Chapter 7 : Did
I Have The Courage?
(Setting
: HP 1 )
Tidak
terasa, liburan musim panas sudah berakhir lagi dan Nicole harus kembali
berpura-pura berjalan di Kings Cross dan menaiki Hogwarts Express kembali
padahal ia baru saja tiba di stasiun dari sekolah yang sebentar lagi akan di
tujunya kembali dengan menaiki kereta uap. Gadis yang baru saja berulang tahun
ke tiga belas itu berhasil melewati tiang peron 9 dan 10 dengan sukses dan
mendorong trolinya menuju kereta.
“Niiicoooollleee!!”
Teriak dua buah suara yang serupa, yang sudah sangat Nicole kenali selama dua
tahun terakhir ini. Si kembar Weasley melambai ke arahnya. Mereka berdua
berdiri bersama keluarga mereka yang semuanya berambut merah. Nicole berjalan
mendekati mereka dan membungkuk sopan ke ibu dari si kembar, Molly Weasley.
“Nicole!
Kami bertemu Elly tadi..”
“..Dan
tebak siapa yang kami temui bersama dirinya..”
Seperti
biasa, Fred dan George saling melengkapi kata satu dengan yang lain. Nicole
memandang mereka berdua, yang tampaknya sangat yakin bahwa Nicole akan terkejut
mendengar berita dari mereka, walau Nicole sebenarnya sudah tahu dari
surat-surat Elly selama musim panas.
“Siapa?”
Bukan Nicole yang berkata, melainkan salah satu adik si kembar, Ron Weasley.
“HAR—“
“Harry
kan? Adiknya Elly. Harry Potter.” Sela Nicole sambil tersenyum jahil. Senang
rasanya gantian mengerjai si kembar. Muka mereka berdua menjadi masam dan
jelas-jelas menunjukan kekecewaan karena mereka tidak berhasil mengejutkan
Nicole. Tapi hal tersebut membuat seluruh keluarganya terkejut.
"Oh
mum! Bisakah aku melihatnya? Kumohon?" Pinta anak termuda dari keluarga
Weasley sekaligus satu-satunya anak perempuan, Ginevra atau biasa di panggil
Ginny. Si kembar telah mengajak Nicole bertemu dengan keluarganya di Diagon
Alley beberapa hari yang lalu dan mengenalkan mereka semua.
"Tidak
Ginny. Dia bukan hewan pertunjukan." Kata Mrs. Weasley dengan tegas.
Setelah berkata pamit, Nicole berjalan menjauhi keluarga miskin namun memiliki
suasana hangat itu. Walau Nicole sudah cukup jauh, dia bisa mendengar Mrs.
Weasley berteriak, siapa lagi kalau bukan untuk si kembar.
Setelah
menaikan koper dan sangkar burung hantu hitamnya, Natte ke dalam kereta, ia menarik
setengah menyeret kopernya itu seraya mencari kompartemen kosong. Senyum Nicole
mengembang ketika ia menemukan sebuah kompartemen dimana kedua temannya sedang
duduk, mereka adalah Gisselle Scotthill dan Lee Jordan.
"Hey
Nicole!!" Sapa Lee ketika Nicole membuka pintu kompartemen. Gisselle
tersenyum manis pada Nicole.
"Hey."
Sapa Nicole, senyuman masih tampak jelas di wajahnya. Setelah menaikan koper
dan sangkar burung hantunya di rak atas, Nicole duduk di sebelah Lee dan
menatap Gisselle yang sekarang tampak sedikit ketakutan sambil menatap sebuah
kotak di pangkuan pemuda berkulit kecokelatan itu.
"Lee.
Jangan pernah membuka kotak itu." Kata Gisselle memperingatkan. Mendengar
kata-kata Gisselle, Nicole malah menjadi tertarik tentang isi kotak tersebut.
"Apa
isi dari kotak itu Lee?” Tanya Nicole, menunjuk kotak tersebut. Lee hanya
tersenyum jahil.
“Kau
akan lihat nanti, tunggu Fred dan George tiba dan aku akan membuka kotak ini.”
Kata-kata Lee dibalas dengan gelengan-gelengan keras dari Gisselle. Beberapa
saat kemudian, pintu kompartemen terbuka lagi dan si kembar Weasley yang di
tunggu-tunggu pun masuk ke dalam kompartemen. Fred, yang pertama masuk, nyengir
dan segera mengambil tempatnya di sebelah Nicole, membuat gadis itu luar biasa
kesal. George nyengir melihat tingkah saudara kembarnya dan duduk disebelah
Gisselle.
“Oke.
Mereka disini.” Kata Nicole sambil mendorong Fred menjauh darinya. Pemuda
berambut merah it uterus menerus berusaha melingkarkan tangannya di pundak
Nicole, dan Nicole tentu mendorongnya sekuat tenaga bahkan menginjak kakinya.
“Sekarang, buka kotak itu.”
Lee
nyengir, “Tolong jangan menjerit.” Ia lalu membuka kotak tersebut dan
menunjukan apa isinya, sebuah tarantula raksasa dengan delapan kaki panjang
yang berbulu. Melihat binatang mengerikan itu, Nicole hanya mengernyit saja.
Lain halnya dengan Gisselle yang menjerit dan bersembunyi di pundak George.
Pemuda itu tertawa melihat reaksi Gisselle, tapi ia tetap membiarkan gadis itu
menyembunyikan wajahnya di pundaknya. Lee segera menutup kembali kotak itu
setelah Gisselle menjerit.
“Kau
tidak mau bersembunyi di pundakku juga?” Tanya Fred jahil sambil mencolek dagu
Nicole yang mengakibatkan gadis itu meninju perut pemuda itu. Tawa segera
terdengar di kompartemen itu saat Fred berguling di lantai sambil memegangi
perutnya.
***
Upacara
seleksi untuk murid-murid kelas satu sebentar lagi akan dimulai. Dari tempat
Nicole duduk di meja Gryffindor, terlihat dengan jelas Elly yang duduk di meja
Hufflepuff. Mukanya sedikit cemas dan berulang kali menoleh dari pintu masuk ke
kursi tempat topi seleksi berada. Nicole berusaha membayangkan perasaan Elly,
perasaan seorang kakak, tapi ia tidak bisa mengaitkannya dengan dirinya sendiri
karena selama ini dia tidak punya saudara.
Setelah
beberapa menit berlalu, pintu depan terbuka dan McGonagall memimpin
segerombolan anak-anak berumur sebelas tahun yang tampaknya ketakutan. Mereka
semua berkumpul di depan kursi sementara McGonagall membuka gulungan perkamen
yang berisi nama-nama. Melihat pemandangan itu, Nicole terkenang upacara
seleksinya dua tahun yang lalu dan tersenyum.
“Kenapa
kau tersenyum seperti itu nona?” Kata Fred sambil menatap Nicole dan mengedip.
Nicole membalas kata-kata Fred dengan tatapan sinis dan kembali menatap
McGonagll yang sekarang sudah mencapai anak dengan nama keluarga yang di awali
dengan huruf L. Seorang anak berwajah bundar yang bernama Neville Longbottom
masuk ke Gryffindor. Aula besar tertawa ketika anak baru itu membawa topi
seleksi turun sampai ke meja Gryffindor. Dengan muka merah, ia mengembalikan
topi itu ke McGonagall dan duduk di meja Gryffindor. Merasa kasihan padanya,
Nicole tersenyum pada Neville.
“Selamat
datang di Gryffindor!” Kata Nicole, dan beberapa anak yang lain mengikuti jejak
Nicole dan menyalami Neville. Setelah Neville, ada sekitar delapan atau
sembilan orang lagi sebelum akhirnya nama yang di tunggu-tunggu disebutkan.
"Potter,
Harry!"
Seorang
pemuda, kurus dengan rambut berantakan maju ke depan. Bisik-bisik yang lebih
berisik dari waktu Nicole bahkan Elly dulu menyertainya. Cukup lama Harry duduk
disana sebelum akhirnya sang topi berteriak.
"Gryffindor!!"
Meja
asrama yang diteriakan itu langsung berdiri dan bersorak. Nicole ikut berdiri
bersama yang lain dan bertepuk tangan keras. Si kembar meneriakan, "Kami
dapat Potter, kami dapat Potter!” dengan keras. Setelah semua tenang kembali,
Nicole bisa melihat Elly lewat sudut matanya dan mengetahui bahwa sahabatnya itu
sedikit kecewa adiknya tidak masuk asrama Hufflepuff seperti dirinya sekaligus
senang karena setidaknya Harry masuk Gryffindor, tempat Nicole dan yang lain
berada.
Semua
orang sibuk menyalami Harry dan tidak menyadari bahwa acara seleksi hampir
berakhir. Ketika nama Ron dipanggil dan anak tersebut maju kedepan, Nicole
memandang dengan bingung kedua kakak kembar Ron.
"Kalian
sama sekali tidak khawatir atau hal lainnya." Kata Nicole.
"Untuk
apa. Dia pasti masuk Gryffindor." Jawab George sambil menunjuk Ron tanpa
mengalihkan pandangan dari Nicole. Dan benar, seperti kata George, Ron langsung
di tempatkan di Gryffindor dan duduk disebelah seorang gadis berambut cokelat
lebat yang bernama Hermione Granger.
Acara
makan malam pertama di tahun ajaran baru itu berlangsung meriah, walau beberapa
anak jelas masih penasaran dengan Harry dan terus menerus melirik ke arah anak
itu. Kemunculan hantu-hantu Hogwarts juga turut meramaikan suasana. Ketika
makanan utama sudah menghilang dan muncul makanan penutup, pembicaraan berubah
menjadi topik yang agak sensitif bagi Nicole, keluarga. Gadis itu hanya
mendengarkan percakapan yang terjadi disekitarnya dengan diam. Diantara
orang-orang disekitarnya, hanya Harry dan dirinya yang tidak ikut pembicaraan
itu.
"Selamat
datang di Hogwarts." Kata Nicole pada Harry, membuat pemuda yang lebih
muda itu sedikir terkejut. Dilihat lebih dekat, Harry sama sekali tidak mirip
dengan kakaknya. Elly pernah berkata kalau dia memiliki muka ibunya dan mata
ayahnya, berkebalikan dengan Harry.
Harry
mengangguk dan menatap Nicole dengan teliti. "Maaf, kau adalah Nicole? Nicole
Ravensdale teman kakakku?" Nicole tidak terkejut ketika Harry mengetahui
namanya, Elly pasti sudah menunjukan fotonya pada adik kesayangannya itu. Untuk
menjawab pertanyaan Harry, Nicole mengangguk dan menjulurkan tangannya untuk
menjabat tangan Harry yang langsung dibalas oleh orang yang bersangkutan.
"Oh!!"
Ron menatap Nicole dengan pandangan seperti telah menemukan sesuatu. Baik
Nicole maupun Harry menatap putra keluarga Weasley yang paling kecil itu.
"Kau Nicole? Nicole yang di sukai oleh F-- Ouch!!" Ditengah jalan
menyelesaikan kata-katanya, muka Ron mendadak berubah menjadi ekspresi
kesakitan. "Kenapa kau menginjak kakiku?!" Omel Ron pada Fred yang
duduk di depannya.
“Agar
kau tidak terjebak suatu masalah karena mulut besarmu, Ronnie kecil.” Kata Fred
dengan nada mengancam. Ron langsung menutup mulutnya dan kembali memandang kue
tartnya. “Bagus.” Kata Fred sebelum Nicole melayangkan tangannya ke kepala
pemuda itu.
“Jangan
mengancam adikmu sendiri!” Seru Nicole seraya menjitak kepala Fred yang disusul
erangan kesakitan dari yang dipukul dan ledakan tawa dari orang-orang disekitar
mereka. Setelah semua orang sudah makan dengan puas, semua makanan secara ajaib
lenyap dan Dumbledore berdiri dari tempatnya di meja guru lalu mulai memberikan
beberapa pengumuman.
“Dan
yang terakhir,” Kata Dumbledore, mengakhiri pengumumannya. “Aku harus
menyampaikan kepada kalian bahwa tahun ini, koridor lantai tiga sebelah kanan
sebaiknya dihindari oleh mereka yang tidak ingin mati penuh penderitaan.”
Beberapa
anak tertawa mendengar pengumuman itu, Harry termasuk diantara orang yang
tertawa. Setelah pemuda itu menyadari hanya sedikit orang yang tertawa, ia
bertanya pada Percy yang duduk disebelahnya.
“Dia
tidak serius kan?”
Percy
mengerutkan keningnya dan memandang Dumbledore. “Serius. Aneh, biasanya dia
memberikan alasan mengapa. Atau setidaknya ia member tahu para Prefect.”
Mendengar
kata-kata kakaknya yang baru menjadi prefect tahun ini, si kembar dan Ron
menoleh ke arah Nicole. “Apakah kau tahu?” Tanya mereka disaat yang bersamaan.
Nicole
mengikuti jejak Percy dan mengerutkan kening, kemudian ia mengangguk. “Aku
tahu.” Katanya. Dumbledore memang telah memberi tahunya sekaligus meminta bantuannya
agar mengingatkan yang lain agar tidak kesana. Nicole yakin, yang lain itu
maksudnya adalah si kembar Weasley. “Tapi kakek, maksudku kepala sekolah,
melarangku menceritakannya pada siapapun. Dan kupastikan, kalian memang harus
menaati perintahnya.” Katanya dengan cepat ketika melihat ekspresi penasaran
teman-temannya. Erangan kesal terdengar dari mulut teman-temannya dan sedikit
gumaman tidak setuju dari Percy yang masih menganggap Prefect harus
mengetahuinya.
Entah
secara tidak sengaja atau tidak, keharusan Nicole menjawab telah diselamatkan
oleh kakeknya sendiri yang mengajak seluruh orang di Aula Utama itu bernyanyi
lagu sekolah. Seluruh orang mendadak tersenyum dan menyanyikan lagu itu dengan
nada yang berbeda-beda. Setelah menyanyi, para Prefect berdiri dan mulai
memimpin anak kelas satu menuju asrama sementara kelas dua dan selanjutnya
menyusul di belakangnya.
Fred
dan George berjalan mengapit Nicole, berusaha mengorek informasi dari gadis itu
yang jelas-jelas tetap di jaga erat-erat dan kedua pemuda itu malah mendapat
jitakan alih-alih informasi.
“Aku
serius. Jauhi koridor lantai tiga.” Kata Nicole. Akhirnya dengan bantuan
Gisselle, si kembar berhasil di yakinkan kalau di koridor lantai tiga berisi
hal yang mengerikan. Ketika mereka berempat serta Lee berjalan keluar dari Aula
Utama, Elly mendekati mereka sementara Cedric berdiri tidak jauh dari mereka, menunggu
gadis berambut merah itu.
“Tolong
jaga adikku ya.” Kata Elly sambil tersenyum. Baik Fred dan George menepuk dada
mereka pada saat yang bersamaan dan menunjukan cengiran yang serupa.
“Serahkan
saja pada kami!”
“Jangan
buat dia menjadi senakal kalian.” Omel Nicole. Dia, Gisselle dan Lee sudah
berjanji pada Elly akan menjaga Harry juga. Elly tersenyum sekali lagi sebelum
pamit karena dia harus mengikuti anak Hufflepuff yang lain pergi ke ruang
rekreasi. Setelah melihat Elly pergi bersama Cedric, kelima anak Gryffindor pun
berbelok bersama anak-anak asrama lainnya dan berjalan menuju ruang rekreasi
mereka.
***
Kelas
tiga, pelajaran baru dengan tingkat kesulitan yang baru. Entah berapa kali
Nicole harus membantu Lee dan kadang si kembar untuk memahami
pelajaran-pelajaran mereka. Minggu pertama lewat begitu saja dengan tumpukan
tugas yang harus dikerjakan dan dikumpulkan dalam waktu dekat. Bahkan Nicole
pun sedikit kewalahan dan beberapa kali muka Gisselle pucat. Gadis brunette itu
memang mempunyai kebiasaan hanya makan sedikit saja bila sedang tegang atau
stress sehingga Nicole harus berulang kali memaksanya makan.
Di
lain pihak, Hermione tampaknya menganggap Nicole sebagai panutan dan terus
menerus meminta gadis yang lebih tua itu mengajarinya beberapa hal. Ketika
melihat Hermione melakukan hal itu, Neville juga mengikuti jejaknya.
Di
Jum’at sore pertama mereka, Nicole menghempaskan tubuhnya ke salah satu kursi
nyaman yang ada di ruang rekreasi. Kebanyakan murid menghabiskan waktu mereka
mengerjakan tugas di perpustakaan pada saat itu, atau berjalan-jalan melepaskan
stress sehingga ruang rekreasi bisa dikatakan sepi. Secara perlahan tapi pasti,
gadis berambut cokelat tua itu tertidur di kursi tersebut. Dia sudah tertidur
pulas ketika lukisan Nyonya Gemuk terbuka dan si kembar serta Gisselle melangkah
masuk ke dalam ruang rekreasi.
Fred
lah yang pertama kali menyadari sosok Nicole yang tertidur di kursi. Pemuda
berambut merah itu nyengir dan melangkah mendekat lalu duduk di kursi yang
berseberangan dengan kursi Nicole. Gisselle hendak mengatakan sesuatu pada Fred
namun tangan George menutupinya dan menariknya pergi dari ruang rekreasi.
Sebelum George hilang dari pandangan, Fred melemparkan senyum pada saudara
kembarnya itu, yang dibalas dengan senyuman yang serupa.
“Dua
tahun penuh.” Gumam Fred sambil menatap Nicole yang tertidur. “Dua tahun penuh
tapi kau sama sekali tidak menyadarinya. Dua tahun penuh tapi kenapa sepertinya
kau semakin jauh?”
Fred
mengepalkan kedua tangannya. Entah sejak kapan tepatnya, tapi sejak tahun
pertama, ia menyadari bahwa ia tertarik pada salah satu sahabatnya. Ia tidak
menyangka bahwa pada akhirnya ia menemukan sebuah fakta bahwa ia tidak bisa
berhenti memikirkan gadis spesialnya itu. Ya, Fred Weasley telah jatuh cinta
pada Nicole Ravensdale sejak tahun pertama.
***
“George?
Kenapa kau membawaku keluar lagi?” Tanya Gisselle ketika mereka berjalan di
koridor tanpa tujuan. George melarang Gisselle untuk kembali ke ruang rekreasi.
George tersenyum penuh arti pada Gisselle, yang membuat jantung gadis itu
berdetak lebih cepat.
“Sudah
kubilang kan. Fred menyukai Nicole.” Kata George.
Gisselle
mendadak mengernyit, “Tapi Nicole kan..” Dia terhenti sejenak, bingung antara memberi
tahu George atau menjaga rahasia Nicole. “Nicole kan.. menyukai seseorang.”
Lanjut Gisselle akhirnya. Dia tidak membocorkan rahasia Nicole, karena Nicole
sendiri sepertinya bingung akan perasaannya. Tapi berdasarkan surat-surat
Nicole, Gisselle dapat dengan mudah menyimpulkan kalau Nicole menyukai
seseorang.
“Apa?
Siapa?” Tanya George, jelas kaget karena Nicole baru bercerita pada Gisselle
dan Elly saja. Gisselle menggeleng, walau dia sudah tau siapa yang disukai
Nicole, dia tidak mau membocorkan rahasia sahabatnya. Desakan George agar
Gisselle memberitahunya pun tidak membuahkan hasil. Akhirnya George pun
menyerah dan mereka berdua melanjutkan berjalan dalam keheningan.
Setelah
beberapa saat berjalan, muka Gisselle memucat dan jalannya melambat. George,
yang menyadari hal tersebut menoleh dan menatap Gisselle dengan cemas. “Kau
tidak apa-apa?”
Gisselle
menggeleng, menandakan bahwa ia baik-baik saja, tapi kakinya mengkhianatinya.
Ia goyah dan harus berpegangan pada dinding agar tidak jatuh. George sudah
sering melihat tanda-tanda seperti itu pada Gisselle, berlutut dan menawarkan
punggungnya pada Gisselle.
“Ayo
naiklah, sebelum kau pingsan.” Kata George seraya menolehkan kepalanya ke arah
Gisselle. “Oh ayolah, tidak perlu malu seperti itu. Aku tidak mau kau jatuh
pingsan disini.” Namun Gisselle masih memandang George dengan muka yang
memerah, tidak mau bergerak dari tempatnya. Menyerah akan tingkah laku Gisselle,
George berdiri lagi dan mendekati gadis itu.
“Well,
maaf kalau begitu.” Setelah berkata begitu, George langsung mengangkat Gisselle
dengan mudahnya, menggendongnya secara bridal style seperti Cedric menggendong
Elly dulu. Muka Gisselle otomatis menjadi sewarna dengan kepiting rebus. Gadis
brunette itu tidak dapat menyembunyikan perasaan malunya saat George
menggendongnya melintasi koridor dan menuju rumah sakit.
“Korban
leluconmu hah Weasley?” Ejek salah satu anak Slytherin yang mereka temui di
koridor. Gisselle segera menyembunyikan mukanya dengan kedua tangannya
mendengar hal itu, tapi George malah tersenyum sinis pada anak Slytherin tadi.
“Mungkin
berikutnya giliranmu yang akan ke rumah sakit. Tapi jangan berharap terlalu
tinggi, karena aku jelas tidak akan menggendongmu!” Balas George lalu berjalan
menjauh seraya tertawa.
“Ini
memalukan George. Tolong turunkan aku.” Gumam Gisselle, memandang George melalui
sela-sela jarinya.
“Tidak.
Nanti kau pingsan.” Balas George. “Lagipula ini tidak memalukan, ini
membanggakan untukku. Kapan lagi aku mempunyai alasan untuk menggendong tuan putri
hm?” George nyengir, jelas masih menganggap julukan itu sebagai lelucon. Tapi
Gisselle tidak menganggapnya sebagai lelucon sama sekali karena mukanya semakin
memerah. George tertawa melihat reaksi Gisselle.
“Apakah
kau pikir Fred akan berani menyatakan perasaannya?” Tanya Gisselle setelah
Madam Pomfrey mengobatinya dan ia berbaring di ranjang sementara George duduk
di tepi ranjangnya.
George
memutar-mutarkan tongkatnya lalu menyimpannya kembali ke jubahnya. “Tidak,
tidak dalam waktu dekat ini.” Ia lalu melirik Gisselle dengan penasaran.
“Apakah
dia punya kesempatan?”
Gisselle
bisa melihat pemuda di dekatnya ini cemas akan saudara kembarnya. Gisselle
tidak tega mengatakan ‘tidak’ pada George walau menurut perasaannya, Nicole
tidak akan membalas perasaan Fred seperti yang pemuda itu inginkan.
“Entahlah.
Aku tidak yakin.” Jawab Gisselle sambil menunduk menatap tangannya sendiri yang
ia letakan di atas selimut putih yang menutupi diirnya. George menghela nafas
dan menghembuskannya kembali.
“Merepotkan
ya? Menyukai seseorang.”
Mendengar
kata-kata George, tubuh Gisselle mendadak membeku. Pikiran-pikiran buruk
langsung berkelibatan di benaknya. Bagaimana kalau dia juga tidak memiliki
kesempatan? Bagaimana kalau George menganggap pacaran itu hal yang buruk?
Dengan segera Gisselle menggeleng untuk menghilangkan pikiran-pikiran seperti
itu, dan George melihat gelengan itu.
“Ada
apa?”
Gisselle
terkejut mendengar suara George, terdengar penuh kekhawatiran dan lembut, tidak
seperti biasanya. Gisselle tersenyum pelan seraya menatap George.
“Tidak.
Aku hanya tidak setuju denganmu.”
George
menaikan alisnya, “Maksudmu?”
“Menyukai
seseorang memang sepertinya merepotkan, tapi itu juga menyenangkan.” Jawab
Gisselle. Secara otomatis senyumnya mengembang ketika ia mengingat kembali
siapa yang ia suka, siapa lagi kalau bukan pemuda yang sedang duduk di dekatnya
ini, George Weasley.
“Hmm..
Kau sedang menyukai seseorang Gisselle?” Tanya George penasaran, apalagi
setelah melihat senyuman mengembang di wajah gadis itu.
Muka
Gisselle memerah lagi, tapi ia tetap tersenyum. Mungkinkah ini kesempatannya?
Apakah George akan mempertimbangkan membalas perasaannya jika ia
memberitahunya? Akhirnya ia membuat sebuah keputusan yang berani. Gisselle
menatap George langsung di kedua mata pemuda itu.
“Ada.”
George
nyengir, jelas masih belum menyadari tingkah Gisselle. “Siapakah dia?”
“Dia…”
Gisselle menahan nafas. Dia akan memberi tahu perasaannya pada pemuda ini saat
ini juga.
***TBC***
A/N : Mohon maaf
apabila ada kesalahan *bows*
Original Plot by : Our Queen, JK Rowling
The ‘new’ plot Made
by : Liz
Take
out with full credits please~ ^^

0 komentar:
Posting Komentar