Chapter 9 : Definitely
A Date
(Setting
: HP 1 )
Hari
halloween yang di tunggu-tunggu pun tiba. Wangi labu panggang tercium
dimana-mana membuat siapa saja yang menciumnya pasti tergiur. Pelajaran hari
ini juga hanya sampai makan siang dan setelahnya, bagi anak kelas tiga dan
seterusnya, mereka bisa mengunjungi Hogsmeade.
Seluruh
kertas formulir telah diserahkan pada Kepala Asrama masing-masing dan sekarang
seluruh anak kelas tiga berbaris didepan Flich yang sedang mengecek satu
persatu anak yang melewatinya, memastikan tidak ada anak yang menyusup ke
Hogsmeade secara curang.
“Kau
berhasil mendapatkan tanda tangan bibimu?” Tanya Nicole, penasaran bagaimana
Elly mendapatkan tanda tangan dari paman dan bibinya yang menyebalkan itu. Elly
mengigit bibir bagian bawahnya dan menggeleng.
“Aku
tidak meminta dari mereka.”
Tentu
saja jawaban Elly membuat Nicole dan Gisselle bingung. Elly melirik dua
sahabatnya dan bergumam pelan. “Aku meminta tanda tangan waliku.”
“Kau
punya wali?”
“Siapa?”
Elly
buru-buru menutup mulut Nicole dan Gisselle dengan kedua tangannya. “Sstt!!
Berjanji kalian tidak akan memberi tahu siapa-siapa?” Baik Nicole maupun
Gisselle mengangguk dengan cepat, Elly masih belum melepaskan pegangannya pada
mulut mereka sehingga mereka berdua tidak bisa menjawabnya dengan kata-kata.
“Waliku..adalah
Profesor Snape.”
Kedua
teman Elly sudah pasti akan berteriak jika mulutnya tidak ditutupi olehnya.
Ketika menurutnya sudah aman, Elly melepaskan pegangannya dan meletakan jari
telunjuknya di bibirnya.
“Jaga
rahasia ini, okay?” Bisiknya.
“Kenapa?”
Tanya Gisselle penasaran. Karena menurutnya, mempunyai seorang wali bukan hal
yang harus di tutupi.
Elly
mendesis, “Dia memintaku untuk menutupinya. Dia berkata dia tidak ingin aku
ikut tidak disukai sepertinya. Dan lagipula, tampaknya adikku membencinya.”
“Apakah
Harry tahu kalau Snape adalah walinya?” Kali ini giliran Nicole yang bertanya.
“Tidak.
Snape bukan walinya Harry. Wali Harry adalah salah satu sahabat ayahku.”
Mereka
bertiga terlalu sibuk berbisik-bisik sehingga tidak menyadari kehadiran dua
pemuda yang berdiri dalam diam di dekat mereka. Cedric dan Oliver saling
memandang satu dengan yang lain.
“Diggory.”
Sapa Oliver seraya mengangguk untuk menyapa Cedric.
“Wood.”
Balas Cedric. Mereka berdua sudah bertemu di pertandingan Quiddicth sebelumnya.
“Kau sedang menunggu seseorang?” Tanya Cedric. Sebagai balasan, Oliver
menggerakan kepalanya ke arah Nicole dan tersenyum saat melihat gadis itu
tertawa. Ketiga gadis itu masih sibuk mengobrol dan sama sekali tidak menyadari
Oliver dan Cedric.
Cedric
menaikan alisnya dan menatap Nicole lalu kembali ke Oliver. “Kalian pacaran?” Muka
Oliver langsung memerah dan menggeleng dengan cepat.
“Tidak.
Aku hanya mengajaknya pergi ke Hogsmeade bersama!”
Kata-kata
Oliver yang cukup keras volumenya itu menarik perhatian Nicole, Elly dan
Gisselle. Melihat Oliver, Elly dan Gisselle mendorong Nicole maju ke depan.
Muka Nicole otomatis memerah, dan muka Oliver sendiri bertambah merah.
“Selamat
bersenang-senang, sampai nanti!” Kata Elly. Ia dan Gisselle tampak puas dengan
perkembangan temannya itu. Cedric berdeham pelan dan Gisselle menyadari
kehadiran pemuda itu juga.
“Elly
juga, selamat bersenang senang!” Gisselle mendorong Elly ke arah Cedric dan
melambai saat kedua sahabatnya itu pergi. Mukanya berubah menjadi khawatir
ketika ia akhirnya menyadari bahwa ia sendirian. Namun kekhawatirannya tidak
bertahan lama karena Fred, George dan Lee berjalan kearahnya.
“Dimana
Nicole?” Tanya si kembar Weasley bersamaan. Mereka bertiga menoleh ke kanan dan
ke kiri mencari sosok gadis berambut cokelat tua yang biasanya selalu di
samping Gisselle itu.
“Nicole?
Uhm..” Gisselle enggan menceritakan pada ketiga pemuda itu bahwa Nicole sudah
pergi ke Hogsmeade bersama dengan Oliver, terutama pada Fred. “Dia ada janji
dengan seseorang dan tidak akan pergi ke Hogsmeade bersama kita.” Jelas
Gisselle.
Lee
menaikan kedua bahunya, “Yah, kalau begitu mau bagaimana lagi.” Jelas ia kecewa
karena Nicole tidak dapat ikut bersama mereka. Tapi ekspresi mukanya jelas
masih kalah dengan eskpresi kecewa yang telihat jelas di muka Fred. George
jelas menyadari perubahan ekspresi wajah saudara kembarnya dan segera mengajak
yang lain berjalan ke Hogsmeade.
Perasaan
Fred berubah menjadi ceria ketika mereka berempat masuk ke dalam Zonko’s Joke
Shop yang merupakan impian mereka sejak kecil. Fred dan George sibuk mengaggumi
berbagai barang lelucon yang dijual disana sementara Lee menarik Gisselle
sedikit menjauh.
“Dimana
Nicole sebenarnya?” Tanya Lee seraya menoleh cemas untuk memastikan Fred dan
George sedang tidak melihat ke arahnya. Gisselle menjadi ragu sejenak, tapi
akhirnya ia menceritakan yang sebenarnya.
“Jadi,
dia tidak mungkin menjadi sainganmu eh?” Lee tersenyum. Ia menepuk-nepuk
punggung Gisselle. “Dan sekarang aku dan Fred menganggu kencanmu”
Gisselle
mengibaskan tangannya dengan terburu-buru. “Tidak! Tidak apa-apa sungguh!” Lee
menepuk dahinya dengan frustrasi ketika mendengar jawaban Gisselle.
“Kau
tahu, kau tidak akan mendapat kemajuan yang berarti jika kau tidak berani.”
Gisselle
menatap George yang sedang membayar belanjaannya bersama Fred dan tersenyum. “Begini
saja sudah cukup bagiku.” Lee mengerang tanpa suara dan langsung memikirkan
cara untuk membantu temannya yang pemalu ini, sementara Fred dan George sudah
menyelesaikan belanja mereka lalu mendekati Lee dan Gisselle.
“Kalian
tidak membeli apapun?” Tanya George ketika melihat tidak ada satu barang pun di
tangan Lee dan Gisselle. Kedua orang yang ditanyai itu menggeleng dan menjawab
bahwa mereka tidak mau membeli apapun. Maka mereka pun melanjutkan ‘petualangan’
mereka di Hogsmeade.
“Ah!”
Teriak Lee tiba-tiba. “Aku melupakan sesuatu!” Teriakan itu membuat mereka
semua kaget. “Fred!”
Fred
menatap Lee dengan pandangan bingung. “Ya?” Karena ia kaget, ia tidak sempat
berpikir untuk menipu Lee dengan mengganti namanya dengan nama George. George
dan Gisselle juga terdiam dan menatap Lee dengan penasaran.
“Kau
harus menemaniku, cepat!” Lee menarik lengan Fred dan segera menyeretnya
kembali ke toko-toko, melewati kerumunan orang. “Kalian duluan saja ke Three Broomsticks!”
Serunya pada Gisselle dan George yang ditinggal begitu saja. Mereka berdua bisa
mendengar suara teriakan protes Fred yang makin lama semakin hilang ditengah
kerumunan.
“Ada
apa dengan anak itu..” Kata George, menatap ke arah Lee dan Fred pergi tadi
sambil menggaruk kepalanya yang padahal tidak gatal itu. Gisselle ikut menatap ke
arah Lee pergi tadi dan mulai menyadari maksud dari tingkah laku aneh temannya
yang berkulit gelap itu. Lee sedang mengusahakan agar Gisselle menikmati
Hogsmeade berdua saja dengan George.
George
menoleh ke arah Gisselle dan hendak mengajak gadis itu menyusul Fred dan Lee,
tapi ketika melihat muka gadis itu yang kedinginan, ia mengurungkan niatnya dan
segera menggandeng tangan Gisselle. Gisselle terkejut dan segera menarik
tangannya, walau sebenarnya ia menyukai hal itu, tapi George mempertahankan
genggamannya.
“Ayo
kita ke Three Broomsticks dulu. Kau kedinginan kan?” Kata George sambil
berjalan menuju tempat minum milik Madam Rosmerta itu. Tangan Gisselle masih
digenggamnya. Dengan patuh, Gisselle mengikuti ‘crush’nya itu.
***
Cedric
dan Elly langsung menuju Three Broomsticks yang terkenal itu ketika mereka
sampai di Hogsmeade. Musim gugur sudah mencapai puncaknya dan tentu saja udara
menjadi dingin sehingga mereka berdua langsung memutuskan menghangatkan diri
terlebih dahulu.
Di
tempat minum yang cukup ramai itu, Elly langsung mengambil tempat duduk untuk
dua orang sementara Cedric membeli minumnya. Pemuda berambut cokelat muda itu
kembali setelah beberapa saat dengan Butterbeer di tiap tangan.
“Apakah
Nicole dan Wood berpacaran?” Tanya Cedric ketika mereka berdua sudah meminum
tegukan pertama Butterbeer mereka. Elly tertawa mendengar pertanyaan Cedric.
“Menurut
kami, maksudku menurutku dan Gisselle, mereka berdua saling menyukai, tapi
tidak ada yang berani mengatakannya.” Jelas Elly. Cedric tertawa kecil
mendengar hal tersebut.
“Dan
kau serta Gisselle berusaha menyatukan mereka berdua?”
“Kira-kira
begitu.” Elly kembali meminum Butterbeernya dan meninggalkan jejak busa
Butterbeer di sekitar mulutnya. Cedric yang duduk tepat di depan Elly
melihatnya dan tertawa.
“Ada
ap—“ Elly bahkan belum sempat bertanya ketika Cedric mencondongkan tubuhnya ke
depan dan mengelap sisa busa Butterbeer di bibir Elly dengan jarinya secara
lembut. Elly perlu beberapa waktu untuk mencerna apa yang terjadi sebelum
mukanya merona memerah.
“Ada
busa Butterbeer tadi.” Jawab Cedric sambil tersenyum lebar dan menunjuk
bibirnya sendiri sebagai petanda kalau tadi busanya berada di lokasi itu. Elly
bergumam terima kasih dan menundukan kepalanya, menatap minumannya karena saat
ini ia tidak bisa mengendalikan degup jantungnya yang berdebar kencang karena
pemuda didepannya ini.
Melihat
muka Elly yang mendadak merah, Cedric malah menjadi cemas. Ia menatap gadis itu
lekat-lekat. “Kau baik-baik saja?” Kata Cedric sambil mencondongkan tubuhnya ke
depan lagi. Tentu saja muka Elly bertambah memerah mengingat bahwa muka orang
yang disukainya sedekat ini dengan mukanya sendiri.
Cedric
jelas merasa khawatir akan kondisi Elly. Di musim gugur, dimana angin dingin
mulai bertiup kencang, mudah sekali untuk terkena flu. Pemuda itu akhirnya
memutuskan untuk memastikannya sendiri. Ia berdiri, agar tubuhnya bisa lebih
condong ke arah Elly dan menempelkan dahinya ke dahi milik Elly.
“Tidak
panas..” Gumam Cedric. Ia jelas-jelas sedang mengkomentari suhu Elly lewat
dahinya, karena Elly merasakan pipinya membara sekarang. Setelah memastikan
Elly baik-baik saja, Cedric kembali duduk. “Jaga kesehatanmu. Aku akan sangat
khawatir bila kau jatuh sakit.”
Elly
mengangguk dan memberi catatan dalam hatinya, kalau dia, Elizabeth Ann Potter,
benar-benar mencintai Cedric dan tidak akan menemukan orang yang lebih ia
cintai daripada Cedric Diggory. Ia tahu itu terdengar sedikit aneh, tapi itu
perasaannya yang sebenarnya.
***
Nicole
merapatkan jaketnya. Ia dan Oliver saat ini sedang berjalan-jalan di jalan
utama Hogsmeade dan udara mendadak menjadi bertambah dingin. Nicole mengigil
ketika angin berhembus lagi. Sambil setengah mengutuk dirinya sendiri karena
tidak memakai jaket yang lebih hangat, ia merapatkan jaketnya lagi.
Oliver
melihat tindakan gadis itu, bukan secara kebetulan, tapi karena dia tidak bisa
mengalihkan pandangannya dari gadis itu. Dengan cepat pemuda itu meletakan
tangannya di pundak Nicole dan menariknya dengan lembut agar semakin dekat
dengan tubuh Oliver. Hal itu membuat mereka berdua menjadi lebih hangat, dan
muka mereka menjadi semakin merah.
Mereka
berdua berbelok dan Oliver membawa Nicole memasuki sebuah toko dengan cat merah
menghiasi dindingnya. Nicole mengenali toko itu, salah satu tokoh favoritenya
di seluruh Hogsmeade, Tomes and Scrolls. Di dalam, buku-buku menumpuk dimana-mana,
di lantai dan di rak. Seorang pria yang sudah cukup berumur mendekati mereka.
Senyuman yang tadinya memang sudah ada, semakin mengembang ketika melihat
Nicole.
“Ah,
Nicole!” Sapanya. Nicole membalas senyuman itu. Pria itu adalah pemilik toko
buku yang sudah cukup tua itu. Namanya adalah Jayce Darland. Nicole sudah
sering mengunjungi toko ini bersama kakeknya, dan Jayce adalah salah satu
penduduk Hogsmeade yang paling ramah menurut Nicole. Pria itu memiliki rambut
hitam yang pendek dan berdiri, membuat kepalanya mirip dengan landak. Dari
balik kacamata kotaknya, terdapat sepasang mata berwarna cokelat yang ramah.
“Jayce.”
Sapa Nicole dan menjabat tangan pria itu. Jayce melirik ke arah Oliver lalu
mengedip kepada Nicole, tampaknya ia salah paham.
“Nikmati
waktu kalian. Tokoku selalu terbuka untuk Nicole dan temannya.” Jayce memberikan
penekanan pada kata teman dan menyenggol Oliver dengan sikunya, lalu pergi
sambil tertawa dengan volume yang cukup besar.
“Maafkan
dia.” Nicole menoleh dan menatap Oliver. “Sejak aku kecil, ia dan kakek senang
sekali membahas tentang diriku jika sudah dewasa dan…” Ia terdiam, mukanya
merona dan ia melanjutkan dengan volume kecil, “…menemukan pasangan.”
“Tidak
apa-apa. Aku..tidak keberatan..” Jawab Oliver. Karena ia menghindari bertemu
pandang dengan Nicole, ia mengambil sebuah buku tebal dari rak dan pura-pura
tertarik dengan isinya. Setelah beberapa saat membaca, ia meletakan buku itu
kembali, tidak mengerti akan isinya. Lain halnya, Nicole sudah mulai
menjelajahi toko buku itu dan membaca cepat beberapa buku. Oliver melirik gadis
yang sudah masuk ke dalam dunianya itu berulang kali. Ia berpura-pura mengambil
buku sebagai samaran agar tidak ketahuan Nicole bahwa dia sedang mencuri-curi
pandang kearahnya.
“Gadis
yang menarik bukan?” Kemunculan Jayce di sebelah Oliver yang bisa di
kategorikan tiba-tiba itu membuat laki-laki yang lebih muda itu nyaris
menjatuhkan buku yang sedang ia pegang.
Jayce
masih menatap Nicole ketika Oliver buru-buru mengambalikan buku itu ke dalam
rak, mengantisipasi siapa tahu dia akan menjatuhkannya kalau ia memegangnya
lebih lama lagi.
“Kita
belum berkenalan bukan? Jayce Darland, pemilik toko ini.” Kata Jayce. Oliver
menyambut uluran tangan pria itu dan menjabatnya.
“Oliver
Wood.” Kata Oliver. Jayce menatap Oliver dari atas sampai bawah melalui
kacamata kotaknya, seakan-akan sedang menilainya. Merasakan ia sedang ‘dinilai’,
Oliver menjadi gugup dan salah tingkah. Bagaimanapun juga, Jayce adalah salah
satu orang yang mengenal Nicole sejak kecil, tentu pria itu menginginkan yang
terbaik untuk Nicole.
“Sudah
berapa lama kalian bersama?” Pertanyaan Jayce jelas tidak disangka Oliver.
Untung saja dia sudah meletakan buku tadi di rak karena jika tidak, dia pasti
sudah menjatuhkannya ke lantai dengan debuman keras sebagai hasilnya.
“K-kami
tidak yang seperti anda pikirkan. K-kami hanya teman!” Jawab Oliver
terbata-bata. Ia kelewat gugup menjawabnya. Jayce mengelus-elus dagunya yang
ditumbuhi jenggot tipis.
“Jadi
kalian masih dalam tahap pendekatan? Lama juga kau nak!” Komentar Jayce. Oliver
hanya bisa mengeluarkan beberapa gumaman tidak jelas sebagai balasan, hal itu
membuat Jayce tertawa.
“Jayce!
Jangan menggodainya seperti itu!” Nicole menyadari bahwa Jayce sedang mengerjai
Oliver dan segera berjalan kearah dua laki-laki itu. Gadis berambut cokelat tua
tersebut melipat kedua tangannya di dada dan menatap Jayce dengan tatapan
kesal. Bukannya takut, Jayce malah tertawa semakin keras.
“Maaf.
Aku tidak bermaksud membuat pacarmu menjadi gugup seperti ini.” Kata Jayce di
sela-sela tawanya. Muka Nicole memerah, tapi ia berusaha untuk tetap tenang dan
mempertahankan ekspresi kesalnya.
“D-d-dia
bukan pacarku.” Kata Nicole. Jayce hanya mengangkat kedua tangannya dan
berjalan pergi. Tawa masih terdengar dari mulutnya. Merasa setengah kesal,
setengah malu, Nicole meletakan buku yang tadi ia pegang dan membawa Oliver
keluar dari toko buku tanpa membeli apapun.
“Maafkan
dia.” Kata Nicole ketika mereka berdua berjalan di luar kembali. Oliver
menggeleng dan memberikan senyuman yang menenangkan.
“Bukan
masalah. Dia tampaknya sangat sayang padamu, Nicole.”
“Yah,
aku menyadarinya. Tapi kadang aku berharap dia berhenti melakukan hal-hal
memalukan seperti itu.” Nicole tertawa kecil ketika mengatakannya. “Ngomong-ngomong,
aku tidak tahu kau tertarik pada buku.”
Oliver
menaikan kedua bahunya, “Jujur. Aku tidak begitu tertarik.”
Mata
Nicole melebar. Kalau begitu, kenapa pemuda ini mengajaknya ke toko buku? Bukan
ke tempat lain yang disukainya. Ketika Nicole menanyakannya, ia mendapat
jawaban yang tidak ia duga.
“Karena
kau menyukai buku, dan aku ingin kau senang.”
Nicole
tidak dapat menemukan kata-kata untuk membalas pemuda itu. Akhirnya, ia hanya
tersenyum dan menggenggam tangan Oliver. “Terima kasih.”
***
Gisselle
dan George sampai di Three Broomsticks, tempat Elly dan Cedric sedang mengobrol
riang berdua. Gisselle langsung berjalan ke arah sahabatnya sebelum di tarik
kembali oleh George.
“Jangan
ganggu mereka. Lagipula, kau sedang bersamaku kali ini. Jangan duduk dengan
orang lain.” Kata George seraya mengedip pada Gisselle dan menggiringnya ke
sebuah tempat duduk yang kosong, cukup jauh dari tempat Elly. Pemuda itu
menyuruh Gisselle duduk sementara ia membeli minuman untuk mereka berdua.
Rasanya
baru saja Gisselle duduk, dua penyihir muda mendatanginya. Satu duduk di
depannya, dan satu lagi duduk disebelah Gisselle, melingkarkan tangannya pada
pundak Gisselle.
“Sendirian
saja Miss?” Kata salah satu dari mereka, yang duduk di sebelah Gisselle,
seorang pemuda kurang lebih berumur 19 tahun dan berambut kuning seperti
jagung. Gisselle berusaha melepaskan diri dari rangkulan pemuda itu tapi
sia-sia.
“Mau
kami temani?” Tanya yang lain, kali ini pemuda berambut cokelat berantakan.
Gisselle menggeleng dengan cepat, ia sepertinya kehilangan suaranya di depan
dua pemuda asing ini. Si pemuda kuning jagung nyengir pada temannya yang dibalas
cengiran juga, lalu bergeser sehingga semakin dekat dengan Gisselle.
Gisselle
sudah sangat ketakutan dan siap menangis ketika si pemuda kuning jagung di
tarik dengan paksa dari dirinya dan sedetik kemudian, terlempar di lantai.
Gisselle menoleh dan mendapati seorang pemuda berambut merah berdiri di
belakangnya. Mukanya tidak menunjukan ekspresi jahil seperti biasanya. Tidak,
kali ini ia tampak marah.
George
Weasley menatap si pemuda cokelat berantakan dengan tatapan marah. “Maaf, tapi
dia bersamaku. Ku minta kalian pergi sebelum aku melakukan sesuatu.” Suara
George cukup besar sehingga hampir seluruh pengunjung tempat minum itu sekarang
menatap mereka ber empat. Merasa mereka akan tertimpa masalah bila melawan,
kedua pemuda asing tadi langsung berlari pergi tanpa mengatakan apa-apa.
“Kau
tidak apa-apa? Maaf aku terlalu lama.” Kata George sambil duduk di sebelah
Gisselle dan meletakan dua cangkir Butterbeer yang tadi ia taruh di meja lain
terlebih dahulu ketika mengusir dua berandalan tadi. Gisselle mengangguk,
merasa lega karena George datang tepat pada waktunya. Air mata lega mendadak
mengalir dari matanya, dan itu membuat George panik.
“A-apakah
mereka melakukan sesuatu? Mereka menyakitimu?” Tanya George panic. Gisselle
menggeleng.
“A-aku
baik-baik saja. Hanya merasa lega karena kau menyelamatkanku. Terima kasih
banyak.” Jawab Gisselle, tapi air matanya tetap mengalir. George mengangkat
tangan kanannya dan mengelap air mata Gisselle dengan jarinya.
“Kalau
begitu jangan menangis. Kau terlihat lebih manis jika tersenyum.” Kata-kata
George berhasil membuat air mata Gisselle berhenti dan mukanya merona merah.
George mengedip jahil dan tersenyum pada Gisselle, lalu mengambil Butterbeernya
dan meminumnya.
“George?”
“Ya?”
Giselle
menatap George dan mengumpulkan keberaniannya sekali lagi. “Sebenarnya..aku..
aku menyu—“
“George!”
Panggilan
itu membuat kata-kata Gisselle terhentikan, dan perhatian George teralihkan.
Fred dan Lee baru saja masuk ke dalam Three Broomsticks dan melambai ke arah
mereka.
“Kalian
lama sekali!” Kata George seraya berdiri dan memberi kembarannya pelukan.
“Maaf,
Lee terlalu labil.” Jawab Fred, cengiran jahil terpasang di wajahnya. “Oh!
Butterbeer! Aku akan membeli juga, kau mau Lee?” Lee mengangguk dan duduk di
depan Gisselle. George pergi menyusul saudara kembarnya yang sedang memesan
minuman sehingga hanya Lee dan Gisselle di meja itu.
“Bagaimana?”
Tanya Lee penasaran. Gisselle hanya tersenyum penuh arti. Ia memang gagal lagi
ketika akan menyatakan perasaannya, tapi ia mendapatkan pengalaman tak
terlupakan bersama George Weasley.
***TBC***
A/N : Mohon maaf
apabila ada kesalahan *bows*
Original Plot by : Our Queen, JK Rowling
The ‘new’ plot Made
by : Liz
Take
out with full credits please~ ^^

0 komentar:
Posting Komentar