Rabu, 17 September 2014

You're My : Chapter 3

Disclaimer    : BTS and all Kpop artists are not mine. Jimin will be soon though (lol kidding).
OC belongs to their rightful owner, while the plot is mine.

Genre       : Romance, Friendship, Comedy, Fluff

"You’re My"
Chapter 3 : My Impression On You


Oh Haneul menghela nafas panjang. Rapat SO selalu melelahkan, terutama bila membahas masalah Park Jimin dan kelompoknya yang tidak pernah berakhir. Kelompok dengan anggota utama berjumlah tujuh orang itu nyaris adu hantam dengan berandalan yang entah berasal dari mana di daerah kampus beberapa hari yang lalu.

Haneul memijat-mijat pelipis kepalanya sambil berjalan melintasi koridor di kampusnya. Rapat SO sudah selesai dan dia sudah tidak ada kelas untuk hari ini sehingga ia memutuskan untuk pulang cepat. Di tambah karena kepalanya pusing akibat stress, lebih baik jika pulang dan beristirahat di rumah bukan?

"Haneul!"

Ketika Haneul menoleh, seorang pemuda berlari ke arahnya. Dari mukanya, ia tampak senang sekali. Walau terengah-engah karena habis berlari, cengirannya tetap lebar di wajahnya. Haneul mengenal pemuda itu. Ia adalah Elison Kim, mahasiswa tahun keempat, ketua dari team basket yang Haneul urus sebagai anggota SO bagian basket.

"Selamat atas kemenangan kalian di semifinal." Kata Haneul seraya tersenyum. Team basket kampus mereka baru saja berhasil masuk ke final di turnamen di provinsi mereka dan secara otomatis nanti mereka akan masuk ke pertandingan nasional.

Elison, atau yang biasa di panggil Eli tersenyum puas. "Terima kasih! Tapi bukan itu maksudku saat memanggilmu tadi.." Ujarnya, membuat Haneul sekarang menatap pemuda itu dengan bingung sekaligus penasaran.

“Well sebenarnya aku ingin meminta bantuanmu.” Kata Eli. “Manajer kami tidak bisa hadir saat final nanti dan bisakah kau menggantikannya?" Dan pemuda itu tidak membiarkan Haneul pergi sampai gadis yang bersangkutan bersedia menjadi manajer mereka. Eli pun pergi dengan cengiran sementara Haneul hanya bisa mengernyit saja.

Hari yang di tunggu-tunggu pun tiba. Haneul melangkah masuk ke daerah stadion sambil mengecek jam tangannya sehingga ia tidak melihat kemana ia berjalan. Gadis itu berhenti tepat pada waktunya sebelum menabrak seseorang.

"Whoa. Ice Queen. Berhati-hatilah saat berjalan."

Haneul menoleh dan menatap muka Suga yang tersenyum menyebalkan. Baru saja Haneul hendak membalas sapaan pemuda itu dengan sinis ketika Eli mendekati mereka berdua.

"Haneul! Kau datang!!" Seru Eli dengan bersemangat. Beberapa anggota team basketball lainnya pun mencuri-curi pandang dengan penasaran namun tidak berani mendekat karena kehadiran Suga.

Suga menatap Eli dengan pandangan menuntut penjelasan, namun Eli mengabaikannya dan menarik Haneul mendekat ke arah anggota team basket lainnya. Mau tidak mau Suga mengikuti mereka berdua.

"Seperti yang pernah kukatakan di pertemuan terakhir kita, gadis ini akan menjadi manajer sehari kita." Kata Eli seraya menepuk-nepuk punggung Haneul dengan riang.

"Oh Haneul. Tahun kedua." Kata Haneul sambil memberi lirikan kesal pada Eli. "Jangan sungkan meminta bantuan padaku hari ini."

"Bagus! Ayo, kita harus bersiap-siap masuk." Setelah berkata begitu, Eli memimpin rombongan masuk ke dalam stadion. Haneul sudah hendak berjalan di antara rombongan ketika tangannya di tahan oleh Suga, membuat dirinya terpaksa berjalan di belakang bersama pemuda itu.

"Ku kira kau tidak pernah ikut acara team." Kata Haneul. Ia sudah tahu bahwa Suga adalah anggota team basket, namun menurut laporan, pemuda itu tidak pernah masuk sekalipun pada saat latihan. Betapa kagetnya Haneul ketika ia melihat pemuda berambut merah itu muncul disini.

"Aku tidak pernah ikut latihan, memang." Kata Suga. Ia berjalan sambil memainkan bola basket di tangannya. "Tapi team basket tidak akan bisa mencapai sejauh ini tanpaku." Lanjutnya, membuat Haneul mendengus kesal, tidak percaya akan kata-kata Suga.

"Kau tidak percaya?"

"Tidak sedikitpun."

Suga kemudian nyengir lebar dan menghentikan jalan Haneul dengan berdiri di depannya. "Kalau begitu akan kuperlihatkan di pertandingan ini. Jangan sampai kau 'jatuh' padaku, Ice Queen." Dan setelah berkata begitu, Suga berjalan meninggalkan Haneul di belakangnya.

Stadion basket sudah di penuhi penonton yang ingin menonton final, termasuk diantaranya adalah Dongho dan Taehyung yang datang karena ingin melihat Haneul. Dan diantara kerumunan, kehadiran kelompok Park Jimin sangat mencolok karena daerah di sekitar mereka sepi, tidak ada seorang pun yang berani mendekat. Dongho dan Taehyung juga melihat hal itu.

"Kau benar-benar nyaris mati saat itu." Kata Taehyung. Dongho telah menceritakan pengalamannya setelah melakukan hukuman dari Taehyung dan Haneul pada kembarannya itu. Dongho hanya mengangguk dan tidak berani memandang ke arah kerumunan pria berekspresi seram itu sama sekali.

Ejekan Taehyung untuk sikap Dongho saat itu di hentikan oleh munculnya kedua team basket. Kedua team tersebut berjalan memasuki lapangan dan segera melakukan pemanasan. Seakan-akan melupakan ketakutannya, Dongho berdiri dan melambai riang dan rusuh ke arah Haneul. Tentu saja Taehyung melakukan hal yang sama.

"Mereka fansmu?" Kata Suga sambil melakukan stretching di dekat Haneul. Kelakuan si kembar yang membuat malu itu sudah di lihat seluruh stadion dan Haneul sudah mengabaikan mereka berdua sejak awal dia menyadari mereka. Mendengar kata-kata Suga, Haneul mengernyit dan menggeleng.

"Shin Dongho dan Shin Taehyung, teman masa kecilku." Jawab Haneul singkat. "Namun saat ini aku tidak mengenal mereka berdua." Suga tertawa mendengar hal itu namun tidak berkomentar apapun.

"Itu sang Ice Queen bukan?" Pemuda di sebelah kanan Jimin memicingkan mata dan mengawasi Haneul dengan lekat-lekat. Kata-kata pemuda itu membuat Jimin ikut mengawasi gerak-gerik Haneul di antara anggota team basket. Dari atas tampak jelas sekali bahwa Suga dan Haneul tidak pernah terlalu jauh, karena Suga terus menerus mengganggu kegiatan gadis itu.

“Yoongi menyukainya?” Ujar pemuda yang duduk di belakang Jimin sambil berpangku tangan. “Jika benar ia menyukainya, ia akan membuat kita terlihat lemah. Menyukai gadis yang berani menentang kita.” Kata-kata pemuda itu di ikuti gumaman setuju dari anggota yang lain, sementara sang ketua hanya terus menatap Suga dan Haneul.

“Tenang saja. Ku pastikan kita tidak akan terlihat lemah hanya karena gadis itu.” Kata Jimin, yang membuat seluruh pemuda yang mengelilinginya bersorak riang.

Tidak lama kemudian, pertandingan basket pun di mulai dan pertandingan berjalan sepihak yang menguntungkan team lawan. Sejak awal pertandingan, pelatih team basket tidak mengijinkan Suga bermain dan berkata bahwa itu adalah ‘hukuman karena sering membolos latihan.’

“Mereka akan memasukanku kedalam pertandingan sebentar lagi.” Kata Suga dengan santai setelah ia berhasil memaksa orang yang duduk di sebelah Haneul pindah. Haneul, yang sudah lelah dengan sikap Suga sepanjang hari itu, hanya mendengus meremehkan dan terus memperhatikan pertandingan selayaknya manager yang baik.

Perkiraan pemuda berambut merah itu memang benar, tidak lama kemudian akhirnya ia diminta masuk kedalam pertandingan dan hal itu langsung mengubah alur pertandingan. Baru saja Suga bermain sebentar, semua orang bisa memastikan kemenangan mereka. Peluit tanda selesai pun dibunyikan, dan sorakan kemenangan pun terdengar.

“Sudah kubilang kan?” Kata Suga setelah menerima handuk dari Haneul. Pemuda itu mengedipkan matanya dan berjalan melewati gadis itu dengan gaya yang sok. Tentu saja Haneul hanya mengernyit dan tidak mempedulikan pemuda itu lebih jauh lagi. Team basket memutuskan untuk mereview ulang pertandingan mereka di kampus sehingga dengan cepat mereka kembali ke kampus. Tanpa Suga tentu saja, pemuda itu langsung menghilang setelah berganti baju dan mengambil barang-barangnya.

Haneul sendiri masih tinggal di stadion untuk mengecek ulang apakah ada barang-barang yang tertinggal oleh team mereka. Taehyung dan Dongho sudah pulang terlebih dahulu karena ada acara bersama ayah mereka. Stadion sudah sepi ketika akhirnya gadis itu mengambil tasnya dan berjalan keluar. Sayup-sayup dari arah pintu terdengar bunyi ribut. Dan semakin dekat ia dengan pintu depan, suara ribut mulai semakin terdengar dengan jelas. Panik karena tampaknya itu seperti suara orang berantem, Haneul berlari menuju sumber suara.

Dan benar apa yang gadis itu bayangkan, bahkan lebih parah. Park Jimin dan kelompoknya melawan berandal-berandal entah berasal darimana. Dengan berani, melupakan bahwa ia hanya seorang gadis saja, Haneul melangkah maju dan mengeraskan suaranya.

“Hentikan! Apa yang kalian pikir kalian lakukan! Hey hentikan!” Teriak Haneul dengan keras. Ia mencoba menarik tangan salah satu anggota Park Jimin namun justru ia yang akhirnya di tarik dengan paksa menjauh dari kerumunan. Sebuah lengan melingkar di pinggangnya dan memaksanya berjalan pergi, walau tidak jauh.

“Gadis gila.” Haneul menoleh dan melihat Jimin masih belum melepaskan pegangannya pada pinggangnya. “Pulang. Ini bukan urusanmu.” Kata Jimin sambil melepaskan Haneul dan mendorong gadis itu.

“Bukan urusanku? Kalian membuat SO kalang kabut pusing karena tindakan kalian!!” Protes Haneul yang kemudian berjalan melewati Jimin menuju kerumunan lagi. Bergumam kesal namun tidak bisa melakukan hal lain selain mengikuti Haneul, Jimin berlari dan menarik pundak Haneul. Sebelum bisa berbicara apapun, pemuda itu melihat kayu terangkat dan siap memukul gadis yang berada di depannya ini. Karena reflek atau entah karena apa, Jimin menarik Haneul dan memposisikan dirinya di depan gadis itu. Otomatis pukulan yang harusnya mengenai Haneul, diterima oleh Jimin tepat di kepala.

“Sial.” Setelah mengumpat, Jimin berbalik dan memukul jatuh orang yang tadi memukulnya dengan kayu. Haneul sendiri hanya bisa menatap terkejut melihat tindakan Jimin yang tidak disangka itu. Pemuda itu kembali memukul berandalan lainnya dan mengabaikan Haneul selama sesaat.

"Kemari kau." Kata pemuda itu akhirnya sambil menarik tangan Haneul dengan keras dan menyeret gadis itu menjauh dari kerumunan. Namun sekali lagi sebuah pukulan di terima Jimin lagi di kepala karena ia lengah saat sedang menarik Haneul menjauh. Dua pukulan keras di kepala, bahkan seorang Park Jimin pun tidak akan bisa berdiri tegak lagi. Darah segar mengalir di pelipis pemuda itu.

Pukulan lain sudah nyaris mendarat kembali di kepala Jimin ketika terdengar bunyi ribut lain dan semua berandalan, baik dari kelompok Jimin maupun kelompok lainnya melarikan diri. Beberapa orang berteriak mengenai polisi yang datang dan bagaimana mereka harus lari sekarang. Haneul mengerjap-ngerjapkan matanya dengan bingung selama beberapa saat sebelum dapat mencerna apa yang terjadi.

“Pergi.” Haneul menoleh dan melihat Jimin sedang duduk di tanah sambil menahan aliran darah dari kepalanya dengan tangannya. “Kau hanya akan terlibat masalah bila diam saja disini.” Kata pemuda itu.

“Lalu bagaimana dengan dirimu?”

Jimin mendengus sebal. “Bagaimana dengan diriku? Di tangkap polisi seperti biasa mungkin?” Jawabnya secara asal. “Memangnya apa pedulimu?”

“Aku adalah anggota SO.”

Seakan-akan itu menjawab segalanya. Haneul mengeluarkan ponselnya dan mulai menelepon singkat. Dalam sekejap, sebuah mobil hitam berhenti tidak jauh dari tempat Haneul dan Jimin berdiri. Gadis itu menunduk dan menarik tangan Jimin, memaksa pemuda itu untuk berdiri.

“Apa yang kau lak—“

“Diam saja dan cepat masuk atau polisi akan menemukan kita.” Sergah Haneul dengan tegas. Seorang pria keluar dari tempat duduk supir dan membantu Haneul memaksa Jimin masuk kedalam mobil hitam itu. Segera setelah ia masuk juga dan menutup pintu, Haneul menyuruh mobil itu segera melaju. Kemana? Tentu saja ke rumahnya.

“Yang biasa.” Kata Haneul pada seorang butler seraya membantu Jimin turun dan berjalan ke arah ruang tamu di rumahnya itu. Bereaksi sama dengan Jina, Jimin hanya terdiam kaget melihat rumah Haneul yang sama sekali jauh dari kategori kecil itu. Setelah mendudukan pemuda itu di salah satu sofa dan mendapat kotak p3knya yang biasa, gadis itu mulai memeriksa luka di kepala Jimin.

“Tahan. Jangan seperti anak kecil.” Gumam Haneul saat Jimin mengernyit kesakitan. Gadis itu baru saja membersihkan luka di kepala Jimin dan sekarang hendak memperbannya. Untung saja tidak ada luka parah di kepala pemuda itu.

“Kenapa kau merawatku?” Kata Jimin. Haneul telah selesai mengobati lukanya dan sekarang sedang merapikan kotak obatnya. Gadis itu memunggungi Jimin sehingga Jimin tidak bisa melihat ekspresi wajahnya.

“Kau menerima luka pertama untukku. Aku tidak suka berhutang budi, terutama pada seseorang seperti mu.” Kata Haneul datar. Gadis itu berbalik dan menatap Jimin dengan ekspresi yang tidak kalah datar dengan nada bicaranya namun entah kenapa Jimin merasa ekspresi itu sedikit, entahlah, berbeda?

“Terserah saja. Aku tidak akan berterima kasih.” Kata Jimin. Pemuda itu hendak berdiri namun di tahan oleh Haneul.

“Ku minta kau hentikan tindakanmu ini.” Kata Haneul. Jimin menatap gadis yang berdiri di hadapannya selama sejenak sebelum menarik gadis itu hingga jatuh tertidur di sofa panjang yang ia duduki tadi.

“Kau pikir siapa dirimu sehingga dapat menyuruhku seperti itu?” Kata Jimin seraya memposisikan dirinya di atas tubuh Haneul. “Urusanku, adalah urusanku sendiri.” Setelah berkata begitu, Jimin bangkit berdiri dan meluruskan bajunya. “Sampai nanti, Ice Queen.”

Haneul memerlukan waktu beberapa saat untuk sadar dari keterkejutannya, dan ketika ia berlari mengejar Jimin, pemuda itu sudah berada di gerbang depan rumahnya. “Bila kukatakan itu demi adikmu, apakah kau akan melakukannya?”

Teriakan Haneul membuat Jimin membeku sejenak di gerbang, namun pemuda itu tidak mengatakan apa-apa dan kembali berjalan seakan tidak terjadi apapun setelah beberapa detik, tanpa menoleh sekalipun.

***

Park Minra berlari dari lapangan sepak bola. Choi Minho, ketua team sepak bola memintanya untuk mencari Shin Taehyung, ace dari team sepak bola yang sering telat mengikuti latihan itu. Kenapa Minra yang mencarinya? Karena gadis itu adalah manajer team sepak bola tentu saja.

Daerah sekitar lapangan, kantin dan seluruh lantai satu di kampus mereka sudah di cari Minra namun Shin Taehyung tidak terlihat sama sekali. Tepat ketika gadis itu mulai frustasi, ia menabrak seseorang karena tidak berhati-hati saat berjalan.

"Maaf!" Kata Minra dengan terburu-buru, tanpa melihat siapa yang ia tabrak itu. Pemuda yang tadi menabraknya menahan pundak Minra sehingga gadis itu tidak terjatuh. Minra dengan terburu-buru menegakkan kembali badannya, sedikit canggung dengan situasi itu.

"Minra." Betapa kagetnya (dan leganya) Minra ketika mengetahui yang ia tabrak adalah salah satu sahabatnya sendiri. Seorang pemuda bertubuh tegap menatapnya balik dengan ekspresi kaget sekaligus lega karena gadis itu tidak terjatuh.

"Jin!" Kata Minra. Kim Seokjin, atau yang biasa di panggil Jin saja, adalah teman baik Minra dan Soojin sejak SMA. Mereka bertiga masuk ke SMA yang sama dan dengan segera menjadi teman baik. Jin nenepuk-nepuk kepala Minra dengan lembut, seakan-akan gadis itu adalah adiknya sendiri.

"Jangan berlari-lari atau kau akan jatuh." Kata Jin. Gadis yang bersangkutan hanya tertawa kecil. Sahabatnya yang satu ini memang terkenal karena sikapnya yang 'gentleman' itu.”Ngomong-ngomong kau melihat Soojin?”

Minra tersenyum kecil. Jin memang menyukai Soojin sejak mereka SMA dulu hanya saja Soojin kurang peka dan Jin sendiri tidak melakukan pergerakan yang jelas. “Sayang sekali, tapi aku tidak melihatnya.”

“Dimana ia kira-kira..” Gumam Jin sementara Minra sudah gemas dengan tingkah kedua sahabatnya itu.

"Jin, kau melihat Taehyung sunbae-nim?" Kata Minra, mendadak teringat tujuan utamanya berlari-lari keliling sekolah itu. Dengan perasaan kecewa, Minra melihat Jin menggeleng sebagai jawaban untuk pertanyaan tadi. Melihat muka sedih Minra, mau tidak mau Jin terdorong untuk menepuk lembut kepala gadis yang sudah ia anggap sebagai adik itu.

Tanpa sadari mereka berdua, seorang pemuda mempercepat langkahnya mendekati mereka. Ia sudah melihat Minra dan Jin dari kejauhan, namun ketika melihat Jin menepuk kepala Minra, pemuda itu mempercepat langkahnya dan nyaris berlari. Mark Tuan berlarik ke sebelah Minra dan menarik tangan gadis itu sehingga posisi mereka adalah Minra, Mark lalu Jin.

"Mark sunbae-nim!" Pekik Minra kaget ketika melihat siapa yang menarik tangannya tadi. Jin juga terkejut namun tidak mengatakan apa-apa dan hanya mundur satu langkah, agar tidak bertabrakan dengan Mark.

"Kau.." Kata Mark sambil menunjuk Jin. Wajahnya sangar dan menakutkan sehingga baik Jin dan Minra sedikit ketakutan. "Menjauh dari Minra."

Kedua anak yang lebih muda itu mengerjap-ngerjapkan matanya selama beberapa saat dan pada akhirnya Minra dengan terburu-buru menggeleng. “Bukan seperti itu!” Kata gadis itu, mengerti maksud dari seniornya yang dengan terang-terangan memperlihatkan perasaannya untuk Minra itu. “Jin adalah sahabatku, dan dia menyukai sahabatku yang lain!”

Sekarang giliran Minralah yang di tatap lekat-lekat oleh kedua pemuda. Mark dengan muka terkejut dan Jin dengan kening berkerut. “Sudah kuminta untuk jangan menceritakannya pada siapapun, Minra.” Kata Jin.

“Maaf! Tapi jika tidak kuberi tahu, Mark sunbae-nim akan terus salah paham!”

Mark mengalihkan pandangannya, Minra lalu Jin lalu Minra dan kembali ke Jin. Pemuda yang lebih tua itu menepuk-nepuk punggung Jin sambil tertawa lepas. “Ku kira kau mengejar Minra! Kau tidak akan selamat bila hal itu benar lagipula.”

“Sunbae-nim!”

“Bercanda. Aku hanya bercanda, Minra.” Kata Mark, masih sentengah tertawa dan menepuk kepala Minra, yang langsung di hindari oleh gadis yang bersangkutan. “Ngomong-ngomong, namamu Jin? Seperti nama sepupu dari salah satu temanku di SO.”

“Aku juga mempunyai sepupu di SO.” Kata Jin sebagai jawaban. Mark mengacak-acak rambutnya, tidak percaya akan kebetulan ini namun akhirnya ia memutuskan untuk tidak menanya lebih jauh tanpa seijin temannya yang di SO itu. Hening. Tidak ada yang berbicara sehingga suasana sedikit awkward sampai akhirnya Minra berdeham pelan.

“Sepertinya Soojin ada di ruang klubnya, Jin. Bukankah tadi kau mencarinya?” Kata Minra dan Jin langsung kembali teringat. Dengan cepat dia pamit kepada yang lain dan melesat pergi, hilang dari pandangan.

“Kau sendiri, sedang apa?” Kata Mark namun Minra tidak mengerti apa maksud seniornya itu. Melihat muka bingung Minra, Mark harus menahan godaannya untuk tidak mencubit pipi gadis itu karena ia sendiri gemas melihatnya.

“Maksudku, kenapa kau berlari-lari seperti itu keliling sekolah?” Ujar Mark, menjelaskan pertanyaannya tadi.

Minra mengeluarkan bunyi ‘oooh’ kemudian melonjak kecil seakan-akan tersetrum listrik. Gadis itu baru saja teringat juga akan tugasnya mencari Taehyung. Kapten team sepakbola pasti sudah kesal karena baik Minra maupun Taehyung tidak muncul-muncul.

“Mark sunbae-nim, kau melihat Taehyung sunbae-nim?” Pertanyaan Minra membuat kening Mark berkerut dan ekspresi wajahnya tidak enak kembali. “Kau tahu aku manajer team sepakbola, dan sekarang Taehyung sunbae-nim kembali melupakan bahwa ada latihan hari ini.”

Dan gantian Mark yang mengeluarkan bunyi ‘oohh’ seperti Minra tadi. “Shin Taehyung sunbae-nim itu teman Haneul bukan? Aku sedang mencari gadis itu, ayo kita cari bersama-sama!” Setelah berkata begitu, Mark meraih tangan Minra dan menarik gadis itu agar berjalan bersamanya.

Minra pun menyesal karena telah menanyakan tentang Taehyung pada seniornya itu.

***

Taehyung menatap pemuda yang memiliki wajah yang sama dengannya itu dengan tidak percaya. Mulutnya setengah terbuka dan pupil matanya melebar. Dongho, saudara kembarnya baru saja menceritakan kejadian dirinya dengan seorang gadis bernama Soojin. Dan dari yang Taehyung dengar, Dongho tertarik pada gadis ini, dan gadis ini mirip dengan Haneul.

“Kau bercanda.”

“Aku tidak bercanda.”

Taehyung melotot menatap Dongho, yang di balas dengan tatapan yang sama persis dari pemuda itu. “Kau harus bercanda..”

Dongho mengernyit, “Kenapa harus bercanda?!”

“Karena menurut ceritamu, kau tertarik pada gadis yang mirip sekali dengan OH HANEUL.”

“HANYA MIRIP DAN BUKAN ASLINYA.”

Kedua ‘Pangeran Kampus’ yang saling berteriak satu dengan yang lain pun mengundang perhatian orang-orang di sekitar mereka di kantin yang tidak bisa di bilang sepi itu. Salah satunya adalah teman seangkatan mereka dan juga anggota SO, Jo Kwon.

“Aduh.” Kata Jo Kwon dengan nadanya yang khas, membuat Dongho dan Taehyung langsung menoleh dengan kaget. “Jangan berteriak di kantin!” Seru Jo Kwon.

“Tapi kau baru saja berteriak juga.” Kata si kembar bersamaan, membuat Jo Kwon menarik kuping mereka berdua.

“Kwonie.” Kata Taehyung sambil memegangi kupingnya yang sakit akibat tindakan Jo Kwon tadi, “Apa kau kenal adik kelas bernama Park Soojin?”

Dongho otomatis memukul kembarannya dengan kesal, dan Taehyung kembali mengernyit kesakitan, hanya saja kali ini sambil memegang lengannya yang di pukul Dongho. Pemuda itu pun memukul balik kembarannya sebelum menoleh penuh harap kepada Jo Kwon.

"Kalian pikir aku buku murid berjalan? Cek saja di perpustakaan!" Jawab Jo Kwon dengan sebal. "Jangan membuat keributan lagi!"

Setelah Jo Kwon berbalik dan berjalan pergi, Taehyung menarik kembarannya berdiri dan menyeretnya ke arah perpustakaan. Dengan ogah-ogahan Dongho mengikuti Taehyung ke perpustakaan, tepatmya ke bagian arsip murid. Setelah ada sekitar 20 menit mencari, akhirnya Taehyung mendapatkan data gadis yang di maksud Dongho itu, dan pemusa yang bersangkutan juga sudah meng-iya-kan.

"Jadi dia dari klub Archery." Gumam Taehyung sambil memperhatikan wajah Park Soojin dengan teliti. "Oke aku akan mengecek gadis ini dengan mata kepalaku sendiri!" Dan Taehyung pun meloncat berdiri lalu melesat keluar perpustakaan, mengabaikan teriakan protes Dongho dan banyak murid lainnya yang terganggu karena tingkah bising mereka berdua di perpustakaan yang seharusnya tenang itu.

Dan dalam kecepatan kilat, Taehyung sudah tiba di daerah klub Archery. Pemuda itu sibuk mencari kesana kemari dengan rusuh sendiri hingga akhirnya ia melihat gadis itu berjalan dari kejauhan. Entah apa yang ada di dalam pikirannya, Taehyung mendekati gadis itu dan memasang wajah sok tampan alanya, yang berhasil memikat hati gadis-gadis.

Melihat muka Taehyung yang sama persis dengan pemuda yang membuatnya terlibat masalah beberapa hari yang lalu, ekspresi muka Soojin 'menggelap'. Keduanya berhenti berjalan tepat ketika jarak di antara mereka sudah cukup dekat.

"Mau apa lagi?" Kata Soojin dengan nada pasrah. Taehyung mengangkat alisnya. Lagi? Tampaknya ia salah mengira Taehyung adalah Dongho. "Belum cukup kau menyeretku dalam masalah seperti waktu itu?" Lanjut gadis itu dan yap, dia mengira Taehyung adalah Dongho.

"Aku bukan Shin Dongho." Kata Taehyung dengan tempo yang pelan. "Namaku Shin Taehyung, saudara kembarnya." Jeda selaam tiga detik dan Soojin langsung mengganti ekspresi wajahnya. Dari terkejut menjadi malu. Dengan cepat ia mundur beberapa langkah dan membungkuk.

"Taehyung sunbae-nim! Maafkan aku!" Kata Soojin sambil membungkuk berulang kali. Taehyung hanya nyengir dan melambaikan tangannya dengan santai, menandakan bahwa ia tidak keberatan dengan hal itu.

"Tidak apa-apa." Kata Taehyung. "Kalau begitu, sampai nanti!" Dan Taehyung berjalan secepat kilat kembali ke arah perpustakaan, meninggalkan Soojin yang kebingungan melihat seniornya yang tingkahnya tidak kalah aneh dari saudara kembarnya.

Taehyung tidak perlu jauh-jauh kembali ke perpustakaan untuk mencari Dongho karena ia langsung menemukannya di lorong, sedang bergumam kesal pada dirinya sendiri, menyesali kenapa dia bercerita pada Taehyung.

Hal yang pertama di lakukan Taehyung adalah menjitak kepala saudaranya sendiri. Dongho berteriak kesakitan dan hendak membalas memukul Taehyung yang sayangnga berhasil di hindari oleh pemusa itu.

"Darimananya mirip Haneul?!"

"Kau sudah bertemu dengannya?! Dasar kau ini asih!!"

"Dia tidak mirip Haneul sama sekali!!"

"Dia galak seperti Haneul!!"

"Tapi Haneul lebih mirip iblis!!"

Sialnya, saat Taehyung mengatakan kata-kata itu, Haneul berjalan mendekat dan mendengarnya. Satu jitakan keras pun mendarat di kepala Taehyung, membuat Dongho nyengir lebar melihat akhirnga Taehyung di jitak juga.

"Iblis, Shin Taehyung?" Kata Haneul. "Kau bilang aku iblis?"

Alih-alih menjawab, Taehyung malah berjalan menjauh dari Haneul sambil memegang kepalanya yang sakit akibat jitakan itu. Haneul sudah siap memberikan jitakan lain ketika suara langkah kaki yang mendekat mengejutkan mereka.

Mark dan Minra berjalan mendekat. Ketika melihat Minra, Taehyung langsung mengingat tentang latihan klubnya yang sebelumnya ia lupakan sepenuhnya. Minra hanya perlu memanggil Taehyung sekali dan pemuda itu langsung melesat berlari ke arah lapangan, membuat Minra menghela nafas frustasi dan berlari mengejar Taehyung.

Mark menatap Minra hingga gadis itu hilang dari pandangan sebelum akhirnya berbicara dengan Haneul dan keduanya pun pergi untuk mengurus kegiatan SO, meninggalkan Dongho yang masih bengong karena runtutan kejadian yang terlalu cepat.

***TBC***

A/N : MAAFKAN AKU JINA TIDAK ADA HIKS TT__TT
CHAP BERIKUTNYA BAKAL ADA KOK #ditabok
As always, mohon maaf bila ada kesalahan *bows*

Made by : Liz
Take out with full credits please~ ^^

Jumat, 05 September 2014

You're My : Chapter 2

Disclaimer    : BTS and all Kpop artists are not mine. Jimin will be soon though (lol kidding).
OC belongs to their rightful owner, while the plot is mine.

Genre       : Romance, Friendship, Comedy, Fluff

"You’re My"
Chapter 2 : My First Introduction


Shin Taehyung menundukan kepalanya hingga menyentuh meja di depannya dengan bunyi yang bisa di bilang cukup keras. Dongho, saudara kembarnya yang duduk di seberangnya, mengalihkan pandangannya dari majalah yang sedang di bacanya untuk memandang Taehyung.

“Terjadi sesuatu?” Kata Dongho akhirnya karena Taehyung menghembuskan nafas frustasi. Yang di tanya malah menghembuskan nafas frustasi beberapa kali lagi sebagai jawaban, membuat Dongho menahan diri untuk tidak melempar majalahnya ke arah saudaranya.

“Pertandingan kemarin.” Jawab Taehyung pada akhirnya seraya memukulkan kepalanya berulang kali ke meja. Team sepak bola Taehyung memang berlomba dua hari yang lalu dan pemuda itu tidak bisa mengikutinya karena sakit. Alhasil, kehilangan striker utama mereka membuat team itu kalah dan Taehyung berulang kali menyalahkan dirinya. Memang bukan pertandingan kejuaraan, tapi pertandingan tetaplah pertandingan walau hanya pertandingan latihan sederhana saja.

Dongho menghembuskan nafas pasrah, “Kau masih memikirkannya? Semua orang sudah mengatakan bahwa itu bukan salahmu.”

“Tetap saja..”

Alis Dongho terangkat. "Perlukah aku menelepon Haneul agar--"

"Tidaak!!" Teriak Taehyung sambil berdiri dari kursinya. Kalau Haneul tahu tentang tingkahnya yang agak 'childish' itu, entah apa yang akan di lakukan oleh gadis itu. Dongho nyengir melihat tingkah kembarannya itu. Well, itu memang reaksi yang sewajarnya. Ia yakin ia akan melakukan hal yang sama bila berada di posisi Taehyung.

"Pergilah keluar, kerjakan sesuatu dan berhenti memikirkan pertandingan itu!" Kata Dongho sambil menendang kembarannya itu. Taehyung berdiri dengan kesal dan menendang balik Dongho sebelum berlari pergi keluar dari rumah mereka. Untung saja rumah Haneul dan rumah si kembar tidak berdekatan, atau bisa gila mereka.

Taehyung memutar kunci mobilnya sebelum melompat masuk dan menyalakan mobilnya. Tujuan? Nanti saja dipikirkan di tengah jalan. Sekarang yang penting itu, dia mencari pemandangan baru yang bisa mengalihkan pikirannya. Di aturnya agar atap mobilnya terbuka dan lagu di pasangnya keras-keras sebelum memasang kacamata hitamnya dan mulai mengendarai mobilnya.

Akhirnya pemuda satu ini memutuskan untuk mengarahkan mobilnya menuju taman. Taman itu tidak jauh dari kampus mereka, dan yang penting, disitu tidak ada lapangan sepak bola. Hanya ada lapangan basket saja disana.

Baru saja Taehyung memarkirkan mobilnya dan melompat turun, ketika sebuah suara menarik perhatiannya. Karena iseng sekaligus penasaran, pemuda itu berjalan dengan pelan dan hati-hati menuju sumber suara. Betapa kagetnya dia ketika melihat seorang gadis di pojokan oleh beberapa berandalan di sisi taman yang kebetulan sepi itu. Sayup-sayup terdengar pembicaraan mereka.

"Panggil kakakmu ke taman ini." Ucap salah satu berandalan pada sang gadis. Tangannya memegang tangan gadis itu dengan keras. Namun gadis itu menggeleng dengan tegas.

"Tidak akan."

"Keras kepala!" Tampaknya itu bukan pertama kalinya gadis itu di minta memanggil kakaknya sehingga seraya berseru, berandalan tadi melayangkan tangannya dan menampar gadis itu. Tidak dapat menghindar, gadis itu nyaris saja jatuh karena tamparan yang ia terima bukan tamparan ringan.

Taehyung memerlukan waktu sekitar dua detik untuk mencerna apa yang baru ia lihat. Setelah itu baru dia berlari mendekat. "Hoy! Apa yang kalian lakukan?!" Teriak Taehyung. Para berandalan itu langsung menolehkan kepala mereka ke arah Taehyung. Jika Taehyung menghadapi masalah ini dengan cara berantem, tentu ia akan kalah. Namun pemuda itu mendadak mendapat ide cerdik.

"Tolong!! Tolong!! Ada berandalan membuat ulah disini!" Taehyung mulai berteriak sekuat tenaga. "Pak polisi!! Siapapun!!" Walau bagian taman tempat mereka sekarang sepi, namun tidak berarti seluruh taman itu sepi, dan Taehyung menyadari hal itu. Berpikiran hal yang sama dengan Taehyung, para berandalan tadi pun mulai panik dan beberapa saat kemudian, sudah hilang dari pandangan.

Taehyung nyengir bangga. Dia berhasil mengusir berandalan tanpa harus melukai wajah tampannya. "Kau tidak apa-apa?" Katanya kemudian seraya menoleh ke arah gadis yang baru ia tolong itu. Gadis itu hanya mengangguk saja sambil menundukan kepala.

"Kau.. adik kelasku kan?" Tebak Taehyung setelah beberapa saat menatap gadis itu walau tampaknya gadis itu menutupi wajahnya dengan cara menunduk dalam-dalam.

Jelas kata-kata Taehyung membuat gadis itu terkejut. Ia mengangkat kepalanya dengan cepat sehingga nyaris saja mengenai dagu Taehyung. "Sepertinya tebakanku benar." Lanjut Taehyung ketika sekarang ia bisa melihat muka gadis itu dengan lebih jelas. "Jina? Park Jina?"

Mata gadis itu melebar kaget. "B-bagaimana kau bisa mengingat namaku?" Gadis itu memang Park Jina, adik tunggal Park Jimin yang merupakan preman kampus tempat Taehyung bersekolah.

"Karena anggota team ku senang membicarakan mu sejak kau membantuku menangkap bola waktu itu." Jawab Taehyung dengan santai. Sama sekali tidak tahu kalau kata-katanya membuat jantung Jina berdegup dengan cepat. "Kau yakin tidak apa-apa? Ia memukulmu cukup keras."

Otomatis Jina mengangkat tangannya dan menyentuh pipi yang terkena tamparan tadi dan meringis pelan karena perih. Pergelangan tangannya juga tampaknya terkilir. Ia tidak bisa pulang ke rumah karena ia tidak ingin kakaknya mengetahuinya terlibat masalah dan tidak bisa ke rumah sakit karena itu hanya akan membuang-buang uang saja.

Melihat Jina yang tidak merespon pertanyaan terakhirnya, Taehyung menghembuskan nafas frustasi dan menarik tangan Jina.

"A--"

"Kita akan pergi merawat lukamu." Kata Taehyung. "Tenang aku tidak akan menculikmu." Tambahnya sambil tertawa karena leluconnya sendiri.

"Tapi, aku tidak.." Jina terdiam sejenak, memikirkan kata yang tepat. "...bisa pulang ataupun ke rumah sakit saat ini."

"Tenang saja. Kita tidak akan ke rumah sakit." Kata Taehyung sambil membuka pintu mobil porsche silvernya, yang membuat mata Jina melebar kaget (sebenarnya Jina dan banyak orang lainnya).

"Lalu kita akan kemana?"

"Ke rumah sahabatku."

***

Haneul menatap buku yang ada di hadapannya dengan pandangan kosong. Ia sudah membaca buku tersebut untuk entah keberapa kalinya dan ia sudah hafal isinya. Namun buku itu selalu membuatnya ingin membaca lagi dan lagi, walau tidak untuk hari ini.

Baru saja ia menutup buku yang sedang di 'baca'nya itu ketika suara ketukan terdengar di pintu ruang bacanya. "Masuk." Kata Haneul dengan tenang. Gadis itu berdiri dan meletakan buku tadi di raknya sebelum berbalik dan melihat seorang pria muda berpakaian seperti butler membungkuk pelan padanya.

"Tuan Taehyung mengunjungi anda, Nona." Kata pria tersebut. Jika dibandingkan dengan keluarga si kembar yang modern dan serba santai, keluarga Haneul bisa di bilang masih sedikit tradisional dan disiplin. Dan didikan kedua rumah itu dapat terlihat jelas hasilnya di ketiga anak yang bersahabat sejak kecil itu.

"Aku akan segera kebawah." Kata Haneul yang di ikuti dengan bungkukan rendah dari sang butler. Apalagi keinginan temannya itu kali ini. Haneul hanya bisa berharap tidak akan terjadi hal yang merepotkan seperti terakhir kali si kembar mengunjungi rumahnya.

Taehyung menghempaskan dirinya ke salah satu sofa di ruang tamu dan mulai bertingkah seakan dia berada di rumahnya sendiri. Lain hal dengan Jina yang merasa canggung sejak awal di dalam mobil bersama Taehyung. Ia tidak pernah menaiki mobil sebagus itu dan ia juga belum pernah masuk ke rumah besar seperti rumah yang sedang mereka kunjungi.

"Umm.. Taehyung sunbae-nim.." Kata Jina saat Taehyung sudah mengambil minum yang disediakan pelayan. Taehyung memberikan Jina pandangan bertanya singkat sebelum kembali fokus pada minumannya.

"Kenapa kita berada disi--"

Kata-kata Jina terputus oleh suara pintu yang terbuka. "Perlu kuingatkan kalau ini rumahku dan bukan rumahmu, Shin Taehyung?" Kata Haneul yang berjalan memasuki ruangan. Taehyung, yang masih sibuk dengan minumannya hanya mengacungkan jempolnya dan nyengir lebar.

Haneul kemudian menyadari kehadiran Jina, yang membuatnya lalu memandang Taehyung dengan pandangan curiga sekaligus penasaran. "Boleh kutanya apa urusanmu dan Jina-ssi disini?"

Jina mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali. Mulutnya sedikit terbuka karena kaget mendengar bahwa Haneul sudah mengenalinya duluan. Namun lalu tersadar, Haneul pasti mengenalnya dari rumor-rumor yang beredar di seluruh kampus mereka.

"Pipinya dan tangannya." Kata Taehyung dengan susah payah karena mulutnya sibuk mengunyah kue yang disediakan bersama dengan minuman untuk mereka. Haneul harus menahan godaan untuk menabok pemuda itu. Gadis itu lalu berjalan mendekati Jina dan menatap pipinya, membuat orang yang bersangkutan merasa canggung.

"Ambilkan kotak p3k yang biasa." Kata Haneul dan butler yang berdiri diam di dekat pintu membungkuk pelan sebelum keluar ruangan. Tidak lama kemudian butler itu kembali membawa sebuah kotak dan segera menyerahkannya pada Haneul.

"Kau sadar aku bukan dokter pribadimu, Taehyung?" Kata Haneul setelah selesai merawat pipi dan pergelangan tangan Jina. Taehyung lagi-lagi tidak menjawab dengan kata-kata. Pemuda itu hanya mengangguk-angguk seraya membaca buku yang baru ia minta dari butler tadi.

"Terima kasih.. umm.." Betapa malunya Jina ketika ia menyadari bahwa ia belum mengetahui nama orang yang mengobati dirinya ini.

"Oh Haneul. Kita berada di tahun yang sama." Kata Haneul seraya merapihkan kotak obatnya kembali.

"Oh Haneul, putri tunggal Oh Hyunseok, sang dokter terkenal." Kata Taehyung menimpali. "Tahun kedua, jurusan kedokteran. Sang 'Ice Queen'. Anggota SO dan calon ketua SO berikutnya."

"Ku sarankan kau berhenti berbicara sebelum aku memperban mulutmu, Shin Taehyung."

Taehyung nyengir lebar dan kembali membaca bukunya seakan ia tidak melakukan apa-apa. Haneul memandang tajam sahabatnya selama beberapa saat sebelum kembali menatap Jina. "Kau mendapat luka ini dari musuh kakakmu?"

"Kakak?" Tanya Taehyung.

"Park Jimin. Jangan bilang kau tidak tahu nama itu?"

Taehyung menunjukan muka terluka terbaiknya pada Haneul. "Aku tidak se-anti sosial itu, Haneul. Tentu aku tahu nama itu."

"Jina-ssi adalah adik tunggal Park Jimin. Tentu banyak orang akan menargetnya karena kakaknya bukan?" Kata Haneul. "Antarkan dia pulang sampai di rumahnya, Taehyung."

Jina mengerjapkan matanya lagi dan langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat setelah berhasil mencerna kata-kata Haneul. "Tidak perlu! Aku bisa sendiri!" Namun Taehyung sudah berdiri dan merapihkan bajunya lalu berjalan mendekati Jina.

“Ayo.” Kata Taehyung.

“Terima saja tawarannya.” Kata Haneul seraya berdiri juga. Jina menatap kedua orang tersebut secara bergantian sebelum akhirnya mengangguk. Haneul mengantar mereka berdua hingga ke pintu depan.

“Eh.” Kata Taehyung saat ia dan Jina sudah berada di dalam mobil dan siap berangkat. Haneul menaikkan alisnya dan menatap Taehyung dengan bingung, kedua tangannya terlipat di depan dada.

“Tersebar rumor kalau kau mendapat masalah dengan Park Jimin dan kelompoknya bukan? Kau yakin kau akan baik-baik saja?”

Haneul menatap Taehyung selama beberapa lama sebelum tertawa. Shin Taehyung mengatakan hal seperti itu adalah hal yang jarang, walau Haneul tahu Taehyung dan Dongho suka bertindak sebagai kakaknya kadang-kadang.

“Kau lupa aku siapa? Jangan khawatir.” Kata Haneul. Taehyung lalu tersenyum dan melambaikan tangannya sebelum menyalakan mobilnya dan mulai melaju menjauh dari rumah Haneul. Sekitar beberapa blok sebelum rumah Jina, gadis tersebut meminta Taehyung menurunkannya di jalan.

“Jika kakakku mengetahuinya, akan terjadi masalah.” Kata gadis itu. Tidak dapat melawan keputusan Jina, akhirnya Taehyung menuruti keinginan gadis itu.

“Terima kasih banyak, sunbae-nim.” Kata Jina seraya membungkuk ke arah Taehyung. Taehyung hanya mengangguk sebelum naik kedalam mobilnya kembali. Jina sudah berbalik ketika Taehyung memanggilnya kembali. Pemuda itu mengacak-acak rambutnya, mencari kata-kata yang tepat.

“Jangan segan-segan meminta bantuanku, Dongho atau Haneul jika terlibat masalah lagi.” Kata Taehyung akhirnya sebelum melaju dengan mobilnya. Jina menatap mobil Taehyung hingga menghilang dari pandangan lalu menghela nafas panjang. Apa yang akan ia lakukan dengan perasaannya? Gawat jika ia sampai jatuh cinta pada seorang Shin Taehyung.

***

Senin pagi di awal bulan baru, seperti biasanya, anggota SO atau Student Organization melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap seluruh siswa. Biasanya pemeriksaan ‘Student Book’ yang dimiliki seluruh siswa, yang wajib di bawa setiap hari. Di tengah anak-anak yang sedang menunggu untuk di cek, seorang gadis dengan cemas mencari di tasnya.

“Soojin!” Gadis itu memanggil temannya seraya menarik lengan baju temannya itu. Soojin, Park Soojin, gadis yang di panggil itu pun menoleh menatap temannya yang sudah menjadi mahasiswi namun suka bertindak seperti anak kecil, Park Minra.

“Student Book ku hilang!”

“Minra...” Kata Soojin, seakan-akan sudah hopeless tentang temannya yang satu ini. “Hukuman dari SO tidak akan ringan..” Kata-kata Soojin membuat temannya semakin panik dan ketakutan sehingga tidak menyadari seorang pemuda yang mendekatinya dari belakang. Dari armband yang dipakainya, pemuda itu adalah salah satu anggota SO.

“Giliran kalian berdua.” Kata pemuda itu. Senyumnya mengembang saat melihat Minra. Sementara kedua gadis itu mengernyit ketika melihat muka pemuda itu.

“Mark sunbae-nim.” Kata Minra seraya menyapa pemuda itu sementara Soojin memberikan Student Booknya untuk diperiksa.

“Sudah kubilang, panggil saja aku oppa.” Jawab Mark sambil mengedip riang pada Minra. Mark, tahun kedua dan anggota SO, adalah orang yang mempunyai perasaan (yang bertepuk sebelah tangan) pada Park Minra sejak awal pemuda itu melihat Minra. Entah bagaimana akhirnya pemuda itu mengetahui nama Minra, jurusan, hari ulang tahun dan hal lainnya. Baik Minra maupun Soojin sudah merasa enggan ketika melihat Mark.

“Student Bookmu?” Kata Mark setelah selesai memeriksa Student Book milik Soojin dan mengembalikannya. Minra menggeleng pelan dan menunduk sedih.

“Hilang. Padahal aku selalu menaruhnya di dalam tas.”

Mark menatap sekelilingnya lalu menepuk kepala Minra dengan lembut. “Ku loloskan kau kali ini, tapi kau berhutang makan siang bersama sekali denganku.” Sebelum Minra dapat membalas kata-kata Mark, pemuda itu sudah berteriak dan menyuruh kedua gadis itu segera masuk kedalam kampus, tanda pemeriksaan pada mereka sudah selesai.

“Kau akan menyesal menjanjikan hal itu padanya.” Kata Soojin.

“Ia bahkan tidak menungguku mengatakan jawabanku.” Kata Minra, namun ia tahu jelas walaupun Mark memberikannya waktu untuk menjawab, ia tidak akan berani menolak seniornya itu.

Sepanjang hari Minra terus memikirkan Student Booknya yang hilang sehingga tugas miliknya terabaikan dan di kelas ia tampak tidak fokus. Alhasil gadis itu harus tinggal lebih lama dari murid yang lain di kampus untuk mengejar ketinggalannya hari ini. Langit sudah berubah warna dari biru cerah menjadi kemerahan ketika akhirnya Minra berjalan meninggalkan daerah kampus.

Baru saja ia hendak memasang headsetnya ketika sesosok pemuda mendekatinya. Dari seragamnya, Minra bisa mengetahui bahwa pemuda itu adalah pelajar SMA yang berlokasi tidak jauh dari kampusnya. Namun bukan itu yang menarik perhatian Minra. Wajah pemuda itu tampak tidak asing lagi baginya dan hal itu membuatnya penasaran.

“Umm.. Park Minra-ssi?” Kata pemuda itu. Suaranya terdengar lembut dan menyenangkan. “Aku ingin memberikan ini padamu, namun dari kemarin kau selalu pulang terlebih dahulu.”

Minra melihat Student Booknya di sodorkan oleh pemuda itu. Setengah terkejut setengah senang, Minra menerima Student Booknya itu. “T-tapi bagaimana bisa?” Tanya Minra.

“Kau menjatuhkannya di stasiun saat itu.” Kata pemuda itu, dan saat itu juga Minra mengenali wajah pemuda itu. Itu adalah pemuda yang sama dengan pemuda yang membantunya dulu di stasiun saat dia nyaris terjatuh.

“Ah!” Sahut Minra, namun dengan cepat ia menutup mulutnya dengan tangannya. Ia tidak bisa bertindak konyol di depan pemuda tampan ini bukan? Adik kelas lagi. Pemuda itu hanya tertawa saat melihat Minra dan menjulurkan tangannya, mengajak gadis itu bersalaman.

“Jeon Jungkook.” Kata pemuda itu sambil menjabat tangan Minra, “Rasanya tidak adil bila aku mengetahu namamu, namun kau tidak mengetahui namaku.” Senyuman dari Jungkook nyaris membuat Minra ingin berteriak. “Bolehkah aku memanggilmu noona saja?” Yak, saat itu juga Minra ingin berlari keliling lapangan sambil berteriak.

“Tentu saja boleh.” Jawab Minra, berusaha menutupi fakta bahwa mukanya makin memerah setiap saatnya.

“Kau akan ke stasiun bukan? Kita jalan bersama ya noona?”

Dan pada saat itu juga, Minra memutuskan untuk selalu pulang pada jam yang sama dengan hari itu. Ia tidak pernah menyangka akan menyukai pemuda yang umurnya di bawah dirinya, namun pemuda di sebelahnya ini jelas sudah memenangkan hatinya.

***

“Pria sejati harus menepati janjinya.”

Haneul bertukar pandang dengan Taehyung setelah mengatakan hal itu. Keduanya nyengir jahat kemudian menatap Dongho, yang mukanya sudah pucat pasi melihat kedua orang terdekatnya berubah menjadi setan berdarah dingin.

“Kalian tidak serius kan?” Tanya Dongho, berusaha menghindari dari nasibnya.

“SERIUS.” Teriak Haneul dan Taehyung bersama-sama, membuat Dongho mengernyit. Sebenarnya yang anak kembar ini Taehyung dan Dongho atau Taehyung dan Haneul sih? Kedua anak itu tampaknya kompak membuat Dongho sengsara.

Akhirnya Dongho menerima nasib buruknya. Ia harus menjalankan ‘hukuman’ dari Taehyung dan Hanueul karena ia kalah taruhan dengan mereka berdua. Ketiga teman masa kecil itu mengadakan taruhan kecil-kecilan soal nilai mereka. Yang nilainya paling jelek diantara mereka bertiga harus melakukan hukuman dari yang lain.

Dongho sama sekali tidak menyangka akan kalah dari Taehyung. Dari Haneul sih jelas kalah, tapi Taehyung? Ia sama sekali tidak menyangkanya. Alhasil, dia berjalan dengan langkah enggan ke arah lapangan lari yang berada di tengah-tengah kampus mereka sementara Taehyung dan Haneul menonton dari jendela di lantai tiga di bangunan terdekat dari lapangan itu.

Oke. Saatnya ia menyelesaikan ‘hukuman’ ini dengan jantan dan cepat. Dongho menarik nafas dalam-dalam sebelum berteriak sekuat tenaga.

“PARK JIMIN. KEMARI KAU DAN AYO ADU TINJU!! SIAPA TAKUT DENGAN BONGKAHAN OTOT SEPERTIMU!!”

Teriakan Dongho yang menggelegar itu membuat kedua temannya tertawa terpingkal-pingkal di lantai tiga, sementara anak-anak yang lain mulai menyadari apa yang Dongho katakan dan mulai menonton pemuda itu meneriakan kata-kata yang sama beberapa kali lagi.

Ketika Dongho selesai meneriakan kata-kata yang sama untuk kelima kalinya, sama seperti yang di perintahkan Haneul dan Taehyung, seorang gadis mendekati Dongho dengan muka kesal tampak jelas di mukanya. Dongho mengenalinya, dia adalah gadis yang ia temui di perpustakaan waktu yang lalu.

“Bisakah kau berhenti? Kau menganggu ketenangan untuk yang lain.” Kata gadis itu dengan nada yang sedikit sinis. Dongho nyengir, sifat gadis ini yang tidak peduli akan siapa dirinya membuatnya teringat akan Haneul.

“Tenang saja. Aku sudah selesai.” Jawab Dongho dengan coolnya. Namun sekali lagi, gadis itu tampaknya tidak tertarik dengan gaya dan wajah tampan Dongho yang membuat hampir gadis di seluruh kampus menyukainya.

"Bagus." Kata gadis itu. "Dan tolong jangan berkelahi di daerah kampus."

"Aku tidak akan berkelahi."

"Tapi kau baru saja menantang seseorang."

"Aku hanya melakukan sebuah hukuman."

"Hukuman?"

Dan Dongho pun menjelaskan taruhan yang ia lakukan dengan Taehyung dan Haneul. Saking serunya bercerita, ia tidak sadar bahwa kerumunan yang di sekitarnya tadi mulai kabur ketakutan. Penyebabnya tak lain tak bukan adalah kelompok preman yang di ketuai Park Jimin. Dongho menoleh tepat pada waktunya dan langsung melihat rombongan itu. Tanpa banyak pikir lagi, dia menarik tangan gadis yang berada di depannya itu dan berlari bersama.

"H-hey!!" Protes gadis itu namun karena terlalu panik Dongho mengabaikan protesan gadis itu dan mereka berdua terus berlari hingga Dongho menganggap semuanya sudah aman. Saat akhirnya mereka berdua berhenti berlari, gadis itu menarik paksa tangannya sendiri dari genggaman Dongho dan men'deathglare' pemuda itu.

"Kau pikir apa yang kau lakukan?" Protes gadis itu.

"Menyelamatkan kita berdua dari Park Jimin dan kelompoknya." Jawab Dongho acuh tak acuh.

"Tapi aku tidak bersalah apapun!"

Dongho terdiam sambil menatap gadis tersebut baru akhirnya mengangguk-angguk. "Benar juga ya." Katanya, membuat gadis itu sudah mengangkat tangan hendak memukul kepala Dongho, namun akhirnya tidak jadi dan malah berbalik lalu berjalan pergi.

"Hey." Kata Dongho, tapi ia malah di abaikan. "Hey!!" Sekali lagi ia di abaikan. "WOY!!"

Karena tidak tahan, akhirnya gadis itu berbalik dan menatap Dongho dengan sinis. "Apa?"

"Siapa namamu?"

Gadis itu menatap Dongho selama beberapa saat sebelum akhirnya menjawab. "Park Soojin."

"Adik kelasku kan? Oh, namaku--" Kata-kata Dongho di potong oleh Soojin.

"Shin Dongho kan?" Kata Soojin. Dan setelah berkata begitu, Soojin berbalik dan mulai berjalan kembali, meninggalkan Dongho yang tercengang namun lalu nyengir puas. Gadis ini memang menarik.

***TBC***

A/N : Ga ada Haneul Jimin huhuhuhu #ngek
Tadinya mau di masukin tapi mikir ah ntar lama lagi updatenya lol
as always, mohon maaf bila ada kesalahan~ *bows*

Made by : Liz
Take out with full credits please~ ^^