Disclaimer : BTS and all Kpop artists are not mine.
Jimin will be soon though (lol kidding).
OC belongs to their rightful owner, while the plot is
mine.
Genre :
Romance, Friendship, Comedy, Fluff
"You’re My"
Chapter 9 :
My Resolvement
Oh Haneul membuka matanya dan
mendapati langit-langit ruangan berwarna putih menyapa pandangannya pertama
kali. Kepalanya terasa sangat sakit dan daerah sekitar perutnya lebih sakit
lagi. Gadis itu berusaha bangun ketika sebuah tangan dengan lembut menahan pundaknya
untuk tetap berbaring.
"Kau harus tetap berbaring
sayang."
Haneul menoleh dan menatap Hwang
Eunhee, ibunya sendiri sedang menatapnya dengan kedua matanya yang menyiratkan
kekhawatiran sekaligus cukup lega melihat anak tunggalnya sudah sadar dari
pingsannya. "Akan kupanggil dokter dan mengatakan bahwa kau sudah
siuman." Kata ibunya kembali seraya berdiri dan berjalan keluar dari
kamar.
Jelas mengabaikan kata-kata ibunya
tadi, Haneul mengernyit kesakitan saat ia berusaha duduk di kasurnya. Kepalanya
masih sangat sakit namun itu tidak menghalangi dirinya mengingat apa yang
terjadi. Preman-preman memukulinya, ia nyaris pingsan ketika ia akhirnya di
tolong seseorang. Siapakah orang itu, Haneul hanya bisa menebak walau ia tidak
yakin.
"Haneul!" Pintu terbuka dan
dua muka yang sama persis muncul dari balik pintu itu. Shin Dongho dan Shin
Taehyung menunjukan ekspresi lega mereka yang sama persis dan berjalan,
setengah berlari, masuk ke arah kasur Haneul. Keduanya sudah hendak memeluk
Haneul ketika mendadak berhenti dan menyadari bahwa gadis itu akan kesakitan
bila menerima pelukan mereka.
"Bagaimana kabarmu sobat?"
Tanya Taehyung. Ia duduk di kursi tempat Eunhee duduk tadi sementara Dongho
duduk di tepi kasur Haneul.
"Baik-baik saja." Jawab
Haneul.
Dongho mendorong pelan kening Haneul
dengan jari telunjuknya. "Jangan berbohong, Nona Oh. Kau tidak sadarkan
diri selama sehari lebih dan membuat kami semua khawatir setengah mati."
Kata Dongho. "Aku dan Taehyung tidak bisa tidur dan makan karenamu!!
"Diamlah.." Kata Haneul.
Namun ia tersenyum karena walau Dongho melebih-lebihkan perkataannya, gadis itu
tahu bahwa kedua sahabatnya itu memang mengkhawatirkannya.
"Ngomong-ngomong, apa yang terjadi? Bagaimana aku bisa sampai di rumah
sakit?"
"Itu harusnya pertanyaan kami,
Haneul. Darimana kau mendapat semua luka itu?" Tanya Taehyung dengan
tatapan tajam.
"Pertanyaanku d--"
"Pertanyaan kami dulu." Kata
si kembar secara bersamaan. Ekspresi serius yang sangat jarang muncul di wajah
mereka membuat Haneul bingung. Tidak biasanya mereka seperti ini. Gadis itu
menghela nafas dan akhirnya memutuskan untuk menceritakan segalanya pada kedua
pemuda itu, bagaimana ia mencari Jimin dan berakhir terkena masalah dengan
preman-preman. Namun tentu saja ia menyembunyikan tentang kemampuan Jimin
menyanyi.
Setelah Haneul selesai bercerita,
Taehyung bersandar ke punggung kursinya dan Dongho mengepalkan kedua tangannya
yang terletak di atas pahanya itu. Kedua pemuda kembar itu tidak mengatakan
apa-apa selama beberapa saat, dan Haneul menunggu salah satu dari mereka
berbicara dan berkomentar.
"Jangan bergaul dengan Park Jimin
lagi. Jauhi dia." Kata-kata Dongho membuat Haneul kaget. Gadis itu
membayangkan pemuda itu akan mengomelinya tentang kecerobohannya, atau akan
meminta maaf karena memaksa Haneul minum. Kata-kata protes sudah akan keluar
ketika mata Haneul bertemu dengan mata Dongho. Pemuda itu tidak bercanda soal
hal ini.
"Tidak. Kalian salah paham."
Kata Haneul. Gadis itu menoleh ke arah Taehyung, berharap pemuda itu bisa mengerti
maksudnya.
Taehyung menghembuskan nafas panjang.
"Kau di hajar habis-habisan hanya karena kau terlihat dekat dengan Jimin.
Bagaimana kalau hal ini terulang lagi dan tidak ada yang dapat
menolongmu?" Kata pemuda itu.
"Tapi yang menolongku adalah Jimin
bukan?"
Pertanyaan Haneul membuat kedua
temannya membeku. Gadis itu menatap tajam Taehyung, yang lebih tidak tahan
tatapannya dari kedua pemuda kembar itu.
"Kurasa 'Tolong' bukan kata yang
tepat." Kata Taehyung akhirnya. "Ia yang membawamu ke arah cafe,
kepada kami. Namun belum tentu ia menolongmu. Bisa saja ia menunggu hingga
preman-preman itu pergi baru pergi ke arahmu."
Haneul menggeleng, "Aku yakin dia
yang menolongku kemarin."
Dongho mengerang frustasi,
"Sudah, jauhi dia saja oke?"
"Tidak."
"Haneul.."
Ekspresi Haneul malah semakin keras.
"Tidak. Kenapa aku harus melakukan itu? Yang terjadi padaku bukan
kesalahannya."
"Kau akan tetap terancam bahaya
bila tetap di dekatnya, Haneul!! Kami tidak mau hal-hal mengerikan menimpamu
jadi tolong jauhi dia!!" Suara Dongho meninggi dan volumenya nyaris bisa
di bilang setara dengan suara teriakan. Haneul sudah akan membalas ketika
Taehyung lebih cepat darinya.
"Kami hanya ingin kau baik-baik
saja Haneul." Suara Taehyung lebih tenang daripada suara Dongho tadi.
"Hanya itu. Tolong mengerti kami."
Lagi-lagi kesempatan Haneul membalas
perkataan kedua sahabatnya di ganggu oleh pintu kamar yang terbuka kembali.
Hwang Eunhee dan Oh Hyunseok, ayah Haneul, melangkah masuk kedalam kamar, di
ikuti oleh seorang dokter dan suster.
"Kurasa kami pergi dulu."
Kata Taehyung seraya berdiri dari kursinya. Dongho juga melakukan hal yang
sama. Keduanya tersenyum dan menyapa singkat orang tua Haneul sebelum pamit dan
berjalan keluar kamar, meninggalkan Haneul yang sebenarnya masih ingin protes.
***
Kondisi Haneul telah membaik dan
tampaknya Jimin menepati janjinya untuk tidak dekat-dekat dengan gadis itu
membuat Shin Dongho bernafas lega. Namun ada satu hal yang masih 'mengganjal'
di pikirannya. Seorang bernama Park Soojin jelas telah merebut perhatiannya
sepenuhnya.
"Tidak."
"Oh ayolah Kwonnie."
Karena frustasi tidak berhasil
mendapatkan kontak gadis itu langsung dari orangnya, Dongho akhirnya memutuskan
untuk menanyakan salah satu petinggi SO. Ia tidak mau bertanya pada Haneul
karena gadis itu pasti masih memprotes mengenai larangan bertemu Jimin itu.
Akhirnya mau tidak mau, ia bertanya pada Jokwon, wakil ketua SO dan teman
seangkatannya.
"Akan ku traktir kau roti selama
seminggu penuh, bagaimana?" Pinta Dongho.
"Kau pikir aku ini maniak roti?
Tidak!"
"Kwonnieeeee.."
Setelah berjam-jam, ya berjam-jam
penuh rengekan dari Dongho, yang sudah pasti membuat siapapun hilang kesabaran,
akhirnya Jokwon menyerah dan memberikan apa yang pemuda itu inginkan, secarik
kertas bertuliskan kontak Soojin. Pemuda itu menatap kertas 'keramat' itu
dengan pandangan gugup. Semua rencana yang sudah ia susun demikian rupa di
otaknya tadi, runtuh sudah.
Akhirnya dengan berani ia mengirim
sebuah pesan. Ia terlalu gugup untuk menelepon sehingga sebuah sms menjadi
jalur pemecahan.
Park Soojin sendiri sedang duduk di
perpustakaan, mengerjakan tugasnya bersama Minra dan Jin, ketika pesan dari
Dongho masuk ke hpnya. "Darimana pemuda ini mengetahu kontakku.."
Gumam Soojin, namun secara otomatis senyum gadis itu mengembang, dan hal itu
tidak luput dari mata Jin dan Minra.
"Ada apa?" Tanya Jin.
"Kau mendadak tersenyum seperti
orang gila saat membaca pesan di hpmu. Yang jelas itu bukan dari kakakmu
kan?" Timpal Minra.
Soojin menggeleng. "Aku tidak
tersenyum seperti orang gila."
"Tapi pesan itu dari seorang
laki-laki dan dia bukan kakakmu kan?"
Gadis yang di tanyai menggigit
bibirnya sebelum akhirnya mengangguk, membuat Minra nyengir dan ekspresi Jin
sedikit menggelap. Soojin jelas mengabaikan pertanyaan Minra yang bertubi-tubi
mengenai siapa yang mengirimnya pesan itu hingga mereka berpisah di jalan.
Tentu saja ia juga tidak menceritakannya pada kakaknya yang super protective
itu. Tidak ada yang tahu selain dirinya sendiri bahwa ia sedang bertukar pesan
dengan Shin Dongho, selain tentu saja, pemuda itu sendiri.
Entah sudah berapa puluh sms dari
pemuda itu menemaninya hingga larut malam, bahkan hingga paginya dan beberapa
hari kemudian. Pemuda itu berulang kali mengajaknya makan siang bersama, namun
Soojin terlalu takut (dan gengsi) untuk menerimanya.
From : Shin Dongho
To : Park Soojin
Sampai kapan kau akan menolak ajakan makanku?
--
From : Park Soojin
To : Shin Dongho
Aku hanya enggan dilihat oleh seluruh sekolah. Kau
tahu bahwa penggemarmu itu mengerikan? Rumor mengenai Park Jina sunbae-nim yang
di labrak karena pacaran dengan
kembaranmu sudah menyebar luas kau tahu?
--
From : Shin Dongho
To : Park Soojin
Kalau begitu, kalau aku mengajakmu ke tempat yang
jarang murid sekolah kita, kau akan ikut?
--
From : Park Soojin
To : Shin Dongho
Kemana?
--
From : Shin Dongho
To : Park Soojin
Besok pagi akan ku jemput kau jam 9 di depan stasiun
dekat rumahmu. Jangan telat!
--
Soojin menatap layar hpnya dan membaca
pesan terakhir Dongho sekitar sepuluh kali lebih dan masih terus memikirkannya
dari awal kelas hingga siang hari ketika ia duduk di dalam mobil kakaknya.
"Soojin."
Soojin tersentak dari lamunannya dan
menoleh ke arah kakaknya. Gadis itu juga baru menyadari kalau mobil yang di
naikinya sudah berhenti dan mereka sudah sampai di depan rumah. Joongki
mengerutkan keningnya dan menatap adiknya dengan pandangan penuh tanya
sekaligus khawatir.
"Kau tidak apa-apa? Kau melamun
sepanjang perjalanan pulang." Tanya Joongki. Soojin otomatis langsung
menggeleng dan keluar dari mobil, hal yang sama yang di lakukan oleh Joongki
setelahnya. Pemuda yang berusia 29 tahun itu hanya bisa menatap bingung adiknya
yang bertingkah aneh sepanjang hari itu. Soojin tidak banyak bicara dan
menghabiskan waktunya membongkar lemari bajunya.
"Kau tidak hendak kencan dengan
seseorang kan?" Kata Joongki. Pemuda yang bersandar di ambang pintu kamar
Soojin itu akhirnya tidak mampu menahan rasa penasarannya lagi. Soojin melonjak
terkejut dan langsung menggeleng kepada kakaknya.
"Tidak!! A-aku hanya ada acara
besok.." Kata gadis itu, namun wajahnya mengkhianatinya. Pipinya merona
merah dan ia tidak berani menatap mata kakaknya secara langsung.
"Mau kuantar besok pa--"
Soojin kembali menggeleng dengan
cepat. "Tidak perlu. Aku bisa sendiri. Lagi pula oppa harus berangkat pagi
besok bukan?"
Mau tidak mau Joongki mengalah kepada
adiknya walau ia sangat ingin mengetahui apa yang adiknya lakukan besok pagi.
Sayangnya perkataan gadis itu benar, ia harus bekerja besok dari pagi untuk
mengurus cabang cafenya yang berada cukup jauh dari rumah mereka.
"Baiklah. Bersenang-senanglah
besok." Setelah berkata begitu, kepala Soojin di usap pelan oleh Joongki
dan pemuda itu melangkah pergi. Soojin sendiri menjatuhkan dirinya ke
ranjangnya dan memandang langit-langit kamarnya. Setengah menunggu setengah
mengkhawatirkan hari esok.
Jam 9 kurang esok harinya, Soojin tiba
di depan stasiun, tempat ia dan Dongho sudah berjanji untuk bertemu. Namun
sampai jam 9 lewat, tidak ada tanda-tanda Dongho dan hal itu jelas membuat
gadis itu kesal. Ia sudah hendak mengirim pesan kepada Dongho ketika sebuah
mobil McLaren merah berhenti di depannya dan pintunya terbuka ke atas, membuat
gadis itu bisa melihat siapa pengendaranya. Shin Dongho duduk di kursi supir dengan
kacamata hitam menggantung longgar di ujung hidungnya. Cengiran lebar terpasang
di wajahnya.
"Masuklah." Kata pemuda itu.
Melihat sosok Dongho yang tidak bisa di sangkal lagi penampilan
mengaggumkannya itu, mau tidak mau
jantung Soojin sedikit berdegup lebih cepat. Gadis itu segera masuk ke dalam
mobil demi menghindari pandangan dari orang-orang dan Dongho langsung menutup
pintu mobilnya kemvali secara otomatis dan menjalankan mobilnya kembali.
"Kau tahu kau telat?" Kata
Soojin seraya berpura-pura marah pada pemuda di sampingnya itu. Dongho melirik
gadis di sebelahnya, cengiran tidak menghilang dari wajahnya dari tadi.
"Maaf, aku bingung menentukan
baju yang harus kupakai hari ini. Bagaimana menurutmu pakaianku?"
Soojin memperhatikan pemuda itu dari
atas sampai bawah dan dalam hati mengakui bahwa style pemuda itu hari ini
mengejutkan. Namun karena gengsi, Soojin hanya menjawab dengan anggukan
singkat, "Lumayan." Katanya dengan singkat namun sudah mampu membuat
Dongho tersenyum lebar.
"Ngomong-ngomong, kita hendak
kemana?"
"Rahasia." Jawab Dongho.
Soojin sudah berusaha mengorek informasi dari pemuda itu namun Dongho hanya
menggeleng dan menutup mulutnya rapat-rapat, atau mengalihkan pembicaraan
dengan mudah. Akhirnya Soojin pun menyerah dan memutuskan untuk duduk diam saja
di sebelah Dongho, berpura-pura marah pada pemuda itu walau sebenarnya gagal
total karena Dongho selalu berhasil membuatnya menjawab pertanyaan atau bahkan
tertawa kecil.
Akhirnya mobil tersebut berhenti dan
mereka berdua keluar dari mobil. Soojin mengenali dimana mereka berada. Mereka
berdiri di depan pintu masuk salah satu amusment park yang cukup terkenal, yang
anehnya, saat itu sedang sepi. Soojin menatap sekeliling sebelum menoleh ke Dongho
yang baru saja menyerahkan kunci mobilnya pada seorang pria.
"Kenapa kita disini?" Tanya
Soojin. Dongho berjalan dan berhenti di sebelah Soojin, menatap sekeliling
dengan pandangan bangga.
"Bagaimana menurutmu? Tidak ada
murid sekolah kita yang akan melihat kita disini bukan?" Kata Dongho.
"Tentu saja tidak ada karena
amusment park ini di tutup untuk hari ini!" Jawab Soojin seraya menunjuk
papan pengumuman yang tidak jauh dari mereka. Dongho hanya nyengir dan
menggeleng lalau berjalan menuju pintu masuk. Soojin mau tidak mau mengikuti
pemuda itu walau dalam hati ia mengomel karena Dongho tidak percaya bahwa
amusment park itu di tutup untuk umum hari ini.
"Selamat datang Tuan Muda."
Salah satu petugas disana membungkuk rendah pada Dongho ketika pemuda itu
mendekat, membuat Soojin menatap dengan heran. Dongho membalas sapaan petugas
itu lalu menoleh ke arah Soojin.
"Kau mau masuk atau tidak?"
Soojin hanya terdiam sementara Dongho,
tanpa menoleh lagi, masuk ke dalam amusment park itu. Petugas yang tadi menyapa
Dongho tersenyum pada Soojin. "Tuan muda menyewa seluruh amusment park ini
hari ini khusus untuk anda, Nona Park." Kata petugas itu. "Silahkan
masuk dan nikmati waktu anda."
Soojin pun akhirnya melangkah masuk,
dimana Dongho sudah menunggunya di depan penjual es krim. Pemuda itu
menjulurkan sebuah es krim rasa strawberry pada Soojin sementara dia sendiri
memakan es krim rasa cokelat. Tampaknya Soojin masih kehilangan kata-kata
karena ia menerima es krim itu sambil menatap Dongho dengan tatapan menuntut
penjelasan.
"Jadi bagaimana menurutmu?"
Kata Dongho. Pemuda itu memakan es krimnya sambil tersenyum bangga. "Tidak
perlu mengantri, berdesak-desakan dan yang terpenting tidak akan ada yang
mengenali kita disini."
"Bagaimana caranya kau bisa menyewa
seluruh tempat ini?" Tanya Soojin yang akhirnya mulai memakan es krimnya.
Dongho melebarkan senyumannya dan
menegakkan tubuhnya dengan bangga. "Karena 'tempat ini' adalah milik
keluargaku."
Soojin mengerjap-ngerjapkan matanya
saat menatap Dongho selama beberapa detik. "Apa?" Katanya, merasa
tidak dapat mempercayai apa yang baru saja ia dengar.
"Seluruh tempat ini
milikku." Kata Dongho dengan santai. Pemuda itu menghabiskan sisa es
krimnya dengan satu gigitan lalu menarik tangan Soojin yang tidak sedang
memegang es krim dan mengajak gadis itu berjalan. "Hari ini seluruh tempat
ini untuk kita berdua. Hanya saja ada satu peringatan sebelum kita mulai
bermain." Kata Dongho.
"Apa itu?"
Dongho tersenyum,
"Berhati-hatilah atau kau bisa jatuh cinta kepadaku."
***
"Kau yakin kau baik-baik
saja?"
Haneul mengalihkan pandangannya dari
tumpukan tugas yang ia tinggalkan selama di rawat di rumah sakit beberapa hari
yang lalu. "Sudah berapa kali ku katakan Mark, aku baik-baik saja."
"Kau yakin?"
"Hentikan menanyakan hal yang
sama atau tumpukan kertas ini akan melayang tepat ke arah mukamu."
Mark dengan segera mengatupkan kedua
mulutnya walau jelas ia masih khawatir tentang keadaan partnernya itu. Berita
soal Haneul di serang sekelompok preman sudah menyebar dan hal itu membuat
semua orang khawatir akan keadaan gadis itu. Mereka semua takut Haneul akan di
serang lagi. Namun gadis yang bersangkutan malah tidak memikirkan hal itu sama
sekali. Hanya ada satu hal yang mengusik pikiran Oh Hanreul, dan itu adalah
Park Jimin.
Sejak kejadian malam itu, jelas sekali
Jimin menghindarinya. Pemuda itu bahkan tidak masuk kerja dan ketika Haneul
melihatnya di lorong gedung kampus, pemuda itu berjalan dengan cepat dan tidak
meliriknya sama sekali. Jelas sekali sikap itu membuat Haneul bingung, walau ia
tahu salah satu penyebabnya adalah si kembar.
"Bukankah itu hal yang
bagus?" Kata Taehyung ketika Haneul menanyakan hal itu pada kedua teman
masa kecilnya. Mereka bertiga sedang duduk di bangku taman, menikmati jam
kosong yang jarang mereka dapatkan di waktu yang sama. Haneul menatap tajam
Taehyung, yang hanya membuang muka ke arah lain, menghindari bertatap mata
bersama Haneul.
“Ia hanya akan membahayakanmu.” Gumam
Dongho dan tampaknya ia hendak menyudahi topik yang sudah berulang kali di
bahas Haneul. Melihat bahwa tidak ada gunanya berdebat dengan kedua pemuda yang
keras kepala itu, Haneul mengambil tasnya dan bangkit berdiri.
“Terserah kalian saja kalau begitu.”
Kata Haneul. Baru saja ia berjalan menaiki tangga, menuju kelas berikutnya
ketika dari arah yang berlawanan, Park Jimin menuruni tangga yang sama. Reaksi
pemuda itu sama dengan sebelumnya. Ketika melihat Haneul, Jimin mengalihkan
pandangan ke arah lain dan berjalan dengan cepat.
Namun kali ini Haneul tidak akan
membiarkan pemuda itu lewat begitu saja. Oh tidak kali ini Haneul akan
menghentikannya dan memaksa pemuda itu memberikan penjelasan. Gadis itu berdiri
tepat di depan Jimin, dan karena pemuda itu menatap ke arah lain, ia tidak
melihat bahwa sekarang Haneul berdiri di depannya. Nyaris saja Haneul di
tabraknya jika ia tidak melirik ke depan dan berhenti tepat pada waktunya.
“Park Jimin." Kata Haneul dengan
suara tenang. Jimin tidak mempunyai kesempatam menghindari lagi karena gadis
itu menatap langsung ke matanya dan memegang tangannya dengan erat. "Aku
perlu berbicara denganmu."
"Tapi aku tidak." Jawab
Jimin. Kata-kata pertama yang di ucapkannya pada Haneul setelah berhari-hari.
"Jadi, sampai nanti." Pemuda itu menepiskan tangan Haneul dan hendak
berjalan pergi lagi sebelum pundaknya di tarik kembali oleh Haneul. Kesal
dengan tindakan gadis itu, Jimin kembali menepiskan tangan Haneul dengan kasar
lalu berbalik dan mendorong gadis itu ke dinding.
"Dengan Oh Haneul.." Kata
pemuda itu, berusaha terdengar sedingin mungkin walau sebenarnya ia tidak ingin
melukai gadis itu lagi. "Jangan ganggu aku lagi mengerti? Aku muak dengan
wajahmu itu." Jimin lalu melepaskan Haneul dan berbalik pergi tanpa
menoleh lagi, walaupun ia sendiri merasa jijik dengan perkataannya barusan.
Namun ini demi gadis itu, ia tidak bisa menghindarinya lagi. Jika ia ingin
Haneul baik-baik saja, berapapun sakitnya itu, ia harus melakukannya.
***
Park Jina menatap bingung kakaknya
yang biasanya bersemangat untuk bekerja di akhir minggu namun kali ini hanya
tiduran malas di atas kasurnya. Jimin hanya menatap hpnya berulang kali,
menggelengkan kepalanya dan menaruh kembali hpnya ke sebelah kepalanya. Namun
kemudian ia mengambil hpnya lagi, melihatnya dan siklus kembali terulang.
"Oppa, kau tidak bekerja hari
ini?" Tanya Jina yang akhirnya tidak tahan untuk tidak bertanya pada
kakaknya itu. Jimin hanya menoleh sekilas menatap Jina lalu kembali menatap
langit-langit kamarnya.
"Aku akan berganti pekerjaan jadi
tidak, aku tidak masuk hari ini."
Oke ini aneh, sebelumnya, walau Jimin
tidak mengatakan dengan sejujurnya, Jina dapat melihat kalau pemuda itu sangat
menikmati pekerjaannya. Namun gadis itu tidak sempat bertanya lebih jauh karena
suara ketukan di pintu membuatnya melonjak kaget.
"Sebentar!" Kata Jina seraya
berjalan ke pintu, di ikuti oleh Jimin yang memang selalu was-was jika ada yang
mengetuk pintu rumah mereka. Pintu pun di buka dan muka Taehyung muncul dengan
senyuman yang lebar di wajahnya.
"Sudah siap?" Kata Taehyung.
Ia dan Jina memang mempunyai janji kencan hari itu. Muka Jina berubah merah dan
menggeleng dengan panik. Mereka sudah resmi jadian beberapa lama namun tetap
saja Jina mudah tersipu di depan Taehyung. Gadis itu berlari masuk ke dalam
rumah lagi, meninggalkan Jimin dan Taehyung dengan suasana awkward.
"Kau tidak bekerja?" Tanya
Taehyung. Jimin menggeleng.
"Tidak. Aku akan berhenti bekerja
di cafe itu dan mencari pekerjaan lain. Tenang saja." Jawab Jimin. Ia
langsung berbalik dan berjalan masuk ke dalam kamarnya dan hanya menjawab
dengan sahutan ketika Jina pamit kepadanya. Selama sejam kedepan, pemuda itu
sama sekali tidak melakukan apa-apa selain berbaring dan menatap langit-langit
kamarnya. Hp nya sudah berbunyi sekitar tiga kali, semuanya dari bossnya yang
tidak dia angkat. Tidak ada telepon dari Haneul. Seharusnya ia merasa lega
karena gadis itu mengikuti perintahnya, namun ada bagian kecil dari dirinya
yang sedikit kecewa sang Ice Queen menurut begitu saja.
Akhirnya pemuda itu bangkit berdiri
dan memutuskan untuk memulai mencari pekerjaan baru. Rumah di kuncinya dan ia
mulai melangkahkan kakinya. Dengan sengaja ia memilih tempat yang jauh dari
cafe tempat Haneul bekerja namun tampaknya mencari pekerjaan tidak semudah
sebelumnya. Setelah beberapa saat mengelilingi daerah yang ia pilih itu, Jimin
belum menemukan tempat bekerja satupun juga.
Akhirnya, karena frustasi dan juga
lelah, pemuda itu beristirahat di taman terdekat. Entah sudah berapa lama ia
tidur di rerumputan sambil menatap langit yang lama kelamaan berubah warna
menjadi oranye. Matanya sudah nyaris tertutup dan akan tertidur ketika sepasang
kaki yang berhenti berjalan tepat di sebelahnya menarik perhatiannya. Jimin
menoleh dan melirik ke atas hanya untuk melihat Oh Haneul menatap balik
padanya.
"Kenapa kau menghindariku seperti
itu? Ini tidak seperti dirimu yang biasa." Kata Haneul tanpa basa-basi
lagi. Jimin duduk namun menolak untuk menatap Haneul walau gadis itu
terang-terangan melotot kepadanya.
"Kau berkata seolah kau
mengenalku dengan baik." Jawab Jimin dengan dingin. Ia tidak bisa menatap
ekspresi Haneul ketika ia mengatakan hal ini karena ia sendiri merasa sakit
ketika mengatakan hal itu.
"Memang. Atau setidaknya aku
pikir aku mengenalmu."
Jawaban Haneul lebih terasa berat dari
yang ia pikirkan. Sebelum kejadian itu, Jimin memang telah membuka diri sedikit
demi sedikit pada gadis itu, walau sebagian besar tidak ia sadari.
"Baiklah jika kau memang ingin
menjauhiku. Tapi jangan berhenti dari pekerjaanmu, biar aku saja yang
berhenti." Jimin merasakan Haneul berbalik dan berjalan pelan menjauhi
dirinya. Pemuda itu menatap tangannya yang dari tadi ia kepalkan. Apakah ini
benar-benar yang ia inginkan? Ia bisa merasakan bahwa Haneul merasakan sakit
yang sama dengannya.
Tidak. Bukan ini.
Park Jimin bangkit berdiri dan
berlari, menyusul Haneul yang belum berjalan jauh dar tempatnya duduk tadi.
Dengan tegas namun selembut mungkin, pemuda itu menarik tangan Haneul, membuat
gadis itu menatapnya. Ekspresi bingung dan terkejut jelas terpasang di
wajahnya.
"Tidak."
Haneul mengerutkan keningnya. Tidak?
Apa maksud pemuda itu dengan kata 'Tidak'? Apakah dia tetap ingin mengundurkan
diri dari pekerjaannya? Namun sebelum Haneul sempat bertanya, Jimin melanjutkan
kata-katanya.
"Aku tidak ingin menjauhi atau
menghindarimu. Aku.." Jimin menghela nafas dan menghembuskannya kembali.
"I just don't want you to be hurt."
Tanpa sadar, Haneul menahan nafasnya.
"Explain."
"All this time, I have put you
into danger, and i didn't realize that until..... that night." Kata Jimin.
"I-if I get close to you, you'll just getting hurt more and more."
Haneul bisa merasakan genggaman tangan
Jimin semakin erat. Gadis itu lalu meletakan satu tangannya di pipi pemuda itu,
membuatnya menatapnya langsung tepat di mata.
"I don't mind getting hurt by
you. For you." Jawab Haneul. Selama beberapa detik mereka berdua
berpandangan seperti itu, hingga akhirnya Jimin melangkah maju, mendekati
Haneul dan akhirnya mencium gadis itu, tepat di bibir. Haneul tidak menyangka
Jimin akan melakukan hal itu, walau ia juga tidak mendorong pemuda itu menjauh.
"Don't regret this choice, Oh
Haneul." Kata Jimin saat ia melepaskan ciumannya. Mukanya memerah walau
jelas ia berusaha tetap bersikap cool.
"I won't." Jawab Haneul
sambil tersenyum. "Ever."
***TBC***
A/N : Hngg.. no comment #plak
Anyway, mohon
maaf bila ada kesalahan *bows*
Made by : Liz
Take out with full credits
please~ ^^
