Senin, 21 Juli 2014

Hogwarts' Beloved : Chapter 20

Chapter 20 : Good Bye, Our Beloved Friend
                                                (Setting : HP 4)

Natal pun berlalu dengan cepat dan pelajaran dimulai kembali. Baru saja beberapa hari semester baru dimulai, sekolah di gemparkan dengan berita dari Rita Skeeter mengenai Hagrid yang merupakan setengah raksasa.

“Sampah.” Kata Nicole sambil melemparkan Daily Prophet miliknya kedalam perapian sesaat setelah membaca berita tersebut.

“Namun apakah itu benar?” Tanya Gisselle yang duduk di sofa di seberangnya. Nicole menatap api di perapian sebelum mengangguk.

“Memang. Lalu kenapa? Dia tetap Hagrid yang kita kenal.” Jawab Nicole. “Dan George, sampai kapan kau mau menempel pada Gisselle seperti itu?” Lanjutnya sambil mengernyit melihat George yang terus menerus ‘menempel’ pada sahabatnya.

“Karena dia pacarku sekarang.” Kata George seraya menarik Gisselle ke pelukannya, membuat gadis itu memerah malu.

“Kenapa Nicole? Kau cemburu? Sini ku peluk jug—“ Belum juga menyelesaikan kata-katanya, Fred sudah di tinju oleh Nicole. Hari-hari berikutnya pun lewat dan berita tentang George dan Gisselle pacaran yang sempat menjadi pembicaraan juga sudah bukan topik favorite lagi dengan adanya pembicaraan tugas kedua Turnamen Triwizard yang semakin dekat.

“Dimana Harry?” Kata Gisselle saat ia, Nicole, dan Elly sudah duduk di tribune tempat duduk penonton. Ketiga peserta lainnya sudah berkumpul di tepi danau, siap melaksanakan tugas kedua, namun Harry masih belum terlihat juga.

“Entahlah. Seharusnya ia sudah tiba.” Kata Elly, cemas akan adiknya. Sikap gadis itu sudah kembali normal seperti biasa setelah menceritakan kejadian Natal kemarin pada kedua sahabatnya walau baik Nicole maupun Gisselle tahu gadis itu pasti masih merasa terpukul.

“Itu dia!” Kata George sambil menunjuk Harry yang berlari menuju tempat peserta yang lain dan murid-murid Gryffindor bersorak riang. Tugas kedua pun segera dimulai dengan batas waktu satu jam. Belum juga satu jam berlalu, Fleur muncul di permukaan danau dan Dumbledore mengumumkan bahwa satu-satunya peserta perempuan dalam turnamen itu mengundurkan diri.

Satu jam pun akhirnya berlalu para peserta lain pun mulai bermunculan di permukaan danau. Cedric dan Cho yang pertama, di susul oleh Krum dan Hermione. Tidak ada tanda-tanda Harry sama sekali dan semua orang, kecuali anak Slytherin dan Karkaroff tentu saja, bernafas lega kembali, terutama Elly yang mencemaskan nasib adik semata wayangnya itu.

"Harry!" Elly berlari turun dari tempat duduknya dan berlari menuju adiknya diikuti oleh Nicole dan Gisselle. "Kau.. kau.." Kata gadis itu seraya memeluk Harry dengan erat, membuat pemuda itu memberontak kecil.

"Aku tidak apa-apa. Aku tidak apa-apa!" Katanya sambil melepaskan diri dari pelukan Elly. Pengumuman poin pun di umumkan dan setelah nilai Harry disebut, ia berada di tempat pertama bersama Cedric.

"Astaga, aku tidak percaya. Harry selamat!!" Teriak Elly sambil memeluk adiknya sekali lagi. Tidak ada yang mengejek keberhasilan pemuda itu selama beberapa hari kedepan, bahkan anak Slytherin mengurangi ejekan mereka. Namun hal itu hanya bertahan hingga berita dari Rita Skeeter keluar.

Pagi hari setelah berita itu keluar, pos burung hantu di meja Gryffindor di kejutkan dengan kedatangan surat-surat yang berlimpah ruah untuk Hermione. Gadis malang yang menjadi korban tulisan Rita itu mendapatkan surat yang tidak mengenakan dari berbagai orang, di salah satu suratnya bahkan terdapat nanah.

"Nanah Bobutuber." Kata Nicole saat mengecek cairan yang ditinggalkan Hermione dengan nada jijik. Gadis itu lalu melambaikan tongkatnya dan nanah tersebut menghilang dari meja makan. "Siapa yang mengirimnya?"

Ron mengangkat bahunya. "Semua surat ini tidak dibubuhi tanda tangan dan beberapa bahkan bukan tulisan tangan."

"Ngomong-ngomong tentang surat," Kata Nicole setelah Harry dan Ron sudah bangkit berdiri dan si kembar datang di meja Gryffindor. "..untuk apa kalian mengirim surat untuk Ludo?"

Serentak, gerak-gerik Fred dan George terhenti. Mereka berdua lalu memandang Nicole dengan pandangam tidak percaya dan curiga. "Kau mengintip surat kami!" Protes mereka bersamaan.

"Kalian memberikan karangan Herbologi kalian untuk kuperiksa bersama dengan amplop surat itu." Jawab Nicole, entah harus merasa kesal atau geli. Kedua pemuda berambut merah itu mengerang frustasi.

"Kami ada urusan dengannya." Kata George dengan singkat.

"Aku tidak akan mencampuri urusan kalian. Hanya saja kuharap kalian tidak mencari masalah dengannya." Balas Nicole tajam.

"Tenang saja. Kami kan anak baik-baik." Kata si kembar bersamaan.

***

"Kakek memanggilku?" Nicole menjulurkan kepalanya ke dalam ruang kepala sekolah. Ini adalah beberapa malam sejak Harry melaporkan hilangnya Mr. Crouch dan baru semalam sejak berita di Daily Prophet mengenai Harry yang 'gila' keluar. Dumbledore tersenyum dan memberikan tanda pada gadis itu untuk masuk ke dalam ruangan itu.

"Bagaimana Harry dan Elizabeth?" Tanya Dumbledore saat Nicole sudah duduk di kursi di depannya.

"Mereka baik-baik saja. Tidak ada yang perlu di khawatirkan." Jawab Nicole. Gadis itu mengelus-elus bulu Fawkes yang baru saja terbang ke tangan kursinya seraya menatap kakeknya. "Ku dengar Sirius berada di Hogsmeade?"

"Snuffles. Sebut dia dengan nama itu disini." Kata Dumbledore. "Kau sudah tidak mencurigainya kan?"

"Dengan Elly yang terus menerus mengatakan Snuffles tidak bersalah, dan cerita Harry yang dipercayai kakek, kenapa aku harus terus mencurigainya?" Ujar Nicole sambil mengangkat bahunya, membuat kakeknya tertawa kecil.

“Jangan terlalu keras mengenai Snuffles. Kurasa kalian bisa berteman baik.” Perkataan kakeknya membuat Nicole mengernyit. Dia? Berteman dengan mantan buronan yang terkenal mirip seperti si kembar? Lebih baik tidak. Dan Dumbledore tertawa lagi melihat reaksi Nicole.

“Aku mulai resah.” Kata Dumbledore, dan dari nada suaranya Nicole tahu, ini sudah memasuki inti pembicaraan malam ini.

“Karena perkataan Mr. Crouch?” Nicole sudah mendengar ceritanya dari Harry sendiri, mengenai Voldemort yang semakin kuat. “Mungkinkah hal itu? Voldemort semakin kuat?”

“Selalu ada kemungkinannya, Nicole. Dia belum sepenuhnya mati saat kutukannya pada Harry berbalik mengenai dirinya sendiri.”

Nicole terdiam, membiarkan Fawkes bersenandung pelan. “Mungkinkah..akan terjadi pertempuran. Perang yang kedua?”

Mata Dumbledore berkilat, “Sangat mungkin.” Jawab professor tua itu. “Kau mendapat ijinku untuk menggunakan sihir jika terjadi sesuatu di tugas ketiga.” Nicole menggangguk sebagai jawaban untuk kakeknya. “Dan tolong jaga Elly.”

“Mungkin kah akan ada korban jiwa dalam turnamen kali ini?” Tanya Nicole dengan cemas.

“Kuharap tidak. Tapi kita tidak bisa mengkesampingan pikiran itu.”

***

Elly melihat Cedric sedang bercakap-cakap dengan kedua orang tuanya di koridor menuju Aula Utama, tampaknya mereka baru saja berkeliling Hogwarts bersama. Pemuda berambut cokelat itu kemudian menyadari Elly dan melambai kearah gadis itu.

“Bagaimana ujiannya?” Tanya Cedric saat Elly sudah mendekat. Mrs. Diggory telah menarik Mr. Diggory menjauh dari mereka dan berjalan terlebih dahulu menuju Aula Utama.

“Bukan masalah.” Jawab Elly sambil memberikan senyumannya. Cedric juga tersenyum dan menepuk kepala Elly dengan lembut.

“Aku tahu kau pasti bisa.” Kata pemuda itu.

“Kau juga harus bisa di tugas terakhir ini. Semoga berhasil.” Kata Elly. Cedric mengacak pelan rambut merah gadis itu dan tertawa kecil.

“Tentu saja! Akan kutraktir kau saat aku menang nanti.” Kata pemuda itu.

Elly menggeleng, “Tidak perlu. Hanya saja..”

“Ya?”

Elly ragu selama sejenak walau akhirnya ia berjinjit kecil dan mengecup pipi Cedric. “Akan kuberitahu kau nanti saat turnamen ini sudah selesai.” Seraya tersenyum, ia berlari kecil mendahului Cedric untuk masuk kedalam Aula Utama, meninggalkan pemuda yang baru di kecup itu dengan bingung. Elly sudah berjanji pada dirinya sendiri, walau Cedric hanya menyukainya sebagai teman, ia tetap akan memberitahu Cedric mengenai perasaannya, perasaannya yang lebih dari teman. Ia akan memberi tahu pemuda itu, pasti.

Acara makan-makan malam itu menjadi semakin meriah karena keluarga para peserta turnamen juga ikut hadir. Sang Menteri Sihir, Cornelius Fudge juga ada di tempat duduk yang biasanya di duduki Mr. Crouch. Setelah makan malam, para peserta diminta untuk pergi bersiap-siap.

“Aku masih akan mentraktirmu. Menang atau tidak.” Kata Cedric sambil bangkit berdiri dan tersenyum pada Elly. “Saat itulah kau harus memberi tahuku tentang apa yang ingin kau katakan tadi. Janji?”

Elly menatap Cedric, senyuman hangatnya yang biasa menghiasi wajah tampan pemuda itu. Mau tidak mau, Elly ikut tersenyum. “Janji.”

Tidak lama setelahnya, tribune tempat penonton pun mulai penuh. Keempat peserta pun memasuki labirin satu persatu dan suasana pun menjadi tegang karena tidak ada yang tahu apa yang terjadi di dalam labirin itu.

“Ada apa Nicole?” Tanya Gisselle kepada sahabatnya yang memiliki rambut cokelat tua itu. Nicole terus menerus meraih tongkatnya dari balik jubahnya, menggenggamnya, namun tidak mengeluarkan tongkatnya. Perasaan gadis itu mulai resah sejak percakapan dengan kakeknya beberapa malam yang lalu, dan bertambah resah sejak tugas terakhir Turnamen dimulai.

“Tidak apa-apa.” Jawab Nicole. Ia tidak ingin membuat sahabatnya menjadi resah juga.

“Kau ingin ke kamar kecil?” Tanya Fred yang duduk didepan mereka bersama George. Otomatis jitakan mendarat di kepala pemuda tersebut dan hal itu, seperti biasa, mengundang tawa dari seluruh orang yang melihatnya.

Sudah lebih dari sejam berlalu dan tidak ada tanda-tanda dari para peserta yang lain. Elly menjadi lebih resah dari siapapun juga, karena ia mengkhawatirkan Harry dan Cedric, dua dari peserta yang ada. Fleur telah mengundurkan diri dan sedang di rawat oleh Madam Pomfrey.

Seluruh penonton dikejutkan dengan semburan cahaya berwarna merah ke udara lagi, tanda peserta lain telah mengundurkan diri. Para professor yang bertugas pun segera bertindak dan Krum pun muncul dengan kondisi pingsan. Para murid Hogwarts semakin tegang, karena kemungkinan pemenang hanya ada dua sekarang, dan keduanya berasal dari Hogwarts.

Penantian yang rasanya seperti berabad-abad akhirnya selesai. Dengan bunyi pop yang cukup keras, dua tubuh muncul di tanah di dekat pintu masuk ke dalam labirin. Elly lah yang pertama berdiri dan berlari turun, untuk melihat adik dan orang yang dicintainya.

Pemandangan pertama yang ia lihat adalah Dumbledore, yang mengatakan sesuatu pada Harry. Elly tidak bisa mendengar kata-kata Dumbledore maupun Harry karena pandangannya jatuh pada Cedric yang di peluk Harry. Mata pemuda itu terbuka, namun pandangannya kosong. Warna abu-abu yang selalu memenuhi matanya seakan-akan menghilang dan digantikan dengan abu-abu kelam.

“Cedric?” Suara Elly terdengar lemah dan ia berlari secepat yang ia bisa ke arah pemuda itu, namun Snape menghalanginya. Tangan professor itu memegang erat, namun lembut, kedua pundak Elly sementara professor yang lain menyuruh semua murid kembali ke ruang rekreasi mereka. Jeritan dan tangisan terdengar dimana-mana namun semua itu samar-samar di telinga Elly.

“Kembali lah ke ruang rekreasi. Sekarang.” Kata Snape, dengan nada yang sangat jarang ia gunakan. Elly tidak merespon perkataan walinya itu, namun gadis itu berbalik dan berjalan pergi. Gadis itu berjalan pelan, tidak ada yang memperhatikannya, temannya tidak ada yang melihatnya karena kerumunan orang yang begitu banyak. Bukan ruang rekreasi yang ia tuju, melainkan halaman depan Hogwarts.

Hujan mulai turun. Namun apa peduli gadis itu tentang air yang membasahi dirinya? Sakit yang dirasanya sekarang jauh lebih besar daripada saat ia melihatnya bersama gadis lain, atau saat ia melihatnya mengajak gadis lain, atau saat orang itu hanya menganggap dirinya sebagai teman. Bahkan, sakit ini lebih besar dari semua pengalaman itu disatukan.

“Kau berjanji untuk mentraktirku, idiot.” Gumam Elly. Ia lebih memilih Cedric bersama Cho, ia tidak apa-apa mengenai hal itu. Sakit, memang. Tapi tidak melihat senyuman hangat dari pemuda itu lagi lebih menyakitkan. Hujan semakin deras, tapi ia tidak peduli. Menurutnya ini sebagai sebuah keuntungan, tidak akan ada yang menyadari ia sedang menangis jika melihatnya sekarang.

“Curang.” Kata gadis itu. Air mata sudah mengalir di pipinya, tersamarkan dengan hujan yang turun, yang seakan-akan ikut menangis bersamanya. “Curang. Aku bahkan belum sempat mengatakannya.”

Ia tidak mempunyai kesempatan lain. Betapa ia ingin memutar balik waktu. Ia memiliki banyak kesempatan. Selama 6 tahun ini, dia mempunyai jutaan kesempatan untuk memberitahu Cedric mengenai perasaannya. Namun ia tidak melakukannya, dan rasa penyesalan itu menyesakkan.

“Kenapa..” Ya. Kenapa? Kenapa ini harus terjadi pada orang yang ia cintai? Kenapa ia tidak bisa bertumbuh dewasa, lulus dan bekerja bersama Cedric? Mereka sering mengobrol tentang masa depan mereka, berulang kali, bercanda bersama, menghayal bersama. Ia tidak bisa melakukan semua hal itu sekarang. Tidak bisa. Dan semua hal itu telah menjadi kenangan sekarang.

Ia harus menerima kenyataan ini. Ia tidak akan bisa menemuinya lagi. Pemuda itu telah pergi, pergi selamanya, pergi dari genggamannya, pergi ke tempat yang tidak bisa di raih oleh dirinya lagi. Rasa sakit terlalu menguasainya sehingga ia jatuh terduduk di tanah.

“Aku mencintaimu, Cedric Diggory.” Isaknya.

“Aku sangat mencintaimu.”

***

Setelah memastikan Gisselle kembali di ruang rekreasi bersama si kembar dan Lee, Nicole berlari kembali ke lapangan Quidditch, tempat tugas ketiga di laksanakan. Tubuh Cedric telah dibawa ke tempat lain dan lapangan itu sepi.

“Elly!” Teriak Nicole. Ia yakin gadis itu tidak akan kembali ke ruang rekreasi Hufflepuff begitu saja. Ketika sedang berlari menuju halaman depan Hogwarts, ia berpaspasan dengan Snape, dengan Elly dalam gendongannya.

“Ia akan baik-baik saja.” Kata Snape sambil melihat Elly lalu ke arah Nicole. “Ia hanya jatuh pingsan.” Setelah itu, ia tidak mengatakan apa-apa lagi dan membawa Elly ke dalam rumah sakit sekolah, diikuti dengan Nicole. Tidak ada yang berkomentar mengenai pemandangan aneh itu dan Madam Pomfrey langsung merawat Elly dengan cekatan.

“Jangan khawatir. Ia akan sadar beberapa jam lagi. Sekarang biarkan ia beristirahat.” Kata Madam Pomfrey, menjawab pandangan bertanya dari Nicole. Setelah matron itu pergi, Nicole memandang Elly yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit itu dan pikirannya kembali ke bertahun-tahun yang lalu, dimana pemandangan seperti ini pernah dilihatnya. Hanya saja saat itu, seorang pemuda berambut cokelat muda, dengan mata abu-abu yang hangat selalu berada di sisi kanan ranjang. Tempat yang waktu itu di tempati Cedric sekarang kosong. Kosong dan hampa.

Nicole merasakan air matanya menetes. Dengan cepat ia mengelapnya menggunakan jubahnya. Kehilangan yang dirasakannya tidak ada apa-apanya dengan kehilangan yang di rasakan Elly.

Pesta akhir tahun ajaran yang dilaksanakan beberapa hari berikutnya berlangsung muram dan sedih. Namun perubahan drastis yang di perlihatkan Elly mengkhawatirkan seluruh teman dekatnya. Gadis yang periang itu menjadi pendiam setelah kematian Cedric. Tidak ada yang menyalahkannya, tidak ada juga yang bisa membantunya. Kehilangan Cedric juga memberi pukulan pada setiap orang yang mengenal pemuda itu.

“Sampai bertemu nanti.” Kata Nicole. Ia memberi Gisselle dan Elly pelukan seperti biasanya. Elly hanya mengangguk sebagai jawaban dan gadis itu berjalan pelan ke arah kereta api yang sudah menunggu murid-murid yang hendak pulang.

“Kita akan bertemu lebih cepat dari yang kalian duga.” Kata Nicole lagi, mengundang rasa penasaran dari Gisselle dan si kembar. Tidak ada yang berhasil bertanya karena peluit kereta telah berbunyi dan mereka harus segera naik ke dalam kereta.

Nicole melambaikan tangannya hingga kereta menghilang dari pandangan, lalu berbalik dan berjalan kembali menuju kastil. Perang yang di takutkan kakeknya akan menjadi kenyataan, dan tentu saja ia tidak bisa tinggal diam. Kakeknya merencanakan sesuatu dan ia akan membantu sebisa yang ia bisa.

***TBC***

A/N : Maaf pendek banget. Stuck masa OTL
GUE KAGA BISA BUAT ANGST ARRRGHH MAAFKAN DAKU #plak
As always, mohon maaf apabila ada kesalahan *bows*

Original Plot by : Our Queen, JK Rowling
The ‘new’ plot Made by : Liz
Take out with full credits please~ ^^

0 komentar:

Posting Komentar