Chapter 19 : Friends or More Than That?
(Setting
: HP 4)
Pesta
keberhasilan Harry dalam tugas pertamanya dirayakan selama beberapa jam
sehingga Nicole dan Joe harus mengusir mereka dari ruang rekreasi untuk tidur
sebelum McGonagall memarahi mereka. Bahkan Nicole menjitak si kembar karena
terus menerus mengerjai anak-anak dengan Krim Kenari ciptaan mereka.
November
berlalu dan Desember pun tiba. Seluruh penghuni kasti di gemparkan dengan
pengumuman akan Yule Ball yang akan di adakan di Hari Natal nanti. Semua gadis
mulai berjalan dalam rombongan dan terkikik setiap kali para pemuda lewat. Hal
itu membuat Nicole sebal.
“Mereka
terlalu melebihkan reaksi mereka.” Kata Nicole saat gadis-gadis kelas 5
terkikik keras karena dua orang pemuda melewati mereka. Ia, Gisselle, si kembar
dan Lee sedang duduk di meja Gryffindor, menikmati makan siang mereka.
“Mereka
antusias dalam hal ini, semua gadis normal merasakan hal itu, Nicole.” Kata
Fred dan tidak lama kemudian pemuda itu mengernyit kesakitan karena kakinya di
injak oleh gadis yang bersangkutan.
“Kalian
sudah memutuskan akan pergi ke pesta dengan siapa?” Tanya Lee dengan penasaran
pada dua gadis yang ada itu. Nicole dan Gisselle bertukar pandang lalu
menggeleng. “Jadi maksudnya kalian menolak semua ajakan itu?!” Memang sudah banyak
pemuda yang mengajak Nicole dan Gisselle ke pesta dansa dengan nekatnya, tentu
saja di tolak oleh mereka.
“Mereka
bahkan jarang berbicara denganku.” Kata Nicole, mengernyit ketika mengingat
pemuda yang mengajaknya kemarin malam di ruang rekreasi. “Aku bahkan tidak tahu
namanya.”
“A-aku
tidak mau pergi dengan orang asing..” Gumam Gisselle pelan. Gadis itu selalu
melonjak kaget saat ada yang mengajaknya dan langsung bersembunyi di belakang
Nicole dengan muka memerah, membiarkan sahabatnya yang berambut cokelat tua itu
menjelaskan kepribadian Gisselle yang pemalu di depan semua orang kecuali
sahabat terdekatnya.
“Tenang
saja. Kalian punya tiga pemuda tampan yang siap mengajak kalian pergi ke
pesta.” Kata Fred sambil mengedipkan matanya. George dan Gisselle mendadak
bertingkah aneh. George menjadi salah tingkah sendiri dan Gisselle menunduk
diam. Hal ini menarik perhatian Fred dan Nicole yang lalu bertukar pandang
bertanya tanpa ada kata-kata yang tertukar di antara mereka.
“Eh
ayo.” Mendadak Lee bangkit berdiri. “Kita akan telat untuk kelas bila tidak
jalan sekarang.” Dan teman-temannya mengikuti jejaknya. Baru saja mereka tiba
di Aula Depan dan hendak berbelok untuk berjalan menuju ruang kelas Mantra,
Feli dan teman-temannya berjalan melewati mereka. Semua teman gadis yang
merupakan adik Cedric itu menoleh ke arah Lee dan mendorong-dorong Feli dengan
bersemangat lalu terkikik geli. Membuat semua teman Lee bingung dan Lee sendiri
yang paling bingung.
“L-lee!”
Kata Feli akhirnya.
“Uh..
Ya?” Lee baru mengatakan dua patah kata dan seluruh teman Feli terkikik geli,
membuat gadis itu menoleh ke belakang dengan pandangan memperingatkan.
“Kau
sudah memiliki pasangan untuk pesta dansa nanti?”
Satu
detik, Dua detik, di detik ketiga muka Lee lalu memerah dan keempat teman Lee
harus menahan tawanya agar tidak melukai perasaan Lee dan Feli. Nicole
menginjak kaki si kembar yang nampaknya sudah tidak kuat menahan tawanya.
“Be-belum..”
Feli
terdiam sejenak lalu mengambil nafas dalam-dalam. “Maukahkaukepestadansadenganku?”
Katanya dengan cepat.
“Ma-maaf?”
Kata Lee walau dia sudah tau apa yang di maksud oleh gadis itu. Fred dan George
mulai tampak tersiksa karena menahan tawa yang hampir tidak terbendung itu.
“Maukah..”
Muka Feli merah padam. “..kau ke pesta dansa denganku?”
"Oooh.."
Kata Fred dan George bersamaan, membuat muka Lee dan Feli lebih merah lagi.
Nicole dan Gisselle tidak menghentikan si kembar lagi karena mereka berdua
sibuk memperhatikan pasangan yang menjadi pusat perhatian saat ini.
"Te-tentu!"
Kata Lee dengan cepat. Ia tampaknya ingin mengatakan sesuatu lagi namun
mengurungkan niatnya.
"B-b-baiklah.
Sampai nanti Lee!" Setelah berkata begitu Feli langsung berbalik dan
berjalan pergi dengan cepat bersama teman-temannya yang terkikir tidak henti.
Lee sendiri berdiri diam selama beberapa saat sebelum Fred dan George
merangkulnya dari kanan dan kiri pemuda itu dan menyeretnya maju. Setelah cukup
jauh dari tempat 'kejadian' tadi, kedua pemuda itu memandang Lee dengan
cengiran lebar.
"Selamat
kawan!"
"Tidak
kusangka kau yang akan mendapat pasangan pertama di antara kita!"
"Sungguh
di luar dugaan!!"
Nicole
mendorong Lee maju dan memandang si kembar. "Sudah cukup. Jangan
menggodanya seperti itu." Dan gadis itu lalu mendorong pelan punggung Lee
lagi, menyuruhnya tetap berjalan.
"Oh
iya. Nanti Feli akan mengamuk pada kita." Kata Fred dan George bersamaan
sebelum tertawa terbahak-bahak. Sepanjang hari itu mereka tidak berhenti
menggoda Lee sementara pemuda itu sendiri masih setengah tidak percaya akan apa
yang terjadi.
Pasangan-pasangan
pun mulai terbentuk namun sekarang ada topil pembicaraan baru. Tiga gadis
paling terkenal di kelas enam belum memiliki pasangan sama sekali. Banyak yang
mengatakan mungkin Nicole tidak mau mencari pasangan dansa karena dilarang
Oliver sementara Gisselle dan Elly menunggu seseorang, karena ketiga gadis itu
terus menerus menolak ajakan yang berjumlah tidak sedikit itu.
"Bisa
kita bicara? Berdua saja."
Nicole,
yang sedang mengobrol bersama Gisselle di ruang rekreasi mendongak dan melihat
Fred berdiri menatap nya. Bisik-bisik langsung terdengar di ruang rekreasi itu
dan pandangan terfokus pada mereka berdua. Mengernyit, Nicole memandang Fred.
Pemuda itu memiliki ekspresi yang berbeda dari biasanya, ekspresi serius.
"Baiklah."
Akhirnya Nicole bangkit berdiri dan berjalan mengikuti Fred keluar dari ruang
rekreasi dan menuju koridor yang kosong. Setelah memastikan tidak ada yang
mengikuti mereka, Fred menatap Nicole lagi.
"Aku
membutuhkan bantuanmu."
"Bantuan?"
Fred
mengangguk. "Ini tentang George. Kurasa.." Pemuda itu terdiam
sejenak. "Kurasa..dia menyukai Gisselle."
Nicole
tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Ia mengerjapkan matanya berulang
kali karena tidak percaya apa yang baru saja ia dengar. George menyukai
Gisselle juga?! Ini kabar bagus!
"Aku
akan membantumu!" Kata Nicole dengan segera dan kali ini gantian Fred yang
terkejut. Namun pemuda itu segera pulih dari keterkejutannya.
"Jadi.
Aku punya rencana. Dan begini rencananya.."
***
"Kau
mengajak Nicole?" George merangkul saudara kembarnya. "Tapi kau juga
mengajak Angelina?"
"Nicole
akan pergi bersamamu." Lata Fred sambil meninju pelan perut George dan
tertawa. "Dan sama-sama."
George
mengernyit, "Kapan aku pernah meminta hal itu?"
"Kau
pergu dengan salah satu gadis top kawan! Berterima kasihlah!"
George
sudah hendak membalas perkataan saudaranya ketika Nicole dan Gisselle berjalan
mendekat dari kejauhan. Ia bisa mendengar suara mereka sebelum mereka menyadari
kedua pemuda kembar ini berdiri tidak jauh dari mereka.
"Ku
kira ia akan mengajakmu, Nicole."
"Tapi
aku sudah pergi dengan George bukan?"
"Ya,
aku masih kaget Robert mengajakku."
"Lebih
baik daripada tidak ada pasangan bukan?"
"Ya,
kau tahu aku sebenarnya--" Kata-kata Gisselle terhenti karena gadis itu
melihat George. George sendiri sedang mencerna percakapan kedua gadis yang
tidak sengaja ia dengar itu. Gisselle pergi dengan Robert? Serius? Dan tadi
Gisselle hendak mengatakan apa? Sebenarnya ia menyukai Robert?
"Kau
akan memakai gaun nanti?" Kata Fred sebagai sapaan untuk Nicole yang di
balas dengan ucapan pedas dari gadis itu. Mereka berdua sibuk bertengkar
sementara Gisselle menatap George yang tidak mengucapkan apa-apa.
"George?
Kau baik-baik saja?"
Tersadar
dari lamunannya, George berjalan mundur satu langkah karena kaget melihat
Gisselle berdiri di depannya persis. "E-eh. Tidak! Maksudku.. aku
baik-baik saja." Dengan cepat ia tersenyum lebar lagi dan menepuk-nepuk
kepala Gisselle dengan lembut.
"Bagaimana?"
Bisik Nicole pada Fred, keduanya masih berpura-pura bertengkar agar Gisselle
dan George tidak menyadari percakapan mereka.
"Belum
terlihat reaksi." Dan mereka berdua menghembuskan nafas frustasi.
Beberapa
hari kemudian baik Nicole maupun Fred memperhatikan perubahan sikap kedua teman
mereka itu. Mereka memang sudah meminta bantuan Robert untuk rencana mereka dan
bahkan Elly pun mengetahuinya. Pesta Natal semakin dekat dan Elly semakin
resah.
"Kau
masih menunggunya?" Tanya Nicole saat ia, Elly dan Gisselle sedang
menikmati waktu kosong mereka. Elly menolak semua pemuda yang mengajaknya ke
pesta dansa karena ia sendiri masih menunggu seseorang mengajaknya, siapa lagi
jika bukan Cedric. Seraya mengerutkan keningnya, gadis itu mengangguk.
“Menurutku,
Cedric adalah orang yang tidak peka. Kau harus mengajaknya terlebih dahulu.”
Kata-kata Nicole menempel di kepala Elly hingga beberapa hari kedepan dan
membuat gadis itu akhirnya memutuskan mengikuti saran sahabatnya. Gadis itu
akhirnya menemukan Cedric di koridor di suatu sore dan memutuskan untuk
mengajak pemuda itu ke pesta dansa bersamanya.
“Ced—“
Baru saja Elly hendak menyapa Cedric ketika Cedric meneriakan nama lain dari
mulutnya.
“Cho!”
Elly
langsung menghentikan langkahnya ketika melihat pemuda yang tadinya hendak ia
sapa berjalan mendekati gadis lain, Cho Chang. Kenangan di Hogsmeade tahun lalu
pun kembali terbayang di pikirannya. Tanpa sadar, gadis itu berjalan mendekat
namun berusaha sebisa mungkin tidak terlihat oleh mereka berdua.
"C-cedric!
Ada apa?" Tanya Cho. Elly bisa melihat muka Cho sedikit memerah dan Cedric
menjadi salah tingkah. Elly tidak pernah melihat pemuda itu bertingkah seperti
itu.
"Maukah
kau ke pesta dansa denganku?"
Elly
tidak bisa mempercayai apa yang baru saja ia dengar. Cedric baru saja mengajak
Cho ke pesta dansa? Sayup-sayup Elly bisa mendengar Cho menerima ajakan Cedric
dan mereka berjalan pergi bersama sambil bercakap-cakap dengan akrab. Elly
menatap punggung Cedric yang makin lama makin menjauh dengan rasa sesak di
dada. Apakah dia tidak punya kesempatan sama sekali?
Ia
yang lebih dulu mengenal Cedric. Ia adalah sahabatnya, yang paling bisa membaca
ekspresi pemuda itu. Ia bahkan lebih dekat daripada teman-teman Cedric yang
lain, laki-laki sekalipun. Lalu kenapa? Kenapa ia tidak bisa lebih dekat dari
sahabat? Apakah ia hanya bisa menjadi sebatas sahabat saja?
Sesak.
Rasanya sesak. Awalnya ia berpikir masih mempunyai kesempatan, namun setelah
ini, apakah dia masih punya?
Elly
hanya berdiri terdiam. Ia tidak bisa menggerakan kakinya dan kali ini tidak ada
air mata yang keluar. Dia hanya berdiri diam.
"Elly?"
Suara
yang familiar terdengar dari belakannya, tapi Elly tidak bisa menoleh. Suara
langkah kaki terdengar mendekat dan Calvin muncul di sebelah Elly. Pemuda itu
menatap Elly selama sesaat lalu menggenggam kedua tangannya dengan lembut.
"Elly?
Kau tidak apa-apa?" Suara Calvin terdengar gentle dan penuh perhatian.
Elly mengangguk pelan namun tidak mengatakan apapun.
"Kau
melihat Diggory dengan Chang lagi?"
Lagi-lagi
pertanyaan itu di jawab dengan anggukan. Mendadak Calvin menarik Elly kedalam
pelukannya.
"Lupakan
dia. Lupakan dia dan mulailah menyadari kehadiranku, Elly."
***
Hari
Natal pun tiba. Kastil telah dihias dengan indah, mungkin yang paling indah
yang pernah dilihat Nicole selama ia tinggal di kastil itu. Gisselle dan
Angelina telah memaksanya untuk ikut bersiap-siap bersama mereka tiga jam
sebelum pesta dimulai sehingga gadis itu di ‘seret’ oleh mereka ketika sedang
bermain perang bola salju bersama si kembar, Harry dan Ron siangnya.
“Aku
tidak mengerti..” Kata Nicole saat Gisselle sedang menata rambutnya. Alicia dan
Layla, teman sekamarnya yang lain juga ikut serta dalam ‘mendandani’ Nicole.
Mereka tampaknya penasaran bagaimana penampilan Nicole, yang selalu tampil
asal-asalan, bahkan seperti laki-laki, setelah di make-up nanti.
“Tidak
mengerti apa?” Tanya Gisselle.
“Kenapa
kita perlu berdandan.”
Keempat
teman Nicole langsung menatap gadis itu dengan pandangan tidak percaya, membuat
gadis itu mengernyit. Angelina mendadak menarik wajah Nicole agar menghadapnya
dan mulai memberikan gadis itu bedak.
“Karena
Nicole..” Jawab Angelina. “Kita akan ke pesta dansa bersama pasangan kita, dan
kita harus tampil cantik.”
“Aku..”
Kata Nicole di sela-sela Angelia mendandaninya. “Tidak.. Peduli..
Tentang..Tampil..Cantik..Di…Depan..Pasanganku.”
“Hanya
karena pasanganmu bukan Oliver, bukan berarti kau bisa tampil seadanya saja!!”
Kata Layla, ketiga teman Nicole yang lain tertawa mendengarnya.
“Sudah.
Menyerah saja. Kami akan mendandanimu habis-habisan!”
Tiga
jam kemudian, ruang rekreasi sudah penuh dengan murid yang memakai gaun pesta
dan jubah pesta mereka yang berwarna-warni. Fred dan George menunggu di ruang
rekreasi dengan jubah mereka yang sama persis.
“Kau
tampak cantik!” Kata Fred pada Angelina saat gadis itu turun, membuat Angelina
tersipu malu namun berhasil menutupinya sedemikian rupa. George sendiri tidak
bisa melepaskan pandangannya dari gadis yang baru saja turun dari tangga menuju
asrama perempuan. Gisselle mengenakan dress selutut berwarna soft pink dengan
lengan yang terbuat dari bahan yang sedikit transparan.
“Kau..
err.. cantik.” Kata George sebagai sapaan ada Gisselle. Gisselle sendiri tidak
membalas, hanya menunduk dengan muka merah padam.
“Astaga!
Kalian melakukan apa pada Nicole?” Kata Fred saat melihat Nicole, yang turun
terakhir dari tangga menuju asrama perempuan itu. Otomatis semua perhatian
tertuju pada Nicole. Gadis itu mengenakan dress tanpa lengan yang panjang
berwarna abu-abu lembut. Mukanya telah di make-up natural oleh Angelina dan
rambutnya di tata menjadi ikalan-ikalan yang sesuai dengan gaun gadis itu.
“Cocok
kan?” Kata Angelina sambil tertawa. Nicole harus menahan godaan agar tidak
menginjak kaki Fred yang jelas-jelas tertawa melihatnya.
“Kenapa
gaunmu suram seperti itu?” Tanya Lee, ia juga tertawa.
“Pilihan
kakekku.” Jawaban Nicole membuat semua orang yang mendengarnya terdiam.
Mengejek Nicole boleh saja, tapi mereka masih waras dan tidak mau mencari
masalah dengan kepala sekolah mereka.
“Ayo.
Robert menunggumu di Aula Depan.” Kata Nicole pada Gisselle. Fred menepuk
pundak George dan mereka berenam berjalan menuju Aula Depan, dimana Feli dan
Robert sudah menunggu mereka.
“K-k-kau..”
Kata Lee, kehilangan kata-kata saat melihat Feli. Gadis itu memakai gaun panjang
seperti Nicole namun berlengan satu. Warna gaunnya paduan antara putih dan
kuning, warna asramanya, Hufflepuff.
“Katakan
saja kawan..” Kata Fred sambil menepuk punggung Lee sambil tertawa.
“K-kau..
cantik!” Kata Lee. Mukanya merah padam disusul dengan muka Feli yang memerah
juga saat mengucapkan terima kasihnya. Lee mengulurkan tangannya dan Feli
menyambutnya.
“Tidak
kusangka. Kira-kira apa yang di sukai Feli dari Lee ya?” Kata Fred saat
mengawasi pasangan canggung itu masuk kedalam Aula Utama. Angelina memukul
lengan Fred dan memarahinya karena mentertawakan sahabatnya sendiri. Sambil
berbicara dengan ribut, kedua orang tersebut menyusul pasangan pertama masuk
kedalam Aula Utama.
“Ayo?”
Kata Robert. Ia mengulurkan lengannya pada Gisselle dan gadis itu dengan
malu-malu mengaitkan tangannya di lengan Robert. Bahkan sampai Gisselle masuk
bersama Robert kedalam Aula Utama, George tidak melepaskan pandangannya dari
Gisselle, keningnya berkerut.
“Ayo
George. Acara akan dimulai.” Kata Nicole dan dia menarik lengan George lalu
menyeretnya masuk kedalam Aula Utama. George tidak melawan karena ia tahu tidak
ada gunanya melawan.
“Elly!”
Kata Nicole saat melihat sahabatnya yang berambut merah itu. Ia mengenakan
dress selutut seperti Gisselle dengan paduan warna putih, pink dan hijau
pastel. Elly melambai pelan sementara Calvin, yang memegang tangan gadis itu,
hanya tersenyum dam membungkuk sedikit dengan sopan.
Acara
utama pun segera di mulai setelah acara makan malam yang cukup meriah. Calvin
menyadari bahwa pandangan Elly selalu tertuju pada Cedric selama makan malam, walau
jelas sekali ia berpura-pura tidak memandang pemuda itu.
“Kau
masih memikirkannya.” Kata Calvin saat ia dan Elly sedang berdansa pelan. Itu
bukan pertanyaan, melainkan penyataan. Elly tidak menjawab selama beberapa saat
hingga akhirnya ia mengangguk pelan. Calvin menggiring gadis itu kesamping dan
memandang sepasang mata Hazel milik Elly itu.
“Kau
ingin berbicara dengannya?”
Pertanyaan
Calvin tentu mengejutkannya. Pemuda ini seakan-akan bisa membaca pikiran Elly
dengan mudahnya. Melihat reaksi Elly, Calvin hanya tersenyum lembut sebelum
melepaskan tangan Elly dan berjalan menuju tempat Cedric dan Cho yang sedang
duduk.
“Diggory.
Boleh minta waktumu sebentar?” Kata Calvin.
Cedric
menaikkan alisnya, bingung dengan permintaan Calvin tapi akhirnya ia mengangguk
dan bangkit berdiri. “Tunggu sebentar, Cho.” Katanya pada Cho yang juga
bingung.
“Maaf
akan hal ini, Chang.” Kata Calvin sebelum ia dan Cedric berjalan keluar dari
Aula Utama. Elly yang melihat ini langsung menyusul mereka berdua dan mendapati
mereka berdua berdiri di koridor yang cukup kosong.
“Akan
kupastikan tidak ada yang lewat sini.” Bisik Calvin saat melewati Elly dan
meninggalkan gadis itu berdua saja dengan Cedric.
“Elly?
Ada apa ini?”
Cedric
terlihat luar biasa tampan di mata Elly. Jubah pestanya berwarna hitam dengan
kemeja putih. Senyuman nya telihat jauh lebih menawan dari biasanya. Bisakah
itu semua menjadi milik Elly? Ia meragukannya.
“Aku
hanya ingin memberitahumu sesuatu.” Kata Elly sambil berjalan mendekati Cedric
dengan senyuman tipis di bibirnya. Ia akan memberi tahu Cedric perasaannya saat
ini juga.
“Aku..Aku
menyukaimu Cedric.” Elly mengucapkannya dengan mantap dan tidak terbata-bata.
Senyumannya melebar, namun entah kenapa juga terkesan sedih. “Hanya itu yang
ini kubicarakan. Maaf telah mengganggumu.” Setelah berkata begitu, Elly
berbalik dan berjalan pergi.
“Tunggu.”
Dan langkah Elly terhenti. “Aku juga menyukaimu.” Kali ini jantung Elly yang
seakan-akan berhenti. “Kau sahabat terbaik yang pernah kupunyai.” Sekarang
rasanya jiwa Elly telah tercabut. Cedric datang mendekati gadis itu dan mencium
dahinya dengan lembut, namun hanya kecupan ‘sahabat’, tidak lebih.
“Selamat
Natal!” Ucapnya sebelum berbalik dan berjalan kembali ke Aula Utama,
meninggalkan Elly sendirian. Calvin muncul tidak lama setelah Cedric menghilang
dari pandangan.
“Elly..”
Kata pemuda berambut hitam itu. Ia berjalan dan hendak memeluk Elly namun gadis
itu mundur beberapa langkah, menolak pelukan Calvin.
“Aku
tidak apa-apa.” Kata Elly. “Aku tidak apa-apa.” Katanya sekali lagi walau
rasanya hatinya telah hancur berkeping-keping.
“Aku
baik-baik saja.”
***
“George,
kau ini bisa berdansa atau tidak?” Keluh Nicole saat pemuda yang menjadi
pasangan dansanya itu tidak berdansa dengan baik malam itu. Untungnya ia tidak
menginjak kaki Nicole.
“Apa?
Oh. Ya aku bisa berdansa.” Jawab George. “Kau sendiri mengherankanku. Tidak
kusangka kau bisa berdansa Nicole.”
“Kakek
sering mengajakku berdansa sejak kecil.”
“Oh..”
Jelas sekali George tidak memperhatikan Nicole. Pemuda berambut merah itu terus-menerus
menatap Gisselle dan Robert yang sudah selesai berdansa.
Nicole
menghembuskan nafas pasrah dan memandang George dengan tajam. “Kalau kau
menyukainya, kau harus bilang padanya.”
George
mengerjapkan matanya beberapa kali. “Maaf?”
“Kau
menyukai Gisselle.”
“Apa?”
“Jangan
menyangkalnya atau kuinjak kakimu.”
George
menatap gadis berambut cokelat tua di hadapannya ini dan memikirkan
perkataannya. Bilang? Bilang pada Gisselle?
“Katakan
padanya sebelum terlambat, idiot.” Kata Nicole lagi. Gadis itu menghentikan
langkahnya dan berjalan keluar dari lantai dansa, meninggalkan George yang
masih bingung sendirian. Terlambat?
Saat
ia sedang memikirkan kata-kata Nicole, ia tidak sengaja melirik kembali ke arah
Gisselle dan gadis itu sedang tertawa bersama Robert. Tidak ada kecanggungan
diantara mereka dan Robert mengatakan sesuatu lagi yang membuat Gisselle
tertawa. Saat melihat hal itu, rasanya ada sesuatu yang memukul dadanya dan
saat itu juga ia menyadari. Ia tidak suka bila Gisselle terlalu dekat dengan
laki-laki lain. Tidak suka sama sekali.
Dengan
cepat pemuda itu mendekati Robert dan Gisselle, membuat kedua orang itu
menatapnya dengan bingung.
“George?
Ada apa?” Tanya Gisselle.
“Maaf
Robert, boleh aku pinjam Gisselle terlebih dahulu?” Kata George, mengabaikan
pertanyaan Gisselle. Robert menaikan alisnya dengan bingung namun lalu bangkit
berdiri, menepuk pundak George pelan dan berjalan pergi sambil bersiul pelan.
“George?”
Kata Gisselle lagi, jelas bingung dengan situasi yang ada. Namun lagi-lagi
George mengabaikannya dan menggiring gadis itu dari tempat duduknya dan menuju
semak mawar yang terletak persis di bawah mistletoe-mistletoe yang indah.
“George?
Ada masalah apa? Kau bertingkah aneh.” Kata Gisselle, terdengar khawatir.
George mendadak meletakan kedua tangannya di sisi-sisi kepala Gisselle dan
menarik kepala gadis itu dengan lembut sehingga berdekatan dengan wajahnya
sendiri.
“Tentu
saja ada masalah.” Kata George dengan pelan.
“Ma-masalah
apa itu?” Muka Gisselle sudah merah padam dan ia mulai memberontak kecil namun
George menolak untuk melepaskannya.
“Aku
tidak suka kau terlalu akrab dengan pemuda lain.”
Gisselle
menatap George dan menghentikan usaha membebaskan dirinya. Apakah ia tidak
salah dengar? George..cemburu?
“A-apa
maksudmu George?”
“Kurasa
kau mengerti maksudku.” Kata George singkat sebelum menarik Gisselle lebih
dekat lagi dan memberinya ciuman singkat di bibirnya. “Kini kau mengerti?”
Muka
Gisselle semerah tomat namun ia mengumpulkan keberaniannya untuk menggeleng
sebagai jawaban untuk George. Jawaban itu membuat George menciumnya beberapa
kali lagi hingga akhirnya Gisselle menyadari dirinya telah terpojokan dengan
dinding kastil di belakangnya dan George di depannya.
“Masih
belum mengerti?” Tanya George akhirnya.
“Jelaskan
dengan kata-kata.”
George
tersenyum lebar dan memberi Gisselle sebuah ciuman lagi.
“Aku
mencintaimu. Jangan melirik pemuda lain lagi karena sekarang kau milikku.”
***TBC***
A/N : Cheesy ah. Ga
pernah bagus kalo buat adegan romance asdfghjkl OTL
Mohon maaf apabila ada
kesalahan *bows*
Original Plot by : Our Queen, JK Rowling
The ‘new’ plot Made
by : Liz
Take
out with full credits please~ ^^

0 komentar:
Posting Komentar