Chapter 12 : Won’t
Back Down
(Setting
: HP 2 )
Fred kembali seperti biasa dalam sekejap. Ia tetap
menggoda Nicole bersama saudara kembarnya. Ia ingin tetap disisi Nicole walau
dia tahu dia tidak akan pernah bisa mendapatkan hati gadis itu. Sementara itu,
Feli, adik Cedric, mulai mendapati sahabat si kembar Weasley itu cukup lucu.
"Elly." Kata Feli. Dia dan Elly sedang
duduk di ruang rekreasi asrama Hufflepuff. "Siapa lagi nama pemuda
itu?"
"Lee Jordan." Jawab Elly dengan bosan.
Feli sudah berulang kali menanyakan nama Lee tapi selalu melupakannya. Feli
menggumamkan nama Lee berulang kali seakan-akan sedang menghafalnya. Cedric
berjalan mendekati kedua gadis itu dan duduk di sebelah Elly.
"Ada apa dengannya?" Tanya Cedric sambil
menggerakan kepalanya ke arah Feli.
"Mengahafalkan nama Lee Jordan."
"Apa? Untuk apa?" Tanya Cedric, kaget
karena adiknya berusaha mengahafal nama laki-laki. Bagaimana pun juga, Cedric
adalah seorang kakak, dan seorang kakak pasti akan kaget bila adik perempuannya
bertingkah seperti itu.
Elly mengangkat bahu, "Entahlah. Tapi tadi ia
bilang kalau menurutnya Lee lucu."
Cedric langsung menoleh ke arah adiknya. "Feli,
kau tidak serius kan?" Tanyanya.
Feli mengangguk, "Serius kok!"
Dan Cedric sungguh sangat berharap kalau adiknya
menganggap Lee lucu lewat perkataannya dan bukan mukanya.
***
Berita kalau kapten team Quidditch Gryffindor dan
cucu angkat Dumbledore menjalin hubungan menyebar tidak kalah cepat dengan
berita-berita tentang penyerangan. Beberapa orang mengucapkan selamat pada mereka
berdua, sebagian yang lain berbisik-bisik di belakang mereka. Hal itu sama
sekali tidak di pedulikan Nicole. Namun saat guru-guru juga mengetahuinya, itu
hal lain. Beberapa guru sudah mulai mengamati Oliver dengan ketat, layaknya
seorang bapak yang mengawasi pacar anaknya. Bahkan McGonagall sudah benar-benar
berbicara pada Oliver mengenai hubungannya dengan Nicole dan mengatakan bahwa
bila Oliver menyakiti Nicole, jabatan kaptennya akan di cabut.
"Aku sudah 14 tahun dan mereka masih melakukan
hal ini." Keluh Nicole. Ia dan Gisselle sedang berjalan menuju Aula Utama
untuk makan malam. Gadis itu baru saja selesai menceritakan berbagai pengalaman
Oliver di minggu pertama setelah kabar bahwa mereka berdua pacaran tersebar.
"Lalu apa kata Oliver?" Tanya Gisselle.
"Ia pemuda yang luar biasa sabar." Kata
Nicole, membuat Gisselle menyikut temannya dengan jahil. Akhir-akhir ini
perubahan suasana hati Nicole terlihat jelas.
"Aduuh.. yang sedang berbunga-bungaa~!!"
Fred dan George mengagetkan kedua gadis itu dengan kemunculan mereka dari
belakang dan berbisik keras ke kuping Nicole. Gadis berambut cokelat itu
langsung memutar badannya dan memberikan si kembar dua pukulan yang lumayan di
tubuh mereka. Lee yang tadinya berdiri di belakang si kembar langsung meloncat
menyingkir.
"Kalian ini!!" Kata Nicole, kesal dengan
si kembar yang selalu menggodanya itu. Fred dan George hanya mengerang
kesakitan, membuat Gisselle mulai khawatir.
"S-sepertinya kau memukul mereka terlalu keras,
Nicole." Kata Gisselle, memandang George dengan cemas. Nicole mendengus
sementara Lee tertawa mendengar kata-kata Gisselle.
"Jangan tertipu. Mereka hanya
berpura-pura."
Penampilan mereka terbongkar seketika. Fred dan
George langsung menegakkan tubuh lagi lalu nyengir lebar ke arah kedua gadis.
George sudah akan mengatakan sesuatu ketika langkah kaki orang yang sedang
berlari menganggetkan mereka. Feli berlari dan berhenti tepat di depan Nicole.
Gadis berambut cokelat muda itu berusaha mengatakan sesuatu tapi nafasnya
terengah-engah sehingga ia mengalami
kesulitan berkata-kata.
"Tenangkan dirimu dulu." Kata Lee sambil
mendekati Feli. Mata Feli melebar dan menunjuk Lee.
"Lee Jordan!" Teriaknya, membuat semua
orang yang melihatnya bingung. Tentu saja yang paling bingung adalah Lee
sendiri.
"Ya namaku Lee Jordan." Jawab Lee, masih
bingung. Feli menatap pemuda
itu selama beberapa saat sehingga si kembar tertawa kecil dan Nicole berdeham
pelan.
“Ada
apa Feli?”
Pertanyaan
Nicole membuat gadis yang lebih muda itu menyadari tujuan awalnya kembali. Ia mengalihkan pandangan
dari Lee ke Nicole.
"Nicole! Oliver baru saja di panggil ke ruang
kepala sekolah!" Kata Feli. Tanpa berkata apa-apa lagi, Nicole langsung
berlari pergi menuju ruangan kakeknya itu, meninggalkan yang lain, masih belum
mencerna kata-kata Feli.
"Ke-kenapa Oliver di panggil ke ruang kepala
sekolah?" Tanya Gisselle bingung.
"Kutebak ini sama kasusnya dengan guru-guru
yang lain." Kata Fred. "Bagaimanapun juga Nicole adalah anak yang
mereka besarkan sejak kecil." Kata Fred seraya melanjutkan berjalan menuju
Aula Utama, Gisselle mengangguk-angguk tanda ia mengerti lalu berjalan
mengikuti si kembar.
"Kau tidak ikut?” Tanya Lee ketika melihat Feli tidak bergerak dari
tempatnya. Feli yang tadi sedang berpikir serius tersentak kaget mendengar
suara Lee.
“Lee
Jordan!” Kata gadis itu lagi. Lee terkejut, kemudian ia merasa setengah
bingung, setengah geli.
“Ada
apa?” Tanya Lee. “Kau berulang kali menyebutkan namaku.”
“Bisakah
kita menjadi teman?”
Oke,
kali ini Lee benar-benar merasa bingung. Feli menjulurkan tangannya dan
tersenyum lebar pada Lee, matanya berbinar-binar seperti jika ia sedang melihat
Nicole yang dia idolakan itu. Dengan canggung, Lee menyambut uluran tangan Feli
dan tangannya di jabat dengan bersemangat oleh gadis itu.
“Ah
aku harus pergi. Cho menungguku. Sampai nanti Lee!!” Setelah berkata begitu,
Feli berlari pergi. Sebelum ia menghilang dari pandangan Lee, gadis itu
berbalik dan berteriak pada Lee.
“Oh
ya! Dan menurutku, Lee, kau itu lucu!!”
Lee
hanya bisa bengong dengan mulut terbuka, yang bisa di bilang cukup lebar,
sebagai balasan. Ia tetap melakukan hal itu bahkan setelah Feli pergi. Beberapa
detik setelah Feli, Flitwick, guru Mantra, berjalan dari arah belakang Lee dan
mendekati pemuda itu.
“Jordan!
Sedang apa kau berdiri dengan mulut terbuka seperti itu? Hentikan tingkah
memalukanmu itu!”
***
Nicole
mendorong pintu masuk ruangan kepala sekolah hingga terbanting terbuka. Hanya
ada dua orang yang ada di dalam sana, Dumbledore yang sedang duduk tenang di
kursinya, menatap Nicole sambil tersenyum, dan Oliver yang berdiri di hadapan
professor tua. Muka pemuda yang berumur 16 tahun itu terlihat senang ketika
melihat Nicole, tapi Nicole masih bisa melihat kalau sesaat sebelum ia masuk
kedalam ruangan, Oliver merasa gugup luar biasa.
Nicole
langsung berlari ke sisi pemuda itu dan menggenggam tangannya dengan lembut.
Oliver tersenyum tipis dan menggenggam balik tapi Nicole tidak sedang
memandangnya, gadis itu sedang memandang kakeknya.
“Kenapa
kakek memanggil Oliver ke ruangan ini?” Kata Nicole dengan tegas.
Dumbledore
menatap Nicole, lalu melirik Oliver, sebelum kembali memandang Nicole kembali.
“Kami hanya bercakap-cakap saja, benarkan Mr. Wood?” Kata Dumbledore dengan
tenang. Oliver hanya mengangguk beberapa kali dengan tegang. “Tidak usah marah
Nicole sayangku. Nah, kalau begitu, aku akan pergi makan malam.”
Professor
tua itu bangkit berdiri dan meninggalkan ruangan bundar itu, meninggalkan
Nicole dan Oliver berdua saja. Setelah ujung jubah Dumbledore menghilang,
Oliver menghembuskan nafas lega.
“Tenang.
Dia tidak memarahiku atau apapun.” Kata Oliver pada pacarnya. Nicole
memandangnya dengan khawatir, sedikit takut kakeknya melakukan sesuatu pada
Oliver. “Dia hanya benar-benar menyayangimu.” Lanjut Oliver seraya mengecup
kepala Nicole dengan lembut.
“Kau
yakin?” Tanya Nicole, masih belum benar-benar yakin bahwa kakeknya tidak
menanyai Oliver dengan hal yang aneh-aneh.
“Kau
tidak percaya padaku?”
Muka
Nicole memerah ketika melihat Oliver mendekatkan wajahnya. Dengan pelan, ia
menjawab dengan sebuah anggukan. Mendadak Oliver memberikan ciuman kilat di
bibir Nicole dan menarik gadis itu kepelukannya.
“Walaupun
seandainya kakekmu benar-benar memarahiku tadi, aku tidak akan mundur. Aku
tidak akan menjauh darimu.” Bisik Oliver di kuping Nicole. Nicole bisa
merasakan mukanya memerah, dan, walau gadis itu tidak mengetahuinya, muka
Oliver juga merah padam. Pemuda itu akhirnya melepaskan pelukannya dan
menggandeng Nicole hingga Aula Utama. Meja Gryffindor langsung ramai ketika
melihat pasangan itu muncul bersamaan dengan tangan yang bergandengan dan muka
yang memerah. Tapi baik Oliver maupun Nicole tidak mempedulikan mereka semua.
Minggu-minggu
selanjutnya berjalan tanpa ada penyerangan apapun. Gossip mengenai Oliver dan
Nicole juga sudah mereda dan hampir semua orang berhenti menggodai mereka,
‘hampir’ karena anak-anak Slytherin masih suka melontarkan ejekkan dan si
kembar Weasley masih sangat senang menggodai Nicole.
Seminggu
sebelum Natal, sebuah pengumuman yang tertempel di papan pengumuman di Aula
Depan menarik perhatian banyak murid, Nicole dan Gisselle adalah salah satunya,
Fred, George dan Lee menyusul kedua gadis itu ke depan papan pengumuman.
"Klub
Duel!!" Kata Gisselle setelah ia membaca pengumuman yang ada. Gadis itu
menoleh kepada sahabatnya. "Sepertinya menarik, kita ikut?"
Nicole
membaca pengumuman itu berulang kali dengan dahi yang mengkerut.
"Entahlah. Jika gurunya Lockhart, aku ragu kita bisa belajar banyak."
Komentar Nicole membuat Fred, George dan Lee tertawa terbahak-bahak. Namun
karena Gisselle terus mendesaknya, akhirnya Nicole setuju untuk ikut Klub
tersebut.
"Kalian
sedang apa?" Suara Elly terdengar di belakang mereka. Dan benarlah, Elly,
Cedric dan Feli berdiri di belakang mereka. Melihat Feli, Lee langsung menjadi
salah tingkah. Sebaliknya, ketika melihat Lee, Feli tersenyum lebar dan
melambaikan tangannya dengan bersemangat.
"Elly!
Ada Klub Duel. Aku dan Nicole akan ikut, bagaimana denganmu?" Kata
Gisselle. Elly maju ke sebelahnya dan membaca pengumuman itu.
"Sepertinya
menarik. Aku ikut." Kata Elly sambil tersenyum pada Gisselle. Gisselle
tampak senang sekali. Gadis brunette itu menoleh pada teman-temannya yang lain.
"Bagaimana
dengan kalian?" Tanya Gisselle. Betapa bahagianya dia ketika
teman-temannya mengatakan bahwa mereka akan ikut juga. Nicole menepuk kepala
temannya yang memang sedikit polos itu.
Malamnya,
mereka semua berkumpul di Aula Utama. Nicole, Elly dan si kembar bergumam protes
ketika Lockhart yang muncul untuk mengajar mereka, sementara Gisselle dan Feli
berbinar-binar karena senang. Lalu Snape muncul sebagai asisten Lockhart dan
sebagian besar anak Gryffindor mencibir protes tanpa suara.
Peragaan
duel tidak ada yang spesial menurut Nicole. Tidak ada sampai mendadak Harry
berbicara dengan suara mendesis pada seekor ular yang baru saja di munculkan
oleh Malfoy. Seluruh anak kecuali Elly tersentak kaget dan langsung
berbisik-bisik cepat antar satu dengan yang lain. Klub Duel langsung di
bubarkan dan Nicole pergi bersama teman-temannya ke suatu tempat yang sepi
untuk berdiskusi tentang apa yang baru saja terjadi.
"Elly."
Kata Nicole. "Adikmu seorang Parselmouth?"
"Seorang
apa?" Tanya Elly, tidak familiar dengan kata yang baru saja di ucapkan
Nicole.
"Parselmouth,
artinya orang yang bisa berbicara dengan ular. Apa kau juga?" Tanya
Nicole. Gisselle, si kembar, Cedric, Lee dan Feli menatap Elly dengan penasaran
dan juga cemas.
"Dia
pernah bercerita kalau dia berbicara dengan ular di kebun binatang. Aku tidak
pernah bisa berbicara dengan ular, aku sudah pernah mencobanya ketika Harry
memberi tahuku dia berbicara dengan ular. Kenapa? Apakah itu hal yang
buruk?" Kata Elly, ikut cemas.
Nicole
meremas kedua tangannya. "Cukup buruk. Salazar Slytherin adalah seorang
Parselmouth dan sekarang seluruh sekolah pasti mengira bahwa Harry adalah
penerus Salazar yang membuka Kamar Rahasia."
Benar
seperti kata Nicole, Harry langsung menjadi topik pembicaraan dan di jauhi
hampir seluruh sekolah. Si kembar berusaha menghibur Harry dengan berpura-pura
bahwa Harry adalah pewaris sebenarnya dan bertingkah konyol. Elly juga ikut
menjadi topik karena dia adalah kakak Harry, tapi Cedric selalu disisinya,
membantunya.
Pagi
hari setelah kejadian di Klub Duel itu, seluruh sekolah di kagetkan dengan
teriakan Peeves. Tentu saja semua anak langsung berhamburan ke lokasi hantu
jahil itu. Pemandangan Harry yang berdiri di dekat Justin, seorang anak
Hufflepuff, yang membatu dan Nick yang hanya melayang dengan warna hitam
berasap tidak terlewatkan oleh mereka. Beberapa anak menjerit, seperti Gisselle
yang sekarang bersembunyi di belakang tubuh Nicole.
McGonagall
langsung muncul beberapa detik kemudian dan menyuruh anak-anak kembali ke ruang
kelas mereka. Cedric harus memegang tangan Elly dan menariknya pergi karena
gadis itu berusaha lari ke sisi adiknya. Nicole juga menggiring Gisselle
kembali ke kelas Mantra mereka.
"Benarkah
Harry adalah pewaris Slytherin?" Tanya Gisselle pelan.
"Omong
kosong. Itu tidak mungkin. Harry tidak akan pernah menyerang orang." Jawab
Nicole.
Namun
hanya sedikit orang yang berpikiran sama dengan Nicole. Beberapa orang tua
sudah meminta anak-anak mereka pulang saat liburan Natal nanti. Nenek Gisselle
juga meminta gadis itu pulang sehingga dengan enggan, gadis brunette itu pulang
saat liburan tiba. Hari Natal pun berlalu dengan cepat dan muncul desas-desus
bahwa Hermione Granger diserang oleh pewaris Slytherin mulai bermunculan di
akhir liburan. Harry dan Ron langsung menjelaskan pada Nicole apa yang
sebenarnya terjadi ketika gadis itu bertanya.
"Kalian
tahu, kalian telah melanggar banyak peraturan?" Kata Nicole. Harry dan Ron
menunduk menatap kaki mereka. Nicole menghembuskan nafas pasrah, "Aku
tidak akan melaporkan kalian, tapi jangan berbuat gegabah lagi seperti
itu." Baik Ron maupun Harry langsung mengucapkan janji mereka.
Februari
pun tiba tanpa ada serangan satupun dan semua orang mulai lega karena mengira
penyerangan dari pewaris Slytherin telah berhenti. Namun bagi Nicole, ada serangan
baru baginya. Fakta bahwa dalam kurang dari dua minggu, hari Valentine akan
tiba. Selurub gadis sudah mulai berisik mengenai hal itu, tak terkecuali, Elly
dan Gisselle.
Atas
desakan mereka, akhirnya Nicole membuat strawberry celup cokelat. Tentu saja ia
memasak dibantu oleh Gisselle karena Nicole sama sekali tidak bisa memasak.
Pagi di hari Valentine, seluruh anak di kejutkan dengan dekorasi Aula Utama
yang agak berlebihan. Nicole, yang datang cukup pagi, di sambut oleh Lockhart
yang memakai jubah pink.
"Nicole
sayangku! Happy Valentine!!" Kata Lockhart.
"Happy
Valentine juga professor." Jawab Nicole dengan enggan, walau Lockhart
tampaknya tidak menyadarinya. Mendadak seorang kurcaci berpakaian cupid berlari
ke arah Nicole dan memberikannya sebuah kartu.
"Ah
cupid manisku. Itu adalah kartu khusus untukmu Nicole sayang. Semoga harimu
cerah!!" Lockhart mengacak-acak rambut Nicole dan berjalan dengan riang ke
meja guru. Nicole menyimpan kartu itu tanpa membacanya, ia berjanji pada
dirinya sendiri kalau dia akan membakarnya dalam kesempatan pertama.
Oliver
masuk ke Aula Utama lebih telat dari biasanya karena latihan Quidditch yang
melelahkan malam sebelumnya. Angelina, Alicia dan Katie juga telat, si kembar
dan Harry bahkan belum muncul di Aula sama sekali. Gisselle menyikut Nicole
pelan dan langsung memfokuskan dirinya pada makanannya. Oliver menemukan Nicole
di meja Gryffindor dan langsung duduk di sebelahnya.
"Dekorasi
yang wah." Kata Oliver setelah ia bertukar salam dengan Nicole. Nicole
mengangguk setuju dan memandang pemuda di sebelahnya itu. Dia hendak memberikan
hadiahnya sebelum si kembar muncul dan menghancurkan segalanya.
"Oliver,
ini untukmu." Kata Nicole. Ia menarik sebuah kotak yang sudah dihias dari
tasnya dan memberikannya pada Oliver. Beberapa anak yang melihat hal itu
terkikik pelan sementara muka Oliver sendiri memerah. "Happy
Valentine." Lanjut Nicole setelah Oliver mengambil hadiahnya.
"Terima
kasih." Kata Oliver. Pemuda itu langsung membuka kotaknya dengan hati-hati
dan mengambil strawberry berlapis cokelat yang di buat Nicole dengan susah
payah lalu memakannya
"Aku
tidak bisa memasak, jadi mungkin rasanya tidak enak." Ujar Nicole, sedikit
malu.
"Tidak,
ini sempurna. Terima kasih banyak." Kata Oliver.
Nicole
bisa merasakan wajahnya memanas lagi, "S-sama-sama."
***
Pertandingan
Quidditch berikutnya sudah didepan mata sehingga team Gryffindor berlatih
mati-matian hingga malam hari. Merasa kasihan, akhirnya Nicole dan Gisselle
membantu Fred dan George mengerjakan tugas mereka hingga larut malam.
"Entah
apa yang kami lakukan tanpa kalian.." Gumam Fred ketika ia berhasil
menyelesaikan tugas mengarang dari Snape. George juga menggumamkan kata-kata
yang sama.
"Tapi
bantuan ini hanya berlaku bila bagi kami kalian memang sudah
membutuhkannya." Kata Nicole dengan tegas.
"Kami
mengerti. Tenang saja." Jawab George.
Pagi
di hari pertandingan melawan Hufflepuff, matahari bersinar cerah. Seakan-akan
tidak mau kalah, muka Oliver juga berseri-seri. Ia terus menyuruh anggota team
nya makan walau piringnya sendiri kosong. Nicole memandang pacarnya dengan
kening berkerut.
"Kau
juga harus makan." Kata Nicole seraya menyendokan telur aduk ke piring
Oliver. Kerutannya bertambah ketika Oliver mengatakan kalau ia tidak lapar.
"Makan." Suara Nicole terdengar luar biasa tegas karena Oliver
langsung menyuap sesendok penuh telur aduk itu ke mulutnya.
"Hanya
Nicole yang bisa membuat kapten kita seperti itu." Komentar Katie sambil
tertawa. Oliver memang suka keras kepala, tapi hal itu sering tidak bertahan
lama bila berhadapan dengan Nicole.
Setelah
mengucapkan selamat berhasil dan memberi Oliver kecupan kilat di pipi, Nicole
berjalan menuju tempat duduk penonton bersama Gisselle.
"Ku
perhatikan kalian berdua sudah tidak canggung bersama." Kata Gisselle.
Nicole tersenyum dan memandang Gisselle.
"Bagaimana
denganmu Gisselle? Ada perkembangan dengan George?" Muka Gisselle langsung
memerah mendengar pertanyaan Nicole. Nicole tertawa melihat reaksi Gisselle.
"Katakan saja bila aku bisa membantu dengan sesuatu."
Gisselle
mengangguk. Ketika mereka berdua sampai di tempat biasa mereka, dan
pertandingan hampir di mulai, Ron lari dengan tergesa-gesa ke arah mereka.
"Dimana
Hermione?" Tanya Gisselle saat gadis sahabat Ron itu tidak kelihatan.
"Perpustakaan."
Jawab Ron sambil berusaha mengatur nafasnya. Baru saja pemuda itu duduk ketika
McGonagall berjalan memasuki lapangan dengan megafon besar di tangannya.
"Pertandingan
hari ini di batalkan." Kata McGonagall. Stadion langsung menjadi ramai dan
Nicole bisa melihat para pemain langsung mendekati McGonagall.
"Ayo
kita periksa." Kata Nicole. Ia berdiri, diikuti dengan Gisselle dan Ron.
Suara 'buu-buu' terdengar jelas dari seluruh penjuru di lapangan itu. Suara
McGonagall kembali terdengar, mengalahkan suara para murid.
"Seluruh
murid diminta kembali ke ruang rekreasi asrama masing-masing. Kepala Asrama
akan memberikan keterangan yang lebih jelas. Secepat mungkin. Ayo ayo!"
Dan seluruh murid pun bangkit berdiri dan mengikuti perintah McGonagall. Setelah
wanita yang sudah berumur itu selesai memberikan pengumuman, Nicole, Gisselle
dan Ron tiba di lapangan dan berlari ke arah kerumunan pemain. Mendadak
McGonagall dan Harry berjalan berdua menuju ke kastil, dan berpaspasan dengan
Nicole, Gisselle dan Ron. McGonagall menatap Ron lalu Nicole dan Gisselle.
"Mr.
Weasley, ikutlah denganku juga. Kalian berdua," McGonagall menatap kedua
gadis itu. "..segera kembali lah ke ruang rekreasi."
Nicole
dan Gisselle saling berpandangan sementara McGonagall pergi bersama Harry dan
Ron. Tidak lama kemudian, Oliver dan si kembar mendekati mereka, sudah berganti
baju dari seragam Quidditch menjadi seragam sekolah yang biasa.
"Apakah
professor memberi tahumu alasan ia menghentikan pertandingan ini?" Tanya
Oliver pada Nicole. Gadis itu menggeleng dan langsung mengatakan ulang
perkataan McGonagall tadi.
"Sebaiknya
kita pergi ke ruang rekreasi saja." Kata Gisselle. Mereka semua setuju dan
langsung berjalan menuju ruang rekreasi. Ruang rekreasi Gryffindor penuh sesak
dan ramai karena ocehan. Nicole berhasil mendapat tempat duduk dan Oliver duduk
di sebelahnya sementata Gisselle dan si kembar duduk di sofa panjang tidak jauh
dari mereka.
Tidak
lama kemudian, McGonagall muncul bersama Harry dan Ron. Ia membuka gulungan
perkamen dan membacanya dengan suara keras.
"Setiap
murid sudah harus kembali ke ruang rekreasi asrama mereka paling lambat pukul
enam sore. Tak seorang murid pun diizinkan meninggalkan asrama setelah waktu
itu. Kalian akan ditemani seorang guru ke semua kelas setiap pergantian
pelajaran.”
McGonagall
melanjutkan pengumumannya. Ketika ia sampai mengenai latihan dan pertandingan
Quidditch yang di tiadakan, Nicole bisa merasakan tubuh Oliver menegang
disebelahnya. Hal tersebut pasti sangat mengejutkan bagi pemuda itu. Bagaimana
pun juga, Quidditch adalah hidupnya.
Muka
McGonagall tampak cemas dan dengan suara agak tercekat ia mengatakan
pendapatnya mengenai mungkin sekolah harus di tutup. Nicole menggigit bibir
bawahnya dengan cemas, jika sekolah itu di tutup, artinya kakeknya akan
kehilangan pekerjaannya dan ia kehilangan rumahnya.
Ruang
rekreasi langsung ramai ketika McGonagall meninggalkan ruangan itu. Gisselle
dan si kembar langsung pergi ke tempat Nicole dan Oliver.
“Apa
yang akan kita lakukan?” Tanya Gisselle cemas. “Sekolah akan di tutup?”
“Apakah
kau bisa menanyakan kakekmu, Nicole?” Tanya George. “Jangan sampai Hogwarts di
tutup.”
Nicole
memandang kedua tangannya yang sekarang terkepal di pangkuannnya. “Kurasa akan
susah bertemu kakek saat ini, dengan adanya segala peraturan baru itu. Tapi
kuharap mereka tidak akan menutup sekolah ini. Hogwarts adalah rumahku sejak
aku berumur satu tahun.”
Malam
harinya, larut malam sekali, McGonagall masuk kedalam kamar tempat Nicole sedang
tidur dan membangunkan gadis itu. Wanita itu menempatkan jarinya di depan
bibirnya dan meminta Nicole untuk mengikutinya tanpa bersuara. Nicole mengangguk
dan mengambil jaketnya sebelum mengikuti McGonagall keluar dari kamar dan dari
ruang rekreasi Gryffindor.
“Kita
akan pergi kemana professor?” Tanya Nicole dalam bisikan. Koridor ramai dengan
para guru, prefect dan hantu yang berjaga berpasangan. Semua orang yang melihat
Nicole memandang McGonagall dengan bingung tapi professor itu mengabaikan
mereka semua dan tetap berjalan. Tidak punya pilihan lain, Nicole mengikutinya.
“Kepala
sekolah memanggilmu.” Kata McGonagall dengan cepat. Mereka berdua menaiki
tangga di balik patung gargoyle menuju ruang kepala sekolah, tapi McGonagall
tidak ikut masuk. Di dalam ruangan, Nicole melihat kakeknya sedang mengepak
beberapa barang milik pribadinya.
“Kakek?
Kenapa.. Ada apa? Apa yang terjadi?” Nicole merasa panik melihat kakeknya
bertindak seakan-akan hendak meninggalkan sekolah. Dumbledore menoleh dan
berjalan ke arah cucunya itu.
“Nicole.”
Kata Dumbledore. Dia memegang kedua pundak cucunya itu. “Dengarkan aku
baik-baik. Dewan Sekolah telah menskorsku dari sekolah..”
“Tidak!!”
Kata Nicole, suaranya cukup keras. “Mereka tidak bisa melakukan itu!” Gadis itu
menolak untuk percaya bahwa kakeknya telah di skors dari sekolah.
“Mereka
bisa, sayangku, dan mereka telah melakukannya. Sekarang dengarkan perintahku.
Fawkes akan ada dalam perawatanmu, dan bila dia menunjukan tanda-tanda akan
terbang ke suatu tempat, berikan ini padanya.” Dumbledore memandang Nicole
dengan serius dan menyerahkan topi seleksi ke dalam tangan Nicole. Topi yang
sudah di coba Nicole berulang kali sejak kecil dan, tempat ia biasa menemukan
pedang indah bertulisan ‘Gordic Gryffindor’ yang setelah ia cukup besar, ia
ketahui adalah milik salah satu penyihir terhebat yang pernah ada.
Nicole
tidak mengerti akan tugasnya, namun bila itu perintah dari kakeknya, maka ia
akan melakukannya. Ia menggenggam erat topi itu, sesaat ia bisa merasakan ujung
pedang yang secara ajaib akan muncul bila Nicole menginginkannya. “Aku
mengerti. Tapi kau akan kembali kan?”
Dumbledore
tersenyum dan mengusap kepala Nicole. “Tentu saja. Berhati-hatilah Nicole,
ingat tugasmu. Sampai berjumpa lagi.” Setelah berkata begitu, Dumbledore
mencium dahi Nicole dan berjalan ke luar ruangan. Nicole memandang topi usang
itu dan segera menyembunyikannya di balik jaketnya.
***
Berita
bahwa Dumbledore telah di skors telah menyebar dan menambah ketakutan di wajah
setiap anak. Malfoy membanggakan ayahnya yang telah bisa mengusir Dumbledore
berulang kali, membuat Nicole harus menahan amarahnya dan tidak meninju muka
pemuda pirang itu. Beberapa orang menanyai Nicole tentang keberadaan Dumbledore
sekarang, dan Nicole menjawab ia tidak tahu pasti, walau gadis itu menduga
kakeknya pulang ke rumah mereka berdua yang tersembunyi di Gordic’s Hollow.
Tiga
hari sebelum ujian sekolah dimulai, McGonagall memberikan pengumuman sewaktu
sarapan. “Aku punya kabar baik untuk kalian.” Katanya, menimbulkan suara
penasaran terdengar dari berbagai arah. Berbagai tebakan pun di lontarkan, tapi
tidak ada yang mengalahkan tebakan dari Oliver.
“Pertandingan
Quidditch akan kembali di adakan!!” Teriakan pemuda itu menghasilkan tatapan
tajam dari pacarnya sendiri.
“Hanya
itukah yang kau pikirkan?” Tanya Nicole, membuat Oliver langsung mengatakan
bahwa ia hanya bercanda dan segera meminta maaf pada gadis itu. McGonagall menyampaikan
berita baiknya, bahwa seluruh korban akan bisa disembuhkan dalam waktu dekat,
membuat seluruh orang di aula, kecuali yang berasal dari Slytherin bersorak.
“Semoga
dengan ini penyerangan berakhir..” Kata Gisselle, dan teman-temannya mengangguk
setuju.
Namun
yang mereka harapkan tidak terjadi, dan penyerangan berikutnya pun terjadi.
Saat itu Nicole, Gisselle, Lee dan si kembar sedang mengikuti pelajaran Ramalan
ketika suara McGonagall yang sudah di keraskan dengan sihir terdengar dari
seluruh penjuru sekolah.
“Semua
murid diminta untuk kembali ke ruang rekreasi asrama masing-masing dan semua
guru diminta berkumpul di ruang guru. Segera.” Sedetik setelah pengumuman itu,
anak-anak langsung melompat berdiri dan mulai berebut keluar ruangan, merasa
ketakutan karena mereka semua mengira terjadi serangan lainnya.
Nicole
menggenggam tangan Gisselle agar tidak terpisah dengannya di tengah kerumunan
anak-anak yang berusaha kembali ke ruang rekreasi masing-masing. Mengikuti
jejak Nicole, George memegang tangan Gisselle yang lain dan Fred memegang tangan
George lalu Lee memegang tangan Fred. Sedikit konyol tapi itu efektif dalam
menjaga mereka tetap bersama hingga ruang rekreasi.
“Siapa
yang menjadi korban kali ini?” Beberapa anak melontarkan pertanyaan yang sama.
Satu persatu anak-anak Gryffindor bermunculan di ruang rekreasi. Oliver, yang
muncul sedikit belakangan, mencari Nicole di tengah kerumunan dan langsung
berlari ke sisi gadis itu secepatnya.
“Aku
tidak apa-apa. Aku tidak apa-apa.” Kata Nicole berulang kali untuk menenangkan
Oliver. Ron dan Harry lalu muncul beberapa saat setelah Oliver muncul dengan
muka pucat pasi. Mereka berdua tidak menjawab apa-apa saat ditanya, Ron malah
memandang kakak-kakaknya dengan ekspresi ketakutan di wajahnya.
Penyebab
mereka berdua bertingkah seperti itu segera terungkap. McGonagall muncul dari
balik lukisan si Nyonya Gemuk dengan muka seakan-akan hendak menangis. Dengan
suara serak ia memberi tahu korban terbaru dan terakhir dari pewaris Slytherin
adalah Ginny Weasley. Gadis malang itu telah di bawa kedalam Kamar Rahasia dan
tidak bisa di selamatkan lagi.
Sisa
hari itu, Nicole dan Gisselle hanya duduk disebelah si kembar, Harry dan Ron
duduk di seberang mereka sementara Percy sedang mengirim surat pada Mr. dan
Mrs. Weasley. Gisselle menggenggam tangan George yang duduk disebelahnya, tapi
bahkan gadis itu tidak bisa berkata apa-apa pada si kembar yang sedang
berkabung itu. Akhirnya Fred dan George pergi ke kamar mereka. Harry dan Ron
bercakap-cakap singkat lalu berdiri dan berjalan keluar ruang rekreasi. Nicole
memperhatikan kedua anak itu, namun tidak berkata apa-apa.
Perlahan-lahan,
ruang rekreasi mulai sepi karena yang lain mengikuti jejak si kembar untuk
tidur di kamar mereka. Gisselle juga mengatakan ia tidak bisa tahan lagi dan
bergegas ke kamarnya, Nicole memprediksi gadis berhati lembut itu sedang
menangis di kamarnya. Kini hanya tinggal Nicole dan Oliver di ruang rekreasi,
tidak bertukar sepatah kata pun. Mereka berdua hanya menatap api di perapian.
Ketukan
pelan di jendela membuat pasangan itu terlonjak kaget. Nicole lah yang pertama
bertindak. Gadis itu langsung mendekati jendela, langit diluar sudah mulai
gelap namun bulu burung yang tadi mengetuk jendela terlihat jelas seakan-akan
bulu itu menyala.
“Fawkes!”
Seru Nicole, karena memang burung peliharan milik kakeknya itulah yang mengetuk
jendela ruang rekreasi Gryffindor. Fawkes terbang ke salah satu puncak sofa
dekat perapian dan berkicau pelan.
“K-kenapa
dia ada disini?” Kata Oliver, masih kaget dengan kemunculan burung phoenix yang
indah itu. Nicole langsung mengingat perintah kakeknya dan berlari ke kamarnya.
Dengan cepat ia membuka kopernya dan mengambil topi usang lalu berlari kembali
ke ruang rekreasi.
“Ini.
Sekarang pergilah.” Kata Nicole seraya menyerahkan topi seleksi itu. Fawkes
berkicau sekali dan langsung terbang keluar, melewati jendela yang sama dengan
yang ia lewati tadi. Nicole mengawasi burung itu hingga hilang dari pandangannya.
“Sekarang
kita hanya bisa berharap pada keajaiban.” Gumam Nicole.
***
Seakan-akan
doa Nicole terkabul, gadis itu terbangun di sofa Gryffindor secara tersentak
kaget keesokan paginya. Tanpa sadar ia tertidur di pundak Oliver saat mereka
berdua menunggu di ruang rekreasi. Suara berisik yang berasal dari seorang
pemuda yang berlumuran debu dan tanah membangunkan Nicole dan lalu Oliver.
Ronald Weasley melangkah masuk kedalam ruang rekreasi sambil berteriak
keras-keras.
“Kami
berhasil!! Kami berhasil!!” Muka Ron terlihat luar biasa bahagia, ia
melonjak-lonjak sehingga debu mulai bertebaran kemana-mana.
“Tenangkan
dirimu Ron. Apa maksudmu dengan berhasil?” Tanya Nicole yang langsung mendekati
pemuda berambut merah itu.
“Kami,
maksudku, Harry dan aku berhasil menyelamatkan Ginny dan mengalahkan pewaris
Slytherin!!” Teriak Ron. Perlu beberapa detik untuk kedua orang yang lebih tua
itu untuk mencerna informasi sebelum mereka ikut bersorak juga. Tidak lama
kemudian, seluruh asrama Gryffindor bergabung bersama mereka, kecuali Gisselle,
yang tidak bersorak kegirangan, melainkan menangis lega.
Pesta
yang diadakan malam itu berjalan dengan luar biasa meriah. Mereka merayakan berakhirnya
horror pewaris Slytherin, kesembuhan para korban, selamatnya Ginny dan
kembalinya Dumbledore secara bersamaan. Sisa akhir tahun ajaran pun berakhir
dengan cepat. Ujian di tiadakan dan pelajaran Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam
juga dibatalkan karena Lockhart telah dibawa ke Rumah Sakit St. Mungo. Harry
dan Ron telah menceritakan petualangan mereka pada Hermione, Nicole, Gisselle,
Elly dan seluruh keluarga Weasley yang lain dan hampir tidak ada yang kecewa
mendengarnya, hanya Hermione yang merasa sedikit sedih. Gisselle mencabut semua
rasa kagumnya pada Lockhart ketika mendengar kebenarannya dari mulut Harry dan
Ron.
“Aku
tidak percaya ia melakukan hal itu!” Keluh Gisselle untuk kesekian kalinya. “Aku
merasa terkhianati.”
“Lain
kali, pilih idolamu dengan teliti.” Komentar Elly sementara yang lain tertawa
terbahak-bahak. Tidak terasa, mereka sudah harus berpisah di akhir tahun
ajaran. Nicole mengantar teman-temannya ke stasiun seperti biasa dan
mengucapkan perpisahan disana.
“Sampai
nanti Nicole!”
“Kami
akan mengirimu surat!”
“Jangan
bertambah galak ya!”
Berbagai
kalimat perpisahan diteriakan oleh teman-temannya, namun tidak ada yang bisa
menandingi milik Oliver. Sebelum pemuda itu masuk ke dalam kereta, ia menarik
Nicole mendekat dan mencium gadis itu tepat di mulut, membuat semua orang yang
melihatnya terpekik, bersorak dan berteriak kaget.
“Sampai
nanti.” Kata Oliver sambil nyengir dan berlari masuk kedalam kereta. Nicole
merasa dirinya bisa meleleh ditempat saat itu juga.
***TBC***
A/N : Oke mungkin akan
ada banyak kesalahan karena gue males nge cek ulang hahahaha
Maaf kalau aneh juga
ya hahahaha #plak
Mohon maaf apabila ada
kesalahan *bows*
Original Plot by : Our Queen, JK Rowling
The ‘new’ plot Made
by : Liz
Take
out with full credits please~ ^^

0 komentar:
Posting Komentar