Senin, 26 Mei 2014

Hogwarts' Beloved : Chapter 10

Chapter 10 : Can’t Tell You The Reason
                                                (Setting : HP 1 )

Nicole menatap sahabatnya dengan ekspresi bertanya. Sekali lagi gadis brunette itu menolak makan dan malah melirik berulang kali ke arah George. Benar, Sabtu pertama di bulan November, hari ini, adalah hari pertandingan Quidditch. Pertandingan pertama untuk Harry sebagai Seeker, dan tidak tanggung-tanggung, melawan Slytherin!

"Kau menolak untuk makan lagi?" Tanya Nicole. "Kau ini bukan pemain tapi kenapa kau selalu tegang seperti pemain Quidditch yang lain." Nicole melihat Harry yang tidak mau makan sama seperti Gisselle. Tapi setidaknya dia adalah pemain, wajar jika menjadi tegang.

Menyerah karena Gisselle tidak mau makan, Nicole membungkus beberapa roti panggang untuk dimakan sahabatnya setelah pertandingan nanti dan berjalan menuju lapangan Quidditch bersama Gisselle, Elly dan Cedric. Elly terlihat luar biasa cemas tentang adiknya yang akan bertanding itu dan Cedric berusaha keras menghiburnya. Di tempat penonton, Nicole dan Gisselle duduk di dekat anak-anak kelas satu, teman-teman Harry yang siap mendukung Seeker muda itu.

Pertandingan awalnya berjalan lancar, tapi kemudian mendadak, di tengah pertandingan, Harry kehilangan kontrol akan sapunya. Semua anak Gryffindor langsung menatap ke arah Harry dengan cemas, semua kecuali Hermione. Gadis kecil itu mengarahkan teropongnya ke arah tempat duduk para guru alih-alih ke arah Harry seperti yang lain.

"Sudah kuduga." Nicole bisa mendengarnya berbicara dengan Ron. Mereka berdua berdiskusi singkat dan akhirnya Hermione turun dari tempat duduknya dan pergi. Ron kembali menatap Harry dengan cemas, sesekali bergumam agar Hermione cepat melakukannya, entah apa maksudnya.

Setelah beberapa menit yang menakutkan, seakan-akan Harry bisa jatuh setiap saat, akhirnya dia bisa naik kembali ke sapunya dan terbang seperti biasa kembali. Harry melakukan tukikan luar biasa lalu mengeluarkan sesuatu dari mulutnya. Sejenak tidak ada yang bisa mengetahui apa yang ia pegang, namun lalu seluruh anak Gryffindor dan sejumlah anak dari asrama lain bersorak. Harry telah menangkap snitch dan membuat Gryffindor menang dalam pertandingan pertamanya.

Pesta kemenangan sudah pasti akan di lakukan di ruang rekreasi namun sang pahlawan alias Harry tidak kelihatan dimana-mana. Mendekati akhir perayaan, barulah ia muncul bersama Ron dan Hermione. Mereka bertiga mendekati Nicole dengan ekspresi serius.

"Nicole. Kami harus memberi tahu sesuatu kepadamu." Kata Harry seraya melirik dua sahabatnya, meminta dukungan. "Hanya padamu saja, please?"

Nicole menatap tiga sekawan itu lalu akhirnya berdiri dari sofa yang tadi ia duduki dan berjalan mengikuti mereka ke pojokan sepi di ruang rekreasi itu. Ia dapat merasakan pandangan Gisselle mengikutinya, tapi Nicole tahu bahwa temannya tidak akan menguping.

"Ada apa?" Tanya Nicole pada tiga adik kelasnya itu. Harry dan Ron berpandangan, jelas bingung mau memulai dari mana. Akhirnya Hermione lah yang membuka mulut pertama kali.

"Kami mengetahui apa yang berada di koridor lantai tiga, dan apa yang menjaganya. Dan kami rasa ada.." Hermione ragu sesaat. "..ada..yang mau mencurinya."

Mata Nicole melebar kaget. Ia tidak pernah menyangka bahwa akan ada murid yang mengetahui tentang hal itu. Seraya memastikan tidak ada yang mendengar mereka, Nicole berbisik kembali pada Hermione, Harry dan Ron. "Darimana kalian bisa tahu? Sejauh apa yang kalian ketahui?" Dan Hermione mulai menjelaskan petualangan mereka bertemu Fluffy, si anjing raksasa berkepala tiga secara tidak sengaja, lalu tingkah Snape di pertandingan tadi, memantrai sapu Harry sehingga pemuda itu nyaris jatuh, dan akhirnya percakapan mereka dengan Hagrid tentang Fluffy dan Nicolas Flamel.

Nicole mengernyit, walau Harry dan yang lain tidak mengetahui tentang keberadaan batu bertuah, mereka tahu terlalu banyak. Ya, yang tersimpan di pintu rahasia yang di jaga Fluffy adalah batu bertuah, atau batu kehidupan milik sahabat kakeknya, Nicolas Flamel. Akhirnya gadis itu menghela nafas dan menghembuskannya.

"Tidak akan ada yang akan mencurinya. Bahkan aku tidak tahu cara melewati Fluffy." Kata Nicole. Ia berbohong, ia tahu caranya tapi lebih baik ketiga penyihir cilik ini mengira bahwa hanya kakeknya dan Hagrid yang mengetahuinya. Akan lebih aman jika seperti itu bukan?

"Tapi Snape.." Kata Ron memulai.

"Kakekku mempercayainya. Bukankah itu sudah cukup?" Kata Nicole. Elly telah memintanya untul tidak memberi tahu Harry tentang hubungan antara guru yang paling di bencinya dengan kakak kesayangannya itu.

"Ia mencoba membunuhku!" Sergah Harry. Ron dan Hermione mengangguk-anggukan kepala mereka tanda setuju.

Akhirnya Nicole menyerah. Ia menghembuskan nafas pasrah. "Akan ku tanyakan pada kakekku. Tapi jangan terlalu berharap ia akan bertindak dengan sesuatu yang tidak pasti itu." Mereka bertiga tersenyum riang antar satu dengan yang lain dan secara bersamaan mengucapkan terima kasih lalu berjalan pergi dengan riang, seakan-akan sudah lega. Walau Nicole punya perasaan bahwa mereka tidak akan membiarkan hal itu berlalu begitu saja.

Keesokan paginya, hari minggu yang cerah, Nicole berjalan sendirian menuju ke patung gargoyle yang jelek, penjaga pintu masuk ruang kepala sekolah Hogwarts. "Nougat Chunks." Kata Nicole, menyebutkan kata sandi untuk membuat gargoyle itu melompat menyingkir dan dinding di belakangnya terbelah, membuka jalan untuk masuk kedalam ruang kepala sekolah. Nicole masuk ke dalam celah dinding itu dan menaiki tangga spiral yang bergerak seperti eskalator. Sampai di atas, ia mengetuk pintu kayu ek itu dengan pengetuk pintu berbentuk griffon. Baru sekali ia mengetuk, suara kakeknya terdengar dari balik pintu.

"Masuklah." Dan Nicole memasuki ruangan yang besar dan bundar, penuh dengan peralatan perak yang aneh dan seekor burung phoenix bertengger di tenggeran emas yang indah. Burung itu segera terbang ke arah Nicole ketika melihat gadis itu, dan mendarat di pundaknya. Nicole mengelus bulu merah burung itu dan tersenyum. Fawkes, nama burung itu, telah menjadi temannya sejak ia kecil. Kakeknya sendiri sedang duduk di kursinya, dengan kedua tangan di atas meja.

"Nicole." Dumbledore tersenyum kepada cucunya. "Ada apa?" Nicole duduk di kursi depan kakeknya dan langsung menceritakan pengalamannya dengan Harry, Ron dan Hermione. Fawkes terbang dari pundaknya dan mendarat di meja di depannya. Dumbledore mendengarkan tanpa menyela sama sekali, dan ketika Nicole selesai bercerita, ia hanya mengeluarkan satu pertanyaan.

"Kau mempercayai Professor Snape?"

Nicole mengangguk. "Kakek mempercayainya dan dia adalah walinya Elly. Aku yakin ia tidak bermaksud buruk pada Harry." Jawaban Nicole membuat senyuman kakeknya melebar.

"Terima kasih. Aku juga percaya hal yang sama. Tolong awasi mereka bertiga, jangan sampai mereka bertindak gegabah." Kata Dumbledore. "Dan sekalian, awasi Professor Quirrell sebisamu."

Permintaan Dumbledore yang kedua membuat cucunya menaikan alis karena bingung. Tapi gadis itu mengangguk dan berjanji akan melakukan keduanya. Ketika Nicole pamit dan hendak berjalan keluar, kakeknya memanggilnya kembali.

"Nicole?"

"Ya kakek?"

"Ku dengar kau sedang dekat dengan seseorang?" Dumbledore tersenyum jahil dan menatap Nicole dari balik kacamata bulan-separuhnya. Nicole hanya menyangkalnya dengan cepat dan mengatakan pamit lagi lalu buru-buru berjalan keluar.

***

Setelah Nicole mengatakan pada Harry, Ron dan Hermione kalau menurut kakeknya, Snape tidak bersalah, dia mempunyai perasaan bahwa ketiga adik kelasnya itu sibuk mencari informasi sebanyak mungkin tentang Nicolas Flamel, karena itulah satu-satunya petunjuk yang mereka miliki. Nicole telah menolak mentah-mentah permintaan mereka untuk memberi tahu siapa Nicolas Flamel itu.

“Kami hanya ingin tahu siapa dia.” Kata Harry saat Nicole telah berulang kali meminta mereka bertiga menghentikan pencarian itu.

Tanpa terasa, liburan Natal telah datang dan berlalu dengan sama cepatnya. Semester baru telah di mulai, demikian juga dengan musim pertandingan Quidditch. Suatu sore, saat Nicole hendak kembali dari kamar mandi dan menuju Aula Utama, ia mendengar dua buah suara yang ia kenali.

“Benarkah itu professor?”

“Seratus persen. Jadi, jangan buat masalah. Selamat malam Wood.”

“Selamat malam Professor.”

Oliver Wood berbalik dan menatap Nicole yang berdiri tidak jauh darinya. Pemuda itu melambai dengan riang, walau mukanya menunjukan bahwa ia sedang mengkhawatirkan sesuatu. Nicole melangkah mendekatinya.

“Ada masalah?” Tanya Nicole.

“Bukan masalah besar sebenarnya.” Jawab Oliver. Ia mengacak rambutnya dengan sedikit frustasi. “Hanya saja, Snape akan menjadi wasit di pertandingan berikutnya.”

Ini kabar baru bagi Nicole. Tentu saja ia terkejut, namun ia tetap tenang dan menunggu Oliver melanjutkan. “Dan kau takut ia bertindak tidak adil terhadap Gryffindor?” Tanya Nicole ketika pemuda itu tidak mengatakan apa-apa lagi. Oliver mengangguk.

“Yah.. Bukannya aku memfitnahnya atau bagaimana, tapi..” Kata-kata Oliver langsung di potong oleh Nicole.

“Aku mengerti. Mungkin aku bisa melakukan sesuatu untuk membantu kalian.” Kata Nicole. Gadis bermata hijau itu tampak sedang berpikir keras. Oliver harus mengendalikan dirinya untuk tidak memeluk Nicole saat gadis itu mengatakan akan membantu mereka.

“Apa yang akan kau lakukan?” Tanya Oliver, penasaran apa yang bisa Nicole lakukan. Nicole hanya tersenyum.

“Lihat saja nanti.”

***

Hari pertandingan yang di tunggu-tunggu pun telah tiba. Nicole berjalan ke arah lapangan bersama Gisselle dan Elly. Elly menghembuskan nafas dengan keras seraya berjalan di sisi Gisselle. Gadis itu sedang bingung antara mendukung Cedric dan asramanya, atau adiknya, Harry.

“Kau bisa mendukung mereka berdua.” Kata Gisselle pada sahabatnya yang sedang bingung itu. Elly hanya menggeleng dan bergumam kalau ia tidak bisa. “Oh ayolah. Nicole, katakan padanya kalau dia bisa.”

“Kau bisa Elly.” Kata Nicole dengan singkat. Ia menoleh ke arah ruang ganti Gryffindor dan memutuskan untuk memberi tahu mereka tentang bantuannya. “Kalian pergilah duluan, aku harus mengurus sesuatu terlebih dahulu.” Kata Nicole yang di jawab dengan anggukan oleh kedua sahabatnya.

Di dalam ruang ganti, team Gryffindor tampak lebih tegang dari biasanya karena fakta bahwa wasit kali ini tidak akan terlalu adil untuk mereka. Oliver berjalan mundar-mandir di dalam ruangan itu dan memberikan nasehat-nasehat pada seluruh anggota teamnya.

“Oliver, bagaimana kita mengatasi wasit yang seperti itu?” Keluh George. Oliver mengepalkan kedua tangannya.

“Nicole berkata dia akan membantu kita. Tapi yang jelas ia tidak mengganti wasitnya. Karena aku baru saja melihat Snape berjalan menuju ruangan wasit.” Kata Oliver. Mendengar nama Nicole, Fred menjadi penasaran dan melirik ke luar, ke arah lapangan, berharap bisa melihat gadis itu. Namun ia malah terpukau dengan bertapa banyaknya penonton pertandingan Quidditch kali ini.

“Seluruh sekolah ada di luar!” Kata Fred pada teman-temannya. “Astaga, bahkan Dumbledore ada disana!” Mendengar nama kepala sekolah mereka, team Gryffindor langsung berebutan melihat keluar dan memastikannya sendiri.

“Setidaknya itu akan membuat Snape berpikir dua kali bukan?” Nicole mengejutkan ketujuh pemain itu dengan kehadirannya di dekat mereka. Gadis itu tiba ketika mereka sedang sibuk melihat Dumbledore di kursi penonton milik guru. Nicole memang telah meminta kakeknya menonton pertandingan ini, dan kakeknya setuju. Oliver langsung berlari ke Nicole dan memberi pelukan erat, membuat muka gadis itu memerah karena malu dan sesak nafas.

“Kau benar-benar malaikat!” Kata Oliver saat memeluk Nicole. Gadis itu hanya mengangguk-angguk saja karena ia tidak bisa merangkai kata-kata pada saat itu.

“Oliver, kau akan membunuhnya jika kau terus memeluknya seperti itu.” Kata George sambil tertawa, membuat Oliver langsung melepaskan Nicole.

“Tapi itu tidak berarti dia akan berhenti mencoba. Jadi, bermain lah dengan sportif. Semoga berhasil.”

“Tenang saja.” Kata Fred sambil merangkul Nicole. “Kami akan memenangkan pertandingan ini dengan mudah.”

Dan benar saja, setelah Nicole kembali ke tempat duduknya di kursi penonton dan pertandingan dimulai, rasanya baru saja lima menit sejak peluit tanda dimulainya pertandingan di bunyikan, Harry menangkap snitchnya dan Gryffindor memenangkan pertandingan, hal itu membuat Gryffindor mendapat kesempatan untuk memenangkan piala Quidditch dan piala asrama. Lapangan Quidditch di penuhi dengan warna merah dan emas, warna Gryffindor.

Namun hal tidak berjalan semudah itu. Tidak, ketika ujian sudah mulai di depan mata, anak-anak Gryffindor di kejutkan dengan angka yang terdapat di jam kaca raksasa yang menunjukan poin tiap asrama. Poin mereka yang telah menyusul poin milik Slytherin, yang terbanyak, berkurang drastis dalam satu malam. Dan berita mulai tersebar, bahwa pahlawan Quidditch mereka, Harry Potter, yang telah melakukannya. Harry Potter, Hermione Granger, dan Neville Longbottom.

“Aku berharap mereka berhenti melihat Harry seakan-akan dia adalah penjahat kelas kakap.” Kata Elly. Ia, bersama Nicole dan Gisselle sedang duduk di halaman sekolah bersama Harry, Ron dan Hermione. Ketiga gadis yang lebih tua itu telah berjanji membantu Harry, Ron dan Hermione dalam hal belajar.

“Tidak apa-apa kak. Biarkan saja.” Kata Harry dengan suara pelan, kepalanya tertunduk dan ia berusaha fokus membaca buku catatannya. Nicole menatap Harry selama beberapa saat ketika ia mendengar bisik-bisik dari balik tubuh Harry. Pendengarannya memang lumayan tajam dan ia bisa melihat segerombolan anak kelas dua dari Gryffindor sedang berbisik-bisik sambil melirik Harry dengan tatapan kesal.

“Maaf. Jika kalian tidak keberatan, kami sedang belajar disini, jadi tolong tutup mulut.” Kata Nicole dengan suara yang cukup keras. Ia menatap sinis ke arah gerombolan anak tadi, yang langsung menutup mulut mereka dan buru-buru berjalan pergi setelah melihat Nicole. Kelima anak yang duduk bersama Nicole menoleh tepat saat gerombolan anak itu berjalan pergi dengan muka ketakutan.

“Terima kasih Nicole. Tapi jangan membuat dirimu turut dibenci bersama kami.” Kata Harry pelan. Tapi di matanya terdapat sedikit kekaguman melihat Nicole yang dengan berani menegur anak-anak kelas dua tadi.

Nicole mengibaskan rambutnya secara asal dan menatap sekeliling mereka, seakan-akan menantang siapa pun yang akan mengkomentari Harry dan Hermione dengan hal-hal buruk seperti gerombolan tadi.

“Tapi ini sudah keterlaluan.” Kata Nicole. “Sesaat mereka mengelu-elukanmu, dan sekarang mereka menghinamu begitu saja.”

Gisselle menoleh ke Nicole dan Harry secara bergantian, “Tapi kau masih punya Quidditch bukan? Hal ini bisa menceriakanmu?” Tanya Gisselle pada Harry seraya tersenyum, berusaha menghilangkan suasana murung yang ada.

Harry menggeleng, “Aku ingin mengundurkan diri dari team, tapi Wood menolak hal itu.”

Jawaban Harry membuat Gisselle, serta Elly dan Nicole kaget. “Kenapa kau ingin mengundurkan diri?” Tanya Elly.

“Jujur, bagiku, Quidditch sudah tidak lagi menyenangkan seperti dulu. Yang lain menolak untuk berbicara denganku, atau bahkan menyebut namaku.”

“Apa? Mereka melakukan itu?” Kata Elly, terlihat marah.

Nicole menatap Harry lagi selama beberapa saat, lalu bertanya. “Kau ada latihan malam ini?” Harry mengangguk. “Baiklah, aku akan menonton latihan malam ini.”

Dan benar, malamnya, Nicole dan Gisselle menontoni latihan Quidditch hingga akhir. Di lapangan yang sepi itu, kedua gadis itu bisa mendengar dan melihat dengan jelas tindakan teman team Harry pada pemuda itu.

Ketika latihan berakhir, Nicole langsung meloncat berdiri dan berjalan menuju ruang ganti. Gisselle mengikuti sahabatnya dengan sedikit cemas. Gadis brunette itu tahu, dari ekspresi muka Nicole, bahwa gadis itu marah. Pintu ruang ganti terbuka dan ketiga Chaser, Angelina, Katie dan Alicia lah yang paling pertama keluar. Melihat ekspresi Nicole, mereka langsung berjalan cepat menuju kastil.

“Hey, kalian menunggu kami?” Sapa Fred ketika ia melihat Nicole dan Gisselle. Ia dan George keluar dari ruang ganti, nyengir ketika mengenali siapa yang menunggu mereka di depan ruangan itu. Namun ketika melihat ekspresi Nicole, cengiran yang tadinya ada di wajah mereka pun lenyap.

“Ada apa dengan kalian?” Hardik Nicole. Otomatis Fred dan George langsung berjalan mundur dan masuk kembali ke ruang ganti. Nicole dengan cepat menyusul mereka dan masuk ke dalam ruangan, disusul oleh Gisselle. Harry dan Oliver yang masih berada di dalam menatap dengan bingung.

“A-a-ada apa dengan kami?” Tanya George, masih bingung dengan penyebab Nicole mendadak marah pada mereka.

“Namanya Harry, bukan Seeker!!” Nicole menunjuk Harry, membuat pemuda itu melonjak dengan kaget. “Dan kalian adalah teman seteam, harusnya saling mendukung dan bukannya malah ikut membencinya seperti itu!”

“Tapi ia menyebabkan kita kehilangan poin—“

“Poin?!” Suara Nicole meninggi, “Itukah yang kalian pikirkan?! Kalian hanya mempedulikan poin dimana seharusnya kalian seharusnya menyayangi anggota asrama kalian selayaknya keluarga?!”

Tidak ada yang menjawab, malahan, tidak ada yang bergerak. Mereka semua, termasuk Gisselle, kaget melihat Nicole yang mendadak meledak itu. Nicole memandang si kembar dalam keheningan. Ketika ia berbicara lagi, suaranya tenang kembali, tapi penuh kesinisan.

“Aku kecewa pada kalian. Kukira kalian setidaknya berbeda dari anak yang lain.” Kata Nicole. “Itu juga berlaku padamu.” Lanjut gadis itu, kali ini sambil memandang Oliver. Nicole meninggalkan ruangan itu dengan langkah tegap tanpa menoleh sama sekali.

Kelima orang yang masih berada di ruang ganti itu terdiam. “Aku belum pernah melihat Nicole marah seperti itu.” Kata George pelan, memecah keheningan.

“Mengerikan. Lebih mengerikan dari Mum saat ia marah.” Lanjut Fred. Tapi ia tidak tersenyum sama sekali. Gisselle menatap kedua pemuda berambut merah itu, dan mereka juga menyadari tatapan gadis itu.

“Ada apa? Kau akan memarahi kami juga?” Tanya Fred. Gisselle menggeleng.

“Tidak. Tapi aku setuju dengan perkataan Nicole.” Kata Gisselle. “Ayo Harry, kita kembali ke kastil.” Setelah mengatakan hal itu, Gisselle keluar dari ruangan, diikuti oleh Harry. Fred dan George berpandangan satu dengan yang lain, sementara Oliver masih belum pulih dari shock karena Nicole marah juga padanya.

***

Beberapa hari kedepan, mendengar bahwa tidak ada yang merubah sikapnya pada Harry, Nicole menghindari si kembar dan Oliver. Gadis itu bahkan menolak untuk berbicara dengan mereka.

“Biar mereka merasakan sebagian kecil apa yang dirasakan Harry.” Kata Nicole menjawab Gisselle yang menanyakan kenapa Nicole menolak berbicara dengan si kembar. Mereka bedua baru saja balik dari perpustakaan, setelah mempersiapkan ujian akhir mereka yang sudah didepan mata. Koridor sepi, karena sebagian besar anak sedang mempersiapkan ujian.

“Nicole.” Oliver menghadang jalan Nicole dan Gisselle. Gisselle menghentikan langkahnya walau Nicole tidak. Oliver meraih tangan Nicole dan menariknya mendekat, nyaris masuk kedalam pelukan. Melihat hal itu, Gisselle langsung mundur dan memalingkan muka, mendadak tertarik pada dinding di sebelahnya.

“Maafkan aku.” Kata Oliver. “Aku harusnya bersikap lebih dewasa dan bagaimana pun juga, aku adalah kapten team.” Melihat Nicole yang masih diam, Oliver melanjutkan. “Aku tidak akan melakukannya lagi. Maafkan aku, jika tidak aku tidak bisa fokus pada OWLku.”

Bingung, Nicole menaikan alisnya dan menatap Oliver dengan pandangan yang berbeda, tidak sinis lagi. “Apa hubungannya?” Tanya gadis itu.

“Suatu alasan yang belum bisa ku katakan.” Jawab Oliver sambil tersenyum canggung. Tidak lama kemudian, Nicole ikut tersenyum sambil menahan tawanya.

“Baiklah, ku maafkan.” Kata Nicole. Oliver langsung tersenyum riang dan mencium kepala Nicole.

“Terima kasih!” Setelah mengatakan itu, ia langsung berlari pergi, dengan muka merah tentunya. Gisselle mendekati Nicole yang mukanya merah juga.

“Ia menyukaimu juga.” Kata Gisselle.

“Mana mungkin.” Komentar Nicole, dan mereka berdua melanjutkan berjalan menuju ruang rekreasi.

Baru saja mereka berbelok dan hendak menaiki tangga, terdengar sepasang langkah kaki di belakang mereka. Baik Gisselle maupun Nicole dan mendapati Fred dan George berlari ke arah mereka dan segera berlutut ‘menyembah’ pada mereka. Nicole langsung menunjukan muka sinis yang biasa ia tampilkan bila si kembar berusaha mengajaknya bicara.

“MAAFKAN KAMI.” Seru Fred dan George bersamaan.

“Kami sudah meminta maaf pada Harry..”Kata Fred
“..dan kami tidak akan melakukan kesalahan itu lagi.” Lanjut George. Mereka berdua menatap Nicole dengan pandangan memelas.

“JADI TOLONG SELAMATKAN KAMI DARI UJIAN.” Seru mereka lagi bersama-sama. Pemandangan ini membuat Gisselle tidak bisa menahan tawanya. Bahkan Nicole pun terlihat seperti ingin menahan tawanya. Gadis berambut cokelat tua itu menutup mulutnya dengan tangan, memijat-mijat pelipisnya sendiri dan berbalik hingga memunggungi si kembar lalu melanjutkan menaiki tangga. Fred dan George menatap Nicole dengan pasrah.

“Cepat kalian berdua. Tidak ada waktu lagi untuk belajar jika tidak mulai dari sekarang.” Kata Nicole. Ekspresi Fred dan George berubah seketika dan langsung mengikuti Nicole bersama dengan Gisselle.

Persahabatan mereka kembali seperti semula dan tentu saja, ujian menjadi lancar bagi ketiga pemuda yang hatinya sudah menjadi tenang. Setelah ujian, Nicole yang sedang membantu McGonagall membawa buku-buku, bertemu dengan Harry, Ron dan Hermione. Ketiga anak itu menanyakan keberadaan Dumbledore dan terus menerus mengatakan akan ada yang menerobos masuk Fluffy dan mencuri batu bertuah. Baik Nicole dan McGonagall tentu kaget mendengar bahwa ketiga anak itu mengetahui keberadaan batu itu.

Setelah mereka pergi, dan menyelesaikan tugasnya membantu McGonagall, Nicole bergegas memeriksa keadaan Quirrell, yang masih berada di ruang guru. Setelah merasa tenang karena professor itu tidak melakukan hal yang mencurigakan, gadis itu pergi ke ruang rekreasi Gryffindor dan menghabiskan waktunya bersama yang lain, sama sekali tidak mengetahui bahwa hal yang luar biasa akan terjadi malam itu.

***

Pesta akhir tahun ajaran berjalan lebih meriah dari biasanya. Gryffindor memenangkan Piala Asrama berkat tindakan heroik Harry, Ron dan Hermione. Di tengah keributan yang di sebabkan karena tiga asrama merayakan kejatuhan Slytherin, Fred dan George menarik Gisselle dan Nicole.

“Kalian mau ke rumah kami selama musim panas ini? Ron mengajak Harry.” Kata Fred. Betapa kecewanya mereka ketika kedua gadis itu menggeleng dan mengatakan mereka tidak bisa.

“Sampai ketemu di tahun ketiga nanti, kalau begitu.”

***TBC***

A/N : Oke ini aneh dan terburu-buru *geleng-geleng*
Maafkan aku *sujud menyembah*
Dan tentu saja, mohon maaf apabila ada kesalahan *bows*

Original Plot by : Our Queen, JK Rowling
The ‘new’ plot Made by : Liz
Take out with full credits please~ ^^

0 komentar:

Posting Komentar