Jumat, 23 Mei 2014

Hogwarts' Beloved : Chapter 9

Chapter 9 : Definitely A Date
                                                (Setting : HP 1 )

Hari halloween yang di tunggu-tunggu pun tiba. Wangi labu panggang tercium dimana-mana membuat siapa saja yang menciumnya pasti tergiur. Pelajaran hari ini juga hanya sampai makan siang dan setelahnya, bagi anak kelas tiga dan seterusnya, mereka bisa mengunjungi Hogsmeade.

Seluruh kertas formulir telah diserahkan pada Kepala Asrama masing-masing dan sekarang seluruh anak kelas tiga berbaris didepan Flich yang sedang mengecek satu persatu anak yang melewatinya, memastikan tidak ada anak yang menyusup ke Hogsmeade secara curang.

“Kau berhasil mendapatkan tanda tangan bibimu?” Tanya Nicole, penasaran bagaimana Elly mendapatkan tanda tangan dari paman dan bibinya yang menyebalkan itu. Elly mengigit bibir bagian bawahnya dan menggeleng.

“Aku tidak meminta dari mereka.”

Tentu saja jawaban Elly membuat Nicole dan Gisselle bingung. Elly melirik dua sahabatnya dan bergumam pelan. “Aku meminta tanda tangan waliku.”

“Kau punya wali?”

“Siapa?”

Elly buru-buru menutup mulut Nicole dan Gisselle dengan kedua tangannya. “Sstt!! Berjanji kalian tidak akan memberi tahu siapa-siapa?” Baik Nicole maupun Gisselle mengangguk dengan cepat, Elly masih belum melepaskan pegangannya pada mulut mereka sehingga mereka berdua tidak bisa menjawabnya dengan kata-kata.

“Waliku..adalah Profesor Snape.”

Kedua teman Elly sudah pasti akan berteriak jika mulutnya tidak ditutupi olehnya. Ketika menurutnya sudah aman, Elly melepaskan pegangannya dan meletakan jari telunjuknya di bibirnya.

“Jaga rahasia ini, okay?” Bisiknya.

“Kenapa?” Tanya Gisselle penasaran. Karena menurutnya, mempunyai seorang wali bukan hal yang harus di tutupi.

Elly mendesis, “Dia memintaku untuk menutupinya. Dia berkata dia tidak ingin aku ikut tidak disukai sepertinya. Dan lagipula, tampaknya adikku membencinya.”

“Apakah Harry tahu kalau Snape adalah walinya?” Kali ini giliran Nicole yang bertanya.

“Tidak. Snape bukan walinya Harry. Wali Harry adalah salah satu sahabat ayahku.”

Mereka bertiga terlalu sibuk berbisik-bisik sehingga tidak menyadari kehadiran dua pemuda yang berdiri dalam diam di dekat mereka. Cedric dan Oliver saling memandang satu dengan yang lain.

“Diggory.” Sapa Oliver seraya mengangguk untuk menyapa Cedric.

“Wood.” Balas Cedric. Mereka berdua sudah bertemu di pertandingan Quiddicth sebelumnya. “Kau sedang menunggu seseorang?” Tanya Cedric. Sebagai balasan, Oliver menggerakan kepalanya ke arah Nicole dan tersenyum saat melihat gadis itu tertawa. Ketiga gadis itu masih sibuk mengobrol dan sama sekali tidak menyadari Oliver dan Cedric.

Cedric menaikan alisnya dan menatap Nicole lalu kembali ke Oliver. “Kalian pacaran?” Muka Oliver langsung memerah dan menggeleng dengan cepat.

“Tidak. Aku hanya mengajaknya pergi ke Hogsmeade bersama!”

Kata-kata Oliver yang cukup keras volumenya itu menarik perhatian Nicole, Elly dan Gisselle. Melihat Oliver, Elly dan Gisselle mendorong Nicole maju ke depan. Muka Nicole otomatis memerah, dan muka Oliver sendiri bertambah merah.

“Selamat bersenang-senang, sampai nanti!” Kata Elly. Ia dan Gisselle tampak puas dengan perkembangan temannya itu. Cedric berdeham pelan dan Gisselle menyadari kehadiran pemuda itu juga.

“Elly juga, selamat bersenang senang!” Gisselle mendorong Elly ke arah Cedric dan melambai saat kedua sahabatnya itu pergi. Mukanya berubah menjadi khawatir ketika ia akhirnya menyadari bahwa ia sendirian. Namun kekhawatirannya tidak bertahan lama karena Fred, George dan Lee berjalan kearahnya.

“Dimana Nicole?” Tanya si kembar Weasley bersamaan. Mereka bertiga menoleh ke kanan dan ke kiri mencari sosok gadis berambut cokelat tua yang biasanya selalu di samping Gisselle itu.

“Nicole? Uhm..” Gisselle enggan menceritakan pada ketiga pemuda itu bahwa Nicole sudah pergi ke Hogsmeade bersama dengan Oliver, terutama pada Fred. “Dia ada janji dengan seseorang dan tidak akan pergi ke Hogsmeade bersama kita.” Jelas Gisselle.

Lee menaikan kedua bahunya, “Yah, kalau begitu mau bagaimana lagi.” Jelas ia kecewa karena Nicole tidak dapat ikut bersama mereka. Tapi ekspresi mukanya jelas masih kalah dengan eskpresi kecewa yang telihat jelas di muka Fred. George jelas menyadari perubahan ekspresi wajah saudara kembarnya dan segera mengajak yang lain berjalan ke Hogsmeade.

Perasaan Fred berubah menjadi ceria ketika mereka berempat masuk ke dalam Zonko’s Joke Shop yang merupakan impian mereka sejak kecil. Fred dan George sibuk mengaggumi berbagai barang lelucon yang dijual disana sementara Lee menarik Gisselle sedikit menjauh.

“Dimana Nicole sebenarnya?” Tanya Lee seraya menoleh cemas untuk memastikan Fred dan George sedang tidak melihat ke arahnya. Gisselle menjadi ragu sejenak, tapi akhirnya ia menceritakan yang sebenarnya.

“Jadi, dia tidak mungkin menjadi sainganmu eh?” Lee tersenyum. Ia menepuk-nepuk punggung Gisselle. “Dan sekarang aku dan Fred menganggu kencanmu”

Gisselle mengibaskan tangannya dengan terburu-buru. “Tidak! Tidak apa-apa sungguh!” Lee menepuk dahinya dengan frustrasi ketika mendengar jawaban Gisselle.

“Kau tahu, kau tidak akan mendapat kemajuan yang berarti jika kau tidak berani.”

Gisselle menatap George yang sedang membayar belanjaannya bersama Fred dan tersenyum. “Begini saja sudah cukup bagiku.” Lee mengerang tanpa suara dan langsung memikirkan cara untuk membantu temannya yang pemalu ini, sementara Fred dan George sudah menyelesaikan belanja mereka lalu mendekati Lee dan Gisselle.

“Kalian tidak membeli apapun?” Tanya George ketika melihat tidak ada satu barang pun di tangan Lee dan Gisselle. Kedua orang yang ditanyai itu menggeleng dan menjawab bahwa mereka tidak mau membeli apapun. Maka mereka pun melanjutkan ‘petualangan’ mereka di Hogsmeade.

“Ah!” Teriak Lee tiba-tiba. “Aku melupakan sesuatu!” Teriakan itu membuat mereka semua kaget. “Fred!”

Fred menatap Lee dengan pandangan bingung. “Ya?” Karena ia kaget, ia tidak sempat berpikir untuk menipu Lee dengan mengganti namanya dengan nama George. George dan Gisselle juga terdiam dan menatap Lee dengan penasaran.

“Kau harus menemaniku, cepat!” Lee menarik lengan Fred dan segera menyeretnya kembali ke toko-toko, melewati kerumunan orang. “Kalian duluan saja ke Three Broomsticks!” Serunya pada Gisselle dan George yang ditinggal begitu saja. Mereka berdua bisa mendengar suara teriakan protes Fred yang makin lama semakin hilang ditengah kerumunan.

“Ada apa dengan anak itu..” Kata George, menatap ke arah Lee dan Fred pergi tadi sambil menggaruk kepalanya yang padahal tidak gatal itu. Gisselle ikut menatap ke arah Lee pergi tadi dan mulai menyadari maksud dari tingkah laku aneh temannya yang berkulit gelap itu. Lee sedang mengusahakan agar Gisselle menikmati Hogsmeade berdua saja dengan George.

George menoleh ke arah Gisselle dan hendak mengajak gadis itu menyusul Fred dan Lee, tapi ketika melihat muka gadis itu yang kedinginan, ia mengurungkan niatnya dan segera menggandeng tangan Gisselle. Gisselle terkejut dan segera menarik tangannya, walau sebenarnya ia menyukai hal itu, tapi George mempertahankan genggamannya.

“Ayo kita ke Three Broomsticks dulu. Kau kedinginan kan?” Kata George sambil berjalan menuju tempat minum milik Madam Rosmerta itu. Tangan Gisselle masih digenggamnya. Dengan patuh, Gisselle mengikuti ‘crush’nya itu.

***

Cedric dan Elly langsung menuju Three Broomsticks yang terkenal itu ketika mereka sampai di Hogsmeade. Musim gugur sudah mencapai puncaknya dan tentu saja udara menjadi dingin sehingga mereka berdua langsung memutuskan menghangatkan diri terlebih dahulu.

Di tempat minum yang cukup ramai itu, Elly langsung mengambil tempat duduk untuk dua orang sementara Cedric membeli minumnya. Pemuda berambut cokelat muda itu kembali setelah beberapa saat dengan Butterbeer di tiap tangan.

“Apakah Nicole dan Wood berpacaran?” Tanya Cedric ketika mereka berdua sudah meminum tegukan pertama Butterbeer mereka. Elly tertawa mendengar pertanyaan Cedric.

“Menurut kami, maksudku menurutku dan Gisselle, mereka berdua saling menyukai, tapi tidak ada yang berani mengatakannya.” Jelas Elly. Cedric tertawa kecil mendengar hal tersebut.

“Dan kau serta Gisselle berusaha menyatukan mereka berdua?”

“Kira-kira begitu.” Elly kembali meminum Butterbeernya dan meninggalkan jejak busa Butterbeer di sekitar mulutnya. Cedric yang duduk tepat di depan Elly melihatnya dan tertawa.

“Ada ap—“ Elly bahkan belum sempat bertanya ketika Cedric mencondongkan tubuhnya ke depan dan mengelap sisa busa Butterbeer di bibir Elly dengan jarinya secara lembut. Elly perlu beberapa waktu untuk mencerna apa yang terjadi sebelum mukanya merona memerah.

“Ada busa Butterbeer tadi.” Jawab Cedric sambil tersenyum lebar dan menunjuk bibirnya sendiri sebagai petanda kalau tadi busanya berada di lokasi itu. Elly bergumam terima kasih dan menundukan kepalanya, menatap minumannya karena saat ini ia tidak bisa mengendalikan degup jantungnya yang berdebar kencang karena pemuda didepannya ini.

Melihat muka Elly yang mendadak merah, Cedric malah menjadi cemas. Ia menatap gadis itu lekat-lekat. “Kau baik-baik saja?” Kata Cedric sambil mencondongkan tubuhnya ke depan lagi. Tentu saja muka Elly bertambah memerah mengingat bahwa muka orang yang disukainya sedekat ini dengan mukanya sendiri.

Cedric jelas merasa khawatir akan kondisi Elly. Di musim gugur, dimana angin dingin mulai bertiup kencang, mudah sekali untuk terkena flu. Pemuda itu akhirnya memutuskan untuk memastikannya sendiri. Ia berdiri, agar tubuhnya bisa lebih condong ke arah Elly dan menempelkan dahinya ke dahi milik Elly.

“Tidak panas..” Gumam Cedric. Ia jelas-jelas sedang mengkomentari suhu Elly lewat dahinya, karena Elly merasakan pipinya membara sekarang. Setelah memastikan Elly baik-baik saja, Cedric kembali duduk. “Jaga kesehatanmu. Aku akan sangat khawatir bila kau jatuh sakit.”

Elly mengangguk dan memberi catatan dalam hatinya, kalau dia, Elizabeth Ann Potter, benar-benar mencintai Cedric dan tidak akan menemukan orang yang lebih ia cintai daripada Cedric Diggory. Ia tahu itu terdengar sedikit aneh, tapi itu perasaannya yang sebenarnya.

***

Nicole merapatkan jaketnya. Ia dan Oliver saat ini sedang berjalan-jalan di jalan utama Hogsmeade dan udara mendadak menjadi bertambah dingin. Nicole mengigil ketika angin berhembus lagi. Sambil setengah mengutuk dirinya sendiri karena tidak memakai jaket yang lebih hangat, ia merapatkan jaketnya lagi.

Oliver melihat tindakan gadis itu, bukan secara kebetulan, tapi karena dia tidak bisa mengalihkan pandangannya dari gadis itu. Dengan cepat pemuda itu meletakan tangannya di pundak Nicole dan menariknya dengan lembut agar semakin dekat dengan tubuh Oliver. Hal itu membuat mereka berdua menjadi lebih hangat, dan muka mereka menjadi semakin merah.

Mereka berdua berbelok dan Oliver membawa Nicole memasuki sebuah toko dengan cat merah menghiasi dindingnya. Nicole mengenali toko itu, salah satu tokoh favoritenya di seluruh Hogsmeade, Tomes and Scrolls. Di dalam, buku-buku menumpuk dimana-mana, di lantai dan di rak. Seorang pria yang sudah cukup berumur mendekati mereka. Senyuman yang tadinya memang sudah ada, semakin mengembang ketika melihat Nicole.

“Ah, Nicole!” Sapanya. Nicole membalas senyuman itu. Pria itu adalah pemilik toko buku yang sudah cukup tua itu. Namanya adalah Jayce Darland. Nicole sudah sering mengunjungi toko ini bersama kakeknya, dan Jayce adalah salah satu penduduk Hogsmeade yang paling ramah menurut Nicole. Pria itu memiliki rambut hitam yang pendek dan berdiri, membuat kepalanya mirip dengan landak. Dari balik kacamata kotaknya, terdapat sepasang mata berwarna cokelat yang ramah.

“Jayce.” Sapa Nicole dan menjabat tangan pria itu. Jayce melirik ke arah Oliver lalu mengedip kepada Nicole, tampaknya ia salah paham.

“Nikmati waktu kalian. Tokoku selalu terbuka untuk Nicole dan temannya.” Jayce memberikan penekanan pada kata teman dan menyenggol Oliver dengan sikunya, lalu pergi sambil tertawa dengan volume yang cukup besar.

“Maafkan dia.” Nicole menoleh dan menatap Oliver. “Sejak aku kecil, ia dan kakek senang sekali membahas tentang diriku jika sudah dewasa dan…” Ia terdiam, mukanya merona dan ia melanjutkan dengan volume kecil, “…menemukan pasangan.”

“Tidak apa-apa. Aku..tidak keberatan..” Jawab Oliver. Karena ia menghindari bertemu pandang dengan Nicole, ia mengambil sebuah buku tebal dari rak dan pura-pura tertarik dengan isinya. Setelah beberapa saat membaca, ia meletakan buku itu kembali, tidak mengerti akan isinya. Lain halnya, Nicole sudah mulai menjelajahi toko buku itu dan membaca cepat beberapa buku. Oliver melirik gadis yang sudah masuk ke dalam dunianya itu berulang kali. Ia berpura-pura mengambil buku sebagai samaran agar tidak ketahuan Nicole bahwa dia sedang mencuri-curi pandang kearahnya.

“Gadis yang menarik bukan?” Kemunculan Jayce di sebelah Oliver yang bisa di kategorikan tiba-tiba itu membuat laki-laki yang lebih muda itu nyaris menjatuhkan buku yang sedang ia pegang.

Jayce masih menatap Nicole ketika Oliver buru-buru mengambalikan buku itu ke dalam rak, mengantisipasi siapa tahu dia akan menjatuhkannya kalau ia memegangnya lebih lama lagi.

“Kita belum berkenalan bukan? Jayce Darland, pemilik toko ini.” Kata Jayce. Oliver menyambut uluran tangan pria itu dan menjabatnya.

“Oliver Wood.” Kata Oliver. Jayce menatap Oliver dari atas sampai bawah melalui kacamata kotaknya, seakan-akan sedang menilainya. Merasakan ia sedang ‘dinilai’, Oliver menjadi gugup dan salah tingkah. Bagaimanapun juga, Jayce adalah salah satu orang yang mengenal Nicole sejak kecil, tentu pria itu menginginkan yang terbaik untuk Nicole.

“Sudah berapa lama kalian bersama?” Pertanyaan Jayce jelas tidak disangka Oliver. Untung saja dia sudah meletakan buku tadi di rak karena jika tidak, dia pasti sudah menjatuhkannya ke lantai dengan debuman keras sebagai hasilnya.

“K-kami tidak yang seperti anda pikirkan. K-kami hanya teman!” Jawab Oliver terbata-bata. Ia kelewat gugup menjawabnya. Jayce mengelus-elus dagunya yang ditumbuhi jenggot tipis.

“Jadi kalian masih dalam tahap pendekatan? Lama juga kau nak!” Komentar Jayce. Oliver hanya bisa mengeluarkan beberapa gumaman tidak jelas sebagai balasan, hal itu membuat Jayce tertawa.

“Jayce! Jangan menggodainya seperti itu!” Nicole menyadari bahwa Jayce sedang mengerjai Oliver dan segera berjalan kearah dua laki-laki itu. Gadis berambut cokelat tua tersebut melipat kedua tangannya di dada dan menatap Jayce dengan tatapan kesal. Bukannya takut, Jayce malah tertawa semakin keras.

“Maaf. Aku tidak bermaksud membuat pacarmu menjadi gugup seperti ini.” Kata Jayce di sela-sela tawanya. Muka Nicole memerah, tapi ia berusaha untuk tetap tenang dan mempertahankan ekspresi kesalnya.

“D-d-dia bukan pacarku.” Kata Nicole. Jayce hanya mengangkat kedua tangannya dan berjalan pergi. Tawa masih terdengar dari mulutnya. Merasa setengah kesal, setengah malu, Nicole meletakan buku yang tadi ia pegang dan membawa Oliver keluar dari toko buku tanpa membeli apapun.

“Maafkan dia.” Kata Nicole ketika mereka berdua berjalan di luar kembali. Oliver menggeleng dan memberikan senyuman yang menenangkan.

“Bukan masalah. Dia tampaknya sangat sayang padamu, Nicole.”

“Yah, aku menyadarinya. Tapi kadang aku berharap dia berhenti melakukan hal-hal memalukan seperti itu.” Nicole tertawa kecil ketika mengatakannya. “Ngomong-ngomong, aku tidak tahu kau tertarik pada buku.”

Oliver menaikan kedua bahunya, “Jujur. Aku tidak begitu tertarik.”

Mata Nicole melebar. Kalau begitu, kenapa pemuda ini mengajaknya ke toko buku? Bukan ke tempat lain yang disukainya. Ketika Nicole menanyakannya, ia mendapat jawaban yang tidak ia duga.

“Karena kau menyukai buku, dan aku ingin kau senang.”

Nicole tidak dapat menemukan kata-kata untuk membalas pemuda itu. Akhirnya, ia hanya tersenyum dan menggenggam tangan Oliver. “Terima kasih.”

***

Gisselle dan George sampai di Three Broomsticks, tempat Elly dan Cedric sedang mengobrol riang berdua. Gisselle langsung berjalan ke arah sahabatnya sebelum di tarik kembali oleh George.

“Jangan ganggu mereka. Lagipula, kau sedang bersamaku kali ini. Jangan duduk dengan orang lain.” Kata George seraya mengedip pada Gisselle dan menggiringnya ke sebuah tempat duduk yang kosong, cukup jauh dari tempat Elly. Pemuda itu menyuruh Gisselle duduk sementara ia membeli minuman untuk mereka berdua.

Rasanya baru saja Gisselle duduk, dua penyihir muda mendatanginya. Satu duduk di depannya, dan satu lagi duduk disebelah Gisselle, melingkarkan tangannya pada pundak Gisselle.

“Sendirian saja Miss?” Kata salah satu dari mereka, yang duduk di sebelah Gisselle, seorang pemuda kurang lebih berumur 19 tahun dan berambut kuning seperti jagung. Gisselle berusaha melepaskan diri dari rangkulan pemuda itu tapi sia-sia.

“Mau kami temani?” Tanya yang lain, kali ini pemuda berambut cokelat berantakan. Gisselle menggeleng dengan cepat, ia sepertinya kehilangan suaranya di depan dua pemuda asing ini. Si pemuda kuning jagung nyengir pada temannya yang dibalas cengiran juga, lalu bergeser sehingga semakin dekat dengan Gisselle.

Gisselle sudah sangat ketakutan dan siap menangis ketika si pemuda kuning jagung di tarik dengan paksa dari dirinya dan sedetik kemudian, terlempar di lantai. Gisselle menoleh dan mendapati seorang pemuda berambut merah berdiri di belakangnya. Mukanya tidak menunjukan ekspresi jahil seperti biasanya. Tidak, kali ini ia tampak marah.

George Weasley menatap si pemuda cokelat berantakan dengan tatapan marah. “Maaf, tapi dia bersamaku. Ku minta kalian pergi sebelum aku melakukan sesuatu.” Suara George cukup besar sehingga hampir seluruh pengunjung tempat minum itu sekarang menatap mereka ber empat. Merasa mereka akan tertimpa masalah bila melawan, kedua pemuda asing tadi langsung berlari pergi tanpa mengatakan apa-apa.

“Kau tidak apa-apa? Maaf aku terlalu lama.” Kata George sambil duduk di sebelah Gisselle dan meletakan dua cangkir Butterbeer yang tadi ia taruh di meja lain terlebih dahulu ketika mengusir dua berandalan tadi. Gisselle mengangguk, merasa lega karena George datang tepat pada waktunya. Air mata lega mendadak mengalir dari matanya, dan itu membuat George panik.

“A-apakah mereka melakukan sesuatu? Mereka menyakitimu?” Tanya George panic. Gisselle menggeleng.

“A-aku baik-baik saja. Hanya merasa lega karena kau menyelamatkanku. Terima kasih banyak.” Jawab Gisselle, tapi air matanya tetap mengalir. George mengangkat tangan kanannya dan mengelap air mata Gisselle dengan jarinya.

“Kalau begitu jangan menangis. Kau terlihat lebih manis jika tersenyum.” Kata-kata George berhasil membuat air mata Gisselle berhenti dan mukanya merona merah. George mengedip jahil dan tersenyum pada Gisselle, lalu mengambil Butterbeernya dan meminumnya.

“George?”

“Ya?”

Giselle menatap George dan mengumpulkan keberaniannya sekali lagi. “Sebenarnya..aku.. aku menyu—“

“George!”

Panggilan itu membuat kata-kata Gisselle terhentikan, dan perhatian George teralihkan. Fred dan Lee baru saja masuk ke dalam Three Broomsticks dan melambai ke arah mereka.

“Kalian lama sekali!” Kata George seraya berdiri dan memberi kembarannya pelukan.

“Maaf, Lee terlalu labil.” Jawab Fred, cengiran jahil terpasang di wajahnya. “Oh! Butterbeer! Aku akan membeli juga, kau mau Lee?” Lee mengangguk dan duduk di depan Gisselle. George pergi menyusul saudara kembarnya yang sedang memesan minuman sehingga hanya Lee dan Gisselle di meja itu.

“Bagaimana?” Tanya Lee penasaran. Gisselle hanya tersenyum penuh arti. Ia memang gagal lagi ketika akan menyatakan perasaannya, tapi ia mendapatkan pengalaman tak terlupakan bersama George Weasley.

***TBC***

A/N : Mohon maaf apabila ada kesalahan *bows*

Original Plot by : Our Queen, JK Rowling
The ‘new’ plot Made by : Liz
Take out with full credits please~ ^^

0 komentar:

Posting Komentar