Chapter 17 : At
the World Cup
(Setting
: HP 4)
Gisselle
membaca surat yang baru saja ia lepaskan dari kaki burung hantu jantan berwarna
hitam. Natte, burung hantu milik Nicole memang baru tiba sore itu, bersamaan
dengan tibanya Hermione di The Burrow. Ia sendiri baru tiba kemarin pagi. Si
kembar telah mengundangnya untuk menonton Piala Dunia Quidditch bersama mereka
dan keluarga Weasley. Elly dan Harry juga telah di undang dan mereka sudah
mengatakan ya. Tinggal Nicole saja yang belum ada kabar, sampai sore ini.
Dear Gisselle,
Kabarku baik, dan
kuharap kabarmu juga. Aku khawatir ketika kau mengatakan akan menghabiskan sisa
musim panas di rumah si kembar nakal itu.
Terima kasih atas undangannya, tapi sayangnya aku tidak bisa ikut dengan
kalian. Tenang saja, aku juga akan menonton hanya saja berbeda tempat duduk.
Dan untuk sisa musim panas, aku harus membantu kakekku mengurus suatu event di
Hogwarst, jangan beri tahu si kembar tentang hal ini atau mereka akan
menanyaiku habis-habisan. Kakek sudah melarangku untuk menceritakan hal ini
pada siapapun.
Sampai ketemu di Piala Dunia nanti!!
Salam
sayang,
Nicole
R.
Gisselle
membaca surat itu hingga dua kali sebelum menyimpannya dengan hati-hati di
dalam tasnya. Tepat setelah itu pintu kamar terbuka dan Ginny, adik perempuan
si kembar, teman sekamar Gisselle, masuk bersama Hermione. Kamar gadis yang
berusia 13 tahun itu akan menjadi kamar Gisselle, Hermione dan nanti Elly
selama sisa liburan musim panas itu. Setelah kedua gadis itu masuk, pintu
terbuka lagi dan tampaklah dua pemuda berwajah sama persis di ambang pintu.
“Apa
kata Nicole?” Tanya yang berdiri di kiri, Fred Weasley.
Gisselle
menggeleng. "Ia tidak bisa menonton dengan kita, tapi ia akan datang di
Piala Dunia nanti." Mendengar perkataam Gisselle, si kembar langsung
mengerang kecewa.
"Well,
setidaknya Elly dan Harry akan tiba disini. Masih ada bahan.." Kata
George. Dia dan Fred bertukar cengiran jahil.
"Jika
kalian melakukan sesuatu yang aneh pada mereka, akan ku tulis surat pada
Nicole!!" Kata Hermione, namun si kembar sudah menghilang dari pandangan.
Gisselle tersenyum, memang seperti ini hari-harinya di rumah keluarga Weasley
yang kecil namun nyaman ini. Membantu Mrs. Weasley dalam pekerjaan rumah,
mendengarkan si kembar di marahi berulang kali, mendiskusikan Piala Dunia
bersama Charlie dan Bill, kakak tertua si kembar. Elly dan Harry pun tiba tidak
lama setelah Gisselle dan suasana di The Burrow pun semakin meriah.
Tiba
hari mereka harus bersiap-siap untuk pergi menuju bukit untuk mencapai portkey.
Betapa terkejutnya Elly ketika mendapati keluarga yang akan berbagi portkey
dengan mereka adalah keluarga Diggory. Cedric, Feli dan ayah mereka, Amos.
"Kalian
pasti Elly dan Gisselle!! Cedric dan Feli bercerita banyak tentang kalian."
Kata Amos sambil menjabat tangan kedua gadis itu secara bergantian dengan
bersemangat. "Dimana teman kalian yang satu lagi? Nicole?"
"Nicole
tidak ikut bersama kami, tapi dia akan datang di Piala Dunia nanti." Jelas
Elly.
"Sayang
sekali. Kuharap aku bisa bertemu dengannya nanti. Feli tidak berhenti
menceritakan tentang Nicole dan pemuda bernama Lee di rumah." Kata Amos.
Muka Feli memerah malu dan segera memukuli ayahnya, membuat sang bapak tertawa
terbahak-bahak. Cedric sendiri ikut nyengir. Elly, Gisselle, Fred dan George
saling berpandangan. Feli membicarakan tentang Lee? Ada apa gerangan?
Perjalan
menuju stadion Piala Dunia Quidditch akan menggunakan portkey. Perjalanan yang
memang tidak menyenangkan. Gisselle sudah pernah merasakannya sekali dan dia
tidak menyukainya. Saat kakinya menghantam tanah, gadis itu terjatuh. Tidak
sakit. Gisselle membuka matanya dan menatap langsung ke arah George. Ternyata
gadis itu jatuh menimpa pemuda berambut merah itu saat mendarat tadi. Muka
Gisselle otomatis memerah.
George
tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya. Saat menggunakan portkey tadi, sesaat
setelah mendarat, pemuda itu langsung menangkap tubuh Gisselle yang sudah akan
jatuh dan alhasil, dia terjatuh juga dengan gadis itu di atasnya dan tangannya
melingkar di pinggang Gisselle. Melihat reaksi Gisselle ketika menyadari posisi
mereka, George berpikir ia sama sekali tidak menyesali perbuatannya tadi.
"Kau
tidak apa-apa?" Tanya George. Gisselle hanya bisa mengangguk singkat
sebagai jawaban. Dengan enggan, pemuda itu melepaskan pelukannya agar Gisselle
bisa bangkit berdiri, dia sendiri dibantu oleh saudara kembarnya bangun.
"Kau
ini benar-benar.." Kata Fred saat membantu George berdiri. George
memandang saudaranya itu dengan heran.
"Kenapa?"
"Kau
tahu maksudku kawan." Setelah mengatakan hal itu, Fred menepuk punggung
George dan berjalan menyusul yang lain, meninggalkan pemuda itu dengan muka
yang heran yang tidak lama di gantikan dengan muka yang berwarna merah.
Rombongan
keluarga Weasley di tambah Harry, Elly dan Gisselle pun berpisah dengan
keluarga Diggory. Setelah berhasil mendapatkan tenda mereka dan (dengan susah
payah) mendirikan tenda mereka tanpa sihir sama sekali, akhirnya Gisselle, Elly
dan si kembar mendapat waktu luang untuk berkeliling. Mereka bertemu banyak
teman sekolah di Hogwarts, dan tentu saja..
"Oliver!!"
Teriak si kembar bersamaan. Mereka melihat mantan ketua team Quidditch mereka
dan segera berlari mendekat. Oliver sendiri tampak terkejut namun senang
melihat mereka. Setelah menghindari 'pelukan' maut si kembar, pemuda yang baru
saja lulus dari Hogwarrs itu menyapa kedua gadis.
"Bagaimana
kabarmu setelah lulus?" Tanya Elly, penasaran apa yang di lakukan penyihir
muda setelah mereka lulus karena dua tahun lagi, dia sendiri akan lulus.
"Aku
berhasil di terima di Puddlemere United, walau hanya sebagai cadangan."
Jawab Oliver. Elly dan Gisselle langsung menoleh ke si kembar, yang kemudian
menjelaskan, dengan serempak, kalau itu adalah nama team Quidditch milik negara
mereka, Inggris.
"Kau
benar-benar tidak bisa lepas dari Quidditch, persis perkataan Nicole."
Kata Elly, membuat yang lain tertawa. "Ngomong-ngomong Oliver, apa kau
sudah meli--"
Kata-kata
Elly terpotong karena mendadak Oliver berjalan melewatinya sambil berteriak.
"Nicole!" Tentu saja otomatis ke empat kepala yang ada menoleh ke
arah Oliver berjalan tadi dan menemukan teman mereka, Nicole, sedang membawa
seember air. "Sudah kubilang kau tidak perlu membawanya sendiri seperti
itu." Kata Oliver lagi sambil mengambil ember dari tangan Nicole.
"Tapi
kau terlalu lama sehingga aku--" Kata-kata gadis itu terhenti ketika
melihat sahabat-sahabatnya sedang memandangnya. Ekspresi gadis berambut pendek
itu berubah dari kaget menjadi memerah malu.
"Jadi.."
Kata Fred sambik mendekati Nicole bersama yang lain. "Kau menolak pergi
bersama kami karena kau pergi bersama Oliver.."
"Berdua
saja?" Tanya Gisselle. Nicole dan Oliver langsung menggeleng dengan cepat
dan menyangkalnya.
"Orang
tua ku juga ikut." Kata Oliver.
"Ah,
jadi Nicole menemui calon mertuanya." Kata George. Ia dan Fred sudah mulai
menggoda Nicole. Tentu saja semua orang yang mengenal mereka bertiga sudah
mengetahui selanjutnya, jitakan keras untuk si kembar dari Nicole. Setelah
melepas kangen selama sesaat, Nicole dan Oliver harus kembali ke tenda mereka
dan si kembar serta kedua gadis juga harus melakukan hal yang sama.
"Kau
menyembunyikannya dari mereka?" Tanya Oliver saat ia dan Nicole sudah
berjalan berdua saja, menuju tenda mereka.
Nicole
menggigit bibir bawahnya. Ia memang tidak memberi tahu teman-temannya kalau dia
menghabiskan musim panasnya di rumah Oliver sebelum kembali ke Hogwarts dan
membantu kakeknya. “Aku tidak memberi tahu mereka kalau aku datang bersamamu,
itu saja.” Kata Nicole pada akhirnya. “Ejekan-ejekan mereka bisa…menyebalkan.”
Oliver
tertawa kecil. Nicole hanya bisa bertingkah seperti itu di dekatnya saja dan
itu membuatnya merasa spesial. “Kau harus terbiasa, terutama jika kita menjadi
resmi nanti.” Kata Oliver.
Resmi?
Nicole menoleh dan menatap pacarnya. Namun Oliver tidak mau balas memandangnya.
Pemuda itu malah mempercepat langkahnya dan meninggalkan Nicole dibelakang.
“Hey
Oliver! Apa maksudnya tadi! Hey jangan kabur!!”
***
“Dad,
ayolah! Apa yang mereka bicarakan?” Tanya Fred untuk kesekian kalinya pada Mr.
Weasley. Kedua pemuda yang menginjak tahun keenam mereka di Hogwarts itu tidak
bisa diam setelah Ludo Bagman secara tidak sengaja memberi tahu mereka bahwa
akan ada ‘sesuatu’ di Hogwarts tahun itu. Dan tentu saja berulang kali juga
pertanyaan itu di abaikan oleh ayah mereka.
Pertandingan
Quidditch pun dimulai tidak lama setelah itu dan hal itu menyita seluruh
perhatian si kembar sehingga mereka melupakan pertanyaan mereka itu. Malamnya
pun perayaan kemenangan Irlandia terdengar dimana-mana. Sorakan-sorakan bahagia
yang kemudian berubah menjadi jeritan ketakutan.
Gisselle
dan Elly dibangunkan oleh Mr. Weasley yang segera menyuruh kedua gadis itu, dan
Ginny berlari ke hutan bersama si kembar, Harry, Ron dan Hermione. Namun mereka
semua terpisah dengan ketiga anak yang baru saja berumur 14 tahun itu. Elly
cukup panik ketika kehilangan adiknya di tengah keributan yang ada.
“Tenang
saja, ia akan baik-baik saja.” Kata Gisselle, berusaha menenangkan sahabatnya
itu. Mereka berlima berdiri berdekatan di daerah pepohonan yang gelap. Elly
sudah mulai tenang ketika terdengar bunyi langkah kaki yang mendekat ke arah
mereka. Gisselle dan Ginny terpekik ketakutan sementara Fred dan George
menempatkan diri mereka di depan para gadis.
“Si-siapa
disitu?!” Kata Fred. Tangannya menggenggam tongkatnya dengan erat sementara
George, entah sengaja entah tidak, menempatkan dirinya tepat di depan Gisselle
dan menatap ke arah sumber suara dengan tongkat teracung. Betapa kaget dan,
bagi Gisselle dan Ginny, takut nya mereka ketika sesosok jubah hitam dengan
topeng mendekati mereka dengan tongkat teracung, mengarah ke Elly.
“Lev—“
“Expelliarmus!”
Sambaran kilat merah membuat tongkat sosok berjubah itu terbang. Tidak ada yang
bergerak selain untuk melihat siapa yang merapalkan mantra itu, Nicole. Nicole
sudah mengangkat tangannya lagi, hendak merapalkan mantra lainnya. Namun sosok
tersebut lebih cepat. Dia menyambar tongkatnya dari tanah dan ber-Apparate
secepat yang ia bisa.
“Nicole!”
Kata Fred lega. “Wah kawan, terima kasih banyak.” Nicole hanya menjawab
perkataan Fred dengan anggukan singkat karena Gisselle dan Ginny berlari untuk
memeluknya. Oliver muncul beberapa saat kemudian di belakang Nicole.
“Semuanya
baik-baik saja?” Tanya pemuda itu, jelas sekali ia baru berlari menuju arah
mereka. Tongkat sihirnya siap di tangan. Semua yang ada mengangguk. Oliver baru
membuka mulut lagi, hendak mengatakan sesuatu ketika kilatan hijau terlihat di
udara dan sebuah tengkorak raksasa berwarna hijau dengan ular terjulur dari
mulutnya. Nicole sangat mengenali lambing itu, kakeknya suka bercerita tentang
jaman dimana lambang itu terlihat dimana-mana. Lambang Lord Voldemort.
“Ayo!”
Nicole menarik tangan Gisselle lalu mendorongnya agar mulai berjalan, lalu
menarik Ginny dan Elly lalu melakukan hal yang sama. “Ayo!!” Kata gadis itu
sekali lagi dan mereka semua mulai berlari menjauhi tengkorak raksasa itu dan
kembali menuju perkemahan yang sudah
mulai tenang. Tidak ada sosok-sosok berjubah lagi.
“Nicole,
tadi itu, lambang apa?” Tanya Elly. Hening, tidak ada yang menjawab. Nicole
akhirnya menatap sahabatnya dan menjawab pertanyaannya itu.
“Itu
adalah Tanda Kegelapan, lambang Voldemort.” Semua orang kecuali Nicole bergidik
mendengar nama itu, sementara Elly hanya mengernyit. Walaupun ia di besarkan
oleh Muggle, ia sempat menghabiskan 2 tahun bersama orang tuanya dan lewat
mereka serta walinya, ia tahu nama ‘keramat’ itu. Sementara Nicole sendiri,
karena ia di besarkan oleh Dumbledore, menyebut nama itu dengan kehati-hatian, bukan
dengan perasaan takut.
“Jangan
sebut namanya.” Kata Gisselle. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri seakan-akan
takut Voldemort akan meloncat keluar dari semak-semak.
“Kau
tidak perlu takut pada namanya, Gisselle.” Kata Nicole, namun gadis itu tidak
mengatakan nama sang Dark Lord lagi. Ia tidak mau membuat sahabatnya bertambah
takut malam itu. “Kalian kembalilah ke tenda, situasi seharusnya sudah aman
sekarang.” Setelah berkata begitu, Nicole memandang Oliver dan mereka berdua
mengangguk secara bersamaan sebelum berjalan pergi.
“Ayo,
kita kembali ke tenda.” Kata Fred setelah Nicole dan Oliver berjalan pergi.
Pemuda itu menggandeng Ginny dan mereka berlima kembali ke tenda. Sementara
itu, Nicole menatap ke arah Tanda Kegelapan tadi berada dan menggigit bibir
bawahnya. Oliver yang menyadari hal itu segera menggenggam tangan pacarnya.
Mereka
berjalan berdampingan hingga sampai di tenda, dimana Mrs. Wood langsung memeluk
Nicole dengan erat sementara Mr. Wood menepuk-nepuk punggung putranya.
“Kau
tidak terluka kan? Apakah Oliver melindungimu dengan baik?” Tanya Mrs. Wood.
Wanita ini memang telah menganggapnya sebagai putri sendiri sejak awal bertemu,
mengingat Oliver adalah anak tunggal dari pasangan yang menginginkan anak
perempuan ini.
“Tidak
Mrs. Wood, saya baik-baik saja.” Jawab Nicole sambil tersenyum menenangkan.
Mrs. Wood tersenyum senang.
“Aku
menantikan saat saat kau memanggilku Ibu nanti.”
Kata-kata
Mrs. Wood membuat Nicole dan Oliver secara tidak sengaja batuk bersamaan. Muka
keduanya juga memerah sementara pasangan tua itu tertawa melihat reaksi mereka
berdua. Mendadak tawa mereka di gantikan dengan pekik terkejut, Oliver juga
bereaksi sama dengan orang tuanya. Hanya Nicole saja yang bereaksi kaget selama
sesaat dan kemudian mengerti apa yang terjadi. Kobaran api mendadak muncul di
tengah tenda, tidak membakar apa-apa, hanya sekilas dan segulung perkamen serta
bulu merah jatuh ke dasar tenda. Surat dari kakeknya.
Dengan
cepat gadis itu berlutut dan mengambil perkamen yang ada, dan membacanya dengan
kilat. Ia lalu berdiri dengan perkamen di tangan dan bulu merah, bulu ekor
Fawkes di tangan yang lain.
“Terima
kasih atas undangan anda selama musim panas ini dan hingga Piala Dunia saat
ini.” Kata Nicole pada orang tua Oliver. “Namun bisakah aku merepotkan kalian
sekali lagi?”
Permintaan
yang aneh, namun kedua orang tua Oliver langsung mengatakan mereka tidak
keberatan. Nicole mengatakan permintaannya, yaitu barang-barangnya di kirim ke
Hogwarts, terutama barang-barang yang masih tertinggal di rumah keluarga Wood.
Pasangan Mr. dan Mrs. Wood menatap gadis itu dengan bingung, namun mengiyakan
setelahnya. Oliver sendiri ikut menatap Nicole dengan bingung. “Ada apa Nicole?
Surat apa itu?”
“Surat
dari kakekku, ah, maksudnya Professor Dumbledore.” Kata Nicole. Gadis itu
langsung menuju ranjangnya dan membereskan barang miliknya dan memasukannya ke
dalam tas kecil miliknya. “Aku harus kembali ke Hogwarts secepat yang kubisa.”
“Kembali
ke-- Tunggu! Situasi masih berbahaya dan bagaimana caranya kau kembali ke Hogwarts?
Tidak ada portkey dan kau masih belum bisa ber Apparate!” Oliver langsung
mengeluarkan berbagai macam protes ketika mengetahui niat Nicole. Gadis itu
tidak membalas perkataan Oliver, melainkan mendekat dan memberi kecupan kilat
di bibir pemuda itu.
“Aku
akan baik-baik saja. Akan ku kirimkan surat ketika sampai di Hogwarts.” Kata
Nicole. Ia lalu pamit pada orang tua Oliver, memberikan pelukan pada Mrs. Wood
dan kecupan di pipi lagi untuk Oliver sebelum berlari ke luar.
Alih-alih
ke arah luar perkemahan seperti yang diminta kakeknya, Nicole berjalan menuju
arah tenda milik keluarga Weasley yang di jelaskan Gisselle siang tadi. Setelah
menemukan tenda yang di tuju, Nicole mengucapkan salam singkat dan masuk
kedalam tenda, membuat seluruh penghuni tenda itu kaget.
“Nicole!
Ada apa?” Tanya Fred yang langsung meloncat mendekati gadis berambut pendek
itu. Nicole mengabaikannya dan menyapa Mr. Weasley, Bill dan Charlie terlebih
dahulu.
“Aku
hanya ingin memastikan kalian baik-baik saja.” Jelas Nicole. "Dan Mr.
Weasley, kakekku memintamu untuk membawa Harry serta Elly pergi dari tempat ini
secepat yang kalian bisa."
Mr.
Weasley menatap Nicole dengan bingung, tampaknya ingin menanyakan bagaimana
gadis itu mengetahui permintaan kakeknya, namun lalu mengurungkan niatnya dan
mengangguk. "Kami memang merencanakan hal itu, tenang saja."
Nicole
tersenyum tipis. "Sampai ketemu di Hogwarts." Kata Nicole pada kedua
sahabatnya, si kembar serta Harry, Ron, Hermione dan Ginny. "Jika kalian
ingin mengirimi aku surat, aku ada di Hogwarts."
"Kau
akan pulang malam ini? Bagaimana caranya? Kau belum bisa ber Apparate
kan?" Tanya Percy.
"Dengan
cara kakekku." Jawab Nicole singkat sebelum ia melangkah keluar dari tenda
dan menembus kerumunan petugas Kementrian Sihir. Beberapa menghadangnya, namun
ketika Nicole memberikan surat kedua yang di berikan Dumbledore juga, mereka
mengijinkannya keluar dari daerah perkemahan, dan berjalan menuju bukit, dimana
Fawkes telah menunggunya.
"Maaf
terlalu lama." Gumam gadis itu pada burung phoenix peliharaan kakeknya
itu. Fawkes bersenandung pelan dan menggoyangkan ekornya. Seperti yang telah di
ajarkan kakeknya, Nicole meraih tasnya dengan satu tangan, dan ekor Fawkes
dengan tangan yang lain lalu menutup mata. Kobaran api menyelimuti tubuh gadis
itu tapi tidak membakarnya sama sekali. Nicole menghilang dari bukit tersebut
bersamaan dengan api itu. Kakinya terasa terangkat selama sesaat dan ketika ia
menjejak lagi, ia menginjak lantai alih-alih rerumputan di bukit.
"Maaf
memanggilmu secara tiba-tiba Nicole." Suara kakeknya terdengar lelah.
Nicole membuka matanya dan mendapati ia sudah berada di kantor milik kakeknya,
di Hogwarts. "Terutama ketika kau sedang menghabiskan liburanmu bersama
Oliver."
Nicole
berjalan mendekat dan duduk di kursi, di hadapan kakeknya. "Tidak apa-apa.
Kakek hanya memajukan jadwalku selama dua hari." Jawab Nicole dengan nada
santai sementara Fawkes terbang dan bertengger kembali di tempatnya yang biasa
lalu bersenandung pelan. Dumbledore memandang burung peliharaannya dengan
pandangan berterima kasih.
"Padahal
ini kesempatanmu untuk mengenal calon mertuamu lebih dekat lagi." Kata
Dumbledore, kembali memandang cucunya lewat kacamata bulan separuhnya.
"Kuharap aku tidak membuat pandangan mereka buruk padamu." Professor
tua itu tersenyum jahil, membuat Nicole mengerang frustasi.
"Jangan
kakek juga." Erang gadis itu. "Mengapa semua orang menikmati
menggodaku tentang hal itu?" Dumbledore tertawa kecil mendengar protesan
cucunya sementara Nicole terus melanjutkan. "Bahkan Mr. Wood dan Mrs. Wood
juga suka menggodaku dan Oliver. Maksudku, aku baru berusia 16 tahun dan Oliver
sendiri baru 18 tahun!"
"Tapi,
dengan begitu, kau akan mempunyai ibu nanti."
Nicole
langsung terdiam dan menatap kakeknya lekat-lekat. "Aku tidak pernah
keberatan hanya memiliki kakek selama kakek itu kau. Lagipula, seluruh Hogwarts
ini adalah keluargaku."
Entah
ini hanya perasaan Nicole saja, atau dia memang melihat mata biru milik
kakeknya berkaca-kaca. Namun itu hanya berlangsung sesaat. Raut wajah
Dumbledore kembali serius dan Nicole tahu ini saatnya membahas main topik
mereka.
"Apa
kata Arthur?"
"Dia
akan membawa rombongannya pulang secepat yang dia bisa."
"Harry
dan Elizabeth?"
"Selamat
dan baik-baik saja."
"Ceritakan
tentang Tanda Kegelapan itu."
Maka
Nicole menceritakan tentang sosok-sosok berjubah yang menyerang perkemahan,
pertemuannya dengan Elly dan yang lain di hutan, tongkat Harry dan peri rumah
uang di curigai menyihir Tanda Kegelapan, sosok-sosok berjubah yang ber
Disapparate begitu melihat tanda itu di langit dan berbagai kabar lainnya yang
Nicole curi dengar dari para petugas kementrian saat berjalan keluar dari
perkemahan. Dumbledore mendengarkan tanpa menyela sekalipun lalu bangkit
berdiri dari kursonya dan berjalan mondar-mandir selama beberapa saat.
Keningnya berkerut.
"Aku
mengkhawatirkan ramalan Sybill." Kata Dumbledore akhirnya. Professor tua
itu jarang membagi ke khawatirannya kepada orang lain, namun akhir-akhir ini ia
suka bercerita pada cucunya. Hal itu membuat Nicole luar biasa senang. Gadis
itu merasa kakeknya mempercayai dan mengandalkannya.
"Professor
Trelawney?" Kata Nicole. "Ramalan yang Harry dengan di akhir tahun
ajaran yang lalu?" Dumbledore telah menceritakan pada Nicole pengalamam
Harry saat mendengar ramalan terbaru Trelawney. Ramalan mengenai Peter
Pettigrew dan Lord Voldemort.
"Kau
tidak percaya ramalan?" Tanya Dumbledore ketika melihat ekspresi Nicole
yang agak 'terganggu'. Nicole menggeleng.
"Selama
kau mempercayainya, tidak alasan bagiku untuk berbuat yang sebaliknya."
Dumbledore
tersenyum lagi sebelum melanjutkan. "Ramalan itu mengatakan bahwa abdi
Voldemort akan muncul dan kembali ke sisi Tuannya. Dan Voldemort akan bangkit
kembali dengan bantuan abdinya." Dumbledore melanjutkan aktifitas mondar-mandirnya
yang sempat terhenti tadi. "Bagian pertama ramalan itu telah terjadi,
Peter berhasil kabur. Dan sekarang aku mengkhawatirkan sisa ramalan itu."
Nicole
terdiam sejenak, berpikir. "Menurut kakek.." Kata gadis itu
perlahan-lahan karena ia masih ragu dengan tebakannya sendiri. "..yang
menyihir Tanda Kegelapan di Piala Dunia tadi adalah Peter?"
Sambil
mengelus-elus jenggotnya yang panjang, Dumbledore menjawab. "Mungkin saja.
Tapi itu tidak menutup kemungkinan adanya abdi Voldemort yang lain." Keheningan
menyelimuti selama beberapa saat. Baik Nicole maupun kakeknya tenggelam dalam
pikiran masing-masing sampai akhirnya Dumbledore kembali duduk dan menatap
Nicole seraya tersenyum lembut.
"Maaf
membuatmu terjaga selarut ini, setelah memaksamu pulang cepat dari Piala
Dunia." Kata Dumbledore, suaranya lembut dan menenangkan. "Kamarmu
telah di sediakan oleh peri rumah, kamarmu yang biasa, bukan yang asrama.
Beristirahatlah untuk malam ini."
Anehnya,
setelah Dumbledore berkata begitu, Nicole mendadak menyadari betapa lelahnya
dia. Gadis itu mengangguk dan meraih tasnya lalu berdiri dan berjalan ke arah
pintu.
"Selamat
malam kakek."
"Selamat
malam Nicole."
***
Nicole
menatap sekelilingnya. Peron 9 3/4 seramai biasanya tentu saja. Ini adalah hari
dimana seluruh murid Hogwarts kembali berangkat ke sekolah mereka itu. Seperti
biasa, Nicole ikut serta naik kereta uap berwarna merah dan hitam itu seperti
murid yang lain dan bertingkah 'senormal' murid yang lain agar fakta bahwa ia
adalah cucu kepala sekolah tidak begitu mencolok. Setelah beberapa saat, ia
menemukan rombongan yang ia cari dan dengan segera berjalan ke arah mereka.
"Kenapa?"
Nicole bisa mendengar suara George.
"Tahun
ini akan asik sekali untuk kalian." Kata Bill, rambut panjangnya cukup
menarik perhatian di peron tersebut. "Mungkin aku akan cuti untuk menonton
sebagian.."
"Sebagian
apa?" Desak Ron tapi tidak ada yang menjawab karena mereka semua menyadari
kehadiran Nicole dan menyapa gadis itu. Setelah bertukar sapa singkat, peluit
kereta berbunyi dan mereka semua masuk kedalam kereta, digiring oleh Mrs.
Weasley, Bill dan Charlie.
"Oh
aku senang sekali kalian datang nak." Kata Mrs. Weasley ketika Hermione,
Harry, Elly dan Gisselle mengucapkan terima kasih mereka. "Aku ingin
mengundang kalian semua, termasuk kau Nicole, Natal nanti. Tapi..yah, kurasa
kalian semua ingin tinggal di Hogwarts dengan adanya ini itu."
"Mum!"
Protes Ron. "Apa sih yang kalian bertiga ketahui tapi kami tidak?"
"Kalian
akan tahu malam ini kurasa." Kata Mrs. Weasley sambil menoleh ke arah
Nicole. "Benarkan Nicole?"
Pandangan
semuanya langsung beralih ke Nicole. "Benar Mrs. Weasley. Kepala sekolah
akan menyampaikannya di pidato malam ini." Jawab Nicole sambil tersenyum
juga.
"Akan
sangat menyenangkan sekali. Ku dengar mereka mengubah peraturannya?"
"Tepat
sekali. Kali ini akan jauh lebih aman."
"Apa
yang kalian bicarakan sebenarnya?" Erang Fred meminta jawaban.
"Nanti
Professor Dumbledore akan menyampaikannya. Nah, jangan nakal ya? Ya, Fred? Dan kau,
George?"
"Bilang
dong akan ada apa di Hogwarts!!" Teriak Fred saat kereta mulai berjalan.
Namun Mrs. Weasley, Bill dan Charlie hanya tersenyum dan melambai sebelum
mereka ber-Disapparate.
Si
kembar terus menerus merengek pada Nicole selama mereka berjalan ke kompartemen
milik si kembar, Gisselle dan Lee. Nicole harus menjitak mereka berdua agar
diam.
"Kalian
akan mengetahuinya malam ini. Sampai nanti." Setelah berkata begitu,
Nicole pergi ke kompartemen Prefect bersama Elly.
***TBC***
A/N : Mohon maaf
apabila ada kesalahan *bows*
Original Plot by : Our Queen, JK Rowling
The ‘new’ plot Made
by : Liz
Take
out with full credits please~ ^^

0 komentar:
Posting Komentar