Chapter 16 : Dammit,
I Can’t Forget You
(Setting
: HP 3 )
“Kau
sudah dengar?”
“Mereka
berdua putus?”
“Bagaimana
bisa?”
“Tidak
mungkin!!”
Bisik-bisik
seperti itu mengikuti Nicole sejak kabar bahwa ia dan Oliver Wood putus
menyebar. Hingga bahkan liburan Natal pun, bisik-bisik itu tidak mereda. Nicole
telah meminta kakeknya untuk memberi tahu para guru untuk tidak menekan Oliver
atau semacamnya karena mereka berdua putus dan tampaknya semua guru mengikuti
perintah kakeknya.
Pagi
di hari Natal, Nicole terbangun sendirian di kamarnya. Semua teman sekamarnya
termasuk Gisselle pulang dalam liburan Natal ini. Ruang rekreasi ramai dengan
kemunculan kado misterius milik Harry, Firebolt dikirimkan padanya namun tanpa
surat sama sekali. Semua orang terkagum-kagum melihat sapu baru Harry itu,
semua kecuali Hermione.
“Apakah
ada kemungkinan sapu itu berasal dari Sirius dan berisi sihir hitam?” Tanya
Hermione pada Nicole. Mereka berdua sedang duduk di pojokan, menjauh dari
kerumunan yang mengelilingi Harry. Nicole sendiri tidak mau melihat sapu Harry
karena itu hanya akan mengingatkannya akan Oliver. Gadis yang lebih tua itu
menoleh menatap Hermione, lalu ke arah Harry.
“Mungkin
saja.” Jawab Nicole dengan pelan setelah beberapa saat memperhatikan Firebolt
di genggaman Harry. “Selalu ada kemungkinan seperti itu.”
Hari
Natal Nicole berjalan dengan hampa, benar-benar hampa. Dia hanya di temani
Elly, yang tampaknya masih ‘shock’ melihat kejadian di kunjungan Hogsmeade
mereka yang terakhir. Si kembar tidak membuat masalah apapun dan bahkan tidak
mengganggu Nicole. Tampaknya Gisselle telah memberi tahu mereka berdua cerita
Nicole. Nicole memang telah menceritakan ‘kejadian itu’ pada kedua sahabatnya.
Malamnya,
seperti biasa, Nicole duduk di pojokan dengan buku yang terbuka di pangkuannya,
namun dia tidak membacanya. Harry dan Ron masih sibuk menganggumi Firebolt
ketika lukisan Nyonya Gemuk mengayun terbuka dan McGonagall melangkah masuk
diikuti oleh Hermione. Mereka berdua menghampiri Harry dan Ron dan selama
beberapa saat McGonagall sibuk berbicara dengan kedua pemuda itu sebelum
akhirnya membawa Firebolt pergi. Nicole menghampiri tepat saat Ron dan Hermione
saling berteriak.
“Nicole!
Katakan padanya bahwa itu mustahil dan dia terlalu paranoid!” Kata Ron ketika
melihat Nicole mendekat. Gadis yang lebih tua itu menatap tiga sekawan itu
secara bergantian sebelum mengeluarkan pendapatnya.
“Sebetulnya
Ron, aku setuju dengan Hermione.”
Ron
menjambak rambutnya sendiri karena frustasi, “Tapi dengan itu kita bisa menang!
Dan ini tepat pada tahun terakhir Oliver bukan? Kau tidak mau membantunya untuk
menang?”
Dengan
cepat Harry menginjak kaki Ron, namun terlambat, perkataan Ron sudah terdengar
oleh Nicole dan efeknya mulai terlihat. Padangan Nicole mendingin dan tanpa
berkata apapun dia berbalik dan kembali duduk di sofanya, sedikit jauh dari
tempat tiga sekawan dan membuka bukunya kembali.
Fred
menjitak kepala adiknya, “Bagus sekali Ronnie, bagus sekali.” Katanya dengan
nada yang sarkastik sebelum menyusul Nicole, diikuti oleh George.
Liburan
Natal pun berlalu begitu saja dan semester kedua pun di mulai. Seluruh murid
kelas lima sudah mulai sibuk menyiapkan OWL mereka. Berulang kali Nicole
menemani Fred, George, Angelina dan Alicia belajar hingga larut malam di ruang
rekreasi karena jadwal Quidditch mereka yang mengharuskan mereka berlatih
hingga larut. Gisselle tidak diijinkan Nicole menemaninya karena takut
kesehatan gadis itu memburuk. Mereka berlatih dan belajar di ruang rekreasi
yang mulai sesak karena banyak anak lainnya yang memutuskan untuk bergabung
dengan mereka, hingga akhirnya, Nicole memutuskan untuk meminjam kelas pada
para guru.
“Tentu
saja boleh Nicole.”
“Terima
kasih Professor.”
Tepat
ketika Nicole selesai berbicara pada McGonagall sore hari itu, Oliver berlari
mendekat. Tampaknya pemuda itu tidak menyadari siapa yang baru saja berbicara
dengan Professor wanita itu.
“Professor!!
Ku dengar anda menyita sapu Harry? Mengapa?” Tanya Oliver, benar-benar terfokus
pada McGonagall. Hal ini membuat Nicole bertambah kesal. Pemuda ini memang
sering begitu, melupakan hal yang lain demi Quidditch. Gadis itu sangat ingin
segera menyingkir, tapi ia harus meminta kunci kelas Transfigurasi terlebih
dahulu pada McGonagall.
“Memang,
Wood. Ada kemungkinan sapu tersebut di mantrai oleh Sirius Black.” Kata
McGonagall dengan tenang.
“Ku
mohon Professor, kembalikan sapu Harry agar kita bisa menang!”
Nicole
bisa melihat McGonagall sejak tadi menahan marahnya, sebetulnya, sepertinya ia
sudah menahan marah sejak beberapa hari yang lalu, tepatnya sejak berita bahwa
Nicole putus. Wanita tua itu memang sudah menganggap Nicole sebagai anaknya
sendiri.
“Kau
salah membuat prioritas Wood. Kau harusnya lebih memperhatikan keselamatan
anggota team mu daripada kemenangan.” Kata McGonagall, masih berusaha tetap
tenang.
“Yah,
aku tidak peduli sapu itu akan menjungkalkannya asal dia menangkan snitchnya
terlebih dahulu..” Kata Oliver sambil tersenyum lebar. Nicole sudah siap
meneriaki ‘mantan’nya itu ketika ia diserobot kepala asramanya sendiri.
“OLIVER
WOOD!!” Suara McGonagall membuat baik Oliver maupun Nicole melonjak kaget. “KAU
INI KAPTEN ATAU BUKAN? KAU SEHARUSNYA MEMPERHATIKAN ANGGOTAMU TERLEBIH DAHULU
BARU KEMENANGAN.”
Perlu
beberapa saat bagi Oliver untuk sadar dari keterkejutan dan ketakutannya.
Pemuda berumur 17 tahun itu lalu bertanya dengan suara yang lebih sopan dan
berhati-hati. “S-sampai kapan anda akan memeriksanya Professor?”
McGonagall
memberikan pandangan galaknya pada Oliver, “Selama masih diperlukan, Wood.”
Mendadak wanita itu menoleh ke arah Nicole, membuat gadis itu melonjak kaget
karena tidak menyangka akan di pandang secara mendadak seperti itu. “Ini kunci
untuk kelasku, Nicole. Pastikan kau menguncinya kembali setelah selesai
menggunakan. Selamat malam.”
Nicole
menerima kunci dari professor itu dan memberikan ucapan ‘Selamat malam’nya
dengan sedikit terbata-bata karena masih terkejut. Dengan cepat McGonagall
meninggalkan dirinya dan Oliver di lorong, dan hanya berdua, di dalam
keheningan yang canggung.
“Nicole.”
Entah
berapa lama gadis itu tidak mendengar namanya di panggil oleh suara itu.
Sebulan? Sepertinya lebih, walau bagi Nicole rasanya begitu lama. Gadis itu
tidak bergerak sama sekali, bahkan menolak untuk menatap pemuda yang
memanggilnya tadi. Oliver bergerak mendekat dan memegang tangan Nicole dengan
lembut.
“Kau
masih belum berubah.” Kata Nicole sebelum Oliver sempat berkata-kata.
“Kemenangan di Quidditch di atas segalanya, hm?” Nicole menarik tangannya
kembali namun pemuda itu tidak mau memelepaskannya. Sudah berapa lama ia tidak
berbicara ataupun memegang tangan gadis yang selalu di pikirannya itu.
Quidditch diatas segalanya? Ia sedih ketika kalah dari Hufflepuff, tapi ia bisa
mati ketika Nicole meninggalkannya.
“Tidak.”
Kata Oliver. “Bukan Quidditch.” Pemuda itu menarik Nicole ke pelukannya. Betapa
herannya Nicole ketika ia mendapati dirinya tidak mempunyai keinginan untuk
menolak pelukan Oliver. Wangi tubuh pemuda itu, kedua lengannya yang memberikan
rasa aman, rambut cokelat yang menggelitik wajahnya ketika Oliver meletakan
kepalanya di pundak Nicole, betapa ia merindukan itu semua.
“Bukan
Quidditch, tapi dirimu.” Oliver mengeratkan pelukannya. Melakukan itu selalu
membuatnya merasa lebih tenang. Tidak perlu sebuah pelukan sebenarnya, melihat
senyuman gadis itu saja sudah cukup membuatnya tenang dan percaya diri. Oliver
merasa dia tidak akan bisa bermain dengan baik jika Nicole masih
menghindarinya. Tidak hanya dalam Quidditch, bahkan dalam pelajaran dan hal
lainnya dia mengalami kemunduran. Dan penyebabnya hanya ada satu, Nicole
Ravensdale, gadis yang telah mencuri hati dan pikirannya.
'Kumohon,
berikan aku kesempatan lagi. Jangan tinggalkan aku.' Kata-kata itu hendak di
lontarkan oleh Oliver, tapi entah mengapa, ia takut. Takut Nicole akan menjawab
tidak dan lebih jauh lagi meninggalkannya. Keheningan menyelimuti mereka
kembali sampai akhirnya Nicole melepaskan diri dari pelukan Oliver dan berjalan
pergi. Kedua tangan gadis itu terkepal disisi tubuhnya, ia juga menggigit bibir
bagian bawahnya, kebiasaan setiap kali ia merasa tegang atau gugup.
Oliver
tidak mengejarnya. Sebagian hati Nicole kecewa ketika pemuda itu tidak
mengejarnya, sebagian lagi lega karena jika Oliver melakukannya, ia tidak yakin
bisa tetap memasang muka tangguhnya.
‘Aku
masih mencintainya.’ Pikir Nicole.
Oliver
memandang punggung Nicole yang semakin menjauh. Kedua kalinya ia melihat
kejadian ini dan sakitnya tak tertahankan. Pemuda itu meninju dinding
disebelahnya dengan keras dengan kepala tertunduk, menahan air mata yang siap
jatuh.
‘Aku
masih mencintaimu, Nicole.’ Bisik Oliver.
***
“Mau
taruhan?”
Nicole,
yang sudah berhasil mengembalikan kinerjanya menjadi senormal mungkin, sibuk
melamun sehingga tidak mendengar perkataan pemuda yang duduk di hadapannya di
perpustakaan ini.
“Apa?”
Tanya Nicole seraya mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali, memfokuskan
pandangannya pada Robert. Robert mengetuk-ketukan jarinya di meja dengan tidak
sabar walau senyuman terlukis di wajahnya.
“Taruhan.
Untuk pertandingan berikutnya. Asramamu melawan asramaku bukan?” Kata Robert
lagi. Nicole mengernyit, Quidditch lagi, apa di pikiran kaum lelaki hanya
Quidditch saja? Tapi tentu saja ia masih mempunyai ‘pride’ sebagai seorang
Gryffindor.
“Gryffindor
akan menang tentu saja.” Kata Nicole dengan cepat. Robert tertawa mendengar
jawaban gadis itu.
“Kalau
begitu, kita taruhan!”
“Apa
taruhannya?”
“Jika
Ravenclaw menang, kita jalan-jalan bersama saat musim panas nanti.”
Kepala
Nicole nyaris jatuh dari tangannya yang sejak tadi menopang dagunya.
Jalan-jalan? Di musim panas? Ia bahkan belum pernah melakukannya bersama
sahabatnya. Oliver sendiri belum pernah mengajaknya. Muka Nicole menjadi
sedikit murung ketika mengingat pemuda itu lagi, tampaknya ia tidak bisa
menghilangkan kebiasaan memikirkan pemuda itu dalam waktu yang dekat.
Melihat
muka murung Nicole, Robert langsung merasa sedikit panik. “Jika tidak mau tidak
apa-apa kok!” Katanya dengan terburu-buru. Ia takut menyinggung perasaan gadis
yang menjadi idolanya ini. Betapa leganya dia ketika Nicole menggeleng.
“Tenang
saja, kuterima tawaranmu itu. Tapi jika Gryffindor menang, apa yang ku dapat?”
Pertanyaan Nicole membuat Robert berpikir, dalam waktu yang tidak singkat,
sehingga Nicole hampir merasa kasihan dan hendak berkata bahwa dia tidak akan
meminta apa-apa ketika akhirnya Robert menjawab dengan senyuman lebar khasnya.
“Apa
saja!”
“Apa
saja?”
“Apa
saja!”
Nicole
tertawa kecil, sesuatu yang ia jarang lakukan akhir-akhir ini. “Baiklah,
deal!!”
***
Hari
pertandingan Quidditch pun tiba. Seluruh anak Gryffindor merasa tegang dan
bersemangat, terlebih karena kehadian Firebolt milik Harry. Nicole memang
menemani Gisselle dan Elly ke ruang ganti dan mengucapkan semoga berhasil pada
si kembar dan Harry bersama kedua sahabatnya itu, namun ia tidak, sama sekali
tidak, mengucapkan apapun pada Oliver dan pemuda itu melakukan hal yang sama.
Walau jelas sekali ia terus memandangi Nicole secara diam-diam.
“Kita
harus menang.” Kata Fred ketika Nicole, Gisselle dan Elly sudah berjalan pergi
menuju tempat duduk mereka di tempat penonton, saudara kembarnya mengangguk
mendengar perkataan Fred.
“Tenang
saja, kita pasti menang.” Timpal George. Ke-antusias-an kedua pemuda kembar itu
menarik perhatian anggota team yang lain.
“Aku
mengerti kalian antusias karena ini kesempatan kita memperbaiki posisi di
turnamen kali ini, tapi rasanya ada sesuatu yang lebih.” Kata Angelina pada
mereka berdua. Fred dan George memandang gadis itu dengan mata berapi-api.
“Karena
jika kita kalah, Nicole akan pergi berjalan-jalan bersama Robert di musim
panas!” Kata mereka bersamaan. “Dia selalu menolak ajakan kami namun sekarang
ia taruhan dengan Robert!”
“Robert?
Robert Abernathy? Pemuda berambut biru tua yang menjadi prefect Ravenclaw?”
Kata Alicia bersemangat sementara Katie dan Angelina bertukar senyuman.
“Kau
mengenalnya?” Tanya George.
“Tidak,
tapi ia cukup terkenal di antara murid perempuan. Robert Abernathy dan Calvin
Cornellius. Duo berwajah tampan dari Ravenclaw.” Jawab Katie sambil terkikik
bersama dua chaser lainnya.
“Ternyata
dia mengejar Nicole? Wah tidak kusangka.” Kata Alicia sebelum Angelina
menyenggolnya agar gadis itu diam. Mereka semua menyadari adanya perubahan di
ekspresi Oliver dan langsung mengganti topik pembicaraan.
Hati
Oliver mencelos mendengar pembicaraan itu. Selama sesaat, ia ingin berlari
keluar dan memastikannya sendiri pada Nicole dan melarang gadis itu melakukan
taruhan seperti itu. Lalu ia sadar, ia tidak bisa melakukannya, ia tidak
mempunyai hak lagi untuk melarang gadis itu bergaul dengan orang lain.
Satu-satunya cara untuk mencegah hal itu terjadi adalah menang. Mereka harus
menang agar Robert kalah taruhan.
Dan
benar, Gryffindor dengan mudah memenangkan pertandingan berkat sapu super milik
Harry. Pesta kemenangan berlangsung meriah sehingga Nicole dan Joe dengan susah
payah berusaha menghentikan pesta tersebut. Gagal total, padahal mereka sudah
di bantu oleh Percy. Pesta baru berakhir ketika McGonagall masuk kedalam ruang
rekreasi dan menghentikan mereka.
Rasanya
baru saja Nicole membaringkan tubuhnya di kamarnya bersama 4 teman sekamarnya,
ketika suara ribut di ruang rekreasi membangunkan mereka semua. Dengan cepat,
prefect Gryffindor itu memakai jaketnya dan berlari keluar. Dia tiba bersamaan
dengan Percy dan mereka berdua langsung menyuruh para murid kembali ke tempat
tidur mereka ketika Ron memprotes.
“Sirius
Black! Di dalam kamar kami! Bawa pisau! Membuatku bangun!” Perkataan Ron
terbata-bata namun Nicole bisa mengerti maksudnya. Gadis itu langsung berjalan
menuju kamar Ron sementara Percy berdebat dengan adiknya itu.
“Eh,
Nicole?” Kata Neville. Pemuda yang tidur sekamar dengan Ron dan Harry itu
mengikuti Nicole dengan penasaran. Nicole mengabaikannya dan memeriksa robekan
di tempat tidur Ron.
“Kalian
benar-benar tidak menyadari apapun?” Akhirnya Nicole bertanya pada Neville,
serta Seamus dan Dean yang menyusul mereka belakangan. Ketiga pemuda itu
mengangguk. Tidak lama kemudian, terdengar langkah kaki dan McGonagall muncul
di ambang pintu.
“Bagaimana?”
Tanya wanita itu. Nicole menunjuk kelambu yang robek dan McGonagall langsung
mendesah frustasi.
“Kumpulkan
seluruh anak di ruang rekreasi. Kau, Lawrence dan Weasley, Percy maksudku,
berjaga di depan lukisan Sir Cadogan.”
Malam
itu menjadi malam yang sangat melelahkan bagi Nicole. Hari-hari berikutnya pun
tidak bertambah ringan. Keamanan sekolah di perketat dan itu berarti tambahan
pekerjaan bagi Nicole. Terlebih juga karena ia masih harus mengajari si kembar
setelah latihan, yang kadang sering di lewati oleh kedua pemuda itu.
Suatu
malam, Nicole duduk sambil membaca bukunya, menunggu si kembar untuk kembali ke
ruang rekreasi setelah latihan mereka dan mendadak rasa kantuk menguasainya.
Beberapa kali ia mengerjap-ngerjap kan matanya untuk melawan rasa kantuk itu
namun apa daya, ia tidak berhasil dan akhirnya tertidur pulas di ruang
rekreasi.
Lukisan
Nyonya Gemuk mengayun terbuka dan para anggota team Quidditch Gryffindor pun
melangkah masuk satu persatu. Mereka semua sedang mengobrol dengan riang karena
final Quidditch sudah berada di depan mata. Obrolan itu terhenti saat semuanya
melihat Nicole yang tertidur dengan buku terbuka di pangkuannya. Fred dan
George bertukar pandang.
"Ah,
ini kesalahan kami. Kami memintanya mengajari kami setelah latihan
Quidditch." Kata Fred sambil berjalan mendekati Nicole dan memperhatikan
gadis itu. "Sebaiknya kubangunkan." Belum sempat Fred menyentuh
tangan Nicole untuk membangunkannya, Oliver menepuk pundak Fred.
"Bolehkah?"
Kata Oliver dengan suara pelan. Tidak ada yang bersuara. Semua bingung dengan
permintaan mendadak dari kapten mereka itu. Fred berbalik dan menatap Oliver
dengan pandangan menilai yang dingin. Ia tidak peduli fakta bahwa kaptennya lah
yang sedang berhadapan dengannya. Ia tidak peduli siapa yang ia hadapi jika hal
itu menyangkut kebahagiaan gadis yang sedang tertidur di belakangnya itu. Namun
melihat mata Oliver, Fred menyadari bahwa pemuda yang lebih tua itu sama
dengannya.
"Baiklah."
Kata Fred akhirnya dan ia berjalan masuk ke kamarnya bersama George. Anggota
team yang lain pun mengikuti jejak mereka hingga akhirnya hanya ada Oliver dan
Nicole yang tertidur di ruang rekreasi Gryffindor itu. Pemuda itu duduk di
sebelah gadis itu dan menatapnya lekat-lekat. Setiap lekuk wajahnya, rambutnya
yang berwarna cokelat tua, bibirnya, astaga, ia tau ini terdengar tidak benar
tapi ia merindukan sensasi bibir itu di pipi dan bibirnya sendiri.
Tanpa
sadar, Oliver meletakan tangannya dengan lembut di pipi Nicole dan mendekatkan
kepalanya ke kepala gadis itu. Dengan lembut, ia menarik kepala Nicole mendekat
dan menciumnya.
Nicole
terbangun ketika merasakan sesuatu yang lembut menyentuh bibirnya. Betapa
kagetnya dia ketika mendapati Oliver sedang menciumnya. Ciuman itu sedikit berbeda
dari ciuman-ciuman mereka sebelumnya. Entah mengapa Nicole bisa merasakan
'hati' Oliver melalui ciuman itu dan hal itu lah yang menghentikan niatnya
untuk mendorong pemuda itu menjauh walau ciuman itu semakin dalam tiap detiknya
Posisi
Oliver saat ini sedang menahan berat tubuhnya dengan satu tangan terletak di
sisi lain tubuh Nicole, bukan sisi yang berdekatan dengannya. Ia tidak bisa
menahan dirinya untuk tidak memperdalam ciuman. Sudah berapa lama ia tidak
mencium gadis ini? Badan Nicole bergerak sedikit dan ia tahu bahwa gadis itu
telah bangun dari tidurnya. Panik, ia kehilangan keseimbangan dan kekuatan di
tangannya sehingga mendorong Nicole jatuh di sofa.
Nicole
terpekik terkejut ketika badan Oliver menimpanya dan ia harus terbaring di
sofa, yang untungnya cukup panjang, dengan pemuda itu diatasnya. Oliver dengan
cepat meletakan tangannya di sisi tubuh Nicole untuk menopang tubuhnya lagi,
dan berusaha untuk duduk tegak kembali. Namun ketika ia melihat muka Nicole, ia
memutuskan untuk tidak melakukan hal itu.
"Kenapa.."
Gumam Nicole sambil menutupi kedua matanya dengan kedua tangannya, mukanya
merah padam. "..kau melakukan itu?"
Oliver
mengira gadis itu marah. Bagaimanapun juga ia menciumnya tanpa alasan yang
jelas disaat mereka bukan pacar lagi. Betapa terkejutnya pemuda itu ketika
Nicole memindahkan posisi tangannya dan memandang langsung ke mata cokelat
Oliver. Mata hijau Nicole berkaca-kaca, apakah gadis itu menangis?
"Sial."
Nicole mengumpat pelan. "Sialan kau Wood. Kenapa kau melakukan hal itu
ketika aku berusaha melupakanmu?" Ia tidak bisa membohongi perasaannya
lagi, terutama setelah ciuman itu. Nicole Ravensdale masih mencintai Oliver
Wood, sangat masih.
Tercengang
karena kata-kata Nicole, Oliver tanpa sadar menarik satu tangan Nicole dengan
tangannya yang bebas, menahan gadis itu agar tidak menutupi matanya lagi.
"Apa kau bilang tadi?" Tanya Oliver, hatinya berdegup kencang. Nicole
merasakan hal yang sama dengannya? Apakah itu benar?
Mata
hijau Nicole bertemu kembali dengan mata cokelat Oliver sebelum gadis itu
menarik kepala Oliver mendekat dan mencium pemuda itu. Ciuman di bibir pertama
yang Nicole lakukan atas inisiatif dirinya sendiri. "Persetan kau
Wood." Katanya, namun ia tersenyum. "Aku tidak bisa melupakanmu."
"Tolong
katakan sekali lagi." Pinta Oliver.
"Persetan
kau Wood."
"Bukan
yang itu, setelahnya."
Nicole
menutup mulutnya dan membuang muka kesamping, tidak mau menatap Oliver yang
masih berada di atasnya itu, membuat pemuda itu tertawa kecil dan memaksa
Nicole menatapnya lagi dengan tangannya. "Kau masih mencintaiku."
Tidak
ada jawaban.
"Dan
kau tidak bisa melupakanku."
Lagi-lagi
Nicole masih menolak membuka mulutnya. Senyuman Oliver melebar dan ia
menempelkan dahinya pada dahi Nicole. "Dan aku merasakan hal yang sama."
Setelah mengatakan hal itu Oliver kembali mencium Nicole, hanya saja kali ini
ciuman berlangsung lebih lama dari yang sebelumnya. Nicole nyaris kehabisan
nafas karena ciuman itu.
"Aku
mencintaimu." Kata mereka bersamaan. Kaget karena timing yang bisa pas
seperti itu, mereka berpandangan selama beberapa detik sebelum tertawa.
"Kau
nomor satu untukku, jangan pergi lagi atau aku bisa mati." Kata Oliver
seraya membantu Nicole duduk kembali. Gadis itu memukul lengan pacarnya, tidak
keras tentu saja.
"Kau
tidak akan mati hanya karena itu."
"Aku
serius."
"Tidak
kau tidak serius." Kata Nicole sambil tertawa. Oliver memberinya sebuah
kerlingan jahil.
"Percayalah
padaku!" Sambil berkata begitu, kapten team Gryffindor ini mendorong
Nicole hingga gadis itu tiduran di sofa panjang lagi.
"Tunggu.
Oliver apa yang kau lakukan? Hey! Ahaha. Hahahahaha Oliver hentikan! Yang lain
bisa bangun! Hahahahaha!"
***
Kabar
bahwa Nicole dan Oliver baikan menyebar secepat kabar putus mereka, walau tidak
bertahan lama. Fred dan George mengeluh Oliver mereka yang gila dan bersemangat
telah kembali sehingga latihan menjadi semakin berat. Gisselle dan Elly
mengucapkan selamat pada Nicole. Elly sendiri telah sembuh dari shocknya dan
memutuskan untuk tidak menyerah hingga saat-saat terakhir.
"Selalu
ada kesempatan bukan?" Kata Elly di pelajaran Herbology, dimana ia, Nicole
dan Gisselle adalah satu kelompok. "Bagaimana dengan Robert?"
Pertanyaan Elly kali ini di tujukan untuk Nicole.
Nicole
mengangkat bahunya, "Ia menerima kekalahan dengan terbuka dan tidak ada
perubahan sikap sama sekali darinya."
"Mungkin
hanya perasaan kami saja." Kata Elly sambil memandang Gisselle. Gadis
brunette itu pun mengangguk ketika Elly menatapnya.
"Perasaan
kalian?"
"Kami
kira Robert menyukaimu." Kata Gisselle.
"Tidak
mungkin."
"Mungkin
saja."
Memutuskan
tidak ada gunanya mendebat kedua sahabatnya ketika mereka sudah menyetujui satu
hal, Nicole berusaha mengubah topik pembicaraan, yang ternyata berhasil.
Hari
demi hari berlalu dan tiba saatnya final Quidditch. Gryffindor melawan
Slytherin. Nicole telah kembali ke kebiasaan lamanya menjelang pertandingan,
memaksa Oliver untuk sarapan.
"Makan,
Oliver. Kau membutuhkan tenaga untuk pertandingan nanti." Kata Nicole,
masih berusaha memaksa Oliver memakan roti panggangnya.
"Aku
akan makan jika kau berjanji akan sesuatu."
Alis
Nicole terangkat, apa lagi yang dipikirkan pemuda ini? "Baiklah, apa
itu?"
"Jika
aku menang, kau akan menghabiskan musim panas denganku."
Nicole
menatap Oliver dengan ekspresi terkejut selama beberapa saat sebelum tertawa.
"Baiklah baiklah. Aku berjanji." Katanya di sela-sela tawa.
Ucapan
semoga berhasil dan kecupan untuk Oliver sudah di berikan, dan Nicole berjalan
menuju tempat duduk penonton bersama dengan Gisselle dan Elly ketika Cedric
menyusul mereka. Nicole dan Gisselle menyapa pemuda itu dengan senyuman yang
biasa dan betapa kagetnya kedua gadis itu ketika Elly tidak menunjukan
perubahan di sikapnya. Walaupun gadis itu memang mengatakan tidak akan menyerah
begitu saja, kedua sahabatnya masih mengira aka nada perubahan sikap pada Elly.
“Sampai
nanti, semoga Gryffindor menang!!” Kata Elly saat ia dan Cedric harus berjalan ke
arah yang berbeda dari Nicole dan Gisselle. Pasangan itu berjalan menjauh
sambil mengobrol dengan riang. Nicole dan Gisselle bertukar pandang.
“Sepertinya
tidak ada yang perlu di khawatirkan.” Kata Nicole, dan Gisselle mengangguk.
Kedua
gadis itu lalu duduk di tempat biasa mereka, di depan dan di dekat Hermione dan
Ron yang tampaknya sudah melupakan pertengkaran hebat mereka beberapa hari yang
lalu. Pertandingan berjalan sepihak hingga Slytherin mulai melakukan
tindakan-tindakan tidak sportif. Nicole menahan umpatannya ketika Bole dan
Derrick, beater Slytherin, menyerang Oliver dengan pukulan Bludger. Namun semua
serangan tidak sportif itu tidak bisa menghentikan team Gryffindor. Harry
berhasil menangkap snitchnya dan Gryffindor memenangkan turnamen. Lapangan
Quidditch dipenuhi dengan lautan merah, lautan anak-anak Gryffindor dan
anak-anak asrama lain yang juga mendukung asrama berlambangkan singa tersebut.
Di tengah kerumunan, Nicole berhasil mencapai Oliver yang bercucuran air mata
bahagia. Pemuda itu sudah memberikan pialanya pada Harry, yang sekarang di
kerumuni oleh anak-anak.
"Selamat!!"
Kata Nicole. Namun Oliver tidak bisa menjawab. Ia hanya memelik Nicole sambil
terus menangis, membuat gadis itu menepuk-nepuk punggung pacarnya sambil
tertawa.
Kegembiraan
menjadi juara turnamen Quidditch bertahan hanya hingga awal Juni. Mendekati
ujian, beberapa anak kelas lima menunjukan tanda-tanda stress. Gisselle sendiri
bulak-balik di rawat di rumah sakit sekolah sehingga Nicole sering menghabiskan
waktu disana, mememani sahabatnya yang belajar di rumah sakit. Kadang Fred dan
George ikut serta, jika mereka tidak malas.
Akhir
tahun ajaran itu di kagetkan dengan cerita dari Harry dan Hermione, yang
awalnya tidak Nicole percayai, namun kakeknya menegaskan hal itu. Sirius Black
adalah wali dari Harry dan dia tidak bersalah. Nicole menjuarai OWL nya tentu
saja, sementara Percy menjuarai NEWT yang ada. Dengan kemenangan di turnamen
Quidditch, Gryffindor kembali memenangkan piala asrama tahun itu. Hari-hari
kembali berlalu dan tiba saatnya untuk kembali pulang dengan Hogwarts Express.
"Kau
akan kerumah kami liburan ini bukan?" Tanya Fred pada Nicole saat mereka
semua sedang berada di stasium Hogwarts. Seperti biasa, Nicole mengantar
teman-temannya pulang hingga stasium Hogwarts.
"Gisselle
dan Elly mengatakan mereka setuju menghabiskan liburan di rumah kami."
Kata George.
Nicole
sudah membuka mulut hendak menjawab, tapi Oliver, yang mendadak muncul di
dekatnya dan melingkarkan lengannya di pundak Nicole, menjawab terlebih dahulu.
"Maaf,
tapi dia sudah punya janji denganku!"
***TBC***
A/N : Muehehehehe Gaje
ah.. ‘-‘) #ngek
And ofc, mohon maaf
bila ada kesalahan *bows*
Original Plot by : Our Queen, JK Rowling
The ‘new’ plot Made
by : Liz
Take
out with full credits please~ ^^

0 komentar:
Posting Komentar