Kata Gisselle. “George, aku tahu ini susah, tapi kumohon, setelah aku pergi..” Gadis itu terdiam dan kembali menarik nafas. Air mata yang mengalir membuatnya susah berkata-kata. “Setelah aku pergi, carilah gadis lain, bahagiakan dia. Bahagialah.”

Air mata George sudah membanjir keluar. Pemuda itu hanya bisa menggeleng karena ia tidak bisa menemukan suaranya. Semua kata-kata tertahan di lehernya.

“Jangan terjebak dalam kesedihan.” Gisselle tersenyum lemah walau air matanya masih mengalir. “Aku mencintaimu..”

“Aku juga mencintaimu.” Kata George dengan suara bergetar. “Sangat..”

Gisselle tidak menjawab, namun senyumannya melebar.

“Jangan pergi.” George terisak seperti anak kecil. “Gisselle, kumohon, jangan pergi.”

Senyuman Gisselle berubah menjadi senyuman sedih. Gadis itu meletakan telapak tangannya di pipi George. “Maafkan aku, dan terima kasih. Aku sayang kalian semua.” Pandangannya jatuh pada semua orang yang berada disana. “Sampaikan sayangku pada yang lain.” Dan ia kembali menatap George. “Selamat tingg—“

Belum selesai gadis itu mengatakan kata-katanya, kehidupan meninggalkan tubuhnya. Tangannya yang terangkat tadi kini terjatuh lemas di samping tubuhnya.

“Tidak..” George meraih tangan Gisselle yang sudah lemas. “Tidak.. Gisselle! TIDAK JANGAN PERGI.” Pemuda itu berteriak sekuat tenaga seraya memeluk tubuh pacarnya. Fred menahan saudara kembarnya yang histeris walau ia sendiri menangis. Elly sudah jatuh terduduk dan menangis histeris seperti George.

Namun Nicole tampak seperti habis di tampar sesuatu. Ia menatap tubuh Gisselle selama beberapa saat sebelum berjalan pelan ke luar rumah.

“Nicole? Kau hendak kemana?” Tanya Oliver, satu-satunya yang menyadari Nicole berjalan ke luar rumah. “Nicole!” Panggilnya karena Nicole tidak menjawabnya. “Nicole hey!!” Pemuda itu mulai berlari mengejar Nicole yang jelas-jelas mengabaikan panggilan pacarnya dan tetap berjalan dengan cepat.

“Apa yang hendak kau lakukan?” Kata Oliver seraya menarik tangan Nicole. Nicole berusaha menarik kembali tangannya namun genggaman Oliver lebih kuat.

“Lepaskan aku Oliver. Aku akan mencari orang yang membuat Gisselle seperti itu.” Jawab Nicole sambil terus memberontak.

“Apa?! Tidak!!”

“Jangan hentikan aku, Oliver. Aku akan menyelesaikan semua ini. Aku tidak bisa kehilangan siapapun lagi.”

“Apa kau gila?!” Teriakan Oliver membuat Nicole berhenti memberontak dan menatap pemuda itu. “Apa yang kau pikirkan hah?! Menyelesaikan ini sendirian?!”

“Aku..” Kata Nicole terbata-bata.

“Kau pikir bagaimana perasaanku jika aku yang berada di posisi George saat ini?!”

Nicole benar-benar terdiam saat Oliver meneriakan kata-kata itu. Pikirannya kembali jernih dan air matanya mulai mengalir.

“Maafkan aku..” Isak gadis itu. Semua kesedihannya tertumpah. Ia menahannya dari sejak kehilangan kakeknya, tidak, ia sudah menampungnya sejak Cedric pergi meninggalkan mereka. Oliver menarik Nicole ke pelukannya, membiarkan gadis itu menangis disana. Perang ini sudah mengambil nyawa banyak orang-orang terdekat mereka. Bahkan gadis kuat yang dikenal Oliver sejak 9 tahun yang lalu ni pun menangis histeris.

***

Pemakaman Gisselle Scotthill berlangsung dengan singkat dan sepi. Gadis itu di makamkan disebelah kuburan kedua orang tuanya. Kakek dan Nenek Gisselle tidak bisa mengatakan apa-apa. Kehilangan satu-satunya cucu mereka membuat mereka kehilangan kata-kata.

George duduk bersama Fred, yang berusaha sekuat tenaga mensupport saudaranya itu. Semua keluarga Weasley juga ada disana. Elly dan Harry, Nicole dan Oliver, Lee dan Feli, Calvin dan beberapa anggota Orde lainnya juga hadir walau hal itu adalah suatu resiko yang besar. Namun semua setuju resiko itu layak di ambil demi Gisselle.

Suasana di rumah keluarga Weasley jelas memburuk sejak kepergian Gisselle. Persiapan pernikahan Bill dan Fleur, yang tentunya tidak bisa di tunda walau mereka sedang berkabung, membuat setidaknya semua orang sibuk sehingga tidak ada waktu untuk bersedih. Namun tidak ada yang bisa mengubah mood George. Pemuda itu menjadi pendiam sejak kepergian Gisselle. Bahkan Fred tidak bisa membantu saudara kembarnya itu.

Beberapa hari sebelum ulang tahun Harry, George duduk di halaman rumah keluarga Weasley, memainkan tongkat sihirnya dengan malas dan tidak bersemangat.

“Disana kau rupanya..”

George menoleh, saudara kembarnya berdiri tidak jauh dari tempat ia duduk sekarang. Fred tersenyum tipis dan berjalan mendekat lalu duduk disebelah George. Keheningan menyelimuti mereka selama beberapa saat, hal yang sangat jarang terjadi mengingat mereka saudara kembar yang tidak bisa diam sama sekali.

“George..”

“Hentikan.” Kata George, bahkan sebelum Fred bisa mengatakan kata-kata lain. “Aku tahu apa yang hendak kau katakan. Aku tidak bisa melakukannya. Melupakannya begitu saja.”

“Kami tidak memintamu melupakannya, sobat.” Kata Fred. “Biarkan aku menyelesaikan kata-kataku dahulu.” Dan George kembali terdiam, membiarkan Fred melanjutkan.

“Aku tahu ini memang susah, kehilangan dirinya.” Fred melanjutkan dengan perlahan. Pemuda itu menatap rumah mereka yang memang terletak di depan mereka berdua saat ini. “Tapi George, kau tidak bisa murung terus seperti ini.” Ia lalu menoleh dan menatap George dengan tegas. “Kau tahu berapa frustasinya kita melihatmu akhir-akhir ini?” Kata Fred. “Ya bukan hanya diriku saja.” Katanya menjawab pandangan bertanya George. “Seluruh keluarga, Elly, Nicole dan yang lain juga mengkhawatirkanmu!”

“Semua..?”

Fred mengangguk. “Bukan hanya kau yang kehilangan Gisselle. Semua orang juga merasakannya. Nicole menjadi lebih pendiam dan terus menerus tenggelam dalam pikirannya sendiri. Dia bahkan bekerja dua kali lebih keras dari biasanya di kantor kata Dad. Dan Elly, ia kembali seperti dirinya yang semula..” Fred terdiam sejenak, “..sebelum kita kehilangan Cedric. Well, itu hal yang bagus sih, tapi tetap! Kau mengerti maksudku kan?”

George hanya terdiam saja, membuat Fred menjadi frustasi.

“Intinya, kau tidak bisa terus menerus murung seperti ini! Bukan itu yang Gisselle inginkan!!” Kata Fred.

“Apa yang kau tahu tentang yang dia inginkan?!” George tanpa sadar berteriak pada saudara kembarnya sendiri. “Kau tidak tahu!! Tidak tahu apapun!!”

Tidak ada yang berbicara setelah George berteriak seperti itu. Selama beberapa saat, kedua anak kembar itu hanya berpandangan saja, hingga akhirnya George yang membuka mulut pertama kali.

“Maafkan aku.”

Fred tersenyum kecil. “Tidak apa-apa kawan. Tapi kuharap kau mendengarkan kata-kataku tadi.” Ia lalu menepuk pundak George dan berdiri lalu berjalan pergi, menuju rumah, meninggalkan George untuk berpikir.

“Bodoh.” George mengarahkan tinjunya pada tanah di sampingnya. Pemuda berambut merah itu meninju tanah berulang kali hingga akhirnya ia berhenti untuk mengatur nafasnya. Air matanya kembali mengalir ketika mengingat kematian orang yang paling ia cintai, Gisselle.

“Kenapa kau harus pergi, Gisselle.” Bisiknya. Tangannya lalu meraih kantong celananya dan mengeluarkan box kecil berwarna merah, tempat ia menyimpan cincin yang seharusnya adalah milik Gisselle, yang seharusnya akan terpasang di jari gadis itu.

George pun mengeluarkan cincin itu dan menggenggamnya erat-erat. Air mata masih terus mengalir hingga mendadak, entah dari mana, tubuh pemuda itu dipenuhi kehangatan, seakan-akan ada yang memeluk tubuhnya dari belakang. Dengan cepat George menoleh, namun tidak ada siapapun yang berdiri di belakangnya.

Entah mengapa pelukan tadi terasa tidak asing baginya.

“Gisselle..?” Gumam George. Pemuda itu tercengang selama beberapa saat sebelum berdiri dan mengelap air matanya. Senyuman perlahan-lahan mengembang di wajahnya.

“Aku telah bertindak idiot ya?” Katanya, seakan-akan Gisselle memang berada di depannya. “Aku mengerti, aku tidak boleh seperti ini atau kau mungkin akan mulai menghantui dan membuat mimpiku di malam hari menjadi mimpi buruk.” George tertawa dan mengeluarkan tongkatnya. Dengan satu gerakan singkat, pemuda itu menyihir cincin itu sehingga sekarang cincin itu tergantung di sebuah tali kalung terbuat dari rantai perak.

George mengenakan kalung berbandul cincin itu. “Tenang saja Gisselle, pacarmu ini akan baik-baik saja.” Tangan pemuda itu menggenggam cincinnya sekali lagi. “Kita semua akan baik-baik saja, jadi jangan khawatir.”

***TBC***

A/N : Kaga angst jir hahahaha
Maaf jika bahasanya aneh, kemampuan bahasa gue acak kadul..
Again, mohon maaf apabila ada kesalahan *bows*

Original Plot by : Our Queen, JK Rowling
The ‘new’ plot Made by : Liz
Take out with full credits please~ ^^