Disclaimer : BTS and all Kpop artists are not mine.
Jimin will be soon though (lol kidding).
OC belongs to their rightful owner, while the plot is
mine.
Genre :
Romance, Friendship, Comedy, Fluff
"You’re My"
Chapter 6 :
My Secret Feeling
Musim panas telah di mulai dan
otomatis semua orang menikmati liburan musim panas mereka, tak terkecuali
mahasiswa dan mahasiswi tempat Haneul, Soojin, Minra, Jina dan yang lain
bersekolah. Masa pemilihan ketua SO sudah selesai dengan Son Gain sebagai
pemenangnya, Jokwon sebagai wakil dari gadis itu, Haneul sebagai sekretaris dan
Mark sebagai bendahara. Semua orang sudah dapat memprediksi bahwa tahun depan
persaingan akan ada di antara Haneul dan Mark untuk memperebutkan title ‘Ketua’
berikutnya.
Hari itu adalah hari ketiga sejak
liburan musim panas di mulai dan seorang pemuda sudah berhasil membuat Haneul
sebal.
“Haneul, kau tahu dimana Taehyung?”
Tanya Dongho yang sibuk berguling-guling di sofa di kamar Haneul. Pemuda satu
itu ‘menerobos’ masuk ke dalam rumah gadis itu seenaknya dan mulai
mengacak-ngacak ruangan itu.
“Kalau tidak salah, Taehyung adalah
saudara kembarmu, bukan saudara kembarku.” Jawab Haneul, mulai muak dengan
tingkah pemuda itu. Dongho mulai merengek dan kembali berguling-guling.
Akhirnya, untuk menghentikan pemuda itu mengacak-acak rumahnya lebih lagi
sekaligus menghentikan rengekannya, Haneul menemani pemuda itu membeli roti
kesukaannya di salah satu toko roti besar milik keluarga Shin.
“Kau harus mentraktirku karena ini.”
Kata Haneul saat ia turun dari mobil merah Dongho. Pemuda itu melambaikan
tangannya dengan asal, mengiyakan dengan mudahnya karena ia selalu mendapat
roti gratis dari toko roti milik keluarganya itu.
“Selamat datang, Tuan Muda, Nona
Haneul.” Kata seorang pekerja disana. Dongho menganggukkan kepalanya dengan
singkat, bergaya sok keren, sementara Haneul menyapa balik pekerja itu.
“Dongho!” Shin Daehyun melambaikan
tangannya, tampaknya hari ini ia juga berada di toko roti ini. “Wah, sedang
pacaran dengan Haneul?”
“Jangan bercanda Papa.” Kata Dongho
“Kami tidak mungkin pacaran.” Timpal
Haneul dengan tegas. Daehyun hanya tertawa mendengar reaksi mereka berdua. Pria
satu ini senang sekali mengerjai anaknya sendiri, terutama dengan cara
menjodohkannya dengan teman masa kecil mereka, Haneul.
"Aku tidak keberatan jika kalian
berdua sampai menikah." Kata Daehyun. Haneul dan Dongho langsung saling
bertatapan dengan muka jijik dan menggeleng dengan serempak kepada Daehyun.
Daehyun tertawa dan hendak mengatakan sesuatu lagi ketika pintu mendadak terbuka
dan Taehyung melangkah masuk, lengkap dengan seragam toko roti itu dan sebuah
nampan besar berisi roti di tangan.
Pemuda itu langsung berbalik lagi,
hendak masuk kembali ke dalam dapur namun sayangnya Dongho telah melihatnya
duluan.
"Taehyung?" Kata Dongho dan
Taehyung mempercepat langkahnya, masuk kedalam dapur. Dongho menarik Haneul dan
mereka berdua masuk juga ke dalam dapur, hanya untul menemukan Taehyung dengan
muka cemberut, sebal karena rahasianya terbongkar.
"Apa..apa yang kau lakukan hahahahahahaha!!"
Dongho tidak bisa menghentikan tawanya ketika melihat saudara kembarnya
sendiri. Haneul juga tertawa tidak lama kemudian, membuat Taehyung semakin
merajuk.
"Oppa? Ada apa?"
Tawa Haneul dan Dongho langsung
berhenti. Mata kedua orang itu melebar ketika mendengar kata-kata itu, terlebih
lagi ketika melihat siapa yang menjadi sumber kata-kata itu. Park Jina baru
saja muncul, dengan seragam yang sama dengan Taehyung, dan ekspresi yang
jelas-jelas terkejut.
Dongho lah yang pertama sadar dari keterkejutannya.
Pemuda itu tersenyum jahil lalu mendekati Taehyung dan menepuk pundak
kembarannya itu beberapa kali seraya mengangguk-angguk penuh arti.
"Selamat saudaraku." Kata Dongho. Taehyung dan Jina hanya menatap
dengan bingung sementara Dongho menyeret Haneul keluar dari dapur itu.
"Tidak ku sangka Taehyung..
ckckck." Kata Dongho sambil nyengir jahil. Haneul mengerutkan keningnya.
"Apa tidak apa apa?" Kata
gadis itu.
"Memangnya kenapa?"
"Gadis itu, Park Jina, adik dari
Park Jimin. Bukankah kau terlibat masalah dengan kakaknya?"
Dongho menatap Haneul dengan mulut
yang membuka lebar dan hendak masuk kembali ke dalam dapur namun kerah bajunya
di tarik oleh Haneul.
"Meskipun begitu, ku larang kau
mengganggu mereka." Setelah berkata begitu, Haneul menyeret Dongho keluar
dari toko roti itu.
***
Jimin menendang kaleng yang ada di
depannya itu. Ia baru saja berdebat dengan adik kesayangannya, Jina. Entah
bagaimana, pemuda itu berhasil mengetahu bahwa adiknya mulai bekerja paruh
waktu. Dengan kesal ia menendang kaleng itu lagi. Jina menentang perintahnya,
perintah untuk segera keluar dari pekerjaan itu, dan menang.
"Mungkin aku harus mencari
pekerjaan juga." Gumam Jimin sambil menoleh ke sekelilingnya. Dengan cepat
ia memutuskan untuk mencari kerja di lokasi yang sedikit jauh dari kampusnya.
Setelah mempertimbangkan singkat, ia masuk ke dalam sebuah cafe dan melamar
kerja disitu.
Cafe itu sepi. Hanya ada seorang
pemuda yang sedang sibuk mengecek perlengkapannya. Jimin menjelaskan niatnya
dan dengan mudah mendapatkan 'Ya'. Tampaknya pegawai sebelumnya baru saja
berhenti dan pemuda itu, pemilik cafe tersebut baru saja akan memajang
pengumuman bahwa ia mencari pegawai baru.
"Baiklah." Kata sang pemilik
cafe. "Kau mendapat masa percobaan selama seminggu, jika kau berhasil,
kami akan mempekerjakanmu untuk ke depannya lagi." Pria berumur sekitar 29
tahun itu tersenyum pada Jimin namun lalu menjawab teleponnya yang mendadak
berbunyi. Setelah percakapan yang tidak bisa di mengerti Jimin, pemuda itu menutup
teleponnya.
"Maafkan aku, tapi aku harus
pergi sekarang. Kau bisa menanyakan semuanya pada pekerja kami yang lain."
Kata pemuda itu seraya menoleh ke belakang. "Ah pas sekali, Nona Oh!
Bisakah kau membantu kami?"
Nona Oh? Kenapa rasanya nama keluarga
itu memiliki sesuatu arti tersendiri bagi Jimin? Baru saja ia sendiri
memikirkan hal itu, jawabannya muncul dari balik pintu depan. Oh Haneul menatap
sang pemilik dengan bingung sebelum melihat Jimin. Ekspresi gadis itu bisa di
bilang sama persis dengan Jimin, gabungan antara terkejut setengah mati dan
tidak percaya.
"Nona Oh, ini Park Jimin, dan dia
akan mulai bekerja part time sepertimu mulai dari sekarang." Kata sang
pemilik. "Tolong bantu dia, ajari semua hal yang di perlukan."
Haneul menatap Jimin sekali lalu
melihat bossnya dan mengangguk dengan singkat. "Tentu saja."
"Baik. Aku harus menemui adikku
sekarang. Soojin memintaku menjemputnya." Tepat sekali, boss sekaligus
pemilik cafe itu adalah Park Joongki, kakak dari Park Soojin. Joongki dengan
kilat pergi meninggalkan cafe itu, meninggalkan Haneul dan Jimin yang sama
sekali menolak berpandangan satu dengan yang lain.
"Kau.." Kata Jimin saat
Haneul berjalan melewatinya, ke arah ruang pegawai untuk menyimpan tasnya.
"Aku tidak tahu kau bekerja disini."
Haneul menghentikan langkahnya.
"Aku tidak tahu kalau kau mencari pekerjaan dan akan memilih tempat
ini."
Jimin berbalik dan menatap gadis itu.
"Kenapa kau bekerja lagi? Bukankah kau tuan putri yang kaya raya?"
"Orang tuaku merasa perlu untuk
merasakan kerja dari bawah, dan aku setuju dengan mereka." Jawab Haneul.
Gadis itu menoleh dan membalas tatapan Jimin selama beberapa saat, lalu
melanjutkan berjalan ke ruang pegawai. "Ayo! Kau ingin ku ajari atau
tidak?" Suara Haneul terdengar dari ruang itu. Ketika mendengarnya, Jimin
hanya menggerutu singkat lalu mengikuti gadis itu.
***
Sibuk.
Minra menatap handphonenya dengan muka
cemberut. Soojin baru saja meneleponnya dan mengatakan bahwa ia tidak bisa
menemani gadis itu berbelanja, dan kakaknya tidak bisa di hubungi sama sekali.
Park Chanyeol, kakak dari Minra memang susah di hubungi jika sedang sibuk
dengan pekerjaannya sebagai reporter.
Gadis itu akhirnya memutuskan untuk
berbelanja sendiri, mengingat ia sudah tiba di depan pasar yang memang ia dan
Soojin ingin datangi hari itu. Bazaar sedang di adakan dan mereka berdua memang
ingin berbelanja bersama. Namun Soojin mendadak tidak bisa sehingga mau tidak
mau Minra menerjang banyaknya orang di pasar itu sendirian.
Gadis itu mencoba ikut bedesakan di
salah satu toko yang terkenal, namun bukannya berhasil mendapatkan sesuatu,
gadis itu malah terdorong keluar. Hal yang sama terjadi di toko aksesoris
terkenal lainnya. Di kali ketiga ia mencoba, gadis itu nyaris terjatuh jika
tidak tertahan oleh tangan seseorang dari belakang yang memegangi pundaknya.
“Noona, kau benar-benar harus
berhati-hati di daerah ramai seperti ini.” Kata orang tersebut sambil tertawa.
Minra terkejut mendengar suara itu , suara yang di kenalnya, lalu berbalik dan
melihat Jungkook tersenyum menatapnya.
“J-jungkook!” Minra langsung
menegakkan tubuhnya dan berbalik. Ini pertama kalinya Minra melihat Jungkook
mengenakan pakaian lain selain seragam sekolahnya dan ia sama sekali tidak
membencinya. Pemuda itu memakai kaos berkerah berwarna merah dan jeans panjang.
Kamera SLR hitam menggantung di lehernya dan topi berwarna biru tua di
kepalanya.
Jungkook memasukan tangannya ke
kantong celananya dan memberi tanda ke arah toko ketiga yang Minra berusaha
masuki dengan kepalanya. “Toko itu terlalu ramai, bagaimana kalau kita ke toko
yang lain?”
Minra melirik toko tadi dan mengangguk
sebelum menyadari adanya kata aneh dari Jungkook. “Sebentar..Kita?”
“Noona akan terjatuh di setiap toko
bila aku tidak bersama Noona.” Jungkook tersenyum lebar dan Minra merasakan
mukanya memanas. Ia buru-buru berbalik dan menatap arah lain, berharap Jungkook
tidak melihat mukanya yang memerah itu.
“B-baiklah kalau begitu. Ayo!”
Dan tepat seperti kata-kata Jungkook
tadi, pemuda itu bertingkah seakan-akan dia adalah penjaga gadis itu. Entah
berapa kali muka gadis itu memerah akibat sikap Jungkook. Setelah mendapatkan
semua hal yang ia inginkan, keduanya beristirahat di salah satu cafe yang tidak
jauh dari pasar tempat mereka tadi.
“Ngomong-ngomong, Jungkook..” Kata Minra.
Jungkook menoleh dengan kaleng minuman
masih menempel di bibirnya, “Hm?”
"Kenapa kau berada di pasar itu
tadi?"
Jungkook nyaris tersedak minumannya
sendiri, Minra harus menepuk punggung pemuda itu untuk membantunya sembuh dari
tersedaknya. Jungkook terdiam sesaat lalu menatap Minra dengan muka ‘terluka’
yang di buat-buat.
“Kau tidak suka bertemu denganku,
Noona?” Tanya Jungkook.
Minra dengan cepat menggelengkan
kepalanya. “Maksudku bukan itu! Aku hanya penasaran apa yang kau lakukan dengan
kamera sebesar itu.”
“Oh ini?” Jungkook tertawa dan
mengangkat kameranya, lalu menyalakan kameranya. “Hanya berkeliling dan memfoto-foto.
Lihatlah.” Pemuda itu memindahkan kursinya ke sebelah kursi Minra sehingga ia
bisa menunjukan hasil fotonya. Posisi mereka cukup dekat sehingga muka Minra
kembali memerah. Setelah menunjukan beberapa foto, Jungkook menoleh dan melihat
muka Minra yang masih agak gugup itu. Tanpa berkata apapun, pemuda itu
mengangkat kameranya dan memfoto Minra dengan cepat.
Minra mengerjap-ngerjap beberapa kali
dengan kaget sebelum mundur ke belakang, mukanya bertambah merah dan panik
terlihat jelas di ekspresinya. “J-jungkook! Apa yang baru kau lakukan tadi?”
Pemuda yang bersangkutan hanya melihat
hasil fotonya dan tertawa kembali. Minra sudah berdiri dan berusaha meraih
kamera Jungkook, namun pemuda itu jauh lebih cepat dan sudah mengangkat
kameranya tinggi-tinggi sehingga Minra tidak bisa meraihnya. Frustasi, Minra
melompat dan berusaha meraihnya lagi namun sekali lagi gagal. Jungkook malah
berjalan mundur dan menyembunyikan kameranya di belakang badannya.
“Jeon Jungkook!” Kata Minra sambil
mengejar Jungkook yang tertawa melihat reaksi gadis itu. Reaksi Minra malah
membuat Jungkook semakin mundur ke belakang dan lama kelamaan semakin cepat
sehingga keduanya berakhir berlari-lari di jalanan dan kembali ke daerah pasar
tadi.
“Jungkook!! Kembalikan! Jung—uft!”
Pandangan Minra terlalu terpaku pada Jungkook sehingga ia tidak melihat siapa
di depannya. Ketika ia selesai mengusap dahinya yang sakit, ia melihat siapa
yang ia tabrak tadi.
“Hey! Kau pikir apa yang kau lakukan
hah?!” Seorang preman dengan tampang yang agak mengerikan memandang tajam
Minra, membuat gadis itu membeku di tempat, tidak bisa menjawab apalagi
berlari.
“Jawab pertanyaanku!”
Teriakan lain terdengar dan tanpa
disadari di depan Minra, sudah ada sekitar empat teman dari preman yang tadi
Minra tabrak.
Jungkook menoleh, dan menjadi panik
ketika ia tidak melihat Minra sedang berlari ke arahnya. Dengan cepat ia
berlari kembali dan melihat tepat pada waktunya ketika tangan preman itu
terangkat dan menarik tangan Minra dengan kasar. Pemuda itu berlari cepat dan
memukul preman itu di mukanya.
Ketika preman itu goyah karena tidak
menyangka akan di pukul, Jungkook meraih tangan Minra dan menyeret gadis itu
berlari bersamanya.
“Sialan!”
Teriakan-teriakan marah dari
preman-preman tadi terdengar di belakang mereka, namun Jungkook memegang erat
tangan Minra dan terus mengajak gadis itu berlari tanpa menoleh ke belakang.
Setelah berlari cukup lama dan tidak terdengar lagi suara kaki yang mengejar
mereka, Jungkook dan Minra berhenti di depan toko terdekat, keduanya terengah-engah.
Tanpa bertukar kata keduanya sepakat
membeli minuman terlebih dahulu sebelum berbicara kembali. Setelah meneguk
minuman yang mereka beli di vending machine dan bersandar di dinding sebelah
toko, Minra mendapatkan kata-katanya kembali.
“Terima kasih.” Kata gadis itu.
Walau masih terengah-engah, Jungkook
tersenyum. Tanpa ia sadari, ia mengangkat tangannya dan meletakannya di atas
kepala Minra yang memang lebih pendek darinya itu.
“Lain kali berhati-hatilah saat
berjalan, Noona.”
“Itu salahmu karena diam-diam
memfotoku seperti itu.”
Keduanya tertawa mendengar perdebatan
mereka sendiri kemudian saling menatap sebelum menyadari posisi mereka yang
bersebelahan dengan dekat dan tangan Jungkook berada di atas kepala Minra.
Dengan cepat, Jungkook manrik tangannya dan mukanya sedikit memerah.
Keheningan selama beberapa saat
sebelum akhirnya Jungkook bergumam dengan pelan. Minra menelengkan kepalanya
karena suara pemuda itu tidak jelas.
“K-kita pulang?” Jungkook mengulang
kata-katanya dan Minra mengangguk sebagai jawaban. Tidak ada kata-kata lain
yang tertukar selain ucapan sampai nanti namun ketidakadaan kata-kata tidak
berarti tidak ada sesuatu yang berubah di hati mereka.
***
“Nona Oh?”
Haneul menghentikan mesin pembuat
kopinya selama sejenak dan menoleh ke arah Joongki, bossnya. Cafe mereka cukup
sepi di sore dengan udara yang cukup sejuk untuk ukuran liburan musim panas
itu. Orang-orang memilih untuk menghabiskan waktu di luar dan menikmati udara
yang jarang di musim panas daripada di dalam cafe.
“Ya boss?” Kata Haneul seraya
melangkah mendekat. Joongki dan Jimin sedang berada di daerah dapur tempat
mereka menyimpan bahan-bahan untuk cafe mereka. Hari itu adalah hari pengecekan
dan tampaknya bahan mereka sudah menipis.
“Ini list bahannya, dan ini uangnya.”
Joongki menyerahkan kertas dan sebuah amplop putih. “Tempat yang biasa saja,
Nona Oh. Tolong ya.”
Haneul mengangguk dan melepaskan
celemek yang ia pakai ketika bekerja. Gadis itu sudah di ambang pintu belakang
ketika suara Joongki kembali terdengar.
“Tuan Park akan ikut bersamamu, tolong
juga ya Tuan Park.” Kata Joongki. Muka Jimin menunjukan bahwa ia enggan
melakukan hal itu namun tidak memiliki pilihan lain. Dan beberapa saat
kemudian, Haneul dan Jimin berjalan bersebelahan dengan awkward. Belanja
berlangsung dengan singkat dan tanpa kata-kata sama sekali. Namun ketika Haneul
hendak mengambil kantong belanjaan, Jimin mengambinya terlebih dahulu.
“Jangan bertingkah kau bisa mengangkat
kantong berat ini.” Kata pemuda itu sambil mengambil seluruh kantong belanjaan
dari tangan Haneul dan mulai berjalan begitu saja, keluar dari toko. Haneul
menatap dengan bingung selama beberapa saat sebelum menyusul pemuda itu.
“Aku biasa melakukannya sendirian.”
Kata Haneul. Tapi Jimin memberikannya senyuman meremehkan dan terkekeh sambil
menggeleng.
“Jangan terlalu mengandalkan dirimu
sendiri jika ada seseorang yang bisa kau andalkan.”
Langkah Haneul terhenti dan ia menatap
Jimin yang masih berjalan di depannya itu tanpa berhenti. Gadis itu sama sekali
tidak menyangka akan mendengar kata-kata itu dari seorang Park Jimin. Pemuda
itu menyadari Haneul tidak berjalan di sebelahnya lagi dan berhenti lalu
berbalik.
“Nona Oh, kau ikut atau tidak?” Kata
Jimin, tersenyum iseng pada gadis itu. Dengan cepat Haneul tersadar dari
keterkejutannya dan segera menyusul pemuda itu setelah memasang kembali muka
dinginnya. Jimin terkekeh puas dan melanjutkan berjalan bersama Haneul.
“Apa kau selalu membawa belanjaan
seberat ini?” Tanya Jimin.
Haneul mengangkat alisnya, “Belanjaan
itu berat? Terlalu berat untukmu?”
Jimin mengernyit dan langsung
menggeleng. “Aku tidak mengatakan hal itu.”
“Tapi baru saja..”
Dengan cepat Jimin memegang kedua
bibir Haneul dan menjepitnya dengan dua jari saja dengan tangannya yang tidak
memegang belanjaan. Mencegah agar gadis itu tidak mengatakan apa-apa lagi.
Tentu saja gadis itu tidak tinggal diam dan memberontak dengan cara memukul tangan
Jimin, membuat yang bersangkutan meringis kesakitan.
“Kau benar-benar galak seperti
rumornya.” Kata Jimin seraya berjalan kembali. Haneul ikut berjalan di
sampingnya, namun dengan muka kesal sekaligus memerah karena tindakan pemuda
itu sebelumnya.
“Kau kecewa?” Tanya Haneul dengan
sinis. “Maaf saja aku bukan gadis manis yang diam saja seperti boneka.”
Jimin melirik gadis itu dari sudut
matanya lalu kembali menatap kedepan, “Tidak.” Jawaban Jimin membuat Haneul
terkejut. “Jujur, aku tidak tertarik dengan gadis yang diam saja seperti
boneka.” Pemuda itu kini menoleh dan menatap Haneul, walau gadis itu tidak
menatapnya balik. “Lebih menarik berjalan bersama gadis galak sepertimu, Ice
Queen.”
Haneul bisa merasakan mukanya sendiri
memanas, dan untuk menghindari pemuda disebelahnya ini tidak menyadari hal itu,
gadis itu tetap memasang muka datar dan menatap kedepan. Sayangnya, Jimin
mengetahui hal itu dan tersenyum puas karena godaannya berhasil walau kemudian
ia tersentak dengan sendirinya. Untuk apa ia melakukan hal itu sebenarnya?
Kenapa gadis di sebelahnya ini membuatnya ingin terus mengerjainya dan melihat
berbagai ekspresinya?
Jimin tidak sempat memikirkan
jawabannya karena mendadak di depannya muncul sosok yang paling ia benci di
dunia ini. Haneul tidak mengetahui hal itu karena ia tetap berjalan lurus dan
tidak berhenti sampai Jimin meraih pundak gadis itu dan menahannya. Bingung
dengan tindakan Jimin, Haneul menoleh dan memberikan pandangan penuh tanya pada
pemuda itu, yang di abaikan habis-habisan.
“Oh! Jimin!” Teriakan itu membuat
Haneul mengalihkan pandangannya dan menatap seorang pria berpakaian lusuh
berjalan dengan satu botol minuman di tangan. Pria itu melambaikan tangan
lainnya yang tidak memegang botol ke arah mereka.
“Kau mengenalnya?” Bisik Haneul pada
Jimin.
Ekspresi muka Jimin menggelap, “Aku
harap tidak.”
“Hey! Kau harus membalas sapaan dari
ayahmu sendiri!” Kata pria itu ketika ia sudah cukup dekat sehingga Haneul bisa
mencium bau alkohol dari pria itu. Ayah? Haneul punya banyak pertanyaan yang
berputar di kepalanya namun saat itu ia memilih untuk diam saja.
Jimin maju ke depan, secara tidak
langsung menempatkan dirinya di antara Haneul dan pria yang adalah Ayahnya itu.
“Hey hey, kau punya uang? Berikan aku uang.” Kata pria itu lagi sambil
mendekati Jimin. “Kau pasti punya uang, melihat belanjaanmu itu.” Pria itu
menunjuk belanjaan, lalu menatap ke arah Haneul. “Dan kau bahkan punya pacar!”
Haneul terlonjak ketika pria itu
melewati Jimin dan mendekati ke arahnya, “Halo sayang, aku harap kau dari
keluarga kaya raya. Kau punya uang?” Haneul melangkah mundur namun pria itu
melangkah maju sehingga jarak mereka lebih dekat lagi. Detik berikutnya, Jimin
meletakan belanjaannya dan melayangkan tinjunya ke muka pria itu, sukses
membuat pria itu terlontar ke samping.
“Ayo.” Kata Jimin. Ia mengambil barang
belanjaannya lagi dan menarik tangan Haneul, sedikit kasar tapi tidak menyakiti
gadis itu. Setelah beberapa saat, Haneul menarik tangannya dari genggaman
Jimin.
“Kau baru saja memukul ayahmu!” Kata
gadis itu.
Jimin berhenti dan berbalik, menatap
langsung ke mata Haneul, mukanya terlihat kesal. “Lalu? Ia seseorang yang sudah
tidak ku anggap sebagai ayah.” Pemuda itu meletakan belanjaannya kembali dan
melangkah mendekati Haneul, begitu dekat sehingga Haneul harus menahan dirinya
untuk tidak mundur ke belakang, hal itu akan membuatnya terlihat lemah bukan?
“Ia tidak pernah bekerja sehingga
ibuku yang menanggung semuanya.” Kata Jimin dengan nada pahit. “Setiap kali ia
pulang malam, ia hanya meminta uang dari ibuku dan memukulnya bila tidak di
beri.”
Ketika Haneul diam saja mendengar
penjelasannya, Jimin tersenyum sinis. “Puas mendengar cerita keluargaku yang
tidak seindah keluargamu?” Setelah berkata begitu, Jimin berbalik dan mengambil
belanjaannya lagi lalu berjalan tanpa menunggu Haneul. Haneul sendiri tidak
menyusul Jimin langsung. Gadis itu malah berbelok di sebuah toko dan lalu
keluar sambil berlari ke arah Jimin. Betapa terkejutnya Jimin ketika Haneul
berhenti di depannya dengan es krim di kedua tangan.
“Apa maksudmu—“
Haneul menjulurkan satu es krim ke
arah Jimin. “Permintaan maaf dan..”
“Dan?”
“Biasanya es krim membuat suasana
hatiku lebih baik.”
Jimin mengernyit selama sesaat lalu
menutupi mulutnya sendiri, menahan tawa yang sudah nyaris keluar. Melihat
reaksi Jimin, muka Haneul memerah karena malu. Gadis itu sudah hampir menarik
kembali tangannya ketika Jimin mengambil es krim darinya.
“Kau benar-benar gadis penuh kejutan,
Ice Queen.” Kata Jimin sambil mengedip, lalu melanjutkan berjalan, meninggalkan
Haneul dengan muka memerah.
***
“Hanya 15 menit, Taehyung. Tidak
lebih, tidak kurang.”
Shin Taehyung meneguk minumannya
sekali dengan gugup. Kelakukan teman masa kecilnya ini membuat Haneul bingung.
Taehyung mendadak datang sendirian ke cafe tempat ia bekerja dan memintanya
berbicara berdua saja dengannya. Ia bahkan mengabaikan fakta bahwa Jimin
bekerja disana juga. Pemuda yang biasanya tidak bisa diam itu hanya menyapa
Jimin dengan singkat sebelum mengatakan akan menunggu Haneul hingga selesai.
“Kau tidak berencana menghabiskan
waktu istirahatku dengan memintaku melihatmu minum seteguk demi seteguk kan,
Shin Taehyung?” Kata Haneul karena sejak tadi Taehyung tampak kehilangan
kata-kata.
Taehyung memegang erat-erat gelasnya
lalu menatap Haneul. “Haneul, tampaknya..”
“Ya?”
“Aku menyukai seseorang.”
Haneul menatap Taehyung dengan mulut
sedikit terbuka, terkejut dengan kata-kata dari temannya itu. Seorang Shin
Taehyung menyukai seseorang? Siapa orang yang berhasil mendapatkan hati orang
yang paling tidak bisa diam di muka bumi ini? Orang yang sebelumnya menganggap
menyukai seseorang adalah sebuah permainan.
“Kau serius?” Tanya Haneul dan
Taehyung mengangguk. “Siapa orangnya—Oh tunggu, aku bisa menebaknya. Park
Jina-ssi?”
Muka Taehyung otomatis memerah. Pemuda
itu melonjak ke belakang. Pemandangan itu membuat Haneul tertawa kecil. Melihat
Taehyung bertingkah seperti itu adalah hal yang sangat lucu untuknya.
“Aku benar ya? Apakah Dongho tahu?”
Taehyung menggeleng dengan keras. “Jangan
beri tahu dia tentang hal itu atau dia akan mulai ribut dan menggodaku tentang
itu. Kau harus berjanji, Haneul..”
Haneul nyengir iseng dan menopang
kepalanya dengan tangannya di meja. “Bagaimana jika aku tidak mau berjanji?”
Gadis itu tertawa lagi melihat ekspresi temannya. Sungguh menyenangkan menggoda
orang yang biasanya selalu mengisengi dirinya sejak kecil. “Tenang saja, aku
tidak akan menceritakannya pada Dongho atau siapapun. Aku berjanji.” Dan
Taehyung bernafas lega. Pemuda itu berdiri lalu memeluk Haneul sebelum berlari
ke luar cafe, mengabaikan teriakan protes Haneul.
Shin Taehyung bersiul pelan dan
berjalan ke arah mobilnya. Pemuda itu sudah hendak melompat masuk ketika
sesosok yang ia kenal tertangkap pandangan matanya. Mulutnya sudah akan
memanggil orang itu ketika ia melihat adanya orang lain bersama sosok yang
pertama.
Park Jina tertawa manis dan di
sebelahnya berdiri seorang pemuda yang Taehyung kenal sebagai salah satu
anggota kelompok Jimin, Jackson Wang. Tampaknya mereka berdua sangat dekat
karena sesaat kemudian Jackson menyodorkan gulalinya pada Jina, yang kemudian
di makan oleh gadis yang bersangkutan. Keduanya berjalan pergi ke arah yang
berbeda dari tempat Taehyung berada, dan tidak melihat pemuda itu sama sekali.
Setelah beberapa langkah, Taehyung bisa melihat Jackson melingkarkan lengannya
di pundak Jina.
Taehyung berdiri bersandar di
mobilnya. Hari yang sebenarnya cerah dan menyenangkan ini mendadak kelabu
baginya. Apakah ia akan mengalami patah hati di pertama kalinya ia serius
menyukai seseorang?
***TBC***
A/N : I love this chapter wkwkwkwk
There’s no Soojin though, sorry :””
Anyway, mohon
maaf bila ada kesalahan *bows*
Made by : Liz
Take out with full credits
please~ ^^

0 komentar:
Posting Komentar