Disclaimer : BTS and all Kpop artists are not mine.
Jimin will be soon though (lol kidding).
OC belongs to their rightful owner, while the plot is
mine.
Genre :
Romance, Friendship, Comedy, Fluff
"You’re My"
Chapter 7 :
My Confession
Park Jina keluar dari rumahnya dengan
senyuman lebar terpasang di wajahnya. Ia telah mendapat kerja yang menetap
dengan gaji yang lumayan untuk membantu keuangan ibunya. Kakaknya juga sudah
sedikit berubah, walaupun masih jarang berada di rumah, setidaknya Jimin sudah
jarang membuat kekacauan bahkan sekarang memiliki pekerjaan paruh waktu.
Hari ini ia mendapat libur di toko
tempat ia bekerja dan dengan cepat ia memutuskan untuk membeli sesuatu dengan
gajinya. Sesuatu yang walau murah, dibeli dengan uangnya sendiri. Jina
memutuskan untuk menbeli tiga barang. Untuk ibunya, kakaknya, dan seseorang
yang akhir-akhir ini menjadi penting untuknya, Shin Taehyung.
Akhirnya gadis itu sampai di toko
aksesoris yang sering ia datangi. Baru sebentar ia melihat benda-benda yang di
pajang di rak, matanya di tutup dari belakang oleh seseorang. Panik, Jina
menepuk tangan yang menutupi matanya itu. Sang pemilik tangan hanya tertawa dan
melepaskan kepala Jina sehingga gadis itu bisa berbalik dan melihat siapa yang
mengerjainya barusan, Jackson Wang.
“Kau terlalu panikan.” Kata Jackson,
masih nyengir mengingat reaksi Jina. Pemuda itu ikut melihat-lihat di rak yang
sedang di lihat Jina tadi.
“Kau sendiri mengejutkanku seperti
itu.”
Jackson tertawa dan mengusap kepala
Jina. “Jadi, nona, apa yang sedang kau lakukan disini?”
Dengan cepat Jina dan Jackson
mengobrol dengan riang dan pemuda itu membantu Jina memilih berbagai aksesoris.
Perilaku Jackson yang berbeda kepadanya membuat Jina merasa nyaman dan tanpa
sadar mulai bercerita tentang dirinya sendiri, hal yang tidak pernah ia lakukan
pada siapapun bahkan pada kakaknya sendiri.
Setelah berbelanja, mereka berdua
duduk di depan toko es krim, menikmati dinginnya es krim di tengah musim panas
yang menyengat. Mendadak Jackson menyodorkan es krim miliknya ke depan mulut
Jina, mukanya tersenyum lebar dan dari kilatan matanya, Jina bisa tahu bahwa
pemuda itu menyuruh dia mencoba es krim pemuda itu. Jina menggeleng tanda ia
tidak mau melakukan hal itu namun Jackson menyodorkan es krim itu lagi dan kali
ini ke dalam mulut Jina langsung, membuat mulut gadis itu berlumuran es krim
juga.
“Oppa!” Ya, Jackson juga telah meminta
Jina memanggilnya dengan panggilan dekat seperti itu. Melihat mulut Jina yang
berlumuran es krim, Jackson tertawa terbahak-bahak sebelum meraih tissue dari
meja di samping mereka dan mengelap mulut gadis itu dengan lembut.
Muka Jina memerah karena itu dan
Jackson kembali tertawa melihatnya. Kesal dengan pemuda yang tidak berhenti
tertawa di sebelahnya itu, Jina ‘menabrakan’ es krimnya sendiri ke mulut
Jackson dan kini gantian Jina yang tertawa melihat muka terkejut pemuda itu
saat es krim yang dingin memenuhi bibir dan sekeliling bibirnya.
Jackson yang tersadar dari
keterkejutannya , tersenyum iseng dan melumurkan es krimnya kembali ke bibir
Jina. Pemuda itu menunjukan cengiran ‘nakal’nya lalu mengedip pada Jina lalu
memakan es krimnya kembali saat Jina sibuk membersihkan es krim di daerah bibirnya.
Dengan cepat kedua es krim mereka
telah selesai dilahap oleh mereka berdua. Berlaku selayaknya seorang gentleman,
Jackson mengantar Jina hingga depan rumahnya, bersikeras mengatakan bahwa Jimin
tidak akan marah tentang hal itu. Bagaimana pun juga Jackson adalah salah satu
tangan kanan dari Jimin, orang kepercayaannya.
“Jina.”
Jina menoleh. Gadis itu sudah berada
di depan pintu rumahnya sementara Jackson hanya mengantar sampai pagar saja.
Jina melihat Jackson memasukan kedua tangannya ke dalam kantong dan memandang
Jina dengan kilatan mata jahil yang bagi Jina saat itu luar biasa menarik.
“Jina.” Panggil Jackson lagi. Kali ini
Jina benar-benar berbalik dan menghadap ke arah Jackson.
“Ya Oppa?”
Senyuman Jackson melebar, “Jadilah
pacarku, okay?”
***
Hari ini Soojin tidak memiliki acara
apapun. Kedua sahabatnya, Minra dan Jin, memiliki acara yang berbeda dengan
keluarga masing-masing saat itu. Terutama Jin yang sibuk sejak awal liburan
musim panas karena acara dengan keluarganya. Akhirnya gadis itu memutuskan
untuk mengunjungi cafe milik kakaknya, walau sedikit jauh dari tempat mereka,
menurutnya cafe kakaknya selalu layak di kunjungi.
Namun baru saja Soojin bebelok ke arah
cafe kakaknya, sesosok Shin Dongho muncul di pandangannya, berjalan dari arah
yang berlawanan darinya, menuju ke arahnya. Gadis itu hanya berharap sang
pemuda tidak melihatnya, namun sayangnya Dongho langsung melihat Soojin dan
bahkan sudah melambaikan tangannya ke arah gadis itu.
“Soojin!!” Dan Dongho pun berlari ke
arah gadis itu. Soojin memasang muka datarnya, yang mengingatkan Dongho pada
muka datar Haneul saat gadis itu sudah sebal padanya. Namun Dongho mengabaikan
ekspresi muka Soojin dan tetap tersenyum pada gadis itu. “Kau hendak kemana?
Bagaimana kalau kita ke cafe disitu?” Tanya Dongho tanpa basa-basi sama sekali,
dan menunjuk ke arah cafe. Cafe yang sama dengan cafe milik Joongki, dan tentu
saja, bagi Dongho itu hanyalah cafe tempat Haneul bekerja.
Merasa tidak bisa mengelak sama sekali,
Soojin mengangguk. “Aku memang hendak pergi kesana.” Kata gadis itu.
“Bagus!” Dongho tersenyum lebar. “Ayo!”
Dan pemuda itu dengan santainya berjalan di sebelah Soojin seakan akan mereka
berteman baik sejak lama. Gadis itu berharap di dalam cafe itu tidak ada
kakaknya. Akan panjang lagi permasalahannya jika Joongki melihatnya dengan
seorang pemuda berjalan berdua ke dalam cafe.
Keinginan Soojin terkabul. Di dalam
cafe, Joongki tidak terlihat sama sekali. Dongho juga tidak melihat Haneul
berdiri di belakang counter juga, berarti hari itu bukanlah hari kerja gadis
itu. Jimin juga tidak ada disana, walau baik Dongho maupun Soojin tidak
mengetahui kenyataan bahwa Jimin bekerja disitu juga.
Dongho bersandar di counter dan
mengedip riang pada gadis yang bekerja disitu, membuat muka gadis itu merona,
lalu menatap Soojin. "Aku yang bayar hari ini, kau mau apa?" Tanya
pemuda itu. Soojin mengernyit kesal dan menatap ke arah menu yang terpajang di
dinding belakang counter. Tadinya ia mau memberi tahu Dongho bahwa kakaknya
adalah pemilik cafe itu sehingga mereka berdua tidak perlu bayar. Namun tingkah
Dongho membuatnya kesal dan memutuskan untuk membiarkan pemuda itu membayar
saja.
Setelah mendapat pesanan mereka,
Dongho menarik Soojin ke salah satu meja yang kosong dan duduk berhadap-hadapan
walau sang gadis jelas enggan dengan ajakkan itu.
"Sayang Haneul tidak bekerja hari
ini.." Kata Dongho sambil menoleh ke arah counter kembali. Soojin menaikan
alisnya, menatap Dongho dengan pandangan penuh tanya.
"Haneul? Oh Haneul? Dia
pacarmu?"
Dongho nyaris menyemburkan minumannya
sendiri ke muka Soojin. "Pacar?! Ti-dak mung-kin!!" Katanya dengan
nada yang luar biasa tegas, tidak lupa dengan penekanan di tiap katanya.
Ekspresi pemuda itu terlalu lucu sehingga Soojin pun tidak bisa menahan
tawanya. Dongho masih mengulangi kata-kata yang sama beberapa kali sehingga
Soojin mengangguk dengan tegas dan mengeraskan suaranya agar bisa menandingi
suara Dongho.
"Iya. Iya!! Aku mengerti!!
Iya!!" Soojin juga mengulangi kata-kata itu hingga Dongho kembali tenang.
"Kau benar-benar sensitif tentang hal ini." Komentar gadis itu lagi.
"Ayahku sering sekali membahas
hal itu dan itu membuatku muak. Haneul dan aku hanya sahabat sejak kecil, itu
saja." Kata Dongho seraya mengaduk minumannya dengan sedotan. "Dan
lagi pula, aku tidak ingin kau salah paham..." Lanjut pemuda itu dengan
suara kecil.
Mata Soojin melebar. Tidak percaya apa
yang ia baru dengar. Apakah ia salah dengar? Suara Dongho terlalu kecil
sehingga ia sendiri tidak yakin apa yang ia dengar itu benar atau hanya
perasaannya saja.
"Maaf, apa?" Tanya Soojin
akhirnya.
"Haneul dan aku hanya sahabat
sejak kecil."
"Bukan, setelahnya."
Dongho diam sejenak, lalu membuang
pandangan ke arah lain, menolak untuk melihat Soojin. "Aku tidak berkata
apa-apa lagi setelahnya."
"Ya kau mengatakan sesuatu. Apa
itu?" Soojin melipat kedua tangannya.
Dongho cemberut dan menggeleng.
"Lupakan saja itu." Sekali lagi pemuda itu menampilkan ekspresi yang
menurut Soojin lucu. Walau mungkin kalau bagi Haneul itu adalah ekspresi
menjijikan dari Dongho, entah mengapa saat itu muka pemuda di hadapannya cukup
menggemaskan.
"Baiklah, akan kulupakan."
Kata Soojin. "Tapi kau harus memberiku sesuatu sebagai gantinya."
Dongho berpikir sejenak sebelum mengeluarkan
senyuman mempesonanya, "Nomor teleponku?" Katanya pemuda itu seraya
memajukan badannya sehingga posisi wajahnya dekat dengan Soojin, lalu mengedip
seksi. Soojin mendorong wajah pemuda itu dan memasang ekspresi sebal walau
sebenarnya hatinya berdegup dengan cukup cepat.
"Hey aku serius." Kata
Dongho, kelihatan terluka karena di dorong oleh Soojin. "Aku jarang
berbagi nomor teleponku pada orang lain."
"Tapi aku tidak mau nomor
teleponmu."
"Kalau begitu berikan nomor
teleponmu."
Mata Soojin melebar karena kaget. Dia
lalu mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali sebelum berhasil menemukan
kemampuan berbicaranya kembali. "A-apa?”
Dongho meletakan kepalanya di telapak
tangannya yang berada di meja dan menatap Soojin dengan pandangan seksi. “Nomor
teleponmu. Aku ingin tahu nomor teleponmu.”
“Kau gila.”
“Aku waras kok.”
“Tidak, kau gila.”
Dongho nyengir, sementara perasaan
Soojin berkecamuk antara terpukau pada muka pemuda itu dan keinginan untuk
menabok muka yang sama. Dongho tidak sempat membalas kata-kata Soojin karena
saat itu sepasang meja menggebrak meja mereka berdua dengan suara yang cukup
keras.
Seorang pria muda, berumur kurang
lebih di akhir 20, tersenyum yang sebenarnya agak mengerikan, pada Dongho. Ia
pernah melihat orang ini, dia adalah boss Haneul yang suka ada saat gadis itu
sedang bekerja. Soojin tentu mengenai pemuda ini juga. Dia adalah Joongki,
kakak dari Soojin.
“Selamat siang.” Kata Joongki. Dongho
nyaris merinding ketika mendengar nada suara dari pria itu. Joongki tersenyum
pada Soojin lalu kembali menatap Dongho. Senyuman di muka Joongki terkesan
dingin dan agak sadis sehingga Dongho berharap ia bisa berlari pergi saat itu
juga.
“S-siang.” Kata Dongho.
“Bisa ku tanya ada urusan apa dengan
adikku? Tolong jangan mengganggunya atau aku akan—“ Joongki berkata dengan
cepat, senyumannya makin menghilang di tiap katanya hingga akhirnya Soojin
menyela perkataan kakaknya dengan cara memukul pelan tangan Joongki.
“Dia tidak mengangguku, kakak. Kami
hanya mengobrol dan akan pergi sebentar lagi.” Kata gadis itu, kesal dengan
tingkah kakaknya yang selalu galak terhadap semua temannya yang bergender
laki-laki. Jika begini caranya, ia tidak akan punya teman laki-laki apalagi
pacar. “Ayo, oppa.”
Dongho mengikuti Soojin berdiri dan
berjalan keluar cafe sambil mencuri-curi pandang ke arah Joongki, yang di balas
dengan deathglare. Joongki tidak menyusul atau mempermasalahkan tentang hal itu
lebih jauh lagi, karena ia tahu jika ia melakukan itu, Soojin akan
mendiamkannya selama seminggu.
Helaan nafas di keluarkan Soojin
ketika mereka sampai di luar cafe dan berjalan pelan ke arah yang tidak jelas. “Maaf
kan kakakku.” Kata gadis itu pada Dongho. “Ia selalu begitu pada semua pemuda
yang kelihatan dekat denganku.”
“Tidak apa-apa. Lagi pula aku senang.”
Soojin menaikan alisnya, “Senang?”
Dongho nyengir dan melirik menatap
Soojin. Pemuda itu lalu dengan iseng menempatkan mukanya di depan muka Soojin,
dengan jarak yang sangat dekat. “Kau memanggilku oppa tadi.”
***
Jina berguling di tempat tidurnya. Ia
tidak bisa tidur karena kata-kata Jackson tadi. Mukanya kembali memanas ketika
mengingat kejadian di sore hari itu. Apa yang harus ia lakukan? Jackson
mengatakan bahwa ia akan menunggu jawaban Jina besok pagi dan sekarang sudah
jam 2 pagi namun gadis itu belum bisa menentukan perasaannya sendiri. Jackson
sangat baik padanya, namun ia merasa ada yang mengganjalnya, dan beberapa kali
pikirannya terbang ke seseorang yang bernama Shin Taehyung.
“Mungkin ku terima saja..” Gumam gadis
itu sebelum akhirnya tertidur. Tidak ada salahnya bukan? Lagi pula ia tidak
pernah berpacaran sebelum ini karena kakaknya selalu menjadi orang yang di
takuti sehingga tidak ada yang berani mendekatinya.
Akhirnya Jina tertidur nyenyak dan
bangun di paginya karena ketukan di kamarnya. Seperti biasanya ibunya
membangunkannya untuk masuk kerja lagi hari itu. Sambil mengusap matanya yang
masih setengah tertutup, gadis itu meraih handphone yang terletak di meja di
sebelah ranjangnya. Ada tiga misscall dari
satu nama yang sama. Jackson Wang. Ia dan Jackson memang sudah bertukaran
kontak jauh sebelumnya, sejak mereka makan siang bersama dulu.
Ketika Jina sibuk melamun,
handphonenya mendadak berdering lagi dan gadis itu nyaris menjatuhkan
handphonenya ke lantai. Jackson meneleponnya lagi. Dengan gugup gadis itu
mengangkat teleponnya.
“H-halo?”
Jina dapat mendengar Jackson tertawa
kecil di ujung sana. “Selamat pagi nona.
Bagaimana tidurmu? Nyenyak? Memimpikan diriku?”
Gadis itu mengangguk walau jelas
Jackson tidak akan pernah melihatnya. “Selamat pagi, Oppa. Tidurku nyenyak,
bagaimana denganmu?”
“Sama sekali tidak nyenyak. Bayanganmu menghantuiku
semalaman.”
Jantung Jina berdegup dengan cepat,
terlebih ketika Jackson akhirnya menanyainya mengenai jawaban dari
pertanyaannya kemarin.
“Jadi, bagaimana?”
Jina menahan nafasnya sendiri, “Aku
mau. Aku mau menjadi pacarmu, Oppa.”
*
Shin Taehyung menatap ke kanan dan ke
kiri. Park Jina belum terlihat juga, padahal sebentar lagi sudah saatnya mereka
berdua mulai bekerja. Pemuda itu sudah akan menelepon gadis itu, ya mereka juga
sudah bertukar kontak beberapa hari yang lalu, ketika suara motor yang kemudian
berhenti tidak jauh dari tempatnya bediri, di depan toko roti, menarik
perhatiannya. Dan ketika pemuda itu menoleh, ia sangat berharap ia tidak perlu
melakukan hal itu.
Jina turun dari motor yang di kendarai
oleh Jackson. Gadis itu tersenyum lebar walau malu-malu dengan muka yang
memerah. Jackson sendiri tersenyum dan meletakan tangannya di pipi gadis itu,
lalu menarik muka Jina dan mencium kening gadis itu. Keduanya bertukar ‘sampai-nanti’
dengan singkat dan Jackson pergi dengan motornya, sementara Jina berbalik dan
melihat Taehyung.
“Selamat pagi!” Sapa Jina dengan
riang, walau ada perasaan aneh di dalam dirinya. Entah mengapa ia tidak ingin
Taehyung melihatnya bersama Jackson. Muka Taehyung tidak menunjukan ekspresinya
yang biasa, ekspresi penuh senyum, melainkan ekspresi datar yang tidak bisa di
tebak. Tanpa berkata apapun, pemuda itu berbalik dan masuk ke dalam toko roti.
Mendadak rasa sakit menjalar di hati
Jina. Ia seharusnya tidak boleh merasakan hal itu karena ia adalah pacar
Jackson, bukan Taehyung, Namun kenapa sikap Taehyung yang menjauhinya lebih
menyakitinya dari apapun? Selama sehari itu Taehyung yang tadinya dekat
dengannya menjadi diam saja, dan melakukan tugasnya dengan benar, tanpa
bercanda dan lelucon-lelucon aneh yang terlontar.
“Kau..”
Jina menoleh. Jam kerja mereka berdua
sudah selesai dan Jina sedang menunggu Jackson menjemputnya, ketika Taehyung
mendadak berbicara padanya lagi dari dalam mobil yang terparkir di depannya.
“Kau, dan dia.. pacaran?”
Jina menggigit bibir bagian bawahnya,
ia sangat tidak ingin Taehyung mengetahui hubungannya dengan Jackson namun ia
tidak punya alasan untuk menyembunyikan hal itu. Akhinya gadis itu mengangguk.
Taehyung sendiri tidak berkata apapun. Pemuda itu hanya menatap Jina selama beberapa
saat sebelum menyalakan mobilnya dan melaju pergi. Melihat reaksi Taehyung,
Jina merasa ia ingin menangis.
Taehyung sendiri mengemudi dengan
cepat, bukan ke arah rumahnya sendiri, melainkan ke arah rumah sahabatnya sejak
kecil, Oh Haneul. Dengan mudah pemuda itu ‘menerobos’ masuk dan menemui Haneul
di ruang bacanya, yang memandang Taehyung dengan pandangan kaget dan kesal.
“Shin Taehyung! Kau tahu apa yang kau
lakukan it—“ Haneul baru memulai omelannya, yang lalu terhenti ketika melihat
ekspresi Taehyung. “Kau kenapa?” Tanya Haneul. Yang di tanya tidak menjawab,
melainkan menjatuhkan dirinya ke sebelah Haneul dan bersandar sambil menutupi
matanya dengan tangannya sendiri.
“Haneul, kau membaca buku-buku medis
kan?” Pertanyaan Taehyung membuat Haneul bingung, namun gadis itu tetap
menjawabnya.
“Tentu saja. Memangnya ada apa?”
Taehyung mengintip Haneul dari balik
tangannya, “Kau tau cara menyembuhkan sakit hati?”
“Kau sakit? Sejak kap—Tunggu, apa
katamu tadi? Sakit apa?”
“Sakit hati.”
“Kau yakin bukan kepalamu yang
terbentur, Shin Taehyung?” Tanya Haneul, tidak percaya dengan apa yang baru di
tanyakan oleh temannya itu. Taehyung menggeleng. Akhirnya Haneul meletakan buku
yang tadi sedang di bacanya dan berbalik menatap Taehyung.
“Ceritakan padaku, ada apa
sebenarnya..” Perintah Haneul. Taehyung sudah membuka mulutnya ketika pintu
ruang baca Haneul kembali terbanting terbuka dan Shin Dongho melangkah masuk ke
dalam ruangan.
“Haneul! Kau harus membantuku!” Teriak
Dongho sambil berlari mendekat, kemudian ia baru menyadari kehadiran saudara kembarnya
yang duduk di sebelah Haneul. “Oh? Taehyung? Kau juga ada disini?”
Kesal karena tampaknya Taehyung tidak
akan mau bercerita setelah di ganggu oleh Dongho seperti itu, Haneul melempar
bukunya ke arah Dongho, yang berhasil di tangkap dengan sukses.
“Yak!! Haneul!! Kenapa kau melempariku
dengan buku?!”
***
Pikiran Haneul akhir-akhir ini terbagi
antara masalah Dongho dan masalah Taehyung. Belum lagi keluarganya yang sudah
ribut karena Haneul selalu menolak pemuda yang mereka ‘sodorkan’ dalam
acara-acara keluarga. Tampaknya Jin juga mengalami masalah yang sama dengan
keluarganya.
Semua stress yang di alami gadis itu
tampaknya dapat teratasi dengan fakta bahwa ia akan bekerja di cafe. Gadis itu
juga tidak tahu kenapa ia menjadi sangat menyukai bekerja di cafe itu. Apakah
karena adanya Jimin? Haneul menggeleng, tidak mungkin. Itu sangat tidak mungkin
walaupun mereka berdua memang menjadi dekat sejak kejadian es krim, begitu
Jimin menyebutnya.
Liburan musim panas hampir berakhir.
Kabar bahwa Jackson Wang dan Park Jina berpacaran sudah sampai ke telinganya.
Jimin tampaknya terganggu mengenai kabar itu, walau pemuda itu tidak melakukan
apapun mengenaninya. Haneul sendiri tidak berani bertanya karena takut Jimin
malah akan meledak.
Pagi itu, Joongki meminta dia dan
Jimin menjaga cafe sejak pagi. Kunci cafe di berikan pada Haneul dan saat ini
gadis itu sedang berjalan ke arah cafe. Ia memang selalu di antar menggunakan
mobil pribadi dan supir, namun selalu meminta di turunkan beberapa blok sebelum
cafe tempat ia bekerja itu.
Belokan terakhir pun di lewati dan
cafe sudah terlihat di depan mata. Jalanan masih sepi karena sebagian besar
orang memilih untuk bangun siang. Haneul dapat melihat Jimin berdiri di depan
cafe, berpakaian kaos tanpa lengan dan celana selutut, bersandar di pintu cafe.
Ketika gadis itu semakin mendekat, ia bisa melihat dan mendengar bahwa Jimin
sedang menyanyi. Potongan lagu milik Bruno Mars di nyanyikan dengan indah oleh
pemuda itu, walau pelafalannya salah di sana dan disini.
“Suaramu indah.” Kata Haneul. Jimin melonjak
kaget dan segera menoleh ke arah Haneul. Pemuda itu tampaknya lega ketika
melihat Haneul lah yang menyapanya itu, lalu mengganti ekspresinya dengan muka
marah dan kesal, yang Haneul sudah kebal akibat terlalu sering melihatnya.
“Jangan beri tahu siapapun tentang hal
itu.” Gerutu Jimin saat Haneul membuka pintu cafe dan mereka berdua masuk.
“Kenapa? Kurasa itu adalah bakat yang
indah.”
“Aku tidak suka ada orang yang
mengetahuinya.” Kata Jimin seraya meletakan tasnya di dalam lokernya, Haneul
sudah melakukan hal yang sama sebelumnya dan sekarang gadis itu sedang berganti
baju menjadi seragam di kamar mandi. Mereka berdua sudah biasa melakukan hal
ini. Haneul berganti baju di kamar mandi, sementara Jimin di luar, di depan
lokernya, namun mereka tetap berdebat tanpa halangan.
“Boss bilang ia sedang mencari
penyanyi, kenapa tidak kau saja?” Ujar Haneul seraya memasang celemeknya lalu
membantu Jimin, untuk kesekian kalinya, memasang celemeknya sendiri. Jika
Jaemee atau siapapun melihat hal ini, mereka selalu mengejek mereka berdua,
yang tentu saja langsung berhenti ketika Jimin memberikan pandangan marah.
“Heh. Kau gila..”
“Kau akan mendapat uang tambahan dari
itu!”
“Tidak terima kasih.”
“Tapi aku ingin melihat kau menyanyi
lagi.”
Mendadak hening, dan Haneul menyadari
bahwa kata-katanya yang terakhir sedikit aneh untuk ia katakan pada Jimin. Muka
gadis itu memerah lalu langsung mengakhiri perdebatan mereka disitu dan
berjalan ke arah pintu, untuk memasang tanda bahwa mereka sudah buka. Sementara
Jimin masih berdiri, kaget dengan kata-kata yang tidak terduga dari gadis yang
selalu bertengkar dengannya itu.
***
Kilat bagi sebagian besar orang,
lambat bagi sebagian kecil, dan biasa saja bagi yang lain, musim panas pun
berakhir dan sudah saatnya sekolah, universitas dan kantor kembali memulai
kegiatan mereka. Rumor Jackson dan Jina sudah menyebar pesat hingga hampir
tidak ada orang yang terkejut ketika mereka berdua berjalan bersama.
Bulan berganti bulan dan musim gugur
sudah sampai di puncaknya. Dengan cepat Jina terbiasa dengan fakta bahwa dia
adalah pacar Jackson walau tingkah Taehyung yang berubah 180 derajat masih
membuatnya terluka setiap kali melihat pemuda itu. Berusaha menghilangkan
Taehyung dari pikirannya, Jina sudah mempersiapkan syal rajutannya sendiri
sebagai hadiah anniversarynya dengan
Jackson.
Hari yang di tunggu-tunggu pun tiba.
Untungnya hari itu, universitas di liburkan karena hari itu adalah hari jadi
dari universitas mereka. Jina berjalan riang ke arah taman di mana Jackson
biasa berkumpul dengan teman-temannya. Ia memang sengaja tidak memberi tahu
Jackson ia akan datang mengunjunginya karena ia ingin ini menjadi kejutan.
Gadis itu sudah bisa melihat pacarnya
dari kejauhan, bersama teman-temannya yang tidak di kenali oleh Jina. Mereka
tertawa-tawa dan suara mereka sangat keras sehingga Jina hanya perlu beberapa
langkah lagi untuk dapat mendengar percakapan di antara mereka.
“Sampai kapan kau akan memacari gadis
itu, Jackson?” Tanya seorang teman dari Jackson. Jackson hanya tersenyum dan
menaikkan kedua bahunya.
“Entahlah.”
“Kau tidak bosan?”
Jackson tertawa, “Sedikit, hanya saja
aku memerlukannya untuk menjatuhkan kakaknya.”
Langkah Jina terhenti. Apakah yang ia
baru saja dengar itu benar?
“Kau benar-benar pria licik, Jackson.
Mengelabui Park Jina dengan bermanis-manis dengannya hanya untuk menjatuhkan
kakaknya.” Kata seorang gadis yang duduk di sebelah Jackson. Mata Jina melebar
ketika Jackson mencium gadis itu.
“Sudah kukatakan sejak awal aku tidak
pernah tertarik pada gadis itu. Ia hanya ‘batu pijakan’ku saja.” Jawab Jackson.
Pemuda itu tertawa bersama teman-temannya hingga akhirnya melihat Jina yang
berdiri diam tidak jauh dari mereka dengan ekspresi terkejut luar biasa.
“Kau..Kau..” Jina tidak bisa
berkata-kata. Matanya penuh dengan air mata dan bibirnya bergetar. Kedua lengannya
lurus di sisi tubuhnya dengan tangan terkepal erat. Jackson sudah turun dari
tempat duduknya dan berjalan cepat ke arah Jina. Ketika Jackson mendepat, gadis
itu menampar Jackson dan berlari pergi sambil menangis.
Suara Jackson yang marah bisa
terdengar di belakangnya, namun Jina tidak berhenti. Ia telah tertipu selama
ini dan sekarang ia merasa sangat sakit, sakit tidak tertahankan. Baru saja
beberapa detik gadis itu berlari, Jackson berhasil menyusul dan menarik tangan
Jina dengan keras sehingga gadis itu meringis kesakitan.
“Kau..” Nafas Jackson terengah-engah. “..mendengar
semuanya bukan? Jawab aku!!” Jackson mendorong dan menarik Jina dengan kasar
sementara air mata gadis itu sudah mengalir deras di pipinya.
“Jawab aku sialan!” Dengan keras
Jackson menampar Jina, dan gadis itu terjatuh di aspal yang keras. Pergelangan
tangan yang terkilir, pipi yang merah, kini lengannya pun tergores aspal. Entah
apa yang akan Jackson lakukan lagi jika sesosok pemuda tidak berlari maju dan
menendang perut Jackson sehingga pemuda itu mundur.
Jina tidak bisa melihat dengan jelas
akibat air mata memenuhi matanya, namun ketika pemuda itu menawarkan tangannya
dan berbicara, ia langsung bisa mengenalinya.
“Kau bisa bangun? Ayo pergi dari sini.”
Shin Taehyung membantu Jina berdiri dengan lembut dan menariknya pergi dari
situ setelah menonjok Jackson di tambah dengan sebuah tendangan cepat di kaki.
Taehyung menggenggam tangan Jina dengan lembut, membuat Jina menyadari betapa
ia merindukan Taehyung berbicara dan berjalan sedekat ini dengannya.
Tanpa sadar, Taehyung menuntun Jina ke
arah cafe dimana Jimin dan Haneul bekerja. Saat itu Haneul baru saja akan
memasang tanda bahwa cafe itu akan buka ketika Taehyung berteriak ke arah gadis
itu. Haneul memekik kaget dan hal itu membuat Jimin berjalan keluar, penasaran
akan apa yang membuat sang Ice Queen memekik seperti itu. Mata Jimin melebar
ketika melihat adiknya yang terluka, dan Jackson yang mengejar di belakangnya.
“JACKSON WANG!!” Jimin berteriak marah
dan langsung berlari ke arah Jackson. Perkelahian tidak bisa di hindari lagi
sementara Haneul membantu Taehyung membawa masuk Jina ke dalam cafe.
“Cukup!! Jimin cukup!!” Haneul
mengeluarkan seluruh tenaganya untuk menarik Jimin mundur. Setelah berhasil
menarik Jimin mundur dari Jackson yang tergeletak di aspal, jelas kalah melawan
pemimpinnya sendiri, Haneul menatap Jackson dengan tajam.
“Kejadian ini tidak akan di bahas
lagi, tapi kau tidak boleh mendekati Jina, Jimin ataupun kelompokmu yang lama
dan semua teman-temanku.” Kata gadis itu seraya memegang lengan Jimin,
menahannya agar tidak menerjang Jackson kembali. “Aku adalah anggota SO, dan
kau tahu sendiri keluargaku. Kau akan menyesal bila tidak mengambil tawaranku
ini.”
Jackson mengelap luka di daerah
bibirnya lalu meludah ke tanah, dekat di kaki Haneul namun gadis itu tidak
bergerak sama sekali selain menatap Jackson dengan tatapan yang tegas. Lain
dengan Jimin yang sudah akan menonjok Jackson lagi setelah ia meludah di depan
Haneul.
“Jimin!” Haneul harus memeluk lengan
Jimin dan menariknya agar tidak menyerang Jackson lagi. Jackson sendiri
berbalik dan berjalan pergi tanpa mengatakan apapun. Haneul akhirnya berhasil
menyeret Jimin masuk ke dalam cafe dan memaksanya duduk di sebelah Jina.
“Aku akan membuatkan teh lalu merawat
lukamu, Jina-ssi.” Kata Haneul sebelum menghilang ke dalam dapur dan balik
beberapa saat kemudian, membawa nampan dengan tiga teh mengepul di atasnya. Setelah
memastikan Jina, Jimin dan Taehyung menyesap teh mereka setidaknya sekali,
Haneul baru mengobati luka-luka Jina dengan kotak P3K yang ada di cafe itu.
“Terima kasih.” Kata Jina setelah
Haneul merawat luka-lukanya. Gadis itu tersenyum dan membereskan kotak P3Knya
sebelum berdiri dan menatap kedua kakak beradik Park itu.
“Kalian pulanglah.” Kata gadis itu, “Aku
bisa menjaga cafe ini sendirian, akan ku jelaskan pada boss nanti mengenai hal
ini.” Lanjutnya sambil menatap Jimin. Namun Jimin menggeleng dan berdiri.
“Tidak. Aku tidak akan membiarkan kau
sendirian disini setelah apa yang baru saja terjadi.”
Kata-kata Jimin membuat tiga orang
yang lain menatap dengan bingung. Taehyung lalu berdeham dan berdiri.
“Aku akan mengantar Jina pulang,
tenang saja.” Setelah itu pemuda itu menawarkan tangannya pada Jina, yang di
sambut gadis itu. Jimin menatap Taehyung dengan tajam hingga Taehyung dan
adiknya keluar dari cafe, namun tidak mengatakan apapun. Pemuda bermarga Park
itu tampaknya lebih mempercayai Taehyung, terlebih setelah yang terjadi hari
ini.
Tidak ada kata-kata yang tertukar
selama perjalanan menuju mobil Taehyung yang di parkir tidak jauh dari tempat
berkumpul Jackson. Hanya tangan Taehyung yang menggenggam erat tangan Jina,
menenangkan gadis itu selama perjalanan. Di mobil pun tidak ada yang berbicara,
dan tangan Taehyung tidak sekalipun melepaskan tangan Jina.
Akhirnya mereka berdua sampai di depan
rumah Jina dan Jimin. Taehyung mengikuti gadis itu sampai ke ruang tamu mereka
yang sederhana, dimana mendadak Jina terjatuh dan semua kesedihannya tertumpah
disana. Merasa bingung dengan kejadian yang tiba-tiba itu, Taehyung hanya bisa
berlutut di sebelah Jina dan membiarkan gadis itu menangis di pelukannya.
“If it was me, I will never hurt you.”
Bisikan dari Taehyung membuat tangisan
Jina berhenti. Gadis itu menegakkan tubuhnya dan menatap Taehyung. Taehyung
sendiri menatap Jina langsung di matanya, dengan pandangan yang tidak pernah ia
berikan kepada siapapun sebelumnya.
“Forget him and be with me.”
Jina mengerjap-ngerjapkan matanya,
tidak tahu harus berbuat apa di situasi seperti ini. Jantungnya berdebar dengan
cepat. Apakah Shin Taehyung baru saja menyatakan cintanya?
Taehyung tertawa ringan, “Bagaimana
menurutmu Park Jina? Apakah aku tidak cukup menggantikan Jackson Wang?” Pemuda
itu tertawa, tapi rona merah di wajahnya terlihat jelas oleh Jina. Saat itulah
ia menyadari bahwa selama ini dia salah, perasaannya bukan terletak pada
Jackson dan topeng indahnya itu, tapi pada Shin Taehyung yang sedang bersamanya
ini.
“Cukup?” Kata Jina. “Apa kau gila Shin
Taehyung?”
Taehyung menggigit bibir bagian
bawahnya, merasa cemas akan jawaban Jina. Namun lalu Jina tersenyum walau air
mata masih menggenang di matanya. Bukannya menjadi lega, Taehyung malah menjadi
semakin panik.
“Tidak! Jangan menangis!” Kata
Taehyung panik seraya menyeka air mata Jina dengan kedua jarinya. Gadis itu
menggeleng dan memegang tangan Taehyung yang terletak di pipinya.
“Aku menangis karena aku baru
menyadari bertapa bodohnya diriku.” Kata Jina. “Bukan Jackson yang selama ini kusuka,
tapi dirimu.”
Taehyung terdiam selama beberapa detik
lalu membuka mulutnya lebar-lebar. “Maaf?”
“Aku menyukaimu Shin Taehyung, apakah
tawaranmu tadi masih berlaku?”
Detik berikutnya Taehyung menarik Jina
ke dalam pelukannya, dan gadis itu balas memeluk pemuda itu dengan erat.
“Katakan sekali lagi?” Kata Taehyung.
Muka Jina memerah dan bergumam pelan yang tidak bisa di dengan siapapun. Taehyung
tertawa melihat tingkah gadis di pelukannya itu, lalu mendekatkan kepalanya ke
kuping Jina dan berbisik.
“I love you Park Jina, don’t ever look
at other boys again.”
***TBC***
A/N : CHEESY AND WEIRD
I’m sucks at romance, especially confession part.
Sorry for a few part of the conversation that in English
because it’ll sounds super weird in Indonesian.
Anyway, mohon
maaf bila ada kesalahan *bows*
Made by : Liz
Take out with full credits
please~ ^^
