Disclaimer : BTS and all Kpop artists are not mine.
Jimin will be soon though (lol kidding).
OC belongs to their rightful owner, while the plot is
mine.
Genre :
Romance, Friendship, Comedy, Fluff
"You’re My"
Chapter 3 :
My Impression On You
Oh Haneul menghela nafas panjang.
Rapat SO selalu melelahkan, terutama bila membahas masalah Park Jimin dan
kelompoknya yang tidak pernah berakhir. Kelompok dengan anggota utama berjumlah
tujuh orang itu nyaris adu hantam dengan berandalan yang entah berasal dari
mana di daerah kampus beberapa hari yang lalu.
Haneul memijat-mijat pelipis kepalanya
sambil berjalan melintasi koridor di kampusnya. Rapat SO sudah selesai dan dia
sudah tidak ada kelas untuk hari ini sehingga ia memutuskan untuk pulang cepat.
Di tambah karena kepalanya pusing akibat stress, lebih baik jika pulang dan
beristirahat di rumah bukan?
"Haneul!"
Ketika Haneul menoleh, seorang pemuda
berlari ke arahnya. Dari mukanya, ia tampak senang sekali. Walau terengah-engah
karena habis berlari, cengirannya tetap lebar di wajahnya. Haneul mengenal
pemuda itu. Ia adalah Elison Kim, mahasiswa tahun keempat, ketua dari team
basket yang Haneul urus sebagai anggota SO bagian basket.
"Selamat atas kemenangan kalian
di semifinal." Kata Haneul seraya tersenyum. Team basket kampus mereka
baru saja berhasil masuk ke final di turnamen di provinsi mereka dan secara
otomatis nanti mereka akan masuk ke pertandingan nasional.
Elison, atau yang biasa di panggil Eli
tersenyum puas. "Terima kasih! Tapi bukan itu maksudku saat memanggilmu
tadi.." Ujarnya, membuat Haneul sekarang menatap pemuda itu dengan bingung
sekaligus penasaran.
“Well sebenarnya aku ingin meminta
bantuanmu.” Kata Eli. “Manajer kami tidak bisa hadir saat final nanti dan
bisakah kau menggantikannya?" Dan pemuda itu tidak membiarkan Haneul pergi
sampai gadis yang bersangkutan bersedia menjadi manajer mereka. Eli pun pergi
dengan cengiran sementara Haneul hanya bisa mengernyit saja.
Hari yang di tunggu-tunggu pun tiba.
Haneul melangkah masuk ke daerah stadion sambil mengecek jam tangannya sehingga
ia tidak melihat kemana ia berjalan. Gadis itu berhenti tepat pada waktunya
sebelum menabrak seseorang.
"Whoa. Ice Queen. Berhati-hatilah
saat berjalan."
Haneul menoleh dan menatap muka Suga
yang tersenyum menyebalkan. Baru saja Haneul hendak membalas sapaan pemuda itu
dengan sinis ketika Eli mendekati mereka berdua.
"Haneul! Kau datang!!" Seru
Eli dengan bersemangat. Beberapa anggota team basketball lainnya pun
mencuri-curi pandang dengan penasaran namun tidak berani mendekat karena
kehadiran Suga.
Suga menatap Eli dengan pandangan
menuntut penjelasan, namun Eli mengabaikannya dan menarik Haneul mendekat ke
arah anggota team basket lainnya. Mau tidak mau Suga mengikuti mereka berdua.
"Seperti yang pernah kukatakan di
pertemuan terakhir kita, gadis ini akan menjadi manajer sehari kita." Kata
Eli seraya menepuk-nepuk punggung Haneul dengan riang.
"Oh Haneul. Tahun kedua."
Kata Haneul sambil memberi lirikan kesal pada Eli. "Jangan sungkan meminta
bantuan padaku hari ini."
"Bagus! Ayo, kita harus
bersiap-siap masuk." Setelah berkata begitu, Eli memimpin rombongan masuk
ke dalam stadion. Haneul sudah hendak berjalan di antara rombongan ketika
tangannya di tahan oleh Suga, membuat dirinya terpaksa berjalan di belakang
bersama pemuda itu.
"Ku kira kau tidak pernah ikut
acara team." Kata Haneul. Ia sudah tahu bahwa Suga adalah anggota team
basket, namun menurut laporan, pemuda itu tidak pernah masuk sekalipun pada
saat latihan. Betapa kagetnya Haneul ketika ia melihat pemuda berambut merah
itu muncul disini.
"Aku tidak pernah ikut latihan,
memang." Kata Suga. Ia berjalan sambil memainkan bola basket di tangannya.
"Tapi team basket tidak akan bisa mencapai sejauh ini tanpaku."
Lanjutnya, membuat Haneul mendengus kesal, tidak percaya akan kata-kata Suga.
"Kau tidak percaya?"
"Tidak sedikitpun."
Suga kemudian nyengir lebar dan
menghentikan jalan Haneul dengan berdiri di depannya. "Kalau begitu akan
kuperlihatkan di pertandingan ini. Jangan sampai kau 'jatuh' padaku, Ice
Queen." Dan setelah berkata begitu, Suga berjalan meninggalkan Haneul di
belakangnya.
Stadion basket sudah di penuhi
penonton yang ingin menonton final, termasuk diantaranya adalah Dongho dan
Taehyung yang datang karena ingin melihat Haneul. Dan diantara kerumunan,
kehadiran kelompok Park Jimin sangat mencolok karena daerah di sekitar mereka
sepi, tidak ada seorang pun yang berani mendekat. Dongho dan Taehyung juga
melihat hal itu.
"Kau benar-benar nyaris mati saat
itu." Kata Taehyung. Dongho telah menceritakan pengalamannya setelah
melakukan hukuman dari Taehyung dan Haneul pada kembarannya itu. Dongho hanya
mengangguk dan tidak berani memandang ke arah kerumunan pria berekspresi seram
itu sama sekali.
Ejekan Taehyung untuk sikap Dongho
saat itu di hentikan oleh munculnya kedua team basket. Kedua team tersebut
berjalan memasuki lapangan dan segera melakukan pemanasan. Seakan-akan
melupakan ketakutannya, Dongho berdiri dan melambai riang dan rusuh ke arah
Haneul. Tentu saja Taehyung melakukan hal yang sama.
"Mereka fansmu?" Kata Suga
sambil melakukan stretching di dekat Haneul. Kelakuan si kembar yang membuat
malu itu sudah di lihat seluruh stadion dan Haneul sudah mengabaikan mereka
berdua sejak awal dia menyadari mereka. Mendengar kata-kata Suga, Haneul
mengernyit dan menggeleng.
"Shin Dongho dan Shin Taehyung,
teman masa kecilku." Jawab Haneul singkat. "Namun saat ini aku tidak
mengenal mereka berdua." Suga tertawa mendengar hal itu namun tidak
berkomentar apapun.
"Itu sang Ice Queen bukan?"
Pemuda di sebelah kanan Jimin memicingkan mata dan mengawasi Haneul dengan
lekat-lekat. Kata-kata pemuda itu membuat Jimin ikut mengawasi gerak-gerik
Haneul di antara anggota team basket. Dari atas tampak jelas sekali bahwa Suga
dan Haneul tidak pernah terlalu jauh, karena Suga terus menerus mengganggu
kegiatan gadis itu.
“Yoongi menyukainya?” Ujar pemuda yang
duduk di belakang Jimin sambil berpangku tangan. “Jika benar ia menyukainya, ia
akan membuat kita terlihat lemah. Menyukai gadis yang berani menentang kita.”
Kata-kata pemuda itu di ikuti gumaman setuju dari anggota yang lain, sementara
sang ketua hanya terus menatap Suga dan Haneul.
“Tenang saja. Ku pastikan kita tidak
akan terlihat lemah hanya karena gadis itu.” Kata Jimin, yang membuat seluruh
pemuda yang mengelilinginya bersorak riang.
Tidak lama kemudian, pertandingan
basket pun di mulai dan pertandingan berjalan sepihak yang menguntungkan team
lawan. Sejak awal pertandingan, pelatih team basket tidak mengijinkan Suga
bermain dan berkata bahwa itu adalah ‘hukuman karena sering membolos latihan.’
“Mereka akan memasukanku kedalam
pertandingan sebentar lagi.” Kata Suga dengan santai setelah ia berhasil
memaksa orang yang duduk di sebelah Haneul pindah. Haneul, yang sudah lelah
dengan sikap Suga sepanjang hari itu, hanya mendengus meremehkan dan terus
memperhatikan pertandingan selayaknya manager yang baik.
Perkiraan pemuda berambut merah itu
memang benar, tidak lama kemudian akhirnya ia diminta masuk kedalam
pertandingan dan hal itu langsung mengubah alur pertandingan. Baru saja Suga
bermain sebentar, semua orang bisa memastikan kemenangan mereka. Peluit tanda
selesai pun dibunyikan, dan sorakan kemenangan pun terdengar.
“Sudah kubilang kan?” Kata Suga
setelah menerima handuk dari Haneul. Pemuda itu mengedipkan matanya dan
berjalan melewati gadis itu dengan gaya yang sok. Tentu saja Haneul hanya
mengernyit dan tidak mempedulikan pemuda itu lebih jauh lagi. Team basket
memutuskan untuk mereview ulang pertandingan mereka di kampus sehingga dengan cepat
mereka kembali ke kampus. Tanpa Suga tentu saja, pemuda itu langsung menghilang
setelah berganti baju dan mengambil barang-barangnya.
Haneul sendiri masih tinggal di
stadion untuk mengecek ulang apakah ada barang-barang yang tertinggal oleh team
mereka. Taehyung dan Dongho sudah pulang terlebih dahulu karena ada acara
bersama ayah mereka. Stadion sudah sepi ketika akhirnya gadis itu mengambil
tasnya dan berjalan keluar. Sayup-sayup dari arah pintu terdengar bunyi ribut.
Dan semakin dekat ia dengan pintu depan, suara ribut mulai semakin terdengar
dengan jelas. Panik karena tampaknya itu seperti suara orang berantem, Haneul
berlari menuju sumber suara.
Dan benar apa yang gadis itu
bayangkan, bahkan lebih parah. Park Jimin dan kelompoknya melawan berandal-berandal
entah berasal darimana. Dengan berani, melupakan bahwa ia hanya seorang gadis
saja, Haneul melangkah maju dan mengeraskan suaranya.
“Hentikan! Apa yang kalian pikir
kalian lakukan! Hey hentikan!” Teriak Haneul dengan keras. Ia mencoba menarik
tangan salah satu anggota Park Jimin namun justru ia yang akhirnya di tarik
dengan paksa menjauh dari kerumunan. Sebuah lengan melingkar di pinggangnya dan
memaksanya berjalan pergi, walau tidak jauh.
“Gadis gila.” Haneul menoleh dan
melihat Jimin masih belum melepaskan pegangannya pada pinggangnya. “Pulang. Ini
bukan urusanmu.” Kata Jimin sambil melepaskan Haneul dan mendorong gadis itu.
“Bukan urusanku? Kalian membuat SO
kalang kabut pusing karena tindakan kalian!!” Protes Haneul yang kemudian
berjalan melewati Jimin menuju kerumunan lagi. Bergumam kesal namun tidak bisa
melakukan hal lain selain mengikuti Haneul, Jimin berlari dan menarik pundak
Haneul. Sebelum bisa berbicara apapun, pemuda itu melihat kayu terangkat dan
siap memukul gadis yang berada di depannya ini. Karena reflek atau entah karena
apa, Jimin menarik Haneul dan memposisikan dirinya di depan gadis itu. Otomatis
pukulan yang harusnya mengenai Haneul, diterima oleh Jimin tepat di kepala.
“Sial.” Setelah mengumpat, Jimin
berbalik dan memukul jatuh orang yang tadi memukulnya dengan kayu. Haneul
sendiri hanya bisa menatap terkejut melihat tindakan Jimin yang tidak disangka
itu. Pemuda itu kembali memukul berandalan lainnya dan mengabaikan Haneul
selama sesaat.
"Kemari kau." Kata pemuda
itu akhirnya sambil menarik tangan Haneul dengan keras dan menyeret gadis itu
menjauh dari kerumunan. Namun sekali lagi sebuah pukulan di terima Jimin lagi
di kepala karena ia lengah saat sedang menarik Haneul menjauh. Dua pukulan
keras di kepala, bahkan seorang Park Jimin pun tidak akan bisa berdiri tegak
lagi. Darah segar mengalir di pelipis pemuda itu.
Pukulan lain sudah nyaris mendarat
kembali di kepala Jimin ketika terdengar bunyi ribut lain dan semua berandalan,
baik dari kelompok Jimin maupun kelompok lainnya melarikan diri. Beberapa orang
berteriak mengenai polisi yang datang dan bagaimana mereka harus lari sekarang.
Haneul mengerjap-ngerjapkan matanya dengan bingung selama beberapa saat sebelum
dapat mencerna apa yang terjadi.
“Pergi.” Haneul menoleh dan melihat
Jimin sedang duduk di tanah sambil menahan aliran darah dari kepalanya dengan
tangannya. “Kau hanya akan terlibat masalah bila diam saja disini.” Kata pemuda
itu.
“Lalu bagaimana dengan dirimu?”
Jimin mendengus sebal. “Bagaimana
dengan diriku? Di tangkap polisi seperti biasa mungkin?” Jawabnya secara asal. “Memangnya
apa pedulimu?”
“Aku adalah anggota SO.”
Seakan-akan itu menjawab segalanya.
Haneul mengeluarkan ponselnya dan mulai menelepon singkat. Dalam sekejap,
sebuah mobil hitam berhenti tidak jauh dari tempat Haneul dan Jimin berdiri.
Gadis itu menunduk dan menarik tangan Jimin, memaksa pemuda itu untuk berdiri.
“Apa yang kau lak—“
“Diam saja dan cepat masuk atau polisi
akan menemukan kita.” Sergah Haneul dengan tegas. Seorang pria keluar dari
tempat duduk supir dan membantu Haneul memaksa Jimin masuk kedalam mobil hitam
itu. Segera setelah ia masuk juga dan menutup pintu, Haneul menyuruh mobil itu
segera melaju. Kemana? Tentu saja ke rumahnya.
“Yang biasa.” Kata Haneul pada seorang
butler seraya membantu Jimin turun dan berjalan ke arah ruang tamu di rumahnya
itu. Bereaksi sama dengan Jina, Jimin hanya terdiam kaget melihat rumah Haneul
yang sama sekali jauh dari kategori kecil itu. Setelah mendudukan pemuda itu di
salah satu sofa dan mendapat kotak p3knya yang biasa, gadis itu mulai memeriksa
luka di kepala Jimin.
“Tahan. Jangan seperti anak kecil.”
Gumam Haneul saat Jimin mengernyit kesakitan. Gadis itu baru saja membersihkan
luka di kepala Jimin dan sekarang hendak memperbannya. Untung saja tidak ada
luka parah di kepala pemuda itu.
“Kenapa kau merawatku?” Kata Jimin.
Haneul telah selesai mengobati lukanya dan sekarang sedang merapikan kotak
obatnya. Gadis itu memunggungi Jimin sehingga Jimin tidak bisa melihat ekspresi
wajahnya.
“Kau menerima luka pertama untukku.
Aku tidak suka berhutang budi, terutama pada seseorang seperti mu.” Kata Haneul
datar. Gadis itu berbalik dan menatap Jimin dengan ekspresi yang tidak kalah
datar dengan nada bicaranya namun entah kenapa Jimin merasa ekspresi itu
sedikit, entahlah, berbeda?
“Terserah saja. Aku tidak akan
berterima kasih.” Kata Jimin. Pemuda itu hendak berdiri namun di tahan oleh
Haneul.
“Ku minta kau hentikan tindakanmu ini.”
Kata Haneul. Jimin menatap gadis yang berdiri di hadapannya selama sejenak
sebelum menarik gadis itu hingga jatuh tertidur di sofa panjang yang ia duduki
tadi.
“Kau pikir siapa dirimu sehingga dapat
menyuruhku seperti itu?” Kata Jimin seraya memposisikan dirinya di atas tubuh
Haneul. “Urusanku, adalah urusanku sendiri.” Setelah berkata begitu, Jimin
bangkit berdiri dan meluruskan bajunya. “Sampai nanti, Ice Queen.”
Haneul memerlukan waktu beberapa saat
untuk sadar dari keterkejutannya, dan ketika ia berlari mengejar Jimin, pemuda
itu sudah berada di gerbang depan rumahnya. “Bila kukatakan itu demi adikmu,
apakah kau akan melakukannya?”
Teriakan Haneul membuat Jimin membeku
sejenak di gerbang, namun pemuda itu tidak mengatakan apa-apa dan kembali
berjalan seakan tidak terjadi apapun setelah beberapa detik, tanpa menoleh
sekalipun.
***
Park Minra berlari dari lapangan sepak
bola. Choi Minho, ketua team sepak bola memintanya untuk mencari Shin Taehyung,
ace dari team sepak bola yang sering telat mengikuti latihan itu. Kenapa Minra
yang mencarinya? Karena gadis itu adalah manajer team sepak bola tentu saja.
Daerah sekitar lapangan, kantin dan
seluruh lantai satu di kampus mereka sudah di cari Minra namun Shin Taehyung
tidak terlihat sama sekali. Tepat ketika gadis itu mulai frustasi, ia menabrak
seseorang karena tidak berhati-hati saat berjalan.
"Maaf!" Kata Minra dengan
terburu-buru, tanpa melihat siapa yang ia tabrak itu. Pemuda yang tadi
menabraknya menahan pundak Minra sehingga gadis itu tidak terjatuh. Minra
dengan terburu-buru menegakkan kembali badannya, sedikit canggung dengan
situasi itu.
"Minra." Betapa kagetnya
(dan leganya) Minra ketika mengetahui yang ia tabrak adalah salah satu
sahabatnya sendiri. Seorang pemuda bertubuh tegap menatapnya balik dengan
ekspresi kaget sekaligus lega karena gadis itu tidak terjatuh.
"Jin!" Kata Minra. Kim
Seokjin, atau yang biasa di panggil Jin saja, adalah teman baik Minra dan
Soojin sejak SMA. Mereka bertiga masuk ke SMA yang sama dan dengan segera
menjadi teman baik. Jin nenepuk-nepuk kepala Minra dengan lembut, seakan-akan
gadis itu adalah adiknya sendiri.
"Jangan berlari-lari atau kau
akan jatuh." Kata Jin. Gadis yang bersangkutan hanya tertawa kecil.
Sahabatnya yang satu ini memang terkenal karena sikapnya yang 'gentleman' itu.”Ngomong-ngomong
kau melihat Soojin?”
Minra tersenyum kecil. Jin memang
menyukai Soojin sejak mereka SMA dulu hanya saja Soojin kurang peka dan Jin
sendiri tidak melakukan pergerakan yang jelas. “Sayang sekali, tapi aku tidak
melihatnya.”
“Dimana ia kira-kira..” Gumam Jin
sementara Minra sudah gemas dengan tingkah kedua sahabatnya itu.
"Jin, kau melihat Taehyung
sunbae-nim?" Kata Minra, mendadak teringat tujuan utamanya berlari-lari
keliling sekolah itu. Dengan perasaan kecewa, Minra melihat Jin menggeleng
sebagai jawaban untuk pertanyaan tadi. Melihat muka sedih Minra, mau tidak mau
Jin terdorong untuk menepuk lembut kepala gadis yang sudah ia anggap sebagai
adik itu.
Tanpa sadari mereka berdua, seorang
pemuda mempercepat langkahnya mendekati mereka. Ia sudah melihat Minra dan Jin
dari kejauhan, namun ketika melihat Jin menepuk kepala Minra, pemuda itu
mempercepat langkahnya dan nyaris berlari. Mark Tuan berlarik ke sebelah Minra
dan menarik tangan gadis itu sehingga posisi mereka adalah Minra, Mark lalu
Jin.
"Mark sunbae-nim!" Pekik
Minra kaget ketika melihat siapa yang menarik tangannya tadi. Jin juga terkejut
namun tidak mengatakan apa-apa dan hanya mundur satu langkah, agar tidak
bertabrakan dengan Mark.
"Kau.." Kata Mark sambil
menunjuk Jin. Wajahnya sangar dan menakutkan sehingga baik Jin dan Minra
sedikit ketakutan. "Menjauh dari Minra."
Kedua anak yang lebih muda itu
mengerjap-ngerjapkan matanya selama beberapa saat dan pada akhirnya Minra
dengan terburu-buru menggeleng. “Bukan seperti itu!” Kata gadis itu, mengerti
maksud dari seniornya yang dengan terang-terangan memperlihatkan perasaannya
untuk Minra itu. “Jin adalah sahabatku, dan dia menyukai sahabatku yang lain!”
Sekarang giliran Minralah yang di
tatap lekat-lekat oleh kedua pemuda. Mark dengan muka terkejut dan Jin dengan
kening berkerut. “Sudah kuminta untuk jangan menceritakannya pada siapapun,
Minra.” Kata Jin.
“Maaf! Tapi jika tidak kuberi tahu,
Mark sunbae-nim akan terus salah paham!”
Mark mengalihkan pandangannya, Minra
lalu Jin lalu Minra dan kembali ke Jin. Pemuda yang lebih tua itu menepuk-nepuk
punggung Jin sambil tertawa lepas. “Ku kira kau mengejar Minra! Kau tidak akan
selamat bila hal itu benar lagipula.”
“Sunbae-nim!”
“Bercanda. Aku hanya bercanda, Minra.”
Kata Mark, masih sentengah tertawa dan menepuk kepala Minra, yang langsung di
hindari oleh gadis yang bersangkutan. “Ngomong-ngomong, namamu Jin? Seperti
nama sepupu dari salah satu temanku di SO.”
“Aku juga mempunyai sepupu di SO.”
Kata Jin sebagai jawaban. Mark mengacak-acak rambutnya, tidak percaya akan
kebetulan ini namun akhirnya ia memutuskan untuk tidak menanya lebih jauh tanpa
seijin temannya yang di SO itu. Hening. Tidak ada yang berbicara sehingga
suasana sedikit awkward sampai akhirnya Minra berdeham pelan.
“Sepertinya Soojin ada di ruang
klubnya, Jin. Bukankah tadi kau mencarinya?” Kata Minra dan Jin langsung
kembali teringat. Dengan cepat dia pamit kepada yang lain dan melesat pergi,
hilang dari pandangan.
“Kau sendiri, sedang apa?” Kata Mark
namun Minra tidak mengerti apa maksud seniornya itu. Melihat muka bingung
Minra, Mark harus menahan godaannya untuk tidak mencubit pipi gadis itu karena
ia sendiri gemas melihatnya.
“Maksudku, kenapa kau berlari-lari
seperti itu keliling sekolah?” Ujar Mark, menjelaskan pertanyaannya tadi.
Minra mengeluarkan bunyi ‘oooh’
kemudian melonjak kecil seakan-akan tersetrum listrik. Gadis itu baru saja
teringat juga akan tugasnya mencari Taehyung. Kapten team sepakbola pasti sudah
kesal karena baik Minra maupun Taehyung tidak muncul-muncul.
“Mark sunbae-nim, kau melihat Taehyung
sunbae-nim?” Pertanyaan Minra membuat kening Mark berkerut dan ekspresi
wajahnya tidak enak kembali. “Kau tahu aku manajer team sepakbola, dan sekarang
Taehyung sunbae-nim kembali melupakan bahwa ada latihan hari ini.”
Dan gantian Mark yang mengeluarkan bunyi
‘oohh’ seperti Minra tadi. “Shin Taehyung sunbae-nim itu teman Haneul bukan?
Aku sedang mencari gadis itu, ayo kita cari bersama-sama!” Setelah berkata
begitu, Mark meraih tangan Minra dan menarik gadis itu agar berjalan
bersamanya.
Minra pun menyesal karena telah
menanyakan tentang Taehyung pada seniornya itu.
***
Taehyung menatap pemuda yang memiliki
wajah yang sama dengannya itu dengan tidak percaya. Mulutnya setengah terbuka
dan pupil matanya melebar. Dongho, saudara kembarnya baru saja menceritakan
kejadian dirinya dengan seorang gadis bernama Soojin. Dan dari yang Taehyung
dengar, Dongho tertarik pada gadis ini, dan gadis ini mirip dengan Haneul.
“Kau bercanda.”
“Aku tidak bercanda.”
Taehyung melotot menatap Dongho, yang
di balas dengan tatapan yang sama persis dari pemuda itu. “Kau harus bercanda..”
Dongho mengernyit, “Kenapa harus
bercanda?!”
“Karena menurut ceritamu, kau tertarik
pada gadis yang mirip sekali dengan OH HANEUL.”
“HANYA MIRIP DAN BUKAN ASLINYA.”
Kedua ‘Pangeran Kampus’ yang saling
berteriak satu dengan yang lain pun mengundang perhatian orang-orang di sekitar
mereka di kantin yang tidak bisa di bilang sepi itu. Salah satunya adalah teman
seangkatan mereka dan juga anggota SO, Jo Kwon.
“Aduh.” Kata Jo Kwon dengan nadanya
yang khas, membuat Dongho dan Taehyung langsung menoleh dengan kaget. “Jangan
berteriak di kantin!” Seru Jo Kwon.
“Tapi kau baru saja berteriak juga.”
Kata si kembar bersamaan, membuat Jo Kwon menarik kuping mereka berdua.
“Kwonie.” Kata Taehyung sambil
memegangi kupingnya yang sakit akibat tindakan Jo Kwon tadi, “Apa kau kenal
adik kelas bernama Park Soojin?”
Dongho otomatis memukul kembarannya
dengan kesal, dan Taehyung kembali mengernyit kesakitan, hanya saja kali ini
sambil memegang lengannya yang di pukul Dongho. Pemuda itu pun memukul balik
kembarannya sebelum menoleh penuh harap kepada Jo Kwon.
"Kalian pikir aku buku murid
berjalan? Cek saja di perpustakaan!" Jawab Jo Kwon dengan sebal.
"Jangan membuat keributan lagi!"
Setelah Jo Kwon berbalik dan berjalan
pergi, Taehyung menarik kembarannya berdiri dan menyeretnya ke arah
perpustakaan. Dengan ogah-ogahan Dongho mengikuti Taehyung ke perpustakaan,
tepatmya ke bagian arsip murid. Setelah ada sekitar 20 menit mencari, akhirnya
Taehyung mendapatkan data gadis yang di maksud Dongho itu, dan pemusa yang
bersangkutan juga sudah meng-iya-kan.
"Jadi dia dari klub
Archery." Gumam Taehyung sambil memperhatikan wajah Park Soojin dengan
teliti. "Oke aku akan mengecek gadis ini dengan mata kepalaku
sendiri!" Dan Taehyung pun meloncat berdiri lalu melesat keluar
perpustakaan, mengabaikan teriakan protes Dongho dan banyak murid lainnya yang
terganggu karena tingkah bising mereka berdua di perpustakaan yang seharusnya
tenang itu.
Dan dalam kecepatan kilat, Taehyung
sudah tiba di daerah klub Archery. Pemuda itu sibuk mencari kesana kemari
dengan rusuh sendiri hingga akhirnya ia melihat gadis itu berjalan dari
kejauhan. Entah apa yang ada di dalam pikirannya, Taehyung mendekati gadis itu
dan memasang wajah sok tampan alanya, yang berhasil memikat hati gadis-gadis.
Melihat muka Taehyung yang sama persis
dengan pemuda yang membuatnya terlibat masalah beberapa hari yang lalu,
ekspresi muka Soojin 'menggelap'. Keduanya berhenti berjalan tepat ketika jarak
di antara mereka sudah cukup dekat.
"Mau apa lagi?" Kata Soojin
dengan nada pasrah. Taehyung mengangkat alisnya. Lagi? Tampaknya ia salah
mengira Taehyung adalah Dongho. "Belum cukup kau menyeretku dalam masalah
seperti waktu itu?" Lanjut gadis itu dan yap, dia mengira Taehyung adalah
Dongho.
"Aku bukan Shin Dongho."
Kata Taehyung dengan tempo yang pelan. "Namaku Shin Taehyung, saudara
kembarnya." Jeda selaam tiga detik dan Soojin langsung mengganti ekspresi
wajahnya. Dari terkejut menjadi malu. Dengan cepat ia mundur beberapa langkah
dan membungkuk.
"Taehyung sunbae-nim! Maafkan
aku!" Kata Soojin sambil membungkuk berulang kali. Taehyung hanya nyengir
dan melambaikan tangannya dengan santai, menandakan bahwa ia tidak keberatan
dengan hal itu.
"Tidak apa-apa." Kata
Taehyung. "Kalau begitu, sampai nanti!" Dan Taehyung berjalan secepat
kilat kembali ke arah perpustakaan, meninggalkan Soojin yang kebingungan
melihat seniornya yang tingkahnya tidak kalah aneh dari saudara kembarnya.
Taehyung tidak perlu jauh-jauh kembali
ke perpustakaan untuk mencari Dongho karena ia langsung menemukannya di lorong,
sedang bergumam kesal pada dirinya sendiri, menyesali kenapa dia bercerita pada
Taehyung.
Hal yang pertama di lakukan Taehyung
adalah menjitak kepala saudaranya sendiri. Dongho berteriak kesakitan dan
hendak membalas memukul Taehyung yang sayangnga berhasil di hindari oleh pemusa
itu.
"Darimananya mirip Haneul?!"
"Kau sudah bertemu dengannya?!
Dasar kau ini asih!!"
"Dia tidak mirip Haneul sama
sekali!!"
"Dia galak seperti Haneul!!"
"Tapi Haneul lebih mirip
iblis!!"
Sialnya, saat Taehyung mengatakan
kata-kata itu, Haneul berjalan mendekat dan mendengarnya. Satu jitakan keras
pun mendarat di kepala Taehyung, membuat Dongho nyengir lebar melihat akhirnga
Taehyung di jitak juga.
"Iblis, Shin Taehyung?" Kata
Haneul. "Kau bilang aku iblis?"
Alih-alih menjawab, Taehyung malah
berjalan menjauh dari Haneul sambil memegang kepalanya yang sakit akibat
jitakan itu. Haneul sudah siap memberikan jitakan lain ketika suara langkah kaki
yang mendekat mengejutkan mereka.
Mark dan Minra berjalan mendekat.
Ketika melihat Minra, Taehyung langsung mengingat tentang latihan klubnya yang
sebelumnya ia lupakan sepenuhnya. Minra hanya perlu memanggil Taehyung sekali
dan pemuda itu langsung melesat berlari ke arah lapangan, membuat Minra
menghela nafas frustasi dan berlari mengejar Taehyung.
Mark menatap Minra hingga gadis itu
hilang dari pandangan sebelum akhirnya berbicara dengan Haneul dan keduanya pun
pergi untuk mengurus kegiatan SO, meninggalkan Dongho yang masih bengong karena
runtutan kejadian yang terlalu cepat.
***TBC***
A/N : MAAFKAN AKU JINA TIDAK ADA HIKS TT__TT
CHAP BERIKUTNYA BAKAL ADA KOK #ditabok
As always, mohon maaf bila ada kesalahan *bows*
Made by : Liz
Take out with full credits
please~ ^^

0 komentar:
Posting Komentar