Chapter 22 : Because
I’m His Grandchild
(Setting
: HP 5)
"Kalian tahu kalau tahun ini adalah tahun
NEWT?" Tukas Nicole sebal ketika Fred dan George berdiskusi seru di
depannya, di perpustakaan. Mereka berdua mengabaikan tugas mereka dan malah
mengeluarkan perkamen mengenai barang-barang temuan mereka. Nicole dan Hermione
sudah berulang kali menghentikan kegiatan mereka yang membuat murid-murid yang
lebih muda menjadi kelinci percobaan mereka.
"Oh ayolah Nicole. Kami sudah mengatakan bahwa
cita-cita kami bukan lulus dari sekolah ini lagi." Kata Fred.
"Sebetulnya kami enggan untuk balik ke sekolah
ini lagi." Timpal George.
Nicole menaikan alisnya dengan heran. "Apa yang
kalian rencanakan sebenarnya?"
Kedua pemuda berambut merah itu saling berpandangan
dan nyengir. "Membuka toko!" Jawab mereka bersamaan pada Nicole.
"Toko?"
"Sihir Sakti Weasley?" Tebak Gisselle yang
dari tadi hanya mendengarkan saja. Nicole menoleh meminta penjelasan lebih
lanjut pada sahabatnya itu. "Kau ingat yang kuceritakan dua tahun yang
lalu? Sihir Sakti Weasley?"
Nicole mengernyit, berpikir sejenak sebelum akhirnya
mengingat apa yang di maksud Gisselle. "Ah. Usaha yang di larang ibu
kalian itu?"
"Jangan ingatkan pada kami kalau Mum
melarangnya." Kata Fred, menggeleng, seakan-akan Nicole menyebutkan mimpi
buruknya.
"Tidak ada yang bisa menghentikan kami, bahkan
Mum dan kau, Nicole." Timpal George.
"Aku tidak akan menghentikan kalian." Jawaban Nicole membuat
teman-temannya terkejut luar biasa. Fred dan George bahkan membuka mulut mereka
lebar-lebar lalu menatap Nicole selama beberapa saat.
“Apa
aku tidak salah dengar?” Kata George. “Nicole, prefect dan ketua murid. Murid
kesayangan semua guru. Penjunjung tinggi peraturan.” Pemuda berambut merah itu
menunduk untuk menghindari jitakan dari Nicole. “Tidak akan melarang kami?”
Ekspresi
Nicole campuran setengah kesal, setengah geli. “Untuk apa. Jika kalian sudah
memutuskannya, aku hanya bisa mendukung bukan?”
“Nicole..”
Kata Fred.
“Kami
terharu..” Lanjut George. Mereka berdua kemudian berusaha memeluk Nicole, yang
jelas di hindari oleh gadis berambut cokelat tua itu.
"Tapi itu bukan berarti aku akan membiarkan
kalian melakukan percobaan pada anak-anak yang lebih muda!!"
Ancaman Nicole tampaknya tidak berpengaruh sama
sekali pada dua pemuda kembar itu. Walau Nicole dan Hermione sudah berulang
kali memperingatkan mereka. Namun setidaknya latihan Quidditch yang
dilaksanakan Angelina bisa mengurangi waktu mereka untuk menjadikan murid lain
sebagai kelinci percobaan.
"Bagaimana?" Tanya Gisselle. Ia dan Nicole
sedang duduk di sofa di ruang rekreasi, mengerjakan essay Ramuan mereka ketika
team Quidditch Gryffindor berjalan masuk. Tidak ada yang menjawab. Ketujuh
anggota team itu hanya memandang kedua gadis yang ada dengan pandangan sedih sebelum
berjalan ke arah kamar masing-masing. Gisselle dan Nicole berpandangan dengan
heran.
"Parah." Kata Fred paginya. "Parah
sekali. Kita pasti kalah dalam pertandingan pertama."
"Aku yakin tidak separah itu.." Kata
Nicole.
"Serius Nicole. Kalau Oliver ada kemarin, dia
sudah akan meledak." Kata George. Mereka sedang berjalan menuju Aula Utama
bersama Gisselle dan Lee untuk makan pagi. Aula Utama luar biasa ribut pagi
itu. Tampaknya semua orang membicarakan hal yang sama dari sumber yang sama,
Daily Prophet.
"Ada apa?" Tanya George saat mereka semua
duduk di meja Gryffindor. Seorang amak memberikan mereka koran penyihir itu
dengan muka jelek Umbridge di halaman depan.
"Inkuisitor Agung!" Kata Nicole setelah ia
membaca dengan cepat artikel itu. "Dia akan menginspeksi semua guru
Hogwarts, untuk melihat apakah mereka layak."
"Apa?!" Desis keempat temannya bersamaan.
Namun sayangnya mereka harus bergegas menyelesaikan sarapan mereka dan berlari
keluar, menuju rumah kaca untuk mengikuti pelajaran Herbology. Elly bergabung
bersama mereka ketika mereka sedang melintasi lapangan. Topik Umbridge yang
menginspeksi para guru pun menjadi topik semua orang. Namun ternyata Umbridge
tidak menginspeksi pelajaran Herbology.
"Aku heran kenapa kakekmu menyetujui semua hal
ini." Kata Elly saat dia, Nicole dan Gisselle memulai praktek mereka di
pot yang sama. "Nenek sihir itu keji sekali." Kata Elly. Jelas masih
marah dengan perlakuan Umbridge pada adiknya, Harry.
"Kurasa kepala sekolah tidak bisa
menghindarinya." Kata Gisselle. Dia membaca ulang instruksi yang di
berikan Professor Sprout lalu mengecek pot mereka. “Dia tidak akan bisa menolak jika Menteri
Sihir sendiri yang mengeluarkan perintah bukan?” Kedua temannya mengangguk
setuju.
“Ya
kuharap ia tidak bertahan lebih dari setahun.” Gumam Elly. “Guru-guru
sebelumnya juga tidak ada yang bertahan selama lebih dari setahun.”
Nicole
mendadak tersenyum. “Aku ragu ia akan bertahan selama setahun di Hogwarts.
Sangat meragukan.”
“Dia
tidak akan membuat jalanmu menuju Auror sulit kan?”
Pertanyaan
Gisselle membuat senyum Nicole menghilang dan dia menatap pot mereka dengan
diam. “Iya akan membuatnya sulit. Tapi itu tidak akan menghentikanku.”
“Dengan
nilai OWLmu dan nilai NEWTmu nanti yang sudah dapat dipastikan luar biasa, Kementerian
tidak akan menolakmu.” Kata Fred. Ia, George dan Lee berbagi pot yang sama
tepat di sebelah mereka.
“Weasley,
Potter, Ravensdale, Scotthill. Jangan berbicara terus dan lakukan tugas
kalian.” Tegur Sprout, membuat ketiga gadis itu langsung bekerja dalam diam
hingga akhir pelajaran, dimana Nicole dan Gisselle harus berpisah dengan Elly
dan anak Hufflepuff lain yang berjalan menuju kelas Ramuan mereka. Anak-anak
Gryffindor berjalan ke arah ruang kelas Mantra.
“Umbridge!”
Pekik Gisselle pelan sehingga hanya Nicole yang bisa mendengarnya. Umbridge
berjalan masuk ke dalam ruang kelas tepat ketika semua anak-anak baru saja
duduk. Flitwick memperlakukan wanita itu selayaknya tamu sementara ia mengajar
seperti biasa. Tidak banyak yang Umbridge lakukan di kelas itu, beberapa
pertanyaan untuk Alicia dan sudah, sisanya ia hanya mengawasi kelas dalam diam.
“Kurasa
Flitwick dinilai cukup baik.” Kata Lee saat mereka berjalan keluar kelas,
menuju Aula Utama untuk makan siang. Mereka berlima duduk tepat di sebelah
Harry, Ron dan Hermione. Ketiga anak yang lebih muda itu sedang membicarakan
nilai OWL.
“Tidak
perlu malu kalau begitu.” Kata Fred setelah Ron menyebutkan nilai essaynya yang
terbaru. Ia duduk di sebelah kanan Harry. “Tidak ada yang salah dengan huruf ‘P’
yang bagus dan sehat.” Kata-katanya membuat Nicole, yang duduk disebelahnya,
menjitaknya pelan dan memberinya deathglare.
“Tapi,
bukankah P itu..?” Tanya Hermione.
“Poor,
yeah.” Jawab Lee yang duduk di sebelah Nicole sementara George dan Gisselle
duduk berdampingan di seberang mereka, tepat di sebelah kanan Hermione. “Tapi
lebih baik daripada ‘D’, Dreadful, kan?”
Hermione
tampak bersemangat membicarakan nilai-nilai OWL, mengabaikan muka Harry dan Ron
yang tampaknya akan mati stress sebentar lagi. Dan tidak lama kemudian Fred,
George dan Lee juga mulai jenuh dengan pertanyaan Hermione seputar nilai.
“Bergurulah
pada Nicole dan kau akan mendapat O pada semua mata pelajaran.” Kata Fred
sambil menyendok sejumlah besar lauk ke atas piringnya. “Aku akan luar biasa
heran bila Kementerian menolakmu menjadi Auror, Nicole.”
Harry
memajukan tubuhnya sehingga bisa melihat Nicole lebih jelas lagi. “Kau akan
menjadi Auror, Nicole?” Tanyanya. Mata hijau pemuda ini berkilat bersemangat.
Nicole mengangguk dan tersenyum.
“Wow.”
Kata Ron dengan kagum. Namun topik mengenai Auror itu tidak bertahan lama
karena topik inspeksi Umbridge mulai di bahas dimana-mana. Kelima anak yang
lebih tua itu menceritakan inspeksi Umbridge di kelas Mantra mereka sebelum
akhirnya berpisah di Aula Depan dengan Harry, Ron dan Hermione.
Beberapa
hari setelahnya, Hermione mendatangi Nicole di ruang rekreasi. Ruang rekreasi
cukup ramai malam itu, Fred dan George memperagakan lelucon mereka di depan
murid-murid yang lain dan Nicole sendiri hanya menonton dari kejauhan, di
pojokan yang sepi dengan buku terbuka di pangkuannya.
“Boleh?”
Tanya Hermione sambil menunjuk tempat di sebelah Nicole dan duduk setelah
mendapat ijin. “Nicole, aku punya ide.” Kata Hermione dengan suara kecil,
wajahnya tampak ragu. Nicole hanya memandang gadis itu, menunggunya untuk
melanjutkan. Setelah menarik nafas dalam-dalam, akhirnya Hermione melanjutkan.
“Rasanya
kami memerlukan pelajaran Pertahanan yang layak, kelas tersendiri.” Jelas
Hermione. “Dan aku ingin kau dan Harry menjadi gurunya. Bagaimana menurutmu?”
Selama
beberapa waktu, Nicole tidak mengatakan apapun. Ia tahu dari suaranya, Hermione
tidak bercanda sama sekali tentang hal ini. Gadis yang lebih muda ini menunggu
dengan sabar hingga akhirnya Nicole membuka mulut.
"Aku
tidak yakin bisa mengajar kalian." Kata Nicole dengan perlahan. "Aku
tidak meragukan kemampuanku, bukan itu maksudku." Lanjutnya ketika melihat
Hermione sudah membuka mulut juga, hendak memprotes kalimat pertama Nicole.
"Hanya saja, aku meragukan aku bisa mengikuti perkumpulan itu setiap
saat."
"Kenapa?"
Nicole
tersenyum kecut. "Aku di awasi." Ia tidak pernah memberi tahu tentang
hal ini pada siapapun kecuali kakeknya. Ia bahkan tidak dapat menulis surat
pada Oliver dengan leluasa. Hermione membuka mulutnya dengan kaget, tapi tidak
ada kata-kata yang keluar. "Tenang saja, Harry tidak diawasi. Tidak
seketat diriku."
"Ba-bagaimana
bisa? Kenapa?" Tanya Hermione, tidak percaya akan apa yang baru ia dengar.
Nicole menempatkan jari telunjuknya di depan bibirnya, menyuruh Hermione untuk
mengecilkan suaranya.
"Umbridge
dan Kementerian melihatku sebagai ancaman yang lebih besar. Sebagai cucu
Dumbledore yang sudah cukup umur, aku tidak heran mereka mengawasiku."
Jawab Nicole dengan suara pelan. "Aku akan membantu kalian, namun tidak
selalu."
Hermione
mengangguk. "Jika kau sempat, kunjungan Hogsmeade pertama, di Hog's
Head."
Kunjungan
Hogsmeade pun tiba dengan cepat. Seperti biasa, Nicole Elly dan Gisselle
menemani si kembar dan Lee berkunjung ke Zonko. Hanya saja kali ini mereka di
temani satu orang lagi, Felicia Diggory, yang menempel erat dengan Lee.
Hubungan mereka sejak Yule Ball tahun lalu menjadi semakin dekat. Terutama
karena Lee satu-satunya orang yang berhasil menghibur Feli ketika Cedric meninggal.
"Oke?"
Kata Fred mengecek belanjaan mereka dan menoleh ke Lee. Pemuda berkulit gelap
itu mengangguk sebagai jawaban. "Baiklah! Tujuan berikutnya! Hog's
Head." Kata Fred seraya memimpin jalan ke arah kedai kumuh itu. Ketika
mereka sudah dekat, muka Nicole menunjukan kalau dia gelisah.
"Ada
apa?" Tanya Gisselle yang menyadari perubahan ekspresi sahabatnya.
"Pergi
ke Hog's Head.." Jawab Nicole. "..bukan sesuatu yang ku anggap
nyaman."
"Hog's
Head memang bukan tempat yang nyaman." Kata George sambil nyengir.
"Bukan
itu alasanku.." Kata Nicole, tapi dia tidak melanjutkan kata-katanya
karena mereka bertemu dengan sejumlah murid lain di perjalanan menuju Hog's
Head seperti Ginny dan rombongan pemuda Ravenclaw, Cho Chang dan temannya
Marietta Edgecombe, anak-anak kelas lima Hufflepuff, Robert dan Calvin.
Bersama-sama mereka memasuki kedai minum yang kumuh itu. Entah kenapa Nicole
berjalan sedikit di belakang Fred dan George, dan menghindari kedai tempat
seorang pria tua berdiri. Namun tidak bisa di hindari, pria tua itu telah
melihat Nicole dan mukanya mengernyit. Nicole sendiri mengkerutkan kening dan
segera menarik kursi untuk duduk.
Setelah
seluruh rombongan datang, 'rapat' kecil ini pun dimulai. Hermione mulai
menjelaskan mengenai idenya membentuk grup belajar praktek Pertahanan Terhadap
Ilmu Hitam dan topik pun sampai pada Voldemort dan kematian Cedric. Elly dan
Feli bergerak di kursi mereka, merasa tidak nyaman hingga akhirnya topik itu
selesai.
"Kenapa
bukan Ravensdale yang mengajari kita?" Tanya salah satu anak Hufflepuff,
Zacharias Smith dan pandangan pun beralih ke arah Nicole. Beberapa gumaman
setuju juga di lontarkan menyusul perkataan Zacharias Smith.
"Ah,
itu--"
"Karena,
sayangnya Mr. Smith. Aku tidak bisa hadir setiap saat. Aku akan membantu Harry
sebisanya namun tolong jangan mengandalkanku. Praktek mantra di kelas dan di
dunia luar itu berbeda, dan pengalamanku di dunia luar tidak bisa di bandingkan
dengan Harry." Jelas Nicole, jelas dan tegas sehingga tidak ada yang
berani menentang gadis itu lagi. Sisa pertemuan itu pun berlangsung dengan
lancar, Nicole dan yang lain juga membubuhkan tanda tangan sebelum akhirnya
pertemuan itu selesai.
Ketika
semuanya berjalan dengan lancar, terlalu lancar, pasti akan ada sesuatu yang
layak di khawatirkan menyusul selanjutnya. Pengumuman mengenai larangan grup
pelajar dari Umbridge terpasang jelas di papan pengumuman suatu pagi, beberapa
sejak pertemuan kecil-kecilan di Hog's Head di adakan. Bahkan Quidditch pun di
larang oleh Umbridge, hal ini tentu saja membuat Fred dan George kesal.
Angelina sendiri telah mengeluh terang-terangan kepada Nicole. Namun gadis
berambut cokelat tua ini hanya bisa menyarankan pada Angelina agar ia menemui
McGonagall karena akhir-akhir ini ia kesulitan menemui kakeknya sendiri secara
pribadi.
"Apakah
menurutmu kau di awasi saat kita pergi ke Hog's Head?" Tanya Hermione
suatu malam di ruang rekreasi. Nicole menggeleng.
"Tidak.
Aku sudah memastikannya hingga tiga kali saat itu." Jawab Nicole.
"Kalian masih akan melaksanakan kegiatan itu?"
Hermione
menggigit bibir bawahnya. Mukanya terlihat ragu dan cemas. "Entahlah. Mrs.
Weasley melarang kami sementara Sirius mendukung rencana kami. Bagaimana
menurutmu?"
"Setiap
keputusan mempunyai resikonya tersendiri." Jawab Nicole seraya memainkan
pena bulu yang sedang di pegangnya. "Jika kau melanjutkan, ada resiko di
keluarkan. Jika tidak, ada resiko kau tidak bisa mempertahankan diri."
Gadis yang berumur 17 tahun itu lalu terdiam sejenak. "Lebih besar resiko
yang kedua, bukankah begitu?" Nicole pun bangkit berdiri dan meninggalkan
Hermione yang terdiam dan memikirkan kata-kata Nicole.
Beberapa
hari setelah percakapan Nicole dan Hermione, gadis yang lebih muda itu kembali
mendatangi Nicole yang sedang duduk di perpustakaan bersama Gisselle dan Elly.
Hanya saja kali ini ia bersama Harry dan Ron serta muka ketiganya tampak
bersemangat.
"Nicole,
apakah kau pernah mendengar tentang Kamar Kebutuhan?" Kata Harry dengan
bersemangat.
"Kamar
Kebutuhan? Tentu aku pernah mendengarnya, memangnya kena--Oh!!" Kata-kata
Nicole terhenti karena ia menyadari apa maksud tiga sekawan itu. Harry, Ron dan
Hermione saling berpandangan dengan muka antusias.
"Kita
akan bertemu disitu. Malam ini pukul 8." Kata Harry sekali lagi sebelum
ia, Ron dan Hermione berbalik dan berjalan dengan cepat keluar dari
perpustakaan, hendak mencari anggota lainnya.
"Kamar
Kebutuhan?" Tanya Elly.
"Kamar
misterius milik Hogwarts yang selalu ada hanya bila seseorang membutuhkannya."
Jelas Nicole. "Aku pernah mendengarnya dari kakekku. Katanya kamar itu
selalu berubah-ubah tergantung apa yang dibutuhkan"
"Jadi
maksudmu, bila kita menginginkan tempat untuk pertemuan kita.." Kata
Gisselle.
"Maka
kamar itu akan menyediakannya untuk kita.." Lanjut Nicole.
"Dan
Umbridge tidak akan tahu!" Kata Elly riang.
Malamnya,
Nicole, Elly dan Gisselle berjalan ke lantai 7, tempat Kamar Kebutuhan berada,
bersama Fred, George, Lee dan kembali lagi bersama mereka, Feli. Semuanya jelas
terkejut melihat ruangan yang dulu nya tidak ada itu. Setelah pemilihan nama
dan ketua yang sebenarnya tidak perlu di pilih lagi. Laskar Dumbledore pun
memulai praktek pertama mereka.
"Maaf
merepotkanmu." Kata Harry ketika Nicole merapikan kekacauan akibat salah
mantra dari berbagai anak.
"Bukan
apa-apa." Jawab Nicole dengan nada santai. Gisselle dan Elly juga
membantunya sementara si kembar malah tambah membuat masalah dan alhasil,
Nicole kembali mengejar mereka berdua.
Minggu-minggu
berikutnya berjalan dengan sangat menyenangkan bagi anggota LD. Hermione
menemukan cara agar bisa memberi tahu semua anggota LD tanpa menimbulkan
kecurigaan sehingga mereka bisa dengan aman mengetahui jadwal baru latihan
mereka. Nicole sendiri terpaksa tidak mengikuti beberapa latihan karena
Umbridge menempelinya dengan pekerjaan sebagai Ketua Murid yang sebenarnya di
buat-buat.
Pertandingan
Quidditch sudah di depan mata sehingga seluruh team Gryffindor mempunyai
kesibukan lain dan sementara pertemuan LD di hentikan karena ketua mereka
adalah seeker andalan Gryffindor. McGonagall juga secara tidak langsung
mendukung kemenangan Gryffindor di pertandingan mendatang karena guru yang
termasuk 'killer' itu tidak memberi pr pada anak kelas manapun dari asrama
Gryffindor.
"Pertandingan
pertama tanpa Oliver." Jata Fred seraya mengernyit. Mereka semua sedang
makan pagi di Aula Utama, beberapa jam sebelum pertandingan Quidditch
Gryffindor melawan Slytherin. Dia menusuk-nusuk sosis panggangnya dengan tidak
bersemangat. Kerja Nicole bertambah sekarang, selain menyuruh Gisselle untuk
makan, hari ini dia harus memaksa si kembar juga.
"Oliver
mengucapkan salam. Semoga beruntung." Kata Nicole yang baru saja di
berikan surat oleh Natte, burung hantu hitamnya. "Dia juga bilang kalian
harus menang, kalau tidak awas." Lanjutnya setelah membaca surat panjang
dari pacarnya itu. Fred dan George mengerang frustasi.
"Salam
yang bagus sekali Oliver.." Keluh George.
Ketika
Angelina bangkit berdiri dan menyuruh seluruh teamnya pergi ke ruang ganti,
Nicole, Gisselle, Elly, dan Feli menyusul tidak lama kemudian dan duduk di
tempat duduk penonton. Gisselle dengan Nicole di tempat Gryffindor bersama
Hermione sementara Elly dan Feli di tempat duduk Hufflepuff. Pertandingan
awalnya berjalan sepihak. Slytherin berulang kali mencetak gol yang di jaga
oleh Ron sehinggal kerumunan murid memakai atribut berwarna hijau menyanyi lagu
'Weasley Raja Kami' yang isinya ejekan-ejekan keji. Skor mencapai 40-10 dimana
Slytherin memimpin, ketika Harry akhirnya menangkap Snitch.
"Kita
menang! Kita menang!" Kata Hermione dengan riang dan memeluk Gisselle.
"Dan kuharap Crabbe kena detensi atas perbuatannya!" Crabbe memang
memukul Bludger ke Harry saat pemuda itu sudah menangkap Snitchnya. Gisselle
ikut bersorak bersama Hermione dan anak Gryffindor yang lain namun Nicole
menatap ke lapangan dan melihat ke arah para pemain yang sedang berkumpul
disana.
"Apa
yang mereka lakukan.." Gumam Nicole, yang lalu meloncat turun dari
kursinya dan berlari ke lapangan, mengabaikan panggilan bingung dari Gisselle
dan Hermione. Sampai dilapangan, apa yang dia lihat menjadi lebih parah
daripada yang tadi ia lihat dari box penonton. Entah apa yang Malfoy katakan
sehingga George dan Harry menerjang ke arahnya. Nicole berlari dan mencegah
Fred tepat pada waktunya. Ia lepas dari pegangan Angelina, Katie dan Alicia
lalu pasti sudah menerjang Malfoy bila Nicole tidak menjegal kakinya dan
menindih pemuda itu di punggungnya.
"Tenangkan
dirimu idiot." Desis Nicole pada Fred sementara Madam Hooch meluncurkan mantra
perintang pada George, Harry dan Malfoy.
"Lepaskan
aku Nicole!" Teriak Fred sambil memberontak. Alih-alih melepaskan
pegangannya pada Fred, Nicole menarik lengan pemuda itu sehingga terlipat di
punggungnya dan memeganginya dengan erat.
"Kau
ingin terlibat masalah? Para guru mengawasi dan Umbridge juga!" Desis
Nicole lagi. "Tenangkan dirimu dan aku akan melepaskanmu." Mendengat
kata-kata Nicole, Fred berhenti memberontak dan menjadi tenang. Memenuhi
janjinya, Nicole melepaskan pemuda itu dan bangkit berdiri dari punggung Fred.
"Terima
kasih, Miss Ravensdale." Suara manis Umbridge terdengar dari belakang
mereka. Tanpa menunjukan ekspresi apapun, Nicole mengangguk sebagai balasan.
George dan Harry sudah pergi ke ruang McGonagall, sesuai dengan perintah Madam
Hooch. Gisselle dan Elly menyusul kedua pemuda itu. "Tolong bawa Mr.
Weasley dan yang lain kembali ke ruang rekreasi kalian, ya?" Kata Umbridge
sekali lagi sebelum berjalan kembali ke kastil, kemungkinan besar menyusul
George dan Harry.
"Ayo
kalian." Kata Nicole pada seluruh team Gryffindor yang masih shock akan
apa yang baru saja terjadi. "Ke ruang rekreasi. Ayo! Cepat!"
Kata-kata terakhir Nicole seakan-akan menyadarkan mereka dan langsung saja
Angelina, Alicia dan Katie melesat untuk berganti baju, di susul oleh Ron dan,
walau enggan, Fred.
Tidak
ada yang berpesta walau mereka memenangkan pertandingan pertama mereka.
Semuanya cemas dengan nasib George dan Harry yang masih berada di ruang
McGonagall. Fred masih kesal pada Nicole karena menahannya agar tidak meninju
Malfoy sampai terjatuh. Pemuda berambut merah itu berjalan mundar-mandir di
dalam ruang rekreasi namun menghindari menatap ke arah Nicole yang hanya duduk
diam di salah satu sofa empuk dekat perapian.
Akhirnya
lukisan Nyonya Gemuk pun terbuka dan Gisselle melangkah masuk, diikuti oleh
George dan Harry yang tampak baru bertemu setan. Muka kedua pemuda itu pucat
pasi dan tidak mengatakan apapun saat mereka duduk di sofa. Gisselle melirik
pacarnya sekali sebelum akhirnya menjelaskan kejadian yang di ceritakan George
saat dia baru keluar dari ruang kantor McGonagall.
"Larangan.."
Kata Fred. Mukanya juga pucat pasi setelah mendengar cerita Gisselle.
"Seumur hidup bermain di team?" Tidak ada yang berkata-kata. Semua
orang kaget mendengar keputusan Umbridge yang melarang kedua Beater dan Seeker
mereka bermain seumur hidup. Fred sendiri terdiam setelah mengatakan hal itu
sebelum ia menoleh ke arah Nicole dengan geram.
"Jika
ini keputusannya, harusnya tadi kau biarkan aku menghajar si Malfoy itu sampai
babak belur."
Nicole
menatap balik pemuda itu. "Dan apa tujuanmu melakukan itu? Membuat kondisi
lebih buruk dari ini?"
"Tidak
ada yang bisa lebih buruk dari ini!"
"Oh
tentu saja ada."
"Kau
menghentikanku hanya karena kau Ketua Murid dan kau ingin mempertahankan
posisimu!" Teriak Fred. "Kau ingin bertingkah baik di depan Umbridge
saja!"
"Fred!"
Teriakan
Ginny menyadarkan Fred dari emosinya yang terlalu meledak akibat keputusan
Umbridge yang tidak adil itu. Fred langsung menutup mulutnya yang tadinya sudah
hendak berteriak lagi pada Nicole.
"Kau
lupa aku cucu dari siapa Fred?" Suara Nicole terdengar dingin. "Untuk
apa aku mencari muka di depan petugas Kementerian?"
"A-aku..
Tidak.." Kata Fred terbata-bata, namun Nicole menyela perkataannya.
"Dan
kondisi yang lebih buruk adalah kalian bertiga di keluarkan dari sekolah, atau
team Quidditch Gryffindor dibubarkan." Kata Nicole seraya bangkit berdiri.
"Dan permisi, aku ingin tidur." Sebelum ada yang bisa berbicara,
Nicole telah naik ke asrama perempuan dan menutup pintu kamarnya.
"Bagus
sekali kawan." Kata George dengan muram. "Kau baru saja membuat marah
seekor singa."
***TBC***
A/N : Mohon maaf
apabila ada kesalahan *bows*
Original Plot by : Our Queen, JK Rowling
The ‘new’ plot Made
by : Liz
Take
out with full credits please~ ^^

0 komentar:
Posting Komentar