Chapter 11 : Under
The First Snow
(Setting
: HP 2 )
Tahun
keempat Nicole pun dimulai. Semua anak telah siap menempuh satu tahun lagi di
Hogwarts dan sekarang mereka telah duduk berkumpul di meja panjang milik asrama
masing-masing di dalam Aula Utama.
“Jadi
adikmu yang paling kecil masuk Hogwarts tahun ini?” Tanya Gisselle. George baru
saja menceritakan tentang Ginny pada Gisselle. Mereka berdua langsung mengobrol
tentang asrama mana yang akan Ginny masuki.
“Sudah
pasti Gryffindor.” Kata Fred menyela saudara kembarnya dan Gisselle, kemudian
mereka bertiga mulai berdiskusi. Tampaknya Gisselle sudah mempunyai sedikit
percaya diri di depan si kembar. Nicole yang duduk di sebelah Gisselle, menatap
Hermione. Gadis yang memasuki tahun keduanya itu duduk sendirian tanpa kedua
sahabatnya.
“Dimana
Harry dan Ron?" Tanya Nicole. Hermione memberikan pandangan antara bingung
dan cemas.
"Entahlah,
mereka juga tidak ada di kereta tadi." Jawab Hermione. Nicole menoleh ke
arah si kembar.
"Dimana
Ron dan Harry?"
Fred
dan George menggeleng serempak. "Entahlah. Tadi mereka masuk ke peron
paling belakang jadi kami tidak melihat mereka." Kata Fred.
Nicole
mengernyit, "Dia adik kalian.."
"Tapi
dia bukan anak kecil lagi bukan?" Kata Fred dan George bersamaan sambil
nyengir. Nicole hanya bisa menggerutu pelan sebagai balasan karena acara
seleksi telah hampir selesai dan nama Ginny di panggil. Kata 'Gryffindor'
langsung di serukan begitu topi seleksi menyentuh kepala gadis itu. Nicole ikut
bertepuk tangan bersama yang lain saat Ginny melangkah menuju meja Gryffindor.
Hingga
acara pesta pembukaan selesai, Harry dan Ron masih belum juga kelihatan.
Bersama yang lain, Nicole berjalan di belakang rombongan Gryffindor ketika
Nick, si hantu Gryffindor muncul dan mengejutkan sebagian besar anak.
"Apakah
benar Harry Potter dan temannya, Ron Weasley, di keluarkan?" Tanya Nick,
yang ditujukan kepada Nicole. Seperti yang lain, Nicole terkejut mendengar
kabar itu.
"Apa?
Bagaimana bisa?" Tanya Nicole, mewakili sebagian besar anak.
"Kalian
belum tahu? Mereka berdua menerbangkan mobil terbang untuk sampai kesini!"
Lanjut Nick. Mendadak terdengar suara Percy yang menyuruh rombongan untuk tetap
jalan karena ternyata banyak anak yang berhenti berjalan dan mengerumuni Nick
dan Nicole. Perlahan-lahan, anak-anak Gryffindor berjalan kembali dan masuk ke
dalam ruang rekreasi, Nicole juga berada di antara anak-anak itu. Entah berapa
puluh menit berlalu, tapi tidak ada yang naik ke kamar masing-masing. Mereka
semua menunggu satu hal, kemunculan Harry dan Ron.
Akhirnya
hal yang di tunggu pun muncul, sorakan dan tepukan tangan menyertai kedatangan
dua pemuda itu, walau Percy dan Hermione tampak tidak senang dengan hal itu.
Setelah memastikan bahwa ternyata Harry dan Ron tidak di keluarkan, Nicole
berjalan menuju kamar tidurnya dan bersiap untuk memulai pelajaran di esok
hari.
Pagi
pertama di tahun keempat sudah ramai karena kedatangan sebuah Howler untuk Ron.
Suara Mrs. Weasley menggelegar di Aula Utama pagi itu. Selanjutnya hari
berjalan lancar bagi Nicole dan teman-temannya, sampai saatnya mereka bertemu
pelajaran Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam. Gilderoy Lockhart, guru baru
pelajaran itu, pengganti Quirrell yang meninggal tahun lalu, adalah seorang
guru yang kelewat narsis dan senang sekali tebar pesona.
"Nicole
sayangku~!" Pria yang sebenarnya tampangnya lumayan namun menyebalkan
mengusap-usap kepala Nicole. Nicole menggigit gigir bagian bawahnya. Jika
Lockhart bukan guru, Nicole pasti sudah meninjunya. Gadis itu sudah mengenal
Lockhart lebih dulu daripada teman-temannya karena dia ikut kakeknya saat ia
menemui Lockhart.
"Dia
tampan sekali. Mempesona lagi.." Komentar Angelina yang duduk disebelah
kiri Nicole. Lockhart sedang sibuk berceramah mengenai petualangannya dari
salah satu bukunya, Heboh dengan Hantu. Nicole menatap temannya dengan
pandangan 'apa-kau-serius'.
"Aku
tidak tahu kalau soal mempesona." Kata Gisselle yang duduk di sebelah
kanan Nicole. "Tapi dia hebat sekali. Aku sudah membaca semua
bukunya." Gadis brunette itu mendengarkan ceramah dengan penuh perhatian
sampai-sampai tidak menoleh sama sekali saat ia berbicara. Mendengar komentar
teman-temannya, Nicole mengangkat bahu dan berusaha tampak bersemangat
mendengarkan ceramah Lockhart.
Minggu
pertama belajar rasanya memang selalu berjalan lama, namun akhirnya hari Sabtu
pun datang. Pagi-pagi benar, Nicole sudah bangun dan sudah siap untuk
berjalan-jalan singkat sebelum sarapan. Ketika ia membuka pintu di dasar tangga
spiral menuju kamar para gadis, bersamaan dengan dirinya, Oliver Wood membuka
pintu yang menuju tangga ke kamar para pemuda. Mereka berdua bertatapan selama
sesaat sebelum Nicole menyadari bahwa Oliver berpakaian seragam Quidditch
lengkap.
"Latihan?"
Tanya Nicole. Oliver mengangguk.
"Salah
satu strategi baru kami untuk menang." Kata Oliver, bangga dengan idenya.
"Nicole, bisakah kau membangunkan Angelina, Alicia dan Katie? Karena, ya
kau tahu, aku tidak bisa naik kesana." Yang di maksudkan kesana adalah
kamar-kamar pada gadis. Nicole juga mengetahui hal itu karena Fred dan George
selalu gagal untuk masuk ke kamarnya. Dengan anggukan mantab, Nicole menyatakan
dirinya bersedia dan segera berbalik untuk membangunkan ketiga Chaser tersebut.
Perlu waktu yang cukup lama, tapi akhirnya mereka bertiga berjalan dengan muka
ngantuk menuju lapangan. Oliver sudah menghilang dari ruang rekreasi, jadi
Nicole menyimpulkan pemuda itu sudah pergi ke lapangan. Dengan langkah ringan
Nicole keluar dari balik lukisan Nyonya Gemuk dan melakukan kebiasaannya setiap
pagi jika hari libur, berjalan-jalan di bawah matahari pagi sebelum sarapan.
Setelah
sarapan super singkat, Nicole, Gisselle, Ron dan Hermione berjalan menuju
lapangan Quidditch untuk menonton latihan. Lee tidak ikut bersama mereka karena
ia masih sibuk dengan sarapannya, tapi pemuda itu berkata akan menyusul.
Latihan berlangsung singkat karena kedatangan sosok-sosok hijau ke lapangan
Quidditch menarik perhatian mereka. Dengan cepat, ke empat anak yang tadi hanya
menonton turun ke lapangan, di ikuti oleh seorang anak laki-laki kecil berambut
seperti tikus yang di kenali Nicole bernama Colin Creevey.
"Ada
apa?" Tanya Ron pada Harry. Putra keluarga Weasley yang terkecil itu
kemudian melihat seorang pemuda berambut pirang. "Apa yang dia lakukan
disini?"
Pemuda
pirang itu, Draco Malfoy namanya, menunjukan sapunya dengan sombong. "Aku
Seeker baru Slytherin, Weasley. Dan semua sedang menganggumi sapu kami yang
baru." Melihat sapu Malfoy, Ron hanya bisa tercengang saja.
"Bagus
kan? Tapi kurasa team Gryffindor bisa mengumpulkan emas dan membeli sapu baru
juga. Kalian bisa melelang sapu Bersih-Lima, pasti ada museum yang mau
membelinya." Lanjut Malfoy, dan team Quidditch Slytherin tertawa
terbahak-bahak.
"Paling
tidak, tidak ada seorang pun di team Gryffindor yang menyuap untuk bisa
masuk." Celetuk Hernione dengan tajam. "Mereka dipilih karena mereka
memang berbakat."
Kata-kata
Hermione membuat Malfoy geram. "Tidak ada yang meminta pendapatmu,
Darah-Lumpur kotor." Dia mengumpat dengan sangat kasar. Fred dan George
sudah melompat ke arah Malfoy, yang di lindungi Flint, sementara Alicia
berteriak keras. Nicole sendiri sudah akan maju jika Gisselle tidak memegang
lengannya. Namun Ron bertindak lain. Ia mengeluarkan tongkatnya dan menyerang
Malfoy dengan sebuah mantra.
Karena
tongkat Ron yang patah dan disambung kembali dengan Spellotape tidak dapat
berfungsi dengan benar, mantra itu berbalik dan mengenai Ron alih-alih Malfoy.
Pemuda malang itu memuntahkan siput-siput besar akibat dari mantranya. Dengan
cepat Harry dan Hermione membawa sahabat mereka ke rumah Hagrid karena tempat
itu terdekat di iringi dengan tawa dari team Slytherin.
Oliver
memandang teman-teman se asramanya dan menghembuskan nafas pasrah. "Ayo
kembali. Kita tidak bisa berlatih bila seperti ini." Tawa team Slytherin
kembali terdengar, dan kali ini ejekan-ejekan terdengar dari mulut mereka.
Nicole melemparkan pandangan sinis pada mereka sebelum mengikuti yang lain ke
ruang ganti.
Latihan-latihan
Quidditch yang di rencanakan Oliver tidak berhenti sampai situ. Latihan terus
berjalan hingga Oktober tiba. Walau cuaca tidak mendukung, mereka terus
berlatih sehingga tidak jarang Nicole harus mengucapkan mantra pengering pada
si kembar sebelum masuk kembali ke dalam kastil. Oktober pun mencapai akhirnya
dan pesta Halloween, seperti biasa, di laksanakan di Aula Utama. Berbagai
makanan khas di hidangkan dan tentu saja beragam permen. Lilin-lilin yang
biasanya melayang di atas kepala mereka di ganti menjadi labu-labu yang sudah
di ukir dan disihir agar menyala.
Pesta
berjalan meriah. Nicole, Gisselle dan Elly adalah salah satu yang pergi lebih
awal dari Aula Utama. Di ujung koridor, setelah menaiki tangga bersama banyak
anak lainnya, mereka bertiga melihat Harry, Ron dan Hermione sedang berdiri
mematung disana. Elly baru saja akan menyapa adiknya ketika ia melihat apa yang
tertulis di dinding dan yang tergantung pada siku-siku tancapan obor. Melihat
Mrs. Norris, kucing milik Filch, tergantung terbalik, Gisselle menjerit kecil.
Kerumunan
pun semakin banyak di belakang mereka, semuanya berbisik-bisik saat melihat
pemandangan itu. Argus Filch sendiri menyeruak diantara kerumunan. Melihat
kucingnya sendiri, penjaga sekolah itu terjatuh sambil memegangi wajahnya
dengan kedua tangannya dengan ngeri.
"Kucingku!"
Teriaknya. Filch lalu menatap Harry dan menunjuknya. "Kau membunuhnya!!"
Melihat adiknya di tuduh begitu saja, Elly sudah membuka mulut untuk membela
Harry. Tapi sebuah tangan yang dengan lembut mendarat di pundaknya,
menghentikan gadis itu untuk berkata-kata. Albus Dumbledore telah tiba dengan
guru-guru yang lain. Setelah melihat apa yang sedang terjadi, Dumbledore
meminta Harry, Ron dan Hermione mengikutinya, Filch juga diminta hal yang sama.
Anak-anak pun mulai pergi ketika Dumbledore dan yang lain sudah meninggalkan
lokasi, walau bisikan tidak pernah menghilang.
Berhari-hari
kemudian, hal di bicarakan oleh banyak anak adalah mengenai Kamar Rahasia dan
Mrs. Norris yang membatu. Suatu sore yang cerah dimana Nicole, Gisselle, Lee,
Elly, Cedric dan Feli sedang duduk bersantai di bawah pohon, Feli mengejutkan
Nicole dengan pertanyaannya.
"Nicole,
apa kau tau mengenai Kamar Rahasia?" Pertanyaan Feli membuat yang lain
ikut menoleh dengan penasaran ke arah Nicole. Nicole mengernyit walau dia sudah
tahu, cepat atau lambat, pasti ada yang menanyainya tentang hal ini.
"Aku
tahu. Kakek pernah bercerita padaku." Kata Nicole, mengawali
penjelasannya. Ia berniat akan menjelaskan seminim mungkin karena pasti itu
yang kakeknya hendaki. "Dahulu, Salazar Slytherin, salah satu pendiri
Hogwarts, membangun semua kamar tersembunyi dan mengatakan bahwa suatu saat
pewarisnya yang sejati akan tiba di sekolah dan memurnikan sekolah dari
penyihir yang berasal dari orang tua Muggle dengan menggunakan horor yang
terdapat di kamar itu."
Mendengar
penjelasan Nicole, Gisselle dan Feli menggigil ketakutan. Cedric dan Elly
membutuhkan waktu untu menenangkan mereka dan mengatakan mereka berasal dari
keluarga penyihir sehingga mereka bukan target.
Penjelasan
mengenai apa itu Kamar Rahasia tampaknya sudah menyebar dari mulut ke mulut,
karena semua anak menjadi tambah waspada, terutama yang berasal dari keluarga
Muggle. Suatu malam, malam sebelum pertandingan Quidditch di keesokan harinya,
ketika Nicole hendak mengembalikan buku ke perpustakaan, Oliver mengejarnya dan
berjalan disebelahnya. Pemuda itu mendadak menanyai Nicole tentang keluarga
Nicole.
"Entahlah.
Tapi kakek berkata aku berasal dari keluarga darah murni." Jawab Nicole.
Sesaat ia heran karena Oliver menanyainya pertanyaan aneh itu, namun ketika
melihat ekspresi Oliver, ia menyadari pemuda itu khawatir akan dirinya.
"Aku
tidak akan diserang. Tenang saja." Kata Nicole.
Oliver,
sama sekali tidak kaget karena ia sudah terbiasa dengan Nicole yang bisa
menebak pikirannya hanya dengan melihat ekspresi, menggeleng dengan tegas.
"Walau begitu, berbahaya bagi seorang gadis berjalan sendirian di koridor
yang sepi."
"Tapi
kau harus beristirahat, besok ada pertandingan bukan?"
Oliver
berpikir sesaat, lalu tersenyum pada Nicole. "Aku akan baik-baik saja
besok jika kau berjanji akan melakukan sesuatu untukku jika kami menang."
"Dan
apakah sesuatu itu?"
"Rahasia."
Mendengar jawaban seperti itu, biasanya Nicole akan menolak. Tapi entah kenapa
kali ini ia merasa ia harus menyetujuinya. Lagi pula, Oliver bukanlah si kembar
Weasley. Pemuda itu tidak akan melakukan sesuatu yang aneh-aneh, dan Nicole
percaya kepadanya.
"Baiklah."
***
"Semoga
berhasil!" Seakan-akan sudah menjadi tradisi, Nicole, Elly dan Gisselle
mengucapkan selamat berhasil pada team Gryffindor di ruang ganti mereka. Elly
menepuk-nepuk pundak adiknya, memberikan kata-kata penyemangat. Gisselle
mengucapkan semoga berhasilnya pada George secara pribadi dengan malu-malu.
Nicole menahan diri untuk tidak menjitak Fred yang menggodanya tadi.
Mendekati
waktu pertandingan dimulai, ketiga gadis itu keluar dari ruang ganti dan
berjalan menuju tempat duduk mereka masing-masing. Baru saja tujuh langkah dari
ruang ganti, Oliver memanggil Nicole. Pemuda itu keluar dari ruang ganti
sendirian. Melihat hal itu, Gissell dan Elly bertukar pandang dan mendorong Nicole
ke arah Oliver lalu berbalik dan berjalan pergi, dengan senyuman lebar di
wajah.
"Jangan
lupa janji kita." Kata Oliver saat Nicole sudah cukup dekat untuk
mendengar suaranya yang lebih mirip bisikan pada saat ini. Nicole mengangguk.
"Aku
tidak akan lupa." Jawab Nicole. Oliver tersenyum dan menepuk-nepuk kepala
Nicole dengan lembut.
"Doakan
semoga kami menang!" Kata Oliver. Ia lalu berbalik dan hendak masuk lagi
ke dalam ruang ganti. Namun tangannya mendadak di tahan Nicole. Gadis itu
berjinjit dan mengecup pipi Oliver.
"Semoga
berhasil." Kata Nicole dengan suara kecil, seperti bisikan. Gadis itu lalu
berbalik dan berjalan menjauh dengan cepat. Mukanya merah padam.
"Oliver?
Sedang apa kau disana?" Harry menjulurkan kepalanya keluar dari ruang
ganti dan menatap kaptennya dan membeku dengan muka merah di tempat.
"Oliver?" Panggil Harry sekali lagi. Oliver mendadak berbalik dan
memegang Harry di kedua pundaknya.
"Kita
harus menang hari ini!" Kata-kata Oliver membuat anggota teamnya melihat
ke arah dirinya. "Tangkap Snitchnya sebelum Malfoy, atau kita lebih baik
mati, Harry. Kita harus menang hari ini. Harus."
Pertandingan
di awali dengan tidak begitu lancar. Fred dan George sibuk mengawal Harry
sehingga pertandingan di kuasai oleh Slytherin. 0-60 dan Oliver meminta waktu
time out.
"Apa
yang mereka lakukan?" Tanya Hermione cemas. Ia, Ron, Nicole dan Gisselle
duduk berdampingan di kursi depan.
"Bludgernya."
Kata Nicole. "Ada yang salah dengan Bludgernya. Seharusnya bola itu tidak
menarget orang tertentu setiap saat. Tapi salah satu Bludger selalu menyerang
Harry."
"Apakah
itu ulah Snape lagi? Dia memantrai Bludgernya?" Tanya Ron seraya menatap
ke arah tempat duduk guru. "Ataukah itu Lockhart?"
"Snape
tidak pernah memantrai sapu Harry, kalian tahu itu." Kata Gisselle.
Ron
mengangkat bahu, masih memperhatikan guru-guru yang ada. "Siapa tahu dia
mengikuti jejak Quirrell? Bagaimana dengan Lockhart?"
"Aku
ragu guru itu mampu melakukan hal seperti memantrai Bludger." Kata Nicole.
Ron tertawa terbahak-bahak sementara Hermione dan Gisselle bermuka masam, tidak
setuju dengan kata-kata Nicole mengenai Lockhart. Percakapan mereka terhenti
lagi karena pertandingan di mulai. Fred dan George tidak lagi mengawal Harry
dan Gryffindor mulai menyusul.
Tapi
kemudian Bludger gila itu berhasil mengenai tangan Harry, membuat banyak
penonton menjerit, Gisselle dan Hermione salah satunya. Dengan tangan yang
lunglai, Nicole memperkirakan tangan itu patah, Harry melesat kedepan dan
meraih sesuatu sebelum terjatuh ke tanah berlumpur. Pemuda itu lalu
mengacungkan Snitch dengan tangan yang tidak patah dan penonton bersorak-sorai.
Nicole, Gisselle, Ron dan Hermione langsung bangkit berdiri dan berlari ke arah
Harry.
Mereka
tiba sedikit lebih lambat dari Lockhart. Pria itu memeriksa tangan Harry sementara
Fred dan George berusaha membawa Bludger gila itu kembali ke dalam kotaknya,
dan sisa team Gryffindor mengawasi Harry dan Lockhart dengan cemas.
"Jangan
anda." Kata Harry ketika melihat Lockhart. Namun Lockhart hanya tersenyum
dan tetap memeriksa Harry seraya mengeluarkan tongkatnya. Nicole juga sudah
akan memprotes ketika Lockhart mengarahkan tongkatnya dan mengucapkan mantra.
Dan kenyaplah tulang-tulang di tangan Harry.
"Itu
yang anda sebut menyembuhkan?!" Suara Elly terdengar kesal. Kerumunan sudah
mulai menumpuk dan kebanyakan berasal dari Gryffindor. Walau berbeda asrama,
Elly salah satu murid yang paling cepat berlari ke arah Harry dibandingkan
murid yang lain.
"Yah,
dia tidak akan merasa sakit lagi bukan?" Kata Lockhart sambil menampilkan
senyum mempesonanya. "Err.. Miss Granger, Mr. Weasley, antar Harry ke
rumah sakit ya? Madam Pomfrey bisa..ehm.. merapikannya sedikit." Nicole
bisa membayangkan betapa geramnya Madam Pomfrey ketika melihat kondisi tangan
Harry yang di sebabkan oleh Lockhart.
Dengan
riang, anak-anak Gryffindor kembali ke ruang rekreasi mereka untuk merayakan
kemenangan. Suasana meriah yang mereka kira bisa bertahan hingga berhari
ternyata tidak bisa bertahan hingga pagi di keesokan lusanya. Entah bagaimana,
berita bahwa Colin Creevey diserang tersebar di seluruh penjuru sekolah pada
hari Senin pagi.
Hal
itu menyebabkan seluruh anak kelas satu ketakutan, terutama Ginny. Namun
tampaknya hal itu disebabkan karena cara menghibur yang aneh ala kedua kakak
kembarnya. Mereka berdua bergantian menyihir diri mereka hingga berbulu dan
mengejutkan Ginny. Setelah beberapa jitakan keras dari Nicole dan ancaman akan
melapor pada ibu merek dari Percy, akhirnya si kembar berhenti melakukan hal
itu.
Hingga
beberapa hari kedepan, Nicole belum tahu apa yang harus ia lakukan sebagai
hadiah kemenangan yang ia janjikan pada Oliver. Pemuda itu beberapa kali tampak
cemas dan meminta Nicole menunggu beberapa hari lagi saat gadis itu
menanyainya. Setelah Nicole mendesaknya di suatu sore, akhirnya Oliver membuka
mulutnya juga.
"Aku
ingin mengajakmu ke Hogsmeade berdua saja. Tapi rasanya dengan dua serangan
yang ada, mereka tidak akan mengadakan kunjungan ke Hogsmeade." Kata
Oliver. Ia mendesah pasrah.
"Jadi
itu yang kau khawatirkan?" Tanya Nicole, berusaha menahan diri untuk tidak
tersenyum geli. "Tenang saja. Kamar Rahasia berada di dalam kastil
Hogwarts, mengapa akan mereka melarang kita keluar dari kastil?"
Pemikiran
Nicole ternyata serupa dengan kakeknya karena di minggu terakhir di bulan
November, pengumuman mengenai kunjungan Hogsmeade yang di adakan di minggu
pertama bulan Desember di pasang di ruang rekreasi tiap asrama.
"Nicole!
Kau akan ke Hogsmeade bersama kami kan?" Tanya Fred. Ia menatap Nicole
penuh harap. Betapa kecewanya pemuda itu ketika gadis yang ia harapkan itu
menggeleng.
"Aku
sudah punya janji. Maaf." Kata Nicole. Gisselle menatap sahabatnya dengan
pandangan penasaran, tapi Nicole tidak mengatakan apa-apa lagi. Hari kunjungan
Hogsmeade pun tiba, dan entah kenapa, Nicole merasa lebih tegang dari biasanya.
Ia berulang kali menepuk-nepuk pipinya dengan pelan.
"Kau
ada janji dengan siapa sih?" Tanya Fred penasaran. Pemuda itu sudah
berulang kali berusaha mengorek informasi dari Nicole namun hasilnya selalu
nihil. Tidak berbeda dengan saat lainnya, Nicole mengabaikan pertanyaan Fred
dan menoleh ke sekeliling. Halaman depan Hogwarts sudah mulai penuh dengan anak
yang siap menuju ke Hogsmeade. Walau salju belum turun, cuaca sudah mulai
dingin karena musim dingin sudah tiba. Tapi hal itu tidak mengehentikan
anak-anak pergi ke desa sihir yang indah itu.
"Nicole!"
Panggilan itu membuat Nicole menoleh dengan cepat. Si kembar, Gisselle, dan Lee
juga menoleh untuk melihat Oliver berjalan mendekati mereka. Oliver tersenyum
lebar dan mengangguk pada yang lain kecuali Nicole sebagai sapaan untuk mereka
lalu menatap Nicole. "Kau sudah siap?"
Nicole
mengangguk. "Sampai nanti semua." Gadis itu menyambut uluran tangan
Oliver dan berjalan bersama pemuda itu, meninggalkan teman-temannya yang masih
bingung.
"Sejak
kapan mereka sedekat itu?" Gumam Lee.
"Oliver
dekat dengan Nicole. Astaga.." kata George seraya menggelengkan kepalanya.
Ia lalu teringat sesuatu dan menoleh ke arah Fred. Saudara kembarnya itu
menampilkan ekspresi masam sambil menatap Nicole dan Oliver yang sudah cukup
jauh. Dengan cepat George merangkul Fred.
"Ayo
kita ke Zonko, persediaan bom kotoran kita sudah habis kan?" Dengan ajakan
George, Fred melangkah maju dan berjalan ke Hogsmeade juga walau perasaannya
masih kacau balau. Lee dan Gisselle berpandangan lalu mengikuti kedua pemuda
berambut merah itu.
***
Nicole
dan Oliver berkeliling Hogsmeade. Kecanggungan yang ada memang belum hilang,
tapi kali ini mereka lebih banyak tertawa bersama daripada merasa canggung.
Udara menjadi semakin dingin ketika Oliver mengajak Nicole ke luar dari toko
Honeydukes dan menuju sebuah sudut Hogsmeade yang memiliki pemandangan yang
cukup indah.
"Nicole."
Panggil Oliver. Nicole yang tadi sedang melihat pemandangan yang ada, menoleh
dan mendapati Oliver berdiri dekat sekali dengannya. Pemuda itu tersenyum dan
melepaskan syal Nicole lalu mengaitkannya kembali di leher Nicole sekali dan
tetap memegang kedua ujung syal.
"Kau
tahu.." Oliver melangkah mendekat lagi. Muka Nicole sudah merah padam,
tapi ia tidak bisa mengalihkan pandangannya berkat syal yang di pegangi Oliver
itu. "...mengapa aku membawamu kesini?"
Nicole
menggeleng. Oliver tampak berbeda dari biasanya. Berbeda, tapi bagus. Pemuda
itu tampak lebih dewasa dan mantab, serta lebih tampan dari biasanya. Memikirkan
hal itu, muka Nicole malah tambah memerah.
"Kau
tidak tahu?" Kata Oliver. "Itu karena aku bukan pemuda yang memiliki
percaya diri dan keberanian yang cukup untuk melakukan hal ini di depan
umum." Setelah mengatakan itu, dengan lembut Oliver menarik syal itu dan
menunduk sehingga kepalanya sejajar dengan Nicole. Lalu sebuah ciuman yang
manis mendarat di bibir Nicole. Ciuman yang sedikit canggung, tapi manis dan
lembut. Oliver Wood telah mencium Nicole Ravensdale, tepat di bibir.
Seakan-akan
sudah direncanakan, salju mulai turun dari langit. Salju pertama tahun itu
telah turun ke bumi, ke atas sepasang anak yang sedang bertukar ciuman pertama
itu. Perlahan-lahan, Oliver melepaskan ciumannya dan pegangannya pada syal.
Seraya membetulkan posisi syal Nicole yang tadi ia pegang, pemuda itu mengecup
dahi Nicole.
"Aku
mencintaimu Nicole Ravensdale. Entah saat sejak pertama kita bertemu, ataukah
setelahnya, tapi saat ini aku menyadari bahwa aku tergila-gila padamu."
Kata Oliver. Ia menegakkan badannya dan memegang kedua tangan Nicole. Mukanya
memerah tapi matanya penuh dengan tekad. "Maukah kau menjadi
pacarku?"
Nicole
kehilangan kata-katanya selama beberapa saat. Gadis itu menatap Oliver. Mata
cokelat yang hangat bertemu dengan mata hijau cerah. Senyuman kemudian merekah di
wajah Nicole dan ia menggenggam tangan Oliver dengan erat sekali sebelum
menarik tangannya dan menempatkannya di sisi kepala Oliver lalu menarik kepala
pemuda itu sehingga dahi mereka menempel.
"Tentu
saja aku mau, Oliver Wood."
Dan
bibir mereka kembali bersatu, di bawah salju pertama yang turun dengan indah,
seperti kedua hati yang menyatu pada saat itu juga.
***
Suasana
hati Fred masih belum bisa dibilang membaik. Karena salju mendadak turun, ia
dan George serta Gisselle dan Lee duduk bersama Elly, Cedric dan Feli di dalam
Three Broomsticks. Ke enam orang yang lain sedang asik mengobrol sementara Fred
menatap keluar jendela. Pemuda berambut merah itu berharap melihat Nicole
berjalan, kalau bisa sendirian, menuju tempat minum itu.
Harapannya
terkabul, walau tidak sepenuhnya. Nicole berjalan menuju tempat minum itu, tapi
gadis itu bergandengan tangan dengan Oliver dan mereka berdua sedang mengobrol,
tampak dekat sekali. Fred menggengam gelasnya dengan erat, berusaha menenangkan
dirinya.
Pintu
masuk Three Broomsticks terbuka dan benarlah, Nicole dan Oliver melangkah
masuk. Melihat Nicole, Elly, Giselle dan Feli melambaikan tangan mereka,
memanggil Nicole agar bergabung dengan mereka. Cedric melambaikan tongkatnya
dan dua kursi tambahan muncul di sebelah Lee.
"Darimana
saja kalian?" Tanya Elly ketika Nicole dan Oliver sudah mendekat.
"Hanya
berjalan jalan." Jawab Nicole. Walaupun ia mengatakan 'hanya', ekspresi
wajahnya kelewat bahagia. Oliver juga memiliki ekspresi yang sama. Elly dan
Gisselle bertukar pandang penuh arti dan bersamaan menatap Nicole dengan
curiga, lebuh curiga lagi ketika Oliver menarik kursi Nicole dan membantu gadis
itu duduk, selayaknya seorang gentleman sejati.
"Ada
sesuatu yang terjadi antara kalian berdua.." Kata Elly. Ia dan Gisselle
tersenyum dan menatap Nicole dengan lekat-lekat. Nicole menatap Oliver dan
pemuda itu menatapnya balik. Muka mereka berdua memerah dan akhirnya Oliver lah
yang berbicara.
"Yah..
kami.." Pemuda itu melirik Nicole dan menggenggam tangan gadis yang baru
menjadi pacarnya itu. "Kami pacaran sekarang."
Elly,
Gisselle dan Feli mengeluarkan pekikan secara bersamaan, Cedric dan Lee
memandang dengan tidak percaya lalu tersenyum lebar, George menatap ke arah
Fred yang tampaknya siap memecahkan gelasnya. Sementara Elly, Gisselle dan Feli
mengelilingi Nicole, meminta cerita lengkapnya, dan Cedric mengucapkan selamat
pada Oliver bersama Lee. Fred bangkit berdiri dan bergumam udara segar lalu
berjalan keluar. Untuk pertama kalinya, George merasa ia hanya akan menggangu
bila ia menyusul Fred.
Fred
melangkah pelan dan tanpa sadar, ia pergi ke ujung desa Hogsmeade yang sepi.
Pemuda itu duduk di salah satu batu besar yang ada dan menunduk memandang
kakinya.
"Bodoh."
Ia bergumam pada dirinya sendiri sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Aku mempunyai banyak kesempatan, tapi aku tidak berani
menggunakannya." Fred diam sejenak. Air matanya mengalir turun dari
matanya. Dengan cepat ia mengelapnya, namun air mata terus bercucuran dari
matanya tanpa bisa ia hentikan.
Di
bawah salju pertama yang turun di tahun itu, Fred Weasley mengalami patah hati
yang pertama kali dalam hidupnya.
***TBC***
A/N : Mohon maaf
apabila ada kesalahan *bows*
Original Plot by : Our Queen, JK Rowling
The ‘new’ plot Made
by : Liz
Take
out with full credits please~ ^^

0 komentar:
Posting Komentar