Senin, 14 Juli 2014

Hogwarts' Beloved : Chapter 18

Chapter 18 : I Have To
                                                (Setting : HP 4)

"Pertama Dad dan Bagman, lalu Mum dan sekarang Nicole." Sampai mereka tiba di Aula Utama dan menuju ke meja Gryffindor, itulah yang menjadi keluhan si kembar. Gisselle dan Lee hampir mati bosan mendengarnya karena mereka terus mengulang topik yang sama. Mereka semua tiba di meja Gryffindor dengan tubuh yang basah kuyub karena hujan dan karena ulah Peeves yang melempari murid-murid dengan bom air di Aula Depan.

“Upacara seleksi sudah di mulai?” Tanya Nicole yang baru muncul di meja Gryffindor, sama dengan yang lain, basah kuyub. Gisselle menggeleng sebagai jawaban untuk pertanyaan sahabatnya itu. Nicole mengambil tempat yang disediakan untuknya, di sebelah Gisselle sementara Lee duduk di depannya, George di depan Gisselle dan Fred di sebelah George.

“Hey Nicole! Kau masih belum mau memberitahu kami?” Tanya Fred, masih berusaha mengorek informasi dari Nicole.

“Astaga..” Gumam Lee dan Gisselle bersamaan membuat Nicole memberi mereka pandangan bertanya.

“Fred dan George tidak berhenti membicarakan hal itu sejak kau pergi ke gerbong Prefecr di kereta tadi.” Jawab Lee sementara Fred dan George memberikan mereka senyuman tak berdosa, yang sangat jelas palsunya.

“Kalian ini.” Nicole berganti arah dan memandang si kembar sekarang. “Bersabarlah saja! Kepala sekolah akan mengumumkannya di pidato malam ini.” Fred hendak menggumamkan sesuatu sebagai balasan namun pemuda itu menutup mulutnya lagi ketika melihat ekspresi Nicole.

Tidak lama kemudian, kerumunan anak kelas satu di depan meja guru mulai menipis dan hingga akhirnya, upacara seleksi pun selesai dan pesta makan malam dimulai. Nicole sedang menikmati makan malamnya ketika Hermione, yang duduk di sampingnya, memanggilnya.

“Ada apa?” Jawab Nicole seraya menatap gadis yang berumur dua tahun lebih muda itu.

“Benarkah di Hogwarts ini terdapat banyak peri rumah?”

Nicole menaikkan kedua alisnya, terkejut dengan pertanyaan Hermione, namun lalu mengangguk. “Banyak. Ada ratusan kurang lebih..”

“Apakah mereka di bayar?”

Pertanyaan kedua Hermione nyaris membuat Nicole tersedak karena kaget. Pertanyaan pertama sudah mengejutkan, namun pertanyaan kedua itu sungguh di luar dugaan. “Tentu saja tidak! Mereka akan memprotes jika mereka di bayar!”

Muka Hermione langsung mengernyit tidak setuju. Gadis itu sudah membuka mulutnya, hendak bertanya lagi ketika Ron menyelanya. “Lupakan saja pertanyaan Hermione, Nicole. Dia terobsesi dengan kejadian di Piala Dunia kemarin.” Kata Ron. Pemuda itu lalu terdiam ketika Hermione memandangnya dengan galak.

“Perasaanku saja, atau Hermione mulai mirip Nicole.” Kata George dan semua orang yang mendengarnya tertawa.

“Hati-hati Ron! Jika Hermione sudah mempelajari teknik-teknik dari Nicole, kau tidak akan selamat.” Timpal Fred, mengakibatkan sebuah jitakan mendarat di kepalanya. Pesta makan malam berlangsung semeriah biasanya. Makanan penutup terakhir pun menghilang dari semua meja dan Dumbledore berdiri lalu menyampaikan pengumumannya yang biasa.

“Dengan sangat berat hati, aku harus menyampaikan juga bahwa pertandingan antar asrama untuk memperebutkan Piala Quidditch tahun ini tidak akan di adakan.” Kata professor tua itu.

Nicole bisa mendengar gumaman-gumaman dan pekikan kaget dari murid-murid, terutama dari para pemain Quidditch. Fred dan George menatap Dumbledore dengan mulut terbuka lebar namun tidak ada suara yang keluar dari mulut mereka. Lalu dengan serempak, mereka mengalihkan pandangan mereka ke Nicole.

“Jangan memandangku seperti itu.” Protes Nicole pada kedua pemuda yang memandangnya dengan pandangan memprotes. “Bukan aku yang memintanya!”

Dumbledore masih melanjutkan pengumumannya ketika mendadak terdengar suara Guntur yang memekakan telinga. Kilat menyambar dan pintu Aula Utama terbanting terbuka, menunjukan sesosok pria memakai mantel berpergian berwarna hitam dengan tudung jaket terpasang di kepalanya. Gisselle mengeluarkan pekik tertahan saat melihatnya.

Pria itu berjalan melintasi meja-meja setelah sebelumnya membuka tudung jaketnya. Tongkat jalannya menjadi satu-satunya sumber suara di Aula yang mendadak hening itu. Nicole bisa mengenali pria itu ketika ia berjalan di dekatnya. Ia adalah Alastor Moody, Auror yang terkenal akan kehebatannya. Bisa dikatakan ia adalah idola Nicole, selain kakeknya sendiri tentu saja.

Moody berjalan ke tempat Dumbledore berdiri dan mereka berdua bercakap-cakap selama beberapa saat. Kilat menyambar lagi dan kali ini menerangi wajah Moody dengan sangat jelas, sehingga Gisselle memekik kembali. Kali ini tidak hanya gadis itu saja yang memekik, terdengar beberapa reaksi yang sama dari seluruh Aula Utama ini.

Wajah pensiunan Auror itu memang jauh dari kategori ‘tampan’ tentu saja, bahkan tidak dapat di kategorikan sebagai wajah ‘normal’. Luka-luka akibat pekerjaannya menghiasi seluruh wajahnya. Mata ajaibnya yang ukurannya lebih besar daripada mata normal, berwarna biru elektrik, tidak pernah berhenti bergerak. Ketika Moody duduk di kursi yang kosong di meja guru, Dumbledore memperkenalkan pria itu sebagai guru Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam yang baru. Biasanya guru baru disambut dengan tepukan yang meriah, namun kali ini hanya Dumbledore, Hagrid dan Nicole yang bertepuk tangan. Tepukan tangan terdengar sepi dan suram.

“Moody? Mad-Eye Moody akan mengajar kita?” Tanya Gisselle, tidak percaya bahwa pensiunan Auror yang akhir-akhir ini dikatakan sedikit ‘tidak waras’ itu akan mengajarnya.

“Ya.” Kata gadis itu seraya mengangguk. "Memangnya kenapa?" Lanjutnya saat melihat ekspresi wajah Gisselle. Gisselle hanya menjawab dengan gumaman 'tidak-apa-apa' yang pelan.

George menoleh ke arah Nicole. "Kalau tidak salah, kau pernah berkata ingin menjadi Auror kan?" Nicole mengangguk lagi. "Well, kuharap kau tidak 'berubah' menjadi seperti Moody atau Oliver akan meninggalkanmu!" Dan pemuda itu mendapat injakan di kaki sebagai balasannya. Nicole sudah hendak memberinya jitakan tambahan ketika Dumbledore melanjutkan pengumumannya, secara tidak langsung, menyelamatkan pemuda berambut merah itu.

"Dengan sangat gembira aku mengumumkan bahwa turnamen triwizard akan di langsungkan di Hogwarts tahun ini."

"Anda bergurau!!" Fred berseru dengan suara keras dari tempat duduknya, membuat semua anak tertawa dan Nicole melemparkan pandangan 'deathglare' miliknya pada pemuda itu. Berkebalikan dengan reaksi cucunya, Dumbledore justru terkekeh senang dan pengumuman di lanjutkan dengan suasana yang lebih riang, mengingat sebelumnya suasana sempat menjadi 'suram' dengan kedatangan Moody yang mendadak tadi. Banyak anak yang menjadi bersemangat mendengar pengumuman itu, termasuk diantaranya si kembar.

"Aku akan tetap ikut!" Desis Fred walau Dumbledore telah menjelaskan peraturan terbarunya, mengenai batas umur 17 tahun.

"Kau belum cukup umur!!" Tukas Nicole tajam, tapi baik Fred maupun George mengabaikan gadis itu. Saat pengumuman selesai, Nicole meloncat berdiri bersama Joe dan para prefect lainnya dan segera membantu para murid kelas satu yang baru. Ia kembali bertemu dengan Gisselle, si kembar dan Lee di ruang rekreasi. Ketiga pemuda itu masih sibuk mencari cara untuk bisa mendaftar dan terpilih menjadi salah satu peserta turnamen.

"Kalian tidak akan bisa mengelabui sang juri." Kata Nicole tajam.

"Oh ya?" Kata Fred dengan nada sedikit mengejek. "Tapi kau kan tidak tahu siapa juri yang tidak memihak itu." Mendengar nada di suara Fred, Nicole memutar kedua bola matanya dan membalas perkataan pemuda itu dengan singkat.

"Oh? Sayang sekali kalau begitu. Aku tahu siapa jurinya tapi aku kehilangan minat untuk memberi tahu kalian." Setelah berkata begitu, Nicole berbalik dan berjalan masuk ke asrama perempuan bersama Gisselle, mengabaikan erangan ketiga pemuda yang ada.

***

Pelajaran hari pertama memang selalu terasa berat. Namun bagi murid Gyrffindor kelas 6, sore itu adalah pelajaran pertama mereka yang taj terlupakan. Semua murid meninggalkan ruang kelas Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam dengan senyuman lebar, puas dengan pelajaran yang baru mereka terima.

"Kau tidak salah Nicole.." Gumam George saat mereka berlima berjalan keluar kelas dan menuju Aula Utama untuk makan malam. Fred, Gisselle dan Lee mengangguk setuju.

"Tentu saja!" Kata Nicole dengan bangga. Sejak kakeknya memperkenalkan Moody dan pekerjaannya pada Nicole, gadis itu selalu bertekat untuk menjadi Auror sehebat Moody.

Minggu-minggu berikutnya berjalan tanpa ada kejadian yang spesial, walau Nicole sering memergoki Fred dan George berbisik-bisik pelan di pojokan ruang rekreasi dengan perkamen di tangan dan itu membuat gadis ini resah. Gisselle telah memberi tahunya tentang ‘Sihir Sakti Weasley’ milik mereka dan Nicole sendiri merasa itu tidak masalah selama mereka tidak mengganggu murid lain, khususnya yang lebih muda dari mereka.

Tidak, Nicole tidak merasa resah hanya karena itu. Yang membuat ia resah adalah bagaimana jika mereka berdua benar-benar serius dan membuat rencana untuk mengelabui juri agar di ijinkan menjadi peserta? Walau mereka sering bertengkar, Nicole juga mempedulikan kedua pemuda yang memiliki sifat iseng luar biasa itu.

Mendekati akhir bulan Oktober, topik mengenai Turnamen Triwizard menjadi topik favorite semua orang. Tampaknya mereka semua sibuk membicarakan siapa yang menjadi wakil untuk Hogwarts. Nicole dan Gisselle juga bukan pengecualian.

“Kalian berdua akan mendaftar?” Tanya Gisselle. Ia, Nicole, Elly dan Cedric sedang duduk di perpustakaan. Elly dan Cedric berpandangan selama beberapa detik lalu menggangguk bersamaan dengan senyuman di wajah mereka.

“Apa kata Harry?” Tanya Gisselle pada Elly. Kedua kakak beradik Potter ini sangat dekat sehingga Gisselle penasaran bagaimana reaksi Harry ketika kakaknya hendak mendaftar untuk turnamen yang cukup berbahaya ini.

“Ia menganggapnya keren.” Jawab Elly sambil tertawa kecil.

“Sebenarnya, jika Nicole mendaftar turnamen ini, aku akan sangat yakin dia yang akan terpilih menjadi wakil Hogwarts.” Kata Cedric, membuat Nicole mendengus geli mendengarnya.

“Tidak mungkin. Lagipula, aku belum cukup umur.” Kata Nicole.

“Dan hal itu sangat di sayangkan.” Kata Cedric kembali. Gisselle menoleh menatap Nicole dengan mata yang bersinar.

“Menurutku itu mungkin saja. Dan kau akan memenangkan turnamen!” Kata Gisselle bersemangat.

“Kalian terlalu berlebihan. Aku tidak sehebat itu.” Muka Nicole sedikit merah akibat dari pujian-pujian itu. Ia memang sedikit kecewa turnamen itu datang tahun ini dan bukan tahun depan, saat dia berusia 17 tahun. Dengan begitu ia bisa mendaftar dan mungkin terpilih. Hal itu pasti akan membuat kakeknya bangga. Well, apa boleh buat?

Akhir bulan Oktober pun tiba dengan cepat. Seluruh sekolah merasa tegang sekaligus antusias menanti kedatangan murid-murid wakil dari sekolah Beauxbatons dan Durmstrang yang akan tiba sore itu. Nicole dan Joe berbaris cukup depan karena McGonagall meminta bantuan mereka berdua untuk mengatur barisan Gryffindor, tepatnya barisan murid kelas satu yang berada paling depan.

Mereka menanti di depan kastil dan setelah penantian yang cukup lama dalam suasana tegang (dari para guru) dan antusias (dari para murid), kereta kuda raksasa milik Beauxbatons pun tiba, diikuti dengan munculnya seorang wanita yang memiliki badan sebesar Hagrid. Madam Maxime, kepala sekolah Beauxbatons, berjalan ke arah Dumbledore dan setelah bertukar sapa singkat, wanita itu membawa murid-muridnya masuk ke dalam kastil.

“Sepertinya mereka memperhatikanmu..” Gumam Joe pada Nicole saat beberapa pemuda dari Beauxbatons melewati mereka. Nicole melirik ke arah pemuda-pemuda itu sebelum kembali menatap Joe dengan kening berkerut.

“Jangan bercanda.” Gumam gadis itu. Joe hanya mengangkat bahunya.

“Terserah saja. Namun sekedar informasi, kau dan teman-temanmu, Scotthill dan Potter, Potter yang dari Hufflepuff tentunya, selalu menjadi bahan pembicaraan di antara murid laki-laki.”

“Bahan pembicaraan?”

“Tidak yang aneh-aneh.” Jawab Joe, ia kembali menatap ke depan sementara Nicole masih terus menatap pemuda berambut hitam itu. “Hanya saja kalian selalu masuk dalam list gadis top di angkatan kita.”

“Gadis top?” Nicole mengernyit kembali. Ada apa lagi ini?

“Populer, cantik dan semacamnya.” Jawab Joe dengan nada santai seakan-akan dia tidak peduli tentang hal itu. “Gadis idaman para laki-laki.” Lanjutnya sementara para murid yang lain sibuk membicarakan bagaimana murid Durmstrang akan berpergian. Semua orang mengira mereka akan tiba seperti Beauxbatons, menggunakan kereta kuda.

“Banyak orang yang mengatakan bahwa Wood sangat beruntung loh.” Kata Joe setelah Nicole mendengus geli mendegar kata-kata pemuda itu. “Bisa menjadi pacarmu. Dan aku tidak membual tentang hal ini, Nicole.” Pemuda itu melirik Nicole yang tampaknya ingin tertawa.

Nicole hendak menanyakan bagaimana Joe mengetahui semua hal itu, padahal pemuda itu adalah pemuda yang pendiam, bukan tipe yang suka ikut serta dalam pembicaraan seperti itu, ketika Lee berteriak keras.

“Lihat ke danau!!”

Otomatis semua kepala langsung menoleh ke arah danau, dimana tiang dari sebuah kapal muncul dan disusul dengan seluruh kapal naik ke permukaan danau. Bisik-bisik bersemangat mengikuti kemunculan kapal milik Durmstrang dan bertambah ramai saat Igor Karkaroff, kepala sekolah Durmstrang menggiring salah satu muridnya, Viktor Krum, Seeker dari tim nasional Bulgaria yang main di Final Piala Dunia Quidditch yang lalu.

“Kau ingin tanda tangannya?” Tanya Nicole pada Gisselle saat mereka bertemu dalam barisan menuju Aula Utama untuk makan malam. Gadis brunette itu tidak bisa melepaskan pandangannya dari Krum sejak pertama melihatnya. Ia tidak sendirian. Banyak anak yang mulai ribut tentang Krum dan bagaimana cara mendapat tanda tangan dari Seeker muda itu. Bahkan Lee melompat-lompat agar bisa melihat Krum dengan lebih jelas.

“Tidak..” Muka Gisselle memerah malu.

“Kalau kau mau, akan ku mintakan.” Kata Nicole lagi, namun Gisselle menolak tawaran sahabatnya itu.

Ketika mereka semua akhirnya duduk di meja asrama masing-masing, murid Beauxbatons di meja Ravenclaw dan Durmstrang di Slytherin, pesta makan malam yang di meriahkan dengan kehadiran makanan-makanan asing pun di mulai. Karkaroff dan Madam Maxime duduk di kanan dan kiri Dumbledore dan tidak lama kemudian, Ludo Bagman serta Bartemius Crouch pun turut serta duduk bersama mereka.

Dumbledore berdiri dari kursinya setelah makan malam selesai. Professor tua itu memperkenalkan Bagman dan Mr. Crouch sebagai juri lainnya, lalu kembali menjelaskan peraturan lebih rinci mengenai turnamen.

“Itukah juri yang tidak memihaknya?” Tanya Lee pada Nicole saat Dumbledore menunjukan Piala Api pada mereka. Nicole mengangguk.

“Mudah! Kita bisa melakukannya!” Kata Fred sementara George mengangguk-angguk setuju. Nicole melemparkan pandangan memperingatkan lagi, tapi lagi-lagi si kembar mengabaikannya. Tampaknya kedua pemuda itu sudah mulai terbiasa di pandang seperti itu oleh Nicole. Dumbledore melanjutkan penjelasannya mengenai Lingkaran Batas Usia, membuat Nicole mulai tersenyum karena membayangkan si kembar saat melanggar lingkar itu.

“Lingkaran Batas Usia!!” Kata Fred saat mereka berjalan menuju asrama Gryffindor, matanya berkilat-kilat. “Nah, lingkaran itu akan tertipu ramuan penua kan?”

“Tapi kurasa siapa pun yang berumur di bawah 17 tahun tidak akan punya kesempatan.” Kata Hermione. “Kita kan belum belajar cukup banyak.”

“Terserah kau.” Kata George pendek. Pemuda itu menatap Harry. “Kau akan berusaha ikut, kan Harry?”

Merasa kesal karena jawaban dari para laki-laki, Hermione menoleh ke arah Nicole, mencari bantuan. “Kau tidak akan menghentikan mereka?”

Nicole menggeleng. “Aku ingin melihat saat Piala Api menolak nama mereka. Pasti akan kocak.” Kata-kata Nicole membuat Hermione dan Gisselle tertawa.

“Kau tidak percaya pada kekuatan ramuan kami?” Fred menunjukan ekspresi terlukanya seraya memandang Nicole, membuat gadis itu tertawa.

“Aku lebih percaya pada Lingkaran Batas Usia milik kakekku.”

“Kita lihat saja nanti.” Jawab si kembar bersamaan.

***

“Nicole! Hentikan mereka!”

Pagi-pagi hari sabtu dan si kembar sudah membuat keributan lagi. Nicole dan Gisselle baru saja tiba di Aula Depan, hendak masuk ke Aula Utama untuk sarapan ketika Hermione berseru ke arah mereka. Fred, George dan Lee menoleh untuk menatap kedua gadis yang baru saja tiba itu.

“Kalian tidak bisa menghentikan kami!!” Teriak Fred seakan-akan menantang Nicole. Gadis berambut cokelat tua itu hanya memandang Fred dengan pandangan penasaran yang agak terlihat jahil.

“Aku tidak akan menghentikan kalian, lakukan saja.” Kata-kata Nicole membuat semuanya kaget.

“Akhirnya kau memutuskan untuk memepercayai kami Nicole!” Kata Fred dengan senang. Pemuda itu lalu masuk ke dalam Lingkaran Batas Usia milik Dumbledore. Selama sedetik, tidak terjadi apa-apa dan semua orang mengira Fred berhasil. George jelas mengira mereka berhasil karena ia langsung mengejar saudara kembarnya ke dalam lingkaran.

Desis keras kemudian terdengar dan baik Fred maupun George terlempar ke belakang. Saat mereka duduk kembali, muka mereka sudah di tumbuhi jenggot panjang berwarna putih. Aula Depan di penuhi dengan tawa dari semua orang yang melihatnya, bahkan si kembar sendiri tertawa.

“Nicole! Sial! Kau sengaja ya?” Teriak si kembar bersamaan. Nicole hanya nyengir puas saja dan tidak menjawab pertanyaan mereka. Terdengar kekeh riang dan Dumbledore muncul dari dalam Aula Utama.

“Kan sudah kuperingatkan.” Kata Professor tua itu, walau jelas ia menikmati hasil dari mantranya. “Ku sarankan kalian pergi ke Madam Pomfrey sekarang.” Dan si kembar pergi menuju rumah sakit sekolah, di temani dengan Lee yang masih tertawa terbahak-bahak.

“Apakah mereka akan baik-baik saja?” Tanya Gisselle, cemas dengan kondisi si kembar. Nicole tersenyum dan menyenggol gadis itu dengan pelan.

“Tenang saja, George akan kembali tampan seperti semula. Madam Pomfrey akan menyembuhkannya.”

Muka Gisselle langsung memerah karena kata-kata Nicole. Pada saat itu Elly dan Cedric masuk kedalam Aula Utama, mereka berdua melihat Nicole dan Gisselle lalu segera menghampiri keduanya.

“Kami telah memasukan nama kami.” Kata Elly, terlihat puas. Cedric juga memiliki ekspresi wajah yang sama.

“Selamat! Semoga salah satu dari kalian terpilih.” Kata Nicole. Elly menoleh ke sekeliling mereka sebelum kembali menatap kedua sahabatnya.

“Dimana Fred, George dan Lee?”

“Mereka ke rumah sakit sekolah karena mendadak mereka memiliki jenggot putih.” Jawab Nicole. “Itu karena mereka menerobos masuk Lingkaran Batas Usia.” Elly dan Cedric diam sesaat untuk mencerna informasi sebelum tertawa mendengarnya.

“Astaga. Semoga mereka kapok setelah ini.” Kata Elly. Gadis itu lalu melihat adiknya dan segera berjalan menuju pemuda yang baru berumur 14 tahun itu. Sementara Cedric juga melihat adiknya serta Cho Chang. Perubahan ekspresi pemuda itu jelas menarik perhatian Nicole dan Gisselle.

“Menurutmu?” Tanya Nicole tanpa menoleh pada Gisselle.

“Entahlah. Namun aku cemas.” Jawab Gisselle. Namun keduanya tidak melanjutkan topik itu karena Elly kembali mendekati mereka.

Pesta Halloween malam itu berlangsung lebih meriah dari tahun-tahun sebelumnya, dan juga lebih lama. Mungkin karena tamu-tamu spesial yang hadir atau karena beragam macam makanan asing yang terhidang di meja. Setelah piring-piring menjadi kosong kembali dan lilin-lilin menjadi padam, kecuali beberapa lilin yang berada di dalam labu-labu hiasan. Aula Utama menjadi gelap dan hanya Piala Api yang bersinar terang.

Nama-nama peserta mulai di lontarkan oleh Piala Api. Viktor Krum dari Durmstrang, Fleur Delacour dari Beauxbatons dan dari Hogwarts sendiri..

“Cedric Diggory!!” Nicole dan Gisselle termasuk dari anak-anak yang bersorak dan bertepuk tangan untuk pemuda itu. Cedric tersenyum dan sebelum berdiri, ia memeluk Elly yang duduk disebelahnya dengan riang, membuat gadis itu langsung membeku dan masih belum kembali normal saat Cedric berjalan ke ruangan di belakang meja guru, mengikuti jejak Krum dan Fleur.

“Aku tidak percaya Cedric terpilih!” Kata Gisselle, bangga karena temannya adalah salah satu perserta turnamen. Namun Nicole tidak menanggapi perkataan temannya karena pada saat itu, Piala Api kembali melontarkan satu nama. Dumbledore mengambil perkamen itu dan membaca nama yang tertera.

“Harry Potter.”

***

Perlakuan murid Hogwarts terhadap menjadi seperti dua tahun yang lalu, dimana nyaris semua orang mengira pemuda itu adalah Pewaris Slytherin. Ejekan-ejekan dari anak-anak Slytherin semakin banyak. Anak-anak Hufflepuff dan Ravenclaw memusuhinya dan bahkan Ron menghindari Harry kali ini dan itu jelas membuatnya tersiksa. Anak-anak Gryffindor yang lain memuja Harry tentu saja, namun itu malah membuat perasaan pemuda itu semakin memburuk. Nicole harus menjitak si kembar berulang kali agar mereka berhenti menggoda adik Elly itu.

Elly menjadi luar biasa cemas karena adiknya mengikuti turnamen padahal ia baru saja berusia 14 tahun. “Bagaimana mungkin mereka mengijinkannya ikut serta?” Protes Elly dengan suara pelan di suatu sore yang cerah. Ia, Nicole, dan Gisselle sedang bersantai di tepi danau. Udara sudah mulai dingin sehingga daerah itu cukup sepi.

“Terikat peraturan dan sebagainya.” Jawab Nicole dengan sabar. Elly sudah berulang kali mengeluarkan protesan yang sama dan tidak ada yang bisa menyalahkannya. Sementara Elly dan Gisselle bermain-main dengan batu dan air di tepi danau, Nicole duduk di bawah pohon sambil menyelesaikan suratnya untuk Oliver.

“Bagaimana dengan persiapan Harry menghadapi tugas pertamanya?” Tanya Gisselle setelah keheningan beberapa lama menyelimuti mereka.

“Ia bilang ia sudah mengetahui bagaimana cara melewatinya. Ku dengar dari Cedric, Harry memberi tahunya mengenai tugas pertama mereka.” Jawab Elly.

“Pembocoran informasi?” Tanya Nicole. “Bukankah itu pelanggaran?”

“Harry juga bilang bahwa Krum dan Fleur juga sudah mengetahuinya.” Kata Elly lagi. “Nicole, menurutmu bagaimana?”

“Kurasa Harry bisa melakukannya.”

“Hmm..”

“Bukan itu yang hendak kau tanyakan ya?”

Elly menoleh menatap sahabatnya yang duduk di bawah pohon itu. “Lupakan saja.” Kata gadis itu sebelum berbalik dan berjalan menuju kastil kembali, meninggalkan Nicole dan Gisselle yang berpandangan dengan bingung.

Hari Tugas Pertama di adakan pun tiba dan semua anak telah duduk di tribune-tribune tinggi yang mengelilingi arena tempat para peserta akan melakukan tantangan pertama mereka, naga. Nicole mengambil tempat di antara Elly dan Gisselle yang keduanya menjadi luar biasa tegang saat Cedric, peserta pertama memasuki arena. Pemuda itu berhasil menyelesaikan tugasnya, namun ia juga terluka saat melakukannya.

“Cedric!” Elly melompat berdiri dan segera melesat ke tenda tempat Madam Pomfrey berada, namun gadis itu tidak di ijinkan menemui Cedric hingga ia selesai di rawat. Elly berjalan mondar-mandir seraya menunggu di ijinkan masuk oleh Madam Pomfrey, dan ketika akhirnya di ijinkan, gadis itu melesat masuk.

“Ced!!” Kata Elly. Pemuda yang di panggil hanya tersenyum sebagai balasan. Ia berlumur salep berwarna jingga, obat luka bakarnya.

“Bagaimana penampilanku tadi?” Tanya Cedric sambil tersenyum puas. Elly tersenyum, setengah lega setengah geli melihat penampilan dan kelakuan pemuda itu.

“Masih kurang menurutku.” Jawab Elly sambil tertawa kecil. “Kau tidak berhati-hati. Dan itu membuatku cemas.”

Cedric nyengir, “Maafkan aku telah membuatmu cemas. Aku ingin memelukmu sekarang, tapi nanti kau akan berlumuran salep sepertiku!”

Ingin rasanya Elly berkata bahwa ia tidak peduli bila ia terkena salep Cedric, namun ia menahannya dan menggantinya dengan tawa kecil yang agak di paksakan. “Sepertinya kau baik-baik saja. Kalau begitu, aku akan kembali setelah menonton Harry.”

“Baiklah. Sampai nanti.”

Elly berbalik dan berjalan pergi dengan kedua tangan mengepal di samping badannya. Sepertinya ia tidak bisa menahan perasaan ini lebih lama lagi. Ia harus memberitahu Cedric bahwa ia menyukainya, harus.

Karena entah kenapa, ia memiliki perasaan buruk.

***TBC***

A/N : Hiks terkesan maksa dan buru buru nih hahahahaha
Mohon maaf apabila ada kesalahan *bows*

Original Plot by : Our Queen, JK Rowling
The ‘new’ plot Made by : Liz
Take out with full credits please~ ^^

0 komentar:

Posting Komentar