Chapter 21 : A
Piece Of The Past?
(Setting
: HP 5)
"Ini dia."
Nicole memandang bangunan tua yang mendadak muncul
di antara rumah nomor 11 dan 13 itu dengan kening berkerut. Inikah rumah yang
menjadi markas mereka untuk kedepannya? Tampaknya bangunan itu perlu banyak
bantuan. Melihat ekspresi cucunya, Dumbledore tersenyum dan menggiring gadis
itu masuk.
"Selamat datang di Grimmauld Place nomor
12." Kata Dumbledore sambil membuka pintu. "Tenang saja. Kau tidak
akan sendirian."
"Dumbledore?"
Seorang pemuda muncul dari pintu di ujung lorong
yang terlihat lusuh itu.
Rambutnya panjang dan sorot matanya sedikit liar. Nicole mengernyit lagi dan
kali ini Sirius Black mengikuti jejaknya.
“Inikah
Nicole?” Kata Sirius sambil mengalihkan pandangan dari Nicole ke Dumbledore.
Mereka berdua memang berlum pernah berkenalan secara resmi, walau keduanya
sudah saling mendengar satu dengan yang lain melalui Dumbledore. Ketika
professor tua itu mengangguk, baik Nicole maupun Sirius berkenalan dengan
canggung.
“Dia
akan membantumu selama liburan musim panas ini, Sirius. Keluarga Weasley juga
akan menetap disini selama musim panas.” Kata Dumbledore, sudah berbalik dan
hendak pergi kembali.
“Bagaimana
dengan Harry dan Elly?” Tanya Sirius.
“Jangan
khawatir tentang mereka. Baiklah, sampai nanti Nicole.” Dumbledore memberi
pelukan pada cucunya dan tepukan di pundak untuk Sirius sebelum keluar dari
rumah dan ber Dis-Apparate.
“Er..”
Kata Sirius, suasana mereka cukup canggung. “Barang-barangmu sudah menunggu di
atas.”
“Terima
kasih." Jawab Nicole.
"Dan
er.. kuperkenalkan kau dengan penghuni lain rumah ini. Hanya agar tidak kaget
saja." Kata Sirius. Pria itu kemudian berteriak keras.
"Kreacher!!"
Tidak
ada satu hal pun yang terjadi dan Sirius kembali berteriak. Kali ini, dari
salah satu pintu di lorong rumah, munculah seorang peri rumah berwajah tidak
ramah. Ia berjalan ke arah Sirius lalu membungkuk rendah.
"Anda
memanggil, Tuan?"
"Ya,
dasar kau makhluk tidak berguna." Ujar Sirius dengan kasar, membuat Nicole
sedikit terkejut. "Ini Kreacher, peri rumah ini." Lanjut Sirius
sambil menatap Nicole, lalu balik ke Kreacher lagi. "Ini Nicole Ravensdale
dan dia akan tinggal bersama kita selama musim panas ini."
"Kreacher
siap melayani anda." Kata sang peri rumah seraya membungkuk pada Nicole
lagi. Setelah itu Sirius mengusir Kreacher dan mempersilahkan Nicole untuk
pergi ke kamarnya. Tampaknya, hari-hari sebelum keluarga Weasley datang di
rumah itu akan menjadi hari-hari yang canggung bagi Nicole dan Sirius.
Well,
jelas itu pemikiran yang salah.
“Sirius!”
Pria
berambut panjang itu terlonjak dari tempat duduknya ketika mendengar suara
Nicole yang bisa dibilang cukup keras itu. “Apa?” Ujar Sirius dengan nada malas
ketika menemukan sumber suaranya, gadis yang sedang berdiri di ambang pintu
dengan kedua tangan terlipat di dadanya dan sapu bersandar di dinding tidak
jauh darinya.
“Sampai
kapan kau mau bermalas-malasan?” Omel Nicole.
“Aku
hanya beristirahat sejenak.”
Nicole
memutar kedua bola matanya dengan kesal. “Sejenak. Maksudmu selama setengah
jam?”
“Kira-kira
begitulah.”
Dan
sebuah kain lap terbang dari ambang pintu lalu mendarat tepat di muka Sirius.
Hanya perlu sehari bagi kedua orang itu untuk menghilangkan kecanggungan
diantara mereka. Mungkin karena mereka memiliki beberapa kesamaan sehingga
mereka menjadi cepat akrab, walau keakraban itu di tunjukan dengan pertengkaran
setiap hari selama seminggu mereka bersama sama membersihkan rumah tua itu.
Sambil
menggerutu kesal, Sirius bangkit berdiri dan mulai mengelap kaca jendela yang
menghadap ke arah luar, ke jalanan yang kosong. Mendadak kemunculan
segerombolan orang berambut merah, seorang gadis berambut cokelat dan seorang
pria tua menarik perhatiannya.
“Nicole!!”
Gadis
yang dipanggil pun menjulurkan kepalanya dari ambang pintu menuju dapur dan
memberikan pandangan bertanya pada Sirius. Sirius memberikan tanda untuk
mendekatinya dan menunjuk ke jendela dimana dia baru saja melihat Keluarga
Weasley, Hermione dan Dumbledore.
“Baik-baik
saja kalian berdua?” Kata Dumbledore ketika ia dan rombongannya masuk kedalam
rumah bernama Grimmauld Place nomor 12 itu. Fred dan George adalah yang terakhir masuk. Mereka berdua menatap
Nicole dengan cengiran jahil.
“Apa?”
Tanya Nicole. Kedua pemuda kembar itu memandang satu dengan yang lain sebelum
membuka mulutnya hendak mengatakan sesuatu, namun sayangnya, di potong oleh ibu
mereka sendiri.
“Sedang
apa kalian disitu, Fred? Dan kau George? Cepat taruh barang-barang kalian di
kamar dan kita akan memulai bersih-bersih?”
Fred
dan George menutup mulut mereka dan merenggut kecewa. Dengan enggan mereka
melakukan apa yang disuruh ibu mereka. Dumbledore kembali pergi dengan
terburu-buru dan hanya meninggalkan satu pesan.
“Ingatkan
pada semua orang. Aku sudah memberitahu mereka sebenarnya. Jangan menyurati
Harry sampai ia tiba disini. Aku takut pos juga di awasi. Sampai nanti.”
Ketika
Dumbledore sudah menghilang dari pandangan, Ron dan Hermione mendekati Nicole.
“Nicole.”
Dan dari pandangan mereka, Nicole tahu apa yang hendak mereka tanyakan. Ginny
dan si kembar juga berjalan mendekat karena penasaran. Nicole menghela nafas
dan memutuskan untuk memberi tahu mereka hal-hal yang di ijinkan kakeknya untuk
di beritakan pada mereka.
***
Elly
menghabiskan hari-hari awal musim panasnya dengan mengikuti Harry kemana saja.
Bukan karena dia takut adiknya diserang atau apapun, tapi dia tidak bisa
sendirian saat ini. Bila ia duduk sendirian, bayangan kematian Cedric kembali
menghantuinya dan ia bisa gila jika itu terus menerus terjadi.
Tidak
ada kabar. Harry juga mengalami hal yang sama. Teman-teman dari Potter
bersaudara ini tetap menyurati mereka tentu saja, tapi tidak ada kabar kapan
mereka akan di ‘selamatkan’ dari rumah Keluarga Dursley.
Hari
ini hari yang sama dengan hari lainnya. Elly mengikuti Harry namun jarang
mengatakan apapun, hal yang membuat adiknya luar biasa cemas. Gadis itu hanya
menatap pertengkaran Harry dan Dudley dengan tatapan kosong, sampai satu
kalimat dari Duddley membuatnya meledak.
“Jangan
bunuh Cedric! Jangan bunuh Cedric!” Kata Dudley dengan nada merengek yang
terkesan sebagai ejekan. Harry harus menahan Elly agar tidak melompat dan
menyerang Dudley dengan tongkat di tangannya. Harry menahan Elly sambil terus
membalas perkataan Dudley dengan kata-kata yang tidak kalah tajam juga. Baru
saja Elly mulai merasa tenang ketika mendadak udara mendingin.
“A-apa
yang kau lakukan?” Tanya Dudley, gemetar ketakutan. “Apa yang kalian lakukan?”
Baik Harry maupun Elly mengetahui sensasi dingin yang aneh ini, Dementor. Namun
Dudley tidak bisa melihat sosok berjubah hitam itu. Dengan panik ia malah
memukul Harry dan berlari ke arah Dementor itu.
“Dudley!
Jangan lari kesana!” Teriak Harry. Elly mengeluarkan tongkatnya sementara Harry
masih mencari tongkatnya yang jatuh tadi. Gadis itu menatap Dementor sambil
mengigil. Dia harus membantu Dudley. Harry tidak di ijinkan menyihir karena
masih berumur 15 tahun, masih termasuk penyihir di bawah umur, sementara Elly
sudah 17, sudah bebas dari peraturan ‘tidak ada sihir di luar sekolah’.
"Expecto
Patronum.." Gumam gadis itu. Tapi tidak ada yang terjadi. Ia tidak bisa
membayangkan ingatan bahagia, satupun tidak. “Expecto Patronum!” Kata Elly
lagi, dengan nada putus asa. Namun tongkatnya hanya mengeluarkan kabut perak
yang tidak bertahan lama. Gadis itu tidak pernah merasa se-tidak berdaya
seperti ini. Ia hanya bisa melihat ketika Harry mengeluarkan rusa jantan
peraknya dan ketika Mrs. Figg membantu mereka.
Kejadian-kejadian
berikutnya terlalu cepat dan terlalu mengejutkan baik untuk Elly maupun Harry.
Kenyataan bahwa mereka berdua diawasi oleh Mrs. Figg dan Mundungus, surat dari
Kementrian Sihir, pengusiran mereka dari rumah keluarga Dursley, surat dari
Dumbledore dan Sirius dan berakhir dengan pengurungan mereka berdua di kamar
Harry.
“Kau
tidak akan menulis surat pada sahabatmu?” Tanya Harry ketika ia baru saja
menyelesaikan surat miliknya untuk Ron, Hermione dan Sirius. “Hedwig masih bisa
mengirim beberapa surat lagi.”
Elly
menggeleng dan menunjuk seekor burung hantu hitam yang nyaris tidak terlihat di
pojok ruangan. Natte, burung hantu jantan milik Nicole ber-uhu pelan saat Elly
menunjuknya. “Ia membawa surat dari Nicole.”
***
Gisselle
tidak pernah melakukan hal ini sebelumnya. Bertengkar keras dengan kakek dan
neneknya hingga mengurung diri di kamar seperti itu. Namun ia merasa perlu
melakukannya, terutama setelah menerima surat dari Nicole. Kakek dan Neneknya
merupakan anggota Orde Phoenix yang diketuai oleh Dumbledore, tapi jelas mereka
melarang gadis itu terlibat dalam hal tersebut, bahkan mendengar kabar pun
tidak diijinkan. Jika ia tidak menerima surat dari Nicole, dia tidak akan
mengetahui apa-apa.
“Gisselle?”
Suara kakeknya terdengar dari balik pintu kamar. Gisselle berjalan mendekati
pintu kamarnya agar kakeknya bisa mendengar balasannya.
“Ya?”
“Kami
sudah memutuskan. Kau boleh tinggal di tempat Nicole berada sepanjang musim
panas ini. Tapi kau dilarang keras untuk mencampuri urusan Orde.”
Mendengar
kata kakeknya, Gisselle langsung membuka pintu lalu memeluk kakeknya dan dua
jam kemudian, mereka sudah tiba di depan Grimmauld Place nomor 12, markas besar
Orde. Nicole sendiri lah yang menyambut mereka.
“Maaf
sedikit lusuh.” Kata Nicole setelah menyapa kakek dan nenek Gisselle dengan
sopan. “Rumah ini di tinggalkan begitu lama sehingga hingga sekarang,
bersih-bersih belum selesai.”
“Bagaimana
dengan Elly?” Tanya Gisselle. Kakek dan Neneknya sudah mohon diri dan kembali
ke rumah mereka. Gadis berambut brunette itu duduk di ranjangnya, di kamar
miliknya dan Nicole, serta Elly ketika ia tiba nanti.
“Mereka
merencanakan untuk menjemput Elly dan Harry lusa.” Jawab Nicole. Dan itu
percakapan yang bisa mereka lakukan secara pribadi sebelum si kembar mendadak
ber-Apparate di depan mereka. George langsung berlari ke arah Gisselle sesaat
setelah selesai ber-Apparate.
“Love
birds..” Gumam Fred saat melihat saudara kembarnya sendiri. Pemuda berambut
merah itu duduk di tepi ranjang Nicole, sementara George melakukan hal yang
sama, hanya saja di ranjang Gisselle.
“Bagaimana
kau dan Angelina?” Tanya Nicole dan Fred langsung pura-pura batuk. Hal itu
mengundang tawa semua orang yang melihatnya. Bahan pembicaraan mengenai Fred
yang menjadi semakin dekat dengan chaser Gryffindor, Angelina Johnson memang
semakin terkenal sejak Yule Ball Natal yang lalu.
“Oh
ya. Hanya kau di antara kita yang belum mengikuti test Apparate ya?” Kata Fred,
jelas sekali berusaha mengalihkan pembicaraan. Memang, hanya Nicole yang belum
mencapai umur 17 di antara semua temannya. Ia baru akan berulang tahun seminggu
lagi. “Aneh ya. Yang paling muda dari antara kita adalah yang paling galak.”
Dan sebuah bantal mendarat tepat di wajah Fred dan tawa kembali terdengar.
“Apakah
Elly dan Harry akan baik-baik saja?” Tanya Gisselle, membuat canda tawa yang
sejak tadi terdengar, berhenti.
“Kakek
dan yang lain sudah berusaha sebaik mungkin. Aku yakin mereka akan baik-baik
saja.” Kata Nicole, berusaha menghibur Gisselle yang memang suka merasa khawatir
berlebihan bila hal itu tentang teman-temannya.
Harry
dan Elly tiba dua hari kemudian, di malam hari setelah Dumbledore datang di Grimmauld
Place nomor 12 untuk memulai rapat. Dan seperti sebelum-sebelumnya, semua
anak-anak yang belum lulus sekolah di minta pergi ke kamar masing-masing dan
tidak turun sebelum dipanggil. Fred dan George sudah berusaha menguping
berulang kali namun selalu gagal karena Nicole tidak mengijinkannya
“Elly!”
Seru Gisselle ketika melihat gadis berambut merah itu di ambang kamar tidur
mereka. Dengan segera ia dan Nicole menyambut Elly dan membantu gadis itu
membereskan barang-barang bawaannya. Mendadak suara Harry yang sedang berteriak
terdengar dari lantai bawah, membuat ketiga gadis yang ada melonjak kaget.
“Kurasa
semua kekesalannya tertumpah sudah.” Komentar Nicole.
“Siapapun
akan kesal jika tidak mendapat kabar selama sebulan lebih.” Tukas Elly. “Tidak
seperti kalian yang selalu mendapat kabar terbaru disini.” Mata hazelnya
bertemu dengan mata hijau milik Nicole selama beberapa detik sebelum ia
akhirnya memalingkan mukanya. “Maaf.”
“Tidak
perlu.” Jawab Nicole dengan nada ringan. “Itu hal yang wajar.”
“Lagipula,
kami tidak mendapatkan kabar apapun disini. Semuanya di rahasiakan oleh anggota
Orde.” Kata Gisselle, berusaha mencairkan keteganggan. “Bahkan Nicole hanya
mengetahui sedikit saja, dan itu semua telah dilarang oleh kakeknya untuk di
ceritakan kepada siapapun.”
Hening.
Akhirnya Elly membuka mulutnya. “Jadi, tempat apa ini?”
“Grimmauld
Place nomor 12, rumah Sirius yang di ubah menjadi markas besar Orde Phoenix.”
Jawab Nicole.
“Orde
Phoenix?”
“Perkumpulan
rahasia anti-Voldemort.” Ketika nama Voldemort disebutkan, Gisselle melonjak
dan Elly mengernyit. “Kakekku ketuanya.” Terdengar bunyi letupan keras dari
arah kamar Harry dan Ron, membuat Elly terlonjak namun tampaknya Nicole dan
Gisselle telah terbiasa.
“Apa
itu?” Tanya Elly.
“Fred
dan George ber-Apparate.” Kata Gisselle sementara Nicole sudah bangkit berdiri.
Mereka bertiga akhirnya menuruni tangga dan berjalan menuju kamar Harry, hanya
untuk mendapati kedua pemuda kembar itu membawa Telinga Terjulur, temuan
mereka.
“Oh
tidak lagi. Sudah kularang kalian untuk menguping jalannya rapat.” Omel Nicole.
Ginny yang juga berada disitu menyapa Elly yang di balas dengan senyuman kecil
dari gadis yang lebih tua itu.
“Kami
tidak akan melakukannya. Pintu sudah di beri mantra oleh ibu.” Jawab George
dengan kecewa. “Ginny baru saja memberitahu kami.” Percakapan pun berlangsung
selama beberapa saat, sampai mendadak Fred dan George mengeluarkan bunyi ‘uh-oh’
lalu ber-Disapparate dan sesaat kemudian Mrs. Weasley membuka pintu kamar untuk
memberi tahu makan malam telah siap.
Makan
malam cukup ramai, mengingat hampir seluruh keluarga Weasley ada disana, plus
dengan anggota Orde lainnya seperti Tonks, Lupin dan Mundungus. Makan makan
sampai di akhirnya dan pembicaraan mulai masuk ke topik yang selalu di
tunggu-tunggu oleh Harry, Voldemort dan kegiatan Orde. Sirius dan Mrs. Weasley
berdebat seru mengenai hal itu sampai akhirnya Harry dan Elly diperbolehkan.
“Baiklah,
Fred dan George boleh mendengarkan.” Kata Mrs. Weasley setelah kedua putra
kembarnya memprotes dan ayah mereka sendiri memperbolehkannya. “Tapi yang lain
masih belum cukup umur—“ Dan Ron menyelanya kembali. Debat singkat terjadi dan
akhirnya Ron dan Hermione diijinkan mendengar juga.
“Baiklah
Gisselle—“
“Gisselle
sudah cukup umur!” Protes George dan mamanya pun merenggut kesal.
“Baiklah
Ginny dan Nicole..”
“Tidak
ada gunanya melarang Nicole, Molly.” Kali ini Lupin yang menyela. “Ia malah
mungkin tahu beberapa hal yang tidak kita ketahui. Bagaimana pun juga, dia cucu
Dumbledore.”
“Baik!”
Kata Mrs. Weasley untuk kesekian kalinya, suaranya bergetar karena kesal. “Baik!
GINNY—TIDUR!!” Wanita tersebut membawa anaknya yang paling bungsu ke kamar
tidurnya. Ginny memberontak dan berteriak kepada ibunya sendiri, membuat sesaat
rumah itu dipenuhi suara perdebatan ibu dan anak itu.
“Jadi
Harry, apa yang ingin kau ketahui?”
***
“Kau
siap?”
“Aku
siap ketika kau siap.”
Kedua
pemuda berambut merah itu menunjukan cengiran mereka kepada satu dengan yang
lain sebelum akhirnya ber-Disapparate dari kamar mereka. Tujuan mereka? Tentu
saja kamar pada gadis di lantai atas. Hari ini adalah tanggal 11 Agustus.
Bunyi
letupan keras pun terdengar di pagi buta itu. Fred dan George muncul di sisi
kanan dan kiri ranjang Nicole, siap untuk melemparkan gadis itu ke udara. Namun
sayang sekali, harapan mereka tidak terkabul. Nicole mendadak membuka matanya
dan menarik tangan Fred, bangkit berdiri dan membanting pemuda itu ke
ranjangnya. George otomatis mundur dan duduk di tepi ranjang Gisselle yang
berada tepat disebelah ranjang Nicole.
“Nicole!
Ampun! Ampun!” Teriak Fred ketika Nicole memutuskan untuk duduk di punggung
pemuda itu dan mulai mencubiti tangannya.
“Apa
yang kalian lakukan di pagi buta seperti ini?” Tanya Nicole. Gisselle dan Elly
juga terbangun karena suara berisik Fred. Gisselle nyaris menjerit ketika
mendapati George sedang duduk di ranjangnnya.
“Memberimu
kejutan di hari ulang tahunmu!” Teriak Fred.
Alis
Nicole pun naik mendengar penjelasan pemuda itu. Gadis itu akhirnya menyingkir
dari punggung Fred dan membiarkan pemuda itu duduk normal kembali.
“Kau
membuatnya seakan-akan hendak menyerangku.” Protes Nicole, tapi gadis itu
tersenyum. “Tapi terima kasih, aku menghargainya.”
Hari
itu Grimmauld Place nomor 12 di penuhi dengan orang. Anggota Orde berdatangan
untuk memberikan Nicole ucapan di hari ulang tahunnya yang ke 17, dimana
akhirnya dia, secara resmi, menjadi penyihir dewasa. Dumbledore sendiri datang
berkunjung walau tidak bisa berlama-lama.
“Seharusnya
hal ini di rayakan di Hogwarts namun melihat situasi kita..” Kata Dumbledore
ketika ia dan Nicole duduk berdua di salah satu ruangan di dalam rumah besar
milik keluarga Black itu. Semua orang memberikan mereka kesempatan untuk
bercakap-cakap hanya berdua saja.
“Tidak
apa-apa kakek. Aku mengerti.” Jawab Nicole sambil tersenyum. “Acara makan malam
di rumah ini saja sudah cukup.”
“Maafkan
aku tidak bisa tinggal lama-lama disini, Nicole.” Muka kakeknya tampak sedih,
dan Nicole memperhatikan, letih. Kakeknya berulang kali meminta maaf pada gadis
itu walau jelas Nicole berkata tidak apa-apa.
“Tidak
terasa. Kau berumur 17..” Kata Dumbledore sambil menatap Nicole dengan lembut. “Mungkin
sudah saatnya kau mengetahui hal mengenai keluargamu.”
“Keluargaku?”
“Keluarga
aslimu.”
***
“Seharusnya
kita bisa melakukan lebih dari ini.” Kata Mrs. Weasley. Meja makan sudah
dikelilingi berbagai macam anggota Orde yang ikut merayakan ulang tahun Nicole
ini. Sama seperti yang ia lakukan pada kakeknya, Nicole berulang kali
mengatakan tidak apa apa dan ia puas dengan makan malam sederhana ini.
“Apa
yang kaudapat darinya?”
Nicole
tersentak dari lamunannya. Ia terus memikirkan kata-kata kakeknya siang tadi,
mengenai keluarga aslinya, sehingga tidak menyadari Sirius sedang berbicara
padanya.
“Apa?”
Tanya Nicole seraya mengerjapkan matanya beberapa kali.
“Kau
tahu, si Keeper itu. Apa yang kaudapat darinya sebagai kado?” Sirius nyengir
jahil pada Nicole, membuat gadis itu harus menahan godaan agar tidak memukul
pria itu.
“Rahasia.”
Jawab Nicole tajam. “Fred dan George yang memberi tahu mu tentang Oliver?”
“Bukan.
Dumbledore.”
Jawaban
Sirius membuat Nicole tersedak butterbeer yang sedang diminumnya. Gisselle
harus menepuk-nepuk punggung gadis berambut cokelat tua itu agar ia berhenti
batuk.
“Apa?”
Kata Nicole setelah ia pulih dari tersedaknya. “Kakek?”
“Ia
tidak berhenti menanyakan kapan Oliver akan melamarmu, Nicole.” Kata Lupin dari
seberang meja. Nicole mengalihkan pandangannya dari Sirius ke Lupin. Beberapa
anggota Orde yang lain menimpali dengan hal yang sama. Tampaknya Dumbledore
membawa topik itu ke rapat Orde yang terakhir.
“Ke-ke-kenapa
ia membahas hal itu..” Muka Nicole memerah dan semua orang tertawa melihatnya.
Muka Nicole yang memerah malu adalah sebuah pemandangan yang jarang sekali untuk
semua orang kecuali tentu saja, Dumbledore dan Oliver.
“Ya.
Kalian berdua sudah secara resmi dewasa sekarang..” Kata Tonks dan yang lain
langsung bergumam menyetujui. Fred dan George bahkan berdiri dari tempat duduk
mereka dan mulai bernyanyi lagu pernikahan dengan keras-keras, menyebabkan satu
jitakan dari Nicole untuk masing-masing dari mereka.
“Ayo.
Sudah cukup malam dan kalian berdua perlu tidur agar bisa bangun pagi esok
harinya.” Kata Mrs. Weasley pada Harry dan Nicole. Harry menoleh ke arah Nicole
dengan pandangan bertanya. Pemuda itu memang akan menghadiri sidangnya besok,
tapi bagaimana dengan Nicole?
“Test
Apparate ku juga besok.” Kata Nicole sambil tersenyum pada pemuda yang lebih
muda itu. “Dan test itu di adakan di Kementrian sihir juga.”
Baik
sidang Harry maupun test Nicole berjalan dengan lancar. Pesta kembali di
adakan, walau kecil-kecilan, untuk merayakan hal itu. Dengan cepat, liburan
musim panas pun berlalu dan hanya tinggal sehari sebelum mereka kembali ke
sekolah Hogwarts. Surat-surat pun tiba bagi anak-anak yang masih bersekolah
disana.
“Teori
Pertahanan Sihir.” Gumam Gisselle saat membaca surat miliknya. Elly melakukan
hal yang sama dengan Gisselle, tapi Nicole tidak. Surat milik Nicole tergeletak
terabaikan di ranjang dan gadis itu sibuk memandangi lencana yang berada di
atas telapak tangannya.
“Hey
Nicole, siapa guru Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam kita yang baru?” Tanya
Gisselle seraya menoleh ke arah sahabatnya itu lalu memekik ketika melihat apa
yang Nicole pegang.
“Astaga
Nicole! Aku tidak percaya! Ketua Murid!” Gadis brunette itu melompat berdiri
dan segera menghampiri Nicole, disusul oleh Elly.
“Apa
aku tidak salah dengar?” Kepala George muncul dari balik pintu bersama dengan
Kepala Fred. Kedua pemuda itu mengintip kedalam kamar para gadis. “Nicole?
Ketua Murid?”
“Lihat
saja sendiri bila tidak percaya!” Kata Gisselle, masih terkejut sekaligus riang
melihat lencana Ketua Murid di tangan Nicole.
“Ronnie
dan Hermione juga mendapat lencana Prefect.” Kata Fred seraya memasuki ruangan.
“Dan
berakhirlah semua kesenangan kita..” Timpal George dan mereka berdua menangis
palsu sambil berpelukan lalu mereka ber-Disapparate sebelum Nicole bisa
melemparkan barang ke arah mereka.
Dan
untuk ketiga kalinya, makan malam meriah di adakan untuk merayakan terpilihnya
Ron dan Hermione sebagai prefect, serta Nicole sebagai Ketua Murid.
“Yah,
melihat fakta bahwa kau satu-satunya orang yang bisa menghentikan Fred dan
George ketika mereka sedang bertingkah, aku tidak heran Dumbledore mengangkatmu
sebagai Ketua Murid.” Kata Mr. Weasley sambil tertawa.
“Menghentikan
tingkah mereka memang tidak pernah mudah.” Timpal Bill sambil nyengir.
“Kulihat
kau melakukan pekerjaan yang lebih bagus dariku.” Kata Lupin. “Aku tidak pernah
bisa menghentikan ulah James dan Sirius.”
“Dan
hal Ketua Murid ini bisa menjadi catatan yang bagus bila kau ingin menjadi
Auror.” Kata Kingsley.
Semakin
banyak kata-kata dari mereka, semakin Nicole menjadi salah tingkah. Ia memang
tidak tahan bila orang merendahkannya namun ia juga tidak bagus dalam
menghadapi pujian yang bertubi-tubi seperti itu.
Pesta
berlangsung singkat karena rombongan yang kembali ke Hogwarts harus berangkat
pagi-pagi agar tidak ketinggalan kereta. Nicole berpisah dengan Gisselle, si
kembar, Harry dan Ginny dan pergi ke gerbong khusus untuk Prefect bersama Elly,
Ron dan Hermione.
“Oh
tidak.” Gumam Ron, dan Nicole tahu kenapa ia bergumam seperti itu. Draco Malfoy
adalah prefect baru Slytherin.
“Jangan
di pedulikan.” Kata Hermione sambil masuk kedalam kompartemen untuk
prefect-prefect baru. Nicole mengikuti kedua anak itu sementara Elly masuk
kedalam kompartemen lainnya, tempat para Prefect yang lebih senior.
“Nicole!”
Robert melambaikan tangannya ketika Nicole memasuki kompartemen itu. “Sudah
kuduga kau yang menjadi Ketua Murid!” Serunya bersemangat.
“Biar
kutebak, kau juga?” Kata Nicole seraya tersenyum. Mengetahui bahwa Robert
adalah partnernya membuat dirinya merasa lebih tenang. Setidaknya masih
seseorang yang ia kenal. Robert mengangguk dengan bangga sementara dua anak
Hufflepuff masuk kedalam kompartemen itu. Melihat semua prefect baru sudah
lengkap berkumpul, Nicole menyenggol tangan Robert dan memandang ke delapan
anak kelas lima yang terpilih itu.
“Baiklah.
Dengarkan baik-baik.”
***
“Ia
mengerikan.”
“Aku
tahu.” Jawab Nicole. Mereka baru saja selesai mengikuti pelajaran pertama
Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam di tahun ajaran baru itu. Gisselle tampaknya
membenci Umbridge sejak pandangan pertama. Nicole belum pernah melihat sahabatnya
bertingkah seperti itu.
“Ia
memperlakukan kakekku seakan-akan dia tidak berguna.” Kata Gisselle seakan-akan
membaca pikiran Nicole. Kakek Gisselle juga bekerja di Kementrian. Kedua gadis
itu berjalan menuju Aula Utama untuk makan siang bersama si kembar dan Lee.
Bisik-bisik mengikuti Nicole saat ia berjalan melewati meja-meja asrama. Apalagi jika bukan bisik-bisik mengenai 'kegilaan' Dumbledore yang di bahas di Daily Prophet?
“Mereka
benar-benar tidak tahu malu.” Komentar Fred sambil mengambil tempat duduk di
depan Nicole.
“Aku
tidak peduli. Biarkan saja mereka.” Jawab Nicole tenang. “Lupakan soal itu, aku
ingin menanyaimu mengenai poster yang kau tempelkan di ruang rekreasi.”
“Poster
yang mana?” Tanya George.
“Yang
mengenai pekerjaan paruh waktu pada kalian.”
“Ada
apa dengan poster itu?” Tanya Fred.
“Kalian
tahu jika kalian keterlaluan aku akan memberi kalian berdua detensi?”
Kilatan
jahil terlihat di mata Fred dan George.
“Kapan
sih kami pernah keterlaluan?”
***TBC***
A/N : ……aneh ya?
Judulnya itu ngebahas
yang pas Dumbledore mau nyeritain tentang keluarga asli Nicole
….abis bingung mau
judulnya apa OTL
Anyway, mohon maaf
apabila ada kesalahan *bows*
Original Plot by : Our Queen, JK Rowling
The ‘new’ plot Made
by : Liz
Take
out with full credits please~ ^^

0 komentar:
Posting Komentar