Rabu, 17 September 2014

You're My : Chapter 3

Disclaimer    : BTS and all Kpop artists are not mine. Jimin will be soon though (lol kidding).
OC belongs to their rightful owner, while the plot is mine.

Genre       : Romance, Friendship, Comedy, Fluff

"You’re My"
Chapter 3 : My Impression On You


Oh Haneul menghela nafas panjang. Rapat SO selalu melelahkan, terutama bila membahas masalah Park Jimin dan kelompoknya yang tidak pernah berakhir. Kelompok dengan anggota utama berjumlah tujuh orang itu nyaris adu hantam dengan berandalan yang entah berasal dari mana di daerah kampus beberapa hari yang lalu.

Haneul memijat-mijat pelipis kepalanya sambil berjalan melintasi koridor di kampusnya. Rapat SO sudah selesai dan dia sudah tidak ada kelas untuk hari ini sehingga ia memutuskan untuk pulang cepat. Di tambah karena kepalanya pusing akibat stress, lebih baik jika pulang dan beristirahat di rumah bukan?

"Haneul!"

Ketika Haneul menoleh, seorang pemuda berlari ke arahnya. Dari mukanya, ia tampak senang sekali. Walau terengah-engah karena habis berlari, cengirannya tetap lebar di wajahnya. Haneul mengenal pemuda itu. Ia adalah Elison Kim, mahasiswa tahun keempat, ketua dari team basket yang Haneul urus sebagai anggota SO bagian basket.

"Selamat atas kemenangan kalian di semifinal." Kata Haneul seraya tersenyum. Team basket kampus mereka baru saja berhasil masuk ke final di turnamen di provinsi mereka dan secara otomatis nanti mereka akan masuk ke pertandingan nasional.

Elison, atau yang biasa di panggil Eli tersenyum puas. "Terima kasih! Tapi bukan itu maksudku saat memanggilmu tadi.." Ujarnya, membuat Haneul sekarang menatap pemuda itu dengan bingung sekaligus penasaran.

“Well sebenarnya aku ingin meminta bantuanmu.” Kata Eli. “Manajer kami tidak bisa hadir saat final nanti dan bisakah kau menggantikannya?" Dan pemuda itu tidak membiarkan Haneul pergi sampai gadis yang bersangkutan bersedia menjadi manajer mereka. Eli pun pergi dengan cengiran sementara Haneul hanya bisa mengernyit saja.

Hari yang di tunggu-tunggu pun tiba. Haneul melangkah masuk ke daerah stadion sambil mengecek jam tangannya sehingga ia tidak melihat kemana ia berjalan. Gadis itu berhenti tepat pada waktunya sebelum menabrak seseorang.

"Whoa. Ice Queen. Berhati-hatilah saat berjalan."

Haneul menoleh dan menatap muka Suga yang tersenyum menyebalkan. Baru saja Haneul hendak membalas sapaan pemuda itu dengan sinis ketika Eli mendekati mereka berdua.

"Haneul! Kau datang!!" Seru Eli dengan bersemangat. Beberapa anggota team basketball lainnya pun mencuri-curi pandang dengan penasaran namun tidak berani mendekat karena kehadiran Suga.

Suga menatap Eli dengan pandangan menuntut penjelasan, namun Eli mengabaikannya dan menarik Haneul mendekat ke arah anggota team basket lainnya. Mau tidak mau Suga mengikuti mereka berdua.

"Seperti yang pernah kukatakan di pertemuan terakhir kita, gadis ini akan menjadi manajer sehari kita." Kata Eli seraya menepuk-nepuk punggung Haneul dengan riang.

"Oh Haneul. Tahun kedua." Kata Haneul sambil memberi lirikan kesal pada Eli. "Jangan sungkan meminta bantuan padaku hari ini."

"Bagus! Ayo, kita harus bersiap-siap masuk." Setelah berkata begitu, Eli memimpin rombongan masuk ke dalam stadion. Haneul sudah hendak berjalan di antara rombongan ketika tangannya di tahan oleh Suga, membuat dirinya terpaksa berjalan di belakang bersama pemuda itu.

"Ku kira kau tidak pernah ikut acara team." Kata Haneul. Ia sudah tahu bahwa Suga adalah anggota team basket, namun menurut laporan, pemuda itu tidak pernah masuk sekalipun pada saat latihan. Betapa kagetnya Haneul ketika ia melihat pemuda berambut merah itu muncul disini.

"Aku tidak pernah ikut latihan, memang." Kata Suga. Ia berjalan sambil memainkan bola basket di tangannya. "Tapi team basket tidak akan bisa mencapai sejauh ini tanpaku." Lanjutnya, membuat Haneul mendengus kesal, tidak percaya akan kata-kata Suga.

"Kau tidak percaya?"

"Tidak sedikitpun."

Suga kemudian nyengir lebar dan menghentikan jalan Haneul dengan berdiri di depannya. "Kalau begitu akan kuperlihatkan di pertandingan ini. Jangan sampai kau 'jatuh' padaku, Ice Queen." Dan setelah berkata begitu, Suga berjalan meninggalkan Haneul di belakangnya.

Stadion basket sudah di penuhi penonton yang ingin menonton final, termasuk diantaranya adalah Dongho dan Taehyung yang datang karena ingin melihat Haneul. Dan diantara kerumunan, kehadiran kelompok Park Jimin sangat mencolok karena daerah di sekitar mereka sepi, tidak ada seorang pun yang berani mendekat. Dongho dan Taehyung juga melihat hal itu.

"Kau benar-benar nyaris mati saat itu." Kata Taehyung. Dongho telah menceritakan pengalamannya setelah melakukan hukuman dari Taehyung dan Haneul pada kembarannya itu. Dongho hanya mengangguk dan tidak berani memandang ke arah kerumunan pria berekspresi seram itu sama sekali.

Ejekan Taehyung untuk sikap Dongho saat itu di hentikan oleh munculnya kedua team basket. Kedua team tersebut berjalan memasuki lapangan dan segera melakukan pemanasan. Seakan-akan melupakan ketakutannya, Dongho berdiri dan melambai riang dan rusuh ke arah Haneul. Tentu saja Taehyung melakukan hal yang sama.

"Mereka fansmu?" Kata Suga sambil melakukan stretching di dekat Haneul. Kelakuan si kembar yang membuat malu itu sudah di lihat seluruh stadion dan Haneul sudah mengabaikan mereka berdua sejak awal dia menyadari mereka. Mendengar kata-kata Suga, Haneul mengernyit dan menggeleng.

"Shin Dongho dan Shin Taehyung, teman masa kecilku." Jawab Haneul singkat. "Namun saat ini aku tidak mengenal mereka berdua." Suga tertawa mendengar hal itu namun tidak berkomentar apapun.

"Itu sang Ice Queen bukan?" Pemuda di sebelah kanan Jimin memicingkan mata dan mengawasi Haneul dengan lekat-lekat. Kata-kata pemuda itu membuat Jimin ikut mengawasi gerak-gerik Haneul di antara anggota team basket. Dari atas tampak jelas sekali bahwa Suga dan Haneul tidak pernah terlalu jauh, karena Suga terus menerus mengganggu kegiatan gadis itu.

“Yoongi menyukainya?” Ujar pemuda yang duduk di belakang Jimin sambil berpangku tangan. “Jika benar ia menyukainya, ia akan membuat kita terlihat lemah. Menyukai gadis yang berani menentang kita.” Kata-kata pemuda itu di ikuti gumaman setuju dari anggota yang lain, sementara sang ketua hanya terus menatap Suga dan Haneul.

“Tenang saja. Ku pastikan kita tidak akan terlihat lemah hanya karena gadis itu.” Kata Jimin, yang membuat seluruh pemuda yang mengelilinginya bersorak riang.

Tidak lama kemudian, pertandingan basket pun di mulai dan pertandingan berjalan sepihak yang menguntungkan team lawan. Sejak awal pertandingan, pelatih team basket tidak mengijinkan Suga bermain dan berkata bahwa itu adalah ‘hukuman karena sering membolos latihan.’

“Mereka akan memasukanku kedalam pertandingan sebentar lagi.” Kata Suga dengan santai setelah ia berhasil memaksa orang yang duduk di sebelah Haneul pindah. Haneul, yang sudah lelah dengan sikap Suga sepanjang hari itu, hanya mendengus meremehkan dan terus memperhatikan pertandingan selayaknya manager yang baik.

Perkiraan pemuda berambut merah itu memang benar, tidak lama kemudian akhirnya ia diminta masuk kedalam pertandingan dan hal itu langsung mengubah alur pertandingan. Baru saja Suga bermain sebentar, semua orang bisa memastikan kemenangan mereka. Peluit tanda selesai pun dibunyikan, dan sorakan kemenangan pun terdengar.

“Sudah kubilang kan?” Kata Suga setelah menerima handuk dari Haneul. Pemuda itu mengedipkan matanya dan berjalan melewati gadis itu dengan gaya yang sok. Tentu saja Haneul hanya mengernyit dan tidak mempedulikan pemuda itu lebih jauh lagi. Team basket memutuskan untuk mereview ulang pertandingan mereka di kampus sehingga dengan cepat mereka kembali ke kampus. Tanpa Suga tentu saja, pemuda itu langsung menghilang setelah berganti baju dan mengambil barang-barangnya.

Haneul sendiri masih tinggal di stadion untuk mengecek ulang apakah ada barang-barang yang tertinggal oleh team mereka. Taehyung dan Dongho sudah pulang terlebih dahulu karena ada acara bersama ayah mereka. Stadion sudah sepi ketika akhirnya gadis itu mengambil tasnya dan berjalan keluar. Sayup-sayup dari arah pintu terdengar bunyi ribut. Dan semakin dekat ia dengan pintu depan, suara ribut mulai semakin terdengar dengan jelas. Panik karena tampaknya itu seperti suara orang berantem, Haneul berlari menuju sumber suara.

Dan benar apa yang gadis itu bayangkan, bahkan lebih parah. Park Jimin dan kelompoknya melawan berandal-berandal entah berasal darimana. Dengan berani, melupakan bahwa ia hanya seorang gadis saja, Haneul melangkah maju dan mengeraskan suaranya.

“Hentikan! Apa yang kalian pikir kalian lakukan! Hey hentikan!” Teriak Haneul dengan keras. Ia mencoba menarik tangan salah satu anggota Park Jimin namun justru ia yang akhirnya di tarik dengan paksa menjauh dari kerumunan. Sebuah lengan melingkar di pinggangnya dan memaksanya berjalan pergi, walau tidak jauh.

“Gadis gila.” Haneul menoleh dan melihat Jimin masih belum melepaskan pegangannya pada pinggangnya. “Pulang. Ini bukan urusanmu.” Kata Jimin sambil melepaskan Haneul dan mendorong gadis itu.

“Bukan urusanku? Kalian membuat SO kalang kabut pusing karena tindakan kalian!!” Protes Haneul yang kemudian berjalan melewati Jimin menuju kerumunan lagi. Bergumam kesal namun tidak bisa melakukan hal lain selain mengikuti Haneul, Jimin berlari dan menarik pundak Haneul. Sebelum bisa berbicara apapun, pemuda itu melihat kayu terangkat dan siap memukul gadis yang berada di depannya ini. Karena reflek atau entah karena apa, Jimin menarik Haneul dan memposisikan dirinya di depan gadis itu. Otomatis pukulan yang harusnya mengenai Haneul, diterima oleh Jimin tepat di kepala.

“Sial.” Setelah mengumpat, Jimin berbalik dan memukul jatuh orang yang tadi memukulnya dengan kayu. Haneul sendiri hanya bisa menatap terkejut melihat tindakan Jimin yang tidak disangka itu. Pemuda itu kembali memukul berandalan lainnya dan mengabaikan Haneul selama sesaat.

"Kemari kau." Kata pemuda itu akhirnya sambil menarik tangan Haneul dengan keras dan menyeret gadis itu menjauh dari kerumunan. Namun sekali lagi sebuah pukulan di terima Jimin lagi di kepala karena ia lengah saat sedang menarik Haneul menjauh. Dua pukulan keras di kepala, bahkan seorang Park Jimin pun tidak akan bisa berdiri tegak lagi. Darah segar mengalir di pelipis pemuda itu.

Pukulan lain sudah nyaris mendarat kembali di kepala Jimin ketika terdengar bunyi ribut lain dan semua berandalan, baik dari kelompok Jimin maupun kelompok lainnya melarikan diri. Beberapa orang berteriak mengenai polisi yang datang dan bagaimana mereka harus lari sekarang. Haneul mengerjap-ngerjapkan matanya dengan bingung selama beberapa saat sebelum dapat mencerna apa yang terjadi.

“Pergi.” Haneul menoleh dan melihat Jimin sedang duduk di tanah sambil menahan aliran darah dari kepalanya dengan tangannya. “Kau hanya akan terlibat masalah bila diam saja disini.” Kata pemuda itu.

“Lalu bagaimana dengan dirimu?”

Jimin mendengus sebal. “Bagaimana dengan diriku? Di tangkap polisi seperti biasa mungkin?” Jawabnya secara asal. “Memangnya apa pedulimu?”

“Aku adalah anggota SO.”

Seakan-akan itu menjawab segalanya. Haneul mengeluarkan ponselnya dan mulai menelepon singkat. Dalam sekejap, sebuah mobil hitam berhenti tidak jauh dari tempat Haneul dan Jimin berdiri. Gadis itu menunduk dan menarik tangan Jimin, memaksa pemuda itu untuk berdiri.

“Apa yang kau lak—“

“Diam saja dan cepat masuk atau polisi akan menemukan kita.” Sergah Haneul dengan tegas. Seorang pria keluar dari tempat duduk supir dan membantu Haneul memaksa Jimin masuk kedalam mobil hitam itu. Segera setelah ia masuk juga dan menutup pintu, Haneul menyuruh mobil itu segera melaju. Kemana? Tentu saja ke rumahnya.

“Yang biasa.” Kata Haneul pada seorang butler seraya membantu Jimin turun dan berjalan ke arah ruang tamu di rumahnya itu. Bereaksi sama dengan Jina, Jimin hanya terdiam kaget melihat rumah Haneul yang sama sekali jauh dari kategori kecil itu. Setelah mendudukan pemuda itu di salah satu sofa dan mendapat kotak p3knya yang biasa, gadis itu mulai memeriksa luka di kepala Jimin.

“Tahan. Jangan seperti anak kecil.” Gumam Haneul saat Jimin mengernyit kesakitan. Gadis itu baru saja membersihkan luka di kepala Jimin dan sekarang hendak memperbannya. Untung saja tidak ada luka parah di kepala pemuda itu.

“Kenapa kau merawatku?” Kata Jimin. Haneul telah selesai mengobati lukanya dan sekarang sedang merapikan kotak obatnya. Gadis itu memunggungi Jimin sehingga Jimin tidak bisa melihat ekspresi wajahnya.

“Kau menerima luka pertama untukku. Aku tidak suka berhutang budi, terutama pada seseorang seperti mu.” Kata Haneul datar. Gadis itu berbalik dan menatap Jimin dengan ekspresi yang tidak kalah datar dengan nada bicaranya namun entah kenapa Jimin merasa ekspresi itu sedikit, entahlah, berbeda?

“Terserah saja. Aku tidak akan berterima kasih.” Kata Jimin. Pemuda itu hendak berdiri namun di tahan oleh Haneul.

“Ku minta kau hentikan tindakanmu ini.” Kata Haneul. Jimin menatap gadis yang berdiri di hadapannya selama sejenak sebelum menarik gadis itu hingga jatuh tertidur di sofa panjang yang ia duduki tadi.

“Kau pikir siapa dirimu sehingga dapat menyuruhku seperti itu?” Kata Jimin seraya memposisikan dirinya di atas tubuh Haneul. “Urusanku, adalah urusanku sendiri.” Setelah berkata begitu, Jimin bangkit berdiri dan meluruskan bajunya. “Sampai nanti, Ice Queen.”

Haneul memerlukan waktu beberapa saat untuk sadar dari keterkejutannya, dan ketika ia berlari mengejar Jimin, pemuda itu sudah berada di gerbang depan rumahnya. “Bila kukatakan itu demi adikmu, apakah kau akan melakukannya?”

Teriakan Haneul membuat Jimin membeku sejenak di gerbang, namun pemuda itu tidak mengatakan apa-apa dan kembali berjalan seakan tidak terjadi apapun setelah beberapa detik, tanpa menoleh sekalipun.

***

Park Minra berlari dari lapangan sepak bola. Choi Minho, ketua team sepak bola memintanya untuk mencari Shin Taehyung, ace dari team sepak bola yang sering telat mengikuti latihan itu. Kenapa Minra yang mencarinya? Karena gadis itu adalah manajer team sepak bola tentu saja.

Daerah sekitar lapangan, kantin dan seluruh lantai satu di kampus mereka sudah di cari Minra namun Shin Taehyung tidak terlihat sama sekali. Tepat ketika gadis itu mulai frustasi, ia menabrak seseorang karena tidak berhati-hati saat berjalan.

"Maaf!" Kata Minra dengan terburu-buru, tanpa melihat siapa yang ia tabrak itu. Pemuda yang tadi menabraknya menahan pundak Minra sehingga gadis itu tidak terjatuh. Minra dengan terburu-buru menegakkan kembali badannya, sedikit canggung dengan situasi itu.

"Minra." Betapa kagetnya (dan leganya) Minra ketika mengetahui yang ia tabrak adalah salah satu sahabatnya sendiri. Seorang pemuda bertubuh tegap menatapnya balik dengan ekspresi kaget sekaligus lega karena gadis itu tidak terjatuh.

"Jin!" Kata Minra. Kim Seokjin, atau yang biasa di panggil Jin saja, adalah teman baik Minra dan Soojin sejak SMA. Mereka bertiga masuk ke SMA yang sama dan dengan segera menjadi teman baik. Jin nenepuk-nepuk kepala Minra dengan lembut, seakan-akan gadis itu adalah adiknya sendiri.

"Jangan berlari-lari atau kau akan jatuh." Kata Jin. Gadis yang bersangkutan hanya tertawa kecil. Sahabatnya yang satu ini memang terkenal karena sikapnya yang 'gentleman' itu.”Ngomong-ngomong kau melihat Soojin?”

Minra tersenyum kecil. Jin memang menyukai Soojin sejak mereka SMA dulu hanya saja Soojin kurang peka dan Jin sendiri tidak melakukan pergerakan yang jelas. “Sayang sekali, tapi aku tidak melihatnya.”

“Dimana ia kira-kira..” Gumam Jin sementara Minra sudah gemas dengan tingkah kedua sahabatnya itu.

"Jin, kau melihat Taehyung sunbae-nim?" Kata Minra, mendadak teringat tujuan utamanya berlari-lari keliling sekolah itu. Dengan perasaan kecewa, Minra melihat Jin menggeleng sebagai jawaban untuk pertanyaan tadi. Melihat muka sedih Minra, mau tidak mau Jin terdorong untuk menepuk lembut kepala gadis yang sudah ia anggap sebagai adik itu.

Tanpa sadari mereka berdua, seorang pemuda mempercepat langkahnya mendekati mereka. Ia sudah melihat Minra dan Jin dari kejauhan, namun ketika melihat Jin menepuk kepala Minra, pemuda itu mempercepat langkahnya dan nyaris berlari. Mark Tuan berlarik ke sebelah Minra dan menarik tangan gadis itu sehingga posisi mereka adalah Minra, Mark lalu Jin.

"Mark sunbae-nim!" Pekik Minra kaget ketika melihat siapa yang menarik tangannya tadi. Jin juga terkejut namun tidak mengatakan apa-apa dan hanya mundur satu langkah, agar tidak bertabrakan dengan Mark.

"Kau.." Kata Mark sambil menunjuk Jin. Wajahnya sangar dan menakutkan sehingga baik Jin dan Minra sedikit ketakutan. "Menjauh dari Minra."

Kedua anak yang lebih muda itu mengerjap-ngerjapkan matanya selama beberapa saat dan pada akhirnya Minra dengan terburu-buru menggeleng. “Bukan seperti itu!” Kata gadis itu, mengerti maksud dari seniornya yang dengan terang-terangan memperlihatkan perasaannya untuk Minra itu. “Jin adalah sahabatku, dan dia menyukai sahabatku yang lain!”

Sekarang giliran Minralah yang di tatap lekat-lekat oleh kedua pemuda. Mark dengan muka terkejut dan Jin dengan kening berkerut. “Sudah kuminta untuk jangan menceritakannya pada siapapun, Minra.” Kata Jin.

“Maaf! Tapi jika tidak kuberi tahu, Mark sunbae-nim akan terus salah paham!”

Mark mengalihkan pandangannya, Minra lalu Jin lalu Minra dan kembali ke Jin. Pemuda yang lebih tua itu menepuk-nepuk punggung Jin sambil tertawa lepas. “Ku kira kau mengejar Minra! Kau tidak akan selamat bila hal itu benar lagipula.”

“Sunbae-nim!”

“Bercanda. Aku hanya bercanda, Minra.” Kata Mark, masih sentengah tertawa dan menepuk kepala Minra, yang langsung di hindari oleh gadis yang bersangkutan. “Ngomong-ngomong, namamu Jin? Seperti nama sepupu dari salah satu temanku di SO.”

“Aku juga mempunyai sepupu di SO.” Kata Jin sebagai jawaban. Mark mengacak-acak rambutnya, tidak percaya akan kebetulan ini namun akhirnya ia memutuskan untuk tidak menanya lebih jauh tanpa seijin temannya yang di SO itu. Hening. Tidak ada yang berbicara sehingga suasana sedikit awkward sampai akhirnya Minra berdeham pelan.

“Sepertinya Soojin ada di ruang klubnya, Jin. Bukankah tadi kau mencarinya?” Kata Minra dan Jin langsung kembali teringat. Dengan cepat dia pamit kepada yang lain dan melesat pergi, hilang dari pandangan.

“Kau sendiri, sedang apa?” Kata Mark namun Minra tidak mengerti apa maksud seniornya itu. Melihat muka bingung Minra, Mark harus menahan godaannya untuk tidak mencubit pipi gadis itu karena ia sendiri gemas melihatnya.

“Maksudku, kenapa kau berlari-lari seperti itu keliling sekolah?” Ujar Mark, menjelaskan pertanyaannya tadi.

Minra mengeluarkan bunyi ‘oooh’ kemudian melonjak kecil seakan-akan tersetrum listrik. Gadis itu baru saja teringat juga akan tugasnya mencari Taehyung. Kapten team sepakbola pasti sudah kesal karena baik Minra maupun Taehyung tidak muncul-muncul.

“Mark sunbae-nim, kau melihat Taehyung sunbae-nim?” Pertanyaan Minra membuat kening Mark berkerut dan ekspresi wajahnya tidak enak kembali. “Kau tahu aku manajer team sepakbola, dan sekarang Taehyung sunbae-nim kembali melupakan bahwa ada latihan hari ini.”

Dan gantian Mark yang mengeluarkan bunyi ‘oohh’ seperti Minra tadi. “Shin Taehyung sunbae-nim itu teman Haneul bukan? Aku sedang mencari gadis itu, ayo kita cari bersama-sama!” Setelah berkata begitu, Mark meraih tangan Minra dan menarik gadis itu agar berjalan bersamanya.

Minra pun menyesal karena telah menanyakan tentang Taehyung pada seniornya itu.

***

Taehyung menatap pemuda yang memiliki wajah yang sama dengannya itu dengan tidak percaya. Mulutnya setengah terbuka dan pupil matanya melebar. Dongho, saudara kembarnya baru saja menceritakan kejadian dirinya dengan seorang gadis bernama Soojin. Dan dari yang Taehyung dengar, Dongho tertarik pada gadis ini, dan gadis ini mirip dengan Haneul.

“Kau bercanda.”

“Aku tidak bercanda.”

Taehyung melotot menatap Dongho, yang di balas dengan tatapan yang sama persis dari pemuda itu. “Kau harus bercanda..”

Dongho mengernyit, “Kenapa harus bercanda?!”

“Karena menurut ceritamu, kau tertarik pada gadis yang mirip sekali dengan OH HANEUL.”

“HANYA MIRIP DAN BUKAN ASLINYA.”

Kedua ‘Pangeran Kampus’ yang saling berteriak satu dengan yang lain pun mengundang perhatian orang-orang di sekitar mereka di kantin yang tidak bisa di bilang sepi itu. Salah satunya adalah teman seangkatan mereka dan juga anggota SO, Jo Kwon.

“Aduh.” Kata Jo Kwon dengan nadanya yang khas, membuat Dongho dan Taehyung langsung menoleh dengan kaget. “Jangan berteriak di kantin!” Seru Jo Kwon.

“Tapi kau baru saja berteriak juga.” Kata si kembar bersamaan, membuat Jo Kwon menarik kuping mereka berdua.

“Kwonie.” Kata Taehyung sambil memegangi kupingnya yang sakit akibat tindakan Jo Kwon tadi, “Apa kau kenal adik kelas bernama Park Soojin?”

Dongho otomatis memukul kembarannya dengan kesal, dan Taehyung kembali mengernyit kesakitan, hanya saja kali ini sambil memegang lengannya yang di pukul Dongho. Pemuda itu pun memukul balik kembarannya sebelum menoleh penuh harap kepada Jo Kwon.

"Kalian pikir aku buku murid berjalan? Cek saja di perpustakaan!" Jawab Jo Kwon dengan sebal. "Jangan membuat keributan lagi!"

Setelah Jo Kwon berbalik dan berjalan pergi, Taehyung menarik kembarannya berdiri dan menyeretnya ke arah perpustakaan. Dengan ogah-ogahan Dongho mengikuti Taehyung ke perpustakaan, tepatmya ke bagian arsip murid. Setelah ada sekitar 20 menit mencari, akhirnya Taehyung mendapatkan data gadis yang di maksud Dongho itu, dan pemusa yang bersangkutan juga sudah meng-iya-kan.

"Jadi dia dari klub Archery." Gumam Taehyung sambil memperhatikan wajah Park Soojin dengan teliti. "Oke aku akan mengecek gadis ini dengan mata kepalaku sendiri!" Dan Taehyung pun meloncat berdiri lalu melesat keluar perpustakaan, mengabaikan teriakan protes Dongho dan banyak murid lainnya yang terganggu karena tingkah bising mereka berdua di perpustakaan yang seharusnya tenang itu.

Dan dalam kecepatan kilat, Taehyung sudah tiba di daerah klub Archery. Pemuda itu sibuk mencari kesana kemari dengan rusuh sendiri hingga akhirnya ia melihat gadis itu berjalan dari kejauhan. Entah apa yang ada di dalam pikirannya, Taehyung mendekati gadis itu dan memasang wajah sok tampan alanya, yang berhasil memikat hati gadis-gadis.

Melihat muka Taehyung yang sama persis dengan pemuda yang membuatnya terlibat masalah beberapa hari yang lalu, ekspresi muka Soojin 'menggelap'. Keduanya berhenti berjalan tepat ketika jarak di antara mereka sudah cukup dekat.

"Mau apa lagi?" Kata Soojin dengan nada pasrah. Taehyung mengangkat alisnya. Lagi? Tampaknya ia salah mengira Taehyung adalah Dongho. "Belum cukup kau menyeretku dalam masalah seperti waktu itu?" Lanjut gadis itu dan yap, dia mengira Taehyung adalah Dongho.

"Aku bukan Shin Dongho." Kata Taehyung dengan tempo yang pelan. "Namaku Shin Taehyung, saudara kembarnya." Jeda selaam tiga detik dan Soojin langsung mengganti ekspresi wajahnya. Dari terkejut menjadi malu. Dengan cepat ia mundur beberapa langkah dan membungkuk.

"Taehyung sunbae-nim! Maafkan aku!" Kata Soojin sambil membungkuk berulang kali. Taehyung hanya nyengir dan melambaikan tangannya dengan santai, menandakan bahwa ia tidak keberatan dengan hal itu.

"Tidak apa-apa." Kata Taehyung. "Kalau begitu, sampai nanti!" Dan Taehyung berjalan secepat kilat kembali ke arah perpustakaan, meninggalkan Soojin yang kebingungan melihat seniornya yang tingkahnya tidak kalah aneh dari saudara kembarnya.

Taehyung tidak perlu jauh-jauh kembali ke perpustakaan untuk mencari Dongho karena ia langsung menemukannya di lorong, sedang bergumam kesal pada dirinya sendiri, menyesali kenapa dia bercerita pada Taehyung.

Hal yang pertama di lakukan Taehyung adalah menjitak kepala saudaranya sendiri. Dongho berteriak kesakitan dan hendak membalas memukul Taehyung yang sayangnga berhasil di hindari oleh pemusa itu.

"Darimananya mirip Haneul?!"

"Kau sudah bertemu dengannya?! Dasar kau ini asih!!"

"Dia tidak mirip Haneul sama sekali!!"

"Dia galak seperti Haneul!!"

"Tapi Haneul lebih mirip iblis!!"

Sialnya, saat Taehyung mengatakan kata-kata itu, Haneul berjalan mendekat dan mendengarnya. Satu jitakan keras pun mendarat di kepala Taehyung, membuat Dongho nyengir lebar melihat akhirnga Taehyung di jitak juga.

"Iblis, Shin Taehyung?" Kata Haneul. "Kau bilang aku iblis?"

Alih-alih menjawab, Taehyung malah berjalan menjauh dari Haneul sambil memegang kepalanya yang sakit akibat jitakan itu. Haneul sudah siap memberikan jitakan lain ketika suara langkah kaki yang mendekat mengejutkan mereka.

Mark dan Minra berjalan mendekat. Ketika melihat Minra, Taehyung langsung mengingat tentang latihan klubnya yang sebelumnya ia lupakan sepenuhnya. Minra hanya perlu memanggil Taehyung sekali dan pemuda itu langsung melesat berlari ke arah lapangan, membuat Minra menghela nafas frustasi dan berlari mengejar Taehyung.

Mark menatap Minra hingga gadis itu hilang dari pandangan sebelum akhirnya berbicara dengan Haneul dan keduanya pun pergi untuk mengurus kegiatan SO, meninggalkan Dongho yang masih bengong karena runtutan kejadian yang terlalu cepat.

***TBC***

A/N : MAAFKAN AKU JINA TIDAK ADA HIKS TT__TT
CHAP BERIKUTNYA BAKAL ADA KOK #ditabok
As always, mohon maaf bila ada kesalahan *bows*

Made by : Liz
Take out with full credits please~ ^^

0 komentar:

Posting Komentar