Chapter 20 : Good
Bye, Our Beloved Friend
(Setting
: HP 4)
Natal
pun berlalu dengan cepat dan pelajaran dimulai kembali. Baru saja beberapa hari
semester baru dimulai, sekolah di gemparkan dengan berita dari Rita Skeeter
mengenai Hagrid yang merupakan setengah raksasa.
“Sampah.”
Kata Nicole sambil melemparkan Daily Prophet miliknya kedalam perapian sesaat
setelah membaca berita tersebut.
“Namun
apakah itu benar?” Tanya Gisselle yang duduk di sofa di seberangnya. Nicole
menatap api di perapian sebelum mengangguk.
“Memang.
Lalu kenapa? Dia tetap Hagrid yang kita kenal.” Jawab Nicole. “Dan George,
sampai kapan kau mau menempel pada Gisselle seperti itu?” Lanjutnya sambil
mengernyit melihat George yang terus menerus ‘menempel’ pada sahabatnya.
“Karena
dia pacarku sekarang.” Kata George seraya menarik Gisselle ke pelukannya,
membuat gadis itu memerah malu.
“Kenapa
Nicole? Kau cemburu? Sini ku peluk jug—“ Belum juga menyelesaikan kata-katanya,
Fred sudah di tinju oleh Nicole. Hari-hari berikutnya pun lewat dan berita
tentang George dan Gisselle pacaran yang sempat menjadi pembicaraan juga sudah
bukan topik favorite lagi dengan adanya pembicaraan tugas kedua Turnamen
Triwizard yang semakin dekat.
“Dimana
Harry?” Kata Gisselle saat ia, Nicole, dan Elly sudah duduk di tribune tempat
duduk penonton. Ketiga peserta lainnya sudah berkumpul di tepi danau, siap
melaksanakan tugas kedua, namun Harry masih belum terlihat juga.
“Entahlah.
Seharusnya ia sudah tiba.” Kata Elly, cemas akan adiknya. Sikap gadis itu sudah
kembali normal seperti biasa setelah menceritakan kejadian Natal kemarin pada
kedua sahabatnya walau baik Nicole maupun Gisselle tahu gadis itu pasti masih
merasa terpukul.
“Itu
dia!” Kata George sambil menunjuk Harry yang berlari menuju tempat peserta yang
lain dan murid-murid Gryffindor bersorak riang. Tugas kedua pun segera dimulai
dengan batas waktu satu jam. Belum juga satu jam berlalu, Fleur muncul di
permukaan danau dan Dumbledore mengumumkan bahwa satu-satunya peserta perempuan
dalam turnamen itu mengundurkan diri.
Satu
jam pun akhirnya berlalu para peserta lain pun mulai bermunculan di permukaan
danau. Cedric dan Cho yang pertama, di susul oleh Krum dan Hermione. Tidak ada
tanda-tanda Harry sama sekali dan semua orang, kecuali anak Slytherin dan
Karkaroff tentu saja, bernafas lega kembali, terutama Elly yang mencemaskan
nasib adik semata wayangnya itu.
"Harry!"
Elly berlari turun dari tempat duduknya dan berlari menuju adiknya diikuti oleh
Nicole dan Gisselle. "Kau.. kau.." Kata gadis itu seraya memeluk
Harry dengan erat, membuat pemuda itu memberontak kecil.
"Aku
tidak apa-apa. Aku tidak apa-apa!" Katanya sambil melepaskan diri dari
pelukan Elly. Pengumuman poin pun di umumkan dan setelah nilai Harry disebut,
ia berada di tempat pertama bersama Cedric.
"Astaga,
aku tidak percaya. Harry selamat!!" Teriak Elly sambil memeluk adiknya
sekali lagi. Tidak ada yang mengejek keberhasilan pemuda itu selama beberapa
hari kedepan, bahkan anak Slytherin mengurangi ejekan mereka. Namun hal itu
hanya bertahan hingga berita dari Rita Skeeter keluar.
Pagi
hari setelah berita itu keluar, pos burung hantu di meja Gryffindor di kejutkan
dengan kedatangan surat-surat yang berlimpah ruah untuk Hermione. Gadis malang
yang menjadi korban tulisan Rita itu mendapatkan surat yang tidak mengenakan
dari berbagai orang, di salah satu suratnya bahkan terdapat nanah.
"Nanah
Bobutuber." Kata Nicole saat mengecek cairan yang ditinggalkan Hermione
dengan nada jijik. Gadis itu lalu melambaikan tongkatnya dan nanah tersebut
menghilang dari meja makan. "Siapa yang mengirimnya?"
Ron
mengangkat bahunya. "Semua surat ini tidak dibubuhi tanda tangan dan
beberapa bahkan bukan tulisan tangan."
"Ngomong-ngomong
tentang surat," Kata Nicole setelah Harry dan Ron sudah bangkit berdiri
dan si kembar datang di meja Gryffindor. "..untuk apa kalian mengirim
surat untuk Ludo?"
Serentak,
gerak-gerik Fred dan George terhenti. Mereka berdua lalu memandang Nicole
dengan pandangam tidak percaya dan curiga. "Kau mengintip surat
kami!" Protes mereka bersamaan.
"Kalian
memberikan karangan Herbologi kalian untuk kuperiksa bersama dengan amplop
surat itu." Jawab Nicole, entah harus merasa kesal atau geli. Kedua pemuda
berambut merah itu mengerang frustasi.
"Kami
ada urusan dengannya." Kata George dengan singkat.
"Aku
tidak akan mencampuri urusan kalian. Hanya saja kuharap kalian tidak mencari
masalah dengannya." Balas Nicole tajam.
"Tenang
saja. Kami kan anak baik-baik." Kata si kembar bersamaan.
***
"Kakek
memanggilku?" Nicole menjulurkan kepalanya ke dalam ruang kepala sekolah.
Ini adalah beberapa malam sejak Harry melaporkan hilangnya Mr. Crouch dan baru
semalam sejak berita di Daily Prophet mengenai Harry yang 'gila' keluar.
Dumbledore tersenyum dan memberikan tanda pada gadis itu untuk masuk ke dalam
ruangan itu.
"Bagaimana
Harry dan Elizabeth?" Tanya Dumbledore saat Nicole sudah duduk di kursi di
depannya.
"Mereka
baik-baik saja. Tidak ada yang perlu di khawatirkan." Jawab Nicole. Gadis
itu mengelus-elus bulu Fawkes yang baru saja terbang ke tangan kursinya seraya
menatap kakeknya. "Ku dengar Sirius berada di Hogsmeade?"
"Snuffles.
Sebut dia dengan nama itu disini." Kata Dumbledore. "Kau sudah tidak
mencurigainya kan?"
"Dengan
Elly yang terus menerus mengatakan Snuffles tidak bersalah, dan cerita Harry
yang dipercayai kakek, kenapa aku harus terus mencurigainya?" Ujar Nicole
sambil mengangkat bahunya, membuat kakeknya tertawa kecil.
“Jangan
terlalu keras mengenai Snuffles. Kurasa kalian bisa berteman baik.” Perkataan
kakeknya membuat Nicole mengernyit. Dia? Berteman dengan mantan buronan yang
terkenal mirip seperti si kembar? Lebih baik tidak. Dan Dumbledore tertawa lagi
melihat reaksi Nicole.
“Aku
mulai resah.” Kata Dumbledore, dan dari nada suaranya Nicole tahu, ini sudah
memasuki inti pembicaraan malam ini.
“Karena
perkataan Mr. Crouch?” Nicole sudah mendengar ceritanya dari Harry sendiri,
mengenai Voldemort yang semakin kuat. “Mungkinkah hal itu? Voldemort semakin
kuat?”
“Selalu
ada kemungkinannya, Nicole. Dia belum sepenuhnya mati saat kutukannya pada
Harry berbalik mengenai dirinya sendiri.”
Nicole
terdiam, membiarkan Fawkes bersenandung pelan. “Mungkinkah..akan terjadi
pertempuran. Perang yang kedua?”
Mata
Dumbledore berkilat, “Sangat mungkin.” Jawab professor tua itu. “Kau mendapat
ijinku untuk menggunakan sihir jika terjadi sesuatu di tugas ketiga.” Nicole
menggangguk sebagai jawaban untuk kakeknya. “Dan tolong jaga Elly.”
“Mungkin
kah akan ada korban jiwa dalam turnamen kali ini?” Tanya Nicole dengan cemas.
“Kuharap
tidak. Tapi kita tidak bisa mengkesampingan pikiran itu.”
***
Elly
melihat Cedric sedang bercakap-cakap dengan kedua orang tuanya di koridor
menuju Aula Utama, tampaknya mereka baru saja berkeliling Hogwarts bersama.
Pemuda berambut cokelat itu kemudian menyadari Elly dan melambai kearah gadis
itu.
“Bagaimana
ujiannya?” Tanya Cedric saat Elly sudah mendekat. Mrs. Diggory telah menarik
Mr. Diggory menjauh dari mereka dan berjalan terlebih dahulu menuju Aula Utama.
“Bukan
masalah.” Jawab Elly sambil memberikan senyumannya. Cedric juga tersenyum dan
menepuk kepala Elly dengan lembut.
“Aku
tahu kau pasti bisa.” Kata pemuda itu.
“Kau
juga harus bisa di tugas terakhir ini. Semoga berhasil.” Kata Elly. Cedric
mengacak pelan rambut merah gadis itu dan tertawa kecil.
“Tentu
saja! Akan kutraktir kau saat aku menang nanti.” Kata pemuda itu.
Elly
menggeleng, “Tidak perlu. Hanya saja..”
“Ya?”
Elly
ragu selama sejenak walau akhirnya ia berjinjit kecil dan mengecup pipi Cedric.
“Akan kuberitahu kau nanti saat turnamen ini sudah selesai.” Seraya tersenyum,
ia berlari kecil mendahului Cedric untuk masuk kedalam Aula Utama, meninggalkan
pemuda yang baru di kecup itu dengan bingung. Elly sudah berjanji pada dirinya
sendiri, walau Cedric hanya menyukainya sebagai teman, ia tetap akan memberitahu
Cedric mengenai perasaannya, perasaannya yang lebih dari teman. Ia akan memberi
tahu pemuda itu, pasti.
Acara
makan-makan malam itu menjadi semakin meriah karena keluarga para peserta
turnamen juga ikut hadir. Sang Menteri Sihir, Cornelius Fudge juga ada di
tempat duduk yang biasanya di duduki Mr. Crouch. Setelah makan malam, para
peserta diminta untuk pergi bersiap-siap.
“Aku
masih akan mentraktirmu. Menang atau tidak.” Kata Cedric sambil bangkit berdiri
dan tersenyum pada Elly. “Saat itulah kau harus memberi tahuku tentang apa yang
ingin kau katakan tadi. Janji?”
Elly
menatap Cedric, senyuman hangatnya yang biasa menghiasi wajah tampan pemuda
itu. Mau tidak mau, Elly ikut tersenyum. “Janji.”
Tidak
lama setelahnya, tribune tempat penonton pun mulai penuh. Keempat peserta pun
memasuki labirin satu persatu dan suasana pun menjadi tegang karena tidak ada
yang tahu apa yang terjadi di dalam labirin itu.
“Ada
apa Nicole?” Tanya Gisselle kepada sahabatnya yang memiliki rambut cokelat tua itu.
Nicole terus menerus meraih tongkatnya dari balik jubahnya, menggenggamnya,
namun tidak mengeluarkan tongkatnya. Perasaan gadis itu mulai resah sejak
percakapan dengan kakeknya beberapa malam yang lalu, dan bertambah resah sejak
tugas terakhir Turnamen dimulai.
“Tidak
apa-apa.” Jawab Nicole. Ia tidak ingin membuat sahabatnya menjadi resah juga.
“Kau
ingin ke kamar kecil?” Tanya Fred yang duduk didepan mereka bersama George.
Otomatis jitakan mendarat di kepala pemuda tersebut dan hal itu, seperti biasa,
mengundang tawa dari seluruh orang yang melihatnya.
Sudah
lebih dari sejam berlalu dan tidak ada tanda-tanda dari para peserta yang lain.
Elly menjadi lebih resah dari siapapun juga, karena ia mengkhawatirkan Harry
dan Cedric, dua dari peserta yang ada. Fleur telah mengundurkan diri dan sedang
di rawat oleh Madam Pomfrey.
Seluruh
penonton dikejutkan dengan semburan cahaya berwarna merah ke udara lagi, tanda
peserta lain telah mengundurkan diri. Para professor yang bertugas pun segera
bertindak dan Krum pun muncul dengan kondisi pingsan. Para murid Hogwarts
semakin tegang, karena kemungkinan pemenang hanya ada dua sekarang, dan
keduanya berasal dari Hogwarts.
Penantian
yang rasanya seperti berabad-abad akhirnya selesai. Dengan bunyi pop yang cukup
keras, dua tubuh muncul di tanah di dekat pintu masuk ke dalam labirin. Elly
lah yang pertama berdiri dan berlari turun, untuk melihat adik dan orang yang
dicintainya.
Pemandangan
pertama yang ia lihat adalah Dumbledore, yang mengatakan sesuatu pada Harry.
Elly tidak bisa mendengar kata-kata Dumbledore maupun Harry karena pandangannya
jatuh pada Cedric yang di peluk Harry. Mata pemuda itu terbuka, namun
pandangannya kosong. Warna abu-abu yang selalu memenuhi matanya seakan-akan
menghilang dan digantikan dengan abu-abu kelam.
“Cedric?”
Suara Elly terdengar lemah dan ia berlari secepat yang ia bisa ke arah pemuda
itu, namun Snape menghalanginya. Tangan professor itu memegang erat, namun
lembut, kedua pundak Elly sementara professor yang lain menyuruh semua murid
kembali ke ruang rekreasi mereka. Jeritan dan tangisan terdengar dimana-mana
namun semua itu samar-samar di telinga Elly.
“Kembali
lah ke ruang rekreasi. Sekarang.” Kata Snape, dengan nada yang sangat jarang ia
gunakan. Elly tidak merespon perkataan walinya itu, namun gadis itu berbalik
dan berjalan pergi. Gadis itu berjalan pelan, tidak ada yang memperhatikannya,
temannya tidak ada yang melihatnya karena kerumunan orang yang begitu banyak.
Bukan ruang rekreasi yang ia tuju, melainkan halaman depan Hogwarts.
Hujan
mulai turun. Namun apa peduli gadis itu tentang air yang membasahi dirinya?
Sakit yang dirasanya sekarang jauh lebih besar daripada saat ia melihatnya
bersama gadis lain, atau saat ia melihatnya mengajak gadis lain, atau saat
orang itu hanya menganggap dirinya sebagai teman. Bahkan, sakit ini lebih besar
dari semua pengalaman itu disatukan.
“Kau
berjanji untuk mentraktirku, idiot.” Gumam Elly. Ia lebih memilih Cedric
bersama Cho, ia tidak apa-apa mengenai hal itu. Sakit, memang. Tapi tidak
melihat senyuman hangat dari pemuda itu lagi lebih menyakitkan. Hujan semakin
deras, tapi ia tidak peduli. Menurutnya ini sebagai sebuah keuntungan, tidak akan
ada yang menyadari ia sedang menangis jika melihatnya sekarang.
“Curang.”
Kata gadis itu. Air mata sudah mengalir di pipinya, tersamarkan dengan hujan
yang turun, yang seakan-akan ikut menangis bersamanya. “Curang. Aku bahkan
belum sempat mengatakannya.”
Ia
tidak mempunyai kesempatan lain. Betapa ia ingin memutar balik waktu. Ia
memiliki banyak kesempatan. Selama 6 tahun ini, dia mempunyai jutaan kesempatan
untuk memberitahu Cedric mengenai perasaannya. Namun ia tidak melakukannya, dan
rasa penyesalan itu menyesakkan.
“Kenapa..”
Ya. Kenapa? Kenapa ini harus terjadi pada orang yang ia cintai? Kenapa ia tidak
bisa bertumbuh dewasa, lulus dan bekerja bersama Cedric? Mereka sering
mengobrol tentang masa depan mereka, berulang kali, bercanda bersama, menghayal
bersama. Ia tidak bisa melakukan semua hal itu sekarang. Tidak bisa. Dan semua
hal itu telah menjadi kenangan sekarang.
Ia
harus menerima kenyataan ini. Ia tidak akan bisa menemuinya lagi. Pemuda itu
telah pergi, pergi selamanya, pergi dari genggamannya, pergi ke tempat yang
tidak bisa di raih oleh dirinya lagi. Rasa sakit terlalu menguasainya sehingga
ia jatuh terduduk di tanah.
“Aku
mencintaimu, Cedric Diggory.” Isaknya.
“Aku
sangat mencintaimu.”
***
Setelah
memastikan Gisselle kembali di ruang rekreasi bersama si kembar dan Lee, Nicole
berlari kembali ke lapangan Quidditch, tempat tugas ketiga di laksanakan. Tubuh
Cedric telah dibawa ke tempat lain dan lapangan itu sepi.
“Elly!”
Teriak Nicole. Ia yakin gadis itu tidak akan kembali ke ruang rekreasi
Hufflepuff begitu saja. Ketika sedang berlari menuju halaman depan Hogwarts, ia
berpaspasan dengan Snape, dengan Elly dalam gendongannya.
“Ia
akan baik-baik saja.” Kata Snape sambil melihat Elly lalu ke arah Nicole. “Ia
hanya jatuh pingsan.” Setelah itu, ia tidak mengatakan apa-apa lagi dan membawa
Elly ke dalam rumah sakit sekolah, diikuti dengan Nicole. Tidak ada yang
berkomentar mengenai pemandangan aneh itu dan Madam Pomfrey langsung merawat
Elly dengan cekatan.
“Jangan
khawatir. Ia akan sadar beberapa jam lagi. Sekarang biarkan ia beristirahat.”
Kata Madam Pomfrey, menjawab pandangan bertanya dari Nicole. Setelah matron itu
pergi, Nicole memandang Elly yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit itu
dan pikirannya kembali ke bertahun-tahun yang lalu, dimana pemandangan seperti
ini pernah dilihatnya. Hanya saja saat itu, seorang pemuda berambut cokelat
muda, dengan mata abu-abu yang hangat selalu berada di sisi kanan ranjang.
Tempat yang waktu itu di tempati Cedric sekarang kosong. Kosong dan hampa.
Nicole
merasakan air matanya menetes. Dengan cepat ia mengelapnya menggunakan
jubahnya. Kehilangan yang dirasakannya tidak ada apa-apanya dengan kehilangan
yang di rasakan Elly.
Pesta
akhir tahun ajaran yang dilaksanakan beberapa hari berikutnya berlangsung muram
dan sedih. Namun perubahan drastis yang di perlihatkan Elly mengkhawatirkan
seluruh teman dekatnya. Gadis yang periang itu menjadi pendiam setelah kematian
Cedric. Tidak ada yang menyalahkannya, tidak ada juga yang bisa membantunya.
Kehilangan Cedric juga memberi pukulan pada setiap orang yang mengenal pemuda
itu.
“Sampai
bertemu nanti.” Kata Nicole. Ia memberi Gisselle dan Elly pelukan seperti
biasanya. Elly hanya mengangguk sebagai jawaban dan gadis itu berjalan pelan ke
arah kereta api yang sudah menunggu murid-murid yang hendak pulang.
“Kita
akan bertemu lebih cepat dari yang kalian duga.” Kata Nicole lagi, mengundang
rasa penasaran dari Gisselle dan si kembar. Tidak ada yang berhasil bertanya
karena peluit kereta telah berbunyi dan mereka harus segera naik ke dalam
kereta.
Nicole
melambaikan tangannya hingga kereta menghilang dari pandangan, lalu berbalik
dan berjalan kembali menuju kastil. Perang yang di takutkan kakeknya akan
menjadi kenyataan, dan tentu saja ia tidak bisa tinggal diam. Kakeknya
merencanakan sesuatu dan ia akan membantu sebisa yang ia bisa.
***TBC***
A/N : Maaf pendek
banget. Stuck masa OTL
GUE KAGA BISA BUAT
ANGST ARRRGHH MAAFKAN DAKU #plak
As always, mohon maaf
apabila ada kesalahan *bows*
Original Plot by : Our Queen, JK Rowling
The ‘new’ plot Made
by : Liz
Take
out with full credits please~ ^^

0 komentar:
Posting Komentar