Minggu, 26 Oktober 2014

You're My - Chapter 7

Disclaimer    : BTS and all Kpop artists are not mine. Jimin will be soon though (lol kidding).
OC belongs to their rightful owner, while the plot is mine.

Genre       : Romance, Friendship, Comedy, Fluff

"You’re My"
Chapter 7 : My Confession


Park Jina keluar dari rumahnya dengan senyuman lebar terpasang di wajahnya. Ia telah mendapat kerja yang menetap dengan gaji yang lumayan untuk membantu keuangan ibunya. Kakaknya juga sudah sedikit berubah, walaupun masih jarang berada di rumah, setidaknya Jimin sudah jarang membuat kekacauan bahkan sekarang memiliki pekerjaan paruh waktu.

Hari ini ia mendapat libur di toko tempat ia bekerja dan dengan cepat ia memutuskan untuk membeli sesuatu dengan gajinya. Sesuatu yang walau murah, dibeli dengan uangnya sendiri. Jina memutuskan untuk menbeli tiga barang. Untuk ibunya, kakaknya, dan seseorang yang akhir-akhir ini menjadi penting untuknya, Shin Taehyung.

Akhirnya gadis itu sampai di toko aksesoris yang sering ia datangi. Baru sebentar ia melihat benda-benda yang di pajang di rak, matanya di tutup dari belakang oleh seseorang. Panik, Jina menepuk tangan yang menutupi matanya itu. Sang pemilik tangan hanya tertawa dan melepaskan kepala Jina sehingga gadis itu bisa berbalik dan melihat siapa yang mengerjainya barusan, Jackson Wang.

“Kau terlalu panikan.” Kata Jackson, masih nyengir mengingat reaksi Jina. Pemuda itu ikut melihat-lihat di rak yang sedang di lihat Jina tadi.

“Kau sendiri mengejutkanku seperti itu.”

Jackson tertawa dan mengusap kepala Jina. “Jadi, nona, apa yang sedang kau lakukan disini?”

Dengan cepat Jina dan Jackson mengobrol dengan riang dan pemuda itu membantu Jina memilih berbagai aksesoris. Perilaku Jackson yang berbeda kepadanya membuat Jina merasa nyaman dan tanpa sadar mulai bercerita tentang dirinya sendiri, hal yang tidak pernah ia lakukan pada siapapun bahkan pada kakaknya sendiri.

Setelah berbelanja, mereka berdua duduk di depan toko es krim, menikmati dinginnya es krim di tengah musim panas yang menyengat. Mendadak Jackson menyodorkan es krim miliknya ke depan mulut Jina, mukanya tersenyum lebar dan dari kilatan matanya, Jina bisa tahu bahwa pemuda itu menyuruh dia mencoba es krim pemuda itu. Jina menggeleng tanda ia tidak mau melakukan hal itu namun Jackson menyodorkan es krim itu lagi dan kali ini ke dalam mulut Jina langsung, membuat mulut gadis itu berlumuran es krim juga.

“Oppa!” Ya, Jackson juga telah meminta Jina memanggilnya dengan panggilan dekat seperti itu. Melihat mulut Jina yang berlumuran es krim, Jackson tertawa terbahak-bahak sebelum meraih tissue dari meja di samping mereka dan mengelap mulut gadis itu dengan lembut.

Muka Jina memerah karena itu dan Jackson kembali tertawa melihatnya. Kesal dengan pemuda yang tidak berhenti tertawa di sebelahnya itu, Jina ‘menabrakan’ es krimnya sendiri ke mulut Jackson dan kini gantian Jina yang tertawa melihat muka terkejut pemuda itu saat es krim yang dingin memenuhi bibir dan sekeliling bibirnya.

Jackson yang tersadar dari keterkejutannya , tersenyum iseng dan melumurkan es krimnya kembali ke bibir Jina. Pemuda itu menunjukan cengiran ‘nakal’nya lalu mengedip pada Jina lalu memakan es krimnya kembali saat Jina sibuk membersihkan es krim di daerah bibirnya.

Dengan cepat kedua es krim mereka telah selesai dilahap oleh mereka berdua. Berlaku selayaknya seorang gentleman, Jackson mengantar Jina hingga depan rumahnya, bersikeras mengatakan bahwa Jimin tidak akan marah tentang hal itu. Bagaimana pun juga Jackson adalah salah satu tangan kanan dari Jimin, orang kepercayaannya.

“Jina.”

Jina menoleh. Gadis itu sudah berada di depan pintu rumahnya sementara Jackson hanya mengantar sampai pagar saja. Jina melihat Jackson memasukan kedua tangannya ke dalam kantong dan memandang Jina dengan kilatan mata jahil yang bagi Jina saat itu luar biasa menarik.

“Jina.” Panggil Jackson lagi. Kali ini Jina benar-benar berbalik dan menghadap ke arah Jackson.

“Ya Oppa?”

Senyuman Jackson melebar, “Jadilah pacarku, okay?”

***

Hari ini Soojin tidak memiliki acara apapun. Kedua sahabatnya, Minra dan Jin, memiliki acara yang berbeda dengan keluarga masing-masing saat itu. Terutama Jin yang sibuk sejak awal liburan musim panas karena acara dengan keluarganya. Akhirnya gadis itu memutuskan untuk mengunjungi cafe milik kakaknya, walau sedikit jauh dari tempat mereka, menurutnya cafe kakaknya selalu layak di kunjungi.

Namun baru saja Soojin bebelok ke arah cafe kakaknya, sesosok Shin Dongho muncul di pandangannya, berjalan dari arah yang berlawanan darinya, menuju ke arahnya. Gadis itu hanya berharap sang pemuda tidak melihatnya, namun sayangnya Dongho langsung melihat Soojin dan bahkan sudah melambaikan tangannya ke arah gadis itu.

“Soojin!!” Dan Dongho pun berlari ke arah gadis itu. Soojin memasang muka datarnya, yang mengingatkan Dongho pada muka datar Haneul saat gadis itu sudah sebal padanya. Namun Dongho mengabaikan ekspresi muka Soojin dan tetap tersenyum pada gadis itu. “Kau hendak kemana? Bagaimana kalau kita ke cafe disitu?” Tanya Dongho tanpa basa-basi sama sekali, dan menunjuk ke arah cafe. Cafe yang sama dengan cafe milik Joongki, dan tentu saja, bagi Dongho itu hanyalah cafe tempat Haneul bekerja.

Merasa tidak bisa mengelak sama sekali, Soojin mengangguk. “Aku memang hendak pergi kesana.” Kata gadis itu.

“Bagus!” Dongho tersenyum lebar. “Ayo!” Dan pemuda itu dengan santainya berjalan di sebelah Soojin seakan akan mereka berteman baik sejak lama. Gadis itu berharap di dalam cafe itu tidak ada kakaknya. Akan panjang lagi permasalahannya jika Joongki melihatnya dengan seorang pemuda berjalan berdua ke dalam cafe.

Keinginan Soojin terkabul. Di dalam cafe, Joongki tidak terlihat sama sekali. Dongho juga tidak melihat Haneul berdiri di belakang counter juga, berarti hari itu bukanlah hari kerja gadis itu. Jimin juga tidak ada disana, walau baik Dongho maupun Soojin tidak mengetahui kenyataan bahwa Jimin bekerja disitu juga.

Dongho bersandar di counter dan mengedip riang pada gadis yang bekerja disitu, membuat muka gadis itu merona, lalu menatap Soojin. "Aku yang bayar hari ini, kau mau apa?" Tanya pemuda itu. Soojin mengernyit kesal dan menatap ke arah menu yang terpajang di dinding belakang counter. Tadinya ia mau memberi tahu Dongho bahwa kakaknya adalah pemilik cafe itu sehingga mereka berdua tidak perlu bayar. Namun tingkah Dongho membuatnya kesal dan memutuskan untuk membiarkan pemuda itu membayar saja.

Setelah mendapat pesanan mereka, Dongho menarik Soojin ke salah satu meja yang kosong dan duduk berhadap-hadapan walau sang gadis jelas enggan dengan ajakkan itu.

"Sayang Haneul tidak bekerja hari ini.." Kata Dongho sambil menoleh ke arah counter kembali. Soojin menaikan alisnya, menatap Dongho dengan pandangan penuh tanya.

"Haneul? Oh Haneul? Dia pacarmu?"

Dongho nyaris menyemburkan minumannya sendiri ke muka Soojin. "Pacar?! Ti-dak mung-kin!!" Katanya dengan nada yang luar biasa tegas, tidak lupa dengan penekanan di tiap katanya. Ekspresi pemuda itu terlalu lucu sehingga Soojin pun tidak bisa menahan tawanya. Dongho masih mengulangi kata-kata yang sama beberapa kali sehingga Soojin mengangguk dengan tegas dan mengeraskan suaranya agar bisa menandingi suara Dongho.

"Iya. Iya!! Aku mengerti!! Iya!!" Soojin juga mengulangi kata-kata itu hingga Dongho kembali tenang. "Kau benar-benar sensitif tentang hal ini." Komentar gadis itu lagi.

"Ayahku sering sekali membahas hal itu dan itu membuatku muak. Haneul dan aku hanya sahabat sejak kecil, itu saja." Kata Dongho seraya mengaduk minumannya dengan sedotan. "Dan lagi pula, aku tidak ingin kau salah paham..." Lanjut pemuda itu dengan suara kecil.

Mata Soojin melebar. Tidak percaya apa yang ia baru dengar. Apakah ia salah dengar? Suara Dongho terlalu kecil sehingga ia sendiri tidak yakin apa yang ia dengar itu benar atau hanya perasaannya saja.

"Maaf, apa?" Tanya Soojin akhirnya.

"Haneul dan aku hanya sahabat sejak kecil."

"Bukan, setelahnya."

Dongho diam sejenak, lalu membuang pandangan ke arah lain, menolak untuk melihat Soojin. "Aku tidak berkata apa-apa lagi setelahnya."

"Ya kau mengatakan sesuatu. Apa itu?" Soojin melipat kedua tangannya.

Dongho cemberut dan menggeleng. "Lupakan saja itu." Sekali lagi pemuda itu menampilkan ekspresi yang menurut Soojin lucu. Walau mungkin kalau bagi Haneul itu adalah ekspresi menjijikan dari Dongho, entah mengapa saat itu muka pemuda di hadapannya cukup menggemaskan.

"Baiklah, akan kulupakan." Kata Soojin. "Tapi kau harus memberiku sesuatu sebagai gantinya."

Dongho berpikir sejenak sebelum mengeluarkan senyuman mempesonanya, "Nomor teleponku?" Katanya pemuda itu seraya memajukan badannya sehingga posisi wajahnya dekat dengan Soojin, lalu mengedip seksi. Soojin mendorong wajah pemuda itu dan memasang ekspresi sebal walau sebenarnya hatinya berdegup dengan cukup cepat.

"Hey aku serius." Kata Dongho, kelihatan terluka karena di dorong oleh Soojin. "Aku jarang berbagi nomor teleponku pada orang lain."

"Tapi aku tidak mau nomor teleponmu."

"Kalau begitu berikan nomor teleponmu."

Mata Soojin melebar karena kaget. Dia lalu mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali sebelum berhasil menemukan kemampuan berbicaranya kembali. "A-apa?”

Dongho meletakan kepalanya di telapak tangannya yang berada di meja dan menatap Soojin dengan pandangan seksi. “Nomor teleponmu. Aku ingin tahu nomor teleponmu.”

“Kau gila.”

“Aku waras kok.”

“Tidak, kau gila.”

Dongho nyengir, sementara perasaan Soojin berkecamuk antara terpukau pada muka pemuda itu dan keinginan untuk menabok muka yang sama. Dongho tidak sempat membalas kata-kata Soojin karena saat itu sepasang meja menggebrak meja mereka berdua dengan suara yang cukup keras.

Seorang pria muda, berumur kurang lebih di akhir 20, tersenyum yang sebenarnya agak mengerikan, pada Dongho. Ia pernah melihat orang ini, dia adalah boss Haneul yang suka ada saat gadis itu sedang bekerja. Soojin tentu mengenai pemuda ini juga. Dia adalah Joongki, kakak dari Soojin.

“Selamat siang.” Kata Joongki. Dongho nyaris merinding ketika mendengar nada suara dari pria itu. Joongki tersenyum pada Soojin lalu kembali menatap Dongho. Senyuman di muka Joongki terkesan dingin dan agak sadis sehingga Dongho berharap ia bisa berlari pergi saat itu juga.

“S-siang.” Kata Dongho.

“Bisa ku tanya ada urusan apa dengan adikku? Tolong jangan mengganggunya atau aku akan—“ Joongki berkata dengan cepat, senyumannya makin menghilang di tiap katanya hingga akhirnya Soojin menyela perkataan kakaknya dengan cara memukul pelan tangan Joongki.

“Dia tidak mengangguku, kakak. Kami hanya mengobrol dan akan pergi sebentar lagi.” Kata gadis itu, kesal dengan tingkah kakaknya yang selalu galak terhadap semua temannya yang bergender laki-laki. Jika begini caranya, ia tidak akan punya teman laki-laki apalagi pacar. “Ayo, oppa.”

Dongho mengikuti Soojin berdiri dan berjalan keluar cafe sambil mencuri-curi pandang ke arah Joongki, yang di balas dengan deathglare. Joongki tidak menyusul atau mempermasalahkan tentang hal itu lebih jauh lagi, karena ia tahu jika ia melakukan itu, Soojin akan mendiamkannya selama seminggu.

Helaan nafas di keluarkan Soojin ketika mereka sampai di luar cafe dan berjalan pelan ke arah yang tidak jelas. “Maaf kan kakakku.” Kata gadis itu pada Dongho. “Ia selalu begitu pada semua pemuda yang kelihatan dekat denganku.”

“Tidak apa-apa. Lagi pula aku senang.”

Soojin menaikan alisnya, “Senang?”

Dongho nyengir dan melirik menatap Soojin. Pemuda itu lalu dengan iseng menempatkan mukanya di depan muka Soojin, dengan jarak yang sangat dekat. “Kau memanggilku oppa tadi.”

***

Jina berguling di tempat tidurnya. Ia tidak bisa tidur karena kata-kata Jackson tadi. Mukanya kembali memanas ketika mengingat kejadian di sore hari itu. Apa yang harus ia lakukan? Jackson mengatakan bahwa ia akan menunggu jawaban Jina besok pagi dan sekarang sudah jam 2 pagi namun gadis itu belum bisa menentukan perasaannya sendiri. Jackson sangat baik padanya, namun ia merasa ada yang mengganjalnya, dan beberapa kali pikirannya terbang ke seseorang yang bernama Shin Taehyung.

“Mungkin ku terima saja..” Gumam gadis itu sebelum akhirnya tertidur. Tidak ada salahnya bukan? Lagi pula ia tidak pernah berpacaran sebelum ini karena kakaknya selalu menjadi orang yang di takuti sehingga tidak ada yang berani mendekatinya.

Akhirnya Jina tertidur nyenyak dan bangun di paginya karena ketukan di kamarnya. Seperti biasanya ibunya membangunkannya untuk masuk kerja lagi hari itu. Sambil mengusap matanya yang masih setengah tertutup, gadis itu meraih handphone yang terletak di meja di sebelah ranjangnya. Ada tiga misscall dari satu nama yang sama. Jackson Wang. Ia dan Jackson memang sudah bertukaran kontak jauh sebelumnya, sejak mereka makan siang bersama dulu.

Ketika Jina sibuk melamun, handphonenya mendadak berdering lagi dan gadis itu nyaris menjatuhkan handphonenya ke lantai. Jackson meneleponnya lagi. Dengan gugup gadis itu mengangkat teleponnya.

“H-halo?”

Jina dapat mendengar Jackson tertawa kecil di ujung sana. “Selamat pagi nona. Bagaimana tidurmu? Nyenyak? Memimpikan diriku?”

Gadis itu mengangguk walau jelas Jackson tidak akan pernah melihatnya. “Selamat pagi, Oppa. Tidurku nyenyak, bagaimana denganmu?”

“Sama sekali tidak nyenyak. Bayanganmu menghantuiku semalaman.”

Jantung Jina berdegup dengan cepat, terlebih ketika Jackson akhirnya menanyainya mengenai jawaban dari pertanyaannya kemarin.

“Jadi, bagaimana?”

Jina menahan nafasnya sendiri, “Aku mau. Aku mau menjadi pacarmu, Oppa.”

*

Shin Taehyung menatap ke kanan dan ke kiri. Park Jina belum terlihat juga, padahal sebentar lagi sudah saatnya mereka berdua mulai bekerja. Pemuda itu sudah akan menelepon gadis itu, ya mereka juga sudah bertukar kontak beberapa hari yang lalu, ketika suara motor yang kemudian berhenti tidak jauh dari tempatnya bediri, di depan toko roti, menarik perhatiannya. Dan ketika pemuda itu menoleh, ia sangat berharap ia tidak perlu melakukan hal itu.

Jina turun dari motor yang di kendarai oleh Jackson. Gadis itu tersenyum lebar walau malu-malu dengan muka yang memerah. Jackson sendiri tersenyum dan meletakan tangannya di pipi gadis itu, lalu menarik muka Jina dan mencium kening gadis itu. Keduanya bertukar ‘sampai-nanti’ dengan singkat dan Jackson pergi dengan motornya, sementara Jina berbalik dan melihat Taehyung.

“Selamat pagi!” Sapa Jina dengan riang, walau ada perasaan aneh di dalam dirinya. Entah mengapa ia tidak ingin Taehyung melihatnya bersama Jackson. Muka Taehyung tidak menunjukan ekspresinya yang biasa, ekspresi penuh senyum, melainkan ekspresi datar yang tidak bisa di tebak. Tanpa berkata apapun, pemuda itu berbalik dan masuk ke dalam toko roti.

Mendadak rasa sakit menjalar di hati Jina. Ia seharusnya tidak boleh merasakan hal itu karena ia adalah pacar Jackson, bukan Taehyung, Namun kenapa sikap Taehyung yang menjauhinya lebih menyakitinya dari apapun? Selama sehari itu Taehyung yang tadinya dekat dengannya menjadi diam saja, dan melakukan tugasnya dengan benar, tanpa bercanda dan lelucon-lelucon aneh yang terlontar.

“Kau..”

Jina menoleh. Jam kerja mereka berdua sudah selesai dan Jina sedang menunggu Jackson menjemputnya, ketika Taehyung mendadak berbicara padanya lagi dari dalam mobil yang terparkir di depannya.

“Kau, dan dia.. pacaran?”

Jina menggigit bibir bagian bawahnya, ia sangat tidak ingin Taehyung mengetahui hubungannya dengan Jackson namun ia tidak punya alasan untuk menyembunyikan hal itu. Akhinya gadis itu mengangguk. Taehyung sendiri tidak berkata apapun. Pemuda itu hanya menatap Jina selama beberapa saat sebelum menyalakan mobilnya dan melaju pergi. Melihat reaksi Taehyung, Jina merasa ia ingin menangis.

Taehyung sendiri mengemudi dengan cepat, bukan ke arah rumahnya sendiri, melainkan ke arah rumah sahabatnya sejak kecil, Oh Haneul. Dengan mudah pemuda itu ‘menerobos’ masuk dan menemui Haneul di ruang bacanya, yang memandang Taehyung dengan pandangan kaget dan kesal.

“Shin Taehyung! Kau tahu apa yang kau lakukan it—“ Haneul baru memulai omelannya, yang lalu terhenti ketika melihat ekspresi Taehyung. “Kau kenapa?” Tanya Haneul. Yang di tanya tidak menjawab, melainkan menjatuhkan dirinya ke sebelah Haneul dan bersandar sambil menutupi matanya dengan tangannya sendiri.

“Haneul, kau membaca buku-buku medis kan?” Pertanyaan Taehyung membuat Haneul bingung, namun gadis itu tetap menjawabnya.

“Tentu saja. Memangnya ada apa?”

Taehyung mengintip Haneul dari balik tangannya, “Kau tau cara menyembuhkan sakit hati?”

“Kau sakit? Sejak kap—Tunggu, apa katamu tadi? Sakit apa?”

“Sakit hati.”

“Kau yakin bukan kepalamu yang terbentur, Shin Taehyung?” Tanya Haneul, tidak percaya dengan apa yang baru di tanyakan oleh temannya itu. Taehyung menggeleng. Akhirnya Haneul meletakan buku yang tadi sedang di bacanya dan berbalik menatap Taehyung.

“Ceritakan padaku, ada apa sebenarnya..” Perintah Haneul. Taehyung sudah membuka mulutnya ketika pintu ruang baca Haneul kembali terbanting terbuka dan Shin Dongho melangkah masuk ke dalam ruangan.

“Haneul! Kau harus membantuku!” Teriak Dongho sambil berlari mendekat, kemudian ia baru menyadari kehadiran saudara kembarnya yang duduk di sebelah Haneul. “Oh? Taehyung? Kau juga ada disini?”

Kesal karena tampaknya Taehyung tidak akan mau bercerita setelah di ganggu oleh Dongho seperti itu, Haneul melempar bukunya ke arah Dongho, yang berhasil di tangkap dengan sukses.

“Yak!! Haneul!! Kenapa kau melempariku dengan buku?!”

***

Pikiran Haneul akhir-akhir ini terbagi antara masalah Dongho dan masalah Taehyung. Belum lagi keluarganya yang sudah ribut karena Haneul selalu menolak pemuda yang mereka ‘sodorkan’ dalam acara-acara keluarga. Tampaknya Jin juga mengalami masalah yang sama dengan keluarganya.

Semua stress yang di alami gadis itu tampaknya dapat teratasi dengan fakta bahwa ia akan bekerja di cafe. Gadis itu juga tidak tahu kenapa ia menjadi sangat menyukai bekerja di cafe itu. Apakah karena adanya Jimin? Haneul menggeleng, tidak mungkin. Itu sangat tidak mungkin walaupun mereka berdua memang menjadi dekat sejak kejadian es krim, begitu Jimin menyebutnya.

Liburan musim panas hampir berakhir. Kabar bahwa Jackson Wang dan Park Jina berpacaran sudah sampai ke telinganya. Jimin tampaknya terganggu mengenai kabar itu, walau pemuda itu tidak melakukan apapun mengenaninya. Haneul sendiri tidak berani bertanya karena takut Jimin malah akan meledak.

Pagi itu, Joongki meminta dia dan Jimin menjaga cafe sejak pagi. Kunci cafe di berikan pada Haneul dan saat ini gadis itu sedang berjalan ke arah cafe. Ia memang selalu di antar menggunakan mobil pribadi dan supir, namun selalu meminta di turunkan beberapa blok sebelum cafe tempat ia bekerja itu.

Belokan terakhir pun di lewati dan cafe sudah terlihat di depan mata. Jalanan masih sepi karena sebagian besar orang memilih untuk bangun siang. Haneul dapat melihat Jimin berdiri di depan cafe, berpakaian kaos tanpa lengan dan celana selutut, bersandar di pintu cafe. Ketika gadis itu semakin mendekat, ia bisa melihat dan mendengar bahwa Jimin sedang menyanyi. Potongan lagu milik Bruno Mars di nyanyikan dengan indah oleh pemuda itu, walau pelafalannya salah di sana dan disini.

“Suaramu indah.” Kata Haneul. Jimin melonjak kaget dan segera menoleh ke arah Haneul. Pemuda itu tampaknya lega ketika melihat Haneul lah yang menyapanya itu, lalu mengganti ekspresinya dengan muka marah dan kesal, yang Haneul sudah kebal akibat terlalu sering melihatnya.

“Jangan beri tahu siapapun tentang hal itu.” Gerutu Jimin saat Haneul membuka pintu cafe dan mereka berdua masuk.

“Kenapa? Kurasa itu adalah bakat yang indah.”

“Aku tidak suka ada orang yang mengetahuinya.” Kata Jimin seraya meletakan tasnya di dalam lokernya, Haneul sudah melakukan hal yang sama sebelumnya dan sekarang gadis itu sedang berganti baju menjadi seragam di kamar mandi. Mereka berdua sudah biasa melakukan hal ini. Haneul berganti baju di kamar mandi, sementara Jimin di luar, di depan lokernya, namun mereka tetap berdebat tanpa halangan.

“Boss bilang ia sedang mencari penyanyi, kenapa tidak kau saja?” Ujar Haneul seraya memasang celemeknya lalu membantu Jimin, untuk kesekian kalinya, memasang celemeknya sendiri. Jika Jaemee atau siapapun melihat hal ini, mereka selalu mengejek mereka berdua, yang tentu saja langsung berhenti ketika Jimin memberikan pandangan marah.

“Heh. Kau gila..”

“Kau akan mendapat uang tambahan dari itu!”

“Tidak terima kasih.”

“Tapi aku ingin melihat kau menyanyi lagi.”

Mendadak hening, dan Haneul menyadari bahwa kata-katanya yang terakhir sedikit aneh untuk ia katakan pada Jimin. Muka gadis itu memerah lalu langsung mengakhiri perdebatan mereka disitu dan berjalan ke arah pintu, untuk memasang tanda bahwa mereka sudah buka. Sementara Jimin masih berdiri, kaget dengan kata-kata yang tidak terduga dari gadis yang selalu bertengkar dengannya itu.

***

Kilat bagi sebagian besar orang, lambat bagi sebagian kecil, dan biasa saja bagi yang lain, musim panas pun berakhir dan sudah saatnya sekolah, universitas dan kantor kembali memulai kegiatan mereka. Rumor Jackson dan Jina sudah menyebar pesat hingga hampir tidak ada orang yang terkejut ketika mereka berdua berjalan bersama.

Bulan berganti bulan dan musim gugur sudah sampai di puncaknya. Dengan cepat Jina terbiasa dengan fakta bahwa dia adalah pacar Jackson walau tingkah Taehyung yang berubah 180 derajat masih membuatnya terluka setiap kali melihat pemuda itu. Berusaha menghilangkan Taehyung dari pikirannya, Jina sudah mempersiapkan syal rajutannya sendiri sebagai hadiah anniversarynya dengan Jackson.

Hari yang di tunggu-tunggu pun tiba. Untungnya hari itu, universitas di liburkan karena hari itu adalah hari jadi dari universitas mereka. Jina berjalan riang ke arah taman di mana Jackson biasa berkumpul dengan teman-temannya. Ia memang sengaja tidak memberi tahu Jackson ia akan datang mengunjunginya karena ia ingin ini menjadi kejutan.

Gadis itu sudah bisa melihat pacarnya dari kejauhan, bersama teman-temannya yang tidak di kenali oleh Jina. Mereka tertawa-tawa dan suara mereka sangat keras sehingga Jina hanya perlu beberapa langkah lagi untuk dapat mendengar percakapan di antara mereka.

“Sampai kapan kau akan memacari gadis itu, Jackson?” Tanya seorang teman dari Jackson. Jackson hanya tersenyum dan menaikkan kedua bahunya.

“Entahlah.”

“Kau tidak bosan?”

Jackson tertawa, “Sedikit, hanya saja aku memerlukannya untuk menjatuhkan kakaknya.”

Langkah Jina terhenti. Apakah yang ia baru saja dengar itu benar?

“Kau benar-benar pria licik, Jackson. Mengelabui Park Jina dengan bermanis-manis dengannya hanya untuk menjatuhkan kakaknya.” Kata seorang gadis yang duduk di sebelah Jackson. Mata Jina melebar ketika Jackson mencium gadis itu.

“Sudah kukatakan sejak awal aku tidak pernah tertarik pada gadis itu. Ia hanya ‘batu pijakan’ku saja.” Jawab Jackson. Pemuda itu tertawa bersama teman-temannya hingga akhirnya melihat Jina yang berdiri diam tidak jauh dari mereka dengan ekspresi terkejut luar biasa.

“Kau..Kau..” Jina tidak bisa berkata-kata. Matanya penuh dengan air mata dan bibirnya bergetar. Kedua lengannya lurus di sisi tubuhnya dengan tangan terkepal erat. Jackson sudah turun dari tempat duduknya dan berjalan cepat ke arah Jina. Ketika Jackson mendepat, gadis itu menampar Jackson dan berlari pergi sambil menangis.

Suara Jackson yang marah bisa terdengar di belakangnya, namun Jina tidak berhenti. Ia telah tertipu selama ini dan sekarang ia merasa sangat sakit, sakit tidak tertahankan. Baru saja beberapa detik gadis itu berlari, Jackson berhasil menyusul dan menarik tangan Jina dengan keras sehingga gadis itu meringis kesakitan.

“Kau..” Nafas Jackson terengah-engah. “..mendengar semuanya bukan? Jawab aku!!” Jackson mendorong dan menarik Jina dengan kasar sementara air mata gadis itu sudah mengalir deras di pipinya.

“Jawab aku sialan!” Dengan keras Jackson menampar Jina, dan gadis itu terjatuh di aspal yang keras. Pergelangan tangan yang terkilir, pipi yang merah, kini lengannya pun tergores aspal. Entah apa yang akan Jackson lakukan lagi jika sesosok pemuda tidak berlari maju dan menendang perut Jackson sehingga pemuda itu mundur.

Jina tidak bisa melihat dengan jelas akibat air mata memenuhi matanya, namun ketika pemuda itu menawarkan tangannya dan berbicara, ia langsung bisa mengenalinya.

“Kau bisa bangun? Ayo pergi dari sini.” Shin Taehyung membantu Jina berdiri dengan lembut dan menariknya pergi dari situ setelah menonjok Jackson di tambah dengan sebuah tendangan cepat di kaki. Taehyung menggenggam tangan Jina dengan lembut, membuat Jina menyadari betapa ia merindukan Taehyung berbicara dan berjalan sedekat ini dengannya.

Tanpa sadar, Taehyung menuntun Jina ke arah cafe dimana Jimin dan Haneul bekerja. Saat itu Haneul baru saja akan memasang tanda bahwa cafe itu akan buka ketika Taehyung berteriak ke arah gadis itu. Haneul memekik kaget dan hal itu membuat Jimin berjalan keluar, penasaran akan apa yang membuat sang Ice Queen memekik seperti itu. Mata Jimin melebar ketika melihat adiknya yang terluka, dan Jackson yang mengejar di belakangnya.

“JACKSON WANG!!” Jimin berteriak marah dan langsung berlari ke arah Jackson. Perkelahian tidak bisa di hindari lagi sementara Haneul membantu Taehyung membawa masuk Jina ke dalam cafe.

“Cukup!! Jimin cukup!!” Haneul mengeluarkan seluruh tenaganya untuk menarik Jimin mundur. Setelah berhasil menarik Jimin mundur dari Jackson yang tergeletak di aspal, jelas kalah melawan pemimpinnya sendiri, Haneul menatap Jackson dengan tajam.

“Kejadian ini tidak akan di bahas lagi, tapi kau tidak boleh mendekati Jina, Jimin ataupun kelompokmu yang lama dan semua teman-temanku.” Kata gadis itu seraya memegang lengan Jimin, menahannya agar tidak menerjang Jackson kembali. “Aku adalah anggota SO, dan kau tahu sendiri keluargaku. Kau akan menyesal bila tidak mengambil tawaranku ini.”

Jackson mengelap luka di daerah bibirnya lalu meludah ke tanah, dekat di kaki Haneul namun gadis itu tidak bergerak sama sekali selain menatap Jackson dengan tatapan yang tegas. Lain dengan Jimin yang sudah akan menonjok Jackson lagi setelah ia meludah di depan Haneul.

“Jimin!” Haneul harus memeluk lengan Jimin dan menariknya agar tidak menyerang Jackson lagi. Jackson sendiri berbalik dan berjalan pergi tanpa mengatakan apapun. Haneul akhirnya berhasil menyeret Jimin masuk ke dalam cafe dan memaksanya duduk di sebelah Jina.

“Aku akan membuatkan teh lalu merawat lukamu, Jina-ssi.” Kata Haneul sebelum menghilang ke dalam dapur dan balik beberapa saat kemudian, membawa nampan dengan tiga teh mengepul di atasnya. Setelah memastikan Jina, Jimin dan Taehyung menyesap teh mereka setidaknya sekali, Haneul baru mengobati luka-luka Jina dengan kotak P3K yang ada di cafe itu.

“Terima kasih.” Kata Jina setelah Haneul merawat luka-lukanya. Gadis itu tersenyum dan membereskan kotak P3Knya sebelum berdiri dan menatap kedua kakak beradik Park itu.

“Kalian pulanglah.” Kata gadis itu, “Aku bisa menjaga cafe ini sendirian, akan ku jelaskan pada boss nanti mengenai hal ini.” Lanjutnya sambil menatap Jimin. Namun Jimin menggeleng dan berdiri.

“Tidak. Aku tidak akan membiarkan kau sendirian disini setelah apa yang baru saja terjadi.”

Kata-kata Jimin membuat tiga orang yang lain menatap dengan bingung. Taehyung lalu berdeham dan berdiri.

“Aku akan mengantar Jina pulang, tenang saja.” Setelah itu pemuda itu menawarkan tangannya pada Jina, yang di sambut gadis itu. Jimin menatap Taehyung dengan tajam hingga Taehyung dan adiknya keluar dari cafe, namun tidak mengatakan apapun. Pemuda bermarga Park itu tampaknya lebih mempercayai Taehyung, terlebih setelah yang terjadi hari ini.

Tidak ada kata-kata yang tertukar selama perjalanan menuju mobil Taehyung yang di parkir tidak jauh dari tempat berkumpul Jackson. Hanya tangan Taehyung yang menggenggam erat tangan Jina, menenangkan gadis itu selama perjalanan. Di mobil pun tidak ada yang berbicara, dan tangan Taehyung tidak sekalipun melepaskan tangan Jina.

Akhirnya mereka berdua sampai di depan rumah Jina dan Jimin. Taehyung mengikuti gadis itu sampai ke ruang tamu mereka yang sederhana, dimana mendadak Jina terjatuh dan semua kesedihannya tertumpah disana. Merasa bingung dengan kejadian yang tiba-tiba itu, Taehyung hanya bisa berlutut di sebelah Jina dan membiarkan gadis itu menangis di pelukannya.

“If it was me, I will never hurt you.”

Bisikan dari Taehyung membuat tangisan Jina berhenti. Gadis itu menegakkan tubuhnya dan menatap Taehyung. Taehyung sendiri menatap Jina langsung di matanya, dengan pandangan yang tidak pernah ia berikan kepada siapapun sebelumnya.

“Forget him and be with me.”

Jina mengerjap-ngerjapkan matanya, tidak tahu harus berbuat apa di situasi seperti ini. Jantungnya berdebar dengan cepat. Apakah Shin Taehyung baru saja menyatakan cintanya?

Taehyung tertawa ringan, “Bagaimana menurutmu Park Jina? Apakah aku tidak cukup menggantikan Jackson Wang?” Pemuda itu tertawa, tapi rona merah di wajahnya terlihat jelas oleh Jina. Saat itulah ia menyadari bahwa selama ini dia salah, perasaannya bukan terletak pada Jackson dan topeng indahnya itu, tapi pada Shin Taehyung yang sedang bersamanya ini.

“Cukup?” Kata Jina. “Apa kau gila Shin Taehyung?”

Taehyung menggigit bibir bagian bawahnya, merasa cemas akan jawaban Jina. Namun lalu Jina tersenyum walau air mata masih menggenang di matanya. Bukannya menjadi lega, Taehyung malah menjadi semakin panik.

“Tidak! Jangan menangis!” Kata Taehyung panik seraya menyeka air mata Jina dengan kedua jarinya. Gadis itu menggeleng dan memegang tangan Taehyung yang terletak di pipinya.

“Aku menangis karena aku baru menyadari bertapa bodohnya diriku.” Kata Jina. “Bukan Jackson yang selama ini kusuka, tapi dirimu.”

Taehyung terdiam selama beberapa detik lalu membuka mulutnya lebar-lebar. “Maaf?”

“Aku menyukaimu Shin Taehyung, apakah tawaranmu tadi masih berlaku?”

Detik berikutnya Taehyung menarik Jina ke dalam pelukannya, dan gadis itu balas memeluk pemuda itu dengan erat.

“Katakan sekali lagi?” Kata Taehyung. Muka Jina memerah dan bergumam pelan yang tidak bisa di dengan siapapun. Taehyung tertawa melihat tingkah gadis di pelukannya itu, lalu mendekatkan kepalanya ke kuping Jina dan berbisik.

“I love you Park Jina, don’t ever look at other boys again.”

***TBC***

A/N : CHEESY AND WEIRD
I’m sucks at romance, especially confession part.
Sorry for a few part of the conversation that in English because it’ll sounds super weird in Indonesian.
Anyway,  mohon maaf bila ada kesalahan *bows*

Made by : Liz
Take out with full credits please~ ^^

Selasa, 21 Oktober 2014

You're My - Chapter 6

Disclaimer    : BTS and all Kpop artists are not mine. Jimin will be soon though (lol kidding).
OC belongs to their rightful owner, while the plot is mine.

Genre       : Romance, Friendship, Comedy, Fluff

"You’re My"
Chapter 6 : My Secret Feeling


Musim panas telah di mulai dan otomatis semua orang menikmati liburan musim panas mereka, tak terkecuali mahasiswa dan mahasiswi tempat Haneul, Soojin, Minra, Jina dan yang lain bersekolah. Masa pemilihan ketua SO sudah selesai dengan Son Gain sebagai pemenangnya, Jokwon sebagai wakil dari gadis itu, Haneul sebagai sekretaris dan Mark sebagai bendahara. Semua orang sudah dapat memprediksi bahwa tahun depan persaingan akan ada di antara Haneul dan Mark untuk memperebutkan title ‘Ketua’ berikutnya.

Hari itu adalah hari ketiga sejak liburan musim panas di mulai dan seorang pemuda sudah berhasil membuat Haneul sebal.

“Haneul, kau tahu dimana Taehyung?” Tanya Dongho yang sibuk berguling-guling di sofa di kamar Haneul. Pemuda satu itu ‘menerobos’ masuk ke dalam rumah gadis itu seenaknya dan mulai mengacak-ngacak ruangan itu.

“Kalau tidak salah, Taehyung adalah saudara kembarmu, bukan saudara kembarku.” Jawab Haneul, mulai muak dengan tingkah pemuda itu. Dongho mulai merengek dan kembali berguling-guling. Akhirnya, untuk menghentikan pemuda itu mengacak-acak rumahnya lebih lagi sekaligus menghentikan rengekannya, Haneul menemani pemuda itu membeli roti kesukaannya di salah satu toko roti besar milik keluarga Shin.

“Kau harus mentraktirku karena ini.” Kata Haneul saat ia turun dari mobil merah Dongho. Pemuda itu melambaikan tangannya dengan asal, mengiyakan dengan mudahnya karena ia selalu mendapat roti gratis dari toko roti milik keluarganya itu.

“Selamat datang, Tuan Muda, Nona Haneul.” Kata seorang pekerja disana. Dongho menganggukkan kepalanya dengan singkat, bergaya sok keren, sementara Haneul menyapa balik pekerja itu.

“Dongho!” Shin Daehyun melambaikan tangannya, tampaknya hari ini ia juga berada di toko roti ini. “Wah, sedang pacaran dengan Haneul?”

“Jangan bercanda Papa.” Kata Dongho

“Kami tidak mungkin pacaran.” Timpal Haneul dengan tegas. Daehyun hanya tertawa mendengar reaksi mereka berdua. Pria satu ini senang sekali mengerjai anaknya sendiri, terutama dengan cara menjodohkannya dengan teman masa kecil mereka, Haneul.

"Aku tidak keberatan jika kalian berdua sampai menikah." Kata Daehyun. Haneul dan Dongho langsung saling bertatapan dengan muka jijik dan menggeleng dengan serempak kepada Daehyun. Daehyun tertawa dan hendak mengatakan sesuatu lagi ketika pintu mendadak terbuka dan Taehyung melangkah masuk, lengkap dengan seragam toko roti itu dan sebuah nampan besar berisi roti di tangan.

Pemuda itu langsung berbalik lagi, hendak masuk kembali ke dalam dapur namun sayangnya Dongho telah melihatnya duluan.

"Taehyung?" Kata Dongho dan Taehyung mempercepat langkahnya, masuk kedalam dapur. Dongho menarik Haneul dan mereka berdua masuk juga ke dalam dapur, hanya untul menemukan Taehyung dengan muka cemberut, sebal karena rahasianya terbongkar.

"Apa..apa yang kau lakukan hahahahahahaha!!" Dongho tidak bisa menghentikan tawanya ketika melihat saudara kembarnya sendiri. Haneul juga tertawa tidak lama kemudian, membuat Taehyung semakin merajuk.

"Oppa? Ada apa?"

Tawa Haneul dan Dongho langsung berhenti. Mata kedua orang itu melebar ketika mendengar kata-kata itu, terlebih lagi ketika melihat siapa yang menjadi sumber kata-kata itu. Park Jina baru saja muncul, dengan seragam yang sama dengan Taehyung, dan ekspresi yang jelas-jelas terkejut.

Dongho lah yang pertama sadar dari keterkejutannya. Pemuda itu tersenyum jahil lalu mendekati Taehyung dan menepuk pundak kembarannya itu beberapa kali seraya mengangguk-angguk penuh arti. "Selamat saudaraku." Kata Dongho. Taehyung dan Jina hanya menatap dengan bingung sementara Dongho menyeret Haneul keluar dari dapur itu.

"Tidak ku sangka Taehyung.. ckckck." Kata Dongho sambil nyengir jahil. Haneul mengerutkan keningnya.

"Apa tidak apa apa?" Kata gadis itu.

"Memangnya kenapa?"

"Gadis itu, Park Jina, adik dari Park Jimin. Bukankah kau terlibat masalah dengan kakaknya?"

Dongho menatap Haneul dengan mulut yang membuka lebar dan hendak masuk kembali ke dalam dapur namun kerah bajunya di tarik oleh Haneul.

"Meskipun begitu, ku larang kau mengganggu mereka." Setelah berkata begitu, Haneul menyeret Dongho keluar dari toko roti itu.

***

Jimin menendang kaleng yang ada di depannya itu. Ia baru saja berdebat dengan adik kesayangannya, Jina. Entah bagaimana, pemuda itu berhasil mengetahu bahwa adiknya mulai bekerja paruh waktu. Dengan kesal ia menendang kaleng itu lagi. Jina menentang perintahnya, perintah untuk segera keluar dari pekerjaan itu, dan menang.

"Mungkin aku harus mencari pekerjaan juga." Gumam Jimin sambil menoleh ke sekelilingnya. Dengan cepat ia memutuskan untuk mencari kerja di lokasi yang sedikit jauh dari kampusnya. Setelah mempertimbangkan singkat, ia masuk ke dalam sebuah cafe dan melamar kerja disitu.

Cafe itu sepi. Hanya ada seorang pemuda yang sedang sibuk mengecek perlengkapannya. Jimin menjelaskan niatnya dan dengan mudah mendapatkan 'Ya'. Tampaknya pegawai sebelumnya baru saja berhenti dan pemuda itu, pemilik cafe tersebut baru saja akan memajang pengumuman bahwa ia mencari pegawai baru.

"Baiklah." Kata sang pemilik cafe. "Kau mendapat masa percobaan selama seminggu, jika kau berhasil, kami akan mempekerjakanmu untuk ke depannya lagi." Pria berumur sekitar 29 tahun itu tersenyum pada Jimin namun lalu menjawab teleponnya yang mendadak berbunyi. Setelah percakapan yang tidak bisa di mengerti Jimin, pemuda itu menutup teleponnya.

"Maafkan aku, tapi aku harus pergi sekarang. Kau bisa menanyakan semuanya pada pekerja kami yang lain." Kata pemuda itu seraya menoleh ke belakang. "Ah pas sekali, Nona Oh! Bisakah kau membantu kami?"

Nona Oh? Kenapa rasanya nama keluarga itu memiliki sesuatu arti tersendiri bagi Jimin? Baru saja ia sendiri memikirkan hal itu, jawabannya muncul dari balik pintu depan. Oh Haneul menatap sang pemilik dengan bingung sebelum melihat Jimin. Ekspresi gadis itu bisa di bilang sama persis dengan Jimin, gabungan antara terkejut setengah mati dan tidak percaya.

"Nona Oh, ini Park Jimin, dan dia akan mulai bekerja part time sepertimu mulai dari sekarang." Kata sang pemilik. "Tolong bantu dia, ajari semua hal yang di perlukan."

Haneul menatap Jimin sekali lalu melihat bossnya dan mengangguk dengan singkat. "Tentu saja."

"Baik. Aku harus menemui adikku sekarang. Soojin memintaku menjemputnya." Tepat sekali, boss sekaligus pemilik cafe itu adalah Park Joongki, kakak dari Park Soojin. Joongki dengan kilat pergi meninggalkan cafe itu, meninggalkan Haneul dan Jimin yang sama sekali menolak berpandangan satu dengan yang lain.

"Kau.." Kata Jimin saat Haneul berjalan melewatinya, ke arah ruang pegawai untuk menyimpan tasnya. "Aku tidak tahu kau bekerja disini."

Haneul menghentikan langkahnya. "Aku tidak tahu kalau kau mencari pekerjaan dan akan memilih tempat ini."

Jimin berbalik dan menatap gadis itu. "Kenapa kau bekerja lagi? Bukankah kau tuan putri yang kaya raya?"

"Orang tuaku merasa perlu untuk merasakan kerja dari bawah, dan aku setuju dengan mereka." Jawab Haneul. Gadis itu menoleh dan membalas tatapan Jimin selama beberapa saat, lalu melanjutkan berjalan ke ruang pegawai. "Ayo! Kau ingin ku ajari atau tidak?" Suara Haneul terdengar dari ruang itu. Ketika mendengarnya, Jimin hanya menggerutu singkat lalu mengikuti gadis itu.

***

Sibuk.

Minra menatap handphonenya dengan muka cemberut. Soojin baru saja meneleponnya dan mengatakan bahwa ia tidak bisa menemani gadis itu berbelanja, dan kakaknya tidak bisa di hubungi sama sekali. Park Chanyeol, kakak dari Minra memang susah di hubungi jika sedang sibuk dengan pekerjaannya sebagai reporter.

Gadis itu akhirnya memutuskan untuk berbelanja sendiri, mengingat ia sudah tiba di depan pasar yang memang ia dan Soojin ingin datangi hari itu. Bazaar sedang di adakan dan mereka berdua memang ingin berbelanja bersama. Namun Soojin mendadak tidak bisa sehingga mau tidak mau Minra menerjang banyaknya orang di pasar itu sendirian.

Gadis itu mencoba ikut bedesakan di salah satu toko yang terkenal, namun bukannya berhasil mendapatkan sesuatu, gadis itu malah terdorong keluar. Hal yang sama terjadi di toko aksesoris terkenal lainnya. Di kali ketiga ia mencoba, gadis itu nyaris terjatuh jika tidak tertahan oleh tangan seseorang dari belakang yang memegangi pundaknya.

“Noona, kau benar-benar harus berhati-hati di daerah ramai seperti ini.” Kata orang tersebut sambil tertawa. Minra terkejut mendengar suara itu , suara yang di kenalnya, lalu berbalik dan melihat Jungkook tersenyum menatapnya.

“J-jungkook!” Minra langsung menegakkan tubuhnya dan berbalik. Ini pertama kalinya Minra melihat Jungkook mengenakan pakaian lain selain seragam sekolahnya dan ia sama sekali tidak membencinya. Pemuda itu memakai kaos berkerah berwarna merah dan jeans panjang. Kamera SLR hitam menggantung di lehernya dan topi berwarna biru tua di kepalanya.

Jungkook memasukan tangannya ke kantong celananya dan memberi tanda ke arah toko ketiga yang Minra berusaha masuki dengan kepalanya. “Toko itu terlalu ramai, bagaimana kalau kita ke toko yang lain?”

Minra melirik toko tadi dan mengangguk sebelum menyadari adanya kata aneh dari Jungkook. “Sebentar..Kita?”

“Noona akan terjatuh di setiap toko bila aku tidak bersama Noona.” Jungkook tersenyum lebar dan Minra merasakan mukanya memanas. Ia buru-buru berbalik dan menatap arah lain, berharap Jungkook tidak melihat mukanya yang memerah itu.

“B-baiklah kalau begitu. Ayo!”

Dan tepat seperti kata-kata Jungkook tadi, pemuda itu bertingkah seakan-akan dia adalah penjaga gadis itu. Entah berapa kali muka gadis itu memerah akibat sikap Jungkook. Setelah mendapatkan semua hal yang ia inginkan, keduanya beristirahat di salah satu cafe yang tidak jauh dari pasar tempat mereka tadi.

“Ngomong-ngomong, Jungkook..” Kata Minra.

Jungkook menoleh dengan kaleng minuman masih menempel di bibirnya, “Hm?”

"Kenapa kau berada di pasar itu tadi?"

Jungkook nyaris tersedak minumannya sendiri, Minra harus menepuk punggung pemuda itu untuk membantunya sembuh dari tersedaknya. Jungkook terdiam sesaat lalu menatap Minra dengan muka ‘terluka’ yang di buat-buat.

“Kau tidak suka bertemu denganku, Noona?” Tanya Jungkook.

Minra dengan cepat menggelengkan kepalanya. “Maksudku bukan itu! Aku hanya penasaran apa yang kau lakukan dengan kamera sebesar itu.”

“Oh ini?” Jungkook tertawa dan mengangkat kameranya, lalu menyalakan kameranya. “Hanya berkeliling dan memfoto-foto. Lihatlah.” Pemuda itu memindahkan kursinya ke sebelah kursi Minra sehingga ia bisa menunjukan hasil fotonya. Posisi mereka cukup dekat sehingga muka Minra kembali memerah. Setelah menunjukan beberapa foto, Jungkook menoleh dan melihat muka Minra yang masih agak gugup itu. Tanpa berkata apapun, pemuda itu mengangkat kameranya dan memfoto Minra dengan cepat.

Minra mengerjap-ngerjap beberapa kali dengan kaget sebelum mundur ke belakang, mukanya bertambah merah dan panik terlihat jelas di ekspresinya. “J-jungkook! Apa yang baru kau lakukan tadi?”

Pemuda yang bersangkutan hanya melihat hasil fotonya dan tertawa kembali. Minra sudah berdiri dan berusaha meraih kamera Jungkook, namun pemuda itu jauh lebih cepat dan sudah mengangkat kameranya tinggi-tinggi sehingga Minra tidak bisa meraihnya. Frustasi, Minra melompat dan berusaha meraihnya lagi namun sekali lagi gagal. Jungkook malah berjalan mundur dan menyembunyikan kameranya di belakang badannya.

“Jeon Jungkook!” Kata Minra sambil mengejar Jungkook yang tertawa melihat reaksi gadis itu. Reaksi Minra malah membuat Jungkook semakin mundur ke belakang dan lama kelamaan semakin cepat sehingga keduanya berakhir berlari-lari di jalanan dan kembali ke daerah pasar tadi.

“Jungkook!! Kembalikan! Jung—uft!” Pandangan Minra terlalu terpaku pada Jungkook sehingga ia tidak melihat siapa di depannya. Ketika ia selesai mengusap dahinya yang sakit, ia melihat siapa yang ia tabrak tadi.

“Hey! Kau pikir apa yang kau lakukan hah?!” Seorang preman dengan tampang yang agak mengerikan memandang tajam Minra, membuat gadis itu membeku di tempat, tidak bisa menjawab apalagi berlari.

“Jawab pertanyaanku!”

Teriakan lain terdengar dan tanpa disadari di depan Minra, sudah ada sekitar empat teman dari preman yang tadi Minra tabrak.

Jungkook menoleh, dan menjadi panik ketika ia tidak melihat Minra sedang berlari ke arahnya. Dengan cepat ia berlari kembali dan melihat tepat pada waktunya ketika tangan preman itu terangkat dan menarik tangan Minra dengan kasar. Pemuda itu berlari cepat dan memukul preman itu di mukanya.

Ketika preman itu goyah karena tidak menyangka akan di pukul, Jungkook meraih tangan Minra dan menyeret gadis itu berlari bersamanya.

“Sialan!”

Teriakan-teriakan marah dari preman-preman tadi terdengar di belakang mereka, namun Jungkook memegang erat tangan Minra dan terus mengajak gadis itu berlari tanpa menoleh ke belakang. Setelah berlari cukup lama dan tidak terdengar lagi suara kaki yang mengejar mereka, Jungkook dan Minra berhenti di depan toko terdekat, keduanya terengah-engah.

Tanpa bertukar kata keduanya sepakat membeli minuman terlebih dahulu sebelum berbicara kembali. Setelah meneguk minuman yang mereka beli di vending machine dan bersandar di dinding sebelah toko, Minra mendapatkan kata-katanya kembali.

“Terima kasih.” Kata gadis itu.

Walau masih terengah-engah, Jungkook tersenyum. Tanpa ia sadari, ia mengangkat tangannya dan meletakannya di atas kepala Minra yang memang lebih pendek darinya itu.

“Lain kali berhati-hatilah saat berjalan, Noona.”

“Itu salahmu karena diam-diam memfotoku seperti itu.”

Keduanya tertawa mendengar perdebatan mereka sendiri kemudian saling menatap sebelum menyadari posisi mereka yang bersebelahan dengan dekat dan tangan Jungkook berada di atas kepala Minra. Dengan cepat, Jungkook manrik tangannya dan mukanya sedikit memerah.

Keheningan selama beberapa saat sebelum akhirnya Jungkook bergumam dengan pelan. Minra menelengkan kepalanya karena suara pemuda itu tidak jelas.

“K-kita pulang?” Jungkook mengulang kata-katanya dan Minra mengangguk sebagai jawaban. Tidak ada kata-kata lain yang tertukar selain ucapan sampai nanti namun ketidakadaan kata-kata tidak berarti tidak ada sesuatu yang berubah di hati mereka.

***

“Nona Oh?”

Haneul menghentikan mesin pembuat kopinya selama sejenak dan menoleh ke arah Joongki, bossnya. Cafe mereka cukup sepi di sore dengan udara yang cukup sejuk untuk ukuran liburan musim panas itu. Orang-orang memilih untuk menghabiskan waktu di luar dan menikmati udara yang jarang di musim panas daripada di dalam cafe.

“Ya boss?” Kata Haneul seraya melangkah mendekat. Joongki dan Jimin sedang berada di daerah dapur tempat mereka menyimpan bahan-bahan untuk cafe mereka. Hari itu adalah hari pengecekan dan tampaknya bahan mereka sudah menipis.

“Ini list bahannya, dan ini uangnya.” Joongki menyerahkan kertas dan sebuah amplop putih. “Tempat yang biasa saja, Nona Oh. Tolong ya.”

Haneul mengangguk dan melepaskan celemek yang ia pakai ketika bekerja. Gadis itu sudah di ambang pintu belakang ketika suara Joongki kembali terdengar.

“Tuan Park akan ikut bersamamu, tolong juga ya Tuan Park.” Kata Joongki. Muka Jimin menunjukan bahwa ia enggan melakukan hal itu namun tidak memiliki pilihan lain. Dan beberapa saat kemudian, Haneul dan Jimin berjalan bersebelahan dengan awkward. Belanja berlangsung dengan singkat dan tanpa kata-kata sama sekali. Namun ketika Haneul hendak mengambil kantong belanjaan, Jimin mengambinya terlebih dahulu.

“Jangan bertingkah kau bisa mengangkat kantong berat ini.” Kata pemuda itu sambil mengambil seluruh kantong belanjaan dari tangan Haneul dan mulai berjalan begitu saja, keluar dari toko. Haneul menatap dengan bingung selama beberapa saat sebelum menyusul pemuda itu.

“Aku biasa melakukannya sendirian.” Kata Haneul. Tapi Jimin memberikannya senyuman meremehkan dan terkekeh sambil menggeleng.

“Jangan terlalu mengandalkan dirimu sendiri jika ada seseorang yang bisa kau andalkan.”

Langkah Haneul terhenti dan ia menatap Jimin yang masih berjalan di depannya itu tanpa berhenti. Gadis itu sama sekali tidak menyangka akan mendengar kata-kata itu dari seorang Park Jimin. Pemuda itu menyadari Haneul tidak berjalan di sebelahnya lagi dan berhenti lalu berbalik.

“Nona Oh, kau ikut atau tidak?” Kata Jimin, tersenyum iseng pada gadis itu. Dengan cepat Haneul tersadar dari keterkejutannya dan segera menyusul pemuda itu setelah memasang kembali muka dinginnya. Jimin terkekeh puas dan melanjutkan berjalan bersama Haneul.

“Apa kau selalu membawa belanjaan seberat ini?” Tanya Jimin.

Haneul mengangkat alisnya, “Belanjaan itu berat? Terlalu berat untukmu?”

Jimin mengernyit dan langsung menggeleng. “Aku tidak mengatakan hal itu.”

“Tapi baru saja..”

Dengan cepat Jimin memegang kedua bibir Haneul dan menjepitnya dengan dua jari saja dengan tangannya yang tidak memegang belanjaan. Mencegah agar gadis itu tidak mengatakan apa-apa lagi. Tentu saja gadis itu tidak tinggal diam dan memberontak dengan cara memukul tangan Jimin, membuat yang bersangkutan meringis kesakitan.

“Kau benar-benar galak seperti rumornya.” Kata Jimin seraya berjalan kembali. Haneul ikut berjalan di sampingnya, namun dengan muka kesal sekaligus memerah karena tindakan pemuda itu sebelumnya.

“Kau kecewa?” Tanya Haneul dengan sinis. “Maaf saja aku bukan gadis manis yang diam saja seperti boneka.”

Jimin melirik gadis itu dari sudut matanya lalu kembali menatap kedepan, “Tidak.” Jawaban Jimin membuat Haneul terkejut. “Jujur, aku tidak tertarik dengan gadis yang diam saja seperti boneka.” Pemuda itu kini menoleh dan menatap Haneul, walau gadis itu tidak menatapnya balik. “Lebih menarik berjalan bersama gadis galak sepertimu, Ice Queen.”

Haneul bisa merasakan mukanya sendiri memanas, dan untuk menghindari pemuda disebelahnya ini tidak menyadari hal itu, gadis itu tetap memasang muka datar dan menatap kedepan. Sayangnya, Jimin mengetahui hal itu dan tersenyum puas karena godaannya berhasil walau kemudian ia tersentak dengan sendirinya. Untuk apa ia melakukan hal itu sebenarnya? Kenapa gadis di sebelahnya ini membuatnya ingin terus mengerjainya dan melihat berbagai ekspresinya?

Jimin tidak sempat memikirkan jawabannya karena mendadak di depannya muncul sosok yang paling ia benci di dunia ini. Haneul tidak mengetahui hal itu karena ia tetap berjalan lurus dan tidak berhenti sampai Jimin meraih pundak gadis itu dan menahannya. Bingung dengan tindakan Jimin, Haneul menoleh dan memberikan pandangan penuh tanya pada pemuda itu, yang di abaikan habis-habisan.

“Oh! Jimin!” Teriakan itu membuat Haneul mengalihkan pandangannya dan menatap seorang pria berpakaian lusuh berjalan dengan satu botol minuman di tangan. Pria itu melambaikan tangan lainnya yang tidak memegang botol ke arah mereka.

“Kau mengenalnya?” Bisik Haneul pada Jimin.

Ekspresi muka Jimin menggelap, “Aku harap tidak.”

“Hey! Kau harus membalas sapaan dari ayahmu sendiri!” Kata pria itu ketika ia sudah cukup dekat sehingga Haneul bisa mencium bau alkohol dari pria itu. Ayah? Haneul punya banyak pertanyaan yang berputar di kepalanya namun saat itu ia memilih untuk diam saja.

Jimin maju ke depan, secara tidak langsung menempatkan dirinya di antara Haneul dan pria yang adalah Ayahnya itu. “Hey hey, kau punya uang? Berikan aku uang.” Kata pria itu lagi sambil mendekati Jimin. “Kau pasti punya uang, melihat belanjaanmu itu.” Pria itu menunjuk belanjaan, lalu menatap ke arah Haneul. “Dan kau bahkan punya pacar!”

Haneul terlonjak ketika pria itu melewati Jimin dan mendekati ke arahnya, “Halo sayang, aku harap kau dari keluarga kaya raya. Kau punya uang?” Haneul melangkah mundur namun pria itu melangkah maju sehingga jarak mereka lebih dekat lagi. Detik berikutnya, Jimin meletakan belanjaannya dan melayangkan tinjunya ke muka pria itu, sukses membuat pria itu terlontar ke samping.

“Ayo.” Kata Jimin. Ia mengambil barang belanjaannya lagi dan menarik tangan Haneul, sedikit kasar tapi tidak menyakiti gadis itu. Setelah beberapa saat, Haneul menarik tangannya dari genggaman Jimin.

“Kau baru saja memukul ayahmu!” Kata gadis itu.

Jimin berhenti dan berbalik, menatap langsung ke mata Haneul, mukanya terlihat kesal. “Lalu? Ia seseorang yang sudah tidak ku anggap sebagai ayah.” Pemuda itu meletakan belanjaannya kembali dan melangkah mendekati Haneul, begitu dekat sehingga Haneul harus menahan dirinya untuk tidak mundur ke belakang, hal itu akan membuatnya terlihat lemah bukan?

“Ia tidak pernah bekerja sehingga ibuku yang menanggung semuanya.” Kata Jimin dengan nada pahit. “Setiap kali ia pulang malam, ia hanya meminta uang dari ibuku dan memukulnya bila tidak di beri.”

Ketika Haneul diam saja mendengar penjelasannya, Jimin tersenyum sinis. “Puas mendengar cerita keluargaku yang tidak seindah keluargamu?” Setelah berkata begitu, Jimin berbalik dan mengambil belanjaannya lagi lalu berjalan tanpa menunggu Haneul. Haneul sendiri tidak menyusul Jimin langsung. Gadis itu malah berbelok di sebuah toko dan lalu keluar sambil berlari ke arah Jimin. Betapa terkejutnya Jimin ketika Haneul berhenti di depannya dengan es krim di kedua tangan.

“Apa maksudmu—“

Haneul menjulurkan satu es krim ke arah Jimin. “Permintaan maaf dan..”

“Dan?”

“Biasanya es krim membuat suasana hatiku lebih baik.”

Jimin mengernyit selama sesaat lalu menutupi mulutnya sendiri, menahan tawa yang sudah nyaris keluar. Melihat reaksi Jimin, muka Haneul memerah karena malu. Gadis itu sudah hampir menarik kembali tangannya ketika Jimin mengambil es krim darinya.

“Kau benar-benar gadis penuh kejutan, Ice Queen.” Kata Jimin sambil mengedip, lalu melanjutkan berjalan, meninggalkan Haneul dengan muka memerah.

***

“Hanya 15 menit, Taehyung. Tidak lebih, tidak kurang.”

Shin Taehyung meneguk minumannya sekali dengan gugup. Kelakukan teman masa kecilnya ini membuat Haneul bingung. Taehyung mendadak datang sendirian ke cafe tempat ia bekerja dan memintanya berbicara berdua saja dengannya. Ia bahkan mengabaikan fakta bahwa Jimin bekerja disana juga. Pemuda yang biasanya tidak bisa diam itu hanya menyapa Jimin dengan singkat sebelum mengatakan akan menunggu Haneul hingga selesai.

“Kau tidak berencana menghabiskan waktu istirahatku dengan memintaku melihatmu minum seteguk demi seteguk kan, Shin Taehyung?” Kata Haneul karena sejak tadi Taehyung tampak kehilangan kata-kata.

Taehyung memegang erat-erat gelasnya lalu menatap Haneul. “Haneul, tampaknya..”

“Ya?”

“Aku menyukai seseorang.”

Haneul menatap Taehyung dengan mulut sedikit terbuka, terkejut dengan kata-kata dari temannya itu. Seorang Shin Taehyung menyukai seseorang? Siapa orang yang berhasil mendapatkan hati orang yang paling tidak bisa diam di muka bumi ini? Orang yang sebelumnya menganggap menyukai seseorang adalah sebuah permainan.

“Kau serius?” Tanya Haneul dan Taehyung mengangguk. “Siapa orangnya—Oh tunggu, aku bisa menebaknya. Park Jina-ssi?”

Muka Taehyung otomatis memerah. Pemuda itu melonjak ke belakang. Pemandangan itu membuat Haneul tertawa kecil. Melihat Taehyung bertingkah seperti itu adalah hal yang sangat lucu untuknya.

“Aku benar ya? Apakah Dongho tahu?”

Taehyung menggeleng dengan keras. “Jangan beri tahu dia tentang hal itu atau dia akan mulai ribut dan menggodaku tentang itu. Kau harus berjanji, Haneul..”

Haneul nyengir iseng dan menopang kepalanya dengan tangannya di meja. “Bagaimana jika aku tidak mau berjanji?” Gadis itu tertawa lagi melihat ekspresi temannya. Sungguh menyenangkan menggoda orang yang biasanya selalu mengisengi dirinya sejak kecil. “Tenang saja, aku tidak akan menceritakannya pada Dongho atau siapapun. Aku berjanji.” Dan Taehyung bernafas lega. Pemuda itu berdiri lalu memeluk Haneul sebelum berlari ke luar cafe, mengabaikan teriakan protes Haneul.

Shin Taehyung bersiul pelan dan berjalan ke arah mobilnya. Pemuda itu sudah hendak melompat masuk ketika sesosok yang ia kenal tertangkap pandangan matanya. Mulutnya sudah akan memanggil orang itu ketika ia melihat adanya orang lain bersama sosok yang pertama.

Park Jina tertawa manis dan di sebelahnya berdiri seorang pemuda yang Taehyung kenal sebagai salah satu anggota kelompok Jimin, Jackson Wang. Tampaknya mereka berdua sangat dekat karena sesaat kemudian Jackson menyodorkan gulalinya pada Jina, yang kemudian di makan oleh gadis yang bersangkutan. Keduanya berjalan pergi ke arah yang berbeda dari tempat Taehyung berada, dan tidak melihat pemuda itu sama sekali. Setelah beberapa langkah, Taehyung bisa melihat Jackson melingkarkan lengannya di pundak Jina.

Taehyung berdiri bersandar di mobilnya. Hari yang sebenarnya cerah dan menyenangkan ini mendadak kelabu baginya. Apakah ia akan mengalami patah hati di pertama kalinya ia serius menyukai seseorang?

***TBC***

A/N : I love this chapter wkwkwkwk
There’s no Soojin though, sorry :””
Anyway,  mohon maaf bila ada kesalahan *bows*

Made by : Liz
Take out with full credits please~ ^^