Rabu, 30 Juli 2014

Hogwarts' Beloved : Chapter 22

Chapter 22 : Because I’m His Grandchild
                                                (Setting : HP 5)

"Kalian tahu kalau tahun ini adalah tahun NEWT?" Tukas Nicole sebal ketika Fred dan George berdiskusi seru di depannya, di perpustakaan. Mereka berdua mengabaikan tugas mereka dan malah mengeluarkan perkamen mengenai barang-barang temuan mereka. Nicole dan Hermione sudah berulang kali menghentikan kegiatan mereka yang membuat murid-murid yang lebih muda menjadi kelinci percobaan mereka.

"Oh ayolah Nicole. Kami sudah mengatakan bahwa cita-cita kami bukan lulus dari sekolah ini lagi." Kata Fred.

"Sebetulnya kami enggan untuk balik ke sekolah ini lagi." Timpal George.

Nicole menaikan alisnya dengan heran. "Apa yang kalian rencanakan sebenarnya?"

Kedua pemuda berambut merah itu saling berpandangan dan nyengir. "Membuka toko!" Jawab mereka bersamaan pada Nicole.

"Toko?"

"Sihir Sakti Weasley?" Tebak Gisselle yang dari tadi hanya mendengarkan saja. Nicole menoleh meminta penjelasan lebih lanjut pada sahabatnya itu. "Kau ingat yang kuceritakan dua tahun yang lalu? Sihir Sakti Weasley?"

Nicole mengernyit, berpikir sejenak sebelum akhirnya mengingat apa yang di maksud Gisselle. "Ah. Usaha yang di larang ibu kalian itu?"

"Jangan ingatkan pada kami kalau Mum melarangnya." Kata Fred, menggeleng, seakan-akan Nicole menyebutkan mimpi buruknya.

"Tidak ada yang bisa menghentikan kami, bahkan Mum dan kau, Nicole." Timpal George.

"Aku tidak akan menghentikan kalian." Jawaban Nicole membuat teman-temannya terkejut luar biasa. Fred dan George bahkan membuka mulut mereka lebar-lebar lalu menatap Nicole selama beberapa saat.

“Apa aku tidak salah dengar?” Kata George. “Nicole, prefect dan ketua murid. Murid kesayangan semua guru. Penjunjung tinggi peraturan.” Pemuda berambut merah itu menunduk untuk menghindari jitakan dari Nicole. “Tidak akan melarang kami?”

Ekspresi Nicole campuran setengah kesal, setengah geli. “Untuk apa. Jika kalian sudah memutuskannya, aku hanya bisa mendukung bukan?”

“Nicole..” Kata Fred.

“Kami terharu..” Lanjut George. Mereka berdua kemudian berusaha memeluk Nicole, yang jelas di hindari oleh gadis berambut cokelat tua itu.

"Tapi itu bukan berarti aku akan membiarkan kalian melakukan percobaan pada anak-anak yang lebih muda!!"

Ancaman Nicole tampaknya tidak berpengaruh sama sekali pada dua pemuda kembar itu. Walau Nicole dan Hermione sudah berulang kali memperingatkan mereka. Namun setidaknya latihan Quidditch yang dilaksanakan Angelina bisa mengurangi waktu mereka untuk menjadikan murid lain sebagai kelinci percobaan.

"Bagaimana?" Tanya Gisselle. Ia dan Nicole sedang duduk di sofa di ruang rekreasi, mengerjakan essay Ramuan mereka ketika team Quidditch Gryffindor berjalan masuk. Tidak ada yang menjawab. Ketujuh anggota team itu hanya memandang kedua gadis yang ada dengan pandangan sedih sebelum berjalan ke arah kamar masing-masing. Gisselle dan Nicole berpandangan dengan heran.

"Parah." Kata Fred paginya. "Parah sekali. Kita pasti kalah dalam pertandingan pertama."

"Aku yakin tidak separah itu.." Kata Nicole.

"Serius Nicole. Kalau Oliver ada kemarin, dia sudah akan meledak." Kata George. Mereka sedang berjalan menuju Aula Utama bersama Gisselle dan Lee untuk makan pagi. Aula Utama luar biasa ribut pagi itu. Tampaknya semua orang membicarakan hal yang sama dari sumber yang sama, Daily Prophet.

"Ada apa?" Tanya George saat mereka semua duduk di meja Gryffindor. Seorang amak memberikan mereka koran penyihir itu dengan muka jelek Umbridge di halaman depan.

"Inkuisitor Agung!" Kata Nicole setelah ia membaca dengan cepat artikel itu. "Dia akan menginspeksi semua guru Hogwarts, untuk melihat apakah mereka layak."

"Apa?!" Desis keempat temannya bersamaan. Namun sayangnya mereka harus bergegas menyelesaikan sarapan mereka dan berlari keluar, menuju rumah kaca untuk mengikuti pelajaran Herbology. Elly bergabung bersama mereka ketika mereka sedang melintasi lapangan. Topik Umbridge yang menginspeksi para guru pun menjadi topik semua orang. Namun ternyata Umbridge tidak menginspeksi pelajaran Herbology.

"Aku heran kenapa kakekmu menyetujui semua hal ini." Kata Elly saat dia, Nicole dan Gisselle memulai praktek mereka di pot yang sama. "Nenek sihir itu keji sekali." Kata Elly. Jelas masih marah dengan perlakuan Umbridge pada adiknya, Harry.

"Kurasa kepala sekolah tidak bisa menghindarinya." Kata Gisselle. Dia membaca ulang instruksi yang di berikan Professor Sprout lalu mengecek pot mereka. “Dia tidak akan bisa menolak jika Menteri Sihir sendiri yang mengeluarkan perintah bukan?” Kedua temannya mengangguk setuju.

“Ya kuharap ia tidak bertahan lebih dari setahun.” Gumam Elly. “Guru-guru sebelumnya juga tidak ada yang bertahan selama lebih dari setahun.”

Nicole mendadak tersenyum. “Aku ragu ia akan bertahan selama setahun di Hogwarts. Sangat meragukan.”

“Dia tidak akan membuat jalanmu menuju Auror sulit kan?”

Pertanyaan Gisselle membuat senyum Nicole menghilang dan dia menatap pot mereka dengan diam. “Iya akan membuatnya sulit. Tapi itu tidak akan menghentikanku.”

“Dengan nilai OWLmu dan nilai NEWTmu nanti yang sudah dapat dipastikan luar biasa, Kementerian tidak akan menolakmu.” Kata Fred. Ia, George dan Lee berbagi pot yang sama tepat di sebelah mereka.

“Weasley, Potter, Ravensdale, Scotthill. Jangan berbicara terus dan lakukan tugas kalian.” Tegur Sprout, membuat ketiga gadis itu langsung bekerja dalam diam hingga akhir pelajaran, dimana Nicole dan Gisselle harus berpisah dengan Elly dan anak Hufflepuff lain yang berjalan menuju kelas Ramuan mereka. Anak-anak Gryffindor berjalan ke arah ruang kelas Mantra.

“Umbridge!” Pekik Gisselle pelan sehingga hanya Nicole yang bisa mendengarnya. Umbridge berjalan masuk ke dalam ruang kelas tepat ketika semua anak-anak baru saja duduk. Flitwick memperlakukan wanita itu selayaknya tamu sementara ia mengajar seperti biasa. Tidak banyak yang Umbridge lakukan di kelas itu, beberapa pertanyaan untuk Alicia dan sudah, sisanya ia hanya mengawasi kelas dalam diam.

“Kurasa Flitwick dinilai cukup baik.” Kata Lee saat mereka berjalan keluar kelas, menuju Aula Utama untuk makan siang. Mereka berlima duduk tepat di sebelah Harry, Ron dan Hermione. Ketiga anak yang lebih muda itu sedang membicarakan nilai OWL.

“Tidak perlu malu kalau begitu.” Kata Fred setelah Ron menyebutkan nilai essaynya yang terbaru. Ia duduk di sebelah kanan Harry. “Tidak ada yang salah dengan huruf ‘P’ yang bagus dan sehat.” Kata-katanya membuat Nicole, yang duduk disebelahnya, menjitaknya pelan dan memberinya deathglare.

“Tapi, bukankah P itu..?” Tanya Hermione.

“Poor, yeah.” Jawab Lee yang duduk di sebelah Nicole sementara George dan Gisselle duduk berdampingan di seberang mereka, tepat di sebelah kanan Hermione. “Tapi lebih baik daripada ‘D’, Dreadful, kan?”

Hermione tampak bersemangat membicarakan nilai-nilai OWL, mengabaikan muka Harry dan Ron yang tampaknya akan mati stress sebentar lagi. Dan tidak lama kemudian Fred, George dan Lee juga mulai jenuh dengan pertanyaan Hermione seputar nilai.

“Bergurulah pada Nicole dan kau akan mendapat O pada semua mata pelajaran.” Kata Fred sambil menyendok sejumlah besar lauk ke atas piringnya. “Aku akan luar biasa heran bila Kementerian menolakmu menjadi Auror, Nicole.”

Harry memajukan tubuhnya sehingga bisa melihat Nicole lebih jelas lagi. “Kau akan menjadi Auror, Nicole?” Tanyanya. Mata hijau pemuda ini berkilat bersemangat. Nicole mengangguk dan tersenyum.

“Wow.” Kata Ron dengan kagum. Namun topik mengenai Auror itu tidak bertahan lama karena topik inspeksi Umbridge mulai di bahas dimana-mana. Kelima anak yang lebih tua itu menceritakan inspeksi Umbridge di kelas Mantra mereka sebelum akhirnya berpisah di Aula Depan dengan Harry, Ron dan Hermione.

Beberapa hari setelahnya, Hermione mendatangi Nicole di ruang rekreasi. Ruang rekreasi cukup ramai malam itu, Fred dan George memperagakan lelucon mereka di depan murid-murid yang lain dan Nicole sendiri hanya menonton dari kejauhan, di pojokan yang sepi dengan buku terbuka di pangkuannya.

“Boleh?” Tanya Hermione sambil menunjuk tempat di sebelah Nicole dan duduk setelah mendapat ijin. “Nicole, aku punya ide.” Kata Hermione dengan suara kecil, wajahnya tampak ragu. Nicole hanya memandang gadis itu, menunggunya untuk melanjutkan. Setelah menarik nafas dalam-dalam, akhirnya Hermione melanjutkan.

“Rasanya kami memerlukan pelajaran Pertahanan yang layak, kelas tersendiri.” Jelas Hermione. “Dan aku ingin kau dan Harry menjadi gurunya. Bagaimana menurutmu?”

Selama beberapa waktu, Nicole tidak mengatakan apapun. Ia tahu dari suaranya, Hermione tidak bercanda sama sekali tentang hal ini. Gadis yang lebih muda ini menunggu dengan sabar hingga akhirnya Nicole membuka mulut.

"Aku tidak yakin bisa mengajar kalian." Kata Nicole dengan perlahan. "Aku tidak meragukan kemampuanku, bukan itu maksudku." Lanjutnya ketika melihat Hermione sudah membuka mulut juga, hendak memprotes kalimat pertama Nicole. "Hanya saja, aku meragukan aku bisa mengikuti perkumpulan itu setiap saat."

"Kenapa?"

Nicole tersenyum kecut. "Aku di awasi." Ia tidak pernah memberi tahu tentang hal ini pada siapapun kecuali kakeknya. Ia bahkan tidak dapat menulis surat pada Oliver dengan leluasa. Hermione membuka mulutnya dengan kaget, tapi tidak ada kata-kata yang keluar. "Tenang saja, Harry tidak diawasi. Tidak seketat diriku."

"Ba-bagaimana bisa? Kenapa?" Tanya Hermione, tidak percaya akan apa yang baru ia dengar. Nicole menempatkan jari telunjuknya di depan bibirnya, menyuruh Hermione untuk mengecilkan suaranya.

"Umbridge dan Kementerian melihatku sebagai ancaman yang lebih besar. Sebagai cucu Dumbledore yang sudah cukup umur, aku tidak heran mereka mengawasiku." Jawab Nicole dengan suara pelan. "Aku akan membantu kalian, namun tidak selalu."

Hermione mengangguk. "Jika kau sempat, kunjungan Hogsmeade pertama, di Hog's Head."

Kunjungan Hogsmeade pun tiba dengan cepat. Seperti biasa, Nicole Elly dan Gisselle menemani si kembar dan Lee berkunjung ke Zonko. Hanya saja kali ini mereka di temani satu orang lagi, Felicia Diggory, yang menempel erat dengan Lee. Hubungan mereka sejak Yule Ball tahun lalu menjadi semakin dekat. Terutama karena Lee satu-satunya orang yang berhasil menghibur Feli ketika Cedric meninggal.

"Oke?" Kata Fred mengecek belanjaan mereka dan menoleh ke Lee. Pemuda berkulit gelap itu mengangguk sebagai jawaban. "Baiklah! Tujuan berikutnya! Hog's Head." Kata Fred seraya memimpin jalan ke arah kedai kumuh itu. Ketika mereka sudah dekat, muka Nicole menunjukan kalau dia gelisah.

"Ada apa?" Tanya Gisselle yang menyadari perubahan ekspresi sahabatnya.

"Pergi ke Hog's Head.." Jawab Nicole. "..bukan sesuatu yang ku anggap nyaman."

"Hog's Head memang bukan tempat yang nyaman." Kata George sambil nyengir.

"Bukan itu alasanku.." Kata Nicole, tapi dia tidak melanjutkan kata-katanya karena mereka bertemu dengan sejumlah murid lain di perjalanan menuju Hog's Head seperti Ginny dan rombongan pemuda Ravenclaw, Cho Chang dan temannya Marietta Edgecombe, anak-anak kelas lima Hufflepuff, Robert dan Calvin. Bersama-sama mereka memasuki kedai minum yang kumuh itu. Entah kenapa Nicole berjalan sedikit di belakang Fred dan George, dan menghindari kedai tempat seorang pria tua berdiri. Namun tidak bisa di hindari, pria tua itu telah melihat Nicole dan mukanya mengernyit. Nicole sendiri mengkerutkan kening dan segera menarik kursi untuk duduk.

Setelah seluruh rombongan datang, 'rapat' kecil ini pun dimulai. Hermione mulai menjelaskan mengenai idenya membentuk grup belajar praktek Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam dan topik pun sampai pada Voldemort dan kematian Cedric. Elly dan Feli bergerak di kursi mereka, merasa tidak nyaman hingga akhirnya topik itu selesai.

"Kenapa bukan Ravensdale yang mengajari kita?" Tanya salah satu anak Hufflepuff, Zacharias Smith dan pandangan pun beralih ke arah Nicole. Beberapa gumaman setuju juga di lontarkan menyusul perkataan Zacharias Smith.

"Ah, itu--"

"Karena, sayangnya Mr. Smith. Aku tidak bisa hadir setiap saat. Aku akan membantu Harry sebisanya namun tolong jangan mengandalkanku. Praktek mantra di kelas dan di dunia luar itu berbeda, dan pengalamanku di dunia luar tidak bisa di bandingkan dengan Harry." Jelas Nicole, jelas dan tegas sehingga tidak ada yang berani menentang gadis itu lagi. Sisa pertemuan itu pun berlangsung dengan lancar, Nicole dan yang lain juga membubuhkan tanda tangan sebelum akhirnya pertemuan itu selesai.

Ketika semuanya berjalan dengan lancar, terlalu lancar, pasti akan ada sesuatu yang layak di khawatirkan menyusul selanjutnya. Pengumuman mengenai larangan grup pelajar dari Umbridge terpasang jelas di papan pengumuman suatu pagi, beberapa sejak pertemuan kecil-kecilan di Hog's Head di adakan. Bahkan Quidditch pun di larang oleh Umbridge, hal ini tentu saja membuat Fred dan George kesal. Angelina sendiri telah mengeluh terang-terangan kepada Nicole. Namun gadis berambut cokelat tua ini hanya bisa menyarankan pada Angelina agar ia menemui McGonagall karena akhir-akhir ini ia kesulitan menemui kakeknya sendiri secara pribadi.

"Apakah menurutmu kau di awasi saat kita pergi ke Hog's Head?" Tanya Hermione suatu malam di ruang rekreasi. Nicole menggeleng.

"Tidak. Aku sudah memastikannya hingga tiga kali saat itu." Jawab Nicole. "Kalian masih akan melaksanakan kegiatan itu?"

Hermione menggigit bibir bawahnya. Mukanya terlihat ragu dan cemas. "Entahlah. Mrs. Weasley melarang kami sementara Sirius mendukung rencana kami. Bagaimana menurutmu?"

"Setiap keputusan mempunyai resikonya tersendiri." Jawab Nicole seraya memainkan pena bulu yang sedang di pegangnya. "Jika kau melanjutkan, ada resiko di keluarkan. Jika tidak, ada resiko kau tidak bisa mempertahankan diri." Gadis yang berumur 17 tahun itu lalu terdiam sejenak. "Lebih besar resiko yang kedua, bukankah begitu?" Nicole pun bangkit berdiri dan meninggalkan Hermione yang terdiam dan memikirkan kata-kata Nicole.

Beberapa hari setelah percakapan Nicole dan Hermione, gadis yang lebih muda itu kembali mendatangi Nicole yang sedang duduk di perpustakaan bersama Gisselle dan Elly. Hanya saja kali ini ia bersama Harry dan Ron serta muka ketiganya tampak bersemangat.

"Nicole, apakah kau pernah mendengar tentang Kamar Kebutuhan?" Kata Harry dengan bersemangat.

"Kamar Kebutuhan? Tentu aku pernah mendengarnya, memangnya kena--Oh!!" Kata-kata Nicole terhenti karena ia menyadari apa maksud tiga sekawan itu. Harry, Ron dan Hermione saling berpandangan dengan muka antusias.

"Kita akan bertemu disitu. Malam ini pukul 8." Kata Harry sekali lagi sebelum ia, Ron dan Hermione berbalik dan berjalan dengan cepat keluar dari perpustakaan, hendak mencari anggota lainnya.

"Kamar Kebutuhan?" Tanya Elly.

"Kamar misterius milik Hogwarts yang selalu ada hanya bila seseorang membutuhkannya." Jelas Nicole. "Aku pernah mendengarnya dari kakekku. Katanya kamar itu selalu berubah-ubah tergantung apa yang dibutuhkan"

"Jadi maksudmu, bila kita menginginkan tempat untuk pertemuan kita.." Kata Gisselle.

"Maka kamar itu akan menyediakannya untuk kita.." Lanjut Nicole.

"Dan Umbridge tidak akan tahu!" Kata Elly riang.

Malamnya, Nicole, Elly dan Gisselle berjalan ke lantai 7, tempat Kamar Kebutuhan berada, bersama Fred, George, Lee dan kembali lagi bersama mereka, Feli. Semuanya jelas terkejut melihat ruangan yang dulu nya tidak ada itu. Setelah pemilihan nama dan ketua yang sebenarnya tidak perlu di pilih lagi. Laskar Dumbledore pun memulai praktek pertama mereka.

"Maaf merepotkanmu." Kata Harry ketika Nicole merapikan kekacauan akibat salah mantra dari berbagai anak.

"Bukan apa-apa." Jawab Nicole dengan nada santai. Gisselle dan Elly juga membantunya sementara si kembar malah tambah membuat masalah dan alhasil, Nicole kembali mengejar mereka berdua.

Minggu-minggu berikutnya berjalan dengan sangat menyenangkan bagi anggota LD. Hermione menemukan cara agar bisa memberi tahu semua anggota LD tanpa menimbulkan kecurigaan sehingga mereka bisa dengan aman mengetahui jadwal baru latihan mereka. Nicole sendiri terpaksa tidak mengikuti beberapa latihan karena Umbridge menempelinya dengan pekerjaan sebagai Ketua Murid yang sebenarnya di buat-buat.

Pertandingan Quidditch sudah di depan mata sehingga seluruh team Gryffindor mempunyai kesibukan lain dan sementara pertemuan LD di hentikan karena ketua mereka adalah seeker andalan Gryffindor. McGonagall juga secara tidak langsung mendukung kemenangan Gryffindor di pertandingan mendatang karena guru yang termasuk 'killer' itu tidak memberi pr pada anak kelas manapun dari asrama Gryffindor.

"Pertandingan pertama tanpa Oliver." Jata Fred seraya mengernyit. Mereka semua sedang makan pagi di Aula Utama, beberapa jam sebelum pertandingan Quidditch Gryffindor melawan Slytherin. Dia menusuk-nusuk sosis panggangnya dengan tidak bersemangat. Kerja Nicole bertambah sekarang, selain menyuruh Gisselle untuk makan, hari ini dia harus memaksa si kembar juga.

"Oliver mengucapkan salam. Semoga beruntung." Kata Nicole yang baru saja di berikan surat oleh Natte, burung hantu hitamnya. "Dia juga bilang kalian harus menang, kalau tidak awas." Lanjutnya setelah membaca surat panjang dari pacarnya itu. Fred dan George mengerang frustasi.

"Salam yang bagus sekali Oliver.." Keluh George.

Ketika Angelina bangkit berdiri dan menyuruh seluruh teamnya pergi ke ruang ganti, Nicole, Gisselle, Elly, dan Feli menyusul tidak lama kemudian dan duduk di tempat duduk penonton. Gisselle dengan Nicole di tempat Gryffindor bersama Hermione sementara Elly dan Feli di tempat duduk Hufflepuff. Pertandingan awalnya berjalan sepihak. Slytherin berulang kali mencetak gol yang di jaga oleh Ron sehinggal kerumunan murid memakai atribut berwarna hijau menyanyi lagu 'Weasley Raja Kami' yang isinya ejekan-ejekan keji. Skor mencapai 40-10 dimana Slytherin memimpin, ketika Harry akhirnya menangkap Snitch.

"Kita menang! Kita menang!" Kata Hermione dengan riang dan memeluk Gisselle. "Dan kuharap Crabbe kena detensi atas perbuatannya!" Crabbe memang memukul Bludger ke Harry saat pemuda itu sudah menangkap Snitchnya. Gisselle ikut bersorak bersama Hermione dan anak Gryffindor yang lain namun Nicole menatap ke lapangan dan melihat ke arah para pemain yang sedang berkumpul disana.

"Apa yang mereka lakukan.." Gumam Nicole, yang lalu meloncat turun dari kursinya dan berlari ke lapangan, mengabaikan panggilan bingung dari Gisselle dan Hermione. Sampai dilapangan, apa yang dia lihat menjadi lebih parah daripada yang tadi ia lihat dari box penonton. Entah apa yang Malfoy katakan sehingga George dan Harry menerjang ke arahnya. Nicole berlari dan mencegah Fred tepat pada waktunya. Ia lepas dari pegangan Angelina, Katie dan Alicia lalu pasti sudah menerjang Malfoy bila Nicole tidak menjegal kakinya dan menindih pemuda itu di punggungnya.

"Tenangkan dirimu idiot." Desis Nicole pada Fred sementara Madam Hooch meluncurkan mantra perintang pada George, Harry dan Malfoy.

"Lepaskan aku Nicole!" Teriak Fred sambil memberontak. Alih-alih melepaskan pegangannya pada Fred, Nicole menarik lengan pemuda itu sehingga terlipat di punggungnya dan memeganginya dengan erat.

"Kau ingin terlibat masalah? Para guru mengawasi dan Umbridge juga!" Desis Nicole lagi. "Tenangkan dirimu dan aku akan melepaskanmu." Mendengat kata-kata Nicole, Fred berhenti memberontak dan menjadi tenang. Memenuhi janjinya, Nicole melepaskan pemuda itu dan bangkit berdiri dari punggung Fred.

"Terima kasih, Miss Ravensdale." Suara manis Umbridge terdengar dari belakang mereka. Tanpa menunjukan ekspresi apapun, Nicole mengangguk sebagai balasan. George dan Harry sudah pergi ke ruang McGonagall, sesuai dengan perintah Madam Hooch. Gisselle dan Elly menyusul kedua pemuda itu. "Tolong bawa Mr. Weasley dan yang lain kembali ke ruang rekreasi kalian, ya?" Kata Umbridge sekali lagi sebelum berjalan kembali ke kastil, kemungkinan besar menyusul George dan Harry.

"Ayo kalian." Kata Nicole pada seluruh team Gryffindor yang masih shock akan apa yang baru saja terjadi. "Ke ruang rekreasi. Ayo! Cepat!" Kata-kata terakhir Nicole seakan-akan menyadarkan mereka dan langsung saja Angelina, Alicia dan Katie melesat untuk berganti baju, di susul oleh Ron dan, walau enggan, Fred.

Tidak ada yang berpesta walau mereka memenangkan pertandingan pertama mereka. Semuanya cemas dengan nasib George dan Harry yang masih berada di ruang McGonagall. Fred masih kesal pada Nicole karena menahannya agar tidak meninju Malfoy sampai terjatuh. Pemuda berambut merah itu berjalan mundar-mandir di dalam ruang rekreasi namun menghindari menatap ke arah Nicole yang hanya duduk diam di salah satu sofa empuk dekat perapian.

Akhirnya lukisan Nyonya Gemuk pun terbuka dan Gisselle melangkah masuk, diikuti oleh George dan Harry yang tampak baru bertemu setan. Muka kedua pemuda itu pucat pasi dan tidak mengatakan apapun saat mereka duduk di sofa. Gisselle melirik pacarnya sekali sebelum akhirnya menjelaskan kejadian yang di ceritakan George saat dia baru keluar dari ruang kantor McGonagall.

"Larangan.." Kata Fred. Mukanya juga pucat pasi setelah mendengar cerita Gisselle. "Seumur hidup bermain di team?" Tidak ada yang berkata-kata. Semua orang kaget mendengar keputusan Umbridge yang melarang kedua Beater dan Seeker mereka bermain seumur hidup. Fred sendiri terdiam setelah mengatakan hal itu sebelum ia menoleh ke arah Nicole dengan geram.

"Jika ini keputusannya, harusnya tadi kau biarkan aku menghajar si Malfoy itu sampai babak belur."

Nicole menatap balik pemuda itu. "Dan apa tujuanmu melakukan itu? Membuat kondisi lebih buruk dari ini?"

"Tidak ada yang bisa lebih buruk dari ini!"

"Oh tentu saja ada."

"Kau menghentikanku hanya karena kau Ketua Murid dan kau ingin mempertahankan posisimu!" Teriak Fred. "Kau ingin bertingkah baik di depan Umbridge saja!"

"Fred!"

Teriakan Ginny menyadarkan Fred dari emosinya yang terlalu meledak akibat keputusan Umbridge yang tidak adil itu. Fred langsung menutup mulutnya yang tadinya sudah hendak berteriak lagi pada Nicole.

"Kau lupa aku cucu dari siapa Fred?" Suara Nicole terdengar dingin. "Untuk apa aku mencari muka di depan petugas Kementerian?"

"A-aku.. Tidak.." Kata Fred terbata-bata, namun Nicole menyela perkataannya.

"Dan kondisi yang lebih buruk adalah kalian bertiga di keluarkan dari sekolah, atau team Quidditch Gryffindor dibubarkan." Kata Nicole seraya bangkit berdiri. "Dan permisi, aku ingin tidur." Sebelum ada yang bisa berbicara, Nicole telah naik ke asrama perempuan dan menutup pintu kamarnya.

"Bagus sekali kawan." Kata George dengan muram. "Kau baru saja membuat marah seekor singa."

***TBC***

A/N : Mohon maaf apabila ada kesalahan *bows*

Original Plot by : Our Queen, JK Rowling
The ‘new’ plot Made by : Liz
Take out with full credits please~ ^^

0 komentar:

Posting Komentar