Kamis, 29 Mei 2014

Hogwarts' Beloved : Chapter 12

Chapter 12 : Won’t Back Down
                                                (Setting : HP 2 )

Fred kembali seperti biasa dalam sekejap. Ia tetap menggoda Nicole bersama saudara kembarnya. Ia ingin tetap disisi Nicole walau dia tahu dia tidak akan pernah bisa mendapatkan hati gadis itu. Sementara itu, Feli, adik Cedric, mulai mendapati sahabat si kembar Weasley itu cukup lucu.

"Elly." Kata Feli. Dia dan Elly sedang duduk di ruang rekreasi asrama Hufflepuff. "Siapa lagi nama pemuda itu?"

"Lee Jordan." Jawab Elly dengan bosan. Feli sudah berulang kali menanyakan nama Lee tapi selalu melupakannya. Feli menggumamkan nama Lee berulang kali seakan-akan sedang menghafalnya. Cedric berjalan mendekati kedua gadis itu dan duduk di sebelah Elly.

"Ada apa dengannya?" Tanya Cedric sambil menggerakan kepalanya ke arah Feli.

"Mengahafalkan nama Lee Jordan."

"Apa? Untuk apa?" Tanya Cedric, kaget karena adiknya berusaha mengahafal nama laki-laki. Bagaimana pun juga, Cedric adalah seorang kakak, dan seorang kakak pasti akan kaget bila adik perempuannya bertingkah seperti itu.

Elly mengangkat bahu, "Entahlah. Tapi tadi ia bilang kalau menurutnya Lee lucu."

Cedric langsung menoleh ke arah adiknya. "Feli, kau tidak serius kan?" Tanyanya.

Feli mengangguk, "Serius kok!"

Dan Cedric sungguh sangat berharap kalau adiknya menganggap Lee lucu lewat perkataannya dan bukan mukanya.

***

Berita kalau kapten team Quidditch Gryffindor dan cucu angkat Dumbledore menjalin hubungan menyebar tidak kalah cepat dengan berita-berita tentang penyerangan. Beberapa orang mengucapkan selamat pada mereka berdua, sebagian yang lain berbisik-bisik di belakang mereka. Hal itu sama sekali tidak di pedulikan Nicole. Namun saat guru-guru juga mengetahuinya, itu hal lain. Beberapa guru sudah mulai mengamati Oliver dengan ketat, layaknya seorang bapak yang mengawasi pacar anaknya. Bahkan McGonagall sudah benar-benar berbicara pada Oliver mengenai hubungannya dengan Nicole dan mengatakan bahwa bila Oliver menyakiti Nicole, jabatan kaptennya akan di cabut.

"Aku sudah 14 tahun dan mereka masih melakukan hal ini." Keluh Nicole. Ia dan Gisselle sedang berjalan menuju Aula Utama untuk makan malam. Gadis itu baru saja selesai menceritakan berbagai pengalaman Oliver di minggu pertama setelah kabar bahwa mereka berdua pacaran tersebar.

"Lalu apa kata Oliver?" Tanya Gisselle.

"Ia pemuda yang luar biasa sabar." Kata Nicole, membuat Gisselle menyikut temannya dengan jahil. Akhir-akhir ini perubahan suasana hati Nicole terlihat jelas.

"Aduuh.. yang sedang berbunga-bungaa~!!" Fred dan George mengagetkan kedua gadis itu dengan kemunculan mereka dari belakang dan berbisik keras ke kuping Nicole. Gadis berambut cokelat itu langsung memutar badannya dan memberikan si kembar dua pukulan yang lumayan di tubuh mereka. Lee yang tadinya berdiri di belakang si kembar langsung meloncat menyingkir.

"Kalian ini!!" Kata Nicole, kesal dengan si kembar yang selalu menggodanya itu. Fred dan George hanya mengerang kesakitan, membuat Gisselle mulai khawatir.

"S-sepertinya kau memukul mereka terlalu keras, Nicole." Kata Gisselle, memandang George dengan cemas. Nicole mendengus sementara Lee tertawa mendengar kata-kata Gisselle.

"Jangan tertipu. Mereka hanya berpura-pura."

Penampilan mereka terbongkar seketika. Fred dan George langsung menegakkan tubuh lagi lalu nyengir lebar ke arah kedua gadis. George sudah akan mengatakan sesuatu ketika langkah kaki orang yang sedang berlari menganggetkan mereka. Feli berlari dan berhenti tepat di depan Nicole. Gadis berambut cokelat muda itu berusaha mengatakan sesuatu tapi nafasnya terengah-engah sehingga ia mengalami kesulitan berkata-kata.

"Tenangkan dirimu dulu." Kata Lee sambil mendekati Feli. Mata Feli melebar dan menunjuk Lee.

"Lee Jordan!" Teriaknya, membuat semua orang yang melihatnya bingung. Tentu saja yang paling bingung adalah Lee sendiri.

"Ya namaku Lee Jordan." Jawab Lee, masih bingung. Feli menatap pemuda itu selama beberapa saat sehingga si kembar tertawa kecil dan Nicole berdeham pelan.

“Ada apa Feli?”

Pertanyaan Nicole membuat gadis yang lebih muda itu menyadari tujuan awalnya kembali. Ia mengalihkan pandangan dari Lee ke Nicole.

"Nicole! Oliver baru saja di panggil ke ruang kepala sekolah!" Kata Feli. Tanpa berkata apa-apa lagi, Nicole langsung berlari pergi menuju ruangan kakeknya itu, meninggalkan yang lain, masih belum mencerna kata-kata Feli.

"Ke-kenapa Oliver di panggil ke ruang kepala sekolah?" Tanya Gisselle bingung.

"Kutebak ini sama kasusnya dengan guru-guru yang lain." Kata Fred. "Bagaimanapun juga Nicole adalah anak yang mereka besarkan sejak kecil." Kata Fred seraya melanjutkan berjalan menuju Aula Utama, Gisselle mengangguk-angguk tanda ia mengerti lalu berjalan mengikuti si kembar.

"Kau tidak ikut?” Tanya Lee ketika melihat Feli tidak bergerak dari tempatnya. Feli yang tadi sedang berpikir serius tersentak kaget mendengar suara Lee.

“Lee Jordan!” Kata gadis itu lagi. Lee terkejut, kemudian ia merasa setengah bingung, setengah geli.

“Ada apa?” Tanya Lee. “Kau berulang kali menyebutkan namaku.”

“Bisakah kita menjadi teman?”

Oke, kali ini Lee benar-benar merasa bingung. Feli menjulurkan tangannya dan tersenyum lebar pada Lee, matanya berbinar-binar seperti jika ia sedang melihat Nicole yang dia idolakan itu. Dengan canggung, Lee menyambut uluran tangan Feli dan tangannya di jabat dengan bersemangat oleh gadis itu.

“Ah aku harus pergi. Cho menungguku. Sampai nanti Lee!!” Setelah berkata begitu, Feli berlari pergi. Sebelum ia menghilang dari pandangan Lee, gadis itu berbalik dan berteriak pada Lee.

“Oh ya! Dan menurutku, Lee, kau itu lucu!!”

Lee hanya bisa bengong dengan mulut terbuka, yang bisa di bilang cukup lebar, sebagai balasan. Ia tetap melakukan hal itu bahkan setelah Feli pergi. Beberapa detik setelah Feli, Flitwick, guru Mantra, berjalan dari arah belakang Lee dan mendekati pemuda itu.

“Jordan! Sedang apa kau berdiri dengan mulut terbuka seperti itu? Hentikan tingkah memalukanmu itu!”

***

Nicole mendorong pintu masuk ruangan kepala sekolah hingga terbanting terbuka. Hanya ada dua orang yang ada di dalam sana, Dumbledore yang sedang duduk tenang di kursinya, menatap Nicole sambil tersenyum, dan Oliver yang berdiri di hadapan professor tua. Muka pemuda yang berumur 16 tahun itu terlihat senang ketika melihat Nicole, tapi Nicole masih bisa melihat kalau sesaat sebelum ia masuk kedalam ruangan, Oliver merasa gugup luar biasa.

Nicole langsung berlari ke sisi pemuda itu dan menggenggam tangannya dengan lembut. Oliver tersenyum tipis dan menggenggam balik tapi Nicole tidak sedang memandangnya, gadis itu sedang memandang kakeknya.

“Kenapa kakek memanggil Oliver ke ruangan ini?” Kata Nicole dengan tegas.

Dumbledore menatap Nicole, lalu melirik Oliver, sebelum kembali memandang Nicole kembali. “Kami hanya bercakap-cakap saja, benarkan Mr. Wood?” Kata Dumbledore dengan tenang. Oliver hanya mengangguk beberapa kali dengan tegang. “Tidak usah marah Nicole sayangku. Nah, kalau begitu, aku akan pergi makan malam.”

Professor tua itu bangkit berdiri dan meninggalkan ruangan bundar itu, meninggalkan Nicole dan Oliver berdua saja. Setelah ujung jubah Dumbledore menghilang, Oliver menghembuskan nafas lega.

“Tenang. Dia tidak memarahiku atau apapun.” Kata Oliver pada pacarnya. Nicole memandangnya dengan khawatir, sedikit takut kakeknya melakukan sesuatu pada Oliver. “Dia hanya benar-benar menyayangimu.” Lanjut Oliver seraya mengecup kepala Nicole dengan lembut.

“Kau yakin?” Tanya Nicole, masih belum benar-benar yakin bahwa kakeknya tidak menanyai Oliver dengan hal yang aneh-aneh.

“Kau tidak percaya padaku?”

Muka Nicole memerah ketika melihat Oliver mendekatkan wajahnya. Dengan pelan, ia menjawab dengan sebuah anggukan. Mendadak Oliver memberikan ciuman kilat di bibir Nicole dan menarik gadis itu kepelukannya.

“Walaupun seandainya kakekmu benar-benar memarahiku tadi, aku tidak akan mundur. Aku tidak akan menjauh darimu.” Bisik Oliver di kuping Nicole. Nicole bisa merasakan mukanya memerah, dan, walau gadis itu tidak mengetahuinya, muka Oliver juga merah padam. Pemuda itu akhirnya melepaskan pelukannya dan menggandeng Nicole hingga Aula Utama. Meja Gryffindor langsung ramai ketika melihat pasangan itu muncul bersamaan dengan tangan yang bergandengan dan muka yang memerah. Tapi baik Oliver maupun Nicole tidak mempedulikan mereka semua.

Minggu-minggu selanjutnya berjalan tanpa ada penyerangan apapun. Gossip mengenai Oliver dan Nicole juga sudah mereda dan hampir semua orang berhenti menggodai mereka, ‘hampir’ karena anak-anak Slytherin masih suka melontarkan ejekkan dan si kembar Weasley masih sangat senang menggodai Nicole.

Seminggu sebelum Natal, sebuah pengumuman yang tertempel di papan pengumuman di Aula Depan menarik perhatian banyak murid, Nicole dan Gisselle adalah salah satunya, Fred, George dan Lee menyusul kedua gadis itu ke depan papan pengumuman.

"Klub Duel!!" Kata Gisselle setelah ia membaca pengumuman yang ada. Gadis itu menoleh kepada sahabatnya. "Sepertinya menarik, kita ikut?"

Nicole membaca pengumuman itu berulang kali dengan dahi yang mengkerut. "Entahlah. Jika gurunya Lockhart, aku ragu kita bisa belajar banyak." Komentar Nicole membuat Fred, George dan Lee tertawa terbahak-bahak. Namun karena Gisselle terus mendesaknya, akhirnya Nicole setuju untuk ikut Klub tersebut.

"Kalian sedang apa?" Suara Elly terdengar di belakang mereka. Dan benarlah, Elly, Cedric dan Feli berdiri di belakang mereka. Melihat Feli, Lee langsung menjadi salah tingkah. Sebaliknya, ketika melihat Lee, Feli tersenyum lebar dan melambaikan tangannya dengan bersemangat.

"Elly! Ada Klub Duel. Aku dan Nicole akan ikut, bagaimana denganmu?" Kata Gisselle. Elly maju ke sebelahnya dan membaca pengumuman itu.

"Sepertinya menarik. Aku ikut." Kata Elly sambil tersenyum pada Gisselle. Gisselle tampak senang sekali. Gadis brunette itu menoleh pada teman-temannya yang lain.

"Bagaimana dengan kalian?" Tanya Gisselle. Betapa bahagianya dia ketika teman-temannya mengatakan bahwa mereka akan ikut juga. Nicole menepuk kepala temannya yang memang sedikit polos itu.

Malamnya, mereka semua berkumpul di Aula Utama. Nicole, Elly dan si kembar bergumam protes ketika Lockhart yang muncul untuk mengajar mereka, sementara Gisselle dan Feli berbinar-binar karena senang. Lalu Snape muncul sebagai asisten Lockhart dan sebagian besar anak Gryffindor mencibir protes tanpa suara.

Peragaan duel tidak ada yang spesial menurut Nicole. Tidak ada sampai mendadak Harry berbicara dengan suara mendesis pada seekor ular yang baru saja di munculkan oleh Malfoy. Seluruh anak kecuali Elly tersentak kaget dan langsung berbisik-bisik cepat antar satu dengan yang lain. Klub Duel langsung di bubarkan dan Nicole pergi bersama teman-temannya ke suatu tempat yang sepi untuk berdiskusi tentang apa yang baru saja terjadi.

"Elly." Kata Nicole. "Adikmu seorang Parselmouth?"

"Seorang apa?" Tanya Elly, tidak familiar dengan kata yang baru saja di ucapkan Nicole.

"Parselmouth, artinya orang yang bisa berbicara dengan ular. Apa kau juga?" Tanya Nicole. Gisselle, si kembar, Cedric, Lee dan Feli menatap Elly dengan penasaran dan juga cemas.

"Dia pernah bercerita kalau dia berbicara dengan ular di kebun binatang. Aku tidak pernah bisa berbicara dengan ular, aku sudah pernah mencobanya ketika Harry memberi tahuku dia berbicara dengan ular. Kenapa? Apakah itu hal yang buruk?" Kata Elly, ikut cemas.

Nicole meremas kedua tangannya. "Cukup buruk. Salazar Slytherin adalah seorang Parselmouth dan sekarang seluruh sekolah pasti mengira bahwa Harry adalah penerus Salazar yang membuka Kamar Rahasia."

Benar seperti kata Nicole, Harry langsung menjadi topik pembicaraan dan di jauhi hampir seluruh sekolah. Si kembar berusaha menghibur Harry dengan berpura-pura bahwa Harry adalah pewaris sebenarnya dan bertingkah konyol. Elly juga ikut menjadi topik karena dia adalah kakak Harry, tapi Cedric selalu disisinya, membantunya.

Pagi hari setelah kejadian di Klub Duel itu, seluruh sekolah di kagetkan dengan teriakan Peeves. Tentu saja semua anak langsung berhamburan ke lokasi hantu jahil itu. Pemandangan Harry yang berdiri di dekat Justin, seorang anak Hufflepuff, yang membatu dan Nick yang hanya melayang dengan warna hitam berasap tidak terlewatkan oleh mereka. Beberapa anak menjerit, seperti Gisselle yang sekarang bersembunyi di belakang tubuh Nicole.

McGonagall langsung muncul beberapa detik kemudian dan menyuruh anak-anak kembali ke ruang kelas mereka. Cedric harus memegang tangan Elly dan menariknya pergi karena gadis itu berusaha lari ke sisi adiknya. Nicole juga menggiring Gisselle kembali ke kelas Mantra mereka.

"Benarkah Harry adalah pewaris Slytherin?" Tanya Gisselle pelan.

"Omong kosong. Itu tidak mungkin. Harry tidak akan pernah menyerang orang." Jawab Nicole.

Namun hanya sedikit orang yang berpikiran sama dengan Nicole. Beberapa orang tua sudah meminta anak-anak mereka pulang saat liburan Natal nanti. Nenek Gisselle juga meminta gadis itu pulang sehingga dengan enggan, gadis brunette itu pulang saat liburan tiba. Hari Natal pun berlalu dengan cepat dan muncul desas-desus bahwa Hermione Granger diserang oleh pewaris Slytherin mulai bermunculan di akhir liburan. Harry dan Ron langsung menjelaskan pada Nicole apa yang sebenarnya terjadi ketika gadis itu bertanya.

"Kalian tahu, kalian telah melanggar banyak peraturan?" Kata Nicole. Harry dan Ron menunduk menatap kaki mereka. Nicole menghembuskan nafas pasrah, "Aku tidak akan melaporkan kalian, tapi jangan berbuat gegabah lagi seperti itu." Baik Ron maupun Harry langsung mengucapkan janji mereka.

Februari pun tiba tanpa ada serangan satupun dan semua orang mulai lega karena mengira penyerangan dari pewaris Slytherin telah berhenti. Namun bagi Nicole, ada serangan baru baginya. Fakta bahwa dalam kurang dari dua minggu, hari Valentine akan tiba. Selurub gadis sudah mulai berisik mengenai hal itu, tak terkecuali, Elly dan Gisselle.

Atas desakan mereka, akhirnya Nicole membuat strawberry celup cokelat. Tentu saja ia memasak dibantu oleh Gisselle karena Nicole sama sekali tidak bisa memasak. Pagi di hari Valentine, seluruh anak di kejutkan dengan dekorasi Aula Utama yang agak berlebihan. Nicole, yang datang cukup pagi, di sambut oleh Lockhart yang memakai jubah pink.

"Nicole sayangku! Happy Valentine!!" Kata Lockhart.

"Happy Valentine juga professor." Jawab Nicole dengan enggan, walau Lockhart tampaknya tidak menyadarinya. Mendadak seorang kurcaci berpakaian cupid berlari ke arah Nicole dan memberikannya sebuah kartu.

"Ah cupid manisku. Itu adalah kartu khusus untukmu Nicole sayang. Semoga harimu cerah!!" Lockhart mengacak-acak rambut Nicole dan berjalan dengan riang ke meja guru. Nicole menyimpan kartu itu tanpa membacanya, ia berjanji pada dirinya sendiri kalau dia akan membakarnya dalam kesempatan pertama.

Oliver masuk ke Aula Utama lebih telat dari biasanya karena latihan Quidditch yang melelahkan malam sebelumnya. Angelina, Alicia dan Katie juga telat, si kembar dan Harry bahkan belum muncul di Aula sama sekali. Gisselle menyikut Nicole pelan dan langsung memfokuskan dirinya pada makanannya. Oliver menemukan Nicole di meja Gryffindor dan langsung duduk di sebelahnya.

"Dekorasi yang wah." Kata Oliver setelah ia bertukar salam dengan Nicole. Nicole mengangguk setuju dan memandang pemuda di sebelahnya itu. Dia hendak memberikan hadiahnya sebelum si kembar muncul dan menghancurkan segalanya.

"Oliver, ini untukmu." Kata Nicole. Ia menarik sebuah kotak yang sudah dihias dari tasnya dan memberikannya pada Oliver. Beberapa anak yang melihat hal itu terkikik pelan sementara muka Oliver sendiri memerah. "Happy Valentine." Lanjut Nicole setelah Oliver mengambil hadiahnya.

"Terima kasih." Kata Oliver. Pemuda itu langsung membuka kotaknya dengan hati-hati dan mengambil strawberry berlapis cokelat yang di buat Nicole dengan susah payah lalu memakannya

"Aku tidak bisa memasak, jadi mungkin rasanya tidak enak." Ujar Nicole, sedikit malu.

"Tidak, ini sempurna. Terima kasih banyak." Kata Oliver.

Nicole bisa merasakan wajahnya memanas lagi, "S-sama-sama."

***

Pertandingan Quidditch berikutnya sudah didepan mata sehingga team Gryffindor berlatih mati-matian hingga malam hari. Merasa kasihan, akhirnya Nicole dan Gisselle membantu Fred dan George mengerjakan tugas mereka hingga larut malam.

"Entah apa yang kami lakukan tanpa kalian.." Gumam Fred ketika ia berhasil menyelesaikan tugas mengarang dari Snape. George juga menggumamkan kata-kata yang sama.

"Tapi bantuan ini hanya berlaku bila bagi kami kalian memang sudah membutuhkannya." Kata Nicole dengan tegas.

"Kami mengerti. Tenang saja." Jawab George.

Pagi di hari pertandingan melawan Hufflepuff, matahari bersinar cerah. Seakan-akan tidak mau kalah, muka Oliver juga berseri-seri. Ia terus menyuruh anggota team nya makan walau piringnya sendiri kosong. Nicole memandang pacarnya dengan kening berkerut.

"Kau juga harus makan." Kata Nicole seraya menyendokan telur aduk ke piring Oliver. Kerutannya bertambah ketika Oliver mengatakan kalau ia tidak lapar. "Makan." Suara Nicole terdengar luar biasa tegas karena Oliver langsung menyuap sesendok penuh telur aduk itu ke mulutnya.

"Hanya Nicole yang bisa membuat kapten kita seperti itu." Komentar Katie sambil tertawa. Oliver memang suka keras kepala, tapi hal itu sering tidak bertahan lama bila berhadapan dengan Nicole.

Setelah mengucapkan selamat berhasil dan memberi Oliver kecupan kilat di pipi, Nicole berjalan menuju tempat duduk penonton bersama Gisselle.

"Ku perhatikan kalian berdua sudah tidak canggung bersama." Kata Gisselle. Nicole tersenyum dan memandang Gisselle.

"Bagaimana denganmu Gisselle? Ada perkembangan dengan George?" Muka Gisselle langsung memerah mendengar pertanyaan Nicole. Nicole tertawa melihat reaksi Gisselle. "Katakan saja bila aku bisa membantu dengan sesuatu."

Gisselle mengangguk. Ketika mereka berdua sampai di tempat biasa mereka, dan pertandingan hampir di mulai, Ron lari dengan tergesa-gesa ke arah mereka.

"Dimana Hermione?" Tanya Gisselle saat gadis sahabat Ron itu tidak kelihatan.

"Perpustakaan." Jawab Ron sambil berusaha mengatur nafasnya. Baru saja pemuda itu duduk ketika McGonagall berjalan memasuki lapangan dengan megafon besar di tangannya.

"Pertandingan hari ini di batalkan." Kata McGonagall. Stadion langsung menjadi ramai dan Nicole bisa melihat para pemain langsung mendekati McGonagall.

"Ayo kita periksa." Kata Nicole. Ia berdiri, diikuti dengan Gisselle dan Ron. Suara 'buu-buu' terdengar jelas dari seluruh penjuru di lapangan itu. Suara McGonagall kembali terdengar, mengalahkan suara para murid.

"Seluruh murid diminta kembali ke ruang rekreasi asrama masing-masing. Kepala Asrama akan memberikan keterangan yang lebih jelas. Secepat mungkin. Ayo ayo!" Dan seluruh murid pun bangkit berdiri dan mengikuti perintah McGonagall. Setelah wanita yang sudah berumur itu selesai memberikan pengumuman, Nicole, Gisselle dan Ron tiba di lapangan dan berlari ke arah kerumunan pemain. Mendadak McGonagall dan Harry berjalan berdua menuju ke kastil, dan berpaspasan dengan Nicole, Gisselle dan Ron. McGonagall menatap Ron lalu Nicole dan Gisselle.

"Mr. Weasley, ikutlah denganku juga. Kalian berdua," McGonagall menatap kedua gadis itu. "..segera kembali lah ke ruang rekreasi."

Nicole dan Gisselle saling berpandangan sementara McGonagall pergi bersama Harry dan Ron. Tidak lama kemudian, Oliver dan si kembar mendekati mereka, sudah berganti baju dari seragam Quidditch menjadi seragam sekolah yang biasa.

"Apakah professor memberi tahumu alasan ia menghentikan pertandingan ini?" Tanya Oliver pada Nicole. Gadis itu menggeleng dan langsung mengatakan ulang perkataan McGonagall tadi.

"Sebaiknya kita pergi ke ruang rekreasi saja." Kata Gisselle. Mereka semua setuju dan langsung berjalan menuju ruang rekreasi. Ruang rekreasi Gryffindor penuh sesak dan ramai karena ocehan. Nicole berhasil mendapat tempat duduk dan Oliver duduk di sebelahnya sementata Gisselle dan si kembar duduk di sofa panjang tidak jauh dari mereka.

Tidak lama kemudian, McGonagall muncul bersama Harry dan Ron. Ia membuka gulungan perkamen dan membacanya dengan suara keras.

"Setiap murid sudah harus kembali ke ruang rekreasi asrama mereka paling lambat pukul enam sore. Tak seorang murid pun diizinkan meninggalkan asrama setelah waktu itu. Kalian akan ditemani seorang guru ke semua kelas setiap pergantian pelajaran.”

McGonagall melanjutkan pengumumannya. Ketika ia sampai mengenai latihan dan pertandingan Quidditch yang di tiadakan, Nicole bisa merasakan tubuh Oliver menegang disebelahnya. Hal tersebut pasti sangat mengejutkan bagi pemuda itu. Bagaimana pun juga, Quidditch adalah hidupnya.

Muka McGonagall tampak cemas dan dengan suara agak tercekat ia mengatakan pendapatnya mengenai mungkin sekolah harus di tutup. Nicole menggigit bibir bawahnya dengan cemas, jika sekolah itu di tutup, artinya kakeknya akan kehilangan pekerjaannya dan ia kehilangan rumahnya.

Ruang rekreasi langsung ramai ketika McGonagall meninggalkan ruangan itu. Gisselle dan si kembar langsung pergi ke tempat Nicole dan Oliver.

“Apa yang akan kita lakukan?” Tanya Gisselle cemas. “Sekolah akan di tutup?”

“Apakah kau bisa menanyakan kakekmu, Nicole?” Tanya George. “Jangan sampai Hogwarts di tutup.”

Nicole memandang kedua tangannya yang sekarang terkepal di pangkuannnya. “Kurasa akan susah bertemu kakek saat ini, dengan adanya segala peraturan baru itu. Tapi kuharap mereka tidak akan menutup sekolah ini. Hogwarts adalah rumahku sejak aku berumur satu tahun.”

Malam harinya, larut malam sekali, McGonagall masuk kedalam kamar tempat Nicole sedang tidur dan membangunkan gadis itu. Wanita itu menempatkan jarinya di depan bibirnya dan meminta Nicole untuk mengikutinya tanpa bersuara. Nicole mengangguk dan mengambil jaketnya sebelum mengikuti McGonagall keluar dari kamar dan dari ruang rekreasi Gryffindor.

“Kita akan pergi kemana professor?” Tanya Nicole dalam bisikan. Koridor ramai dengan para guru, prefect dan hantu yang berjaga berpasangan. Semua orang yang melihat Nicole memandang McGonagall dengan bingung tapi professor itu mengabaikan mereka semua dan tetap berjalan. Tidak punya pilihan lain, Nicole mengikutinya.

“Kepala sekolah memanggilmu.” Kata McGonagall dengan cepat. Mereka berdua menaiki tangga di balik patung gargoyle menuju ruang kepala sekolah, tapi McGonagall tidak ikut masuk. Di dalam ruangan, Nicole melihat kakeknya sedang mengepak beberapa barang milik pribadinya.

“Kakek? Kenapa.. Ada apa? Apa yang terjadi?” Nicole merasa panik melihat kakeknya bertindak seakan-akan hendak meninggalkan sekolah. Dumbledore menoleh dan berjalan ke arah cucunya itu.

“Nicole.” Kata Dumbledore. Dia memegang kedua pundak cucunya itu. “Dengarkan aku baik-baik. Dewan Sekolah telah menskorsku dari sekolah..”

“Tidak!!” Kata Nicole, suaranya cukup keras. “Mereka tidak bisa melakukan itu!” Gadis itu menolak untuk percaya bahwa kakeknya telah di skors dari sekolah.

“Mereka bisa, sayangku, dan mereka telah melakukannya. Sekarang dengarkan perintahku. Fawkes akan ada dalam perawatanmu, dan bila dia menunjukan tanda-tanda akan terbang ke suatu tempat, berikan ini padanya.” Dumbledore memandang Nicole dengan serius dan menyerahkan topi seleksi ke dalam tangan Nicole. Topi yang sudah di coba Nicole berulang kali sejak kecil dan, tempat ia biasa menemukan pedang indah bertulisan ‘Gordic Gryffindor’ yang setelah ia cukup besar, ia ketahui adalah milik salah satu penyihir terhebat yang pernah ada.

Nicole tidak mengerti akan tugasnya, namun bila itu perintah dari kakeknya, maka ia akan melakukannya. Ia menggenggam erat topi itu, sesaat ia bisa merasakan ujung pedang yang secara ajaib akan muncul bila Nicole menginginkannya. “Aku mengerti. Tapi kau akan kembali kan?”

Dumbledore tersenyum dan mengusap kepala Nicole. “Tentu saja. Berhati-hatilah Nicole, ingat tugasmu. Sampai berjumpa lagi.” Setelah berkata begitu, Dumbledore mencium dahi Nicole dan berjalan ke luar ruangan. Nicole memandang topi usang itu dan segera menyembunyikannya di balik jaketnya.

***

Berita bahwa Dumbledore telah di skors telah menyebar dan menambah ketakutan di wajah setiap anak. Malfoy membanggakan ayahnya yang telah bisa mengusir Dumbledore berulang kali, membuat Nicole harus menahan amarahnya dan tidak meninju muka pemuda pirang itu. Beberapa orang menanyai Nicole tentang keberadaan Dumbledore sekarang, dan Nicole menjawab ia tidak tahu pasti, walau gadis itu menduga kakeknya pulang ke rumah mereka berdua yang tersembunyi di Gordic’s Hollow.

Tiga hari sebelum ujian sekolah dimulai, McGonagall memberikan pengumuman sewaktu sarapan. “Aku punya kabar baik untuk kalian.” Katanya, menimbulkan suara penasaran terdengar dari berbagai arah. Berbagai tebakan pun di lontarkan, tapi tidak ada yang mengalahkan tebakan dari Oliver.

“Pertandingan Quidditch akan kembali di adakan!!” Teriakan pemuda itu menghasilkan tatapan tajam dari pacarnya sendiri.

“Hanya itukah yang kau pikirkan?” Tanya Nicole, membuat Oliver langsung mengatakan bahwa ia hanya bercanda dan segera meminta maaf pada gadis itu. McGonagall menyampaikan berita baiknya, bahwa seluruh korban akan bisa disembuhkan dalam waktu dekat, membuat seluruh orang di aula, kecuali yang berasal dari Slytherin bersorak.

“Semoga dengan ini penyerangan berakhir..” Kata Gisselle, dan teman-temannya mengangguk setuju.

Namun yang mereka harapkan tidak terjadi, dan penyerangan berikutnya pun terjadi. Saat itu Nicole, Gisselle, Lee dan si kembar sedang mengikuti pelajaran Ramalan ketika suara McGonagall yang sudah di keraskan dengan sihir terdengar dari seluruh penjuru sekolah.

“Semua murid diminta untuk kembali ke ruang rekreasi asrama masing-masing dan semua guru diminta berkumpul di ruang guru. Segera.” Sedetik setelah pengumuman itu, anak-anak langsung melompat berdiri dan mulai berebut keluar ruangan, merasa ketakutan karena mereka semua mengira terjadi serangan lainnya.

Nicole menggenggam tangan Gisselle agar tidak terpisah dengannya di tengah kerumunan anak-anak yang berusaha kembali ke ruang rekreasi masing-masing. Mengikuti jejak Nicole, George memegang tangan Gisselle yang lain dan Fred memegang tangan George lalu Lee memegang tangan Fred. Sedikit konyol tapi itu efektif dalam menjaga mereka tetap bersama hingga ruang rekreasi.

“Siapa yang menjadi korban kali ini?” Beberapa anak melontarkan pertanyaan yang sama. Satu persatu anak-anak Gryffindor bermunculan di ruang rekreasi. Oliver, yang muncul sedikit belakangan, mencari Nicole di tengah kerumunan dan langsung berlari ke sisi gadis itu secepatnya.

“Aku tidak apa-apa. Aku tidak apa-apa.” Kata Nicole berulang kali untuk menenangkan Oliver. Ron dan Harry lalu muncul beberapa saat setelah Oliver muncul dengan muka pucat pasi. Mereka berdua tidak menjawab apa-apa saat ditanya, Ron malah memandang kakak-kakaknya dengan ekspresi ketakutan di wajahnya.

Penyebab mereka berdua bertingkah seperti itu segera terungkap. McGonagall muncul dari balik lukisan si Nyonya Gemuk dengan muka seakan-akan hendak menangis. Dengan suara serak ia memberi tahu korban terbaru dan terakhir dari pewaris Slytherin adalah Ginny Weasley. Gadis malang itu telah di bawa kedalam Kamar Rahasia dan tidak bisa di selamatkan lagi.

Sisa hari itu, Nicole dan Gisselle hanya duduk disebelah si kembar, Harry dan Ron duduk di seberang mereka sementara Percy sedang mengirim surat pada Mr. dan Mrs. Weasley. Gisselle menggenggam tangan George yang duduk disebelahnya, tapi bahkan gadis itu tidak bisa berkata apa-apa pada si kembar yang sedang berkabung itu. Akhirnya Fred dan George pergi ke kamar mereka. Harry dan Ron bercakap-cakap singkat lalu berdiri dan berjalan keluar ruang rekreasi. Nicole memperhatikan kedua anak itu, namun tidak berkata apa-apa.

Perlahan-lahan, ruang rekreasi mulai sepi karena yang lain mengikuti jejak si kembar untuk tidur di kamar mereka. Gisselle juga mengatakan ia tidak bisa tahan lagi dan bergegas ke kamarnya, Nicole memprediksi gadis berhati lembut itu sedang menangis di kamarnya. Kini hanya tinggal Nicole dan Oliver di ruang rekreasi, tidak bertukar sepatah kata pun. Mereka berdua hanya menatap api di perapian.

Ketukan pelan di jendela membuat pasangan itu terlonjak kaget. Nicole lah yang pertama bertindak. Gadis itu langsung mendekati jendela, langit diluar sudah mulai gelap namun bulu burung yang tadi mengetuk jendela terlihat jelas seakan-akan bulu itu menyala.

“Fawkes!” Seru Nicole, karena memang burung peliharan milik kakeknya itulah yang mengetuk jendela ruang rekreasi Gryffindor. Fawkes terbang ke salah satu puncak sofa dekat perapian dan berkicau pelan.

“K-kenapa dia ada disini?” Kata Oliver, masih kaget dengan kemunculan burung phoenix yang indah itu. Nicole langsung mengingat perintah kakeknya dan berlari ke kamarnya. Dengan cepat ia membuka kopernya dan mengambil topi usang lalu berlari kembali ke ruang rekreasi.

“Ini. Sekarang pergilah.” Kata Nicole seraya menyerahkan topi seleksi itu. Fawkes berkicau sekali dan langsung terbang keluar, melewati jendela yang sama dengan yang ia lewati tadi. Nicole mengawasi burung itu hingga hilang dari pandangannya.

“Sekarang kita hanya bisa berharap pada keajaiban.” Gumam Nicole.

***

Seakan-akan doa Nicole terkabul, gadis itu terbangun di sofa Gryffindor secara tersentak kaget keesokan paginya. Tanpa sadar ia tertidur di pundak Oliver saat mereka berdua menunggu di ruang rekreasi. Suara berisik yang berasal dari seorang pemuda yang berlumuran debu dan tanah membangunkan Nicole dan lalu Oliver. Ronald Weasley melangkah masuk kedalam ruang rekreasi sambil berteriak keras-keras.

“Kami berhasil!! Kami berhasil!!” Muka Ron terlihat luar biasa bahagia, ia melonjak-lonjak sehingga debu mulai bertebaran kemana-mana.

“Tenangkan dirimu Ron. Apa maksudmu dengan berhasil?” Tanya Nicole yang langsung mendekati pemuda berambut merah itu.

“Kami, maksudku, Harry dan aku berhasil menyelamatkan Ginny dan mengalahkan pewaris Slytherin!!” Teriak Ron. Perlu beberapa detik untuk kedua orang yang lebih tua itu untuk mencerna informasi sebelum mereka ikut bersorak juga. Tidak lama kemudian, seluruh asrama Gryffindor bergabung bersama mereka, kecuali Gisselle, yang tidak bersorak kegirangan, melainkan menangis lega.

Pesta yang diadakan malam itu berjalan dengan luar biasa meriah. Mereka merayakan berakhirnya horror pewaris Slytherin, kesembuhan para korban, selamatnya Ginny dan kembalinya Dumbledore secara bersamaan. Sisa akhir tahun ajaran pun berakhir dengan cepat. Ujian di tiadakan dan pelajaran Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam juga dibatalkan karena Lockhart telah dibawa ke Rumah Sakit St. Mungo. Harry dan Ron telah menceritakan petualangan mereka pada Hermione, Nicole, Gisselle, Elly dan seluruh keluarga Weasley yang lain dan hampir tidak ada yang kecewa mendengarnya, hanya Hermione yang merasa sedikit sedih. Gisselle mencabut semua rasa kagumnya pada Lockhart ketika mendengar kebenarannya dari mulut Harry dan Ron.

“Aku tidak percaya ia melakukan hal itu!” Keluh Gisselle untuk kesekian kalinya. “Aku merasa terkhianati.”

“Lain kali, pilih idolamu dengan teliti.” Komentar Elly sementara yang lain tertawa terbahak-bahak. Tidak terasa, mereka sudah harus berpisah di akhir tahun ajaran. Nicole mengantar teman-temannya ke stasiun seperti biasa dan mengucapkan perpisahan disana.

“Sampai nanti Nicole!”

“Kami akan mengirimu surat!”

“Jangan bertambah galak ya!”

Berbagai kalimat perpisahan diteriakan oleh teman-temannya, namun tidak ada yang bisa menandingi milik Oliver. Sebelum pemuda itu masuk ke dalam kereta, ia menarik Nicole mendekat dan mencium gadis itu tepat di mulut, membuat semua orang yang melihatnya terpekik, bersorak dan berteriak kaget.

“Sampai nanti.” Kata Oliver sambil nyengir dan berlari masuk kedalam kereta. Nicole merasa dirinya bisa meleleh ditempat saat itu juga.

***TBC***

A/N : Oke mungkin akan ada banyak kesalahan karena gue males nge cek ulang hahahaha
Maaf kalau aneh juga ya hahahaha #plak
Mohon maaf apabila ada kesalahan *bows*

Original Plot by : Our Queen, JK Rowling
The ‘new’ plot Made by : Liz
Take out with full credits please~ ^^

0 komentar:

Posting Komentar