Disclaimer : BTS and all Kpop artists are not mine.
Jimin will be soon though (lol kidding).
OC belongs to their rightful owner, while the plot is
mine.
Genre :
Romance, Friendship, Comedy, Fluff
"You’re My"
Chapter 2 :
My First Introduction
Shin Taehyung
menundukan kepalanya hingga menyentuh meja di depannya dengan bunyi yang bisa
di bilang cukup keras. Dongho, saudara kembarnya yang duduk di seberangnya,
mengalihkan pandangannya dari majalah yang sedang di bacanya untuk memandang
Taehyung.
“Terjadi
sesuatu?” Kata Dongho akhirnya karena Taehyung menghembuskan nafas frustasi.
Yang di tanya malah menghembuskan nafas frustasi beberapa kali lagi sebagai
jawaban, membuat Dongho menahan diri untuk tidak melempar majalahnya ke arah
saudaranya.
“Pertandingan
kemarin.” Jawab Taehyung pada akhirnya seraya memukulkan kepalanya berulang
kali ke meja. Team sepak bola Taehyung memang berlomba dua hari yang lalu dan
pemuda itu tidak bisa mengikutinya karena sakit. Alhasil, kehilangan striker
utama mereka membuat team itu kalah dan Taehyung berulang kali menyalahkan
dirinya. Memang bukan pertandingan kejuaraan, tapi pertandingan tetaplah
pertandingan walau hanya pertandingan latihan sederhana saja.
Dongho
menghembuskan nafas pasrah, “Kau masih memikirkannya? Semua orang sudah mengatakan
bahwa itu bukan salahmu.”
“Tetap saja..”
Alis Dongho
terangkat. "Perlukah aku menelepon Haneul agar--"
"Tidaak!!"
Teriak Taehyung sambil berdiri dari kursinya. Kalau Haneul tahu tentang
tingkahnya yang agak 'childish' itu, entah apa yang akan di lakukan oleh gadis
itu. Dongho nyengir melihat tingkah kembarannya itu. Well, itu memang reaksi
yang sewajarnya. Ia yakin ia akan melakukan hal yang sama bila berada di posisi
Taehyung.
"Pergilah
keluar, kerjakan sesuatu dan berhenti memikirkan pertandingan itu!" Kata
Dongho sambil menendang kembarannya itu. Taehyung berdiri dengan kesal dan
menendang balik Dongho sebelum berlari pergi keluar dari rumah mereka. Untung
saja rumah Haneul dan rumah si kembar tidak berdekatan, atau bisa gila mereka.
Taehyung memutar
kunci mobilnya sebelum melompat masuk dan menyalakan mobilnya. Tujuan? Nanti
saja dipikirkan di tengah jalan. Sekarang yang penting itu, dia mencari
pemandangan baru yang bisa mengalihkan pikirannya. Di aturnya agar atap
mobilnya terbuka dan lagu di pasangnya keras-keras sebelum memasang kacamata
hitamnya dan mulai mengendarai mobilnya.
Akhirnya
pemuda satu ini memutuskan untuk mengarahkan mobilnya menuju taman. Taman itu
tidak jauh dari kampus mereka, dan yang penting, disitu tidak ada lapangan sepak
bola. Hanya ada lapangan basket saja disana.
Baru saja
Taehyung memarkirkan mobilnya dan melompat turun, ketika sebuah suara menarik
perhatiannya. Karena iseng sekaligus penasaran, pemuda itu berjalan dengan
pelan dan hati-hati menuju sumber suara. Betapa kagetnya dia ketika melihat
seorang gadis di pojokan oleh beberapa berandalan di sisi taman yang kebetulan
sepi itu. Sayup-sayup terdengar pembicaraan mereka.
"Panggil
kakakmu ke taman ini." Ucap salah satu berandalan pada sang gadis.
Tangannya memegang tangan gadis itu dengan keras. Namun gadis itu menggeleng
dengan tegas.
"Tidak
akan."
"Keras
kepala!" Tampaknya itu bukan pertama kalinya gadis itu di minta memanggil
kakaknya sehingga seraya berseru, berandalan tadi melayangkan tangannya dan
menampar gadis itu. Tidak dapat menghindar, gadis itu nyaris saja jatuh karena
tamparan yang ia terima bukan tamparan ringan.
Taehyung
memerlukan waktu sekitar dua detik untuk mencerna apa yang baru ia lihat.
Setelah itu baru dia berlari mendekat. "Hoy! Apa yang kalian
lakukan?!" Teriak Taehyung. Para berandalan itu langsung menolehkan kepala
mereka ke arah Taehyung. Jika Taehyung menghadapi masalah ini dengan cara
berantem, tentu ia akan kalah. Namun pemuda itu mendadak mendapat ide cerdik.
"Tolong!!
Tolong!! Ada berandalan membuat ulah disini!" Taehyung mulai berteriak
sekuat tenaga. "Pak polisi!! Siapapun!!" Walau bagian taman tempat
mereka sekarang sepi, namun tidak berarti seluruh taman itu sepi, dan Taehyung
menyadari hal itu. Berpikiran hal yang sama dengan Taehyung, para berandalan
tadi pun mulai panik dan beberapa saat kemudian, sudah hilang dari pandangan.
Taehyung
nyengir bangga. Dia berhasil mengusir berandalan tanpa harus melukai wajah
tampannya. "Kau tidak apa-apa?" Katanya kemudian seraya menoleh ke arah
gadis yang baru ia tolong itu. Gadis itu hanya mengangguk saja sambil
menundukan kepala.
"Kau..
adik kelasku kan?" Tebak Taehyung setelah beberapa saat menatap gadis itu
walau tampaknya gadis itu menutupi wajahnya dengan cara menunduk dalam-dalam.
Jelas
kata-kata Taehyung membuat gadis itu terkejut. Ia mengangkat kepalanya dengan
cepat sehingga nyaris saja mengenai dagu Taehyung. "Sepertinya tebakanku
benar." Lanjut Taehyung ketika sekarang ia bisa melihat muka gadis itu
dengan lebih jelas. "Jina? Park Jina?"
Mata gadis itu
melebar kaget. "B-bagaimana kau bisa mengingat namaku?" Gadis itu
memang Park Jina, adik tunggal Park Jimin yang merupakan preman kampus tempat
Taehyung bersekolah.
"Karena
anggota team ku senang membicarakan mu sejak kau membantuku menangkap bola
waktu itu." Jawab Taehyung dengan santai. Sama sekali tidak tahu kalau
kata-katanya membuat jantung Jina berdegup dengan cepat. "Kau yakin tidak
apa-apa? Ia memukulmu cukup keras."
Otomatis Jina
mengangkat tangannya dan menyentuh pipi yang terkena tamparan tadi dan meringis
pelan karena perih. Pergelangan tangannya juga tampaknya terkilir. Ia tidak
bisa pulang ke rumah karena ia tidak ingin kakaknya mengetahuinya terlibat
masalah dan tidak bisa ke rumah sakit karena itu hanya akan membuang-buang uang
saja.
Melihat Jina
yang tidak merespon pertanyaan terakhirnya, Taehyung menghembuskan nafas
frustasi dan menarik tangan Jina.
"A--"
"Kita
akan pergi merawat lukamu." Kata Taehyung. "Tenang aku tidak akan
menculikmu." Tambahnya sambil tertawa karena leluconnya sendiri.
"Tapi,
aku tidak.." Jina terdiam sejenak, memikirkan kata yang tepat.
"...bisa pulang ataupun ke rumah sakit saat ini."
"Tenang
saja. Kita tidak akan ke rumah sakit." Kata Taehyung sambil membuka pintu
mobil porsche silvernya, yang membuat mata Jina melebar kaget (sebenarnya Jina
dan banyak orang lainnya).
"Lalu
kita akan kemana?"
"Ke rumah
sahabatku."
***
Haneul menatap
buku yang ada di hadapannya dengan pandangan kosong. Ia sudah membaca buku
tersebut untuk entah keberapa kalinya dan ia sudah hafal isinya. Namun buku itu
selalu membuatnya ingin membaca lagi dan lagi, walau tidak untuk hari ini.
Baru saja ia
menutup buku yang sedang di 'baca'nya itu ketika suara ketukan terdengar di
pintu ruang bacanya. "Masuk." Kata Haneul dengan tenang. Gadis itu
berdiri dan meletakan buku tadi di raknya sebelum berbalik dan melihat seorang
pria muda berpakaian seperti butler membungkuk pelan padanya.
"Tuan
Taehyung mengunjungi anda, Nona." Kata pria tersebut. Jika dibandingkan
dengan keluarga si kembar yang modern dan serba santai, keluarga Haneul bisa di
bilang masih sedikit tradisional dan disiplin. Dan didikan kedua rumah itu
dapat terlihat jelas hasilnya di ketiga anak yang bersahabat sejak kecil itu.
"Aku akan
segera kebawah." Kata Haneul yang di ikuti dengan bungkukan rendah dari
sang butler. Apalagi keinginan temannya itu kali ini. Haneul hanya bisa
berharap tidak akan terjadi hal yang merepotkan seperti terakhir kali si kembar
mengunjungi rumahnya.
Taehyung
menghempaskan dirinya ke salah satu sofa di ruang tamu dan mulai bertingkah
seakan dia berada di rumahnya sendiri. Lain hal dengan Jina yang merasa
canggung sejak awal di dalam mobil bersama Taehyung. Ia tidak pernah menaiki
mobil sebagus itu dan ia juga belum pernah masuk ke rumah besar seperti rumah
yang sedang mereka kunjungi.
"Umm..
Taehyung sunbae-nim.." Kata Jina saat Taehyung sudah mengambil minum yang
disediakan pelayan. Taehyung memberikan Jina pandangan bertanya singkat sebelum
kembali fokus pada minumannya.
"Kenapa
kita berada disi--"
Kata-kata Jina
terputus oleh suara pintu yang terbuka. "Perlu kuingatkan kalau ini
rumahku dan bukan rumahmu, Shin Taehyung?" Kata Haneul yang berjalan
memasuki ruangan. Taehyung, yang masih sibuk dengan minumannya hanya
mengacungkan jempolnya dan nyengir lebar.
Haneul
kemudian menyadari kehadiran Jina, yang membuatnya lalu memandang Taehyung
dengan pandangan curiga sekaligus penasaran. "Boleh kutanya apa urusanmu
dan Jina-ssi disini?"
Jina
mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali. Mulutnya sedikit terbuka karena
kaget mendengar bahwa Haneul sudah mengenalinya duluan. Namun lalu tersadar,
Haneul pasti mengenalnya dari rumor-rumor yang beredar di seluruh kampus
mereka.
"Pipinya
dan tangannya." Kata Taehyung dengan susah payah karena mulutnya sibuk
mengunyah kue yang disediakan bersama dengan minuman untuk mereka. Haneul harus
menahan godaan untuk menabok pemuda itu. Gadis itu lalu berjalan mendekati Jina
dan menatap pipinya, membuat orang yang bersangkutan merasa canggung.
"Ambilkan
kotak p3k yang biasa." Kata Haneul dan butler yang berdiri diam di dekat
pintu membungkuk pelan sebelum keluar ruangan. Tidak lama kemudian butler itu
kembali membawa sebuah kotak dan segera menyerahkannya pada Haneul.
"Kau
sadar aku bukan dokter pribadimu, Taehyung?" Kata Haneul setelah selesai
merawat pipi dan pergelangan tangan Jina. Taehyung lagi-lagi tidak menjawab
dengan kata-kata. Pemuda itu hanya mengangguk-angguk seraya membaca buku yang
baru ia minta dari butler tadi.
"Terima
kasih.. umm.." Betapa malunya Jina ketika ia menyadari bahwa ia belum
mengetahui nama orang yang mengobati dirinya ini.
"Oh
Haneul. Kita berada di tahun yang sama." Kata Haneul seraya merapihkan
kotak obatnya kembali.
"Oh
Haneul, putri tunggal Oh Hyunseok, sang dokter terkenal." Kata Taehyung
menimpali. "Tahun kedua, jurusan kedokteran. Sang 'Ice Queen'. Anggota SO
dan calon ketua SO berikutnya."
"Ku
sarankan kau berhenti berbicara sebelum aku memperban mulutmu, Shin
Taehyung."
Taehyung
nyengir lebar dan kembali membaca bukunya seakan ia tidak melakukan apa-apa.
Haneul memandang tajam sahabatnya selama beberapa saat sebelum kembali menatap
Jina. "Kau mendapat luka ini dari musuh kakakmu?"
"Kakak?"
Tanya Taehyung.
"Park
Jimin. Jangan bilang kau tidak tahu nama itu?"
Taehyung
menunjukan muka terluka terbaiknya pada Haneul. "Aku tidak se-anti sosial
itu, Haneul. Tentu aku tahu nama itu."
"Jina-ssi
adalah adik tunggal Park Jimin. Tentu banyak orang akan menargetnya karena
kakaknya bukan?" Kata Haneul. "Antarkan dia pulang sampai di
rumahnya, Taehyung."
Jina
mengerjapkan matanya lagi dan langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat
setelah berhasil mencerna kata-kata Haneul. "Tidak perlu! Aku bisa
sendiri!" Namun Taehyung sudah berdiri dan merapihkan bajunya lalu berjalan
mendekati Jina.
“Ayo.” Kata
Taehyung.
“Terima saja
tawarannya.” Kata Haneul seraya berdiri juga. Jina menatap kedua orang tersebut
secara bergantian sebelum akhirnya mengangguk. Haneul mengantar mereka berdua
hingga ke pintu depan.
“Eh.” Kata
Taehyung saat ia dan Jina sudah berada di dalam mobil dan siap berangkat.
Haneul menaikkan alisnya dan menatap Taehyung dengan bingung, kedua tangannya
terlipat di depan dada.
“Tersebar
rumor kalau kau mendapat masalah dengan Park Jimin dan kelompoknya bukan? Kau
yakin kau akan baik-baik saja?”
Haneul menatap
Taehyung selama beberapa lama sebelum tertawa. Shin Taehyung mengatakan hal
seperti itu adalah hal yang jarang, walau Haneul tahu Taehyung dan Dongho suka
bertindak sebagai kakaknya kadang-kadang.
“Kau lupa aku
siapa? Jangan khawatir.” Kata Haneul. Taehyung lalu tersenyum dan melambaikan
tangannya sebelum menyalakan mobilnya dan mulai melaju menjauh dari rumah
Haneul. Sekitar beberapa blok sebelum rumah Jina, gadis tersebut meminta
Taehyung menurunkannya di jalan.
“Jika kakakku
mengetahuinya, akan terjadi masalah.” Kata gadis itu. Tidak dapat melawan
keputusan Jina, akhirnya Taehyung menuruti keinginan gadis itu.
“Terima kasih
banyak, sunbae-nim.” Kata Jina seraya membungkuk ke arah Taehyung. Taehyung hanya
mengangguk sebelum naik kedalam mobilnya kembali. Jina sudah berbalik ketika
Taehyung memanggilnya kembali. Pemuda itu mengacak-acak rambutnya, mencari
kata-kata yang tepat.
“Jangan
segan-segan meminta bantuanku, Dongho atau Haneul jika terlibat masalah lagi.”
Kata Taehyung akhirnya sebelum melaju dengan mobilnya. Jina menatap mobil
Taehyung hingga menghilang dari pandangan lalu menghela nafas panjang. Apa yang
akan ia lakukan dengan perasaannya? Gawat jika ia sampai jatuh cinta pada
seorang Shin Taehyung.
***
Senin pagi di
awal bulan baru, seperti biasanya, anggota SO atau Student Organization
melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap seluruh siswa. Biasanya pemeriksaan
‘Student Book’ yang dimiliki seluruh siswa, yang wajib di bawa setiap hari. Di
tengah anak-anak yang sedang menunggu untuk di cek, seorang gadis dengan cemas
mencari di tasnya.
“Soojin!”
Gadis itu memanggil temannya seraya menarik lengan baju temannya itu. Soojin,
Park Soojin, gadis yang di panggil itu pun menoleh menatap temannya yang sudah
menjadi mahasiswi namun suka bertindak seperti anak kecil, Park Minra.
“Student Book
ku hilang!”
“Minra...”
Kata Soojin, seakan-akan sudah hopeless tentang temannya yang satu ini.
“Hukuman dari SO tidak akan ringan..” Kata-kata Soojin membuat temannya semakin
panik dan ketakutan sehingga tidak menyadari seorang pemuda yang mendekatinya
dari belakang. Dari armband yang dipakainya, pemuda itu adalah salah satu
anggota SO.
“Giliran
kalian berdua.” Kata pemuda itu. Senyumnya mengembang saat melihat Minra.
Sementara kedua gadis itu mengernyit ketika melihat muka pemuda itu.
“Mark
sunbae-nim.” Kata Minra seraya menyapa pemuda itu sementara Soojin memberikan
Student Booknya untuk diperiksa.
“Sudah
kubilang, panggil saja aku oppa.” Jawab Mark sambil mengedip riang pada Minra.
Mark, tahun kedua dan anggota SO, adalah orang yang mempunyai perasaan (yang
bertepuk sebelah tangan) pada Park Minra sejak awal pemuda itu melihat Minra.
Entah bagaimana akhirnya pemuda itu mengetahui nama Minra, jurusan, hari ulang
tahun dan hal lainnya. Baik Minra maupun Soojin sudah merasa enggan ketika
melihat Mark.
“Student
Bookmu?” Kata Mark setelah selesai memeriksa Student Book milik Soojin dan
mengembalikannya. Minra menggeleng pelan dan menunduk sedih.
“Hilang.
Padahal aku selalu menaruhnya di dalam tas.”
Mark menatap
sekelilingnya lalu menepuk kepala Minra dengan lembut. “Ku loloskan kau kali
ini, tapi kau berhutang makan siang bersama sekali denganku.” Sebelum Minra
dapat membalas kata-kata Mark, pemuda itu sudah berteriak dan menyuruh kedua
gadis itu segera masuk kedalam kampus, tanda pemeriksaan pada mereka sudah
selesai.
“Kau akan
menyesal menjanjikan hal itu padanya.” Kata Soojin.
“Ia bahkan
tidak menungguku mengatakan jawabanku.” Kata Minra, namun ia tahu jelas walaupun
Mark memberikannya waktu untuk menjawab, ia tidak akan berani menolak seniornya
itu.
Sepanjang hari
Minra terus memikirkan Student Booknya yang hilang sehingga tugas miliknya
terabaikan dan di kelas ia tampak tidak fokus. Alhasil gadis itu harus tinggal
lebih lama dari murid yang lain di kampus untuk mengejar ketinggalannya hari
ini. Langit sudah berubah warna dari biru cerah menjadi kemerahan ketika
akhirnya Minra berjalan meninggalkan daerah kampus.
Baru saja ia
hendak memasang headsetnya ketika sesosok pemuda mendekatinya. Dari seragamnya,
Minra bisa mengetahui bahwa pemuda itu adalah pelajar SMA yang berlokasi tidak
jauh dari kampusnya. Namun bukan itu yang menarik perhatian Minra. Wajah pemuda
itu tampak tidak asing lagi baginya dan hal itu membuatnya penasaran.
“Umm.. Park
Minra-ssi?” Kata pemuda itu. Suaranya terdengar lembut dan menyenangkan. “Aku
ingin memberikan ini padamu, namun dari kemarin kau selalu pulang terlebih
dahulu.”
Minra melihat
Student Booknya di sodorkan oleh pemuda itu. Setengah terkejut setengah senang,
Minra menerima Student Booknya itu. “T-tapi bagaimana bisa?” Tanya Minra.
“Kau
menjatuhkannya di stasiun saat itu.” Kata pemuda itu, dan saat itu juga Minra
mengenali wajah pemuda itu. Itu adalah pemuda yang sama dengan pemuda yang
membantunya dulu di stasiun saat dia nyaris terjatuh.
“Ah!” Sahut
Minra, namun dengan cepat ia menutup mulutnya dengan tangannya. Ia tidak bisa
bertindak konyol di depan pemuda tampan ini bukan? Adik kelas lagi. Pemuda itu
hanya tertawa saat melihat Minra dan menjulurkan tangannya, mengajak gadis itu
bersalaman.
“Jeon
Jungkook.” Kata pemuda itu sambil menjabat tangan Minra, “Rasanya tidak adil
bila aku mengetahu namamu, namun kau tidak mengetahui namaku.” Senyuman dari
Jungkook nyaris membuat Minra ingin berteriak. “Bolehkah aku memanggilmu noona
saja?” Yak, saat itu juga Minra ingin berlari keliling lapangan sambil
berteriak.
“Tentu saja
boleh.” Jawab Minra, berusaha menutupi fakta bahwa mukanya makin memerah setiap
saatnya.
“Kau akan ke
stasiun bukan? Kita jalan bersama ya noona?”
Dan pada saat
itu juga, Minra memutuskan untuk selalu pulang pada jam yang sama dengan hari
itu. Ia tidak pernah menyangka akan menyukai pemuda yang umurnya di bawah
dirinya, namun pemuda di sebelahnya ini jelas sudah memenangkan hatinya.
***
“Pria sejati
harus menepati janjinya.”
Haneul
bertukar pandang dengan Taehyung setelah mengatakan hal itu. Keduanya nyengir
jahat kemudian menatap Dongho, yang mukanya sudah pucat pasi melihat kedua
orang terdekatnya berubah menjadi setan berdarah dingin.
“Kalian tidak
serius kan?” Tanya Dongho, berusaha menghindari dari nasibnya.
“SERIUS.”
Teriak Haneul dan Taehyung bersama-sama, membuat Dongho mengernyit. Sebenarnya
yang anak kembar ini Taehyung dan Dongho atau Taehyung dan Haneul sih? Kedua
anak itu tampaknya kompak membuat Dongho sengsara.
Akhirnya
Dongho menerima nasib buruknya. Ia harus menjalankan ‘hukuman’ dari Taehyung
dan Hanueul karena ia kalah taruhan dengan mereka berdua. Ketiga teman masa
kecil itu mengadakan taruhan kecil-kecilan soal nilai mereka. Yang nilainya
paling jelek diantara mereka bertiga harus melakukan hukuman dari yang lain.
Dongho sama
sekali tidak menyangka akan kalah dari Taehyung. Dari Haneul sih jelas kalah,
tapi Taehyung? Ia sama sekali tidak menyangkanya. Alhasil, dia berjalan dengan
langkah enggan ke arah lapangan lari yang berada di tengah-tengah kampus mereka
sementara Taehyung dan Haneul menonton dari jendela di lantai tiga di bangunan
terdekat dari lapangan itu.
Oke. Saatnya
ia menyelesaikan ‘hukuman’ ini dengan jantan dan cepat. Dongho menarik nafas
dalam-dalam sebelum berteriak sekuat tenaga.
“PARK JIMIN.
KEMARI KAU DAN AYO ADU TINJU!! SIAPA TAKUT DENGAN BONGKAHAN OTOT SEPERTIMU!!”
Teriakan
Dongho yang menggelegar itu membuat kedua temannya tertawa terpingkal-pingkal
di lantai tiga, sementara anak-anak yang lain mulai menyadari apa yang Dongho
katakan dan mulai menonton pemuda itu meneriakan kata-kata yang sama beberapa
kali lagi.
Ketika Dongho
selesai meneriakan kata-kata yang sama untuk kelima kalinya, sama seperti yang
di perintahkan Haneul dan Taehyung, seorang gadis mendekati Dongho dengan muka
kesal tampak jelas di mukanya. Dongho mengenalinya, dia adalah gadis yang ia
temui di perpustakaan waktu yang lalu.
“Bisakah kau
berhenti? Kau menganggu ketenangan untuk yang lain.” Kata gadis itu dengan nada
yang sedikit sinis. Dongho nyengir, sifat gadis ini yang tidak peduli akan
siapa dirinya membuatnya teringat akan Haneul.
“Tenang saja.
Aku sudah selesai.” Jawab Dongho dengan coolnya.
Namun sekali lagi, gadis itu tampaknya tidak tertarik dengan gaya dan wajah
tampan Dongho yang membuat hampir gadis di seluruh kampus menyukainya.
"Bagus."
Kata gadis itu. "Dan tolong jangan berkelahi di daerah kampus."
"Aku
tidak akan berkelahi."
"Tapi kau
baru saja menantang seseorang."
"Aku
hanya melakukan sebuah hukuman."
"Hukuman?"
Dan Dongho pun
menjelaskan taruhan yang ia lakukan dengan Taehyung dan Haneul. Saking serunya
bercerita, ia tidak sadar bahwa kerumunan yang di sekitarnya tadi mulai kabur
ketakutan. Penyebabnya tak lain tak bukan adalah kelompok preman yang di ketuai
Park Jimin. Dongho menoleh tepat pada waktunya dan langsung melihat rombongan
itu. Tanpa banyak pikir lagi, dia menarik tangan gadis yang berada di depannya
itu dan berlari bersama.
"H-hey!!"
Protes gadis itu namun karena terlalu panik Dongho mengabaikan protesan gadis
itu dan mereka berdua terus berlari hingga Dongho menganggap semuanya sudah
aman. Saat akhirnya mereka berdua berhenti berlari, gadis itu menarik paksa
tangannya sendiri dari genggaman Dongho dan men'deathglare' pemuda itu.
"Kau
pikir apa yang kau lakukan?" Protes gadis itu.
"Menyelamatkan
kita berdua dari Park Jimin dan kelompoknya." Jawab Dongho acuh tak acuh.
"Tapi aku
tidak bersalah apapun!"
Dongho terdiam
sambil menatap gadis tersebut baru akhirnya mengangguk-angguk. "Benar juga
ya." Katanya, membuat gadis itu sudah mengangkat tangan hendak memukul
kepala Dongho, namun akhirnya tidak jadi dan malah berbalik lalu berjalan
pergi.
"Hey."
Kata Dongho, tapi ia malah di abaikan. "Hey!!" Sekali lagi ia di
abaikan. "WOY!!"
Karena tidak
tahan, akhirnya gadis itu berbalik dan menatap Dongho dengan sinis.
"Apa?"
"Siapa
namamu?"
Gadis itu
menatap Dongho selama beberapa saat sebelum akhirnya menjawab. "Park
Soojin."
"Adik
kelasku kan? Oh, namaku--" Kata-kata Dongho di potong oleh Soojin.
"Shin
Dongho kan?" Kata Soojin. Dan setelah berkata begitu, Soojin berbalik dan
mulai berjalan kembali, meninggalkan Dongho yang tercengang namun lalu nyengir
puas. Gadis ini memang menarik.
***TBC***
A/N : Ga ada Haneul Jimin huhuhuhu #ngek
Tadinya mau di masukin tapi mikir ah ntar lama lagi updatenya lol
as always, mohon maaf bila ada kesalahan~ *bows*
Tadinya mau di masukin tapi mikir ah ntar lama lagi updatenya lol
as always, mohon maaf bila ada kesalahan~ *bows*
Made by : Liz
Take out with full credits please~ ^^

0 komentar:
Posting Komentar