Chapter 6 : Patience
(Setting
: 1 years prior HP1 )
Dalam
sekejap ujian akhir, yang terasa bagai neraka bagi si kembar dan Lee, akan
berakhir sebentar lagi. Hanya tinggal ujian sejarah sihir di siang hari ini
lalu makan siang dan setelah itu mereka mendapat waktu bebes seraya menunggu
hasil ujian mereka di umumkan. Ujian Sejarah Sihir, tentu saja luar biasa ribet
dan susah. Muka Fred, George dan Lee tampak seperti zombie ketika keluar dari
ruang kelas.
“Bagaimana
ujian kalian?” Tanya Elly yang kemudian bergabung dengan Nicole,Gisselle dan
ketiga pemuda yang dalam zombie mode itu. Baik Nicole maupun Gisselle
memberikan jawaban yang positif sementara yang lain hanya memberikan pandangan
yang berkata ‘jangan-kau-tanya-lagi-deh’ pada Elly.
Mereka
mengobrol hingga sampai kedalam Aula Utama dimana Elly harus memisahkan diri
karena Cedric memanggilnya. Makan siang di dalam Aula Utama berjalan lebih
ramai dari biasanya karena seluruh murid merayakan selesainya ujian sekolah
mereka. Nicole sudah selesai makan siang lalu berdiri yang di susul Gisselle
ketika sebuah teriakan memecah keramaian. Teriakan itu berasal dari meja
Hufflepuff.
“Elly!!”
Itu
suara Cedric. Dengan segera Nicole berlari dari meja Gryffindor dan mendekati
Cedric. Semua kepala dari meja manapun menoleh ke arah sumber teriakan.
Beberapa anak yang duduk di sekitar Cedric juga ikut berteriak, tapi tidak ada
yang sekeras Cedric. Nicole yang sudah cukup dekat, dapat melihat apa yang
membuat Cedric berteriak.
Elly
tergeletak lemah di dalam pelukan Cedric. Gelas yang tadi pasti ia pegang,
tergeletak dan isinya tumpah di atas taplak meja yang putih itu.
“Rumah
sakit! Sekarang!” Kata Nicole setengah berteriak ketika melihat muka Elly yang
sudah berubah warna. Cedric mengangguk dan menggendong Elly dengan posisi
bridal style yang membuat, mau tidak mau, beberapa gadis memandang Elly dengan
iri. Setelah kedua temannya itu pergi menuju rumah sakit, Nicole memeriksa
gelas yang tergeletak di meja makan tempat Elly tadi. Beberapa detik kemudian,
Dumbledore dan Sprout, kepala asrama Hufflepuff menyusul ke tempat Nicole.
Dumbledore
menatap meja Hufflepuff lalu bertemu pandang dengan cucunya. “Semua, kecuali
asrama Hufflepuff, segera meninggalkan Aula Utama ini dan kembali ke ruang
rekreasi. Para prefect, tolong atur mereka. Pastikan jangan ada yang
meninggalkan ruang rekreasi sebelum aku memperbolehkannya."
Beberapa
murid dari ketiga asrama lainnya berdiri dan mulai memimpin anak-anak asramanya
pergi keluar dari Aula Utama. Dumbledore meletakkan tangannya di pundak Nicole,
secara tidak langsung meminta gadis itu untuk tetap tinggal disana. Nicole
mengernyit, dengan ini dia akan kembali mendapat perhatian dari murid yang
lain, tapi jika itu permintaan kakeknya, maka dia akan melakukannya.
Setelah
Aula menjadi sepi karena hanya ada Hufflepuff dan guru-guru, Dumbledore mulai
berbicara dengan suara yang tenang namun tegas.
“Ada
yang bisa menceritakan kejadian bagaimana Miss Potter bisa pingsan seperti
itu?” Kata Dumbledore sementara Snape memeriksa gelas tersebut. Muka professor
satu itu tidak menunjukan banyak perubahan, tapi Nicole dapat melihat bahwa dia
sebenarnya sedikit cemas. Nicole sudah terbiasa melihat Snape sejak kecil
sehingga ia bisa melihat perbedaan tiap ekspresinya walau tidak banyak orang
yang bisa.
“Professor?”
Panggil Nicole dengan suara pelan. Snape menoleh dan menatap gadis itu. “Apakah
Elly akan baik-baik saja?”
Snape
menatap Nicole selama beberapa saat lalu mengangguk. “Ia di racuni, tapi
racunnya lemah dan amatiran. Madam Pomfrey bisa menyembuhkannya dengan mudah
walau dia harus dirawat selama beberapa hari.”
Nicole
menghembuskan nafas lega, setidaknya nyawa Elly tidak dalam bahaya. Dumbledore
tersenyum pada Nicole sebelum kembali memandang seorang anak Hufflepuff yang
duduk di depan Elly tadi. Pemuda itu sudah berdiri dan siap menceritakan
kejadian tadi.
"Mr.
Moore, silahkan" kata Dumbledore.
***
Cedric
menunggu tidak jauh dari ranjang tempat Elly berbaring sementara Madam Pomfrey
mengobati gadis itu. Tangannya terkepal di kedua sisi tubuhnya, menahan amarah
yang siap keluar. Siapa pun yang melakukan hal ini pada orang berharga buatnya,
akan membayarnya, Cedric akan membuat orang itu jera.
Setelah
entah berapa lama, pintu rumah sakit terbuka dan masuklah Nicole, Dumbledore,
Snape dan Sprout ke dalam rumah sakit. Nicole langsung berlari ke sisi Cedric.
Mukanya luar biasa cemas.
"Bagaimana
kondisinya?" Tanya Nicole. Cedric membuka mulut untuk bicara tapi tidak
ada kata-kata yang keluar. Nicole memandang cemas pemuda di depannya itu sebelum
mengalihkan pandangan pada Madam Pomfrey.
"Ia
akan baik-baik saja. Tidak usah cemas." Kata Madam Pomfrey menenangkan
Nicole dan Cedric. Setelah Madam Pomfrey menyingkir dari tepi ranjang Elly,
pemuda berambut cokelat muda itu langsung mengambil tempatnya di dekat Elly.
"Kalian
sudah menemukan pelakunya?" Cedric menatap Nicole yang sekarang berdiri di
sisi lain ranjang Elly. Nicole menggeleng.
"Sayangnya
Mr. Diggory, kami tidak bisa mengambil kesimpulan siapa pelakunya karena
kurangnya bukti." Dumbledore menjawab sebagai pengganti Nicole. Cedric
meraih tangan Elly dan mengusapnya dengan lembut.
"Aku
ingin pelakunya ditemukan." Kata Cedric sambil menatap wajah pucat Elly.
Gadis yang selalu tersenyum itu sekarang terbaring lemas, tidak sadarkan diri di
ranjang rumah sakit.
Dumbledore
tersenyum, "Cucuku sudah mengatakan hal yang sama berulang kali. Professor
Snape bahkan menawarkan untuk mengetes anak satu persatu dengan Veritaserum
miliknya." Kata-kata Dumbledore membuat Nicole menjadi salah tingkah dan
Snape mendadak sangat tertarik pada ujung jubahnya. "Kami akan
mengurusnya, jangan khawatir."
Setelah
berkata begitu, Dumbledore pergi untuk mengecek satu persatu asrama di temani
dengan Snape dan Sprout. Nicole tetap tinggal di sisi Elly menemani Cedric
hingga Madam Pomfrey harus mengusir mereka karena Elly membutuhkan ketenangan
maksimal. Maka kedua murid tersebut berjalan keluar dari rumah sakit dan menuju
ruang rekreasi masing-masing.
"Elly
baru duduk dan meraih pialanya untuk minum. Ketika ia minum seteguk, mendadak
tubuhnya bergetar hebat dan dia langsung menjatuhkan pialanya. Sedetik kemudian
mukanya pucat dan ia pingsan." Kata Cedric, menjelaskan pada Nicole
setelah gadis itu memintanya mengulangi kejadian tadi
"Anak
Hufflepuff yang lain juga berkata hal yang sama." Ucap Nicole sambil
berpikir keras. Bagaimana pun juga, Elly adalah sahabatnya dan seorang Potter.
Hal itu sudah cukup membuat beberapa orang berani mencelakainya. Nicole
menggigit bibir bawahnya dengan cemas, bagaimana jika Elly disakiti karena
berteman dengannya? Namun Nicole segera melenyapkan pikiran buruk tentang
menjauhi Elly, tidak, ia sudah tahu jawaban temannya tentang hal itu tahun
lalu.
"Kau
punya bayangan siapa yang melakukannya?" Tanya Cedric.
Nicole
menyibakkan rambutnya dengan tidak sabar, "Tentu punya. Tapi aku tidak
mempunyai apa-apa untuk membuktikannya."
"Mungkin
kita bisa memaksa mereka dengan kekerasan?" Usul Cedric, membuat Nicole
menatap temannya dengan heran. Sejak kapan Cedric segarang ini.
Nicole
menggeleng, "Kalau ternyata dugaanku salah, kita akan tertimpa masalah.
Tidak, kita perlu taktik yang lebih cerdas."
Cedric
mengangkat bahu, "Baiklah. Bagaimana pun juga kau jelas lebih pintar
daripadaku."
Nicole
tersenyum dan memukul pelan lengan Cedric. "Ngomong-ngomong. Ini pertama
kalinya aku melihat kau segarang dan setegas itu. Bahkan di depan kepala
sekolah."
Cedric
mendadak menjadi salah tingkah dan tidak membalas kata-kata Nicole. Sambil
tertawa, Nicole kembali memukul lengan Cedric dan mengucapkan sampai nanti
karena mereka sudah sampai persimpangan dimana mereka harus berpisah. Cedric
memperhatikan punggung gadis itu sampai hilang dari pandangan baru berbalik dan
berjalan menuju ruang rekreasi Hufflepuff.
Berita
tentang Elizabeth Ann Potter yang diracuni sudah menyebar ke seluruh penjuru
sekolah esok harinya. Gisselle, si kembar dan Lee sudah berkunjung ke rumah
sakit untuk melihat Elly. Gisselle nyaris menangis melihat kondisi Elly jika
ketiga pemuda tadi dan Nicole tidak menghiburnya. Cedric nyaris selalu berada
di sisi Elly kapanpun dia bisa.
"Cedric!!"
Seorang gadis berambut cokelat seperti Cedric berlari ke arah pemuda itu,
temannya, seorang gadis berambut hitam panjang menyusul dengan canggung walau
dia menjaga jarak dari Cedric. "Ku dengar yang keracunan adalah sahabatmu,
Itu benar?" Kata gadis yang pertama.
Nicole
yang berada di rumah sakit juga pada saat itu, bersama Gisselle, menatap gadis
asing itu lalu menatap Cedric dengan heran. Cedric mengusap kepala gadis yang
tampaknya lebih muda itu dan mengangguk. Ia lalu melirik Nicole dan Gisselle
dan tersenyum.
"Feli,
perkenalkan dirimu. Mereka teman-temanku juga." Kata Cedric. Gadis
berambut cokelat muda itu mengangguk dan memutar badannya sehingga menghadap
Nicole dan Gisselle.
"Namaku
Felicia Diggory, adik dari Cedric. Salam kenal." Kata Feli dengan senyuman
lebar menghiasi wajahnya. "Kalian boleh memanggilku Feli saja."
Baik
Gisselle maupun Nicole bergantian mengenalkan diri mereka. Ketika mendengar
nama Nicole, mata Feli langsung berbinar binar dan terpekik tertahan. Cedric
menepuk kepala adiknya mengingatkan bahwa gadis itu harus tetap tenang.
"Adikku.."
kata Cedric menggantikan adiknya menjawab pandangan heran Nicole ketika melihat
reaksi Feli. Sementara Feli sendiri masih menatap Nicole dengan mata
berbinar-binar. "..bisa dikatakan sebagai penggemarmu Nicole."
Nicole
tidak bisa menyembunyikan kekagetannya ketika Cedric berkata begitu, sementara
Feli hanya mengangguk-angguk bersemangat. Cedric dan Gisselle tertawa kecil
melihat reaksi teman mereka itu.
"Penggemarku?
Bagaimana bisa.." Nicole mengernyit sambil bergumam pada dirinya sendiri.
Feli sudah membuka mulutnya untuk menjawab ketika pintu rumah sakit terbuka dan
tampaklah Dumbledore dan Snape.
"Miss
Diggory, Miss Chang, dan Miss Scotthill. Maaf bisakah kalian meninggalkan
ruangan ini?" Kata Dumbledore dengan lembut. Gisselle menatap Nicole dan
mendapat anggukan dari gadis bermata hijau cerah itu. Cedric pun mendorong pelan
adiknya yang segera berjalan keluar bersama temannya yang berambut hitam,
disusul oleh Gisselle. Snape menutup pintu setelah ketiga gadis itu keluar.
"Bagaimana
kondisi Miss Potter?" Tanya Dumbledore seraya berjalan ke sisi cucunya.
Nicole menatap Elly lalu kakeknya.
"Masih
belum siuman. Namun Madam Pomfrey berkata ia sudah berhasil mengeluarkan racun
dari tubuh Elly."
Dumbledore
menangguk angguk pelan. "Belum ada perkembangan sama sekali." Kata
Dumbledore, menjawab pertanyaan Nicole yang bahkan belum keluar dari mulut
gadis itu. Nicole bertukar pandang cemas dengan Cedric namun mereka tidak
mengatakan apa-apa. Cedric mengepalkan tangannya lagi dan tampaknya siap untuk
menonjok siapapun. Dumbledore menatap Cedric, lalu Elly, lalu Snape dan
terakhir menatap Nicole.
"Nicole,
kemarilah."
Nicole
mengikuti kakeknya ke pojokan rumah sakit yang sepi itu, menjauhi Cedric, Elly
dan Snape, ke tempat dimana tidak ada yang bisa mendengar mereka. Dumbledore
menatap cucunya dengan pandangan yang tidak bisa dibaca.
"Kau
punya bayangan siapa pelakunya?" Pertanyaan Dumbledore mengagetkan Nicole.
Tapi Nicole tidak pernah meragukan kakeknya, maka ia mengangguk.
"Ada
beberapa. Tapi aku tidak mempunyai bukti."
Professor
tua itu mengelus-elus jenggot putihnya yang panjang itu. Nicole dengan sabar
menunggu kakeknya berbicara. Namun hanya 4 kata yang keluar dari mulut
Dumbledore ketika ia berbicara lagi.
"Kau
hanya perlu bersabar." Dumbledore tersenyum misterius sambil memandang
Nicole lewat katamata bulan-separuhnya. Ia lalu menepuk kepala Nicole dengan
pelan sebelum meninggalkan gadis yang bingung itu sendirian sementara dia
memanggil Snape dan mereka berdua keluar dari rumah sakit.
"Apa
yang kalian bicarakan?" Tanya Cedric saat Nicole berjalan kembali ke
posisinya di tepi ranjang Elly. Nicole menaikan kedua bahunya dan menggeleng.
"Aku
sendiri tidak mengerti." Dan Nicole menceritakan percakapannya tadi pada
Cedric, yang akhirnya sama bingungnya dengan Nicole sendiri. Mereka berdua
berpikir dalam keheningan sampai mendadak kedatangan Gisselle, Feli dan
temannya yang masuk kembali ke rumah sakit.
“Ada
apa? Mengapa Dumbledore berkunjung ke rumah sakit?” Tanya Gisselle pada Nicole
dan Cedric. Cedric melirik ke arah Nicole, jika gadis itu memutuskan untuk
merahasiakan percakapannya dengan kakeknya, maka Cedric akan merahasiakannya
juga. Nicole menatap Gisselle sejenak, lalu Feli dan temannya, kemudian ia
menggeleng.
“Tidak
ada apa-apa. Ia hanya ingin melihat kondisi Elly.” Jawab Nicole dengan senyuman
yang agak canggung. Melihat tingkah Nicole, Cedric juga menutup mulutnya.
Gisselle menatap sahabatnya itu, jelas mengetahui bahwa ada sesuatu yang
disembunyikan olehnya. Nicole membalas Gisselle dengan tatapan, ‘akan-ku-beritahu-kau-nanti.’
dan Gisselle pun tidak bertanya lagi.
“Kau
belum mengenalkan temanmu ini, Feli.” Kata Cedric, mengalihkan bahan
pembicaraan. Ia tersenyum lembut pada teman Feli yang jelas-jelas terpesona
padanya. Gadis berambut hitam itu menyembunyikan mukanya yang memerah di
belakang badan Feli.
“Ini
Cho, Cho Chang. Dia seangkatan denganku tapi di asrama Ravenclaw. Ayo Cho, beri
salam.” Kata Feli sambil menarik temannya, Cho, agar tidak terus menerus
bersembunyi di belakangnya.
“S-salam
kenal. Namaku Cho.” Kata Cho setelah Feli berhasil menariknya. Ia masih
menghindari menatap muka Cedric. Tidak hanya Cedric, tapi Nicole dan Gisselle
juga. Mukanya merah merona.
“Senang
berkenalan denganmu Cho.” Kata Cedric, menjulurkan tangannya seraya mengajaknya
berjabat tangan. Cho ragu untuk menerimanya.
“Kau
tahu Ced, Cho ini adalah pengge—“ Belum selesai Feli menyelesaikan
kata-katanya, Cho sudah menutupi mulut temannya itu dengan kedua tangannya
sambil menggelengkan kepalanya dengan cepat. Cedric melihat kelakuan adiknya
dan temannya dengan bingung. Nicole, yang sudah merasa bosan, berdeham pelan.
“Aku
harus pergi mengurus hal lain. Sampai nanti Cedric, Gisselle, Feli dan Cho.”
Kata Nicole, mengangguk ke arah setiap orang disana setiap kali ia memanggil
nama mereka. Setelah memegang tangan Elly dengan lembut sekali lagi, dan
berjalan keluar dari rumah sakit.
Secara
cepat, Cho juga pamit dan menyeret Feli pergi. Setelah kedua gadis itu juga
pergi, Cedric menoleh ke arah Gisselle yang menahan senyumnya.
“Ada
apa dengan adikku dan temannya?”
Gisselle
merasa kesal dan geli secara bersamaan. Apakah semua pemuda di sekelilingnya
adalah pemuda yang tidak peka? Pertama George dan sekarang Cedric. Dia langsung
merasa kasihan baik pada Elly maupun Cho.
***
Nicole
memikirkan kata-kata kakeknya. Tidak mungkin Dumbledore mengatakan hal-hal yang
tidak ada artinya begitu saja. “Mungkin kah, maksudnya pelaku itu akan muncul
di depanku suatu saat? Dan aku hanya perlu bersabar?” Gumam Nicole sambil
berjalan melintasi koridor yang kosong karena sebagian besar anak menghabiskan
waktu mereka menikmati udara di luar.
“Dia
belum keluar dari rumah sakit?”
Suara
tersebut membuat Nicole berhenti tepat di persimpangan di koridor tersebut. Beberapa
suara tawa menyusul suara yang pertama.
“Belum!
Dasar gadis idiot!”
“Mereka
tidak akan mencurigai kita sama sekali!”
Ini jelas
sudah menarik perhatian Nicole. Dari suaranya, sepertinya mereka semuak
laki-laki dan berjumlah empat orang. Nicole sudah hendak mendekat agar bisa
melihat muka mereka ketika sebuah suara lain mengejutkannya.
“Nicole?
Sedang apa kau?” Oliver Wood entah sejak kapan telah berdiri di belakangnya.
Suaranya bisa di katakan cukup keras.
“Kau
mendengar sesuatu?” Kata suara pemuda asing yang tidak kelihatan wujudnya itu.
Beberapa gumaman setuju terdengar di susul dengan langkah kaki yang mendekati
tempat Nicole dan Oliver berdiri. Panik, Nicole melihat ke sekelilingnya untuk
mencari tempat bersembunyi. Tepat di dekat mereka ada sebuah lemari sapu. Tanpa
berpikir apapun lagi, gadis itu meraih tangan Oliver dan menyeretnya masuk ke
dalam lemari yang cukup sempit itu.
“Nicole?
Ada ap—“ Mulut Oliver di tutup oleh tangan Nicole. Saat ini mereka berdua
berhadap-hadapan di dalam lemari itu. Melihat bahwa Nicole berdiri menempel
pada dirinya, Oliver tidak bisa menahan mukanya untuk tidak menjadi merah.
Sementara kedua tangan Nicole memegang mulut Oliver agar pemuda itu
mengeluarkan suara, tangan Oliver menahan berat tubuhnya di dinding lemari di
belakang Nicole. Posisi yang sedikit canggung, tapi tampaknya Nicole tidak
peduli. Ia malah sibuk mengintip dari lubang kecil di pintu lemari.
“Tidak
ada siapa-siapa.” Kata seorang pemuda, dari yang Nicole bisa lihat, ia berbadan
tegap, kurang lebih berada di kelas enam, rambutnya berwarna pirang dan tentu
saja, berasal dari Slytherin. “Mungkin itu hanya perasaanmu Poulson.”
Pemuda
yang di panggil Poulson menggarung kepalanya dengan bingung. “Mungkin saja.
Sesaat ku kira ada yang mengetahui rahasia kita.”
“Jangan
bodoh. Semua orang sedang bersenang-senang di luar saat ini.” Kata pemuda
lainnya.
“Hey
bagaimana kalau si Potter bangun?” Mereka berempat mulai berjalan pergi dari
tempat itu.
“Kita
hanya perlu meracuninya lagi!” Kata pemuda yang pertama dan ketiga temannya
tertawa terbahak-bahak. Nicole menurunkan tangannya dari mulut Oliver dan
meletakannya secara terkepal di dada pemuda itu. Tangannya gemetar karena
menahan marah, menahan diri untuk tidak berlari keluar dan mengahajar ke empat
pemuda jahat itu satu persatu.
Oliver
bisa merasakan gadis, yang secara tidak langsung berpelukan dengannya itu,
bergetar karena marah. Secara tidak sadar, ia memindahkan tangan kanannya dari
dinding lemari dan menempatkannya di belakang kepala Nicole lalu menarik kepala
gadis itu mendekat hingga menempel di dadanya. Hal tersebut langsung membuat
Nicole menyadari dimana dia berada dan bersama siapa. Mukanya otomatis memerah,
namun ia tidak bergerak memprotes ketika Oliver melakukan itu.
Oliver
lalu melepaskan pegangannya dari kepala Nicole, “Sudah lebih tenang?” Tanyanya,
suaranya tidak lebih dari bisikan. Nicole mengangguk dan menjauhkan kepalanya
dari Oliver sejauh yang ia bisa. Berusaha mengendalikan dirinya, Nicole kembali
mengintip lewat lubang tadi. Setelah memastikan tidak ada orang di koridor,
gadis itu membuka pintu lemari dan meloncat keluar dari sana, diikuti oleh
Oliver dengan muka yang menunjukan sedikit kekecewaan.
Nicole
menepuk kedua pipinya dengan pelan sebelum meraih tangan Oliver dan menariknya
pergi. Oliver tidak memprotes ataupun mengatakan apapun, walaupun ia jelas
senang karena Nicole memegang tangannya lagi.
“Kita
harus melapor pada kakekku.” Jelas Nicole walau Oliver tidak menanyakan
apa-apa. Mereka sudah tiba di depan patung gargoyle jelek yang menjadi penjaga
pintu masuk ruang kepala sekolah.
“Kau
yakin aku di perbolehkan masuk?” Tanya Oliver ragu.
“Aku
membutuhkanmu!” Kata Nicole, membuat muka Oliver merah padam lagi. “Tidak
mungkin aku bisa bersaksi sendirian.” Oliver sedikit merengut kecewa ketika mendengar
kata-kata Nicole setelahnya. Nicole kembali menoleh ke kanan dan ke kiri untuk
memastikan tidak ada orang lain di koridor itu selain mereka berdua sebelum
membuka mulutnya, hendak menyebutkan kata kuncinya.
Betapa
terkejutnya kedua anak itu ketika patung gargoyle itu bergerak sendiri sebelum
Nicole mengatakan kata kuncinya. Kekagetan mereka bertambah ketika Dumbledore muncul
dari balik patung itu.
“Nicole?
Dan Mr. Wood? Hal apa yang membawa kalian kesini?” Tanya Dumbledore sambil
memandang kedua anak yang berada didepannya. Matanya sekilas menatap tangan
Nicole dan Oliver yang berpegangan dengan pandangan misterius yang tidak bisa
di tebak. Nicole menyadari pandangan kakeknya dan segera melepaskan tangan
Oliver.
“Kakek!”
Kata Nicole, “Kami menemukan pelaku yang meracuni Elly!”
Dumbledore
menatap Nicole dengan pandangan tertarik. “Ayo, kita bicarakan bersama Mr.
Diggory, Professor Snape dan Professor Sprout. Temui aku di rumah sakit.”
Tanpa
disuruh dua kali, Nicole berlari menuju rumah sakit, meninggalkan Oliver yang
masih terkejut dan bingung di depan Dumbledore. Dumbledore tersenyum pada pemuda
itu.
“Ku
harap kau memperlakukannya dengan baik. Jika tidak, aku bisa sangat marah.”
Oliver
belum bisa mencerna kata-kata Dumbledore saat Nicole berlari kembali dan
menarik tangan Oliver untuk lari bersamanya.
***
“Kenapa
kita berkumpul disini kepala sekolah?” Tanya Snape ketika semua orang yang
diminta sudah berkumpul di sekeliling ranjang Elly. Cedric berdiri di samping
ranjang Elly yang sudah bangun dan sekarang terduduk lemas di atas ranjangnya,
memegang tangan Cedric sebagai pemberi tenaga.
Nicole
berdiri di sisi lain ranjang Elly, dengan Oliver yang berdiri canggung
disebelahnya. Di depan ranjang Elly, Dumbledore berdiri berhadapan langsung dengan
Elly. Professor tua itu memandang Elly dengan pandangan lembut. Snape dan
Sprout berdiri di kanan dan kiri Dumbledore.
“Karena
Miss Potter juga harus mengetahuinya.” Kata Dumbledore yang lalu mengalihkan
padangannya dari Elly ke Nicole dan Oliver. “ Nicole, Mr. Wood, tolong
ceritakan.”
Maka
Nicole mulai menceritakan pengalamannya tadi, di bantu dengan Oliver. Tanpa
persetujuan verbal, kedua anak itu merahasiakan bahwa mereka berdua bersembunyi
dengan cara berdiri berdekatan di lemari sapu. Jika mendengar cerita mereka,
semua orang pasti akan mengira mereka bersembunyi sedemikan rupa di koridor.
“Kau
yakin dengan deskripsimu?” Tanya Snape setelah Nicole dan Oliver menyelesaikan
ceritanya. Nicole bertukar pandang dengan Oliver sebelum keduanya mengangguk
dengan mantab.
“Kau
tau siapa mereka Severus?” Tanya Dumbledore.
Snape
mengangguk dengan mantab, “Dengan seijinmu kepala sekolah, aku akan mulai
menginterogasi mereka dengan menggunakan Veritaserum.”
Dumbledore
mengangguk, “Lakukanlah.” Dan Snape dengan terburu-buru berlari keluar dari
rumah sakit.
Cedric
menatap Dumbledore dengan lekat-lekat, “Aku ingin membalas mereka secara
pribadi.” Katanya sambil menunjukan kepalan tangan kirinya, tangan yang tidak
sedang menggenggam tangan Elly.
Namun
yang menjawab Cedric adalah Elly alih-alih Dumbledore. “Tidak. Jangan.” Katanya
dengan lemah, tenaganya belum kembali secara sepenuhnya. “Kau bisa tertimpa
masalah, dan aku tidak mau hal itu.”
“Tapi..
mereka melakukan sesuatu yang buruk padamu!”
Elly
tersenyum lemah, “Memang. Dan mereka akan mendapatkan hukuman. Kau tidak perlu
mengotori tanganmu. Aku sudah puas dengan perasaanmu itu saja.”
Cedric
sepertinya hendak mengatakan sesuatu, tapi lalu ia menahannya dan membalas
senyum Elly. “Kau memang terlalu baik.” Sebuah kecupan mendarat di kepala Elly.
“Tidurlah, kau butuh tenagamu.”
Elly
membuka mulutnya karena kaget akan tindakan Cedric. Melihat kelakuan kedua
temannya, Nicole mengalihkan pandangannya, dan menatap Oliver yang kebetulan
mengalihkan pandangannya juga.
“Baiklah
kalau begitu. Aku permisi terlebih dahulu.” Kata Dumbledore. Nicole sesaat bisa
melihat kerlingan jail dari kakeknya sebelum ia meninggalkan rumah sakit
sekolah bersama Sprout.
“Kami
juga permisi. Elly, beristirahatlah agar cepat sembuh.” Kata Nicole sambil
tersenyum. Elly mengangguk pelan dan tersenyum. Namun ekspresinya masih berupa
ekspresi terkejut dan tidak percaya di tambah dengan rona merah di kedua
pipinya. Lain dengan Elly, Cedric tidak menunjukan sedikit pun ekspresi yang ‘spesial’.
Ia tersenyum pada Nicole dan Oliver lalu melambai ke arah mereka.
Setelah
meninggalkan rumah sakit, Nicole dan Oliver saling berpandangan lalu mereka
tertawa kecil bersamaan.
“Kau
berhasil menangkap pelakunya.” Kata Oliver.
“Kita berhasil membongkar identitas
pelakunya.” Balas Nicole, mengkoreksi kata-kata Oliver. Oliver tersenyum sambil
menatap Nicole. Mendadak, ia melakukan hal yang sama dengan Cedric tadi di
rumah sakit, mencium kepala, namun kali ini adalah kepala Nicole.
“Kita
berhasil.” Ulangnya, entah maksudnya apa. Setelah mengatakan hal itu, ia
berbalik dan berjalan pergi, meninggalkan Nicole yang heran dan bermuka merah
padam.
***TBC***
A/N : PLIS GAJE
MAKSIMAL HUEHUEHUE OTL #plak
Mohon maaf apabila ada
kesalahan *bows*
Made
by : Liz
Take
out with full credits please~ ^^

0 komentar:
Posting Komentar