Minggu, 13 Juli 2014

Hogwarts' Beloved : Chapter 17

Chapter 17 : At the World Cup
                                                (Setting : HP 4)

Gisselle membaca surat yang baru saja ia lepaskan dari kaki burung hantu jantan berwarna hitam. Natte, burung hantu milik Nicole memang baru tiba sore itu, bersamaan dengan tibanya Hermione di The Burrow. Ia sendiri baru tiba kemarin pagi. Si kembar telah mengundangnya untuk menonton Piala Dunia Quidditch bersama mereka dan keluarga Weasley. Elly dan Harry juga telah di undang dan mereka sudah mengatakan ya. Tinggal Nicole saja yang belum ada kabar, sampai sore ini.

               
                Dear Gisselle,
                        Kabarku baik, dan kuharap kabarmu juga. Aku khawatir ketika kau mengatakan akan menghabiskan sisa musim panas di rumah si kembar nakal itu.
Terima kasih atas undangannya, tapi sayangnya aku tidak bisa ikut dengan kalian. Tenang saja, aku juga akan menonton hanya saja berbeda tempat duduk. Dan untuk sisa musim panas, aku harus membantu kakekku mengurus suatu event di Hogwarst, jangan beri tahu si kembar tentang hal ini atau mereka akan menanyaiku habis-habisan. Kakek sudah melarangku untuk menceritakan hal ini pada siapapun.
Sampai ketemu di Piala Dunia nanti!!

                                                                       Salam sayang,
                                                                                 Nicole R.


Gisselle membaca surat itu hingga dua kali sebelum menyimpannya dengan hati-hati di dalam tasnya. Tepat setelah itu pintu kamar terbuka dan Ginny, adik perempuan si kembar, teman sekamar Gisselle, masuk bersama Hermione. Kamar gadis yang berusia 13 tahun itu akan menjadi kamar Gisselle, Hermione dan nanti Elly selama sisa liburan musim panas itu. Setelah kedua gadis itu masuk, pintu terbuka lagi dan tampaklah dua pemuda berwajah sama persis di ambang pintu.

“Apa kata Nicole?” Tanya yang berdiri di kiri, Fred Weasley.

Gisselle menggeleng. "Ia tidak bisa menonton dengan kita, tapi ia akan datang di Piala Dunia nanti." Mendengar perkataam Gisselle, si kembar langsung mengerang kecewa.

"Well, setidaknya Elly dan Harry akan tiba disini. Masih ada bahan.." Kata George. Dia dan Fred bertukar cengiran jahil.

"Jika kalian melakukan sesuatu yang aneh pada mereka, akan ku tulis surat pada Nicole!!" Kata Hermione, namun si kembar sudah menghilang dari pandangan. Gisselle tersenyum, memang seperti ini hari-harinya di rumah keluarga Weasley yang kecil namun nyaman ini. Membantu Mrs. Weasley dalam pekerjaan rumah, mendengarkan si kembar di marahi berulang kali, mendiskusikan Piala Dunia bersama Charlie dan Bill, kakak tertua si kembar. Elly dan Harry pun tiba tidak lama setelah Gisselle dan suasana di The Burrow pun semakin meriah.

Tiba hari mereka harus bersiap-siap untuk pergi menuju bukit untuk mencapai portkey. Betapa terkejutnya Elly ketika mendapati keluarga yang akan berbagi portkey dengan mereka adalah keluarga Diggory. Cedric, Feli dan ayah mereka, Amos.

"Kalian pasti Elly dan Gisselle!! Cedric dan Feli bercerita banyak tentang kalian." Kata Amos sambil menjabat tangan kedua gadis itu secara bergantian dengan bersemangat. "Dimana teman kalian yang satu lagi? Nicole?"

"Nicole tidak ikut bersama kami, tapi dia akan datang di Piala Dunia nanti." Jelas Elly.

"Sayang sekali. Kuharap aku bisa bertemu dengannya nanti. Feli tidak berhenti menceritakan tentang Nicole dan pemuda bernama Lee di rumah." Kata Amos. Muka Feli memerah malu dan segera memukuli ayahnya, membuat sang bapak tertawa terbahak-bahak. Cedric sendiri ikut nyengir. Elly, Gisselle, Fred dan George saling berpandangan. Feli membicarakan tentang Lee? Ada apa gerangan?

Perjalan menuju stadion Piala Dunia Quidditch akan menggunakan portkey. Perjalanan yang memang tidak menyenangkan. Gisselle sudah pernah merasakannya sekali dan dia tidak menyukainya. Saat kakinya menghantam tanah, gadis itu terjatuh. Tidak sakit. Gisselle membuka matanya dan menatap langsung ke arah George. Ternyata gadis itu jatuh menimpa pemuda berambut merah itu saat mendarat tadi. Muka Gisselle otomatis memerah.

George tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya. Saat menggunakan portkey tadi, sesaat setelah mendarat, pemuda itu langsung menangkap tubuh Gisselle yang sudah akan jatuh dan alhasil, dia terjatuh juga dengan gadis itu di atasnya dan tangannya melingkar di pinggang Gisselle. Melihat reaksi Gisselle ketika menyadari posisi mereka, George berpikir ia sama sekali tidak menyesali perbuatannya tadi.

"Kau tidak apa-apa?" Tanya George. Gisselle hanya bisa mengangguk singkat sebagai jawaban. Dengan enggan, pemuda itu melepaskan pelukannya agar Gisselle bisa bangkit berdiri, dia sendiri dibantu oleh saudara kembarnya bangun.

"Kau ini benar-benar.." Kata Fred saat membantu George berdiri. George memandang saudaranya itu dengan heran.

"Kenapa?"

"Kau tahu maksudku kawan." Setelah mengatakan hal itu, Fred menepuk punggung George dan berjalan menyusul yang lain, meninggalkan pemuda itu dengan muka yang heran yang tidak lama di gantikan dengan muka yang berwarna merah.

Rombongan keluarga Weasley di tambah Harry, Elly dan Gisselle pun berpisah dengan keluarga Diggory. Setelah berhasil mendapatkan tenda mereka dan (dengan susah payah) mendirikan tenda mereka tanpa sihir sama sekali, akhirnya Gisselle, Elly dan si kembar mendapat waktu luang untuk berkeliling. Mereka bertemu banyak teman sekolah di Hogwarts, dan tentu saja..

"Oliver!!" Teriak si kembar bersamaan. Mereka melihat mantan ketua team Quidditch mereka dan segera berlari mendekat. Oliver sendiri tampak terkejut namun senang melihat mereka. Setelah menghindari 'pelukan' maut si kembar, pemuda yang baru saja lulus dari Hogwarrs itu menyapa kedua gadis.

"Bagaimana kabarmu setelah lulus?" Tanya Elly, penasaran apa yang di lakukan penyihir muda setelah mereka lulus karena dua tahun lagi, dia sendiri akan lulus.

"Aku berhasil di terima di Puddlemere United, walau hanya sebagai cadangan." Jawab Oliver. Elly dan Gisselle langsung menoleh ke si kembar, yang kemudian menjelaskan, dengan serempak, kalau itu adalah nama team Quidditch milik negara mereka, Inggris.

"Kau benar-benar tidak bisa lepas dari Quidditch, persis perkataan Nicole." Kata Elly, membuat yang lain tertawa. "Ngomong-ngomong Oliver, apa kau sudah meli--"

Kata-kata Elly terpotong karena mendadak Oliver berjalan melewatinya sambil berteriak. "Nicole!" Tentu saja otomatis ke empat kepala yang ada menoleh ke arah Oliver berjalan tadi dan menemukan teman mereka, Nicole, sedang membawa seember air. "Sudah kubilang kau tidak perlu membawanya sendiri seperti itu." Kata Oliver lagi sambil mengambil ember dari tangan Nicole.

"Tapi kau terlalu lama sehingga aku--" Kata-kata gadis itu terhenti ketika melihat sahabat-sahabatnya sedang memandangnya. Ekspresi gadis berambut pendek itu berubah dari kaget menjadi memerah malu.

"Jadi.." Kata Fred sambik mendekati Nicole bersama yang lain. "Kau menolak pergi bersama kami karena kau pergi bersama Oliver.."

"Berdua saja?" Tanya Gisselle. Nicole dan Oliver langsung menggeleng dengan cepat dan menyangkalnya.

"Orang tua ku juga ikut." Kata Oliver.

"Ah, jadi Nicole menemui calon mertuanya." Kata George. Ia dan Fred sudah mulai menggoda Nicole. Tentu saja semua orang yang mengenal mereka bertiga sudah mengetahui selanjutnya, jitakan keras untuk si kembar dari Nicole. Setelah melepas kangen selama sesaat, Nicole dan Oliver harus kembali ke tenda mereka dan si kembar serta kedua gadis juga harus melakukan hal yang sama.

"Kau menyembunyikannya dari mereka?" Tanya Oliver saat ia dan Nicole sudah berjalan berdua saja, menuju tenda mereka.

Nicole menggigit bibir bawahnya. Ia memang tidak memberi tahu teman-temannya kalau dia menghabiskan musim panasnya di rumah Oliver sebelum kembali ke Hogwarts dan membantu kakeknya. “Aku tidak memberi tahu mereka kalau aku datang bersamamu, itu saja.” Kata Nicole pada akhirnya. “Ejekan-ejekan mereka bisa…menyebalkan.”

Oliver tertawa kecil. Nicole hanya bisa bertingkah seperti itu di dekatnya saja dan itu membuatnya merasa spesial. “Kau harus terbiasa, terutama jika kita menjadi resmi nanti.” Kata Oliver.

Resmi? Nicole menoleh dan menatap pacarnya. Namun Oliver tidak mau balas memandangnya. Pemuda itu malah mempercepat langkahnya dan meninggalkan Nicole dibelakang.

“Hey Oliver! Apa maksudnya tadi! Hey jangan kabur!!”

***

“Dad, ayolah! Apa yang mereka bicarakan?” Tanya Fred untuk kesekian kalinya pada Mr. Weasley. Kedua pemuda yang menginjak tahun keenam mereka di Hogwarts itu tidak bisa diam setelah Ludo Bagman secara tidak sengaja memberi tahu mereka bahwa akan ada ‘sesuatu’ di Hogwarts tahun itu. Dan tentu saja berulang kali juga pertanyaan itu di abaikan oleh ayah mereka.

Pertandingan Quidditch pun dimulai tidak lama setelah itu dan hal itu menyita seluruh perhatian si kembar sehingga mereka melupakan pertanyaan mereka itu. Malamnya pun perayaan kemenangan Irlandia terdengar dimana-mana. Sorakan-sorakan bahagia yang kemudian berubah menjadi jeritan ketakutan.

Gisselle dan Elly dibangunkan oleh Mr. Weasley yang segera menyuruh kedua gadis itu, dan Ginny berlari ke hutan bersama si kembar, Harry, Ron dan Hermione. Namun mereka semua terpisah dengan ketiga anak yang baru saja berumur 14 tahun itu. Elly cukup panik ketika kehilangan adiknya di tengah keributan yang ada.

“Tenang saja, ia akan baik-baik saja.” Kata Gisselle, berusaha menenangkan sahabatnya itu. Mereka berlima berdiri berdekatan di daerah pepohonan yang gelap. Elly sudah mulai tenang ketika terdengar bunyi langkah kaki yang mendekat ke arah mereka. Gisselle dan Ginny terpekik ketakutan sementara Fred dan George menempatkan diri mereka di depan para gadis.

“Si-siapa disitu?!” Kata Fred. Tangannya menggenggam tongkatnya dengan erat sementara George, entah sengaja entah tidak, menempatkan dirinya tepat di depan Gisselle dan menatap ke arah sumber suara dengan tongkat teracung. Betapa kaget dan, bagi Gisselle dan Ginny, takut nya mereka ketika sesosok jubah hitam dengan topeng mendekati mereka dengan tongkat teracung, mengarah ke Elly.

“Lev—“

“Expelliarmus!” Sambaran kilat merah membuat tongkat sosok berjubah itu terbang. Tidak ada yang bergerak selain untuk melihat siapa yang merapalkan mantra itu, Nicole. Nicole sudah mengangkat tangannya lagi, hendak merapalkan mantra lainnya. Namun sosok tersebut lebih cepat. Dia menyambar tongkatnya dari tanah dan ber-Apparate secepat yang ia bisa.

“Nicole!” Kata Fred lega. “Wah kawan, terima kasih banyak.” Nicole hanya menjawab perkataan Fred dengan anggukan singkat karena Gisselle dan Ginny berlari untuk memeluknya. Oliver muncul beberapa saat kemudian di belakang Nicole.

“Semuanya baik-baik saja?” Tanya pemuda itu, jelas sekali ia baru berlari menuju arah mereka. Tongkat sihirnya siap di tangan. Semua yang ada mengangguk. Oliver baru membuka mulut lagi, hendak mengatakan sesuatu ketika kilatan hijau terlihat di udara dan sebuah tengkorak raksasa berwarna hijau dengan ular terjulur dari mulutnya. Nicole sangat mengenali lambing itu, kakeknya suka bercerita tentang jaman dimana lambang itu terlihat dimana-mana. Lambang Lord Voldemort.

“Ayo!” Nicole menarik tangan Gisselle lalu mendorongnya agar mulai berjalan, lalu menarik Ginny dan Elly lalu melakukan hal yang sama. “Ayo!!” Kata gadis itu sekali lagi dan mereka semua mulai berlari menjauhi tengkorak raksasa itu dan kembali menuju perkemahan yang sudah  mulai tenang. Tidak ada sosok-sosok berjubah lagi.

“Nicole, tadi itu, lambang apa?” Tanya Elly. Hening, tidak ada yang menjawab. Nicole akhirnya menatap sahabatnya dan menjawab pertanyaannya itu.

“Itu adalah Tanda Kegelapan, lambang Voldemort.” Semua orang kecuali Nicole bergidik mendengar nama itu, sementara Elly hanya mengernyit. Walaupun ia di besarkan oleh Muggle, ia sempat menghabiskan 2 tahun bersama orang tuanya dan lewat mereka serta walinya, ia tahu nama ‘keramat’ itu. Sementara Nicole sendiri, karena ia di besarkan oleh Dumbledore, menyebut nama itu dengan kehati-hatian, bukan dengan perasaan takut.

“Jangan sebut namanya.” Kata Gisselle. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri seakan-akan takut Voldemort akan meloncat keluar dari semak-semak.

“Kau tidak perlu takut pada namanya, Gisselle.” Kata Nicole, namun gadis itu tidak mengatakan nama sang Dark Lord lagi. Ia tidak mau membuat sahabatnya bertambah takut malam itu. “Kalian kembalilah ke tenda, situasi seharusnya sudah aman sekarang.” Setelah berkata begitu, Nicole memandang Oliver dan mereka berdua mengangguk secara bersamaan sebelum berjalan pergi.

“Ayo, kita kembali ke tenda.” Kata Fred setelah Nicole dan Oliver berjalan pergi. Pemuda itu menggandeng Ginny dan mereka berlima kembali ke tenda. Sementara itu, Nicole menatap ke arah Tanda Kegelapan tadi berada dan menggigit bibir bawahnya. Oliver yang menyadari hal itu segera menggenggam tangan pacarnya.

Mereka berjalan berdampingan hingga sampai di tenda, dimana Mrs. Wood langsung memeluk Nicole dengan erat sementara Mr. Wood menepuk-nepuk punggung putranya.

“Kau tidak terluka kan? Apakah Oliver melindungimu dengan baik?” Tanya Mrs. Wood. Wanita ini memang telah menganggapnya sebagai putri sendiri sejak awal bertemu, mengingat Oliver adalah anak tunggal dari pasangan yang menginginkan anak perempuan ini.

“Tidak Mrs. Wood, saya baik-baik saja.” Jawab Nicole sambil tersenyum menenangkan. Mrs. Wood tersenyum senang.

“Aku menantikan saat saat kau memanggilku Ibu nanti.”

Kata-kata Mrs. Wood membuat Nicole dan Oliver secara tidak sengaja batuk bersamaan. Muka keduanya juga memerah sementara pasangan tua itu tertawa melihat reaksi mereka berdua. Mendadak tawa mereka di gantikan dengan pekik terkejut, Oliver juga bereaksi sama dengan orang tuanya. Hanya Nicole saja yang bereaksi kaget selama sesaat dan kemudian mengerti apa yang terjadi. Kobaran api mendadak muncul di tengah tenda, tidak membakar apa-apa, hanya sekilas dan segulung perkamen serta bulu merah jatuh ke dasar tenda. Surat dari kakeknya.

Dengan cepat gadis itu berlutut dan mengambil perkamen yang ada, dan membacanya dengan kilat. Ia lalu berdiri dengan perkamen di tangan dan bulu merah, bulu ekor Fawkes di tangan yang lain.

“Terima kasih atas undangan anda selama musim panas ini dan hingga Piala Dunia saat ini.” Kata Nicole pada orang tua Oliver. “Namun bisakah aku merepotkan kalian sekali lagi?”

Permintaan yang aneh, namun kedua orang tua Oliver langsung mengatakan mereka tidak keberatan. Nicole mengatakan permintaannya, yaitu barang-barangnya di kirim ke Hogwarts, terutama barang-barang yang masih tertinggal di rumah keluarga Wood. Pasangan Mr. dan Mrs. Wood menatap gadis itu dengan bingung, namun mengiyakan setelahnya. Oliver sendiri ikut menatap Nicole dengan bingung. “Ada apa Nicole? Surat apa itu?”

“Surat dari kakekku, ah, maksudnya Professor Dumbledore.” Kata Nicole. Gadis itu langsung menuju ranjangnya dan membereskan barang miliknya dan memasukannya ke dalam tas kecil miliknya. “Aku harus kembali ke Hogwarts secepat yang kubisa.”

“Kembali ke-- Tunggu! Situasi masih berbahaya dan bagaimana caranya kau kembali ke Hogwarts? Tidak ada portkey dan kau masih belum bisa ber Apparate!” Oliver langsung mengeluarkan berbagai macam protes ketika mengetahui niat Nicole. Gadis itu tidak membalas perkataan Oliver, melainkan mendekat dan memberi kecupan kilat di bibir pemuda itu.

“Aku akan baik-baik saja. Akan ku kirimkan surat ketika sampai di Hogwarts.” Kata Nicole. Ia lalu pamit pada orang tua Oliver, memberikan pelukan pada Mrs. Wood dan kecupan di pipi lagi untuk Oliver sebelum berlari ke luar.

Alih-alih ke arah luar perkemahan seperti yang diminta kakeknya, Nicole berjalan menuju arah tenda milik keluarga Weasley yang di jelaskan Gisselle siang tadi. Setelah menemukan tenda yang di tuju, Nicole mengucapkan salam singkat dan masuk kedalam tenda, membuat seluruh penghuni tenda itu kaget.

“Nicole! Ada apa?” Tanya Fred yang langsung meloncat mendekati gadis berambut pendek itu. Nicole mengabaikannya dan menyapa Mr. Weasley, Bill dan Charlie terlebih dahulu.

“Aku hanya ingin memastikan kalian baik-baik saja.” Jelas Nicole. "Dan Mr. Weasley, kakekku memintamu untuk membawa Harry serta Elly pergi dari tempat ini secepat yang kalian bisa."

Mr. Weasley menatap Nicole dengan bingung, tampaknya ingin menanyakan bagaimana gadis itu mengetahui permintaan kakeknya, namun lalu mengurungkan niatnya dan mengangguk. "Kami memang merencanakan hal itu, tenang saja."

Nicole tersenyum tipis. "Sampai ketemu di Hogwarts." Kata Nicole pada kedua sahabatnya, si kembar serta Harry, Ron, Hermione dan Ginny. "Jika kalian ingin mengirimi aku surat, aku ada di Hogwarts."

"Kau akan pulang malam ini? Bagaimana caranya? Kau belum bisa ber Apparate kan?" Tanya Percy.

"Dengan cara kakekku." Jawab Nicole singkat sebelum ia melangkah keluar dari tenda dan menembus kerumunan petugas Kementrian Sihir. Beberapa menghadangnya, namun ketika Nicole memberikan surat kedua yang di berikan Dumbledore juga, mereka mengijinkannya keluar dari daerah perkemahan, dan berjalan menuju bukit, dimana Fawkes telah menunggunya.

"Maaf terlalu lama." Gumam gadis itu pada burung phoenix peliharaan kakeknya itu. Fawkes bersenandung pelan dan menggoyangkan ekornya. Seperti yang telah di ajarkan kakeknya, Nicole meraih tasnya dengan satu tangan, dan ekor Fawkes dengan tangan yang lain lalu menutup mata. Kobaran api menyelimuti tubuh gadis itu tapi tidak membakarnya sama sekali. Nicole menghilang dari bukit tersebut bersamaan dengan api itu. Kakinya terasa terangkat selama sesaat dan ketika ia menjejak lagi, ia menginjak lantai alih-alih rerumputan di bukit.

"Maaf memanggilmu secara tiba-tiba Nicole." Suara kakeknya terdengar lelah. Nicole membuka matanya dan mendapati ia sudah berada di kantor milik kakeknya, di Hogwarts. "Terutama ketika kau sedang menghabiskan liburanmu bersama Oliver."

Nicole berjalan mendekat dan duduk di kursi, di hadapan kakeknya. "Tidak apa-apa. Kakek hanya memajukan jadwalku selama dua hari." Jawab Nicole dengan nada santai sementara Fawkes terbang dan bertengger kembali di tempatnya yang biasa lalu bersenandung pelan. Dumbledore memandang burung peliharaannya dengan pandangan berterima kasih.

"Padahal ini kesempatanmu untuk mengenal calon mertuamu lebih dekat lagi." Kata Dumbledore, kembali memandang cucunya lewat kacamata bulan separuhnya. "Kuharap aku tidak membuat pandangan mereka buruk padamu." Professor tua itu tersenyum jahil, membuat Nicole mengerang frustasi.

"Jangan kakek juga." Erang gadis itu. "Mengapa semua orang menikmati menggodaku tentang hal itu?" Dumbledore tertawa kecil mendengar protesan cucunya sementara Nicole terus melanjutkan. "Bahkan Mr. Wood dan Mrs. Wood juga suka menggodaku dan Oliver. Maksudku, aku baru berusia 16 tahun dan Oliver sendiri baru 18 tahun!"

"Tapi, dengan begitu, kau akan mempunyai ibu nanti."

Nicole langsung terdiam dan menatap kakeknya lekat-lekat. "Aku tidak pernah keberatan hanya memiliki kakek selama kakek itu kau. Lagipula, seluruh Hogwarts ini adalah keluargaku."

Entah ini hanya perasaan Nicole saja, atau dia memang melihat mata biru milik kakeknya berkaca-kaca. Namun itu hanya berlangsung sesaat. Raut wajah Dumbledore kembali serius dan Nicole tahu ini saatnya membahas main topik mereka.

"Apa kata Arthur?"

"Dia akan membawa rombongannya pulang secepat yang dia bisa."

"Harry dan Elizabeth?"

"Selamat dan baik-baik saja."

"Ceritakan tentang Tanda Kegelapan itu."

Maka Nicole menceritakan tentang sosok-sosok berjubah yang menyerang perkemahan, pertemuannya dengan Elly dan yang lain di hutan, tongkat Harry dan peri rumah uang di curigai menyihir Tanda Kegelapan, sosok-sosok berjubah yang ber Disapparate begitu melihat tanda itu di langit dan berbagai kabar lainnya yang Nicole curi dengar dari para petugas kementrian saat berjalan keluar dari perkemahan. Dumbledore mendengarkan tanpa menyela sekalipun lalu bangkit berdiri dari kursonya dan berjalan mondar-mandir selama beberapa saat. Keningnya berkerut.

"Aku mengkhawatirkan ramalan Sybill." Kata Dumbledore akhirnya. Professor tua itu jarang membagi ke khawatirannya kepada orang lain, namun akhir-akhir ini ia suka bercerita pada cucunya. Hal itu membuat Nicole luar biasa senang. Gadis itu merasa kakeknya mempercayai dan mengandalkannya.

"Professor Trelawney?" Kata Nicole. "Ramalan yang Harry dengan di akhir tahun ajaran yang lalu?" Dumbledore telah menceritakan pada Nicole pengalamam Harry saat mendengar ramalan terbaru Trelawney. Ramalan mengenai Peter Pettigrew dan Lord Voldemort.

"Kau tidak percaya ramalan?" Tanya Dumbledore ketika melihat ekspresi Nicole yang agak 'terganggu'. Nicole menggeleng.

"Selama kau mempercayainya, tidak alasan bagiku untuk berbuat yang sebaliknya."

Dumbledore tersenyum lagi sebelum melanjutkan. "Ramalan itu mengatakan bahwa abdi Voldemort akan muncul dan kembali ke sisi Tuannya. Dan Voldemort akan bangkit kembali dengan bantuan abdinya." Dumbledore melanjutkan aktifitas mondar-mandirnya yang sempat terhenti tadi. "Bagian pertama ramalan itu telah terjadi, Peter berhasil kabur. Dan sekarang aku mengkhawatirkan sisa ramalan itu."

Nicole terdiam sejenak, berpikir. "Menurut kakek.." Kata gadis itu perlahan-lahan karena ia masih ragu dengan tebakannya sendiri. "..yang menyihir Tanda Kegelapan di Piala Dunia tadi adalah Peter?"

Sambil mengelus-elus jenggotnya yang panjang, Dumbledore menjawab. "Mungkin saja. Tapi itu tidak menutup kemungkinan adanya abdi Voldemort yang lain." Keheningan menyelimuti selama beberapa saat. Baik Nicole maupun kakeknya tenggelam dalam pikiran masing-masing sampai akhirnya Dumbledore kembali duduk dan menatap Nicole seraya tersenyum lembut.

"Maaf membuatmu terjaga selarut ini, setelah memaksamu pulang cepat dari Piala Dunia." Kata Dumbledore, suaranya lembut dan menenangkan. "Kamarmu telah di sediakan oleh peri rumah, kamarmu yang biasa, bukan yang asrama. Beristirahatlah untuk malam ini."

Anehnya, setelah Dumbledore berkata begitu, Nicole mendadak menyadari betapa lelahnya dia. Gadis itu mengangguk dan meraih tasnya lalu berdiri dan berjalan ke arah pintu.

"Selamat malam kakek."

"Selamat malam Nicole."

***

Nicole menatap sekelilingnya. Peron 9 3/4 seramai biasanya tentu saja. Ini adalah hari dimana seluruh murid Hogwarts kembali berangkat ke sekolah mereka itu. Seperti biasa, Nicole ikut serta naik kereta uap berwarna merah dan hitam itu seperti murid yang lain dan bertingkah 'senormal' murid yang lain agar fakta bahwa ia adalah cucu kepala sekolah tidak begitu mencolok. Setelah beberapa saat, ia menemukan rombongan yang ia cari dan dengan segera berjalan ke arah mereka.

"Kenapa?" Nicole bisa mendengar suara George.

"Tahun ini akan asik sekali untuk kalian." Kata Bill, rambut panjangnya cukup menarik perhatian di peron tersebut. "Mungkin aku akan cuti untuk menonton sebagian.."

"Sebagian apa?" Desak Ron tapi tidak ada yang menjawab karena mereka semua menyadari kehadiran Nicole dan menyapa gadis itu. Setelah bertukar sapa singkat, peluit kereta berbunyi dan mereka semua masuk kedalam kereta, digiring oleh Mrs. Weasley, Bill dan Charlie.

"Oh aku senang sekali kalian datang nak." Kata Mrs. Weasley ketika Hermione, Harry, Elly dan Gisselle mengucapkan terima kasih mereka. "Aku ingin mengundang kalian semua, termasuk kau Nicole, Natal nanti. Tapi..yah, kurasa kalian semua ingin tinggal di Hogwarts dengan adanya ini itu."

"Mum!" Protes Ron. "Apa sih yang kalian bertiga ketahui tapi kami tidak?"

"Kalian akan tahu malam ini kurasa." Kata Mrs. Weasley sambil menoleh ke arah Nicole. "Benarkan Nicole?"

Pandangan semuanya langsung beralih ke Nicole. "Benar Mrs. Weasley. Kepala sekolah akan menyampaikannya di pidato malam ini." Jawab Nicole sambil tersenyum juga.

"Akan sangat menyenangkan sekali. Ku dengar mereka mengubah peraturannya?"

"Tepat sekali. Kali ini akan jauh lebih aman."

"Apa yang kalian bicarakan sebenarnya?" Erang Fred meminta jawaban.

"Nanti Professor Dumbledore akan menyampaikannya. Nah, jangan nakal ya? Ya, Fred? Dan kau, George?"

"Bilang dong akan ada apa di Hogwarts!!" Teriak Fred saat kereta mulai berjalan. Namun Mrs. Weasley, Bill dan Charlie hanya tersenyum dan melambai sebelum mereka ber-Disapparate.

Si kembar terus menerus merengek pada Nicole selama mereka berjalan ke kompartemen milik si kembar, Gisselle dan Lee. Nicole harus menjitak mereka berdua agar diam.

"Kalian akan mengetahuinya malam ini. Sampai nanti." Setelah berkata begitu, Nicole pergi ke kompartemen Prefect bersama Elly.

***TBC***

A/N : Mohon maaf apabila ada kesalahan *bows*

Original Plot by : Our Queen, JK Rowling
The ‘new’ plot Made by : Liz
Take out with full credits please~ ^^

0 komentar:

Posting Komentar