Chapter 1 : Their First Meeting
(Setting
: 2 years prior HP1 )
Peron 9 ¾,
sebuah peron ‘magical’ yang merupakan tempat Hogwarts Express menjemput
anak-anak yang berusia 11 hingga 17 tahun ini ke sekolah sihir Hogwarts. Tentu
saja bukan sembarang anak yang dapat menaiki kereta berwarna merah dan hitam
ini. Hanya anak-anak yang merupakan penyihir sajalah yang bisa. Letaknya saja
tersembunyi, dengan pintu masuk yang tersembunyi juga. Untuk dapat mencapai
peron ini, perlu menembus tiang antara peron 9 dengan peron 10 di stasiun
King’s Cross.
Hari ini
tanggal 1 September dan peron tersebut penuh dengan para murid, baik yang baru
pertama kali pergi ke Hogwarts, maupun yang akan kembali lagi ke sekolah
tercinta mereka. Sebagian besar dari anak-anak tersebut memiliki pendamping.
Entah ayah, ibu, nenek, atau hanya wali saja. Namun di tengah kerumunan,
nampaklah seorang gadis kecil. Ia jelas baru berusia 11 tahun namun dari
ekspresi wajahnya, dapat di pastikan ini bukan pertama kalinya ia melihat
kereta api uap itu. Rambut cokelat tuanya berayun ke kanan dan ke kiri ketika
ia berjalan menembus orang-orang sambil mendorong troli yang berisi sebuah
koper dan seekor burung hantu hitam dalam sangkar.
“Nah,
semoga berhasil disana sayang.” Seorang nenek yang tidak jauh dari tempat gadis
itu berkata pada cucunya, seorang gadis brunette. Dimana-mana terdengar
kata-kata yang serupa, anak-anak mengucapkan salam perpisahan dengan pendamping
mereka disertai dengan janji akan mengirim surat dan sebagainya atau suara
anak-anak yang menyapa teman satu asramanya. Berbeda dengan anak-anak yang
lain, gadis kecil tadi tidak mengucapkan apa-apa, ia tidak di damping siapapun
maupun mengenal siapapun. Sementara orang lain sibuk bercakap-cakap, ia sibuk
berusaha menaikkan barang-barangnya lalu membawanya masuk ke dalam kompartemen
yang kosong.
Dengan
susah payah ia menemukan sebuah kompartemen kosong untuk dirinya sendiri. Dan
tantangan kedua pun di mulai. Ia sudah berhasil menaikkan sangkar burungnya ke
atas rak di dalam kompartemen, dan sekarang ia berusaha menaikkan kopernya yang
tidak bisa dibilang ringan itu. Di kali keempat ia mencoba, setelah koper itu
nyaris menimpa dirinya dua kali dan jatuh di atas kakinya sekali, sebuah suara
sukses membuat gadis itu menjatuhkan kopernya empat kali berturut-turut.
“Perlu
bantuan?”
Ketika
gadis itu menoleh, dia mendapati, di pintu kompartemen yang terbuka,
seorang pemuda, mungkin 2 atau 3 tahun
lebih tua darinya. Postur tubuhnya besar namun tegap dan gagah.
“Maaf
mengagetkanmu..” Ucap pemuda itu seraya berjalan masuk ke dalam kompartemen.
Tanpa menunggu jawaban dari pertanyaan pertamanya, ia mengangkat koper milik
sang gadis dan meletakkannya di rak, di sebelah sangkar burung.
“Terima kasih.” Ujar si gadis dengan tegas, tidak dengan terbata-bata.
Tampaknya si pemuda juga menyadarinya karena ia mengangkat alisnya lalu
tersenyum.
“Murid baru?”
Si gadis mengangguk lalu menjulurkan tangan kanannya dengan berani.
“Nicole Ravensdale.”
Senyuman pemuda itu bertambah lebar, kagum akan keberanian gadis di depannya
ini, Nicole Ravensdale.
“Oliver Wood, senang berkenalan denganmu.”
***
“Maaf.”
Nicole mengalihkan pandangannya dari jendela dan menoleh ke arah pintu.
Seorang pemuda bertubuh tegap berdiri disana bersama koper dan sangkar burung.
Tampaknya dia seumuran dengan Nicole, walaupun tubuhnya jelas lebih besar dari
sang gadis.
“Kompartemen lain sudah penuh, ini adalah kompartemen terkosong pertama yang
ku temui. Bolehkah aku duduk disini? Jika tidak aku bisa mencari yang lain.”
Kata pemuda itu dengan sopan.
Nicole menggeleng, “Aku tidak keberatan. Duduklah.”
Pemuda itu tersenyum penuh terima kasih dan segera masuk kedalam
kompartemen. Setelah meletakan segala barangnya di rak atas mereka, ia duduk
tepat di depan Nicole lalu menjulurkan tangannya.
Nicole menyambut tangan pemuda itu dan menjabatnya. “Cedric, Cedric
Diggory.” Kata Cedric. Tepat ketika Nicole membuka mulutnya untuk mengenalkan
dirinya, pintu kompartemen terbuka lagi dan kali ini seorang gadis menjulurkan
kepalanya dengan malu-malu.
“Maaf apakah.. Oh!” Kata-kata gadis baru itu terhenti ketika ia melihat
tangan Nicole dan Cedric yang masih berjabatan. “Maaf mengganggu!” Gumamnya
cepat dan menutup pintu lagi. Cedric dan Nicole saling berpandangan dan dengan
secepat kilat melepaskan tangan satu dengan yang lain. Nicole juga segera
berdiri dan membuka pintu.
“Hey!” Teriaknya pada punggung gadis tadi, “Hey! Kawan kau tidak
mengganggu sama sekali!” Teriakan Nicole membuat gadis berambut brunette itu menghentikan langkahnya dan
menoleh ke belakang dengan malu-malu.
“Sungguh?”
Nicole mengangguk, “Kami hanya berkenalan. Dan kalau kau mau duduk di
kompartemen kami, silahkan saja!”
Si gadis menghembuskan nafas lega dan segera berbalik, berjalan kembali
ke dalam kompartemen dengan malu-malu sementara Nicole kembali duduk di
tempatnya. Cedric hanya tersenyum seakan menahan tawa ketika melihat gadis
tadi. Gadis itu langsung membungkuk meminta maaf ke arah Cedric dan buru-buru menaikkan
kotak tempat menyimpan kucing ke atas rak dan memandang kopernya dengan ragu.
Cedric sudah hendak menawarkan bantuan ketika pintu kompartemen terbuka
untuk kesekian kalinya. Dan kali ini berdiri seorang gadis berambut merah tua
dengan seorang pemuda berkulit gelap.
“Boleh kami duduk disini?” Tanya si gadis berambut merah. Otomatis Nicole
dan Cedric mengangguk secara bersamaan. “Trims.” Kata si gadis lagi di iringi
dengan senyuman, sementara si pemuda berkulit gelap sudah menaikkan kopernya
dan membantu gadis berambut brunette tadi.
“T-terima kasih.” Kata si gadis brunette. Pemuda itu hanya mengangguk
sambil tersenyum lalu menoleh untuk membantu si gadis berambut merah, namun
Cedric lebih cepat dan membantu gadis itu.
Nicole dan Cedric kembali ke tempat duduk mereka, di dekat jendela
sementara si pemuda berkulit hitam duduk di sebelah kiri Cedric, dan gadis
brunette duduk disebelah kanan Nicole dengan gadis berambut merah di sebelah
kirinya.
“Kalian semua kelas satu?” Tanya Cedric memecah keheningan yang cukup
canggung. Nyaris serempak, teman satu kompartemennya mengangguk. Cedric melirik
Nicole lalu berkata lagi, “Kalau begitu kita tidak usah tegang seperti ini.
Namaku Cedric, Cedric Diggory.”
“Gisselle Scotthill..” Kata si gadis brunette dengan malu-malu.
“Lee Jordan.” Si pemuda berkulit hitam tersenyum riang.
“Nicole Ravensdale.” Nicole memperkenalkan dirinya, berharap tidak ada
yang mengenali namanya itu.
“Aku pernah mendengar nama itu..” Ucap Gisselle penuh takjub. Nicole
langsung mengernyit. Ia tidak menduga ada yang mengenalinya secepat itu di hari
pertama ia sekolah. Gisselle melihat ekspresi wajah Nicole dan hendak menutup
mulutnya, namun si gadis berambut merah, Cedric dan Lee sudah menanyainya
dengan penuh semangat.
“A-ah.. mungkin aku salah.” Kata Gisselle dengan gugup sambil sesekali
menoleh kearah Nicole yang masih mengernyit. “Tapi nama itu sama dengan nama
cucu angkat Dumbledore, kepala sekolah Hogwarts, penyihir terhebat jaman ini.”
Setelah Gisselle berkata begitu, seluruh pandangan jatuh pada Nicole,
membuat gadis berambut cokelat itu tambah mengernyit. Akhirnya ia menghela
nafas dan menyerah. “Itu benar, aku adalah cucu angkat Dumbledore.” Dan reaksi
teman-teman barunya sesuai dengan perkiraan Nicole, terkejut sekaligus kagum.
“Kau belum memberi tahu kami namamu..” Kata Nicole pada si gadis
berambut merah, berusaha mengalihkan pembicaraan. Kini gantian gadis
tersebutlah yang menjadi pusat perhatian walau sesekali yang lain masih menoleh
ke arah Nicole.
“Elizabeth Ann, kau bisa memanggilku Elly saja.”
Lee membetulkan posisi duduknya sehingga lebih nyaman menatap Elly. “Ann
nama keluargamu?” Tanya Lee.
“Bukan.” Jawab Elly, sedikit mengernyit. Cedric sudah membuka mulutnya
untuk menghentikan Lee, namun Lee lebih cepat.
“Kalau begitu apa nama keluarga mu?”
Dari ekspresi Elly, dapat dipastikan anak tersebut tidak suka
menyebutkan nama keluarganya. Namun pandangan penasaran Lee dan Gisselle (yang
melakukannya dengan malu-malu) membuat Elly menghembuskan nafas pasrah.
“Potter. Elizabeth Ann Potter, itu namaku.”
Semua anak di dalam kompartemen itu terpekik terkejut, kecuali Elly yang
justru merasa bingung melihat reaksi teman-temannya.
“Berarti..” Kata Nicole, yang pertama yang berhasil menguasai
keterkejutannya. “Kau adalah kakak dari Harry Potter yang terkenal itu?”
Elly mengangguk, jelas tidak menyukai segala perhatian yang tertuju padanya
saat ini. “Tapi aku tidak bisa mengingat apa-apa. Hanya kilatan hijau dan…” Ia
mendadak terdiam.
“Emm.. sebaiknya kita tidak membahas hal ini. Senang berkenalan dengan
kalian semua.” Kata Gisselle menyudahi topik tersebut.
Suasana hening yang canggung menghatuin kompartemen itu lagi. Kali ini
Nicole lah yang memecah keheningan itu. “Kalian sudah memikirkan akan di
tempatkan di asrama mana?” Tanya Nicole, memutuskan untuk berbagi pengalamannya
selama tinggal bersama kakek angkatnya di Hogwarts.
“Sepertinya aku di Hufflepuff..” Kata Gisselle dengan pelan, “Bagaimana
denganmu Nicole? Kau tinggal di Hogwarts kan selama ini?”
“Mungkin Gryffindor. Tapi ada kemungkinan di Ravenclaw juga.” Jawab
Nicole.
“Kalau kau tinggal di Hogwarts, kenapa kau perlu naik kereta ini?” Tanya
Lee, bingung dengan fakta aneh itu.
“Kakekku mengatakan agar aku bertindak senormal mungkin. Seperti murid
baru lainnya.”
“Bagaimana bentuk Hogwarts? Apakah seperti di buku-buku?”
Nicole menatap empat pasang mata yang menatapnya penuh penasaran.
“Baiklah, dengarkan baik-baik karena aku tidak akan mengulangnya.” Dan ia pun
mulai bercerita sebanyak yang ia bisa di perjalanan menuju Hogwarts.
***
“Kelas satu!” Suara yang tidak asing lagi di kuping Nicole berteriak
dengan keras. Nicole, yang sekarang sudah turun dari kereta dengan memakai
seragam Hogwarts dengan lengkap, menoleh ke arah sumber suara yang ternyata
adalah seorang laki-laki bertubuh besar dengan janggut yang berantakan.
“Nicole!” Sapa setengah raksasa itu, “Astaga, sudah saatnya kau menjadi
murid eh? Tidak terasa waktu berjalan cepat!” Ia lalu tertawa.
Nicole hanya tersenyum melihat salah satu temannya di Hogwarts. Elly
menyikut Nicole dan segera berbisik di kupingnya.
“Siapa itu?”
“Rubeus Hagrid, staff Hogwarts.”
“Oooohh..”
“Kelas satu! Ayo kesini!” Suara Hagrid kembali terdengar. Nicole dan
Elly segera terdorong kerumunan untuk berjalan maju. Dengan sekejap, Nicole
sudah terpisah dengan teman se kompartemennya tadi dan malah terjebak satu
perahu dengan sepasang pemuda kembar dengan wajah yang jail luar biasa. Tidak
lama kemudian Lee bergabung dengan mereka.
“Aku Fred Weasley.” Kata si kembar yang ada di kiri, “Dan ini George
Weasley.” Lanjutnya sambil menunjuk kembarannya.
“Lee Jordan.”
“Nicole Ravensdale.”
Ketika Nicole menyebut namanya, otomatis Fred dan George menampilkan
ekspresi terkejut yang sama persis.
“Keren!” Kata mereka bedua bersamaan.
“Kau cucu angkat..”
“..dari Dumbledore?”
Nicole mengangkat alisnya, kaget dengan cara si kembar yang saling
melengkapi kalimat mereka. Ia lalu mengangguk dengan mantab. Ia akan menghadapi
hal yang seperti ini lebih sering lagi di ke depannya, lebih baik ia mulai
terbiasa dari sekarang.
“Keren!!” Kata si kembar lagi sementara perahu-perahu yang mengangkut
para murid baru mulai bergerak menuju kastil Hogwarts, ‘rumah’ dari Nicole. Nicole
serta Lee sudah mulai akrab dengan si kembar ketika kastil Hogwarts mulai
tampak. Sementara anak-anak yang lain berseru kagum ketika melihat kastil,
Nicole hanya tersenyum. Tipe senyum yang di lakukan orang-orang ketika
mengalami hari panjang di luar lalu pulang dan melihat rumahnya kembali.
Hagrid menggiring Nicole dan yang lain menuju Aula Depan, dimana mereka
disambut dengan seorang wanita bertampang tegas luar biasa walau Nicole sudah
mengenalnya lebih jauh dan menyukainya. Ia menganggap wanita itu sebagai sosok
ibu baginya.
“Terima kasih Hagrid.” Kata wanita itu pada Hagrid. Hagrid mengucapkan
balasan dan berjalan masuk ke Aula Utama sementara si wanita masih menahan
anak-anak di Aula Depan.
“Selamat malam. Namaku Minerva McGonagall, guru di sekolah sihir
Hogwarts ini. Bagi kalian yang belum tahu, kalian harus memanggil semua guru
disini dengan sebutan Professor.” Jelas McGonagall. “Sekarang ikut aku.”
Serentak para murid berjalan mengikuti McGonagall memasuki sebuah
ruangan kosong. Nicole tahu tempat itu, itu adalah kelas Transfigurasi, mata
pelajaran yang diajar oleh McGonagall.
“Tunggu disini sebelum penyeleksian dimulai. Jangan berisik, aku akan
menjemput kalian sebentar lagi.” Pandangan McGonagall jatuh pada seluruh anak
di dalam kelas itu, dan ketika matanya bertemu dengan mata Nicole, ia tersenyum
tipis, yang nyaris tidak terlihat, lalu menutup pintu, meninggalkan para murid
baru yang cemas.
“Nicole!”
Nicole menoleh tepat ketika Elly dan Giselle hendak menabraknya. Muka
mereka berdua tampak pucat dan luar biasa cemas.
“Tenang saja. Jangan terlalu tegang.” Kata Nicole berusaha menenangkan
kedua gadis di hadapannya yang tampaknya tidak begitu berhasil.
“Apakah kita akan melawan troll?” Tanya Gisselle dengan cemas. Nicole
menahan tawanya mendengar pertanyaan itu.
“Bukankah aku sudah bercerita bagaimana Hogwarts menyeleksi muridnya?
Siapa yang memberitahumu hal itu?” Tanya Nicole, masih menahan tawanya.
Gisselle menunjuk Fred dengan gugup dan Nicole langsung memandang tajam pemuda
berambut merah itu.
“Fred..” Kata Nicole memperingatkan. Fred memberikan Nicole cengiran
jailnya.
“Aku George, bukan Fred.” Kata Fred, berusaha mengelabui Nicole yang
sayangnya tidak berhasil. Nicole mempunyai kemampuan mengingat tiap detail dari
orang yang ia temui.
“Tidak, kau Fred. Dan jangan menyebarkan info-info aneh lagi. Kau sudah
tau tentang upacara yang sebenarnya dari kakakmu kan?”
Fred berdecak kagum. “Kau lebih hebat dari Ibu kami sendiri.” Fred lalu menaikkan
kedua bahunya, namun cengirannya tetap berada di wajahnya. “Baiklah, kami akan
diam.. ma’am..”
Tepat ketika Nicole akan mengucapkan balasan pada Fred, pintu kelas
terbuka dan tampaklah McGonagall.
“Sudah saatnya. Baris berdua-dua dan ikuti aku. Ingat, jangan berisik!”
Kata McGonagall.
Dengan kepanikan yang terlihat jelas di ekspresi semua anak (kecuali
Nicole dan si kembar), mereka semua berbaris dengan rapi di belakang
McGonagall. Dan betapa kesalnya Nicole ketika Fred mengambil posisi di
sebelahnya, mengerling jail pada dirinya sementara George mengambil posisi di
sebelah Giselle di belakang mereka.
“Aku punya firasat kalau kita akan jadi sahabat baik, Tuan Putri..” Bisik Fred pada Nicole.
“Kau, aku dan George.” Lanjutnya sambil menunjuk kembarannya di belakangnya.
Nicole hanya menjawabnya dengan pandangan galak sambil terus melangkah maju.
Terdengar bisik-bisik kagum ketika rombongan itu memasuki Aula Utama.
Langit-langit Aula Utama menampilkan langit malam berbintang yang cerah kali
ini. Empat meja panjang, satu untuk masing masing asrama : Gryffindor,
Ravenclaw, Hufflepuff dan Slytherin serta satu meja panjang di ujung Aula untuk
para guru dan staff. Nicole sudah melihat pemandangan ini di 10 tahun terakhir
namun jelas teman-teman seangkatannya belum pernah. Bahkan si kembar tampak
kaget.
Seluruh mata di Aula Utama tertuju pada mereka, hal itu membuat Gisselle
tambah gugup. Ia memegeang ujung jubah milik Nicole dengan erat-erat. Secara
tidak sengaja Nicole bertemu pandang dengan kakeknya di meja guru. Dengan
segera ia menampilkan senyum yang di balas dengan senyuman hangat Dumbledore.
Mereka berhenti tepat di depan meja guru, di depan kursi dengan sebuah
topi usang diatasnya, Topi Seleksi. McGonagall sudah membuka gulungan perkamen
yang berisi daftar murid, siap memanggil nama satu persatu.
“Ketika nama kalian ku panggil, maju dan duduk di kursi ini dan aku..”
McGonagall mengangkat Topi Seleksi, “…akan meletakan Topi Seleksi di kepala
kalian untuk menentukan asrama mana yang akan menjadi keluarga kalian.” Ia
mengalihkan pandangannya dari para murid kelas satu dan membaca perkamennya.
“Abernathy, Robert!”
Seorang pemuda berambut biru tua maju kedepan dengan gugup. Begitu Topi
Seleksi menyentuh kepalanya, topi tersebut membuka mulutnya yang tampak seperti
sobekan dan berseru nyaring. “Ravenclaw!!” dan meja Ravenclaw berteriak
bahagia.
Setelah beberapa anak, nama Cedric di panggil dan Topi Seleksi
menempatakannya di Hufflepuff. Cedric menunjukan jempolnya pada Nicole,
Gisselle, Elly dan Lee sebelum duduk di meja Hufflepuff. Nama Lee juga di
panggil sebelum nama Nicole dan dia di tempatkan di Gryffindor. Dan setelah
entah berapa banyak anak, nama Elly akhirnya di panggil.
“Potter, Elizabeth Ann!”
Sementara Elly maju kedepan dengan pelan, terdengar bisik-bisik
diseluruh Aula Utama, bahkan para guru pun berbisik-bisik. Nicole mengacungkan
jempolnya pada Elly, berusaha menyemangatinya. Elly tersenyum kecil dan duduk
di bangku.
“Hufflepuff!!” Teriak Topi Seleksi dan Nicole dapat melihat meja
Hufflepuff berteriak senang, Cedric berada di antara mereka. Elly segera mencopot
Topi Seleksi dan berlari untuk duduk disebelah Cedric.
Tiga anak setelah Elly, nama Nicole dipanggil juga. Seperti Elly juga,
bisik-bisik terdengar di Aula Utama, kali ini diiringi lirikan ke arah
Dumbledore yang masih bersikap tenang dan menatap Nicole lekat-lekat. Nicole
berjalan maju dengan berani dan memakai Topi Seleksi. Cukup lama ia memakai
topi tersebut sebelum akhirnya di tempatkan di Gryffindor. Meja Gryffindor
bersorak senang. Nicole melirik ke arah kakeknya ketika ia duduk dan Dumbledore
mengedip riang ke arahnya, membuat Nicole mau tidak mau tersenyum.
“Selamat datang di Gryffindor!” Sapaan demi sapaan datang untuk Nicole,
Lee yang duduk di depannya nyengir, terlihat puas karena dia mempunyai teman di
asrama yang sama.
Acara Seleksi hampir berakhir, kini giliran Gisselle. Gadis brunette itu
maju kedepan dengan gemetaran. Nicole mengawasi temannya itu sambil
menyilangkan kedua jarinya, berharap Gisselle antara ke Gryffindor atau
Hufflepuff. Dan doanya terkabul, setelah beberapa saat, Topi Seleksi
menempatkan Giselle ke Grynffindor. Dengan riang gadis itu berlari ke meja
Gryffindor dan duduk di sebelah kiri Lee.
“Nicole!! Lee!! Kita se asrama!!” Kata Gisselle, luar biasa senang.
Nicole dan Lee sama sama nyengir kepadanya. Selama beberapa saat mereka bertiga
tidak memperhatikan Upacara Seleksi. Nicole jelas menganggapnya sudah tidak
menarik karena semua teman barunya telah di seleksi. Ia sedang memperhatikan
teman seasramanya ketika sebuah lengan merangkul pundaknya.
“Sudah kubilang bukan, kita akan bersahabat. Kita sudah ditakdirkan
seasrama.”
Nicole nyaris melompat dari tempat duduknya. Suara itu milik Fred yang
sudah di seleksi masuk ke asrama Gryffindor bersama saudara kembarnya, George.
Nicole menepis tangan Fred dan segera mencubitnya, membuat lawan bicaranya itu
mengernyit kesakitan.
“Jaga sopan santunmu Fred.” Kata seorang pemuda di sebelah kiri Nicole,
sekitar 3 orang dari gadis itu, pemuda itu mempunyai rambut merah sama seperti
si kembar.
“Aku George.” Sangkal Fred, namun Nicole mencubitnya lagi.
“Jangan berbohong.” Kata Nicole. Pemuda asing tadi menaikkan alis dengan
kaget.
“Kau bisa membedakan adikku?” Tanyanya. Nicole mengangguk singkat
sebagai jawaban. Pemuda itu tersenyum, “Namaku Percy, kakak dari si kembar ini.
Tampaknya kau dapat mengatur kedua adikku ini, mohon bantuannya ya.”
Nicole mengernyit mendengar permintaan dari Percy, sementara Fred dan
George jelas puas. Mereka berdua nyengir lebar, sementara Gisselle tampaknya
sedang berusaha mengumpulkan keberanian untuk berbicara. Tepat pada saat itu,
Dumbledore berdiri dan sekejap Aula hening.
“Ada banyak hal yang akan kusampaikan. Tapi sebaiknya aku tidak membuat
kalian mati kelaparan terlebih dahulu. Selamat Makan.” Dan meja-meja langsung
terisi piring-piring makanan yang tak terhitung banyaknya, seakan-akan kata
pembuka dari Dumbledore adalah mantranya.
Mata Gisselle dan Lee melebar, penuh kekaguman. Fred dan George juga tampaknya
terkejut melihat pemandangan ini. Nicole, yang jelas sudah terbiasa, mulai
mengambil makanan yang tersedia dan meninggalkan kegiatannya menghafal
teman-teman seasramanya.
Acara makan malam berlangsung riang, setelah semua sudah puas dengan
makanan yang ada, piring-piring makanan menghilang dan di gantikan dengan
piring-piring penuh dengan kue-kue, es krim, puding dan segala jenis dessert
lainnya. Nicole baru saja akan mengambil es krimnya ketika ia menyadari ada
yang menatapnya. Ia menoleh dan bertemu pandang dengan pemuda yang duduk di
depan Percy.
“Hey.” Sapanya. Nicole mengenalinya, itu adalah orang yang sama yang
membantunya di kereta tadi siang, Oliver Wood.
“Ternyata kau se asrama denganku. Semoga betah di sini.” Lanjut Oliver
sambil tersenyum, lalu pandangannya kembali ke makanannya walau Nicole masih
sedikit terkejut dengan perlakukan seniornya itu.
“Hengg..”
Gumaman aneh di sebelahnya membuat Nicole kembali terlonjak, dan tentu
saja, Fred Weasley menerima cubitan lainnya dari Nicole. Hal itu membuat Lee
dan George tertawa terbahak-bahak sementara Gisselle tertawa dengan malu-malu.
Melihat reaksi teman-temannya, Fred pun tertawa juga dan mau tidak mau Nicole
ikut tertawa bersama mereka.
***TBC***
A/N : GAJE HAHAHAHAHA #plak
Mohon maaf apabila ada kesalahan *bows*
Mohon maaf apabila ada kesalahan *bows*
Made
by : Liz
Take
out with full credits please~ ^^

0 komentar:
Posting Komentar