Selasa, 27 Mei 2014

Hogwarts' Beloved : Chapter 11

Chapter 11 : Under The First Snow
                                                (Setting : HP 2 )

Tahun keempat Nicole pun dimulai. Semua anak telah siap menempuh satu tahun lagi di Hogwarts dan sekarang mereka telah duduk berkumpul di meja panjang milik asrama masing-masing di dalam Aula Utama.

“Jadi adikmu yang paling kecil masuk Hogwarts tahun ini?” Tanya Gisselle. George baru saja menceritakan tentang Ginny pada Gisselle. Mereka berdua langsung mengobrol tentang asrama mana yang akan Ginny masuki.

“Sudah pasti Gryffindor.” Kata Fred menyela saudara kembarnya dan Gisselle, kemudian mereka bertiga mulai berdiskusi. Tampaknya Gisselle sudah mempunyai sedikit percaya diri di depan si kembar. Nicole yang duduk di sebelah Gisselle, menatap Hermione. Gadis yang memasuki tahun keduanya itu duduk sendirian tanpa kedua sahabatnya.

“Dimana Harry dan Ron?" Tanya Nicole. Hermione memberikan pandangan antara bingung dan cemas.

"Entahlah, mereka juga tidak ada di kereta tadi." Jawab Hermione. Nicole menoleh ke arah si kembar.

"Dimana Ron dan Harry?"

Fred dan George menggeleng serempak. "Entahlah. Tadi mereka masuk ke peron paling belakang jadi kami tidak melihat mereka." Kata Fred.

Nicole mengernyit, "Dia adik kalian.."

"Tapi dia bukan anak kecil lagi bukan?" Kata Fred dan George bersamaan sambil nyengir. Nicole hanya bisa menggerutu pelan sebagai balasan karena acara seleksi telah hampir selesai dan nama Ginny di panggil. Kata 'Gryffindor' langsung di serukan begitu topi seleksi menyentuh kepala gadis itu. Nicole ikut bertepuk tangan bersama yang lain saat Ginny melangkah menuju meja Gryffindor.

Hingga acara pesta pembukaan selesai, Harry dan Ron masih belum juga kelihatan. Bersama yang lain, Nicole berjalan di belakang rombongan Gryffindor ketika Nick, si hantu Gryffindor muncul dan mengejutkan sebagian besar anak.

"Apakah benar Harry Potter dan temannya, Ron Weasley, di keluarkan?" Tanya Nick, yang ditujukan kepada Nicole. Seperti yang lain, Nicole terkejut mendengar kabar itu.

"Apa? Bagaimana bisa?" Tanya Nicole, mewakili sebagian besar anak.

"Kalian belum tahu? Mereka berdua menerbangkan mobil terbang untuk sampai kesini!" Lanjut Nick. Mendadak terdengar suara Percy yang menyuruh rombongan untuk tetap jalan karena ternyata banyak anak yang berhenti berjalan dan mengerumuni Nick dan Nicole. Perlahan-lahan, anak-anak Gryffindor berjalan kembali dan masuk ke dalam ruang rekreasi, Nicole juga berada di antara anak-anak itu. Entah berapa puluh menit berlalu, tapi tidak ada yang naik ke kamar masing-masing. Mereka semua menunggu satu hal, kemunculan Harry dan Ron.

Akhirnya hal yang di tunggu pun muncul, sorakan dan tepukan tangan menyertai kedatangan dua pemuda itu, walau Percy dan Hermione tampak tidak senang dengan hal itu. Setelah memastikan bahwa ternyata Harry dan Ron tidak di keluarkan, Nicole berjalan menuju kamar tidurnya dan bersiap untuk memulai pelajaran di esok hari.

Pagi pertama di tahun keempat sudah ramai karena kedatangan sebuah Howler untuk Ron. Suara Mrs. Weasley menggelegar di Aula Utama pagi itu. Selanjutnya hari berjalan lancar bagi Nicole dan teman-temannya, sampai saatnya mereka bertemu pelajaran Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam. Gilderoy Lockhart, guru baru pelajaran itu, pengganti Quirrell yang meninggal tahun lalu, adalah seorang guru yang kelewat narsis dan senang sekali tebar pesona.

"Nicole sayangku~!" Pria yang sebenarnya tampangnya lumayan namun menyebalkan mengusap-usap kepala Nicole. Nicole menggigit gigir bagian bawahnya. Jika Lockhart bukan guru, Nicole pasti sudah meninjunya. Gadis itu sudah mengenal Lockhart lebih dulu daripada teman-temannya karena dia ikut kakeknya saat ia menemui Lockhart.

"Dia tampan sekali. Mempesona lagi.." Komentar Angelina yang duduk disebelah kiri Nicole. Lockhart sedang sibuk berceramah mengenai petualangannya dari salah satu bukunya, Heboh dengan Hantu. Nicole menatap temannya dengan pandangan 'apa-kau-serius'.

"Aku tidak tahu kalau soal mempesona." Kata Gisselle yang duduk di sebelah kanan Nicole. "Tapi dia hebat sekali. Aku sudah membaca semua bukunya." Gadis brunette itu mendengarkan ceramah dengan penuh perhatian sampai-sampai tidak menoleh sama sekali saat ia berbicara. Mendengar komentar teman-temannya, Nicole mengangkat bahu dan berusaha tampak bersemangat mendengarkan ceramah Lockhart.

Minggu pertama belajar rasanya memang selalu berjalan lama, namun akhirnya hari Sabtu pun datang. Pagi-pagi benar, Nicole sudah bangun dan sudah siap untuk berjalan-jalan singkat sebelum sarapan. Ketika ia membuka pintu di dasar tangga spiral menuju kamar para gadis, bersamaan dengan dirinya, Oliver Wood membuka pintu yang menuju tangga ke kamar para pemuda. Mereka berdua bertatapan selama sesaat sebelum Nicole menyadari bahwa Oliver berpakaian seragam Quidditch lengkap.

"Latihan?" Tanya Nicole. Oliver mengangguk.

"Salah satu strategi baru kami untuk menang." Kata Oliver, bangga dengan idenya. "Nicole, bisakah kau membangunkan Angelina, Alicia dan Katie? Karena, ya kau tahu, aku tidak bisa naik kesana." Yang di maksudkan kesana adalah kamar-kamar pada gadis. Nicole juga mengetahui hal itu karena Fred dan George selalu gagal untuk masuk ke kamarnya. Dengan anggukan mantab, Nicole menyatakan dirinya bersedia dan segera berbalik untuk membangunkan ketiga Chaser tersebut. Perlu waktu yang cukup lama, tapi akhirnya mereka bertiga berjalan dengan muka ngantuk menuju lapangan. Oliver sudah menghilang dari ruang rekreasi, jadi Nicole menyimpulkan pemuda itu sudah pergi ke lapangan. Dengan langkah ringan Nicole keluar dari balik lukisan Nyonya Gemuk dan melakukan kebiasaannya setiap pagi jika hari libur, berjalan-jalan di bawah matahari pagi sebelum sarapan.

Setelah sarapan super singkat, Nicole, Gisselle, Ron dan Hermione berjalan menuju lapangan Quidditch untuk menonton latihan. Lee tidak ikut bersama mereka karena ia masih sibuk dengan sarapannya, tapi pemuda itu berkata akan menyusul. Latihan berlangsung singkat karena kedatangan sosok-sosok hijau ke lapangan Quidditch menarik perhatian mereka. Dengan cepat, ke empat anak yang tadi hanya menonton turun ke lapangan, di ikuti oleh seorang anak laki-laki kecil berambut seperti tikus yang di kenali Nicole bernama Colin Creevey.

"Ada apa?" Tanya Ron pada Harry. Putra keluarga Weasley yang terkecil itu kemudian melihat seorang pemuda berambut pirang. "Apa yang dia lakukan disini?"

Pemuda pirang itu, Draco Malfoy namanya, menunjukan sapunya dengan sombong. "Aku Seeker baru Slytherin, Weasley. Dan semua sedang menganggumi sapu kami yang baru." Melihat sapu Malfoy, Ron hanya bisa tercengang saja.

"Bagus kan? Tapi kurasa team Gryffindor bisa mengumpulkan emas dan membeli sapu baru juga. Kalian bisa melelang sapu Bersih-Lima, pasti ada museum yang mau membelinya." Lanjut Malfoy, dan team Quidditch Slytherin tertawa terbahak-bahak.

"Paling tidak, tidak ada seorang pun di team Gryffindor yang menyuap untuk bisa masuk." Celetuk Hernione dengan tajam. "Mereka dipilih karena mereka memang berbakat."

Kata-kata Hermione membuat Malfoy geram. "Tidak ada yang meminta pendapatmu, Darah-Lumpur kotor." Dia mengumpat dengan sangat kasar. Fred dan George sudah melompat ke arah Malfoy, yang di lindungi Flint, sementara Alicia berteriak keras. Nicole sendiri sudah akan maju jika Gisselle tidak memegang lengannya. Namun Ron bertindak lain. Ia mengeluarkan tongkatnya dan menyerang Malfoy dengan sebuah mantra.

Karena tongkat Ron yang patah dan disambung kembali dengan Spellotape tidak dapat berfungsi dengan benar, mantra itu berbalik dan mengenai Ron alih-alih Malfoy. Pemuda malang itu memuntahkan siput-siput besar akibat dari mantranya. Dengan cepat Harry dan Hermione membawa sahabat mereka ke rumah Hagrid karena tempat itu terdekat di iringi dengan tawa dari team Slytherin.

Oliver memandang teman-teman se asramanya dan menghembuskan nafas pasrah. "Ayo kembali. Kita tidak bisa berlatih bila seperti ini." Tawa team Slytherin kembali terdengar, dan kali ini ejekan-ejekan terdengar dari mulut mereka. Nicole melemparkan pandangan sinis pada mereka sebelum mengikuti yang lain ke ruang ganti.

Latihan-latihan Quidditch yang di rencanakan Oliver tidak berhenti sampai situ. Latihan terus berjalan hingga Oktober tiba. Walau cuaca tidak mendukung, mereka terus berlatih sehingga tidak jarang Nicole harus mengucapkan mantra pengering pada si kembar sebelum masuk kembali ke dalam kastil. Oktober pun mencapai akhirnya dan pesta Halloween, seperti biasa, di laksanakan di Aula Utama. Berbagai makanan khas di hidangkan dan tentu saja beragam permen. Lilin-lilin yang biasanya melayang di atas kepala mereka di ganti menjadi labu-labu yang sudah di ukir dan disihir agar menyala.

Pesta berjalan meriah. Nicole, Gisselle dan Elly adalah salah satu yang pergi lebih awal dari Aula Utama. Di ujung koridor, setelah menaiki tangga bersama banyak anak lainnya, mereka bertiga melihat Harry, Ron dan Hermione sedang berdiri mematung disana. Elly baru saja akan menyapa adiknya ketika ia melihat apa yang tertulis di dinding dan yang tergantung pada siku-siku tancapan obor. Melihat Mrs. Norris, kucing milik Filch, tergantung terbalik, Gisselle menjerit kecil.

Kerumunan pun semakin banyak di belakang mereka, semuanya berbisik-bisik saat melihat pemandangan itu. Argus Filch sendiri menyeruak diantara kerumunan. Melihat kucingnya sendiri, penjaga sekolah itu terjatuh sambil memegangi wajahnya dengan kedua tangannya dengan ngeri.

"Kucingku!" Teriaknya. Filch lalu menatap Harry dan menunjuknya. "Kau membunuhnya!!" Melihat adiknya di tuduh begitu saja, Elly sudah membuka mulut untuk membela Harry. Tapi sebuah tangan yang dengan lembut mendarat di pundaknya, menghentikan gadis itu untuk berkata-kata. Albus Dumbledore telah tiba dengan guru-guru yang lain. Setelah melihat apa yang sedang terjadi, Dumbledore meminta Harry, Ron dan Hermione mengikutinya, Filch juga diminta hal yang sama. Anak-anak pun mulai pergi ketika Dumbledore dan yang lain sudah meninggalkan lokasi, walau bisikan tidak pernah menghilang.

Berhari-hari kemudian, hal di bicarakan oleh banyak anak adalah mengenai Kamar Rahasia dan Mrs. Norris yang membatu. Suatu sore yang cerah dimana Nicole, Gisselle, Lee, Elly, Cedric dan Feli sedang duduk bersantai di bawah pohon, Feli mengejutkan Nicole dengan pertanyaannya.

"Nicole, apa kau tau mengenai Kamar Rahasia?" Pertanyaan Feli membuat yang lain ikut menoleh dengan penasaran ke arah Nicole. Nicole mengernyit walau dia sudah tahu, cepat atau lambat, pasti ada yang menanyainya tentang hal ini.

"Aku tahu. Kakek pernah bercerita padaku." Kata Nicole, mengawali penjelasannya. Ia berniat akan menjelaskan seminim mungkin karena pasti itu yang kakeknya hendaki. "Dahulu, Salazar Slytherin, salah satu pendiri Hogwarts, membangun semua kamar tersembunyi dan mengatakan bahwa suatu saat pewarisnya yang sejati akan tiba di sekolah dan memurnikan sekolah dari penyihir yang berasal dari orang tua Muggle dengan menggunakan horor yang terdapat di kamar itu."

Mendengar penjelasan Nicole, Gisselle dan Feli menggigil ketakutan. Cedric dan Elly membutuhkan waktu untu menenangkan mereka dan mengatakan mereka berasal dari keluarga penyihir sehingga mereka bukan target.

Penjelasan mengenai apa itu Kamar Rahasia tampaknya sudah menyebar dari mulut ke mulut, karena semua anak menjadi tambah waspada, terutama yang berasal dari keluarga Muggle. Suatu malam, malam sebelum pertandingan Quidditch di keesokan harinya, ketika Nicole hendak mengembalikan buku ke perpustakaan, Oliver mengejarnya dan berjalan disebelahnya. Pemuda itu mendadak menanyai Nicole tentang keluarga Nicole.

"Entahlah. Tapi kakek berkata aku berasal dari keluarga darah murni." Jawab Nicole. Sesaat ia heran karena Oliver menanyainya pertanyaan aneh itu, namun ketika melihat ekspresi Oliver, ia menyadari pemuda itu khawatir akan dirinya.

"Aku tidak akan diserang. Tenang saja." Kata Nicole.

Oliver, sama sekali tidak kaget karena ia sudah terbiasa dengan Nicole yang bisa menebak pikirannya hanya dengan melihat ekspresi, menggeleng dengan tegas. "Walau begitu, berbahaya bagi seorang gadis berjalan sendirian di koridor yang sepi."

"Tapi kau harus beristirahat, besok ada pertandingan bukan?"

Oliver berpikir sesaat, lalu tersenyum pada Nicole. "Aku akan baik-baik saja besok jika kau berjanji akan melakukan sesuatu untukku jika kami menang."

"Dan apakah sesuatu itu?"

"Rahasia." Mendengar jawaban seperti itu, biasanya Nicole akan menolak. Tapi entah kenapa kali ini ia merasa ia harus menyetujuinya. Lagi pula, Oliver bukanlah si kembar Weasley. Pemuda itu tidak akan melakukan sesuatu yang aneh-aneh, dan Nicole percaya kepadanya.

"Baiklah."

***

"Semoga berhasil!" Seakan-akan sudah menjadi tradisi, Nicole, Elly dan Gisselle mengucapkan selamat berhasil pada team Gryffindor di ruang ganti mereka. Elly menepuk-nepuk pundak adiknya, memberikan kata-kata penyemangat. Gisselle mengucapkan semoga berhasilnya pada George secara pribadi dengan malu-malu. Nicole menahan diri untuk tidak menjitak Fred yang menggodanya tadi.

Mendekati waktu pertandingan dimulai, ketiga gadis itu keluar dari ruang ganti dan berjalan menuju tempat duduk mereka masing-masing. Baru saja tujuh langkah dari ruang ganti, Oliver memanggil Nicole. Pemuda itu keluar dari ruang ganti sendirian. Melihat hal itu, Gissell dan Elly bertukar pandang dan mendorong Nicole ke arah Oliver lalu berbalik dan berjalan pergi, dengan senyuman lebar di wajah.

"Jangan lupa janji kita." Kata Oliver saat Nicole sudah cukup dekat untuk mendengar suaranya yang lebih mirip bisikan pada saat ini. Nicole mengangguk.

"Aku tidak akan lupa." Jawab Nicole. Oliver tersenyum dan menepuk-nepuk kepala Nicole dengan lembut.

"Doakan semoga kami menang!" Kata Oliver. Ia lalu berbalik dan hendak masuk lagi ke dalam ruang ganti. Namun tangannya mendadak di tahan Nicole. Gadis itu berjinjit dan mengecup pipi Oliver.

"Semoga berhasil." Kata Nicole dengan suara kecil, seperti bisikan. Gadis itu lalu berbalik dan berjalan menjauh dengan cepat. Mukanya merah padam.

"Oliver? Sedang apa kau disana?" Harry menjulurkan kepalanya keluar dari ruang ganti dan menatap kaptennya dan membeku dengan muka merah di tempat. "Oliver?" Panggil Harry sekali lagi. Oliver mendadak berbalik dan memegang Harry di kedua pundaknya.

"Kita harus menang hari ini!" Kata-kata Oliver membuat anggota teamnya melihat ke arah dirinya. "Tangkap Snitchnya sebelum Malfoy, atau kita lebih baik mati, Harry. Kita harus menang hari ini. Harus."

Pertandingan di awali dengan tidak begitu lancar. Fred dan George sibuk mengawal Harry sehingga pertandingan di kuasai oleh Slytherin. 0-60 dan Oliver meminta waktu time out.

"Apa yang mereka lakukan?" Tanya Hermione cemas. Ia, Ron, Nicole dan Gisselle duduk berdampingan di kursi depan.

"Bludgernya." Kata Nicole. "Ada yang salah dengan Bludgernya. Seharusnya bola itu tidak menarget orang tertentu setiap saat. Tapi salah satu Bludger selalu menyerang Harry."

"Apakah itu ulah Snape lagi? Dia memantrai Bludgernya?" Tanya Ron seraya menatap ke arah tempat duduk guru. "Ataukah itu Lockhart?"

"Snape tidak pernah memantrai sapu Harry, kalian tahu itu." Kata Gisselle.

Ron mengangkat bahu, masih memperhatikan guru-guru yang ada. "Siapa tahu dia mengikuti jejak Quirrell? Bagaimana dengan Lockhart?"

"Aku ragu guru itu mampu melakukan hal seperti memantrai Bludger." Kata Nicole. Ron tertawa terbahak-bahak sementara Hermione dan Gisselle bermuka masam, tidak setuju dengan kata-kata Nicole mengenai Lockhart. Percakapan mereka terhenti lagi karena pertandingan di mulai. Fred dan George tidak lagi mengawal Harry dan Gryffindor mulai menyusul.

Tapi kemudian Bludger gila itu berhasil mengenai tangan Harry, membuat banyak penonton menjerit, Gisselle dan Hermione salah satunya. Dengan tangan yang lunglai, Nicole memperkirakan tangan itu patah, Harry melesat kedepan dan meraih sesuatu sebelum terjatuh ke tanah berlumpur. Pemuda itu lalu mengacungkan Snitch dengan tangan yang tidak patah dan penonton bersorak-sorai. Nicole, Gisselle, Ron dan Hermione langsung bangkit berdiri dan berlari ke arah Harry.

Mereka tiba sedikit lebih lambat dari Lockhart. Pria itu memeriksa tangan Harry sementara Fred dan George berusaha membawa Bludger gila itu kembali ke dalam kotaknya, dan sisa team Gryffindor mengawasi Harry dan Lockhart dengan cemas.

"Jangan anda." Kata Harry ketika melihat Lockhart. Namun Lockhart hanya tersenyum dan tetap memeriksa Harry seraya mengeluarkan tongkatnya. Nicole juga sudah akan memprotes ketika Lockhart mengarahkan tongkatnya dan mengucapkan mantra. Dan kenyaplah tulang-tulang di tangan Harry.

"Itu yang anda sebut menyembuhkan?!" Suara Elly terdengar kesal. Kerumunan sudah mulai menumpuk dan kebanyakan berasal dari Gryffindor. Walau berbeda asrama, Elly salah satu murid yang paling cepat berlari ke arah Harry dibandingkan murid yang lain.

"Yah, dia tidak akan merasa sakit lagi bukan?" Kata Lockhart sambil menampilkan senyum mempesonanya. "Err.. Miss Granger, Mr. Weasley, antar Harry ke rumah sakit ya? Madam Pomfrey bisa..ehm.. merapikannya sedikit." Nicole bisa membayangkan betapa geramnya Madam Pomfrey ketika melihat kondisi tangan Harry yang di sebabkan oleh Lockhart.

Dengan riang, anak-anak Gryffindor kembali ke ruang rekreasi mereka untuk merayakan kemenangan. Suasana meriah yang mereka kira bisa bertahan hingga berhari ternyata tidak bisa bertahan hingga pagi di keesokan lusanya. Entah bagaimana, berita bahwa Colin Creevey diserang tersebar di seluruh penjuru sekolah pada hari Senin pagi.

Hal itu menyebabkan seluruh anak kelas satu ketakutan, terutama Ginny. Namun tampaknya hal itu disebabkan karena cara menghibur yang aneh ala kedua kakak kembarnya. Mereka berdua bergantian menyihir diri mereka hingga berbulu dan mengejutkan Ginny. Setelah beberapa jitakan keras dari Nicole dan ancaman akan melapor pada ibu merek dari Percy, akhirnya si kembar berhenti melakukan hal itu.

Hingga beberapa hari kedepan, Nicole belum tahu apa yang harus ia lakukan sebagai hadiah kemenangan yang ia janjikan pada Oliver. Pemuda itu beberapa kali tampak cemas dan meminta Nicole menunggu beberapa hari lagi saat gadis itu menanyainya. Setelah Nicole mendesaknya di suatu sore, akhirnya Oliver membuka mulutnya juga.

"Aku ingin mengajakmu ke Hogsmeade berdua saja. Tapi rasanya dengan dua serangan yang ada, mereka tidak akan mengadakan kunjungan ke Hogsmeade." Kata Oliver. Ia mendesah pasrah.

"Jadi itu yang kau khawatirkan?" Tanya Nicole, berusaha menahan diri untuk tidak tersenyum geli. "Tenang saja. Kamar Rahasia berada di dalam kastil Hogwarts, mengapa akan mereka melarang kita keluar dari kastil?"

Pemikiran Nicole ternyata serupa dengan kakeknya karena di minggu terakhir di bulan November, pengumuman mengenai kunjungan Hogsmeade yang di adakan di minggu pertama bulan Desember di pasang di ruang rekreasi tiap asrama.

"Nicole! Kau akan ke Hogsmeade bersama kami kan?" Tanya Fred. Ia menatap Nicole penuh harap. Betapa kecewanya pemuda itu ketika gadis yang ia harapkan itu menggeleng.

"Aku sudah punya janji. Maaf." Kata Nicole. Gisselle menatap sahabatnya dengan pandangan penasaran, tapi Nicole tidak mengatakan apa-apa lagi. Hari kunjungan Hogsmeade pun tiba, dan entah kenapa, Nicole merasa lebih tegang dari biasanya. Ia berulang kali menepuk-nepuk pipinya dengan pelan.

"Kau ada janji dengan siapa sih?" Tanya Fred penasaran. Pemuda itu sudah berulang kali berusaha mengorek informasi dari Nicole namun hasilnya selalu nihil. Tidak berbeda dengan saat lainnya, Nicole mengabaikan pertanyaan Fred dan menoleh ke sekeliling. Halaman depan Hogwarts sudah mulai penuh dengan anak yang siap menuju ke Hogsmeade. Walau salju belum turun, cuaca sudah mulai dingin karena musim dingin sudah tiba. Tapi hal itu tidak mengehentikan anak-anak pergi ke desa sihir yang indah itu.

"Nicole!" Panggilan itu membuat Nicole menoleh dengan cepat. Si kembar, Gisselle, dan Lee juga menoleh untuk melihat Oliver berjalan mendekati mereka. Oliver tersenyum lebar dan mengangguk pada yang lain kecuali Nicole sebagai sapaan untuk mereka lalu menatap Nicole. "Kau sudah siap?"

Nicole mengangguk. "Sampai nanti semua." Gadis itu menyambut uluran tangan Oliver dan berjalan bersama pemuda itu, meninggalkan teman-temannya yang masih bingung.

"Sejak kapan mereka sedekat itu?" Gumam Lee.

"Oliver dekat dengan Nicole. Astaga.." kata George seraya menggelengkan kepalanya. Ia lalu teringat sesuatu dan menoleh ke arah Fred. Saudara kembarnya itu menampilkan ekspresi masam sambil menatap Nicole dan Oliver yang sudah cukup jauh. Dengan cepat George merangkul Fred.

"Ayo kita ke Zonko, persediaan bom kotoran kita sudah habis kan?" Dengan ajakan George, Fred melangkah maju dan berjalan ke Hogsmeade juga walau perasaannya masih kacau balau. Lee dan Gisselle berpandangan lalu mengikuti kedua pemuda berambut merah itu.

***

Nicole dan Oliver berkeliling Hogsmeade. Kecanggungan yang ada memang belum hilang, tapi kali ini mereka lebih banyak tertawa bersama daripada merasa canggung. Udara menjadi semakin dingin ketika Oliver mengajak Nicole ke luar dari toko Honeydukes dan menuju sebuah sudut Hogsmeade yang memiliki pemandangan yang cukup indah.

"Nicole." Panggil Oliver. Nicole yang tadi sedang melihat pemandangan yang ada, menoleh dan mendapati Oliver berdiri dekat sekali dengannya. Pemuda itu tersenyum dan melepaskan syal Nicole lalu mengaitkannya kembali di leher Nicole sekali dan tetap memegang kedua ujung syal.

"Kau tahu.." Oliver melangkah mendekat lagi. Muka Nicole sudah merah padam, tapi ia tidak bisa mengalihkan pandangannya berkat syal yang di pegangi Oliver itu. "...mengapa aku membawamu kesini?"

Nicole menggeleng. Oliver tampak berbeda dari biasanya. Berbeda, tapi bagus. Pemuda itu tampak lebih dewasa dan mantab, serta lebih tampan dari biasanya. Memikirkan hal itu, muka Nicole malah tambah memerah.

"Kau tidak tahu?" Kata Oliver. "Itu karena aku bukan pemuda yang memiliki percaya diri dan keberanian yang cukup untuk melakukan hal ini di depan umum." Setelah mengatakan itu, dengan lembut Oliver menarik syal itu dan menunduk sehingga kepalanya sejajar dengan Nicole. Lalu sebuah ciuman yang manis mendarat di bibir Nicole. Ciuman yang sedikit canggung, tapi manis dan lembut. Oliver Wood telah mencium Nicole Ravensdale, tepat di bibir.

Seakan-akan sudah direncanakan, salju mulai turun dari langit. Salju pertama tahun itu telah turun ke bumi, ke atas sepasang anak yang sedang bertukar ciuman pertama itu. Perlahan-lahan, Oliver melepaskan ciumannya dan pegangannya pada syal. Seraya membetulkan posisi syal Nicole yang tadi ia pegang, pemuda itu mengecup dahi Nicole.

"Aku mencintaimu Nicole Ravensdale. Entah saat sejak pertama kita bertemu, ataukah setelahnya, tapi saat ini aku menyadari bahwa aku tergila-gila padamu." Kata Oliver. Ia menegakkan badannya dan memegang kedua tangan Nicole. Mukanya memerah tapi matanya penuh dengan tekad. "Maukah kau menjadi pacarku?"

Nicole kehilangan kata-katanya selama beberapa saat. Gadis itu menatap Oliver. Mata cokelat yang hangat bertemu dengan mata hijau cerah. Senyuman kemudian merekah di wajah Nicole dan ia menggenggam tangan Oliver dengan erat sekali sebelum menarik tangannya dan menempatkannya di sisi kepala Oliver lalu menarik kepala pemuda itu sehingga dahi mereka menempel.

"Tentu saja aku mau, Oliver Wood."

Dan bibir mereka kembali bersatu, di bawah salju pertama yang turun dengan indah, seperti kedua hati yang menyatu pada saat itu juga.

***

Suasana hati Fred masih belum bisa dibilang membaik. Karena salju mendadak turun, ia dan George serta Gisselle dan Lee duduk bersama Elly, Cedric dan Feli di dalam Three Broomsticks. Ke enam orang yang lain sedang asik mengobrol sementara Fred menatap keluar jendela. Pemuda berambut merah itu berharap melihat Nicole berjalan, kalau bisa sendirian, menuju tempat minum itu.

Harapannya terkabul, walau tidak sepenuhnya. Nicole berjalan menuju tempat minum itu, tapi gadis itu bergandengan tangan dengan Oliver dan mereka berdua sedang mengobrol, tampak dekat sekali. Fred menggengam gelasnya dengan erat, berusaha menenangkan dirinya.

Pintu masuk Three Broomsticks terbuka dan benarlah, Nicole dan Oliver melangkah masuk. Melihat Nicole, Elly, Giselle dan Feli melambaikan tangan mereka, memanggil Nicole agar bergabung dengan mereka. Cedric melambaikan tongkatnya dan dua kursi tambahan muncul di sebelah Lee.

"Darimana saja kalian?" Tanya Elly ketika Nicole dan Oliver sudah mendekat.

"Hanya berjalan jalan." Jawab Nicole. Walaupun ia mengatakan 'hanya', ekspresi wajahnya kelewat bahagia. Oliver juga memiliki ekspresi yang sama. Elly dan Gisselle bertukar pandang penuh arti dan bersamaan menatap Nicole dengan curiga, lebuh curiga lagi ketika Oliver menarik kursi Nicole dan membantu gadis itu duduk, selayaknya seorang gentleman sejati.

"Ada sesuatu yang terjadi antara kalian berdua.." Kata Elly. Ia dan Gisselle tersenyum dan menatap Nicole dengan lekat-lekat. Nicole menatap Oliver dan pemuda itu menatapnya balik. Muka mereka berdua memerah dan akhirnya Oliver lah yang berbicara.

"Yah.. kami.." Pemuda itu melirik Nicole dan menggenggam tangan gadis yang baru menjadi pacarnya itu. "Kami pacaran sekarang."

Elly, Gisselle dan Feli mengeluarkan pekikan secara bersamaan, Cedric dan Lee memandang dengan tidak percaya lalu tersenyum lebar, George menatap ke arah Fred yang tampaknya siap memecahkan gelasnya. Sementara Elly, Gisselle dan Feli mengelilingi Nicole, meminta cerita lengkapnya, dan Cedric mengucapkan selamat pada Oliver bersama Lee. Fred bangkit berdiri dan bergumam udara segar lalu berjalan keluar. Untuk pertama kalinya, George merasa ia hanya akan menggangu bila ia menyusul Fred.

Fred melangkah pelan dan tanpa sadar, ia pergi ke ujung desa Hogsmeade yang sepi. Pemuda itu duduk di salah satu batu besar yang ada dan menunduk memandang kakinya.

"Bodoh." Ia bergumam pada dirinya sendiri sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "Aku mempunyai banyak kesempatan, tapi aku tidak berani menggunakannya." Fred diam sejenak. Air matanya mengalir turun dari matanya. Dengan cepat ia mengelapnya, namun air mata terus bercucuran dari matanya tanpa bisa ia hentikan.

Di bawah salju pertama yang turun di tahun itu, Fred Weasley mengalami patah hati yang pertama kali dalam hidupnya.

***TBC***

A/N : Mohon maaf apabila ada kesalahan *bows*

Original Plot by : Our Queen, JK Rowling
The ‘new’ plot Made by : Liz
Take out with full credits please~ ^^

0 komentar:

Posting Komentar