Chapter 13 : The
New Prefect Girl
(Setting
: HP 3 )
Musim
panas terlah berlalu selama hampir dua bulan. Akhir Juli, seperti biasanya,
setiap anak Hogwarts menerima surat dari sekolah mereka, tak terkecuali Nicole.
Liburan ini, gadis itu tidak tinggal di Hogwarts. Ia kembali ke rumahnya dan
kakeknya di Gordic’s Hollow. Setelah merapikan rumah yang sebenarnya tidak
terlalu di perlukan karena peri rumah Hogwarts kadang pergi ke rumah ini untuk
membersihkannya, gadis itu duduk di ranjangnya dan merobek amplop dari
Hogwarts.
Nicole
membaca suratnya dengan teliti dan ketika ia meletakan surat itu lalu bangkit
berdiri, sesuatu jatuh dari pangkuannya. Bingung karena merasa tidak meletakan
apapun di pangkuannya sebelumnya, Nicole membungkuk dan mengambil benda tersebut,
sebuah pin merah bergambar singa emas Gryffindor dan huruf P berada di depan
gambar singa itu. Nicole sudah pernah melihatnya sebelumnya, itu adalah pin
Prefect.
***
Akhir
bulan Agustus pun tiba. Seperti tahun-tahun yang lalu, Nicole pergi menginap di
Diagon Alley sehari sebelum keberangkatan. Berita mengenai Sirius Black yang
melarikan diri terpasang di tiap sudut jalan dan pengumuman dari Kementerian
Sihir juga berada dimana-mana. Nicole bertemu kedua gadis yang menjadi
sahabatnya dalam empat tahun terakhir sedang berdiri di depan toko bahan
ramuan.
“Gisselle!
Elly!” Sapa Nicole. Kedua gadis yang dipanggil itu pun menoleh dan mereka
segera melepas kangen dan mengobrol dengan ramai. Setelah mereka menyelesaikan
acara belanja untuk tahun ajaran mereka dan duduk bersantai di toko es krim
milik Florean Fortescue. Elly memandang Nicole dengan pandangan penasaran.
“Aku
mendapat pin prefect di suratku. Saat aku menanyai Gisselle, ia berkata ia
tidak mendapatkannya. Bagaimana denganmu Nicole?” Tanya Elly. Nicole memandang
Elly lalu Gisselle sebelum akhirnya mengangguk.
“Sudah
kami duga.” Kata Gisselle. Ia dan Elly tersenyum lebar dan memberi Nicole
selamat, tapi Nicole malah mengernyit.
“Aku
tidak mengerti. Kenapa kakek membuatku seorang prefect.” Kata Nicole seraya
memainkan es krim yang berada di gelasnya.
“Karena
kau anak terpintar di angkatan kita.”
“Karena
kau punya sifat pemimpin.”
Kerutan
di dahi Nicole bertambah. Ia menatap kedua temannya yang menjawab pertanyaannya
dengan dua jawaban yang berbeda. “Aku tidak—“
“Jangan
mengelak.” Kata Elly dan Gisselle bersamaan. Mereka berdua lalu tertawa secara
bersamaan juga.
“Kalian
ini sebenarnya Gisselle dan Elly atau Fred dan George sih?” Keluh Nicole, tapi
gadis itu akhirnya tersenyum.
“Ada
yang memanggil kami?” Kehadiran Fred dan George membuat ketiga gadis itu
melonjak terkejut. Setelah menarik kursi, kedua pemuda kembar itu duduk di
antara Gisselle dan Elly.
“Kudengar
kau menjadi prefect, Nicole?” Kata Fred.
“Habislah
masa-masa bahagia kitaa!!” Kata George, bergaya seakan-akan dunia akan kiamat.
Ia dan Fred berpelukan dan berpura-pura menangis tersedu-sedu. Nicole langsung
melayangkan tinjunya pada mereka berdua.
“Kira-kira
siapa pasangan prefect kalian ya?” Tanya Gisselle saat Nicole sudah selesai
menghajar kedua pemuda kembar itu. Fred dan George sedang tergeletak di lantai
dengan badan yang sakit-sakit akibat Nicole.
“Cedric.”
Jawab Elly dengan cepat, mukanya memerah.
“Aah..
jadi kau punya kesempatan untuk mendekatinya lebih banyak lagi ya.” Kata Nicole
seraya memberikan Elly sebuah senyuman jahil. Elly tidak menjawab, hanya
tersenyum dan mengangguk. “Aku belum tahu siapa prefect Gryffindor lainnya.”
Lanjut Nicole, menjawab pertanyaan Gisselle.
“Mungkin
kan salah satu dari mereka?” Kata Gisselle sambil menunjuk Fred dan George yang
masih belum bangun dari lantai. Nicole dan Elly langsung menggeleng dengan
cepat. “Atau Lee?” Tebak Gisselle lagi.
“Jangan
bercanda Gisselle. Bagaimana mungkin pemuda itu menjadi Prefect.” Kata Nicole.
“Ouch.
Kau melukai harga diriku Nicole.” Lee mendadak menarik kursi dan duduk diantara
Gisselle dan Nicole. Ketiga gadis itu menatap Lee dengan sedikit tidak percaya.
“Tidak
mungkin. Kau? Benar-benar Prefect Gryffindor?” Tanya Nicole. Lee menggeleng.
“Tentu
saja bukan! Aku hanya mengatakan kau melukai harga diriku dengan berkata
seakan-akan aku anak yang tidak cukup baik.” Jawab Lee. Nicole, Elly dan
Gisselle menghembuskan nafas lega. Lee menyadari maksud hembusan nafas itu dan
protes. Dengan cepat protesan itu di abaikan dan ketiga gadis itu kembali
berdiskusi mengenai siapa Prefect Gryffindor dan asrama lainnya.
“Ngomong-ngomong
bagaimana Harry? Ia tidak terkena masalah kan?” Tanya Nicole, mendadak teringat
salah satu surat Elly yang menceritakan sedikit kecelakaan di beberapa bulan
yang lalu yang disebabkan oleh Harry.
“Tidak.
Aneh ya? Tapi aku merasa bersyukur, sudah cukup banyak kesulitan yang ia
hadapi.” Kata Elly.
Malamnya,
Nicole dan Gisselle ikut bersama Elly dan si kembar untuk makan malam bersama
keluarga Weasley. Mereka juga akan ikut rombongan besar itu ke stasiun King’s
Cross besok paginya. Percy menjabat tangan Nicole dan menyapanya dengan luar
biasa formal lalu menyelamatinya karena menjadi Prefect.
“Aku
sudah bisa menduga kau akan menjadi Prefect, Nicole.” Kata Percy. “Sebuah
tanggung jawab yang besar. Jangan malu-malu untuk meminta bantuanku jika ada
masalah.” Pemua itu berbicara sambil membusungkan dadanya, menampilkan pin
Ketua Murid miliknya.
Nicole
hanya mengangguk sambil berusaha menahan tawanya. Si kembar telah memberi tahu
pada dirinya, lewat surat, mengenai pacar Percy dan tingkah pemuda itu. Tidak
lama kemudian Harry, Ron dan Hermione tiba. Makan malam berlangsung dengan
ceria, Mrs. Weasley mengomeli si kembar karena mereka tidak menjadi Prefect,
lelucon-lelucon dan tingkah konyol si kembar, dan obrolan mengenai tahun ajaran
baru menghiasi makan malam itu.
Esok
harinya, setelah sampai dengan selamat di peron 9 ¾, Mr. Weasley menarik Harry
dan mulai berbicara secara pribadi dengan pemuda itu. Nicole melirik mereka
selama beberapa saat sebelum Percy menepuk pundaknya.
“Prefect
punya gerbong khusus. Sampai ketemu disana.” Kata pemuda itu dan dia pergi
bersama pacarnya, Penelope Clearwater. Nicole dan Elly berpandangan dan mengucapkan
sampai nanti pada yang lain. Beberapa bisikan mengikuti kedua gadis itu saat
mereka sedang menaikan koper dan sangkar burung mereka ke atas kereta dan
menyeretnya menuju gerbong Prefect.
“Mencari
Oliver?” Tanya Elly ketika melihat Nicole menoleh ke dalam tiap kompartemen
yang mereka lewati, sesekali melihat ke luar, ke peron, dimana beberapa anak
masih mengucapkan perpisahan mereka. Nicole mengangguk. Ia belum melihat
pacarnya sama sekali sejak memasuki stasiun King’s Cross.
“Enak
ya, hubungan kalian berjalan lancar.” Komentar Elly lagi. Lagi-lagi Nicole
tersenyum jahil pada sahabatnya yang berambut merah itu. Selagi Nicole menggoda
Elly tentang Cedric, sebuah suara di belakang mereka membuat kedua gadis itu
terkejut. Ketika mereka menoleh, seorang pemuda berambut hitam, sedikit
berantakan, balas menatap mereka.
“Joe!”
Kata Nicole. Pemuda itu bernama Jonathan Lawrence. Ia se angkatan dengan Nicole
dan berada di asrama Gryffindor juga. Pemuda yang pintar, namun ia pendiam
sehingga Nicole tidak terlalu mengenalnya terlalu dekat, hanya sebatas tahu
nama dan nama panggilannya dari seluruh anak Gryffindor, ‘Joe’.
“Nicole.”
Sapa Joe. Ia lalu mengangguk sebagai sapaan untuk Elly, lalu menatap Nicole
kembali. “Kau juga menjadi Prefect?”
“Juga?”
Nicole sesaat bingung dengan kata-kata Joe. Ia lalu melihat pin yang sama di
tangan Joe yang terbuka. “Ah! Kau Prefect!!” Joe mengangguk dan tersenyum
tipis.
Nicole,
Elly dan Joe masuk kedalam gerbong khusus Prefect. Tidak lama kemudian muncul
lah Cedric. Pemuda berambut cokelat muda itu tersenyum lebar dan menyapa
Nicole, tidak lupa ia juga menyapa Joe dengan sopan. Joe juga membalas
sapaannya dengan tenang dan kembali diam sementara Cedric, Nicole dan Elly
bertukar cerita mengenai musim panas mereka.
Hogwarts
Express pun akan segera berangkat dan prefect-prefect baru dari asrama lain pun
mulai bermunculan. Pemuda berambut biru tua berantakan dan seorang gadis
berambut pirang muncul bersamaan.
“Robert
Abernathy.” Kata si pemuda itu. Ia tersenyum begitu lebar dan menjabat tangan
semua orang yang ada disana. “Dan ini Rebecca Felberton.” Lanjut Robert dan
menunjuk gadis di sebelahnya yang tersenyum sopan. “Kami berdua dari Ravenclaw.
Kalian?”
Cedric
secara otomatis mengenalkan dirinya dengan ramah, diikuti dengan Elly, Joe dan
terakhir Nicole. Ketika mendengar nama Nicole, mata Rebecca melebar dengan
kaget, lain dengan Robert yang memperhatikan Nicole dengan lekat-lekat. Ia
tidak menutupi tingkahnya sama sekali. Otomatis Nicole merasa canggung.
“Oh,
jadi Ravensdale menjadi prefect. Sudah kuduga..”
Suara
sinis dari seorang pemuda mengalihkan pandangan semua orang yang ada. Pemuda
berambut cokelat tua memandang Nicole dengan pandangan sangat sinis,
disebelahnya ada seorang gadis dengan rambut merah-oranye. Nicole langsung
menampilkan ekspresi dinginnya, ia sudah bersiap-siap mengenai hal ini. Pasti
akan banyak anak yang mengejeknya dan mengatakan bahwa ia menjadi prefect
karena ia adalah cucu angkat Dumbledore. Gadis ini sudah berjanji pada dirinya
sendiri, kalau ia akan membuktikan bahwa kakeknya bukan memilihnya karena
Nicole adalah cucu kakeknya, tidak hanya itu.
“Ada
masalah dengan itu, McQuillen?” Jawab Nicole. Ia mengenali pemuda yang tadi
berbicara. Murid Slytherin yang satu ini sering sekali mengejek Nicole dan
Gisselle selama pelajaran ramuan, pelajaran dimana murid Gryffindor selalu
bertemu dengan Slytherin.
“Tidak
ada. Hanya saja,” McQuillen tersenyum dan berjalan mendekat. “Aku penasaran
bagaimana kau meminta pada kepala sekolah agar diberikan pin itu. Kau
memberinya cokelat?” Gadis berambut merah-oranye itu, Nicole mengenalinya juga,
namanya Madelyn Lowsley, anak Slytherin juga, terkikik menyebalkan.
Sebelum
Nicole sempat melontarkan balasan, Robert sudah melakukannya untuknya.
“Kau
ini idiot atau apa. Sudah jelas Nicole akan dipilih. Dia menjuarai semua nilai
ujian.” Kata Robert. Pemuda itu melipat kedua tangannya di dada dan menatap
McQuillen dengan pandangan tegas.
“Wah
Ravensdale, kau mempunyai penggemar nih.” Kata Lowsley dengan senyuman
menyebalkan terpasang diwajahnya. Robert dan Nicole sudah membuka mulut hendak
membalas ketika Percy dan Penelope masuk ke dalam gerbong.
“Ada
masalah?” Tanya Percy. Ia menatap Nicole lalu kedua anak Slytherin itu.
McQuillen langsung menampilkan wajah tidak berdosanya, Lowsley memberikan Percy
senyuman penjilat alanya. Melihat hal itu Percy mengernyit.
“Kami
hanya berkenalan.” Kata Rebecca dengan cepat. Ia segera duduk dan menyeret
Robert untuk duduk juga. McQuillen dan Lowsley juga duduk. Percy menatap
pacarnya dan mereka berdua mengangguk bersamaan, lalu Percy mulai menjelaskan
tugas-tugas Prefect pada ke delapan Prefect baru itu.
***
George
menatap gadis yang duduk didepannya. Gisselle sama sekali tidak mengatakan
apapun sejak Fred pergi diseret oleh Lee. Entah apa lagi yang di lakukan pemuda
berkulit hitam itu sehingga menarik Fred secepat kilat pergi meninggalkan
kompartemen mereka. Tiba-tiba pintu terbuka, namun bukan Fred dan Lee yang
kembali ke kompartemen, tapi Oliver yang muncul dengan ekspresi kebingungan di
ambang pintu.
“Dimana
Nicole?” Tanya pemuda itu, sedikit linglung karena tidak melihat pacarnya sejak
awal menginjak stasiun.
“Di
gerbong prefect, Oliver. Nicole sudah memberi tahumu kalau dia menjadi Prefect
kan?” George berkata dengan sabar, sedikit kasihan melihat kaptennya yang
sedikit menyedihkan. Oliver mengangguk sekali, Nicole memang pernah memberi
tahunya lewat surat.
“Tapi
ia belum kembali juga?” Tanya Oliver.
“Astaga
Oliver, kau akan bertemu dengannya di pesta tahun ajaran baru. Bersabarlah.”
Jawab George, setengah kesal setengah geli melihat tingkah kaptennya itu.
Nicole sendiri tidak pernah bertingkah seperti itu. Oliver mengangguk-angguk
lalu berjalan pergi. Dengan perginya Oliver, keheningan kembali menyelimuti
kompartemen itu karena Gisselle sama sekali tidak bicara dan George entah
kenapa mengikuti jejak gadis itu.
Gisselle
memandang ke Dialy Prophet, koran dunia sihir yang dari tadi dipegangnya dengan
penuh perhatian, sehingga ia tidak menyadari George berulang kali mencuri
pandang ke arahnya. Setelah memastikan Gisselle sama sekali tidak menyadarinya,
George memperhatikan gadis itu dengan lebih seksama.
Rambut
brunette Gisselle telah bertambah panjang selama liburan, terurai ke samping
sehingga tidak mengganggu gadis itu selama membaca. Mata berwarna hazelnya
dengan lincah membaca kata-kata yang ada. Tanpa sadar, muka George sedikit
memerah ketika ia menyetujui bahwa Gisselle telah tumbuh menjadi gadis yang
cantik.
Gisselle
merasakan bahwa ia sedang diperhatikan. Dengan malu-malu ia melihat kedepan dan
matanya bertemu dengan mata George. Muka keduanya langsung memerah, bertambah
merah dalam kasus George, dan mengalihkan arah pandang mereka. Tepat pada saat
itu Fred dan Lee masuk kedalam kompartemen.
“Kalian
sedang apa?” Tanya Fred melihat tingkah aneh saudara kembarnya dan Gisselle.
Kedua orang yang ditanyai itu langsung menjawab cepat dengan mengatakan ‘tidak
sedang apa apa’ bersamaan, membuat Fred semakin bingung sementara Lee nyengir
dan melirik Gisselle.
Obrolan
kembali berjalan normal bagi mereka, hingga saatnya memakai jubah sekolah
mereka karena Hogwarts sudah dekat. Gisselle memperhatikan ujung jubah George
yang memiliki lubang dan segera merogoh dalam kopernya dan mengeluarkan kotak
kecil berisi perlengkapan menjahit miliknya.
“George.”
Kata Gisselle. George menoleh dan menatap Gisselle dengan pandangan bertanya.
“Jika kau tidak keberatan, biarkan aku menjahit jubahmu, ada lubang disana.”
George
memeriksa seluruh jubahnya dan menemukan lubang yang dimaksud Gisselle. Ia
langsung membuka jubahnya dan memberikannya pada Gisselle. Dengan cepat,
Gisselle membetulkan ujung jubah itu dengan peralatan jahitnya. Ketiga pemuda
yang ada memperhatikan dengan penasaran.
“Selesai.”
Kata Gisselle sambil memberikan jubah itu kembali kepada pemiliknya. Fred
memperhatikan George memakai jubahnya kembali lalu menatap Gisselle.
“Bukankah
lebih mudah bila kau menggunakan sihir?” Kata-kata Fred membuat Gisselle
tersentak kaget, jelas ia tidak memikirkan cara itu. Dengan muka memerah malu,
ia menundukan kepalanya. Tapi George tersenyum riang dan menepuk kepala
Gisselle dengan lembut.
“Tapi
aku lebih suka jika jubahku di perbaiki dengan cara ini. Terima kasih
Gisselle!”
Muka
Gisselle bertambah merah dan memanas ketika George melakukan hal itu. George
melihat hal itu dan mendekatkan mukanya ke muka Gisselle lalu menatap dengan
cemas. “Ada apa? Apakah aku salah berbicara?”
Gisselle
langsung menjauhkan dan menggelengkan kepalanya. “Ti-tidak! Sama-sama George!”
Gadis itu langsung berpura-pura membaca korannya kembali. Ia memegang korannya
sehingga menutupi seluruh mukanya dari pandangan.
George
tertawa kecil melihat tingkah laku Gisselle. Gadis itu memang tidak mudah di
ajak bergaul seperti Nicole atau Elly, tapi menurutnya, Gisselle adalah gadis
yang mempunyai pesonanya sendiri.
***
Nicole
bersandar pada sisi lain lorong kereta dan memperhatikan kompartemen di
depannya. Ia sedang melakukan tugas pertamanya sebagai Prefect, berjaga di
lorong-lorong kereta Hogwarts Express ini. Ia belum sempat mengganti pakaiannya
dengan jubah Hogwarts karena ia mendapat tugas jaga pertama. Langkah kaki dari
sebelah kanannya menganggetkannya. Cedric menghampiri Nicole dan tersenyum.
Pemuda itu sudah memakai jubahnya dan memasang pin prefectnya di jubah
tersebut.
“Giliranku.
Kau bebas sampai kita tiba di stasiun Hogwarts nanti.” Kata Cedric menyampaikan
pesan dari Percy atau Penelope. Nicole menggangguk dan berjalan ke arah gerbong
khusus Prefect untuk memakai jubahnya. Setelah selesai, ia membawa sangkar
burung hantu hitamnya, Natte, ke kompartemen milik Gisselle, si kembar dan Lee.
Sebelum masuk ke dalam kompartemen, sekilas ia melihat Cedric sedang berbicara
akrab dengan seorang gadis berambut hitam panjang.
“Siapa
itu..” Gumam Nicole tanpa sadar. Namun ia tidak punya waktu untuk memikirkannya
karena si kembar menarik tangannya dan memaksanya duduk di antara mereka. Sisa
perjalanan menuju Hogwarts berlangsung ceria, namun sekitar 10 menit sebelum
mencapai sekolah, kereta itu berhenti.
“Aneh.”
Kata Nicole. “Seharusnya kita belum sampai ke sekolah.” Setelah ia berkata
begitu, mendadak seluruh lampu kereta mati dan semua menjadi gelap. Nicole bisa
mendengar Gisselle menarik nafas dengan cepat, tanda bahwa ia kaget dan
ketakutan. Dengan cepat, Nicole menarik tongkatnya yang ia sudah pindahkan dari
koper ke dalam saku jubahnya tadi dan mengucapkan sebuah mantra.
Nyala
api kecil yang dibuat Nicole menyinari kompartemen yang hanya berisi lima orang
itu. Api itu melayang di atas sehingga menjadi sumber cahaya yang cukup terang.
Nicole berdiri dan membuka pintu kompartemen mereka. Rasa dingin langsung
menyelimuti semua orang dan kebahagiaan tampaknya hilang. Sesosok orang
berjubah hitam, tinggi menjulang berdiri berhadapan dengan Nicole. Nicole tahu
sensasi itu, dan apa yang ada di hadapannya. Dementor.
“Ia
tidak ada disini. Pergi.” Kata Nicole dengan tegas, walau rasanya ia sudah
mulai lemas berdiri di depan Dementor itu. Tapi ia tidak bisa membiarkan
makhluk itu masuk ke dalam kompartemen karena Gisselle pasti tidak akan tahan
menghadapinya. Nicole sudah hendak mengangkat tongkatnya lagi ketika Dementor
itu akhirnya berlalu.
Nicole
menghembuskan nafas lega dan kembali duduk di tempatnya. Mendadak langkah kaki
seseorang yang berlari ke arah kompartemen mereka terdengar. Semua kepala
memandang pintu masuk kompartemen dengan tegang. Beberapa detik kemudian, Draco
Malfoy muncul dengan muka ketakutan di ambang pintu mereka. Mungkin pemuda itu
berlari ke arah kompartemen Nicole dan yang lain karena melihat adanya sumber
cahaya.
Kesal
karena masih mengingat kejadian di tahun ajaran yang lalu, bagaimana Malfoy
meremehkan kakeknya, Nicole membanting pintu kompartemen tertutup di depan muka
Malfoy, membuat seluruh temannya menatap dengan kagum.
“Apa
yang dementor lakukan disini?” Tanya Gisselle, badannya masih gemetar hebat.
George menjulurkan tangannya ke depan dan menggenggam tangan gadis itu,
berusaha menenangkannya. Nicole dan Fred menaikan alis, bingung dengan tindakan
George, tapi Lee tersenyum-senyum penuh arti.
"Mencari
Sirius Black kurasa." Jawab Nicole. Kereta api kembali berjalan dan lampu
sudah menyala lagi. "Aku harus pergi lagi, sampai nanti di pesta. Titip
Natte ya." Nicole pun berdiri dan berjalan keluar. Baru saja beberapa
langkah menuju gerbong Prefect, ia melihat Cedric yang setengah memeluk Elly
yang tampak baru bangun dari pingsan. Tanpa banyak pikir lagi, Nicole berlari
ke arah mereka.
"Elly!
Kau tidak apa-apa?" Nicole berlutut disebelah Elly. Gadis berambut merah
itu tersenyum lemah dan mengangguk. Nicole pun menoleh ke arah Cedric dan
menuntut penjelasan darinya.
"Dementor
lewat, dan hal itu mempengaruhi Elly lebih dari siapapun." Jelas Cedric
sambil membantu Elly duduk dengan lembut. "Ia lalu mendadak pingsan dan
baru saja bangun saat kau datang, Nicole."
Dengan
bantuan Cedric, akhirnya Nicole berhasil membawa Elly ke gerbong Prefect dan
memaksanya makan sebutir cokelat. Walau Elly memprotes keras, kedua temannya
berhasil menyuruhnya untuk beristirahat. Setelah mengawasi pemindahan koper,
mereka bertiga berjalan menuju kasti dan Aula Utama. Joe, Robert dan Rebecca
bergabung dengan mereka.
"Ada
yang kulewatkan?" Tanya Nicole ketika ia duduk di tempat yang disediakan
teman-temannya, diantara Oliver dan Lee.
"Hanya
upacara seleksi." Jawab Lee. "Dan kakekmu akan menyampaikan pidato
pembukanya."
Benar
seperti kata Dumbledore berdiri untuk menyampaikan pengumuman yang biasanya,
yang ditambah dengan pengenalan Remus Lupin sebagai guru Pertahanan Terhadap
Ilmu Hitam yang baru. Nicole mengenal Lupin, kakeknya pernah mengajaknya
bertemu beberapa kenalannya berulang kali saat dia kecil. Dumbledore lalu
mengenalkan Hagrid sebagai guru Pemeliharaan Satwa Gaib yang baru, dan Nicole
ikut bertepuk tangan dengan keras bersama anak-anak Gryffindor lainnya. Pengumuman
di lanjutkan dan beberapa anak berbisik-bisik cemas ketika Dumbledore
mengatakan pengumunan selanjutnya, mengenai Sirius Black dan Dementor.
"Sepertinya
semua pengumuman penting sudah kusampaikan. Sekarang, mari pesta!" Setelah
Dumbledore berkata itu, piring-piring terisi secara ajaib dan para murid mulai
berpesta. Pesta tahun ajaran baru berjalan semeriah biasanya, walau kali
ini percakapan mengenai Sirius Black dan kemunculan Dementor di kereta menjadi
topik favorite malam itu. Setelah potongan kue terakhir menghilang dari meja
dan piring-piring bersih kembali, Dumbledore berdiri kembali.
"Baiklah,
sekarang waktunya kalian beristirahat. Selamat malam." Setelah mendengar
kakeknya menutup pidato awal tahun ajaran itu, Nicole meloncat berdiri dan bergegas
memimpin rombongan anak kelas satu bersama Joe dan di bantu dengan bersemangat
oleh Percy. Setelah tugas Prefectnya selesai, dan Nicole baru saja hendak naik
ke dalam kamarnya, suara ketukan di jendela menarik perhatiannya. Ruang
rekreasi sudah sepi karena sebagian besar anak sudah masuk kedalam kamar dan
bersiap tidur, jadi tidak ada yang melihat Fawkes mengetuk jendela selain
Nicole.
Fawkes
terbang ke pundak Nicole dan berkicau pelan saat gadis itu membukakan jendela.
"Kakek memanggilku?" Tanya Nicole seraya mengelus kepala Fawkes.
Burung merah itu kembali berkicau merdu dan Nicole menganggap itu sebagai
jawaban ya. Tidak mau membuang waktu lagi, gadis berambut cokelat itu berjalan
keluar ruang rekreasi dan menuju ruang kepala sekolah.
"Masuklah."
Suara kakeknya terdengar saat ia mengetuk pintu ruang kepala sekolah. Nicole
masuk dan menatap sosok yang berdiri di depan kakeknya, Lupin. Dumbledore
sendiri duduk di kursinya, dengan senyuman di wajahnya.
"Maaf
memintamu kesini di malam pertama kau tiba, Nicole." Kata kakeknya.
Professor tua itu lalu tersenyum pada Lupin. "Kau boleh pergi Remus.
Terima kasih banyak."
"Selamat
malam kepala sekolah," Kata Lupin seraya mengangguk pelan. Ia lalu
berbalik dan tersenyum menatap Nicole. "Selamat malam Nicole, dan selamat
atas terpilih menjadi Prefect."
"Terima
kasih." Jawab Nicole, juga tersenyum. Setelah Lupin menutup pintu di
belakangnya, Nicole menatap Dumbledore. "Kenapa kakek menjadikan ku
seorang prefect?"
"Kau
tidak menyukainya?"
"Bukan
itu maksudku."
Senyum
Dumbledore melebar. "Karena semua guru memberi tahuku untuk menjadikanmu
Prefect. Ku dengar hanya kau yang bisa menahan Mr. Fred dan Mr. George Weasley
jika mereka sedang jahil."
Nicole
terdiam. Ia tidak menyangka semua guru yang memintanya menjadi Prefect, dan
mengenai Fred dan George, memang hanya sedikit orang yang bisa menghentikan si
kembar yang luar biasa jahil itu. Dumbledore berdiri dari kursinya dan berjalan
ke arah jendela yang berada tidak jauh dari meja kerjanya.
"Tapi
aku tidak memanggilmu kesini karena hal itu." Kata-kata Dumbledore membuat
Nicole kembali memfokuskan dirinya pada kakeknya. "Kau sudah mempelajari
mantra yang kuberikan beberapa bulan yang lalu?"
"Sudah.
Walau aku baru berhasil tiga kali dalam percobaan-percobaan yang
terakhir." Kakeknya telah menyuruhnya belajar mantra Patronus saat liburan
musim panas yang lalu. Dengan bimbingan McGonagall dan beberapa guru Hogwarts
lainnya, Nicole berhasil memunculkan patronusnya tiga kali berturut-turut dalam
tiga percobaannya yang terakhir kali sebelum ia pulang ke rumahnya (dan
kakeknya) di Gordic's Hollow.
Dumbledore
menggangguk-angguk sambil mengelus-elus jenggot peraknya. "Bagus. Dan apa
bentuknya?"
"Singa.
Seekor singa jantan."
Mendengar
jawaban Nicole, kakeknya tersenyum lembut. Secara sekilas Nicole merasa mata
kakeknya berbinar-binar, campuran bangga dan terharu nostalgia. Namun sedetik
kemudian, hal itu menghilang, sehingga Nicole berpikir ia hanya membayangkan
hal itu.
"Tolong
lindungi Harry dan Elizabeth, mereka paling mudah terpengaruh oleh Dementor.
Dan jangan beri tahu siapapun mengenai rahasia Remus ya?" Pinta
Dumbledore. Nicole langsung menyatakan bahwa ia akan melakukan hal itu.
"Baiklah.
Sekarang pergilah beristirahat. Selamat malam Nicole." Kata Dumbledore,
mengakhiri pembicaraan singkat mereka berdua. Nicole ragu sejenak sebelum maju
dan memberi kakeknya sebuah pelukan kilat.
"Selamat
malam kakek." Dan gadis itu berbalik dan berjalan keluar ruangan.
***TBC***
A/N : Mohon maaf
apabila ada kesalahan *bows*
Original Plot by : Our Queen, JK Rowling
The ‘new’ plot Made
by : Liz
Take
out with full credits please~ ^^
