Rabu, 21 Mei 2014

Hogwarts' Beloved : Chapter 7

Chapter 7 : Did I Have The Courage?
                                             (Setting : HP 1 )

Tidak terasa, liburan musim panas sudah berakhir lagi dan Nicole harus kembali berpura-pura berjalan di Kings Cross dan menaiki Hogwarts Express kembali padahal ia baru saja tiba di stasiun dari sekolah yang sebentar lagi akan di tujunya kembali dengan menaiki kereta uap. Gadis yang baru saja berulang tahun ke tiga belas itu berhasil melewati tiang peron 9 dan 10 dengan sukses dan mendorong trolinya menuju kereta.

“Niiicoooollleee!!” Teriak dua buah suara yang serupa, yang sudah sangat Nicole kenali selama dua tahun terakhir ini. Si kembar Weasley melambai ke arahnya. Mereka berdua berdiri bersama keluarga mereka yang semuanya berambut merah. Nicole berjalan mendekati mereka dan membungkuk sopan ke ibu dari si kembar, Molly Weasley.

“Nicole! Kami bertemu Elly tadi..”
“..Dan tebak siapa yang kami temui bersama dirinya..”
Seperti biasa, Fred dan George saling melengkapi kata satu dengan yang lain. Nicole memandang mereka berdua, yang tampaknya sangat yakin bahwa Nicole akan terkejut mendengar berita dari mereka, walau Nicole sebenarnya sudah tahu dari surat-surat Elly selama musim panas.

“Siapa?” Bukan Nicole yang berkata, melainkan salah satu adik si kembar, Ron Weasley.

“HAR—“

“Harry kan? Adiknya Elly. Harry Potter.” Sela Nicole sambil tersenyum jahil. Senang rasanya gantian mengerjai si kembar. Muka mereka berdua menjadi masam dan jelas-jelas menunjukan kekecewaan karena mereka tidak berhasil mengejutkan Nicole. Tapi hal tersebut membuat seluruh keluarganya terkejut.

"Oh mum! Bisakah aku melihatnya? Kumohon?" Pinta anak termuda dari keluarga Weasley sekaligus satu-satunya anak perempuan, Ginevra atau biasa di panggil Ginny. Si kembar telah mengajak Nicole bertemu dengan keluarganya di Diagon Alley beberapa hari yang lalu dan mengenalkan mereka semua.

"Tidak Ginny. Dia bukan hewan pertunjukan." Kata Mrs. Weasley dengan tegas. Setelah berkata pamit, Nicole berjalan menjauhi keluarga miskin namun memiliki suasana hangat itu. Walau Nicole sudah cukup jauh, dia bisa mendengar Mrs. Weasley berteriak, siapa lagi kalau bukan untuk si kembar.

Setelah menaikan koper dan sangkar burung hantu hitamnya, Natte ke dalam kereta, ia menarik setengah menyeret kopernya itu seraya mencari kompartemen kosong. Senyum Nicole mengembang ketika ia menemukan sebuah kompartemen dimana kedua temannya sedang duduk, mereka adalah Gisselle Scotthill dan Lee Jordan.

"Hey Nicole!!" Sapa Lee ketika Nicole membuka pintu kompartemen. Gisselle tersenyum manis pada Nicole.

"Hey." Sapa Nicole, senyuman masih tampak jelas di wajahnya. Setelah menaikan koper dan sangkar burung hantunya di rak atas, Nicole duduk di sebelah Lee dan menatap Gisselle yang sekarang tampak sedikit ketakutan sambil menatap sebuah kotak di pangkuan pemuda berkulit kecokelatan itu.

"Lee. Jangan pernah membuka kotak itu." Kata Gisselle memperingatkan. Mendengar kata-kata Gisselle, Nicole malah menjadi tertarik tentang isi kotak tersebut.

"Apa isi dari kotak itu Lee?” Tanya Nicole, menunjuk kotak tersebut. Lee hanya tersenyum jahil.

“Kau akan lihat nanti, tunggu Fred dan George tiba dan aku akan membuka kotak ini.” Kata-kata Lee dibalas dengan gelengan-gelengan keras dari Gisselle. Beberapa saat kemudian, pintu kompartemen terbuka lagi dan si kembar Weasley yang di tunggu-tunggu pun masuk ke dalam kompartemen. Fred, yang pertama masuk, nyengir dan segera mengambil tempatnya di sebelah Nicole, membuat gadis itu luar biasa kesal. George nyengir melihat tingkah saudara kembarnya dan duduk disebelah Gisselle.

“Oke. Mereka disini.” Kata Nicole sambil mendorong Fred menjauh darinya. Pemuda berambut merah it uterus menerus berusaha melingkarkan tangannya di pundak Nicole, dan Nicole tentu mendorongnya sekuat tenaga bahkan menginjak kakinya. “Sekarang, buka kotak itu.”

Lee nyengir, “Tolong jangan menjerit.” Ia lalu membuka kotak tersebut dan menunjukan apa isinya, sebuah tarantula raksasa dengan delapan kaki panjang yang berbulu. Melihat binatang mengerikan itu, Nicole hanya mengernyit saja. Lain halnya dengan Gisselle yang menjerit dan bersembunyi di pundak George. Pemuda itu tertawa melihat reaksi Gisselle, tapi ia tetap membiarkan gadis itu menyembunyikan wajahnya di pundaknya. Lee segera menutup kembali kotak itu setelah Gisselle menjerit.

“Kau tidak mau bersembunyi di pundakku juga?” Tanya Fred jahil sambil mencolek dagu Nicole yang mengakibatkan gadis itu meninju perut pemuda itu. Tawa segera terdengar di kompartemen itu saat Fred berguling di lantai sambil memegangi perutnya.

***

Upacara seleksi untuk murid-murid kelas satu sebentar lagi akan dimulai. Dari tempat Nicole duduk di meja Gryffindor, terlihat dengan jelas Elly yang duduk di meja Hufflepuff. Mukanya sedikit cemas dan berulang kali menoleh dari pintu masuk ke kursi tempat topi seleksi berada. Nicole berusaha membayangkan perasaan Elly, perasaan seorang kakak, tapi ia tidak bisa mengaitkannya dengan dirinya sendiri karena selama ini dia tidak punya saudara.

Setelah beberapa menit berlalu, pintu depan terbuka dan McGonagall memimpin segerombolan anak-anak berumur sebelas tahun yang tampaknya ketakutan. Mereka semua berkumpul di depan kursi sementara McGonagall membuka gulungan perkamen yang berisi nama-nama. Melihat pemandangan itu, Nicole terkenang upacara seleksinya dua tahun yang lalu dan tersenyum.

“Kenapa kau tersenyum seperti itu nona?” Kata Fred sambil menatap Nicole dan mengedip. Nicole membalas kata-kata Fred dengan tatapan sinis dan kembali menatap McGonagll yang sekarang sudah mencapai anak dengan nama keluarga yang di awali dengan huruf L. Seorang anak berwajah bundar yang bernama Neville Longbottom masuk ke Gryffindor. Aula besar tertawa ketika anak baru itu membawa topi seleksi turun sampai ke meja Gryffindor. Dengan muka merah, ia mengembalikan topi itu ke McGonagall dan duduk di meja Gryffindor. Merasa kasihan padanya, Nicole tersenyum pada Neville.

“Selamat datang di Gryffindor!” Kata Nicole, dan beberapa anak yang lain mengikuti jejak Nicole dan menyalami Neville. Setelah Neville, ada sekitar delapan atau sembilan orang lagi sebelum akhirnya nama yang di tunggu-tunggu disebutkan.

"Potter, Harry!"

Seorang pemuda, kurus dengan rambut berantakan maju ke depan. Bisik-bisik yang lebih berisik dari waktu Nicole bahkan Elly dulu menyertainya. Cukup lama Harry duduk disana sebelum akhirnya sang topi berteriak.

"Gryffindor!!"

Meja asrama yang diteriakan itu langsung berdiri dan bersorak. Nicole ikut berdiri bersama yang lain dan bertepuk tangan keras. Si kembar meneriakan, "Kami dapat Potter, kami dapat Potter!” dengan keras. Setelah semua tenang kembali, Nicole bisa melihat Elly lewat sudut matanya dan mengetahui bahwa sahabatnya itu sedikit kecewa adiknya tidak masuk asrama Hufflepuff seperti dirinya sekaligus senang karena setidaknya Harry masuk Gryffindor, tempat Nicole dan yang lain berada.

Semua orang sibuk menyalami Harry dan tidak menyadari bahwa acara seleksi hampir berakhir. Ketika nama Ron dipanggil dan anak tersebut maju kedepan, Nicole memandang dengan bingung kedua kakak kembar Ron.

"Kalian sama sekali tidak khawatir atau hal lainnya." Kata Nicole.

"Untuk apa. Dia pasti masuk Gryffindor." Jawab George sambil menunjuk Ron tanpa mengalihkan pandangan dari Nicole. Dan benar, seperti kata George, Ron langsung di tempatkan di Gryffindor dan duduk disebelah seorang gadis berambut cokelat lebat yang bernama Hermione Granger.

Acara makan malam pertama di tahun ajaran baru itu berlangsung meriah, walau beberapa anak jelas masih penasaran dengan Harry dan terus menerus melirik ke arah anak itu. Kemunculan hantu-hantu Hogwarts juga turut meramaikan suasana. Ketika makanan utama sudah menghilang dan muncul makanan penutup, pembicaraan berubah menjadi topik yang agak sensitif bagi Nicole, keluarga. Gadis itu hanya mendengarkan percakapan yang terjadi disekitarnya dengan diam. Diantara orang-orang disekitarnya, hanya Harry dan dirinya yang tidak ikut pembicaraan itu.

"Selamat datang di Hogwarts." Kata Nicole pada Harry, membuat pemuda yang lebih muda itu sedikir terkejut. Dilihat lebih dekat, Harry sama sekali tidak mirip dengan kakaknya. Elly pernah berkata kalau dia memiliki muka ibunya dan mata ayahnya, berkebalikan dengan Harry.

Harry mengangguk dan menatap Nicole dengan teliti. "Maaf, kau adalah Nicole? Nicole Ravensdale teman kakakku?" Nicole tidak terkejut ketika Harry mengetahui namanya, Elly pasti sudah menunjukan fotonya pada adik kesayangannya itu. Untuk menjawab pertanyaan Harry, Nicole mengangguk dan menjulurkan tangannya untuk menjabat tangan Harry yang langsung dibalas oleh orang yang bersangkutan.

"Oh!!" Ron menatap Nicole dengan pandangan seperti telah menemukan sesuatu. Baik Nicole maupun Harry menatap putra keluarga Weasley yang paling kecil itu. "Kau Nicole? Nicole yang di sukai oleh F-- Ouch!!" Ditengah jalan menyelesaikan kata-katanya, muka Ron mendadak berubah menjadi ekspresi kesakitan. "Kenapa kau menginjak kakiku?!" Omel Ron pada Fred yang duduk di depannya.

“Agar kau tidak terjebak suatu masalah karena mulut besarmu, Ronnie kecil.” Kata Fred dengan nada mengancam. Ron langsung menutup mulutnya dan kembali memandang kue tartnya. “Bagus.” Kata Fred sebelum Nicole melayangkan tangannya ke kepala pemuda itu.

“Jangan mengancam adikmu sendiri!” Seru Nicole seraya menjitak kepala Fred yang disusul erangan kesakitan dari yang dipukul dan ledakan tawa dari orang-orang disekitar mereka. Setelah semua orang sudah makan dengan puas, semua makanan secara ajaib lenyap dan Dumbledore berdiri dari tempatnya di meja guru lalu mulai memberikan beberapa pengumuman.

“Dan yang terakhir,” Kata Dumbledore, mengakhiri pengumumannya. “Aku harus menyampaikan kepada kalian bahwa tahun ini, koridor lantai tiga sebelah kanan sebaiknya dihindari oleh mereka yang tidak ingin mati penuh penderitaan.”

Beberapa anak tertawa mendengar pengumuman itu, Harry termasuk diantara orang yang tertawa. Setelah pemuda itu menyadari hanya sedikit orang yang tertawa, ia bertanya pada Percy yang duduk disebelahnya.

“Dia tidak serius kan?”

Percy mengerutkan keningnya dan memandang Dumbledore. “Serius. Aneh, biasanya dia memberikan alasan mengapa. Atau setidaknya ia member tahu para Prefect.”

Mendengar kata-kata kakaknya yang baru menjadi prefect tahun ini, si kembar dan Ron menoleh ke arah Nicole. “Apakah kau tahu?” Tanya mereka disaat yang bersamaan.

Nicole mengikuti jejak Percy dan mengerutkan kening, kemudian ia mengangguk. “Aku tahu.” Katanya. Dumbledore memang telah memberi tahunya sekaligus meminta bantuannya agar mengingatkan yang lain agar tidak kesana. Nicole yakin, yang lain itu maksudnya adalah si kembar Weasley. “Tapi kakek, maksudku kepala sekolah, melarangku menceritakannya pada siapapun. Dan kupastikan, kalian memang harus menaati perintahnya.” Katanya dengan cepat ketika melihat ekspresi penasaran teman-temannya. Erangan kesal terdengar dari mulut teman-temannya dan sedikit gumaman tidak setuju dari Percy yang masih menganggap Prefect harus mengetahuinya.

Entah secara tidak sengaja atau tidak, keharusan Nicole menjawab telah diselamatkan oleh kakeknya sendiri yang mengajak seluruh orang di Aula Utama itu bernyanyi lagu sekolah. Seluruh orang mendadak tersenyum dan menyanyikan lagu itu dengan nada yang berbeda-beda. Setelah menyanyi, para Prefect berdiri dan mulai memimpin anak kelas satu menuju asrama sementara kelas dua dan selanjutnya menyusul di belakangnya.

Fred dan George berjalan mengapit Nicole, berusaha mengorek informasi dari gadis itu yang jelas-jelas tetap di jaga erat-erat dan kedua pemuda itu malah mendapat jitakan alih-alih informasi.

“Aku serius. Jauhi koridor lantai tiga.” Kata Nicole. Akhirnya dengan bantuan Gisselle, si kembar berhasil di yakinkan kalau di koridor lantai tiga berisi hal yang mengerikan. Ketika mereka berempat serta Lee berjalan keluar dari Aula Utama, Elly mendekati mereka sementara Cedric berdiri tidak jauh dari mereka, menunggu gadis berambut merah itu.

“Tolong jaga adikku ya.” Kata Elly sambil tersenyum. Baik Fred dan George menepuk dada mereka pada saat yang bersamaan dan menunjukan cengiran yang serupa.

“Serahkan saja pada kami!”

“Jangan buat dia menjadi senakal kalian.” Omel Nicole. Dia, Gisselle dan Lee sudah berjanji pada Elly akan menjaga Harry juga. Elly tersenyum sekali lagi sebelum pamit karena dia harus mengikuti anak Hufflepuff yang lain pergi ke ruang rekreasi. Setelah melihat Elly pergi bersama Cedric, kelima anak Gryffindor pun berbelok bersama anak-anak asrama lainnya dan berjalan menuju ruang rekreasi mereka.

***

Kelas tiga, pelajaran baru dengan tingkat kesulitan yang baru. Entah berapa kali Nicole harus membantu Lee dan kadang si kembar untuk memahami pelajaran-pelajaran mereka. Minggu pertama lewat begitu saja dengan tumpukan tugas yang harus dikerjakan dan dikumpulkan dalam waktu dekat. Bahkan Nicole pun sedikit kewalahan dan beberapa kali muka Gisselle pucat. Gadis brunette itu memang mempunyai kebiasaan hanya makan sedikit saja bila sedang tegang atau stress sehingga Nicole harus berulang kali memaksanya makan.

Di lain pihak, Hermione tampaknya menganggap Nicole sebagai panutan dan terus menerus meminta gadis yang lebih tua itu mengajarinya beberapa hal. Ketika melihat Hermione melakukan hal itu, Neville juga mengikuti jejaknya.

Di Jum’at sore pertama mereka, Nicole menghempaskan tubuhnya ke salah satu kursi nyaman yang ada di ruang rekreasi. Kebanyakan murid menghabiskan waktu mereka mengerjakan tugas di perpustakaan pada saat itu, atau berjalan-jalan melepaskan stress sehingga ruang rekreasi bisa dikatakan sepi. Secara perlahan tapi pasti, gadis berambut cokelat tua itu tertidur di kursi tersebut. Dia sudah tertidur pulas ketika lukisan Nyonya Gemuk terbuka dan si kembar serta Gisselle melangkah masuk ke dalam ruang rekreasi.

Fred lah yang pertama kali menyadari sosok Nicole yang tertidur di kursi. Pemuda berambut merah itu nyengir dan melangkah mendekat lalu duduk di kursi yang berseberangan dengan kursi Nicole. Gisselle hendak mengatakan sesuatu pada Fred namun tangan George menutupinya dan menariknya pergi dari ruang rekreasi. Sebelum George hilang dari pandangan, Fred melemparkan senyum pada saudara kembarnya itu, yang dibalas dengan senyuman yang serupa.

“Dua tahun penuh.” Gumam Fred sambil menatap Nicole yang tertidur. “Dua tahun penuh tapi kau sama sekali tidak menyadarinya. Dua tahun penuh tapi kenapa sepertinya kau semakin jauh?”

Fred mengepalkan kedua tangannya. Entah sejak kapan tepatnya, tapi sejak tahun pertama, ia menyadari bahwa ia tertarik pada salah satu sahabatnya. Ia tidak menyangka bahwa pada akhirnya ia menemukan sebuah fakta bahwa ia tidak bisa berhenti memikirkan gadis spesialnya itu. Ya, Fred Weasley telah jatuh cinta pada Nicole Ravensdale sejak tahun pertama.

***

“George? Kenapa kau membawaku keluar lagi?” Tanya Gisselle ketika mereka berjalan di koridor tanpa tujuan. George melarang Gisselle untuk kembali ke ruang rekreasi. George tersenyum penuh arti pada Gisselle, yang membuat jantung gadis itu berdetak lebih cepat.

“Sudah kubilang kan. Fred menyukai Nicole.” Kata George.

Gisselle mendadak mengernyit, “Tapi Nicole kan..” Dia terhenti sejenak, bingung antara memberi tahu George atau menjaga rahasia Nicole. “Nicole kan.. menyukai seseorang.” Lanjut Gisselle akhirnya. Dia tidak membocorkan rahasia Nicole, karena Nicole sendiri sepertinya bingung akan perasaannya. Tapi berdasarkan surat-surat Nicole, Gisselle dapat dengan mudah menyimpulkan kalau Nicole menyukai seseorang.

“Apa? Siapa?” Tanya George, jelas kaget karena Nicole baru bercerita pada Gisselle dan Elly saja. Gisselle menggeleng, walau dia sudah tau siapa yang disukai Nicole, dia tidak mau membocorkan rahasia sahabatnya. Desakan George agar Gisselle memberitahunya pun tidak membuahkan hasil. Akhirnya George pun menyerah dan mereka berdua melanjutkan berjalan dalam keheningan.

Setelah beberapa saat berjalan, muka Gisselle memucat dan jalannya melambat. George, yang menyadari hal tersebut menoleh dan menatap Gisselle dengan cemas. “Kau tidak apa-apa?”

Gisselle menggeleng, menandakan bahwa ia baik-baik saja, tapi kakinya mengkhianatinya. Ia goyah dan harus berpegangan pada dinding agar tidak jatuh. George sudah sering melihat tanda-tanda seperti itu pada Gisselle, berlutut dan menawarkan punggungnya pada Gisselle.

“Ayo naiklah, sebelum kau pingsan.” Kata George seraya menolehkan kepalanya ke arah Gisselle. “Oh ayolah, tidak perlu malu seperti itu. Aku tidak mau kau jatuh pingsan disini.” Namun Gisselle masih memandang George dengan muka yang memerah, tidak mau bergerak dari tempatnya. Menyerah akan tingkah laku Gisselle, George berdiri lagi dan mendekati gadis itu.

“Well, maaf kalau begitu.” Setelah berkata begitu, George langsung mengangkat Gisselle dengan mudahnya, menggendongnya secara bridal style seperti Cedric menggendong Elly dulu. Muka Gisselle otomatis menjadi sewarna dengan kepiting rebus. Gadis brunette itu tidak dapat menyembunyikan perasaan malunya saat George menggendongnya melintasi koridor dan menuju rumah sakit.

“Korban leluconmu hah Weasley?” Ejek salah satu anak Slytherin yang mereka temui di koridor. Gisselle segera menyembunyikan mukanya dengan kedua tangannya mendengar hal itu, tapi George malah tersenyum sinis pada anak Slytherin tadi.

“Mungkin berikutnya giliranmu yang akan ke rumah sakit. Tapi jangan berharap terlalu tinggi, karena aku jelas tidak akan menggendongmu!” Balas George lalu berjalan menjauh seraya tertawa.

“Ini memalukan George. Tolong turunkan aku.” Gumam Gisselle, memandang George melalui sela-sela jarinya.

“Tidak. Nanti kau pingsan.” Balas George. “Lagipula ini tidak memalukan, ini membanggakan untukku. Kapan lagi aku mempunyai alasan untuk menggendong tuan putri hm?” George nyengir, jelas masih menganggap julukan itu sebagai lelucon. Tapi Gisselle tidak menganggapnya sebagai lelucon sama sekali karena mukanya semakin memerah. George tertawa melihat reaksi Gisselle.

“Apakah kau pikir Fred akan berani menyatakan perasaannya?” Tanya Gisselle setelah Madam Pomfrey mengobatinya dan ia berbaring di ranjang sementara George duduk di tepi ranjangnya.

George memutar-mutarkan tongkatnya lalu menyimpannya kembali ke jubahnya. “Tidak, tidak dalam waktu dekat ini.” Ia lalu melirik Gisselle dengan penasaran.

“Apakah dia punya kesempatan?”

Gisselle bisa melihat pemuda di dekatnya ini cemas akan saudara kembarnya. Gisselle tidak tega mengatakan ‘tidak’ pada George walau menurut perasaannya, Nicole tidak akan membalas perasaan Fred seperti yang pemuda itu inginkan.

“Entahlah. Aku tidak yakin.” Jawab Gisselle sambil menunduk menatap tangannya sendiri yang ia letakan di atas selimut putih yang menutupi diirnya. George menghela nafas dan menghembuskannya kembali.

“Merepotkan ya? Menyukai seseorang.”

Mendengar kata-kata George, tubuh Gisselle mendadak membeku. Pikiran-pikiran buruk langsung berkelibatan di benaknya. Bagaimana kalau dia juga tidak memiliki kesempatan? Bagaimana kalau George menganggap pacaran itu hal yang buruk? Dengan segera Gisselle menggeleng untuk menghilangkan pikiran-pikiran seperti itu, dan George melihat gelengan itu.

“Ada apa?”

Gisselle terkejut mendengar suara George, terdengar penuh kekhawatiran dan lembut, tidak seperti biasanya. Gisselle tersenyum pelan seraya menatap George.

“Tidak. Aku hanya tidak setuju denganmu.”

George menaikan alisnya, “Maksudmu?”

“Menyukai seseorang memang sepertinya merepotkan, tapi itu juga menyenangkan.” Jawab Gisselle. Secara otomatis senyumnya mengembang ketika ia mengingat kembali siapa yang ia suka, siapa lagi kalau bukan pemuda yang sedang duduk di dekatnya ini, George Weasley.

“Hmm.. Kau sedang menyukai seseorang Gisselle?” Tanya George penasaran, apalagi setelah melihat senyuman mengembang di wajah gadis itu.

Muka Gisselle memerah lagi, tapi ia tetap tersenyum. Mungkinkah ini kesempatannya? Apakah George akan mempertimbangkan membalas perasaannya jika ia memberitahunya? Akhirnya ia membuat sebuah keputusan yang berani. Gisselle menatap George langsung di kedua mata pemuda itu.

“Ada.”

George nyengir, jelas masih belum menyadari tingkah Gisselle. “Siapakah dia?”

“Dia…” Gisselle menahan nafas. Dia akan memberi tahu perasaannya pada pemuda ini saat ini juga.

***TBC***

A/N : Mohon maaf apabila ada kesalahan *bows*

Original Plot by : Our Queen, JK Rowling
The ‘new’ plot Made by : Liz
Take out with full credits please~ ^^

0 komentar:

Posting Komentar