Rabu, 09 Juli 2014

Hogwarts' Beloved : Chapter 16

Chapter 16 : Dammit, I Can’t Forget You
                                                (Setting : HP 3 )

“Kau sudah dengar?”

“Mereka berdua putus?”

“Bagaimana bisa?”

“Tidak mungkin!!”

Bisik-bisik seperti itu mengikuti Nicole sejak kabar bahwa ia dan Oliver Wood putus menyebar. Hingga bahkan liburan Natal pun, bisik-bisik itu tidak mereda. Nicole telah meminta kakeknya untuk memberi tahu para guru untuk tidak menekan Oliver atau semacamnya karena mereka berdua putus dan tampaknya semua guru mengikuti perintah kakeknya.

Pagi di hari Natal, Nicole terbangun sendirian di kamarnya. Semua teman sekamarnya termasuk Gisselle pulang dalam liburan Natal ini. Ruang rekreasi ramai dengan kemunculan kado misterius milik Harry, Firebolt dikirimkan padanya namun tanpa surat sama sekali. Semua orang terkagum-kagum melihat sapu baru Harry itu, semua kecuali Hermione.

“Apakah ada kemungkinan sapu itu berasal dari Sirius dan berisi sihir hitam?” Tanya Hermione pada Nicole. Mereka berdua sedang duduk di pojokan, menjauh dari kerumunan yang mengelilingi Harry. Nicole sendiri tidak mau melihat sapu Harry karena itu hanya akan mengingatkannya akan Oliver. Gadis yang lebih tua itu menoleh menatap Hermione, lalu ke arah Harry.

“Mungkin saja.” Jawab Nicole dengan pelan setelah beberapa saat memperhatikan Firebolt di genggaman Harry. “Selalu ada kemungkinan seperti itu.”

Hari Natal Nicole berjalan dengan hampa, benar-benar hampa. Dia hanya di temani Elly, yang tampaknya masih ‘shock’ melihat kejadian di kunjungan Hogsmeade mereka yang terakhir. Si kembar tidak membuat masalah apapun dan bahkan tidak mengganggu Nicole. Tampaknya Gisselle telah memberi tahu mereka berdua cerita Nicole. Nicole memang telah menceritakan ‘kejadian itu’ pada kedua sahabatnya.

Malamnya, seperti biasa, Nicole duduk di pojokan dengan buku yang terbuka di pangkuannya, namun dia tidak membacanya. Harry dan Ron masih sibuk menganggumi Firebolt ketika lukisan Nyonya Gemuk mengayun terbuka dan McGonagall melangkah masuk diikuti oleh Hermione. Mereka berdua menghampiri Harry dan Ron dan selama beberapa saat McGonagall sibuk berbicara dengan kedua pemuda itu sebelum akhirnya membawa Firebolt pergi. Nicole menghampiri tepat saat Ron dan Hermione saling berteriak.

“Nicole! Katakan padanya bahwa itu mustahil dan dia terlalu paranoid!” Kata Ron ketika melihat Nicole mendekat. Gadis yang lebih tua itu menatap tiga sekawan itu secara bergantian sebelum mengeluarkan pendapatnya.

“Sebetulnya Ron, aku setuju dengan Hermione.”

Ron menjambak rambutnya sendiri karena frustasi, “Tapi dengan itu kita bisa menang! Dan ini tepat pada tahun terakhir Oliver bukan? Kau tidak mau membantunya untuk menang?”

Dengan cepat Harry menginjak kaki Ron, namun terlambat, perkataan Ron sudah terdengar oleh Nicole dan efeknya mulai terlihat. Padangan Nicole mendingin dan tanpa berkata apapun dia berbalik dan kembali duduk di sofanya, sedikit jauh dari tempat tiga sekawan dan membuka bukunya kembali.

Fred menjitak kepala adiknya, “Bagus sekali Ronnie, bagus sekali.” Katanya dengan nada yang sarkastik sebelum menyusul Nicole, diikuti oleh George.

Liburan Natal pun berlalu begitu saja dan semester kedua pun di mulai. Seluruh murid kelas lima sudah mulai sibuk menyiapkan OWL mereka. Berulang kali Nicole menemani Fred, George, Angelina dan Alicia belajar hingga larut malam di ruang rekreasi karena jadwal Quidditch mereka yang mengharuskan mereka berlatih hingga larut. Gisselle tidak diijinkan Nicole menemaninya karena takut kesehatan gadis itu memburuk. Mereka berlatih dan belajar di ruang rekreasi yang mulai sesak karena banyak anak lainnya yang memutuskan untuk bergabung dengan mereka, hingga akhirnya, Nicole memutuskan untuk meminjam kelas pada para guru.

“Tentu saja boleh Nicole.”

“Terima kasih Professor.”

Tepat ketika Nicole selesai berbicara pada McGonagall sore hari itu, Oliver berlari mendekat. Tampaknya pemuda itu tidak menyadari siapa yang baru saja berbicara dengan Professor wanita itu.

“Professor!! Ku dengar anda menyita sapu Harry? Mengapa?” Tanya Oliver, benar-benar terfokus pada McGonagall. Hal ini membuat Nicole bertambah kesal. Pemuda ini memang sering begitu, melupakan hal yang lain demi Quidditch. Gadis itu sangat ingin segera menyingkir, tapi ia harus meminta kunci kelas Transfigurasi terlebih dahulu pada McGonagall.

“Memang, Wood. Ada kemungkinan sapu tersebut di mantrai oleh Sirius Black.” Kata McGonagall dengan tenang.

“Ku mohon Professor, kembalikan sapu Harry agar kita bisa menang!”

Nicole bisa melihat McGonagall sejak tadi menahan marahnya, sebetulnya, sepertinya ia sudah menahan marah sejak beberapa hari yang lalu, tepatnya sejak berita bahwa Nicole putus. Wanita tua itu memang sudah menganggap Nicole sebagai anaknya sendiri.

“Kau salah membuat prioritas Wood. Kau harusnya lebih memperhatikan keselamatan anggota team mu daripada kemenangan.” Kata McGonagall, masih berusaha tetap tenang.

“Yah, aku tidak peduli sapu itu akan menjungkalkannya asal dia menangkan snitchnya terlebih dahulu..” Kata Oliver sambil tersenyum lebar. Nicole sudah siap meneriaki ‘mantan’nya itu ketika ia diserobot kepala asramanya sendiri.

“OLIVER WOOD!!” Suara McGonagall membuat baik Oliver maupun Nicole melonjak kaget. “KAU INI KAPTEN ATAU BUKAN? KAU SEHARUSNYA MEMPERHATIKAN ANGGOTAMU TERLEBIH DAHULU BARU KEMENANGAN.”

Perlu beberapa saat bagi Oliver untuk sadar dari keterkejutan dan ketakutannya. Pemuda berumur 17 tahun itu lalu bertanya dengan suara yang lebih sopan dan berhati-hati. “S-sampai kapan anda akan memeriksanya Professor?”

McGonagall memberikan pandangan galaknya pada Oliver, “Selama masih diperlukan, Wood.” Mendadak wanita itu menoleh ke arah Nicole, membuat gadis itu melonjak kaget karena tidak menyangka akan di pandang secara mendadak seperti itu. “Ini kunci untuk kelasku, Nicole. Pastikan kau menguncinya kembali setelah selesai menggunakan. Selamat malam.”

Nicole menerima kunci dari professor itu dan memberikan ucapan ‘Selamat malam’nya dengan sedikit terbata-bata karena masih terkejut. Dengan cepat McGonagall meninggalkan dirinya dan Oliver di lorong, dan hanya berdua, di dalam keheningan yang canggung.

“Nicole.”

Entah berapa lama gadis itu tidak mendengar namanya di panggil oleh suara itu. Sebulan? Sepertinya lebih, walau bagi Nicole rasanya begitu lama. Gadis itu tidak bergerak sama sekali, bahkan menolak untuk menatap pemuda yang memanggilnya tadi. Oliver bergerak mendekat dan memegang tangan Nicole dengan lembut.

“Kau masih belum berubah.” Kata Nicole sebelum Oliver sempat berkata-kata. “Kemenangan di Quidditch di atas segalanya, hm?” Nicole menarik tangannya kembali namun pemuda itu tidak mau memelepaskannya. Sudah berapa lama ia tidak berbicara ataupun memegang tangan gadis yang selalu di pikirannya itu. Quidditch diatas segalanya? Ia sedih ketika kalah dari Hufflepuff, tapi ia bisa mati ketika Nicole meninggalkannya.

“Tidak.” Kata Oliver. “Bukan Quidditch.” Pemuda itu menarik Nicole ke pelukannya. Betapa herannya Nicole ketika ia mendapati dirinya tidak mempunyai keinginan untuk menolak pelukan Oliver. Wangi tubuh pemuda itu, kedua lengannya yang memberikan rasa aman, rambut cokelat yang menggelitik wajahnya ketika Oliver meletakan kepalanya di pundak Nicole, betapa ia merindukan itu semua.

“Bukan Quidditch, tapi dirimu.” Oliver mengeratkan pelukannya. Melakukan itu selalu membuatnya merasa lebih tenang. Tidak perlu sebuah pelukan sebenarnya, melihat senyuman gadis itu saja sudah cukup membuatnya tenang dan percaya diri. Oliver merasa dia tidak akan bisa bermain dengan baik jika Nicole masih menghindarinya. Tidak hanya dalam Quidditch, bahkan dalam pelajaran dan hal lainnya dia mengalami kemunduran. Dan penyebabnya hanya ada satu, Nicole Ravensdale, gadis yang telah mencuri hati dan pikirannya.

'Kumohon, berikan aku kesempatan lagi. Jangan tinggalkan aku.' Kata-kata itu hendak di lontarkan oleh Oliver, tapi entah mengapa, ia takut. Takut Nicole akan menjawab tidak dan lebih jauh lagi meninggalkannya. Keheningan menyelimuti mereka kembali sampai akhirnya Nicole melepaskan diri dari pelukan Oliver dan berjalan pergi. Kedua tangan gadis itu terkepal disisi tubuhnya, ia juga menggigit bibir bagian bawahnya, kebiasaan setiap kali ia merasa tegang atau gugup.

Oliver tidak mengejarnya. Sebagian hati Nicole kecewa ketika pemuda itu tidak mengejarnya, sebagian lagi lega karena jika Oliver melakukannya, ia tidak yakin bisa tetap memasang muka tangguhnya.

‘Aku masih mencintainya.’ Pikir Nicole.

Oliver memandang punggung Nicole yang semakin menjauh. Kedua kalinya ia melihat kejadian ini dan sakitnya tak tertahankan. Pemuda itu meninju dinding disebelahnya dengan keras dengan kepala tertunduk, menahan air mata yang siap jatuh.

‘Aku masih mencintaimu, Nicole.’ Bisik Oliver.

***

“Mau taruhan?”

Nicole, yang sudah berhasil mengembalikan kinerjanya menjadi senormal mungkin, sibuk melamun sehingga tidak mendengar perkataan pemuda yang duduk di hadapannya di perpustakaan ini.

“Apa?” Tanya Nicole seraya mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali, memfokuskan pandangannya pada Robert. Robert mengetuk-ketukan jarinya di meja dengan tidak sabar walau senyuman terlukis di wajahnya.

“Taruhan. Untuk pertandingan berikutnya. Asramamu melawan asramaku bukan?” Kata Robert lagi. Nicole mengernyit, Quidditch lagi, apa di pikiran kaum lelaki hanya Quidditch saja? Tapi tentu saja ia masih mempunyai ‘pride’ sebagai seorang Gryffindor.

“Gryffindor akan menang tentu saja.” Kata Nicole dengan cepat. Robert tertawa mendengar jawaban gadis itu.

“Kalau begitu, kita taruhan!”

“Apa taruhannya?”

“Jika Ravenclaw menang, kita jalan-jalan bersama saat musim panas nanti.”

Kepala Nicole nyaris jatuh dari tangannya yang sejak tadi menopang dagunya. Jalan-jalan? Di musim panas? Ia bahkan belum pernah melakukannya bersama sahabatnya. Oliver sendiri belum pernah mengajaknya. Muka Nicole menjadi sedikit murung ketika mengingat pemuda itu lagi, tampaknya ia tidak bisa menghilangkan kebiasaan memikirkan pemuda itu dalam waktu yang dekat.

Melihat muka murung Nicole, Robert langsung merasa sedikit panik. “Jika tidak mau tidak apa-apa kok!” Katanya dengan terburu-buru. Ia takut menyinggung perasaan gadis yang menjadi idolanya ini. Betapa leganya dia ketika Nicole menggeleng.

“Tenang saja, kuterima tawaranmu itu. Tapi jika Gryffindor menang, apa yang ku dapat?” Pertanyaan Nicole membuat Robert berpikir, dalam waktu yang tidak singkat, sehingga Nicole hampir merasa kasihan dan hendak berkata bahwa dia tidak akan meminta apa-apa ketika akhirnya Robert menjawab dengan senyuman lebar khasnya.

“Apa saja!”

“Apa saja?”

“Apa saja!”

Nicole tertawa kecil, sesuatu yang ia jarang lakukan akhir-akhir ini. “Baiklah, deal!!”

***

Hari pertandingan Quidditch pun tiba. Seluruh anak Gryffindor merasa tegang dan bersemangat, terlebih karena kehadian Firebolt milik Harry. Nicole memang menemani Gisselle dan Elly ke ruang ganti dan mengucapkan semoga berhasil pada si kembar dan Harry bersama kedua sahabatnya itu, namun ia tidak, sama sekali tidak, mengucapkan apapun pada Oliver dan pemuda itu melakukan hal yang sama. Walau jelas sekali ia terus memandangi Nicole secara diam-diam.

“Kita harus menang.” Kata Fred ketika Nicole, Gisselle dan Elly sudah berjalan pergi menuju tempat duduk mereka di tempat penonton, saudara kembarnya mengangguk mendengar perkataan Fred.

“Tenang saja, kita pasti menang.” Timpal George. Ke-antusias-an kedua pemuda kembar itu menarik perhatian anggota team yang lain.

“Aku mengerti kalian antusias karena ini kesempatan kita memperbaiki posisi di turnamen kali ini, tapi rasanya ada sesuatu yang lebih.” Kata Angelina pada mereka berdua. Fred dan George memandang gadis itu dengan mata berapi-api.

“Karena jika kita kalah, Nicole akan pergi berjalan-jalan bersama Robert di musim panas!” Kata mereka bersamaan. “Dia selalu menolak ajakan kami namun sekarang ia taruhan dengan Robert!”

“Robert? Robert Abernathy? Pemuda berambut biru tua yang menjadi prefect Ravenclaw?” Kata Alicia bersemangat sementara Katie dan Angelina bertukar senyuman.

“Kau mengenalnya?” Tanya George.

“Tidak, tapi ia cukup terkenal di antara murid perempuan. Robert Abernathy dan Calvin Cornellius. Duo berwajah tampan dari Ravenclaw.” Jawab Katie sambil terkikik bersama dua chaser lainnya.

“Ternyata dia mengejar Nicole? Wah tidak kusangka.” Kata Alicia sebelum Angelina menyenggolnya agar gadis itu diam. Mereka semua menyadari adanya perubahan di ekspresi Oliver dan langsung mengganti topik pembicaraan.

Hati Oliver mencelos mendengar pembicaraan itu. Selama sesaat, ia ingin berlari keluar dan memastikannya sendiri pada Nicole dan melarang gadis itu melakukan taruhan seperti itu. Lalu ia sadar, ia tidak bisa melakukannya, ia tidak mempunyai hak lagi untuk melarang gadis itu bergaul dengan orang lain. Satu-satunya cara untuk mencegah hal itu terjadi adalah menang. Mereka harus menang agar Robert kalah taruhan.

Dan benar, Gryffindor dengan mudah memenangkan pertandingan berkat sapu super milik Harry. Pesta kemenangan berlangsung meriah sehingga Nicole dan Joe dengan susah payah berusaha menghentikan pesta tersebut. Gagal total, padahal mereka sudah di bantu oleh Percy. Pesta baru berakhir ketika McGonagall masuk kedalam ruang rekreasi dan menghentikan mereka.

Rasanya baru saja Nicole membaringkan tubuhnya di kamarnya bersama 4 teman sekamarnya, ketika suara ribut di ruang rekreasi membangunkan mereka semua. Dengan cepat, prefect Gryffindor itu memakai jaketnya dan berlari keluar. Dia tiba bersamaan dengan Percy dan mereka berdua langsung menyuruh para murid kembali ke tempat tidur mereka ketika Ron memprotes.

“Sirius Black! Di dalam kamar kami! Bawa pisau! Membuatku bangun!” Perkataan Ron terbata-bata namun Nicole bisa mengerti maksudnya. Gadis itu langsung berjalan menuju kamar Ron sementara Percy berdebat dengan adiknya itu.

“Eh, Nicole?” Kata Neville. Pemuda yang tidur sekamar dengan Ron dan Harry itu mengikuti Nicole dengan penasaran. Nicole mengabaikannya dan memeriksa robekan di tempat tidur Ron.

“Kalian benar-benar tidak menyadari apapun?” Akhirnya Nicole bertanya pada Neville, serta Seamus dan Dean yang menyusul mereka belakangan. Ketiga pemuda itu mengangguk. Tidak lama kemudian, terdengar langkah kaki dan McGonagall muncul di ambang pintu.

“Bagaimana?” Tanya wanita itu. Nicole menunjuk kelambu yang robek dan McGonagall langsung mendesah frustasi.

“Kumpulkan seluruh anak di ruang rekreasi. Kau, Lawrence dan Weasley, Percy maksudku, berjaga di depan lukisan Sir Cadogan.”

Malam itu menjadi malam yang sangat melelahkan bagi Nicole. Hari-hari berikutnya pun tidak bertambah ringan. Keamanan sekolah di perketat dan itu berarti tambahan pekerjaan bagi Nicole. Terlebih juga karena ia masih harus mengajari si kembar setelah latihan, yang kadang sering di lewati oleh kedua pemuda itu.

Suatu malam, Nicole duduk sambil membaca bukunya, menunggu si kembar untuk kembali ke ruang rekreasi setelah latihan mereka dan mendadak rasa kantuk menguasainya. Beberapa kali ia mengerjap-ngerjap kan matanya untuk melawan rasa kantuk itu namun apa daya, ia tidak berhasil dan akhirnya tertidur pulas di ruang rekreasi.

Lukisan Nyonya Gemuk mengayun terbuka dan para anggota team Quidditch Gryffindor pun melangkah masuk satu persatu. Mereka semua sedang mengobrol dengan riang karena final Quidditch sudah berada di depan mata. Obrolan itu terhenti saat semuanya melihat Nicole yang tertidur dengan buku terbuka di pangkuannya. Fred dan George bertukar pandang.

"Ah, ini kesalahan kami. Kami memintanya mengajari kami setelah latihan Quidditch." Kata Fred sambil berjalan mendekati Nicole dan memperhatikan gadis itu. "Sebaiknya kubangunkan." Belum sempat Fred menyentuh tangan Nicole untuk membangunkannya, Oliver menepuk pundak Fred.

"Bolehkah?" Kata Oliver dengan suara pelan. Tidak ada yang bersuara. Semua bingung dengan permintaan mendadak dari kapten mereka itu. Fred berbalik dan menatap Oliver dengan pandangan menilai yang dingin. Ia tidak peduli fakta bahwa kaptennya lah yang sedang berhadapan dengannya. Ia tidak peduli siapa yang ia hadapi jika hal itu menyangkut kebahagiaan gadis yang sedang tertidur di belakangnya itu. Namun melihat mata Oliver, Fred menyadari bahwa pemuda yang lebih tua itu sama dengannya.

"Baiklah." Kata Fred akhirnya dan ia berjalan masuk ke kamarnya bersama George. Anggota team yang lain pun mengikuti jejak mereka hingga akhirnya hanya ada Oliver dan Nicole yang tertidur di ruang rekreasi Gryffindor itu. Pemuda itu duduk di sebelah gadis itu dan menatapnya lekat-lekat. Setiap lekuk wajahnya, rambutnya yang berwarna cokelat tua, bibirnya, astaga, ia tau ini terdengar tidak benar tapi ia merindukan sensasi bibir itu di pipi dan bibirnya sendiri.

Tanpa sadar, Oliver meletakan tangannya dengan lembut di pipi Nicole dan mendekatkan kepalanya ke kepala gadis itu. Dengan lembut, ia menarik kepala Nicole mendekat dan menciumnya.

Nicole terbangun ketika merasakan sesuatu yang lembut menyentuh bibirnya. Betapa kagetnya dia ketika mendapati Oliver sedang menciumnya. Ciuman itu sedikit berbeda dari ciuman-ciuman mereka sebelumnya. Entah mengapa Nicole bisa merasakan 'hati' Oliver melalui ciuman itu dan hal itu lah yang menghentikan niatnya untuk mendorong pemuda itu menjauh walau ciuman itu semakin dalam tiap detiknya

Posisi Oliver saat ini sedang menahan berat tubuhnya dengan satu tangan terletak di sisi lain tubuh Nicole, bukan sisi yang berdekatan dengannya. Ia tidak bisa menahan dirinya untuk tidak memperdalam ciuman. Sudah berapa lama ia tidak mencium gadis ini? Badan Nicole bergerak sedikit dan ia tahu bahwa gadis itu telah bangun dari tidurnya. Panik, ia kehilangan keseimbangan dan kekuatan di tangannya sehingga mendorong Nicole jatuh di sofa.

Nicole terpekik terkejut ketika badan Oliver menimpanya dan ia harus terbaring di sofa, yang untungnya cukup panjang, dengan pemuda itu diatasnya. Oliver dengan cepat meletakan tangannya di sisi tubuh Nicole untuk menopang tubuhnya lagi, dan berusaha untuk duduk tegak kembali. Namun ketika ia melihat muka Nicole, ia memutuskan untuk tidak melakukan hal itu.

"Kenapa.." Gumam Nicole sambil menutupi kedua matanya dengan kedua tangannya, mukanya merah padam. "..kau melakukan itu?"

Oliver mengira gadis itu marah. Bagaimanapun juga ia menciumnya tanpa alasan yang jelas disaat mereka bukan pacar lagi. Betapa terkejutnya pemuda itu ketika Nicole memindahkan posisi tangannya dan memandang langsung ke mata cokelat Oliver. Mata hijau Nicole berkaca-kaca, apakah gadis itu menangis?

"Sial." Nicole mengumpat pelan. "Sialan kau Wood. Kenapa kau melakukan hal itu ketika aku berusaha melupakanmu?" Ia tidak bisa membohongi perasaannya lagi, terutama setelah ciuman itu. Nicole Ravensdale masih mencintai Oliver Wood, sangat masih.

Tercengang karena kata-kata Nicole, Oliver tanpa sadar menarik satu tangan Nicole dengan tangannya yang bebas, menahan gadis itu agar tidak menutupi matanya lagi. "Apa kau bilang tadi?" Tanya Oliver, hatinya berdegup kencang. Nicole merasakan hal yang sama dengannya? Apakah itu benar?

Mata hijau Nicole bertemu kembali dengan mata cokelat Oliver sebelum gadis itu menarik kepala Oliver mendekat dan mencium pemuda itu. Ciuman di bibir pertama yang Nicole lakukan atas inisiatif dirinya sendiri. "Persetan kau Wood." Katanya, namun ia tersenyum. "Aku tidak bisa melupakanmu."

"Tolong katakan sekali lagi." Pinta Oliver.

"Persetan kau Wood."

"Bukan yang itu, setelahnya."

Nicole menutup mulutnya dan membuang muka kesamping, tidak mau menatap Oliver yang masih berada di atasnya itu, membuat pemuda itu tertawa kecil dan memaksa Nicole menatapnya lagi dengan tangannya. "Kau masih mencintaiku."

Tidak ada jawaban.

"Dan kau tidak bisa melupakanku."

Lagi-lagi Nicole masih menolak membuka mulutnya. Senyuman Oliver melebar dan ia menempelkan dahinya pada dahi Nicole. "Dan aku merasakan hal yang sama." Setelah mengatakan hal itu Oliver kembali mencium Nicole, hanya saja kali ini ciuman berlangsung lebih lama dari yang sebelumnya. Nicole nyaris kehabisan nafas karena ciuman itu.

"Aku mencintaimu." Kata mereka bersamaan. Kaget karena timing yang bisa pas seperti itu, mereka berpandangan selama beberapa detik sebelum tertawa.

"Kau nomor satu untukku, jangan pergi lagi atau aku bisa mati." Kata Oliver seraya membantu Nicole duduk kembali. Gadis itu memukul lengan pacarnya, tidak keras tentu saja.

"Kau tidak akan mati hanya karena itu."

"Aku serius."

"Tidak kau tidak serius." Kata Nicole sambil tertawa. Oliver memberinya sebuah kerlingan jahil.

"Percayalah padaku!" Sambil berkata begitu, kapten team Gryffindor ini mendorong Nicole hingga gadis itu tiduran di sofa panjang lagi.

"Tunggu. Oliver apa yang kau lakukan? Hey! Ahaha. Hahahahaha Oliver hentikan! Yang lain bisa bangun! Hahahahaha!"

***

Kabar bahwa Nicole dan Oliver baikan menyebar secepat kabar putus mereka, walau tidak bertahan lama. Fred dan George mengeluh Oliver mereka yang gila dan bersemangat telah kembali sehingga latihan menjadi semakin berat. Gisselle dan Elly mengucapkan selamat pada Nicole. Elly sendiri telah sembuh dari shocknya dan memutuskan untuk tidak menyerah hingga saat-saat terakhir.

"Selalu ada kesempatan bukan?" Kata Elly di pelajaran Herbology, dimana ia, Nicole dan Gisselle adalah satu kelompok. "Bagaimana dengan Robert?" Pertanyaan Elly kali ini di tujukan untuk Nicole.

Nicole mengangkat bahunya, "Ia menerima kekalahan dengan terbuka dan tidak ada perubahan sikap sama sekali darinya."

"Mungkin hanya perasaan kami saja." Kata Elly sambil memandang Gisselle. Gadis brunette itu pun mengangguk ketika Elly menatapnya.

"Perasaan kalian?"

"Kami kira Robert menyukaimu." Kata Gisselle.

"Tidak mungkin."

"Mungkin saja."

Memutuskan tidak ada gunanya mendebat kedua sahabatnya ketika mereka sudah menyetujui satu hal, Nicole berusaha mengubah topik pembicaraan, yang ternyata berhasil.

Hari demi hari berlalu dan tiba saatnya final Quidditch. Gryffindor melawan Slytherin. Nicole telah kembali ke kebiasaan lamanya menjelang pertandingan, memaksa Oliver untuk sarapan.

"Makan, Oliver. Kau membutuhkan tenaga untuk pertandingan nanti." Kata Nicole, masih berusaha memaksa Oliver memakan roti panggangnya.

"Aku akan makan jika kau berjanji akan sesuatu."

Alis Nicole terangkat, apa lagi yang dipikirkan pemuda ini? "Baiklah, apa itu?"

"Jika aku menang, kau akan menghabiskan musim panas denganku."

Nicole menatap Oliver dengan ekspresi terkejut selama beberapa saat sebelum tertawa. "Baiklah baiklah. Aku berjanji." Katanya di sela-sela tawa.

Ucapan semoga berhasil dan kecupan untuk Oliver sudah di berikan, dan Nicole berjalan menuju tempat duduk penonton bersama dengan Gisselle dan Elly ketika Cedric menyusul mereka. Nicole dan Gisselle menyapa pemuda itu dengan senyuman yang biasa dan betapa kagetnya kedua gadis itu ketika Elly tidak menunjukan perubahan di sikapnya. Walaupun gadis itu memang mengatakan tidak akan menyerah begitu saja, kedua sahabatnya masih mengira aka nada perubahan sikap pada Elly.

“Sampai nanti, semoga Gryffindor menang!!” Kata Elly saat ia dan Cedric harus berjalan ke arah yang berbeda dari Nicole dan Gisselle. Pasangan itu berjalan menjauh sambil mengobrol dengan riang. Nicole dan Gisselle bertukar pandang.

“Sepertinya tidak ada yang perlu di khawatirkan.” Kata Nicole, dan Gisselle mengangguk.

Kedua gadis itu lalu duduk di tempat biasa mereka, di depan dan di dekat Hermione dan Ron yang tampaknya sudah melupakan pertengkaran hebat mereka beberapa hari yang lalu. Pertandingan berjalan sepihak hingga Slytherin mulai melakukan tindakan-tindakan tidak sportif. Nicole menahan umpatannya ketika Bole dan Derrick, beater Slytherin, menyerang Oliver dengan pukulan Bludger. Namun semua serangan tidak sportif itu tidak bisa menghentikan team Gryffindor. Harry berhasil menangkap snitchnya dan Gryffindor memenangkan turnamen. Lapangan Quidditch dipenuhi dengan lautan merah, lautan anak-anak Gryffindor dan anak-anak asrama lain yang juga mendukung asrama berlambangkan singa tersebut. Di tengah kerumunan, Nicole berhasil mencapai Oliver yang bercucuran air mata bahagia. Pemuda itu sudah memberikan pialanya pada Harry, yang sekarang di kerumuni oleh anak-anak.

"Selamat!!" Kata Nicole. Namun Oliver tidak bisa menjawab. Ia hanya memelik Nicole sambil terus menangis, membuat gadis itu menepuk-nepuk punggung pacarnya sambil tertawa.

Kegembiraan menjadi juara turnamen Quidditch bertahan hanya hingga awal Juni. Mendekati ujian, beberapa anak kelas lima menunjukan tanda-tanda stress. Gisselle sendiri bulak-balik di rawat di rumah sakit sekolah sehingga Nicole sering menghabiskan waktu disana, mememani sahabatnya yang belajar di rumah sakit. Kadang Fred dan George ikut serta, jika mereka tidak malas.

Akhir tahun ajaran itu di kagetkan dengan cerita dari Harry dan Hermione, yang awalnya tidak Nicole percayai, namun kakeknya menegaskan hal itu. Sirius Black adalah wali dari Harry dan dia tidak bersalah. Nicole menjuarai OWL nya tentu saja, sementara Percy menjuarai NEWT yang ada. Dengan kemenangan di turnamen Quidditch, Gryffindor kembali memenangkan piala asrama tahun itu. Hari-hari kembali berlalu dan tiba saatnya untuk kembali pulang dengan Hogwarts Express.

"Kau akan kerumah kami liburan ini bukan?" Tanya Fred pada Nicole saat mereka semua sedang berada di stasium Hogwarts. Seperti biasa, Nicole mengantar teman-temannya pulang hingga stasium Hogwarts.

"Gisselle dan Elly mengatakan mereka setuju menghabiskan liburan di rumah kami." Kata George.

Nicole sudah membuka mulut hendak menjawab, tapi Oliver, yang mendadak muncul di dekatnya dan melingkarkan lengannya di pundak Nicole, menjawab terlebih dahulu.

"Maaf, tapi dia sudah punya janji denganku!"

***TBC***

A/N : Muehehehehe Gaje ah.. ‘-‘) #ngek
And ofc, mohon maaf bila ada kesalahan *bows*

Original Plot by : Our Queen, JK Rowling
The ‘new’ plot Made by : Liz
Take out with full credits please~ ^^

0 komentar:

Posting Komentar