Jumat, 18 Juli 2014

Hogwarts' Beloved : Chapter 19

Chapter 19 : Friends or More Than That?
                                                (Setting : HP 4)

Pesta keberhasilan Harry dalam tugas pertamanya dirayakan selama beberapa jam sehingga Nicole dan Joe harus mengusir mereka dari ruang rekreasi untuk tidur sebelum McGonagall memarahi mereka. Bahkan Nicole menjitak si kembar karena terus menerus mengerjai anak-anak dengan Krim Kenari ciptaan mereka.

November berlalu dan Desember pun tiba. Seluruh penghuni kasti di gemparkan dengan pengumuman akan Yule Ball yang akan di adakan di Hari Natal nanti. Semua gadis mulai berjalan dalam rombongan dan terkikik setiap kali para pemuda lewat. Hal itu membuat Nicole sebal.

“Mereka terlalu melebihkan reaksi mereka.” Kata Nicole saat gadis-gadis kelas 5 terkikik keras karena dua orang pemuda melewati mereka. Ia, Gisselle, si kembar dan Lee sedang duduk di meja Gryffindor, menikmati makan siang mereka.

“Mereka antusias dalam hal ini, semua gadis normal merasakan hal itu, Nicole.” Kata Fred dan tidak lama kemudian pemuda itu mengernyit kesakitan karena kakinya di injak oleh gadis yang bersangkutan.

“Kalian sudah memutuskan akan pergi ke pesta dengan siapa?” Tanya Lee dengan penasaran pada dua gadis yang ada itu. Nicole dan Gisselle bertukar pandang lalu menggeleng. “Jadi maksudnya kalian menolak semua ajakan itu?!” Memang sudah banyak pemuda yang mengajak Nicole dan Gisselle ke pesta dansa dengan nekatnya, tentu saja di tolak oleh mereka.

“Mereka bahkan jarang berbicara denganku.” Kata Nicole, mengernyit ketika mengingat pemuda yang mengajaknya kemarin malam di ruang rekreasi. “Aku bahkan tidak tahu namanya.”

“A-aku tidak mau pergi dengan orang asing..” Gumam Gisselle pelan. Gadis itu selalu melonjak kaget saat ada yang mengajaknya dan langsung bersembunyi di belakang Nicole dengan muka memerah, membiarkan sahabatnya yang berambut cokelat tua itu menjelaskan kepribadian Gisselle yang pemalu di depan semua orang kecuali sahabat terdekatnya.

“Tenang saja. Kalian punya tiga pemuda tampan yang siap mengajak kalian pergi ke pesta.” Kata Fred sambil mengedipkan matanya. George dan Gisselle mendadak bertingkah aneh. George menjadi salah tingkah sendiri dan Gisselle menunduk diam. Hal ini menarik perhatian Fred dan Nicole yang lalu bertukar pandang bertanya tanpa ada kata-kata yang tertukar di antara mereka.

“Eh ayo.” Mendadak Lee bangkit berdiri. “Kita akan telat untuk kelas bila tidak jalan sekarang.” Dan teman-temannya mengikuti jejaknya. Baru saja mereka tiba di Aula Depan dan hendak berbelok untuk berjalan menuju ruang kelas Mantra, Feli dan teman-temannya berjalan melewati mereka. Semua teman gadis yang merupakan adik Cedric itu menoleh ke arah Lee dan mendorong-dorong Feli dengan bersemangat lalu terkikik geli. Membuat semua teman Lee bingung dan Lee sendiri yang paling bingung.

“L-lee!” Kata Feli akhirnya.

“Uh.. Ya?” Lee baru mengatakan dua patah kata dan seluruh teman Feli terkikik geli, membuat gadis itu menoleh ke belakang dengan pandangan memperingatkan.

“Kau sudah memiliki pasangan untuk pesta dansa nanti?”

Satu detik, Dua detik, di detik ketiga muka Lee lalu memerah dan keempat teman Lee harus menahan tawanya agar tidak melukai perasaan Lee dan Feli. Nicole menginjak kaki si kembar yang nampaknya sudah tidak kuat menahan tawanya.

“Be-belum..”

Feli terdiam sejenak lalu mengambil nafas dalam-dalam. “Maukahkaukepestadansadenganku?” Katanya dengan cepat.

“Ma-maaf?” Kata Lee walau dia sudah tau apa yang di maksud oleh gadis itu. Fred dan George mulai tampak tersiksa karena menahan tawa yang hampir tidak terbendung itu.

“Maukah..” Muka Feli merah padam. “..kau ke pesta dansa denganku?”

"Oooh.." Kata Fred dan George bersamaan, membuat muka Lee dan Feli lebih merah lagi. Nicole dan Gisselle tidak menghentikan si kembar lagi karena mereka berdua sibuk memperhatikan pasangan yang menjadi pusat perhatian saat ini.

"Te-tentu!" Kata Lee dengan cepat. Ia tampaknya ingin mengatakan sesuatu lagi namun mengurungkan niatnya.

"B-b-baiklah. Sampai nanti Lee!" Setelah berkata begitu Feli langsung berbalik dan berjalan pergi dengan cepat bersama teman-temannya yang terkikir tidak henti. Lee sendiri berdiri diam selama beberapa saat sebelum Fred dan George merangkulnya dari kanan dan kiri pemuda itu dan menyeretnya maju. Setelah cukup jauh dari tempat 'kejadian' tadi, kedua pemuda itu memandang Lee dengan cengiran lebar.

"Selamat kawan!"

"Tidak kusangka kau yang akan mendapat pasangan pertama di antara kita!"

"Sungguh di luar dugaan!!"

Nicole mendorong Lee maju dan memandang si kembar. "Sudah cukup. Jangan menggodanya seperti itu." Dan gadis itu lalu mendorong pelan punggung Lee lagi, menyuruhnya tetap berjalan.

"Oh iya. Nanti Feli akan mengamuk pada kita." Kata Fred dan George bersamaan sebelum tertawa terbahak-bahak. Sepanjang hari itu mereka tidak berhenti menggoda Lee sementara pemuda itu sendiri masih setengah tidak percaya akan apa yang terjadi.

Pasangan-pasangan pun mulai terbentuk namun sekarang ada topil pembicaraan baru. Tiga gadis paling terkenal di kelas enam belum memiliki pasangan sama sekali. Banyak yang mengatakan mungkin Nicole tidak mau mencari pasangan dansa karena dilarang Oliver sementara Gisselle dan Elly menunggu seseorang, karena ketiga gadis itu terus menerus menolak ajakan yang berjumlah tidak sedikit itu.

"Bisa kita bicara? Berdua saja."

Nicole, yang sedang mengobrol bersama Gisselle di ruang rekreasi mendongak dan melihat Fred berdiri menatap nya. Bisik-bisik langsung terdengar di ruang rekreasi itu dan pandangan terfokus pada mereka berdua. Mengernyit, Nicole memandang Fred. Pemuda itu memiliki ekspresi yang berbeda dari biasanya, ekspresi serius.

"Baiklah." Akhirnya Nicole bangkit berdiri dan berjalan mengikuti Fred keluar dari ruang rekreasi dan menuju koridor yang kosong. Setelah memastikan tidak ada yang mengikuti mereka, Fred menatap Nicole lagi.

"Aku membutuhkan bantuanmu."

"Bantuan?"

Fred mengangguk. "Ini tentang George. Kurasa.." Pemuda itu terdiam sejenak. "Kurasa..dia menyukai Gisselle."

Nicole tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Ia mengerjapkan matanya berulang kali karena tidak percaya apa yang baru saja ia dengar. George menyukai Gisselle juga?! Ini kabar bagus!

"Aku akan membantumu!" Kata Nicole dengan segera dan kali ini gantian Fred yang terkejut. Namun pemuda itu segera pulih dari keterkejutannya.

"Jadi. Aku punya rencana. Dan begini rencananya.."

***

"Kau mengajak Nicole?" George merangkul saudara kembarnya. "Tapi kau juga mengajak Angelina?"

"Nicole akan pergi bersamamu." Lata Fred sambil meninju pelan perut George dan tertawa. "Dan sama-sama."

George mengernyit, "Kapan aku pernah meminta hal itu?"

"Kau pergu dengan salah satu gadis top kawan! Berterima kasihlah!"

George sudah hendak membalas perkataan saudaranya ketika Nicole dan Gisselle berjalan mendekat dari kejauhan. Ia bisa mendengar suara mereka sebelum mereka menyadari kedua pemuda kembar ini berdiri tidak jauh dari mereka.

"Ku kira ia akan mengajakmu, Nicole."

"Tapi aku sudah pergi dengan George bukan?"

"Ya, aku masih kaget Robert mengajakku."

"Lebih baik daripada tidak ada pasangan bukan?"

"Ya, kau tahu aku sebenarnya--" Kata-kata Gisselle terhenti karena gadis itu melihat George. George sendiri sedang mencerna percakapan kedua gadis yang tidak sengaja ia dengar itu. Gisselle pergi dengan Robert? Serius? Dan tadi Gisselle hendak mengatakan apa? Sebenarnya ia menyukai Robert?

"Kau akan memakai gaun nanti?" Kata Fred sebagai sapaan untuk Nicole yang di balas dengan ucapan pedas dari gadis itu. Mereka berdua sibuk bertengkar sementara Gisselle menatap George yang tidak mengucapkan apa-apa.

"George? Kau baik-baik saja?"

Tersadar dari lamunannya, George berjalan mundur satu langkah karena kaget melihat Gisselle berdiri di depannya persis. "E-eh. Tidak! Maksudku.. aku baik-baik saja." Dengan cepat ia tersenyum lebar lagi dan menepuk-nepuk kepala Gisselle dengan lembut.

"Bagaimana?" Bisik Nicole pada Fred, keduanya masih berpura-pura bertengkar agar Gisselle dan George tidak menyadari percakapan mereka.

"Belum terlihat reaksi." Dan mereka berdua menghembuskan nafas frustasi.

Beberapa hari kemudian baik Nicole maupun Fred memperhatikan perubahan sikap kedua teman mereka itu. Mereka memang sudah meminta bantuan Robert untuk rencana mereka dan bahkan Elly pun mengetahuinya. Pesta Natal semakin dekat dan Elly semakin resah.

"Kau masih menunggunya?" Tanya Nicole saat ia, Elly dan Gisselle sedang menikmati waktu kosong mereka. Elly menolak semua pemuda yang mengajaknya ke pesta dansa karena ia sendiri masih menunggu seseorang mengajaknya, siapa lagi jika bukan Cedric. Seraya mengerutkan keningnya, gadis itu mengangguk.

“Menurutku, Cedric adalah orang yang tidak peka. Kau harus mengajaknya terlebih dahulu.” Kata-kata Nicole menempel di kepala Elly hingga beberapa hari kedepan dan membuat gadis itu akhirnya memutuskan mengikuti saran sahabatnya. Gadis itu akhirnya menemukan Cedric di koridor di suatu sore dan memutuskan untuk mengajak pemuda itu ke pesta dansa bersamanya.

“Ced—“ Baru saja Elly hendak menyapa Cedric ketika Cedric meneriakan nama lain dari mulutnya.

“Cho!”

Elly langsung menghentikan langkahnya ketika melihat pemuda yang tadinya hendak ia sapa berjalan mendekati gadis lain, Cho Chang. Kenangan di Hogsmeade tahun lalu pun kembali terbayang di pikirannya. Tanpa sadar, gadis itu berjalan mendekat namun berusaha sebisa mungkin tidak terlihat oleh mereka berdua.

"C-cedric! Ada apa?" Tanya Cho. Elly bisa melihat muka Cho sedikit memerah dan Cedric menjadi salah tingkah. Elly tidak pernah melihat pemuda itu bertingkah seperti itu.

"Maukah kau ke pesta dansa denganku?"

Elly tidak bisa mempercayai apa yang baru saja ia dengar. Cedric baru saja mengajak Cho ke pesta dansa? Sayup-sayup Elly bisa mendengar Cho menerima ajakan Cedric dan mereka berjalan pergi bersama sambil bercakap-cakap dengan akrab. Elly menatap punggung Cedric yang makin lama makin menjauh dengan rasa sesak di dada. Apakah dia tidak punya kesempatan sama sekali?

Ia yang lebih dulu mengenal Cedric. Ia adalah sahabatnya, yang paling bisa membaca ekspresi pemuda itu. Ia bahkan lebih dekat daripada teman-teman Cedric yang lain, laki-laki sekalipun. Lalu kenapa? Kenapa ia tidak bisa lebih dekat dari sahabat? Apakah ia hanya bisa menjadi sebatas sahabat saja?

Sesak. Rasanya sesak. Awalnya ia berpikir masih mempunyai kesempatan, namun setelah ini, apakah dia masih punya?

Elly hanya berdiri terdiam. Ia tidak bisa menggerakan kakinya dan kali ini tidak ada air mata yang keluar. Dia hanya berdiri diam.

"Elly?"

Suara yang familiar terdengar dari belakannya, tapi Elly tidak bisa menoleh. Suara langkah kaki terdengar mendekat dan Calvin muncul di sebelah Elly. Pemuda itu menatap Elly selama sesaat lalu menggenggam kedua tangannya dengan lembut.

"Elly? Kau tidak apa-apa?" Suara Calvin terdengar gentle dan penuh perhatian. Elly mengangguk pelan namun tidak mengatakan apapun.

"Kau melihat Diggory dengan Chang lagi?"

Lagi-lagi pertanyaan itu di jawab dengan anggukan. Mendadak Calvin menarik Elly kedalam pelukannya.

"Lupakan dia. Lupakan dia dan mulailah menyadari kehadiranku, Elly."

***

Hari Natal pun tiba. Kastil telah dihias dengan indah, mungkin yang paling indah yang pernah dilihat Nicole selama ia tinggal di kastil itu. Gisselle dan Angelina telah memaksanya untuk ikut bersiap-siap bersama mereka tiga jam sebelum pesta dimulai sehingga gadis itu di ‘seret’ oleh mereka ketika sedang bermain perang bola salju bersama si kembar, Harry dan Ron siangnya.

“Aku tidak mengerti..” Kata Nicole saat Gisselle sedang menata rambutnya. Alicia dan Layla, teman sekamarnya yang lain juga ikut serta dalam ‘mendandani’ Nicole. Mereka tampaknya penasaran bagaimana penampilan Nicole, yang selalu tampil asal-asalan, bahkan seperti laki-laki, setelah di make-up nanti.

“Tidak mengerti apa?” Tanya Gisselle.

“Kenapa kita perlu berdandan.”

Keempat teman Nicole langsung menatap gadis itu dengan pandangan tidak percaya, membuat gadis itu mengernyit. Angelina mendadak menarik wajah Nicole agar menghadapnya dan mulai memberikan gadis itu bedak.

“Karena Nicole..” Jawab Angelina. “Kita akan ke pesta dansa bersama pasangan kita, dan kita harus tampil cantik.”

“Aku..” Kata Nicole di sela-sela Angelia mendandaninya. “Tidak.. Peduli.. Tentang..Tampil..Cantik..Di…Depan..Pasanganku.”

“Hanya karena pasanganmu bukan Oliver, bukan berarti kau bisa tampil seadanya saja!!” Kata Layla, ketiga teman Nicole yang lain tertawa mendengarnya.

“Sudah. Menyerah saja. Kami akan mendandanimu habis-habisan!”

Tiga jam kemudian, ruang rekreasi sudah penuh dengan murid yang memakai gaun pesta dan jubah pesta mereka yang berwarna-warni. Fred dan George menunggu di ruang rekreasi dengan jubah mereka yang sama persis.

“Kau tampak cantik!” Kata Fred pada Angelina saat gadis itu turun, membuat Angelina tersipu malu namun berhasil menutupinya sedemikian rupa. George sendiri tidak bisa melepaskan pandangannya dari gadis yang baru saja turun dari tangga menuju asrama perempuan. Gisselle mengenakan dress selutut berwarna soft pink dengan lengan yang terbuat dari bahan yang sedikit transparan.

“Kau.. err.. cantik.” Kata George sebagai sapaan ada Gisselle. Gisselle sendiri tidak membalas, hanya menunduk dengan muka merah padam.

“Astaga! Kalian melakukan apa pada Nicole?” Kata Fred saat melihat Nicole, yang turun terakhir dari tangga menuju asrama perempuan itu. Otomatis semua perhatian tertuju pada Nicole. Gadis itu mengenakan dress tanpa lengan yang panjang berwarna abu-abu lembut. Mukanya telah di make-up natural oleh Angelina dan rambutnya di tata menjadi ikalan-ikalan yang sesuai dengan gaun gadis itu.

“Cocok kan?” Kata Angelina sambil tertawa. Nicole harus menahan godaan agar tidak menginjak kaki Fred yang jelas-jelas tertawa melihatnya.

“Kenapa gaunmu suram seperti itu?” Tanya Lee, ia juga tertawa.

“Pilihan kakekku.” Jawaban Nicole membuat semua orang yang mendengarnya terdiam. Mengejek Nicole boleh saja, tapi mereka masih waras dan tidak mau mencari masalah dengan kepala sekolah mereka.

“Ayo. Robert menunggumu di Aula Depan.” Kata Nicole pada Gisselle. Fred menepuk pundak George dan mereka berenam berjalan menuju Aula Depan, dimana Feli dan Robert sudah menunggu mereka.

“K-k-kau..” Kata Lee, kehilangan kata-kata saat melihat Feli. Gadis itu memakai gaun panjang seperti Nicole namun berlengan satu. Warna gaunnya paduan antara putih dan kuning, warna asramanya, Hufflepuff.

“Katakan saja kawan..” Kata Fred sambil menepuk punggung Lee sambil tertawa.

“K-kau.. cantik!” Kata Lee. Mukanya merah padam disusul dengan muka Feli yang memerah juga saat mengucapkan terima kasihnya. Lee mengulurkan tangannya dan Feli menyambutnya.

“Tidak kusangka. Kira-kira apa yang di sukai Feli dari Lee ya?” Kata Fred saat mengawasi pasangan canggung itu masuk kedalam Aula Utama. Angelina memukul lengan Fred dan memarahinya karena mentertawakan sahabatnya sendiri. Sambil berbicara dengan ribut, kedua orang tersebut menyusul pasangan pertama masuk kedalam Aula Utama.

“Ayo?” Kata Robert. Ia mengulurkan lengannya pada Gisselle dan gadis itu dengan malu-malu mengaitkan tangannya di lengan Robert. Bahkan sampai Gisselle masuk bersama Robert kedalam Aula Utama, George tidak melepaskan pandangannya dari Gisselle, keningnya berkerut.

“Ayo George. Acara akan dimulai.” Kata Nicole dan dia menarik lengan George lalu menyeretnya masuk kedalam Aula Utama. George tidak melawan karena ia tahu tidak ada gunanya melawan.

“Elly!” Kata Nicole saat melihat sahabatnya yang berambut merah itu. Ia mengenakan dress selutut seperti Gisselle dengan paduan warna putih, pink dan hijau pastel. Elly melambai pelan sementara Calvin, yang memegang tangan gadis itu, hanya tersenyum dam membungkuk sedikit dengan sopan.

Acara utama pun segera di mulai setelah acara makan malam yang cukup meriah. Calvin menyadari bahwa pandangan Elly selalu tertuju pada Cedric selama makan malam, walau jelas sekali ia berpura-pura tidak memandang pemuda itu.

“Kau masih memikirkannya.” Kata Calvin saat ia dan Elly sedang berdansa pelan. Itu bukan pertanyaan, melainkan penyataan. Elly tidak menjawab selama beberapa saat hingga akhirnya ia mengangguk pelan. Calvin menggiring gadis itu kesamping dan memandang sepasang mata Hazel milik Elly itu.

“Kau ingin berbicara dengannya?”

Pertanyaan Calvin tentu mengejutkannya. Pemuda ini seakan-akan bisa membaca pikiran Elly dengan mudahnya. Melihat reaksi Elly, Calvin hanya tersenyum lembut sebelum melepaskan tangan Elly dan berjalan menuju tempat Cedric dan Cho yang sedang duduk.

“Diggory. Boleh minta waktumu sebentar?” Kata Calvin.

Cedric menaikkan alisnya, bingung dengan permintaan Calvin tapi akhirnya ia mengangguk dan bangkit berdiri. “Tunggu sebentar, Cho.” Katanya pada Cho yang juga bingung.

“Maaf akan hal ini, Chang.” Kata Calvin sebelum ia dan Cedric berjalan keluar dari Aula Utama. Elly yang melihat ini langsung menyusul mereka berdua dan mendapati mereka berdua berdiri di koridor yang cukup kosong.

“Akan kupastikan tidak ada yang lewat sini.” Bisik Calvin saat melewati Elly dan meninggalkan gadis itu berdua saja dengan Cedric.

“Elly? Ada apa ini?”

Cedric terlihat luar biasa tampan di mata Elly. Jubah pestanya berwarna hitam dengan kemeja putih. Senyuman nya telihat jauh lebih menawan dari biasanya. Bisakah itu semua menjadi milik Elly? Ia meragukannya.

“Aku hanya ingin memberitahumu sesuatu.” Kata Elly sambil berjalan mendekati Cedric dengan senyuman tipis di bibirnya. Ia akan memberi tahu Cedric perasaannya saat ini juga.

“Aku..Aku menyukaimu Cedric.” Elly mengucapkannya dengan mantap dan tidak terbata-bata. Senyumannya melebar, namun entah kenapa juga terkesan sedih. “Hanya itu yang ini kubicarakan. Maaf telah mengganggumu.” Setelah berkata begitu, Elly berbalik dan berjalan pergi.

“Tunggu.” Dan langkah Elly terhenti. “Aku juga menyukaimu.” Kali ini jantung Elly yang seakan-akan berhenti. “Kau sahabat terbaik yang pernah kupunyai.” Sekarang rasanya jiwa Elly telah tercabut. Cedric datang mendekati gadis itu dan mencium dahinya dengan lembut, namun hanya kecupan ‘sahabat’, tidak lebih.

“Selamat Natal!” Ucapnya sebelum berbalik dan berjalan kembali ke Aula Utama, meninggalkan Elly sendirian. Calvin muncul tidak lama setelah Cedric menghilang dari pandangan.

“Elly..” Kata pemuda berambut hitam itu. Ia berjalan dan hendak memeluk Elly namun gadis itu mundur beberapa langkah, menolak pelukan Calvin.

“Aku tidak apa-apa.” Kata Elly. “Aku tidak apa-apa.” Katanya sekali lagi walau rasanya hatinya telah hancur berkeping-keping.

“Aku baik-baik saja.”

***

“George, kau ini bisa berdansa atau tidak?” Keluh Nicole saat pemuda yang menjadi pasangan dansanya itu tidak berdansa dengan baik malam itu. Untungnya ia tidak menginjak kaki Nicole.

“Apa? Oh. Ya aku bisa berdansa.” Jawab George. “Kau sendiri mengherankanku. Tidak kusangka kau bisa berdansa Nicole.”

“Kakek sering mengajakku berdansa sejak kecil.”

“Oh..” Jelas sekali George tidak memperhatikan Nicole. Pemuda berambut merah itu terus-menerus menatap Gisselle dan Robert yang sudah selesai berdansa.

Nicole menghembuskan nafas pasrah dan memandang George dengan tajam. “Kalau kau menyukainya, kau harus bilang padanya.”

George mengerjapkan matanya beberapa kali. “Maaf?”

“Kau menyukai Gisselle.”

“Apa?”

“Jangan menyangkalnya atau kuinjak kakimu.”

George menatap gadis berambut cokelat tua di hadapannya ini dan memikirkan perkataannya. Bilang? Bilang pada Gisselle?

“Katakan padanya sebelum terlambat, idiot.” Kata Nicole lagi. Gadis itu menghentikan langkahnya dan berjalan keluar dari lantai dansa, meninggalkan George yang masih bingung sendirian. Terlambat?

Saat ia sedang memikirkan kata-kata Nicole, ia tidak sengaja melirik kembali ke arah Gisselle dan gadis itu sedang tertawa bersama Robert. Tidak ada kecanggungan diantara mereka dan Robert mengatakan sesuatu lagi yang membuat Gisselle tertawa. Saat melihat hal itu, rasanya ada sesuatu yang memukul dadanya dan saat itu juga ia menyadari. Ia tidak suka bila Gisselle terlalu dekat dengan laki-laki lain. Tidak suka sama sekali.

Dengan cepat pemuda itu mendekati Robert dan Gisselle, membuat kedua orang itu menatapnya dengan bingung.

“George? Ada apa?” Tanya Gisselle.

“Maaf Robert, boleh aku pinjam Gisselle terlebih dahulu?” Kata George, mengabaikan pertanyaan Gisselle. Robert menaikan alisnya dengan bingung namun lalu bangkit berdiri, menepuk pundak George pelan dan berjalan pergi sambil bersiul pelan.

“George?” Kata Gisselle lagi, jelas bingung dengan situasi yang ada. Namun lagi-lagi George mengabaikannya dan menggiring gadis itu dari tempat duduknya dan menuju semak mawar yang terletak persis di bawah mistletoe-mistletoe yang indah.

“George? Ada masalah apa? Kau bertingkah aneh.” Kata Gisselle, terdengar khawatir. George mendadak meletakan kedua tangannya di sisi-sisi kepala Gisselle dan menarik kepala gadis itu dengan lembut sehingga berdekatan dengan wajahnya sendiri.

“Tentu saja ada masalah.” Kata George dengan pelan.

“Ma-masalah apa itu?” Muka Gisselle sudah merah padam dan ia mulai memberontak kecil namun George menolak untuk melepaskannya.

“Aku tidak suka kau terlalu akrab dengan pemuda lain.”

Gisselle menatap George dan menghentikan usaha membebaskan dirinya. Apakah ia tidak salah dengar? George..cemburu?

“A-apa maksudmu George?”

“Kurasa kau mengerti maksudku.” Kata George singkat sebelum menarik Gisselle lebih dekat lagi dan memberinya ciuman singkat di bibirnya. “Kini kau mengerti?”

Muka Gisselle semerah tomat namun ia mengumpulkan keberaniannya untuk menggeleng sebagai jawaban untuk George. Jawaban itu membuat George menciumnya beberapa kali lagi hingga akhirnya Gisselle menyadari dirinya telah terpojokan dengan dinding kastil di belakangnya dan George di depannya.

“Masih belum mengerti?” Tanya George akhirnya.

“Jelaskan dengan kata-kata.”

George tersenyum lebar dan memberi Gisselle sebuah ciuman lagi.

“Aku mencintaimu. Jangan melirik pemuda lain lagi karena sekarang kau milikku.”

***TBC***

A/N : Cheesy ah. Ga pernah bagus kalo buat adegan romance asdfghjkl OTL
Mohon maaf apabila ada kesalahan *bows*

Original Plot by : Our Queen, JK Rowling
The ‘new’ plot Made by : Liz
Take out with full credits please~ ^^

0 komentar:

Posting Komentar