Disclaimer : BTS and all Kpop artists are not mine.
Jimin will be soon though (lol kidding).
OC belongs to their rightful owner, while the plot is
mine.
Genre :
Romance, Friendship, Comedy, Fluff
"You’re My"
Chapter 4 :
My Worries For You
Minuman dibagikan dan akhirnya latihan
team sepak bola pun selesai. Shin Taehyung masih harus berlari 30 putaran
karena ketelatannya. Pemuda itu memang dikenal dengan manusia dengan stamina
tanpa batas, namun latihan keras Minho, sang kapten team, dan hukumannya itu
membuatnya tergeletak di tanah dengan nafas terengah-engah.
"Minra.." Kata Taehyung
sambil terengah-engah. Ia menutupi matanya dengan lengan kirinya sementara
tangan kanannya melambai-lambai asal, memanggil manajernya. "Air.
Aiirr.."
Sebuah botol melambung dari arah kursi
tempat para anggota lain sedang duduk dan mengenai kepala Taehyung. Untung saja
botol itu sudah kosong, jika tidak, kepala Taehyung pasti sudah memar. Suara
tawa mengikuti reaksi Taehyung yang mendadak bangkit duduk karena kaget.
"Ambil airmu sendiri
disini." Kata Minho sementara anggota team yang lain masih tertawa
terbahak-bahak karena ekspresi Taehyung yang bisa di bilang sangat bodoh itu,
seakan-akan dia gegar otak karena baru di lempar botol kosong oleh Minho. “Minra
bukan babumu, jangan menyuruhnya seperti itu.”
“Tapi aku lelah..” Keluh Taehyung.
“Salah sendiri kenapa kau terlambat,
lagi, hari ini.” Jawab Minho yang menekankan perkataannya pada kata ‘lagi’.
Taehyung kembali menjatuhkan dirinya ke tanah dan mulai merengek manja yang
menyebalkan, mengakibatkan botol-botol kosong lainnya berterbangan dan semuanya
mengenai Taehyung. Entah di kepala, tangan atau perutnya.
“Tugasmu hari ini untuk membereskan
sisanya hari ini. Dan jangan pernah terlambat lagi!!” Kata-kata dari Minho
seakan-akan pernyataan hukuman mati untuk Taehyung karena pemuda itu langsung
berteriak protes dengan keras. Apa yang ia teriakan tidak pernah jelas karena
kadang seorang Shin Taehyung suka berbicara dengan bahasa alien yang hanya di mengerti
oleh Dongho dan Haneul saja.
Dengan ogah-ogahan Taehyung mulai
berberes di lapangan sepak bola, di temani oleh Minra yang merasa kasihan pada
seniornya yang satu itu walau sebenarnya ia suka kesal juga dengan tingkah
Taehyung yang kelewat hyper itu. Ketika mereka sudah selesai, mendadak Taehyung
berbalik dan berjalan menuju Minra dengan kecepatan yang tidak bisa di bilang
normal.
“Minra!!”
Mahasiswi tahun pertama itu langsung
melonjak kaget karena Taehyung memanggilnya dengan suara setengah berteriak. “Y-ya?”
Balas Minra.
“Kau tahun pertama kan? Kau kenal
orang yang bernama Park Soojin?”
Minra menaikan alisnya, Park Soojin?
Soojin sahabatnya? Ada perlu apa salah satu ‘Pangeran Kampus’ dengan
sahabatnya? Melihat tidak ada yang harus di tutupi mengenai persahabat mereka
dari Taehyung, Minra mengangguk.
“Bisa kau jelaskan sifat anak itu?”
Oke, ada apa dengan senior yang satu
ini. Kenapa tiba-tiba ia mengetahui nama seahabatnya dan bahkan menanyakan
sifatnya? Dengan ogah-ogahan Minra menjelaskan sifat Soojin yang bisa
dikategorikan sebagai anak yang lembut dan pengertian kecuali dengan orang yang
membuatnya kesal, terutama yang menganggu ketenangannya. Setelah Minra
bercerita, Taehyung mengangguk-angguk, bergaya seakan-akan dia adalah detektif
lalu menggumam dengan bahasa aliennya sambil berjalan pergi.
“Ia tidak sama sekali mirip dengan
Haneul. Dasar si Dongho.” Gumam Taehyung sambil berjalan ke arah klub Archery.
Pemuda itu masih penasaran dengan gadis yang berhasil menarik perhatian saudara
kembarnya itu. Karena asyik berpikir sendiri, ia tidak melihat jalan dan malah
menabrak seseorang.
“Whoa!” Yang di tabrak Taehyung,
seorang gadis, langsung jatuh kebelakang setelah bertabrakan dengan Taehyung.
Maklumlah, walau postur badan Taehyung memang tidak besar ataupun kekar, ia
tetap seorang laki-laki.
“Maaf!” Kata Taehyung dengan cepat. Ia
menjulurkan tangan kepada gadis yang menjadi korban tubrukannya itu dan
terkejut ketika gadis itu adalah orang yang ia kenal. “Park Jina!” Seru
Taehyung. Tanpa persetujuan Jina, Taehyung meraih tangan Jina dan membantu anak
itu untuk bangkit berdiri membuat gadis itu mukanya memerah dan menundukan
kepalanya.
“Maaf, maaf.” Kata Taehyung sekali
lagi sambil memeriksa apakah Jina terluka atau tidak. Alhasil muka Jina tambah
memerah karena perlakuan Taehyung itu. Taehyung lalu hanya nyengir-nyengir
saja, sementara Jina semakin salting karena sikap Taehyung yang berbeda dari
orang lain itu.
“Eh.” Kata Taehyung mendadak, membuat
Jina melonjak kaget. Akhir-akhir ini pemuda itu sering sekali mengagetkan
orang-orang. Dongho, Minra dan kali ini adalah Jina. Taehyung menatap Jina
selama beberapa saat sebelum akhirnya menggelengkan kepalanya.
"Tidak jadi." Kata Taehyung.
Jina mengerjap-ngerjapkan matanya namun tidak mengatakan apa-apa. Hening. Jina
sudah hampir mohon diri dan berjalan pergi ketika pertanyaan Taehyung
menghentikan niatnya.
"Kau tidak di ganggu
preman-preman kan akhir-akhir ini?"
Jina menaikan alisnya, tanda bahwa ia
bingung dengan pertanyaan mendadak dari Taehyung. "Tidak." Jawabnya
pelan sambil menggeleng. "Memangnya ada apa, sunbae-nim?"
"Jangan panggil aku
sunbae-nim."
"Maaf?"
Taehyung menatap Jina dengan tajam,
membuat jantung Jina seakan melompat ketika melihat tatapan pemuda itu.
"Aku benci formalitas. Kita sudah
saling mengenal, jadi panggil aku Oppa saja." Kata Taehyung dengan santai.
Jina membeku selama sejenak, jelas
kaget mendengar permintaan Taehyung yang dengan santainya memintanya
mengabaikan formalitas di antara mereka. Ia memang sudah sering mendengar kabar
yang serupa namun tidak pernah menyangka akan mengalaminya sendiri.
"B-baiklah. O-oppa?"
Taehyung nyengir. "Itu lebih
baik." Jina menunggu Taehyung melanjutkan kata-katanya namun pemuda itu
tampaknya melupakan maksudnya tadi.
"Ehm.." Kata Jina akhirnya.
"Maksud perkataanmu tadi apa..." Ia ragu sejenak. "..Oppa?"
"Eh? Apa?"
"Maksud pertanyaanmu tadi.."
Taehyung menatap Jina dengan ekspresi
blank selama beberapa saat sebelum akhirnya menepuk tangannya, tanda dia
mengingat apa yang ia katakan tadi.
"Itu.." Ujar Taehyung.
"Kudengar Jimin terluka karena berantem dengan preman-preman beberapa hari
yang lalu."
Jina tersentak kaget, tidak menyangka
seniornya ini mengetahui hal itu dan bahkan mengkhawatirkan dirinya.
"Tenang saja. Aku tidak apa-apa." Kata Jina. "Terima kasih telah
mengkhawatirkanku, Oppa." Tambah Jina dengan cepat. Mukanya memerah malu
setelah mengatakan hal itu.
Taehyung meletakan tangannya di atas
kepala Jina dan dia diam sejenak. Jina sudah merasakan jantungnya berdebar
cepat, mengira pemuda itu akan menepuk kepalanya dengan lembut. Namun bukan
Taehyung namanya kalau tingkahnya dapat di prediksi. Alih-alih menepuk kepala
Jina dengan lembut, pemuda itu malah mengacak-acak rambut gadis itu lalu
mengucapkan 'sampai nanti' dengan singkat dan berjalan pergi, meninggalkan Jina
yang terkejut.
***
Park Soojin merapikan alat memanahnya di lemari klubnya dan
berjalan keluar hanya untuk mendapati salah satu sahabatnya berdiri bersandar
padah pohon yang tidak jauh dari tempat klub Archerynya itu. Kim Seokjin sibuk
menatap handphonenya sehingga tidak menyadari bahwa Soojin sudah berjalan
keluar dan sekarang tengah menatapnya. Headset yang terpasang juga membuatnya
tidak mendengar langkah kaki Soojin yang berjalan mendekat.
"Jin!" Kata Soojin, membuat pemuda yang ia sapa
melonjak kaget dan dengan cepat mencopot headsetnya. Ekspresi wajahnya berubah
dari kaget menjadi senang ketika melihat siapa yang menyapanya itu.
"Soojin!" Kata pemuda itu dengan senyuman lebar
menghiasi wajahnya.
"Sedang apa kau disini?"
"Menunggumu tentu saja." Jawab Jin sambil tersenyum
lembut dan menyimpan handphone serta headsetnya. Soojin ikut tersenyum saat
mendengar jawaban sahabatnya itu. Ia, Jin dan Minra sudah bersahabat sejak SMA
dan Soojin sudah mengerti sifat sahabatnya yang agak 'protektif' itu.
"Kau tidak perlu melakukan itu." Kata Soojin, tapi
ia sama sekali tidak memprotes tindakan Jin itu.
Jin menggeleng dan menatap Soojin dengan tegas. "Kau lupa
rumor yang beredar beberapa hari yang lalu?"
"Rumor?"
Kening Jin mengkerut, "Rumor bahwa kau terkena masalah
dengan Jimin sunbae-nim dan kelompoknya? Park Soojin yang dimaksud itu kamu
kan?"
Soojin memerlukan waktu dua detik sebelum berhasil mencerna
kata-kata Jin. Mulut gadis itu lalu membentuk huruf o dan mengangguk-angguk
tanda ia mengerti maksud sahabatnya.
"Tenang saja. Aku baik-baik saja." Kata Soojin
sambil tertawa kecil. Namun Jin sama sekali tidak menjadi 'tenang'.
"Jadi rumor itu benar?"
Soojin berhenti tertawa. Ia tidak menjawab selama beberapa
saat sementara ia dan Jin berjalan ke gerbang kampus. Akhirnya gadis itu
menceritakan pengalamannya dengan Dongho, pemuda yang membuatnya terjebak
'masalah' itu dan Taehyung, kembaran Dongho yang mendatanginya secara misterius
beberapa jam yang lalu.
Setelah Soojin selesai bercerita, ekspresi muka Jin
'menggelap' dengan jelas sehingga gadis yang bersangkutan langsung
menggelengkan kepalanya dengan panik.
"Tenang saja! Tidak terjadi apapun dan aku tidak disakiti
sama sekali!" Kata Soojin namun sekali lagi Jin tidak merasa tenang.
"Kalau terjadi sesuatu padamu, entah apa yang akan
kulakukan.." Gumam pemuda itu namun sayangnya Soojin pada saat itu tidak
mendengarnya dengan jelas.
"Eh? Apa katamu?"
Jin tersenyum dan menepuk pelan kepala Soojin. Gadis yang ia
sukai ini memang suka lemot dan 'kurang' dalam hal pendengaran. "Bukan
apa-apa. Ayo, ku antar kau sampai gerbang. Kakakmu menjemput lagi kan?"
***
"Suga."
Pemuda berambut merah yang memiliki
nama julukan tersebut pun menoleh menatap temannya. Kelompok preman kampus yang
biasa di ketuai Jimin ini tengah berkumpul di tempat biasa mereka, salah satu
pojokan di taman kampus.
"Ya Jackson?"
Pemuda berambut hitam yang tadi
memanggil Suga menatap lawan bicaranya dengan tatapan yang cukup tajam
sementara Suga sendiri membalas tatapan itu dengan tatapan yang tidak kalah
tajamnya. Anggota-anggota yang lain hanya menatap dua pemuda itu dalam diam.
Suga dan Jackson bisa di katakan adalah orang nomor dua Jimin yang saat itu
tidak ada disana.
"Apa hubunganmu dengan sang Ice
Queen?" Kata Jackson dengan nada yang tidak 'enak'. Suga mengernyit, ia
tahu jika ia salah menjawab, bisa-bisa ia kalah dari Jackson. Kedua pemuda ini memang
bersaing dalam kelompok mereka sendiri, memperebutkan gelar 'nomor dua' yang
secara otomatis menjadi ketua saat Jimin tidak hadir.
"Dan apa urusanmu tentang hal
itu?" Jawab Suga dengan pertanyaan lainnya.
"Jangan terlalu dekat dengan
gadis itu. Kau membuat kita terlihat lemah." Kata-kata Jackson membuat
anggota lain yang tadinya diam, mulai berbisik-bisik dan bergumam setuju. Hal
itu membuat Suga semakin merasa cemas. Jackson sedang berusaha 'menjatuhkan'nya
saat ini.
"Ada apa?"
Semua kepala yang ada segera menoleh
ke arah sumber suara. Park Jimin menatap mereka satu persatu dengan kening yang
mengernyit sebelum duduk di tempatnya yang biasa, di tengah-tengah kelompok.
Tidak ada yang menjawab pertanyaan pemuda itu hingga akhirnya Jimin memberi tanda
pada pemuda yang terlihat paling muda di kelompok inti mereka.
"Jelaskan, Hoseok." Perintah
Jimin tidak bisa di tolak. Pemuda yang bernama Jung Hoseok, namun lebih di
kenal sebagai J-Hope ini menelan ludahnya dengan tegang. Mood Jimin sedang
tidak bagu akhir-akhir ini. Terutama sejak perkelahian mereka di pertandingan
basket yang lalu.
"Aku hanya bertanya pada Suga
tadi." Kata Jackson, menyelamatkan adik kelasnya dari kewajiban menjawab
pertanyaan ketua mereka. Sekarang Jimin mengalihkan pandangannya ke Jackson dan
Suga secara bergantian.
"Pertanyaan apa?"
"Tentang hubungannya dengan Oh
Haneul."
Mendengar nama Haneul, Jimin
mengerutkan keningnya lagi. Ia sudah berusaha melupakan kejadian waktu itu
dengan gadis yang lebih muda itu dan kata-kata darinya, namun selalu gagal.
Itulah penyebab moodnya yang selalu buruk itu.
"Tidak ada apa-apa diantara kami.
Aku hanya bermain-main dengannya, itu saja." Jawab Suga. Suaranya sedingin
pandangannya. "Ngomong-ngomong, bagaimana kondisi kepalamu?"
Pengalihan topik. Jimin senang topik
pertama di alihkan namun topik berikutnya sama buruknya dengan yang pertama.
Namun sudah terlambat untuk menggantinya lagi tanpa menjawab pertanyaan Suga
tadi karena pandangan terpusat pada Jimin dan kepalanya.
"Tidak ada masalah." Jawab
Jimin.
"Kami kaget saat mengetahui kau
terluka di pertengkaran kemarin." Kata salah satu anggota inti, pemuda
berambut putih terang, Kim Namjoon alias Rap Monster.
"Hal itu normal dalam
pertengkaran."
"Aneh bila di alami oleh dirimu,
Jimin." Kali ini Jackson yang menimpali. Jimin menggerutu kesal.
"Lukaku adalah urusanku. Jangan
terlalu khawatir." Dari nada suaranya, semua yang mendengar perkataan
Jimin bisa mengetahui satu hal. Siapapun yang menanyakan hal itu lebih lanjut
akan mendapat tinjuan dari ketua mereka. Dan semuanya pun memutuskan untuk
tidak mencari tahu lebih jauh lagi.
Semua kecuali Jackson.
'Rapat' singkat mereka dengan cepat
bubar mengingat mereka masih harus mengikuti kelas jika tidak ingin dikeluarkan
dari kampus. Jackson adalah satu-satunya anggota di tahun ketiga yang tidak
memiliki kelas siang itu.
Dengan bosan ia berjalan sambil
menendang kaleng kosong yang ia baru habiskan tadi. Tanpa sadar ia menendang
terlalu keras dan kaleng itu terkena kaki seorang gadis. Jackson dan gadis itu
bertatapan selama beberapa saat sebelum keduanya menyadari siapa satu dengan
yang lain.
Park Jina bertatapan dengan Jackson
Wang. Jina mengenal Jackson hanya sebatas mukanya karena ia sering bersama
dengan kakaknya. Jackson sendiri mengenal Jina lewat Jimin, ketuanya sekaligus
kakak dari Jina.
"Park Jina?"
Jina melonjak ketika Jackson memanggil
namanya dan menjatuhkan semua buku yang ia pegang. Gadis itu mengangguk namun
tidak menunduk untuk mengambil bukunya, melainkan menatap Jackson dengan
sedikit gugup. Hening. Jackson menatap Jina selama beberapa saat lagi sebelum
menghela nafas dan berjalan mendekat.
"Ini." Kata Jackson. Pemuda
itu baru selesai berlutut dan mengambil semua buku yang di jatuhkan Jina lalu
menyerahkannya pada gadis itu. Dengan cepat Jina mengambil buku-bukunya.
"Terma kasih." Kata Jina.
Jackson berdiri dan menepiskan debu
dari bajunya. "Kau mengenalku kan?" Jackson tidak bisa menahan
cengirannya ketika Jina mengangguk.
Awkward moment. Baik Jina maupun
Jackson kembali menutup mulut masing-masing hingga akhirnya Jina menunduk dan
hendak berjalan pergi. Namun Jackson menahan tangan gadis itu sehingga
buku-buku Jina kembali berjatuhan. Kali ini Jina yang membungkuk untuk
mengambilnya walau Jackson menyusul melakukan hal yang sama tidak lama
kemudian.
"Jina-a." Kata Jackson saat
mereka berdua sedang mengambil buku-buku Jina. Jina mengalihkan pandangannya
dan menatap ke Jackson. Betapa kagetnya ketika ia menyadari mukanya dan muka
Jackson sangat dekat.
"Kau ada kelas siang ini?"
Tanya Jackson dan Jina menggeleng sebagai jawaban.
"Bagus. Kalau begitu, ayo temani
aku makan siang."
Tanpa menunggu jawaban Jina, Jackson
menarik tangan Jina, membawa buku-buku gadis itu dan berjalan ke arah gerbang
kampus.
***
Alarm di meja kecil di sebelah kasur
Soojin berbunyi dan tangan gadis itu langsung meraihnya dan memencet tombol
hingga berhenti berbunyi. Baru saja gadis itu bangun, mandi dan hendak keluar
untuk sarapan ketika handphonenya berbunyi.
From : Kim Seokjin
Subject : Good Morning~ ^^*
Pagi~! Tidur nyenyak? Tidak ada yang mengganggumu kan?
Soojin tertawa kecil saat membaca
smsnya. Benar-benar tingkah sahabatnya yang satu ini. Setelah membalas singkat
sms itu, Soojin berjalan mendekati meja makan, dimana kakaknya sudah duduk
dengan secangkir kopi biasanya di letakan di meja depannya.
"Selamat pagi Oppa."
Park Joongki menandai bukunya lalu
menutupnya sebelum tersenyum kepada adik semata wayangnya. “Selamat pagi
Soojin.” Orangtua kedua anak ini bekerja di luar negeri sehingga di rumah ini
hanya ada mereka berdua saja. Joongki mengelola beberapa cafe yang ia buka di
berbagai tempat sementara Soojin sendiri masih kuliah. Rutinitas pagi yang
biasa mereka lakukan dan Joongki mengantar Soojin ke gerbang kampusnya.
“Jin!” Seru Soojin saat ia turun dari
mobil. Sahabatnya Jin telah menunggunya di pintu gerbang, dengan gaya yang
persis sama seperti saat pemuda itu menunggunya kemarin di depan ruang klub
Archerynya. Mendengar suara adiknya, Joongki keluar dari mobil dan menatap Jin
dengan tajam.
“Kim Seokjin.”
Mendengar suara Soojin dan Joongki,
Jin langsung membungkuk ke arah pemuda yang lebih tua itu. “Ah, hyung. Selamat
pagi.” Joongki dan Jin sudah saling mengenal, dan tampaknya Joongki mengetahui
perasaan Jin terhadap adik kesayangannya sehingga pemuda itu sering berlaku
keras pada Jin.
Soojin, yang sejak dulu heran kenapa
sikap kakaknya sedikit keras pada sahabatnya, mendorong Jin masuk ke dalam
kampus dan melambai seraya mengucapkan sampai nanti pada Joongki. Ketika mobil
kakaknya sudah hilang dari pandangan, Soojin menatap Jin dengan heran.
“Kenapa kau berada sepagi ini? Bukankah
hari ini kelasmu kelas siang?” Tanya Soojin.
“Aku bosan di rumah.” Jawab Jin walau
itu bukanlah alasan yang sebenarnya. Pemuda itu hanya ingin memastikan gadis
yang berjalan di sampingnya ini tidak tertimpa masalah apapun. Soojin hanya
mengangguk-angguk. Terkadang gadis ini memang bisa bertingkah seperti anak
kecil. Namun bagi Jin, itu adalah salah satu charm Soojin.
Atas desakan Jin, mereka berdua sampai
di depan kelas Soojin, dimana teman-teman Soojin sudah mulai ramai ketika
melihat Jin. Bagaimana pun juga pemuda itu adalah ‘Pangeran Kampus’ generasi
kedua setelah si kembar Dongho dan Taehyung. Pintar, tampan dan kaya, dengan
kata lain, tipe cowo idaman.
“Sampai nanti.” Kata Soojin, dan gadis
itu pun masuk ke dalam kelasnya. Jin menunggu hingga Soojin mencapai tempat
duduknya dan berkumpul bersama teman-temannya sebelum berbalik dan berjalan
pergi.
Jin baru saja berpikir tentang apa
yang akan ia lakukan untuk membuang waktu selama menunggu kelasnya ketika dua
sosok yang familiar berjalan ke arahnya dari sisi yang berlainan. Mark Tuan dan
Oh Haneul sedang sibuk membahas sesuatu yang tampaknya adalah pekerjaan mereka
di SO. Jin sendiri adalah calon anggota SO yang baru, dosennya telah mengatakan
hal itu langsung pada dirinya sendiri.
“Ah!” Mark menunjuk Jin, menyadari
kehadiran pemuda itu. “Kau temannya Minra! Apa kabar?” Kata Mark dengan
senyuman lebar. Baginya, teman Minra adalah temannya juga.
Haneul menatap Mark lalu Jin secara
bergantian. “Kalian berdua saling mengenal? Aku tidak pernah tahu.”
“Aku baru mengenalnya kemarin.” Jawab
Mark.
Jin mengangguk, “Itu benar, Noona.”
Kini giliran Mark yang menatap Jin dan
Haneul bergantian. “Tunggu..” Katanya dengan perlahan. “Jangan bilang kalian
sepupu.”
“Kami memang sepupu.” Jawab Haneul
dengan santai. Mark membuka mulutnya kaget. “Memangnya kenapa?” Kata Haneul
lagi dengan tajam. Mark langsung bersikap biasa dan menggumamkan ‘tidak apa-apa’
dengan cepat.
Mark lalu mengecek jamnya. “Aku harus
melihat Minra sekali sebelum kelas. Sampai nanti Haneul! Dan kau temannya
Minra!” Setelah berkata begitu, Mark mengangguk ke arah Haneul dan menepuk
pundak Jin sekali sebelum melesat pergi, meninggalkan Haneul dan Jin. Haneul
sudah terbiasa melihat tingkah temannya itu, namun jelas tidak untuk Jin.
“Ia memang begitu.” Kata Haneul saat
Jin masih terlihat kaget melihat tingkah seniornya itu. “Kau sendiri bagaimana?”
“Maksud Noona?”
“Kabarmu dan gadis yang kau puja-puja
itu.” Kata Haneul. Muka Jin memerah. Ia memang suka bercerita pada sepupunya
yang berusia satu tahun di atasnya itu, walau tidak pernah menunjukan foto
ataupun menyebutkan nama. Seperti Haneul, pemuda itu juga merupakan anak
tunggal sehingga hubungan mereka dekat seperti kakak-adik dan bukan seperti
sepupu.
“Tidak banyak perkembangan. Ia masih
tidak peka.” Jawab Jin. “Noona sendiri tidak mencari pasangan?” Pertanyaan Jin
membuat Haneul tersenyum geli.
“Aku? Tidak. Kurasa belum saatnya.”
Jawab Haneul. “Kau harus melakukan sesuatu yang jelas atau gadis pujaanmu akan
di rebut orang.”
Jin menoleh dan menatap ke arah kelas
Soojin, tempat gadis itu mungkin sedang mengobrol bersama teman-temannya. “Aku
hanya tidak ingin merusak hubungan kami yang sekarang.”
Haneul memperhatikan Jin lalu menepuk
punggung pemuda itu. “Ayo, Boy in Love. Bantu
aku dengan tugas-tugas SO dan jangan bengong seperti itu atau fansmu akan
berkurang drastis.” Mendengar kata-kata Haneul, Jin hanya tertawa pelan namun
mengikuti sepupunya ke arah ruang SO.
***TBC***
A/N : Planned making something 'waw' as ending but ended
up made a weird ending lols
Anyway~ Mohon maaf bila ada kesalahan *bows*
Made by : Liz
Take out with full credits
please~ ^^

0 komentar:
Posting Komentar