Jumat, 16 Mei 2014

Hogwarts' Beloved : Chapter 4

Chapter 4 : Closer To You
                                         (Setting : 2 until 1 years prior HP1 )

Tidak terasa tahun pertama berlalu dengan sangat cepat. Tentu saja Nicole menjuarai hampir dalam semua pelajaran, di susul dengan Gisselle dan Elly. Bahkan Lee dan si kembar dapat lulus dengan nilai yang lumayan. Semua anak sudah bersiap untuk liburan musim panas, semua kecuali Nicole.

“Kami akan mengirimkan banyak surat, untuk kalian berdua.” Kata Gisselle kepada Nicole, dan Elly yang tidak senang akan kenyataan harus tinggal di rumah paman dan bibinya selama musim panas. Kedua gadis yang diberikan janji itu mengangguk. Setidaknya ada yang bisa mereka tunggu selama musim panas yang pasti membosankan itu.

Hari berikutnya, Hogwarts Express yang siap mengangkut para murid kembali ke stasiun King’s Cross sudah siap berangkat. Bersama Hagrid, Nicole mengantar teman-temannya hanya sampai stasiun Hogwarts saja. Elly berulang kali melirik Nicole dengan iri selama perjalanan kesana.

“Seandainya saja aku diijinkan tinggal di kastil seperti dirimu..” Keluh Elly. Nicole merangkulnya.

“Tapi kau punya tugas menjaga adikmu bukan? Lagipula, kastil saat semua orang pulang tidaklah seenak yang kau pikirkan.” Kata Nicole.

“Setidaknya lebih baik daripada terjebak dengan paman dan bibimu. Apa yang harus kukatakan pada Harry juga setelah aku meninggalkannya tahun lalu..”

“Katakan saja kau masuk kedalam Hogwarts, sekolah sihir dan menjadi penyihir.” Kata George sambil nyengir, namun cengiran itu langsung hilang ketika Nicole menjitaknya. “Ouch! Nicole! Tapi itu memang benar kan?! Kenapa kau memukulku?” Protes George sambil berpura-pura nangis di pundak Gisselle yang langsung merah padam.

“Dia tidak bisa menceritakan pada adiknya bahwa dia penyihir sampai Harry cukup umur!” Kata Nicole, mengulang instruksi dari kakeknya untuk Elly. Sang professor tua itu mendatangi mereka kemarin sore untuk mengatakan hal itu kepada Elly.

“Elly, bagaimana jika kau main ke rumahku nanti? Tapi sebelumnya kau harus kembali ke rumah paman dan bibimu selama beberapa hari. Nanti akan ku kirimkan surat.” Ajak Gisselle. Ajakan itu langsung di terima oleh Elly dan gadis itu langsung memeluk temannya. “Bagaimana Nicole? Kau mau ke rumahku juga?”

Belum sempat Nicole menjawab ajakkan Gisselle, si kembar melingkarkan tangan mereka ke pundak Nicole, dari kanan dan dari kiri. “Dia akan pergi ke rumah kami.” Setelah berkata begitu, mereka langsung mundur dan menghindari tinjuan maut Nicole.

“Aku tidak bisa. Aku sudah berjanji pada kakekku akan menghabiskan musim panas ini bersamanya.” Kata Nicole setelah mendelik sebal pada si kembar. “Aku akan ke Diagon Alley di bulan Agustus. Kita bertemu disana.”

Ke lima temannya memandang Nicole dengan penasaran. Menghabiskan musim panas dengan penyihir terhebat masa itu? Siapa pun pasti akan mengira akan terjadi hal-hal yang hebat. Namun Nicole justru tertawa melihat ekspresi teman-temannya.

“Maaf mengecewakan kalian, tapi kakek hanya ingin ditemani berjalan-jalan di dunia Muggle, tidak akan ada sesuatu yang ajaib seperti yang ada di pikiran kalian.” Kata-kata Nicole membuat teman-temannya mengerang kecewa.

“Padahal kupikir aku akan mendapat cerita seru darimu!” Protes Lee, kecewa berat.

“Ya, akan ku ceritakan lengkapnya tingkah kakek di dunia Muggle, itu cukup seru.”

Canda dan tawa menyertai mereka hingga mereka mencapai stasiun Hogwarts, dimana mereka harus berpisah. Setelah mengucapkan salam perpisahan dan berbagai janji, Nicole memperhatikan Fred dan George masuk ke dalam kereta, diikuti Gisselle, Elly, Lee dan banyak murid lainnya. Mendadak ada yang berdeham di dekatnya. Nicole menoleh dan mendapati Oliver sedang berusaha keras mengatakan sesuatu padanya.

“B-bolehkah aku mengirim surat padamu, selama musim panas ini?” Tanya Oliver setelah Nicole menunggu beberapa saat.

Pertanyaan itu membuat Nicole bingung, tapi ia tetap menjawabnya dengan anggukan mantab. “Tentu saja boleh.”

Oliver tersenyum, “Terima kasih. Sampai bertemu September nanti!” Pemuda itu lalu melambaikan tangannya dan naik ke atas kereta juga. Setelah semua murid, kecuali Nicole tentu saja, kereta berangkat dari stasiun, meninggalkan Nicole sendirian dengan Hagrid.

“Kau punya rencana liburan dengan kepala sekolah eh? Sebaiknya kau bersiap-siap!” Kata Hagrid sambil menggiring Nicole kembali ke kastil. Nicole mengangguk dan segera berjalan lebih cepat menuju kastil.

Sebulan kemudian, bulan Agustus pun tiba dengan udara yang hangat karena sebentar lagi musim panas akan berganti ke musim dingin. Ulang tahun Nicole telah berlalu, tidak ada yang spesial, hanya tambahan beberapa kado dari teman-temannya. Mereka semua berjanji untuk berkumpul di Diagon Alley pada akhir Agustus lalu ke stasiun bersama-sama. Nicole memutuskan untuk menginap disana dan datang sehari lebih awal. Gisselle dan Elly menginap disana esok harinya hingga 1 September, sementara si kembar dan Lee hanya datang pada tanggal 31 dan tidak menginap.

Hari yang ditunggu tunggu Nicole pun tiba. Tanggal 30 Agustus, gadis berambut cokelat itu sudah menyewa kamar dan berjalan jalan di Diagon Alley. Sesekali ia bertemu teman-teman seangkatan dengannya seperti Angelina dan Alicia. Kedua gadis itu menarik Nicole masuk kedalam toko sapu terbang. Dengan bersemangat mereka menanyai Nicole tentang sapu mana yang harus mereka beli, mereka berdua hendak mendaftarkan diri ke team Quidditch Gryffindor.

Setelah berhasil 'melepaskan' diri dari Angelina dan Alicia, Nicole memutuskan untuk beristirahat sejenak di toko es krim lalu melanjutkan membeli sebagian buku-bukunya sehingga ia tidak perlu terlalu terburu-buru besoknya. Dan ketika esok hari tiba, Nicole segera mencari sahabat-sahabatnya. Tidak perlu lama menunggu, ia menemukan seorang gadis berambut merah dengan seorang pemuda tampan melambai padanya dari toko es krim, itu adalah Elly dan Cedric.

"Dimana Gisselle?" Tanya Nicole ketika mereka bertiga sudah bertukar sapa. Elly menunjuk toko sapu terbang yang Nicole datangi kemarin.

"Fred dan George menarik Gisselle dan diriku kedalam toko sapu terbang. Aku merasa bosan disana, jadi kuputuskan untuk menunggu di luar ketika aku bertemu dengan Ced." Jelas Elly. Cedric hanya mengangguk-angguk mengiyakan. Nicole tersenyum melihat kedua temannya itu.

"Aku akan menyusul mereka. Memastikan Gisselle baik-baik saja bersama si kembar itu. Sampai nanti." Ujar Nicole sambil pamit pada kedua temannya yang sedang memakan es krim itu.

Sahabat Nicole yang lain, Gisselle, mempunyai penyakit anemia sehingga sering kali pingsan. Oleh karena itu Nicole sangatlah tegas dalam hal melindungi temannya itu. Nicole berbalik dan berjalan menuju toko sapu terbang. Di dalam, tampaklah gadis brunette yang diapit dua pemuda berambut merah, Gisselle dengan si kembar. Baik Fred maupun George mengoceh seru tentang sapu-sapu disana sementara Gisselle tampaknya sudah mau pingsan. Nicole langsung menyeruak di antara mereka, tepatnya diantara Gisselle dan Fred.

"Nicole!" Mereka bertiga berkata serempak. Fred dan George tampaknya hendak memeluk teman mereka yang berambut cokelat itu, tapi Nicole menarik Gisselle dengan lembut, menjauhi si kembar sehingga usaha kedua pemuda itu untuk memeluk Nicole gagal. Fred dan George memandang Nicole dengan pandangan kecewa sementara Gisselle memberikan pandangan penuh terima kasih pada Nicole.

"Kalian ingin membuat Gisselle pingsan dengan cara mengapitnya seperti itu?" Omel Nicole, jelas tidak mempedulikan ekspresi sedih, yang tentunya hanya pura-pura, milik kedua pemuda kembar itu.

"Kami hanya ingin membagikan kebahagiaan kami dengan Gisselle.." Jawab George sambil mengedip pada Gisselle. "Bagaimana pun juga dia adalah putri kami yang lembut. Tidak seperti Nicole, putri barbar kami." Dan George dengan sukses mendapat satu jitakan keras dari Nicole sebelum gadis itu membawa Gisselle keluar dari toko.

"Kalian sudah bertemu Lee?" Tanya Nicole pada Gisselle saat mereka di luar toko. Mereka berdua enggan balik ke toko es krim ketika melihat Elly dan Cedric asyik mengobrol berdua. Rasanya mereka akan menjadi pengganggu jika kembali ke toko es krim.

Gisselle menggeleng, "Belum. Kami belum melihatnya sama sekali."

Tiba-tiba ada yang merangkul kedua gadis itu dan berkata dengan bisikan berat, "Mencari ku, ladies?" Tentu saja, otomatis tangan Nicole terangkat dan menyikut perut orang tersebut. "OWCH!! Hey Nicole! Ini aku! Lee Jordan!"

Nicole dan Gisselle menoleh dan mendapati Lee memegangi perutnya, kesakitan. Mau tidak mau kedua gadis itu tertawa melihat 'pemandangan' di depan mereka. Kedua pemuda kembar yang tadinya masih berada di toko, namun lalu keluar setelah mendengar suara tawa Nicole dan Gisselle, ikut tertawa dan bukannya menolong teman mereka yang kesakitan.

Hari itu mereka habiskan dengan berkeliling Diagon Alley, hanya berlima karena Elly menerima ajakkan Cedric untuk berbelanja dengannya. Muka Elly luar biasa merah ketika Cedric mengajaknya, walau ekspresi Cedric hanya tersenyum ramah saja. Mereka berlima sedang berjalan menuju toko yang menjual bahan-bahan ramuan ketika..

"Permisi!" Seorang laki-laki kira-kira berumur 30an berjalan dengan terburu-buru menembus kerumunan Nicole dan yang lain. Ia nyaris menabrak jatuh Gisselle kalau George tidak menarik gadis itu ke dekatnya. Seakan tidak mau kalah, Fred menarik Nicole juga sehingga Nicole tidak tertabrak juga.

"Thanks." Kata Nicole pada Fred dan tersenyum tipis padanya. Fred mengacak-acak rambut gadis itu dan tertawa kecil.

"Bukan apa-apa!" Jawabnya sambil menghindari sikutan maut dari Nicole yang tidak suka apabila rambutnya di acak-acak seperti itu.

Lain dengan Nicole, Muka Gisselle merah luar biasa ketika George akhirnya melepaskan pegangannya atas Gisselle. "T-t-terima kasih banyak." Kata Gisselle terbata-bata sambil menatap kakinya, tidak berani menatap George.

"Sama-sama." Balas George. "Tapi aku mendapat balasan kan?" Ujarnya sebagai lelucon. Nicole sudah hendak memprotes ketika Fred menutup mulut gadis itu dengan tangannya dan menyeretnya pergi walau tidak jauh. Lee terlihat bingung selama sejenak lalu mengikuti Fred dan Nicole yang sekarang sedang berdiri melihat ke dalam toko bahan ramuan dari luar jendela.

George tertawa melihat ekspresi Gisselle. Dia tidak menyadari bahwa saudara kembarnya sendiri telah meninggalkan dia untuk pergi ke toko. “Aku hanya bercan—“

Kata-katanya terpotong oleh suara Gisselle, yang sebenarnya lebih mirip gumaman dengan suara kecil. George harus sedikit menunduk dan meminta Gisselle mengulanginya untuk dapat mendengar kata-kata Gisselle. “T-tentu saja aku akan membalasnya!” Kata Gisselle seraya menegakkan kepalanya dan memandang George selama beberapa detik sebelum menundukan kepalanya lagi.

Mata George melebar, tidak percaya akan apa yang baru saja ia dengar. Namun baru saja ia membuka mulut, terdengar suara Fred yang berteriak. “Oy!! Kita tidak punya sepanjang waktu disini! Ayo cepat beli bahan-bahan kalian!” Dengan segera George dan Gisselle berjalan kea rah toko menyusul teman-teman mereka.

***

Awal bulan Oktober, setelah menjalani sebulan penuh di kelas dua, si kembar mendadak menjadi bersemangat karena tes masuk team Quiddith Gryffindor dilaksanakan di hari Sabtu pagi minggu itu. Betapa kagetnya Nicole ketika ia hanya sendirian di kursi penonton. Lee sedang pergi untuk di tes menjadi komentator dalam pertandingan Quidditch, si kembar jelas sudah mendaftar untuk menjadi Beater. Namun yang mengejutkan Nicole adalah bahwa Gisselle juga mendaftar sebagai Chaser.

“Kami tidak memintanya!” Kata si kembar bersamaan ketika tes berakhir. Tentu saja mereka berdua di terima dengan segera. Mereka ber tiga sedang berdebat di rumah sakit sekolah, tempat Gisselle sedang di rawat sekarang. Gadis malang itu pingsan setelah pemanasan di tes tadi, untung saja tidak saat terbang.

“Gadis itu, dia memiliki penyakit anemia tapi tetap saja mendaftar.” Omel Nicole tidak pada siapapun. Jelas sekali dia sangat khawatir pada temannya. Beberapa menit kemudian, si kembar sudah harus kembali ke ruang rekreasi karena mereka belum mengerjakan tugas dari McGonagall. Lee belum juga kembali dari tes nya, sehingga hanya tinggal Nicole di rumah sakit sekolah menemani Gisselle yang masih pingsan.

Tidak lama kemudian, terdengar pintu rumah sakit yang terbuka dan tampaklah Elly yang berjalan masuk di susul oleh Cedric.

“Bagaimana kabarnya?” Tanya Elly sambil duduk di sisi ranjang Gisselle sementara Nicole duduk di sisi lainnya. Cedric berjalan dan berdiri di sebelah Elly. Mereka berdua tampak cemas.

“Madam Pomfrey berkata ia akan baik-baik saja. Tidak perlu khawatir.” Jawab Nicole seraya berdiri dan mengambil tasnya. “Aku harus kembali ke ruang rekreasi. Madam Pomfrey berkata tidak perlu menjaganya setiap saat jadi jika kalian ingin kembali ke ruang rekreasi kalian—“

Elly menggeleng, “Aku akan menunggu disini selama beberapa saat. Lagipula aku sudah tidak mempunyai acara apa-apa setelah ini.” Ia lalu menatap Cedric dan Cedric mengangguk tanda bahwa dia akan menunggu disana bersama Elly. Nicole tersenyum tipis, setelah berkata terima kasih, ia berbalik dan pergi.

Setelah Nicole pergi, Cedric meletakan tangannya di pundak Elly. “Ia akan baik-baik saja.” Elly meletakan tangannya di atas tangan Cedric dan mengangguk pelan.

“Aku tahu, dia gadis yang kuat.”

Tiba-tiba Gisselle bergerak di ranjangnya dan otomatis Elly dan Cedric melepaskan tangan mereka. Mata gadis brunette itu terbuka perlahan-lahan. “E-elly?” Katanya dengan suara kecil.

“Gisselle! Bagaimana perasaanmu?” Tanya Elly, senang karena temannya sudah siuman kembali. Gisselle hanya mengangguk saja.

“Kenapa kau mengambil bagian dalam tes Quidditch?” Tanya Cedric setelah Gisselle sudah bisa duduk di ranjangnya. Elly menatap Cedric lalu tertawa kecil sementara muka Gisselle memerah. Pemuda berambut cokelat itu menatap kedua temannya dengan bingung. “Ada apa? Kenapa?”

Elly berusaha mengendalikan senyuman lebarnya untuk menjawab pertanyaan Cedric sementara Gisselle sekarang membenamkan kepalanya ke kedua kakinya yang di tekuk di atas ranjangnya, mukanya merah sekali.

“Begini Ced..” Jelas Elly, sekali dua kali melirik ke arah Gisselle yang sepertinya berusaha menghentikan Elly tapi selalu kehilangan kata-kata. “Gisselle.. um.. memiliki perasaan pada salah satu pemain Quidditch, dan dia ingin menjadi pemain agar lebih dekat dengan orang tersebut.”

Cedric membutuhkan waktu beberapa detik sebelum menyerap informasi dari Elly. Ia lalu tertawa kecil, yang membuat muka Gisselle seperti kepiting rebus sekarang, dan mengangguk-angguk tanda ia mengerti. “Oh begitu. Boleh aku tahu siapakah orangnya?”

Gisselle dengan cepat menggeleng dan melambaikan kedua tangannya, lalu memandang Elly dengan pandangan memohon. Elly tersenyum melihat temannya itu lalu memandang Cedric. “Maaf, itu rahasia kami berdua. Bahkan Nicole tidak tahu.”

Kali ini Cedric menjadi bingung kembali. “Nicole pun tidak tahu?”

Elly mengangguk, “Gisselle merasa bahwa Nicole menyukai orang yang sama..”

Gisselle menarik jubah Elly pelan dengan pandangan memohon. Elly tertawa kecil lagi dan memegang tangan gadis brunette temannya itu. “Aku tidak bisa mengatakan apa-apa lagi Ced, maaf..” Kata Elly.

Tepat pada saat itu Madam Pomfrey datang dan menyuruh kedua penjenguk Gisselle itu pergi agar Gisselle dapat beristirahat. Maka Elly dan Cedric berjalan keluar dari rumah sakit dan kembali ke ruang rekreasi mereka.

“Hmm.. Jadi Gisselle sudah mulai menyukai seseorang.” Kata Cedric saat mereka berdua berjalan menuju ruang rekreasi mereka. “Bagaimana denganmu Elly?”

“Eh?” Kata Elly. Mendadak mukanya memerah. Cedric memperhatikan gadis itu dengan seksama sementara Elly berusaha merangkai kata-kata yang mendadak hilang itu. “A-aku.. aku..”

Melihat muka Elly, Cedric menepuk kepala gadis itu dengan lembut. “Aku hanya bercanda, kau tidak perlu mengatakannya padaku kalau kau malu.” Katanya sambil tertawa kecil, tidak memperhatikan bahwa muka Elly lebih memiliki ekspresi sedih dari pada lega. Elly menggumamkan sesuatu, hal itu membuat Cedric menoleh ke arahnya.

“Kau mengatakan sesuatu?”

Elly mendadak memasang muka tegasnya dan berjalan mendahului Cedric. “Ah tidak kok.”

***

Nicole berjalan keluar dari ruang rekreasi setelah memastikan si kembar dan Lee mengerjakan tugas mereka. Ia tidak akan meminjamkan atau membantu ketiga temannya itu, tapi ia telah berjanji akan memeriksanya jika ada kesalahan. Dengan tidak adanya kegiatan yang bisa ia lakukan, ia memutuskan untuk pergi ke perpustakaan. Baru saja ia berbelok untuk berjalan ke arah perpustakaan ketika seseorang menjegalnya. Ia akan mencium lantai batu jika seseorang tidak menangkapnya dengan sigap. Nicole mendongak dan mendapati Oliver sedang memandang seseorang yang berdiri di belakangnya dengan marah.

“Lucu sekali Flint. Belum puas rencana busukmu di bongkar tahun lalu?” Kata Oliver, masih memegangi Nicole. Ternyata Flint lah yang menjegal Nicole tadi. Nicole tidak bisa melihat Flint saat ini tapi dia bisa menebak pemuda Slytherin itu pasti sedang membuat muka mencibir yang menghina. Karena tidak terdengar balasan, Nicole menyimpulkan Flint pasti sudah pergi. Kesimpulan Nicole di perkuat ketika Oliver menatap Nicole dan bukan kea rah Flint lagi.

“Kau baik-baik saja?”

Nicole mengangguk, “Terima kasih telah membantuku.”

“Bukan apa-apa. Hal yang dia lakukan terlalu keji tahun lalu dan dia masih belum kapok juga.” Kata sang keeper team Gryffindor itu. Pemuda itu masih memegangi kedua tangan Nicole, membuat gadis itu tidak punya pilihan lain selain berdiri di dekatnya.

Nicole hanya mengangguk dan menatap kedua tangannya dan masih dalam genggaman Oliver lalu menatap pemuda itu. “Eh. Oliver?” Katanya ragu-ragu, ini pertama kalinya ia memanggil senior dengan nama depannya. “Aku harus pergi ke perpustakaan dan…” Nicole melirik tangannya, “..bisakah kau melepaskan kedua tanganku?”

Oliver langsung melepaskan kedua tangan Nicole dengan muka merah. “M-m-maaf! Aku tidak sadar kalau aku masih memegangi mu. Maaf.”

Nicole tersenyum kecil, “Tidak apa-apa. Sampai nanti kalau begitu” Setelah berkata begitu ia melangkah melewati Oliver.

Oliver memperhatikan Nicole berjalan melewatinya, “Nicole!” Panggilnya setelah beberapa langkah. Gadis itu menoleh dan menatap Oliver, menunggu lanjutan kata-kata pemuda itu.

“Apa?”

Oliver menatap kakinya selama beberapa saat seraya mengacak rambutnya karena perasaan bimbang. Setelah berpikir kilat, ia menggeleng dan tersenyum. “Tidak, aku hanya senang mendengarmu memanggil nama depanku.”

Nicole merasakan mukanya memerah. Ia mengangguk lalu dengan cepat berbalik dan berjalan pergi, meninggalkan Oliver yang kaget melihat reaksi Nicole.

***

Gisselle sedang memandang langit-langit rumah sakit ketika suara langkah kaki seseorang mengagetkannya. Ia menoleh dan melihat si kembar mendekati dirinya. Ia sudah mulai bisa membedakan yang mana Fred dan yang mana George. Biasanya ia harus mendengarkan mereka berbicara dan bertindak terlebih dahulu. George biasanya bertindak lebih baik kepadanya.

“Hey, bagaimana perasaanmu?” Kata salah satu dari si kembar, Gisselle menebak itu adalah George.

“Aku baik-baik saja.” Jawab Gisselle pelan. Si kembar yang lain, Fred kalau tebakan Gisselle benar, menoleh ke kanan dan ke kiri, seakan-akan mencari sesuatu. Dan yang ternyata terbukti benar.

“Dimana Nicole? Dia tidak kesini?” Tanya Fred pada Gisselle setelah memastikan gadis yang ia cari tidak ada disana. Gisselle menggeleng dan Fred langsung mengerang kecewa. “Ayo George, kita cari di tempat lain.”

Gisselle sudah membuka mulutnya, merasa kecewa karena si kembar tidak menjenguknya tapi ternyata mencari Nicole, ketika George menggeleng. “Aku disini dahulu saja.” Kata pemuda itu. Kembarannya menatap George dengan bingung sebelum mengangkat bahu dan berjalan pergi.

“Kami mencari Nicole untuk memintanya mengecek tugas kami.” Kata George, menjawab pertanyaan yang belum berani di lontarkan Gisselle.

“Kalian sangat dekat.” Komentar Gisselle, George hanya tertawa saja. Keheningan yang cukup awkward mendadak muncul di antara mereka berdua. Gisselle lalu mengumpulkan segala keberaniannya untuk menanyai George sesuatu yang ia tahan tahan sejak dulu.

“A-a-apakah kalian menyukai Nicole?”

George tersentak kaget. Ia mengejapkan matanya berulang kali seraya memandang Gisselle. “Kami? Nicole?” Tanyanya. Gisselle menunduk dan mengangguk, siap mendengar jawaban terburuk yang bisa ia pikirkan.

George berpikir lama, “Kurasa Fred menyukainya.” Jawabnya, mengatakan kata per kata dengan tempo yang pelan, seakan-akan hendak menyiksa Gisselle. Mendengar jawaban George, hati Gisselle mencelos, bagaimana kalau George juga menyukai Nicole, kalau memang iya, apa yang harus iya lakukan? Mata Gisselle mulai berair memikirkan itu semua. Ya, sejak akhir tahun ajaran yang lalu, gadis brunette ini menyadari bahwa ia memiliki perasaan pada George Weasley. Itulah sebabnya ia nekat mengikuti tes masuk team Quidditch.

“Tapi aku hanya menganggapnya sebagai saudara, kadang sebagai kakak dan kadang sebagai adik.”

Gisselle mendongak dengan cepat dan memandang George, yang sama sekali tidak menyadari perasaannya. Pemuda berambut merah itu nyengir kearahnya. Walau ia tidak tahu apakah Nicole menyukai George atau tidak, tapi setidaknya ia memiliki kesempatan.


***TBC***

A/N : Mohon maaf apabila ada kesalahan *bows*

Made by : Liz
Take out with full credits please~ ^^

0 komentar:

Posting Komentar