Rabu, 10 Desember 2014

You're My - Chapter 9

Disclaimer    : BTS and all Kpop artists are not mine. Jimin will be soon though (lol kidding).
OC belongs to their rightful owner, while the plot is mine.

Genre       : Romance, Friendship, Comedy, Fluff

"You’re My"
Chapter 9 : My Resolvement


Oh Haneul membuka matanya dan mendapati langit-langit ruangan berwarna putih menyapa pandangannya pertama kali. Kepalanya terasa sangat sakit dan daerah sekitar perutnya lebih sakit lagi. Gadis itu berusaha bangun ketika sebuah tangan dengan lembut menahan pundaknya untuk tetap berbaring.

"Kau harus tetap berbaring sayang."

Haneul menoleh dan menatap Hwang Eunhee, ibunya sendiri sedang menatapnya dengan kedua matanya yang menyiratkan kekhawatiran sekaligus cukup lega melihat anak tunggalnya sudah sadar dari pingsannya. "Akan kupanggil dokter dan mengatakan bahwa kau sudah siuman." Kata ibunya kembali seraya berdiri dan berjalan keluar dari kamar.

Jelas mengabaikan kata-kata ibunya tadi, Haneul mengernyit kesakitan saat ia berusaha duduk di kasurnya. Kepalanya masih sangat sakit namun itu tidak menghalangi dirinya mengingat apa yang terjadi. Preman-preman memukulinya, ia nyaris pingsan ketika ia akhirnya di tolong seseorang. Siapakah orang itu, Haneul hanya bisa menebak walau ia tidak yakin.

"Haneul!" Pintu terbuka dan dua muka yang sama persis muncul dari balik pintu itu. Shin Dongho dan Shin Taehyung menunjukan ekspresi lega mereka yang sama persis dan berjalan, setengah berlari, masuk ke arah kasur Haneul. Keduanya sudah hendak memeluk Haneul ketika mendadak berhenti dan menyadari bahwa gadis itu akan kesakitan bila menerima pelukan mereka.

"Bagaimana kabarmu sobat?" Tanya Taehyung. Ia duduk di kursi tempat Eunhee duduk tadi sementara Dongho duduk di tepi kasur Haneul.

"Baik-baik saja." Jawab Haneul.

Dongho mendorong pelan kening Haneul dengan jari telunjuknya. "Jangan berbohong, Nona Oh. Kau tidak sadarkan diri selama sehari lebih dan membuat kami semua khawatir setengah mati." Kata Dongho. "Aku dan Taehyung tidak bisa tidur dan makan karenamu!!

"Diamlah.." Kata Haneul. Namun ia tersenyum karena walau Dongho melebih-lebihkan perkataannya, gadis itu tahu bahwa kedua sahabatnya itu memang mengkhawatirkannya. "Ngomong-ngomong, apa yang terjadi? Bagaimana aku bisa sampai di rumah sakit?"

"Itu harusnya pertanyaan kami, Haneul. Darimana kau mendapat semua luka itu?" Tanya Taehyung dengan tatapan tajam.

"Pertanyaanku d--"

"Pertanyaan kami dulu." Kata si kembar secara bersamaan. Ekspresi serius yang sangat jarang muncul di wajah mereka membuat Haneul bingung. Tidak biasanya mereka seperti ini. Gadis itu menghela nafas dan akhirnya memutuskan untuk menceritakan segalanya pada kedua pemuda itu, bagaimana ia mencari Jimin dan berakhir terkena masalah dengan preman-preman. Namun tentu saja ia menyembunyikan tentang kemampuan Jimin menyanyi.

Setelah Haneul selesai bercerita, Taehyung bersandar ke punggung kursinya dan Dongho mengepalkan kedua tangannya yang terletak di atas pahanya itu. Kedua pemuda kembar itu tidak mengatakan apa-apa selama beberapa saat, dan Haneul menunggu salah satu dari mereka berbicara dan berkomentar.

"Jangan bergaul dengan Park Jimin lagi. Jauhi dia." Kata-kata Dongho membuat Haneul kaget. Gadis itu membayangkan pemuda itu akan mengomelinya tentang kecerobohannya, atau akan meminta maaf karena memaksa Haneul minum. Kata-kata protes sudah akan keluar ketika mata Haneul bertemu dengan mata Dongho. Pemuda itu tidak bercanda soal hal ini.

"Tidak. Kalian salah paham." Kata Haneul. Gadis itu menoleh ke arah Taehyung, berharap pemuda itu bisa mengerti maksudnya.

Taehyung menghembuskan nafas panjang. "Kau di hajar habis-habisan hanya karena kau terlihat dekat dengan Jimin. Bagaimana kalau hal ini terulang lagi dan tidak ada yang dapat menolongmu?" Kata pemuda itu.

"Tapi yang menolongku adalah Jimin bukan?"

Pertanyaan Haneul membuat kedua temannya membeku. Gadis itu menatap tajam Taehyung, yang lebih tidak tahan tatapannya dari kedua pemuda kembar itu.

"Kurasa 'Tolong' bukan kata yang tepat." Kata Taehyung akhirnya. "Ia yang membawamu ke arah cafe, kepada kami. Namun belum tentu ia menolongmu. Bisa saja ia menunggu hingga preman-preman itu pergi baru pergi ke arahmu."

Haneul menggeleng, "Aku yakin dia yang menolongku kemarin."

Dongho mengerang frustasi, "Sudah, jauhi dia saja oke?"

"Tidak."

"Haneul.."

Ekspresi Haneul malah semakin keras. "Tidak. Kenapa aku harus melakukan itu? Yang terjadi padaku bukan kesalahannya."

"Kau akan tetap terancam bahaya bila tetap di dekatnya, Haneul!! Kami tidak mau hal-hal mengerikan menimpamu jadi tolong jauhi dia!!" Suara Dongho meninggi dan volumenya nyaris bisa di bilang setara dengan suara teriakan. Haneul sudah akan membalas ketika Taehyung lebih cepat darinya.

"Kami hanya ingin kau baik-baik saja Haneul." Suara Taehyung lebih tenang daripada suara Dongho tadi. "Hanya itu. Tolong mengerti kami."

Lagi-lagi kesempatan Haneul membalas perkataan kedua sahabatnya di ganggu oleh pintu kamar yang terbuka kembali. Hwang Eunhee dan Oh Hyunseok, ayah Haneul, melangkah masuk kedalam kamar, di ikuti oleh seorang dokter dan suster.

"Kurasa kami pergi dulu." Kata Taehyung seraya berdiri dari kursinya. Dongho juga melakukan hal yang sama. Keduanya tersenyum dan menyapa singkat orang tua Haneul sebelum pamit dan berjalan keluar kamar, meninggalkan Haneul yang sebenarnya masih ingin protes.

***

Kondisi Haneul telah membaik dan tampaknya Jimin menepati janjinya untuk tidak dekat-dekat dengan gadis itu membuat Shin Dongho bernafas lega. Namun ada satu hal yang masih 'mengganjal' di pikirannya. Seorang bernama Park Soojin jelas telah merebut perhatiannya sepenuhnya.

"Tidak."

"Oh ayolah Kwonnie."

Karena frustasi tidak berhasil mendapatkan kontak gadis itu langsung dari orangnya, Dongho akhirnya memutuskan untuk menanyakan salah satu petinggi SO. Ia tidak mau bertanya pada Haneul karena gadis itu pasti masih memprotes mengenai larangan bertemu Jimin itu. Akhirnya mau tidak mau, ia bertanya pada Jokwon, wakil ketua SO dan teman seangkatannya.

"Akan ku traktir kau roti selama seminggu penuh, bagaimana?" Pinta Dongho.

"Kau pikir aku ini maniak roti? Tidak!"

"Kwonnieeeee.."

Setelah berjam-jam, ya berjam-jam penuh rengekan dari Dongho, yang sudah pasti membuat siapapun hilang kesabaran, akhirnya Jokwon menyerah dan memberikan apa yang pemuda itu inginkan, secarik kertas bertuliskan kontak Soojin. Pemuda itu menatap kertas 'keramat' itu dengan pandangan gugup. Semua rencana yang sudah ia susun demikian rupa di otaknya tadi, runtuh sudah.

Akhirnya dengan berani ia mengirim sebuah pesan. Ia terlalu gugup untuk menelepon sehingga sebuah sms menjadi jalur pemecahan.

Park Soojin sendiri sedang duduk di perpustakaan, mengerjakan tugasnya bersama Minra dan Jin, ketika pesan dari Dongho masuk ke hpnya. "Darimana pemuda ini mengetahu kontakku.." Gumam Soojin, namun secara otomatis senyum gadis itu mengembang, dan hal itu tidak luput dari mata Jin dan Minra.

"Ada apa?" Tanya Jin.

"Kau mendadak tersenyum seperti orang gila saat membaca pesan di hpmu. Yang jelas itu bukan dari kakakmu kan?" Timpal Minra.

Soojin menggeleng. "Aku tidak tersenyum seperti orang gila."

"Tapi pesan itu dari seorang laki-laki dan dia bukan kakakmu kan?"

Gadis yang di tanyai menggigit bibirnya sebelum akhirnya mengangguk, membuat Minra nyengir dan ekspresi Jin sedikit menggelap. Soojin jelas mengabaikan pertanyaan Minra yang bertubi-tubi mengenai siapa yang mengirimnya pesan itu hingga mereka berpisah di jalan. Tentu saja ia juga tidak menceritakannya pada kakaknya yang super protective itu. Tidak ada yang tahu selain dirinya sendiri bahwa ia sedang bertukar pesan dengan Shin Dongho, selain tentu saja, pemuda itu sendiri.

Entah sudah berapa puluh sms dari pemuda itu menemaninya hingga larut malam, bahkan hingga paginya dan beberapa hari kemudian. Pemuda itu berulang kali mengajaknya makan siang bersama, namun Soojin terlalu takut (dan gengsi) untuk menerimanya.

From : Shin Dongho
To : Park Soojin
Sampai kapan kau akan menolak ajakan makanku?

--

From : Park Soojin
To : Shin Dongho
Aku hanya enggan dilihat oleh seluruh sekolah. Kau tahu bahwa penggemarmu itu mengerikan? Rumor mengenai Park Jina sunbae-nim yang di labrak  karena pacaran dengan kembaranmu sudah menyebar luas kau tahu?

--

From : Shin Dongho
To : Park Soojin
Kalau begitu, kalau aku mengajakmu ke tempat yang jarang murid sekolah kita, kau akan ikut?

--

From : Park Soojin
To : Shin Dongho
Kemana?

--

From : Shin Dongho
To : Park Soojin
Besok pagi akan ku jemput kau jam 9 di depan stasiun dekat rumahmu. Jangan telat!

--

Soojin menatap layar hpnya dan membaca pesan terakhir Dongho sekitar sepuluh kali lebih dan masih terus memikirkannya dari awal kelas hingga siang hari ketika ia duduk di dalam mobil kakaknya.

"Soojin."

Soojin tersentak dari lamunannya dan menoleh ke arah kakaknya. Gadis itu juga baru menyadari kalau mobil yang di naikinya sudah berhenti dan mereka sudah sampai di depan rumah. Joongki mengerutkan keningnya dan menatap adiknya dengan pandangan penuh tanya sekaligus khawatir.

"Kau tidak apa-apa? Kau melamun sepanjang perjalanan pulang." Tanya Joongki. Soojin otomatis langsung menggeleng dan keluar dari mobil, hal yang sama yang di lakukan oleh Joongki setelahnya. Pemuda yang berusia 29 tahun itu hanya bisa menatap bingung adiknya yang bertingkah aneh sepanjang hari itu. Soojin tidak banyak bicara dan menghabiskan waktunya membongkar lemari bajunya.

"Kau tidak hendak kencan dengan seseorang kan?" Kata Joongki. Pemuda yang bersandar di ambang pintu kamar Soojin itu akhirnya tidak mampu menahan rasa penasarannya lagi. Soojin melonjak terkejut dan langsung menggeleng kepada kakaknya.

"Tidak!! A-aku hanya ada acara besok.." Kata gadis itu, namun wajahnya mengkhianatinya. Pipinya merona merah dan ia tidak berani menatap mata kakaknya secara langsung.

"Mau kuantar besok pa--"

Soojin kembali menggeleng dengan cepat. "Tidak perlu. Aku bisa sendiri. Lagi pula oppa harus berangkat pagi besok bukan?"

Mau tidak mau Joongki mengalah kepada adiknya walau ia sangat ingin mengetahui apa yang adiknya lakukan besok pagi. Sayangnya perkataan gadis itu benar, ia harus bekerja besok dari pagi untuk mengurus cabang cafenya yang berada cukup jauh dari rumah mereka.

"Baiklah. Bersenang-senanglah besok." Setelah berkata begitu, kepala Soojin di usap pelan oleh Joongki dan pemuda itu melangkah pergi. Soojin sendiri menjatuhkan dirinya ke ranjangnya dan memandang langit-langit kamarnya. Setengah menunggu setengah mengkhawatirkan hari esok.

Jam 9 kurang esok harinya, Soojin tiba di depan stasiun, tempat ia dan Dongho sudah berjanji untuk bertemu. Namun sampai jam 9 lewat, tidak ada tanda-tanda Dongho dan hal itu jelas membuat gadis itu kesal. Ia sudah hendak mengirim pesan kepada Dongho ketika sebuah mobil McLaren merah berhenti di depannya dan pintunya terbuka ke atas, membuat gadis itu bisa melihat siapa pengendaranya. Shin Dongho duduk di kursi supir dengan kacamata hitam menggantung longgar di ujung hidungnya. Cengiran lebar terpasang di wajahnya.

"Masuklah." Kata pemuda itu. Melihat sosok Dongho yang tidak bisa di sangkal lagi penampilan mengaggumkannya  itu, mau tidak mau jantung Soojin sedikit berdegup lebih cepat. Gadis itu segera masuk ke dalam mobil demi menghindari pandangan dari orang-orang dan Dongho langsung menutup pintu mobilnya kemvali secara otomatis dan menjalankan mobilnya kembali.

"Kau tahu kau telat?" Kata Soojin seraya berpura-pura marah pada pemuda di sampingnya itu. Dongho melirik gadis di sebelahnya, cengiran tidak menghilang dari wajahnya dari tadi.

"Maaf, aku bingung menentukan baju yang harus kupakai hari ini. Bagaimana menurutmu pakaianku?"

Soojin memperhatikan pemuda itu dari atas sampai bawah dan dalam hati mengakui bahwa style pemuda itu hari ini mengejutkan. Namun karena gengsi, Soojin hanya menjawab dengan anggukan singkat, "Lumayan." Katanya dengan singkat namun sudah mampu membuat Dongho tersenyum lebar.

"Ngomong-ngomong, kita hendak kemana?"

"Rahasia." Jawab Dongho. Soojin sudah berusaha mengorek informasi dari pemuda itu namun Dongho hanya menggeleng dan menutup mulutnya rapat-rapat, atau mengalihkan pembicaraan dengan mudah. Akhirnya Soojin pun menyerah dan memutuskan untuk duduk diam saja di sebelah Dongho, berpura-pura marah pada pemuda itu walau sebenarnya gagal total karena Dongho selalu berhasil membuatnya menjawab pertanyaan atau bahkan tertawa kecil.

Akhirnya mobil tersebut berhenti dan mereka berdua keluar dari mobil. Soojin mengenali dimana mereka berada. Mereka berdiri di depan pintu masuk salah satu amusment park yang cukup terkenal, yang anehnya, saat itu sedang sepi. Soojin menatap sekeliling sebelum menoleh ke Dongho yang baru saja menyerahkan kunci mobilnya pada seorang pria.

"Kenapa kita disini?" Tanya Soojin. Dongho berjalan dan berhenti di sebelah Soojin, menatap sekeliling dengan pandangan bangga.

"Bagaimana menurutmu? Tidak ada murid sekolah kita yang akan melihat kita disini bukan?" Kata Dongho.

"Tentu saja tidak ada karena amusment park ini di tutup untuk hari ini!" Jawab Soojin seraya menunjuk papan pengumuman yang tidak jauh dari mereka. Dongho hanya nyengir dan menggeleng lalau berjalan menuju pintu masuk. Soojin mau tidak mau mengikuti pemuda itu walau dalam hati ia mengomel karena Dongho tidak percaya bahwa amusment park itu di tutup untuk umum hari ini.

"Selamat datang Tuan Muda." Salah satu petugas disana membungkuk rendah pada Dongho ketika pemuda itu mendekat, membuat Soojin menatap dengan heran. Dongho membalas sapaan petugas itu lalu menoleh ke arah Soojin.

"Kau mau masuk atau tidak?"

Soojin hanya terdiam sementara Dongho, tanpa menoleh lagi, masuk ke dalam amusment park itu. Petugas yang tadi menyapa Dongho tersenyum pada Soojin. "Tuan muda menyewa seluruh amusment park ini hari ini khusus untuk anda, Nona Park." Kata petugas itu. "Silahkan masuk dan nikmati waktu anda."

Soojin pun akhirnya melangkah masuk, dimana Dongho sudah menunggunya di depan penjual es krim. Pemuda itu menjulurkan sebuah es krim rasa strawberry pada Soojin sementara dia sendiri memakan es krim rasa cokelat. Tampaknya Soojin masih kehilangan kata-kata karena ia menerima es krim itu sambil menatap Dongho dengan tatapan menuntut penjelasan.

"Jadi bagaimana menurutmu?" Kata Dongho. Pemuda itu memakan es krimnya sambil tersenyum bangga. "Tidak perlu mengantri, berdesak-desakan dan yang terpenting tidak akan ada yang mengenali kita disini."

"Bagaimana caranya kau bisa menyewa seluruh tempat ini?" Tanya Soojin yang akhirnya mulai memakan es krimnya.

Dongho melebarkan senyumannya dan menegakkan tubuhnya dengan bangga. "Karena 'tempat ini' adalah milik keluargaku."

Soojin mengerjap-ngerjapkan matanya saat menatap Dongho selama beberapa detik. "Apa?" Katanya, merasa tidak dapat mempercayai apa yang baru saja ia dengar.

"Seluruh tempat ini milikku." Kata Dongho dengan santai. Pemuda itu menghabiskan sisa es krimnya dengan satu gigitan lalu menarik tangan Soojin yang tidak sedang memegang es krim dan mengajak gadis itu berjalan. "Hari ini seluruh tempat ini untuk kita berdua. Hanya saja ada satu peringatan sebelum kita mulai bermain." Kata Dongho.

"Apa itu?"

Dongho tersenyum, "Berhati-hatilah atau kau bisa jatuh cinta kepadaku."

***

"Kau yakin kau baik-baik saja?"

Haneul mengalihkan pandangannya dari tumpukan tugas yang ia tinggalkan selama di rawat di rumah sakit beberapa hari yang lalu. "Sudah berapa kali ku katakan Mark, aku baik-baik saja."

"Kau yakin?"

"Hentikan menanyakan hal yang sama atau tumpukan kertas ini akan melayang tepat ke arah mukamu."

Mark dengan segera mengatupkan kedua mulutnya walau jelas ia masih khawatir tentang keadaan partnernya itu. Berita soal Haneul di serang sekelompok preman sudah menyebar dan hal itu membuat semua orang khawatir akan keadaan gadis itu. Mereka semua takut Haneul akan di serang lagi. Namun gadis yang bersangkutan malah tidak memikirkan hal itu sama sekali. Hanya ada satu hal yang mengusik pikiran Oh Hanreul, dan itu adalah Park Jimin.

Sejak kejadian malam itu, jelas sekali Jimin menghindarinya. Pemuda itu bahkan tidak masuk kerja dan ketika Haneul melihatnya di lorong gedung kampus, pemuda itu berjalan dengan cepat dan tidak meliriknya sama sekali. Jelas sekali sikap itu membuat Haneul bingung, walau ia tahu salah satu penyebabnya adalah si kembar.

"Bukankah itu hal yang bagus?" Kata Taehyung ketika Haneul menanyakan hal itu pada kedua teman masa kecilnya. Mereka bertiga sedang duduk di bangku taman, menikmati jam kosong yang jarang mereka dapatkan di waktu yang sama. Haneul menatap tajam Taehyung, yang hanya membuang muka ke arah lain, menghindari bertatap mata bersama Haneul.

“Ia hanya akan membahayakanmu.” Gumam Dongho dan tampaknya ia hendak menyudahi topik yang sudah berulang kali di bahas Haneul. Melihat bahwa tidak ada gunanya berdebat dengan kedua pemuda yang keras kepala itu, Haneul mengambil tasnya dan bangkit berdiri.

“Terserah kalian saja kalau begitu.” Kata Haneul. Baru saja ia berjalan menaiki tangga, menuju kelas berikutnya ketika dari arah yang berlawanan, Park Jimin menuruni tangga yang sama. Reaksi pemuda itu sama dengan sebelumnya. Ketika melihat Haneul, Jimin mengalihkan pandangan ke arah lain dan berjalan dengan cepat.

Namun kali ini Haneul tidak akan membiarkan pemuda itu lewat begitu saja. Oh tidak kali ini Haneul akan menghentikannya dan memaksa pemuda itu memberikan penjelasan. Gadis itu berdiri tepat di depan Jimin, dan karena pemuda itu menatap ke arah lain, ia tidak melihat bahwa sekarang Haneul berdiri di depannya. Nyaris saja Haneul di tabraknya jika ia tidak melirik ke depan dan berhenti tepat pada waktunya.

“Park Jimin." Kata Haneul dengan suara tenang. Jimin tidak mempunyai kesempatam menghindari lagi karena gadis itu menatap langsung ke matanya dan memegang tangannya dengan erat. "Aku perlu berbicara denganmu."

"Tapi aku tidak." Jawab Jimin. Kata-kata pertama yang di ucapkannya pada Haneul setelah berhari-hari. "Jadi, sampai nanti." Pemuda itu menepiskan tangan Haneul dan hendak berjalan pergi lagi sebelum pundaknya di tarik kembali oleh Haneul. Kesal dengan tindakan gadis itu, Jimin kembali menepiskan tangan Haneul dengan kasar lalu berbalik dan mendorong gadis itu ke dinding.

"Dengan Oh Haneul.." Kata pemuda itu, berusaha terdengar sedingin mungkin walau sebenarnya ia tidak ingin melukai gadis itu lagi. "Jangan ganggu aku lagi mengerti? Aku muak dengan wajahmu itu." Jimin lalu melepaskan Haneul dan berbalik pergi tanpa menoleh lagi, walaupun ia sendiri merasa jijik dengan perkataannya barusan. Namun ini demi gadis itu, ia tidak bisa menghindarinya lagi. Jika ia ingin Haneul baik-baik saja, berapapun sakitnya itu, ia harus melakukannya.

***

Park Jina menatap bingung kakaknya yang biasanya bersemangat untuk bekerja di akhir minggu namun kali ini hanya tiduran malas di atas kasurnya. Jimin hanya menatap hpnya berulang kali, menggelengkan kepalanya dan menaruh kembali hpnya ke sebelah kepalanya. Namun kemudian ia mengambil hpnya lagi, melihatnya dan siklus kembali terulang.

"Oppa, kau tidak bekerja hari ini?" Tanya Jina yang akhirnya tidak tahan untuk tidak bertanya pada kakaknya itu. Jimin hanya menoleh sekilas menatap Jina lalu kembali menatap langit-langit kamarnya.

"Aku akan berganti pekerjaan jadi tidak, aku tidak masuk hari ini."

Oke ini aneh, sebelumnya, walau Jimin tidak mengatakan dengan sejujurnya, Jina dapat melihat kalau pemuda itu sangat menikmati pekerjaannya. Namun gadis itu tidak sempat bertanya lebih jauh karena suara ketukan di pintu membuatnya melonjak kaget.

"Sebentar!" Kata Jina seraya berjalan ke pintu, di ikuti oleh Jimin yang memang selalu was-was jika ada yang mengetuk pintu rumah mereka. Pintu pun di buka dan muka Taehyung muncul dengan senyuman yang lebar di wajahnya.

"Sudah siap?" Kata Taehyung. Ia dan Jina memang mempunyai janji kencan hari itu. Muka Jina berubah merah dan menggeleng dengan panik. Mereka sudah resmi jadian beberapa lama namun tetap saja Jina mudah tersipu di depan Taehyung. Gadis itu berlari masuk ke dalam rumah lagi, meninggalkan Jimin dan Taehyung dengan suasana awkward.

"Kau tidak bekerja?" Tanya Taehyung. Jimin menggeleng.

"Tidak. Aku akan berhenti bekerja di cafe itu dan mencari pekerjaan lain. Tenang saja." Jawab Jimin. Ia langsung berbalik dan berjalan masuk ke dalam kamarnya dan hanya menjawab dengan sahutan ketika Jina pamit kepadanya. Selama sejam kedepan, pemuda itu sama sekali tidak melakukan apa-apa selain berbaring dan menatap langit-langit kamarnya. Hp nya sudah berbunyi sekitar tiga kali, semuanya dari bossnya yang tidak dia angkat. Tidak ada telepon dari Haneul. Seharusnya ia merasa lega karena gadis itu mengikuti perintahnya, namun ada bagian kecil dari dirinya yang sedikit kecewa sang Ice Queen menurut begitu saja.

Akhirnya pemuda itu bangkit berdiri dan memutuskan untuk memulai mencari pekerjaan baru. Rumah di kuncinya dan ia mulai melangkahkan kakinya. Dengan sengaja ia memilih tempat yang jauh dari cafe tempat Haneul bekerja namun tampaknya mencari pekerjaan tidak semudah sebelumnya. Setelah beberapa saat mengelilingi daerah yang ia pilih itu, Jimin belum menemukan tempat bekerja satupun juga.

Akhirnya, karena frustasi dan juga lelah, pemuda itu beristirahat di taman terdekat. Entah sudah berapa lama ia tidur di rerumputan sambil menatap langit yang lama kelamaan berubah warna menjadi oranye. Matanya sudah nyaris tertutup dan akan tertidur ketika sepasang kaki yang berhenti berjalan tepat di sebelahnya menarik perhatiannya. Jimin menoleh dan melirik ke atas hanya untuk melihat Oh Haneul menatap balik padanya.

"Kenapa kau menghindariku seperti itu? Ini tidak seperti dirimu yang biasa." Kata Haneul tanpa basa-basi lagi. Jimin duduk namun menolak untuk menatap Haneul walau gadis itu terang-terangan melotot kepadanya.

"Kau berkata seolah kau mengenalku dengan baik." Jawab Jimin dengan dingin. Ia tidak bisa menatap ekspresi Haneul ketika ia mengatakan hal ini karena ia sendiri merasa sakit ketika mengatakan hal itu.

"Memang. Atau setidaknya aku pikir aku mengenalmu."

Jawaban Haneul lebih terasa berat dari yang ia pikirkan. Sebelum kejadian itu, Jimin memang telah membuka diri sedikit demi sedikit pada gadis itu, walau sebagian besar tidak ia sadari.

"Baiklah jika kau memang ingin menjauhiku. Tapi jangan berhenti dari pekerjaanmu, biar aku saja yang berhenti." Jimin merasakan Haneul berbalik dan berjalan pelan menjauhi dirinya. Pemuda itu menatap tangannya yang dari tadi ia kepalkan. Apakah ini benar-benar yang ia inginkan? Ia bisa merasakan bahwa Haneul merasakan sakit yang sama dengannya.

Tidak. Bukan ini.

Park Jimin bangkit berdiri dan berlari, menyusul Haneul yang belum berjalan jauh dar tempatnya duduk tadi. Dengan tegas namun selembut mungkin, pemuda itu menarik tangan Haneul, membuat gadis itu menatapnya. Ekspresi bingung dan terkejut jelas terpasang di wajahnya.

"Tidak."

Haneul mengerutkan keningnya. Tidak? Apa maksud pemuda itu dengan kata 'Tidak'? Apakah dia tetap ingin mengundurkan diri dari pekerjaannya? Namun sebelum Haneul sempat bertanya, Jimin melanjutkan kata-katanya.

"Aku tidak ingin menjauhi atau menghindarimu. Aku.." Jimin menghela nafas dan menghembuskannya kembali. "I just don't want you to be hurt."

Tanpa sadar, Haneul menahan nafasnya. "Explain."

"All this time, I have put you into danger, and i didn't realize that until..... that night." Kata Jimin. "I-if I get close to you, you'll just getting hurt more and more."

Haneul bisa merasakan genggaman tangan Jimin semakin erat. Gadis itu lalu meletakan satu tangannya di pipi pemuda itu, membuatnya menatapnya langsung tepat di mata.

"I don't mind getting hurt by you. For you." Jawab Haneul. Selama beberapa detik mereka berdua berpandangan seperti itu, hingga akhirnya Jimin melangkah maju, mendekati Haneul dan akhirnya mencium gadis itu, tepat di bibir. Haneul tidak menyangka Jimin akan melakukan hal itu, walau ia juga tidak mendorong pemuda itu menjauh.

"Don't regret this choice, Oh Haneul." Kata Jimin saat ia melepaskan ciumannya. Mukanya memerah walau jelas ia berusaha tetap bersikap cool.

"I won't." Jawab Haneul sambil tersenyum. "Ever."

***TBC***

A/N : Hngg.. no comment #plak
Anyway,  mohon maaf bila ada kesalahan *bows*

Made by : Liz
Take out with full credits please~ ^^

Senin, 10 November 2014

You're My : Chapter 8

Disclaimer    : BTS and all Kpop artists are not mine. Jimin will be soon though (lol kidding).
OC belongs to their rightful owner, while the plot is mine.

Genre       : Romance, Friendship, Comedy, Fluff

"You’re My"
Chapter 8 : My Protection


"Itu tidak bijaksana."

Haneul menoleh ke arah counter dan menatap Jimin. Cafe sudah sepi dan saat itu Haneul sedang membersihkan meja dari pelanggan terakhir. Pemuda yang di tatap Haneul itu memang menepati janjinya dan bekerja hingga akhir walau adiknya tadi terkena masalah dengan anggota kelompoknya sendiri.

"Apanya yang tidak bijaksana?" Jawab Haneul seraya menegakkan tubuhnya dan membawa gelas-gelas kosong ke dalam dapur. Jimin mengikuti gadis itu dan berdiri bersandar di pintu sementara Haneul mencuci gelas-gelas yang kosong itu.

“Tindakanmu terhadap Jackson tadi. Kau hanya mencari masalah dengan berkata begitu padanya.” Kata Jimin. Nada dalam perkataannya berbeda dari biasanya, apakah ia mengkhawatirkan Haneul? Gadis itu tidak bisa menebak nada bicara pemuda itu.

“Tenang saja, ia tidak akan berani melakukan apapun. Aku sudah mengancamnya.” Jawab Haneul tanpa menoleh dari cuciannya sehingga tidak melihat Jimin mengacak-acak rambutnya karena frustasi.

“Bukan itu maksudku.”

Haneul menoleh seraya mengeringkan tangannya, “Lalu?” Gadis itu tidak menunggu jawaban dari pemuda itu dan berjalan melewatinya, menuju counter depan. Jimin mengeluarkan erangan frustasi dengan volume yang kecil dan bergumam pelan sehingga hanya ia yang tahu apa yang ia katakan.

“Aku hanya tidak ingin melihat kau terluka..”

***

Shin Dongho membanting tangannya ke meja makan di mana ia dan saudara kembarnya sedang beristirahat di jam makan siang. Taehyung mengernyit mendengar suaranya keras yang di sebabkan Dongho dan segera memukul tangan saudaranya itu. Dongho malah semakin menatap Taehyung dengan tatapan tajam dan sama sekali tidak bergeming saat di pukuli.

“Kau..bercanda..” Kata Dongho.

Taehyung mukul pipi Dongho dengan pelan, “Aku tidak bercanda dan tolong jangan membesar-besarkan hal ini.” Kata pemuda itu dengan nada pelan walau cengiran jahilnya terpasang di wajahnya. Mata Dongho semakin melebar dan tampaknya ia sudah siap berteriak keliling sekolah karena hal itu.

“Tunggu sampai Haneul tahu..” Kata Dongho akhirnya serasa mengacungkan jari telunjuknya ke muka Taehyung.

“Sampai aku tahu apa?” Haneul mendadak muncul dan duduk di sebelah Dongho, membuat pemuda itu melonjak terkejut. Pemuda itu lalu menatap Haneul dengan tatapan protes karena gadis itu mendadak muncul di belakangnya, yang tentu saja di abaikan oleh gadis yang bersangkutan.

Akhirnya Dongho menyerah berusaha memprotes Haneul dan melirik Taehyung sebelum menatap Haneul lagi. "Kau tahu Haneul, Taehyung punya pacar!" Setelah mengatakan hal itu, pemuda itu menunggu reaksi terkejut Haneul yang ternyata tidak muncul-muncul. Gadis itu hanya mengangguk dan menatap Dongho seakan-akan ia hanya memberi tahu cuaca hari itu.

"Lalu?" Tanya Haneul.

Tanpa sadar, Dongho membuka mulutnya selama beberapa saat, terkejut melihat reaksi Haneul yang biasa saja itu. "K-kau tidak terkejut?!" Kata pemuda itu. Pada akhirnya yang kaget tetaplah Shin Dongho.

"Taehyung memberi tahuku kemarin."

Mulut Dongho terbuka lebih lebar dari sebelumnya. Ia lalu menoleh ke arah Taehyung dengan pandangan marah dan tersinggung. "Kau memberi tahu Haneul lebih dahulu daripada diriku?!"

"Itu karena Haneul lebih bisa di percayai soal hal ini." Jawab Taehyung, cengiran riang yang iseng miliknya sudah kembali setelah menghilang beberapa lama akibat berita Jina berpacaran dengan Jackson. Dongho mengerang protes, yang membuat kedua temannya malah semakin geli dengan tingkah pemuda itu.

Jam makan siang pun selesai, Haneul harus kembali ke kelasnya sementara Taehyung mempunyai janji dengan Jina dan jadilah Dongho di tinggal sendiri. Pemuda itu dengan bosan mengitari kampusnya, malas untuk pulang ke rumah namun tidak memiliki kegiatan apapun di kampusnya. Mendadak sesosok yang familiar tertangkap pandangan matanya. Park Soojin sedang mengobrol bersama seorang pemuda yang Dongho kenali sebagai Kim Seokjin, sepupu Haneul dan sang 'pangeran kampus' berikutnya setelah ia dan Taehyung lulus.

Otomatis Dongho berhenti di bawah tangga, dimana di ujung tangga itu berdiri Soojin yang sedang tertawa bersama Jin. Ia tidak bermaksud menguping atau apapun, namun entah mengapa ia merasa tidak senang ketika Soojin sedekat itu dengan Jin, walau dia seharusnya tidak mempunyai hak untuk hal itu. Tidak lama kemudian Jin menatap jam tangannya dan melambai kepada Soojin sebelum berjalan pergi, yang membuat Dongho, entah mengapa, senang melihatnnya.

"Oi." Kata Dongho, menyapa Soojin yang masih berada di atas tangga. Gadis yang di panggil menoleh dan setelah menemukan sumber suara, ekspresi wajahnya berubah kesal.

"Kau menguping?"

Dongho nyengir dan mulai menaiki tangga. "Itukah caramu menyapa seorang senior?" Pemuda itu hanya berhenti beberapa anak tangga di bawah Soojin dan memasukan kedua tangannya ke kantong celananya. "Kau berteman baik dengan Seokjin?" Lanjut pemuda itu seraya menggerakkan kepalanya dengan asal ke arah yang sama dengan arah Jin pergi tadi.

Soojin menatap tajam Dongho sebelum mengangguk perlahan. "Kau mengenal Jin? Memangnya kenapa kalau aku dekat dengannya?" Balas Soojin, dengan nada yang sinis pula. Bukannya merasa tertekan ketika mendengar nada Soojin, cengiran Dongho malah semakin lebar.

"Ia sepupu dari Haneul, aku melihatnya beberapa kali di pesta yang ku datangi." Jawab Dongho, setengah menyombong bahwa dia adalah orang penting dari keluarga ternama.

"Sepupu dari Haneul sunbae-nim?" Alis Soojin terangkat. Ia memang pernah mendengar dari Jin kalau sepupu pemuda itu adalah salah satu anggota SO, namun ia tidak menyangka sepupu sahabatnya itu adalah  salah satu calon ketua SO berikutnya.

Dongho naik satu langkah lagi, mendekati Soojin, dengan cengiran lebar. “Kau tidak tahu? Wah wah..”

Kesal dengan tindakan pemuda itu, Soojin melangkah turun, mendekati Dongho. Ekspresi wajah yang galak di pasangnya untuk menghadapi seniornya yang satu itu. Namun baru saja ia melangkahkan satu kakinya ke bawah, pijakannya goyah dan ia kehilangan keseimbangan. Otomatis gadis itu memekik kaget dan hal itu juga membuat Dongho luar biasa kaget.

Soojin menutup matanya, mempersiapkan diri untuk terjatuh berulang kali di tangga sebelum akhirnya tergeletak di lantai bagian bawah. Pikiran-pikiran buruk sudah memenuhi kepalanya, apakah ia akan terluka arah atau tidak? Bagaimana nasibnya nanti?, ketika akhirnya ia menyadari ia sama sekali tidak terbentur lantai dingin ataupun merasa sakit, walaupun jelas ia merasa jatuh ke bawah.

Perlahan namun pasti, akhirnya Soojin membuka kedua matanya, dan hal pertama yang dia lihat adalah muka Shin Dongho. Pemuda itu nyengir sarkastik namun jelas matanya menyiratkan kekhawatiran. Cairan berwarna merah mengalir dari sekitar pelipisnya, membuat Soojin menahan keinginan untuk berteriak.

“Hati-hati kalau berjalan lain kali, nona.” Kata Dongho dengan nada yang sarkastik. “Kau tidak apa-apa kan?” Lanjutnya dengan nada yang berbeda. Soojin tidak bisa menjawab dengan kata-kata, seakan-akan kemampuannya untuk berbicara hilang selama sesaat. Namun gadis itu mengangguk, dan hal itu sudah cukup untuk Dongho.

“Baguslah.”

Mata Dongho lalu tertutup dan Soojin langsung menyadari apa yang baru saja terjadi. Dongho menangkapnya saat ia terjatuh tadi dan melindunginya agar tidak terluka. Tangan pemuda itu masih terletak di punggung Soojin, melindungi gadis itu walaupun sekarang ia sudah jelas pingsan.

Dengan cepat, namun berhati-hati agar tidak melukai Dongho lebih jauh, Soojin berdiri dan segera berteriak meminta bantuan. Gedung kampus saat itu cukup sepi dan Soojin sudah nyaris putus asa ketika ia mendengar suara langkah kaki yang berlari mendekat. Gadis itu hampir terkena serangan jantung ketika melihat muka yang sama persis dengan Dongho muncul dari kejauhan. Shin Taehyung berlari mendekat, seakan-akan dia bisa menyadari saudara kembarnya baru saja mengalami kecelakaan.

“Ada apa? Ada apa? Kenapa kau berteriak?” Kata Taehyung seraya berlari mendekat. Muka pemuda itu memucat saat melihat kembarannya tergeletak di lantai dengan kepala yang berdarah. Pemuda itu langsung meneriakan nama kembarannya dan berlari melewati Soojin, ke arah Dongho.

“Apa yang terjadi? Apa yang terjadi padanya?!” Suara Taehyung meninggi karena panik, namun Soojin tidak bisa menjawab. Gadis itu sudah siap menangis ketika suara langkah kaki kembali terdengar. Betapa leganya Taehyung ketika wajah teman masa kecil mereka lah yang muncul. Haneul dan Mark muncul dari atas tangga, keduanya membawa map SO.

“Haneul!!” Teriak Taehyung.

Haneul, yang belum melihat Dongho, mengernyit ketika Taehyung berteriak kepadanya. Namun gadis itu kemudian melihat Dongho dan ekspresi wajahnya memucat, sama seperti Taehyung. Mark juga melihatnya karena dengan cepat ia mengambil map dari Haneul agar gadis itu bebas berlari turun ke arah Dongho.

“Apa yang terjadi?” Tanya Haneul. Suaranya bergetar namun gerak-geriknya mantab saat memeriksa luka Dongho.

“Tanya dia!” Kata Taehyung sambil menunjuk Soojin. Jelas sekali pemuda itu panik karena melihat saudara kembarnya terluka.

“Aku.. aku..” Soojin terbata-bata.

"Sudah, jangan membentaknya." Kata Mark seraya menyimpan kembali handphonenya. Pemuda itu dengan tanggap menelepon ambulans untuk Dongho, mengingat kemungkinan besar Taehyung dan Soojin terlalu panik untuk melakukan itu sementara Haneul terlalu sibuk memberikan pertolongan pertama. Tidak lama kemudian Dongho sudah di bawa pergi dengan ambulans. Taehyung dan Haneul ikut bersama pemuda itu sementara Mark tinggal untuk mengurus perihal kecelakaan itu dengan pihak sekolah. Soojin sendiri berhasil ikut bersama Taehyung dan Haneul setelah berhasil membujuk mereka berdua.

"Akan ku urus pembayaran dan hal lainnya." Kata Haneul setelah Dongho sudah mendapat perawatan dan sekarang masih terbaring pingsan di ranjang rumah sakit yang berwarna putih. Setelah berkata begitu, gadis itu melangkah pergi dari kamar. Taehyung sendiri sudah pergi duluan untuk menelepon orang tua mereka. Dan tinggalah Soojin sendirian menemani Dongho.

Gadis itu sedang menatap tangannya yang terkepal di pangkuannya ketika terdengar suara erangan Dongho yang menandakan pemuda itu sudah sadar dari pingsannya. Dengan cepat gadis itu berdiri, membuat kursi yang tadi ia duduki terjatuh ke belakang, dan mendekati Dongho dengan muka khawatir terpasang di wajahnya.

"Ada apa dengan mukamu itu.." Kata Dongho. Suaranya masih lemah namun nada sarkastik tidak menghilang dari suaranya. Soojin terjebak antara ingin memeluk pemuda itu dan ingin meninjunya. Namun gadis itu merasa lega mendengar suara Dongho, yang membuktikan bahwa pemuda itu baik-baik saja.

Tanpa sadar air mata lega Soojin mengalir, dan melihat hal itu Dongho malah menjadi panik. Pemuda itu memaksakan diri untuk duduk, menyebabkan erangan kesakitan keluar dari mulutnya dan pemuda itu memegang kepalanya dengan kedua tangannya.

"Kau masih belum sembuh benar!" Pekik Soojin panik sementara Dongho masih memegangi kepalanya, kesakitan akibat tindakannya sendiri tadi.

"Menurutmu kenapa aku melakukan itu?!" Balas Dongho. Pemuda itu menatap tajam Soojin dengan tatapan kesal. "Karena kau menangis seperti itu aku jadi panik!!"

Soojin tidak membalas selama beberapa saat, dan kemudian gadis itu malah jatuh berlutut lalu melipat kedua lengannya di atas kasur Dongho dan menyembunyikan mukanya di antara lengannya itu. Hal itu membuat Dongho menghentikan tatapan kesalnya dan kembali menjadi panik.

"Hoy! Jangan menangis lagi!" Kata pemuda itu, setengah bingung setengah panik dengan apa yang harus ia lakukan saat itu.

"Aku kira kau akan mati atau kenapa.." Gumam gadis itu.

Dongho terhenyak sejenak, lalu pemuda itu meletakan tangannya di atas kepala Soojin, membuat gadis itu mengangkat kepalanya dan menatap Dongho. "Kau ini.." Kata Dongho dengan lembut seraya mengusap pelan kepala Soojin. "Aku tidak selemah itu."

Soojin merasakan mukanya memerah. Gadis itu menenggelamkan kepalanya lagi dan menggumamkan sesuatu. Namun suaranya terlalu kecil sehingga Dongho harus memintanya mengulang kata-katanya. Bukannya mengulang perkataannya dengan suara yang lebih jelas, Soojin malah berdiri, mencium pipi Dongho dengan kecepatan kilat lalu berjalan ke arah pintu dan menoleh tepat di ambang pintu, sebelum ia keluar dari ruangan.

"Kubilang, terima kasih telah menyelamatkanku, Oppa."

Dongho berani bersumpah ia melihat muka Soojin memerah sebelum gadis itu berlari keluar ruangan. Pemuda itu juga merasakan mukanya memanas, seakan-akan sedang di rendam dengan air panas.

"Aaargh!!" Seru pemuda itu sambil menjatuhkan dirinya hingga berbaring lagi di kasur. Namun bukan Shin Dongho namanya bila ia tidak bertingkah bodoh. Kepala pemuda itu yang di balut perban terkena ujung ranjang sehingga pemuda itu berguling ke kanan dan ke kiri di atas kasurnya sambil kembali mengerang kesakitan.

***

Jeon Jungkook merapikan peralatannya yang berserakan di atas meja. Pensil, penghapus, penggaris, semua peralatan untuk menggambar miliknya berserakan di atas meja. Pemuda yang baru saja memulai tahun pertamanya sebagai mahasiswa jurusan arsitektur itu menghembuskan nafas berat, dosennya baru saja memberikannya tugas yang merepotkan, dan bahannya susah untuk di dapatkan.

Setelah akhirnya berhasil merapikan semua barangnya ke dalam tas, Jungkook meraih tasnya dan berjalan keluar dari gedung kampusnya. Ia baru saja berjalan melintasi taman ketika dua sosok yang sedang duduk berhadapan, yang di kenalnya menarik perhatiannya. Tanpa sadar senyumnya mengembang di wajahnya dan kakinya melangkah ke arah dua orang itu, Park Soojin, sepupunya dan tentu saja, Park Minra.

Soojin lah yang pertama kali menyadari bahwa Jungkook sedang berjalan ke arah dirinya dan Minra. Mendadak sebuah ide iseng melintas di pikirannya dan sebuah cengiran kecil muncul di mukanya, yang buru-buru ia tutupi dengan batuk kecil. Minra sendiri sibuk menatap majalah yang ia dan Soojin sedang baca sehingga tidak menyadari ada yang mendekati mereka.

“Ah, Jungkook!” Kata Soojin, membuat Minra terlonjak kaget dan menoleh dengan cepat ke arah Soojin memandang. Jungkook juga terkejut ketika sepupunya sendiri menyapa dengan tiba-tiba, namun pemuda itu langsung melambaikan tangannya sebagai sapaan balik dan mempercepat langkahnya.

“Geser.” Perintah Soojin pada Minra, menyuruh gadis itu memberikan ruang di sebelahnya untuk Jungkook.

Muka Minra memerah, "Kau saja yang geser.” Balas gadis itu. Soojin hanya menggeleng dan terus menatap Minra dengan tajam sehingga akhirnya gadis itu menggeser tempat duduknya dan memberikan tempat tepat pada waktunya untuk Jungkook saat pemuda itu tiba di depan mereka.

“Hey.” Sapa pemuda itu dan dengan canggung ia duduk di sebelah Minra, membuat Soojin harus menyembunyikan cengirannya dengan batuk kecil lagi. "Kalian sedang apa?" Lanjut pemuda itu, berusaha memancing percakapan.

"Membaca majalah yang baru kami beli tadi." Jawab Soojin karena tampaknya Minra tidak bisa berkata-kata. Gadis itu lalu pura-pura mengecek handphonenya lalu meraih tasnya dan bangkit berdiri. "Aku harus pulang sekarang, kakakku memintaku pulang cepat. Sampai nanti!!" Dan Soojin pun melesat pergi sebelum Minra dapat memprotes tindakan gadis itu.

Berkat ulah cerdik (dan iseng) dari Soojin, Minra duduk bersebelahan, berdua saja, bersama Jungkook. Selama beberapa saat tidak ada kata-kata yang tertukar di antara mereka, hanya ada keheningan yang menggantung di udara. Hingga akhirnya Jungkook kembali berusaha memancing percakapan dengan Minra.

“Bagaimana dengan kelasmu?” Tanya Jungkook dengan senyuman gugup di mukanya. Pemuda itu menatap Minra walau gadis itu tidak berani menatap balik dan hanya berani mencuri-curi pandang dengan sembunyi-sembunyi.

“Berjalan seperti biasa, bagaimana denganmu?” Kata Minra. “Sudah mulai terbiasa dengan kehidupan di universitas ini?”

Jungkook mengangguk dan tertawa kecil, “Lumayan, walau masih agak berat untuk membiasakan diri.” Ia pun mulai bercerita dan lama-lama Minra tidak menjadi terlalu canggung lagi duduk di sebelah pemuda itu. Bahkan Minra sudah mulai gantian menceritakan kehidupan sekolahnya, yang membuat Jungkook menatap gadis itu dalam diam, walau senyumannya tidak pernah meninggalkan wajahnya.

Minra menyadari tingkah pemuda itu. Gadis itu berhenti bercerita dan menatap Jungkook dengan bingung. “Ada apa?” Tanya Minra. Mengetahui bahwa ia tertangkap basah sedang menatap muka Minra, muka Jungkook berubah menjadi merah dan menggeleng dengan cepat.

“Tidak ada apa-apa, lanjutkan lah.” Kata Jungkook seraya membuang muka selama beberapa saat, berusaha membuat ekspresi mukanya kembali normal. Minra tidak melanjutkan dan malah tetap melihat Jungkook.

“Kau yakin tidak apa-apa?” Kata gadis itu. Jungkook berulang kali mengangguk dengan bersemangat, kelewat bersemangat sebenarnya, agar Minra berhenti menatapnya seperti itu. Ia bisa merasakan mukanya memanas dengan cepat.

Jantung Jeon Jungkook nyaris berhenti ketika Minra meletakan satu tangannya di kening pemuda itu dan tangan lainnya di kening miliknya sendiri. Gadis itu mengecek suhu pemuda yang berada di sebelahnya itu, khawatir pemuda itu terkena demam. Dan bukannya bertambah sembuh, muka Jungkook malah semakin memerah.

“Aneh, tampaknya kau tidak demam.” Kata Minra, masih tidak menyadari bahwa dialah penyebab muka pemuda disebelahnya memerah. Jungkook kehilangan kata selama beberapa saat, dan hanya bisa mengangguk saja sebagai jawaban untuk Minra.

“Ngomong-ngomong!” Jungkook tiba-tiba berkata dengan suara yang cukup keras, membuat Minra terlonjak kecil. “Kau ada waktu minggu ini?”

“Minggu ini? Sepertinya ada..” Jawab Minra sejujurnya.

“Bagus. Maukah kau pergi bersamaku minggu ini?”

Perlu lima detik bagi Park Minra untuk menyadari maksud Jungkook kepadanya. Muka gadis itu otomatis memerah ketika menyadari apa yang baru saja Jungkook katakan. Apakah pemuda itu baru saja mengajaknya kencan?

“K-kalau kau tidak mau juga tidak apa-apa.” Kata Jungkook dengan cepat ketika Minra tidak menjawab. “A-aku hanya berpikir, mungkin.. err.. kau..err..” Pemuda itu berpikir keras, mencari alasan untuk mengajak Minra jalan-jalan. “Oh! Aku hanya berpikir kau mungkin bisa membantuku membeli peralatan kuliah.. Tapi kalau kau sibuk—“

“Aku mau!”

Kata-kata Jungkook terhenti dan kali ini dia yang membutuhkan waktu lima detik untuk memahami kata-kata Minra. Senyuman lebar mengembang di wajahnya. “Kalau begitu, di depan stasiun jam 9?” Dan Minra mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Jungkook tadi.

Tanpa menghilangkan senyuman lebar dari wajahnya, Jungkook berdiri dan mengedip riang. “Sampai ketemu nanti kalau begitu, Park Minra.” Dan pemuda itu berjalan pergi dengan senyuman yang seakan-akan masih akan bertahan hingga hari minggu, hari minggu yang akan menjadi hari yang paling di tunggu-tunggu oleh Park Minra dan Jeon Jungkook.

***


Musik pelan mengalun dengan indah di dalam cafe milik Park Joongki itu. Hari ini adalah hari anniversary dari cafe itu dan sekarang sang pemilik sedang mengadakan pesta kecil yang tertutup, hanya untuk kalangan tertentu yang di undang. Tentu saja yang di undang bisa membawa orang lain ke pesta kecil itu. Park Haneul adalah salah satu dari orang yang di minta Joongki untuk hadir. Ia dan semua pegawai lainnya.

Bahkan Dongho dan Taehyung juga ada di dalam pesta kecil itu, dan dengan jelas menarik perhatian semua gadis yang ada. Taehyung tentu saja tidak mempedulikan gadis manapun dan hanya memandang pacarnya, Jina. Dongho sendiri sibuk menarik perhatian Soojin, walau gadis itu berusaha keras mengabaikan pemuda itu.

“Sejak kapan teman masa kecilmu mendekati adikku.” Park Joongki bersandar di meja, di sebelah Haneul yang sedang menatap sekeliling seraya memegang minuman miliknya. Haneul tertawa kecil, bossnya itu memang sangat protective terhadap adik kesayangannya. Haneul sendiri melihat bahwa Dongho dan Soojin menjadi semakin dekat sejak kejadian kecelakaan Dongho itu.

Dongho bercanda lalu akhirnya Soojin tertawa dan mulai mengobrol bersama pemuda itu, membuat Joongki menggumam kesal dan mulai mendekati adiknya dan pemuda itu. Haneul hanya bisa menggeleng dan menyesap minumannya kembali lalu segera menaruhnya di meja. Ia tidak bisa minum alkohol dengan baik dan minumannya itu mengandung alcohol. Nyaris semua minuman disana beralkohol di pesta itu. Joongki sengaja mengaturnya seperti itu.

Haneul baru saja akan duduk ketika Jaemee mendekati gadis itu dengan muka panik. “Penyanyi yang kita pesan mendadak tidak bisa hadir, bagaimana ini?” Kata Jaemee. Teman Haneul itu tahu bahwa Joongki bisa mengamuk jika tidak ada penyanyi yang mengisi acara.

“Akan kuurus.” Jawab Haneul. Kepalanya sudah mulai pusing akibat dari minumannya tadi. “Akan kucari penyanyi lain.” Dan entah mengapa, yang pertama muncul di pikiran gadis itu adalah Park Jimin. Namun pemuda yang dimaksud itu tidak kelihatan sama sekali sejak Haneul melihatnya datang bersama Jina. Dengan cepat Jimin menghilang dari kerumunan orang-orang begitu pesta di mulai.

“Aku akan segera kembali.” Kata Haneul pada Jaemee dan gadis itu pun membelah kerumunan, mencari Jina yang ternyata juga tidak tahu dimana kakaknya berada. Setelah beberapa saat, akhirnya Haneul menyimpulkan bahwa Jimin tidak berada di dalam cafe itu dan memutuskan untuk mencari pemuda itu di luar cafe.

Pesta di mulai sore hari sehingga ketika Haneul keluar, langit sudah gelap dan jalanan sudah cukup sepi. Alkohol diminumannya tadi pasti cukup kuat, atau memang hari ini dia tidak fit sehingga pikirannya tidak bekerja dengan jernih. Gadis itu mengomel pelan mengenai minumannya tadi, ia seharusnya tidak menerima sodoran dari si kembar yang memaksanya minum tadi.

"Park Jimin! Aku tahu kau di sekitar sini!" Kata Haneul dengan suara yang cukup keras. Ia tahu Jimin tidak akan jauh-jauh dari cafe sementara adik kesayangannya masih berada disana. Haneul menunggu selama beberapa saat sebelum meneriakan kata-kata yang sama lagi hingga akhirnya pemuda yang ia panggil muncul juga, dengan muka sedikit kesal.

"Apa?" Kata pemuda itu dengan kesal. Haneul berkacak pinggang dan balas menatap dengan tajam.

"Disitu kau rupanya. Kabar buruk, penyanyi yang kita sewa mendadak tidak bisa datang." Kata Haneul.

"Lalu?"

"Aku mengusulkan kau saja yang menyanyi."

Ekspresi Jimin seakan-akan ia baru saja menerima musibah besar. Pemuda itu berjalan dengan cepat ke arah Haneul dan setengah membanting gadis itu ke dinding terdekat. "Kau memberi tahu orang lain tentang hal itu?" Suara pemuda itu dipenuh kemarahan. Haneul menepis tangan Jimin di pundaknya lalu mendorong pemuda itu, walau sia-sia karena Jimin tidak mau bergerak dari tempatnya.

"Tidak. Aku tidak bilang pada siapapun. Tapi aku masih berpikir bahwa kau bisa menjadi penyanyi yang hebat." Jawab Haneul dengan tenang, walau kepalanya mulai berdenyut sakit. "Setidaknya jadilah penyanyi di acara ini."

"Tidak." Kata Jimin. Pemuda itu akhirnya mundur dan berbalik pergi. "Pergi dan nikmati saja pesta mu itu. Jangan ganggu aku lagi."

"Hey! Hey!!" Haneul memanggil berulang kali namun Jimin tidak menoleh sama sekali, meninggalkan gadis itu sendirian di jalan yang sudah sepi. "Ada apa dengannya." Gerutu Haneul. Gadis itu berusaha menegakkan tubuhnya namun baru saja tiga langkah ia berjalan, Haneul harus memegang dinding sebagai bala bantuan. Kepalanya sangat pusing sehingga bahkan pandangannya saja sudah mengabur.

"Hai Nona."

Sebuah suara membuat Haneul berbalik dan menatap orang yang memanggilnya tadi. Gadis itu tidak bisa melihat dengan jelas, namun ada sekitar lima pemuda di hadapannya.

"Tampaknya kau dekat dengan Park Jimin." Kata salah satu pemuda itu. Mereka berjalan mendekati Haneul. "Bagaimana kalau kau ikut dengan kami?"

Otak Haneul bekerja secepat yang ia bisa dalam keadaan hampir mabuk itu. Para pemuda di depannya ini pasti preman-preman musuh Jimin yang hendak memanfaatkannya. "Tidak ada gunanya aku ikut dengan kalian. Park Jimin bukan siapa-siapa bagiku dan diriku baginya bukan siapa-siapa juga. Jadi, sampai nanti." Haneul berbalik pergi dan berjalan beberapa langkah kembali sebelum tangannya di tarik dari belakang.

"Oh ya?" Kata preman itu. "Mari kita buktikan kalau begitu." Setelah mengucapkan hal itu, preman-preman itu mendorong Haneul hingga gadis itu terjatuh ke tanah. "Bagaimana kalau kau teriak? Mungkin dia akan menolongmu." Kata salah satu preman itu. Pemuda itu menarik rambut Haneul mendekatinya, memaksa gadis itu mengangkat kepalanya.

Kesal, Haneul meludah ke muka pemuda itu dengan berani. Tamparan keras diterima sebagai akibatnya, membuat bibirnya berdarah saking terlalu kerasnya tamparan itu.

"Gadis yang berani rupanya kau ini. Pantas saja Park Jimin menyukaimu."

Kata-kata itu terngiang-ngiang di telinga Haneul. Mungkin itu hanya bualan mereka namun entah kenapa jantungnya berdebar keras ketika mendengar hal itu. Tamparan lain di terima oleh Haneul karena gadis itu diam saja. Beberapa pemuda teman preman itu tertawa melihat Haneul. Penampilan gadis itu sudah berantakan. Tanah menempel di baju dan badannya, rambutnya, yang masih di tarik oleh preman itu, berantakan tidak karuan.

"Teriaklah! Panggil Park Jimin kesini!!" Kata preman itu. Namun Haneul menutup mulutnya rapat-rapat. Ia tidak ingin menyeret Jimin ke situasi seperti ini. Lima lawan satu orang, jelas bukan pertandingan yang seimbang.

"Mungkin kau kurang keras." Kata preman yang lain. Ia mendekati Haneul dan menendang perut gadis itu. Tendangan itu cukup membuat Haneul mengerang kesakitan. Melihat cara membuat Haneul mengeluarkan suara, pemuda itu menendang berulang kali lagi.

Haneul yakin tubuhnya sudah biru sekarang. Pandangannya sudah buram dan ia yakin tidak lama lagi ia akan jatuh pingsan. Walaupun begitu, ia tersenyum puas. Setidaknya para preman itu tidak mendapatkan apa yang mereka inginkan.

*

Jimin berjalan pelan. Sedikit menyesali kata-katanya pada Haneul tadi. Dan tentu saja, ia merasa tidak enak meninggalkan gadis itu sendirian setelah mencarinya malam-malam begini di jalanan yang sepi. Langkah Jimin akhirnya terhenti dan ia menghembuskan nafas berat lalu berbalik ke tempat ia meninggalkan Haneul tadi. Ia hanya akan mengantarkan Haneul ke cafe saja, hanya itu. Lagi pula tampaknya tadi gadis itu sedikit mabuk sehingga ia pasti memerlukan bantuannya.

Mendadak sebuah suara tertangkap olehnya. Suara itu tidak asing lagi dan Jimin mempunyai feeling buruk mengenai hal itu. Pemuda itu mempercepat langkahnya dan bahkan akhirnya berlari ke arah sumber suara. Matanya melebar ketika akhirnya melihat sang sumber suara. Oh Haneul tergeletak nyaris tak sadarkan diri di tanah, sementara lima orang pemuda yang di kenalinya sebagai preman dari geng musuhnya mengelilingi gadis itu.

Tidak bisa menahan amarahnya lagi, Jimin melompat ke preman terdekat dan melayangkan tinjunya. Hal yang sama ia lakukan kepada preman di sebelahnya dan tendangan kepada preman lainnya. Pertarungan singkat yang hanya berlangsung beberapa menit itu di menangkan oleh Jimin. Biasanya, ia mungkin akan menemukan kesulitan melawan mereka berlima, namun pada saat itu, melihat apa yang mereka lakukan pada Haneul, sudah cukup bagi Jimin untuk menghajar mereka lebih dari biasanya.

"Haneul!" Teriak Jimin setelah semua lawannya lari terpontang-pating. Pemuda itu berlutut di sebelah Haneul dan dengan hati-hati mengangkat gadis itu kepelukannya. "Haneul!!"

Mata Haneul nyaris tertutup, namun ia masih bisa menebak siapa yang baru saja menyelamatkannya itu. Namun kata-kata tidak bisa ia keluarkan dari mulutnya.

"Gadis bodoh, kenapa kau tidak berteriak minta tolong?" Kata Jimin, masih sedikit panik melihat kondisi Haneul yang sangat jauh dari biasanya itu. Mata Haneul perlahan tertutup, gadis itu jatuh pingsan bahkan sebelum memastikan yang membantunya adalah Jimin.

Tangan Jimin mencengkram lengan Haneul dengan kuat seraya mengangkat gadis itu lalu berjalan balik ke arah cafe. Tepat saat itu Dongho dam Taehyung berjalan ke arah Jimin, mereka berdua mencari Haneul yang tidak kunjung balik. Bagaimana pun juga Haneul sudah bagaikan adik perempuan mereka.

"Oh? Jimin?" Kata Taehyung ketika melihat Jimin mendekat. "Apakah kau meli--" Perkataan Taehyung terhenti ketika melihat siapa yang berada di tangan Jimin. Kedua pemuda kembar itu berlari bersamaan ke arah Haneul, namun sementara Taehyung mengambil Haneul dari Jimin, Dongho memukul mundur Jimin. Ekspresi kedua pemuda itu tidak bisa di bilang ramah.

"Jelaskan." Kata Dongho. Suaranya tidak pernah sedingin ini. "Jelaskan padaku kenapa Haneul bisa seperti ini?!"

Jimin tidak menjawab. Pemuda itu hanya menatap Haneul yang sekarang sedang di gendong Taehyung. Setelah hening beberapa saat, akhirnya Jimin membuk mulutnya.

"Ini semua salahku." Jawabnya dengan suara kecil. Mendengar jawaban itu, Dongho memukul Jimin sekali lagi.

"Bajingan. Jangan pernah kau dekati sahabat kami lagi." Kata Dongho. Kemarahannya sampai di puncaknya. Tanpa berkata apapun lagi, pemuda itu berjalan pergi bersama Taehyung, yang membawa Haneul, ke arah mobilnya, hendak membawa Haneul ke rumah sakit secepat yang mereka bisa.

Bunyi mobil melaju pergi sudah menghilang namun Jimin masih belum beranjak dari tempatnya. Ia menatap kedua tangannya yang tadi sempat memeluk Haneul lalu mengepalkan tangannya dengan keras hingga buku-buku jarinya memutih.

"Mungkin ini yang harus aku lakukan sejak dulu." Gumam pemuda itu dengan pelan. Larangan dari Dongho tentang bagaimana ia harus menjauhi Haneul menjadi suatu perintah untuknya. Ia tahu ia seharusnya memang tidak mendekatkan diri pada gadis itu, pada siapapun. Seharusnya mudah menjauhkan diri dari Haneul mengingat mereka hanyalah partner kerja saja.

Namun kenapa rasanya memikirkan hal itu saja sudah cukup menyakitkan?


***TBC***

A/N : HAHAHAHA *flip table*
Anehanehanehaneh orz
Anyway,  mohon maaf bila ada kesalahan *bows*

Made by : Liz

Take out with full credits please~ ^^