Senin, 25 Agustus 2014

[BEHIND THE SCENE] You're My

Bermula dari kecintaan terhadap BTS a.k.a Bangtan sonyondan (방탄소년단) dan ditambah dengan kegilaan dan imajinasi gue, Mei, Appri dan Fika. Maka jadilah fanfic satu ini.

Seperti yang bisa di lihat, disini akan terdapat 4 pairing utama. Siapa saja itu, pasti sudah dapat di tebak hahahaha

Sekian saja, terima kasih~ #plaak

You're My : Chapter 1

Disclaimer : BTS and all Kpop artists are not mine. Jimin will be soon though (lol kidding).
OC belongs to their rightful owner, while the plot is mine.

Genre       : Romance, Friendship, Comedy, Fluff


"You’re My"
Chapter 1 : My Sight Fell On You


"Gratis?"

"Maumu."

Sang gadis berambut bergelombang panjang ini menatap kedua pemuda kembar di hadapannya di counter cafe tempat ia bekerja ini. Nama gadis itu adalah Oh Haneul, mahasiswi yang memasuki tahun keduanya. Sementara kedua pemuda kembar yang di depannya adalah Shin Taehyung dan Shin Dongho, teman masa kecil Haneul yang berusia satu tahun di atas Haneul.

"Oh ayolah. Kau kan sudah bekerja disini selama dua bulan lebih. Traktirlah kami." Kata pemuda yang memakai topi, Taehyung. Haneul mengernyit dan mendorong pundak pemuda itu dengan tangan kirinya.

"Jika kalian tidak ingin memesan, minggir." Kata Haneul yang membuat dua pemuda itu mengerang kecewa namun akhirnya memesan dan membayar sendiri pesanan mereka di cafe tempat Haneul bekerja ini.

"Aku selalu kagum bagaimana kau bisa sedekat itu dengan mereka berdua tapi tidak mempunyai perasaan apapun untuk mereka." Kata Jaemee, teman kerja Haneul yang menatap kedua pemuda kembar yang sedang menikmati coffee Americano mereka di meja yang tidak jauh dari tempat Haneul dan Jaemee berdiri.

"Percayalah padaku jika kau mengenal mereka sebaik diriku, kau tidak akan mungkin menyukai kedua pemuda sinting itu." Jawab Haneul acuh tak acuh namun tampaknya Jaemee tidak mempedulikan kata-kata Haneul dan penjelasan gadis itu mengenai Dongho dan Taehyung, persis seperti gadis-gadis lain yang menjadi penggemar kedua pemuda tampan itu.

Haneul, Dongho dan Taehyung memang mengenal satu dengan yang lain sejak kecil. Orang tua mereka bersahabat sehingga ketiga anak tersebut sudah sering bertemu sejak kecil. Pertemanan berubah menjadi persahabatan dan hal itu di pererat dengan kenyataan bahwa mereka selalu satu sekolah sejak SD, walau Haneul berumur satu tahun lebih muda dari Dongho dan Taehyung. Saat ini mereka bertiga juga masuk ke universitas yang sama, walau berbeda jurusan.

"Kapan kau akan mulai memanggilku oppa?" Kata Dongho saat ia, Taehyung dan Haneul sedang duduk di kantin kampus. Lawan bicaranya membalasnya dengan tatapan 'apa-kau-sudah-gila'. "Bercanda! Aku hanya bercanda!" Teriak Dongho karena Haneul menjambak rambutnya ketika ia hanya membalas tatapan Haneul dengan cengiran jahil.

"Fans kami akan memburumu jika kau terus memperlakukan kami seperti itu, Haneul." Kata Taehyung sambil melirik kerumunan gadis yang duduk tidak jauh dari mereka. Dongho dan Taehyung memang di kenal sebagai 'Pangeran Kampus' karena memiliki wajah tampan dan berasal dari keluarga yang kaya.

"Coba saja kalau mereka berani." Jawab Haneul. Gadis satu ini memang di kenal dengan ketegasan dan kegalakannya sehingga banyak anak memanggilnya 'Ice Queen'.

Taehyung dan Dongho tertawa mendengar jawaban sahabat sejak kecil mereka itu. Ingatan mengenai terakhir kalinya salah satu fans naif Taehyung dan Dongho nekat melabrak Haneul masih terbayang jelas di ingatan kedua pemuda itu. Kejadian yang berakhir justru berkebalikan dari maksud utamanya masih menjadi bahan ejekan si kembar untuk sahabat mereka.

Haneul melirik jam tangannya. "Bukankah kelas kalian berdua akan di mulai sekitar lima menit lagi?" Baru saja kata terakhir di ucapkan, baik Taehyung maupun Dongho sudah melesat pergi untuk berlari ke kelas mereka membuat Haneul menggelengkan kepalanya dengan pasrah, heran kenapa ia bisa bersahabat dengan dua pemuda yang kadang tidak sadar umur itu.

"Ah, aku harus kembali ke kelas juga." Gumam gadis itu sambil berdiri dari tempat duduknya. Langkahnya yang mantab tiba-tiba terhenti karena dari arah berlainan, tampak segerombolan anak yang baru saja masuk ke kantin sekolah. Anak-anak yang lain langsung terburu-buru menyelesaikan makanan mereka atau membawa makanan mereka keluar kantin karena rombongan yang baru masuk tak lain tak bukan adalah rombongan preman kampus yang di takuti.

Enam orang pemuda dengan pakaian yang 'berantakan' berjalan dengan sok di antara meja-meja kantin. Pemimpin mereka yang biasanya berdiri di tengah tidak terlihat di antara mereka. Haneul membetulkan letak tas tangannya dan berjalan maju dengan muka datar. Sejak awal ia memang tidak menyukai grup preman kampus ini.

"Hey, itu si Ice Queen."

Langkah Haneul sempat terhenti saat ia berpapasan dengan mereka dan sebuah suara tedengar dari rombongan itu.

"Ia persis seperti rumor yang beredar." Jawab suara lainnya. Haneul hanya membutuhkan waktu sedetik sebelum kembali berjalan dengan tegas. Tidak ada gunanya membuang waktu untul rombongan tidak benar seperti itu bukan?

"Eits. Tunggu dulu."

Haneul merasakan tangannya di tarik oleh seseorang dan mau tidak mau keseimbangannya goyah. Hampir saja ia jatuh jika ia tidak dengan sigap membetulkan posisi kakinya. Haneul menoleh dan mendapati pemuda berambut merah memandangnya balik dengan cengiran lebar.

"Tolong lepaskan." Kata Haneul, cukup tegas tapi para pemuda itu hanya tertawa saja dan tetap menahan tangan Haneul.

"Kami selalu penasaran denganmu, Ice Queen." Ujar pemuda yang memegang tangan Haneul tadi.

"Kau salah satu dari sedikit orang yang berani terang-terangan menyatakan ketidak sukaanmu di depan kami." Sahut yang lain.

Haneul mengernyit. "Lalu?" Namun tidak ada yang menjawab karena mereka sibuk bertukar cengiran dan tawa yang tidak berlangsung lama karena mendadak semua senyuman hilang dan di gantikan ekspresi kaget.

"K-ketua." Gumam salah satu pemuda. Haneul ikut menoleh ke arah pandang mereka dan melihat seorang pemuda berdiri tidak begitu jauh dari mereka. Pemuda itu mengenakan kaos dan rompi tanpa lengan berwarna hitam. Ekspresinya tampak gelap dan menunjukan bahwa ia kesal. Haneul mengenali wajah pemuda itu. Namun siapa sih yang tidak kenal pemuda yang paling di takuti di seluruh universitas itu? Pemuda itu adalah ketua dari para preman kampus, Park Jimin.

 "Apa yang kalian lakukan?" Tanya Jimin, membuat cengkraman di tangan Haneul lepas dan seluruh pemuda yang tadinya mengelilingi Haneul berpindah ke sisi Jimin.

"Hanya mengecek sang Ice Queen saja." Jawab pemuda yang tadi memegangi Haneul. "Ayo kita ke meja yang biasa." Kata-kata itu di ikuti dengan gumaman setuju dan mereka mulai bergerak menjauhi Haneul. Tak terkecuali, Jimin juga berjalan pergi. Walau sebelumnya ia melirik Haneul sekilas, membuat gadis itu mengernyit kesal.

"Kau tidak apa-apa?" Beberapa anak memberanikan diri mereka untuk mendatangi Haneul setelah rombongan preman itu telah berjalan pergi. Gadis berambut ikal itu hanya mengangguk singkat dan menjawab dengan mantab sebelum akhirnya meminta diri karena kelasnya akan di mulai sebentar lagi.

Semua orang mengira bahwa kejadian itu berhenti hanya sampai disitu saja. Semua orang termasuk Haneul. Namun sayangnya hal itu salah karena pada saat Haneul hendak berjalan keluar dari kampus, pemuda berambut merah yang tadi mencengkram tangan Haneul di kantin mencegat jalan gadis itu lagi.

"Min Yoongi a.k.a Suga." Kata pemuda itu, memperkenalkan diri tanpa diminta. "Tahun ketiga, itu berarti aku sunbae mu, Oh Haneul."

Haneul tidak menjawab ataupun memberikan respon pada kata-kata Suga. Ekspresinya tetap datar dan hal itu malah membuat cengiran Suga bertambah lebar.

"Kau tahu, kau cukup terkenal di antara kami." Ujar Suga.

"Lalu?"

Suga bersiul pelan setelah mendengar jawaban Haneul. "Hanya ingin memberi tahumu saja. Dan kau bukan terkenal dalam arti yang buruk kok." Pemuda itu berjalan mendekat hingga berdiri tepat di depan Haneul dan memposisikan mukanya hanya beberapa cm di depan muka Haneul. "Sampai bertemu lagi, Haneul."

***


Seorang gadis menghempaskan dirinya ke salah satu bangku taman di sekitar kampusnya. Hari ini adalah hari yang berat yang lain bagi dirinya. Bully? Tidak sih. Yah, hal yang dia alami tidak bisa di kategorikan sebagai 'bullying', tapi tetap saja menyesakkan hati.

"J-jina ssi?"

Gadis itu, Jina, menoleh dan mendapati segerombolan gadis yang berwajah sedikit ketakutan berdiri disebelahnya. Gadis yang paling dekat dengannya tadi, yang memanggil namanya, menjulurkan sebuah bungkusan.

"K-kau meninggalkan ini di kelas tadi."

Jina tersenyum ramah dan mengambil bungkusan itu. Namun bukannya merasa tenang, gadis-gadis tadi justru bertambah ketakutan. Tanpa menunggu kata-kata dari Jina, mereka semua mohon diri dan langsung pergi dari tempat itu secepat yang mereka bisa, meninggalkan Jina yang menunjukan ekspresi kaget yang kemudian di gantikan dengan ekspresi sedih.

Jina, Park Jina, dihindari tanpa sebab hanya karena ia adalah adik satu-satunya dari pemuda yang paling di takuti satu universitas itu, Park Jimin. Sebisa mungkin ia menutupi kenyataan itu walau gossip menyebar lebih cepat dari yang ia duga. Tahun lalu, saat ia baru saja menjalani kehidupannya sebagai mahasiswi baru selama tiga bulan, entah bagaimana fakta itu menyebar luas dan dalam sekejap semua teman barunya menghilang dari sisinya. Bahkan senior-seniornya pun bertingkah berbeda saat bertemu dengannya. Tentu saja ia tahu kakaknya tidak bermaksud jahat, namun tetap saja perilaku kakaknya itu menyusahkannya.

Mendadak sebuah bola sepak melayang dan mengenai tembok di sebelah Jina, membuat gadis itu kaget. Seraya memungut bola itu, Jina memandang sekelilingnya, mencari siapa yang melempar bola itu.

"Maaf maaf!" Seorang pemuda menghampiri Jina sambil berseru. Senyuman lebar yang menawan terpasang di wajahnya. Pemuda itu mengatupkan kedua tangannya di depan dadanya, sebagai tanda bahwa ia benar-benar meminta maaf.

"V!! Kau sudah mengambil bolanya?" Terdengar suara dari arah pemuda tadi berasal. Jina tersentak kaget, terutama ketika pemuda di depannya ini menyahut seruan tadi. V? Hanya satu pemuda yang memiliki julukan ini di kampus tersebut, ace dari team sepak bola, Shin Taehyung.

“Maaf ya.” Kata Taehyung sekali lagi seraya tersenyum lebar pada Jina, membuat gadis itu membeku selama beberapa saat. Hanya ada dua perempuan yang tidak membeku saat di senyumi oleh ‘Pangeran Kampus’ seperti itu, dan mereka berdua adalah ibu kedua pemuda itu dan Oh Haneul.

“Apa yang kau lakukan? Yang lain menunggu.” Seorang pemuda lain muncul dan berjalan mendekati Taehyung. Pemuda itu kemudian melihat Jina dan seperti anak-anak yang lain, ia tersentak dan tampak ketakutan. Jina mengernyit dan Taehyung sendiri tampak heran.

“J-jina ssi.” Kata pemuda itu dengan terbata-bata. “Maafkan kami!” Ia pun mendorong kepala Taehyung sehingga mereka berdua membungkukkan badan mereka di depan Jina. Namun Taehyung memberontak dan mendorong temannya menjauh.

“Kau mengenalnya?” Tanya Taehyung sambil menunjuk Jina dengan santai. Temannya langsung menarik tangan Taehyung dan memberikan pemuda itu ‘death glare’.

“Mengenalnya?” Desis sang teman itu. “Dia adalah adik tunggal Park Jimin. Kau kenal Park Jimin kan?”

“Lalu?”

“Lalu?!”

“Shin Taehyung! Kim Minseok! Apa yang kalian lakukan?! Cepat kembali!” Suara pelatih team sepakbola menggelegar dan membuat ketiga anak yang mendengarnya melonjak kaget. Jina dengan cepat menyerahkan bolanya ketangan Taehyung dan berbalik lalu berjalan pergi dengan cepat.

Ia baru saja berbicara dengan Shin Taehyung. Jina merasakan kedua pipinya memanas. Shin Taehyung tidak memperdulikan bahwa ia adalah adik dari Jimin. Shin Taehyung melihatnya hanya sebagai Jina, walau mungkin pemuda itu tidak akan mengingat namanya, tapi dia akan selalu mengingat muka Taehyung saat tersenyum padanya tadi.

***

Shin Dongho melangkahkan kakinya dengan perasaan enggan. Baik Taehyung maupun Haneul mempunyai kegiatan lain dan ia suka merasa risih jika berkumpul dengan anak-anak yang lain. Mungkin karena ia tahu bahwa sebagian besar dari ‘teman-teman’nya hanya mendekatinya karena wajah dan kekayaannya saja.

Perpustakaan mulai sepi siang hari itu. Hanya ada beberapa anak tahun pertama yang masih sibuk mengerjakan tugas-tugas mereka. Sebagian besar anak-anak itu menyadari kehadiran Dongho dan mulai memperhatikannya dengan pandangan penasaran, hal yang membuat pemuda di tahun ketiga ini menjadi lebih risih lagi.

‘Lebih baik aku segera menyelesaikan hal ini’ Pikir Dongho saat ia duduk setelah mengambil buku-buku yang di perlukan. Dengan pikiran seperti itu, ia mulai mengerjakan tugas-tugasnya, namun baru saja 15 menit berlalu, konsentrasi pemuda itu sudah terpecah. Seraya berpangku tangan, ia memandang sekelilingnya diam-diam. Semua anak memperhatikannya dengan sembunyi-sembunyi.

‘Sudah kuduga. Mungkin orang dekatku hanya sebatas Taehyung dan Haneul. Lalu bagaimana aku akan menikah nanti..’ Pikirnya dengan nada bosan sambil terus memperhatikan sekelilingnya. Dongho sudah akan kembali mengerjakan tugasnya ketika sesosok murid menarik perhatiannya.

Gadis yang duduk sedikit jauh dari tempatnya itu tidak memperhatikannya sama sekali. Apakah ia tidak menyadari kehadiran Dongho? Tapi itu tidak mungkin bukan? Bagaimana pun juga dia adalah ‘Pangeran Kampus’ yang terkenal.

Karena penasaran, akhirnya Dongho pun bangkit berdiri dan berjalan ke rak buku di dekat gadis tersebut. Selang waktu beberapa menit, gadis itu masih mengabaikan Dongho yang berdiri di dekatnya. Menjadi semakin penasaran, sang pemuda bergerak mendekat. Namun masih sama seperti sebelumnya, gadis itu masih mengabaikan Dongho.

Seumur hidup Dongho, ia hanya pernah sekali mengalami kejadian di abaikan seperti itu dan pelakunya adalah Haneul yang sedang marah padanya, jadi hal itu dapat di kategorikan hal yang ‘normal’ dalam hidupnya. Dan kemudian muncullah gadis misterius ini yang juga mengabaikan dirinya.

Dongho akhirnya berdeham karena ia tidak tahan di abaikan seperti itu. Dehaman pertama terdengar pelan dan gadis itu masih mengabaikan Dongho. Dua kali, Tiga kali, setiap dehaman yang Dongho keluarkan, volumenya bertambah keras sehingga akhirnya gadis itu menoleh pada Dongho.

Alih-alih muka terpesona yang biasanya Dongho liat di muka pada fansnya, ia malah melihat ekspresi kesal gadis itu. Dengan satu jari di depan mulutnya, gadis itu mendesis dan menunjuk tulisan ‘Harap Tenang’ yang terpasang tidakjauh dari situ. Setelah memastikan Dongho membaca tulisan itu, ia kembali ke bukunya dan mengabaikan Dongho lagi. Pemuda bermarga Shin tersebut hanya bisa bengong sebelum kembali ke tempat duduknya dengan perasaan malu.

Siapa gadis itu? Berani-beraninya ia bertingkah seperti itu? Dongho menoleh sekalih lagi untuk melihat muka gadis itu. Bagaimanapun caranya, ia akan mencari tahu lebih banyak lagi mengenainya.

***

Park Minra memasang headset nya dan menyetel lagu yang akhir-akhir ini menjadi lagu favoritenya beberapa hari terakhir ini. Kelasnya baru saja berakhir dan ia hendak naik subway untuk pulang ke rumahnya.

Hari ini stasiun luar biasa penuh, entah kenapa. Minra harus berdesak-desakan dengan banyak orang untuk bisa mendapat tempat, dan ini masih di stasiun tempat mereka menunggu subway. Mendadak punggungnya terdorong sesuatu dan keseimbangannya hilang. Gadis itu sudah akan jatuh dan mencium lantai jika sebuah tangan tidak menahannya.

“Kau tidak apa-apa?”

Minra menoleh dan mendapati seorang pemuda tampan sedang memegangi tangannya agar ia tidak terjatuh. Dari pakaiannya, pemuda itu adalah murid SMA yang cukup terkenal di daerah itu. Minra merasakan mukanya memanas dan dengan terburu-buru meluruskan badannya kembali.

“T-terima kasih!” Kata Minra dengan terburu-buru. Pemuda itu mengucapkan ‘sama sama’nya sambil tersenyum lebar, membuat muka Minra mau tidak mau semakin memerah. Siapa sih yang tidak blushing saat seorang pemuda tampan tersenyum padamu?

Merasa awkward dan malu, Minra buru-buru mohon diri dan berlari pergi, meninggalkan pemuda itu yang memperhatikan Minra dengan bingung dan terkejut. Gadis itu berhasil mendapatkan subway pertama yang datang setelah kejadian itu, dan sepanjang perjalanan, ia tidak bisa melupakan muka pemuda itu. Siapakah dia?

***

Jimin menatap jam tangannya dan berulang kai berjalan mondar-mandir di depan pintu gerbang universitas. Adiknya, Jina, belum muncul juga dan itu membuatnya cemas. Teman-temannya sering mengatakan bahwa ia memiliki masalah ‘sister-complex’ namun baginya ini hanyalah insting seorang kakak untuk adiknya.

Ketika pemuda ini sedang memandang jamnya untuk kesekian kalinya, terdengar langkah kaki dan secara otomatis ia menoleh, berharap Jina lah yang datang ke arahnya. Sayang sekali ia harus di kecewakan dengan kenyataan bahwa Oh Haneul yang datang, dengan ekspresi mengernyit terpasang di wajahnya. Jelas gadis itu juga tidak menyangka akan bertemu Jimin, terutama setelah kejadian di kantin beberapa hari yang lalu.

Keheningan yang mencengkam menyelimuti selama beberapa saat sebelum Haneul mengangkat tinggi dagunya dan berjalan dengan tegas, hendak melewati Jimin begitu saja, seakan-akan Jimin tidak lebih dari pohon yang berada di dekat mereka.

Mau tidak mau Jimin mengagumi keberanian Haneul. Tidak ada satu pun yang berani melakukan hal itu padanya di universitas ini. Di luar universitas? Banyak. Ia mempunyai banyak musuh di luar sana, tapi di daerah ini, dia adalah bosnya. Namun seberapa mengagumkannya perilaku Haneul, ini bisa menjadi contoh buruk bagi yang lain.

“Merasa tangguh?” Jimin tersenyum seraya menghantamkan tangannya ke pohon di sebelah Haneul, persis di depan muka gadis itu dan menghentikan langkahnya. Jika Haneul dibiarkan bertindak seenaknya saja, reputasinya bisa turun.

Haneul melirik tajam Jimin lewat sudut matanya. Ekspresi gadis itu sedatar biasanya ketika ia harus menghadapi hal-hal yang tidak mengenakan seperti ini. Senyuman ‘jahat’  Jimin mengembang dan ia memposisikan dirinya di depan Haneul.

“Perilakumu bisa membawa masalah untukku, kau tahu?” Kata Jimin sambil memegang dagu Haneul, memaksa gadis itu melihatnya tepat di mata. Namun baru saja beberapa detik ia memegangnya, Haneul sudah menepis tangan Jimin ke samping.

“Bukan urusanku. Aku hanya menjadi diriku sendiri.” Jawab Haneul dengan nada dingin. “Jika hanya itu yang ingin kau katakan, permisi.” Dengan langkah tegap Haneul berjalan melewati Jimin tanpa menoleh kebelakang sama sekali.

Jimin sendiri memperhatikan gadis itu hingga hilang dari pandangan. Tidak pernah ia menemukan gadis yang menarik seperti itu.

“Tidak ada salahnya jika aku bermain-main dengannya selama beberapa saat.” Gumam Jimin, senyumannya masih terdapat di wajahnya.

***TBC***

A/N : HAI~
Ya gue tahu harusnya gue selesain fanfic yang lain sebelum mulai yang baru..
Tapi ya.. maaf ya #plak
Mohon maaf bila ada kesalahan~ ;)

Made by : Liz
Take out with full credits please~ ^^