Disclaimer : BTS and all Kpop artists are not mine.
Jimin will be soon though (lol kidding).
OC belongs to their rightful owner, while the plot is
mine.
Genre :
Romance, Friendship, Comedy, Fluff
"You’re My"
Chapter 8 :
My Protection
"Itu tidak bijaksana."
Haneul menoleh ke arah counter dan
menatap Jimin. Cafe sudah sepi dan saat itu Haneul sedang membersihkan meja
dari pelanggan terakhir. Pemuda yang di tatap Haneul itu memang menepati
janjinya dan bekerja hingga akhir walau adiknya tadi terkena masalah dengan
anggota kelompoknya sendiri.
"Apanya yang tidak
bijaksana?" Jawab Haneul seraya menegakkan tubuhnya dan membawa
gelas-gelas kosong ke dalam dapur. Jimin mengikuti gadis itu dan berdiri
bersandar di pintu sementara Haneul mencuci gelas-gelas yang kosong itu.
“Tindakanmu terhadap Jackson tadi. Kau
hanya mencari masalah dengan berkata begitu padanya.” Kata Jimin. Nada dalam
perkataannya berbeda dari biasanya, apakah ia mengkhawatirkan Haneul? Gadis itu
tidak bisa menebak nada bicara pemuda itu.
“Tenang saja, ia tidak akan berani
melakukan apapun. Aku sudah mengancamnya.” Jawab Haneul tanpa menoleh dari
cuciannya sehingga tidak melihat Jimin mengacak-acak rambutnya karena frustasi.
“Bukan itu maksudku.”
Haneul menoleh seraya mengeringkan
tangannya, “Lalu?” Gadis itu tidak menunggu jawaban dari pemuda itu dan
berjalan melewatinya, menuju counter depan. Jimin mengeluarkan erangan frustasi
dengan volume yang kecil dan bergumam pelan sehingga hanya ia yang tahu apa
yang ia katakan.
“Aku hanya tidak ingin melihat kau
terluka..”
***
Shin Dongho membanting tangannya ke meja makan di mana
ia dan saudara kembarnya sedang beristirahat di jam makan siang. Taehyung
mengernyit mendengar suaranya keras yang di sebabkan Dongho dan segera memukul
tangan saudaranya itu. Dongho malah semakin menatap Taehyung dengan tatapan
tajam dan sama sekali tidak bergeming saat di pukuli.
“Kau..bercanda..” Kata Dongho.
Taehyung mukul pipi Dongho dengan pelan, “Aku tidak
bercanda dan tolong jangan membesar-besarkan hal ini.” Kata pemuda itu dengan
nada pelan walau cengiran jahilnya terpasang di wajahnya. Mata Dongho semakin
melebar dan tampaknya ia sudah siap berteriak keliling sekolah karena hal itu.
“Tunggu sampai Haneul tahu..” Kata Dongho akhirnya
serasa mengacungkan jari telunjuknya ke muka Taehyung.
“Sampai aku tahu apa?” Haneul mendadak muncul dan
duduk di sebelah Dongho, membuat pemuda itu melonjak terkejut. Pemuda itu lalu
menatap Haneul dengan tatapan protes karena gadis itu mendadak muncul di
belakangnya, yang tentu saja di abaikan oleh gadis yang bersangkutan.
Akhirnya Dongho menyerah berusaha memprotes Haneul dan
melirik Taehyung sebelum menatap Haneul lagi. "Kau tahu Haneul, Taehyung
punya pacar!" Setelah mengatakan hal itu, pemuda itu menunggu reaksi
terkejut Haneul yang ternyata tidak muncul-muncul. Gadis itu hanya mengangguk
dan menatap Dongho seakan-akan ia hanya memberi tahu cuaca hari itu.
"Lalu?" Tanya Haneul.
Tanpa sadar, Dongho membuka mulutnya selama beberapa
saat, terkejut melihat reaksi Haneul yang biasa saja itu. "K-kau tidak
terkejut?!" Kata pemuda itu. Pada akhirnya yang kaget tetaplah Shin
Dongho.
"Taehyung memberi tahuku kemarin."
Mulut Dongho terbuka lebih lebar dari sebelumnya. Ia
lalu menoleh ke arah Taehyung dengan pandangan marah dan tersinggung. "Kau
memberi tahu Haneul lebih dahulu daripada diriku?!"
"Itu karena Haneul lebih bisa di percayai soal
hal ini." Jawab Taehyung, cengiran riang yang iseng miliknya sudah kembali
setelah menghilang beberapa lama akibat berita Jina berpacaran dengan Jackson.
Dongho mengerang protes, yang membuat kedua temannya malah semakin geli dengan
tingkah pemuda itu.
Jam makan siang pun selesai, Haneul harus kembali ke
kelasnya sementara Taehyung mempunyai janji dengan Jina dan jadilah Dongho di
tinggal sendiri. Pemuda itu dengan bosan mengitari kampusnya, malas untuk
pulang ke rumah namun tidak memiliki kegiatan apapun di kampusnya. Mendadak
sesosok yang familiar tertangkap pandangan matanya. Park Soojin sedang
mengobrol bersama seorang pemuda yang Dongho kenali sebagai Kim Seokjin, sepupu
Haneul dan sang 'pangeran kampus' berikutnya setelah ia dan Taehyung lulus.
Otomatis Dongho berhenti di bawah tangga, dimana di
ujung tangga itu berdiri Soojin yang sedang tertawa bersama Jin. Ia tidak
bermaksud menguping atau apapun, namun entah mengapa ia merasa tidak senang
ketika Soojin sedekat itu dengan Jin, walau dia seharusnya tidak mempunyai hak
untuk hal itu. Tidak lama kemudian Jin menatap jam tangannya dan melambai
kepada Soojin sebelum berjalan pergi, yang membuat Dongho, entah mengapa,
senang melihatnnya.
"Oi." Kata Dongho, menyapa Soojin yang masih
berada di atas tangga. Gadis yang di panggil menoleh dan setelah menemukan
sumber suara, ekspresi wajahnya berubah kesal.
"Kau menguping?"
Dongho nyengir dan mulai menaiki tangga. "Itukah
caramu menyapa seorang senior?" Pemuda itu hanya berhenti beberapa anak
tangga di bawah Soojin dan memasukan kedua tangannya ke kantong celananya.
"Kau berteman baik dengan Seokjin?" Lanjut pemuda itu seraya
menggerakkan kepalanya dengan asal ke arah yang sama dengan arah Jin pergi
tadi.
Soojin menatap tajam Dongho sebelum mengangguk
perlahan. "Kau mengenal Jin? Memangnya kenapa kalau aku dekat
dengannya?" Balas Soojin, dengan nada yang sinis pula. Bukannya merasa
tertekan ketika mendengar nada Soojin, cengiran Dongho malah semakin lebar.
"Ia sepupu dari Haneul, aku melihatnya beberapa
kali di pesta yang ku datangi." Jawab Dongho, setengah menyombong bahwa
dia adalah orang penting dari keluarga ternama.
"Sepupu dari Haneul sunbae-nim?" Alis Soojin
terangkat. Ia memang pernah mendengar dari Jin kalau sepupu pemuda itu adalah
salah satu anggota SO, namun ia tidak menyangka sepupu sahabatnya itu
adalah salah satu calon ketua SO berikutnya.
Dongho naik satu langkah lagi, mendekati Soojin,
dengan cengiran lebar. “Kau tidak tahu? Wah wah..”
Kesal dengan tindakan pemuda itu, Soojin melangkah
turun, mendekati Dongho. Ekspresi wajah yang galak di pasangnya untuk
menghadapi seniornya yang satu itu. Namun baru saja ia melangkahkan satu
kakinya ke bawah, pijakannya goyah dan ia kehilangan keseimbangan. Otomatis
gadis itu memekik kaget dan hal itu juga membuat Dongho luar biasa kaget.
Soojin menutup matanya, mempersiapkan diri untuk terjatuh
berulang kali di tangga sebelum akhirnya tergeletak di lantai bagian bawah.
Pikiran-pikiran buruk sudah memenuhi kepalanya, apakah ia akan terluka arah
atau tidak? Bagaimana nasibnya nanti?, ketika akhirnya ia menyadari ia sama
sekali tidak terbentur lantai dingin ataupun merasa sakit, walaupun jelas ia
merasa jatuh ke bawah.
Perlahan namun pasti, akhirnya Soojin membuka kedua
matanya, dan hal pertama yang dia lihat adalah muka Shin Dongho. Pemuda itu
nyengir sarkastik namun jelas matanya menyiratkan kekhawatiran. Cairan berwarna
merah mengalir dari sekitar pelipisnya, membuat Soojin menahan keinginan untuk
berteriak.
“Hati-hati kalau berjalan lain kali, nona.” Kata
Dongho dengan nada yang sarkastik. “Kau tidak apa-apa kan?” Lanjutnya dengan
nada yang berbeda. Soojin tidak bisa menjawab dengan kata-kata, seakan-akan
kemampuannya untuk berbicara hilang selama sesaat. Namun gadis itu mengangguk,
dan hal itu sudah cukup untuk Dongho.
“Baguslah.”
Mata Dongho lalu tertutup dan Soojin langsung
menyadari apa yang baru saja terjadi. Dongho menangkapnya saat ia terjatuh tadi
dan melindunginya agar tidak terluka. Tangan pemuda itu masih terletak di
punggung Soojin, melindungi gadis itu walaupun sekarang ia sudah jelas pingsan.
Dengan cepat, namun berhati-hati agar tidak melukai
Dongho lebih jauh, Soojin berdiri dan segera berteriak meminta bantuan. Gedung
kampus saat itu cukup sepi dan Soojin sudah nyaris putus asa ketika ia
mendengar suara langkah kaki yang berlari mendekat. Gadis itu hampir terkena
serangan jantung ketika melihat muka yang sama persis dengan Dongho muncul dari
kejauhan. Shin Taehyung berlari mendekat, seakan-akan dia bisa menyadari
saudara kembarnya baru saja mengalami kecelakaan.
“Ada apa? Ada apa? Kenapa kau berteriak?” Kata
Taehyung seraya berlari mendekat. Muka pemuda itu memucat saat melihat
kembarannya tergeletak di lantai dengan kepala yang berdarah. Pemuda itu
langsung meneriakan nama kembarannya dan berlari melewati Soojin, ke arah
Dongho.
“Apa yang terjadi? Apa yang terjadi padanya?!” Suara
Taehyung meninggi karena panik, namun Soojin tidak bisa menjawab. Gadis itu
sudah siap menangis ketika suara langkah kaki kembali terdengar. Betapa leganya
Taehyung ketika wajah teman masa kecil mereka lah yang muncul. Haneul dan Mark
muncul dari atas tangga, keduanya membawa map SO.
“Haneul!!” Teriak Taehyung.
Haneul, yang belum melihat Dongho, mengernyit ketika
Taehyung berteriak kepadanya. Namun gadis itu kemudian melihat Dongho dan
ekspresi wajahnya memucat, sama seperti Taehyung. Mark juga melihatnya karena
dengan cepat ia mengambil map dari Haneul agar gadis itu bebas berlari turun ke
arah Dongho.
“Apa yang terjadi?” Tanya Haneul. Suaranya bergetar
namun gerak-geriknya mantab saat memeriksa luka Dongho.
“Tanya dia!” Kata Taehyung sambil menunjuk Soojin.
Jelas sekali pemuda itu panik karena melihat saudara kembarnya terluka.
“Aku.. aku..” Soojin terbata-bata.
"Sudah, jangan membentaknya." Kata Mark
seraya menyimpan kembali handphonenya. Pemuda itu dengan tanggap menelepon
ambulans untuk Dongho, mengingat kemungkinan besar Taehyung dan Soojin terlalu
panik untuk melakukan itu sementara Haneul terlalu sibuk memberikan pertolongan
pertama. Tidak lama kemudian Dongho sudah di bawa pergi dengan ambulans.
Taehyung dan Haneul ikut bersama pemuda itu sementara Mark tinggal untuk
mengurus perihal kecelakaan itu dengan pihak sekolah. Soojin sendiri berhasil
ikut bersama Taehyung dan Haneul setelah berhasil membujuk mereka berdua.
"Akan ku urus pembayaran dan hal lainnya."
Kata Haneul setelah Dongho sudah mendapat perawatan dan sekarang masih
terbaring pingsan di ranjang rumah sakit yang berwarna putih. Setelah berkata
begitu, gadis itu melangkah pergi dari kamar. Taehyung sendiri sudah pergi
duluan untuk menelepon orang tua mereka. Dan tinggalah Soojin sendirian
menemani Dongho.
Gadis itu sedang menatap tangannya yang terkepal di
pangkuannya ketika terdengar suara erangan Dongho yang menandakan pemuda itu
sudah sadar dari pingsannya. Dengan cepat gadis itu berdiri, membuat kursi yang
tadi ia duduki terjatuh ke belakang, dan mendekati Dongho dengan muka khawatir
terpasang di wajahnya.
"Ada apa dengan mukamu itu.." Kata Dongho.
Suaranya masih lemah namun nada sarkastik tidak menghilang dari suaranya.
Soojin terjebak antara ingin memeluk pemuda itu dan ingin meninjunya. Namun
gadis itu merasa lega mendengar suara Dongho, yang membuktikan bahwa pemuda itu
baik-baik saja.
Tanpa sadar air mata lega Soojin mengalir, dan melihat
hal itu Dongho malah menjadi panik. Pemuda itu memaksakan diri untuk duduk,
menyebabkan erangan kesakitan keluar dari mulutnya dan pemuda itu memegang
kepalanya dengan kedua tangannya.
"Kau masih belum sembuh benar!" Pekik Soojin
panik sementara Dongho masih memegangi kepalanya, kesakitan akibat tindakannya
sendiri tadi.
"Menurutmu kenapa aku melakukan itu?!" Balas
Dongho. Pemuda itu menatap tajam Soojin dengan tatapan kesal. "Karena kau
menangis seperti itu aku jadi panik!!"
Soojin tidak membalas selama beberapa saat, dan
kemudian gadis itu malah jatuh berlutut lalu melipat kedua lengannya di atas
kasur Dongho dan menyembunyikan mukanya di antara lengannya itu. Hal itu
membuat Dongho menghentikan tatapan kesalnya dan kembali menjadi panik.
"Hoy! Jangan menangis lagi!" Kata pemuda
itu, setengah bingung setengah panik dengan apa yang harus ia lakukan saat itu.
"Aku kira kau akan mati atau kenapa.." Gumam
gadis itu.
Dongho terhenyak sejenak, lalu pemuda itu meletakan
tangannya di atas kepala Soojin, membuat gadis itu mengangkat kepalanya dan
menatap Dongho. "Kau ini.." Kata Dongho dengan lembut seraya mengusap
pelan kepala Soojin. "Aku tidak selemah itu."
Soojin merasakan mukanya memerah. Gadis itu
menenggelamkan kepalanya lagi dan menggumamkan sesuatu. Namun suaranya terlalu
kecil sehingga Dongho harus memintanya mengulang kata-katanya. Bukannya
mengulang perkataannya dengan suara yang lebih jelas, Soojin malah berdiri,
mencium pipi Dongho dengan kecepatan kilat lalu berjalan ke arah pintu dan
menoleh tepat di ambang pintu, sebelum ia keluar dari ruangan.
"Kubilang, terima kasih telah menyelamatkanku,
Oppa."
Dongho berani bersumpah ia melihat muka Soojin memerah
sebelum gadis itu berlari keluar ruangan. Pemuda itu juga merasakan mukanya
memanas, seakan-akan sedang di rendam dengan air panas.
"Aaargh!!" Seru pemuda itu sambil menjatuhkan
dirinya hingga berbaring lagi di kasur. Namun bukan Shin Dongho namanya bila ia
tidak bertingkah bodoh. Kepala pemuda itu yang di balut perban terkena ujung
ranjang sehingga pemuda itu berguling ke kanan dan ke kiri di atas kasurnya
sambil kembali mengerang kesakitan.
***
Jeon Jungkook merapikan peralatannya yang berserakan
di atas meja. Pensil, penghapus, penggaris, semua peralatan untuk menggambar
miliknya berserakan di atas meja. Pemuda yang baru saja memulai tahun
pertamanya sebagai mahasiswa jurusan arsitektur itu menghembuskan nafas berat,
dosennya baru saja memberikannya tugas yang merepotkan, dan bahannya susah
untuk di dapatkan.
Setelah akhirnya berhasil merapikan semua barangnya ke
dalam tas, Jungkook meraih tasnya dan berjalan keluar dari gedung kampusnya. Ia
baru saja berjalan melintasi taman ketika dua sosok yang sedang duduk
berhadapan, yang di kenalnya menarik perhatiannya. Tanpa sadar senyumnya
mengembang di wajahnya dan kakinya melangkah ke arah dua orang itu, Park
Soojin, sepupunya dan tentu saja, Park Minra.
Soojin lah yang pertama kali menyadari bahwa Jungkook
sedang berjalan ke arah dirinya dan Minra. Mendadak sebuah ide iseng melintas
di pikirannya dan sebuah cengiran kecil muncul di mukanya, yang buru-buru ia
tutupi dengan batuk kecil. Minra sendiri sibuk menatap majalah yang ia dan
Soojin sedang baca sehingga tidak menyadari ada yang mendekati mereka.
“Ah, Jungkook!” Kata Soojin, membuat Minra terlonjak
kaget dan menoleh dengan cepat ke arah Soojin memandang. Jungkook juga terkejut
ketika sepupunya sendiri menyapa dengan tiba-tiba, namun pemuda itu langsung
melambaikan tangannya sebagai sapaan balik dan mempercepat langkahnya.
“Geser.” Perintah Soojin pada Minra, menyuruh gadis
itu memberikan ruang di sebelahnya untuk Jungkook.
Muka Minra memerah, "Kau saja yang geser.” Balas
gadis itu. Soojin hanya menggeleng dan terus menatap Minra dengan tajam
sehingga akhirnya gadis itu menggeser tempat duduknya dan memberikan tempat
tepat pada waktunya untuk Jungkook saat pemuda itu tiba di depan mereka.
“Hey.” Sapa pemuda itu dan dengan canggung ia duduk di
sebelah Minra, membuat Soojin harus menyembunyikan cengirannya dengan batuk
kecil lagi. "Kalian sedang apa?" Lanjut pemuda itu, berusaha
memancing percakapan.
"Membaca majalah yang baru kami beli tadi."
Jawab Soojin karena tampaknya Minra tidak bisa berkata-kata. Gadis itu lalu
pura-pura mengecek handphonenya lalu meraih tasnya dan bangkit berdiri.
"Aku harus pulang sekarang, kakakku memintaku pulang cepat. Sampai nanti!!"
Dan Soojin pun melesat pergi sebelum Minra dapat memprotes tindakan gadis itu.
Berkat ulah cerdik (dan iseng) dari Soojin, Minra
duduk bersebelahan, berdua saja, bersama Jungkook. Selama beberapa saat tidak
ada kata-kata yang tertukar di antara mereka, hanya ada keheningan yang
menggantung di udara. Hingga akhirnya Jungkook kembali berusaha memancing
percakapan dengan Minra.
“Bagaimana dengan kelasmu?” Tanya Jungkook dengan
senyuman gugup di mukanya. Pemuda itu menatap Minra walau gadis itu tidak
berani menatap balik dan hanya berani mencuri-curi pandang dengan
sembunyi-sembunyi.
“Berjalan seperti biasa, bagaimana denganmu?” Kata
Minra. “Sudah mulai terbiasa dengan kehidupan di universitas ini?”
Jungkook mengangguk dan tertawa kecil, “Lumayan, walau
masih agak berat untuk membiasakan diri.” Ia pun mulai bercerita dan lama-lama
Minra tidak menjadi terlalu canggung lagi duduk di sebelah pemuda itu. Bahkan
Minra sudah mulai gantian menceritakan kehidupan sekolahnya, yang membuat
Jungkook menatap gadis itu dalam diam, walau senyumannya tidak pernah
meninggalkan wajahnya.
Minra menyadari tingkah pemuda itu. Gadis itu berhenti
bercerita dan menatap Jungkook dengan bingung. “Ada apa?” Tanya Minra.
Mengetahui bahwa ia tertangkap basah sedang menatap muka Minra, muka Jungkook
berubah menjadi merah dan menggeleng dengan cepat.
“Tidak ada apa-apa, lanjutkan lah.” Kata Jungkook
seraya membuang muka selama beberapa saat, berusaha membuat ekspresi mukanya
kembali normal. Minra tidak melanjutkan dan malah tetap melihat Jungkook.
“Kau yakin tidak apa-apa?” Kata gadis itu. Jungkook
berulang kali mengangguk dengan bersemangat, kelewat bersemangat sebenarnya,
agar Minra berhenti menatapnya seperti itu. Ia bisa merasakan mukanya memanas
dengan cepat.
Jantung Jeon Jungkook nyaris berhenti ketika Minra
meletakan satu tangannya di kening pemuda itu dan tangan lainnya di kening
miliknya sendiri. Gadis itu mengecek suhu pemuda yang berada di sebelahnya itu,
khawatir pemuda itu terkena demam. Dan bukannya bertambah sembuh, muka Jungkook
malah semakin memerah.
“Aneh, tampaknya kau tidak demam.” Kata Minra, masih
tidak menyadari bahwa dialah penyebab muka pemuda disebelahnya memerah.
Jungkook kehilangan kata selama beberapa saat, dan hanya bisa mengangguk saja
sebagai jawaban untuk Minra.
“Ngomong-ngomong!” Jungkook tiba-tiba berkata dengan
suara yang cukup keras, membuat Minra terlonjak kecil. “Kau ada waktu minggu
ini?”
“Minggu ini? Sepertinya ada..” Jawab Minra sejujurnya.
“Bagus. Maukah kau pergi bersamaku minggu ini?”
Perlu lima detik bagi Park Minra untuk menyadari
maksud Jungkook kepadanya. Muka gadis itu otomatis memerah ketika menyadari apa
yang baru saja Jungkook katakan. Apakah pemuda itu baru saja mengajaknya
kencan?
“K-kalau kau tidak mau juga tidak apa-apa.” Kata
Jungkook dengan cepat ketika Minra tidak menjawab. “A-aku hanya berpikir,
mungkin.. err.. kau..err..” Pemuda itu berpikir keras, mencari alasan untuk
mengajak Minra jalan-jalan. “Oh! Aku hanya berpikir kau mungkin bisa membantuku
membeli peralatan kuliah.. Tapi kalau kau sibuk—“
“Aku mau!”
Kata-kata Jungkook terhenti dan kali ini dia yang
membutuhkan waktu lima detik untuk memahami kata-kata Minra. Senyuman lebar
mengembang di wajahnya. “Kalau begitu, di depan stasiun jam 9?” Dan Minra
mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Jungkook tadi.
Tanpa menghilangkan senyuman lebar dari wajahnya,
Jungkook berdiri dan mengedip riang. “Sampai ketemu nanti kalau begitu, Park
Minra.” Dan pemuda itu berjalan pergi dengan senyuman yang seakan-akan masih
akan bertahan hingga hari minggu, hari minggu yang akan menjadi hari yang paling
di tunggu-tunggu oleh Park Minra dan Jeon Jungkook.
***
Musik pelan mengalun dengan indah di dalam cafe milik
Park Joongki itu. Hari ini adalah hari anniversary dari cafe itu dan sekarang
sang pemilik sedang mengadakan pesta kecil yang tertutup, hanya untuk kalangan
tertentu yang di undang. Tentu saja yang di undang bisa membawa orang lain ke
pesta kecil itu. Park Haneul adalah salah satu dari orang yang di minta Joongki
untuk hadir. Ia dan semua pegawai lainnya.
Bahkan Dongho dan Taehyung juga ada di dalam pesta
kecil itu, dan dengan jelas menarik perhatian semua gadis yang ada. Taehyung
tentu saja tidak mempedulikan gadis manapun dan hanya memandang pacarnya, Jina.
Dongho sendiri sibuk menarik perhatian Soojin, walau gadis itu berusaha keras
mengabaikan pemuda itu.
“Sejak kapan teman masa kecilmu mendekati adikku.”
Park Joongki bersandar di meja, di sebelah Haneul yang sedang menatap
sekeliling seraya memegang minuman miliknya. Haneul tertawa kecil, bossnya itu
memang sangat protective terhadap adik kesayangannya. Haneul sendiri melihat
bahwa Dongho dan Soojin menjadi semakin dekat sejak kejadian kecelakaan Dongho
itu.
Dongho bercanda lalu akhirnya Soojin tertawa dan mulai
mengobrol bersama pemuda itu, membuat Joongki menggumam kesal dan mulai
mendekati adiknya dan pemuda itu. Haneul hanya bisa menggeleng dan menyesap
minumannya kembali lalu segera menaruhnya di meja. Ia tidak bisa minum alkohol
dengan baik dan minumannya itu mengandung alcohol. Nyaris semua minuman disana
beralkohol di pesta itu. Joongki sengaja mengaturnya seperti itu.
Haneul baru saja akan duduk ketika Jaemee mendekati
gadis itu dengan muka panik. “Penyanyi yang kita pesan mendadak tidak bisa
hadir, bagaimana ini?” Kata Jaemee. Teman Haneul itu tahu bahwa Joongki bisa
mengamuk jika tidak ada penyanyi yang mengisi acara.
“Akan kuurus.” Jawab Haneul. Kepalanya sudah mulai
pusing akibat dari minumannya tadi. “Akan kucari penyanyi lain.” Dan entah
mengapa, yang pertama muncul di pikiran gadis itu adalah Park Jimin. Namun
pemuda yang dimaksud itu tidak kelihatan sama sekali sejak Haneul melihatnya
datang bersama Jina. Dengan cepat Jimin menghilang dari kerumunan orang-orang
begitu pesta di mulai.
“Aku akan segera kembali.” Kata Haneul pada Jaemee dan
gadis itu pun membelah kerumunan, mencari Jina yang ternyata juga tidak tahu
dimana kakaknya berada. Setelah beberapa saat, akhirnya Haneul menyimpulkan
bahwa Jimin tidak berada di dalam cafe itu dan memutuskan untuk mencari pemuda
itu di luar cafe.
Pesta di mulai sore hari sehingga ketika Haneul
keluar, langit sudah gelap dan jalanan sudah cukup sepi. Alkohol diminumannya
tadi pasti cukup kuat, atau memang hari ini dia tidak fit sehingga pikirannya
tidak bekerja dengan jernih. Gadis itu mengomel pelan mengenai minumannya tadi,
ia seharusnya tidak menerima sodoran dari si kembar yang memaksanya minum tadi.
"Park Jimin! Aku tahu kau di sekitar sini!"
Kata Haneul dengan suara yang cukup keras. Ia tahu Jimin tidak akan jauh-jauh
dari cafe sementara adik kesayangannya masih berada disana. Haneul menunggu
selama beberapa saat sebelum meneriakan kata-kata yang sama lagi hingga
akhirnya pemuda yang ia panggil muncul juga, dengan muka sedikit kesal.
"Apa?" Kata pemuda itu dengan kesal. Haneul
berkacak pinggang dan balas menatap dengan tajam.
"Disitu kau rupanya. Kabar buruk, penyanyi yang
kita sewa mendadak tidak bisa datang." Kata Haneul.
"Lalu?"
"Aku mengusulkan kau saja yang menyanyi."
Ekspresi Jimin seakan-akan ia baru saja menerima
musibah besar. Pemuda itu berjalan dengan cepat ke arah Haneul dan setengah
membanting gadis itu ke dinding terdekat. "Kau memberi tahu orang lain
tentang hal itu?" Suara pemuda itu dipenuh kemarahan. Haneul menepis
tangan Jimin di pundaknya lalu mendorong pemuda itu, walau sia-sia karena Jimin
tidak mau bergerak dari tempatnya.
"Tidak. Aku tidak bilang pada siapapun. Tapi aku
masih berpikir bahwa kau bisa menjadi penyanyi yang hebat." Jawab Haneul
dengan tenang, walau kepalanya mulai berdenyut sakit. "Setidaknya jadilah
penyanyi di acara ini."
"Tidak." Kata Jimin. Pemuda itu akhirnya
mundur dan berbalik pergi. "Pergi dan nikmati saja pesta mu itu. Jangan
ganggu aku lagi."
"Hey! Hey!!" Haneul memanggil berulang kali
namun Jimin tidak menoleh sama sekali, meninggalkan gadis itu sendirian di
jalan yang sudah sepi. "Ada apa dengannya." Gerutu Haneul. Gadis itu
berusaha menegakkan tubuhnya namun baru saja tiga langkah ia berjalan, Haneul
harus memegang dinding sebagai bala bantuan. Kepalanya sangat pusing sehingga
bahkan pandangannya saja sudah mengabur.
"Hai Nona."
Sebuah suara membuat Haneul berbalik dan menatap orang
yang memanggilnya tadi. Gadis itu tidak bisa melihat dengan jelas, namun ada
sekitar lima pemuda di hadapannya.
"Tampaknya kau dekat dengan Park Jimin."
Kata salah satu pemuda itu. Mereka berjalan mendekati Haneul. "Bagaimana
kalau kau ikut dengan kami?"
Otak Haneul bekerja secepat yang ia bisa dalam keadaan
hampir mabuk itu. Para pemuda di depannya ini pasti preman-preman musuh Jimin
yang hendak memanfaatkannya. "Tidak ada gunanya aku ikut dengan kalian.
Park Jimin bukan siapa-siapa bagiku dan diriku baginya bukan siapa-siapa juga.
Jadi, sampai nanti." Haneul berbalik pergi dan berjalan beberapa langkah
kembali sebelum tangannya di tarik dari belakang.
"Oh ya?" Kata preman itu. "Mari kita
buktikan kalau begitu." Setelah mengucapkan hal itu, preman-preman itu
mendorong Haneul hingga gadis itu terjatuh ke tanah. "Bagaimana kalau kau
teriak? Mungkin dia akan menolongmu." Kata salah satu preman itu. Pemuda
itu menarik rambut Haneul mendekatinya, memaksa gadis itu mengangkat kepalanya.
Kesal, Haneul meludah ke muka pemuda itu dengan
berani. Tamparan keras diterima sebagai akibatnya, membuat bibirnya berdarah
saking terlalu kerasnya tamparan itu.
"Gadis yang berani rupanya kau ini. Pantas saja
Park Jimin menyukaimu."
Kata-kata itu terngiang-ngiang di telinga Haneul.
Mungkin itu hanya bualan mereka namun entah kenapa jantungnya berdebar keras
ketika mendengar hal itu. Tamparan lain di terima oleh Haneul karena gadis itu
diam saja. Beberapa pemuda teman preman itu tertawa melihat Haneul. Penampilan
gadis itu sudah berantakan. Tanah menempel di baju dan badannya, rambutnya,
yang masih di tarik oleh preman itu, berantakan tidak karuan.
"Teriaklah! Panggil Park Jimin kesini!!"
Kata preman itu. Namun Haneul menutup mulutnya rapat-rapat. Ia tidak ingin
menyeret Jimin ke situasi seperti ini. Lima lawan satu orang, jelas bukan
pertandingan yang seimbang.
"Mungkin kau kurang keras." Kata preman yang
lain. Ia mendekati Haneul dan menendang perut gadis itu. Tendangan itu cukup
membuat Haneul mengerang kesakitan. Melihat cara membuat Haneul mengeluarkan
suara, pemuda itu menendang berulang kali lagi.
Haneul yakin tubuhnya sudah biru sekarang.
Pandangannya sudah buram dan ia yakin tidak lama lagi ia akan jatuh pingsan.
Walaupun begitu, ia tersenyum puas. Setidaknya para preman itu tidak
mendapatkan apa yang mereka inginkan.
*
Jimin berjalan pelan. Sedikit menyesali kata-katanya
pada Haneul tadi. Dan tentu saja, ia merasa tidak enak meninggalkan gadis itu
sendirian setelah mencarinya malam-malam begini di jalanan yang sepi. Langkah
Jimin akhirnya terhenti dan ia menghembuskan nafas berat lalu berbalik ke
tempat ia meninggalkan Haneul tadi. Ia hanya akan mengantarkan Haneul ke cafe
saja, hanya itu. Lagi pula tampaknya tadi gadis itu sedikit mabuk sehingga ia
pasti memerlukan bantuannya.
Mendadak sebuah suara tertangkap olehnya. Suara itu
tidak asing lagi dan Jimin mempunyai feeling buruk mengenai hal itu. Pemuda itu
mempercepat langkahnya dan bahkan akhirnya berlari ke arah sumber suara.
Matanya melebar ketika akhirnya melihat sang sumber suara. Oh Haneul tergeletak
nyaris tak sadarkan diri di tanah, sementara lima orang pemuda yang di
kenalinya sebagai preman dari geng musuhnya mengelilingi gadis itu.
Tidak bisa menahan amarahnya lagi, Jimin melompat ke
preman terdekat dan melayangkan tinjunya. Hal yang sama ia lakukan kepada
preman di sebelahnya dan tendangan kepada preman lainnya. Pertarungan singkat
yang hanya berlangsung beberapa menit itu di menangkan oleh Jimin. Biasanya, ia
mungkin akan menemukan kesulitan melawan mereka berlima, namun pada saat itu,
melihat apa yang mereka lakukan pada Haneul, sudah cukup bagi Jimin untuk
menghajar mereka lebih dari biasanya.
"Haneul!" Teriak Jimin setelah semua
lawannya lari terpontang-pating. Pemuda itu berlutut di sebelah Haneul dan
dengan hati-hati mengangkat gadis itu kepelukannya. "Haneul!!"
Mata Haneul nyaris tertutup, namun ia masih bisa
menebak siapa yang baru saja menyelamatkannya itu. Namun kata-kata tidak bisa
ia keluarkan dari mulutnya.
"Gadis bodoh, kenapa kau tidak berteriak minta
tolong?" Kata Jimin, masih sedikit panik melihat kondisi Haneul yang
sangat jauh dari biasanya itu. Mata Haneul perlahan tertutup, gadis itu jatuh
pingsan bahkan sebelum memastikan yang membantunya adalah Jimin.
Tangan Jimin mencengkram lengan Haneul dengan kuat
seraya mengangkat gadis itu lalu berjalan balik ke arah cafe. Tepat saat itu
Dongho dam Taehyung berjalan ke arah Jimin, mereka berdua mencari Haneul yang
tidak kunjung balik. Bagaimana pun juga Haneul sudah bagaikan adik perempuan
mereka.
"Oh? Jimin?" Kata Taehyung ketika melihat Jimin
mendekat. "Apakah kau meli--" Perkataan Taehyung terhenti ketika
melihat siapa yang berada di tangan Jimin. Kedua pemuda kembar itu berlari
bersamaan ke arah Haneul, namun sementara Taehyung mengambil Haneul dari Jimin,
Dongho memukul mundur Jimin. Ekspresi kedua pemuda itu tidak bisa di bilang
ramah.
"Jelaskan." Kata Dongho. Suaranya tidak
pernah sedingin ini. "Jelaskan padaku kenapa Haneul bisa seperti
ini?!"
Jimin tidak menjawab. Pemuda itu hanya menatap Haneul
yang sekarang sedang di gendong Taehyung. Setelah hening beberapa saat,
akhirnya Jimin membuk mulutnya.
"Ini semua salahku." Jawabnya dengan suara
kecil. Mendengar jawaban itu, Dongho memukul Jimin sekali lagi.
"Bajingan. Jangan pernah kau dekati sahabat kami
lagi." Kata Dongho. Kemarahannya sampai di puncaknya. Tanpa berkata apapun
lagi, pemuda itu berjalan pergi bersama Taehyung, yang membawa Haneul, ke arah
mobilnya, hendak membawa Haneul ke rumah sakit secepat yang mereka bisa.
Bunyi mobil melaju pergi sudah menghilang namun Jimin
masih belum beranjak dari tempatnya. Ia menatap kedua tangannya yang tadi
sempat memeluk Haneul lalu mengepalkan tangannya dengan keras hingga buku-buku
jarinya memutih.
"Mungkin ini yang harus aku lakukan sejak
dulu." Gumam pemuda itu dengan pelan. Larangan dari Dongho tentang
bagaimana ia harus menjauhi Haneul menjadi suatu perintah untuknya. Ia tahu ia
seharusnya memang tidak mendekatkan diri pada gadis itu, pada siapapun.
Seharusnya mudah menjauhkan diri dari Haneul mengingat mereka hanyalah partner
kerja saja.
Namun kenapa rasanya memikirkan hal itu saja sudah
cukup menyakitkan?
***TBC***
A/N : HAHAHAHA *flip table*
Anehanehanehaneh orz
Anyway, mohon
maaf bila ada kesalahan *bows*
Made by : Liz
Take out with full credits
please~ ^^
