Sabtu, 07 Juni 2014

Hogwarts' Beloved : Chapter 14

Chapter 14 : Remember, That You’re Mine
                                                (Setting : HP 3 )

Sebulan telah berlalu dan pelajaran Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam menjadi pelajaran favorite semua murid, kecuali sebagian murid Slytherin tentu saja, dan Pemeliharaan Satwa Gaib kurang diminati karena berita penyerangan seekor Hippogriff terhadap Malfoy telah menyebar luas disekolah.

Di bulan Oktober, latihan Quidditch pun dimula. Di bawah pimpinan Oliver, seluruh anggota team Gryffindor berlatih keras untuk memenangkan kejuaraan Quiddith tahun ini. Namun tidak ada yang berlatih sekeras Oliver, karena ini adalah tahun terakhirnya untuk mendapatkan piala Quidditch. Tidak jarang Nicole dan Gisselle melihat mereka berlatih keras hingga larut malam. Hari ini pun tidak jauh berbeda. Kedua gadis itu duduk di kursi penonton, memperhatikan tujuh orang terbang kesana kemari seraya berlatih untuk pertandingan nanti.

Setelah beberapa lama, Oliver mendarat dan seluruh teman se team nya mengikuti jejaknya. Nicole dan Gisselle pun ikut bangkit berdiri dan berjalan ke arah ruang ganti. Sesampainya disana, para anggota team sudah mengucapkan selamat malam antara satu dengan yang lain dan mulai meninggalkan ruang ganti. Harry tersenyum saat melewati Nicole dan Gisselle, pemuda berumur 13 tahun itu tampak lelah, namun tetap bersemangat. Angelina, Alicia dan Katie keluar dari ruang ganti dengan senyuman di muka mereka. Setelah menyapa Nicole dan Gisselle, mereka berjalan kembali ke kastil.

Si kembar juga keluar dengan muka lelah, dan seperti Harry, walau muka mereka menunjukan bahwa mereka lelah, mata mereka berbinar-binar bersemangat. Keduanya sibuk membicarakan tentang Quidditch sambil berjalan kembali menuju kastil. Gisselle menoleh menatap Nicole.

“Pergilah duluan.” Kata Nicole sambil menggerakan kepalanya ke arah kedua pemuda kembar yang makin lama makin menjauh itu. Nicole tahu bahwa sahabatnya itu hendak berjalan ke kastil bersama George, tapi tidak ingin meninggalkan Nicole. Setelah mendengar kata-kata Nicole, Gisselle mengangguk lalu berjalan mengikuti kedua pemuda berambut merah tadi.

Nicole menunggu beberapa saat, namun Oliver tidak keluar juga dari ruang ganti. Akhirnya, karena penasaran, gadis itu mengintip ke dalam ruang ganti dan mendapati Oliver sedang duduk di salah satu bangku disana, belum berganti dari seragam Quidditchnya ke seragam sekolah yang biasa.

“Nicole?”

Suara Oliver menganggetkan Nicole. Ia tidak menyangka pemuda itu menyadari kehadirannya karena pemuda itu tadi menghadap kebawah. Nicole melangkah masuk kedalam ruang ganti dan tersenyum.

“Kau tidak berganti pakaian? Yang lain sudah pergi.” Kata Nicole. Oliver menggeleng dan berjalan mendekati Nicole.

“Tidak.” Kata Oliver. Ia lalu memikirkan sesuatu dan tersenyum lagi pada Nicole. “Sebenarnya ini waktu yang pas. Aku ingin menunjukan sesuatu padamu.” Pemuda itu meraih sapunya dan berjalan keluar. Setelah beberapa langkah melewati Nicole, ia menoleh dan menjulurkan tangannya untuk gadis bermata hijau terang itu. “Ikut?”

Sekali lagi, rasa penasaran Nicole menguasainya dan ia menjulurkan tangan dan menyambut tangan pacarnya itu. Oliver menggenggam tangan gadis itu dengan lembut dan menggiringnya keluar, ke lapangan Quidditch yang sekarang kosong sama sekali, tidak ada satu orang pun disana. Udara sudah cukup dingin sehingga Nicole harus mengeratkan jaketnya.

Mendadak Oliver melepaskan genggamannya dan menaiki sapunya, membuat Nicole memandang dengan bingung. Setelah memposisikan diri di atas sapunya, Oliver kembali menjulurkan tangannya.

“Kau ingin….aku naik?” Tanya Nicole ragu-ragu ketika melihat ajakan Oliver itu. Pemuda itu menjawab dengan sebuah anggukan bersemangat. Nicole merasa bimbang, ia selalu enggan naik sapu walau ia bisa melakukannya. Dan kali ini Oliver mengajaknya naik sapu berdua dengannya. Ia mempercayai pemuda itu, tapi kali ini dia sedikit ragu. Namun sebelum Nicole berhasil menyuarakan keraguannya, Oliver melingkarkan tangannya ke sekeliling pinggang gadis itu dan menariknya terduduk di depannya.

“Pegangan padaku.” Setelah berkata begitu, Oliver langsung menjejak dan terbang ke angkasa. Otomatis Nicole terpekik kecil dan segera memeluk Oliver. Oliver tertawa kecil ketika melihat reaksi pacarnya itu. Satu tangannya masih melingkar di pinggang Nicole sementara yang satu lagi mengarahkan sapunya sehingga naik cukup tinggi.

“Oliver! Apa yang kau lakukan?!” Kata Nicole. Oliver mengarahkan arah pandang Nicole sehingga menatap Hutan Terlarang dan sekelilingnya, serta langit di atas semua itu. Siluet hitam pepohonan, angin yang meniup dahan-dahan membuat pohon seakan-akan menari, burung-burung yang mendadak terbang dari pohon, pantulan cahaya bulan di danau, dan langit malam yang cerah bertaburan bintang.

Pemandangan indah itu adalah hal baru bagi Nicole. Ia tidak pernah terpikir untuk melihat pemandangan malam hari dengan menaiki sapu.

“Aku hanya ingin menunjukanmu ini.” Kata Oliver, merasa luar biasa bahagia karena kejutan kecilnya yang ia pikirkan baru saja tadi berhasil membuat Nicole terpukau. Nicole tidak membalas perkataan Oliver melainkan masih menatap pemandangan indah itu. Mendadak ide jahil terlintas di benak Oliver dan ia menggoyangkan sapunya sedikit.

Merasakan goyangan yang tiba-tiba, Nicole kembali memeluk Oliver dengan erat dan terpekik lagi. “Oliver!! Jangan lakukan itu! Kita bisa jatuh!!” Oliver tertawa lagi melihat reaksi itu, baru pertama kalinya ia melihat Nicole sepanik itu. Pemuda itu mengeratkan pelukannya pada Nicole dan berbisik di kuping gadis itu.

“Tenang saja. Aku tidak akan melepaskanmu.”

Nicole yakin kata-kata itu berarti bahwa Oliver tidak akan melepaskan pelukannya dan mencegah dirinya jatuh, namun entah mengapa, ia merasakan ada arti lain di balik kata-kata itu. Gadis berambut cokelat tua itu mendongak menatap Oliver, dan pemuda itu juga menunduk untuk menatap Nicole. Selama beberapa saat mereka hanya berpandangan, hijau bertemu cokelat. Akhirnya Oliver memajukan kepalanya dan bibirnya bertemu dengan bibir Nicole. Ciuman yang manis dan hangat, namun cukup untuk membuat Nicole nyaris kehabisan nafas saat akhirnya ciuman itu di lepaskan.

“Aku tidak akan melepaskanmu.” Kata Oliver lagi, dan kali ini Nicole seratus persen yakin artinya berbeda dengan yang sebelumnya. “Kau tahu, ini adalah tahun terakhirku. Artinya setelah aku lulus, aku tidak akan bisa menemuimu sesering biasanya.”

“Dan?” Kata Nicole. Oliver mendadak menjadi sedikit enggan mengatakan lanjutannya. Pemuda itu diam sejenak sebelum akhirnya melanjutkan.

“Ya, aku hanya takut. Maksudku, kau terkenal, pintar dan cantik. Dan jika ada orang lain, aku takut tidak bisa bersaing, dan..eh..” Kata-kata Oliver berantakan dan terpotong-potong. Mukanya memerah karena malu. Melihat hal itu semua, kini gentian Nicole yang tertawa. Ia mengerti maksud Oliver, walau pemuda itu tidak menyampaikannya dengan baik.

“Aku mengerti. Aku hanya milikmu.” Jawab Nicole seraya meletakan kepalanya di dada Oliver, memeluknya dengan erat.

“Kau milikku. Aku milikmu.” Kata Oliver, menyetujui perkataan Nicole.

***

Malam pesta Halloween, Nicole menjadi salah satu yang terakhir keluar dari Aula Utama karena Fred dan George berulang kali membuat kejahilan dimana-mana sehingga gadis itu harus mendisiplinkan mereka berulang kali juga. Ketika ia, si kembar dan Gisselle berjalan menuju ruang rekreasi Gryffindor, teriakan Percy menganggetkan mereka.

“Panggil Professor Dumbledore. Cepat!” Perlu beberapa detik untuk gadis itu untuk mencerna teriakan Percy sebelum gadis itu berlari ke Aula Utama, tempat kakeknya masih duduk dan menikmati pesta. Ketika hendak berbelok menuju Aula Utama, ia nyaris menabrak Dumbledore yang baru keluar dari Aula.

“Nicole? Ada apa?” Tanya Dumbledore ketika melihat Nicole terengah-engah di hadapannya.

“Percy memintaku memanggil kakek. Tapi entah karena apa.” Kata Nicole, menyadari bahwa ia langsung pergi tanpa menanyai alasannya. “Dari suaranya, bisa kupastikan bahwa itu sesuatu yang penting.”

Dumbledore tidak menanyai Nicole lebih jauh lagi, melainkan langsung berjalan cepat ke arah menara Gryffindor, tempat ruang rekreasi Gryffindor berada. Kerumunan anak-anak langsung terbelah untuk mempersilahkan Dumbledore berjalan serta Nicole yang membuntut di belakangnya.

Nicole perlu mengejapkan matanya berulang kali. Ia tidak mempercayai hal yang ia lihat. Lukisan si Nyonya Gemuk telah di sayat-sayat dengan kejam. Penghuninya sendiri sudah menghilang entah kemana. McGonagall, Lupin dan Snape menyusul dan berdiri di belakang Nicole. Dumbledore sudah akan menyuruh McGonagall untuk mencari si Nyonya Gemuk ketika Peeves mendadak muncul. Setelah percakapan singkat antara kepala sekolah dan si hantu jahil itu, seluruh orang yang ada disana dikejutkan dengan kenyataan bahwa yang menyerang si Nyonya Gemuk adalah Sirius Black sendiri.

Dengan cepat seluruh murid di kumpulkan di Aula Utama yang telah disihir sehingga meja dan kursinya berubah menjadi kantong tidur. Nicole menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada teman-temannya lalu meminta si kembar dan Lee menjaga Gisselle.

"Aku harus menjaga pintu masuk." Kata Nicole. "Kalian tidurlah duluan. Aku akan baik-baik saja." Dan setelah itu, Nicole meninggalkan Gisselle bersama si kembar dan Lee, sendirian.

"Perintah dari Nicole. Ayo kita tidur." Kata Fred. Pemuda itu lalu mengatur kantong tidurnya dan masuk ke dalam kantong itu. George meletakan kantong tidurnya di sebelah saudara kembarnya dan mengikuti jejaknya. Lee meletakan tempat tidur Gisselle di antara milik George dan kantong tidur milik pemuda itu sendiri, lalu masuk ke dalam kantong dan tertidur juga.

Namun Gisselle hanya bisa memandang kantong tidurnya, dan George yang tidur persis disebelahnya. Nicole memang telah meminta pemuda-pemuda itu menjaganya, tapi jika seperti ini caranya, ia tidak akan bisa tidur. Akhirnya gadis itu merangkak masuk kedalam kantong tidurnya dan berusaha beristirahat.

Semenit, lima menit, sepuluh menit, setengah jam berlalu, dan kedua mata Gisselle masih terbuka lebar. Ia memandang langit-langit Aula Utama yang menampilkan langit asli penuh dengan bintang. Ia terus memikirkan tentang Sirius Black yang menerobos masuk ke dalam kastil, ia mengkhawatirkan kedua sahabatnya yang harus berjaga malam itu, dan tentu saja, ia memikirkan fakta bahwa orang yang di sukainya sedang tidur di sebelahnya.

"Tidak bisa tidur?" Suara bisikan George membuat Gisselle terkejut. Gadis itu menoleh dan mendapati George belum tertidur seperti dugaannya. Pemuda itu tersenyum pada Gisselle lalu memandang ke atas, ke langit berbintang.

"Tenang saja. Tidak ada yang akan menyerangmu disini. Nicole akan menghajar siapa pun itu, bahkan Sirius Black sekalipun, sebelum bisa mendekatimu." Kata George sambil tertawa kecil, membuat Gisselle ikut tersenyum. Gadis itu mendapati ia tidak bisa berhenti memandang George.

"Dan aku juga," Bisik George dengan suara yang lebih kecil lagi. Tangannya terjulur ke arah tangan Gisselle dan menggenggamnya pelan. "..akan menjagamu."

Gisselle merasa mukanya memerah. "M-maaf? Apa katamu George?" Tanya Gisselle, memastikan bahwa ia tidak salah dengar, tapi George menutup matanya dan berpura-pura tertidur. Bahkan pemuda itu tidak mengerti ada apa dengannya sehingga mengucapkan kata-kata itu. George bisa merasakan mukanya memanas, tapi ia tidak melepaskan genggamannya atas tangan Gisselle. Tidak, malam ini ia akan menjaganya, dan hal itu bukan karena Nicole memintanya.

***

Bisik-bisik memenuhi Aula Utama. Nicole sendiri telah menegur beberapa murid yang terus bercakap-cakap bahkan setelah lilin-lilin di padamkan. Selama beberapa jam, Aula Utama di penuhi suasana yang tegang, dan sedikit ketakutan. Berita mengenai Sirius Black yang berusaha menerobos masuk ke dalam ruang rekreasi Gryffindor telah menyebar dan telah di ketahui oleh seluruh anak. Bahkan para hantu dan prefect ikut tegang saat berjaga.

“Menurutmu, apakah Sirius Black akan berani menerobos masuk kedalam Aula ini?” Pertanyaan Robert, yang ditugaskan berjaga bersama Nicole saat ini di pintu masuk Aula Utama, membuat Nicole mengerutkan keningnya.

“Kurasa tidak. Ia tidak sebodoh itu.” Jawab Nicole dengan bisikan. Robert mengacak-acak rambutnya dan mendesah pelan.

“Semoga ia tidak menerobos masuk lagi.” Kata Robert.

Beberapa hari kedepan, Sirius Black adalah topik favorite semua anak. Rasanya tiap kali Nicole melewati kerumunan anak-anak, mereka semua membicarakan buronan itu. Lukisan si Nyonya Gemuk telah diganti menjadi si kesatria gila, Sir Cadogan yang selalu mengganti kata kunci ruang rekreasi Gryffindor sehingga bahkan Percy, Nicole dan Joe menghadapi kesulitan.

Kesulitan lain di alami oleh dua Potter bersaudara. Elly dan Harry terus menerus di awasi dan puncaknya, mereka di panggil oleh McGonagall. Nicole, yang sudah mengetahui maksud perilaku guru-guru, tidak merasa heran lagi. Ia sendiri telah diminta oleh kakeknya.

“Ia meminta aku berhati-hati karena Sirius Black mengincar diriku dan Harry.” Kata Elly, menjawab pertanyaan Gisselle. “Sebenarnya tidak perlu, karena aku percaya Sirius tidak bersalah.”

“Kau hanya satu-satunya orang yang percaya hal itu Elly.” Jawab Nicole seraya membolak-balik halaman buku yang ia pegang. Mereka bertiga sedang duduk di halaman sekolah, menikmati Jum’at sore mereka.

“Tapi yang bersalah itu Petter Pettigrew!”

Nicole menutup bukunya. “Masalahnya, Elly. Tidak ada bukti yang bisa mendukung kata-katamu itu.” Gadis itu mengatakannya dengan selembut yang ia bisa. Temannya yang berambut merah itu sudah berulang kali mengatakan hal yang serupa sejak mereka membicarakan tentang Sirius Black.

Elly sudah membuka mulutnya ketika Cedric mendadak berjalan ke arah ketiga gadis itu. Otomatis Elly menutup mulutnya kembali dan menatap Cedric dengan malu-malu. Pemuda berambut cokelat muda itu tersenyum dan mengangguk. Ia tidak berhenti karena ternyata ketiga gadis itu bukan tujuannya.

“Cedric tampak..” Kata Gisselle saat mereka memperhatikan pemuda itu menghilang dari pandangan. “Entahlah, berbeda.”

“Ia tampak lebih tampan bukan?”

Perkataan Elly membuat kedua temannya berpandangan dan tertawa kecil. Dengan segera Elly menjadi target godaan mereka berdua, dan perdebatan mengenai Sirius Black pun di lupakan.

Badai menerpa esok harinya. Hujan deras dan angin kencang membuat semangat Oliver menurun. Pemuda berumur 17 tahun itu tidak menyentuh sarapan paginya sama sekali sehingga Nicole harus memaksa pacarnya itu.

“Pertandingan hari ini akan berat." Kata Oliver. Seluruh anggota teamnya sudah mencoba menghiburnya tapi pemuda itu masih tidak menyentuh makanannya. Akhirnya Nicole mengambil tindakan drastis yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya. Gadis itu menyendok sesuap bubur dan menyodorkannya ke depan mulut Oliver, lalu memandang pemuda itu.

"N-nicole?" Kata Oliver, terkejut karena Nicole tidak pernah melakukan hal itu sebelumnya. Beberapa anak yang melihat adegan itu mulai bersorak kecil.

"A-ayo cepat makan." Muka Nicole sudah merah padam, tapi tangannya tetap berada di udara, memegang sendok berisi bubur di depan mulut Oliver. Pemuda itu menyadari arti tindakan pacarnya dan tersenyum.

"Kau seharusnya bilang 'Aaa~', Nicole." Kata Oliver sambil tertawa kecil. Sebelum Nicole sempat memprotes dan menurunkan lengannya, Oliver memegang tangan Nicole yang memegang sendok dan memakan bubur yang di sodori oleh gadis itu.

"Terima kasih." Kata-kata Oliver mengundang sorakan dan kikikan dari banyak orang yang menonton mereka. Nicole menggumamkan 'sama-sama'nya dengan pelan dan kembali memfokuskan dirinya pada makanannya. Oliver memberikan kecupan kilat di kepala Nicole dan mulai memakan sarapan paginya.

"Semoga berhasil!" Kata-kata penyemangat pun keluar dari meja Gryffindor untuk para pemain Quidditch mereka. Nicole mengecup pipi Oliver sebelum pemuda itu pergi ke arah ruang ganti.

Ternyata hujan dan badai tidak bisa menghentikan kecintaan semua orang mengenai Quidditch karena tempat duduk penuh terisi semuanya. Cedric menjabat tangan Oliver dan kedua team itu mulai bertanding.

“Nicole!” Panggil Hermione di tengah deru angin. Gadis yang lebih tua itu menoleh kepada Hermione yang mukanya entah kenapa tampak berseri-seri. “Apakah mantra Impervius dapat berlaku untuk kacamata Harry?” Tanya Hermione tanpa menunggu jawaban Nicole.

Nicole menaikkan alisnya, kagum dengan kecerdikan Hermione yang kadang melebihinya. Sebagai jawaban, ia mengangguk. “Bisa. Sepertinya mereka akan time out sebentar lagi, kau harus bergegas.” Kata Nicole. Ron dan Gisselle hanya menatap percakapan antara dua gadis itu dengan bingung, lebih bingung lagi ketika Hermione berdiri dan berjalan menuju ruang ganti sementara seakan-akan Nicole yang memintanya, time-out di berikan untuk team Gryffindor.

Beberapa saat kemudian pertandingan pun di mulai kembali. Baru saja pertandingan di mulai lima menit sejak time out, Harry dan Cedric sudah menukik dan mengejar snitch yang tampaknya hanya bisa di lihat mereka karena buruknya cuaca ini.

“Ayo Harry..” Kata Gisselle. Mendadak gadis itu memegang tangan Nicole dengan tegang dan menunjuk sosok-sosok hitam yang meluncur ke dekat Harry. Nicole langsung bangkit berdiri dan mengeluarkan tongkatnya. Hanya sedikit anak yang mengikuti jejaknya karena sebagian besar berteriak kaget. Teriakan itu berubah menjadi histeris ketika Dementor-dementor itu mendekati Harry dan membuat pemuda itu terjatuh dari sapunya.

“Harry!!” Teriak Gisselle dan Hermione bersamaan ketika tubuh pemuda itu jatuh dengan kecepatan tinggi. Namun mendadak tubuh Harry melayang turun dengan pelan, melambat dari kecepatannya yang semula. Semua kepala menoleh dan melihat kepala sekolah mereka berjalan melintasi lapangan. Dari tongkat professor tua itu keluar cahaya perak yang mengusir semua dementor yang muncul di lapangan. Nicole kenal baik mantra itu, itu mantra Patronous.

Tiupan peluit Madam Hooch mengambil alih perhatian dari Dumbledore. “Pertandingan usai! Snitch di tangkap oleh Diggory! Hufflepuff menang!!” Teriakan dari Madam Hooch memicu teriakan protes dari anak-anak Gryffindor, bahkan Cedric juga memprotesnya, walau ia menang dengan adil. Tapi keputusan sudah bulat.

Nicole, Gisselle, Ron dan Hermione langsung berlari ke lapangan. Dari tempat duduk Hufflepuff, Elly dan Feli juga melakukan hal yang sama. Kedua anggota team mulai mendarat di sisi kanan dan kiri Harry serta Dumbledore.

“Aku akan membawanya ke rumah sakit.” Kata Dumbledore. Ron, Hermione dan Elly langsung menyatakan akan ikut bersamanya. Cedric masih berusaha meminta pertandingan ulang pada Madam Hooch, tapi Oliver menghentikannya.

“Kalian menang dengan adil, Diggory.” Kata Oliver dengan suara tercekat, seraya menepuk pundak Cedric. Pemuda itu berjalan pelan menuju lemari sapu untuk menyimpan sapunya bersama yang lain, diikuti oleh Nicole dan Gisselle. Tidak ada yang berbicara selama itu, sampai akhirnya George mengatakan bahwa ia akan mengunjungi Harry juga. Sisa team Gryffindor juga mengatakan hal yang sama, kecuali Oliver.

“Aku akan mengunjunginya nanti. Aku akan mandi dahulu.” Suara pemuda itu pelan dan tidak bersemangat, tidak seperti biasanya. Oliver lalu berjalan pelan menuju kastil dank e arah ruang rekreasi Gryffindor, diiringi dengan tatapan dari yang lain.

Nicole merasakan tepukan di pundaknya dan ketika ia menoleh, ia mendapati Fred berada di belakangnya, tersenyum padanya.

“Kami serahkan kapten kami kepadamu.” Kata Fred. “Hanya kau yang bisa ‘mengatasi’nya saat ini.” Setelah mengatakan itu, pemuda berambut merah itu mendorong Nicole maju. Nicole tersenyum tipis sebagai tanda terima kasih sebelum berlari menyusul Oliver.

“Kau sudah merelakannya?” Kata George seraya merangkul saudara kembarnya. Ia tentu saja berbicara dengan bisikan karena Fred akan marah jika ada orang lain yang mengetahuinya.

Fred tersenyum lalu mengangguk. “Apakah salah melepaskannya untuk kebahagiaannya?”

George tertawa kecil, “Tidak salah sama sekali kawan. Tidak sama sekali.”

***TBC***

A/N : lol aneh pake banget.. Udah aneh lama lagi hahahaha
Entah mengapa memang sedang tidak ada ‘mood’, map ya :””
Mohon maaf apabila ada kesalahan *bows*

Original Plot by : Our Queen, JK Rowling
The ‘new’ plot Made by : Liz
Take out with full credits please~ ^^