Chapter 14 : Remember,
That You’re Mine
(Setting
: HP 3 )
Sebulan telah berlalu dan pelajaran Pertahanan
Terhadap Ilmu Hitam menjadi pelajaran favorite semua murid, kecuali sebagian
murid Slytherin tentu saja, dan Pemeliharaan Satwa Gaib kurang diminati karena
berita penyerangan seekor Hippogriff terhadap Malfoy telah menyebar luas
disekolah.
Di
bulan Oktober, latihan Quidditch pun dimula. Di bawah pimpinan Oliver, seluruh anggota team Gryffindor berlatih
keras untuk memenangkan kejuaraan Quiddith tahun ini. Namun tidak ada yang
berlatih sekeras Oliver, karena ini adalah tahun terakhirnya untuk mendapatkan
piala Quidditch. Tidak jarang Nicole dan Gisselle melihat mereka berlatih keras
hingga larut malam. Hari ini pun tidak jauh berbeda. Kedua gadis itu duduk di
kursi penonton, memperhatikan tujuh orang terbang kesana kemari seraya berlatih
untuk pertandingan nanti.
Setelah
beberapa lama, Oliver mendarat dan seluruh teman se team nya mengikuti
jejaknya. Nicole dan Gisselle pun ikut bangkit berdiri dan berjalan ke arah
ruang ganti. Sesampainya disana, para anggota team sudah mengucapkan selamat
malam antara satu dengan yang lain dan mulai meninggalkan ruang ganti. Harry
tersenyum saat melewati Nicole dan Gisselle, pemuda berumur 13 tahun itu tampak
lelah, namun tetap bersemangat. Angelina, Alicia dan Katie keluar dari ruang
ganti dengan senyuman di muka mereka. Setelah menyapa Nicole dan Gisselle,
mereka berjalan kembali ke kastil.
Si
kembar juga keluar dengan muka lelah, dan seperti Harry, walau muka mereka
menunjukan bahwa mereka lelah, mata mereka berbinar-binar bersemangat. Keduanya
sibuk membicarakan tentang Quidditch sambil berjalan kembali menuju kastil.
Gisselle menoleh menatap Nicole.
“Pergilah
duluan.” Kata Nicole sambil menggerakan kepalanya ke arah kedua pemuda kembar
yang makin lama makin menjauh itu. Nicole tahu bahwa sahabatnya itu hendak
berjalan ke kastil bersama George, tapi tidak ingin meninggalkan Nicole.
Setelah mendengar kata-kata Nicole, Gisselle mengangguk lalu berjalan mengikuti
kedua pemuda berambut merah tadi.
Nicole
menunggu beberapa saat, namun Oliver tidak keluar juga dari ruang ganti.
Akhirnya, karena penasaran, gadis itu mengintip ke dalam ruang ganti dan
mendapati Oliver sedang duduk di salah satu bangku disana, belum berganti dari
seragam Quidditchnya ke seragam sekolah yang biasa.
“Nicole?”
Suara
Oliver menganggetkan Nicole. Ia tidak menyangka pemuda itu menyadari
kehadirannya karena pemuda itu tadi menghadap kebawah. Nicole melangkah masuk
kedalam ruang ganti dan tersenyum.
“Kau
tidak berganti pakaian? Yang lain sudah pergi.” Kata Nicole. Oliver menggeleng
dan berjalan mendekati Nicole.
“Tidak.”
Kata Oliver. Ia lalu memikirkan sesuatu dan tersenyum lagi pada Nicole.
“Sebenarnya ini waktu yang pas. Aku ingin menunjukan sesuatu padamu.” Pemuda
itu meraih sapunya dan berjalan keluar. Setelah beberapa langkah melewati
Nicole, ia menoleh dan menjulurkan tangannya untuk gadis bermata hijau terang
itu. “Ikut?”
Sekali
lagi, rasa penasaran Nicole menguasainya dan ia menjulurkan tangan dan
menyambut tangan pacarnya itu. Oliver menggenggam tangan gadis itu dengan
lembut dan menggiringnya keluar, ke lapangan Quidditch yang sekarang kosong
sama sekali, tidak ada satu orang pun disana. Udara sudah cukup dingin sehingga
Nicole harus mengeratkan jaketnya.
Mendadak
Oliver melepaskan genggamannya dan menaiki sapunya, membuat Nicole memandang
dengan bingung. Setelah memposisikan diri di atas sapunya, Oliver kembali
menjulurkan tangannya.
“Kau
ingin….aku naik?” Tanya Nicole ragu-ragu ketika melihat ajakan Oliver itu.
Pemuda itu menjawab dengan sebuah anggukan bersemangat. Nicole merasa bimbang,
ia selalu enggan naik sapu walau ia bisa melakukannya. Dan kali ini Oliver
mengajaknya naik sapu berdua dengannya.
Ia mempercayai pemuda itu, tapi kali ini dia sedikit ragu. Namun sebelum Nicole
berhasil menyuarakan keraguannya, Oliver melingkarkan tangannya ke sekeliling
pinggang gadis itu dan menariknya terduduk di depannya.
“Pegangan
padaku.” Setelah berkata begitu, Oliver langsung menjejak dan terbang ke
angkasa. Otomatis Nicole terpekik kecil dan segera memeluk Oliver. Oliver
tertawa kecil ketika melihat reaksi pacarnya itu. Satu tangannya masih
melingkar di pinggang Nicole sementara yang satu lagi mengarahkan sapunya sehingga
naik cukup tinggi.
“Oliver!
Apa yang kau lakukan?!” Kata Nicole. Oliver mengarahkan arah pandang Nicole
sehingga menatap Hutan Terlarang dan sekelilingnya, serta langit di atas semua
itu. Siluet hitam pepohonan, angin yang meniup dahan-dahan membuat pohon
seakan-akan menari, burung-burung yang mendadak terbang dari pohon, pantulan
cahaya bulan di danau, dan langit malam yang cerah bertaburan bintang.
Pemandangan
indah itu adalah hal baru bagi Nicole. Ia tidak pernah terpikir untuk melihat
pemandangan malam hari dengan menaiki sapu.
“Aku
hanya ingin menunjukanmu ini.” Kata Oliver, merasa luar biasa bahagia karena
kejutan kecilnya yang ia pikirkan baru saja tadi berhasil membuat Nicole
terpukau. Nicole tidak membalas perkataan Oliver melainkan masih menatap
pemandangan indah itu. Mendadak ide jahil terlintas di benak Oliver dan ia
menggoyangkan sapunya sedikit.
Merasakan
goyangan yang tiba-tiba, Nicole kembali memeluk Oliver dengan erat dan terpekik
lagi. “Oliver!! Jangan lakukan itu! Kita bisa jatuh!!” Oliver tertawa lagi
melihat reaksi itu, baru pertama kalinya ia melihat Nicole sepanik itu. Pemuda
itu mengeratkan pelukannya pada Nicole dan berbisik di kuping gadis itu.
“Tenang
saja. Aku tidak akan melepaskanmu.”
Nicole
yakin kata-kata itu berarti bahwa Oliver tidak akan melepaskan pelukannya dan
mencegah dirinya jatuh, namun entah mengapa, ia merasakan ada arti lain di
balik kata-kata itu. Gadis berambut cokelat tua itu mendongak menatap Oliver,
dan pemuda itu juga menunduk untuk menatap Nicole. Selama beberapa saat mereka
hanya berpandangan, hijau bertemu cokelat. Akhirnya Oliver memajukan kepalanya
dan bibirnya bertemu dengan bibir Nicole. Ciuman yang manis dan hangat, namun
cukup untuk membuat Nicole nyaris kehabisan nafas saat akhirnya ciuman itu di
lepaskan.
“Aku
tidak akan melepaskanmu.” Kata Oliver lagi, dan kali ini Nicole seratus persen
yakin artinya berbeda dengan yang sebelumnya. “Kau tahu, ini adalah tahun
terakhirku. Artinya setelah aku lulus, aku tidak akan bisa menemuimu sesering biasanya.”
“Dan?”
Kata Nicole. Oliver mendadak menjadi sedikit enggan mengatakan lanjutannya.
Pemuda itu diam sejenak sebelum akhirnya melanjutkan.
“Ya,
aku hanya takut. Maksudku, kau terkenal, pintar dan cantik. Dan jika ada orang
lain, aku takut tidak bisa bersaing, dan..eh..” Kata-kata Oliver berantakan dan
terpotong-potong. Mukanya memerah karena malu. Melihat hal itu semua, kini
gentian Nicole yang tertawa. Ia mengerti maksud Oliver, walau pemuda itu tidak
menyampaikannya dengan baik.
“Aku
mengerti. Aku hanya milikmu.” Jawab Nicole seraya meletakan kepalanya di dada
Oliver, memeluknya dengan erat.
“Kau
milikku. Aku milikmu.” Kata Oliver, menyetujui perkataan Nicole.
***
Malam
pesta Halloween, Nicole menjadi salah satu yang terakhir keluar dari Aula Utama
karena Fred dan George berulang kali membuat kejahilan dimana-mana sehingga
gadis itu harus mendisiplinkan mereka berulang kali juga. Ketika ia, si kembar
dan Gisselle berjalan menuju ruang rekreasi Gryffindor, teriakan Percy
menganggetkan mereka.
“Panggil
Professor Dumbledore. Cepat!” Perlu beberapa detik untuk gadis itu untuk
mencerna teriakan Percy sebelum gadis itu berlari ke Aula Utama, tempat
kakeknya masih duduk dan menikmati pesta. Ketika hendak berbelok menuju Aula
Utama, ia nyaris menabrak Dumbledore yang baru keluar dari Aula.
“Nicole?
Ada apa?” Tanya Dumbledore ketika melihat Nicole terengah-engah di hadapannya.
“Percy
memintaku memanggil kakek. Tapi entah karena apa.” Kata Nicole, menyadari bahwa
ia langsung pergi tanpa menanyai alasannya. “Dari suaranya, bisa kupastikan
bahwa itu sesuatu yang penting.”
Dumbledore
tidak menanyai Nicole lebih jauh lagi, melainkan langsung berjalan cepat ke
arah menara Gryffindor, tempat ruang rekreasi Gryffindor berada. Kerumunan
anak-anak langsung terbelah untuk mempersilahkan Dumbledore berjalan serta
Nicole yang membuntut di belakangnya.
Nicole
perlu mengejapkan matanya berulang kali. Ia tidak mempercayai hal yang ia
lihat. Lukisan si Nyonya Gemuk telah di sayat-sayat dengan kejam. Penghuninya sendiri
sudah menghilang entah kemana. McGonagall, Lupin dan Snape menyusul dan berdiri
di belakang Nicole. Dumbledore sudah akan menyuruh McGonagall untuk mencari si
Nyonya Gemuk ketika Peeves mendadak muncul. Setelah percakapan singkat antara
kepala sekolah dan si hantu jahil itu, seluruh orang yang ada disana dikejutkan
dengan kenyataan bahwa yang menyerang si Nyonya Gemuk adalah Sirius Black
sendiri.
Dengan
cepat seluruh murid di kumpulkan di Aula Utama yang telah disihir sehingga meja
dan kursinya berubah menjadi kantong tidur. Nicole menceritakan apa yang
sebenarnya terjadi pada teman-temannya lalu meminta si kembar dan Lee menjaga
Gisselle.
"Aku
harus menjaga pintu masuk." Kata Nicole. "Kalian tidurlah duluan. Aku
akan baik-baik saja." Dan setelah itu, Nicole meninggalkan Gisselle
bersama si kembar dan Lee, sendirian.
"Perintah
dari Nicole. Ayo kita tidur." Kata Fred. Pemuda itu lalu mengatur kantong
tidurnya dan masuk ke dalam kantong itu. George meletakan kantong tidurnya di
sebelah saudara kembarnya dan mengikuti jejaknya. Lee meletakan tempat tidur
Gisselle di antara milik George dan kantong tidur milik pemuda itu sendiri,
lalu masuk ke dalam kantong dan tertidur juga.
Namun
Gisselle hanya bisa memandang kantong tidurnya, dan George yang tidur persis
disebelahnya. Nicole memang telah meminta pemuda-pemuda itu menjaganya, tapi
jika seperti ini caranya, ia tidak akan bisa tidur. Akhirnya gadis itu
merangkak masuk kedalam kantong tidurnya dan berusaha beristirahat.
Semenit,
lima menit, sepuluh menit, setengah jam berlalu, dan kedua mata Gisselle masih
terbuka lebar. Ia memandang langit-langit Aula Utama yang menampilkan langit
asli penuh dengan bintang. Ia terus memikirkan tentang Sirius Black yang
menerobos masuk ke dalam kastil, ia mengkhawatirkan kedua sahabatnya yang harus
berjaga malam itu, dan tentu saja, ia memikirkan fakta bahwa orang yang di
sukainya sedang tidur di sebelahnya.
"Tidak
bisa tidur?" Suara bisikan George membuat Gisselle terkejut. Gadis itu
menoleh dan mendapati George belum tertidur seperti dugaannya. Pemuda itu
tersenyum pada Gisselle lalu memandang ke atas, ke langit berbintang.
"Tenang
saja. Tidak ada yang akan menyerangmu disini. Nicole akan menghajar siapa pun
itu, bahkan Sirius Black sekalipun, sebelum bisa mendekatimu." Kata George
sambil tertawa kecil, membuat Gisselle ikut tersenyum. Gadis itu mendapati ia
tidak bisa berhenti memandang George.
"Dan
aku juga," Bisik George dengan suara yang lebih kecil lagi. Tangannya
terjulur ke arah tangan Gisselle dan menggenggamnya pelan. "..akan
menjagamu."
Gisselle
merasa mukanya memerah. "M-maaf? Apa katamu George?" Tanya Gisselle,
memastikan bahwa ia tidak salah dengar, tapi George menutup matanya dan
berpura-pura tertidur. Bahkan pemuda itu tidak mengerti ada apa dengannya sehingga
mengucapkan kata-kata itu. George bisa merasakan mukanya memanas, tapi ia tidak
melepaskan genggamannya atas tangan Gisselle. Tidak, malam ini ia akan
menjaganya, dan hal itu bukan karena Nicole memintanya.
***
Bisik-bisik
memenuhi Aula Utama. Nicole sendiri telah menegur beberapa murid yang terus
bercakap-cakap bahkan setelah lilin-lilin di padamkan. Selama beberapa jam,
Aula Utama di penuhi suasana yang tegang, dan sedikit ketakutan. Berita
mengenai Sirius Black yang berusaha menerobos masuk ke dalam ruang rekreasi
Gryffindor telah menyebar dan telah di ketahui oleh seluruh anak. Bahkan para
hantu dan prefect ikut tegang saat berjaga.
“Menurutmu,
apakah Sirius Black akan berani menerobos masuk kedalam Aula ini?” Pertanyaan
Robert, yang ditugaskan berjaga bersama Nicole saat ini di pintu masuk Aula
Utama, membuat Nicole mengerutkan keningnya.
“Kurasa
tidak. Ia tidak sebodoh itu.” Jawab Nicole dengan bisikan. Robert mengacak-acak
rambutnya dan mendesah pelan.
“Semoga
ia tidak menerobos masuk lagi.” Kata Robert.
Beberapa
hari kedepan, Sirius Black adalah topik favorite semua anak. Rasanya tiap kali
Nicole melewati kerumunan anak-anak, mereka semua membicarakan buronan itu.
Lukisan si Nyonya Gemuk telah diganti menjadi si kesatria gila, Sir Cadogan yang
selalu mengganti kata kunci ruang rekreasi Gryffindor sehingga bahkan Percy,
Nicole dan Joe menghadapi kesulitan.
Kesulitan
lain di alami oleh dua Potter bersaudara. Elly dan Harry terus menerus di awasi
dan puncaknya, mereka di panggil oleh McGonagall. Nicole, yang sudah mengetahui
maksud perilaku guru-guru, tidak merasa heran lagi. Ia sendiri telah diminta
oleh kakeknya.
“Ia
meminta aku berhati-hati karena Sirius Black mengincar diriku dan Harry.” Kata
Elly, menjawab pertanyaan Gisselle. “Sebenarnya tidak perlu, karena aku percaya
Sirius tidak bersalah.”
“Kau
hanya satu-satunya orang yang percaya hal itu Elly.” Jawab Nicole seraya
membolak-balik halaman buku yang ia pegang. Mereka bertiga sedang duduk di
halaman sekolah, menikmati Jum’at sore mereka.
“Tapi
yang bersalah itu Petter Pettigrew!”
Nicole
menutup bukunya. “Masalahnya, Elly. Tidak ada bukti yang bisa mendukung
kata-katamu itu.” Gadis itu mengatakannya dengan selembut yang ia bisa.
Temannya yang berambut merah itu sudah berulang kali mengatakan hal yang serupa
sejak mereka membicarakan tentang Sirius Black.
Elly
sudah membuka mulutnya ketika Cedric mendadak berjalan ke arah ketiga gadis
itu. Otomatis Elly menutup mulutnya kembali dan menatap Cedric dengan
malu-malu. Pemuda berambut cokelat muda itu tersenyum dan mengangguk. Ia tidak
berhenti karena ternyata ketiga gadis itu bukan tujuannya.
“Cedric
tampak..” Kata Gisselle saat mereka memperhatikan pemuda itu menghilang dari
pandangan. “Entahlah, berbeda.”
“Ia
tampak lebih tampan bukan?”
Perkataan
Elly membuat kedua temannya berpandangan dan tertawa kecil. Dengan segera Elly
menjadi target godaan mereka berdua, dan perdebatan mengenai Sirius Black pun
di lupakan.
Badai
menerpa esok harinya. Hujan deras dan angin kencang membuat semangat Oliver
menurun. Pemuda berumur 17 tahun itu tidak menyentuh sarapan paginya sama
sekali sehingga Nicole harus memaksa pacarnya itu.
“Pertandingan
hari ini akan berat." Kata Oliver. Seluruh anggota teamnya sudah mencoba
menghiburnya tapi pemuda itu masih tidak menyentuh makanannya. Akhirnya Nicole
mengambil tindakan drastis yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya. Gadis itu
menyendok sesuap bubur dan menyodorkannya ke depan mulut Oliver, lalu memandang
pemuda itu.
"N-nicole?"
Kata Oliver, terkejut karena Nicole tidak pernah melakukan hal itu sebelumnya.
Beberapa anak yang melihat adegan itu mulai bersorak kecil.
"A-ayo
cepat makan." Muka Nicole sudah merah padam, tapi tangannya tetap berada
di udara, memegang sendok berisi bubur di depan mulut Oliver. Pemuda itu
menyadari arti tindakan pacarnya dan tersenyum.
"Kau
seharusnya bilang 'Aaa~', Nicole." Kata Oliver sambil tertawa kecil.
Sebelum Nicole sempat memprotes dan menurunkan lengannya, Oliver memegang
tangan Nicole yang memegang sendok dan memakan bubur yang di sodori oleh gadis
itu.
"Terima
kasih." Kata-kata Oliver mengundang sorakan dan kikikan dari banyak orang
yang menonton mereka. Nicole menggumamkan 'sama-sama'nya dengan pelan dan
kembali memfokuskan dirinya pada makanannya. Oliver memberikan kecupan kilat di
kepala Nicole dan mulai memakan sarapan paginya.
"Semoga
berhasil!" Kata-kata penyemangat pun keluar dari meja Gryffindor untuk
para pemain Quidditch mereka. Nicole mengecup pipi Oliver sebelum pemuda itu
pergi ke arah ruang ganti.
Ternyata
hujan dan badai tidak bisa menghentikan kecintaan semua orang mengenai
Quidditch karena tempat duduk penuh terisi semuanya. Cedric menjabat tangan
Oliver dan kedua team itu mulai bertanding.
“Nicole!”
Panggil Hermione di tengah deru angin. Gadis yang lebih tua itu menoleh kepada
Hermione yang mukanya entah kenapa tampak berseri-seri. “Apakah mantra
Impervius dapat berlaku untuk kacamata Harry?” Tanya Hermione tanpa menunggu
jawaban Nicole.
Nicole
menaikkan alisnya, kagum dengan kecerdikan Hermione yang kadang melebihinya.
Sebagai jawaban, ia mengangguk. “Bisa. Sepertinya mereka akan time out sebentar
lagi, kau harus bergegas.” Kata Nicole. Ron dan Gisselle hanya menatap
percakapan antara dua gadis itu dengan bingung, lebih bingung lagi ketika
Hermione berdiri dan berjalan menuju ruang ganti sementara seakan-akan Nicole
yang memintanya, time-out di berikan untuk team Gryffindor.
Beberapa
saat kemudian pertandingan pun di mulai kembali. Baru saja pertandingan di
mulai lima menit sejak time out, Harry dan Cedric sudah menukik dan mengejar
snitch yang tampaknya hanya bisa di lihat mereka karena buruknya cuaca ini.
“Ayo
Harry..” Kata Gisselle. Mendadak gadis itu memegang tangan Nicole dengan tegang
dan menunjuk sosok-sosok hitam yang meluncur ke dekat Harry. Nicole langsung
bangkit berdiri dan mengeluarkan tongkatnya. Hanya sedikit anak yang mengikuti
jejaknya karena sebagian besar berteriak kaget. Teriakan itu berubah menjadi
histeris ketika Dementor-dementor itu mendekati Harry dan membuat pemuda itu
terjatuh dari sapunya.
“Harry!!”
Teriak Gisselle dan Hermione bersamaan ketika tubuh pemuda itu jatuh dengan
kecepatan tinggi. Namun mendadak tubuh Harry melayang turun dengan pelan,
melambat dari kecepatannya yang semula. Semua kepala menoleh dan melihat kepala
sekolah mereka berjalan melintasi lapangan. Dari tongkat professor tua itu
keluar cahaya perak yang mengusir semua dementor yang muncul di lapangan.
Nicole kenal baik mantra itu, itu mantra Patronous.
Tiupan
peluit Madam Hooch mengambil alih perhatian dari Dumbledore. “Pertandingan
usai! Snitch di tangkap oleh Diggory! Hufflepuff menang!!” Teriakan dari Madam
Hooch memicu teriakan protes dari anak-anak Gryffindor, bahkan Cedric juga
memprotesnya, walau ia menang dengan adil. Tapi keputusan sudah bulat.
Nicole,
Gisselle, Ron dan Hermione langsung berlari ke lapangan. Dari tempat duduk
Hufflepuff, Elly dan Feli juga melakukan hal yang sama. Kedua anggota team
mulai mendarat di sisi kanan dan kiri Harry serta Dumbledore.
“Aku
akan membawanya ke rumah sakit.” Kata Dumbledore. Ron, Hermione dan Elly langsung
menyatakan akan ikut bersamanya. Cedric masih berusaha meminta pertandingan
ulang pada Madam Hooch, tapi Oliver menghentikannya.
“Kalian
menang dengan adil, Diggory.” Kata Oliver dengan suara tercekat, seraya menepuk
pundak Cedric. Pemuda itu berjalan pelan menuju lemari sapu untuk menyimpan
sapunya bersama yang lain, diikuti oleh Nicole dan Gisselle. Tidak ada yang
berbicara selama itu, sampai akhirnya George mengatakan bahwa ia akan
mengunjungi Harry juga. Sisa team Gryffindor juga mengatakan hal yang sama,
kecuali Oliver.
“Aku
akan mengunjunginya nanti. Aku akan mandi dahulu.” Suara pemuda itu pelan dan
tidak bersemangat, tidak seperti biasanya. Oliver lalu berjalan pelan menuju
kastil dank e arah ruang rekreasi Gryffindor, diiringi dengan tatapan dari yang
lain.
Nicole
merasakan tepukan di pundaknya dan ketika ia menoleh, ia mendapati Fred berada
di belakangnya, tersenyum padanya.
“Kami
serahkan kapten kami kepadamu.” Kata Fred. “Hanya kau yang bisa ‘mengatasi’nya
saat ini.” Setelah mengatakan itu, pemuda berambut merah itu mendorong Nicole
maju. Nicole tersenyum tipis sebagai tanda terima kasih sebelum berlari
menyusul Oliver.
“Kau
sudah merelakannya?” Kata George seraya merangkul saudara kembarnya. Ia tentu
saja berbicara dengan bisikan karena Fred akan marah jika ada orang lain yang
mengetahuinya.
Fred
tersenyum lalu mengangguk. “Apakah salah melepaskannya untuk kebahagiaannya?”
George
tertawa kecil, “Tidak salah sama sekali kawan. Tidak sama sekali.”
***TBC***
A/N : lol aneh pake
banget.. Udah aneh lama lagi hahahaha
Entah mengapa memang
sedang tidak ada ‘mood’, map ya :””
Mohon maaf apabila ada
kesalahan *bows*
Original Plot by : Our Queen, JK Rowling
The ‘new’ plot Made
by : Liz
Take
out with full credits please~ ^^

0 komentar:
Posting Komentar