Minggu, 18 Juni 2017

Sickness

Sickness
Pairing : Jung Taekwoon (VIXX) x Park Haneul (OC)
Rate : R
Words : 2,331
Disclaimer : I do not own Taekwoon, or Wonsik, or any VIXX member, and the universe was based on X-Men by Stan Lee.

This is a side story for my story on wattpad, titled 'Limerence'.

Enjoy~

-----

“Kau bertindak gegabah.”

Jung Taekwoon terkekeh ketika melihat pacarnya sendiri mengomel di sisi kasurnya. Harus ia akui, ia memang bertindak berlebihan tadi. Tapi siapa yang tidak tahan ketika harus melihat gadisnya sendiri diserang oleh banyak orang sekaligus? Mishil semakin gigih dalam mencari mutan baru, dan hal itu menyusahkan Haneul dan Taekwoon yang bertugas menjemput mutan baru. Wonsik sudah bergerak sendiri sekarang, namun kepala sekolah bersikeras menyuruh Haneul setidaknya didampingi oleh Taekwoon; bukan hal yang akan diprotes oleh keduanya.

Tangan gadis itu terasa hangat dan nyaman di tangannya sendiri. Jemari mereka saling terkait, sementara Taekwoon sendiri berbaring di kasurnya. Setelah nyaris dua tahun ia tidak mendapatkan serangan lagi, kali ini suhu tubuh Taekwoon kembali turun. Emosinya memang jauh lebih stabil sekarang, dan kekuatannya juga terkendali. Namun karena ia baru saja menggunakannya dengan sedikit berlebihan, efek samping penyakitnya kembali muncul.

“Jangan buat dirimu sakit juga.”

Haneul mendelik ke arahnya. “Aku hanya akan kelelahan, sementara kau demam. Kurasa sudah jelas yang mana yang harus dipilih bukan?”

“Tapi aku baik-baik saja, setidaknya tidak separah dulu,” Balas Taekwoon. Memang badannya terasa lebih dingin, tapi hal tersebut tidak sampai membuatnya tidak sadarkan diri. Kehadiran Haneul disisinya juga membuat perasaannya lebih baik. Mereka baru saja melewati batas tiga bulan sejak resmi berpacaran, namun kadang Taekwoon masih tidak percaya bahwa gadis itu adalah miliknya sekarang.

Tangannya yang tidak sedang digenggam oleh Haneul meraih helaian rambut gadis itu. Hari sudah malam dan penghuni Kyubok sudah kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat. Tapi Haneul di sini, di kamarnya, menemani Taekwoon. Perlahan tangannya berpindah tempat ke sisi wajah sang gadis, lalu menariknya mendekat dengan lembut. 

Bibir mereka bertemu dalam ciuman manis. Walaupun Taekwoon sudah sering mencium Haneul, tetap saja rasanya tidak cukup. Ia ingin memeluk gadis itu, mendekapnya dengan erat setiap saat. Taekwoon mengangkat badannya sedikit, menopangnya dengan sikunya, hanya untuk memperdalam ciuman mereka. 

Pada akhirnya mereka harus memutus ciuman mereka karena kehabisan oksigen. Rona merah dapat terlihat di pipi Haneul walau ruangan itu cukup gelap saat ini. Selama beberapa saat mereka hanya berdiam di posisi itu, cukup dekat untuk memperhatikan wajah masing-masing dengan jelas, seakan-akan keduanya tidak mau saling menarik diri dari satu dengan yang lain.

“Boleh aku ikut berbaring?”

Pertanyaan Haneul jelas membuat pacarnya terkejut, tapi Taekwoon jelas tidak akan menolak permintaan gadis itu. Ia menggeser tubuhnya, memberikan tempat untuk Haneul berbaring disebelahnya. Salah satu lengan Taekwoon diletakan untuk menjadi bantalan kepala Haneul, sementara tangannya yang lain mendekap gadis itu dengan erat. Hangat, tapi di sisi lain Taekwoon juga khawatir suhu tubuhnya malah akan mempengaruhi Haneul. 

“Kau tidak apa-apa?” Tanya Taekwoon, “Kau tidak kedingingan kan?” Lanjutnya ketika Haneul hanya memberikan tatapan heran padanya.

“Aku baik-baik saja,” Jawab Haneul. Senyuman yang mengembang di wajah sang gadis membuat Taekwoon kembali mendekatkan wajahnya, melumat bibir Haneul sekali lagi. Begitu dekat seperti ini membuat pemuda itu nyaris kehilangan kendali. Dengan tenaga yang seakan-akan kembali begitu saja, Taekwoon perlahan merubah posisinya hingga berada tepat di atas Haneul tanpa melepas ciuman mereka. Walaupun akhirnya ia melepaskan bibir Haneul karena kembali kekurangan oksigen, Taekwoon memindahkan bibirnya ke leher Haneul, menelusuri leher jenjang milik gadis itu. Ia bisa merasakan kedua tangan gadis itu berada di pundaknya saat ini. Tidak mendorongnya, hanya menyentuhnya dengan lembut. 

Haneul mencengkram pundak Taekwoon sedikit lebih keras ketika pemuda itu meninggalkan ciuman-ciuman tak berbekas di lehernya. Nafasnya mulai bertambah berat, terutama ketika merasakan jemari Taekwoon menyusup ke dalam bajunya. Setiap sentuhannya terasa dingin di kulit, namun memberikan sensasi yang panas bagi Haneul. Badannya menggeliat, merespon tindakan Taekwoon.

Satu persatu kancing baju Haneul terlepas, dan ciuman kembali turun ke bawah. Taekwoon menelusuri lekuk tubuh gadisnya, menghujaninya dengan ciuman mesra. Jarinya terkait pada celana Haneul, menariknya turun. Gadis itu hanya mengenakan pakaian dalamnya saat ini, dan hal itu membuat rona merah muncul baik di pipi Haneul maupun pipi Taekwoon.

Sudut mata Taekwoon melihat bahwa gadis itu menggigil sedikit, dan kenyataan kembali menariknya. Ia adalah sang manusia es. Sentuhan langsung dengan kulitnya dapat memberikan sensasi dingin, walau memang sudah bisa mengendalikannya sedikit. Namun tetap saja, terlalu banyak kulit yang terekspos hanya akan memperbesar kesempatan. Dan Taekwoon sama sekali tidak mau menyakiti Haneul.

Maka pemuda itu menghentikan segala kegiatannya dan menegakkan tubuh, menarik dirinya dari Haneul. Ia tidak boleh menyentuhnya seperti ini hingga ia benar-benar dapat memblokir kekuatannya keluar dari kulitnya. Entah berapa lama waktu yang ia perlukan untuk melakukan hal itu.

“Taekwoon?”

Bingung dengan kelakuan pacarnya, Haneul ikut terduduk dan menatap Taekwoon dengan bingung. Pemuda itu tidak melakukan apapun selama beberapa saat. Mata hitamnya terpaku pada tangannya sendiri dan tidak menatap ke arah Haneul.

“Aku tidak bisa..” Gumam Taekwoon seraya perlahan menatap langsung ke arah Haneul. “Jika aku menyentuhmu, aku hanya akan membuatmu kedinginan. Aku hanya akan menyakitimu.”

Kesedihan sekaligus kekecewaan tersirat di suara pemuda itu, dan Haneul mengerti kenapa. Walaupun Taekwoon sudah dapat mengendalikan kekuatannya lebih baik dari sebelumnya, pemuda itu masih ketakutan dengan kekuatannya sendiri. Haneul dapat merasakannya setiap kali mereka berpegangan tangan, atau saling bersentuhan. Taekwoon masih cemas akan kemungkinan dapat melukai Haneul.

Kedua tangan Haneul meraih sisi wajah Taekwoon, dan ia mendekatkan wajahnya sendiri dengan wajah sang pemuda, hingga kening mereka saling bersentuhan. “Jangan khawatir, Taekwoon,” Ujar Haneul dengan lembut. “Aku percaya kau tidak akan menyakitiku, dan lagipula kau lupa dengan kekuatanku?”

“Tapi..” Taekwoon hendak membantah, tapi ia tidak dapat menemukan kata-kata yang tepat sehingga ia hanya menggeleng pelan.

Alih-alih membalas dengan kata-kata, Haneul malah mengecup bibir Taekwoon dengan lembut. Awalnya hanya beberapa kecupan singkat, namun perlahan berubah menjadi ciuman manis lainnya. Badan Haneul condong ke arah Taekwoon, kedua tangannya berpindah kembali ke pundak pemuda itu.

Ciuman yang akhirnya terputus itu membuat senyuman mengembang di wajah Haneul. Gadis itu mulai membuka kaos yang dikenakan Taekwoon, atau tepatnya, menarik-nariknya hingga Taekwoon tidak mempunyai pilihan lain selain menuruti keinginan gadis itu. Tangan Haneul perlahan melingkar di leher Taekwoon, sementara pemuda itu meletakan tangannya di pinggulnya, masih dengan sedikit keraguan terciri di sana.

“Aku akan baik-baik saja, Taekwoon,” Bisik Haneul. Gadis itu mendaratkan beberapa kecupan di leher dan pundak Taekwoon. “Jika kau ingin melakukannya, aku tidak masalah.”

“Haneul..”

Taekwoon mendorong tubuh Haneul dengan lembut, membaringkannya kembali di kasur sementara tubuhnya merangkak di atasnya. Bibir mereka kembali bertemu dalam ciuman, dan Taekwoon kali ini memasukan lidahnya ke dalam rongga mulut Haneul. Tangannya mulai menjamah setiap inci kulit gadisnya, menyentuhnya dengan perlahan dan penuk afeksi. Badan Haneul menggeliat di bawahnya, dan desahan manis terlepas dari bibirnya.

Suara itu bagaikan lagu di telinga Taekwoon dan senyumannya mengembang karenanya. Haneul kembali meletakan tangannya di pundaknya, mencengkramnya dengan erat sementara ciuman Taekwoon perlahan turun ke leher, tulang selangka dan akhirnya dada gadis itu. Jemarinya melepas kaitan bra Haneul, yang langsung terbuang ke samping di detik berikutnya. Taekwoon menyempatkan dirinya melirik ke arah Haneul sesaat, menatap wajah merona sang gadis, sebelum meraup puncak dada Haneul dengan mulutnya.

Gadis itu sendiri semakin menggeliat di bawah sentuhan Taekwoon. Lupakan sensasi dingin dari kulit Taekwoon, yang Haneul rasakan saat ini hanyalah suhu badannya yang perlahan naik karena perbuatan pemuda itu. Taekwoon merangsang kedua puncak dadanya, satu dengan tangannya dan yang lain dengan mulutnya sehingga Haneul hanya bisa mengeluarkan desahan pelan berulang kali karenanya. Ia bisa merasakan daerah kewanitaannya sudah mulai basah, merespon tindakan Taekwoon dengan baik.

Tangan Taekwoon perlahan turun, menyentuh daerah Haneul di balik celana dalamnya dengan perlahan. Bibir pemuda itu sendiri kembali menghujani Haneul dengan ciuman, baik di bibir maupun di leher gadis itu. Sekali lagi jarinya terkait, kini pada celana dalam Haneul, dan menariknya turun. Tidak ada satu benang pun yang menutupi tubuh Haneul, dan Taekwoon tidak akan pernah bisa berhenti menganggumi gadis itu. Dan pemandangan itu juga membuat celananya semakin sempit.

“Haneul..” Panggil Taekwoon sekali lagi. Ia bisa memanggil nama gadis itu berulang kali dan tidak akan pernah bosan. Jari tengahnya perlahan masuk ke dalam liang Haneul. Sempit, tentu saja, dan Taekwoon harus jujur bahwa ia sangat gugup saat ini. Ini pertama kalinya bagi mereka berdua, walau sebagai lelaki normal, Taekwoon pernah menonton adegan seperti ini sebelumnya. Ia sendiri masih belum bisa mempercayai bahwa saat ini ia melakukannya bersama Haneul. Rasanya hampir seperti mimpi.

Lenguhan terdengar dari Haneul. Dirinya sudah cukup basah sehingga jari Taekwoon tidak menyakitinya, tapi sensasi baru itu membuatnya mengerutkan kening. Pandangan matanya bertemu dengan Taekwoon, dan Haneul bisa melihat bahwa pemuda itu masih ragu. Ragu akan apakah tindakan ini menyakiti Haneul atau tidak. Tangan Haneul berpindah, dari pundak Taekwoon ke leher pemuda itu, melingkarkan lengannya disana. Haneul menarik Taekwoon mendekat, menariknya dalam ciuman, tanda bahwa pemuda itu bisa melanjutkan kegiatan mereka.

Perlahan, jari Taekwoon bergerak keluar dan masuk. Taekwoon menjaga temponya tetap pelan, tapi desahan Haneul yang kemudian terdengar membuatnya mempercepat tempo gerakannya. Jari telunjuknya menyusul masuk, membuat gerakan menggunting dan melingkar, mempersiapkan Haneul untuk hal berikutnya.

Dengan satu erangan yang cukup keras, Haneul mencapai puncaknya. Cairannya melumuri jari Taekwoon, sementara dadanya naik turun karena nafasnya yang terengah-engah. Taekwoon menarik diri dari Haneul, lalu memposisikan kepalanya di antara kaki Haneul, tepat di depan daerah kewanitaan gadis itu. Satu kecupan mendarat di sana, disusul dengan jilatan-jilatan yang membuat sang hawa kembali mendesah. Tangan Haneul kini berada di sela-sela rambut Taekwoon, setengah mendorong kepala pemuda itu untuk semakin ‘memakan’nya, dan hal itulah yang membuat Taekwoon tahu ia melakukan hal yang benar.

Sang pemuda menarik diri lagi dari Haneul, menegakkan tubuhnya dan menatap pasangannya yang terengah-engah di depannya. Jelas dari ekspresi sang gadis bahwa Taekwoon menghentikan kegiatannya sebelum Haneul dapat mencapai puncaknya lagi. Ia tidak bermaksud membuat gadisnya merasa tidak nyaman karena ia berhenti setengah jalan seperti itu, tapi sayangnya Taekwoon juga sudah tidak bisa menahan diri lebih lama lagi.

Dengan kilat, baik celana maupun celana dalam Taekwoon terlepas, membebaskan miliknya yang sudah tegang sejak tadi. Ia kembali merangkak di atas Haneul, pandangan mata mereka beradu, dan keduanya langsung mengetahui keraguan masing-masing. Bagaimanapun juga, tidak ada yang mempunyai pengalaman dalam hal ini.

Taekwoon memposisikan ereksinya di depan liang Haneul, walau matanya tidak pernah sekalipun berpaling dari wajah sang gadis. Bibirnya melumat bibir Haneul dengan sensual, seiringan dengan miliknya perlahan memasuki Haneul.

Sakit, Taekwoon tahu gadisnya pasti kesakitan. Haneul mencakar punggungnya, dan erangannya teredam ciuman dari Taekwoon. Ia sudah berusaha melakukannya selembut mungkin, sesekali berhenti untuk membiarkan Haneul terbiasa dengan miliknya sebelum akhirnya masuk seluruhnya. Bahkan setelah itu pun Taekwoon masih menunggu, hingga Haneul mengangguk sebagai tanda bahwa gadis itu sudah bisa menerimanya. 

Kedua tangan mereka saling berpegangan, dengan jari-jari yang terkait satu sama lain. Taekwoon menahan tangan Haneul di kasur, sementara pinggulnya mulai bergerak. Erangan kesakitan dari Haneul perlahan berubah menjadi desahan, panggilan nama Taekwoon, dan hal itulah yang membuat Taekwoon semakin menggila. Pemuda itu mengerang, melenguh, seraya pinggulnya bergerak dengan lebih cepat dan tajam, menyentuh bagian dalam Haneul.

Nyaris tidak ada jarak yang tersisa di antara mereka. Kaki Haneul terkait di pinggul belakang Taekwoon, dan Taekwoon sendiri meletakan kepalanya di pundak Haneul, menghujani leher dan pundak gadis itu dengan ciuman. Nafasnya memberat, sensasi dinding milik Haneul yang rapat membungkus ereksinya memberikan kenikmatan yang tidak bisa ia jelaskan dengan kata-kata. 

Ruangan Taekwoon kini hanya dipenuhi dengan suara mereka berdua. Taekwoon hanya berharap tidak ada yang bangun saat ini, karena ia sama sekali tidak berniat menghentikan suara desahan Haneul yang sudah menjadi candu baginya.

“Taekwoon..”

“Aku tahu..”

Ia tahu Haneul sudah berada di ambang batasnya karena ia bisa merasakan ereksinya semakin terjepit di dalam sana. Taekwoon mendesah dengan suara berat, membiarkan benihnya mengisi liang Haneul seiringan dengan gadis itu mencapai puncaknya. Sensasi hangat membuat mereka kembali mendesah bersamaan, sebelum Taekwoon kembali melumat bibir Haneul.

Keduanya hanya bertukar ciuman, lalu berpandangan selama beberapa saat sebelum Taekwoon menarik miliknya keluar dari dalam Haneul dan berbaring di sisi gadis itu. Ia lalu menyelimuti mereka berdua dan menarik Haneul dalam pelukan.

“Jika kau merawatku seperti ini setiap kali aku sakit,” Kata Taekwoon dengan perlahan, “Aku berharap aku bisa sakit setiap hari.”

Kata-kata Taekwoon hanya membuahkan pukulan ringan dari Haneul, sementara wajah gadis itu kembali merona merah. Taekwoon terkekeh pelan dan mendekap Haneul dengan erat. Tanpa sadar, keduanya jatuh tertidur seperti itu, dalam pelukan satu dengan yang lain. 

Dan jujur, Taekwoon tidak pernah tidur selelap itu sebelumnya.

Entah sudah berapa lama Taekwoon tertidur hingga akhirnya sebuah kecupan di bibirnya membangunkannya. Pemuda itu mengerjap-ngerjapkan matanya selama beberapa saat, berusaha membiasakan matanya dengan sinar matahari yang menembus masuk dari jendela. Dan yang pertama yang ia lihat setelah matanya terbiasa adalah sosok Haneul yang duduk di tepi kasurnya, sudah berpakaian lengkap kembali—membuat Taekwoon sedikit kecewa—tersenyum padanya.

“Selamat pagi,” Sapa Haneul seraya mencium pacarnya sekali lagi, “Aku harus kembali ke kamarku sebelum ada yang melihat. Sampai nanti saat sarapan.”

Taekwoon mengangguk dan mereka berdua kembali berciuman, lebih lama dari kecupan singkat tapi walau akhirnya Haneul lah yang memutuskan ciuman mereka. Gadis itu tersenyum sekali lagi sebelum berjalan keluar ruangan. Sementara Taekwoon membutuhkan beberapa saat untuk mengumpulkan ‘nyawa’nya. Barulah setelah itu ia bangkit berdiri dan bersiap-siap.

Namun ketika ia membuka pintu kamarnya, sosok pemuda lainnya berada tepat di depannya, menatapnya dengan kening berkerut.

“Wonsik?”

Kim Wonsik menatap Taekwoon dengan tatapan aneh, kesal sekaligus geli. “Taekwoon, kuharap kau sudah siap menerima konsekuensinya.”

“Dalam?” Tanya Taekwoon, jelas bingung karena Wonsik sudah bangun sepagi ini. Pemuda yang juga merupakan sahabat dari Haneul itu biasanya terkenal dengan orang yang bangun paling siang di Kyubok.

“Pertanggung jawaban karena aku tidak bisa tidur, karena kau melakukan hal itu pada Haneul.”

Selama sesaat Taekwoon sama sekali tidak mengerti apa yang Wonsik maksudkan. Ia menatap pemuda itu selama beberapa saat dengan kening berkerut, hingga akhirnya ia menyadarinya. Wonsik memiliki kekuatan khusus yang memampukan pemuda itu mendengar dengan baik, walau jarak ruangan mereka terpaut 3 kamar. Muka Taekwoon menjadi sedikit pucat. Itu artinya Wonsik mendengar apa yang ia dan Haneul lakukan semalam, dan mengingat sifat pemuda itu yang cukup protektif terhadap sahabatnya sendiri, Taekwoon tidak tahu apa yang akan Wonsik lakukan.

Wonsik mendengus kesal. “Tampaknya kau bersenang-senang kemarin malam.”

“Wonsik..” Ini dia. Taekwoon sudah bersiap-siap jika Wonsik akan marah dan mulai ‘menguliahinya’.

“Kau berhutang makanan padaku, jika tidak cerita ini akan lolos ke kepala sekolah.”

Sekali lagi Taekwoon butuh waktu untuk menyerap informasi yang ada. Pemuda yang lebih tua itu akhirnya malah terkekeh, sekaligus bernafas lega. 


“Baiklah. Tapi jangan menguping lain kali, Wonsik. Carilah pacar untuk dirimu sendiri.”

Jumat, 04 Desember 2015

MOVED

I moved to Wattpad under username xMoonlight23

I will mainly post my stories there, but some will be here I guess. Like short drabble or something hahaha

Thank you!

- Liz -


Jumat, 24 Juli 2015

Hogwarts' Beloved : Chapter 30 [END]



Chapter 30 : Happily Ever After.
                                                (Setting : Years after HP 7)



“Aku masih kaget akhirnya ia berani melakukannya.”

Gadis berambut cokelat cokelat itu memutar badannya dan menatap temannya, sahabatnya sejak 11 tahun yang lalu.

“Maksudmu?”

Gadis yang di tatap, seorang gadis berambut merah tersenyum dan mendekati sahabatnya, membetulkan letak hiasan rambut gadis itu.

“Ia akhirnya melamarmu.”

Gadis berambut cokelat itu tertawa pelan. “Itu enam bulan yang lalu.”

“Tetap saja aku tidak percaya.”

Elizabeth Potter menatap sahabatnya, yang saat ini memakai gaun putih panjang yang indah, make-up, hiasan di rambut dan heels perak di kakinya. Penampilan yang sangat berbeda dari hari-hari biasanya. “Dan hari ini bahkan kau akan menikah.”

Sahabatnya itu tertawa lagi.

Ya, hari itu Nicole Ravensdale akan menikah dengan Oliver Wood.

***

Tidak ada yang menyangka bahwa Oliver melamar pacarnya, enam bulan yang lalu, satu setengah tahun setelah perang Hogwarts berakhir. Walau mereka di sibukan dengan kegiatan masing-masing, akhirnya pernikahan dapat di langsungkan, yaitu hari ini.

Semua sudah di rencanakan dengan baik. Undangan sudah di sebar, tenda-tenda sudah di pasang. Dan sekarang adalah saatnya.

“Siap?”

Nicole menoleh menatap sahabatnya sekaligus bridesmaidnya hari ini, Elly. George lah yang akan mengantarkannya ke podium, dimana Oliver sudah menunggu bersama sepupunya sebagai best mennya.

“Siap…” Jawab Nicole. “..kurasa.”

Elly tertawa mendengar jawaban Nicole. Gadis itu menarik tangan sahabatnya dan menggenggamnya dengan erat. “Kau akan baik-baik saja. Ayo, upcaranya sudah akan di mulai.” Masih menggenggam tangan Nicole, Elly membawa gadis itu ke depan tenda acara, dimana para tamu dan Oliver sudah menunggu disana. George harusnya menunggunya di depan tenda, namun pemuda itu tidak ada dimana-mana.

“Tunggu saja disini.” Kata Elly. Dia mengedip jahil pada Nicole sebelum masuk ke dalam tenda, meninggalkan Nicole sendirian kebingungan.

“Maaf lama.”

Suara George terdengar di belakangnya, Nicole menoleh dan sudah hendak memarahi pemuda itu karena telat namun kata-kata tercekat di tenggorokannya. George tersenyum padanya. Pemuda itu mengenakan jas yang sesuai, namun yang membuat Nicole terkejut adalah pigura foto yang ia bawa.

Pigura foto kakeknya.

“Kurasa tetap harus kakekmu yang menyerahkanmu pada Oliver di hari pernikahanmu, Nic.” Kata George.

Kakeknya hanya tersenyum di piguranya. “Kau terlihat cantik, Nicole.”

George menatap Nicole, “Oh tidak, jangan menangis nona.” Kata pemuda itu. “Ayo, pasang senyummu dan kita akan masuk.”

“Kau merencanakan ini?”

“Kita semua sebenarnya.” Jawab George. “Semua orang tahu kecuali dirimu.”

Nicole menyambut uluran tangan George, sementara pemuda itu membawa pigura Dumbledore di tangan lainnya. Iringan tepuk tangan menyertai mereka berdua saat mereka masuk kedalam tenda. Benar kata George, tidak ada yang terkejut saat melihat pigura foto Dumbledore. McGonagall malah jelas-jelas meneteskan air matanya di salah satu kursi terdepan.

Oliver sendiri tersenyum di depan podium, terlihat lebih menawan daripada biasanya. George menyerahkan tangan Nicole pada Oliver.

“Ingat kawan, kau menyakiti sahabat kami, seluruh Hogwarts akan melawanmu.” Kata George dengan riang. Oliver tertawa.

“Tenang saja. Aku berjanji aku akan membahagiakannya.”

Nicole merasakan mukanya memerah. George tersenyum puas dan berjalan ke tempatnya, bersama dengan pigura Dumbledore yang ia bawa dengan hati-hati.

Gadis itu mengaitkan tangannya ke lengan Oliver, mata hijaunya bertemu dengan mata cokelat pemuda yang akan menjadi suaminya itu, sebelum akhirnya menatap kedepan dengan yakin.

“Tuan dan Nyonya.” Kata pemimpin acara pernikahan itu. “Kita berkumpul disini untuk merayakan penyatuan dua jiwa..”

Nicole bisa mendengar McGonagall dan Hagrid membuang ingus di saat yang bersamaan, dan gadis itu berusaha keras untuk tidak tertawa. Walaupun tidak terlihat, Nicole tahu bahwa sama seperti kakeknya, semua orang yang ia kasihi, yang tumbang di pertarungan satu setengah tahun yang lalu, ada disana.

“…dan apakah kau, Nicole Ravensdale, menerima Oliver Wood sebagai suamimu, dari saat ini hingga seterusnya , dalam keadaan baik maupun buruk , dalam kaya maupun miskin , dalam sehat maupun sakit , mendampinginya hingga maut memisahkan kalian?"

Nicole menoleh dan menatap Oliver kembali dan tersenyum.

“Ya.”

***

14 tahun kemudian, stasiun Kings Cross.

“Kau masih belum cukup umur sayang.”

“Tapi Gisselle mau ikut dengan kakak!”

Wanita berambut cokelat itu berjongkok dan menatap putrinya, yang mewarisi kedua mata ayahnya, cokelat. “Tahun depan, mama janji. Tahun depan.”

Nicole Ravensdale menatap anak bungsunya yang baru berusia 10 tahun. Gisselle II Wood, dengan nama sebagai kenangan terhadap sahabat dekatnya itu. Sementara Oliver berbicara pelan dengan anak pertama mereka, Bertrand Wood.

Suara kereta api yang menandakan sebentar lagi akan berangkat membuat Nicole dengan cepat menarik putranya ke pelukan dan memberikan ciuman di dahi Bert.

“Jangan nakal dan jangan terlalu sering bermain Quidditch sehingga melupakan pelajaranmu.”

Bert tersenyum. Kedua saran orang tuanya selalu berbeda jika soal sekolah, dan jelas ia akan mengikuti saran sang ayah. Namun ia mengangguk pada ibunya.

“Tentu saja, jangan khawatir Ma.”

Oliver mengacak rambut putranya, “Sudah cepat naik sana. Kami akan melihatmu liburan natal nanti.”

Bert tersenyum, setelah memberikan pelukan pada Gisselle, pemuda itu berlari dan naik ke atas kereta, melambaikan tangannya pada keluarganya hingga akhirnya kereta itu hilang dari pandangan.

“Kita pulang?” Kata Oliver sambil merangkul istrinya. Nicole tersenyum, tangannya yang satu menggandeng Gisselle.

“Ayo, kita pulang.”


***END***


A/N : Chapter terpendek dan yang terakhir wkwkwk
Mohon maaf bila ada kesalahan
Dan terima kasih sudah membaca hingga akhir~

With Love, Liz.


Made by : Liz
Take out with full credits please~ ^^

Hogwarts' Beloved : Chapter 29



Chapter 29 : Finally End
                                                (Setting : HP 7)



Fred Weasley memberikan cengiran isengnya pada gadis yang berdiri di sebelahnya ini, sementara yang bersangkutan hanya melipat kedua lengannya dan membalas cengiran itu dengan tatapan tajam. Ia tahu ia keterlaluan, dengan mengerjai gadis itu; menyeret Nicole menjauh dari yang lain; di tengah-tengah perang seperti ini, namun ia harus melakukan hal ini. Tidak ada yang tahu hasil akhir nanti bukan?

“Fred Weasley,” Kata Nicole dengan tajam, membuat cengiran Fred semakin melebar. “Sebaiknya kau mempunyai alasan yang jelas mengapa kau melakukan hal ini..”

“Tenang saja Nona Ravensdale. Aku punya alasan yang sangat jelas.”

Alis Nicole terangkat, kata-kata yang di lontarkan Fred memang seperti dugaannya, namun nada suara pemuda itulah yang membuatnya bingung. Nada bicara pemuda itu tetap riang seperti biasanya, ia juga menyelipkan ejekan untuk Nicole, namun kali ini ia bisa merasakan keseriusan di dalamnya.

“Kalau begitu katakan.” Ucap Nicole. Dan mendadak, seorang Fred Weasley tampak salah tingkah di depannya. Fred tertawa gugup dan mukanya memerah sedikit.

“Oke ini sebenarnya memalukan.” Kata pemuda itu, “Tapi ada yang ikut kuberi tahukan kepadamu.”

“Dan hal itu?”

Fred tersenyum, “Jangan membunuhku okay?” Ia lalu mendekatkan dirinya ke Nicole dengan cepat dan mengecup kening gadis itu. “Aku punya perasaan padamu, dan kurasa itu belum menghilang sepenuhnya.”

Nicole tidak bisa merespon dengan kata-kata maupun tindakan. Fred, sahabatnya, korban jitakannya sejak tahun pertama mereka di Hogwarts, mempunyai perasaan untuknya?

“Kau bercanda.”

“Tidak Nicole Ravensdale. Aku memang menyukaimu.”

Mata hijau Nicole bertemu dengan mata cokelat milik Fred dan ia langsung mengetahui bahwa lawan bicaranya tidak bercanda sama sekali. Namun sebelum Nicole dapat mengatakan apapun lagi, Fred sudah melanjutkan kembali.

“Itu dulu. Aku sadar kau tidak akan membalas perasaanku, Nic.” Fred tertawa pelan. “Aku sudah tidak akan mengejarmu, namun aku rasa kau harus tahu saja. Kalau aku menyukaimu.”

Suara ledakan dan teriakan mendadak terdengar, membuat kedua kepala menoleh ke arah sumber suara itu. Otomatis keduanya menyiagakan tongkat mereka masing-masing.

“Jangan terbunuh.” Kata Fred sambil mengedip jahil pada Nicole sebelum berlari ke arah sumber suara, meninggalkan Nicole. Walau gadis itu menyusul tidak lama kemudian dengan gerutuan tidak jelas dan muka yang memerah karena pengakuan mendadak itu.

Keadaan jauh lebih parah daripada bayangan Nicole. Gadis itu terpisah dari Fred, yang tampaknya berlari menyusul George. Nicole sendiri langsung di hadang oleh sosok bertudung dan bertopeng; Pelahap Maut.

Korban-korban mulai berjatuhan di sekitarnya. Ia sendiri telah mengalahkan beberapa Pelahap Maut, namun pemandangan pejuang Hogwarts yang berjatuhan menyiksa dirinya. Nicole tahu jalan tercepat menyelesaikan ini semua adalah dengan terus bertarung.

Tanpa sadar Nicole mendapati dirinya semakin menaikki tangga, lama kelamaan semakin tinggi dan akhirnya ia sampai di lantai tujuh, dimana ia melihat Harry, Ron dan Hermione, baru saja keluar dari ruangan yang Nicole tebak sebagai Kamar Kebutuhan. Mereka tidak menyadari Nicole hingga mendadak suara ledakan muncul dari belakang gadis itu.

Fred dan Percy, yang telah kembali kepada keluarganya, sedang bertarung melawan para Pelahap Maut. Nicole dengan cepat berlari mendekat, membantu dua orang pemuda itu. Dari suara langkah kaki yang ia dengar di belakangnya, ia menebak Harry, Ron dan Hermione menyusul jejaknya.

Kilatan cahaya meluncur dimana-mana, dan orang yang bertarung dengan Percy mundur, cepat: kemudian tudungnya terbuka dan mereka melihat dahi lebar dan rambut kaku.

"Halo, Pak Menteri!" Teriak Percy, menembakkan mantra sederhana langsung kepada Thicknesse, yang langsung menjatuhkan tongkat dan merobek bagian depan jubahnya, tampak sangat tidak senang. "Apa sudah kubilang aku mengundurkan diri?"

"Kau bercanda, Perce!" teriak Fred ketika Pelahap Maut yang dilawannya pingsan karena kekuatan tiga mantra pemingsan sekaligus. Thicknesse jatuh ke lantai dengan paku-paku kecil muncul di sekujur tubuhnya; dia tampak berubah menjadi sesuatu yang mirip landak laut. Fred memandang Percy dengan perasaan senang.

"Kau benar-benar bercanda, Perce....kurasa sudah lama kami tidak mendengarmu bercanda sejak--"

Langit meledak. Ledakan itu benar-benar mendadak sehingga tidak ada yang siap melindungi diri, termasuk Nicole. Dunia serasa berputar di sekitarnya, kupingnya berdenging sehingga ia tidak bisa mendengar dengan baik. Ketika ia berhasil memfokuskan dirinya sendiri, gadis itu menyadari bahwa ia sudah terlempar dari tempatnya berdiri tadi. Seorang pelahat maut menarget Percy yang sedang membelakangi Pelahap Maut itu dengan kepala tertunduk.

“Stupefy!” Teriak Nicole, diikuti dengan lontaran sinar berwarna merah dan Pelahap Maut itu terlempar ke belakang, sebelum jatuh pingsan. Kemampuan pendengarannya sudah kembali pulih, namun yang pertama ia dengar adalah sebuah tangisan yang menyayat hati.

“Tidak, tidak!!” Percy berteriak, histeris sebenarnya. “Tidak! Fred!!”

Mendengar nama Fred di teriakan, Nicole membeku di tempat. Terutama karena Ron juga berada disana, dengan muka shock sementara Percy menggoyang-goyangkan sebuah tubuh, tubuh Fred.

Tidak.

Nicole langsung berlari mendekat. Sejenak ia melupakan bahwa mereka berada di tengah perang. Tidak, tidak, ia tidak bisa kehilangan Fred juga. Setelah semua kehilangan yang ia hadapi, ia tidak boleh kehilangan sahabat lagi.

Namun permohonannya pupus, sia-sia saja. Fred Weasley berbaring disana, dengan senyuman terakhirnya masih mengembang di wajahnya. Fred, Fred yang selalu ada untuknya, sahabatnya sejak tahun pertama di Hogwarts, sekarang berbaring di lantai, dan tidak akan pernah terbangun lagi.

Betapa Nicole mengharapkan Fred tibat-tiba bangun dan memberikan cengiran menyebalkannya yang biasa dan berkata, ‘Kalian terkejut? Sudah kuduga kalian tidak bisa di tinggalkan Fred Weasley yang ganteng ini.’

Tapi Nicole tahu hal tersebut tidak akan terjadi. Tidak akan ada lagi Fred yang mengejeknya, yang membelanya, yang tertawa bersamanya. Tidak akan ada lagi. Semuanya hanyalah kenangan manis sekarang.

Nicole ingin menjerit, ia ingin histeris dan jatuh menangis. Namun kematian Fred bukanlah untuk hal itu. Suara-suara teriakan dari kejauhan dan bunyi berisik membawanya kembali pada kenyataan, bahwa Nicole sekarang sedang berada dalam perang, dan mereka harus memenangi perang satu ini.

“Pergilah dari sini! Cepat!” Teriak Nicole, menggerakan Harry dan Hermione untuk membujuk Ron dan Percy memindahkan tubuh Fred sementara Nicole menghalang sekumpulan laba-laba raksasa yang merayap masuk. Makhluk-makhluk itu sudah cukup mengalihkan perhatian Nicole dari rombongan yang membawa tubuh Fred sehingga ketika akhirnya ia menoleh, mereka sudah tidak kelihatan sama sekali.

Gadis itu memeriksa lubang yang di langit-langit koridor itu, menyadari bahwa para dementor sudah melayang-layang di atas sana, siap untuk menyerang masuk. Beberapa malah sudah cukup dekat hingga gadis itu merasakan dirinya menggigil. Rasanya seperti semua kebahagiaan mendadak hilang. Efek yang selalu di hasilkan oleh para dementor bila mereka terlalu dekat.

Patronus. Ya, satu-satunya cara mengalahkan dementor adalah dengan mantra itu. Nicole mengangkat tongkatnya, namun syarat untuk melakukan mantra itu tidak bisa ia penuhi. Bayangan kematian Fred menghantuinya, ia sama sekali tidak bisa membayangkan sesuatu yang menyenangkan.

Bayangan gelap itu mendekat. Para dementor merasakan ketakutan Nicole, keputus asaan gadis itu. Dan semakin mereka mendekat, pikiran gadis itu semakin bertambah buruk. Ia bahkan tidak bisa membayangkan mereka memenangkan peperangan itu, dan mengenai berapa banyak ia kehilangan orang-orang yang ia cintai.

‘Oh? Apa yang terjadi pada Nona Prefect dan Ketua Murid kita?’

Nicole mengerjapkan matanya. Ia pasti sedang membayangkan yang aneh-aneh karena kelelahan. Namun ia merasa mendengar suara Fred tadi.

‘Entahlah, mungkin dia kurang tidur?’

Dan sekarang ia membayangkan suara Sirius. Walau ia nyaris melupakan bagaimana suara pria tersebut.

‘Ayolah Nicole. Kau bisa melakukan lebih dari itu.’

Nicole benar-benar bingung sekarang. Suara itu adalah milik Cedric, Cedric Diggory, sahabatnya yang telah tiada tiga tahun yang lalu.

‘Kami percaya padamu.’

Nicole bisa merasakan air mata menggenang di pelupuk matanya. Tadi adalah suara Gisselle. Namun suara yang berikutnya membuat air matanya mengalir, walau tubuhnya di penuh kehangatan.

‘Ingatlah. Kau tidak pernah sendirian.’

Itu adalah suara kakeknya. Nicole menggenggam erat tongkatnya, merasakan kekuatan kembali memasuki tubuhnya, dan kehangatan hingga ujung jarinya. Ia tidak sendirian, dan tidak pernah sejak awal. Perang ini akan mereka menangkan..

..dan semuanya akan baik-baik saja.

“Expecto Patronum.”

Seekor singa jantan yang gagah berwarna perak keluar dari ujung tongkatnya, mengaum galak ke arah para dementor. Para dementor itu langsung memencar ketakutan. Singa milik Nicole mengejar mereka hingga keluar dari Hogwarts, sebelum perlahan menghilang.

Gadis itu masih menengadah, menatap singa peraknya yang lama-lama menghilang. Kehangatan masih menyelimuti dirinya. Ia tahu, walau ia tidak bisa menjelaskan bagaimana, mereka tadi benar-benar bersamanya disana, membantunya melawan para dementor.

“Jangan khawatir.” Katanya entah pada siapa. “Kami akan memenangkan hal ini.”

***

Suara Voldemort kembali terdengar di dinding-dinding dan seluruh penjuru sekolah. Menghentikan pertempuran yang masih berlangsung.

"Kalian telah bertempur," Kata Voldemort. "dengan gagah berani. Lord Voldemort paham caranya menghargai keberanian. Tapi kalian menderita kekalahan yang besar. Kalau kalian bertahan, tetap menolakku, kalian akan mati semuanya, satu persatu. Aku tak menginginkan ini terjadi. Setiap tetes darah sihir yang tertumpah adalah suatu kehilangan, suatu penghamburan."

Hening kembali sebelum ia melanjutkan, "Lord Voldemort bermurah hati. Aku perintahkan pasukanku untuk mundur sekarang juga. Kalian punya waktu satu jam. Perlakukan yang mati secara bermartabat. Rawatlah luka-lukamu."

Tidak ada yang bersorak atau melakukan apapaun saat itu. Mereka semua terlalu tegang mendengar suara sang Dark Lord.

Aku berbicara sekarang, Harry Potter, langsung padamu. Kau mengijinkan teman-temanmu mati untukmu, daripada menghadapiku sendiri. Aku akan menunggumu selama satu jam di Hutan Terlarang. Jika di akhir masa itu kau tidak datang padaku, tidak menyerahkan dirimu, maka pertempuran akan dimulai lagi. Saat itu aku sendiri akan terjun di kancah pertempuran, Harry Potter, dan aku akan menemukanmu, dan aku akan menghukum tiap laki-laki, perempuan, maupun anak kecil yang mencoba menyembunyikanmu dalam waktu satu jam. Satu jam."

Dan kemudian hening lagi. Perlahan-lahan pertarungan berhenti dimana-mana. Kedua pihak menghentikan serangan-serangan mereka dan sosok-sosok jubah hitam, para Pelahap Maut, mundur dan meninggalkan Hogwarts. Nicole sendiri menurunkan tongkatnya dan mengatur nafasnya kembali.

Para pejuang Hogwarts sudah bergerak kesana kemari, mengumpulkan tubuh-tubuh yang tewas berjuang di Aula Utama. Nicole mengenali banyak sekali muka-muka disana, salah satunya dan yang menghancurkan hatinya kembali adalah muka Calvin, Lupin dan Tonks.

Mata hijaunya memeriksa satu persatu korban yang ada. Ia tidak melihat Elly, dan itu membuatnya bernafas lega. Namun gadis itu juga tidak bisa di temukan dimana-mana. Tidak, jangan Elly juga. Jika Elly juga di ambil pergi darinya, Nicole tidak tahu ia harus berbuat apa.

Dan Oliver. Pemuda itu adalah yang pertama Nicole cari sejak ia tahu mereka di berikan waktu satu jam. Namun hingga sekarang ia belum menemukan pacarnya, baik dalam keadaan apapun. Hatinya sedikit lega saat tidak melihat wajah Oliver di deretan korban, namun jauh dari tenang karena belum menemukan Oliver.

“Nicole!”

Gadis itu menoleh dengan luar biasa cepat, itu suara Oliver. Dan benarlah, pemuda itu berada tidak jauh di kanannya. Muka pemuda itu terlihat lega, lega melihat pacarnya masih hidup. Nicole sendiri tidak membuang waktu lagi dan segera berlari ke arah pemuda itu, mengalungkan tangannya ke leher Oliver, memeluknya dengan erat. Pelukan tersebut langsung di balas oleh Oliver. Perasaan lega mengaliri mereka berdua, setidaknya mereka masih memiliki satu dengan yang lain.

“Fred..Fred..” Nicole tidak bisa menahan sedihnya di pelukan Oliver, tempat dia merasa paling aman untuk meruntuhkan ‘perisai’nya. “Calvin..”

Oliver mengusap rambut cokelat Nicole dengan lembut. Tidak ada kata-kata yang bisa ia katakan saat ini, tidak ada yang terasa cocok untuk menghibur kehilangan yang di rasakan Nicole. Pemuda itu hanya bisa memeluk Nicole, seakan-akan meyakinkan gadis itu bahwa dirinya ada disana dan tidak akan menghilang.

“Tapi Elly masih ada bersama kita.”

Nicole langsung berhenti menangis dan menatap mata cokelat Oliver dengan tatapan kaget sekaligus berharap. Oliver tersenyum dan mengangguk, meyakinkan Nicole bahwa Elly masih hidup dan baik-baik saja.

“Mereka sedang merawatnya secara terpisah, tenang ia di lindungi dengan baik.” Kata Oliver, kedua tangannya masih terletak di punggung Nicole, setengah memeluk gadis itu. “Ia pingsan namun berhasil di selamatkan oleh Kingsley. Kata Madam Pomfrey ia akan sadar beberapa saat lagi.”

Dan benarlah kata-kata Oliver karena Elly muncul di Aula Utama tidak lama kemudian. Walau masih lemas dan tangisnya pecah saat melihat Fred, gadis itu baik-baik saja.

“Dimana Harry?” Tanya Elly pelan saat mereka bertiga duduk bersama, mengistirahatkan diri untuk pertarungan selanjutnya. Nicole dan Oliver berpandangan. Tidak ada yang tahu Harry kemana, tidak ada yang melihatnya sama sekali. Hermione dan Ron ada di Aula Besar, berkumpul di sekitar tubuh Fred, namun tidak ada tanda-tanda Harry.

“Ia akan baik-baik saja.” Kata Nicole, berusaha menenangkan Elly. Walau jelas gadis itu masih memikirkan tentang adiknya, Elly memutuskan untuk duduk bersama Nicole, menyumpan tenaganya dan percaya pada adik semata wayangnya itu.

Entah berapa lama waktu yang sudah lewat, Nicole memperkirakan seharusnya sudah sejam. Gadis berambut pendek itu berdiri, membuat pandangan Oliver dan Elly terarah padanya.

“Sudah sejam.” Kata gadis itu. Orang-orang yang mulai menyadari hal yang sama dengan Nicole pun terlihat disana-sini. Ketegangan mulai naik, dan para penyihir yang masih bisa bertarung mulai siaga dengan tongkat sihir di tangan.

Suara langkah kaki dari gerombolan besar orang menarik perhatian mereka semua. Kingsley berlari kedepan, di susul oleh McGonagall dan Nicole, ketiganya memikirkan hal yang sama, tidak pantas mereka bertarung di Aula Utama, dimana tubuh teman-teman mereka berbaring disana. Yang lain mengikuti tiga orang itu hingga mereka tiba di depan sekolah, tepat di depan pintu menuju Aula Depan.

Nicole bisa mengenali Voldemort, berjalan di depan kerumunan besar Pelahap Maut. Dan ia juga bisa mengenali Hagrid, yang membawa—

Astaga itu tidak mungkin.

“TIDAK!!” Suara jeritan McGonagall jelas terdengar sementara Nicole sendiri tidak bisa berkata-kata. Itu adalah Harry, tubuh yang di bawa Hagrid adalah Harry, dan dari isakan Hagrid, senyuman puas dari Voldemort dan teriakan menyayat hati milik McGonagall, Nicole semakin meyakini pemuda itu telah tiada.

“Tidak!”
“Tidak!”
“Harry! HARRY!”

Jeritan Ron, Hermione dan Ginny menyusul di belakang. Kembali menyadari bahwa seluruh pejuang Hogwarts mengikuti jejak mereka keluar dari Aula Utama, Nicole langsung menoleh ke belakang dan menahan tubuh Elly tepat pada waktunya.

“HARRY!” Teriak Elly. Nicole menahan gadis berambut merah itu agar tidak berlari ke arah Harry dan membuat dirinya terbunuh. Gadis itu terkejut bagaimana Elly mempunyai kekuatan lebih untuk memberontak, walau Nicole sama sekali tidak melepaskan sahabatnya. Ia tidak bisa kehilangan Elly juga.

“Sialan!!” Teriak Elly dengan berani ke arah Voldemort yang tertawa terbahak-bahak. “Beraninya kau!! Harry!! Harry…” Gadis itu jatuh terduduk di tanah, badannya bergetar hebat. Setelah Cedric, Gisselle dan Calvin, sekarang ia harus kehilangan Harry juga? Adik satu-satunya, keluarga terdekat yang terakhir, sekarang juga pergi meninggalkannya?

Tidak ada air mata yang terjatuh. Semuanya sudah habis. Namun rasanya badannya pecah, sakit diseluruh tempat, kepalanya pusing, dan ada lubang di dadanya, tempat yang dulu adalah hatinya. Ia ingin pingsan, dan bangun hanya mendapati ini semua hanya mimpi. Tapi tidak, ini bukan yang seharusnya seorang Potter lakukan.

Elly kembali mengumpulkan kekuatannya. Semuanya mengorbankan nyawa untuk masa depan tanpa Voldemort dan bayang-bayang ketakutan. Ia tidak bisa menjadi satu-satunya yang tidak berbuat apa-apa. Seraya berdiri dengan bantuan Nicole, Elly menetapkan hatinya. Ia akan berjuang hingga akhir, seperti apa yang Gisselle, Calvin, Cedric dan Harry lakukan. Jika ia harus mati berjuang, makan terjadilah itu. Setidaknya ia tidak akan malu jika bertemu kembali dengan mereka di sebelah sana.

"DIAM!" teriak Voldemort, dan terdengar letusan dan kilatan cahaya terang, dan kesenyapan dipaksakan kepada mereka semua, yang sebelumnya berteriak dan beberapa orang histeris. "Sudah selesai! Turunkan dia, Hagrid, di kakiku, tempatnya yang pantas!"

Voldemort tersenyum puas saat Hagrid melakukan perintahnya. Ia kembali menatap kerumunan dengan senyuman masih mengembang di wajahnya. "Kalian lihat?" kata Voldemort, ia mulai berjalan hilir-mudik di dekat tubuh Harry. "Harry Potter sudah mati! Kalian mengerti sekarang, orang-orang yang teperdaya? Dia bukan apa-apa, tak pernah apa-apa, hanya anak yang mengandalkan orang lain untuk berkorban baginya!"

"Dia mengalahkanmu!" teriak Ron, dan mantra pun pudar, para pembela Hogwarts berteriak-teriak dan menjerit-jerit lagi sampai letusan kedua, yang lebih hebat, memadamkan suara mereka sekali lagi.

"Dia terbunuh sewaktu berusaha menyelinap kabur dari halaman kastil," kata Voldemort, dan ada sukacita dalam suaranya untuk kebohongan ini, "Terbunuh selagi mencoba menyelamatkan diri--"

Sebelum siapapun bisa menghentikannya, Neville berlari maju ke depan dengan tongkat terangkat. Jeritan kembali terdengar saat Neville jatuh ke tanah dengan tongkat yang sudah terlucuti darinya.

"Dan siapa ini?" Tanya Voldemort, dalam desis ularnya yang lembut. Ia membuang tongkat Neville yang bari ia lucuti tadi. "Siapa yang telah bersukarela mendemonstrasikan apa yang terjadi kepada mereka yang terus melawan ketika sudah kalah perang?"

Bellatrix tertawa senang. "Itu Neville Longbottom, Yang Mulia! Anak yang selama ini memberi begitu banyak kesulitan kepada kakak-beradik Carrow! Anak pasangan Auror itu, ingat?"

"Ah, ya, aku ingat." Kata Voldemort, menunduk memandang Neville, yang sedang berusaha bangun, tanpa senjata dan tanpa perlindungan, berdiri di tanah-takbertuan di antara mereka yang selamat dan para Pelahap Maut. "Tapi kau berdarah-murni, kan, anak pemberani?" Voldemort menanyai Neville, yang berdiri menghadapinya, tangannya yang kosong mengepal dalam tinju.

"Jadi, kenapa kalau ya?" kata Neville keras.

"Kau menunjukkan semangat, dan keberanian, dan kau dari keturunan bangsawan. Kau akan menjadi Pelahap Maut yang sangat berharga. Kami membutuhkan orang seperti kau, Neville Longbottom."

"Aku akan bergabung denganmu kalau neraka membeku," kata Neville. "Laskar Dumbledore!" dia berteriak, dan terdengar sorak balasan dari kerumunan, yang tampaknya tak bisa dikuasai mantra pembisu Voldemort.

"Baiklah," kata Voldemort. Kalau itu pilihanmu, Longbottom, kita kembali ke rencana semula. Siap-siap kehilangan kepalamu, kalau begitu," katanya pelan. Ia lalu melambaikan tangannya dan Nicole bisa mengenali apa yang terbang mendekati Voldemort, benda yang ia lihat sejak ia kecil di kantor kakeknya, yang memberikan pedang leluhurnya saat ia berumur 7 tahun, Topi Seleksi.

"Tak akan ada lagi Seleksi di Sekolah Hogwarts," kata Voldemort. "Tak akan ada lagi asrama-asrama. Lambang, perisai, dan warna leluhurku yang mulia, Salazar Slytherin, akan mencukupi bagi semuanya, bukankah begitu, Neville Longbottom?"

Dia mengacungkan tongkat sihirnya ke arah Neville, yang langsung menjadi kaku dan diam, kemudian memaksakan Topi ke kepala Neville, sehingga Topi itu merosot sampai ke bawah matanya. Nicole sudah tidak tahan lagi, namun ketika ia baru saja hendak mengangkat tongkatnya, yang anehnya hampir bersamaan dengan yang lain, para Pelahap Maut sudah mengarahkan tongkat mereka ke arah para pejuang Hogwarts.

“Diam di tempatmu Nicole Ravensdale.” Kata Voldemort. “Aku menghargaimu karena kau adalah keturunan pendiri Hogwarts, sama sepertiku.” Suaranya yang licin membuat Nicole ingin muntah. “Aku akan mengurusmu sendiri nanti.”

Voldemort menoleh ke arah para pengikutnya, “Itu berarti ia adalah targetku, jangan ada yang membunuhnya.”

Nicole merasakan tubuh Oliver dan Elly menegang di kanan dan kirinya. Nicole sendiri merinding, namun ia berhasil mengumpulkan kekuatannya.

“Bagus, kalau begitu aku yang mendapat kehormatan dalam membunuhmu.”

Voldemort tertawa mendengar jawaban Nicole. “Bagus sekali. Bagus.” Ia lalu kembali menoleh ke arah Neville. "Neville ini sekarang akan mendemonstrasikan apa yang terjadi pada siapa pun yang cukup bodoh untuk terus melawanku," kata Voldemort, dan dengan jentikan tongkat sihirnya, dia membuat Topi Seleksi berkobar menyala.

“Tidak!” Jeritan terdengar dimana-mana, dan yang paling jelas adalah jeritan kesakitan Neville. Namun sebelum ada yang sempat bertindak, terdengar kegaduhan dimana-mana. Rombongan besar penduduk Hogsmeade menyerbu masuk dengan teriakan perang mereka, para centaur dari Hutan Terlarang, Grawp; raksasa si adik tiri Hagrid dan rombongan besar Peri Rumah.

Memimpin pejuang Hogwarts, Nicole berlari maju, melontarkan mantra-mantra pada setiap Pelahap Maut yang bisa ia lihat. Elly, Oliver dan Kingsley menyusul, dan akhirnya pertarungan besar-besaran di mulai kembali.

Neville terbebas dari kutukan yang mengikat dirinya, entah bagaimana caranya. Pemuda ini menarik keluar sebuah pedang dari Topi Seleksi yang jatuh dari kepala ke tangannya, pedang perak dengan tatah batu delima, pedang Gryffindor. Dengan satu gerakan mulus, Neville memenggal putus ular besar milik Voldemort, hocrux yang terakhir.

“Harry! Dimana Harry!” Suara terakan Hagrid bisa terdengar diantara keributan ini, namun tidak ada yang punya waktu untuk membantunya. Pertarungan lama-kelamaan berpindah ke dalam Hogwarts, dimana akhirnya bertempatkan di Aula Utama. Nicole sendiri menepati janjinya dengan berhadapan langsung dengan Voldemort bersama Kingsley dan McGonagall, menggantikan Slughorn yang terlempar ke dinding tadi.

“Kalian tidak bisa menghentikanku!” Teriak Voldemort.

Tidak jauh dari tempat mereka bertarung, Bellatrix juga sedang berduel dengan tiga orang sekaligus: Hermione, Ginny, dan Luna, ketiganya berjuang sekuat tenaga, namun Bellatrix seimbang dengan mereka, dan Kutukan Maut baru saja meluncur begitu dekat dengan Ginny sehingga dia lolos dari kematian hanya dengan jarak beberapa senti.

"JANGAN ANAK PEREMPUANKU, KAU JAHANAM!"

Mrs Weasley melempar mantelnya sambil berlari, membebaskan lengannya. Bellatrix berputar di tempat, tertawa terbahak-bahak melihat penantang barunya. Elly berlari dan menyusul Mrs. Weasley. Kedua wanita berambut merah itu berdiri tegak, siap menghadapi Bellatrix. Sekarang hanya dua pertarungan besar yang berlangsung disana, Voldemort melawan Kingsley-Nicole-McGonagall dan Bellatrix melawan Mrs.Weasley-Elly.

“Frustasi karena kehilangan adik tercintamu, Potter?” Tawa Bellatrix sambil menghindari kutukan dari Elly. Elly sendiri tidak menjawab dan terfokus pada mengalahnkan lawannya itu. Maka Bellatrix berpindah dan mengejek Mrs. Weasley.

"Apa yang akan terjadi pada anak-anakmu kalau aku sudah membunuhmu?" Bellatrix meloncat-loncat selagi kutukan-kutukan Mrs. Weasley menari-nari di sekelilingnya. "Ketika Mummy sudah pergi ke tempat yang sama dengan Freddie?"

"Kau-tidak-akan-pernah-menyentuh-anak-anak-kami-lagi!" teriak Mrs Weasley. Bellatrix tertawa terbahak-bahak, namun mantra dari tongkat Elly, bersamaan dengan mantra dari Mrs. Weasley, mengenai Bellatrix tepat di atas dadanya, di jantungnya pada saat yang bersamaan.

Senyum riang Bellatrix membeku, matanya tampak melotot, selama sepersekian detik dia tahu apa yang terjadi, lalu dia terjungkal dan orang-orang yang menonton bersorak riuh dan Voldemort memekik. Hal yang Nicole sadari setelahnya adalah ia terlempar kebelakang, jatuh ke lantai dengan tangan kiri terlebih dahulu.

Kemurkaan Voldemort atas tumbangnya letnannya yang terakhir dan terbaik meledak dengan kekuatan bom. Voldemort mengangkat tongkat sihirnya dan mengarahkannya kepada Elly.

“Tidak!” Teriak Nicole, dan beberapa orang sudah bergerak hendak membantu ketika sebuah suara mengalahkan mereka semua.

“Protego!”

Mantra pelindung itu membatasi Elly dan Voldemort, yang langsung mencari yang meluncurkan mantra itu. Betapa kagetnya mereka semua ketika Harry muncul entah dari mana, pemuda itu pasti bersembunyi di bawah jubah gaibnya. Sedetik kemudian teriakan-teriakan penuh semangat membahana di Aula Utama itu.

“Harry! Itu Harry!”
“Dia masih hidup!!”

Namun semua kembali sunyi senyap ketika Harry dan Voldemort bertukar tatapan penuh kebencian dan keduanya mulai mengitar.

"Aku tak ingin siapa pun mencoba membantu," kata Harry keras-keras, dan dalam keheningan total suaranya membahana seperti tiupan trompet. "Memang harus begini. Harus aku."

Voldemort mendesis."Potter tidak bermaksud begitu," katanya, mata merahnya melebar. "Itu bukan cara kerjanya, kan? Siapa yang akan kaupakai sebagai tameng hari ini, Potter?"

"Tak seorang pun," kata Harry sederhana. "Tak ada lagi Horcrux. Hanya kau dan aku: Tak seorang pun bisa hidup selama yang lain bertahan, dan salah satu dari kita akan pergi untuk selamanya..."

"Salah satu dari kita?" ejek Voldemort, seluruh tubuhnya tegang dan mata merahnya mendelik, ular yang siap memagut. "Menurutmu itu kau, bukan, anak yang telah berhasil selamat secara kebetulan, dan karena Dumbledore mempergunakan pengaruhnya?"

"Kebetulankah namanya ketika ibuku mati untuk menyelamatkanku?" tanya Harry. Mereka masih bergerak menyamping, keduanya, dalam lingkaran yang sempurna, mempertahankan jarak yang sama dari yang lain, dan bagi Harry tak ada wajah lain yang ada selain wajah Voldemort. "Kebetulan, ketika aku memutuskan melawan di makam itu? Kebetulan, bahwa aku tidak mempertahankan diri malam ini, dan masih selamat, dan kembali untuk bertempur lagi?"

"Kebetulan!" teriak Voldemort, tetapi tetap dia belum menyerang, dan kerumunan yang menonton membeku, seolah dibuat membatu, dan dari ratusan orang di Aula, tak seorang pun tampaknya bernapas, kecuali mereka berdua. "Kebetulan dan kesempatan dan fakta bahwa kau berjongkok dan menangis tersedu di balik jubah orang-orang yang lebih besar, laki-laki dan perempuan, dan membiarkanku membunuh mereka untukmu!"

"Kau tidak akan membunuh siapa-siapa lagi malam ini." kata Harry, ketika mereka berkeliling, dan mata mereka saling tatap, mata hijau ke dalam mata merah. "Kau tak akan bisa membunuh siapa pun, tak akan pernah lagi. Tidakkah kau mengerti? Aku siap mati untuk menghentikanmu mencelakai orang-orang ini--"

"Tapi kau tidak mati!"

"Aku berniat mati, dan justru itulah penyebabnya. Aku sudah melakukan apa yang telah dilakukan ibuku. Mereka sudah terlindungi darimu. Tidakkah kau memerhatikan bagaimana tak satu pun kutukan yang kauluncurkan kepada mereka mengikat? Kau tak bisa lagi menyiksa mereka. Kau tak bisa menyentuh mereka. Kau tidak belajar dari kesalahan-kesalahanmu, kan, Riddle?"

"Beraninya kau--"

"Ya, aku berani," kata Harry. "Aku tahu hal-hal yang tidak kauketahui, Tom Riddle. Aku tahu banyak hal penting yang tidak kauketahui. Mau mendengar beberapa, sebelum kau membuat kesalahan besar lain?"

Voldemort tidak bicara, melainkan mengendap-endap dalam lingkaran, dan Harry tahu untuk sementara dia berhasil membuatnya terpesona dan tidak menyerang, ditahan oleh kemungkinan amat samar bahwa Harry mungkin benar-benar tahu rahasia terakhir...

"Apakah cinta lagi?" kata Voldemort, wajah ularnya mencemooh. "Solusi favorit Dumbledore, cinta, yang dia nyatakan mengalahkan kematian, meskipun cinta tidak mencegahnya terjatuh dari Menara dan patah seperti boneka lilin tua? Cinta, yang tidak mencegahku menginjak mati ibumu seperti kecoak, Potter--dan tak seorang pun tampaknya cukup mencintaimu untuk berlari maju kali ini, dan menerima kutukanku. Jadi, apa yang akan mencegahmu mati sekarang ketika aku menyerang?"

"Hanya satu hal," kata Harry, dan masih saja mereka saling mengitari, sepenuh perhatian tertuju pada masing-masing, terpisahkan hanya oleh rahasia terakhir.

"Kalau bukan cinta yang akan menyelamatkanmu kali ini;" kata Voldemort, "kau pastilah yakin kau memiliki sihir yang aku tak punya, atau kalau tidak, senjata yang jauh lebih hebat daripada senjataku?"

"Aku yakin dua-duanya," kata Harry, dan dia melihat shock melintas di wajah mirip ular itu, meskipun seketika itu juga dihalau. Voldemort mulai tertawa, dan bunyinya lebih mengerikan daripada teriakan-teriakannya, tanpa keriangan dan gila, tawa itu bergaung di seluruh Aula yang senyap.

"Kaupikir kau tahu lebih banyak sihir daripadaku?" katanya. "Daripada aku, daripada Lord Voldemort, yang telah melakukan sihir yang Dumbledore sendiri tak pernah memimpikannya?"

"Oh, dia memimpikannya;" kata Harry, "tetapi dia tahu lebih banyak daripadamu, cukup tahu untuk tidak melakukan apa yang telah kaulakukan."

"Maksudmu dia lemah!" pekik Voldemort. "Terlalu lemah untuk berani, terlalu lemah untuk mengambil apa yang mungkin bisa jadi miliknya, apa yang jadi milikku."
"Bukan, dia lebih pintar daripadamu," kata Harry, "penyihir yang jauh lebih baik, orang yang jauh lebih baik."

"Aku yang menyebabkan kematian Albus Dumbledore!"

"Kaukira begitu," kata Harry, "tapi kau keliru."

Untuk pertama kalinya, kerumunan orang yang menonton bergerak ketika ratusan orang di sekeliling dinding itu serentak menarik napas bersamaan.

"Dumbledore sudah mati!" Voldemort melemparkan kata-kata itu kepada Harry seolah mereka akan menyebabkan kesakitan tak tertanggungkan baginya. "Tubuhnya membusuk dalam kubur pualam di halaman kastil ini, aku sudah melihatnya, Potter, dan dia tidak akan kembali."

"Ya, Dumbledore sudah mati;" kata Harry tenang, "tapi bukan kau yang membuatnya terbunuh. Dia memilih sendiri cara kematiannya, memilihnya berbulan-bulan sebelum dia mati, mengatur segalanya dengan orang yang kaupikir abdimu."

Nicole merasakan nafasnya tertahan. Gadis itu sudah berhasil berdiri dan menjadi salah satu yang menonton pertarungan itu dari dekat, bersama Elly.

"Impian kanak-kanak apa pula ini?" kata Voldemort, tetapi tetap saja, dia tidak menyerang, dan mata merahnya tidak beranjak dari mata Harry.

"Severus Snape bukan milikmu," kata Harry. "Snape milik Dumbledore. Milik Dumbledore sejak saat kau memburu ibuku. Dan kau tak pernah menyadarinya, karena hal yang tidak bisa kau mengerti. Kau belum pernah melihat Snape membuat Patronus, kan, Riddle?"

Nicole bisa merasakan badan Elly menegang di sebelahnya, namun ketika ia menoleh, ia bisa melihat air mata Elly mengalir. Kelegaan mengaliri putri dari keluarga Potter itu. Adiknya masih hidup, masih baik-baik saja, dan walinya tidak pernah berkhianat, dan mati setelah melaksanakan tugasnya demi menjatuhkan Voldemort. Fakta itu saja sudah cukup untuk membuat tubuh gadis itu dialiri kehangatan.

Voldemort tidak menjawab Harry. Mereka berdua melanjutkan saling mengitari, seperti serigala yang siap saling mencabik-cabik.

"Patronus Snape rusa betina," kata Harry, "sama seperti Patronus ibuku, karena dia mencintainya hampir sepanjang hidupnya, sejak mereka masih kecil. Kau mestinya menyadarinya," katanya, ketika dilihatnya cuping hidung Voldemort melebar, "dia memintamu menyelamatkan nyawa ibuku, kan?"

"Dia menginginkan perempuan itu, hanya itu," cemooh Voldemort, "tapi setelah dia pergi, Snape setuju masih banyak perempuan lain, dan darah mereka lebih murni, lebih layak baginya--"

"Tentu saja dia bilang begitu kepadamu," kata Harry, "tapi dia menjadi mata-mata Dumbledore sejak saat kau mengancam ibuku, dan dia bekerja menentangmu sejak saat itu! Dumbledore memang sudah sekarat ketika Snape menghabisinya!"

"Tak jadi soal!" jerit Voldemort, yang telah mengikuti setiap kata dengan perhatian penuh, namun sekarang mengeluarkan kekeh tawa gila. "Tak jadi soal apakah Snape milikku atau milik Dumbledore, atau rintangan-rintangan remeh yang mereka coba pasang di jalanku! Aku meremukkan mereka seperti aku meremukkan ibumu, yang katanya cinta abadi Snape! Oh, tapi itu membuat semuanya masuk akal, Potter, dan dalam cara-cara yang kau tidak mengerti!

"Dumbledore berusaha mencegahku memiliki Tongkat Sihir Elder! Dia memaksudkan Snape-lah yang harusnya menjadi pemilik sah tongkat itu! Tapi aku tiba di sana lebih dulu darimu, anak kecil--aku mengambil tongkat itu sebelum kau bisa menyentuhnya, aku memahami kebenarannya sebelum kau menyusul. Kubunuh Severus Snape tiga jam yang lalu, dan Tongkat Sihir Elder, Tongkat Sihir Maut, Tongkat Sihir Takdir, sekarang benar-benar milikku! Rencana terakhir Dumbledore berjalan keliru, Potter."

"Yeah, memang," kata Harry. "Kau benar. Tetapi sebelum kau mencoba membunuhku, kusarankan kau memikirkan apa yang telah kaulakukan... pikirkan, dan usahakan ada penyesalan, Riddle..."

"Apa ini?"

Dari semua hal yang telah Harry katakan kepadanya, melebihi segala pencerahan ataupun celaan, tak ada yang membuat Voldemort shock seperti ini. Harry melihat pupil matanya menyipit menjadi garis, melihat kulit di sekitar matanya memutih.

"Ini kesempatan terakhirmu," kata Harry, "hanya ini yang tersisa bagimu... aku sudah melihat kau akan seperti apa kalau tidak... jadilah laki-laki sejati... usahakan... usahakan ada penyesalan..."

"Beraninya kau--?" kata Voldemort lagi.

"Ya, aku berani," kata Harry, "karena rencana terakhir Dumbledore tidak merugikanku sama sekali. Justru rencana itu merugikanmu, Riddle."

Tangan Voldemort gemetar pada Tongkat Sihir Elder dan Harry menggenggam tongkat sihir Draco sangat erat. Saatnya, dia tahu, hanya tinggal beberapa detik lagi.

"Tongkat itu tetap tidak akan berfungsi dengan benar untukmu, karena kau membunuh orang yang salah. Severus Snape tak pernah jadi pemilik sebenarnya Tongkat Sihir Elder. Dia tak pernah mengalahkan Dumbledore."

"Dia membunuh--"

"Apakah kau tidak mendengarkan? Snape tak pernah mengalahkan Dumbledore! Kematian Dumbledore sudah direncanakan di antara mereka! Dumbledore bermaksud mati tak terkalahkan, pemilik sah terakhir tongkat sihir itu! Jika semua berjalan sesuai rencana, kekuatan tongkat itu akan mati bersamanya, karena tongkat itu tak pernah dimenangkan darinya!"

"Tapi kalau begitu, Potter, Dumbledore sama saja dengan memberiku tongkat itu!" suara Voldemort gemetar dengan kesenangan dengki. "Aku mencuri tongkat ini dari kuburan pemilik terakhirnya! Aku mengambilnya di luar kemauan pemilik terakhirnya! Kekuatannya sekarang milikku!"

"Kau masih belum mengerti rupanya, Riddle? Memiliki tongkat sihir itu tidak cukup! Memegangnya, menggunakannya, tidak membuat tongkat itu benar-benar milikmu. Tidakkah kau mendengarkan Ollivander? Tongkat sihir memilih penyihirnya... Tongkat Sihir Elder mengenali majikan yang baru sebelum Dumbledore mati, orang yang bahkan belum pernah menyentuhnya. Majikan baru ini mengambil tongkat ini dari Dumbledore di luar kemauannya, tak pernah menyadari apa persisnya yang dilakukannya, atau bahwa tongkat sihir paling berbahaya sedunia telah memberinya kesetiaannya..."

Dada Voldemort naik-turun dengan cepat, dan Harry bisa merasakan kutukannya akan datang, merasakan kutukan itu sedang terbangun dalam tongkat sihir yang diacungkan ke wajahnya.

"Pemilik sah Tongkat Sihir Elder adalah Draco Malfoy."

Shock ketidakmengertian terlihat di wajah Voldemort sesaat, tapi kemudian menghilang.

"Tapi apa urusannya?" katanya pelan. "Kalaupun kau benar, Potter, tak ada bedanya bagimu dan bagiku. Kau tak lagi memiliki tongkat sihir phoenix: kita berduel berdasarkan kecakapan belaka... dan setelah aku membunuhmu, aku bisa membereskan Draco Malfoy..."

"Tapi kau terlambat," kata Harry. "Kau sudah kehilangan kesempatanmu. Aku tiba di sana lebih dulu. Aku mengalahkan Draco berminggu-minggu lalu. Aku mengambil tongkat sihir ini darinya."

Harry menjentikkan tongkat sihir hawthorn, dan dia merasakan mata semua orang di Aula tertuju pada tongkat itu.

"Jadi, segalanya tergantung ini, kan?" bisik Harry. "Apakah tongkat sihir di tanganmu tahu pemiliknya yang terakhir sudah dilucuti senjatanya? Sebab kalau dia tahu... akulah pemilik sebenarnya Tongkat Sihir Elder itu."

Pendar merah keemasan tiba-tiba menebar di langit sihir di atas mereka, ketika tepi matahari yang menyilaukan muncul di atas ambang jendela terdekat. Cahayanya menimpa wajah mereka berdua pada saat bersamaan, sehingga wajah Voldemort mendadak menjadi kabur menyala. Harry mendengar suara tinggi itu memekik ketika dia, juga, meneriakkan harapannya yang terbaik ke langit, mengacungkan tongkat sihir Draco:

"Avada Kedavra!"

"Expelliarmus!"

Letusannya seperti ledakan meriam dan lidah api keemasan yang berkobar di antara mereka, persis di pusat lingkaran yang mereka tapaki, menandai tempat kedua mantra itu bertabrakan. Cahaya merah bertemu dengan cahaya hijau dengan latar belakang sinar matahari terbit. Pertarungan yang berlangsung sepanjang malam itu menarik perhatian penuh dari setiap orang sehingga tidak ada yang menyadari bahwa hari telah berganti.

Mendadak, cahaya merah bergerak maju dan menyambar Voldemort, membuat tongkatnya terbang dan di tangkap dengan cekatan oleh Harry. Voldemort jatuh terjengkang, lengannya merentang, mata merahnya terbalik ke atas. Tom Riddle menghantam lantai seperti nasib orang biasa, tubuhnya lemah dan mengkeret, tangan putihnya kosong, wajahnya yang mirip ular hampa dan tak tahu apa-apa. Voldemort sudah mati, terbunuh oleh kutukannya yang berbalik, dan Harry berdiri dengan dua tongkat sihir di tangannya, menunduk memandang jasad musuhnya.

Sedetik kesenyapan yang gemetar, shock atas kejadian itu menggantung: dan kemudian kegemparan pecah. Semua orang berlari menuju Harry, teriakan dan sorakan kemenangan terdengar dimana-mana. Namun Nicole tidak ikut dalam kerumunan. Gadis itu berjalan pergi dengan perlahan, bahkan Oliver pun tidak menyadari kepergian gadis itu.

Nicole berjalan ke arah ruang kepala sekolah, yang sama sekali tidak di jaga karena patung Gargoylenya sudah rusak.

“Benarkah yang kami dengar?”
“Voldemort sudah kalah?”

Ratusan pertanyaan terdengar saat Nicole memasuki ruangan. Seluruh kepala sekolah di pigura menatap Nicole dengan padandangan penasaran. Nicole hanya mengangguk dan tersenyum sebelum menatap pigura kakeknya.

“Semua sudah selesai.” Katanya, lebih di tujukan untuk kakeknya daripada pertanyaan-pertanyaan tadi. Kakeknya tersenyum padanya.

“Kerja bagus Nicole sayang.”

Nicole mengangguk, “Walaupun Harrylah yang berperan banyak.”

“Aku tetap bangga padamu.”

Nicole merasa dirinya ingin menangis, namun ia menahannya. “Terima kasih kakek.”

Mendadak tepukan tangan menghiasi ruangan itu, Nicole menoleh dan mendapati Harry, Ron dan Hermione memasuki ruangan kepala sekolah. Dengan senyuman mengembang, Nicole ikut bertepuk tangan.

“Maaf. Kami mengganggu ya?” Tanya Harry. Nicole menggeleng.

“Tidak. Aku baru saja selesai.” Nicole berjalan menuju pintu keluar, berbalik untuk melihat kakeknya sekali lagi. “Sampai nanti, kakek.”

“Sampai nanti Nicole.”

Ketika gadis itu akhirnya menuruni tangga, sepasang tangan menariknya kedalam pelukan. Oliver memeluk Nicole dengan erat, yang jelas di balas oleh gadis itu. Kelegaan membanjiri mereka berdua.

“Semua sudah selesai.” Kata Oliver. Nicole mengangguk.

Mendadak suara gaduh terdengar dan George, Elly, Feli dan Lee berlari ke arah mereka. Tertawa dan memeluk secara bersamaan. Kelegaan membanjiri mereka, mereka berhasil mengalahkan Voldemort dan memenangkan perang. Ya mereka menang, walaupun dengan harga yang mahal.

Tapi mereka masih disana, walau dengan luka yang tidak akan sembuh, semuanya sudah selesai, dan selanjutnya akan baik-baik saja.

Ya, semua akan baik-baik saja.

***TBC***

A/N : The longest chapter!! Walau banyak yang saya ambil dari novel aslinya.
Dan sehabis ini masih ada chapter terakhir, epilogue~~
Anyway, mohon maaf apabila ada kesalahan *bows*


Original Plot by : Our Queen, JK Rowling
The ‘new’ plot Made by : Liz
Take out with full credits please~ ^^