Sabtu, 31 Mei 2014

Hogwarts' Beloved : Chapter 13

Chapter 13 : The New Prefect Girl
                                                (Setting : HP 3 )

Musim panas terlah berlalu selama hampir dua bulan. Akhir Juli, seperti biasanya, setiap anak Hogwarts menerima surat dari sekolah mereka, tak terkecuali Nicole. Liburan ini, gadis itu tidak tinggal di Hogwarts. Ia kembali ke rumahnya dan kakeknya di Gordic’s Hollow. Setelah merapikan rumah yang sebenarnya tidak terlalu di perlukan karena peri rumah Hogwarts kadang pergi ke rumah ini untuk membersihkannya, gadis itu duduk di ranjangnya dan merobek amplop dari Hogwarts.

Nicole membaca suratnya dengan teliti dan ketika ia meletakan surat itu lalu bangkit berdiri, sesuatu jatuh dari pangkuannya. Bingung karena merasa tidak meletakan apapun di pangkuannya sebelumnya, Nicole membungkuk dan mengambil benda tersebut, sebuah pin merah bergambar singa emas Gryffindor dan huruf P berada di depan gambar singa itu. Nicole sudah pernah melihatnya sebelumnya, itu adalah pin Prefect.

***

Akhir bulan Agustus pun tiba. Seperti tahun-tahun yang lalu, Nicole pergi menginap di Diagon Alley sehari sebelum keberangkatan. Berita mengenai Sirius Black yang melarikan diri terpasang di tiap sudut jalan dan pengumuman dari Kementerian Sihir juga berada dimana-mana. Nicole bertemu kedua gadis yang menjadi sahabatnya dalam empat tahun terakhir sedang berdiri di depan toko bahan ramuan.

“Gisselle! Elly!” Sapa Nicole. Kedua gadis yang dipanggil itu pun menoleh dan mereka segera melepas kangen dan mengobrol dengan ramai. Setelah mereka menyelesaikan acara belanja untuk tahun ajaran mereka dan duduk bersantai di toko es krim milik Florean Fortescue. Elly memandang Nicole dengan pandangan penasaran.

“Aku mendapat pin prefect di suratku. Saat aku menanyai Gisselle, ia berkata ia tidak mendapatkannya. Bagaimana denganmu Nicole?” Tanya Elly. Nicole memandang Elly lalu Gisselle sebelum akhirnya mengangguk.

“Sudah kami duga.” Kata Gisselle. Ia dan Elly tersenyum lebar dan memberi Nicole selamat, tapi Nicole malah mengernyit.

“Aku tidak mengerti. Kenapa kakek membuatku seorang prefect.” Kata Nicole seraya memainkan es krim yang berada di gelasnya.

“Karena kau anak terpintar di angkatan kita.”

“Karena kau punya sifat pemimpin.”

Kerutan di dahi Nicole bertambah. Ia menatap kedua temannya yang menjawab pertanyaannya dengan dua jawaban yang berbeda. “Aku tidak—“

“Jangan mengelak.” Kata Elly dan Gisselle bersamaan. Mereka berdua lalu tertawa secara bersamaan juga.

“Kalian ini sebenarnya Gisselle dan Elly atau Fred dan George sih?” Keluh Nicole, tapi gadis itu akhirnya tersenyum.

“Ada yang memanggil kami?” Kehadiran Fred dan George membuat ketiga gadis itu melonjak terkejut. Setelah menarik kursi, kedua pemuda kembar itu duduk di antara Gisselle dan Elly.

“Kudengar kau menjadi prefect, Nicole?” Kata Fred.

“Habislah masa-masa bahagia kitaa!!” Kata George, bergaya seakan-akan dunia akan kiamat. Ia dan Fred berpelukan dan berpura-pura menangis tersedu-sedu. Nicole langsung melayangkan tinjunya pada mereka berdua.

“Kira-kira siapa pasangan prefect kalian ya?” Tanya Gisselle saat Nicole sudah selesai menghajar kedua pemuda kembar itu. Fred dan George sedang tergeletak di lantai dengan badan yang sakit-sakit akibat Nicole.

“Cedric.” Jawab Elly dengan cepat, mukanya memerah.

“Aah.. jadi kau punya kesempatan untuk mendekatinya lebih banyak lagi ya.” Kata Nicole seraya memberikan Elly sebuah senyuman jahil. Elly tidak menjawab, hanya tersenyum dan mengangguk. “Aku belum tahu siapa prefect Gryffindor lainnya.” Lanjut Nicole, menjawab pertanyaan Gisselle.

“Mungkin kan salah satu dari mereka?” Kata Gisselle sambil menunjuk Fred dan George yang masih belum bangun dari lantai. Nicole dan Elly langsung menggeleng dengan cepat. “Atau Lee?” Tebak Gisselle lagi.

“Jangan bercanda Gisselle. Bagaimana mungkin pemuda itu menjadi Prefect.” Kata Nicole.

“Ouch. Kau melukai harga diriku Nicole.” Lee mendadak menarik kursi dan duduk diantara Gisselle dan Nicole. Ketiga gadis itu menatap Lee dengan sedikit tidak percaya.

“Tidak mungkin. Kau? Benar-benar Prefect Gryffindor?” Tanya Nicole. Lee menggeleng.

“Tentu saja bukan! Aku hanya mengatakan kau melukai harga diriku dengan berkata seakan-akan aku anak yang tidak cukup baik.” Jawab Lee. Nicole, Elly dan Gisselle menghembuskan nafas lega. Lee menyadari maksud hembusan nafas itu dan protes. Dengan cepat protesan itu di abaikan dan ketiga gadis itu kembali berdiskusi mengenai siapa Prefect Gryffindor dan asrama lainnya.

“Ngomong-ngomong bagaimana Harry? Ia tidak terkena masalah kan?” Tanya Nicole, mendadak teringat salah satu surat Elly yang menceritakan sedikit kecelakaan di beberapa bulan yang lalu yang disebabkan oleh Harry.

“Tidak. Aneh ya? Tapi aku merasa bersyukur, sudah cukup banyak kesulitan yang ia hadapi.” Kata Elly.

Malamnya, Nicole dan Gisselle ikut bersama Elly dan si kembar untuk makan malam bersama keluarga Weasley. Mereka juga akan ikut rombongan besar itu ke stasiun King’s Cross besok paginya. Percy menjabat tangan Nicole dan menyapanya dengan luar biasa formal lalu menyelamatinya karena menjadi Prefect.

“Aku sudah bisa menduga kau akan menjadi Prefect, Nicole.” Kata Percy. “Sebuah tanggung jawab yang besar. Jangan malu-malu untuk meminta bantuanku jika ada masalah.” Pemua itu berbicara sambil membusungkan dadanya, menampilkan pin Ketua Murid miliknya.

Nicole hanya mengangguk sambil berusaha menahan tawanya. Si kembar telah memberi tahu pada dirinya, lewat surat, mengenai pacar Percy dan tingkah pemuda itu. Tidak lama kemudian Harry, Ron dan Hermione tiba. Makan malam berlangsung dengan ceria, Mrs. Weasley mengomeli si kembar karena mereka tidak menjadi Prefect, lelucon-lelucon dan tingkah konyol si kembar, dan obrolan mengenai tahun ajaran baru menghiasi makan malam itu.

Esok harinya, setelah sampai dengan selamat di peron 9 ¾, Mr. Weasley menarik Harry dan mulai berbicara secara pribadi dengan pemuda itu. Nicole melirik mereka selama beberapa saat sebelum Percy menepuk pundaknya.

“Prefect punya gerbong khusus. Sampai ketemu disana.” Kata pemuda itu dan dia pergi bersama pacarnya, Penelope Clearwater. Nicole dan Elly berpandangan dan mengucapkan sampai nanti pada yang lain. Beberapa bisikan mengikuti kedua gadis itu saat mereka sedang menaikan koper dan sangkar burung mereka ke atas kereta dan menyeretnya menuju gerbong Prefect. 

“Mencari Oliver?” Tanya Elly ketika melihat Nicole menoleh ke dalam tiap kompartemen yang mereka lewati, sesekali melihat ke luar, ke peron, dimana beberapa anak masih mengucapkan perpisahan mereka. Nicole mengangguk. Ia belum melihat pacarnya sama sekali sejak memasuki stasiun King’s Cross.

“Enak ya, hubungan kalian berjalan lancar.” Komentar Elly lagi. Lagi-lagi Nicole tersenyum jahil pada sahabatnya yang berambut merah itu. Selagi Nicole menggoda Elly tentang Cedric, sebuah suara di belakang mereka membuat kedua gadis itu terkejut. Ketika mereka menoleh, seorang pemuda berambut hitam, sedikit berantakan, balas menatap mereka.

“Joe!” Kata Nicole. Pemuda itu bernama Jonathan Lawrence. Ia se angkatan dengan Nicole dan berada di asrama Gryffindor juga. Pemuda yang pintar, namun ia pendiam sehingga Nicole tidak terlalu mengenalnya terlalu dekat, hanya sebatas tahu nama dan nama panggilannya dari seluruh anak Gryffindor, ‘Joe’.

“Nicole.” Sapa Joe. Ia lalu mengangguk sebagai sapaan untuk Elly, lalu menatap Nicole kembali. “Kau juga menjadi Prefect?”

“Juga?” Nicole sesaat bingung dengan kata-kata Joe. Ia lalu melihat pin yang sama di tangan Joe yang terbuka. “Ah! Kau Prefect!!” Joe mengangguk dan tersenyum tipis.

Nicole, Elly dan Joe masuk kedalam gerbong khusus Prefect. Tidak lama kemudian muncul lah Cedric. Pemuda berambut cokelat muda itu tersenyum lebar dan menyapa Nicole, tidak lupa ia juga menyapa Joe dengan sopan. Joe juga membalas sapaannya dengan tenang dan kembali diam sementara Cedric, Nicole dan Elly bertukar cerita mengenai musim panas mereka.

Hogwarts Express pun akan segera berangkat dan prefect-prefect baru dari asrama lain pun mulai bermunculan. Pemuda berambut biru tua berantakan dan seorang gadis berambut pirang muncul bersamaan.

“Robert Abernathy.” Kata si pemuda itu. Ia tersenyum begitu lebar dan menjabat tangan semua orang yang ada disana. “Dan ini Rebecca Felberton.” Lanjut Robert dan menunjuk gadis di sebelahnya yang tersenyum sopan. “Kami berdua dari Ravenclaw. Kalian?”

Cedric secara otomatis mengenalkan dirinya dengan ramah, diikuti dengan Elly, Joe dan terakhir Nicole. Ketika mendengar nama Nicole, mata Rebecca melebar dengan kaget, lain dengan Robert yang memperhatikan Nicole dengan lekat-lekat. Ia tidak menutupi tingkahnya sama sekali. Otomatis Nicole merasa canggung.

“Oh, jadi Ravensdale menjadi prefect. Sudah kuduga..”

Suara sinis dari seorang pemuda mengalihkan pandangan semua orang yang ada. Pemuda berambut cokelat tua memandang Nicole dengan pandangan sangat sinis, disebelahnya ada seorang gadis dengan rambut merah-oranye. Nicole langsung menampilkan ekspresi dinginnya, ia sudah bersiap-siap mengenai hal ini. Pasti akan banyak anak yang mengejeknya dan mengatakan bahwa ia menjadi prefect karena ia adalah cucu angkat Dumbledore. Gadis ini sudah berjanji pada dirinya sendiri, kalau ia akan membuktikan bahwa kakeknya bukan memilihnya karena Nicole adalah cucu kakeknya, tidak hanya itu.

“Ada masalah dengan itu, McQuillen?” Jawab Nicole. Ia mengenali pemuda yang tadi berbicara. Murid Slytherin yang satu ini sering sekali mengejek Nicole dan Gisselle selama pelajaran ramuan, pelajaran dimana murid Gryffindor selalu bertemu dengan Slytherin.

“Tidak ada. Hanya saja,” McQuillen tersenyum dan berjalan mendekat. “Aku penasaran bagaimana kau meminta pada kepala sekolah agar diberikan pin itu. Kau memberinya cokelat?” Gadis berambut merah-oranye itu, Nicole mengenalinya juga, namanya Madelyn Lowsley, anak Slytherin juga, terkikik menyebalkan.

Sebelum Nicole sempat melontarkan balasan, Robert sudah melakukannya untuknya.

“Kau ini idiot atau apa. Sudah jelas Nicole akan dipilih. Dia menjuarai semua nilai ujian.” Kata Robert. Pemuda itu melipat kedua tangannya di dada dan menatap McQuillen dengan pandangan tegas.

“Wah Ravensdale, kau mempunyai penggemar nih.” Kata Lowsley dengan senyuman menyebalkan terpasang diwajahnya. Robert dan Nicole sudah membuka mulut hendak membalas ketika Percy dan Penelope masuk ke dalam gerbong.

“Ada masalah?” Tanya Percy. Ia menatap Nicole lalu kedua anak Slytherin itu. McQuillen langsung menampilkan wajah tidak berdosanya, Lowsley memberikan Percy senyuman penjilat alanya. Melihat hal itu Percy mengernyit.

“Kami hanya berkenalan.” Kata Rebecca dengan cepat. Ia segera duduk dan menyeret Robert untuk duduk juga. McQuillen dan Lowsley juga duduk. Percy menatap pacarnya dan mereka berdua mengangguk bersamaan, lalu Percy mulai menjelaskan tugas-tugas Prefect pada ke delapan Prefect baru itu.

***

George menatap gadis yang duduk didepannya. Gisselle sama sekali tidak mengatakan apapun sejak Fred pergi diseret oleh Lee. Entah apa lagi yang di lakukan pemuda berkulit hitam itu sehingga menarik Fred secepat kilat pergi meninggalkan kompartemen mereka. Tiba-tiba pintu terbuka, namun bukan Fred dan Lee yang kembali ke kompartemen, tapi Oliver yang muncul dengan ekspresi kebingungan di ambang pintu.

“Dimana Nicole?” Tanya pemuda itu, sedikit linglung karena tidak melihat pacarnya sejak awal menginjak stasiun.

“Di gerbong prefect, Oliver. Nicole sudah memberi tahumu kalau dia menjadi Prefect kan?” George berkata dengan sabar, sedikit kasihan melihat kaptennya yang sedikit menyedihkan. Oliver mengangguk sekali, Nicole memang pernah memberi tahunya lewat surat.

“Tapi ia belum kembali juga?” Tanya Oliver.

“Astaga Oliver, kau akan bertemu dengannya di pesta tahun ajaran baru. Bersabarlah.” Jawab George, setengah kesal setengah geli melihat tingkah kaptennya itu. Nicole sendiri tidak pernah bertingkah seperti itu. Oliver mengangguk-angguk lalu berjalan pergi. Dengan perginya Oliver, keheningan kembali menyelimuti kompartemen itu karena Gisselle sama sekali tidak bicara dan George entah kenapa mengikuti jejak gadis itu.

Gisselle memandang ke Dialy Prophet, koran dunia sihir yang dari tadi dipegangnya dengan penuh perhatian, sehingga ia tidak menyadari George berulang kali mencuri pandang ke arahnya. Setelah memastikan Gisselle sama sekali tidak menyadarinya, George memperhatikan gadis itu dengan lebih seksama.

Rambut brunette Gisselle telah bertambah panjang selama liburan, terurai ke samping sehingga tidak mengganggu gadis itu selama membaca. Mata berwarna hazelnya dengan lincah membaca kata-kata yang ada. Tanpa sadar, muka George sedikit memerah ketika ia menyetujui bahwa Gisselle telah tumbuh menjadi gadis yang cantik.

Gisselle merasakan bahwa ia sedang diperhatikan. Dengan malu-malu ia melihat kedepan dan matanya bertemu dengan mata George. Muka keduanya langsung memerah, bertambah merah dalam kasus George, dan mengalihkan arah pandang mereka. Tepat pada saat itu Fred dan Lee masuk kedalam kompartemen.

“Kalian sedang apa?” Tanya Fred melihat tingkah aneh saudara kembarnya dan Gisselle. Kedua orang yang ditanyai itu langsung menjawab cepat dengan mengatakan ‘tidak sedang apa apa’ bersamaan, membuat Fred semakin bingung sementara Lee nyengir dan melirik Gisselle.

Obrolan kembali berjalan normal bagi mereka, hingga saatnya memakai jubah sekolah mereka karena Hogwarts sudah dekat. Gisselle memperhatikan ujung jubah George yang memiliki lubang dan segera merogoh dalam kopernya dan mengeluarkan kotak kecil berisi perlengkapan menjahit miliknya.

“George.” Kata Gisselle. George menoleh dan menatap Gisselle dengan pandangan bertanya. “Jika kau tidak keberatan, biarkan aku menjahit jubahmu, ada lubang disana.”

George memeriksa seluruh jubahnya dan menemukan lubang yang dimaksud Gisselle. Ia langsung membuka jubahnya dan memberikannya pada Gisselle. Dengan cepat, Gisselle membetulkan ujung jubah itu dengan peralatan jahitnya. Ketiga pemuda yang ada memperhatikan dengan penasaran.

“Selesai.” Kata Gisselle sambil memberikan jubah itu kembali kepada pemiliknya. Fred memperhatikan George memakai jubahnya kembali lalu menatap Gisselle.

“Bukankah lebih mudah bila kau menggunakan sihir?” Kata-kata Fred membuat Gisselle tersentak kaget, jelas ia tidak memikirkan cara itu. Dengan muka memerah malu, ia menundukan kepalanya. Tapi George tersenyum riang dan menepuk kepala Gisselle dengan lembut.

“Tapi aku lebih suka jika jubahku di perbaiki dengan cara ini. Terima kasih Gisselle!”

Muka Gisselle bertambah merah dan memanas ketika George melakukan hal itu. George melihat hal itu dan mendekatkan mukanya ke muka Gisselle lalu menatap dengan cemas. “Ada apa? Apakah aku salah berbicara?”

Gisselle langsung menjauhkan dan menggelengkan kepalanya. “Ti-tidak! Sama-sama George!” Gadis itu langsung berpura-pura membaca korannya kembali. Ia memegang korannya sehingga menutupi seluruh mukanya dari pandangan.

George tertawa kecil melihat tingkah laku Gisselle. Gadis itu memang tidak mudah di ajak bergaul seperti Nicole atau Elly, tapi menurutnya, Gisselle adalah gadis yang mempunyai pesonanya sendiri.

***

Nicole bersandar pada sisi lain lorong kereta dan memperhatikan kompartemen di depannya. Ia sedang melakukan tugas pertamanya sebagai Prefect, berjaga di lorong-lorong kereta Hogwarts Express ini. Ia belum sempat mengganti pakaiannya dengan jubah Hogwarts karena ia mendapat tugas jaga pertama. Langkah kaki dari sebelah kanannya menganggetkannya. Cedric menghampiri Nicole dan tersenyum. Pemuda itu sudah memakai jubahnya dan memasang pin prefectnya di jubah tersebut.

“Giliranku. Kau bebas sampai kita tiba di stasiun Hogwarts nanti.” Kata Cedric menyampaikan pesan dari Percy atau Penelope. Nicole menggangguk dan berjalan ke arah gerbong khusus Prefect untuk memakai jubahnya. Setelah selesai, ia membawa sangkar burung hantu hitamnya, Natte, ke kompartemen milik Gisselle, si kembar dan Lee. Sebelum masuk ke dalam kompartemen, sekilas ia melihat Cedric sedang berbicara akrab dengan seorang gadis berambut hitam panjang.

“Siapa itu..” Gumam Nicole tanpa sadar. Namun ia tidak punya waktu untuk memikirkannya karena si kembar menarik tangannya dan memaksanya duduk di antara mereka. Sisa perjalanan menuju Hogwarts berlangsung ceria, namun sekitar 10 menit sebelum mencapai sekolah, kereta itu berhenti.

“Aneh.” Kata Nicole. “Seharusnya kita belum sampai ke sekolah.” Setelah ia berkata begitu, mendadak seluruh lampu kereta mati dan semua menjadi gelap. Nicole bisa mendengar Gisselle menarik nafas dengan cepat, tanda bahwa ia kaget dan ketakutan. Dengan cepat, Nicole menarik tongkatnya yang ia sudah pindahkan dari koper ke dalam saku jubahnya tadi dan mengucapkan sebuah mantra.

Nyala api kecil yang dibuat Nicole menyinari kompartemen yang hanya berisi lima orang itu. Api itu melayang di atas sehingga menjadi sumber cahaya yang cukup terang. Nicole berdiri dan membuka pintu kompartemen mereka. Rasa dingin langsung menyelimuti semua orang dan kebahagiaan tampaknya hilang. Sesosok orang berjubah hitam, tinggi menjulang berdiri berhadapan dengan Nicole. Nicole tahu sensasi itu, dan apa yang ada di hadapannya. Dementor.

“Ia tidak ada disini. Pergi.” Kata Nicole dengan tegas, walau rasanya ia sudah mulai lemas berdiri di depan Dementor itu. Tapi ia tidak bisa membiarkan makhluk itu masuk ke dalam kompartemen karena Gisselle pasti tidak akan tahan menghadapinya. Nicole sudah hendak mengangkat tongkatnya lagi ketika Dementor itu akhirnya berlalu.

Nicole menghembuskan nafas lega dan kembali duduk di tempatnya. Mendadak langkah kaki seseorang yang berlari ke arah kompartemen mereka terdengar. Semua kepala memandang pintu masuk kompartemen dengan tegang. Beberapa detik kemudian, Draco Malfoy muncul dengan muka ketakutan di ambang pintu mereka. Mungkin pemuda itu berlari ke arah kompartemen Nicole dan yang lain karena melihat adanya sumber cahaya.

Kesal karena masih mengingat kejadian di tahun ajaran yang lalu, bagaimana Malfoy meremehkan kakeknya, Nicole membanting pintu kompartemen tertutup di depan muka Malfoy, membuat seluruh temannya menatap dengan kagum.

“Apa yang dementor lakukan disini?” Tanya Gisselle, badannya masih gemetar hebat. George menjulurkan tangannya ke depan dan menggenggam tangan gadis itu, berusaha menenangkannya. Nicole dan Fred menaikan alis, bingung dengan tindakan George, tapi Lee tersenyum-senyum penuh arti.

"Mencari Sirius Black kurasa." Jawab Nicole. Kereta api kembali berjalan dan lampu sudah menyala lagi. "Aku harus pergi lagi, sampai nanti di pesta. Titip Natte ya." Nicole pun berdiri dan berjalan keluar. Baru saja beberapa langkah menuju gerbong Prefect, ia melihat Cedric yang setengah memeluk Elly yang tampak baru bangun dari pingsan. Tanpa banyak pikir lagi, Nicole berlari ke arah mereka.

"Elly! Kau tidak apa-apa?" Nicole berlutut disebelah Elly. Gadis berambut merah itu tersenyum lemah dan mengangguk. Nicole pun menoleh ke arah Cedric dan menuntut penjelasan darinya.

"Dementor lewat, dan hal itu mempengaruhi Elly lebih dari siapapun." Jelas Cedric sambil membantu Elly duduk dengan lembut. "Ia lalu mendadak pingsan dan baru saja bangun saat kau datang, Nicole."

Dengan bantuan Cedric, akhirnya Nicole berhasil membawa Elly ke gerbong Prefect dan memaksanya makan sebutir cokelat. Walau Elly memprotes keras, kedua temannya berhasil menyuruhnya untuk beristirahat. Setelah mengawasi pemindahan koper, mereka bertiga berjalan menuju kasti dan Aula Utama. Joe, Robert dan Rebecca bergabung dengan mereka.

"Ada yang kulewatkan?" Tanya Nicole ketika ia duduk di tempat yang disediakan teman-temannya, diantara Oliver dan Lee.

"Hanya upacara seleksi." Jawab Lee. "Dan kakekmu akan menyampaikan pidato pembukanya."

Benar seperti kata Dumbledore berdiri untuk menyampaikan pengumuman yang biasanya, yang ditambah dengan pengenalan Remus Lupin sebagai guru Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam yang baru. Nicole mengenal Lupin, kakeknya pernah mengajaknya bertemu beberapa kenalannya berulang kali saat dia kecil. Dumbledore lalu mengenalkan Hagrid sebagai guru Pemeliharaan Satwa Gaib yang baru, dan Nicole ikut bertepuk tangan dengan keras bersama anak-anak Gryffindor lainnya. Pengumuman di lanjutkan dan beberapa anak berbisik-bisik cemas ketika Dumbledore mengatakan pengumunan selanjutnya, mengenai Sirius Black dan Dementor.

"Sepertinya semua pengumuman penting sudah kusampaikan. Sekarang, mari pesta!" Setelah Dumbledore berkata itu, piring-piring terisi secara ajaib dan para murid mulai berpesta. Pesta tahun ajaran baru berjalan semeriah biasanya, walau kali ini percakapan mengenai Sirius Black dan kemunculan Dementor di kereta menjadi topik favorite malam itu. Setelah potongan kue terakhir menghilang dari meja dan piring-piring bersih kembali, Dumbledore berdiri kembali.

"Baiklah, sekarang waktunya kalian beristirahat. Selamat malam." Setelah mendengar kakeknya menutup pidato awal tahun ajaran itu, Nicole meloncat berdiri dan bergegas memimpin rombongan anak kelas satu bersama Joe dan di bantu dengan bersemangat oleh Percy. Setelah tugas Prefectnya selesai, dan Nicole baru saja hendak naik ke dalam kamarnya, suara ketukan di jendela menarik perhatiannya. Ruang rekreasi sudah sepi karena sebagian besar anak sudah masuk kedalam kamar dan bersiap tidur, jadi tidak ada yang melihat Fawkes mengetuk jendela selain Nicole.

Fawkes terbang ke pundak Nicole dan berkicau pelan saat gadis itu membukakan jendela. "Kakek memanggilku?" Tanya Nicole seraya mengelus kepala Fawkes. Burung merah itu kembali berkicau merdu dan Nicole menganggap itu sebagai jawaban ya. Tidak mau membuang waktu lagi, gadis berambut cokelat itu berjalan keluar ruang rekreasi dan menuju ruang kepala sekolah.

"Masuklah." Suara kakeknya terdengar saat ia mengetuk pintu ruang kepala sekolah. Nicole masuk dan menatap sosok yang berdiri di depan kakeknya, Lupin. Dumbledore sendiri duduk di kursinya, dengan senyuman di wajahnya.

"Maaf memintamu kesini di malam pertama kau tiba, Nicole." Kata kakeknya. Professor tua itu lalu tersenyum pada Lupin. "Kau boleh pergi Remus. Terima kasih banyak."

"Selamat malam kepala sekolah," Kata Lupin seraya mengangguk pelan. Ia lalu berbalik dan tersenyum menatap Nicole. "Selamat malam Nicole, dan selamat atas terpilih menjadi Prefect."

"Terima kasih." Jawab Nicole, juga tersenyum. Setelah Lupin menutup pintu di belakangnya, Nicole menatap Dumbledore. "Kenapa kakek menjadikan ku seorang prefect?"

"Kau tidak menyukainya?"

"Bukan itu maksudku."

Senyum Dumbledore melebar. "Karena semua guru memberi tahuku untuk menjadikanmu Prefect. Ku dengar hanya kau yang bisa menahan Mr. Fred dan Mr. George Weasley jika mereka sedang jahil."

Nicole terdiam. Ia tidak menyangka semua guru yang memintanya menjadi Prefect, dan mengenai Fred dan George, memang hanya sedikit orang yang bisa menghentikan si kembar yang luar biasa jahil itu. Dumbledore berdiri dari kursinya dan berjalan ke arah jendela yang berada tidak jauh dari meja kerjanya.

"Tapi aku tidak memanggilmu kesini karena hal itu." Kata-kata Dumbledore membuat Nicole kembali memfokuskan dirinya pada kakeknya. "Kau sudah mempelajari mantra yang kuberikan beberapa bulan yang lalu?"

"Sudah. Walau aku baru berhasil tiga kali dalam percobaan-percobaan yang terakhir." Kakeknya telah menyuruhnya belajar mantra Patronus saat liburan musim panas yang lalu. Dengan bimbingan McGonagall dan beberapa guru Hogwarts lainnya, Nicole berhasil memunculkan patronusnya tiga kali berturut-turut dalam tiga percobaannya yang terakhir kali sebelum ia pulang ke rumahnya (dan kakeknya) di Gordic's Hollow.

Dumbledore menggangguk-angguk sambil mengelus-elus jenggot peraknya. "Bagus. Dan apa bentuknya?"

"Singa. Seekor singa jantan."

Mendengar jawaban Nicole, kakeknya tersenyum lembut. Secara sekilas Nicole merasa mata kakeknya berbinar-binar, campuran bangga dan terharu nostalgia. Namun sedetik kemudian, hal itu menghilang, sehingga Nicole berpikir ia hanya membayangkan hal itu.

"Tolong lindungi Harry dan Elizabeth, mereka paling mudah terpengaruh oleh Dementor. Dan jangan beri tahu siapapun mengenai rahasia Remus ya?" Pinta Dumbledore. Nicole langsung menyatakan bahwa ia akan melakukan hal itu.

"Baiklah. Sekarang pergilah beristirahat. Selamat malam Nicole." Kata Dumbledore, mengakhiri pembicaraan singkat mereka berdua. Nicole ragu sejenak sebelum maju dan memberi kakeknya sebuah pelukan kilat.

"Selamat malam kakek." Dan gadis itu berbalik dan berjalan keluar ruangan.

***TBC***

A/N : Mohon maaf apabila ada kesalahan *bows*

Original Plot by : Our Queen, JK Rowling
The ‘new’ plot Made by : Liz
Take out with full credits please~ ^^

Kamis, 29 Mei 2014

Hogwarts' Beloved : Chapter 12

Chapter 12 : Won’t Back Down
                                                (Setting : HP 2 )

Fred kembali seperti biasa dalam sekejap. Ia tetap menggoda Nicole bersama saudara kembarnya. Ia ingin tetap disisi Nicole walau dia tahu dia tidak akan pernah bisa mendapatkan hati gadis itu. Sementara itu, Feli, adik Cedric, mulai mendapati sahabat si kembar Weasley itu cukup lucu.

"Elly." Kata Feli. Dia dan Elly sedang duduk di ruang rekreasi asrama Hufflepuff. "Siapa lagi nama pemuda itu?"

"Lee Jordan." Jawab Elly dengan bosan. Feli sudah berulang kali menanyakan nama Lee tapi selalu melupakannya. Feli menggumamkan nama Lee berulang kali seakan-akan sedang menghafalnya. Cedric berjalan mendekati kedua gadis itu dan duduk di sebelah Elly.

"Ada apa dengannya?" Tanya Cedric sambil menggerakan kepalanya ke arah Feli.

"Mengahafalkan nama Lee Jordan."

"Apa? Untuk apa?" Tanya Cedric, kaget karena adiknya berusaha mengahafal nama laki-laki. Bagaimana pun juga, Cedric adalah seorang kakak, dan seorang kakak pasti akan kaget bila adik perempuannya bertingkah seperti itu.

Elly mengangkat bahu, "Entahlah. Tapi tadi ia bilang kalau menurutnya Lee lucu."

Cedric langsung menoleh ke arah adiknya. "Feli, kau tidak serius kan?" Tanyanya.

Feli mengangguk, "Serius kok!"

Dan Cedric sungguh sangat berharap kalau adiknya menganggap Lee lucu lewat perkataannya dan bukan mukanya.

***

Berita kalau kapten team Quidditch Gryffindor dan cucu angkat Dumbledore menjalin hubungan menyebar tidak kalah cepat dengan berita-berita tentang penyerangan. Beberapa orang mengucapkan selamat pada mereka berdua, sebagian yang lain berbisik-bisik di belakang mereka. Hal itu sama sekali tidak di pedulikan Nicole. Namun saat guru-guru juga mengetahuinya, itu hal lain. Beberapa guru sudah mulai mengamati Oliver dengan ketat, layaknya seorang bapak yang mengawasi pacar anaknya. Bahkan McGonagall sudah benar-benar berbicara pada Oliver mengenai hubungannya dengan Nicole dan mengatakan bahwa bila Oliver menyakiti Nicole, jabatan kaptennya akan di cabut.

"Aku sudah 14 tahun dan mereka masih melakukan hal ini." Keluh Nicole. Ia dan Gisselle sedang berjalan menuju Aula Utama untuk makan malam. Gadis itu baru saja selesai menceritakan berbagai pengalaman Oliver di minggu pertama setelah kabar bahwa mereka berdua pacaran tersebar.

"Lalu apa kata Oliver?" Tanya Gisselle.

"Ia pemuda yang luar biasa sabar." Kata Nicole, membuat Gisselle menyikut temannya dengan jahil. Akhir-akhir ini perubahan suasana hati Nicole terlihat jelas.

"Aduuh.. yang sedang berbunga-bungaa~!!" Fred dan George mengagetkan kedua gadis itu dengan kemunculan mereka dari belakang dan berbisik keras ke kuping Nicole. Gadis berambut cokelat itu langsung memutar badannya dan memberikan si kembar dua pukulan yang lumayan di tubuh mereka. Lee yang tadinya berdiri di belakang si kembar langsung meloncat menyingkir.

"Kalian ini!!" Kata Nicole, kesal dengan si kembar yang selalu menggodanya itu. Fred dan George hanya mengerang kesakitan, membuat Gisselle mulai khawatir.

"S-sepertinya kau memukul mereka terlalu keras, Nicole." Kata Gisselle, memandang George dengan cemas. Nicole mendengus sementara Lee tertawa mendengar kata-kata Gisselle.

"Jangan tertipu. Mereka hanya berpura-pura."

Penampilan mereka terbongkar seketika. Fred dan George langsung menegakkan tubuh lagi lalu nyengir lebar ke arah kedua gadis. George sudah akan mengatakan sesuatu ketika langkah kaki orang yang sedang berlari menganggetkan mereka. Feli berlari dan berhenti tepat di depan Nicole. Gadis berambut cokelat muda itu berusaha mengatakan sesuatu tapi nafasnya terengah-engah sehingga ia mengalami kesulitan berkata-kata.

"Tenangkan dirimu dulu." Kata Lee sambil mendekati Feli. Mata Feli melebar dan menunjuk Lee.

"Lee Jordan!" Teriaknya, membuat semua orang yang melihatnya bingung. Tentu saja yang paling bingung adalah Lee sendiri.

"Ya namaku Lee Jordan." Jawab Lee, masih bingung. Feli menatap pemuda itu selama beberapa saat sehingga si kembar tertawa kecil dan Nicole berdeham pelan.

“Ada apa Feli?”

Pertanyaan Nicole membuat gadis yang lebih muda itu menyadari tujuan awalnya kembali. Ia mengalihkan pandangan dari Lee ke Nicole.

"Nicole! Oliver baru saja di panggil ke ruang kepala sekolah!" Kata Feli. Tanpa berkata apa-apa lagi, Nicole langsung berlari pergi menuju ruangan kakeknya itu, meninggalkan yang lain, masih belum mencerna kata-kata Feli.

"Ke-kenapa Oliver di panggil ke ruang kepala sekolah?" Tanya Gisselle bingung.

"Kutebak ini sama kasusnya dengan guru-guru yang lain." Kata Fred. "Bagaimanapun juga Nicole adalah anak yang mereka besarkan sejak kecil." Kata Fred seraya melanjutkan berjalan menuju Aula Utama, Gisselle mengangguk-angguk tanda ia mengerti lalu berjalan mengikuti si kembar.

"Kau tidak ikut?” Tanya Lee ketika melihat Feli tidak bergerak dari tempatnya. Feli yang tadi sedang berpikir serius tersentak kaget mendengar suara Lee.

“Lee Jordan!” Kata gadis itu lagi. Lee terkejut, kemudian ia merasa setengah bingung, setengah geli.

“Ada apa?” Tanya Lee. “Kau berulang kali menyebutkan namaku.”

“Bisakah kita menjadi teman?”

Oke, kali ini Lee benar-benar merasa bingung. Feli menjulurkan tangannya dan tersenyum lebar pada Lee, matanya berbinar-binar seperti jika ia sedang melihat Nicole yang dia idolakan itu. Dengan canggung, Lee menyambut uluran tangan Feli dan tangannya di jabat dengan bersemangat oleh gadis itu.

“Ah aku harus pergi. Cho menungguku. Sampai nanti Lee!!” Setelah berkata begitu, Feli berlari pergi. Sebelum ia menghilang dari pandangan Lee, gadis itu berbalik dan berteriak pada Lee.

“Oh ya! Dan menurutku, Lee, kau itu lucu!!”

Lee hanya bisa bengong dengan mulut terbuka, yang bisa di bilang cukup lebar, sebagai balasan. Ia tetap melakukan hal itu bahkan setelah Feli pergi. Beberapa detik setelah Feli, Flitwick, guru Mantra, berjalan dari arah belakang Lee dan mendekati pemuda itu.

“Jordan! Sedang apa kau berdiri dengan mulut terbuka seperti itu? Hentikan tingkah memalukanmu itu!”

***

Nicole mendorong pintu masuk ruangan kepala sekolah hingga terbanting terbuka. Hanya ada dua orang yang ada di dalam sana, Dumbledore yang sedang duduk tenang di kursinya, menatap Nicole sambil tersenyum, dan Oliver yang berdiri di hadapan professor tua. Muka pemuda yang berumur 16 tahun itu terlihat senang ketika melihat Nicole, tapi Nicole masih bisa melihat kalau sesaat sebelum ia masuk kedalam ruangan, Oliver merasa gugup luar biasa.

Nicole langsung berlari ke sisi pemuda itu dan menggenggam tangannya dengan lembut. Oliver tersenyum tipis dan menggenggam balik tapi Nicole tidak sedang memandangnya, gadis itu sedang memandang kakeknya.

“Kenapa kakek memanggil Oliver ke ruangan ini?” Kata Nicole dengan tegas.

Dumbledore menatap Nicole, lalu melirik Oliver, sebelum kembali memandang Nicole kembali. “Kami hanya bercakap-cakap saja, benarkan Mr. Wood?” Kata Dumbledore dengan tenang. Oliver hanya mengangguk beberapa kali dengan tegang. “Tidak usah marah Nicole sayangku. Nah, kalau begitu, aku akan pergi makan malam.”

Professor tua itu bangkit berdiri dan meninggalkan ruangan bundar itu, meninggalkan Nicole dan Oliver berdua saja. Setelah ujung jubah Dumbledore menghilang, Oliver menghembuskan nafas lega.

“Tenang. Dia tidak memarahiku atau apapun.” Kata Oliver pada pacarnya. Nicole memandangnya dengan khawatir, sedikit takut kakeknya melakukan sesuatu pada Oliver. “Dia hanya benar-benar menyayangimu.” Lanjut Oliver seraya mengecup kepala Nicole dengan lembut.

“Kau yakin?” Tanya Nicole, masih belum benar-benar yakin bahwa kakeknya tidak menanyai Oliver dengan hal yang aneh-aneh.

“Kau tidak percaya padaku?”

Muka Nicole memerah ketika melihat Oliver mendekatkan wajahnya. Dengan pelan, ia menjawab dengan sebuah anggukan. Mendadak Oliver memberikan ciuman kilat di bibir Nicole dan menarik gadis itu kepelukannya.

“Walaupun seandainya kakekmu benar-benar memarahiku tadi, aku tidak akan mundur. Aku tidak akan menjauh darimu.” Bisik Oliver di kuping Nicole. Nicole bisa merasakan mukanya memerah, dan, walau gadis itu tidak mengetahuinya, muka Oliver juga merah padam. Pemuda itu akhirnya melepaskan pelukannya dan menggandeng Nicole hingga Aula Utama. Meja Gryffindor langsung ramai ketika melihat pasangan itu muncul bersamaan dengan tangan yang bergandengan dan muka yang memerah. Tapi baik Oliver maupun Nicole tidak mempedulikan mereka semua.

Minggu-minggu selanjutnya berjalan tanpa ada penyerangan apapun. Gossip mengenai Oliver dan Nicole juga sudah mereda dan hampir semua orang berhenti menggodai mereka, ‘hampir’ karena anak-anak Slytherin masih suka melontarkan ejekkan dan si kembar Weasley masih sangat senang menggodai Nicole.

Seminggu sebelum Natal, sebuah pengumuman yang tertempel di papan pengumuman di Aula Depan menarik perhatian banyak murid, Nicole dan Gisselle adalah salah satunya, Fred, George dan Lee menyusul kedua gadis itu ke depan papan pengumuman.

"Klub Duel!!" Kata Gisselle setelah ia membaca pengumuman yang ada. Gadis itu menoleh kepada sahabatnya. "Sepertinya menarik, kita ikut?"

Nicole membaca pengumuman itu berulang kali dengan dahi yang mengkerut. "Entahlah. Jika gurunya Lockhart, aku ragu kita bisa belajar banyak." Komentar Nicole membuat Fred, George dan Lee tertawa terbahak-bahak. Namun karena Gisselle terus mendesaknya, akhirnya Nicole setuju untuk ikut Klub tersebut.

"Kalian sedang apa?" Suara Elly terdengar di belakang mereka. Dan benarlah, Elly, Cedric dan Feli berdiri di belakang mereka. Melihat Feli, Lee langsung menjadi salah tingkah. Sebaliknya, ketika melihat Lee, Feli tersenyum lebar dan melambaikan tangannya dengan bersemangat.

"Elly! Ada Klub Duel. Aku dan Nicole akan ikut, bagaimana denganmu?" Kata Gisselle. Elly maju ke sebelahnya dan membaca pengumuman itu.

"Sepertinya menarik. Aku ikut." Kata Elly sambil tersenyum pada Gisselle. Gisselle tampak senang sekali. Gadis brunette itu menoleh pada teman-temannya yang lain.

"Bagaimana dengan kalian?" Tanya Gisselle. Betapa bahagianya dia ketika teman-temannya mengatakan bahwa mereka akan ikut juga. Nicole menepuk kepala temannya yang memang sedikit polos itu.

Malamnya, mereka semua berkumpul di Aula Utama. Nicole, Elly dan si kembar bergumam protes ketika Lockhart yang muncul untuk mengajar mereka, sementara Gisselle dan Feli berbinar-binar karena senang. Lalu Snape muncul sebagai asisten Lockhart dan sebagian besar anak Gryffindor mencibir protes tanpa suara.

Peragaan duel tidak ada yang spesial menurut Nicole. Tidak ada sampai mendadak Harry berbicara dengan suara mendesis pada seekor ular yang baru saja di munculkan oleh Malfoy. Seluruh anak kecuali Elly tersentak kaget dan langsung berbisik-bisik cepat antar satu dengan yang lain. Klub Duel langsung di bubarkan dan Nicole pergi bersama teman-temannya ke suatu tempat yang sepi untuk berdiskusi tentang apa yang baru saja terjadi.

"Elly." Kata Nicole. "Adikmu seorang Parselmouth?"

"Seorang apa?" Tanya Elly, tidak familiar dengan kata yang baru saja di ucapkan Nicole.

"Parselmouth, artinya orang yang bisa berbicara dengan ular. Apa kau juga?" Tanya Nicole. Gisselle, si kembar, Cedric, Lee dan Feli menatap Elly dengan penasaran dan juga cemas.

"Dia pernah bercerita kalau dia berbicara dengan ular di kebun binatang. Aku tidak pernah bisa berbicara dengan ular, aku sudah pernah mencobanya ketika Harry memberi tahuku dia berbicara dengan ular. Kenapa? Apakah itu hal yang buruk?" Kata Elly, ikut cemas.

Nicole meremas kedua tangannya. "Cukup buruk. Salazar Slytherin adalah seorang Parselmouth dan sekarang seluruh sekolah pasti mengira bahwa Harry adalah penerus Salazar yang membuka Kamar Rahasia."

Benar seperti kata Nicole, Harry langsung menjadi topik pembicaraan dan di jauhi hampir seluruh sekolah. Si kembar berusaha menghibur Harry dengan berpura-pura bahwa Harry adalah pewaris sebenarnya dan bertingkah konyol. Elly juga ikut menjadi topik karena dia adalah kakak Harry, tapi Cedric selalu disisinya, membantunya.

Pagi hari setelah kejadian di Klub Duel itu, seluruh sekolah di kagetkan dengan teriakan Peeves. Tentu saja semua anak langsung berhamburan ke lokasi hantu jahil itu. Pemandangan Harry yang berdiri di dekat Justin, seorang anak Hufflepuff, yang membatu dan Nick yang hanya melayang dengan warna hitam berasap tidak terlewatkan oleh mereka. Beberapa anak menjerit, seperti Gisselle yang sekarang bersembunyi di belakang tubuh Nicole.

McGonagall langsung muncul beberapa detik kemudian dan menyuruh anak-anak kembali ke ruang kelas mereka. Cedric harus memegang tangan Elly dan menariknya pergi karena gadis itu berusaha lari ke sisi adiknya. Nicole juga menggiring Gisselle kembali ke kelas Mantra mereka.

"Benarkah Harry adalah pewaris Slytherin?" Tanya Gisselle pelan.

"Omong kosong. Itu tidak mungkin. Harry tidak akan pernah menyerang orang." Jawab Nicole.

Namun hanya sedikit orang yang berpikiran sama dengan Nicole. Beberapa orang tua sudah meminta anak-anak mereka pulang saat liburan Natal nanti. Nenek Gisselle juga meminta gadis itu pulang sehingga dengan enggan, gadis brunette itu pulang saat liburan tiba. Hari Natal pun berlalu dengan cepat dan muncul desas-desus bahwa Hermione Granger diserang oleh pewaris Slytherin mulai bermunculan di akhir liburan. Harry dan Ron langsung menjelaskan pada Nicole apa yang sebenarnya terjadi ketika gadis itu bertanya.

"Kalian tahu, kalian telah melanggar banyak peraturan?" Kata Nicole. Harry dan Ron menunduk menatap kaki mereka. Nicole menghembuskan nafas pasrah, "Aku tidak akan melaporkan kalian, tapi jangan berbuat gegabah lagi seperti itu." Baik Ron maupun Harry langsung mengucapkan janji mereka.

Februari pun tiba tanpa ada serangan satupun dan semua orang mulai lega karena mengira penyerangan dari pewaris Slytherin telah berhenti. Namun bagi Nicole, ada serangan baru baginya. Fakta bahwa dalam kurang dari dua minggu, hari Valentine akan tiba. Selurub gadis sudah mulai berisik mengenai hal itu, tak terkecuali, Elly dan Gisselle.

Atas desakan mereka, akhirnya Nicole membuat strawberry celup cokelat. Tentu saja ia memasak dibantu oleh Gisselle karena Nicole sama sekali tidak bisa memasak. Pagi di hari Valentine, seluruh anak di kejutkan dengan dekorasi Aula Utama yang agak berlebihan. Nicole, yang datang cukup pagi, di sambut oleh Lockhart yang memakai jubah pink.

"Nicole sayangku! Happy Valentine!!" Kata Lockhart.

"Happy Valentine juga professor." Jawab Nicole dengan enggan, walau Lockhart tampaknya tidak menyadarinya. Mendadak seorang kurcaci berpakaian cupid berlari ke arah Nicole dan memberikannya sebuah kartu.

"Ah cupid manisku. Itu adalah kartu khusus untukmu Nicole sayang. Semoga harimu cerah!!" Lockhart mengacak-acak rambut Nicole dan berjalan dengan riang ke meja guru. Nicole menyimpan kartu itu tanpa membacanya, ia berjanji pada dirinya sendiri kalau dia akan membakarnya dalam kesempatan pertama.

Oliver masuk ke Aula Utama lebih telat dari biasanya karena latihan Quidditch yang melelahkan malam sebelumnya. Angelina, Alicia dan Katie juga telat, si kembar dan Harry bahkan belum muncul di Aula sama sekali. Gisselle menyikut Nicole pelan dan langsung memfokuskan dirinya pada makanannya. Oliver menemukan Nicole di meja Gryffindor dan langsung duduk di sebelahnya.

"Dekorasi yang wah." Kata Oliver setelah ia bertukar salam dengan Nicole. Nicole mengangguk setuju dan memandang pemuda di sebelahnya itu. Dia hendak memberikan hadiahnya sebelum si kembar muncul dan menghancurkan segalanya.

"Oliver, ini untukmu." Kata Nicole. Ia menarik sebuah kotak yang sudah dihias dari tasnya dan memberikannya pada Oliver. Beberapa anak yang melihat hal itu terkikik pelan sementara muka Oliver sendiri memerah. "Happy Valentine." Lanjut Nicole setelah Oliver mengambil hadiahnya.

"Terima kasih." Kata Oliver. Pemuda itu langsung membuka kotaknya dengan hati-hati dan mengambil strawberry berlapis cokelat yang di buat Nicole dengan susah payah lalu memakannya

"Aku tidak bisa memasak, jadi mungkin rasanya tidak enak." Ujar Nicole, sedikit malu.

"Tidak, ini sempurna. Terima kasih banyak." Kata Oliver.

Nicole bisa merasakan wajahnya memanas lagi, "S-sama-sama."

***

Pertandingan Quidditch berikutnya sudah didepan mata sehingga team Gryffindor berlatih mati-matian hingga malam hari. Merasa kasihan, akhirnya Nicole dan Gisselle membantu Fred dan George mengerjakan tugas mereka hingga larut malam.

"Entah apa yang kami lakukan tanpa kalian.." Gumam Fred ketika ia berhasil menyelesaikan tugas mengarang dari Snape. George juga menggumamkan kata-kata yang sama.

"Tapi bantuan ini hanya berlaku bila bagi kami kalian memang sudah membutuhkannya." Kata Nicole dengan tegas.

"Kami mengerti. Tenang saja." Jawab George.

Pagi di hari pertandingan melawan Hufflepuff, matahari bersinar cerah. Seakan-akan tidak mau kalah, muka Oliver juga berseri-seri. Ia terus menyuruh anggota team nya makan walau piringnya sendiri kosong. Nicole memandang pacarnya dengan kening berkerut.

"Kau juga harus makan." Kata Nicole seraya menyendokan telur aduk ke piring Oliver. Kerutannya bertambah ketika Oliver mengatakan kalau ia tidak lapar. "Makan." Suara Nicole terdengar luar biasa tegas karena Oliver langsung menyuap sesendok penuh telur aduk itu ke mulutnya.

"Hanya Nicole yang bisa membuat kapten kita seperti itu." Komentar Katie sambil tertawa. Oliver memang suka keras kepala, tapi hal itu sering tidak bertahan lama bila berhadapan dengan Nicole.

Setelah mengucapkan selamat berhasil dan memberi Oliver kecupan kilat di pipi, Nicole berjalan menuju tempat duduk penonton bersama Gisselle.

"Ku perhatikan kalian berdua sudah tidak canggung bersama." Kata Gisselle. Nicole tersenyum dan memandang Gisselle.

"Bagaimana denganmu Gisselle? Ada perkembangan dengan George?" Muka Gisselle langsung memerah mendengar pertanyaan Nicole. Nicole tertawa melihat reaksi Gisselle. "Katakan saja bila aku bisa membantu dengan sesuatu."

Gisselle mengangguk. Ketika mereka berdua sampai di tempat biasa mereka, dan pertandingan hampir di mulai, Ron lari dengan tergesa-gesa ke arah mereka.

"Dimana Hermione?" Tanya Gisselle saat gadis sahabat Ron itu tidak kelihatan.

"Perpustakaan." Jawab Ron sambil berusaha mengatur nafasnya. Baru saja pemuda itu duduk ketika McGonagall berjalan memasuki lapangan dengan megafon besar di tangannya.

"Pertandingan hari ini di batalkan." Kata McGonagall. Stadion langsung menjadi ramai dan Nicole bisa melihat para pemain langsung mendekati McGonagall.

"Ayo kita periksa." Kata Nicole. Ia berdiri, diikuti dengan Gisselle dan Ron. Suara 'buu-buu' terdengar jelas dari seluruh penjuru di lapangan itu. Suara McGonagall kembali terdengar, mengalahkan suara para murid.

"Seluruh murid diminta kembali ke ruang rekreasi asrama masing-masing. Kepala Asrama akan memberikan keterangan yang lebih jelas. Secepat mungkin. Ayo ayo!" Dan seluruh murid pun bangkit berdiri dan mengikuti perintah McGonagall. Setelah wanita yang sudah berumur itu selesai memberikan pengumuman, Nicole, Gisselle dan Ron tiba di lapangan dan berlari ke arah kerumunan pemain. Mendadak McGonagall dan Harry berjalan berdua menuju ke kastil, dan berpaspasan dengan Nicole, Gisselle dan Ron. McGonagall menatap Ron lalu Nicole dan Gisselle.

"Mr. Weasley, ikutlah denganku juga. Kalian berdua," McGonagall menatap kedua gadis itu. "..segera kembali lah ke ruang rekreasi."

Nicole dan Gisselle saling berpandangan sementara McGonagall pergi bersama Harry dan Ron. Tidak lama kemudian, Oliver dan si kembar mendekati mereka, sudah berganti baju dari seragam Quidditch menjadi seragam sekolah yang biasa.

"Apakah professor memberi tahumu alasan ia menghentikan pertandingan ini?" Tanya Oliver pada Nicole. Gadis itu menggeleng dan langsung mengatakan ulang perkataan McGonagall tadi.

"Sebaiknya kita pergi ke ruang rekreasi saja." Kata Gisselle. Mereka semua setuju dan langsung berjalan menuju ruang rekreasi. Ruang rekreasi Gryffindor penuh sesak dan ramai karena ocehan. Nicole berhasil mendapat tempat duduk dan Oliver duduk di sebelahnya sementata Gisselle dan si kembar duduk di sofa panjang tidak jauh dari mereka.

Tidak lama kemudian, McGonagall muncul bersama Harry dan Ron. Ia membuka gulungan perkamen dan membacanya dengan suara keras.

"Setiap murid sudah harus kembali ke ruang rekreasi asrama mereka paling lambat pukul enam sore. Tak seorang murid pun diizinkan meninggalkan asrama setelah waktu itu. Kalian akan ditemani seorang guru ke semua kelas setiap pergantian pelajaran.”

McGonagall melanjutkan pengumumannya. Ketika ia sampai mengenai latihan dan pertandingan Quidditch yang di tiadakan, Nicole bisa merasakan tubuh Oliver menegang disebelahnya. Hal tersebut pasti sangat mengejutkan bagi pemuda itu. Bagaimana pun juga, Quidditch adalah hidupnya.

Muka McGonagall tampak cemas dan dengan suara agak tercekat ia mengatakan pendapatnya mengenai mungkin sekolah harus di tutup. Nicole menggigit bibir bawahnya dengan cemas, jika sekolah itu di tutup, artinya kakeknya akan kehilangan pekerjaannya dan ia kehilangan rumahnya.

Ruang rekreasi langsung ramai ketika McGonagall meninggalkan ruangan itu. Gisselle dan si kembar langsung pergi ke tempat Nicole dan Oliver.

“Apa yang akan kita lakukan?” Tanya Gisselle cemas. “Sekolah akan di tutup?”

“Apakah kau bisa menanyakan kakekmu, Nicole?” Tanya George. “Jangan sampai Hogwarts di tutup.”

Nicole memandang kedua tangannya yang sekarang terkepal di pangkuannnya. “Kurasa akan susah bertemu kakek saat ini, dengan adanya segala peraturan baru itu. Tapi kuharap mereka tidak akan menutup sekolah ini. Hogwarts adalah rumahku sejak aku berumur satu tahun.”

Malam harinya, larut malam sekali, McGonagall masuk kedalam kamar tempat Nicole sedang tidur dan membangunkan gadis itu. Wanita itu menempatkan jarinya di depan bibirnya dan meminta Nicole untuk mengikutinya tanpa bersuara. Nicole mengangguk dan mengambil jaketnya sebelum mengikuti McGonagall keluar dari kamar dan dari ruang rekreasi Gryffindor.

“Kita akan pergi kemana professor?” Tanya Nicole dalam bisikan. Koridor ramai dengan para guru, prefect dan hantu yang berjaga berpasangan. Semua orang yang melihat Nicole memandang McGonagall dengan bingung tapi professor itu mengabaikan mereka semua dan tetap berjalan. Tidak punya pilihan lain, Nicole mengikutinya.

“Kepala sekolah memanggilmu.” Kata McGonagall dengan cepat. Mereka berdua menaiki tangga di balik patung gargoyle menuju ruang kepala sekolah, tapi McGonagall tidak ikut masuk. Di dalam ruangan, Nicole melihat kakeknya sedang mengepak beberapa barang milik pribadinya.

“Kakek? Kenapa.. Ada apa? Apa yang terjadi?” Nicole merasa panik melihat kakeknya bertindak seakan-akan hendak meninggalkan sekolah. Dumbledore menoleh dan berjalan ke arah cucunya itu.

“Nicole.” Kata Dumbledore. Dia memegang kedua pundak cucunya itu. “Dengarkan aku baik-baik. Dewan Sekolah telah menskorsku dari sekolah..”

“Tidak!!” Kata Nicole, suaranya cukup keras. “Mereka tidak bisa melakukan itu!” Gadis itu menolak untuk percaya bahwa kakeknya telah di skors dari sekolah.

“Mereka bisa, sayangku, dan mereka telah melakukannya. Sekarang dengarkan perintahku. Fawkes akan ada dalam perawatanmu, dan bila dia menunjukan tanda-tanda akan terbang ke suatu tempat, berikan ini padanya.” Dumbledore memandang Nicole dengan serius dan menyerahkan topi seleksi ke dalam tangan Nicole. Topi yang sudah di coba Nicole berulang kali sejak kecil dan, tempat ia biasa menemukan pedang indah bertulisan ‘Gordic Gryffindor’ yang setelah ia cukup besar, ia ketahui adalah milik salah satu penyihir terhebat yang pernah ada.

Nicole tidak mengerti akan tugasnya, namun bila itu perintah dari kakeknya, maka ia akan melakukannya. Ia menggenggam erat topi itu, sesaat ia bisa merasakan ujung pedang yang secara ajaib akan muncul bila Nicole menginginkannya. “Aku mengerti. Tapi kau akan kembali kan?”

Dumbledore tersenyum dan mengusap kepala Nicole. “Tentu saja. Berhati-hatilah Nicole, ingat tugasmu. Sampai berjumpa lagi.” Setelah berkata begitu, Dumbledore mencium dahi Nicole dan berjalan ke luar ruangan. Nicole memandang topi usang itu dan segera menyembunyikannya di balik jaketnya.

***

Berita bahwa Dumbledore telah di skors telah menyebar dan menambah ketakutan di wajah setiap anak. Malfoy membanggakan ayahnya yang telah bisa mengusir Dumbledore berulang kali, membuat Nicole harus menahan amarahnya dan tidak meninju muka pemuda pirang itu. Beberapa orang menanyai Nicole tentang keberadaan Dumbledore sekarang, dan Nicole menjawab ia tidak tahu pasti, walau gadis itu menduga kakeknya pulang ke rumah mereka berdua yang tersembunyi di Gordic’s Hollow.

Tiga hari sebelum ujian sekolah dimulai, McGonagall memberikan pengumuman sewaktu sarapan. “Aku punya kabar baik untuk kalian.” Katanya, menimbulkan suara penasaran terdengar dari berbagai arah. Berbagai tebakan pun di lontarkan, tapi tidak ada yang mengalahkan tebakan dari Oliver.

“Pertandingan Quidditch akan kembali di adakan!!” Teriakan pemuda itu menghasilkan tatapan tajam dari pacarnya sendiri.

“Hanya itukah yang kau pikirkan?” Tanya Nicole, membuat Oliver langsung mengatakan bahwa ia hanya bercanda dan segera meminta maaf pada gadis itu. McGonagall menyampaikan berita baiknya, bahwa seluruh korban akan bisa disembuhkan dalam waktu dekat, membuat seluruh orang di aula, kecuali yang berasal dari Slytherin bersorak.

“Semoga dengan ini penyerangan berakhir..” Kata Gisselle, dan teman-temannya mengangguk setuju.

Namun yang mereka harapkan tidak terjadi, dan penyerangan berikutnya pun terjadi. Saat itu Nicole, Gisselle, Lee dan si kembar sedang mengikuti pelajaran Ramalan ketika suara McGonagall yang sudah di keraskan dengan sihir terdengar dari seluruh penjuru sekolah.

“Semua murid diminta untuk kembali ke ruang rekreasi asrama masing-masing dan semua guru diminta berkumpul di ruang guru. Segera.” Sedetik setelah pengumuman itu, anak-anak langsung melompat berdiri dan mulai berebut keluar ruangan, merasa ketakutan karena mereka semua mengira terjadi serangan lainnya.

Nicole menggenggam tangan Gisselle agar tidak terpisah dengannya di tengah kerumunan anak-anak yang berusaha kembali ke ruang rekreasi masing-masing. Mengikuti jejak Nicole, George memegang tangan Gisselle yang lain dan Fred memegang tangan George lalu Lee memegang tangan Fred. Sedikit konyol tapi itu efektif dalam menjaga mereka tetap bersama hingga ruang rekreasi.

“Siapa yang menjadi korban kali ini?” Beberapa anak melontarkan pertanyaan yang sama. Satu persatu anak-anak Gryffindor bermunculan di ruang rekreasi. Oliver, yang muncul sedikit belakangan, mencari Nicole di tengah kerumunan dan langsung berlari ke sisi gadis itu secepatnya.

“Aku tidak apa-apa. Aku tidak apa-apa.” Kata Nicole berulang kali untuk menenangkan Oliver. Ron dan Harry lalu muncul beberapa saat setelah Oliver muncul dengan muka pucat pasi. Mereka berdua tidak menjawab apa-apa saat ditanya, Ron malah memandang kakak-kakaknya dengan ekspresi ketakutan di wajahnya.

Penyebab mereka berdua bertingkah seperti itu segera terungkap. McGonagall muncul dari balik lukisan si Nyonya Gemuk dengan muka seakan-akan hendak menangis. Dengan suara serak ia memberi tahu korban terbaru dan terakhir dari pewaris Slytherin adalah Ginny Weasley. Gadis malang itu telah di bawa kedalam Kamar Rahasia dan tidak bisa di selamatkan lagi.

Sisa hari itu, Nicole dan Gisselle hanya duduk disebelah si kembar, Harry dan Ron duduk di seberang mereka sementara Percy sedang mengirim surat pada Mr. dan Mrs. Weasley. Gisselle menggenggam tangan George yang duduk disebelahnya, tapi bahkan gadis itu tidak bisa berkata apa-apa pada si kembar yang sedang berkabung itu. Akhirnya Fred dan George pergi ke kamar mereka. Harry dan Ron bercakap-cakap singkat lalu berdiri dan berjalan keluar ruang rekreasi. Nicole memperhatikan kedua anak itu, namun tidak berkata apa-apa.

Perlahan-lahan, ruang rekreasi mulai sepi karena yang lain mengikuti jejak si kembar untuk tidur di kamar mereka. Gisselle juga mengatakan ia tidak bisa tahan lagi dan bergegas ke kamarnya, Nicole memprediksi gadis berhati lembut itu sedang menangis di kamarnya. Kini hanya tinggal Nicole dan Oliver di ruang rekreasi, tidak bertukar sepatah kata pun. Mereka berdua hanya menatap api di perapian.

Ketukan pelan di jendela membuat pasangan itu terlonjak kaget. Nicole lah yang pertama bertindak. Gadis itu langsung mendekati jendela, langit diluar sudah mulai gelap namun bulu burung yang tadi mengetuk jendela terlihat jelas seakan-akan bulu itu menyala.

“Fawkes!” Seru Nicole, karena memang burung peliharan milik kakeknya itulah yang mengetuk jendela ruang rekreasi Gryffindor. Fawkes terbang ke salah satu puncak sofa dekat perapian dan berkicau pelan.

“K-kenapa dia ada disini?” Kata Oliver, masih kaget dengan kemunculan burung phoenix yang indah itu. Nicole langsung mengingat perintah kakeknya dan berlari ke kamarnya. Dengan cepat ia membuka kopernya dan mengambil topi usang lalu berlari kembali ke ruang rekreasi.

“Ini. Sekarang pergilah.” Kata Nicole seraya menyerahkan topi seleksi itu. Fawkes berkicau sekali dan langsung terbang keluar, melewati jendela yang sama dengan yang ia lewati tadi. Nicole mengawasi burung itu hingga hilang dari pandangannya.

“Sekarang kita hanya bisa berharap pada keajaiban.” Gumam Nicole.

***

Seakan-akan doa Nicole terkabul, gadis itu terbangun di sofa Gryffindor secara tersentak kaget keesokan paginya. Tanpa sadar ia tertidur di pundak Oliver saat mereka berdua menunggu di ruang rekreasi. Suara berisik yang berasal dari seorang pemuda yang berlumuran debu dan tanah membangunkan Nicole dan lalu Oliver. Ronald Weasley melangkah masuk kedalam ruang rekreasi sambil berteriak keras-keras.

“Kami berhasil!! Kami berhasil!!” Muka Ron terlihat luar biasa bahagia, ia melonjak-lonjak sehingga debu mulai bertebaran kemana-mana.

“Tenangkan dirimu Ron. Apa maksudmu dengan berhasil?” Tanya Nicole yang langsung mendekati pemuda berambut merah itu.

“Kami, maksudku, Harry dan aku berhasil menyelamatkan Ginny dan mengalahkan pewaris Slytherin!!” Teriak Ron. Perlu beberapa detik untuk kedua orang yang lebih tua itu untuk mencerna informasi sebelum mereka ikut bersorak juga. Tidak lama kemudian, seluruh asrama Gryffindor bergabung bersama mereka, kecuali Gisselle, yang tidak bersorak kegirangan, melainkan menangis lega.

Pesta yang diadakan malam itu berjalan dengan luar biasa meriah. Mereka merayakan berakhirnya horror pewaris Slytherin, kesembuhan para korban, selamatnya Ginny dan kembalinya Dumbledore secara bersamaan. Sisa akhir tahun ajaran pun berakhir dengan cepat. Ujian di tiadakan dan pelajaran Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam juga dibatalkan karena Lockhart telah dibawa ke Rumah Sakit St. Mungo. Harry dan Ron telah menceritakan petualangan mereka pada Hermione, Nicole, Gisselle, Elly dan seluruh keluarga Weasley yang lain dan hampir tidak ada yang kecewa mendengarnya, hanya Hermione yang merasa sedikit sedih. Gisselle mencabut semua rasa kagumnya pada Lockhart ketika mendengar kebenarannya dari mulut Harry dan Ron.

“Aku tidak percaya ia melakukan hal itu!” Keluh Gisselle untuk kesekian kalinya. “Aku merasa terkhianati.”

“Lain kali, pilih idolamu dengan teliti.” Komentar Elly sementara yang lain tertawa terbahak-bahak. Tidak terasa, mereka sudah harus berpisah di akhir tahun ajaran. Nicole mengantar teman-temannya ke stasiun seperti biasa dan mengucapkan perpisahan disana.

“Sampai nanti Nicole!”

“Kami akan mengirimu surat!”

“Jangan bertambah galak ya!”

Berbagai kalimat perpisahan diteriakan oleh teman-temannya, namun tidak ada yang bisa menandingi milik Oliver. Sebelum pemuda itu masuk ke dalam kereta, ia menarik Nicole mendekat dan mencium gadis itu tepat di mulut, membuat semua orang yang melihatnya terpekik, bersorak dan berteriak kaget.

“Sampai nanti.” Kata Oliver sambil nyengir dan berlari masuk kedalam kereta. Nicole merasa dirinya bisa meleleh ditempat saat itu juga.

***TBC***

A/N : Oke mungkin akan ada banyak kesalahan karena gue males nge cek ulang hahahaha
Maaf kalau aneh juga ya hahahaha #plak
Mohon maaf apabila ada kesalahan *bows*

Original Plot by : Our Queen, JK Rowling
The ‘new’ plot Made by : Liz
Take out with full credits please~ ^^