Jumat, 25 Juli 2014

Hogwarts' Beloved : Chapter 21

Chapter 21 : A Piece Of The Past?
                                                (Setting : HP 5)

"Ini dia."

Nicole memandang bangunan tua yang mendadak muncul di antara rumah nomor 11 dan 13 itu dengan kening berkerut. Inikah rumah yang menjadi markas mereka untuk kedepannya? Tampaknya bangunan itu perlu banyak bantuan. Melihat ekspresi cucunya, Dumbledore tersenyum dan menggiring gadis itu masuk.

"Selamat datang di Grimmauld Place nomor 12." Kata Dumbledore sambil membuka pintu. "Tenang saja. Kau tidak akan sendirian."

"Dumbledore?"

Seorang pemuda muncul dari pintu di ujung lorong yang terlihat lusuh itu. Rambutnya panjang dan sorot matanya sedikit liar. Nicole mengernyit lagi dan kali ini Sirius Black mengikuti jejaknya.

“Inikah Nicole?” Kata Sirius sambil mengalihkan pandangan dari Nicole ke Dumbledore. Mereka berdua memang berlum pernah berkenalan secara resmi, walau keduanya sudah saling mendengar satu dengan yang lain melalui Dumbledore. Ketika professor tua itu mengangguk, baik Nicole maupun Sirius berkenalan dengan canggung.

“Dia akan membantumu selama liburan musim panas ini, Sirius. Keluarga Weasley juga akan menetap disini selama musim panas.” Kata Dumbledore, sudah berbalik dan hendak pergi kembali.

“Bagaimana dengan Harry dan Elly?” Tanya Sirius.

“Jangan khawatir tentang mereka. Baiklah, sampai nanti Nicole.” Dumbledore memberi pelukan pada cucunya dan tepukan di pundak untuk Sirius sebelum keluar dari rumah dan ber Dis-Apparate.

“Er..” Kata Sirius, suasana mereka cukup canggung. “Barang-barangmu sudah menunggu di atas.”

“Terima kasih." Jawab Nicole.

"Dan er.. kuperkenalkan kau dengan penghuni lain rumah ini. Hanya agar tidak kaget saja." Kata Sirius. Pria itu kemudian berteriak keras. "Kreacher!!"

Tidak ada satu hal pun yang terjadi dan Sirius kembali berteriak. Kali ini, dari salah satu pintu di lorong rumah, munculah seorang peri rumah berwajah tidak ramah. Ia berjalan ke arah Sirius lalu membungkuk rendah.

"Anda memanggil, Tuan?"

"Ya, dasar kau makhluk tidak berguna." Ujar Sirius dengan kasar, membuat Nicole sedikit terkejut. "Ini Kreacher, peri rumah ini." Lanjut Sirius sambil menatap Nicole, lalu balik ke Kreacher lagi. "Ini Nicole Ravensdale dan dia akan tinggal bersama kita selama musim panas ini."

"Kreacher siap melayani anda." Kata sang peri rumah seraya membungkuk pada Nicole lagi. Setelah itu Sirius mengusir Kreacher dan mempersilahkan Nicole untuk pergi ke kamarnya. Tampaknya, hari-hari sebelum keluarga Weasley datang di rumah itu akan menjadi hari-hari yang canggung bagi Nicole dan Sirius.

Well, jelas itu pemikiran yang salah.

“Sirius!”

Pria berambut panjang itu terlonjak dari tempat duduknya ketika mendengar suara Nicole yang bisa dibilang cukup keras itu. “Apa?” Ujar Sirius dengan nada malas ketika menemukan sumber suaranya, gadis yang sedang berdiri di ambang pintu dengan kedua tangan terlipat di dadanya dan sapu bersandar di dinding tidak jauh darinya.

“Sampai kapan kau mau bermalas-malasan?” Omel Nicole.

“Aku hanya beristirahat sejenak.”

Nicole memutar kedua bola matanya dengan kesal. “Sejenak. Maksudmu selama setengah jam?”

“Kira-kira begitulah.”

Dan sebuah kain lap terbang dari ambang pintu lalu mendarat tepat di muka Sirius. Hanya perlu sehari bagi kedua orang itu untuk menghilangkan kecanggungan diantara mereka. Mungkin karena mereka memiliki beberapa kesamaan sehingga mereka menjadi cepat akrab, walau keakraban itu di tunjukan dengan pertengkaran setiap hari selama seminggu mereka bersama sama membersihkan rumah tua itu.

Sambil menggerutu kesal, Sirius bangkit berdiri dan mulai mengelap kaca jendela yang menghadap ke arah luar, ke jalanan yang kosong. Mendadak kemunculan segerombolan orang berambut merah, seorang gadis berambut cokelat dan seorang pria tua menarik perhatiannya.

“Nicole!!”

Gadis yang dipanggil pun menjulurkan kepalanya dari ambang pintu menuju dapur dan memberikan pandangan bertanya pada Sirius. Sirius memberikan tanda untuk mendekatinya dan menunjuk ke jendela dimana dia baru saja melihat Keluarga Weasley, Hermione dan Dumbledore.

“Baik-baik saja kalian berdua?” Kata Dumbledore ketika ia dan rombongannya masuk kedalam rumah bernama Grimmauld Place nomor 12 itu. Fred dan George adalah yang terakhir masuk. Mereka berdua menatap Nicole dengan cengiran jahil.

“Apa?” Tanya Nicole. Kedua pemuda kembar itu memandang satu dengan yang lain sebelum membuka mulutnya hendak mengatakan sesuatu, namun sayangnya, di potong oleh ibu mereka sendiri.

“Sedang apa kalian disitu, Fred? Dan kau George? Cepat taruh barang-barang kalian di kamar dan kita akan memulai bersih-bersih?”

Fred dan George menutup mulut mereka dan merenggut kecewa. Dengan enggan mereka melakukan apa yang disuruh ibu mereka. Dumbledore kembali pergi dengan terburu-buru dan hanya meninggalkan satu pesan.

“Ingatkan pada semua orang. Aku sudah memberitahu mereka sebenarnya. Jangan menyurati Harry sampai ia tiba disini. Aku takut pos juga di awasi. Sampai nanti.”

Ketika Dumbledore sudah menghilang dari pandangan, Ron dan Hermione mendekati Nicole.

“Nicole.” Dan dari pandangan mereka, Nicole tahu apa yang hendak mereka tanyakan. Ginny dan si kembar juga berjalan mendekat karena penasaran. Nicole menghela nafas dan memutuskan untuk memberi tahu mereka hal-hal yang di ijinkan kakeknya untuk di beritakan pada mereka.

***

Elly menghabiskan hari-hari awal musim panasnya dengan mengikuti Harry kemana saja. Bukan karena dia takut adiknya diserang atau apapun, tapi dia tidak bisa sendirian saat ini. Bila ia duduk sendirian, bayangan kematian Cedric kembali menghantuinya dan ia bisa gila jika itu terus menerus terjadi.

Tidak ada kabar. Harry juga mengalami hal yang sama. Teman-teman dari Potter bersaudara ini tetap menyurati mereka tentu saja, tapi tidak ada kabar kapan mereka akan di ‘selamatkan’ dari rumah Keluarga Dursley.

Hari ini hari yang sama dengan hari lainnya. Elly mengikuti Harry namun jarang mengatakan apapun, hal yang membuat adiknya luar biasa cemas. Gadis itu hanya menatap pertengkaran Harry dan Dudley dengan tatapan kosong, sampai satu kalimat dari Duddley membuatnya meledak.

“Jangan bunuh Cedric! Jangan bunuh Cedric!” Kata Dudley dengan nada merengek yang terkesan sebagai ejekan. Harry harus menahan Elly agar tidak melompat dan menyerang Dudley dengan tongkat di tangannya. Harry menahan Elly sambil terus membalas perkataan Dudley dengan kata-kata yang tidak kalah tajam juga. Baru saja Elly mulai merasa tenang ketika mendadak udara mendingin.

“A-apa yang kau lakukan?” Tanya Dudley, gemetar ketakutan. “Apa yang kalian lakukan?” Baik Harry maupun Elly mengetahui sensasi dingin yang aneh ini, Dementor. Namun Dudley tidak bisa melihat sosok berjubah hitam itu. Dengan panik ia malah memukul Harry dan berlari ke arah Dementor itu.

“Dudley! Jangan lari kesana!” Teriak Harry. Elly mengeluarkan tongkatnya sementara Harry masih mencari tongkatnya yang jatuh tadi. Gadis itu menatap Dementor sambil mengigil. Dia harus membantu Dudley. Harry tidak di ijinkan menyihir karena masih berumur 15 tahun, masih termasuk penyihir di bawah umur, sementara Elly sudah 17, sudah bebas dari peraturan ‘tidak ada sihir di luar sekolah’.

"Expecto Patronum.." Gumam gadis itu. Tapi tidak ada yang terjadi. Ia tidak bisa membayangkan ingatan bahagia, satupun tidak. “Expecto Patronum!” Kata Elly lagi, dengan nada putus asa. Namun tongkatnya hanya mengeluarkan kabut perak yang tidak bertahan lama. Gadis itu tidak pernah merasa se-tidak berdaya seperti ini. Ia hanya bisa melihat ketika Harry mengeluarkan rusa jantan peraknya dan ketika Mrs. Figg membantu mereka.

Kejadian-kejadian berikutnya terlalu cepat dan terlalu mengejutkan baik untuk Elly maupun Harry. Kenyataan bahwa mereka berdua diawasi oleh Mrs. Figg dan Mundungus, surat dari Kementrian Sihir, pengusiran mereka dari rumah keluarga Dursley, surat dari Dumbledore dan Sirius dan berakhir dengan pengurungan mereka berdua di kamar Harry.

“Kau tidak akan menulis surat pada sahabatmu?” Tanya Harry ketika ia baru saja menyelesaikan surat miliknya untuk Ron, Hermione dan Sirius. “Hedwig masih bisa mengirim beberapa surat lagi.”

Elly menggeleng dan menunjuk seekor burung hantu hitam yang nyaris tidak terlihat di pojok ruangan. Natte, burung hantu jantan milik Nicole ber-uhu pelan saat Elly menunjuknya. “Ia membawa surat dari Nicole.”

***

Gisselle tidak pernah melakukan hal ini sebelumnya. Bertengkar keras dengan kakek dan neneknya hingga mengurung diri di kamar seperti itu. Namun ia merasa perlu melakukannya, terutama setelah menerima surat dari Nicole. Kakek dan Neneknya merupakan anggota Orde Phoenix yang diketuai oleh Dumbledore, tapi jelas mereka melarang gadis itu terlibat dalam hal tersebut, bahkan mendengar kabar pun tidak diijinkan. Jika ia tidak menerima surat dari Nicole, dia tidak akan mengetahui apa-apa.

“Gisselle?” Suara kakeknya terdengar dari balik pintu kamar. Gisselle berjalan mendekati pintu kamarnya agar kakeknya bisa mendengar balasannya.

“Ya?”

“Kami sudah memutuskan. Kau boleh tinggal di tempat Nicole berada sepanjang musim panas ini. Tapi kau dilarang keras untuk mencampuri urusan Orde.”

Mendengar kata kakeknya, Gisselle langsung membuka pintu lalu memeluk kakeknya dan dua jam kemudian, mereka sudah tiba di depan Grimmauld Place nomor 12, markas besar Orde. Nicole sendiri lah yang menyambut mereka.

“Maaf sedikit lusuh.” Kata Nicole setelah menyapa kakek dan nenek Gisselle dengan sopan. “Rumah ini di tinggalkan begitu lama sehingga hingga sekarang, bersih-bersih belum selesai.”

“Bagaimana dengan Elly?” Tanya Gisselle. Kakek dan Neneknya sudah mohon diri dan kembali ke rumah mereka. Gadis berambut brunette itu duduk di ranjangnya, di kamar miliknya dan Nicole, serta Elly ketika ia tiba nanti.

“Mereka merencanakan untuk menjemput Elly dan Harry lusa.” Jawab Nicole. Dan itu percakapan yang bisa mereka lakukan secara pribadi sebelum si kembar mendadak ber-Apparate di depan mereka. George langsung berlari ke arah Gisselle sesaat setelah selesai ber-Apparate.

“Love birds..” Gumam Fred saat melihat saudara kembarnya sendiri. Pemuda berambut merah itu duduk di tepi ranjang Nicole, sementara George melakukan hal yang sama, hanya saja di ranjang Gisselle.

“Bagaimana kau dan Angelina?” Tanya Nicole dan Fred langsung pura-pura batuk. Hal itu mengundang tawa semua orang yang melihatnya. Bahan pembicaraan mengenai Fred yang menjadi semakin dekat dengan chaser Gryffindor, Angelina Johnson memang semakin terkenal sejak Yule Ball Natal yang lalu.

“Oh ya. Hanya kau di antara kita yang belum mengikuti test Apparate ya?” Kata Fred, jelas sekali berusaha mengalihkan pembicaraan. Memang, hanya Nicole yang belum mencapai umur 17 di antara semua temannya. Ia baru akan berulang tahun seminggu lagi. “Aneh ya. Yang paling muda dari antara kita adalah yang paling galak.” Dan sebuah bantal mendarat tepat di wajah Fred dan tawa kembali terdengar.

“Apakah Elly dan Harry akan baik-baik saja?” Tanya Gisselle, membuat canda tawa yang sejak tadi terdengar, berhenti.

“Kakek dan yang lain sudah berusaha sebaik mungkin. Aku yakin mereka akan baik-baik saja.” Kata Nicole, berusaha menghibur Gisselle yang memang suka merasa khawatir berlebihan bila hal itu tentang teman-temannya.

Harry dan Elly tiba dua hari kemudian, di malam hari setelah Dumbledore datang di Grimmauld Place nomor 12 untuk memulai rapat. Dan seperti sebelum-sebelumnya, semua anak-anak yang belum lulus sekolah di minta pergi ke kamar masing-masing dan tidak turun sebelum dipanggil. Fred dan George sudah berusaha menguping berulang kali namun selalu gagal karena Nicole tidak mengijinkannya

“Elly!” Seru Gisselle ketika melihat gadis berambut merah itu di ambang kamar tidur mereka. Dengan segera ia dan Nicole menyambut Elly dan membantu gadis itu membereskan barang-barang bawaannya. Mendadak suara Harry yang sedang berteriak terdengar dari lantai bawah, membuat ketiga gadis yang ada melonjak kaget.

“Kurasa semua kekesalannya tertumpah sudah.” Komentar Nicole.

“Siapapun akan kesal jika tidak mendapat kabar selama sebulan lebih.” Tukas Elly. “Tidak seperti kalian yang selalu mendapat kabar terbaru disini.” Mata hazelnya bertemu dengan mata hijau milik Nicole selama beberapa detik sebelum ia akhirnya memalingkan mukanya. “Maaf.”

“Tidak perlu.” Jawab Nicole dengan nada ringan. “Itu hal yang wajar.”

“Lagipula, kami tidak mendapatkan kabar apapun disini. Semuanya di rahasiakan oleh anggota Orde.” Kata Gisselle, berusaha mencairkan keteganggan. “Bahkan Nicole hanya mengetahui sedikit saja, dan itu semua telah dilarang oleh kakeknya untuk di ceritakan kepada siapapun.”

Hening. Akhirnya Elly membuka mulutnya. “Jadi, tempat apa ini?”

“Grimmauld Place nomor 12, rumah Sirius yang di ubah menjadi markas besar Orde Phoenix.” Jawab Nicole.

“Orde Phoenix?”

“Perkumpulan rahasia anti-Voldemort.” Ketika nama Voldemort disebutkan, Gisselle melonjak dan Elly mengernyit. “Kakekku ketuanya.” Terdengar bunyi letupan keras dari arah kamar Harry dan Ron, membuat Elly terlonjak namun tampaknya Nicole dan Gisselle telah terbiasa.

“Apa itu?” Tanya Elly.

“Fred dan George ber-Apparate.” Kata Gisselle sementara Nicole sudah bangkit berdiri. Mereka bertiga akhirnya menuruni tangga dan berjalan menuju kamar Harry, hanya untuk mendapati kedua pemuda kembar itu membawa Telinga Terjulur, temuan mereka.

“Oh tidak lagi. Sudah kularang kalian untuk menguping jalannya rapat.” Omel Nicole. Ginny yang juga berada disitu menyapa Elly yang di balas dengan senyuman kecil dari gadis yang lebih tua itu.

“Kami tidak akan melakukannya. Pintu sudah di beri mantra oleh ibu.” Jawab George dengan kecewa. “Ginny baru saja memberitahu kami.” Percakapan pun berlangsung selama beberapa saat, sampai mendadak Fred dan George mengeluarkan bunyi ‘uh-oh’ lalu ber-Disapparate dan sesaat kemudian Mrs. Weasley membuka pintu kamar untuk memberi tahu makan malam telah siap.

Makan malam cukup ramai, mengingat hampir seluruh keluarga Weasley ada disana, plus dengan anggota Orde lainnya seperti Tonks, Lupin dan Mundungus. Makan makan sampai di akhirnya dan pembicaraan mulai masuk ke topik yang selalu di tunggu-tunggu oleh Harry, Voldemort dan kegiatan Orde. Sirius dan Mrs. Weasley berdebat seru mengenai hal itu sampai akhirnya Harry dan Elly diperbolehkan.

“Baiklah, Fred dan George boleh mendengarkan.” Kata Mrs. Weasley setelah kedua putra kembarnya memprotes dan ayah mereka sendiri memperbolehkannya. “Tapi yang lain masih belum cukup umur—“ Dan Ron menyelanya kembali. Debat singkat terjadi dan akhirnya Ron dan Hermione diijinkan mendengar juga.

“Baiklah Gisselle—“

“Gisselle sudah cukup umur!” Protes George dan mamanya pun merenggut kesal.

“Baiklah Ginny dan Nicole..”

“Tidak ada gunanya melarang Nicole, Molly.” Kali ini Lupin yang menyela. “Ia malah mungkin tahu beberapa hal yang tidak kita ketahui. Bagaimana pun juga, dia cucu Dumbledore.”

“Baik!” Kata Mrs. Weasley untuk kesekian kalinya, suaranya bergetar karena kesal. “Baik! GINNY—TIDUR!!” Wanita tersebut membawa anaknya yang paling bungsu ke kamar tidurnya. Ginny memberontak dan berteriak kepada ibunya sendiri, membuat sesaat rumah itu dipenuhi suara perdebatan ibu dan anak itu.

“Jadi Harry, apa yang ingin kau ketahui?”

***

“Kau siap?”

“Aku siap ketika kau siap.”

Kedua pemuda berambut merah itu menunjukan cengiran mereka kepada satu dengan yang lain sebelum akhirnya ber-Disapparate dari kamar mereka. Tujuan mereka? Tentu saja kamar pada gadis di lantai atas. Hari ini adalah tanggal 11 Agustus.

Bunyi letupan keras pun terdengar di pagi buta itu. Fred dan George muncul di sisi kanan dan kiri ranjang Nicole, siap untuk melemparkan gadis itu ke udara. Namun sayang sekali, harapan mereka tidak terkabul. Nicole mendadak membuka matanya dan menarik tangan Fred, bangkit berdiri dan membanting pemuda itu ke ranjangnya. George otomatis mundur dan duduk di tepi ranjang Gisselle yang berada tepat disebelah ranjang Nicole.

“Nicole! Ampun! Ampun!” Teriak Fred ketika Nicole memutuskan untuk duduk di punggung pemuda itu dan mulai mencubiti tangannya.

“Apa yang kalian lakukan di pagi buta seperti ini?” Tanya Nicole. Gisselle dan Elly juga terbangun karena suara berisik Fred. Gisselle nyaris menjerit ketika mendapati George sedang duduk di ranjangnnya.

“Memberimu kejutan di hari ulang tahunmu!” Teriak Fred.

Alis Nicole pun naik mendengar penjelasan pemuda itu. Gadis itu akhirnya menyingkir dari punggung Fred dan membiarkan pemuda itu duduk normal kembali.

“Kau membuatnya seakan-akan hendak menyerangku.” Protes Nicole, tapi gadis itu tersenyum. “Tapi terima kasih, aku menghargainya.”

Hari itu Grimmauld Place nomor 12 di penuhi dengan orang. Anggota Orde berdatangan untuk memberikan Nicole ucapan di hari ulang tahunnya yang ke 17, dimana akhirnya dia, secara resmi, menjadi penyihir dewasa. Dumbledore sendiri datang berkunjung walau tidak bisa berlama-lama.

“Seharusnya hal ini di rayakan di Hogwarts namun melihat situasi kita..” Kata Dumbledore ketika ia dan Nicole duduk berdua di salah satu ruangan di dalam rumah besar milik keluarga Black itu. Semua orang memberikan mereka kesempatan untuk bercakap-cakap hanya berdua saja.

“Tidak apa-apa kakek. Aku mengerti.” Jawab Nicole sambil tersenyum. “Acara makan malam di rumah ini saja sudah cukup.”

“Maafkan aku tidak bisa tinggal lama-lama disini, Nicole.” Muka kakeknya tampak sedih, dan Nicole memperhatikan, letih. Kakeknya berulang kali meminta maaf pada gadis itu walau jelas Nicole berkata tidak apa-apa.

“Tidak terasa. Kau berumur 17..” Kata Dumbledore sambil menatap Nicole dengan lembut. “Mungkin sudah saatnya kau mengetahui hal mengenai keluargamu.”

“Keluargaku?”

“Keluarga aslimu.”

***

“Seharusnya kita bisa melakukan lebih dari ini.” Kata Mrs. Weasley. Meja makan sudah dikelilingi berbagai macam anggota Orde yang ikut merayakan ulang tahun Nicole ini. Sama seperti yang ia lakukan pada kakeknya, Nicole berulang kali mengatakan tidak apa apa dan ia puas dengan makan malam sederhana ini.

“Apa yang kaudapat darinya?”

Nicole tersentak dari lamunannya. Ia terus memikirkan kata-kata kakeknya siang tadi, mengenai keluarga aslinya, sehingga tidak menyadari Sirius sedang berbicara padanya.

“Apa?” Tanya Nicole seraya mengerjapkan matanya beberapa kali.

“Kau tahu, si Keeper itu. Apa yang kaudapat darinya sebagai kado?” Sirius nyengir jahil pada Nicole, membuat gadis itu harus menahan godaan agar tidak memukul pria itu.

“Rahasia.” Jawab Nicole tajam. “Fred dan George yang memberi tahu mu tentang Oliver?”

“Bukan. Dumbledore.”

Jawaban Sirius membuat Nicole tersedak butterbeer yang sedang diminumnya. Gisselle harus menepuk-nepuk punggung gadis berambut cokelat tua itu agar ia berhenti batuk.

“Apa?” Kata Nicole setelah ia pulih dari tersedaknya. “Kakek?”

“Ia tidak berhenti menanyakan kapan Oliver akan melamarmu, Nicole.” Kata Lupin dari seberang meja. Nicole mengalihkan pandangannya dari Sirius ke Lupin. Beberapa anggota Orde yang lain menimpali dengan hal yang sama. Tampaknya Dumbledore membawa topik itu ke rapat Orde yang terakhir.

“Ke-ke-kenapa ia membahas hal itu..” Muka Nicole memerah dan semua orang tertawa melihatnya. Muka Nicole yang memerah malu adalah sebuah pemandangan yang jarang sekali untuk semua orang kecuali tentu saja, Dumbledore dan Oliver.

“Ya. Kalian berdua sudah secara resmi dewasa sekarang..” Kata Tonks dan yang lain langsung bergumam menyetujui. Fred dan George bahkan berdiri dari tempat duduk mereka dan mulai bernyanyi lagu pernikahan dengan keras-keras, menyebabkan satu jitakan dari Nicole untuk masing-masing dari mereka.

“Ayo. Sudah cukup malam dan kalian berdua perlu tidur agar bisa bangun pagi esok harinya.” Kata Mrs. Weasley pada Harry dan Nicole. Harry menoleh ke arah Nicole dengan pandangan bertanya. Pemuda itu memang akan menghadiri sidangnya besok, tapi bagaimana dengan Nicole?

“Test Apparate ku juga besok.” Kata Nicole sambil tersenyum pada pemuda yang lebih muda itu. “Dan test itu di adakan di Kementrian sihir juga.”

Baik sidang Harry maupun test Nicole berjalan dengan lancar. Pesta kembali di adakan, walau kecil-kecilan, untuk merayakan hal itu. Dengan cepat, liburan musim panas pun berlalu dan hanya tinggal sehari sebelum mereka kembali ke sekolah Hogwarts. Surat-surat pun tiba bagi anak-anak yang masih bersekolah disana.

“Teori Pertahanan Sihir.” Gumam Gisselle saat membaca surat miliknya. Elly melakukan hal yang sama dengan Gisselle, tapi Nicole tidak. Surat milik Nicole tergeletak terabaikan di ranjang dan gadis itu sibuk memandangi lencana yang berada di atas telapak tangannya.

“Hey Nicole, siapa guru Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam kita yang baru?” Tanya Gisselle seraya menoleh ke arah sahabatnya itu lalu memekik ketika melihat apa yang Nicole pegang.

“Astaga Nicole! Aku tidak percaya! Ketua Murid!” Gadis brunette itu melompat berdiri dan segera menghampiri Nicole, disusul oleh Elly.

“Apa aku tidak salah dengar?” Kepala George muncul dari balik pintu bersama dengan Kepala Fred. Kedua pemuda itu mengintip kedalam kamar para gadis. “Nicole? Ketua Murid?”

“Lihat saja sendiri bila tidak percaya!” Kata Gisselle, masih terkejut sekaligus riang melihat lencana Ketua Murid di tangan Nicole.

“Ronnie dan Hermione juga mendapat lencana Prefect.” Kata Fred seraya memasuki ruangan.

“Dan berakhirlah semua kesenangan kita..” Timpal George dan mereka berdua menangis palsu sambil berpelukan lalu mereka ber-Disapparate sebelum Nicole bisa melemparkan barang ke arah mereka.

Dan untuk ketiga kalinya, makan malam meriah di adakan untuk merayakan terpilihnya Ron dan Hermione sebagai prefect, serta Nicole sebagai Ketua Murid.

“Yah, melihat fakta bahwa kau satu-satunya orang yang bisa menghentikan Fred dan George ketika mereka sedang bertingkah, aku tidak heran Dumbledore mengangkatmu sebagai Ketua Murid.” Kata Mr. Weasley sambil tertawa.

“Menghentikan tingkah mereka memang tidak pernah mudah.” Timpal Bill sambil nyengir.

“Kulihat kau melakukan pekerjaan yang lebih bagus dariku.” Kata Lupin. “Aku tidak pernah bisa menghentikan ulah James dan Sirius.”

“Dan hal Ketua Murid ini bisa menjadi catatan yang bagus bila kau ingin menjadi Auror.” Kata Kingsley.

Semakin banyak kata-kata dari mereka, semakin Nicole menjadi salah tingkah. Ia memang tidak tahan bila orang merendahkannya namun ia juga tidak bagus dalam menghadapi pujian yang bertubi-tubi seperti itu.

Pesta berlangsung singkat karena rombongan yang kembali ke Hogwarts harus berangkat pagi-pagi agar tidak ketinggalan kereta. Nicole berpisah dengan Gisselle, si kembar, Harry dan Ginny dan pergi ke gerbong khusus untuk Prefect bersama Elly, Ron dan Hermione.

“Oh tidak.” Gumam Ron, dan Nicole tahu kenapa ia bergumam seperti itu. Draco Malfoy adalah prefect baru Slytherin.

“Jangan di pedulikan.” Kata Hermione sambil masuk kedalam kompartemen untuk prefect-prefect baru. Nicole mengikuti kedua anak itu sementara Elly masuk kedalam kompartemen lainnya, tempat para Prefect yang lebih senior.

“Nicole!” Robert melambaikan tangannya ketika Nicole memasuki kompartemen itu. “Sudah kuduga kau yang menjadi Ketua Murid!” Serunya bersemangat.

“Biar kutebak, kau juga?” Kata Nicole seraya tersenyum. Mengetahui bahwa Robert adalah partnernya membuat dirinya merasa lebih tenang. Setidaknya masih seseorang yang ia kenal. Robert mengangguk dengan bangga sementara dua anak Hufflepuff masuk kedalam kompartemen itu. Melihat semua prefect baru sudah lengkap berkumpul, Nicole menyenggol tangan Robert dan memandang ke delapan anak kelas lima yang terpilih itu.

“Baiklah. Dengarkan baik-baik.”

***

“Ia mengerikan.”

“Aku tahu.” Jawab Nicole. Mereka baru saja selesai mengikuti pelajaran pertama Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam di tahun ajaran baru itu. Gisselle tampaknya membenci Umbridge sejak pandangan pertama. Nicole belum pernah melihat sahabatnya bertingkah seperti itu.

“Ia memperlakukan kakekku seakan-akan dia tidak berguna.” Kata Gisselle seakan-akan membaca pikiran Nicole. Kakek Gisselle juga bekerja di Kementrian. Kedua gadis itu berjalan menuju Aula Utama untuk makan siang bersama si kembar dan Lee. Bisik-bisik mengikuti Nicole saat ia berjalan melewati meja-meja asrama. Apalagi jika bukan bisik-bisik mengenai 'kegilaan' Dumbledore yang di bahas di Daily Prophet?

“Mereka benar-benar tidak tahu malu.” Komentar Fred sambil mengambil tempat duduk di depan Nicole.

“Aku tidak peduli. Biarkan saja mereka.” Jawab Nicole tenang. “Lupakan soal itu, aku ingin menanyaimu mengenai poster yang kau tempelkan di ruang rekreasi.”

“Poster yang mana?” Tanya George.

“Yang mengenai pekerjaan paruh waktu pada kalian.”

“Ada apa dengan poster itu?” Tanya Fred.

“Kalian tahu jika kalian keterlaluan aku akan memberi kalian berdua detensi?”

Kilatan jahil terlihat di mata Fred dan George.

“Kapan sih kami pernah keterlaluan?”

***TBC***

A/N : ……aneh ya?
Judulnya itu ngebahas yang pas Dumbledore mau nyeritain tentang keluarga asli Nicole
….abis bingung mau judulnya apa OTL
Anyway, mohon maaf apabila ada kesalahan *bows*

Original Plot by : Our Queen, JK Rowling
The ‘new’ plot Made by : Liz
Take out with full credits please~ ^^

0 komentar:

Posting Komentar