Senin, 07 Juli 2014

Hogwarts' Beloved : Chapter 15

Chapter 15 : Is It Over?
                                                (Setting : HP 3 )

Nicole menunggu di luar kamar mandi untuk murid laki-laki. Sudah sekitar 30 menit berlalu sejak Oliver mengatakan bahwa ia akan mandi dahulu dan Nicole menjawab bahwa gadis itu akan menunggunya, namun tidak ada tanda-tanda pemuda itu akan keluar dari kamar mandi.

“Oliver?” Panggil Nicole sambil mengetuk pintu. Tidak ada jawaban. Nicole mengulangi tindakannya dua kali lagi dan pada yang ketiga kalinya ia menambahkan ancaman akan mendobrak masuk bila Oliver tidak menjawabnya.

“Aku akan benar-benar melakukannya.” Nicole mengatakan dengan nada yang tegas dan mantab. Sebelum gadis itu meraih gagang pintu, pintu terbuka secara mendadak dan Oliver muncul, masih berpakaian seragam Quidditch lengkap, hanya saja semua lumpur yang melekat di seragamnya sudah bersih tersiram air.

“Oliver.” Panggil Nicole dengan pelan. Oliver tidak menjawab. Kepalanya tertunduk dan ia berjalan satu langkah ke arah Nicole sebelum akhirnya jatuh ke lantai. Pemuda itu pasti sudah tersungkur jika Nicole tidak dengan tanggap memeluk badannya dan menahannya agak tidak jatuh sepenuhnya.

Rambut cokelat Oliver basah kuyub, demikian juga dengan mukanya sehingga Nicole tidak dapat melihat apakah dia menangis atau tidak, namun tubuh tegap pemuda itu bergetar sehingga membuat Nicole hampir yakin pacarnya itu menangis. Tetesan air dari tubuh pemuda itu mulai membasahi Nicole, tapi gadis itu tidak melepaskan pelukannya. Ia sadar bahwa pemuda itu sedang membutuhkannya lebih dari apapun saat ini. Tanpa ada kata-kata yang tertukar, tanpa ada tindakan khusus, Nicole sudah menghibur Oliver semaksimal mungkin. Hanya dengan sebuah pelukan sederhana.

***

“Ku dengar kau telah menjanjikan pelajaran Patronus untuk Harry?”

Nicole mengalihkan pandangannya dan koleksi peralatan perak milik kakeknya. Saat ini dia berada di dalam kantor kepala sekolah bersama kakeknya, Dumbledore dan Lupin. Mereka bertiga baru saja membahas mengenai Dementor yang semakin susah di kendalikan ketika Dumbledore mendadak mengajukan pertanyaan itu pada Lupin.

Lupin mengangguk dan sebuah senyuman tipis mengembang di wajahnya. “Tenang saja. Kita hanya akan menggunakan boggart. Boggart milik Harry adalah Dementor.” Kata Lupin. “Ku dengar Nicole juga sudah menguasai mantra ini?”

Anggukan mantab Nicole membuat tidak hanya senyum Lupin, namun senyum Dumbledore juga mengembang. Kemudian, seperti yang sudah sering dialami Nicole, Dumbledore mulai berceloteh mengenai gadis itu sejak kecil dan hal-hal sepele yang membuat professor tua itu bangga. Merasa malu, Nicole dengan segera undur diri dari ruangan itu dan berjalan kembali ke ruang rekreasi.

Bulan November pun mencapai akhirnya. Semangat Oliver kembali naik dengan berita bahwa mereka mempunyai kesempatan memenangkan turnamen dengan mengalahkan Ravenclaw lalu Slytherin. Pemuda itu menjadi luar biasa ribut mengenai Quidditch dan hal itu membuat Nicole sedikit sebal. Bagaimana pun juga, Oliver berada di tahun terakhirnya di Hogwarts dan akan menghadapi NEWTnya bersamaan dengan Nicole menghadapi OWLnya.

“Bagaimana pun juga kau harus belajar.” Kata Nicole suatu malam setelah menemani Oliver berlatih Quidditch. Namun pemuda itu hanya menanggapinya dengan sepatah dua patah kata sebelum melanjutkan mengoceh tentang Quidditch kembali.

“Gagal?” Tanya Gisselle ketika Nicole menghempaskan dirinya ke sofa disebelah Gisselle. Entah sudah berapa kali ia mengingatkan Oliver tentang pelajarannya. Angelina, Alicia, Fred dan George juga akan menghadapi OWL bersama Nicole dan gadis itu sudah berusaha membujuk Oliver untuk mengurangi jatah latihan yang gila-gilaan itu. Nicole mendengus kesal dan memandang ruang rekreasi tempat Gisselle berada sejak beberapa jam yang lalu, mempelajari ulang beberapa materi.

“Ia mengatakan bahwa aku tidak mengerti dan tidak usah mengurusi tentang hal itu.” Kata Nicole dengan masam, jelas perkataan Oliver tadi menyinggung perasaannya. “Aku ini pacarnya tapi ia mengatakan aku tidak perlu mengurusnya? Hmph.” Gisselle hanya mengangguk-angguk mendengarkan keluh kesah sahabatnya itu.

Hubungan Oliver dan Nicole tampaknya makin memburuk selama beberapa hari kedepan. Di tambah dengan keduanya sibuk mengurusi hal masing-masing. Nicole mulai fokus pada OWL nya sementara Oliver terus menerus berlatih Quidditch.

"Nicole."

Gadis yang dipanggil pun menoleh dan mendapati Robert sedang berdiri didepannya, menatapnya. Pemuda itu menarik kursi di depannya dan duduk di hadapan Nicole. Saat ini mereka berdua sedang berada di perpustakaan. Nicole sedang membaca salah satu buku yang menurutnya penting untuk OWL nanti.

"Kau sudah belajar untuk OWL nanti?" Tanya Robert seraya menaikan alisnya, bingung ketika melihat tumpukan buku di depan Nicole. Nicole mengangguk. Memang Nicole sudah belajar lebih dulu dibanding temannya yang lain. Gadis itu tidak mau mempermalukan kakeknya sehingga ia belajar mati-matian untuk membuat professor tua itu bangga, walau Dumbledore sendiri tidak pernah memintanya. Mengikuti jejak Nicole, Gisselle dan Elly juga sudah mulai belajar walau tidak setekun gadis itu.

"Luar biasa." Robert mengangguk-angguk kagum sambil memperhatikan tumpukan buku disebelah Nicole. "Kau keberatan bila aku belajar bersamamu?"

Pertanyaan Robert membuat Nicole sesaat bingung dan terkejut, tapi akhirnya ia mengangguk juga. Pemuda itu tersenyum riang dan langsung mengambil buku di puncak tumpukan buku milik Nicole. Mereka berdua langsung sibuk membahas pelajaran sehingga tidak menyadari sesosok pemuda berambut hitam yang mendekati mereka. Pemuda itu memperhatikan Nicole dan Robert selama beberapa saat sebelum menyapa mereka dengan sopan.

“Selamat Siang.” Perkataan pemuda itu membuat Nicole dan Robert terkejut dan menoleh. Nicole tidak mengenali muka pemuda berambut hitam itu, tapi Robert mengenalinya dengan baik.

“Astaga Cal! Kau mengejutkan kami saja.” Kata Robert. Nicole mengejapkan matanya beberapa kali, menuntut penjelasan dari Robert namun sayangnya pemuda itu tidak mengerti. Walaupun begitu, nampaknya pemuda itu mengerti karena ia langsung membungkuk sopan ke arah Nicole.

“Namaku Calvin Cornellius, senang bertemu denganmu Ms. Ravensdale.” Kata Calvin. Alis Nicole terangkat. Keluarga Cornellius? Keluarga bangsawan yang terpandang itu? Sesaat Nicole ragu apakah Calvin memang berasal dari keluarga itu atau tidak, tapi keraguannya langsung hilang ketika melihat gerak-gerik Calvin yang jelas berbeda dari kebanyakan pemuda di Hogwarts, tentu saja berbeda 180 derajat dari si kembar.

Tanpa sadar, Nicole mendapati dirinya lebih sering berada di perpustakaan ditemani kedua pemuda itu, tidak di sengaja tentunya. Gisselle dan Elly juga sering menemaninya, walau Gisselle tampaknya masih malu-malu berada di depan pemuda itu, terutama di depan Calvin yang luar biasa sopan itu, sedangkan Elly dengan mudah bertambah dekat, mungkin karena sifat mereka sedikit mirip.

***

“Nicole.”

Hari ini sama dengan hari-hari sebelumnya, Nicole duduk di perpustakaan dan membaca, hanya saja hari ini ditemani oleh Gisselle dan Elly. Desember telah tiba dan hubungan antara Oliver dan Nicole tidak membaik, malah semakin meregang. Gadis yang memiliki rambut cokelat itu menoleh menatap temannya yang berambut merah. Elly mengabaikan buku yang ada di depannya dan menatap Nicole dengan penasaran.

“Tersebar kabar bahwa kau dan Oliver sedang bertengkar, apakah itu benar?”

Nicole mengernyit. Hubungan dia dan Oliver memang sedikit merenggang, tapi ia merasa itu belum sampai ke tahap 'bertengkar'. Mereka hanya menjadi lebih jarang bersama saja. "Tidak. Kami hanya menjadi jarang bertemu saja." Jawaban Nicole membuat kedua temannya langsung memberikan padangan 'apa-kau-serius'

"Itu sudah cukup membuat orang mengira kalian berdua sedang bertengkar!" Protes Gisselle. Nicole mengernyit lagi, namun belum sempat gadis itu mengeluarkan protesnya, Robert dan Calvin menghampiri mereka.

"Sudah kuduga kalian akan berada disini!" Kata Robert, yang langsung mengambil posisi duduk disebelah Nicole. Calvin menatap sahabatnya dengan pandangan memperingatkan, karena suara Robert bisa di katakan cukup keras tadi, lalu duduk di sebelah Elly. Sikap Calvin sedikit berbeda terhadap Elly dan hal itu mulai menarik perhatian Nicole serta Gisselle. Namun keduanya telah memutuskan untuk tidak membahas hal tersebut karena takut menyinggung perasaan Calvin.

Setelah beberapa saat belajar, Robert menutup bukunya dan menoleh ke arah Nicole yang duduk persis di sebelahnya. Merasa terganggu dengan kelakuan pemuda itu, Nicole balas memandangnya.

"Ada apa?" Tanya Nicole, dalam bisikan tentu saja karena Madam Pince sedang berjalan di dekat mereka. Walau Nicole mengenal Madam Pince lebih lama dari yang lain, itu tidak berarti wanita itu memberikannya kelonggaran di perpustakaan kesayangannya itu. Robert memberikan Nicole senyuman manis yang sebenarnya cukup terkenal di kalangan gadis-gadis di angkatan mereka.

"Kau punya rencana dalam kunjungan ke Hogsmeade berikutnya?" Tanya Robert. Hal itu menarik perhatian Gisselle yang duduk disebelah Nicole, dan Elly yang duduk di seberang mereka. Ketiga gadis yang ada hanya memandang Robert dengan bingung dan terkejut. Calvin tidak mengatakan apa-apa, tampaknya ia sudah mengetahui rencana Robert ini.

Nicole melirik Gisselle dan Elly, namun kedua gadis itu tidak bisa memberinya bantuan dalam menjawab pertanyaan yang bisa di katakan sedikit 'menjebak' itu. Akhirnya Nicole memilih untuk jujur saja.

"Tidak ada." Memang benar, Oliver tidak mengajaknya dan ia memang tidak membuat rencana khusus tentang hal itu. Ia bahkan hampir memutuskan untuk tidak ikut dalam kunjungan Hogsmeade berikutnya karena bosan. Senyuman Robert melebar mendengar jawaban Nicole. Pemuda itu menoleh ke Calvin, lalu Elly dan Gisselle sebelum kembali ke Nicole.

"Bagaimana kalau kita pergi bersama?" Ajakan Robert membuat ketiga gadis yang ada menatapnya dengan kaget dan bingung. Hanya Calvin yang bersikap biasa saja. Nicole, yang pertama sadar dari keterkejutannya, menoleh kearah Gisselle dan Elly, meminta bantuan. Namun kedua gadis itu hanya balas menatapnya dengan tatapan bingung. Akhirnya gadis berambut cokelat itu menghela nafas dan menatap Robert kembali.

"Aku tidak bisa memutuskan sekarang. Ku yakin Elly dan Gisselle sama denganku." Jawab Nicole, penuh kehati-hatian. Elly dan Gisselle langsung mengangguk-angguk setuju.

"Baiklah. Jika kalian bisa, temui kami di depan gerbang Hogwarts di kunjungan berikutnya ya!!"

Ajakan Robert menjadi bahan pembicaraan Gisselle dan Nicole sampai malam tiba. Keduanya duduk di sofa panjang di ruang rekreasi Gryffindor malamnya dan sambil melanjutkan kegiatan belajar mereka, topik ajakan mendadak dari Robert menjadi bahan selingan.

"Kira-kira kenapa dia mengajak kita ya?" Tanya Gisselle, buku Sejarah Sihirnya terbuka di pangkuannya namun ia tidak membacanya sama sekali. Nicole mengalihkan pandangannya dari buku Mantranya dan menatap gadis brunette disebelahnya itu.

"Mungkin Calvin ingin jalan bersama Elly." Kata Nicole.

"Atau Robert ingin jalan denganmu. Kau tahu, kupikir dia me--" Kata-kata Gisselle terpotong saat ia melihat sesosok pemuda mendekati mereka. Gadis itu langsung membereskan buku-bukunya dan melompat berdiri. "Aku melupakan sesuatu, sampai nanti Nicole." Gisselle mengucapkan pamitnya secara terburu-buru dan langsung melangkah pergi. Nicole menatap sahabatnya dengan bingung sebelum akhirnya melihat apa yang membuat Gisselle mendadak bertingkah aneh.

Oliver Wood berjalan masuk kedalam ruang rekreasi dengan senyum lebar dimukanya. Nicole mengernyit melihat pacarnya yang pasti baru selesai latihan karena Harry, si kembar, Angelina, Alicia dan Katie masuk kedalam ruang rekreasi bersamanya. Merasa sedikit kesal karena Oliver masih belum menerima sarannya, Nicole berpura-pura tidak melihatnya dan melanjutkan membaca buku Mantranya.

Oliver memandang sekeliling ruang rekreasi dan menemukan sosok yang ia cari, sosok yang sudah lama ia rindukan namun entah mengapa akhir-akhir ini mereka jarang menghabiskan waktu bersama. Pemuda itu tidak habis pikir mengapa Nicole tidak bisa mengerti posisinya dalam hal Quidditch. Ia pun menggeleng untuk menghapus pikiran aneh itu dan segera berjalan mendekati pacarnya yang masih asik belajar. Ujian masih lama dan gadis itu sudah mulai belajar. Hal itu juga membuat Oliver bingung luar biasa.

"Hai." Kata Oliver seraya duduk disebelah Nicole dan melingkarkan tangannya di pundak gadis itu. Nicole hanya membalas sapaannya dengan singkat, namun gadis itu menyandarkan dirinya ke arah Oliver dan hal itu sudah cukup bagi sang pemuda. "Kau belajar terus menerus.." Oliver meletakan kepalanya di atas kepala Nicole dan mengintip apa yang sedang gadis itu baca.

"Dan kupikir sudah saatnya kau mengikuti langkahku, Oliver." Kata Nicole tanpa memindahkan posisinya yang seperti setengah di peluk oleh Oliver. Kata-kata Nicole membuat pacarnya mengernyit.

"Kau tahu aku sibuk dengan Quidditch."

"Tapi masa depanmu juga penting."

Kerutan di dahi Oliver bertambah. Akhir-akhir ini hanya inilah bahan percakapan mereka. Kabar tentang mereka bertengkar juga sudah terdengar ke telinga Oliver dan itu membuatnya resah. Ia tidak mau hubungannya dengan Nicole merenggang tapi tiap kali mereka bertemu, pasti ujung-ujungnya seperti ini. Tidak ada yang mau mengalah.

"Jangan membahas ini lagi." Kata Oliver sambil menghembuskan nafas frustasi. Nicole menegakkan badannya dan melepaskan tangan Oliver dari pundaknya.

"Tapi ini demi kebaikan mu juga! NEWT terkenal akan kesulitannya dan sebagian besar anggota team mu seumur dengan ku dan mereka akan menghadapi OWL juga!" Sambar Nicole. "Jika tidak mulai dari sekarang, nanti--"

"Oh tutup mulut." Kata-kata itu terlontar keluar begitu saja dari mulut Oliver. Bahkan pemuda itu sendiri bingung dengan perkataannya, pasti efek kecapaian setelah latihan. Tapi tetap saja, itu bukan kata-kata yang bagus untuk diucapkan, terutama pada pacar sendiri. Nicole menatap pemuda disampingnya dengan tatapan terkejut, yang segera digantikan dengan ekspresi tersakiti lalu ekspresi keras ala dirinya sendiri.

"Baik." Kata gadis itu. Suaranya bergetar, entah marah atau sedih. "Aku akan tutup mulut." Nicole menutup bukunya dengan keras lalu bangkit berdiri dan meninggalkan Oliver tanpa memberikan kesempatan pada pemuda itu untuk berkata-kata.

"Nicole! Tunggu!" Oliver bangkit berdiri dan hendak mengejar Nicole namun suara pintu yang terbanting tertutup dari asrama perempuan menandakan bahwa gadis itu sudah sampai di kamarnya. Pemuda itu terdiam selama beberapa saat sebelum mendadak dirinya terdorong karena sebuah pukulan mendarat di pipinya.

"Kau pikir apa yang kau lakukan, Wood?" Suara Fred terdengar luar biasa marah. George harus menahannya untuk tidak memukul Oliver sekali lagi. "Apa yang baru saja kau lakukan?!" Untungnya saat itu ruang rekreasi sepi, beberapa murid yang melihat hal itu memutuskan untuk menyingkir saja sehingga akhirnya, dalam keheningan yang tercipta antara Oliver dan Fred, ruang rekreasi hanya tinggal tiga orang saja di ruang rekreasi, Oliver dan si kembar.

Mendadak terdengar suara lukisan Nyonya Gemuk terbuka dan munculah Gisselle yang baru balik dari jalan-jalan singkatnya. Jelas gadis itu terkejut melihat pemandangan di depanya itu. George menahan Fred yang sedang menatap Oliver dengan marah. Dengan segera Gisselle menghampiri mereka. "Ada apa ini?" Tanya Gisselle.

Fred mendelik pada Oliver lalu berbalik menuju asrama laki-laki. "Tanyakan saja padanya." Setelah mengatakan hal itu, Fred menaiki tangga menuju kamarnya. Hening kembali. Gisselle dan George hanya bertukar pandang selama beberapa saat, tidak berani memecah keheningan yang ada. Setelah beberapa saat, Oliver bangkir berdiri dan berjalan ke arah lukisan Nyonya Gemuk alih-alih ke kamarnya, meninggalkan Gisselle dan George sendirian di ruang rekreasi.

"Apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Gisselle pada George akhirnya. Mereka berdua duduk di sofa yang menghadap perapian setelah Oliver meninggalkan ruang rekreasi. George menatap api dalam perapian selama beberapa saat sebelum membuka mulutnya.

"Ya, tampaknya Oliver dan Nicole bertengkar."

"Tampaknya?"

"Kami tidak bisa mendengar apa yang mereka katakan dengan jelas. Tapi Oliver mengatakan sesuatu yang membuat Nicole di ambang marah atau nangis, tidak jelas, dan Fred berang melihat hal itu." Jelas George panjang lebar tanpa mengalihkan pandangannya dari perapian. Gisselle mengikuti jejak pemuda itu dan keheningan kembali menyelimuti ruang rekreasi itu. Walau suasana hening kali ini lebih terasa hangat dan nyaman jika di bandingkan dengan sebelumnya.

"Ku harap hubungan mereka membaik." Gisselle memecah keheningan. Kali ini George menolehkan kepalanya dan menatap Gisselle yang masih memandang perapian dengan sedih. "Aku tidak ingin mereka berpisah." Tiba-tiba tangan Gisselle di genggam keduanya oleh George, membuat gadis itu mau tidak mau menoleh dengan muka merah padam.

"Tenang saja. Kita akan mencari cara untuk menghindari hal itu." Muka George dekat sekali dengan Gisselle, dahi mereka nyaris bersentuhan. George menatap mata hazel milik Gisselle. Pemuda itu tidak ingin mata itu dipenuhi air mata, ataupun hanya sekedar melihat ekspresi muka Gisselle yang sedih saja menyakiti hatinya. Astaga George, apa yang sebenarnya terjadi padamu.

***

Kunjungan Hogsmeade terakhir sebelum Natal akhirnya tiba tanpa apa perbaikan apapun diantara Nicole dan Oliver. Yang ada malah kabar yang semakin tersebar luas bahwa mereka berdua sedang bertengkar. Ejekan-ejekan dari murid Slytherin pun tidak mau kalah dan sudah banyak bermunculan. Nicole tidak pernah mempedulikan hal itu dan sekarang pun tidak, namun fakta bahwa hubungannya dan Oliver mungkin akan berakhir sangat menganggunya sehingga akhir-akhir ini ia tidak bisa konsentrasi dalam hal apapun. Sama seperti hari ini. Walau Elly dan Gisselle sudah sibuk membicarakan Natal yang ada, atau tentang Hogsmeade, atau bahkan tentang ajakan Robert dan Calvin yang misterius, Nicole hanya berdiri diam dengan pandangan kosong.

"Kau tidak apa-apa?" Suara Fred mengagetkan Nicole. Pemuda itu berdiri dekatnya sementara George menyapa kedua gadis yang lain. Nicole mengangguk singkat sebagai jawaban.

"Darimana saja kalian?" Tanya Nicole, mengubah arah pembicaraan sehingga tidak membahas dirinya lagi. Ia memang selalu membenci pembicaraan tentang dirinya, mau baik atau buruk. Fred bertukar pandang dengan George dan keduanya nyengir.

"Mewariskan sesuatu pada Harry." Jawab keduanya bersamaan. Mendengar nama adiknya, Elly langsung menuntut penjelasan lebih lanjut namun si kembar langsung mengaitkan lengan mereka pada kedua lengan Elly dan menarik gadis itu maju tanpa memberikan penjelasan apapun. Tersenyum, Gisselle dan Nicole mengikuti dari belakang.

Dengan cepat, si kembar berambut merah itu melepaskan diri dari Elly ketika melihat toko favorite mereka di depan mata. Anehnya, walau mereka sudah tidak sabar untuk masuk kedalam toko, George sempat menarik tangan Gisselle, dengan lembut, untuk masuk bersamanya kedalam toko. Nicole dan Elly hanya bisa menatap dengan bingung kemudian saling bertukar pandang dengan cengiran di wajah. Tampaknya kedua sejoli itu bertambah dekat tiap harinya.

“Nicoleee!! Elly!!”

Baik Nicole maupun Elly langsung menoleh ke arah sumber suara, siapa lagi jika bukan Robert yang meneriaki nama mereka. Pemuda berambut biru tua itu melambaikan tangannya dengan bersemangat sementara Calvin hanya tersenyum saja disebelahnya. Dengan cepat, kedua pemuda itu sampai di depan Nicole dan Elly.

“Hey! Kalian mau ke Three Broomsticks?” Ajak Robert seraya menujuk asal ke arah cafe terkenal di Hogsmeader tersebut.

“Entahlah.” Jawab Nicole. Ia melirik kedalam toko Zonko tempat Gisselle dan si kembar berada. Robert melihat arah lirikan Nicole dan segera masuk kedalam toko sebelum Calvin dapat menghentikannya. Tidak lama kemudian, pemuda itu keluar dengan cengiran besar di wajahnya.

“Beres! Kata mereka, mereka akan menyusul nanti!” Kata Robert dengan bersemangat. “Ayo!”

Melihat tingkah sahabatnya, Calvin hanya bisa menggelengkan kepalanya dan menatap kedua gadis yang di dekat mereka itu. “Maafkan tingkahnya.”

Elly menggeleng, “Tidak apa-apa. Bisa dikatakan, aku sudah terbiasa.”

Calvin tersenyum pada gadis berambut merah itu dan mereka bertiga segera menyusul Robert yang sudah ribut agar mereka bergegas. Salju yang turun tiba-tiba di siang hari yang cerah itu sudah memenuhi jalanan sehingga membuat jalanan menjadi licin. Elly nyaris terpeleset jatuh jika ia tidak ‘ditangkap’ oleh Calvin, yang dengan cepat menarik Elly ke pelukannya sehingga tidak jatuh.

“Eh.” Kata Elly yang menyadari posisinya dan Calvin. “Terima kasih banyak, Calvin.” Lanjutnya dengan muka yang memerah, antara malu dan gugup karena tindakan Calvin tadi. Sebaliknya, Calvin tetap tenang dan menunjukan senyuman gentle nya pada Elly.

“Sama-sama.”

Nicole dan Robert saling berpandangan dan tersenyum jahil, walau keduanya sepakat untuk tidak mengatakan apa-apa terhadap mereka berdua. Setibanya di dalam Three Broomsticks, keempat anak tersebut sudah menggigil kedinginan dengan salju berada di atas kepala dan pundak mereka. Calvin dengan segera menepis salju yang berada di tubuhnya dan membantu Elly, membuat gadis itu mendadak bertingkah canggung lagi. Namun kemudian pandangan Elly tidak terfokus pada Calvin lagi, tapi pada meja yang berada disudut ruangan.

Feli sedang tertawa, dan disebelahnya duduk seorang pemuda yang ia kenal sejak pertama masuk Hogwarts, sahabat si kembar, Lee Jordan. Sejak kapan mereka berdua menjadi sedekat itu, tidak ada yang tahu. Walau terlihat jelas dari muka Lee bahwa pemuda itu masih canggung berada di sebelah Feli seperti itu. Feli dan Lee yang duduk berdampingan memang menarik perhatian Elly, namun pasangan didepan mereka berdua lah yang menyita seluruh perhatian Elly.

Cedric Diggory tersenyum. Senyuman manis, Elly tidak pernah melihatnya tersenyum seperti itu, walau ia berharap suatu saat Cedric bisa tersenyum dan melihatnya seperti saat ini. Sayangnya, bukan Elly yang sedang dipandang Cedric saat ini, melainkan teman dekat Feli, seorang gadis berambut hitam, Cho Chang.

Melihat perubahan ekspresi Elly, Nicole mengikuti arah pandangnya dan ekspresi gadis berambut cokelat tua itu berubah menjadi kecut ketika melihat apa yang dilihat Elly. “Hey Elly—“ Nicole baru saja menoleh untuk berbicara kembali dengan Elly ketika sahabat Nicole itu berbalik pergi dan keluar dari café tersebut. Calvin dengan tanggap langsung mengikuti Elly. Nicole sendiri sudah hendak berlari keluar ketika Robert menahan tangannya.

“Biarkan Calvin menanganinya, kumohon.” Kata Robert. Ia menatap Nicole tepat di matanya dan tidak melepaskan tangan gadis itu. Sedikit canggung memang, dan ke canggungan itu bertambah dengan pintu kedai yang terbuka dan Oliver beserta teman-temannya memasuki café Three Broomsticks tersebut.

***

Elly berlari keluar ke jalanan. Hatinya terasa sakit, sakit sekali. Cedric berada di dalam Three Broomsticks, mengobrol dan tertawa serta tersenyum bahagia, namun bukan dengannya, bukan dengan Elly, bukan pada Elly, tapi pada Cho Chang. Cho Chang, gadis yang baru mereka kenal sekitar 2 tahun. Lalu mengapa, mengapa Cedric tidak menyadari perasaannya melainkan mendekati gadis lain?

Air mata mulai turun di pipi Elly. Dengan segera ia menghapusnya. Ia tidak suka menangis, namun rasa sakit yang ia rasakan menguasai dirinya sehingga air mata terus bercucuran dari matanya.

Sebuah tepukan lembut di pundaknya menganggetkan dirinya. Awalnya Elly berharap melihat Cedric, berharap pemuda itu mengejarnya dan menjelaskan bahwa dia dan Cho hanya menemani Feli dan Lee. Namun alih-alih Cedric, Calvin lah yang berada di belakangnya. Pemuda itu memperhatikan Elly dalam beberapa detik sebelum menarik gadis itu ke pelukannya. Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut Calvin, Elly juga tidak mengatakan apa-apa. Ia juga tidak menolak pelukan dari Calvin, yang entah mengapa, baginya saat ini, pelukan itu sangat menghiburnya.

***

Oliver tidak mengajak Nicole untuk jalan bersamanya di kunjungan ke Hogsmeade kali ini. Pikirannya terbagi antara Quidditch dan masalah tentang sapu Harry, dengan Nicole. Walau sebagian besar otaknya sekarang terisi dengan Nicole. Walau semua temannya tertawa dan bersenang-senang, Oliver hanya memasang muka datar selama perjalanan mereka menuju Three Broomsticks.

Ketika ia membuka pintu café tersebut, ia berharap ia tidak melakukannya. Gadis yang selalu dipikirannya itu berdiri di depannya saat ini, dengan ekspresi terkejut dan tangan yang di genggam oleh seorang pemuda yang tidak Oliver kenali. Melihat hal itu, Oliver tidak bisa menahan diri lagi. Ia maju kedepan dan melayangkan tinjunya sebelum siapapun bisa menahannya.

Nicole terpekik terkejut, terutama karena ia tidak menyangka Oliver tiba-tiba muncul dan meninju Robert hingga jatuh. Genggaman Robert atas tangannya terlepas dan digantikan oleh tangan Oliver yang besar. Pemuda itu sudah membawanya pergi cukup jauh dari Three Broomsticks sebelum Nicole sadar apa yang terjadi dan menarik paksa tangannya kembali.

“Apa yang kau lakukan?! Memukul Robert seperti itu?!” Teriak Nicole. Untungnya daerah itu sepi sehingga tidak ada yang memperhatikan mereka.

“Jadi namanya Robert..” Kata Oliver, suaranya bergetar. “Jadi ini yang kau lakukan setelah kita bertengkar malam itu? Berjalan-jalan berdua dengan pemuda lain?”

Mata Nicole melebar kaget, “Apa?! Tidak! Kami—“

“Aku tidak ingin dengar alasan, Nicole!! Kau berkata kau milikku!”

Nicole mengerti. Ia mengerti pemuda di depannya ini cemburu dengan fakta bahwa Robert memegang tangannya. Nicole mengerti namun amarahnya lebih menguasainya.

“Dan kau berkata, dengan begitu, aku harus bersamamu setiap saat, setiap waktu dan dimana saja? Itu maumu?! Aku tidak boleh bergaul dengan siapapun?!” Sambar Nicole. “Maaf saja ya, tapi aku menolak di kekang seperti itu!!” Setelah mengatakan hal itu, Nicole berbalik dan berjalan pergi.

“Tunggu!” Teriak Oliver, tampaknya ia marah juga. “Jika kau pergi sekarang, kau setuju kita berakhir disini.”

Perkataan Oliver membuat jantung Nicole serasa berhenti. Selama beberapa saat gadis itu tidak melakukan apapun, dan akhirnya, ia memberi Oliver sebuah pandangan yang tidak jelas artinya dan berjalan pergi, meninggalkan pemuda berambut cokelat muda itu sendirian.

Oliver tidak mengerti apa sebenarnya yang terjadi pada dirinya sendiri. Pertama perkataannya di ruang rekreasi malam itu, sekarang perkataannya barusan. Ia membenci dirinya sendiri. Betapa ia berharap bisa membalikkan waktu dan menarik perkataannya barusan. Namun tentu itu adalah hal yang mustahil karena punggung Nicole telah menghilang di kejauhan.

Apakah ia telah kehilangan gadis itu selamanya?

***TBC***

A/N : OKE! Gue tau gue janji ngeberesin HP3 di chapter 15 ini.
Cuma ga tahan, pengen nge cut disini biar greget masa www #ditabok
As usual, Mohon maaf apabila ada kesalahan *bows*

Original Plot by : Our Queen, JK Rowling
The ‘new’ plot Made by : Liz
Take out with full credits please~ ^^

0 komentar:

Posting Komentar