Chapter 18 : I
Have To
(Setting
: HP 4)
"Pertama
Dad dan Bagman, lalu Mum dan sekarang Nicole." Sampai mereka tiba di Aula
Utama dan menuju ke meja Gryffindor, itulah yang menjadi keluhan si kembar.
Gisselle dan Lee hampir mati bosan mendengarnya karena mereka terus mengulang
topik yang sama. Mereka semua tiba di meja Gryffindor dengan tubuh yang basah
kuyub karena hujan dan karena ulah Peeves yang melempari murid-murid dengan bom
air di Aula Depan.
“Upacara
seleksi sudah di mulai?” Tanya Nicole yang baru muncul di meja Gryffindor, sama
dengan yang lain, basah kuyub. Gisselle menggeleng sebagai jawaban untuk
pertanyaan sahabatnya itu. Nicole mengambil tempat yang disediakan untuknya, di
sebelah Gisselle sementara Lee duduk di depannya, George di depan Gisselle dan
Fred di sebelah George.
“Hey
Nicole! Kau masih belum mau memberitahu kami?” Tanya Fred, masih berusaha
mengorek informasi dari Nicole.
“Astaga..”
Gumam Lee dan Gisselle bersamaan membuat Nicole memberi mereka pandangan
bertanya.
“Fred
dan George tidak berhenti membicarakan hal itu sejak kau pergi ke gerbong
Prefecr di kereta tadi.” Jawab Lee sementara Fred dan George memberikan mereka
senyuman tak berdosa, yang sangat jelas palsunya.
“Kalian
ini.” Nicole berganti arah dan memandang si kembar sekarang. “Bersabarlah saja!
Kepala sekolah akan mengumumkannya di pidato malam ini.” Fred hendak
menggumamkan sesuatu sebagai balasan namun pemuda itu menutup mulutnya lagi
ketika melihat ekspresi Nicole.
Tidak
lama kemudian, kerumunan anak kelas satu di depan meja guru mulai menipis dan
hingga akhirnya, upacara seleksi pun selesai dan pesta makan malam dimulai.
Nicole sedang menikmati makan malamnya ketika Hermione, yang duduk di
sampingnya, memanggilnya.
“Ada
apa?” Jawab Nicole seraya menatap gadis yang berumur dua tahun lebih muda itu.
“Benarkah
di Hogwarts ini terdapat banyak peri rumah?”
Nicole
menaikkan kedua alisnya, terkejut dengan pertanyaan Hermione, namun lalu
mengangguk. “Banyak. Ada ratusan kurang lebih..”
“Apakah
mereka di bayar?”
Pertanyaan
kedua Hermione nyaris membuat Nicole tersedak karena kaget. Pertanyaan pertama
sudah mengejutkan, namun pertanyaan kedua itu sungguh di luar dugaan. “Tentu
saja tidak! Mereka akan memprotes jika mereka di bayar!”
Muka
Hermione langsung mengernyit tidak setuju. Gadis itu sudah membuka mulutnya,
hendak bertanya lagi ketika Ron menyelanya. “Lupakan saja pertanyaan Hermione,
Nicole. Dia terobsesi dengan kejadian di Piala Dunia kemarin.” Kata Ron. Pemuda
itu lalu terdiam ketika Hermione memandangnya dengan galak.
“Perasaanku
saja, atau Hermione mulai mirip Nicole.” Kata George dan semua orang yang
mendengarnya tertawa.
“Hati-hati
Ron! Jika Hermione sudah mempelajari teknik-teknik dari Nicole, kau tidak akan
selamat.” Timpal Fred, mengakibatkan sebuah jitakan mendarat di kepalanya.
Pesta makan malam berlangsung semeriah biasanya. Makanan penutup terakhir pun
menghilang dari semua meja dan Dumbledore berdiri lalu menyampaikan
pengumumannya yang biasa.
“Dengan
sangat berat hati, aku harus menyampaikan juga bahwa pertandingan antar asrama
untuk memperebutkan Piala Quidditch tahun ini tidak akan di adakan.” Kata
professor tua itu.
Nicole
bisa mendengar gumaman-gumaman dan pekikan kaget dari murid-murid, terutama
dari para pemain Quidditch. Fred dan George menatap Dumbledore dengan mulut
terbuka lebar namun tidak ada suara yang keluar dari mulut mereka. Lalu dengan
serempak, mereka mengalihkan pandangan mereka ke Nicole.
“Jangan
memandangku seperti itu.” Protes Nicole pada kedua pemuda yang memandangnya
dengan pandangan memprotes. “Bukan aku yang memintanya!”
Dumbledore
masih melanjutkan pengumumannya ketika mendadak terdengar suara Guntur yang
memekakan telinga. Kilat menyambar dan pintu Aula Utama terbanting terbuka,
menunjukan sesosok pria memakai mantel berpergian berwarna hitam dengan tudung
jaket terpasang di kepalanya. Gisselle mengeluarkan pekik tertahan saat
melihatnya.
Pria
itu berjalan melintasi meja-meja setelah sebelumnya membuka tudung jaketnya.
Tongkat jalannya menjadi satu-satunya sumber suara di Aula yang mendadak hening
itu. Nicole bisa mengenali pria itu ketika ia berjalan di dekatnya. Ia adalah
Alastor Moody, Auror yang terkenal akan kehebatannya. Bisa dikatakan ia adalah
idola Nicole, selain kakeknya sendiri tentu saja.
Moody
berjalan ke tempat Dumbledore berdiri dan mereka berdua bercakap-cakap selama
beberapa saat. Kilat menyambar lagi dan kali ini menerangi wajah Moody dengan
sangat jelas, sehingga Gisselle memekik kembali. Kali ini tidak hanya gadis itu
saja yang memekik, terdengar beberapa reaksi yang sama dari seluruh Aula Utama
ini.
Wajah
pensiunan Auror itu memang jauh dari kategori ‘tampan’ tentu saja, bahkan tidak
dapat di kategorikan sebagai wajah ‘normal’. Luka-luka akibat pekerjaannya
menghiasi seluruh wajahnya. Mata ajaibnya yang ukurannya lebih besar daripada
mata normal, berwarna biru elektrik, tidak pernah berhenti bergerak. Ketika
Moody duduk di kursi yang kosong di meja guru, Dumbledore memperkenalkan pria
itu sebagai guru Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam yang baru. Biasanya guru baru
disambut dengan tepukan yang meriah, namun kali ini hanya Dumbledore, Hagrid
dan Nicole yang bertepuk tangan. Tepukan tangan terdengar sepi dan suram.
“Moody?
Mad-Eye Moody akan mengajar kita?” Tanya Gisselle, tidak percaya bahwa
pensiunan Auror yang akhir-akhir ini dikatakan sedikit ‘tidak waras’ itu akan
mengajarnya.
“Ya.”
Kata gadis itu seraya mengangguk. "Memangnya kenapa?" Lanjutnya saat
melihat ekspresi wajah Gisselle. Gisselle hanya menjawab dengan gumaman
'tidak-apa-apa' yang pelan.
George
menoleh ke arah Nicole. "Kalau tidak salah, kau pernah berkata ingin
menjadi Auror kan?" Nicole mengangguk lagi. "Well, kuharap kau tidak
'berubah' menjadi seperti Moody atau Oliver akan meninggalkanmu!" Dan
pemuda itu mendapat injakan di kaki sebagai balasannya. Nicole sudah hendak
memberinya jitakan tambahan ketika Dumbledore melanjutkan pengumumannya, secara
tidak langsung, menyelamatkan pemuda berambut merah itu.
"Dengan
sangat gembira aku mengumumkan bahwa turnamen triwizard akan di langsungkan di
Hogwarts tahun ini."
"Anda
bergurau!!" Fred berseru dengan suara keras dari tempat duduknya, membuat
semua anak tertawa dan Nicole melemparkan pandangan 'deathglare' miliknya pada pemuda
itu. Berkebalikan dengan reaksi cucunya, Dumbledore justru terkekeh senang dan
pengumuman di lanjutkan dengan suasana yang lebih riang, mengingat sebelumnya
suasana sempat menjadi 'suram' dengan kedatangan Moody yang mendadak tadi.
Banyak anak yang menjadi bersemangat mendengar pengumuman itu, termasuk
diantaranya si kembar.
"Aku
akan tetap ikut!" Desis Fred walau Dumbledore telah menjelaskan peraturan
terbarunya, mengenai batas umur 17 tahun.
"Kau
belum cukup umur!!" Tukas Nicole tajam, tapi baik Fred maupun George
mengabaikan gadis itu. Saat pengumuman selesai, Nicole meloncat berdiri bersama
Joe dan para prefect lainnya dan segera membantu para murid kelas satu yang
baru. Ia kembali bertemu dengan Gisselle, si kembar dan Lee di ruang rekreasi. Ketiga
pemuda itu masih sibuk mencari cara untuk bisa mendaftar dan terpilih menjadi
salah satu peserta turnamen.
"Kalian
tidak akan bisa mengelabui sang juri." Kata Nicole tajam.
"Oh
ya?" Kata Fred dengan nada sedikit mengejek. "Tapi kau kan tidak tahu
siapa juri yang tidak memihak itu." Mendengar nada di suara Fred, Nicole
memutar kedua bola matanya dan membalas perkataan pemuda itu dengan singkat.
"Oh?
Sayang sekali kalau begitu. Aku tahu siapa jurinya tapi aku kehilangan minat
untuk memberi tahu kalian." Setelah berkata begitu, Nicole berbalik dan
berjalan masuk ke asrama perempuan bersama Gisselle, mengabaikan erangan ketiga
pemuda yang ada.
***
Pelajaran
hari pertama memang selalu terasa berat. Namun bagi murid Gyrffindor kelas 6,
sore itu adalah pelajaran pertama mereka yang taj terlupakan. Semua murid
meninggalkan ruang kelas Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam dengan senyuman lebar,
puas dengan pelajaran yang baru mereka terima.
"Kau
tidak salah Nicole.." Gumam George saat mereka berlima berjalan keluar
kelas dan menuju Aula Utama untuk makan malam. Fred, Gisselle dan Lee
mengangguk setuju.
"Tentu
saja!" Kata Nicole dengan bangga. Sejak kakeknya memperkenalkan Moody dan
pekerjaannya pada Nicole, gadis itu selalu bertekat untuk menjadi Auror sehebat
Moody.
Minggu-minggu
berikutnya berjalan tanpa ada kejadian yang spesial, walau Nicole sering
memergoki Fred dan George berbisik-bisik pelan di pojokan ruang rekreasi dengan
perkamen di tangan dan itu membuat gadis ini resah. Gisselle telah memberi
tahunya tentang ‘Sihir Sakti Weasley’ milik mereka dan Nicole sendiri merasa
itu tidak masalah selama mereka tidak mengganggu murid lain, khususnya yang
lebih muda dari mereka.
Tidak,
Nicole tidak merasa resah hanya karena itu. Yang membuat ia resah adalah bagaimana
jika mereka berdua benar-benar serius dan membuat rencana untuk mengelabui juri
agar di ijinkan menjadi peserta? Walau mereka sering bertengkar, Nicole juga
mempedulikan kedua pemuda yang memiliki sifat iseng luar biasa itu.
Mendekati
akhir bulan Oktober, topik mengenai Turnamen Triwizard menjadi topik favorite
semua orang. Tampaknya mereka semua sibuk membicarakan siapa yang menjadi wakil
untuk Hogwarts. Nicole dan Gisselle juga bukan pengecualian.
“Kalian
berdua akan mendaftar?” Tanya Gisselle. Ia, Nicole, Elly dan Cedric sedang
duduk di perpustakaan. Elly dan Cedric berpandangan selama beberapa detik lalu
menggangguk bersamaan dengan senyuman di wajah mereka.
“Apa
kata Harry?” Tanya Gisselle pada Elly. Kedua kakak beradik Potter ini sangat
dekat sehingga Gisselle penasaran bagaimana reaksi Harry ketika kakaknya hendak
mendaftar untuk turnamen yang cukup berbahaya ini.
“Ia
menganggapnya keren.” Jawab Elly sambil tertawa kecil.
“Sebenarnya,
jika Nicole mendaftar turnamen ini, aku akan sangat yakin dia yang akan terpilih
menjadi wakil Hogwarts.” Kata Cedric, membuat Nicole mendengus geli
mendengarnya.
“Tidak
mungkin. Lagipula, aku belum cukup umur.” Kata Nicole.
“Dan
hal itu sangat di sayangkan.” Kata Cedric kembali. Gisselle menoleh menatap
Nicole dengan mata yang bersinar.
“Menurutku
itu mungkin saja. Dan kau akan memenangkan turnamen!” Kata Gisselle
bersemangat.
“Kalian
terlalu berlebihan. Aku tidak sehebat itu.” Muka Nicole sedikit merah akibat
dari pujian-pujian itu. Ia memang sedikit kecewa turnamen itu datang tahun ini
dan bukan tahun depan, saat dia berusia 17 tahun. Dengan begitu ia bisa
mendaftar dan mungkin terpilih. Hal itu pasti akan membuat kakeknya bangga.
Well, apa boleh buat?
Akhir
bulan Oktober pun tiba dengan cepat. Seluruh sekolah merasa tegang sekaligus
antusias menanti kedatangan murid-murid wakil dari sekolah Beauxbatons dan
Durmstrang yang akan tiba sore itu. Nicole dan Joe berbaris cukup depan karena
McGonagall meminta bantuan mereka berdua untuk mengatur barisan Gryffindor,
tepatnya barisan murid kelas satu yang berada paling depan.
Mereka
menanti di depan kastil dan setelah penantian yang cukup lama dalam suasana
tegang (dari para guru) dan antusias (dari para murid), kereta kuda raksasa
milik Beauxbatons pun tiba, diikuti dengan munculnya seorang wanita yang
memiliki badan sebesar Hagrid. Madam Maxime, kepala sekolah Beauxbatons,
berjalan ke arah Dumbledore dan setelah bertukar sapa singkat, wanita itu
membawa murid-muridnya masuk ke dalam kastil.
“Sepertinya
mereka memperhatikanmu..” Gumam Joe pada Nicole saat beberapa pemuda dari
Beauxbatons melewati mereka. Nicole melirik ke arah pemuda-pemuda itu sebelum
kembali menatap Joe dengan kening berkerut.
“Jangan
bercanda.” Gumam gadis itu. Joe hanya mengangkat bahunya.
“Terserah
saja. Namun sekedar informasi, kau dan teman-temanmu, Scotthill dan Potter,
Potter yang dari Hufflepuff tentunya, selalu menjadi bahan pembicaraan di
antara murid laki-laki.”
“Bahan
pembicaraan?”
“Tidak
yang aneh-aneh.” Jawab Joe, ia kembali menatap ke depan sementara Nicole masih
terus menatap pemuda berambut hitam itu. “Hanya saja kalian selalu masuk dalam
list gadis top di angkatan kita.”
“Gadis
top?” Nicole mengernyit kembali. Ada apa lagi ini?
“Populer,
cantik dan semacamnya.” Jawab Joe dengan nada santai seakan-akan dia tidak
peduli tentang hal itu. “Gadis idaman para laki-laki.” Lanjutnya sementara para
murid yang lain sibuk membicarakan bagaimana murid Durmstrang akan berpergian.
Semua orang mengira mereka akan tiba seperti Beauxbatons, menggunakan kereta
kuda.
“Banyak
orang yang mengatakan bahwa Wood sangat beruntung loh.” Kata Joe setelah Nicole
mendengus geli mendegar kata-kata pemuda itu. “Bisa menjadi pacarmu. Dan aku
tidak membual tentang hal ini, Nicole.” Pemuda itu melirik Nicole yang tampaknya
ingin tertawa.
Nicole
hendak menanyakan bagaimana Joe mengetahui semua hal itu, padahal pemuda itu
adalah pemuda yang pendiam, bukan tipe yang suka ikut serta dalam pembicaraan
seperti itu, ketika Lee berteriak keras.
“Lihat
ke danau!!”
Otomatis
semua kepala langsung menoleh ke arah danau, dimana tiang dari sebuah kapal
muncul dan disusul dengan seluruh kapal naik ke permukaan danau. Bisik-bisik
bersemangat mengikuti kemunculan kapal milik Durmstrang dan bertambah ramai
saat Igor Karkaroff, kepala sekolah Durmstrang menggiring salah satu muridnya,
Viktor Krum, Seeker dari tim nasional Bulgaria yang main di Final Piala Dunia
Quidditch yang lalu.
“Kau
ingin tanda tangannya?” Tanya Nicole pada Gisselle saat mereka bertemu dalam
barisan menuju Aula Utama untuk makan malam. Gadis brunette itu tidak bisa
melepaskan pandangannya dari Krum sejak pertama melihatnya. Ia tidak sendirian.
Banyak anak yang mulai ribut tentang Krum dan bagaimana cara mendapat tanda
tangan dari Seeker muda itu. Bahkan Lee melompat-lompat agar bisa melihat Krum
dengan lebih jelas.
“Tidak..”
Muka Gisselle memerah malu.
“Kalau
kau mau, akan ku mintakan.” Kata Nicole lagi, namun Gisselle menolak tawaran
sahabatnya itu.
Ketika
mereka semua akhirnya duduk di meja asrama masing-masing, murid Beauxbatons di
meja Ravenclaw dan Durmstrang di Slytherin, pesta makan malam yang di meriahkan
dengan kehadiran makanan-makanan asing pun di mulai. Karkaroff dan Madam Maxime
duduk di kanan dan kiri Dumbledore dan tidak lama kemudian, Ludo Bagman serta
Bartemius Crouch pun turut serta duduk bersama mereka.
Dumbledore
berdiri dari kursinya setelah makan malam selesai. Professor tua itu
memperkenalkan Bagman dan Mr. Crouch sebagai juri lainnya, lalu kembali
menjelaskan peraturan lebih rinci mengenai turnamen.
“Itukah
juri yang tidak memihaknya?” Tanya Lee pada Nicole saat Dumbledore menunjukan
Piala Api pada mereka. Nicole mengangguk.
“Mudah!
Kita bisa melakukannya!” Kata Fred sementara George mengangguk-angguk setuju.
Nicole melemparkan pandangan memperingatkan lagi, tapi lagi-lagi si kembar
mengabaikannya. Tampaknya kedua pemuda itu sudah mulai terbiasa di pandang
seperti itu oleh Nicole. Dumbledore melanjutkan penjelasannya mengenai Lingkaran
Batas Usia, membuat Nicole mulai tersenyum karena membayangkan si kembar saat
melanggar lingkar itu.
“Lingkaran
Batas Usia!!” Kata Fred saat mereka berjalan menuju asrama Gryffindor, matanya
berkilat-kilat. “Nah, lingkaran itu akan tertipu ramuan penua kan?”
“Tapi
kurasa siapa pun yang berumur di bawah 17 tahun tidak akan punya kesempatan.” Kata
Hermione. “Kita kan belum belajar cukup banyak.”
“Terserah
kau.” Kata George pendek. Pemuda itu menatap Harry. “Kau akan berusaha ikut,
kan Harry?”
Merasa
kesal karena jawaban dari para laki-laki, Hermione menoleh ke arah Nicole,
mencari bantuan. “Kau tidak akan menghentikan mereka?”
Nicole
menggeleng. “Aku ingin melihat saat Piala Api menolak nama mereka. Pasti akan
kocak.” Kata-kata Nicole membuat Hermione dan Gisselle tertawa.
“Kau
tidak percaya pada kekuatan ramuan kami?” Fred menunjukan ekspresi terlukanya
seraya memandang Nicole, membuat gadis itu tertawa.
“Aku
lebih percaya pada Lingkaran Batas Usia milik kakekku.”
“Kita
lihat saja nanti.” Jawab si kembar bersamaan.
***
“Nicole!
Hentikan mereka!”
Pagi-pagi
hari sabtu dan si kembar sudah membuat keributan lagi. Nicole dan Gisselle baru
saja tiba di Aula Depan, hendak masuk ke Aula Utama untuk sarapan ketika Hermione
berseru ke arah mereka. Fred, George dan Lee menoleh untuk menatap kedua gadis
yang baru saja tiba itu.
“Kalian
tidak bisa menghentikan kami!!” Teriak Fred seakan-akan menantang Nicole. Gadis
berambut cokelat tua itu hanya memandang Fred dengan pandangan penasaran yang
agak terlihat jahil.
“Aku
tidak akan menghentikan kalian, lakukan saja.” Kata-kata Nicole membuat
semuanya kaget.
“Akhirnya
kau memutuskan untuk memepercayai kami Nicole!” Kata Fred dengan senang. Pemuda
itu lalu masuk ke dalam Lingkaran Batas Usia milik Dumbledore. Selama sedetik,
tidak terjadi apa-apa dan semua orang mengira Fred berhasil. George jelas
mengira mereka berhasil karena ia langsung mengejar saudara kembarnya ke dalam
lingkaran.
Desis
keras kemudian terdengar dan baik Fred maupun George terlempar ke belakang.
Saat mereka duduk kembali, muka mereka sudah di tumbuhi jenggot panjang
berwarna putih. Aula Depan di penuhi dengan tawa dari semua orang yang
melihatnya, bahkan si kembar sendiri tertawa.
“Nicole!
Sial! Kau sengaja ya?” Teriak si kembar bersamaan. Nicole hanya nyengir puas
saja dan tidak menjawab pertanyaan mereka. Terdengar kekeh riang dan Dumbledore
muncul dari dalam Aula Utama.
“Kan
sudah kuperingatkan.” Kata Professor tua itu, walau jelas ia menikmati hasil
dari mantranya. “Ku sarankan kalian pergi ke Madam Pomfrey sekarang.” Dan si
kembar pergi menuju rumah sakit sekolah, di temani dengan Lee yang masih
tertawa terbahak-bahak.
“Apakah
mereka akan baik-baik saja?” Tanya Gisselle, cemas dengan kondisi si kembar.
Nicole tersenyum dan menyenggol gadis itu dengan pelan.
“Tenang
saja, George akan kembali tampan seperti semula. Madam Pomfrey akan
menyembuhkannya.”
Muka
Gisselle langsung memerah karena kata-kata Nicole. Pada saat itu Elly dan
Cedric masuk kedalam Aula Utama, mereka berdua melihat Nicole dan Gisselle lalu
segera menghampiri keduanya.
“Kami
telah memasukan nama kami.” Kata Elly, terlihat puas. Cedric juga memiliki
ekspresi wajah yang sama.
“Selamat!
Semoga salah satu dari kalian terpilih.” Kata Nicole. Elly menoleh ke
sekeliling mereka sebelum kembali menatap kedua sahabatnya.
“Dimana
Fred, George dan Lee?”
“Mereka
ke rumah sakit sekolah karena mendadak mereka memiliki jenggot putih.” Jawab
Nicole. “Itu karena mereka menerobos masuk Lingkaran Batas Usia.” Elly dan
Cedric diam sesaat untuk mencerna informasi sebelum tertawa mendengarnya.
“Astaga.
Semoga mereka kapok setelah ini.” Kata Elly. Gadis itu lalu melihat adiknya dan
segera berjalan menuju pemuda yang baru berumur 14 tahun itu. Sementara Cedric
juga melihat adiknya serta Cho Chang. Perubahan ekspresi pemuda itu jelas
menarik perhatian Nicole dan Gisselle.
“Menurutmu?”
Tanya Nicole tanpa menoleh pada Gisselle.
“Entahlah.
Namun aku cemas.” Jawab Gisselle. Namun keduanya tidak melanjutkan topik itu
karena Elly kembali mendekati mereka.
Pesta
Halloween malam itu berlangsung lebih meriah dari tahun-tahun sebelumnya, dan juga
lebih lama. Mungkin karena tamu-tamu spesial yang hadir atau karena beragam
macam makanan asing yang terhidang di meja. Setelah piring-piring menjadi
kosong kembali dan lilin-lilin menjadi padam, kecuali beberapa lilin yang
berada di dalam labu-labu hiasan. Aula Utama menjadi gelap dan hanya Piala Api
yang bersinar terang.
Nama-nama
peserta mulai di lontarkan oleh Piala Api. Viktor Krum dari Durmstrang, Fleur
Delacour dari Beauxbatons dan dari Hogwarts sendiri..
“Cedric
Diggory!!” Nicole dan Gisselle termasuk dari anak-anak yang bersorak dan
bertepuk tangan untuk pemuda itu. Cedric tersenyum dan sebelum berdiri, ia
memeluk Elly yang duduk disebelahnya dengan riang, membuat gadis itu langsung
membeku dan masih belum kembali normal saat Cedric berjalan ke ruangan di
belakang meja guru, mengikuti jejak Krum dan Fleur.
“Aku
tidak percaya Cedric terpilih!” Kata Gisselle, bangga karena temannya adalah
salah satu perserta turnamen. Namun Nicole tidak menanggapi perkataan temannya
karena pada saat itu, Piala Api kembali melontarkan satu nama. Dumbledore mengambil
perkamen itu dan membaca nama yang tertera.
“Harry
Potter.”
***
Perlakuan
murid Hogwarts terhadap menjadi seperti dua tahun yang lalu, dimana nyaris
semua orang mengira pemuda itu adalah Pewaris Slytherin. Ejekan-ejekan dari
anak-anak Slytherin semakin banyak. Anak-anak Hufflepuff dan Ravenclaw
memusuhinya dan bahkan Ron menghindari Harry kali ini dan itu jelas membuatnya
tersiksa. Anak-anak Gryffindor yang lain memuja Harry tentu saja, namun itu
malah membuat perasaan pemuda itu semakin memburuk. Nicole harus menjitak si
kembar berulang kali agar mereka berhenti menggoda adik Elly itu.
Elly
menjadi luar biasa cemas karena adiknya mengikuti turnamen padahal ia baru saja
berusia 14 tahun. “Bagaimana mungkin mereka mengijinkannya ikut serta?” Protes
Elly dengan suara pelan di suatu sore yang cerah. Ia, Nicole, dan Gisselle
sedang bersantai di tepi danau. Udara sudah mulai dingin sehingga daerah itu
cukup sepi.
“Terikat
peraturan dan sebagainya.” Jawab Nicole dengan sabar. Elly sudah berulang kali
mengeluarkan protesan yang sama dan tidak ada yang bisa menyalahkannya.
Sementara Elly dan Gisselle bermain-main dengan batu dan air di tepi danau,
Nicole duduk di bawah pohon sambil menyelesaikan suratnya untuk Oliver.
“Bagaimana
dengan persiapan Harry menghadapi tugas pertamanya?” Tanya Gisselle setelah
keheningan beberapa lama menyelimuti mereka.
“Ia
bilang ia sudah mengetahui bagaimana cara melewatinya. Ku dengar dari Cedric,
Harry memberi tahunya mengenai tugas pertama mereka.” Jawab Elly.
“Pembocoran
informasi?” Tanya Nicole. “Bukankah itu pelanggaran?”
“Harry
juga bilang bahwa Krum dan Fleur juga sudah mengetahuinya.” Kata Elly lagi. “Nicole,
menurutmu bagaimana?”
“Kurasa
Harry bisa melakukannya.”
“Hmm..”
“Bukan
itu yang hendak kau tanyakan ya?”
Elly
menoleh menatap sahabatnya yang duduk di bawah pohon itu. “Lupakan saja.” Kata
gadis itu sebelum berbalik dan berjalan menuju kastil kembali, meninggalkan
Nicole dan Gisselle yang berpandangan dengan bingung.
Hari
Tugas Pertama di adakan pun tiba dan semua anak telah duduk di tribune-tribune
tinggi yang mengelilingi arena tempat para peserta akan melakukan tantangan
pertama mereka, naga. Nicole mengambil tempat di antara Elly dan Gisselle yang
keduanya menjadi luar biasa tegang saat Cedric, peserta pertama memasuki arena.
Pemuda itu berhasil menyelesaikan tugasnya, namun ia juga terluka saat
melakukannya.
“Cedric!”
Elly melompat berdiri dan segera melesat ke tenda tempat Madam Pomfrey berada,
namun gadis itu tidak di ijinkan menemui Cedric hingga ia selesai di rawat. Elly
berjalan mondar-mandir seraya menunggu di ijinkan masuk oleh Madam Pomfrey, dan
ketika akhirnya di ijinkan, gadis itu melesat masuk.
“Ced!!”
Kata Elly. Pemuda yang di panggil hanya tersenyum sebagai balasan. Ia berlumur
salep berwarna jingga, obat luka bakarnya.
“Bagaimana
penampilanku tadi?” Tanya Cedric sambil tersenyum puas. Elly tersenyum,
setengah lega setengah geli melihat penampilan dan kelakuan pemuda itu.
“Masih
kurang menurutku.” Jawab Elly sambil tertawa kecil. “Kau tidak berhati-hati.
Dan itu membuatku cemas.”
Cedric
nyengir, “Maafkan aku telah membuatmu cemas. Aku ingin memelukmu sekarang, tapi
nanti kau akan berlumuran salep sepertiku!”
Ingin
rasanya Elly berkata bahwa ia tidak peduli bila ia terkena salep Cedric, namun
ia menahannya dan menggantinya dengan tawa kecil yang agak di paksakan. “Sepertinya
kau baik-baik saja. Kalau begitu, aku akan kembali setelah menonton Harry.”
“Baiklah.
Sampai nanti.”
Elly
berbalik dan berjalan pergi dengan kedua tangan mengepal di samping badannya.
Sepertinya ia tidak bisa menahan perasaan ini lebih lama lagi. Ia harus
memberitahu Cedric bahwa ia menyukainya, harus.
Karena
entah kenapa, ia memiliki perasaan buruk.
***TBC***
A/N : Hiks terkesan
maksa dan buru buru nih hahahahaha
Mohon maaf apabila ada
kesalahan *bows*
Original Plot by : Our Queen, JK Rowling
The ‘new’ plot Made
by : Liz
Take
out with full credits please~ ^^

0 komentar:
Posting Komentar