Chapter 15 : Is
It Over?
(Setting
: HP 3 )
Nicole
menunggu di luar kamar mandi untuk murid laki-laki. Sudah sekitar 30 menit
berlalu sejak Oliver mengatakan bahwa ia akan mandi dahulu dan Nicole menjawab
bahwa gadis itu akan menunggunya, namun tidak ada tanda-tanda pemuda itu akan
keluar dari kamar mandi.
“Oliver?”
Panggil Nicole sambil mengetuk pintu. Tidak ada jawaban. Nicole mengulangi
tindakannya dua kali lagi dan pada yang ketiga kalinya ia menambahkan ancaman
akan mendobrak masuk bila Oliver tidak menjawabnya.
“Aku
akan benar-benar melakukannya.” Nicole mengatakan dengan nada yang tegas dan
mantab. Sebelum gadis itu meraih gagang pintu, pintu terbuka secara mendadak
dan Oliver muncul, masih berpakaian seragam Quidditch lengkap, hanya saja semua
lumpur yang melekat di seragamnya sudah bersih tersiram air.
“Oliver.”
Panggil Nicole dengan pelan. Oliver tidak menjawab. Kepalanya tertunduk dan ia
berjalan satu langkah ke arah Nicole sebelum akhirnya jatuh ke lantai. Pemuda
itu pasti sudah tersungkur jika Nicole tidak dengan tanggap memeluk badannya
dan menahannya agak tidak jatuh sepenuhnya.
Rambut
cokelat Oliver basah kuyub, demikian juga dengan mukanya sehingga Nicole tidak
dapat melihat apakah dia menangis atau tidak, namun tubuh tegap pemuda itu bergetar
sehingga membuat Nicole hampir yakin pacarnya itu menangis. Tetesan air dari
tubuh pemuda itu mulai membasahi Nicole, tapi gadis itu tidak melepaskan
pelukannya. Ia sadar bahwa pemuda itu sedang membutuhkannya lebih dari apapun
saat ini. Tanpa ada kata-kata yang tertukar, tanpa ada tindakan khusus, Nicole
sudah menghibur Oliver semaksimal mungkin. Hanya dengan sebuah pelukan
sederhana.
***
“Ku
dengar kau telah menjanjikan pelajaran Patronus untuk Harry?”
Nicole
mengalihkan pandangannya dan koleksi peralatan perak milik kakeknya. Saat ini
dia berada di dalam kantor kepala sekolah bersama kakeknya, Dumbledore dan
Lupin. Mereka bertiga baru saja membahas mengenai Dementor yang semakin susah
di kendalikan ketika Dumbledore mendadak mengajukan pertanyaan itu pada Lupin.
Lupin
mengangguk dan sebuah senyuman tipis mengembang di wajahnya. “Tenang saja. Kita
hanya akan menggunakan boggart. Boggart milik Harry adalah Dementor.” Kata
Lupin. “Ku dengar Nicole juga sudah menguasai mantra ini?”
Anggukan
mantab Nicole membuat tidak hanya senyum Lupin, namun senyum Dumbledore juga
mengembang. Kemudian, seperti yang sudah sering dialami Nicole, Dumbledore
mulai berceloteh mengenai gadis itu sejak kecil dan hal-hal sepele yang membuat
professor tua itu bangga. Merasa malu, Nicole dengan segera undur diri dari
ruangan itu dan berjalan kembali ke ruang rekreasi.
Bulan
November pun mencapai akhirnya. Semangat Oliver kembali naik dengan berita
bahwa mereka mempunyai kesempatan memenangkan turnamen dengan mengalahkan Ravenclaw
lalu Slytherin. Pemuda itu menjadi luar biasa ribut mengenai Quidditch dan hal
itu membuat Nicole sedikit sebal. Bagaimana pun juga, Oliver berada di tahun
terakhirnya di Hogwarts dan akan menghadapi NEWTnya bersamaan dengan Nicole
menghadapi OWLnya.
“Bagaimana
pun juga kau harus belajar.” Kata Nicole suatu malam setelah menemani Oliver
berlatih Quidditch. Namun pemuda itu hanya menanggapinya dengan sepatah dua
patah kata sebelum melanjutkan mengoceh tentang Quidditch kembali.
“Gagal?”
Tanya Gisselle ketika Nicole menghempaskan dirinya ke sofa disebelah Gisselle.
Entah sudah berapa kali ia mengingatkan Oliver tentang pelajarannya. Angelina,
Alicia, Fred dan George juga akan menghadapi OWL bersama Nicole dan gadis itu
sudah berusaha membujuk Oliver untuk mengurangi jatah latihan yang gila-gilaan
itu. Nicole mendengus kesal dan memandang ruang rekreasi tempat Gisselle berada
sejak beberapa jam yang lalu, mempelajari ulang beberapa materi.
“Ia
mengatakan bahwa aku tidak mengerti dan tidak usah mengurusi tentang hal itu.”
Kata Nicole dengan masam, jelas perkataan Oliver tadi menyinggung perasaannya.
“Aku ini pacarnya tapi ia mengatakan aku tidak perlu mengurusnya? Hmph.”
Gisselle hanya mengangguk-angguk mendengarkan keluh kesah sahabatnya itu.
Hubungan
Oliver dan Nicole tampaknya makin memburuk selama beberapa hari kedepan. Di
tambah dengan keduanya sibuk mengurusi hal masing-masing. Nicole mulai fokus
pada OWL nya sementara Oliver terus menerus berlatih Quidditch.
"Nicole."
Gadis
yang dipanggil pun menoleh dan mendapati Robert sedang berdiri didepannya,
menatapnya. Pemuda itu menarik kursi di depannya dan duduk di hadapan Nicole.
Saat ini mereka berdua sedang berada di perpustakaan. Nicole sedang membaca
salah satu buku yang menurutnya penting untuk OWL nanti.
"Kau
sudah belajar untuk OWL nanti?" Tanya Robert seraya menaikan alisnya,
bingung ketika melihat tumpukan buku di depan Nicole. Nicole mengangguk. Memang
Nicole sudah belajar lebih dulu dibanding temannya yang lain. Gadis itu tidak
mau mempermalukan kakeknya sehingga ia belajar mati-matian untuk membuat
professor tua itu bangga, walau Dumbledore sendiri tidak pernah memintanya.
Mengikuti jejak Nicole, Gisselle dan Elly juga sudah mulai belajar walau tidak
setekun gadis itu.
"Luar
biasa." Robert mengangguk-angguk kagum sambil memperhatikan tumpukan buku
disebelah Nicole. "Kau keberatan bila aku belajar bersamamu?"
Pertanyaan
Robert membuat Nicole sesaat bingung dan terkejut, tapi akhirnya ia mengangguk
juga. Pemuda itu tersenyum riang dan langsung mengambil buku di puncak tumpukan
buku milik Nicole. Mereka berdua langsung sibuk membahas pelajaran sehingga
tidak menyadari sesosok pemuda berambut hitam yang mendekati mereka. Pemuda itu
memperhatikan Nicole dan Robert selama beberapa saat sebelum menyapa mereka
dengan sopan.
“Selamat
Siang.” Perkataan pemuda itu membuat Nicole dan Robert terkejut dan menoleh.
Nicole tidak mengenali muka pemuda berambut hitam itu, tapi Robert mengenalinya
dengan baik.
“Astaga
Cal! Kau mengejutkan kami saja.” Kata Robert. Nicole mengejapkan matanya
beberapa kali, menuntut penjelasan dari Robert namun sayangnya pemuda itu tidak
mengerti. Walaupun begitu, nampaknya pemuda itu mengerti karena ia langsung
membungkuk sopan ke arah Nicole.
“Namaku
Calvin Cornellius, senang bertemu denganmu Ms. Ravensdale.” Kata Calvin. Alis
Nicole terangkat. Keluarga Cornellius? Keluarga bangsawan yang terpandang itu?
Sesaat Nicole ragu apakah Calvin memang berasal dari keluarga itu atau tidak,
tapi keraguannya langsung hilang ketika melihat gerak-gerik Calvin yang jelas
berbeda dari kebanyakan pemuda di Hogwarts, tentu saja berbeda 180 derajat dari
si kembar.
Tanpa
sadar, Nicole mendapati dirinya lebih sering berada di perpustakaan ditemani
kedua pemuda itu, tidak di sengaja tentunya. Gisselle dan Elly juga sering
menemaninya, walau Gisselle tampaknya masih malu-malu berada di depan pemuda
itu, terutama di depan Calvin yang luar biasa sopan itu, sedangkan Elly dengan
mudah bertambah dekat, mungkin karena sifat mereka sedikit mirip.
***
“Nicole.”
Hari
ini sama dengan hari-hari sebelumnya, Nicole duduk di perpustakaan dan membaca,
hanya saja hari ini ditemani oleh Gisselle dan Elly. Desember telah tiba dan
hubungan antara Oliver dan Nicole tidak membaik, malah semakin meregang. Gadis
yang memiliki rambut cokelat itu menoleh menatap temannya yang berambut merah.
Elly mengabaikan buku yang ada di depannya dan menatap Nicole dengan penasaran.
“Tersebar
kabar bahwa kau dan Oliver sedang bertengkar, apakah itu benar?”
Nicole
mengernyit. Hubungan dia dan Oliver memang sedikit merenggang, tapi ia merasa
itu belum sampai ke tahap 'bertengkar'. Mereka hanya menjadi lebih jarang
bersama saja. "Tidak. Kami hanya menjadi jarang bertemu saja."
Jawaban Nicole membuat kedua temannya langsung memberikan padangan
'apa-kau-serius'
"Itu
sudah cukup membuat orang mengira kalian berdua sedang bertengkar!" Protes
Gisselle. Nicole mengernyit lagi, namun belum sempat gadis itu mengeluarkan
protesnya, Robert dan Calvin menghampiri mereka.
"Sudah
kuduga kalian akan berada disini!" Kata Robert, yang langsung mengambil
posisi duduk disebelah Nicole. Calvin menatap sahabatnya dengan pandangan
memperingatkan, karena suara Robert bisa di katakan cukup keras tadi, lalu
duduk di sebelah Elly. Sikap Calvin sedikit berbeda terhadap Elly dan hal itu
mulai menarik perhatian Nicole serta Gisselle. Namun keduanya telah memutuskan
untuk tidak membahas hal tersebut karena takut menyinggung perasaan Calvin.
Setelah
beberapa saat belajar, Robert menutup bukunya dan menoleh ke arah Nicole yang
duduk persis di sebelahnya. Merasa terganggu dengan kelakuan pemuda itu, Nicole
balas memandangnya.
"Ada
apa?" Tanya Nicole, dalam bisikan tentu saja karena Madam Pince sedang
berjalan di dekat mereka. Walau Nicole mengenal Madam Pince lebih lama dari
yang lain, itu tidak berarti wanita itu memberikannya kelonggaran di
perpustakaan kesayangannya itu. Robert memberikan Nicole senyuman manis yang
sebenarnya cukup terkenal di kalangan gadis-gadis di angkatan mereka.
"Kau
punya rencana dalam kunjungan ke Hogsmeade berikutnya?" Tanya Robert. Hal
itu menarik perhatian Gisselle yang duduk disebelah Nicole, dan Elly yang duduk
di seberang mereka. Ketiga gadis yang ada hanya memandang Robert dengan bingung
dan terkejut. Calvin tidak mengatakan apa-apa, tampaknya ia sudah mengetahui
rencana Robert ini.
Nicole
melirik Gisselle dan Elly, namun kedua gadis itu tidak bisa memberinya bantuan
dalam menjawab pertanyaan yang bisa di katakan sedikit 'menjebak' itu. Akhirnya
Nicole memilih untuk jujur saja.
"Tidak
ada." Memang benar, Oliver tidak mengajaknya dan ia memang tidak membuat
rencana khusus tentang hal itu. Ia bahkan hampir memutuskan untuk tidak ikut
dalam kunjungan Hogsmeade berikutnya karena bosan. Senyuman Robert melebar
mendengar jawaban Nicole. Pemuda itu menoleh ke Calvin, lalu Elly dan Gisselle
sebelum kembali ke Nicole.
"Bagaimana
kalau kita pergi bersama?" Ajakan Robert membuat ketiga gadis yang ada
menatapnya dengan kaget dan bingung. Hanya Calvin yang bersikap biasa saja.
Nicole, yang pertama sadar dari keterkejutannya, menoleh kearah Gisselle dan
Elly, meminta bantuan. Namun kedua gadis itu hanya balas menatapnya dengan
tatapan bingung. Akhirnya gadis berambut cokelat itu menghela nafas dan menatap
Robert kembali.
"Aku
tidak bisa memutuskan sekarang. Ku yakin Elly dan Gisselle sama denganku."
Jawab Nicole, penuh kehati-hatian. Elly dan Gisselle langsung mengangguk-angguk
setuju.
"Baiklah.
Jika kalian bisa, temui kami di depan gerbang Hogwarts di kunjungan berikutnya
ya!!"
Ajakan
Robert menjadi bahan pembicaraan Gisselle dan Nicole sampai malam tiba.
Keduanya duduk di sofa panjang di ruang rekreasi Gryffindor malamnya dan sambil
melanjutkan kegiatan belajar mereka, topik ajakan mendadak dari Robert menjadi
bahan selingan.
"Kira-kira
kenapa dia mengajak kita ya?" Tanya Gisselle, buku Sejarah Sihirnya
terbuka di pangkuannya namun ia tidak membacanya sama sekali. Nicole
mengalihkan pandangannya dari buku Mantranya dan menatap gadis brunette
disebelahnya itu.
"Mungkin
Calvin ingin jalan bersama Elly." Kata Nicole.
"Atau
Robert ingin jalan denganmu. Kau tahu, kupikir dia me--" Kata-kata
Gisselle terpotong saat ia melihat sesosok pemuda mendekati mereka. Gadis itu
langsung membereskan buku-bukunya dan melompat berdiri. "Aku melupakan
sesuatu, sampai nanti Nicole." Gisselle mengucapkan pamitnya secara
terburu-buru dan langsung melangkah pergi. Nicole menatap sahabatnya dengan
bingung sebelum akhirnya melihat apa yang membuat Gisselle mendadak bertingkah
aneh.
Oliver
Wood berjalan masuk kedalam ruang rekreasi dengan senyum lebar dimukanya.
Nicole mengernyit melihat pacarnya yang pasti baru selesai latihan karena
Harry, si kembar, Angelina, Alicia dan Katie masuk kedalam ruang rekreasi
bersamanya. Merasa sedikit kesal karena Oliver masih belum menerima sarannya,
Nicole berpura-pura tidak melihatnya dan melanjutkan membaca buku Mantranya.
Oliver
memandang sekeliling ruang rekreasi dan menemukan sosok yang ia cari, sosok
yang sudah lama ia rindukan namun entah mengapa akhir-akhir ini mereka jarang
menghabiskan waktu bersama. Pemuda itu tidak habis pikir mengapa Nicole tidak
bisa mengerti posisinya dalam hal Quidditch. Ia pun menggeleng untuk menghapus
pikiran aneh itu dan segera berjalan mendekati pacarnya yang masih asik
belajar. Ujian masih lama dan gadis itu sudah mulai belajar. Hal itu juga
membuat Oliver bingung luar biasa.
"Hai."
Kata Oliver seraya duduk disebelah Nicole dan melingkarkan tangannya di pundak
gadis itu. Nicole hanya membalas sapaannya dengan singkat, namun gadis itu
menyandarkan dirinya ke arah Oliver dan hal itu sudah cukup bagi sang pemuda.
"Kau belajar terus menerus.." Oliver meletakan kepalanya di atas
kepala Nicole dan mengintip apa yang sedang gadis itu baca.
"Dan
kupikir sudah saatnya kau mengikuti langkahku, Oliver." Kata Nicole tanpa
memindahkan posisinya yang seperti setengah di peluk oleh Oliver. Kata-kata
Nicole membuat pacarnya mengernyit.
"Kau
tahu aku sibuk dengan Quidditch."
"Tapi
masa depanmu juga penting."
Kerutan
di dahi Oliver bertambah. Akhir-akhir ini hanya inilah bahan percakapan mereka.
Kabar tentang mereka bertengkar juga sudah terdengar ke telinga Oliver dan itu
membuatnya resah. Ia tidak mau hubungannya dengan Nicole merenggang tapi tiap
kali mereka bertemu, pasti ujung-ujungnya seperti ini. Tidak ada yang mau
mengalah.
"Jangan
membahas ini lagi." Kata Oliver sambil menghembuskan nafas frustasi.
Nicole menegakkan badannya dan melepaskan tangan Oliver dari pundaknya.
"Tapi
ini demi kebaikan mu juga! NEWT terkenal akan kesulitannya dan sebagian besar
anggota team mu seumur dengan ku dan mereka akan menghadapi OWL juga!"
Sambar Nicole. "Jika tidak mulai dari sekarang, nanti--"
"Oh
tutup mulut." Kata-kata itu terlontar keluar begitu saja dari mulut
Oliver. Bahkan pemuda itu sendiri bingung dengan perkataannya, pasti efek
kecapaian setelah latihan. Tapi tetap saja, itu bukan kata-kata yang bagus
untuk diucapkan, terutama pada pacar sendiri. Nicole menatap pemuda
disampingnya dengan tatapan terkejut, yang segera digantikan dengan ekspresi tersakiti
lalu ekspresi keras ala dirinya sendiri.
"Baik."
Kata gadis itu. Suaranya bergetar, entah marah atau sedih. "Aku akan tutup
mulut." Nicole menutup bukunya dengan keras lalu bangkit berdiri dan
meninggalkan Oliver tanpa memberikan kesempatan pada pemuda itu untuk
berkata-kata.
"Nicole!
Tunggu!" Oliver bangkit berdiri dan hendak mengejar Nicole namun suara
pintu yang terbanting tertutup dari asrama perempuan menandakan bahwa gadis itu
sudah sampai di kamarnya. Pemuda itu terdiam selama beberapa saat sebelum
mendadak dirinya terdorong karena sebuah pukulan mendarat di pipinya.
"Kau
pikir apa yang kau lakukan, Wood?" Suara Fred terdengar luar biasa marah.
George harus menahannya untuk tidak memukul Oliver sekali lagi. "Apa yang
baru saja kau lakukan?!" Untungnya saat itu ruang rekreasi sepi, beberapa
murid yang melihat hal itu memutuskan untuk menyingkir saja sehingga akhirnya,
dalam keheningan yang tercipta antara Oliver dan Fred, ruang rekreasi hanya
tinggal tiga orang saja di ruang rekreasi, Oliver dan si kembar.
Mendadak
terdengar suara lukisan Nyonya Gemuk terbuka dan munculah Gisselle yang baru
balik dari jalan-jalan singkatnya. Jelas gadis itu terkejut melihat pemandangan
di depanya itu. George menahan Fred yang sedang menatap Oliver dengan marah.
Dengan segera Gisselle menghampiri mereka. "Ada apa ini?" Tanya
Gisselle.
Fred
mendelik pada Oliver lalu berbalik menuju asrama laki-laki. "Tanyakan saja
padanya." Setelah mengatakan hal itu, Fred menaiki tangga menuju kamarnya.
Hening kembali. Gisselle dan George hanya bertukar pandang selama beberapa
saat, tidak berani memecah keheningan yang ada. Setelah beberapa saat, Oliver
bangkir berdiri dan berjalan ke arah lukisan Nyonya Gemuk alih-alih ke
kamarnya, meninggalkan Gisselle dan George sendirian di ruang rekreasi.
"Apa
yang sebenarnya terjadi?" Tanya Gisselle pada George akhirnya. Mereka
berdua duduk di sofa yang menghadap perapian setelah Oliver meninggalkan ruang
rekreasi. George menatap api dalam perapian selama beberapa saat sebelum
membuka mulutnya.
"Ya,
tampaknya Oliver dan Nicole bertengkar."
"Tampaknya?"
"Kami
tidak bisa mendengar apa yang mereka katakan dengan jelas. Tapi Oliver
mengatakan sesuatu yang membuat Nicole di ambang marah atau nangis, tidak
jelas, dan Fred berang melihat hal itu." Jelas George panjang lebar tanpa
mengalihkan pandangannya dari perapian. Gisselle mengikuti jejak pemuda itu dan
keheningan kembali menyelimuti ruang rekreasi itu. Walau suasana hening kali
ini lebih terasa hangat dan nyaman jika di bandingkan dengan sebelumnya.
"Ku
harap hubungan mereka membaik." Gisselle memecah keheningan. Kali ini
George menolehkan kepalanya dan menatap Gisselle yang masih memandang perapian
dengan sedih. "Aku tidak ingin mereka berpisah." Tiba-tiba tangan
Gisselle di genggam keduanya oleh George, membuat gadis itu mau tidak mau
menoleh dengan muka merah padam.
"Tenang
saja. Kita akan mencari cara untuk menghindari hal itu." Muka George dekat
sekali dengan Gisselle, dahi mereka nyaris bersentuhan. George menatap mata
hazel milik Gisselle. Pemuda itu tidak ingin mata itu dipenuhi air mata,
ataupun hanya sekedar melihat ekspresi muka Gisselle yang sedih saja menyakiti
hatinya. Astaga George, apa yang sebenarnya terjadi padamu.
***
Kunjungan
Hogsmeade terakhir sebelum Natal akhirnya tiba tanpa apa perbaikan apapun
diantara Nicole dan Oliver. Yang ada malah kabar yang semakin tersebar luas
bahwa mereka berdua sedang bertengkar. Ejekan-ejekan dari murid Slytherin pun
tidak mau kalah dan sudah banyak bermunculan. Nicole tidak pernah mempedulikan
hal itu dan sekarang pun tidak, namun fakta bahwa hubungannya dan Oliver
mungkin akan berakhir sangat menganggunya sehingga akhir-akhir ini ia tidak
bisa konsentrasi dalam hal apapun. Sama seperti hari ini. Walau Elly dan
Gisselle sudah sibuk membicarakan Natal yang ada, atau tentang Hogsmeade, atau
bahkan tentang ajakan Robert dan Calvin yang misterius, Nicole hanya berdiri
diam dengan pandangan kosong.
"Kau
tidak apa-apa?" Suara Fred mengagetkan Nicole. Pemuda itu berdiri dekatnya
sementara George menyapa kedua gadis yang lain. Nicole mengangguk singkat
sebagai jawaban.
"Darimana
saja kalian?" Tanya Nicole, mengubah arah pembicaraan sehingga tidak
membahas dirinya lagi. Ia memang selalu membenci pembicaraan tentang dirinya,
mau baik atau buruk. Fred bertukar pandang dengan George dan keduanya nyengir.
"Mewariskan
sesuatu pada Harry." Jawab keduanya bersamaan. Mendengar nama adiknya,
Elly langsung menuntut penjelasan lebih lanjut namun si kembar langsung
mengaitkan lengan mereka pada kedua lengan Elly dan menarik gadis itu maju
tanpa memberikan penjelasan apapun. Tersenyum, Gisselle dan Nicole mengikuti
dari belakang.
Dengan
cepat, si kembar berambut merah itu melepaskan diri dari Elly ketika melihat
toko favorite mereka di depan mata. Anehnya, walau mereka sudah tidak sabar
untuk masuk kedalam toko, George sempat menarik tangan Gisselle, dengan lembut,
untuk masuk bersamanya kedalam toko. Nicole dan Elly hanya bisa menatap dengan
bingung kemudian saling bertukar pandang dengan cengiran di wajah. Tampaknya
kedua sejoli itu bertambah dekat tiap harinya.
“Nicoleee!!
Elly!!”
Baik
Nicole maupun Elly langsung menoleh ke arah sumber suara, siapa lagi jika bukan
Robert yang meneriaki nama mereka. Pemuda berambut biru tua itu melambaikan
tangannya dengan bersemangat sementara Calvin hanya tersenyum saja
disebelahnya. Dengan cepat, kedua pemuda itu sampai di depan Nicole dan Elly.
“Hey!
Kalian mau ke Three Broomsticks?” Ajak Robert seraya menujuk asal ke arah cafe terkenal
di Hogsmeader tersebut.
“Entahlah.”
Jawab Nicole. Ia melirik kedalam toko Zonko tempat Gisselle dan si kembar
berada. Robert melihat arah lirikan Nicole dan segera masuk kedalam toko
sebelum Calvin dapat menghentikannya. Tidak lama kemudian, pemuda itu keluar
dengan cengiran besar di wajahnya.
“Beres!
Kata mereka, mereka akan menyusul nanti!” Kata Robert dengan bersemangat. “Ayo!”
Melihat
tingkah sahabatnya, Calvin hanya bisa menggelengkan kepalanya dan menatap kedua
gadis yang di dekat mereka itu. “Maafkan tingkahnya.”
Elly
menggeleng, “Tidak apa-apa. Bisa dikatakan, aku sudah terbiasa.”
Calvin
tersenyum pada gadis berambut merah itu dan mereka bertiga segera menyusul
Robert yang sudah ribut agar mereka bergegas. Salju yang turun tiba-tiba di
siang hari yang cerah itu sudah memenuhi jalanan sehingga membuat jalanan
menjadi licin. Elly nyaris terpeleset jatuh jika ia tidak ‘ditangkap’ oleh
Calvin, yang dengan cepat menarik Elly ke pelukannya sehingga tidak jatuh.
“Eh.”
Kata Elly yang menyadari posisinya dan Calvin. “Terima kasih banyak, Calvin.”
Lanjutnya dengan muka yang memerah, antara malu dan gugup karena tindakan
Calvin tadi. Sebaliknya, Calvin tetap tenang dan menunjukan senyuman gentle nya
pada Elly.
“Sama-sama.”
Nicole
dan Robert saling berpandangan dan tersenyum jahil, walau keduanya sepakat
untuk tidak mengatakan apa-apa terhadap mereka berdua. Setibanya di dalam Three
Broomsticks, keempat anak tersebut sudah menggigil kedinginan dengan salju
berada di atas kepala dan pundak mereka. Calvin dengan segera menepis salju
yang berada di tubuhnya dan membantu Elly, membuat gadis itu mendadak
bertingkah canggung lagi. Namun kemudian pandangan Elly tidak terfokus pada
Calvin lagi, tapi pada meja yang berada disudut ruangan.
Feli
sedang tertawa, dan disebelahnya duduk seorang pemuda yang ia kenal sejak
pertama masuk Hogwarts, sahabat si kembar, Lee Jordan. Sejak kapan mereka
berdua menjadi sedekat itu, tidak ada yang tahu. Walau terlihat jelas dari muka
Lee bahwa pemuda itu masih canggung berada di sebelah Feli seperti itu. Feli dan
Lee yang duduk berdampingan memang menarik perhatian Elly, namun pasangan
didepan mereka berdua lah yang menyita seluruh perhatian Elly.
Cedric
Diggory tersenyum. Senyuman manis, Elly tidak pernah melihatnya tersenyum
seperti itu, walau ia berharap suatu saat Cedric bisa tersenyum dan melihatnya
seperti saat ini. Sayangnya, bukan Elly yang sedang dipandang Cedric saat ini,
melainkan teman dekat Feli, seorang gadis berambut hitam, Cho Chang.
Melihat
perubahan ekspresi Elly, Nicole mengikuti arah pandangnya dan ekspresi gadis
berambut cokelat tua itu berubah menjadi kecut ketika melihat apa yang dilihat
Elly. “Hey Elly—“ Nicole baru saja menoleh untuk berbicara kembali dengan Elly
ketika sahabat Nicole itu berbalik pergi dan keluar dari café tersebut. Calvin
dengan tanggap langsung mengikuti Elly. Nicole sendiri sudah hendak berlari
keluar ketika Robert menahan tangannya.
“Biarkan
Calvin menanganinya, kumohon.” Kata Robert. Ia menatap Nicole tepat di matanya
dan tidak melepaskan tangan gadis itu. Sedikit canggung memang, dan ke canggungan
itu bertambah dengan pintu kedai yang terbuka dan Oliver beserta teman-temannya
memasuki café Three Broomsticks tersebut.
***
Elly
berlari keluar ke jalanan. Hatinya terasa sakit, sakit sekali. Cedric berada di
dalam Three Broomsticks, mengobrol dan tertawa serta tersenyum bahagia, namun
bukan dengannya, bukan dengan Elly, bukan pada Elly, tapi pada Cho Chang. Cho
Chang, gadis yang baru mereka kenal sekitar 2 tahun. Lalu mengapa, mengapa
Cedric tidak menyadari perasaannya melainkan mendekati gadis lain?
Air
mata mulai turun di pipi Elly. Dengan segera ia menghapusnya. Ia tidak suka
menangis, namun rasa sakit yang ia rasakan menguasai dirinya sehingga air mata
terus bercucuran dari matanya.
Sebuah
tepukan lembut di pundaknya menganggetkan dirinya. Awalnya Elly berharap
melihat Cedric, berharap pemuda itu mengejarnya dan menjelaskan bahwa dia dan
Cho hanya menemani Feli dan Lee. Namun alih-alih Cedric, Calvin lah yang berada
di belakangnya. Pemuda itu memperhatikan Elly dalam beberapa detik sebelum
menarik gadis itu ke pelukannya. Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut
Calvin, Elly juga tidak mengatakan apa-apa. Ia juga tidak menolak pelukan dari
Calvin, yang entah mengapa, baginya saat ini, pelukan itu sangat menghiburnya.
***
Oliver
tidak mengajak Nicole untuk jalan bersamanya di kunjungan ke Hogsmeade kali
ini. Pikirannya terbagi antara Quidditch dan masalah tentang sapu Harry, dengan
Nicole. Walau sebagian besar otaknya sekarang terisi dengan Nicole. Walau semua
temannya tertawa dan bersenang-senang, Oliver hanya memasang muka datar selama
perjalanan mereka menuju Three Broomsticks.
Ketika
ia membuka pintu café tersebut, ia berharap ia tidak melakukannya. Gadis yang
selalu dipikirannya itu berdiri di depannya saat ini, dengan ekspresi terkejut
dan tangan yang di genggam oleh seorang pemuda yang tidak Oliver kenali. Melihat
hal itu, Oliver tidak bisa menahan diri lagi. Ia maju kedepan dan melayangkan
tinjunya sebelum siapapun bisa menahannya.
Nicole
terpekik terkejut, terutama karena ia tidak menyangka Oliver tiba-tiba muncul
dan meninju Robert hingga jatuh. Genggaman Robert atas tangannya terlepas dan
digantikan oleh tangan Oliver yang besar. Pemuda itu sudah membawanya pergi
cukup jauh dari Three Broomsticks sebelum Nicole sadar apa yang terjadi dan
menarik paksa tangannya kembali.
“Apa
yang kau lakukan?! Memukul Robert seperti itu?!” Teriak Nicole. Untungnya
daerah itu sepi sehingga tidak ada yang memperhatikan mereka.
“Jadi
namanya Robert..” Kata Oliver, suaranya bergetar. “Jadi ini yang kau lakukan
setelah kita bertengkar malam itu? Berjalan-jalan berdua dengan pemuda lain?”
Mata
Nicole melebar kaget, “Apa?! Tidak! Kami—“
“Aku
tidak ingin dengar alasan, Nicole!! Kau berkata kau milikku!”
Nicole
mengerti. Ia mengerti pemuda di depannya ini cemburu dengan fakta bahwa Robert
memegang tangannya. Nicole mengerti namun amarahnya lebih menguasainya.
“Dan
kau berkata, dengan begitu, aku harus bersamamu setiap saat, setiap waktu dan dimana
saja? Itu maumu?! Aku tidak boleh bergaul dengan siapapun?!” Sambar Nicole. “Maaf
saja ya, tapi aku menolak di kekang seperti itu!!” Setelah mengatakan hal itu,
Nicole berbalik dan berjalan pergi.
“Tunggu!”
Teriak Oliver, tampaknya ia marah juga. “Jika kau pergi sekarang, kau setuju
kita berakhir disini.”
Perkataan
Oliver membuat jantung Nicole serasa berhenti. Selama beberapa saat gadis itu
tidak melakukan apapun, dan akhirnya, ia memberi Oliver sebuah pandangan yang
tidak jelas artinya dan berjalan pergi, meninggalkan pemuda berambut cokelat
muda itu sendirian.
Oliver
tidak mengerti apa sebenarnya yang terjadi pada dirinya sendiri. Pertama
perkataannya di ruang rekreasi malam itu, sekarang perkataannya barusan. Ia
membenci dirinya sendiri. Betapa ia berharap bisa membalikkan waktu dan menarik
perkataannya barusan. Namun tentu itu adalah hal yang mustahil karena punggung
Nicole telah menghilang di kejauhan.
Apakah
ia telah kehilangan gadis itu selamanya?
***TBC***
A/N : OKE! Gue tau gue
janji ngeberesin HP3 di chapter 15 ini.
Cuma ga tahan, pengen
nge cut disini biar greget masa www #ditabok
As usual, Mohon maaf
apabila ada kesalahan *bows*
Original Plot by : Our Queen, JK Rowling
The ‘new’ plot Made
by : Liz
Take
out with full credits please~ ^^

0 komentar:
Posting Komentar