Chapter 4 : Closer To You
(Setting
: 2 until 1 years prior HP1 )
Tidak
terasa tahun pertama berlalu dengan sangat cepat. Tentu saja Nicole menjuarai
hampir dalam semua pelajaran, di susul dengan Gisselle dan Elly. Bahkan Lee dan
si kembar dapat lulus dengan nilai yang lumayan. Semua anak sudah bersiap untuk
liburan musim panas, semua kecuali Nicole.
“Kami
akan mengirimkan banyak surat, untuk kalian berdua.” Kata Gisselle kepada
Nicole, dan Elly yang tidak senang akan kenyataan harus tinggal di rumah paman
dan bibinya selama musim panas. Kedua gadis yang diberikan janji itu
mengangguk. Setidaknya ada yang bisa mereka tunggu selama musim panas yang
pasti membosankan itu.
Hari
berikutnya, Hogwarts Express yang siap mengangkut para murid kembali ke stasiun
King’s Cross sudah siap berangkat. Bersama Hagrid, Nicole mengantar
teman-temannya hanya sampai stasiun Hogwarts saja. Elly berulang kali melirik
Nicole dengan iri selama perjalanan kesana.
“Seandainya
saja aku diijinkan tinggal di kastil seperti dirimu..” Keluh Elly. Nicole
merangkulnya.
“Tapi
kau punya tugas menjaga adikmu bukan? Lagipula, kastil saat semua orang pulang
tidaklah seenak yang kau pikirkan.” Kata Nicole.
“Setidaknya
lebih baik daripada terjebak dengan paman dan bibimu. Apa yang harus kukatakan
pada Harry juga setelah aku meninggalkannya tahun lalu..”
“Katakan
saja kau masuk kedalam Hogwarts, sekolah sihir dan menjadi penyihir.” Kata
George sambil nyengir, namun cengiran itu langsung hilang ketika Nicole
menjitaknya. “Ouch! Nicole! Tapi itu memang benar kan?! Kenapa kau memukulku?”
Protes George sambil berpura-pura nangis di pundak Gisselle yang langsung merah
padam.
“Dia
tidak bisa menceritakan pada adiknya bahwa dia penyihir sampai Harry cukup
umur!” Kata Nicole, mengulang instruksi dari kakeknya untuk Elly. Sang
professor tua itu mendatangi mereka kemarin sore untuk mengatakan hal itu
kepada Elly.
“Elly,
bagaimana jika kau main ke rumahku nanti? Tapi sebelumnya kau harus kembali ke
rumah paman dan bibimu selama beberapa hari. Nanti akan ku kirimkan surat.”
Ajak Gisselle. Ajakan itu langsung di terima oleh Elly dan gadis itu langsung
memeluk temannya. “Bagaimana Nicole? Kau mau ke rumahku juga?”
Belum
sempat Nicole menjawab ajakkan Gisselle, si kembar melingkarkan tangan mereka
ke pundak Nicole, dari kanan dan dari kiri. “Dia akan pergi ke rumah kami.”
Setelah berkata begitu, mereka langsung mundur dan menghindari tinjuan maut
Nicole.
“Aku
tidak bisa. Aku sudah berjanji pada kakekku akan menghabiskan musim panas ini
bersamanya.” Kata Nicole setelah mendelik sebal pada si kembar. “Aku akan ke
Diagon Alley di bulan Agustus. Kita bertemu disana.”
Ke
lima temannya memandang Nicole dengan penasaran. Menghabiskan musim panas
dengan penyihir terhebat masa itu? Siapa pun pasti akan mengira akan terjadi
hal-hal yang hebat. Namun Nicole justru tertawa melihat ekspresi
teman-temannya.
“Maaf
mengecewakan kalian, tapi kakek hanya ingin ditemani berjalan-jalan di dunia
Muggle, tidak akan ada sesuatu yang ajaib seperti yang ada di pikiran kalian.”
Kata-kata Nicole membuat teman-temannya mengerang kecewa.
“Padahal
kupikir aku akan mendapat cerita seru darimu!” Protes Lee, kecewa berat.
“Ya,
akan ku ceritakan lengkapnya tingkah kakek di dunia Muggle, itu cukup seru.”
Canda
dan tawa menyertai mereka hingga mereka mencapai stasiun Hogwarts, dimana
mereka harus berpisah. Setelah mengucapkan salam perpisahan dan berbagai janji,
Nicole memperhatikan Fred dan George masuk ke dalam kereta, diikuti Gisselle,
Elly, Lee dan banyak murid lainnya. Mendadak ada yang berdeham di dekatnya.
Nicole menoleh dan mendapati Oliver sedang berusaha keras mengatakan sesuatu
padanya.
“B-bolehkah
aku mengirim surat padamu, selama musim panas ini?” Tanya Oliver setelah Nicole
menunggu beberapa saat.
Pertanyaan
itu membuat Nicole bingung, tapi ia tetap menjawabnya dengan anggukan mantab.
“Tentu saja boleh.”
Oliver
tersenyum, “Terima kasih. Sampai bertemu September nanti!” Pemuda itu lalu
melambaikan tangannya dan naik ke atas kereta juga. Setelah semua murid, kecuali
Nicole tentu saja, kereta berangkat dari stasiun, meninggalkan Nicole sendirian
dengan Hagrid.
“Kau
punya rencana liburan dengan kepala sekolah eh? Sebaiknya kau bersiap-siap!”
Kata Hagrid sambil menggiring Nicole kembali ke kastil. Nicole mengangguk dan
segera berjalan lebih cepat menuju kastil.
Sebulan
kemudian, bulan Agustus pun tiba dengan udara yang hangat karena sebentar lagi
musim panas akan berganti ke musim dingin. Ulang tahun Nicole telah berlalu,
tidak ada yang spesial, hanya tambahan beberapa kado dari teman-temannya.
Mereka semua berjanji untuk berkumpul di Diagon Alley pada akhir Agustus lalu
ke stasiun bersama-sama. Nicole memutuskan untuk menginap disana dan datang
sehari lebih awal. Gisselle dan Elly menginap disana esok harinya hingga 1
September, sementara si kembar dan Lee hanya datang pada tanggal 31 dan tidak
menginap.
Hari
yang ditunggu tunggu Nicole pun tiba. Tanggal 30 Agustus, gadis berambut
cokelat itu sudah menyewa kamar dan berjalan jalan di Diagon Alley. Sesekali ia
bertemu teman-teman seangkatan dengannya seperti Angelina dan Alicia. Kedua
gadis itu menarik Nicole masuk kedalam toko sapu terbang. Dengan bersemangat
mereka menanyai Nicole tentang sapu mana yang harus mereka beli, mereka berdua
hendak mendaftarkan diri ke team Quidditch Gryffindor.
Setelah
berhasil 'melepaskan' diri dari Angelina dan Alicia, Nicole memutuskan untuk
beristirahat sejenak di toko es krim lalu melanjutkan membeli sebagian
buku-bukunya sehingga ia tidak perlu terlalu terburu-buru besoknya. Dan ketika
esok hari tiba, Nicole segera mencari sahabat-sahabatnya. Tidak perlu lama
menunggu, ia menemukan seorang gadis berambut merah dengan seorang pemuda
tampan melambai padanya dari toko es krim, itu adalah Elly dan Cedric.
"Dimana
Gisselle?" Tanya Nicole ketika mereka bertiga sudah bertukar sapa. Elly
menunjuk toko sapu terbang yang Nicole datangi kemarin.
"Fred
dan George menarik Gisselle dan diriku kedalam toko sapu terbang. Aku merasa
bosan disana, jadi kuputuskan untuk menunggu di luar ketika aku bertemu dengan
Ced." Jelas Elly. Cedric hanya mengangguk-angguk mengiyakan. Nicole
tersenyum melihat kedua temannya itu.
"Aku
akan menyusul mereka. Memastikan Gisselle baik-baik saja bersama si kembar itu.
Sampai nanti." Ujar Nicole sambil pamit pada kedua temannya yang sedang
memakan es krim itu.
Sahabat
Nicole yang lain, Gisselle, mempunyai penyakit anemia sehingga sering kali
pingsan. Oleh karena itu Nicole sangatlah tegas dalam hal melindungi temannya
itu. Nicole berbalik dan berjalan menuju toko sapu terbang. Di dalam, tampaklah
gadis brunette yang diapit dua pemuda berambut merah, Gisselle dengan si
kembar. Baik Fred maupun George mengoceh seru tentang sapu-sapu disana
sementara Gisselle tampaknya sudah mau pingsan. Nicole langsung menyeruak di
antara mereka, tepatnya diantara Gisselle dan Fred.
"Nicole!"
Mereka bertiga berkata serempak. Fred dan George tampaknya hendak memeluk teman
mereka yang berambut cokelat itu, tapi Nicole menarik Gisselle dengan lembut,
menjauhi si kembar sehingga usaha kedua pemuda itu untuk memeluk Nicole gagal.
Fred dan George memandang Nicole dengan pandangan kecewa sementara Gisselle
memberikan pandangan penuh terima kasih pada Nicole.
"Kalian
ingin membuat Gisselle pingsan dengan cara mengapitnya seperti itu?" Omel
Nicole, jelas tidak mempedulikan ekspresi sedih, yang tentunya hanya pura-pura,
milik kedua pemuda kembar itu.
"Kami
hanya ingin membagikan kebahagiaan kami dengan Gisselle.." Jawab George
sambil mengedip pada Gisselle. "Bagaimana pun juga dia adalah putri kami
yang lembut. Tidak seperti Nicole, putri barbar kami." Dan George dengan
sukses mendapat satu jitakan keras dari Nicole sebelum gadis itu membawa
Gisselle keluar dari toko.
"Kalian
sudah bertemu Lee?" Tanya Nicole pada Gisselle saat mereka di luar toko.
Mereka berdua enggan balik ke toko es krim ketika melihat Elly dan Cedric asyik
mengobrol berdua. Rasanya mereka akan menjadi pengganggu jika kembali ke toko
es krim.
Gisselle
menggeleng, "Belum. Kami belum melihatnya sama sekali."
Tiba-tiba
ada yang merangkul kedua gadis itu dan berkata dengan bisikan berat,
"Mencari ku, ladies?" Tentu
saja, otomatis tangan Nicole terangkat dan menyikut perut orang tersebut.
"OWCH!! Hey Nicole! Ini aku! Lee Jordan!"
Nicole
dan Gisselle menoleh dan mendapati Lee memegangi perutnya, kesakitan. Mau tidak
mau kedua gadis itu tertawa melihat 'pemandangan' di depan mereka. Kedua pemuda
kembar yang tadinya masih berada di toko, namun lalu keluar setelah mendengar
suara tawa Nicole dan Gisselle, ikut tertawa dan bukannya menolong teman mereka
yang kesakitan.
Hari
itu mereka habiskan dengan berkeliling Diagon Alley, hanya berlima karena Elly
menerima ajakkan Cedric untuk berbelanja dengannya. Muka Elly luar biasa merah
ketika Cedric mengajaknya, walau ekspresi Cedric hanya tersenyum ramah saja.
Mereka berlima sedang berjalan menuju toko yang menjual bahan-bahan ramuan
ketika..
"Permisi!"
Seorang laki-laki kira-kira berumur 30an berjalan dengan terburu-buru menembus
kerumunan Nicole dan yang lain. Ia nyaris menabrak jatuh Gisselle kalau George
tidak menarik gadis itu ke dekatnya. Seakan tidak mau kalah, Fred menarik
Nicole juga sehingga Nicole tidak tertabrak juga.
"Thanks."
Kata Nicole pada Fred dan tersenyum tipis padanya. Fred mengacak-acak rambut
gadis itu dan tertawa kecil.
"Bukan
apa-apa!" Jawabnya sambil menghindari sikutan maut dari Nicole yang tidak
suka apabila rambutnya di acak-acak seperti itu.
Lain
dengan Nicole, Muka Gisselle merah luar biasa ketika George akhirnya melepaskan
pegangannya atas Gisselle. "T-t-terima kasih banyak." Kata Gisselle
terbata-bata sambil menatap kakinya, tidak berani menatap George.
"Sama-sama."
Balas George. "Tapi aku mendapat balasan kan?" Ujarnya sebagai
lelucon. Nicole sudah hendak memprotes ketika Fred menutup mulut gadis itu
dengan tangannya dan menyeretnya pergi walau tidak jauh. Lee terlihat bingung
selama sejenak lalu mengikuti Fred dan Nicole yang sekarang sedang berdiri
melihat ke dalam toko bahan ramuan dari luar jendela.
George
tertawa melihat ekspresi Gisselle. Dia tidak menyadari bahwa saudara kembarnya
sendiri telah meninggalkan dia untuk pergi ke toko. “Aku hanya bercan—“
Kata-katanya
terpotong oleh suara Gisselle, yang sebenarnya lebih mirip gumaman dengan suara
kecil. George harus sedikit menunduk dan meminta Gisselle mengulanginya untuk
dapat mendengar kata-kata Gisselle. “T-tentu saja aku akan membalasnya!” Kata
Gisselle seraya menegakkan kepalanya dan memandang George selama beberapa detik
sebelum menundukan kepalanya lagi.
Mata
George melebar, tidak percaya akan apa yang baru saja ia dengar. Namun baru
saja ia membuka mulut, terdengar suara Fred yang berteriak. “Oy!! Kita tidak
punya sepanjang waktu disini! Ayo cepat beli bahan-bahan kalian!” Dengan segera
George dan Gisselle berjalan kea rah toko menyusul teman-teman mereka.
***
Awal
bulan Oktober, setelah menjalani sebulan penuh di kelas dua, si kembar mendadak
menjadi bersemangat karena tes masuk team Quiddith Gryffindor dilaksanakan di hari
Sabtu pagi minggu itu. Betapa kagetnya Nicole ketika ia hanya sendirian di kursi
penonton. Lee sedang pergi untuk di tes menjadi komentator dalam pertandingan
Quidditch, si kembar jelas sudah mendaftar untuk menjadi Beater. Namun yang
mengejutkan Nicole adalah bahwa Gisselle juga mendaftar sebagai Chaser.
“Kami
tidak memintanya!” Kata si kembar bersamaan ketika tes berakhir. Tentu saja
mereka berdua di terima dengan segera. Mereka ber tiga sedang berdebat di rumah
sakit sekolah, tempat Gisselle sedang di rawat sekarang. Gadis malang itu
pingsan setelah pemanasan di tes tadi, untung saja tidak saat terbang.
“Gadis
itu, dia memiliki penyakit anemia tapi tetap saja mendaftar.” Omel Nicole tidak
pada siapapun. Jelas sekali dia sangat khawatir pada temannya. Beberapa menit
kemudian, si kembar sudah harus kembali ke ruang rekreasi karena mereka belum
mengerjakan tugas dari McGonagall. Lee belum juga kembali dari tes nya,
sehingga hanya tinggal Nicole di rumah sakit sekolah menemani Gisselle yang
masih pingsan.
Tidak
lama kemudian, terdengar pintu rumah sakit yang terbuka dan tampaklah Elly yang
berjalan masuk di susul oleh Cedric.
“Bagaimana
kabarnya?” Tanya Elly sambil duduk di sisi ranjang Gisselle sementara Nicole
duduk di sisi lainnya. Cedric berjalan dan berdiri di sebelah Elly. Mereka
berdua tampak cemas.
“Madam
Pomfrey berkata ia akan baik-baik saja. Tidak perlu khawatir.” Jawab Nicole
seraya berdiri dan mengambil tasnya. “Aku harus kembali ke ruang rekreasi.
Madam Pomfrey berkata tidak perlu menjaganya setiap saat jadi jika kalian ingin
kembali ke ruang rekreasi kalian—“
Elly
menggeleng, “Aku akan menunggu disini selama beberapa saat. Lagipula aku sudah
tidak mempunyai acara apa-apa setelah ini.” Ia lalu menatap Cedric dan Cedric
mengangguk tanda bahwa dia akan menunggu disana bersama Elly. Nicole tersenyum
tipis, setelah berkata terima kasih, ia berbalik dan pergi.
Setelah
Nicole pergi, Cedric meletakan tangannya di pundak Elly. “Ia akan baik-baik
saja.” Elly meletakan tangannya di atas tangan Cedric dan mengangguk pelan.
“Aku
tahu, dia gadis yang kuat.”
Tiba-tiba
Gisselle bergerak di ranjangnya dan otomatis Elly dan Cedric melepaskan tangan
mereka. Mata gadis brunette itu terbuka perlahan-lahan. “E-elly?” Katanya
dengan suara kecil.
“Gisselle!
Bagaimana perasaanmu?” Tanya Elly, senang karena temannya sudah siuman kembali.
Gisselle hanya mengangguk saja.
“Kenapa
kau mengambil bagian dalam tes Quidditch?” Tanya Cedric setelah Gisselle sudah
bisa duduk di ranjangnya. Elly menatap Cedric lalu tertawa kecil sementara muka
Gisselle memerah. Pemuda berambut cokelat itu menatap kedua temannya dengan
bingung. “Ada apa? Kenapa?”
Elly
berusaha mengendalikan senyuman lebarnya untuk menjawab pertanyaan Cedric
sementara Gisselle sekarang membenamkan kepalanya ke kedua kakinya yang di
tekuk di atas ranjangnya, mukanya merah sekali.
“Begini
Ced..” Jelas Elly, sekali dua kali melirik ke arah Gisselle yang sepertinya
berusaha menghentikan Elly tapi selalu kehilangan kata-kata. “Gisselle.. um..
memiliki perasaan pada salah satu pemain Quidditch, dan dia ingin menjadi
pemain agar lebih dekat dengan orang tersebut.”
Cedric
membutuhkan waktu beberapa detik sebelum menyerap informasi dari Elly. Ia lalu
tertawa kecil, yang membuat muka Gisselle seperti kepiting rebus sekarang, dan
mengangguk-angguk tanda ia mengerti. “Oh begitu. Boleh aku tahu siapakah
orangnya?”
Gisselle
dengan cepat menggeleng dan melambaikan kedua tangannya, lalu memandang Elly
dengan pandangan memohon. Elly tersenyum melihat temannya itu lalu memandang
Cedric. “Maaf, itu rahasia kami berdua. Bahkan Nicole tidak tahu.”
Kali
ini Cedric menjadi bingung kembali. “Nicole pun tidak tahu?”
Elly
mengangguk, “Gisselle merasa bahwa Nicole menyukai orang yang sama..”
Gisselle
menarik jubah Elly pelan dengan pandangan memohon. Elly tertawa kecil lagi dan memegang
tangan gadis brunette temannya itu. “Aku tidak bisa mengatakan apa-apa lagi
Ced, maaf..” Kata Elly.
Tepat
pada saat itu Madam Pomfrey datang dan menyuruh kedua penjenguk Gisselle itu
pergi agar Gisselle dapat beristirahat. Maka Elly dan Cedric berjalan keluar
dari rumah sakit dan kembali ke ruang rekreasi mereka.
“Hmm..
Jadi Gisselle sudah mulai menyukai seseorang.” Kata Cedric saat mereka berdua
berjalan menuju ruang rekreasi mereka. “Bagaimana denganmu Elly?”
“Eh?”
Kata Elly. Mendadak mukanya memerah. Cedric memperhatikan gadis itu dengan
seksama sementara Elly berusaha merangkai kata-kata yang mendadak hilang itu. “A-aku..
aku..”
Melihat
muka Elly, Cedric menepuk kepala gadis itu dengan lembut. “Aku hanya bercanda,
kau tidak perlu mengatakannya padaku kalau kau malu.” Katanya sambil tertawa
kecil, tidak memperhatikan bahwa muka Elly lebih memiliki ekspresi sedih dari
pada lega. Elly menggumamkan sesuatu, hal itu membuat Cedric menoleh ke
arahnya.
“Kau
mengatakan sesuatu?”
Elly
mendadak memasang muka tegasnya dan berjalan mendahului Cedric. “Ah tidak kok.”
***
Nicole
berjalan keluar dari ruang rekreasi setelah memastikan si kembar dan Lee
mengerjakan tugas mereka. Ia tidak akan meminjamkan atau membantu ketiga
temannya itu, tapi ia telah berjanji akan memeriksanya jika ada kesalahan.
Dengan tidak adanya kegiatan yang bisa ia lakukan, ia memutuskan untuk pergi ke
perpustakaan. Baru saja ia berbelok untuk berjalan ke arah perpustakaan ketika
seseorang menjegalnya. Ia akan mencium lantai batu jika seseorang tidak
menangkapnya dengan sigap. Nicole mendongak dan mendapati Oliver sedang
memandang seseorang yang berdiri di belakangnya dengan marah.
“Lucu
sekali Flint. Belum puas rencana busukmu di bongkar tahun lalu?” Kata Oliver,
masih memegangi Nicole. Ternyata Flint lah yang menjegal Nicole tadi. Nicole
tidak bisa melihat Flint saat ini tapi dia bisa menebak pemuda Slytherin itu
pasti sedang membuat muka mencibir yang menghina. Karena tidak terdengar
balasan, Nicole menyimpulkan Flint pasti sudah pergi. Kesimpulan Nicole di
perkuat ketika Oliver menatap Nicole dan bukan kea rah Flint lagi.
“Kau
baik-baik saja?”
Nicole
mengangguk, “Terima kasih telah membantuku.”
“Bukan
apa-apa. Hal yang dia lakukan terlalu keji tahun lalu dan dia masih belum kapok
juga.” Kata sang keeper team Gryffindor itu. Pemuda itu masih memegangi kedua
tangan Nicole, membuat gadis itu tidak punya pilihan lain selain berdiri di
dekatnya.
Nicole
hanya mengangguk dan menatap kedua tangannya dan masih dalam genggaman Oliver
lalu menatap pemuda itu. “Eh. Oliver?” Katanya ragu-ragu, ini pertama kalinya ia
memanggil senior dengan nama depannya. “Aku harus pergi ke perpustakaan dan…”
Nicole melirik tangannya, “..bisakah kau melepaskan kedua tanganku?”
Oliver
langsung melepaskan kedua tangan Nicole dengan muka merah. “M-m-maaf! Aku tidak
sadar kalau aku masih memegangi mu. Maaf.”
Nicole
tersenyum kecil, “Tidak apa-apa. Sampai nanti kalau begitu” Setelah berkata
begitu ia melangkah melewati Oliver.
Oliver
memperhatikan Nicole berjalan melewatinya, “Nicole!” Panggilnya setelah
beberapa langkah. Gadis itu menoleh dan menatap Oliver, menunggu lanjutan
kata-kata pemuda itu.
“Apa?”
Oliver
menatap kakinya selama beberapa saat seraya mengacak rambutnya karena perasaan
bimbang. Setelah berpikir kilat, ia menggeleng dan tersenyum. “Tidak, aku hanya
senang mendengarmu memanggil nama depanku.”
Nicole
merasakan mukanya memerah. Ia mengangguk lalu dengan cepat berbalik dan
berjalan pergi, meninggalkan Oliver yang kaget melihat reaksi Nicole.
***
Gisselle
sedang memandang langit-langit rumah sakit ketika suara langkah kaki seseorang
mengagetkannya. Ia menoleh dan melihat si kembar mendekati dirinya. Ia sudah
mulai bisa membedakan yang mana Fred dan yang mana George. Biasanya ia harus
mendengarkan mereka berbicara dan bertindak terlebih dahulu. George biasanya
bertindak lebih baik kepadanya.
“Hey,
bagaimana perasaanmu?” Kata salah satu dari si kembar, Gisselle menebak itu
adalah George.
“Aku
baik-baik saja.” Jawab Gisselle pelan. Si kembar yang lain, Fred kalau tebakan
Gisselle benar, menoleh ke kanan dan ke kiri, seakan-akan mencari sesuatu. Dan
yang ternyata terbukti benar.
“Dimana
Nicole? Dia tidak kesini?” Tanya Fred pada Gisselle setelah memastikan gadis
yang ia cari tidak ada disana. Gisselle menggeleng dan Fred langsung mengerang
kecewa. “Ayo George, kita cari di tempat lain.”
Gisselle
sudah membuka mulutnya, merasa kecewa karena si kembar tidak menjenguknya tapi
ternyata mencari Nicole, ketika George menggeleng. “Aku disini dahulu saja.”
Kata pemuda itu. Kembarannya menatap George dengan bingung sebelum mengangkat
bahu dan berjalan pergi.
“Kami
mencari Nicole untuk memintanya mengecek tugas kami.” Kata George, menjawab
pertanyaan yang belum berani di lontarkan Gisselle.
“Kalian
sangat dekat.” Komentar Gisselle, George hanya tertawa saja. Keheningan yang
cukup awkward mendadak muncul di antara mereka berdua. Gisselle lalu
mengumpulkan segala keberaniannya untuk menanyai George sesuatu yang ia tahan
tahan sejak dulu.
“A-a-apakah
kalian menyukai Nicole?”
George
tersentak kaget. Ia mengejapkan matanya berulang kali seraya memandang
Gisselle. “Kami? Nicole?” Tanyanya. Gisselle menunduk dan mengangguk, siap
mendengar jawaban terburuk yang bisa ia pikirkan.
George
berpikir lama, “Kurasa Fred menyukainya.” Jawabnya, mengatakan kata per kata
dengan tempo yang pelan, seakan-akan hendak menyiksa Gisselle. Mendengar
jawaban George, hati Gisselle mencelos, bagaimana kalau George juga menyukai
Nicole, kalau memang iya, apa yang harus iya lakukan? Mata Gisselle mulai
berair memikirkan itu semua. Ya, sejak akhir tahun ajaran yang lalu, gadis
brunette ini menyadari bahwa ia memiliki perasaan pada George Weasley. Itulah
sebabnya ia nekat mengikuti tes masuk team Quidditch.
“Tapi
aku hanya menganggapnya sebagai saudara, kadang sebagai kakak dan kadang
sebagai adik.”
Gisselle
mendongak dengan cepat dan memandang George, yang sama sekali tidak menyadari
perasaannya. Pemuda berambut merah itu nyengir kearahnya. Walau ia tidak tahu
apakah Nicole menyukai George atau tidak, tapi setidaknya ia memiliki kesempatan.
***TBC***
A/N : Mohon maaf
apabila ada kesalahan *bows*
Made
by : Liz
Take
out with full credits please~ ^^

0 komentar:
Posting Komentar