Selasa, 21 Oktober 2014

You're My - Chapter 6

Disclaimer    : BTS and all Kpop artists are not mine. Jimin will be soon though (lol kidding).
OC belongs to their rightful owner, while the plot is mine.

Genre       : Romance, Friendship, Comedy, Fluff

"You’re My"
Chapter 6 : My Secret Feeling


Musim panas telah di mulai dan otomatis semua orang menikmati liburan musim panas mereka, tak terkecuali mahasiswa dan mahasiswi tempat Haneul, Soojin, Minra, Jina dan yang lain bersekolah. Masa pemilihan ketua SO sudah selesai dengan Son Gain sebagai pemenangnya, Jokwon sebagai wakil dari gadis itu, Haneul sebagai sekretaris dan Mark sebagai bendahara. Semua orang sudah dapat memprediksi bahwa tahun depan persaingan akan ada di antara Haneul dan Mark untuk memperebutkan title ‘Ketua’ berikutnya.

Hari itu adalah hari ketiga sejak liburan musim panas di mulai dan seorang pemuda sudah berhasil membuat Haneul sebal.

“Haneul, kau tahu dimana Taehyung?” Tanya Dongho yang sibuk berguling-guling di sofa di kamar Haneul. Pemuda satu itu ‘menerobos’ masuk ke dalam rumah gadis itu seenaknya dan mulai mengacak-ngacak ruangan itu.

“Kalau tidak salah, Taehyung adalah saudara kembarmu, bukan saudara kembarku.” Jawab Haneul, mulai muak dengan tingkah pemuda itu. Dongho mulai merengek dan kembali berguling-guling. Akhirnya, untuk menghentikan pemuda itu mengacak-acak rumahnya lebih lagi sekaligus menghentikan rengekannya, Haneul menemani pemuda itu membeli roti kesukaannya di salah satu toko roti besar milik keluarga Shin.

“Kau harus mentraktirku karena ini.” Kata Haneul saat ia turun dari mobil merah Dongho. Pemuda itu melambaikan tangannya dengan asal, mengiyakan dengan mudahnya karena ia selalu mendapat roti gratis dari toko roti milik keluarganya itu.

“Selamat datang, Tuan Muda, Nona Haneul.” Kata seorang pekerja disana. Dongho menganggukkan kepalanya dengan singkat, bergaya sok keren, sementara Haneul menyapa balik pekerja itu.

“Dongho!” Shin Daehyun melambaikan tangannya, tampaknya hari ini ia juga berada di toko roti ini. “Wah, sedang pacaran dengan Haneul?”

“Jangan bercanda Papa.” Kata Dongho

“Kami tidak mungkin pacaran.” Timpal Haneul dengan tegas. Daehyun hanya tertawa mendengar reaksi mereka berdua. Pria satu ini senang sekali mengerjai anaknya sendiri, terutama dengan cara menjodohkannya dengan teman masa kecil mereka, Haneul.

"Aku tidak keberatan jika kalian berdua sampai menikah." Kata Daehyun. Haneul dan Dongho langsung saling bertatapan dengan muka jijik dan menggeleng dengan serempak kepada Daehyun. Daehyun tertawa dan hendak mengatakan sesuatu lagi ketika pintu mendadak terbuka dan Taehyung melangkah masuk, lengkap dengan seragam toko roti itu dan sebuah nampan besar berisi roti di tangan.

Pemuda itu langsung berbalik lagi, hendak masuk kembali ke dalam dapur namun sayangnya Dongho telah melihatnya duluan.

"Taehyung?" Kata Dongho dan Taehyung mempercepat langkahnya, masuk kedalam dapur. Dongho menarik Haneul dan mereka berdua masuk juga ke dalam dapur, hanya untul menemukan Taehyung dengan muka cemberut, sebal karena rahasianya terbongkar.

"Apa..apa yang kau lakukan hahahahahahaha!!" Dongho tidak bisa menghentikan tawanya ketika melihat saudara kembarnya sendiri. Haneul juga tertawa tidak lama kemudian, membuat Taehyung semakin merajuk.

"Oppa? Ada apa?"

Tawa Haneul dan Dongho langsung berhenti. Mata kedua orang itu melebar ketika mendengar kata-kata itu, terlebih lagi ketika melihat siapa yang menjadi sumber kata-kata itu. Park Jina baru saja muncul, dengan seragam yang sama dengan Taehyung, dan ekspresi yang jelas-jelas terkejut.

Dongho lah yang pertama sadar dari keterkejutannya. Pemuda itu tersenyum jahil lalu mendekati Taehyung dan menepuk pundak kembarannya itu beberapa kali seraya mengangguk-angguk penuh arti. "Selamat saudaraku." Kata Dongho. Taehyung dan Jina hanya menatap dengan bingung sementara Dongho menyeret Haneul keluar dari dapur itu.

"Tidak ku sangka Taehyung.. ckckck." Kata Dongho sambil nyengir jahil. Haneul mengerutkan keningnya.

"Apa tidak apa apa?" Kata gadis itu.

"Memangnya kenapa?"

"Gadis itu, Park Jina, adik dari Park Jimin. Bukankah kau terlibat masalah dengan kakaknya?"

Dongho menatap Haneul dengan mulut yang membuka lebar dan hendak masuk kembali ke dalam dapur namun kerah bajunya di tarik oleh Haneul.

"Meskipun begitu, ku larang kau mengganggu mereka." Setelah berkata begitu, Haneul menyeret Dongho keluar dari toko roti itu.

***

Jimin menendang kaleng yang ada di depannya itu. Ia baru saja berdebat dengan adik kesayangannya, Jina. Entah bagaimana, pemuda itu berhasil mengetahu bahwa adiknya mulai bekerja paruh waktu. Dengan kesal ia menendang kaleng itu lagi. Jina menentang perintahnya, perintah untuk segera keluar dari pekerjaan itu, dan menang.

"Mungkin aku harus mencari pekerjaan juga." Gumam Jimin sambil menoleh ke sekelilingnya. Dengan cepat ia memutuskan untuk mencari kerja di lokasi yang sedikit jauh dari kampusnya. Setelah mempertimbangkan singkat, ia masuk ke dalam sebuah cafe dan melamar kerja disitu.

Cafe itu sepi. Hanya ada seorang pemuda yang sedang sibuk mengecek perlengkapannya. Jimin menjelaskan niatnya dan dengan mudah mendapatkan 'Ya'. Tampaknya pegawai sebelumnya baru saja berhenti dan pemuda itu, pemilik cafe tersebut baru saja akan memajang pengumuman bahwa ia mencari pegawai baru.

"Baiklah." Kata sang pemilik cafe. "Kau mendapat masa percobaan selama seminggu, jika kau berhasil, kami akan mempekerjakanmu untuk ke depannya lagi." Pria berumur sekitar 29 tahun itu tersenyum pada Jimin namun lalu menjawab teleponnya yang mendadak berbunyi. Setelah percakapan yang tidak bisa di mengerti Jimin, pemuda itu menutup teleponnya.

"Maafkan aku, tapi aku harus pergi sekarang. Kau bisa menanyakan semuanya pada pekerja kami yang lain." Kata pemuda itu seraya menoleh ke belakang. "Ah pas sekali, Nona Oh! Bisakah kau membantu kami?"

Nona Oh? Kenapa rasanya nama keluarga itu memiliki sesuatu arti tersendiri bagi Jimin? Baru saja ia sendiri memikirkan hal itu, jawabannya muncul dari balik pintu depan. Oh Haneul menatap sang pemilik dengan bingung sebelum melihat Jimin. Ekspresi gadis itu bisa di bilang sama persis dengan Jimin, gabungan antara terkejut setengah mati dan tidak percaya.

"Nona Oh, ini Park Jimin, dan dia akan mulai bekerja part time sepertimu mulai dari sekarang." Kata sang pemilik. "Tolong bantu dia, ajari semua hal yang di perlukan."

Haneul menatap Jimin sekali lalu melihat bossnya dan mengangguk dengan singkat. "Tentu saja."

"Baik. Aku harus menemui adikku sekarang. Soojin memintaku menjemputnya." Tepat sekali, boss sekaligus pemilik cafe itu adalah Park Joongki, kakak dari Park Soojin. Joongki dengan kilat pergi meninggalkan cafe itu, meninggalkan Haneul dan Jimin yang sama sekali menolak berpandangan satu dengan yang lain.

"Kau.." Kata Jimin saat Haneul berjalan melewatinya, ke arah ruang pegawai untuk menyimpan tasnya. "Aku tidak tahu kau bekerja disini."

Haneul menghentikan langkahnya. "Aku tidak tahu kalau kau mencari pekerjaan dan akan memilih tempat ini."

Jimin berbalik dan menatap gadis itu. "Kenapa kau bekerja lagi? Bukankah kau tuan putri yang kaya raya?"

"Orang tuaku merasa perlu untuk merasakan kerja dari bawah, dan aku setuju dengan mereka." Jawab Haneul. Gadis itu menoleh dan membalas tatapan Jimin selama beberapa saat, lalu melanjutkan berjalan ke ruang pegawai. "Ayo! Kau ingin ku ajari atau tidak?" Suara Haneul terdengar dari ruang itu. Ketika mendengarnya, Jimin hanya menggerutu singkat lalu mengikuti gadis itu.

***

Sibuk.

Minra menatap handphonenya dengan muka cemberut. Soojin baru saja meneleponnya dan mengatakan bahwa ia tidak bisa menemani gadis itu berbelanja, dan kakaknya tidak bisa di hubungi sama sekali. Park Chanyeol, kakak dari Minra memang susah di hubungi jika sedang sibuk dengan pekerjaannya sebagai reporter.

Gadis itu akhirnya memutuskan untuk berbelanja sendiri, mengingat ia sudah tiba di depan pasar yang memang ia dan Soojin ingin datangi hari itu. Bazaar sedang di adakan dan mereka berdua memang ingin berbelanja bersama. Namun Soojin mendadak tidak bisa sehingga mau tidak mau Minra menerjang banyaknya orang di pasar itu sendirian.

Gadis itu mencoba ikut bedesakan di salah satu toko yang terkenal, namun bukannya berhasil mendapatkan sesuatu, gadis itu malah terdorong keluar. Hal yang sama terjadi di toko aksesoris terkenal lainnya. Di kali ketiga ia mencoba, gadis itu nyaris terjatuh jika tidak tertahan oleh tangan seseorang dari belakang yang memegangi pundaknya.

“Noona, kau benar-benar harus berhati-hati di daerah ramai seperti ini.” Kata orang tersebut sambil tertawa. Minra terkejut mendengar suara itu , suara yang di kenalnya, lalu berbalik dan melihat Jungkook tersenyum menatapnya.

“J-jungkook!” Minra langsung menegakkan tubuhnya dan berbalik. Ini pertama kalinya Minra melihat Jungkook mengenakan pakaian lain selain seragam sekolahnya dan ia sama sekali tidak membencinya. Pemuda itu memakai kaos berkerah berwarna merah dan jeans panjang. Kamera SLR hitam menggantung di lehernya dan topi berwarna biru tua di kepalanya.

Jungkook memasukan tangannya ke kantong celananya dan memberi tanda ke arah toko ketiga yang Minra berusaha masuki dengan kepalanya. “Toko itu terlalu ramai, bagaimana kalau kita ke toko yang lain?”

Minra melirik toko tadi dan mengangguk sebelum menyadari adanya kata aneh dari Jungkook. “Sebentar..Kita?”

“Noona akan terjatuh di setiap toko bila aku tidak bersama Noona.” Jungkook tersenyum lebar dan Minra merasakan mukanya memanas. Ia buru-buru berbalik dan menatap arah lain, berharap Jungkook tidak melihat mukanya yang memerah itu.

“B-baiklah kalau begitu. Ayo!”

Dan tepat seperti kata-kata Jungkook tadi, pemuda itu bertingkah seakan-akan dia adalah penjaga gadis itu. Entah berapa kali muka gadis itu memerah akibat sikap Jungkook. Setelah mendapatkan semua hal yang ia inginkan, keduanya beristirahat di salah satu cafe yang tidak jauh dari pasar tempat mereka tadi.

“Ngomong-ngomong, Jungkook..” Kata Minra.

Jungkook menoleh dengan kaleng minuman masih menempel di bibirnya, “Hm?”

"Kenapa kau berada di pasar itu tadi?"

Jungkook nyaris tersedak minumannya sendiri, Minra harus menepuk punggung pemuda itu untuk membantunya sembuh dari tersedaknya. Jungkook terdiam sesaat lalu menatap Minra dengan muka ‘terluka’ yang di buat-buat.

“Kau tidak suka bertemu denganku, Noona?” Tanya Jungkook.

Minra dengan cepat menggelengkan kepalanya. “Maksudku bukan itu! Aku hanya penasaran apa yang kau lakukan dengan kamera sebesar itu.”

“Oh ini?” Jungkook tertawa dan mengangkat kameranya, lalu menyalakan kameranya. “Hanya berkeliling dan memfoto-foto. Lihatlah.” Pemuda itu memindahkan kursinya ke sebelah kursi Minra sehingga ia bisa menunjukan hasil fotonya. Posisi mereka cukup dekat sehingga muka Minra kembali memerah. Setelah menunjukan beberapa foto, Jungkook menoleh dan melihat muka Minra yang masih agak gugup itu. Tanpa berkata apapun, pemuda itu mengangkat kameranya dan memfoto Minra dengan cepat.

Minra mengerjap-ngerjap beberapa kali dengan kaget sebelum mundur ke belakang, mukanya bertambah merah dan panik terlihat jelas di ekspresinya. “J-jungkook! Apa yang baru kau lakukan tadi?”

Pemuda yang bersangkutan hanya melihat hasil fotonya dan tertawa kembali. Minra sudah berdiri dan berusaha meraih kamera Jungkook, namun pemuda itu jauh lebih cepat dan sudah mengangkat kameranya tinggi-tinggi sehingga Minra tidak bisa meraihnya. Frustasi, Minra melompat dan berusaha meraihnya lagi namun sekali lagi gagal. Jungkook malah berjalan mundur dan menyembunyikan kameranya di belakang badannya.

“Jeon Jungkook!” Kata Minra sambil mengejar Jungkook yang tertawa melihat reaksi gadis itu. Reaksi Minra malah membuat Jungkook semakin mundur ke belakang dan lama kelamaan semakin cepat sehingga keduanya berakhir berlari-lari di jalanan dan kembali ke daerah pasar tadi.

“Jungkook!! Kembalikan! Jung—uft!” Pandangan Minra terlalu terpaku pada Jungkook sehingga ia tidak melihat siapa di depannya. Ketika ia selesai mengusap dahinya yang sakit, ia melihat siapa yang ia tabrak tadi.

“Hey! Kau pikir apa yang kau lakukan hah?!” Seorang preman dengan tampang yang agak mengerikan memandang tajam Minra, membuat gadis itu membeku di tempat, tidak bisa menjawab apalagi berlari.

“Jawab pertanyaanku!”

Teriakan lain terdengar dan tanpa disadari di depan Minra, sudah ada sekitar empat teman dari preman yang tadi Minra tabrak.

Jungkook menoleh, dan menjadi panik ketika ia tidak melihat Minra sedang berlari ke arahnya. Dengan cepat ia berlari kembali dan melihat tepat pada waktunya ketika tangan preman itu terangkat dan menarik tangan Minra dengan kasar. Pemuda itu berlari cepat dan memukul preman itu di mukanya.

Ketika preman itu goyah karena tidak menyangka akan di pukul, Jungkook meraih tangan Minra dan menyeret gadis itu berlari bersamanya.

“Sialan!”

Teriakan-teriakan marah dari preman-preman tadi terdengar di belakang mereka, namun Jungkook memegang erat tangan Minra dan terus mengajak gadis itu berlari tanpa menoleh ke belakang. Setelah berlari cukup lama dan tidak terdengar lagi suara kaki yang mengejar mereka, Jungkook dan Minra berhenti di depan toko terdekat, keduanya terengah-engah.

Tanpa bertukar kata keduanya sepakat membeli minuman terlebih dahulu sebelum berbicara kembali. Setelah meneguk minuman yang mereka beli di vending machine dan bersandar di dinding sebelah toko, Minra mendapatkan kata-katanya kembali.

“Terima kasih.” Kata gadis itu.

Walau masih terengah-engah, Jungkook tersenyum. Tanpa ia sadari, ia mengangkat tangannya dan meletakannya di atas kepala Minra yang memang lebih pendek darinya itu.

“Lain kali berhati-hatilah saat berjalan, Noona.”

“Itu salahmu karena diam-diam memfotoku seperti itu.”

Keduanya tertawa mendengar perdebatan mereka sendiri kemudian saling menatap sebelum menyadari posisi mereka yang bersebelahan dengan dekat dan tangan Jungkook berada di atas kepala Minra. Dengan cepat, Jungkook manrik tangannya dan mukanya sedikit memerah.

Keheningan selama beberapa saat sebelum akhirnya Jungkook bergumam dengan pelan. Minra menelengkan kepalanya karena suara pemuda itu tidak jelas.

“K-kita pulang?” Jungkook mengulang kata-katanya dan Minra mengangguk sebagai jawaban. Tidak ada kata-kata lain yang tertukar selain ucapan sampai nanti namun ketidakadaan kata-kata tidak berarti tidak ada sesuatu yang berubah di hati mereka.

***

“Nona Oh?”

Haneul menghentikan mesin pembuat kopinya selama sejenak dan menoleh ke arah Joongki, bossnya. Cafe mereka cukup sepi di sore dengan udara yang cukup sejuk untuk ukuran liburan musim panas itu. Orang-orang memilih untuk menghabiskan waktu di luar dan menikmati udara yang jarang di musim panas daripada di dalam cafe.

“Ya boss?” Kata Haneul seraya melangkah mendekat. Joongki dan Jimin sedang berada di daerah dapur tempat mereka menyimpan bahan-bahan untuk cafe mereka. Hari itu adalah hari pengecekan dan tampaknya bahan mereka sudah menipis.

“Ini list bahannya, dan ini uangnya.” Joongki menyerahkan kertas dan sebuah amplop putih. “Tempat yang biasa saja, Nona Oh. Tolong ya.”

Haneul mengangguk dan melepaskan celemek yang ia pakai ketika bekerja. Gadis itu sudah di ambang pintu belakang ketika suara Joongki kembali terdengar.

“Tuan Park akan ikut bersamamu, tolong juga ya Tuan Park.” Kata Joongki. Muka Jimin menunjukan bahwa ia enggan melakukan hal itu namun tidak memiliki pilihan lain. Dan beberapa saat kemudian, Haneul dan Jimin berjalan bersebelahan dengan awkward. Belanja berlangsung dengan singkat dan tanpa kata-kata sama sekali. Namun ketika Haneul hendak mengambil kantong belanjaan, Jimin mengambinya terlebih dahulu.

“Jangan bertingkah kau bisa mengangkat kantong berat ini.” Kata pemuda itu sambil mengambil seluruh kantong belanjaan dari tangan Haneul dan mulai berjalan begitu saja, keluar dari toko. Haneul menatap dengan bingung selama beberapa saat sebelum menyusul pemuda itu.

“Aku biasa melakukannya sendirian.” Kata Haneul. Tapi Jimin memberikannya senyuman meremehkan dan terkekeh sambil menggeleng.

“Jangan terlalu mengandalkan dirimu sendiri jika ada seseorang yang bisa kau andalkan.”

Langkah Haneul terhenti dan ia menatap Jimin yang masih berjalan di depannya itu tanpa berhenti. Gadis itu sama sekali tidak menyangka akan mendengar kata-kata itu dari seorang Park Jimin. Pemuda itu menyadari Haneul tidak berjalan di sebelahnya lagi dan berhenti lalu berbalik.

“Nona Oh, kau ikut atau tidak?” Kata Jimin, tersenyum iseng pada gadis itu. Dengan cepat Haneul tersadar dari keterkejutannya dan segera menyusul pemuda itu setelah memasang kembali muka dinginnya. Jimin terkekeh puas dan melanjutkan berjalan bersama Haneul.

“Apa kau selalu membawa belanjaan seberat ini?” Tanya Jimin.

Haneul mengangkat alisnya, “Belanjaan itu berat? Terlalu berat untukmu?”

Jimin mengernyit dan langsung menggeleng. “Aku tidak mengatakan hal itu.”

“Tapi baru saja..”

Dengan cepat Jimin memegang kedua bibir Haneul dan menjepitnya dengan dua jari saja dengan tangannya yang tidak memegang belanjaan. Mencegah agar gadis itu tidak mengatakan apa-apa lagi. Tentu saja gadis itu tidak tinggal diam dan memberontak dengan cara memukul tangan Jimin, membuat yang bersangkutan meringis kesakitan.

“Kau benar-benar galak seperti rumornya.” Kata Jimin seraya berjalan kembali. Haneul ikut berjalan di sampingnya, namun dengan muka kesal sekaligus memerah karena tindakan pemuda itu sebelumnya.

“Kau kecewa?” Tanya Haneul dengan sinis. “Maaf saja aku bukan gadis manis yang diam saja seperti boneka.”

Jimin melirik gadis itu dari sudut matanya lalu kembali menatap kedepan, “Tidak.” Jawaban Jimin membuat Haneul terkejut. “Jujur, aku tidak tertarik dengan gadis yang diam saja seperti boneka.” Pemuda itu kini menoleh dan menatap Haneul, walau gadis itu tidak menatapnya balik. “Lebih menarik berjalan bersama gadis galak sepertimu, Ice Queen.”

Haneul bisa merasakan mukanya sendiri memanas, dan untuk menghindari pemuda disebelahnya ini tidak menyadari hal itu, gadis itu tetap memasang muka datar dan menatap kedepan. Sayangnya, Jimin mengetahui hal itu dan tersenyum puas karena godaannya berhasil walau kemudian ia tersentak dengan sendirinya. Untuk apa ia melakukan hal itu sebenarnya? Kenapa gadis di sebelahnya ini membuatnya ingin terus mengerjainya dan melihat berbagai ekspresinya?

Jimin tidak sempat memikirkan jawabannya karena mendadak di depannya muncul sosok yang paling ia benci di dunia ini. Haneul tidak mengetahui hal itu karena ia tetap berjalan lurus dan tidak berhenti sampai Jimin meraih pundak gadis itu dan menahannya. Bingung dengan tindakan Jimin, Haneul menoleh dan memberikan pandangan penuh tanya pada pemuda itu, yang di abaikan habis-habisan.

“Oh! Jimin!” Teriakan itu membuat Haneul mengalihkan pandangannya dan menatap seorang pria berpakaian lusuh berjalan dengan satu botol minuman di tangan. Pria itu melambaikan tangan lainnya yang tidak memegang botol ke arah mereka.

“Kau mengenalnya?” Bisik Haneul pada Jimin.

Ekspresi muka Jimin menggelap, “Aku harap tidak.”

“Hey! Kau harus membalas sapaan dari ayahmu sendiri!” Kata pria itu ketika ia sudah cukup dekat sehingga Haneul bisa mencium bau alkohol dari pria itu. Ayah? Haneul punya banyak pertanyaan yang berputar di kepalanya namun saat itu ia memilih untuk diam saja.

Jimin maju ke depan, secara tidak langsung menempatkan dirinya di antara Haneul dan pria yang adalah Ayahnya itu. “Hey hey, kau punya uang? Berikan aku uang.” Kata pria itu lagi sambil mendekati Jimin. “Kau pasti punya uang, melihat belanjaanmu itu.” Pria itu menunjuk belanjaan, lalu menatap ke arah Haneul. “Dan kau bahkan punya pacar!”

Haneul terlonjak ketika pria itu melewati Jimin dan mendekati ke arahnya, “Halo sayang, aku harap kau dari keluarga kaya raya. Kau punya uang?” Haneul melangkah mundur namun pria itu melangkah maju sehingga jarak mereka lebih dekat lagi. Detik berikutnya, Jimin meletakan belanjaannya dan melayangkan tinjunya ke muka pria itu, sukses membuat pria itu terlontar ke samping.

“Ayo.” Kata Jimin. Ia mengambil barang belanjaannya lagi dan menarik tangan Haneul, sedikit kasar tapi tidak menyakiti gadis itu. Setelah beberapa saat, Haneul menarik tangannya dari genggaman Jimin.

“Kau baru saja memukul ayahmu!” Kata gadis itu.

Jimin berhenti dan berbalik, menatap langsung ke mata Haneul, mukanya terlihat kesal. “Lalu? Ia seseorang yang sudah tidak ku anggap sebagai ayah.” Pemuda itu meletakan belanjaannya kembali dan melangkah mendekati Haneul, begitu dekat sehingga Haneul harus menahan dirinya untuk tidak mundur ke belakang, hal itu akan membuatnya terlihat lemah bukan?

“Ia tidak pernah bekerja sehingga ibuku yang menanggung semuanya.” Kata Jimin dengan nada pahit. “Setiap kali ia pulang malam, ia hanya meminta uang dari ibuku dan memukulnya bila tidak di beri.”

Ketika Haneul diam saja mendengar penjelasannya, Jimin tersenyum sinis. “Puas mendengar cerita keluargaku yang tidak seindah keluargamu?” Setelah berkata begitu, Jimin berbalik dan mengambil belanjaannya lagi lalu berjalan tanpa menunggu Haneul. Haneul sendiri tidak menyusul Jimin langsung. Gadis itu malah berbelok di sebuah toko dan lalu keluar sambil berlari ke arah Jimin. Betapa terkejutnya Jimin ketika Haneul berhenti di depannya dengan es krim di kedua tangan.

“Apa maksudmu—“

Haneul menjulurkan satu es krim ke arah Jimin. “Permintaan maaf dan..”

“Dan?”

“Biasanya es krim membuat suasana hatiku lebih baik.”

Jimin mengernyit selama sesaat lalu menutupi mulutnya sendiri, menahan tawa yang sudah nyaris keluar. Melihat reaksi Jimin, muka Haneul memerah karena malu. Gadis itu sudah hampir menarik kembali tangannya ketika Jimin mengambil es krim darinya.

“Kau benar-benar gadis penuh kejutan, Ice Queen.” Kata Jimin sambil mengedip, lalu melanjutkan berjalan, meninggalkan Haneul dengan muka memerah.

***

“Hanya 15 menit, Taehyung. Tidak lebih, tidak kurang.”

Shin Taehyung meneguk minumannya sekali dengan gugup. Kelakukan teman masa kecilnya ini membuat Haneul bingung. Taehyung mendadak datang sendirian ke cafe tempat ia bekerja dan memintanya berbicara berdua saja dengannya. Ia bahkan mengabaikan fakta bahwa Jimin bekerja disana juga. Pemuda yang biasanya tidak bisa diam itu hanya menyapa Jimin dengan singkat sebelum mengatakan akan menunggu Haneul hingga selesai.

“Kau tidak berencana menghabiskan waktu istirahatku dengan memintaku melihatmu minum seteguk demi seteguk kan, Shin Taehyung?” Kata Haneul karena sejak tadi Taehyung tampak kehilangan kata-kata.

Taehyung memegang erat-erat gelasnya lalu menatap Haneul. “Haneul, tampaknya..”

“Ya?”

“Aku menyukai seseorang.”

Haneul menatap Taehyung dengan mulut sedikit terbuka, terkejut dengan kata-kata dari temannya itu. Seorang Shin Taehyung menyukai seseorang? Siapa orang yang berhasil mendapatkan hati orang yang paling tidak bisa diam di muka bumi ini? Orang yang sebelumnya menganggap menyukai seseorang adalah sebuah permainan.

“Kau serius?” Tanya Haneul dan Taehyung mengangguk. “Siapa orangnya—Oh tunggu, aku bisa menebaknya. Park Jina-ssi?”

Muka Taehyung otomatis memerah. Pemuda itu melonjak ke belakang. Pemandangan itu membuat Haneul tertawa kecil. Melihat Taehyung bertingkah seperti itu adalah hal yang sangat lucu untuknya.

“Aku benar ya? Apakah Dongho tahu?”

Taehyung menggeleng dengan keras. “Jangan beri tahu dia tentang hal itu atau dia akan mulai ribut dan menggodaku tentang itu. Kau harus berjanji, Haneul..”

Haneul nyengir iseng dan menopang kepalanya dengan tangannya di meja. “Bagaimana jika aku tidak mau berjanji?” Gadis itu tertawa lagi melihat ekspresi temannya. Sungguh menyenangkan menggoda orang yang biasanya selalu mengisengi dirinya sejak kecil. “Tenang saja, aku tidak akan menceritakannya pada Dongho atau siapapun. Aku berjanji.” Dan Taehyung bernafas lega. Pemuda itu berdiri lalu memeluk Haneul sebelum berlari ke luar cafe, mengabaikan teriakan protes Haneul.

Shin Taehyung bersiul pelan dan berjalan ke arah mobilnya. Pemuda itu sudah hendak melompat masuk ketika sesosok yang ia kenal tertangkap pandangan matanya. Mulutnya sudah akan memanggil orang itu ketika ia melihat adanya orang lain bersama sosok yang pertama.

Park Jina tertawa manis dan di sebelahnya berdiri seorang pemuda yang Taehyung kenal sebagai salah satu anggota kelompok Jimin, Jackson Wang. Tampaknya mereka berdua sangat dekat karena sesaat kemudian Jackson menyodorkan gulalinya pada Jina, yang kemudian di makan oleh gadis yang bersangkutan. Keduanya berjalan pergi ke arah yang berbeda dari tempat Taehyung berada, dan tidak melihat pemuda itu sama sekali. Setelah beberapa langkah, Taehyung bisa melihat Jackson melingkarkan lengannya di pundak Jina.

Taehyung berdiri bersandar di mobilnya. Hari yang sebenarnya cerah dan menyenangkan ini mendadak kelabu baginya. Apakah ia akan mengalami patah hati di pertama kalinya ia serius menyukai seseorang?

***TBC***

A/N : I love this chapter wkwkwkwk
There’s no Soojin though, sorry :””
Anyway,  mohon maaf bila ada kesalahan *bows*

Made by : Liz
Take out with full credits please~ ^^

0 komentar:

Posting Komentar