I moved to Wattpad under username xMoonlight23
I will mainly post my stories there, but some will be here I guess. Like short drabble or something hahaha
Thank you!
- Liz -
Jumat, 04 Desember 2015
Jumat, 24 Juli 2015
Hogwarts' Beloved : Chapter 30 [END]
Chapter 30 : Happily Ever
After.
(Setting :
Years after HP 7)
“Aku masih kaget akhirnya ia
berani melakukannya.”
Gadis berambut cokelat cokelat
itu memutar badannya dan menatap temannya, sahabatnya sejak 11 tahun yang lalu.
“Maksudmu?”
Gadis yang di tatap, seorang
gadis berambut merah tersenyum dan mendekati sahabatnya, membetulkan letak
hiasan rambut gadis itu.
“Ia akhirnya melamarmu.”
Gadis berambut cokelat itu
tertawa pelan. “Itu enam bulan yang lalu.”
“Tetap saja aku tidak percaya.”
Elizabeth Potter menatap
sahabatnya, yang saat ini memakai gaun putih panjang yang indah, make-up,
hiasan di rambut dan heels perak di kakinya. Penampilan yang sangat berbeda
dari hari-hari biasanya. “Dan hari ini bahkan kau akan menikah.”
Sahabatnya itu tertawa lagi.
Ya, hari itu Nicole Ravensdale
akan menikah dengan Oliver Wood.
***
Tidak ada yang menyangka bahwa
Oliver melamar pacarnya, enam bulan yang lalu, satu setengah tahun setelah
perang Hogwarts berakhir. Walau mereka di sibukan dengan kegiatan masing-masing,
akhirnya pernikahan dapat di langsungkan, yaitu hari ini.
Semua sudah di rencanakan dengan
baik. Undangan sudah di sebar, tenda-tenda sudah di pasang. Dan sekarang adalah
saatnya.
“Siap?”
Nicole menoleh menatap sahabatnya
sekaligus bridesmaidnya hari ini, Elly. George lah yang akan mengantarkannya ke
podium, dimana Oliver sudah menunggu bersama sepupunya sebagai best mennya.
“Siap…” Jawab Nicole. “..kurasa.”
Elly tertawa mendengar jawaban
Nicole. Gadis itu menarik tangan sahabatnya dan menggenggamnya dengan erat. “Kau
akan baik-baik saja. Ayo, upcaranya sudah akan di mulai.” Masih menggenggam
tangan Nicole, Elly membawa gadis itu ke depan tenda acara, dimana para tamu
dan Oliver sudah menunggu disana. George harusnya menunggunya di depan tenda,
namun pemuda itu tidak ada dimana-mana.
“Tunggu saja disini.” Kata Elly.
Dia mengedip jahil pada Nicole sebelum masuk ke dalam tenda, meninggalkan
Nicole sendirian kebingungan.
“Maaf lama.”
Suara George terdengar di
belakangnya, Nicole menoleh dan sudah hendak memarahi pemuda itu karena telat
namun kata-kata tercekat di tenggorokannya. George tersenyum padanya. Pemuda
itu mengenakan jas yang sesuai, namun yang membuat Nicole terkejut adalah
pigura foto yang ia bawa.
Pigura foto kakeknya.
“Kurasa tetap harus kakekmu yang
menyerahkanmu pada Oliver di hari pernikahanmu, Nic.” Kata George.
Kakeknya hanya tersenyum di
piguranya. “Kau terlihat cantik, Nicole.”
George menatap Nicole, “Oh tidak,
jangan menangis nona.” Kata pemuda itu. “Ayo, pasang senyummu dan kita akan
masuk.”
“Kau merencanakan ini?”
“Kita semua sebenarnya.” Jawab
George. “Semua orang tahu kecuali dirimu.”
Nicole menyambut uluran tangan
George, sementara pemuda itu membawa pigura Dumbledore di tangan lainnya.
Iringan tepuk tangan menyertai mereka berdua saat mereka masuk kedalam tenda.
Benar kata George, tidak ada yang terkejut saat melihat pigura foto Dumbledore.
McGonagall malah jelas-jelas meneteskan air matanya di salah satu kursi
terdepan.
Oliver sendiri tersenyum di depan
podium, terlihat lebih menawan daripada biasanya. George menyerahkan tangan
Nicole pada Oliver.
“Ingat kawan, kau menyakiti
sahabat kami, seluruh Hogwarts akan melawanmu.” Kata George dengan riang.
Oliver tertawa.
“Tenang saja. Aku berjanji aku
akan membahagiakannya.”
Nicole merasakan mukanya memerah.
George tersenyum puas dan berjalan ke tempatnya, bersama dengan pigura
Dumbledore yang ia bawa dengan hati-hati.
Gadis itu mengaitkan tangannya ke
lengan Oliver, mata hijaunya bertemu dengan mata cokelat pemuda yang akan
menjadi suaminya itu, sebelum akhirnya menatap kedepan dengan yakin.
“Tuan dan Nyonya.” Kata pemimpin
acara pernikahan itu. “Kita berkumpul disini untuk merayakan penyatuan dua
jiwa..”
Nicole bisa mendengar McGonagall
dan Hagrid membuang ingus di saat yang bersamaan, dan gadis itu berusaha keras
untuk tidak tertawa. Walaupun tidak terlihat, Nicole tahu bahwa sama seperti
kakeknya, semua orang yang ia kasihi, yang tumbang di pertarungan satu setengah
tahun yang lalu, ada disana.
“…dan apakah kau, Nicole
Ravensdale, menerima Oliver Wood sebagai suamimu, dari saat
ini hingga seterusnya , dalam keadaan baik maupun buruk , dalam kaya maupun
miskin , dalam sehat maupun sakit , mendampinginya hingga maut memisahkan
kalian?"
Nicole menoleh dan menatap Oliver
kembali dan tersenyum.
“Ya.”
***
14 tahun kemudian, stasiun Kings Cross.
“Kau masih belum cukup umur
sayang.”
“Tapi Gisselle mau ikut dengan
kakak!”
Wanita berambut cokelat itu
berjongkok dan menatap putrinya, yang mewarisi kedua mata ayahnya, cokelat. “Tahun
depan, mama janji. Tahun depan.”
Nicole Ravensdale menatap anak
bungsunya yang baru berusia 10 tahun. Gisselle II Wood, dengan nama sebagai
kenangan terhadap sahabat dekatnya itu. Sementara Oliver berbicara pelan dengan
anak pertama mereka, Bertrand Wood.
Suara kereta api yang menandakan
sebentar lagi akan berangkat membuat Nicole dengan cepat menarik putranya ke
pelukan dan memberikan ciuman di dahi Bert.
“Jangan nakal dan jangan terlalu
sering bermain Quidditch sehingga melupakan pelajaranmu.”
Bert tersenyum. Kedua saran orang
tuanya selalu berbeda jika soal sekolah, dan jelas ia akan mengikuti saran sang
ayah. Namun ia mengangguk pada ibunya.
“Tentu saja, jangan khawatir Ma.”
Oliver mengacak rambut putranya, “Sudah
cepat naik sana. Kami akan melihatmu liburan natal nanti.”
Bert tersenyum, setelah
memberikan pelukan pada Gisselle, pemuda itu berlari dan naik ke atas kereta,
melambaikan tangannya pada keluarganya hingga akhirnya kereta itu hilang dari
pandangan.
“Kita pulang?” Kata Oliver sambil
merangkul istrinya. Nicole tersenyum, tangannya yang satu menggandeng Gisselle.
“Ayo, kita pulang.”
***END***
A/N : Chapter terpendek dan yang
terakhir wkwkwk
Mohon maaf bila ada kesalahan
Dan terima kasih sudah membaca
hingga akhir~ ❤
With Love, Liz.
Made by : Liz
Take out with full credits please~ ^^
Hogwarts' Beloved : Chapter 29
Chapter 29 : Finally End
(Setting :
HP 7)
Fred Weasley memberikan cengiran
isengnya pada gadis yang berdiri di sebelahnya ini, sementara yang bersangkutan
hanya melipat kedua lengannya dan membalas cengiran itu dengan tatapan tajam.
Ia tahu ia keterlaluan, dengan mengerjai gadis itu; menyeret Nicole menjauh
dari yang lain; di tengah-tengah perang seperti ini, namun ia harus melakukan
hal ini. Tidak ada yang tahu hasil akhir nanti bukan?
“Fred Weasley,” Kata Nicole
dengan tajam, membuat cengiran Fred semakin melebar. “Sebaiknya kau mempunyai
alasan yang jelas mengapa kau melakukan hal ini..”
“Tenang saja Nona Ravensdale. Aku
punya alasan yang sangat jelas.”
Alis Nicole terangkat, kata-kata
yang di lontarkan Fred memang seperti dugaannya, namun nada suara pemuda itulah
yang membuatnya bingung. Nada bicara pemuda itu tetap riang seperti biasanya,
ia juga menyelipkan ejekan untuk Nicole, namun kali ini ia bisa merasakan
keseriusan di dalamnya.
“Kalau begitu katakan.” Ucap
Nicole. Dan mendadak, seorang Fred Weasley tampak salah tingkah di depannya.
Fred tertawa gugup dan mukanya memerah sedikit.
“Oke ini sebenarnya memalukan.”
Kata pemuda itu, “Tapi ada yang ikut kuberi tahukan kepadamu.”
“Dan hal itu?”
Fred tersenyum, “Jangan
membunuhku okay?” Ia lalu mendekatkan dirinya ke Nicole dengan cepat dan
mengecup kening gadis itu. “Aku punya perasaan padamu, dan kurasa itu belum
menghilang sepenuhnya.”
Nicole tidak bisa merespon dengan
kata-kata maupun tindakan. Fred, sahabatnya, korban jitakannya sejak tahun
pertama mereka di Hogwarts, mempunyai perasaan untuknya?
“Kau bercanda.”
“Tidak Nicole Ravensdale. Aku
memang menyukaimu.”
Mata hijau Nicole bertemu dengan
mata cokelat milik Fred dan ia langsung mengetahui bahwa lawan bicaranya tidak
bercanda sama sekali. Namun sebelum Nicole dapat mengatakan apapun lagi, Fred
sudah melanjutkan kembali.
“Itu dulu. Aku sadar kau tidak
akan membalas perasaanku, Nic.” Fred tertawa pelan. “Aku sudah tidak akan
mengejarmu, namun aku rasa kau harus tahu saja. Kalau aku menyukaimu.”
Suara ledakan dan teriakan
mendadak terdengar, membuat kedua kepala menoleh ke arah sumber suara itu.
Otomatis keduanya menyiagakan tongkat mereka masing-masing.
“Jangan terbunuh.” Kata Fred
sambil mengedip jahil pada Nicole sebelum berlari ke arah sumber suara,
meninggalkan Nicole. Walau gadis itu menyusul tidak lama kemudian dengan
gerutuan tidak jelas dan muka yang memerah karena pengakuan mendadak itu.
Keadaan jauh lebih parah daripada
bayangan Nicole. Gadis itu terpisah dari Fred, yang tampaknya berlari menyusul
George. Nicole sendiri langsung di hadang oleh sosok bertudung dan bertopeng;
Pelahap Maut.
Korban-korban mulai berjatuhan di
sekitarnya. Ia sendiri telah mengalahkan beberapa Pelahap Maut, namun
pemandangan pejuang Hogwarts yang berjatuhan menyiksa dirinya. Nicole tahu
jalan tercepat menyelesaikan ini semua adalah dengan terus bertarung.
Tanpa sadar Nicole mendapati
dirinya semakin menaikki tangga, lama kelamaan semakin tinggi dan akhirnya ia
sampai di lantai tujuh, dimana ia melihat Harry, Ron dan Hermione, baru saja
keluar dari ruangan yang Nicole tebak sebagai Kamar Kebutuhan. Mereka tidak
menyadari Nicole hingga mendadak suara ledakan muncul dari belakang gadis itu.
Fred dan Percy, yang telah
kembali kepada keluarganya, sedang bertarung melawan para Pelahap Maut. Nicole
dengan cepat berlari mendekat, membantu dua orang pemuda itu. Dari suara
langkah kaki yang ia dengar di belakangnya, ia menebak Harry, Ron dan Hermione
menyusul jejaknya.
Kilatan cahaya
meluncur dimana-mana, dan orang yang bertarung dengan Percy mundur, cepat:
kemudian tudungnya terbuka dan mereka melihat dahi lebar dan rambut kaku.
"Halo, Pak
Menteri!" Teriak Percy, menembakkan mantra sederhana langsung kepada
Thicknesse, yang langsung menjatuhkan tongkat dan merobek bagian depan jubahnya,
tampak sangat tidak senang. "Apa sudah kubilang
aku mengundurkan diri?"
"Kau bercanda,
Perce!" teriak Fred ketika Pelahap Maut yang dilawannya pingsan karena
kekuatan tiga mantra pemingsan sekaligus. Thicknesse jatuh ke lantai dengan
paku-paku kecil muncul di sekujur tubuhnya; dia tampak berubah menjadi sesuatu
yang mirip landak laut. Fred memandang Percy dengan perasaan senang.
"Kau
benar-benar bercanda, Perce....kurasa sudah lama kami tidak mendengarmu
bercanda sejak--"
Langit meledak. Ledakan itu benar-benar mendadak sehingga
tidak ada yang siap melindungi diri, termasuk Nicole. Dunia serasa berputar di
sekitarnya, kupingnya berdenging sehingga ia tidak bisa mendengar dengan baik.
Ketika ia berhasil memfokuskan dirinya sendiri, gadis itu menyadari bahwa ia
sudah terlempar dari tempatnya berdiri tadi. Seorang pelahat maut menarget
Percy yang sedang membelakangi Pelahap Maut itu dengan kepala tertunduk.
“Stupefy!” Teriak Nicole,
diikuti dengan lontaran sinar berwarna merah dan Pelahap Maut itu terlempar ke
belakang, sebelum jatuh pingsan. Kemampuan pendengarannya sudah kembali pulih,
namun yang pertama ia dengar adalah sebuah tangisan yang menyayat hati.
“Tidak, tidak!!” Percy
berteriak, histeris sebenarnya. “Tidak! Fred!!”
Mendengar nama Fred di
teriakan, Nicole membeku di tempat. Terutama karena Ron juga berada disana,
dengan muka shock sementara Percy menggoyang-goyangkan sebuah tubuh, tubuh
Fred.
Tidak.
Nicole langsung berlari
mendekat. Sejenak ia melupakan bahwa mereka berada di tengah perang. Tidak,
tidak, ia tidak bisa kehilangan Fred juga. Setelah semua kehilangan yang ia
hadapi, ia tidak boleh kehilangan sahabat lagi.
Namun permohonannya pupus,
sia-sia saja. Fred Weasley berbaring disana, dengan senyuman terakhirnya masih
mengembang di wajahnya. Fred, Fred yang selalu ada untuknya, sahabatnya sejak
tahun pertama di Hogwarts, sekarang berbaring di lantai, dan tidak akan pernah
terbangun lagi.
Betapa Nicole mengharapkan
Fred tibat-tiba bangun dan memberikan cengiran menyebalkannya yang biasa dan
berkata, ‘Kalian terkejut? Sudah kuduga kalian tidak bisa di tinggalkan Fred
Weasley yang ganteng ini.’
Tapi Nicole tahu hal
tersebut tidak akan terjadi. Tidak akan ada lagi Fred yang mengejeknya, yang
membelanya, yang tertawa bersamanya. Tidak akan ada lagi. Semuanya hanyalah
kenangan manis sekarang.
Nicole ingin menjerit, ia
ingin histeris dan jatuh menangis. Namun kematian Fred bukanlah untuk hal itu.
Suara-suara teriakan dari kejauhan dan bunyi berisik membawanya kembali pada
kenyataan, bahwa Nicole sekarang sedang berada dalam perang, dan mereka harus
memenangi perang satu ini.
“Pergilah dari sini! Cepat!”
Teriak Nicole, menggerakan Harry dan Hermione untuk membujuk Ron dan Percy
memindahkan tubuh Fred sementara Nicole menghalang sekumpulan laba-laba raksasa
yang merayap masuk. Makhluk-makhluk itu sudah cukup mengalihkan perhatian
Nicole dari rombongan yang membawa tubuh Fred sehingga ketika akhirnya ia
menoleh, mereka sudah tidak kelihatan sama sekali.
Gadis itu memeriksa lubang
yang di langit-langit koridor itu, menyadari bahwa para dementor sudah
melayang-layang di atas sana, siap untuk menyerang masuk. Beberapa malah sudah
cukup dekat hingga gadis itu merasakan dirinya menggigil. Rasanya seperti semua
kebahagiaan mendadak hilang. Efek yang selalu di hasilkan oleh para dementor
bila mereka terlalu dekat.
Patronus. Ya, satu-satunya
cara mengalahkan dementor adalah dengan mantra itu. Nicole mengangkat
tongkatnya, namun syarat untuk melakukan mantra itu tidak bisa ia penuhi.
Bayangan kematian Fred menghantuinya, ia sama sekali tidak bisa membayangkan
sesuatu yang menyenangkan.
Bayangan gelap itu mendekat.
Para dementor merasakan ketakutan Nicole, keputus asaan gadis itu. Dan semakin
mereka mendekat, pikiran gadis itu semakin bertambah buruk. Ia bahkan tidak
bisa membayangkan mereka memenangkan peperangan itu, dan mengenai berapa banyak
ia kehilangan orang-orang yang ia cintai.
‘Oh? Apa yang terjadi pada Nona Prefect dan Ketua Murid kita?’
Nicole mengerjapkan matanya.
Ia pasti sedang membayangkan yang aneh-aneh karena kelelahan. Namun ia merasa
mendengar suara Fred tadi.
‘Entahlah, mungkin dia kurang tidur?’
Dan sekarang ia membayangkan
suara Sirius. Walau ia nyaris melupakan bagaimana suara pria tersebut.
‘Ayolah Nicole. Kau bisa melakukan lebih dari itu.’
Nicole benar-benar bingung
sekarang. Suara itu adalah milik Cedric, Cedric Diggory, sahabatnya yang telah
tiada tiga tahun yang lalu.
‘Kami percaya padamu.’
Nicole bisa merasakan air
mata menggenang di pelupuk matanya. Tadi adalah suara Gisselle. Namun suara
yang berikutnya membuat air matanya mengalir, walau tubuhnya di penuh
kehangatan.
‘Ingatlah. Kau tidak pernah sendirian.’
Itu adalah suara kakeknya.
Nicole menggenggam erat tongkatnya, merasakan kekuatan kembali memasuki
tubuhnya, dan kehangatan hingga ujung jarinya. Ia tidak sendirian, dan tidak
pernah sejak awal. Perang ini akan mereka menangkan..
..dan semuanya akan
baik-baik saja.
“Expecto Patronum.”
Seekor singa jantan yang
gagah berwarna perak keluar dari ujung tongkatnya, mengaum galak ke arah para
dementor. Para dementor itu langsung memencar ketakutan. Singa milik Nicole
mengejar mereka hingga keluar dari Hogwarts, sebelum perlahan menghilang.
Gadis itu masih menengadah,
menatap singa peraknya yang lama-lama menghilang. Kehangatan masih menyelimuti
dirinya. Ia tahu, walau ia tidak bisa menjelaskan bagaimana, mereka tadi
benar-benar bersamanya disana, membantunya melawan para dementor.
“Jangan khawatir.” Katanya entah
pada siapa. “Kami akan memenangkan hal ini.”
***
Suara Voldemort kembali
terdengar di dinding-dinding dan seluruh penjuru sekolah. Menghentikan
pertempuran yang masih berlangsung.
"Kalian telah
bertempur," Kata Voldemort. "…dengan gagah
berani. Lord Voldemort paham caranya menghargai keberanian. Tapi kalian
menderita kekalahan yang besar. Kalau kalian bertahan, tetap menolakku, kalian
akan mati semuanya, satu persatu. Aku tak menginginkan ini terjadi. Setiap
tetes darah sihir yang tertumpah adalah suatu kehilangan, suatu
penghamburan."
Hening kembali sebelum ia
melanjutkan, "Lord Voldemort
bermurah hati. Aku perintahkan pasukanku untuk mundur sekarang juga. Kalian punya waktu satu jam. Perlakukan yang mati secara bermartabat.
Rawatlah luka-lukamu."
Tidak ada yang bersorak atau
melakukan apapaun saat itu. Mereka semua terlalu tegang mendengar suara sang
Dark Lord.
“Aku berbicara sekarang, Harry Potter, langsung padamu. Kau mengijinkan
teman-temanmu mati untukmu, daripada menghadapiku sendiri. Aku akan menunggumu
selama satu jam di Hutan Terlarang. Jika di akhir masa itu kau tidak datang
padaku, tidak menyerahkan dirimu, maka pertempuran akan dimulai lagi. Saat itu
aku sendiri akan terjun di kancah pertempuran, Harry Potter, dan aku akan
menemukanmu, dan aku akan menghukum tiap laki-laki, perempuan, maupun anak
kecil yang mencoba menyembunyikanmu dalam waktu satu jam. Satu jam."
Dan kemudian hening lagi.
Perlahan-lahan pertarungan berhenti dimana-mana. Kedua pihak menghentikan serangan-serangan
mereka dan sosok-sosok jubah hitam, para Pelahap Maut, mundur dan meninggalkan
Hogwarts. Nicole sendiri menurunkan tongkatnya dan mengatur nafasnya kembali.
Para pejuang Hogwarts sudah
bergerak kesana kemari, mengumpulkan tubuh-tubuh yang tewas berjuang di Aula
Utama. Nicole mengenali banyak sekali muka-muka disana, salah satunya dan yang
menghancurkan hatinya kembali adalah muka Calvin, Lupin dan Tonks.
Mata hijaunya memeriksa satu
persatu korban yang ada. Ia tidak melihat Elly, dan itu membuatnya bernafas
lega. Namun gadis itu juga tidak bisa di temukan dimana-mana. Tidak, jangan
Elly juga. Jika Elly juga di ambil pergi darinya, Nicole tidak tahu ia harus
berbuat apa.
Dan Oliver. Pemuda itu
adalah yang pertama Nicole cari sejak ia tahu mereka di berikan waktu satu jam.
Namun hingga sekarang ia belum menemukan pacarnya, baik dalam keadaan apapun.
Hatinya sedikit lega saat tidak melihat wajah Oliver di deretan korban, namun
jauh dari tenang karena belum menemukan Oliver.
“Nicole!”
Gadis itu menoleh dengan
luar biasa cepat, itu suara Oliver. Dan benarlah, pemuda itu berada tidak jauh
di kanannya. Muka pemuda itu terlihat lega, lega melihat pacarnya masih hidup.
Nicole sendiri tidak membuang waktu lagi dan segera berlari ke arah pemuda itu,
mengalungkan tangannya ke leher Oliver, memeluknya dengan erat. Pelukan
tersebut langsung di balas oleh Oliver. Perasaan lega mengaliri mereka berdua,
setidaknya mereka masih memiliki satu dengan yang lain.
“Fred..Fred..” Nicole tidak
bisa menahan sedihnya di pelukan Oliver, tempat dia merasa paling aman untuk
meruntuhkan ‘perisai’nya. “Calvin..”
Oliver mengusap rambut
cokelat Nicole dengan lembut. Tidak ada kata-kata yang bisa ia katakan saat
ini, tidak ada yang terasa cocok untuk menghibur kehilangan yang di rasakan
Nicole. Pemuda itu hanya bisa memeluk Nicole, seakan-akan meyakinkan gadis itu
bahwa dirinya ada disana dan tidak akan menghilang.
“Tapi Elly masih ada bersama
kita.”
Nicole langsung berhenti
menangis dan menatap mata cokelat Oliver dengan tatapan kaget sekaligus
berharap. Oliver tersenyum dan mengangguk, meyakinkan Nicole bahwa Elly masih
hidup dan baik-baik saja.
“Mereka sedang merawatnya
secara terpisah, tenang ia di lindungi dengan baik.” Kata Oliver, kedua
tangannya masih terletak di punggung Nicole, setengah memeluk gadis itu. “Ia
pingsan namun berhasil di selamatkan oleh Kingsley. Kata Madam Pomfrey ia akan
sadar beberapa saat lagi.”
Dan benarlah kata-kata
Oliver karena Elly muncul di Aula Utama tidak lama kemudian. Walau masih lemas
dan tangisnya pecah saat melihat Fred, gadis itu baik-baik saja.
“Dimana Harry?” Tanya Elly
pelan saat mereka bertiga duduk bersama, mengistirahatkan diri untuk
pertarungan selanjutnya. Nicole dan Oliver berpandangan. Tidak ada yang tahu
Harry kemana, tidak ada yang melihatnya sama sekali. Hermione dan Ron ada di
Aula Besar, berkumpul di sekitar tubuh Fred, namun tidak ada tanda-tanda Harry.
“Ia akan baik-baik saja.”
Kata Nicole, berusaha menenangkan Elly. Walau jelas gadis itu masih memikirkan
tentang adiknya, Elly memutuskan untuk duduk bersama Nicole, menyumpan
tenaganya dan percaya pada adik semata wayangnya itu.
Entah berapa lama waktu yang
sudah lewat, Nicole memperkirakan seharusnya sudah sejam. Gadis berambut pendek
itu berdiri, membuat pandangan Oliver dan Elly terarah padanya.
“Sudah sejam.” Kata gadis
itu. Orang-orang yang mulai menyadari hal yang sama dengan Nicole pun terlihat
disana-sini. Ketegangan mulai naik, dan para penyihir yang masih bisa bertarung
mulai siaga dengan tongkat sihir di tangan.
Suara langkah kaki dari
gerombolan besar orang menarik perhatian mereka semua. Kingsley berlari
kedepan, di susul oleh McGonagall dan Nicole, ketiganya memikirkan hal yang
sama, tidak pantas mereka bertarung di Aula Utama, dimana tubuh teman-teman
mereka berbaring disana. Yang lain mengikuti tiga orang itu hingga mereka tiba
di depan sekolah, tepat di depan pintu menuju Aula Depan.
Nicole bisa mengenali
Voldemort, berjalan di depan kerumunan besar Pelahap Maut. Dan ia juga bisa
mengenali Hagrid, yang membawa—
Astaga itu tidak mungkin.
“TIDAK!!” Suara jeritan
McGonagall jelas terdengar sementara Nicole sendiri tidak bisa berkata-kata.
Itu adalah Harry, tubuh yang di bawa Hagrid adalah Harry, dan dari isakan
Hagrid, senyuman puas dari Voldemort dan teriakan menyayat hati milik
McGonagall, Nicole semakin meyakini pemuda itu telah tiada.
“Tidak!”
“Tidak!”
“Harry! HARRY!”
Jeritan Ron, Hermione dan
Ginny menyusul di belakang. Kembali menyadari bahwa seluruh pejuang Hogwarts
mengikuti jejak mereka keluar dari Aula Utama, Nicole langsung menoleh ke
belakang dan menahan tubuh Elly tepat pada waktunya.
“HARRY!” Teriak Elly. Nicole
menahan gadis berambut merah itu agar tidak berlari ke arah Harry dan membuat
dirinya terbunuh. Gadis itu terkejut bagaimana Elly mempunyai kekuatan lebih
untuk memberontak, walau Nicole sama sekali tidak melepaskan sahabatnya. Ia
tidak bisa kehilangan Elly juga.
“Sialan!!” Teriak Elly
dengan berani ke arah Voldemort yang tertawa terbahak-bahak. “Beraninya kau!! Harry!!
Harry…” Gadis itu jatuh terduduk di tanah, badannya bergetar hebat. Setelah
Cedric, Gisselle dan Calvin, sekarang ia harus kehilangan Harry juga? Adik
satu-satunya, keluarga terdekat yang terakhir, sekarang juga pergi meninggalkannya?
Tidak ada air mata yang
terjatuh. Semuanya sudah habis. Namun rasanya badannya pecah, sakit diseluruh
tempat, kepalanya pusing, dan ada lubang di dadanya, tempat yang dulu adalah
hatinya. Ia ingin pingsan, dan bangun hanya mendapati ini semua hanya mimpi.
Tapi tidak, ini bukan yang seharusnya seorang Potter lakukan.
Elly kembali mengumpulkan
kekuatannya. Semuanya mengorbankan nyawa untuk masa depan tanpa Voldemort dan
bayang-bayang ketakutan. Ia tidak bisa menjadi satu-satunya yang tidak berbuat
apa-apa. Seraya berdiri dengan bantuan Nicole, Elly menetapkan hatinya. Ia akan
berjuang hingga akhir, seperti apa yang Gisselle, Calvin, Cedric dan Harry
lakukan. Jika ia harus mati berjuang, makan terjadilah itu. Setidaknya ia tidak
akan malu jika bertemu kembali dengan mereka di sebelah sana.
"DIAM!"
teriak Voldemort, dan terdengar letusan dan kilatan cahaya terang, dan
kesenyapan dipaksakan kepada mereka semua, yang sebelumnya berteriak dan
beberapa orang histeris. "Sudah selesai! Turunkan dia, Hagrid, di kakiku,
tempatnya yang pantas!"
Voldemort
tersenyum puas saat Hagrid melakukan perintahnya. Ia kembali menatap kerumunan
dengan senyuman masih mengembang di wajahnya. "Kalian
lihat?" kata Voldemort, ia mulai berjalan
hilir-mudik di dekat tubuh Harry. "Harry Potter sudah mati!
Kalian mengerti sekarang, orang-orang yang teperdaya? Dia bukan apa-apa, tak
pernah apa-apa, hanya anak yang mengandalkan orang lain untuk berkorban
baginya!"
"Dia mengalahkanmu!" teriak Ron, dan mantra pun pudar,
para pembela Hogwarts berteriak-teriak dan menjerit-jerit lagi sampai letusan
kedua, yang lebih hebat, memadamkan suara mereka sekali lagi.
"Dia terbunuh sewaktu berusaha menyelinap kabur dari halaman
kastil," kata Voldemort, dan ada sukacita dalam suaranya untuk kebohongan
ini, "Terbunuh selagi mencoba menyelamatkan
diri--"
Sebelum siapapun bisa
menghentikannya, Neville berlari maju ke depan dengan tongkat terangkat.
Jeritan kembali terdengar saat Neville jatuh ke tanah dengan tongkat yang sudah
terlucuti darinya.
"Dan siapa ini?" Tanya
Voldemort, dalam desis ularnya yang lembut. Ia membuang
tongkat Neville yang bari ia lucuti tadi. "Siapa
yang telah bersukarela mendemonstrasikan apa yang terjadi kepada mereka yang
terus melawan ketika sudah kalah perang?"
Bellatrix tertawa senang. "Itu
Neville Longbottom, Yang Mulia! Anak yang selama ini memberi begitu banyak
kesulitan kepada kakak-beradik Carrow! Anak pasangan Auror itu, ingat?"
"Ah, ya, aku ingat."
Kata Voldemort, menunduk memandang
Neville, yang sedang berusaha bangun, tanpa senjata dan tanpa perlindungan,
berdiri di tanah-takbertuan di antara mereka yang selamat dan para Pelahap
Maut. "Tapi kau berdarah-murni, kan, anak pemberani?" Voldemort
menanyai Neville, yang berdiri menghadapinya, tangannya yang kosong mengepal dalam
tinju.
"Jadi, kenapa kalau ya?" kata Neville keras.
"Kau menunjukkan semangat, dan keberanian, dan kau dari
keturunan bangsawan. Kau akan menjadi Pelahap Maut yang sangat berharga. Kami
membutuhkan orang seperti kau, Neville Longbottom."
"Aku akan bergabung denganmu kalau neraka membeku," kata
Neville. "Laskar Dumbledore!" dia berteriak, dan terdengar sorak
balasan dari kerumunan, yang tampaknya tak bisa dikuasai mantra pembisu
Voldemort.
"Baiklah," kata Voldemort. “Kalau itu pilihanmu, Longbottom, kita kembali ke rencana semula.
Siap-siap kehilangan kepalamu, kalau begitu," katanya pelan. Ia lalu
melambaikan tangannya dan Nicole bisa mengenali apa yang terbang mendekati
Voldemort, benda yang ia lihat sejak ia kecil di kantor kakeknya, yang
memberikan pedang leluhurnya saat ia berumur 7 tahun, Topi Seleksi.
"Tak akan ada lagi Seleksi di Sekolah Hogwarts," kata
Voldemort. "Tak akan ada lagi asrama-asrama. Lambang, perisai, dan warna
leluhurku yang mulia, Salazar Slytherin, akan mencukupi bagi semuanya, bukankah
begitu, Neville Longbottom?"
Dia mengacungkan tongkat sihirnya ke arah Neville, yang langsung
menjadi kaku dan diam, kemudian memaksakan Topi ke kepala Neville, sehingga
Topi itu merosot sampai ke bawah matanya. Nicole sudah tidak tahan lagi, namun
ketika ia baru saja hendak mengangkat tongkatnya, yang anehnya hampir bersamaan
dengan yang lain, para Pelahap Maut sudah mengarahkan tongkat mereka ke arah
para pejuang Hogwarts.
“Diam di tempatmu Nicole Ravensdale.” Kata Voldemort. “Aku
menghargaimu karena kau adalah keturunan pendiri Hogwarts, sama sepertiku.”
Suaranya yang licin membuat Nicole ingin muntah. “Aku akan mengurusmu sendiri
nanti.”
Voldemort menoleh ke arah para pengikutnya, “Itu
berarti ia adalah targetku, jangan ada yang membunuhnya.”
Nicole merasakan tubuh Oliver dan Elly menegang di
kanan dan kirinya. Nicole sendiri merinding, namun ia berhasil mengumpulkan
kekuatannya.
“Bagus, kalau begitu aku yang mendapat kehormatan
dalam membunuhmu.”
Voldemort tertawa mendengar jawaban Nicole. “Bagus
sekali. Bagus.” Ia lalu kembali menoleh ke arah Neville. "Neville
ini sekarang akan mendemonstrasikan apa yang terjadi pada siapa pun yang cukup
bodoh untuk terus melawanku," kata Voldemort, dan dengan jentikan tongkat
sihirnya, dia membuat Topi Seleksi berkobar menyala.
“Tidak!” Jeritan terdengar
dimana-mana, dan yang paling jelas adalah jeritan kesakitan Neville. Namun
sebelum ada yang sempat bertindak, terdengar kegaduhan dimana-mana. Rombongan
besar penduduk Hogsmeade menyerbu masuk dengan teriakan perang mereka, para
centaur dari Hutan Terlarang, Grawp; raksasa si adik tiri Hagrid dan rombongan
besar Peri Rumah.
Memimpin pejuang Hogwarts,
Nicole berlari maju, melontarkan mantra-mantra pada setiap Pelahap Maut yang
bisa ia lihat. Elly, Oliver dan Kingsley menyusul, dan akhirnya pertarungan
besar-besaran di mulai kembali.
Neville terbebas dari
kutukan yang mengikat dirinya, entah bagaimana caranya. Pemuda ini menarik
keluar sebuah pedang dari Topi Seleksi yang jatuh dari kepala ke tangannya,
pedang perak dengan tatah batu delima, pedang Gryffindor. Dengan satu gerakan
mulus, Neville memenggal putus ular besar milik Voldemort, hocrux yang
terakhir.
“Harry! Dimana Harry!” Suara
terakan Hagrid bisa terdengar diantara keributan ini, namun tidak ada yang punya
waktu untuk membantunya. Pertarungan lama-kelamaan berpindah ke dalam Hogwarts,
dimana akhirnya bertempatkan di Aula Utama. Nicole sendiri menepati janjinya
dengan berhadapan langsung dengan Voldemort bersama Kingsley dan McGonagall,
menggantikan Slughorn yang terlempar ke dinding tadi.
“Kalian tidak bisa
menghentikanku!” Teriak Voldemort.
Tidak jauh dari tempat mereka
bertarung, Bellatrix juga sedang berduel dengan tiga orang
sekaligus: Hermione, Ginny, dan Luna, ketiganya berjuang sekuat tenaga, namun
Bellatrix seimbang dengan mereka, dan Kutukan Maut baru saja meluncur begitu dekat dengan Ginny sehingga
dia lolos dari kematian hanya dengan jarak beberapa senti.
"JANGAN ANAK PEREMPUANKU, KAU JAHANAM!"
Mrs Weasley melempar mantelnya sambil berlari, membebaskan
lengannya. Bellatrix berputar di tempat, tertawa terbahak-bahak melihat
penantang barunya. Elly berlari dan menyusul Mrs. Weasley.
Kedua wanita berambut merah itu berdiri tegak, siap menghadapi Bellatrix.
Sekarang hanya dua pertarungan besar yang berlangsung disana, Voldemort melawan
Kingsley-Nicole-McGonagall dan Bellatrix melawan Mrs.Weasley-Elly.
“Frustasi karena kehilangan adik tercintamu, Potter?”
Tawa Bellatrix sambil menghindari kutukan dari Elly. Elly sendiri tidak
menjawab dan terfokus pada mengalahnkan lawannya itu. Maka Bellatrix berpindah
dan mengejek Mrs. Weasley.
"Apa yang akan terjadi pada anak-anakmu kalau aku sudah
membunuhmu?" Bellatrix
meloncat-loncat selagi kutukan-kutukan Mrs. Weasley
menari-nari di sekelilingnya. "Ketika Mummy sudah pergi ke tempat yang
sama dengan Freddie?"
"Kau-tidak-akan-pernah-menyentuh-anak-anak-kami-lagi!"
teriak Mrs Weasley. Bellatrix tertawa terbahak-bahak, namun
mantra dari tongkat Elly, bersamaan dengan mantra dari Mrs. Weasley, mengenai
Bellatrix tepat di atas dadanya, di jantungnya pada saat yang bersamaan.
Senyum riang Bellatrix membeku, matanya tampak melotot, selama
sepersekian detik dia tahu apa yang terjadi, lalu dia terjungkal dan
orang-orang yang menonton bersorak riuh dan Voldemort memekik. Hal yang Nicole sadari setelahnya adalah ia terlempar kebelakang,
jatuh ke lantai dengan tangan kiri terlebih dahulu.
Kemurkaan Voldemort atas tumbangnya
letnannya yang terakhir dan terbaik meledak dengan kekuatan bom. Voldemort
mengangkat tongkat sihirnya dan mengarahkannya kepada Elly.
“Tidak!” Teriak Nicole, dan beberapa orang sudah
bergerak hendak membantu ketika sebuah suara mengalahkan mereka semua.
“Protego!”
Mantra pelindung itu membatasi Elly dan Voldemort,
yang langsung mencari yang meluncurkan mantra itu. Betapa kagetnya mereka semua
ketika Harry muncul entah dari mana, pemuda itu pasti bersembunyi di bawah
jubah gaibnya. Sedetik kemudian teriakan-teriakan penuh semangat membahana di
Aula Utama itu.
“Harry! Itu Harry!”
“Dia masih hidup!!”
Namun semua kembali sunyi senyap ketika Harry dan
Voldemort bertukar tatapan penuh kebencian dan keduanya mulai mengitar.
"Aku tak ingin siapa pun mencoba membantu," kata Harry
keras-keras, dan dalam keheningan total suaranya membahana seperti tiupan
trompet. "Memang harus begini. Harus aku."
Voldemort mendesis."Potter tidak bermaksud begitu,"
katanya, mata merahnya melebar. "Itu bukan cara kerjanya, kan? Siapa yang
akan kaupakai sebagai tameng hari ini, Potter?"
"Tak seorang pun," kata Harry sederhana. "Tak ada
lagi Horcrux. Hanya kau dan aku: Tak seorang pun bisa hidup selama yang lain
bertahan, dan salah satu dari kita akan pergi untuk selamanya..."
"Salah satu dari kita?" ejek Voldemort, seluruh tubuhnya
tegang dan mata merahnya mendelik, ular yang siap memagut. "Menurutmu itu
kau, bukan, anak yang telah berhasil selamat secara kebetulan, dan karena
Dumbledore mempergunakan pengaruhnya?"
"Kebetulankah namanya ketika ibuku mati untuk
menyelamatkanku?" tanya Harry. Mereka masih bergerak menyamping, keduanya,
dalam lingkaran yang sempurna, mempertahankan jarak yang sama dari yang lain,
dan bagi Harry tak ada wajah lain yang ada selain wajah Voldemort. "Kebetulan, ketika aku memutuskan
melawan di makam itu? Kebetulan, bahwa aku tidak mempertahankan diri malam ini,
dan masih selamat, dan kembali untuk bertempur lagi?"
"Kebetulan!" teriak Voldemort, tetapi tetap dia belum
menyerang, dan kerumunan yang menonton membeku, seolah dibuat membatu, dan dari
ratusan orang di Aula, tak seorang pun tampaknya bernapas, kecuali mereka
berdua. "Kebetulan dan kesempatan dan fakta bahwa kau berjongkok dan
menangis tersedu di balik jubah orang-orang yang lebih besar, laki-laki dan
perempuan, dan membiarkanku membunuh mereka untukmu!"
"Kau tidak akan membunuh siapa-siapa lagi malam ini."
kata Harry, ketika mereka berkeliling, dan mata mereka saling tatap, mata hijau
ke dalam mata merah. "Kau tak akan bisa membunuh siapa pun, tak akan
pernah lagi. Tidakkah kau mengerti? Aku siap mati untuk menghentikanmu
mencelakai orang-orang ini--"
"Tapi kau tidak mati!"
"Aku berniat mati, dan justru itulah penyebabnya. Aku sudah
melakukan apa yang telah dilakukan ibuku. Mereka sudah terlindungi darimu.
Tidakkah kau memerhatikan bagaimana tak satu pun kutukan yang kauluncurkan
kepada mereka mengikat? Kau tak bisa lagi menyiksa mereka. Kau tak bisa
menyentuh mereka. Kau tidak belajar dari kesalahan-kesalahanmu, kan,
Riddle?"
"Beraninya kau--"
"Ya, aku berani," kata Harry. "Aku tahu hal-hal
yang tidak kauketahui, Tom Riddle. Aku tahu banyak hal penting yang tidak
kauketahui. Mau mendengar beberapa, sebelum kau membuat kesalahan besar
lain?"
Voldemort tidak bicara, melainkan mengendap-endap dalam lingkaran,
dan Harry tahu untuk sementara dia berhasil membuatnya terpesona dan tidak
menyerang, ditahan oleh kemungkinan amat samar bahwa Harry mungkin benar-benar
tahu rahasia terakhir...
"Apakah cinta lagi?" kata Voldemort, wajah ularnya
mencemooh. "Solusi favorit Dumbledore, cinta, yang dia nyatakan
mengalahkan kematian, meskipun cinta tidak mencegahnya terjatuh dari Menara dan
patah seperti boneka lilin tua? Cinta, yang tidak mencegahku menginjak mati
ibumu seperti kecoak, Potter--dan tak seorang pun tampaknya cukup mencintaimu
untuk berlari maju kali ini, dan menerima kutukanku. Jadi, apa yang akan
mencegahmu mati sekarang ketika aku menyerang?"
"Hanya satu hal," kata Harry, dan masih saja mereka
saling mengitari, sepenuh perhatian tertuju pada masing-masing, terpisahkan
hanya oleh rahasia terakhir.
"Kalau bukan cinta yang akan menyelamatkanmu kali ini;"
kata Voldemort, "kau pastilah yakin kau memiliki sihir yang aku tak punya,
atau kalau tidak, senjata yang jauh lebih hebat daripada senjataku?"
"Aku yakin dua-duanya," kata Harry, dan dia melihat
shock melintas di wajah mirip ular itu, meskipun seketika itu juga dihalau.
Voldemort mulai tertawa, dan bunyinya lebih mengerikan daripada
teriakan-teriakannya, tanpa keriangan dan gila, tawa itu bergaung di seluruh
Aula yang senyap.
"Kaupikir kau tahu lebih banyak sihir daripadaku?"
katanya. "Daripada aku, daripada Lord Voldemort, yang telah melakukan
sihir yang Dumbledore sendiri tak pernah memimpikannya?"
"Oh, dia memimpikannya;" kata Harry, "tetapi dia
tahu lebih banyak daripadamu, cukup tahu untuk tidak melakukan apa yang telah
kaulakukan."
"Maksudmu dia lemah!" pekik Voldemort. "Terlalu
lemah untuk berani, terlalu lemah untuk mengambil apa yang mungkin bisa jadi
miliknya, apa yang jadi milikku."
"Bukan, dia lebih pintar daripadamu," kata Harry, "penyihir yang jauh lebih baik, orang yang jauh lebih baik."
"Bukan, dia lebih pintar daripadamu," kata Harry, "penyihir yang jauh lebih baik, orang yang jauh lebih baik."
"Aku yang menyebabkan kematian Albus Dumbledore!"
"Kaukira begitu," kata Harry, "tapi kau
keliru."
Untuk pertama kalinya, kerumunan orang yang menonton bergerak
ketika ratusan orang di sekeliling dinding itu serentak menarik napas
bersamaan.
"Dumbledore sudah mati!" Voldemort melemparkan kata-kata
itu kepada Harry seolah mereka akan menyebabkan kesakitan tak tertanggungkan
baginya. "Tubuhnya membusuk dalam kubur pualam di halaman kastil ini, aku
sudah melihatnya, Potter, dan dia tidak akan kembali."
"Ya, Dumbledore sudah mati;" kata Harry tenang,
"tapi bukan kau yang membuatnya terbunuh. Dia memilih sendiri cara
kematiannya, memilihnya berbulan-bulan sebelum dia mati, mengatur segalanya
dengan orang yang kaupikir abdimu."
Nicole merasakan nafasnya tertahan. Gadis itu sudah
berhasil berdiri dan menjadi salah satu yang menonton pertarungan itu dari
dekat, bersama Elly.
"Impian kanak-kanak apa pula ini?" kata Voldemort,
tetapi tetap saja, dia tidak menyerang, dan mata merahnya tidak beranjak dari
mata Harry.
"Severus Snape bukan milikmu," kata Harry. "Snape milik
Dumbledore. Milik Dumbledore sejak saat kau memburu ibuku. Dan kau tak pernah
menyadarinya, karena hal yang tidak bisa kau mengerti. Kau belum pernah melihat Snape membuat Patronus, kan,
Riddle?"
Nicole bisa merasakan badan Elly menegang di sebelahnya, namun ketika ia
menoleh, ia bisa melihat air mata Elly mengalir. Kelegaan mengaliri putri dari
keluarga Potter itu. Adiknya masih hidup, masih baik-baik saja, dan walinya
tidak pernah berkhianat, dan mati setelah melaksanakan tugasnya demi
menjatuhkan Voldemort. Fakta itu saja sudah cukup untuk membuat tubuh gadis itu
dialiri kehangatan.
Voldemort tidak menjawab Harry. Mereka berdua melanjutkan saling
mengitari, seperti serigala yang siap saling mencabik-cabik.
"Patronus Snape rusa betina," kata Harry, "sama seperti
Patronus ibuku, karena dia mencintainya hampir sepanjang hidupnya, sejak mereka
masih kecil. Kau mestinya menyadarinya," katanya, ketika dilihatnya cuping
hidung Voldemort melebar, "dia memintamu menyelamatkan nyawa ibuku,
kan?"
"Dia menginginkan perempuan itu, hanya itu," cemooh Voldemort,
"tapi setelah dia pergi, Snape setuju masih banyak perempuan lain, dan
darah mereka lebih murni, lebih layak baginya--"
"Tentu saja dia bilang begitu kepadamu," kata Harry, "tapi
dia menjadi mata-mata Dumbledore sejak saat kau mengancam ibuku, dan dia
bekerja menentangmu sejak saat itu! Dumbledore memang sudah sekarat ketika
Snape menghabisinya!"
"Tak jadi soal!" jerit Voldemort, yang telah mengikuti setiap
kata dengan perhatian penuh, namun sekarang mengeluarkan kekeh tawa gila.
"Tak jadi soal apakah Snape milikku atau milik Dumbledore, atau
rintangan-rintangan remeh yang mereka coba pasang di jalanku! Aku meremukkan
mereka seperti aku meremukkan ibumu, yang katanya cinta abadi Snape! Oh, tapi
itu membuat semuanya masuk akal, Potter, dan dalam cara-cara yang kau tidak
mengerti!
"Dumbledore berusaha mencegahku memiliki Tongkat Sihir Elder! Dia
memaksudkan Snape-lah yang harusnya menjadi pemilik sah tongkat itu! Tapi aku
tiba di sana lebih dulu darimu, anak kecil--aku mengambil tongkat itu sebelum
kau bisa menyentuhnya, aku memahami kebenarannya sebelum kau menyusul. Kubunuh
Severus Snape tiga jam yang lalu, dan Tongkat Sihir Elder, Tongkat Sihir Maut,
Tongkat Sihir Takdir, sekarang benar-benar milikku! Rencana terakhir Dumbledore
berjalan keliru, Potter."
"Yeah, memang," kata Harry. "Kau benar. Tetapi sebelum kau
mencoba membunuhku, kusarankan kau memikirkan apa yang telah kaulakukan...
pikirkan, dan usahakan ada penyesalan, Riddle..."
"Apa ini?"
Dari semua hal yang telah Harry katakan kepadanya, melebihi segala
pencerahan ataupun celaan, tak ada yang membuat Voldemort shock seperti ini.
Harry melihat pupil matanya menyipit menjadi garis, melihat kulit di sekitar
matanya memutih.
"Ini kesempatan terakhirmu," kata Harry, "hanya ini yang
tersisa bagimu... aku sudah melihat kau akan seperti apa kalau tidak... jadilah
laki-laki sejati... usahakan... usahakan ada penyesalan..."
"Beraninya kau--?" kata Voldemort lagi.
"Ya, aku berani," kata Harry, "karena rencana terakhir
Dumbledore tidak merugikanku sama sekali. Justru rencana itu merugikanmu,
Riddle."
Tangan Voldemort gemetar pada Tongkat Sihir Elder dan Harry menggenggam
tongkat sihir Draco sangat erat. Saatnya, dia tahu, hanya tinggal beberapa
detik lagi.
"Tongkat itu tetap tidak akan berfungsi dengan benar untukmu, karena
kau membunuh orang yang salah. Severus Snape tak pernah jadi pemilik sebenarnya
Tongkat Sihir Elder. Dia tak pernah mengalahkan Dumbledore."
"Dia membunuh--"
"Apakah kau tidak mendengarkan? Snape tak pernah mengalahkan
Dumbledore! Kematian Dumbledore sudah direncanakan di antara mereka! Dumbledore
bermaksud mati tak terkalahkan, pemilik sah terakhir tongkat sihir itu! Jika
semua berjalan sesuai rencana, kekuatan tongkat itu akan mati bersamanya,
karena tongkat itu tak pernah dimenangkan darinya!"
"Tapi kalau begitu, Potter, Dumbledore sama saja dengan memberiku
tongkat itu!" suara Voldemort gemetar dengan kesenangan dengki. "Aku
mencuri tongkat ini dari kuburan pemilik terakhirnya! Aku mengambilnya di luar
kemauan pemilik terakhirnya! Kekuatannya sekarang milikku!"
"Kau masih belum mengerti rupanya, Riddle? Memiliki tongkat sihir
itu tidak cukup! Memegangnya, menggunakannya, tidak membuat tongkat itu
benar-benar milikmu. Tidakkah kau mendengarkan Ollivander? Tongkat sihir
memilih penyihirnya... Tongkat Sihir Elder mengenali majikan yang baru sebelum
Dumbledore mati, orang yang bahkan belum pernah menyentuhnya. Majikan baru ini
mengambil tongkat ini dari Dumbledore di luar kemauannya, tak pernah menyadari
apa persisnya yang dilakukannya, atau bahwa tongkat sihir paling berbahaya
sedunia telah memberinya kesetiaannya..."
Dada Voldemort naik-turun dengan cepat, dan Harry bisa merasakan
kutukannya akan datang, merasakan kutukan itu sedang terbangun dalam tongkat
sihir yang diacungkan ke wajahnya.
"Pemilik sah Tongkat Sihir Elder adalah Draco Malfoy."
Shock ketidakmengertian terlihat di wajah Voldemort sesaat, tapi kemudian
menghilang.
"Tapi apa urusannya?" katanya pelan. "Kalaupun kau benar,
Potter, tak ada bedanya bagimu dan bagiku. Kau tak lagi memiliki tongkat sihir
phoenix: kita berduel berdasarkan kecakapan belaka... dan setelah aku
membunuhmu, aku bisa membereskan Draco Malfoy..."
"Tapi kau terlambat," kata Harry. "Kau sudah kehilangan
kesempatanmu. Aku tiba di sana lebih dulu. Aku mengalahkan Draco
berminggu-minggu lalu. Aku mengambil tongkat sihir ini darinya."
Harry menjentikkan tongkat sihir hawthorn, dan dia merasakan mata semua
orang di Aula tertuju pada tongkat itu.
"Jadi, segalanya tergantung ini, kan?" bisik Harry.
"Apakah tongkat sihir di tanganmu tahu pemiliknya yang terakhir sudah
dilucuti senjatanya? Sebab kalau dia tahu... akulah pemilik sebenarnya Tongkat
Sihir Elder itu."
Pendar merah keemasan tiba-tiba menebar di langit sihir di atas mereka,
ketika tepi matahari yang menyilaukan muncul di atas ambang jendela terdekat.
Cahayanya menimpa wajah mereka berdua pada saat bersamaan, sehingga wajah
Voldemort mendadak menjadi kabur menyala. Harry mendengar suara tinggi itu
memekik ketika dia, juga, meneriakkan harapannya yang terbaik ke langit,
mengacungkan tongkat sihir Draco:
"Avada Kedavra!"
"Expelliarmus!"
Letusannya seperti ledakan meriam dan lidah api keemasan yang
berkobar di antara mereka, persis di pusat lingkaran yang mereka tapaki,
menandai tempat kedua mantra itu bertabrakan. Cahaya merah
bertemu dengan cahaya hijau dengan latar belakang sinar matahari terbit.
Pertarungan yang berlangsung sepanjang malam itu menarik perhatian penuh dari
setiap orang sehingga tidak ada yang menyadari bahwa hari telah berganti.
Mendadak, cahaya merah bergerak maju dan menyambar
Voldemort, membuat tongkatnya terbang dan di tangkap dengan cekatan oleh Harry.
Voldemort jatuh terjengkang, lengannya merentang, mata merahnya
terbalik ke atas. Tom Riddle menghantam lantai seperti nasib orang biasa,
tubuhnya lemah dan mengkeret, tangan putihnya kosong, wajahnya yang mirip ular
hampa dan tak tahu apa-apa. Voldemort sudah mati, terbunuh oleh kutukannya yang
berbalik, dan Harry berdiri dengan dua tongkat sihir di tangannya, menunduk
memandang jasad musuhnya.
Sedetik kesenyapan yang gemetar, shock atas kejadian itu
menggantung: dan kemudian kegemparan pecah. Semua orang
berlari menuju Harry, teriakan dan sorakan kemenangan terdengar dimana-mana.
Namun Nicole tidak ikut dalam kerumunan. Gadis itu berjalan pergi dengan
perlahan, bahkan Oliver pun tidak menyadari kepergian gadis itu.
Nicole berjalan ke arah ruang kepala sekolah, yang
sama sekali tidak di jaga karena patung Gargoylenya sudah rusak.
“Benarkah yang kami dengar?”
“Voldemort sudah kalah?”
Ratusan pertanyaan terdengar saat Nicole memasuki
ruangan. Seluruh kepala sekolah di pigura menatap Nicole dengan padandangan
penasaran. Nicole hanya mengangguk dan tersenyum sebelum menatap pigura
kakeknya.
“Semua sudah selesai.” Katanya, lebih di tujukan untuk
kakeknya daripada pertanyaan-pertanyaan tadi. Kakeknya tersenyum padanya.
“Kerja bagus Nicole sayang.”
Nicole mengangguk, “Walaupun Harrylah yang berperan
banyak.”
“Aku tetap bangga padamu.”
Nicole merasa dirinya ingin menangis, namun ia menahannya.
“Terima kasih kakek.”
Mendadak tepukan tangan menghiasi ruangan itu, Nicole
menoleh dan mendapati Harry, Ron dan Hermione memasuki ruangan kepala sekolah.
Dengan senyuman mengembang, Nicole ikut bertepuk tangan.
“Maaf. Kami mengganggu ya?” Tanya Harry. Nicole
menggeleng.
“Tidak. Aku baru saja selesai.” Nicole berjalan menuju
pintu keluar, berbalik untuk melihat kakeknya sekali lagi. “Sampai nanti,
kakek.”
“Sampai nanti Nicole.”
Ketika gadis itu akhirnya menuruni tangga, sepasang
tangan menariknya kedalam pelukan. Oliver memeluk Nicole dengan erat, yang
jelas di balas oleh gadis itu. Kelegaan membanjiri mereka berdua.
“Semua sudah selesai.” Kata Oliver. Nicole mengangguk.
Mendadak suara gaduh terdengar dan George, Elly, Feli
dan Lee berlari ke arah mereka. Tertawa dan memeluk secara bersamaan. Kelegaan
membanjiri mereka, mereka berhasil mengalahkan Voldemort dan memenangkan
perang. Ya mereka menang, walaupun dengan harga yang mahal.
Tapi mereka masih disana, walau dengan luka yang tidak
akan sembuh, semuanya sudah selesai, dan selanjutnya akan baik-baik saja.
Ya, semua akan baik-baik saja.
***TBC***
A/N : The longest chapter!! Walau
banyak yang saya ambil dari novel aslinya.
Dan sehabis ini masih ada chapter
terakhir, epilogue~~
Anyway, mohon maaf apabila ada
kesalahan *bows*
Original Plot by : Our Queen, JK Rowling
The ‘new’ plot Made
by : Liz
Take out with full credits please~ ^^
Langganan:
Komentar (Atom)
