Minggu, 05 Oktober 2014

You're My : Chapter 4

Disclaimer    : BTS and all Kpop artists are not mine. Jimin will be soon though (lol kidding).
OC belongs to their rightful owner, while the plot is mine.

Genre       : Romance, Friendship, Comedy, Fluff

"You’re My"
Chapter 4 : My Worries For You


Minuman dibagikan dan akhirnya latihan team sepak bola pun selesai. Shin Taehyung masih harus berlari 30 putaran karena ketelatannya. Pemuda itu memang dikenal dengan manusia dengan stamina tanpa batas, namun latihan keras Minho, sang kapten team, dan hukumannya itu membuatnya tergeletak di tanah dengan nafas terengah-engah.

"Minra.." Kata Taehyung sambil terengah-engah. Ia menutupi matanya dengan lengan kirinya sementara tangan kanannya melambai-lambai asal, memanggil manajernya. "Air. Aiirr.."

Sebuah botol melambung dari arah kursi tempat para anggota lain sedang duduk dan mengenai kepala Taehyung. Untung saja botol itu sudah kosong, jika tidak, kepala Taehyung pasti sudah memar. Suara tawa mengikuti reaksi Taehyung yang mendadak bangkit duduk karena kaget.

"Ambil airmu sendiri disini." Kata Minho sementara anggota team yang lain masih tertawa terbahak-bahak karena ekspresi Taehyung yang bisa di bilang sangat bodoh itu, seakan-akan dia gegar otak karena baru di lempar botol kosong oleh Minho. “Minra bukan babumu, jangan menyuruhnya seperti itu.”

“Tapi aku lelah..” Keluh Taehyung.

“Salah sendiri kenapa kau terlambat, lagi, hari ini.” Jawab Minho yang menekankan perkataannya pada kata ‘lagi’. Taehyung kembali menjatuhkan dirinya ke tanah dan mulai merengek manja yang menyebalkan, mengakibatkan botol-botol kosong lainnya berterbangan dan semuanya mengenai Taehyung. Entah di kepala, tangan atau perutnya.

“Tugasmu hari ini untuk membereskan sisanya hari ini. Dan jangan pernah terlambat lagi!!” Kata-kata dari Minho seakan-akan pernyataan hukuman mati untuk Taehyung karena pemuda itu langsung berteriak protes dengan keras. Apa yang ia teriakan tidak pernah jelas karena kadang seorang Shin Taehyung suka berbicara dengan bahasa alien yang hanya di mengerti oleh Dongho dan Haneul saja.

Dengan ogah-ogahan Taehyung mulai berberes di lapangan sepak bola, di temani oleh Minra yang merasa kasihan pada seniornya yang satu itu walau sebenarnya ia suka kesal juga dengan tingkah Taehyung yang kelewat hyper itu. Ketika mereka sudah selesai, mendadak Taehyung berbalik dan berjalan menuju Minra dengan kecepatan yang tidak bisa di bilang normal.

“Minra!!”

Mahasiswi tahun pertama itu langsung melonjak kaget karena Taehyung memanggilnya dengan suara setengah berteriak. “Y-ya?” Balas Minra.

“Kau tahun pertama kan? Kau kenal orang yang bernama Park Soojin?”

Minra menaikan alisnya, Park Soojin? Soojin sahabatnya? Ada perlu apa salah satu ‘Pangeran Kampus’ dengan sahabatnya? Melihat tidak ada yang harus di tutupi mengenai persahabat mereka dari Taehyung, Minra mengangguk.

“Bisa kau jelaskan sifat anak itu?”

Oke, ada apa dengan senior yang satu ini. Kenapa tiba-tiba ia mengetahui nama seahabatnya dan bahkan menanyakan sifatnya? Dengan ogah-ogahan Minra menjelaskan sifat Soojin yang bisa dikategorikan sebagai anak yang lembut dan pengertian kecuali dengan orang yang membuatnya kesal, terutama yang menganggu ketenangannya. Setelah Minra bercerita, Taehyung mengangguk-angguk, bergaya seakan-akan dia adalah detektif lalu menggumam dengan bahasa aliennya sambil berjalan pergi.

“Ia tidak sama sekali mirip dengan Haneul. Dasar si Dongho.” Gumam Taehyung sambil berjalan ke arah klub Archery. Pemuda itu masih penasaran dengan gadis yang berhasil menarik perhatian saudara kembarnya itu. Karena asyik berpikir sendiri, ia tidak melihat jalan dan malah menabrak seseorang.

“Whoa!” Yang di tabrak Taehyung, seorang gadis, langsung jatuh kebelakang setelah bertabrakan dengan Taehyung. Maklumlah, walau postur badan Taehyung memang tidak besar ataupun kekar, ia tetap seorang laki-laki.

“Maaf!” Kata Taehyung dengan cepat. Ia menjulurkan tangan kepada gadis yang menjadi korban tubrukannya itu dan terkejut ketika gadis itu adalah orang yang ia kenal. “Park Jina!” Seru Taehyung. Tanpa persetujuan Jina, Taehyung meraih tangan Jina dan membantu anak itu untuk bangkit berdiri membuat gadis itu mukanya memerah dan menundukan kepalanya.

“Maaf, maaf.” Kata Taehyung sekali lagi sambil memeriksa apakah Jina terluka atau tidak. Alhasil muka Jina tambah memerah karena perlakuan Taehyung itu. Taehyung lalu hanya nyengir-nyengir saja, sementara Jina semakin salting karena sikap Taehyung yang berbeda dari orang lain itu.

“Eh.” Kata Taehyung mendadak, membuat Jina melonjak kaget. Akhir-akhir ini pemuda itu sering sekali mengagetkan orang-orang. Dongho, Minra dan kali ini adalah Jina. Taehyung menatap Jina selama beberapa saat sebelum akhirnya menggelengkan kepalanya.

"Tidak jadi." Kata Taehyung. Jina mengerjap-ngerjapkan matanya namun tidak mengatakan apa-apa. Hening. Jina sudah hampir mohon diri dan berjalan pergi ketika pertanyaan Taehyung menghentikan niatnya.

"Kau tidak di ganggu preman-preman kan akhir-akhir ini?"

Jina menaikan alisnya, tanda bahwa ia bingung dengan pertanyaan mendadak dari Taehyung. "Tidak." Jawabnya pelan sambil menggeleng. "Memangnya ada apa, sunbae-nim?"

"Jangan panggil aku sunbae-nim."

"Maaf?"

Taehyung menatap Jina dengan tajam, membuat jantung Jina seakan melompat ketika melihat tatapan pemuda itu.

"Aku benci formalitas. Kita sudah saling mengenal, jadi panggil aku Oppa saja." Kata Taehyung dengan santai.

Jina membeku selama sejenak, jelas kaget mendengar permintaan Taehyung yang dengan santainya memintanya mengabaikan formalitas di antara mereka. Ia memang sudah sering mendengar kabar yang serupa namun tidak pernah menyangka akan mengalaminya sendiri.

"B-baiklah. O-oppa?"

Taehyung nyengir. "Itu lebih baik." Jina menunggu Taehyung melanjutkan kata-katanya namun pemuda itu tampaknya melupakan maksudnya tadi.

"Ehm.." Kata Jina akhirnya. "Maksud perkataanmu tadi apa..." Ia ragu sejenak. "..Oppa?"

"Eh? Apa?"

"Maksud pertanyaanmu tadi.."

Taehyung menatap Jina dengan ekspresi blank selama beberapa saat sebelum akhirnya menepuk tangannya, tanda dia mengingat apa yang ia katakan tadi.

"Itu.." Ujar Taehyung. "Kudengar Jimin terluka karena berantem dengan preman-preman beberapa hari yang lalu."

Jina tersentak kaget, tidak menyangka seniornya ini mengetahui hal itu dan bahkan mengkhawatirkan dirinya. "Tenang saja. Aku tidak apa-apa." Kata Jina. "Terima kasih telah mengkhawatirkanku, Oppa." Tambah Jina dengan cepat. Mukanya memerah malu setelah mengatakan hal itu.

Taehyung meletakan tangannya di atas kepala Jina dan dia diam sejenak. Jina sudah merasakan jantungnya berdebar cepat, mengira pemuda itu akan menepuk kepalanya dengan lembut. Namun bukan Taehyung namanya kalau tingkahnya dapat di prediksi. Alih-alih menepuk kepala Jina dengan lembut, pemuda itu malah mengacak-acak rambut gadis itu lalu mengucapkan 'sampai nanti' dengan singkat dan berjalan pergi, meninggalkan Jina yang terkejut.

***

Park Soojin merapikan alat memanahnya di lemari klubnya dan berjalan keluar hanya untuk mendapati salah satu sahabatnya berdiri bersandar padah pohon yang tidak jauh dari tempat klub Archerynya itu. Kim Seokjin sibuk menatap handphonenya sehingga tidak menyadari bahwa Soojin sudah berjalan keluar dan sekarang tengah menatapnya. Headset yang terpasang juga membuatnya tidak mendengar langkah kaki Soojin yang berjalan mendekat.

"Jin!" Kata Soojin, membuat pemuda yang ia sapa melonjak kaget dan dengan cepat mencopot headsetnya. Ekspresi wajahnya berubah dari kaget menjadi senang ketika melihat siapa yang menyapanya itu.

"Soojin!" Kata pemuda itu dengan senyuman lebar menghiasi wajahnya.

"Sedang apa kau disini?"

"Menunggumu tentu saja." Jawab Jin sambil tersenyum lembut dan menyimpan handphone serta headsetnya. Soojin ikut tersenyum saat mendengar jawaban sahabatnya itu. Ia, Jin dan Minra sudah bersahabat sejak SMA dan Soojin sudah mengerti sifat sahabatnya yang agak 'protektif' itu.

"Kau tidak perlu melakukan itu." Kata Soojin, tapi ia sama sekali tidak memprotes tindakan Jin itu.

Jin menggeleng dan menatap Soojin dengan tegas. "Kau lupa rumor yang beredar beberapa hari yang lalu?"

"Rumor?"

Kening Jin mengkerut, "Rumor bahwa kau terkena masalah dengan Jimin sunbae-nim dan kelompoknya? Park Soojin yang dimaksud itu kamu kan?"

Soojin memerlukan waktu dua detik sebelum berhasil mencerna kata-kata Jin. Mulut gadis itu lalu membentuk huruf o dan mengangguk-angguk tanda ia mengerti maksud sahabatnya.

"Tenang saja. Aku baik-baik saja." Kata Soojin sambil tertawa kecil. Namun Jin sama sekali tidak menjadi 'tenang'.

"Jadi rumor itu benar?"

Soojin berhenti tertawa. Ia tidak menjawab selama beberapa saat sementara ia dan Jin berjalan ke gerbang kampus. Akhirnya gadis itu menceritakan pengalamannya dengan Dongho, pemuda yang membuatnya terjebak 'masalah' itu dan Taehyung, kembaran Dongho yang mendatanginya secara misterius beberapa jam yang lalu.

Setelah Soojin selesai bercerita, ekspresi muka Jin 'menggelap' dengan jelas sehingga gadis yang bersangkutan langsung menggelengkan kepalanya dengan panik.

"Tenang saja! Tidak terjadi apapun dan aku tidak disakiti sama sekali!" Kata Soojin namun sekali lagi Jin tidak merasa tenang.

"Kalau terjadi sesuatu padamu, entah apa yang akan kulakukan.." Gumam pemuda itu namun sayangnya Soojin pada saat itu tidak mendengarnya dengan jelas.

"Eh? Apa katamu?"

Jin tersenyum dan menepuk pelan kepala Soojin. Gadis yang ia sukai ini memang suka lemot dan 'kurang' dalam hal pendengaran. "Bukan apa-apa. Ayo, ku antar kau sampai gerbang. Kakakmu menjemput lagi kan?"

***

"Suga."

Pemuda berambut merah yang memiliki nama julukan tersebut pun menoleh menatap temannya. Kelompok preman kampus yang biasa di ketuai Jimin ini tengah berkumpul di tempat biasa mereka, salah satu pojokan di taman kampus.

"Ya Jackson?"

Pemuda berambut hitam yang tadi memanggil Suga menatap lawan bicaranya dengan tatapan yang cukup tajam sementara Suga sendiri membalas tatapan itu dengan tatapan yang tidak kalah tajamnya. Anggota-anggota yang lain hanya menatap dua pemuda itu dalam diam. Suga dan Jackson bisa di katakan adalah orang nomor dua Jimin yang saat itu tidak ada disana.

"Apa hubunganmu dengan sang Ice Queen?" Kata Jackson dengan nada yang tidak 'enak'. Suga mengernyit, ia tahu jika ia salah menjawab, bisa-bisa ia kalah dari Jackson. Kedua pemuda ini memang bersaing dalam kelompok mereka sendiri, memperebutkan gelar 'nomor dua' yang secara otomatis menjadi ketua saat Jimin tidak hadir.

"Dan apa urusanmu tentang hal itu?" Jawab Suga dengan pertanyaan lainnya.

"Jangan terlalu dekat dengan gadis itu. Kau membuat kita terlihat lemah." Kata-kata Jackson membuat anggota lain yang tadinya diam, mulai berbisik-bisik dan bergumam setuju. Hal itu membuat Suga semakin merasa cemas. Jackson sedang berusaha 'menjatuhkan'nya saat ini.

"Ada apa?"

Semua kepala yang ada segera menoleh ke arah sumber suara. Park Jimin menatap mereka satu persatu dengan kening yang mengernyit sebelum duduk di tempatnya yang biasa, di tengah-tengah kelompok. Tidak ada yang menjawab pertanyaan pemuda itu hingga akhirnya Jimin memberi tanda pada pemuda yang terlihat paling muda di kelompok inti mereka.

"Jelaskan, Hoseok." Perintah Jimin tidak bisa di tolak. Pemuda yang bernama Jung Hoseok, namun lebih di kenal sebagai J-Hope ini menelan ludahnya dengan tegang. Mood Jimin sedang tidak bagu akhir-akhir ini. Terutama sejak perkelahian mereka di pertandingan basket yang lalu.

"Aku hanya bertanya pada Suga tadi." Kata Jackson, menyelamatkan adik kelasnya dari kewajiban menjawab pertanyaan ketua mereka. Sekarang Jimin mengalihkan pandangannya ke Jackson dan Suga secara bergantian.

"Pertanyaan apa?"

"Tentang hubungannya dengan Oh Haneul."

Mendengar nama Haneul, Jimin mengerutkan keningnya lagi. Ia sudah berusaha melupakan kejadian waktu itu dengan gadis yang lebih muda itu dan kata-kata darinya, namun selalu gagal. Itulah penyebab moodnya yang selalu buruk itu.

"Tidak ada apa-apa diantara kami. Aku hanya bermain-main dengannya, itu saja." Jawab Suga. Suaranya sedingin pandangannya. "Ngomong-ngomong, bagaimana kondisi kepalamu?"

Pengalihan topik. Jimin senang topik pertama di alihkan namun topik berikutnya sama buruknya dengan yang pertama. Namun sudah terlambat untuk menggantinya lagi tanpa menjawab pertanyaan Suga tadi karena pandangan terpusat pada Jimin dan kepalanya.

"Tidak ada masalah." Jawab Jimin.

"Kami kaget saat mengetahui kau terluka di pertengkaran kemarin." Kata salah satu anggota inti, pemuda berambut putih terang, Kim Namjoon alias Rap Monster.

"Hal itu normal dalam pertengkaran."

"Aneh bila di alami oleh dirimu, Jimin." Kali ini Jackson yang menimpali. Jimin menggerutu kesal.

"Lukaku adalah urusanku. Jangan terlalu khawatir." Dari nada suaranya, semua yang mendengar perkataan Jimin bisa mengetahui satu hal. Siapapun yang menanyakan hal itu lebih lanjut akan mendapat tinjuan dari ketua mereka. Dan semuanya pun memutuskan untuk tidak mencari tahu lebih jauh lagi.

Semua kecuali Jackson.

'Rapat' singkat mereka dengan cepat bubar mengingat mereka masih harus mengikuti kelas jika tidak ingin dikeluarkan dari kampus. Jackson adalah satu-satunya anggota di tahun ketiga yang tidak memiliki kelas siang itu.

Dengan bosan ia berjalan sambil menendang kaleng kosong yang ia baru habiskan tadi. Tanpa sadar ia menendang terlalu keras dan kaleng itu terkena kaki seorang gadis. Jackson dan gadis itu bertatapan selama beberapa saat sebelum keduanya menyadari siapa satu dengan yang lain.

Park Jina bertatapan dengan Jackson Wang. Jina mengenal Jackson hanya sebatas mukanya karena ia sering bersama dengan kakaknya. Jackson sendiri mengenal Jina lewat Jimin, ketuanya sekaligus kakak dari Jina.

"Park Jina?"

Jina melonjak ketika Jackson memanggil namanya dan menjatuhkan semua buku yang ia pegang. Gadis itu mengangguk namun tidak menunduk untuk mengambil bukunya, melainkan menatap Jackson dengan sedikit gugup. Hening. Jackson menatap Jina selama beberapa saat lagi sebelum menghela nafas dan berjalan mendekat.

"Ini." Kata Jackson. Pemuda itu baru selesai berlutut dan mengambil semua buku yang di jatuhkan Jina lalu menyerahkannya pada gadis itu. Dengan cepat Jina mengambil buku-bukunya.

"Terma kasih." Kata Jina.

Jackson berdiri dan menepiskan debu dari bajunya. "Kau mengenalku kan?" Jackson tidak bisa menahan cengirannya ketika Jina mengangguk.

Awkward moment. Baik Jina maupun Jackson kembali menutup mulut masing-masing hingga akhirnya Jina menunduk dan hendak berjalan pergi. Namun Jackson menahan tangan gadis itu sehingga buku-buku Jina kembali berjatuhan. Kali ini Jina yang membungkuk untuk mengambilnya walau Jackson menyusul melakukan hal yang sama tidak lama kemudian.

"Jina-a." Kata Jackson saat mereka berdua sedang mengambil buku-buku Jina. Jina mengalihkan pandangannya dan menatap ke Jackson. Betapa kagetnya ketika ia menyadari mukanya dan muka Jackson sangat dekat.

"Kau ada kelas siang ini?" Tanya Jackson dan Jina menggeleng sebagai jawaban.

"Bagus. Kalau begitu, ayo temani aku makan siang."

Tanpa menunggu jawaban Jina, Jackson menarik tangan Jina, membawa buku-buku gadis itu dan berjalan ke arah gerbang kampus.

***

Alarm di meja kecil di sebelah kasur Soojin berbunyi dan tangan gadis itu langsung meraihnya dan memencet tombol hingga berhenti berbunyi. Baru saja gadis itu bangun, mandi dan hendak keluar untuk sarapan ketika handphonenya berbunyi.

From : Kim Seokjin
Subject : Good Morning~ ^^*

Pagi~! Tidur nyenyak? Tidak ada yang mengganggumu kan?


Soojin tertawa kecil saat membaca smsnya. Benar-benar tingkah sahabatnya yang satu ini. Setelah membalas singkat sms itu, Soojin berjalan mendekati meja makan, dimana kakaknya sudah duduk dengan secangkir kopi biasanya di letakan di meja depannya.

"Selamat pagi Oppa."

Park Joongki menandai bukunya lalu menutupnya sebelum tersenyum kepada adik semata wayangnya. “Selamat pagi Soojin.” Orangtua kedua anak ini bekerja di luar negeri sehingga di rumah ini hanya ada mereka berdua saja. Joongki mengelola beberapa cafe yang ia buka di berbagai tempat sementara Soojin sendiri masih kuliah. Rutinitas pagi yang biasa mereka lakukan dan Joongki mengantar Soojin ke gerbang kampusnya.

“Jin!” Seru Soojin saat ia turun dari mobil. Sahabatnya Jin telah menunggunya di pintu gerbang, dengan gaya yang persis sama seperti saat pemuda itu menunggunya kemarin di depan ruang klub Archerynya. Mendengar suara adiknya, Joongki keluar dari mobil dan menatap Jin dengan tajam.

“Kim Seokjin.”

Mendengar suara Soojin dan Joongki, Jin langsung membungkuk ke arah pemuda yang lebih tua itu. “Ah, hyung. Selamat pagi.” Joongki dan Jin sudah saling mengenal, dan tampaknya Joongki mengetahui perasaan Jin terhadap adik kesayangannya sehingga pemuda itu sering berlaku keras pada Jin.

Soojin, yang sejak dulu heran kenapa sikap kakaknya sedikit keras pada sahabatnya, mendorong Jin masuk ke dalam kampus dan melambai seraya mengucapkan sampai nanti pada Joongki. Ketika mobil kakaknya sudah hilang dari pandangan, Soojin menatap Jin dengan heran.

“Kenapa kau berada sepagi ini? Bukankah hari ini kelasmu kelas siang?” Tanya Soojin.

“Aku bosan di rumah.” Jawab Jin walau itu bukanlah alasan yang sebenarnya. Pemuda itu hanya ingin memastikan gadis yang berjalan di sampingnya ini tidak tertimpa masalah apapun. Soojin hanya mengangguk-angguk. Terkadang gadis ini memang bisa bertingkah seperti anak kecil. Namun bagi Jin, itu adalah salah satu charm Soojin.

Atas desakan Jin, mereka berdua sampai di depan kelas Soojin, dimana teman-teman Soojin sudah mulai ramai ketika melihat Jin. Bagaimana pun juga pemuda itu adalah ‘Pangeran Kampus’ generasi kedua setelah si kembar Dongho dan Taehyung. Pintar, tampan dan kaya, dengan kata lain, tipe cowo idaman.

“Sampai nanti.” Kata Soojin, dan gadis itu pun masuk ke dalam kelasnya. Jin menunggu hingga Soojin mencapai tempat duduknya dan berkumpul bersama teman-temannya sebelum berbalik dan berjalan pergi.

Jin baru saja berpikir tentang apa yang akan ia lakukan untuk membuang waktu selama menunggu kelasnya ketika dua sosok yang familiar berjalan ke arahnya dari sisi yang berlainan. Mark Tuan dan Oh Haneul sedang sibuk membahas sesuatu yang tampaknya adalah pekerjaan mereka di SO. Jin sendiri adalah calon anggota SO yang baru, dosennya telah mengatakan hal itu langsung pada dirinya sendiri.

“Ah!” Mark menunjuk Jin, menyadari kehadiran pemuda itu. “Kau temannya Minra! Apa kabar?” Kata Mark dengan senyuman lebar. Baginya, teman Minra adalah temannya juga.

Haneul menatap Mark lalu Jin secara bergantian. “Kalian berdua saling mengenal? Aku tidak pernah tahu.”

“Aku baru mengenalnya kemarin.” Jawab Mark.

Jin mengangguk, “Itu benar, Noona.”

Kini giliran Mark yang menatap Jin dan Haneul bergantian. “Tunggu..” Katanya dengan perlahan. “Jangan bilang kalian sepupu.”

“Kami memang sepupu.” Jawab Haneul dengan santai. Mark membuka mulutnya kaget. “Memangnya kenapa?” Kata Haneul lagi dengan tajam. Mark langsung bersikap biasa dan menggumamkan ‘tidak apa-apa’ dengan cepat.

Mark lalu mengecek jamnya. “Aku harus melihat Minra sekali sebelum kelas. Sampai nanti Haneul! Dan kau temannya Minra!” Setelah berkata begitu, Mark mengangguk ke arah Haneul dan menepuk pundak Jin sekali sebelum melesat pergi, meninggalkan Haneul dan Jin. Haneul sudah terbiasa melihat tingkah temannya itu, namun jelas tidak untuk Jin.

“Ia memang begitu.” Kata Haneul saat Jin masih terlihat kaget melihat tingkah seniornya itu. “Kau sendiri bagaimana?”

“Maksud Noona?”

“Kabarmu dan gadis yang kau puja-puja itu.” Kata Haneul. Muka Jin memerah. Ia memang suka bercerita pada sepupunya yang berusia satu tahun di atasnya itu, walau tidak pernah menunjukan foto ataupun menyebutkan nama. Seperti Haneul, pemuda itu juga merupakan anak tunggal sehingga hubungan mereka dekat seperti kakak-adik dan bukan seperti sepupu.

“Tidak banyak perkembangan. Ia masih tidak peka.” Jawab Jin. “Noona sendiri tidak mencari pasangan?” Pertanyaan Jin membuat Haneul tersenyum geli.

“Aku? Tidak. Kurasa belum saatnya.” Jawab Haneul. “Kau harus melakukan sesuatu yang jelas atau gadis pujaanmu akan di rebut orang.”

Jin menoleh dan menatap ke arah kelas Soojin, tempat gadis itu mungkin sedang mengobrol bersama teman-temannya. “Aku hanya tidak ingin merusak hubungan kami yang sekarang.”

Haneul memperhatikan Jin lalu menepuk punggung pemuda itu. “Ayo, Boy in Love. Bantu aku dengan tugas-tugas SO dan jangan bengong seperti itu atau fansmu akan berkurang drastis.” Mendengar kata-kata Haneul, Jin hanya tertawa pelan namun mengikuti sepupunya ke arah ruang SO.

***TBC***

A/N : Planned making something 'waw' as ending but ended up made a weird ending lols
Anyway~ Mohon maaf bila ada kesalahan *bows*

Made by : Liz
Take out with full credits please~ ^^

0 komentar:

Posting Komentar