Senin, 19 Mei 2014

Hogwarts' Beloved : Chapter 6

Chapter 6 : Patience
                                      (Setting : 1 years prior HP1 )


Dalam sekejap ujian akhir, yang terasa bagai neraka bagi si kembar dan Lee, akan berakhir sebentar lagi. Hanya tinggal ujian sejarah sihir di siang hari ini lalu makan siang dan setelah itu mereka mendapat waktu bebes seraya menunggu hasil ujian mereka di umumkan. Ujian Sejarah Sihir, tentu saja luar biasa ribet dan susah. Muka Fred, George dan Lee tampak seperti zombie ketika keluar dari ruang kelas.

“Bagaimana ujian kalian?” Tanya Elly yang kemudian bergabung dengan Nicole,Gisselle dan ketiga pemuda yang dalam zombie mode itu. Baik Nicole maupun Gisselle memberikan jawaban yang positif sementara yang lain hanya memberikan pandangan yang berkata ‘jangan-kau-tanya-lagi-deh’ pada Elly.

Mereka mengobrol hingga sampai kedalam Aula Utama dimana Elly harus memisahkan diri karena Cedric memanggilnya. Makan siang di dalam Aula Utama berjalan lebih ramai dari biasanya karena seluruh murid merayakan selesainya ujian sekolah mereka. Nicole sudah selesai makan siang lalu berdiri yang di susul Gisselle ketika sebuah teriakan memecah keramaian. Teriakan itu berasal dari meja Hufflepuff.

“Elly!!”

Itu suara Cedric. Dengan segera Nicole berlari dari meja Gryffindor dan mendekati Cedric. Semua kepala dari meja manapun menoleh ke arah sumber teriakan. Beberapa anak yang duduk di sekitar Cedric juga ikut berteriak, tapi tidak ada yang sekeras Cedric. Nicole yang sudah cukup dekat, dapat melihat apa yang membuat Cedric berteriak.

Elly tergeletak lemah di dalam pelukan Cedric. Gelas yang tadi pasti ia pegang, tergeletak dan isinya tumpah di atas taplak meja yang putih itu.

“Rumah sakit! Sekarang!” Kata Nicole setengah berteriak ketika melihat muka Elly yang sudah berubah warna. Cedric mengangguk dan menggendong Elly dengan posisi bridal style yang membuat, mau tidak mau, beberapa gadis memandang Elly dengan iri. Setelah kedua temannya itu pergi menuju rumah sakit, Nicole memeriksa gelas yang tergeletak di meja makan tempat Elly tadi. Beberapa detik kemudian, Dumbledore dan Sprout, kepala asrama Hufflepuff menyusul ke tempat Nicole.

Dumbledore menatap meja Hufflepuff lalu bertemu pandang dengan cucunya. “Semua, kecuali asrama Hufflepuff, segera meninggalkan Aula Utama ini dan kembali ke ruang rekreasi. Para prefect, tolong atur mereka. Pastikan jangan ada yang meninggalkan ruang rekreasi sebelum aku memperbolehkannya."

Beberapa murid dari ketiga asrama lainnya berdiri dan mulai memimpin anak-anak asramanya pergi keluar dari Aula Utama. Dumbledore meletakkan tangannya di pundak Nicole, secara tidak langsung meminta gadis itu untuk tetap tinggal disana. Nicole mengernyit, dengan ini dia akan kembali mendapat perhatian dari murid yang lain, tapi jika itu permintaan kakeknya, maka dia akan melakukannya.

Setelah Aula menjadi sepi karena hanya ada Hufflepuff dan guru-guru, Dumbledore mulai berbicara dengan suara yang tenang namun tegas.

“Ada yang bisa menceritakan kejadian bagaimana Miss Potter bisa pingsan seperti itu?” Kata Dumbledore sementara Snape memeriksa gelas tersebut. Muka professor satu itu tidak menunjukan banyak perubahan, tapi Nicole dapat melihat bahwa dia sebenarnya sedikit cemas. Nicole sudah terbiasa melihat Snape sejak kecil sehingga ia bisa melihat perbedaan tiap ekspresinya walau tidak banyak orang yang bisa.

“Professor?” Panggil Nicole dengan suara pelan. Snape menoleh dan menatap gadis itu. “Apakah Elly akan baik-baik saja?”

Snape menatap Nicole selama beberapa saat lalu mengangguk. “Ia di racuni, tapi racunnya lemah dan amatiran. Madam Pomfrey bisa menyembuhkannya dengan mudah walau dia harus dirawat selama beberapa hari.”

Nicole menghembuskan nafas lega, setidaknya nyawa Elly tidak dalam bahaya. Dumbledore tersenyum pada Nicole sebelum kembali memandang seorang anak Hufflepuff yang duduk di depan Elly tadi. Pemuda itu sudah berdiri dan siap menceritakan kejadian tadi.

"Mr. Moore, silahkan" kata Dumbledore.

***

Cedric menunggu tidak jauh dari ranjang tempat Elly berbaring sementara Madam Pomfrey mengobati gadis itu. Tangannya terkepal di kedua sisi tubuhnya, menahan amarah yang siap keluar. Siapa pun yang melakukan hal ini pada orang berharga buatnya, akan membayarnya, Cedric akan membuat orang itu jera.

Setelah entah berapa lama, pintu rumah sakit terbuka dan masuklah Nicole, Dumbledore, Snape dan Sprout ke dalam rumah sakit. Nicole langsung berlari ke sisi Cedric. Mukanya luar biasa cemas.

"Bagaimana kondisinya?" Tanya Nicole. Cedric membuka mulut untuk bicara tapi tidak ada kata-kata yang keluar. Nicole memandang cemas pemuda di depannya itu sebelum mengalihkan pandangan pada Madam Pomfrey.

"Ia akan baik-baik saja. Tidak usah cemas." Kata Madam Pomfrey menenangkan Nicole dan Cedric. Setelah Madam Pomfrey menyingkir dari tepi ranjang Elly, pemuda berambut cokelat muda itu langsung mengambil tempatnya di dekat Elly.

"Kalian sudah menemukan pelakunya?" Cedric menatap Nicole yang sekarang berdiri di sisi lain ranjang Elly. Nicole menggeleng.

"Sayangnya Mr. Diggory, kami tidak bisa mengambil kesimpulan siapa pelakunya karena kurangnya bukti." Dumbledore menjawab sebagai pengganti Nicole. Cedric meraih tangan Elly dan mengusapnya dengan lembut.

"Aku ingin pelakunya ditemukan." Kata Cedric sambil menatap wajah pucat Elly. Gadis yang selalu tersenyum itu sekarang terbaring lemas, tidak sadarkan diri di ranjang rumah sakit.

Dumbledore tersenyum, "Cucuku sudah mengatakan hal yang sama berulang kali. Professor Snape bahkan menawarkan untuk mengetes anak satu persatu dengan Veritaserum miliknya." Kata-kata Dumbledore membuat Nicole menjadi salah tingkah dan Snape mendadak sangat tertarik pada ujung jubahnya. "Kami akan mengurusnya, jangan khawatir."

Setelah berkata begitu, Dumbledore pergi untuk mengecek satu persatu asrama di temani dengan Snape dan Sprout. Nicole tetap tinggal di sisi Elly menemani Cedric hingga Madam Pomfrey harus mengusir mereka karena Elly membutuhkan ketenangan maksimal. Maka kedua murid tersebut berjalan keluar dari rumah sakit dan menuju ruang rekreasi masing-masing.

"Elly baru duduk dan meraih pialanya untuk minum. Ketika ia minum seteguk, mendadak tubuhnya bergetar hebat dan dia langsung menjatuhkan pialanya. Sedetik kemudian mukanya pucat dan ia pingsan." Kata Cedric, menjelaskan pada Nicole setelah gadis itu memintanya mengulangi kejadian tadi

"Anak Hufflepuff yang lain juga berkata hal yang sama." Ucap Nicole sambil berpikir keras. Bagaimana pun juga, Elly adalah sahabatnya dan seorang Potter. Hal itu sudah cukup membuat beberapa orang berani mencelakainya. Nicole menggigit bibir bawahnya dengan cemas, bagaimana jika Elly disakiti karena berteman dengannya? Namun Nicole segera melenyapkan pikiran buruk tentang menjauhi Elly, tidak, ia sudah tahu jawaban temannya tentang hal itu tahun lalu.

"Kau punya bayangan siapa yang melakukannya?" Tanya Cedric.

Nicole menyibakkan rambutnya dengan tidak sabar, "Tentu punya. Tapi aku tidak mempunyai apa-apa untuk membuktikannya."

"Mungkin kita bisa memaksa mereka dengan kekerasan?" Usul Cedric, membuat Nicole menatap temannya dengan heran. Sejak kapan Cedric segarang ini.

Nicole menggeleng, "Kalau ternyata dugaanku salah, kita akan tertimpa masalah. Tidak, kita perlu taktik yang lebih cerdas."

Cedric mengangkat bahu, "Baiklah. Bagaimana pun juga kau jelas lebih pintar daripadaku."

Nicole tersenyum dan memukul pelan lengan Cedric. "Ngomong-ngomong. Ini pertama kalinya aku melihat kau segarang dan setegas itu. Bahkan di depan kepala sekolah."

Cedric mendadak menjadi salah tingkah dan tidak membalas kata-kata Nicole. Sambil tertawa, Nicole kembali memukul lengan Cedric dan mengucapkan sampai nanti karena mereka sudah sampai persimpangan dimana mereka harus berpisah. Cedric memperhatikan punggung gadis itu sampai hilang dari pandangan baru berbalik dan berjalan menuju ruang rekreasi Hufflepuff.

Berita tentang Elizabeth Ann Potter yang diracuni sudah menyebar ke seluruh penjuru sekolah esok harinya. Gisselle, si kembar dan Lee sudah berkunjung ke rumah sakit untuk melihat Elly. Gisselle nyaris menangis melihat kondisi Elly jika ketiga pemuda tadi dan Nicole tidak menghiburnya. Cedric nyaris selalu berada di sisi Elly kapanpun dia bisa.

"Cedric!!" Seorang gadis berambut cokelat seperti Cedric berlari ke arah pemuda itu, temannya, seorang gadis berambut hitam panjang menyusul dengan canggung walau dia menjaga jarak dari Cedric. "Ku dengar yang keracunan adalah sahabatmu, Itu benar?" Kata gadis yang pertama.

Nicole yang berada di rumah sakit juga pada saat itu, bersama Gisselle, menatap gadis asing itu lalu menatap Cedric dengan heran. Cedric mengusap kepala gadis yang tampaknya lebih muda itu dan mengangguk. Ia lalu melirik Nicole dan Gisselle dan tersenyum.

"Feli, perkenalkan dirimu. Mereka teman-temanku juga." Kata Cedric. Gadis berambut cokelat muda itu mengangguk dan memutar badannya sehingga menghadap Nicole dan Gisselle.

"Namaku Felicia Diggory, adik dari Cedric. Salam kenal." Kata Feli dengan senyuman lebar menghiasi wajahnya. "Kalian boleh memanggilku Feli saja."

Baik Gisselle maupun Nicole bergantian mengenalkan diri mereka. Ketika mendengar nama Nicole, mata Feli langsung berbinar binar dan terpekik tertahan. Cedric menepuk kepala adiknya mengingatkan bahwa gadis itu harus tetap tenang.

"Adikku.." kata Cedric menggantikan adiknya menjawab pandangan heran Nicole ketika melihat reaksi Feli. Sementara Feli sendiri masih menatap Nicole dengan mata berbinar-binar. "..bisa dikatakan sebagai penggemarmu Nicole."

Nicole tidak bisa menyembunyikan kekagetannya ketika Cedric berkata begitu, sementara Feli hanya mengangguk-angguk bersemangat. Cedric dan Gisselle tertawa kecil melihat reaksi teman mereka itu.

"Penggemarku? Bagaimana bisa.." Nicole mengernyit sambil bergumam pada dirinya sendiri. Feli sudah membuka mulutnya untuk menjawab ketika pintu rumah sakit terbuka dan tampaklah Dumbledore dan Snape.

"Miss Diggory, Miss Chang, dan Miss Scotthill. Maaf bisakah kalian meninggalkan ruangan ini?" Kata Dumbledore dengan lembut. Gisselle menatap Nicole dan mendapat anggukan dari gadis bermata hijau cerah itu. Cedric pun mendorong pelan adiknya yang segera berjalan keluar bersama temannya yang berambut hitam, disusul oleh Gisselle. Snape menutup pintu setelah ketiga gadis itu keluar.

"Bagaimana kondisi Miss Potter?" Tanya Dumbledore seraya berjalan ke sisi cucunya. Nicole menatap Elly lalu kakeknya.

"Masih belum siuman. Namun Madam Pomfrey berkata ia sudah berhasil mengeluarkan racun dari tubuh Elly."

Dumbledore menangguk angguk pelan. "Belum ada perkembangan sama sekali." Kata Dumbledore, menjawab pertanyaan Nicole yang bahkan belum keluar dari mulut gadis itu. Nicole bertukar pandang cemas dengan Cedric namun mereka tidak mengatakan apa-apa. Cedric mengepalkan tangannya lagi dan tampaknya siap untuk menonjok siapapun. Dumbledore menatap Cedric, lalu Elly, lalu Snape dan terakhir menatap Nicole.

"Nicole, kemarilah."

Nicole mengikuti kakeknya ke pojokan rumah sakit yang sepi itu, menjauhi Cedric, Elly dan Snape, ke tempat dimana tidak ada yang bisa mendengar mereka. Dumbledore menatap cucunya dengan pandangan yang tidak bisa dibaca.

"Kau punya bayangan siapa pelakunya?" Pertanyaan Dumbledore mengagetkan Nicole. Tapi Nicole tidak pernah meragukan kakeknya, maka ia mengangguk.

"Ada beberapa. Tapi aku tidak mempunyai bukti."

Professor tua itu mengelus-elus jenggot putihnya yang panjang itu. Nicole dengan sabar menunggu kakeknya berbicara. Namun hanya 4 kata yang keluar dari mulut Dumbledore ketika ia berbicara lagi.

"Kau hanya perlu bersabar." Dumbledore tersenyum misterius sambil memandang Nicole lewat katamata bulan-separuhnya. Ia lalu menepuk kepala Nicole dengan pelan sebelum meninggalkan gadis yang bingung itu sendirian sementara dia memanggil Snape dan mereka berdua keluar dari rumah sakit.

"Apa yang kalian bicarakan?" Tanya Cedric saat Nicole berjalan kembali ke posisinya di tepi ranjang Elly. Nicole menaikan kedua bahunya dan menggeleng.

"Aku sendiri tidak mengerti." Dan Nicole menceritakan percakapannya tadi pada Cedric, yang akhirnya sama bingungnya dengan Nicole sendiri. Mereka berdua berpikir dalam keheningan sampai mendadak kedatangan Gisselle, Feli dan temannya yang masuk kembali ke rumah sakit.

“Ada apa? Mengapa Dumbledore berkunjung ke rumah sakit?” Tanya Gisselle pada Nicole dan Cedric. Cedric melirik ke arah Nicole, jika gadis itu memutuskan untuk merahasiakan percakapannya dengan kakeknya, maka Cedric akan merahasiakannya juga. Nicole menatap Gisselle sejenak, lalu Feli dan temannya, kemudian ia menggeleng.

“Tidak ada apa-apa. Ia hanya ingin melihat kondisi Elly.” Jawab Nicole dengan senyuman yang agak canggung. Melihat tingkah Nicole, Cedric juga menutup mulutnya. Gisselle menatap sahabatnya itu, jelas mengetahui bahwa ada sesuatu yang disembunyikan olehnya. Nicole membalas Gisselle dengan tatapan, ‘akan-ku-beritahu-kau-nanti.’ dan Gisselle pun tidak bertanya lagi.

“Kau belum mengenalkan temanmu ini, Feli.” Kata Cedric, mengalihkan bahan pembicaraan. Ia tersenyum lembut pada teman Feli yang jelas-jelas terpesona padanya. Gadis berambut hitam itu menyembunyikan mukanya yang memerah di belakang badan Feli.

“Ini Cho, Cho Chang. Dia seangkatan denganku tapi di asrama Ravenclaw. Ayo Cho, beri salam.” Kata Feli sambil menarik temannya, Cho, agar tidak terus menerus bersembunyi di belakangnya.

“S-salam kenal. Namaku Cho.” Kata Cho setelah Feli berhasil menariknya. Ia masih menghindari menatap muka Cedric. Tidak hanya Cedric, tapi Nicole dan Gisselle juga. Mukanya merah merona.

“Senang berkenalan denganmu Cho.” Kata Cedric, menjulurkan tangannya seraya mengajaknya berjabat tangan. Cho ragu untuk menerimanya.

“Kau tahu Ced, Cho ini adalah pengge—“ Belum selesai Feli menyelesaikan kata-katanya, Cho sudah menutupi mulut temannya itu dengan kedua tangannya sambil menggelengkan kepalanya dengan cepat. Cedric melihat kelakuan adiknya dan temannya dengan bingung. Nicole, yang sudah merasa bosan, berdeham pelan.

“Aku harus pergi mengurus hal lain. Sampai nanti Cedric, Gisselle, Feli dan Cho.” Kata Nicole, mengangguk ke arah setiap orang disana setiap kali ia memanggil nama mereka. Setelah memegang tangan Elly dengan lembut sekali lagi, dan berjalan keluar dari rumah sakit.

Secara cepat, Cho juga pamit dan menyeret Feli pergi. Setelah kedua gadis itu juga pergi, Cedric menoleh ke arah Gisselle yang menahan senyumnya.

“Ada apa dengan adikku dan temannya?”

Gisselle merasa kesal dan geli secara bersamaan. Apakah semua pemuda di sekelilingnya adalah pemuda yang tidak peka? Pertama George dan sekarang Cedric. Dia langsung merasa kasihan baik pada Elly maupun Cho.

***

Nicole memikirkan kata-kata kakeknya. Tidak mungkin Dumbledore mengatakan hal-hal yang tidak ada artinya begitu saja. “Mungkin kah, maksudnya pelaku itu akan muncul di depanku suatu saat? Dan aku hanya perlu bersabar?” Gumam Nicole sambil berjalan melintasi koridor yang kosong karena sebagian besar anak menghabiskan waktu mereka menikmati udara di luar.

“Dia belum keluar dari rumah sakit?”

Suara tersebut membuat Nicole berhenti tepat di persimpangan di koridor tersebut. Beberapa suara tawa menyusul suara yang pertama.

“Belum! Dasar gadis idiot!”

“Mereka tidak akan mencurigai kita sama sekali!”

Ini jelas sudah menarik perhatian Nicole. Dari suaranya, sepertinya mereka semuak laki-laki dan berjumlah empat orang. Nicole sudah hendak mendekat agar bisa melihat muka mereka ketika sebuah suara lain mengejutkannya.

“Nicole? Sedang apa kau?” Oliver Wood entah sejak kapan telah berdiri di belakangnya. Suaranya bisa di katakan cukup keras.

“Kau mendengar sesuatu?” Kata suara pemuda asing yang tidak kelihatan wujudnya itu. Beberapa gumaman setuju terdengar di susul dengan langkah kaki yang mendekati tempat Nicole dan Oliver berdiri. Panik, Nicole melihat ke sekelilingnya untuk mencari tempat bersembunyi. Tepat di dekat mereka ada sebuah lemari sapu. Tanpa berpikir apapun lagi, gadis itu meraih tangan Oliver dan menyeretnya masuk ke dalam lemari yang cukup sempit itu.

“Nicole? Ada ap—“ Mulut Oliver di tutup oleh tangan Nicole. Saat ini mereka berdua berhadap-hadapan di dalam lemari itu. Melihat bahwa Nicole berdiri menempel pada dirinya, Oliver tidak bisa menahan mukanya untuk tidak menjadi merah. Sementara kedua tangan Nicole memegang mulut Oliver agar pemuda itu mengeluarkan suara, tangan Oliver menahan berat tubuhnya di dinding lemari di belakang Nicole. Posisi yang sedikit canggung, tapi tampaknya Nicole tidak peduli. Ia malah sibuk mengintip dari lubang kecil di pintu lemari.

“Tidak ada siapa-siapa.” Kata seorang pemuda, dari yang Nicole bisa lihat, ia berbadan tegap, kurang lebih berada di kelas enam, rambutnya berwarna pirang dan tentu saja, berasal dari Slytherin. “Mungkin itu hanya perasaanmu Poulson.”

Pemuda yang di panggil Poulson menggarung kepalanya dengan bingung. “Mungkin saja. Sesaat ku kira ada yang mengetahui rahasia kita.”

“Jangan bodoh. Semua orang sedang bersenang-senang di luar saat ini.” Kata pemuda lainnya.

“Hey bagaimana kalau si Potter bangun?” Mereka berempat mulai berjalan pergi dari tempat itu.

“Kita hanya perlu meracuninya lagi!” Kata pemuda yang pertama dan ketiga temannya tertawa terbahak-bahak. Nicole menurunkan tangannya dari mulut Oliver dan meletakannya secara terkepal di dada pemuda itu. Tangannya gemetar karena menahan marah, menahan diri untuk tidak berlari keluar dan mengahajar ke empat pemuda jahat itu satu persatu.

Oliver bisa merasakan gadis, yang secara tidak langsung berpelukan dengannya itu, bergetar karena marah. Secara tidak sadar, ia memindahkan tangan kanannya dari dinding lemari dan menempatkannya di belakang kepala Nicole lalu menarik kepala gadis itu mendekat hingga menempel di dadanya. Hal tersebut langsung membuat Nicole menyadari dimana dia berada dan bersama siapa. Mukanya otomatis memerah, namun ia tidak bergerak memprotes ketika Oliver melakukan itu.

Oliver lalu melepaskan pegangannya dari kepala Nicole, “Sudah lebih tenang?” Tanyanya, suaranya tidak lebih dari bisikan. Nicole mengangguk dan menjauhkan kepalanya dari Oliver sejauh yang ia bisa. Berusaha mengendalikan dirinya, Nicole kembali mengintip lewat lubang tadi. Setelah memastikan tidak ada orang di koridor, gadis itu membuka pintu lemari dan meloncat keluar dari sana, diikuti oleh Oliver dengan muka yang menunjukan sedikit kekecewaan.

Nicole menepuk kedua pipinya dengan pelan sebelum meraih tangan Oliver dan menariknya pergi. Oliver tidak memprotes ataupun mengatakan apapun, walaupun ia jelas senang karena Nicole memegang tangannya lagi.

“Kita harus melapor pada kakekku.” Jelas Nicole walau Oliver tidak menanyakan apa-apa. Mereka sudah tiba di depan patung gargoyle jelek yang menjadi penjaga pintu masuk ruang kepala sekolah.

“Kau yakin aku di perbolehkan masuk?” Tanya Oliver ragu.

“Aku membutuhkanmu!” Kata Nicole, membuat muka Oliver merah padam lagi. “Tidak mungkin aku bisa bersaksi sendirian.” Oliver sedikit merengut kecewa ketika mendengar kata-kata Nicole setelahnya. Nicole kembali menoleh ke kanan dan ke kiri untuk memastikan tidak ada orang lain di koridor itu selain mereka berdua sebelum membuka mulutnya, hendak menyebutkan kata kuncinya.

Betapa terkejutnya kedua anak itu ketika patung gargoyle itu bergerak sendiri sebelum Nicole mengatakan kata kuncinya. Kekagetan mereka bertambah ketika Dumbledore muncul dari balik patung itu.

“Nicole? Dan Mr. Wood? Hal apa yang membawa kalian kesini?” Tanya Dumbledore sambil memandang kedua anak yang berada didepannya. Matanya sekilas menatap tangan Nicole dan Oliver yang berpegangan dengan pandangan misterius yang tidak bisa di tebak. Nicole menyadari pandangan kakeknya dan segera melepaskan tangan Oliver.

“Kakek!” Kata Nicole, “Kami menemukan pelaku yang meracuni Elly!”

Dumbledore menatap Nicole dengan pandangan tertarik. “Ayo, kita bicarakan bersama Mr. Diggory, Professor Snape dan Professor Sprout. Temui aku di rumah sakit.”

Tanpa disuruh dua kali, Nicole berlari menuju rumah sakit, meninggalkan Oliver yang masih terkejut dan bingung di depan Dumbledore. Dumbledore tersenyum pada pemuda itu.

“Ku harap kau memperlakukannya dengan baik. Jika tidak, aku bisa sangat marah.”

Oliver belum bisa mencerna kata-kata Dumbledore saat Nicole berlari kembali dan menarik tangan Oliver untuk lari bersamanya.

***

“Kenapa kita berkumpul disini kepala sekolah?” Tanya Snape ketika semua orang yang diminta sudah berkumpul di sekeliling ranjang Elly. Cedric berdiri di samping ranjang Elly yang sudah bangun dan sekarang terduduk lemas di atas ranjangnya, memegang tangan Cedric sebagai pemberi tenaga.

Nicole berdiri di sisi lain ranjang Elly, dengan Oliver yang berdiri canggung disebelahnya. Di depan ranjang Elly, Dumbledore berdiri berhadapan langsung dengan Elly. Professor tua itu memandang Elly dengan pandangan lembut. Snape dan Sprout berdiri di kanan dan kiri Dumbledore.

“Karena Miss Potter juga harus mengetahuinya.” Kata Dumbledore yang lalu mengalihkan padangannya dari Elly ke Nicole dan Oliver. “ Nicole, Mr. Wood, tolong ceritakan.”

Maka Nicole mulai menceritakan pengalamannya tadi, di bantu dengan Oliver. Tanpa persetujuan verbal, kedua anak itu merahasiakan bahwa mereka berdua bersembunyi dengan cara berdiri berdekatan di lemari sapu. Jika mendengar cerita mereka, semua orang pasti akan mengira mereka bersembunyi sedemikan rupa di koridor.

“Kau yakin dengan deskripsimu?” Tanya Snape setelah Nicole dan Oliver menyelesaikan ceritanya. Nicole bertukar pandang dengan Oliver sebelum keduanya mengangguk dengan mantab.

“Kau tau siapa mereka Severus?” Tanya Dumbledore.

Snape mengangguk dengan mantab, “Dengan seijinmu kepala sekolah, aku akan mulai menginterogasi mereka dengan menggunakan Veritaserum.”

Dumbledore mengangguk, “Lakukanlah.” Dan Snape dengan terburu-buru berlari keluar dari rumah sakit.

Cedric menatap Dumbledore dengan lekat-lekat, “Aku ingin membalas mereka secara pribadi.” Katanya sambil menunjukan kepalan tangan kirinya, tangan yang tidak sedang menggenggam tangan Elly.

Namun yang menjawab Cedric adalah Elly alih-alih Dumbledore. “Tidak. Jangan.” Katanya dengan lemah, tenaganya belum kembali secara sepenuhnya. “Kau bisa tertimpa masalah, dan aku tidak mau hal itu.”

“Tapi.. mereka melakukan sesuatu yang buruk padamu!”

Elly tersenyum lemah, “Memang. Dan mereka akan mendapatkan hukuman. Kau tidak perlu mengotori tanganmu. Aku sudah puas dengan perasaanmu itu saja.”

Cedric sepertinya hendak mengatakan sesuatu, tapi lalu ia menahannya dan membalas senyum Elly. “Kau memang terlalu baik.” Sebuah kecupan mendarat di kepala Elly. “Tidurlah, kau butuh tenagamu.”

Elly membuka mulutnya karena kaget akan tindakan Cedric. Melihat kelakuan kedua temannya, Nicole mengalihkan pandangannya, dan menatap Oliver yang kebetulan mengalihkan pandangannya juga.

“Baiklah kalau begitu. Aku permisi terlebih dahulu.” Kata Dumbledore. Nicole sesaat bisa melihat kerlingan jail dari kakeknya sebelum ia meninggalkan rumah sakit sekolah bersama Sprout.

“Kami juga permisi. Elly, beristirahatlah agar cepat sembuh.” Kata Nicole sambil tersenyum. Elly mengangguk pelan dan tersenyum. Namun ekspresinya masih berupa ekspresi terkejut dan tidak percaya di tambah dengan rona merah di kedua pipinya. Lain dengan Elly, Cedric tidak menunjukan sedikit pun ekspresi yang ‘spesial’. Ia tersenyum pada Nicole dan Oliver lalu melambai ke arah mereka.

Setelah meninggalkan rumah sakit, Nicole dan Oliver saling berpandangan lalu mereka tertawa kecil bersamaan.

“Kau berhasil menangkap pelakunya.” Kata Oliver.

Kita berhasil membongkar identitas pelakunya.” Balas Nicole, mengkoreksi kata-kata Oliver. Oliver tersenyum sambil menatap Nicole. Mendadak, ia melakukan hal yang sama dengan Cedric tadi di rumah sakit, mencium kepala, namun kali ini adalah kepala Nicole.

“Kita berhasil.” Ulangnya, entah maksudnya apa. Setelah mengatakan hal itu, ia berbalik dan berjalan pergi, meninggalkan Nicole yang heran dan bermuka merah padam.

***TBC***

A/N : PLIS GAJE MAKSIMAL HUEHUEHUE OTL #plak
Mohon maaf apabila ada kesalahan *bows*

Made by : Liz
Take out with full credits please~ ^^

0 komentar:

Posting Komentar