Pairing : Jung Taekwoon (VIXX) x Park Haneul (OC)
Rate : R
Words : 2,331
Disclaimer : I do not own Taekwoon, or Wonsik, or any VIXX member, and the universe was based on X-Men by Stan Lee.
This is a side story for my story on wattpad, titled 'Limerence'.
Enjoy~
-----
“Kau bertindak gegabah.”
Jung Taekwoon terkekeh ketika melihat pacarnya sendiri mengomel di sisi kasurnya. Harus ia akui, ia memang bertindak berlebihan tadi. Tapi siapa yang tidak tahan ketika harus melihat gadisnya sendiri diserang oleh banyak orang sekaligus? Mishil semakin gigih dalam mencari mutan baru, dan hal itu menyusahkan Haneul dan Taekwoon yang bertugas menjemput mutan baru. Wonsik sudah bergerak sendiri sekarang, namun kepala sekolah bersikeras menyuruh Haneul setidaknya didampingi oleh Taekwoon; bukan hal yang akan diprotes oleh keduanya.
Tangan gadis itu terasa hangat dan nyaman di tangannya sendiri. Jemari mereka saling terkait, sementara Taekwoon sendiri berbaring di kasurnya. Setelah nyaris dua tahun ia tidak mendapatkan serangan lagi, kali ini suhu tubuh Taekwoon kembali turun. Emosinya memang jauh lebih stabil sekarang, dan kekuatannya juga terkendali. Namun karena ia baru saja menggunakannya dengan sedikit berlebihan, efek samping penyakitnya kembali muncul.
“Jangan buat dirimu sakit juga.”
Haneul mendelik ke arahnya. “Aku hanya akan kelelahan, sementara kau demam. Kurasa sudah jelas yang mana yang harus dipilih bukan?”
“Tapi aku baik-baik saja, setidaknya tidak separah dulu,” Balas Taekwoon. Memang badannya terasa lebih dingin, tapi hal tersebut tidak sampai membuatnya tidak sadarkan diri. Kehadiran Haneul disisinya juga membuat perasaannya lebih baik. Mereka baru saja melewati batas tiga bulan sejak resmi berpacaran, namun kadang Taekwoon masih tidak percaya bahwa gadis itu adalah miliknya sekarang.
Tangannya yang tidak sedang digenggam oleh Haneul meraih helaian rambut gadis itu. Hari sudah malam dan penghuni Kyubok sudah kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat. Tapi Haneul di sini, di kamarnya, menemani Taekwoon. Perlahan tangannya berpindah tempat ke sisi wajah sang gadis, lalu menariknya mendekat dengan lembut.
Bibir mereka bertemu dalam ciuman manis. Walaupun Taekwoon sudah sering mencium Haneul, tetap saja rasanya tidak cukup. Ia ingin memeluk gadis itu, mendekapnya dengan erat setiap saat. Taekwoon mengangkat badannya sedikit, menopangnya dengan sikunya, hanya untuk memperdalam ciuman mereka.
Pada akhirnya mereka harus memutus ciuman mereka karena kehabisan oksigen. Rona merah dapat terlihat di pipi Haneul walau ruangan itu cukup gelap saat ini. Selama beberapa saat mereka hanya berdiam di posisi itu, cukup dekat untuk memperhatikan wajah masing-masing dengan jelas, seakan-akan keduanya tidak mau saling menarik diri dari satu dengan yang lain.
“Boleh aku ikut berbaring?”
Pertanyaan Haneul jelas membuat pacarnya terkejut, tapi Taekwoon jelas tidak akan menolak permintaan gadis itu. Ia menggeser tubuhnya, memberikan tempat untuk Haneul berbaring disebelahnya. Salah satu lengan Taekwoon diletakan untuk menjadi bantalan kepala Haneul, sementara tangannya yang lain mendekap gadis itu dengan erat. Hangat, tapi di sisi lain Taekwoon juga khawatir suhu tubuhnya malah akan mempengaruhi Haneul.
“Kau tidak apa-apa?” Tanya Taekwoon, “Kau tidak kedingingan kan?” Lanjutnya ketika Haneul hanya memberikan tatapan heran padanya.
“Aku baik-baik saja,” Jawab Haneul. Senyuman yang mengembang di wajah sang gadis membuat Taekwoon kembali mendekatkan wajahnya, melumat bibir Haneul sekali lagi. Begitu dekat seperti ini membuat pemuda itu nyaris kehilangan kendali. Dengan tenaga yang seakan-akan kembali begitu saja, Taekwoon perlahan merubah posisinya hingga berada tepat di atas Haneul tanpa melepas ciuman mereka. Walaupun akhirnya ia melepaskan bibir Haneul karena kembali kekurangan oksigen, Taekwoon memindahkan bibirnya ke leher Haneul, menelusuri leher jenjang milik gadis itu. Ia bisa merasakan kedua tangan gadis itu berada di pundaknya saat ini. Tidak mendorongnya, hanya menyentuhnya dengan lembut.
Haneul mencengkram pundak Taekwoon sedikit lebih keras ketika pemuda itu meninggalkan ciuman-ciuman tak berbekas di lehernya. Nafasnya mulai bertambah berat, terutama ketika merasakan jemari Taekwoon menyusup ke dalam bajunya. Setiap sentuhannya terasa dingin di kulit, namun memberikan sensasi yang panas bagi Haneul. Badannya menggeliat, merespon tindakan Taekwoon.
Satu persatu kancing baju Haneul terlepas, dan ciuman kembali turun ke bawah. Taekwoon menelusuri lekuk tubuh gadisnya, menghujaninya dengan ciuman mesra. Jarinya terkait pada celana Haneul, menariknya turun. Gadis itu hanya mengenakan pakaian dalamnya saat ini, dan hal itu membuat rona merah muncul baik di pipi Haneul maupun pipi Taekwoon.
Sudut mata Taekwoon melihat bahwa gadis itu menggigil sedikit, dan kenyataan kembali menariknya. Ia adalah sang manusia es. Sentuhan langsung dengan kulitnya dapat memberikan sensasi dingin, walau memang sudah bisa mengendalikannya sedikit. Namun tetap saja, terlalu banyak kulit yang terekspos hanya akan memperbesar kesempatan. Dan Taekwoon sama sekali tidak mau menyakiti Haneul.
Maka pemuda itu menghentikan segala kegiatannya dan menegakkan tubuh, menarik dirinya dari Haneul. Ia tidak boleh menyentuhnya seperti ini hingga ia benar-benar dapat memblokir kekuatannya keluar dari kulitnya. Entah berapa lama waktu yang ia perlukan untuk melakukan hal itu.
“Taekwoon?”
Bingung dengan kelakuan pacarnya, Haneul ikut terduduk dan menatap Taekwoon dengan bingung. Pemuda itu tidak melakukan apapun selama beberapa saat. Mata hitamnya terpaku pada tangannya sendiri dan tidak menatap ke arah Haneul.
“Aku tidak bisa..” Gumam Taekwoon seraya perlahan menatap langsung ke arah Haneul. “Jika aku menyentuhmu, aku hanya akan membuatmu kedinginan. Aku hanya akan menyakitimu.”
Kesedihan sekaligus kekecewaan tersirat di suara pemuda itu, dan Haneul mengerti kenapa. Walaupun Taekwoon sudah dapat mengendalikan kekuatannya lebih baik dari sebelumnya, pemuda itu masih ketakutan dengan kekuatannya sendiri. Haneul dapat merasakannya setiap kali mereka berpegangan tangan, atau saling bersentuhan. Taekwoon masih cemas akan kemungkinan dapat melukai Haneul.
Kedua tangan Haneul meraih sisi wajah Taekwoon, dan ia mendekatkan wajahnya sendiri dengan wajah sang pemuda, hingga kening mereka saling bersentuhan. “Jangan khawatir, Taekwoon,” Ujar Haneul dengan lembut. “Aku percaya kau tidak akan menyakitiku, dan lagipula kau lupa dengan kekuatanku?”
“Tapi..” Taekwoon hendak membantah, tapi ia tidak dapat menemukan kata-kata yang tepat sehingga ia hanya menggeleng pelan.
Alih-alih membalas dengan kata-kata, Haneul malah mengecup bibir Taekwoon dengan lembut. Awalnya hanya beberapa kecupan singkat, namun perlahan berubah menjadi ciuman manis lainnya. Badan Haneul condong ke arah Taekwoon, kedua tangannya berpindah kembali ke pundak pemuda itu.
Ciuman yang akhirnya terputus itu membuat senyuman mengembang di wajah Haneul. Gadis itu mulai membuka kaos yang dikenakan Taekwoon, atau tepatnya, menarik-nariknya hingga Taekwoon tidak mempunyai pilihan lain selain menuruti keinginan gadis itu. Tangan Haneul perlahan melingkar di leher Taekwoon, sementara pemuda itu meletakan tangannya di pinggulnya, masih dengan sedikit keraguan terciri di sana.
“Aku akan baik-baik saja, Taekwoon,” Bisik Haneul. Gadis itu mendaratkan beberapa kecupan di leher dan pundak Taekwoon. “Jika kau ingin melakukannya, aku tidak masalah.”
“Haneul..”
Taekwoon mendorong tubuh Haneul dengan lembut, membaringkannya kembali di kasur sementara tubuhnya merangkak di atasnya. Bibir mereka kembali bertemu dalam ciuman, dan Taekwoon kali ini memasukan lidahnya ke dalam rongga mulut Haneul. Tangannya mulai menjamah setiap inci kulit gadisnya, menyentuhnya dengan perlahan dan penuk afeksi. Badan Haneul menggeliat di bawahnya, dan desahan manis terlepas dari bibirnya.
Suara itu bagaikan lagu di telinga Taekwoon dan senyumannya mengembang karenanya. Haneul kembali meletakan tangannya di pundaknya, mencengkramnya dengan erat sementara ciuman Taekwoon perlahan turun ke leher, tulang selangka dan akhirnya dada gadis itu. Jemarinya melepas kaitan bra Haneul, yang langsung terbuang ke samping di detik berikutnya. Taekwoon menyempatkan dirinya melirik ke arah Haneul sesaat, menatap wajah merona sang gadis, sebelum meraup puncak dada Haneul dengan mulutnya.
Gadis itu sendiri semakin menggeliat di bawah sentuhan Taekwoon. Lupakan sensasi dingin dari kulit Taekwoon, yang Haneul rasakan saat ini hanyalah suhu badannya yang perlahan naik karena perbuatan pemuda itu. Taekwoon merangsang kedua puncak dadanya, satu dengan tangannya dan yang lain dengan mulutnya sehingga Haneul hanya bisa mengeluarkan desahan pelan berulang kali karenanya. Ia bisa merasakan daerah kewanitaannya sudah mulai basah, merespon tindakan Taekwoon dengan baik.
Tangan Taekwoon perlahan turun, menyentuh daerah Haneul di balik celana dalamnya dengan perlahan. Bibir pemuda itu sendiri kembali menghujani Haneul dengan ciuman, baik di bibir maupun di leher gadis itu. Sekali lagi jarinya terkait, kini pada celana dalam Haneul, dan menariknya turun. Tidak ada satu benang pun yang menutupi tubuh Haneul, dan Taekwoon tidak akan pernah bisa berhenti menganggumi gadis itu. Dan pemandangan itu juga membuat celananya semakin sempit.
“Haneul..” Panggil Taekwoon sekali lagi. Ia bisa memanggil nama gadis itu berulang kali dan tidak akan pernah bosan. Jari tengahnya perlahan masuk ke dalam liang Haneul. Sempit, tentu saja, dan Taekwoon harus jujur bahwa ia sangat gugup saat ini. Ini pertama kalinya bagi mereka berdua, walau sebagai lelaki normal, Taekwoon pernah menonton adegan seperti ini sebelumnya. Ia sendiri masih belum bisa mempercayai bahwa saat ini ia melakukannya bersama Haneul. Rasanya hampir seperti mimpi.
Lenguhan terdengar dari Haneul. Dirinya sudah cukup basah sehingga jari Taekwoon tidak menyakitinya, tapi sensasi baru itu membuatnya mengerutkan kening. Pandangan matanya bertemu dengan Taekwoon, dan Haneul bisa melihat bahwa pemuda itu masih ragu. Ragu akan apakah tindakan ini menyakiti Haneul atau tidak. Tangan Haneul berpindah, dari pundak Taekwoon ke leher pemuda itu, melingkarkan lengannya disana. Haneul menarik Taekwoon mendekat, menariknya dalam ciuman, tanda bahwa pemuda itu bisa melanjutkan kegiatan mereka.
Perlahan, jari Taekwoon bergerak keluar dan masuk. Taekwoon menjaga temponya tetap pelan, tapi desahan Haneul yang kemudian terdengar membuatnya mempercepat tempo gerakannya. Jari telunjuknya menyusul masuk, membuat gerakan menggunting dan melingkar, mempersiapkan Haneul untuk hal berikutnya.
Dengan satu erangan yang cukup keras, Haneul mencapai puncaknya. Cairannya melumuri jari Taekwoon, sementara dadanya naik turun karena nafasnya yang terengah-engah. Taekwoon menarik diri dari Haneul, lalu memposisikan kepalanya di antara kaki Haneul, tepat di depan daerah kewanitaan gadis itu. Satu kecupan mendarat di sana, disusul dengan jilatan-jilatan yang membuat sang hawa kembali mendesah. Tangan Haneul kini berada di sela-sela rambut Taekwoon, setengah mendorong kepala pemuda itu untuk semakin ‘memakan’nya, dan hal itulah yang membuat Taekwoon tahu ia melakukan hal yang benar.
Sang pemuda menarik diri lagi dari Haneul, menegakkan tubuhnya dan menatap pasangannya yang terengah-engah di depannya. Jelas dari ekspresi sang gadis bahwa Taekwoon menghentikan kegiatannya sebelum Haneul dapat mencapai puncaknya lagi. Ia tidak bermaksud membuat gadisnya merasa tidak nyaman karena ia berhenti setengah jalan seperti itu, tapi sayangnya Taekwoon juga sudah tidak bisa menahan diri lebih lama lagi.
Dengan kilat, baik celana maupun celana dalam Taekwoon terlepas, membebaskan miliknya yang sudah tegang sejak tadi. Ia kembali merangkak di atas Haneul, pandangan mata mereka beradu, dan keduanya langsung mengetahui keraguan masing-masing. Bagaimanapun juga, tidak ada yang mempunyai pengalaman dalam hal ini.
Taekwoon memposisikan ereksinya di depan liang Haneul, walau matanya tidak pernah sekalipun berpaling dari wajah sang gadis. Bibirnya melumat bibir Haneul dengan sensual, seiringan dengan miliknya perlahan memasuki Haneul.
Sakit, Taekwoon tahu gadisnya pasti kesakitan. Haneul mencakar punggungnya, dan erangannya teredam ciuman dari Taekwoon. Ia sudah berusaha melakukannya selembut mungkin, sesekali berhenti untuk membiarkan Haneul terbiasa dengan miliknya sebelum akhirnya masuk seluruhnya. Bahkan setelah itu pun Taekwoon masih menunggu, hingga Haneul mengangguk sebagai tanda bahwa gadis itu sudah bisa menerimanya.
Kedua tangan mereka saling berpegangan, dengan jari-jari yang terkait satu sama lain. Taekwoon menahan tangan Haneul di kasur, sementara pinggulnya mulai bergerak. Erangan kesakitan dari Haneul perlahan berubah menjadi desahan, panggilan nama Taekwoon, dan hal itulah yang membuat Taekwoon semakin menggila. Pemuda itu mengerang, melenguh, seraya pinggulnya bergerak dengan lebih cepat dan tajam, menyentuh bagian dalam Haneul.
Nyaris tidak ada jarak yang tersisa di antara mereka. Kaki Haneul terkait di pinggul belakang Taekwoon, dan Taekwoon sendiri meletakan kepalanya di pundak Haneul, menghujani leher dan pundak gadis itu dengan ciuman. Nafasnya memberat, sensasi dinding milik Haneul yang rapat membungkus ereksinya memberikan kenikmatan yang tidak bisa ia jelaskan dengan kata-kata.
Ruangan Taekwoon kini hanya dipenuhi dengan suara mereka berdua. Taekwoon hanya berharap tidak ada yang bangun saat ini, karena ia sama sekali tidak berniat menghentikan suara desahan Haneul yang sudah menjadi candu baginya.
“Taekwoon..”
“Aku tahu..”
Ia tahu Haneul sudah berada di ambang batasnya karena ia bisa merasakan ereksinya semakin terjepit di dalam sana. Taekwoon mendesah dengan suara berat, membiarkan benihnya mengisi liang Haneul seiringan dengan gadis itu mencapai puncaknya. Sensasi hangat membuat mereka kembali mendesah bersamaan, sebelum Taekwoon kembali melumat bibir Haneul.
Keduanya hanya bertukar ciuman, lalu berpandangan selama beberapa saat sebelum Taekwoon menarik miliknya keluar dari dalam Haneul dan berbaring di sisi gadis itu. Ia lalu menyelimuti mereka berdua dan menarik Haneul dalam pelukan.
“Jika kau merawatku seperti ini setiap kali aku sakit,” Kata Taekwoon dengan perlahan, “Aku berharap aku bisa sakit setiap hari.”
Kata-kata Taekwoon hanya membuahkan pukulan ringan dari Haneul, sementara wajah gadis itu kembali merona merah. Taekwoon terkekeh pelan dan mendekap Haneul dengan erat. Tanpa sadar, keduanya jatuh tertidur seperti itu, dalam pelukan satu dengan yang lain.
Dan jujur, Taekwoon tidak pernah tidur selelap itu sebelumnya.
Entah sudah berapa lama Taekwoon tertidur hingga akhirnya sebuah kecupan di bibirnya membangunkannya. Pemuda itu mengerjap-ngerjapkan matanya selama beberapa saat, berusaha membiasakan matanya dengan sinar matahari yang menembus masuk dari jendela. Dan yang pertama yang ia lihat setelah matanya terbiasa adalah sosok Haneul yang duduk di tepi kasurnya, sudah berpakaian lengkap kembali—membuat Taekwoon sedikit kecewa—tersenyum padanya.
“Selamat pagi,” Sapa Haneul seraya mencium pacarnya sekali lagi, “Aku harus kembali ke kamarku sebelum ada yang melihat. Sampai nanti saat sarapan.”
Taekwoon mengangguk dan mereka berdua kembali berciuman, lebih lama dari kecupan singkat tapi walau akhirnya Haneul lah yang memutuskan ciuman mereka. Gadis itu tersenyum sekali lagi sebelum berjalan keluar ruangan. Sementara Taekwoon membutuhkan beberapa saat untuk mengumpulkan ‘nyawa’nya. Barulah setelah itu ia bangkit berdiri dan bersiap-siap.
Namun ketika ia membuka pintu kamarnya, sosok pemuda lainnya berada tepat di depannya, menatapnya dengan kening berkerut.
“Wonsik?”
Kim Wonsik menatap Taekwoon dengan tatapan aneh, kesal sekaligus geli. “Taekwoon, kuharap kau sudah siap menerima konsekuensinya.”
“Dalam?” Tanya Taekwoon, jelas bingung karena Wonsik sudah bangun sepagi ini. Pemuda yang juga merupakan sahabat dari Haneul itu biasanya terkenal dengan orang yang bangun paling siang di Kyubok.
“Pertanggung jawaban karena aku tidak bisa tidur, karena kau melakukan hal itu pada Haneul.”
Selama sesaat Taekwoon sama sekali tidak mengerti apa yang Wonsik maksudkan. Ia menatap pemuda itu selama beberapa saat dengan kening berkerut, hingga akhirnya ia menyadarinya. Wonsik memiliki kekuatan khusus yang memampukan pemuda itu mendengar dengan baik, walau jarak ruangan mereka terpaut 3 kamar. Muka Taekwoon menjadi sedikit pucat. Itu artinya Wonsik mendengar apa yang ia dan Haneul lakukan semalam, dan mengingat sifat pemuda itu yang cukup protektif terhadap sahabatnya sendiri, Taekwoon tidak tahu apa yang akan Wonsik lakukan.
Wonsik mendengus kesal. “Tampaknya kau bersenang-senang kemarin malam.”
“Wonsik..” Ini dia. Taekwoon sudah bersiap-siap jika Wonsik akan marah dan mulai ‘menguliahinya’.
“Kau berhutang makanan padaku, jika tidak cerita ini akan lolos ke kepala sekolah.”
Sekali lagi Taekwoon butuh waktu untuk menyerap informasi yang ada. Pemuda yang lebih tua itu akhirnya malah terkekeh, sekaligus bernafas lega.
“Baiklah. Tapi jangan menguping lain kali, Wonsik. Carilah pacar untuk dirimu sendiri.”
