Jumat, 05 September 2014

You're My : Chapter 2

Disclaimer    : BTS and all Kpop artists are not mine. Jimin will be soon though (lol kidding).
OC belongs to their rightful owner, while the plot is mine.

Genre       : Romance, Friendship, Comedy, Fluff

"You’re My"
Chapter 2 : My First Introduction


Shin Taehyung menundukan kepalanya hingga menyentuh meja di depannya dengan bunyi yang bisa di bilang cukup keras. Dongho, saudara kembarnya yang duduk di seberangnya, mengalihkan pandangannya dari majalah yang sedang di bacanya untuk memandang Taehyung.

“Terjadi sesuatu?” Kata Dongho akhirnya karena Taehyung menghembuskan nafas frustasi. Yang di tanya malah menghembuskan nafas frustasi beberapa kali lagi sebagai jawaban, membuat Dongho menahan diri untuk tidak melempar majalahnya ke arah saudaranya.

“Pertandingan kemarin.” Jawab Taehyung pada akhirnya seraya memukulkan kepalanya berulang kali ke meja. Team sepak bola Taehyung memang berlomba dua hari yang lalu dan pemuda itu tidak bisa mengikutinya karena sakit. Alhasil, kehilangan striker utama mereka membuat team itu kalah dan Taehyung berulang kali menyalahkan dirinya. Memang bukan pertandingan kejuaraan, tapi pertandingan tetaplah pertandingan walau hanya pertandingan latihan sederhana saja.

Dongho menghembuskan nafas pasrah, “Kau masih memikirkannya? Semua orang sudah mengatakan bahwa itu bukan salahmu.”

“Tetap saja..”

Alis Dongho terangkat. "Perlukah aku menelepon Haneul agar--"

"Tidaak!!" Teriak Taehyung sambil berdiri dari kursinya. Kalau Haneul tahu tentang tingkahnya yang agak 'childish' itu, entah apa yang akan di lakukan oleh gadis itu. Dongho nyengir melihat tingkah kembarannya itu. Well, itu memang reaksi yang sewajarnya. Ia yakin ia akan melakukan hal yang sama bila berada di posisi Taehyung.

"Pergilah keluar, kerjakan sesuatu dan berhenti memikirkan pertandingan itu!" Kata Dongho sambil menendang kembarannya itu. Taehyung berdiri dengan kesal dan menendang balik Dongho sebelum berlari pergi keluar dari rumah mereka. Untung saja rumah Haneul dan rumah si kembar tidak berdekatan, atau bisa gila mereka.

Taehyung memutar kunci mobilnya sebelum melompat masuk dan menyalakan mobilnya. Tujuan? Nanti saja dipikirkan di tengah jalan. Sekarang yang penting itu, dia mencari pemandangan baru yang bisa mengalihkan pikirannya. Di aturnya agar atap mobilnya terbuka dan lagu di pasangnya keras-keras sebelum memasang kacamata hitamnya dan mulai mengendarai mobilnya.

Akhirnya pemuda satu ini memutuskan untuk mengarahkan mobilnya menuju taman. Taman itu tidak jauh dari kampus mereka, dan yang penting, disitu tidak ada lapangan sepak bola. Hanya ada lapangan basket saja disana.

Baru saja Taehyung memarkirkan mobilnya dan melompat turun, ketika sebuah suara menarik perhatiannya. Karena iseng sekaligus penasaran, pemuda itu berjalan dengan pelan dan hati-hati menuju sumber suara. Betapa kagetnya dia ketika melihat seorang gadis di pojokan oleh beberapa berandalan di sisi taman yang kebetulan sepi itu. Sayup-sayup terdengar pembicaraan mereka.

"Panggil kakakmu ke taman ini." Ucap salah satu berandalan pada sang gadis. Tangannya memegang tangan gadis itu dengan keras. Namun gadis itu menggeleng dengan tegas.

"Tidak akan."

"Keras kepala!" Tampaknya itu bukan pertama kalinya gadis itu di minta memanggil kakaknya sehingga seraya berseru, berandalan tadi melayangkan tangannya dan menampar gadis itu. Tidak dapat menghindar, gadis itu nyaris saja jatuh karena tamparan yang ia terima bukan tamparan ringan.

Taehyung memerlukan waktu sekitar dua detik untuk mencerna apa yang baru ia lihat. Setelah itu baru dia berlari mendekat. "Hoy! Apa yang kalian lakukan?!" Teriak Taehyung. Para berandalan itu langsung menolehkan kepala mereka ke arah Taehyung. Jika Taehyung menghadapi masalah ini dengan cara berantem, tentu ia akan kalah. Namun pemuda itu mendadak mendapat ide cerdik.

"Tolong!! Tolong!! Ada berandalan membuat ulah disini!" Taehyung mulai berteriak sekuat tenaga. "Pak polisi!! Siapapun!!" Walau bagian taman tempat mereka sekarang sepi, namun tidak berarti seluruh taman itu sepi, dan Taehyung menyadari hal itu. Berpikiran hal yang sama dengan Taehyung, para berandalan tadi pun mulai panik dan beberapa saat kemudian, sudah hilang dari pandangan.

Taehyung nyengir bangga. Dia berhasil mengusir berandalan tanpa harus melukai wajah tampannya. "Kau tidak apa-apa?" Katanya kemudian seraya menoleh ke arah gadis yang baru ia tolong itu. Gadis itu hanya mengangguk saja sambil menundukan kepala.

"Kau.. adik kelasku kan?" Tebak Taehyung setelah beberapa saat menatap gadis itu walau tampaknya gadis itu menutupi wajahnya dengan cara menunduk dalam-dalam.

Jelas kata-kata Taehyung membuat gadis itu terkejut. Ia mengangkat kepalanya dengan cepat sehingga nyaris saja mengenai dagu Taehyung. "Sepertinya tebakanku benar." Lanjut Taehyung ketika sekarang ia bisa melihat muka gadis itu dengan lebih jelas. "Jina? Park Jina?"

Mata gadis itu melebar kaget. "B-bagaimana kau bisa mengingat namaku?" Gadis itu memang Park Jina, adik tunggal Park Jimin yang merupakan preman kampus tempat Taehyung bersekolah.

"Karena anggota team ku senang membicarakan mu sejak kau membantuku menangkap bola waktu itu." Jawab Taehyung dengan santai. Sama sekali tidak tahu kalau kata-katanya membuat jantung Jina berdegup dengan cepat. "Kau yakin tidak apa-apa? Ia memukulmu cukup keras."

Otomatis Jina mengangkat tangannya dan menyentuh pipi yang terkena tamparan tadi dan meringis pelan karena perih. Pergelangan tangannya juga tampaknya terkilir. Ia tidak bisa pulang ke rumah karena ia tidak ingin kakaknya mengetahuinya terlibat masalah dan tidak bisa ke rumah sakit karena itu hanya akan membuang-buang uang saja.

Melihat Jina yang tidak merespon pertanyaan terakhirnya, Taehyung menghembuskan nafas frustasi dan menarik tangan Jina.

"A--"

"Kita akan pergi merawat lukamu." Kata Taehyung. "Tenang aku tidak akan menculikmu." Tambahnya sambil tertawa karena leluconnya sendiri.

"Tapi, aku tidak.." Jina terdiam sejenak, memikirkan kata yang tepat. "...bisa pulang ataupun ke rumah sakit saat ini."

"Tenang saja. Kita tidak akan ke rumah sakit." Kata Taehyung sambil membuka pintu mobil porsche silvernya, yang membuat mata Jina melebar kaget (sebenarnya Jina dan banyak orang lainnya).

"Lalu kita akan kemana?"

"Ke rumah sahabatku."

***

Haneul menatap buku yang ada di hadapannya dengan pandangan kosong. Ia sudah membaca buku tersebut untuk entah keberapa kalinya dan ia sudah hafal isinya. Namun buku itu selalu membuatnya ingin membaca lagi dan lagi, walau tidak untuk hari ini.

Baru saja ia menutup buku yang sedang di 'baca'nya itu ketika suara ketukan terdengar di pintu ruang bacanya. "Masuk." Kata Haneul dengan tenang. Gadis itu berdiri dan meletakan buku tadi di raknya sebelum berbalik dan melihat seorang pria muda berpakaian seperti butler membungkuk pelan padanya.

"Tuan Taehyung mengunjungi anda, Nona." Kata pria tersebut. Jika dibandingkan dengan keluarga si kembar yang modern dan serba santai, keluarga Haneul bisa di bilang masih sedikit tradisional dan disiplin. Dan didikan kedua rumah itu dapat terlihat jelas hasilnya di ketiga anak yang bersahabat sejak kecil itu.

"Aku akan segera kebawah." Kata Haneul yang di ikuti dengan bungkukan rendah dari sang butler. Apalagi keinginan temannya itu kali ini. Haneul hanya bisa berharap tidak akan terjadi hal yang merepotkan seperti terakhir kali si kembar mengunjungi rumahnya.

Taehyung menghempaskan dirinya ke salah satu sofa di ruang tamu dan mulai bertingkah seakan dia berada di rumahnya sendiri. Lain hal dengan Jina yang merasa canggung sejak awal di dalam mobil bersama Taehyung. Ia tidak pernah menaiki mobil sebagus itu dan ia juga belum pernah masuk ke rumah besar seperti rumah yang sedang mereka kunjungi.

"Umm.. Taehyung sunbae-nim.." Kata Jina saat Taehyung sudah mengambil minum yang disediakan pelayan. Taehyung memberikan Jina pandangan bertanya singkat sebelum kembali fokus pada minumannya.

"Kenapa kita berada disi--"

Kata-kata Jina terputus oleh suara pintu yang terbuka. "Perlu kuingatkan kalau ini rumahku dan bukan rumahmu, Shin Taehyung?" Kata Haneul yang berjalan memasuki ruangan. Taehyung, yang masih sibuk dengan minumannya hanya mengacungkan jempolnya dan nyengir lebar.

Haneul kemudian menyadari kehadiran Jina, yang membuatnya lalu memandang Taehyung dengan pandangan curiga sekaligus penasaran. "Boleh kutanya apa urusanmu dan Jina-ssi disini?"

Jina mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali. Mulutnya sedikit terbuka karena kaget mendengar bahwa Haneul sudah mengenalinya duluan. Namun lalu tersadar, Haneul pasti mengenalnya dari rumor-rumor yang beredar di seluruh kampus mereka.

"Pipinya dan tangannya." Kata Taehyung dengan susah payah karena mulutnya sibuk mengunyah kue yang disediakan bersama dengan minuman untuk mereka. Haneul harus menahan godaan untuk menabok pemuda itu. Gadis itu lalu berjalan mendekati Jina dan menatap pipinya, membuat orang yang bersangkutan merasa canggung.

"Ambilkan kotak p3k yang biasa." Kata Haneul dan butler yang berdiri diam di dekat pintu membungkuk pelan sebelum keluar ruangan. Tidak lama kemudian butler itu kembali membawa sebuah kotak dan segera menyerahkannya pada Haneul.

"Kau sadar aku bukan dokter pribadimu, Taehyung?" Kata Haneul setelah selesai merawat pipi dan pergelangan tangan Jina. Taehyung lagi-lagi tidak menjawab dengan kata-kata. Pemuda itu hanya mengangguk-angguk seraya membaca buku yang baru ia minta dari butler tadi.

"Terima kasih.. umm.." Betapa malunya Jina ketika ia menyadari bahwa ia belum mengetahui nama orang yang mengobati dirinya ini.

"Oh Haneul. Kita berada di tahun yang sama." Kata Haneul seraya merapihkan kotak obatnya kembali.

"Oh Haneul, putri tunggal Oh Hyunseok, sang dokter terkenal." Kata Taehyung menimpali. "Tahun kedua, jurusan kedokteran. Sang 'Ice Queen'. Anggota SO dan calon ketua SO berikutnya."

"Ku sarankan kau berhenti berbicara sebelum aku memperban mulutmu, Shin Taehyung."

Taehyung nyengir lebar dan kembali membaca bukunya seakan ia tidak melakukan apa-apa. Haneul memandang tajam sahabatnya selama beberapa saat sebelum kembali menatap Jina. "Kau mendapat luka ini dari musuh kakakmu?"

"Kakak?" Tanya Taehyung.

"Park Jimin. Jangan bilang kau tidak tahu nama itu?"

Taehyung menunjukan muka terluka terbaiknya pada Haneul. "Aku tidak se-anti sosial itu, Haneul. Tentu aku tahu nama itu."

"Jina-ssi adalah adik tunggal Park Jimin. Tentu banyak orang akan menargetnya karena kakaknya bukan?" Kata Haneul. "Antarkan dia pulang sampai di rumahnya, Taehyung."

Jina mengerjapkan matanya lagi dan langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat setelah berhasil mencerna kata-kata Haneul. "Tidak perlu! Aku bisa sendiri!" Namun Taehyung sudah berdiri dan merapihkan bajunya lalu berjalan mendekati Jina.

“Ayo.” Kata Taehyung.

“Terima saja tawarannya.” Kata Haneul seraya berdiri juga. Jina menatap kedua orang tersebut secara bergantian sebelum akhirnya mengangguk. Haneul mengantar mereka berdua hingga ke pintu depan.

“Eh.” Kata Taehyung saat ia dan Jina sudah berada di dalam mobil dan siap berangkat. Haneul menaikkan alisnya dan menatap Taehyung dengan bingung, kedua tangannya terlipat di depan dada.

“Tersebar rumor kalau kau mendapat masalah dengan Park Jimin dan kelompoknya bukan? Kau yakin kau akan baik-baik saja?”

Haneul menatap Taehyung selama beberapa lama sebelum tertawa. Shin Taehyung mengatakan hal seperti itu adalah hal yang jarang, walau Haneul tahu Taehyung dan Dongho suka bertindak sebagai kakaknya kadang-kadang.

“Kau lupa aku siapa? Jangan khawatir.” Kata Haneul. Taehyung lalu tersenyum dan melambaikan tangannya sebelum menyalakan mobilnya dan mulai melaju menjauh dari rumah Haneul. Sekitar beberapa blok sebelum rumah Jina, gadis tersebut meminta Taehyung menurunkannya di jalan.

“Jika kakakku mengetahuinya, akan terjadi masalah.” Kata gadis itu. Tidak dapat melawan keputusan Jina, akhirnya Taehyung menuruti keinginan gadis itu.

“Terima kasih banyak, sunbae-nim.” Kata Jina seraya membungkuk ke arah Taehyung. Taehyung hanya mengangguk sebelum naik kedalam mobilnya kembali. Jina sudah berbalik ketika Taehyung memanggilnya kembali. Pemuda itu mengacak-acak rambutnya, mencari kata-kata yang tepat.

“Jangan segan-segan meminta bantuanku, Dongho atau Haneul jika terlibat masalah lagi.” Kata Taehyung akhirnya sebelum melaju dengan mobilnya. Jina menatap mobil Taehyung hingga menghilang dari pandangan lalu menghela nafas panjang. Apa yang akan ia lakukan dengan perasaannya? Gawat jika ia sampai jatuh cinta pada seorang Shin Taehyung.

***

Senin pagi di awal bulan baru, seperti biasanya, anggota SO atau Student Organization melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap seluruh siswa. Biasanya pemeriksaan ‘Student Book’ yang dimiliki seluruh siswa, yang wajib di bawa setiap hari. Di tengah anak-anak yang sedang menunggu untuk di cek, seorang gadis dengan cemas mencari di tasnya.

“Soojin!” Gadis itu memanggil temannya seraya menarik lengan baju temannya itu. Soojin, Park Soojin, gadis yang di panggil itu pun menoleh menatap temannya yang sudah menjadi mahasiswi namun suka bertindak seperti anak kecil, Park Minra.

“Student Book ku hilang!”

“Minra...” Kata Soojin, seakan-akan sudah hopeless tentang temannya yang satu ini. “Hukuman dari SO tidak akan ringan..” Kata-kata Soojin membuat temannya semakin panik dan ketakutan sehingga tidak menyadari seorang pemuda yang mendekatinya dari belakang. Dari armband yang dipakainya, pemuda itu adalah salah satu anggota SO.

“Giliran kalian berdua.” Kata pemuda itu. Senyumnya mengembang saat melihat Minra. Sementara kedua gadis itu mengernyit ketika melihat muka pemuda itu.

“Mark sunbae-nim.” Kata Minra seraya menyapa pemuda itu sementara Soojin memberikan Student Booknya untuk diperiksa.

“Sudah kubilang, panggil saja aku oppa.” Jawab Mark sambil mengedip riang pada Minra. Mark, tahun kedua dan anggota SO, adalah orang yang mempunyai perasaan (yang bertepuk sebelah tangan) pada Park Minra sejak awal pemuda itu melihat Minra. Entah bagaimana akhirnya pemuda itu mengetahui nama Minra, jurusan, hari ulang tahun dan hal lainnya. Baik Minra maupun Soojin sudah merasa enggan ketika melihat Mark.

“Student Bookmu?” Kata Mark setelah selesai memeriksa Student Book milik Soojin dan mengembalikannya. Minra menggeleng pelan dan menunduk sedih.

“Hilang. Padahal aku selalu menaruhnya di dalam tas.”

Mark menatap sekelilingnya lalu menepuk kepala Minra dengan lembut. “Ku loloskan kau kali ini, tapi kau berhutang makan siang bersama sekali denganku.” Sebelum Minra dapat membalas kata-kata Mark, pemuda itu sudah berteriak dan menyuruh kedua gadis itu segera masuk kedalam kampus, tanda pemeriksaan pada mereka sudah selesai.

“Kau akan menyesal menjanjikan hal itu padanya.” Kata Soojin.

“Ia bahkan tidak menungguku mengatakan jawabanku.” Kata Minra, namun ia tahu jelas walaupun Mark memberikannya waktu untuk menjawab, ia tidak akan berani menolak seniornya itu.

Sepanjang hari Minra terus memikirkan Student Booknya yang hilang sehingga tugas miliknya terabaikan dan di kelas ia tampak tidak fokus. Alhasil gadis itu harus tinggal lebih lama dari murid yang lain di kampus untuk mengejar ketinggalannya hari ini. Langit sudah berubah warna dari biru cerah menjadi kemerahan ketika akhirnya Minra berjalan meninggalkan daerah kampus.

Baru saja ia hendak memasang headsetnya ketika sesosok pemuda mendekatinya. Dari seragamnya, Minra bisa mengetahui bahwa pemuda itu adalah pelajar SMA yang berlokasi tidak jauh dari kampusnya. Namun bukan itu yang menarik perhatian Minra. Wajah pemuda itu tampak tidak asing lagi baginya dan hal itu membuatnya penasaran.

“Umm.. Park Minra-ssi?” Kata pemuda itu. Suaranya terdengar lembut dan menyenangkan. “Aku ingin memberikan ini padamu, namun dari kemarin kau selalu pulang terlebih dahulu.”

Minra melihat Student Booknya di sodorkan oleh pemuda itu. Setengah terkejut setengah senang, Minra menerima Student Booknya itu. “T-tapi bagaimana bisa?” Tanya Minra.

“Kau menjatuhkannya di stasiun saat itu.” Kata pemuda itu, dan saat itu juga Minra mengenali wajah pemuda itu. Itu adalah pemuda yang sama dengan pemuda yang membantunya dulu di stasiun saat dia nyaris terjatuh.

“Ah!” Sahut Minra, namun dengan cepat ia menutup mulutnya dengan tangannya. Ia tidak bisa bertindak konyol di depan pemuda tampan ini bukan? Adik kelas lagi. Pemuda itu hanya tertawa saat melihat Minra dan menjulurkan tangannya, mengajak gadis itu bersalaman.

“Jeon Jungkook.” Kata pemuda itu sambil menjabat tangan Minra, “Rasanya tidak adil bila aku mengetahu namamu, namun kau tidak mengetahui namaku.” Senyuman dari Jungkook nyaris membuat Minra ingin berteriak. “Bolehkah aku memanggilmu noona saja?” Yak, saat itu juga Minra ingin berlari keliling lapangan sambil berteriak.

“Tentu saja boleh.” Jawab Minra, berusaha menutupi fakta bahwa mukanya makin memerah setiap saatnya.

“Kau akan ke stasiun bukan? Kita jalan bersama ya noona?”

Dan pada saat itu juga, Minra memutuskan untuk selalu pulang pada jam yang sama dengan hari itu. Ia tidak pernah menyangka akan menyukai pemuda yang umurnya di bawah dirinya, namun pemuda di sebelahnya ini jelas sudah memenangkan hatinya.

***

“Pria sejati harus menepati janjinya.”

Haneul bertukar pandang dengan Taehyung setelah mengatakan hal itu. Keduanya nyengir jahat kemudian menatap Dongho, yang mukanya sudah pucat pasi melihat kedua orang terdekatnya berubah menjadi setan berdarah dingin.

“Kalian tidak serius kan?” Tanya Dongho, berusaha menghindari dari nasibnya.

“SERIUS.” Teriak Haneul dan Taehyung bersama-sama, membuat Dongho mengernyit. Sebenarnya yang anak kembar ini Taehyung dan Dongho atau Taehyung dan Haneul sih? Kedua anak itu tampaknya kompak membuat Dongho sengsara.

Akhirnya Dongho menerima nasib buruknya. Ia harus menjalankan ‘hukuman’ dari Taehyung dan Hanueul karena ia kalah taruhan dengan mereka berdua. Ketiga teman masa kecil itu mengadakan taruhan kecil-kecilan soal nilai mereka. Yang nilainya paling jelek diantara mereka bertiga harus melakukan hukuman dari yang lain.

Dongho sama sekali tidak menyangka akan kalah dari Taehyung. Dari Haneul sih jelas kalah, tapi Taehyung? Ia sama sekali tidak menyangkanya. Alhasil, dia berjalan dengan langkah enggan ke arah lapangan lari yang berada di tengah-tengah kampus mereka sementara Taehyung dan Haneul menonton dari jendela di lantai tiga di bangunan terdekat dari lapangan itu.

Oke. Saatnya ia menyelesaikan ‘hukuman’ ini dengan jantan dan cepat. Dongho menarik nafas dalam-dalam sebelum berteriak sekuat tenaga.

“PARK JIMIN. KEMARI KAU DAN AYO ADU TINJU!! SIAPA TAKUT DENGAN BONGKAHAN OTOT SEPERTIMU!!”

Teriakan Dongho yang menggelegar itu membuat kedua temannya tertawa terpingkal-pingkal di lantai tiga, sementara anak-anak yang lain mulai menyadari apa yang Dongho katakan dan mulai menonton pemuda itu meneriakan kata-kata yang sama beberapa kali lagi.

Ketika Dongho selesai meneriakan kata-kata yang sama untuk kelima kalinya, sama seperti yang di perintahkan Haneul dan Taehyung, seorang gadis mendekati Dongho dengan muka kesal tampak jelas di mukanya. Dongho mengenalinya, dia adalah gadis yang ia temui di perpustakaan waktu yang lalu.

“Bisakah kau berhenti? Kau menganggu ketenangan untuk yang lain.” Kata gadis itu dengan nada yang sedikit sinis. Dongho nyengir, sifat gadis ini yang tidak peduli akan siapa dirinya membuatnya teringat akan Haneul.

“Tenang saja. Aku sudah selesai.” Jawab Dongho dengan coolnya. Namun sekali lagi, gadis itu tampaknya tidak tertarik dengan gaya dan wajah tampan Dongho yang membuat hampir gadis di seluruh kampus menyukainya.

"Bagus." Kata gadis itu. "Dan tolong jangan berkelahi di daerah kampus."

"Aku tidak akan berkelahi."

"Tapi kau baru saja menantang seseorang."

"Aku hanya melakukan sebuah hukuman."

"Hukuman?"

Dan Dongho pun menjelaskan taruhan yang ia lakukan dengan Taehyung dan Haneul. Saking serunya bercerita, ia tidak sadar bahwa kerumunan yang di sekitarnya tadi mulai kabur ketakutan. Penyebabnya tak lain tak bukan adalah kelompok preman yang di ketuai Park Jimin. Dongho menoleh tepat pada waktunya dan langsung melihat rombongan itu. Tanpa banyak pikir lagi, dia menarik tangan gadis yang berada di depannya itu dan berlari bersama.

"H-hey!!" Protes gadis itu namun karena terlalu panik Dongho mengabaikan protesan gadis itu dan mereka berdua terus berlari hingga Dongho menganggap semuanya sudah aman. Saat akhirnya mereka berdua berhenti berlari, gadis itu menarik paksa tangannya sendiri dari genggaman Dongho dan men'deathglare' pemuda itu.

"Kau pikir apa yang kau lakukan?" Protes gadis itu.

"Menyelamatkan kita berdua dari Park Jimin dan kelompoknya." Jawab Dongho acuh tak acuh.

"Tapi aku tidak bersalah apapun!"

Dongho terdiam sambil menatap gadis tersebut baru akhirnya mengangguk-angguk. "Benar juga ya." Katanya, membuat gadis itu sudah mengangkat tangan hendak memukul kepala Dongho, namun akhirnya tidak jadi dan malah berbalik lalu berjalan pergi.

"Hey." Kata Dongho, tapi ia malah di abaikan. "Hey!!" Sekali lagi ia di abaikan. "WOY!!"

Karena tidak tahan, akhirnya gadis itu berbalik dan menatap Dongho dengan sinis. "Apa?"

"Siapa namamu?"

Gadis itu menatap Dongho selama beberapa saat sebelum akhirnya menjawab. "Park Soojin."

"Adik kelasku kan? Oh, namaku--" Kata-kata Dongho di potong oleh Soojin.

"Shin Dongho kan?" Kata Soojin. Dan setelah berkata begitu, Soojin berbalik dan mulai berjalan kembali, meninggalkan Dongho yang tercengang namun lalu nyengir puas. Gadis ini memang menarik.

***TBC***

A/N : Ga ada Haneul Jimin huhuhuhu #ngek
Tadinya mau di masukin tapi mikir ah ntar lama lagi updatenya lol
as always, mohon maaf bila ada kesalahan~ *bows*

Made by : Liz
Take out with full credits please~ ^^

0 komentar:

Posting Komentar