Chapter 10 : Can’t
Tell You The Reason
(Setting
: HP 1 )
Nicole
menatap sahabatnya dengan ekspresi bertanya. Sekali lagi gadis brunette itu
menolak makan dan malah melirik berulang kali ke arah George. Benar, Sabtu
pertama di bulan November, hari ini, adalah hari pertandingan Quidditch.
Pertandingan pertama untuk Harry sebagai Seeker, dan tidak tanggung-tanggung,
melawan Slytherin!
"Kau
menolak untuk makan lagi?" Tanya Nicole. "Kau ini bukan pemain tapi
kenapa kau selalu tegang seperti pemain Quidditch yang lain." Nicole
melihat Harry yang tidak mau makan sama seperti Gisselle. Tapi setidaknya dia
adalah pemain, wajar jika menjadi tegang.
Menyerah
karena Gisselle tidak mau makan, Nicole membungkus beberapa roti panggang untuk
dimakan sahabatnya setelah pertandingan nanti dan berjalan menuju lapangan
Quidditch bersama Gisselle, Elly dan Cedric. Elly terlihat luar biasa cemas
tentang adiknya yang akan bertanding itu dan Cedric berusaha keras
menghiburnya. Di tempat penonton, Nicole dan Gisselle duduk di dekat anak-anak
kelas satu, teman-teman Harry yang siap mendukung Seeker muda itu.
Pertandingan
awalnya berjalan lancar, tapi kemudian mendadak, di tengah pertandingan, Harry
kehilangan kontrol akan sapunya. Semua anak Gryffindor langsung menatap ke arah
Harry dengan cemas, semua kecuali Hermione. Gadis kecil itu mengarahkan
teropongnya ke arah tempat duduk para guru alih-alih ke arah Harry seperti yang
lain.
"Sudah
kuduga." Nicole bisa mendengarnya berbicara dengan Ron. Mereka berdua
berdiskusi singkat dan akhirnya Hermione turun dari tempat duduknya dan pergi.
Ron kembali menatap Harry dengan cemas, sesekali bergumam agar Hermione cepat
melakukannya, entah apa maksudnya.
Setelah
beberapa menit yang menakutkan, seakan-akan Harry bisa jatuh setiap saat,
akhirnya dia bisa naik kembali ke sapunya dan terbang seperti biasa kembali.
Harry melakukan tukikan luar biasa lalu mengeluarkan sesuatu dari mulutnya.
Sejenak tidak ada yang bisa mengetahui apa yang ia pegang, namun lalu seluruh
anak Gryffindor dan sejumlah anak dari asrama lain bersorak. Harry telah
menangkap snitch dan membuat Gryffindor menang dalam pertandingan pertamanya.
Pesta
kemenangan sudah pasti akan di lakukan di ruang rekreasi namun sang pahlawan
alias Harry tidak kelihatan dimana-mana. Mendekati akhir perayaan, barulah ia
muncul bersama Ron dan Hermione. Mereka bertiga mendekati Nicole dengan
ekspresi serius.
"Nicole.
Kami harus memberi tahu sesuatu kepadamu." Kata Harry seraya melirik dua
sahabatnya, meminta dukungan. "Hanya padamu saja, please?"
Nicole
menatap tiga sekawan itu lalu akhirnya berdiri dari sofa yang tadi ia duduki
dan berjalan mengikuti mereka ke pojokan sepi di ruang rekreasi itu. Ia dapat
merasakan pandangan Gisselle mengikutinya, tapi Nicole tahu bahwa temannya
tidak akan menguping.
"Ada
apa?" Tanya Nicole pada tiga adik kelasnya itu. Harry dan Ron
berpandangan, jelas bingung mau memulai dari mana. Akhirnya Hermione lah yang
membuka mulut pertama kali.
"Kami
mengetahui apa yang berada di koridor lantai tiga, dan apa yang menjaganya. Dan
kami rasa ada.." Hermione ragu sesaat. "..ada..yang mau
mencurinya."
Mata
Nicole melebar kaget. Ia tidak pernah menyangka bahwa akan ada murid yang
mengetahui tentang hal itu. Seraya memastikan tidak ada yang mendengar mereka,
Nicole berbisik kembali pada Hermione, Harry dan Ron. "Darimana kalian
bisa tahu? Sejauh apa yang kalian ketahui?" Dan Hermione mulai menjelaskan
petualangan mereka bertemu Fluffy, si anjing raksasa berkepala tiga secara
tidak sengaja, lalu tingkah Snape di pertandingan tadi, memantrai sapu Harry
sehingga pemuda itu nyaris jatuh, dan akhirnya percakapan mereka dengan Hagrid
tentang Fluffy dan Nicolas Flamel.
Nicole
mengernyit, walau Harry dan yang lain tidak mengetahui tentang keberadaan batu
bertuah, mereka tahu terlalu banyak. Ya, yang tersimpan di pintu rahasia yang
di jaga Fluffy adalah batu bertuah, atau batu kehidupan milik sahabat kakeknya,
Nicolas Flamel. Akhirnya gadis itu menghela nafas dan menghembuskannya.
"Tidak
akan ada yang akan mencurinya. Bahkan aku tidak tahu cara melewati
Fluffy." Kata Nicole. Ia berbohong, ia tahu caranya tapi lebih baik ketiga
penyihir cilik ini mengira bahwa hanya kakeknya dan Hagrid yang mengetahuinya.
Akan lebih aman jika seperti itu bukan?
"Tapi
Snape.." Kata Ron memulai.
"Kakekku
mempercayainya. Bukankah itu sudah cukup?" Kata Nicole. Elly telah
memintanya untul tidak memberi tahu Harry tentang hubungan antara guru yang
paling di bencinya dengan kakak kesayangannya itu.
"Ia
mencoba membunuhku!" Sergah Harry. Ron dan Hermione mengangguk-anggukan
kepala mereka tanda setuju.
Akhirnya
Nicole menyerah. Ia menghembuskan nafas pasrah. "Akan ku tanyakan pada
kakekku. Tapi jangan terlalu berharap ia akan bertindak dengan sesuatu yang
tidak pasti itu." Mereka bertiga tersenyum riang antar satu dengan yang
lain dan secara bersamaan mengucapkan terima kasih lalu berjalan pergi dengan
riang, seakan-akan sudah lega. Walau Nicole punya perasaan bahwa mereka tidak
akan membiarkan hal itu berlalu begitu saja.
Keesokan
paginya, hari minggu yang cerah, Nicole berjalan sendirian menuju ke patung
gargoyle yang jelek, penjaga pintu masuk ruang kepala sekolah Hogwarts.
"Nougat Chunks." Kata Nicole, menyebutkan kata sandi untuk membuat
gargoyle itu melompat menyingkir dan dinding di belakangnya terbelah, membuka
jalan untuk masuk kedalam ruang kepala sekolah. Nicole masuk ke dalam celah
dinding itu dan menaiki tangga spiral yang bergerak seperti eskalator. Sampai
di atas, ia mengetuk pintu kayu ek itu dengan pengetuk pintu berbentuk griffon.
Baru sekali ia mengetuk, suara kakeknya terdengar dari balik pintu.
"Masuklah."
Dan Nicole memasuki ruangan yang besar dan bundar, penuh dengan peralatan perak
yang aneh dan seekor burung phoenix bertengger di tenggeran emas yang indah.
Burung itu segera terbang ke arah Nicole ketika melihat gadis itu, dan mendarat
di pundaknya. Nicole mengelus bulu merah burung itu dan tersenyum. Fawkes, nama
burung itu, telah menjadi temannya sejak ia kecil. Kakeknya sendiri sedang
duduk di kursinya, dengan kedua tangan di atas meja.
"Nicole."
Dumbledore tersenyum kepada cucunya. "Ada apa?" Nicole duduk di kursi
depan kakeknya dan langsung menceritakan pengalamannya dengan Harry, Ron dan
Hermione. Fawkes terbang dari pundaknya dan mendarat di meja di depannya.
Dumbledore mendengarkan tanpa menyela sama sekali, dan ketika Nicole selesai
bercerita, ia hanya mengeluarkan satu pertanyaan.
"Kau
mempercayai Professor Snape?"
Nicole
mengangguk. "Kakek mempercayainya dan dia adalah walinya Elly. Aku yakin
ia tidak bermaksud buruk pada Harry." Jawaban Nicole membuat senyuman
kakeknya melebar.
"Terima
kasih. Aku juga percaya hal yang sama. Tolong awasi mereka bertiga, jangan
sampai mereka bertindak gegabah." Kata Dumbledore. "Dan sekalian,
awasi Professor Quirrell sebisamu."
Permintaan
Dumbledore yang kedua membuat cucunya menaikan alis karena bingung. Tapi gadis
itu mengangguk dan berjanji akan melakukan keduanya. Ketika Nicole pamit dan
hendak berjalan keluar, kakeknya memanggilnya kembali.
"Nicole?"
"Ya
kakek?"
"Ku
dengar kau sedang dekat dengan seseorang?" Dumbledore tersenyum jahil dan
menatap Nicole dari balik kacamata bulan-separuhnya. Nicole hanya menyangkalnya
dengan cepat dan mengatakan pamit lagi lalu buru-buru berjalan keluar.
***
Setelah
Nicole mengatakan pada Harry, Ron dan Hermione kalau menurut kakeknya, Snape
tidak bersalah, dia mempunyai perasaan bahwa ketiga adik kelasnya itu sibuk
mencari informasi sebanyak mungkin tentang Nicolas Flamel, karena itulah
satu-satunya petunjuk yang mereka miliki. Nicole telah menolak mentah-mentah
permintaan mereka untuk memberi tahu siapa Nicolas Flamel itu.
“Kami
hanya ingin tahu siapa dia.” Kata Harry saat Nicole telah berulang kali meminta
mereka bertiga menghentikan pencarian itu.
Tanpa
terasa, liburan Natal telah datang dan berlalu dengan sama cepatnya. Semester
baru telah di mulai, demikian juga dengan musim pertandingan Quidditch. Suatu
sore, saat Nicole hendak kembali dari kamar mandi dan menuju Aula Utama, ia
mendengar dua buah suara yang ia kenali.
“Benarkah
itu professor?”
“Seratus
persen. Jadi, jangan buat masalah. Selamat malam Wood.”
“Selamat
malam Professor.”
Oliver
Wood berbalik dan menatap Nicole yang berdiri tidak jauh darinya. Pemuda itu
melambai dengan riang, walau mukanya menunjukan bahwa ia sedang mengkhawatirkan
sesuatu. Nicole melangkah mendekatinya.
“Ada
masalah?” Tanya Nicole.
“Bukan
masalah besar sebenarnya.” Jawab Oliver. Ia mengacak rambutnya dengan sedikit
frustasi. “Hanya saja, Snape akan menjadi wasit di pertandingan berikutnya.”
Ini
kabar baru bagi Nicole. Tentu saja ia terkejut, namun ia tetap tenang dan
menunggu Oliver melanjutkan. “Dan kau takut ia bertindak tidak adil terhadap
Gryffindor?” Tanya Nicole ketika pemuda itu tidak mengatakan apa-apa lagi.
Oliver mengangguk.
“Yah..
Bukannya aku memfitnahnya atau bagaimana, tapi..” Kata-kata Oliver langsung di
potong oleh Nicole.
“Aku
mengerti. Mungkin aku bisa melakukan sesuatu untuk membantu kalian.” Kata
Nicole. Gadis bermata hijau itu tampak sedang berpikir keras. Oliver harus
mengendalikan dirinya untuk tidak memeluk Nicole saat gadis itu mengatakan akan
membantu mereka.
“Apa
yang akan kau lakukan?” Tanya Oliver, penasaran apa yang bisa Nicole lakukan.
Nicole hanya tersenyum.
“Lihat
saja nanti.”
***
Hari
pertandingan yang di tunggu-tunggu pun telah tiba. Nicole berjalan ke arah
lapangan bersama Gisselle dan Elly. Elly menghembuskan nafas dengan keras
seraya berjalan di sisi Gisselle. Gadis itu sedang bingung antara mendukung
Cedric dan asramanya, atau adiknya, Harry.
“Kau
bisa mendukung mereka berdua.” Kata Gisselle pada sahabatnya yang sedang
bingung itu. Elly hanya menggeleng dan bergumam kalau ia tidak bisa. “Oh
ayolah. Nicole, katakan padanya kalau dia bisa.”
“Kau
bisa Elly.” Kata Nicole dengan singkat. Ia menoleh ke arah ruang ganti Gryffindor
dan memutuskan untuk memberi tahu mereka tentang bantuannya. “Kalian pergilah
duluan, aku harus mengurus sesuatu terlebih dahulu.” Kata Nicole yang di jawab
dengan anggukan oleh kedua sahabatnya.
Di
dalam ruang ganti, team Gryffindor tampak lebih tegang dari biasanya karena
fakta bahwa wasit kali ini tidak akan terlalu adil untuk mereka. Oliver
berjalan mundar-mandir di dalam ruangan itu dan memberikan nasehat-nasehat pada
seluruh anggota teamnya.
“Oliver,
bagaimana kita mengatasi wasit yang seperti itu?” Keluh George. Oliver mengepalkan
kedua tangannya.
“Nicole
berkata dia akan membantu kita. Tapi yang jelas ia tidak mengganti wasitnya.
Karena aku baru saja melihat Snape berjalan menuju ruangan wasit.” Kata Oliver.
Mendengar nama Nicole, Fred menjadi penasaran dan melirik ke luar, ke arah
lapangan, berharap bisa melihat gadis itu. Namun ia malah terpukau dengan
bertapa banyaknya penonton pertandingan Quidditch kali ini.
“Seluruh
sekolah ada di luar!” Kata Fred pada teman-temannya. “Astaga, bahkan Dumbledore
ada disana!” Mendengar nama kepala sekolah mereka, team Gryffindor langsung
berebutan melihat keluar dan memastikannya sendiri.
“Setidaknya
itu akan membuat Snape berpikir dua kali bukan?” Nicole mengejutkan ketujuh
pemain itu dengan kehadirannya di dekat mereka. Gadis itu tiba ketika mereka
sedang sibuk melihat Dumbledore di kursi penonton milik guru. Nicole memang
telah meminta kakeknya menonton pertandingan ini, dan kakeknya setuju. Oliver
langsung berlari ke Nicole dan memberi pelukan erat, membuat muka gadis itu
memerah karena malu dan sesak nafas.
“Kau
benar-benar malaikat!” Kata Oliver saat memeluk Nicole. Gadis itu hanya
mengangguk-angguk saja karena ia tidak bisa merangkai kata-kata pada saat itu.
“Oliver,
kau akan membunuhnya jika kau terus memeluknya seperti itu.” Kata George sambil
tertawa, membuat Oliver langsung melepaskan Nicole.
“Tapi
itu tidak berarti dia akan berhenti mencoba. Jadi, bermain lah dengan sportif.
Semoga berhasil.”
“Tenang
saja.” Kata Fred sambil merangkul Nicole. “Kami akan memenangkan pertandingan
ini dengan mudah.”
Dan
benar saja, setelah Nicole kembali ke tempat duduknya di kursi penonton dan
pertandingan dimulai, rasanya baru saja lima menit sejak peluit tanda
dimulainya pertandingan di bunyikan, Harry menangkap snitchnya dan Gryffindor
memenangkan pertandingan, hal itu membuat Gryffindor mendapat kesempatan untuk
memenangkan piala Quidditch dan piala asrama. Lapangan Quidditch di penuhi
dengan warna merah dan emas, warna Gryffindor.
Namun
hal tidak berjalan semudah itu. Tidak, ketika ujian sudah mulai di depan mata,
anak-anak Gryffindor di kejutkan dengan angka yang terdapat di jam kaca raksasa
yang menunjukan poin tiap asrama. Poin mereka yang telah menyusul poin milik
Slytherin, yang terbanyak, berkurang drastis dalam satu malam. Dan berita mulai
tersebar, bahwa pahlawan Quidditch mereka, Harry Potter, yang telah
melakukannya. Harry Potter, Hermione Granger, dan Neville Longbottom.
“Aku
berharap mereka berhenti melihat Harry seakan-akan dia adalah penjahat kelas
kakap.” Kata Elly. Ia, bersama Nicole dan Gisselle sedang duduk di halaman
sekolah bersama Harry, Ron dan Hermione. Ketiga gadis yang lebih tua itu telah
berjanji membantu Harry, Ron dan Hermione dalam hal belajar.
“Tidak
apa-apa kak. Biarkan saja.” Kata Harry dengan suara pelan, kepalanya tertunduk
dan ia berusaha fokus membaca buku catatannya. Nicole menatap Harry selama
beberapa saat ketika ia mendengar bisik-bisik dari balik tubuh Harry.
Pendengarannya memang lumayan tajam dan ia bisa melihat segerombolan anak kelas
dua dari Gryffindor sedang berbisik-bisik sambil melirik Harry dengan tatapan
kesal.
“Maaf.
Jika kalian tidak keberatan, kami sedang belajar disini, jadi tolong tutup
mulut.” Kata Nicole dengan suara yang cukup keras. Ia menatap sinis ke arah
gerombolan anak tadi, yang langsung menutup mulut mereka dan buru-buru berjalan
pergi setelah melihat Nicole. Kelima anak yang duduk bersama Nicole menoleh
tepat saat gerombolan anak itu berjalan pergi dengan muka ketakutan.
“Terima
kasih Nicole. Tapi jangan membuat dirimu turut dibenci bersama kami.” Kata
Harry pelan. Tapi di matanya terdapat sedikit kekaguman melihat Nicole yang
dengan berani menegur anak-anak kelas dua tadi.
Nicole
mengibaskan rambutnya secara asal dan menatap sekeliling mereka, seakan-akan
menantang siapa pun yang akan mengkomentari Harry dan Hermione dengan hal-hal
buruk seperti gerombolan tadi.
“Tapi
ini sudah keterlaluan.” Kata Nicole. “Sesaat mereka mengelu-elukanmu, dan
sekarang mereka menghinamu begitu saja.”
Gisselle
menoleh ke Nicole dan Harry secara bergantian, “Tapi kau masih punya Quidditch
bukan? Hal ini bisa menceriakanmu?” Tanya Gisselle pada Harry seraya tersenyum,
berusaha menghilangkan suasana murung yang ada.
Harry
menggeleng, “Aku ingin mengundurkan diri dari team, tapi Wood menolak hal itu.”
Jawaban
Harry membuat Gisselle, serta Elly dan Nicole kaget. “Kenapa kau ingin
mengundurkan diri?” Tanya Elly.
“Jujur,
bagiku, Quidditch sudah tidak lagi menyenangkan seperti dulu. Yang lain menolak
untuk berbicara denganku, atau bahkan menyebut namaku.”
“Apa?
Mereka melakukan itu?” Kata Elly, terlihat marah.
Nicole
menatap Harry lagi selama beberapa saat, lalu bertanya. “Kau ada latihan malam ini?”
Harry mengangguk. “Baiklah, aku akan menonton latihan malam ini.”
Dan
benar, malamnya, Nicole dan Gisselle menontoni latihan Quidditch hingga akhir.
Di lapangan yang sepi itu, kedua gadis itu bisa mendengar dan melihat dengan
jelas tindakan teman team Harry pada pemuda itu.
Ketika
latihan berakhir, Nicole langsung meloncat berdiri dan berjalan menuju ruang
ganti. Gisselle mengikuti sahabatnya dengan sedikit cemas. Gadis brunette itu
tahu, dari ekspresi muka Nicole, bahwa gadis itu marah. Pintu ruang ganti
terbuka dan ketiga Chaser, Angelina, Katie dan Alicia lah yang paling pertama
keluar. Melihat ekspresi Nicole, mereka langsung berjalan cepat menuju kastil.
“Hey,
kalian menunggu kami?” Sapa Fred ketika ia melihat Nicole dan Gisselle. Ia dan
George keluar dari ruang ganti, nyengir ketika mengenali siapa yang menunggu
mereka di depan ruangan itu. Namun ketika melihat ekspresi Nicole, cengiran
yang tadinya ada di wajah mereka pun lenyap.
“Ada
apa dengan kalian?” Hardik Nicole. Otomatis Fred dan George langsung berjalan
mundur dan masuk kembali ke ruang ganti. Nicole dengan cepat menyusul mereka
dan masuk ke dalam ruangan, disusul oleh Gisselle. Harry dan Oliver yang masih
berada di dalam menatap dengan bingung.
“A-a-ada
apa dengan kami?” Tanya George, masih bingung dengan penyebab Nicole mendadak
marah pada mereka.
“Namanya
Harry, bukan Seeker!!” Nicole menunjuk Harry, membuat pemuda itu melonjak
dengan kaget. “Dan kalian adalah teman seteam, harusnya saling mendukung dan
bukannya malah ikut membencinya seperti itu!”
“Tapi
ia menyebabkan kita kehilangan poin—“
“Poin?!”
Suara Nicole meninggi, “Itukah yang kalian pikirkan?! Kalian hanya mempedulikan
poin dimana seharusnya kalian seharusnya menyayangi anggota asrama kalian
selayaknya keluarga?!”
Tidak
ada yang menjawab, malahan, tidak ada yang bergerak. Mereka semua, termasuk
Gisselle, kaget melihat Nicole yang mendadak meledak itu. Nicole memandang si
kembar dalam keheningan. Ketika ia berbicara lagi, suaranya tenang kembali,
tapi penuh kesinisan.
“Aku
kecewa pada kalian. Kukira kalian setidaknya berbeda dari anak yang lain.” Kata
Nicole. “Itu juga berlaku padamu.” Lanjut gadis itu, kali ini sambil memandang
Oliver. Nicole meninggalkan ruangan itu dengan langkah tegap tanpa menoleh sama
sekali.
Kelima
orang yang masih berada di ruang ganti itu terdiam. “Aku belum pernah melihat
Nicole marah seperti itu.” Kata George pelan, memecah keheningan.
“Mengerikan.
Lebih mengerikan dari Mum saat ia marah.” Lanjut Fred. Tapi ia tidak tersenyum
sama sekali. Gisselle menatap kedua pemuda berambut merah itu, dan mereka juga
menyadari tatapan gadis itu.
“Ada
apa? Kau akan memarahi kami juga?” Tanya Fred. Gisselle menggeleng.
“Tidak.
Tapi aku setuju dengan perkataan Nicole.” Kata Gisselle. “Ayo Harry, kita
kembali ke kastil.” Setelah mengatakan hal itu, Gisselle keluar dari ruangan,
diikuti oleh Harry. Fred dan George berpandangan satu dengan yang lain,
sementara Oliver masih belum pulih dari shock karena Nicole marah juga padanya.
***
Beberapa
hari kedepan, mendengar bahwa tidak ada yang merubah sikapnya pada Harry,
Nicole menghindari si kembar dan Oliver. Gadis itu bahkan menolak untuk
berbicara dengan mereka.
“Biar
mereka merasakan sebagian kecil apa yang dirasakan Harry.” Kata Nicole menjawab
Gisselle yang menanyakan kenapa Nicole menolak berbicara dengan si kembar. Mereka
bedua baru saja balik dari perpustakaan, setelah mempersiapkan ujian akhir mereka
yang sudah didepan mata. Koridor sepi, karena sebagian besar anak sedang
mempersiapkan ujian.
“Nicole.”
Oliver menghadang jalan Nicole dan Gisselle. Gisselle menghentikan langkahnya
walau Nicole tidak. Oliver meraih tangan Nicole dan menariknya mendekat, nyaris
masuk kedalam pelukan. Melihat hal itu, Gisselle langsung mundur dan
memalingkan muka, mendadak tertarik pada dinding di sebelahnya.
“Maafkan
aku.” Kata Oliver. “Aku harusnya bersikap lebih dewasa dan bagaimana pun juga,
aku adalah kapten team.” Melihat Nicole yang masih diam, Oliver melanjutkan. “Aku
tidak akan melakukannya lagi. Maafkan aku, jika tidak aku tidak bisa fokus pada
OWLku.”
Bingung,
Nicole menaikan alisnya dan menatap Oliver dengan pandangan yang berbeda, tidak
sinis lagi. “Apa hubungannya?” Tanya gadis itu.
“Suatu
alasan yang belum bisa ku katakan.” Jawab Oliver sambil tersenyum canggung.
Tidak lama kemudian, Nicole ikut tersenyum sambil menahan tawanya.
“Baiklah,
ku maafkan.” Kata Nicole. Oliver langsung tersenyum riang dan mencium kepala
Nicole.
“Terima
kasih!” Setelah mengatakan itu, ia langsung berlari pergi, dengan muka merah
tentunya. Gisselle mendekati Nicole yang mukanya merah juga.
“Ia
menyukaimu juga.” Kata Gisselle.
“Mana
mungkin.” Komentar Nicole, dan mereka berdua melanjutkan berjalan menuju ruang
rekreasi.
Baru
saja mereka berbelok dan hendak menaiki tangga, terdengar sepasang langkah kaki
di belakang mereka. Baik Gisselle maupun Nicole dan mendapati Fred dan George
berlari ke arah mereka dan segera berlutut ‘menyembah’ pada mereka. Nicole
langsung menunjukan muka sinis yang biasa ia tampilkan bila si kembar berusaha
mengajaknya bicara.
“MAAFKAN
KAMI.” Seru Fred dan George bersamaan.
“Kami
sudah meminta maaf pada Harry..”Kata Fred
“..dan
kami tidak akan melakukan kesalahan itu lagi.” Lanjut George. Mereka berdua
menatap Nicole dengan pandangan memelas.
“JADI
TOLONG SELAMATKAN KAMI DARI UJIAN.” Seru mereka lagi bersama-sama. Pemandangan
ini membuat Gisselle tidak bisa menahan tawanya. Bahkan Nicole pun terlihat
seperti ingin menahan tawanya. Gadis berambut cokelat tua itu menutup mulutnya
dengan tangan, memijat-mijat pelipisnya sendiri dan berbalik hingga memunggungi
si kembar lalu melanjutkan menaiki tangga. Fred dan George menatap Nicole
dengan pasrah.
“Cepat
kalian berdua. Tidak ada waktu lagi untuk belajar jika tidak mulai dari
sekarang.” Kata Nicole. Ekspresi Fred dan George berubah seketika dan langsung
mengikuti Nicole bersama dengan Gisselle.
Persahabatan
mereka kembali seperti semula dan tentu saja, ujian menjadi lancar bagi ketiga
pemuda yang hatinya sudah menjadi tenang. Setelah ujian, Nicole yang sedang
membantu McGonagall membawa buku-buku, bertemu dengan Harry, Ron dan Hermione.
Ketiga anak itu menanyakan keberadaan Dumbledore dan terus menerus mengatakan akan
ada yang menerobos masuk Fluffy dan mencuri batu bertuah. Baik Nicole dan
McGonagall tentu kaget mendengar bahwa ketiga anak itu mengetahui keberadaan
batu itu.
Setelah
mereka pergi, dan menyelesaikan tugasnya membantu McGonagall, Nicole bergegas
memeriksa keadaan Quirrell, yang masih berada di ruang guru. Setelah merasa
tenang karena professor itu tidak melakukan hal yang mencurigakan, gadis itu
pergi ke ruang rekreasi Gryffindor dan menghabiskan waktunya bersama yang lain,
sama sekali tidak mengetahui bahwa hal yang luar biasa akan terjadi malam itu.
***
Pesta
akhir tahun ajaran berjalan lebih meriah dari biasanya. Gryffindor memenangkan Piala
Asrama berkat tindakan heroik Harry, Ron dan Hermione. Di tengah keributan yang
di sebabkan karena tiga asrama merayakan kejatuhan Slytherin, Fred dan George
menarik Gisselle dan Nicole.
“Kalian
mau ke rumah kami selama musim panas ini? Ron mengajak Harry.” Kata Fred.
Betapa kecewanya mereka ketika kedua gadis itu menggeleng dan mengatakan mereka
tidak bisa.
“Sampai
ketemu di tahun ketiga nanti, kalau begitu.”
***TBC***
A/N : Oke ini aneh dan
terburu-buru *geleng-geleng*
Maafkan aku *sujud
menyembah*
Dan tentu saja, mohon
maaf apabila ada kesalahan *bows*
Original Plot by : Our Queen, JK Rowling
The ‘new’ plot Made
by : Liz
Take
out with full credits please~ ^^

0 komentar:
Posting Komentar