Disclaimer : BTS and all Kpop artists
are not mine. Jimin will be soon though (lol kidding).
OC belongs to their rightful owner, while the plot is
mine.
Genre :
Romance, Friendship, Comedy, Fluff
"You’re My"
Chapter 1 :
My Sight Fell On You
"Gratis?"
"Maumu."
Sang gadis berambut bergelombang
panjang ini menatap kedua pemuda kembar di hadapannya di counter cafe tempat ia
bekerja ini. Nama gadis itu adalah Oh Haneul, mahasiswi yang memasuki tahun
keduanya. Sementara kedua pemuda kembar yang di depannya adalah Shin Taehyung
dan Shin Dongho, teman masa kecil Haneul yang berusia satu tahun di atas
Haneul.
"Oh ayolah. Kau kan sudah bekerja
disini selama dua bulan lebih. Traktirlah kami." Kata pemuda yang memakai
topi, Taehyung. Haneul mengernyit dan mendorong pundak pemuda itu dengan tangan
kirinya.
"Jika kalian tidak ingin memesan,
minggir." Kata Haneul yang membuat dua pemuda itu mengerang kecewa namun
akhirnya memesan dan membayar sendiri pesanan mereka di cafe tempat Haneul
bekerja ini.
"Aku selalu kagum bagaimana kau
bisa sedekat itu dengan mereka berdua tapi tidak mempunyai perasaan apapun
untuk mereka." Kata Jaemee, teman kerja Haneul yang menatap kedua pemuda
kembar yang sedang menikmati coffee Americano mereka di meja yang tidak jauh
dari tempat Haneul dan Jaemee berdiri.
"Percayalah padaku jika kau
mengenal mereka sebaik diriku, kau tidak akan mungkin menyukai kedua pemuda
sinting itu." Jawab Haneul acuh tak acuh namun tampaknya Jaemee tidak
mempedulikan kata-kata Haneul dan penjelasan gadis itu mengenai Dongho dan
Taehyung, persis seperti gadis-gadis lain yang menjadi penggemar kedua pemuda
tampan itu.
Haneul, Dongho dan Taehyung memang
mengenal satu dengan yang lain sejak kecil. Orang tua mereka bersahabat
sehingga ketiga anak tersebut sudah sering bertemu sejak kecil. Pertemanan
berubah menjadi persahabatan dan hal itu di pererat dengan kenyataan bahwa
mereka selalu satu sekolah sejak SD, walau Haneul berumur satu tahun lebih muda
dari Dongho dan Taehyung. Saat ini mereka bertiga juga masuk ke universitas
yang sama, walau berbeda jurusan.
"Kapan kau akan mulai memanggilku
oppa?" Kata Dongho saat ia, Taehyung dan Haneul sedang duduk di kantin
kampus. Lawan bicaranya membalasnya dengan tatapan 'apa-kau-sudah-gila'.
"Bercanda! Aku hanya bercanda!" Teriak Dongho karena Haneul menjambak
rambutnya ketika ia hanya membalas tatapan Haneul dengan cengiran jahil.
"Fans kami akan memburumu jika
kau terus memperlakukan kami seperti itu, Haneul." Kata Taehyung sambil
melirik kerumunan gadis yang duduk tidak jauh dari mereka. Dongho dan Taehyung
memang di kenal sebagai 'Pangeran Kampus' karena memiliki wajah tampan dan
berasal dari keluarga yang kaya.
"Coba saja kalau mereka
berani." Jawab Haneul. Gadis satu ini memang di kenal dengan ketegasan dan
kegalakannya sehingga banyak anak memanggilnya 'Ice Queen'.
Taehyung dan Dongho tertawa mendengar
jawaban sahabat sejak kecil mereka itu. Ingatan mengenai terakhir kalinya salah
satu fans naif Taehyung dan Dongho nekat melabrak Haneul masih terbayang jelas
di ingatan kedua pemuda itu. Kejadian yang berakhir justru berkebalikan dari
maksud utamanya masih menjadi bahan ejekan si kembar untuk sahabat mereka.
Haneul melirik jam tangannya.
"Bukankah kelas kalian berdua akan di mulai sekitar lima menit lagi?"
Baru saja kata terakhir di ucapkan, baik Taehyung maupun Dongho sudah melesat
pergi untuk berlari ke kelas mereka membuat Haneul menggelengkan kepalanya
dengan pasrah, heran kenapa ia bisa bersahabat dengan dua pemuda yang kadang
tidak sadar umur itu.
"Ah, aku harus kembali ke kelas
juga." Gumam gadis itu sambil berdiri dari tempat duduknya. Langkahnya
yang mantab tiba-tiba terhenti karena dari arah berlainan, tampak segerombolan
anak yang baru saja masuk ke kantin sekolah. Anak-anak yang lain langsung
terburu-buru menyelesaikan makanan mereka atau membawa makanan mereka keluar
kantin karena rombongan yang baru masuk tak lain tak bukan adalah rombongan
preman kampus yang di takuti.
Enam orang pemuda dengan pakaian yang
'berantakan' berjalan dengan sok di antara meja-meja kantin. Pemimpin mereka
yang biasanya berdiri di tengah tidak terlihat di antara mereka. Haneul
membetulkan letak tas tangannya dan berjalan maju dengan muka datar. Sejak awal
ia memang tidak menyukai grup preman kampus ini.
"Hey, itu si Ice Queen."
Langkah Haneul sempat terhenti saat ia
berpapasan dengan mereka dan sebuah suara tedengar dari rombongan itu.
"Ia persis seperti rumor yang
beredar." Jawab suara lainnya. Haneul hanya membutuhkan waktu sedetik
sebelum kembali berjalan dengan tegas. Tidak ada gunanya membuang waktu untul
rombongan tidak benar seperti itu bukan?
"Eits. Tunggu dulu."
Haneul merasakan tangannya di tarik
oleh seseorang dan mau tidak mau keseimbangannya goyah. Hampir saja ia jatuh
jika ia tidak dengan sigap membetulkan posisi kakinya. Haneul menoleh dan
mendapati pemuda berambut merah memandangnya balik dengan cengiran lebar.
"Tolong lepaskan." Kata
Haneul, cukup tegas tapi para pemuda itu hanya tertawa saja dan tetap menahan
tangan Haneul.
"Kami selalu penasaran denganmu, Ice Queen." Ujar pemuda yang memegang tangan Haneul tadi.
"Kau salah satu dari sedikit
orang yang berani terang-terangan menyatakan ketidak sukaanmu di depan
kami." Sahut yang lain.
Haneul mengernyit. "Lalu?"
Namun tidak ada yang menjawab karena mereka sibuk bertukar cengiran dan tawa
yang tidak berlangsung lama karena mendadak semua senyuman hilang dan di
gantikan ekspresi kaget.
"K-ketua." Gumam salah satu
pemuda. Haneul ikut menoleh ke arah pandang mereka dan melihat seorang pemuda
berdiri tidak begitu jauh dari mereka. Pemuda itu mengenakan kaos dan rompi
tanpa lengan berwarna hitam. Ekspresinya tampak gelap dan menunjukan bahwa ia
kesal. Haneul mengenali wajah pemuda itu. Namun siapa sih yang tidak kenal
pemuda yang paling di takuti di seluruh universitas itu? Pemuda itu adalah
ketua dari para preman kampus, Park Jimin.
"Apa yang kalian lakukan?" Tanya
Jimin, membuat cengkraman di tangan Haneul lepas dan seluruh pemuda yang
tadinya mengelilingi Haneul berpindah ke sisi Jimin.
"Hanya mengecek sang Ice Queen
saja." Jawab pemuda yang tadi memegangi Haneul. "Ayo kita ke meja
yang biasa." Kata-kata itu di ikuti dengan gumaman setuju dan mereka mulai
bergerak menjauhi Haneul. Tak terkecuali, Jimin juga berjalan pergi. Walau
sebelumnya ia melirik Haneul sekilas, membuat gadis itu mengernyit kesal.
"Kau tidak apa-apa?"
Beberapa anak memberanikan diri mereka untuk mendatangi Haneul setelah
rombongan preman itu telah berjalan pergi. Gadis berambut ikal itu hanya
mengangguk singkat dan menjawab dengan mantab sebelum akhirnya meminta diri
karena kelasnya akan di mulai sebentar lagi.
Semua orang mengira bahwa kejadian itu
berhenti hanya sampai disitu saja. Semua orang termasuk Haneul. Namun sayangnya
hal itu salah karena pada saat Haneul hendak berjalan keluar dari kampus,
pemuda berambut merah yang tadi mencengkram tangan Haneul di kantin mencegat
jalan gadis itu lagi.
"Min Yoongi a.k.a Suga."
Kata pemuda itu, memperkenalkan diri tanpa diminta. "Tahun ketiga, itu
berarti aku sunbae mu, Oh Haneul."
Haneul tidak menjawab ataupun
memberikan respon pada kata-kata Suga. Ekspresinya tetap datar dan hal itu
malah membuat cengiran Suga bertambah lebar.
"Kau tahu, kau cukup terkenal di
antara kami." Ujar Suga.
"Lalu?"
Suga bersiul pelan setelah mendengar
jawaban Haneul. "Hanya ingin memberi tahumu saja. Dan kau bukan terkenal
dalam arti yang buruk kok." Pemuda itu berjalan mendekat hingga berdiri
tepat di depan Haneul dan memposisikan mukanya hanya beberapa cm di depan muka
Haneul. "Sampai bertemu lagi, Haneul."
***
Seorang gadis menghempaskan dirinya ke
salah satu bangku taman di sekitar kampusnya. Hari ini adalah hari yang berat
yang lain bagi dirinya. Bully? Tidak sih. Yah, hal yang dia alami tidak bisa di
kategorikan sebagai 'bullying', tapi tetap saja menyesakkan hati.
"J-jina ssi?"
Gadis itu, Jina, menoleh dan mendapati
segerombolan gadis yang berwajah sedikit ketakutan berdiri disebelahnya. Gadis
yang paling dekat dengannya tadi, yang memanggil namanya, menjulurkan sebuah
bungkusan.
"K-kau meninggalkan ini di kelas
tadi."
Jina tersenyum ramah dan mengambil
bungkusan itu. Namun bukannya merasa tenang, gadis-gadis tadi justru bertambah
ketakutan. Tanpa menunggu kata-kata dari Jina, mereka semua mohon diri dan
langsung pergi dari tempat itu secepat yang mereka bisa, meninggalkan Jina yang
menunjukan ekspresi kaget yang kemudian di gantikan dengan ekspresi sedih.
Jina, Park Jina, dihindari tanpa sebab
hanya karena ia adalah adik satu-satunya dari pemuda yang paling di takuti satu
universitas itu, Park Jimin. Sebisa mungkin ia menutupi kenyataan itu walau
gossip menyebar lebih cepat dari yang ia duga. Tahun lalu, saat ia baru saja
menjalani kehidupannya sebagai mahasiswi baru selama tiga bulan, entah
bagaimana fakta itu menyebar luas dan dalam sekejap semua teman barunya
menghilang dari sisinya. Bahkan senior-seniornya pun bertingkah berbeda saat
bertemu dengannya. Tentu saja ia tahu kakaknya tidak bermaksud jahat, namun
tetap saja perilaku kakaknya itu menyusahkannya.
Mendadak sebuah bola sepak melayang
dan mengenai tembok di sebelah Jina, membuat gadis itu kaget. Seraya memungut
bola itu, Jina memandang sekelilingnya, mencari siapa yang melempar bola itu.
"Maaf maaf!" Seorang pemuda
menghampiri Jina sambil berseru. Senyuman lebar yang menawan terpasang di
wajahnya. Pemuda itu mengatupkan kedua tangannya di depan dadanya, sebagai
tanda bahwa ia benar-benar meminta maaf.
"V!! Kau sudah mengambil
bolanya?" Terdengar suara dari arah pemuda tadi berasal. Jina tersentak
kaget, terutama ketika pemuda di depannya ini menyahut seruan tadi. V? Hanya
satu pemuda yang memiliki julukan ini di kampus tersebut, ace dari team sepak
bola, Shin Taehyung.
“Maaf ya.” Kata Taehyung sekali lagi
seraya tersenyum lebar pada Jina, membuat gadis itu membeku selama beberapa
saat. Hanya ada dua perempuan yang tidak membeku saat di senyumi oleh ‘Pangeran
Kampus’ seperti itu, dan mereka berdua adalah ibu kedua pemuda itu dan Oh
Haneul.
“Apa yang kau lakukan? Yang lain
menunggu.” Seorang pemuda lain muncul dan berjalan mendekati Taehyung. Pemuda
itu kemudian melihat Jina dan seperti anak-anak yang lain, ia tersentak dan
tampak ketakutan. Jina mengernyit dan Taehyung sendiri tampak heran.
“J-jina ssi.” Kata pemuda itu dengan
terbata-bata. “Maafkan kami!” Ia pun mendorong kepala Taehyung sehingga mereka
berdua membungkukkan badan mereka di depan Jina. Namun Taehyung memberontak dan
mendorong temannya menjauh.
“Kau mengenalnya?” Tanya Taehyung
sambil menunjuk Jina dengan santai. Temannya langsung menarik tangan Taehyung
dan memberikan pemuda itu ‘death glare’.
“Mengenalnya?” Desis sang teman itu. “Dia
adalah adik tunggal Park Jimin. Kau kenal Park Jimin kan?”
“Lalu?”
“Lalu?!”
“Shin Taehyung! Kim Minseok! Apa yang
kalian lakukan?! Cepat kembali!” Suara pelatih team sepakbola menggelegar dan
membuat ketiga anak yang mendengarnya melonjak kaget. Jina dengan cepat
menyerahkan bolanya ketangan Taehyung dan berbalik lalu berjalan pergi dengan cepat.
Ia baru saja berbicara dengan Shin
Taehyung. Jina merasakan kedua pipinya memanas. Shin Taehyung tidak
memperdulikan bahwa ia adalah adik dari Jimin. Shin Taehyung melihatnya hanya
sebagai Jina, walau mungkin pemuda itu tidak akan mengingat namanya, tapi dia
akan selalu mengingat muka Taehyung saat tersenyum padanya tadi.
***
Shin Dongho melangkahkan kakinya
dengan perasaan enggan. Baik Taehyung maupun Haneul mempunyai kegiatan lain dan
ia suka merasa risih jika berkumpul dengan anak-anak yang lain. Mungkin karena
ia tahu bahwa sebagian besar dari ‘teman-teman’nya hanya mendekatinya karena
wajah dan kekayaannya saja.
Perpustakaan mulai sepi siang hari
itu. Hanya ada beberapa anak tahun pertama yang masih sibuk mengerjakan tugas-tugas
mereka. Sebagian besar anak-anak itu menyadari kehadiran Dongho dan mulai
memperhatikannya dengan pandangan penasaran, hal yang membuat pemuda di tahun
ketiga ini menjadi lebih risih lagi.
‘Lebih baik aku segera menyelesaikan hal ini’ Pikir Dongho saat ia duduk setelah mengambil
buku-buku yang di perlukan. Dengan pikiran seperti itu, ia mulai mengerjakan
tugas-tugasnya, namun baru saja 15 menit berlalu, konsentrasi pemuda itu sudah
terpecah. Seraya berpangku tangan, ia memandang sekelilingnya diam-diam. Semua
anak memperhatikannya dengan sembunyi-sembunyi.
‘Sudah kuduga. Mungkin orang dekatku hanya sebatas
Taehyung dan Haneul. Lalu bagaimana aku akan menikah nanti..’ Pikirnya dengan nada bosan sambil terus memperhatikan
sekelilingnya. Dongho sudah akan kembali mengerjakan tugasnya ketika sesosok
murid menarik perhatiannya.
Gadis yang duduk sedikit jauh dari
tempatnya itu tidak memperhatikannya sama sekali. Apakah ia tidak menyadari
kehadiran Dongho? Tapi itu tidak mungkin bukan? Bagaimana pun juga dia adalah ‘Pangeran
Kampus’ yang terkenal.
Karena penasaran, akhirnya Dongho pun
bangkit berdiri dan berjalan ke rak buku di dekat gadis tersebut. Selang waktu
beberapa menit, gadis itu masih mengabaikan Dongho yang berdiri di dekatnya.
Menjadi semakin penasaran, sang pemuda bergerak mendekat. Namun masih sama
seperti sebelumnya, gadis itu masih mengabaikan Dongho.
Seumur hidup Dongho, ia hanya pernah
sekali mengalami kejadian di abaikan seperti itu dan pelakunya adalah Haneul
yang sedang marah padanya, jadi hal itu dapat di kategorikan hal yang ‘normal’
dalam hidupnya. Dan kemudian muncullah gadis misterius ini yang juga
mengabaikan dirinya.
Dongho akhirnya berdeham karena ia
tidak tahan di abaikan seperti itu. Dehaman pertama terdengar pelan dan gadis
itu masih mengabaikan Dongho. Dua kali, Tiga kali, setiap dehaman yang Dongho
keluarkan, volumenya bertambah keras sehingga akhirnya gadis itu menoleh pada
Dongho.
Alih-alih muka terpesona yang biasanya
Dongho liat di muka pada fansnya, ia malah melihat ekspresi kesal gadis itu.
Dengan satu jari di depan mulutnya, gadis itu mendesis dan menunjuk tulisan ‘Harap
Tenang’ yang terpasang tidakjauh dari situ. Setelah memastikan Dongho membaca
tulisan itu, ia kembali ke bukunya dan mengabaikan Dongho lagi. Pemuda bermarga
Shin tersebut hanya bisa bengong sebelum kembali ke tempat duduknya dengan
perasaan malu.
Siapa gadis itu? Berani-beraninya ia
bertingkah seperti itu? Dongho menoleh sekalih lagi untuk melihat muka gadis
itu. Bagaimanapun caranya, ia akan mencari tahu lebih banyak lagi mengenainya.
***
Park Minra memasang headset nya dan menyetel lagu yang
akhir-akhir ini menjadi lagu favoritenya beberapa hari terakhir ini. Kelasnya
baru saja berakhir dan ia hendak naik subway untuk pulang ke rumahnya.
Hari ini stasiun luar biasa penuh,
entah kenapa. Minra harus berdesak-desakan dengan banyak orang untuk bisa
mendapat tempat, dan ini masih di stasiun tempat mereka menunggu subway.
Mendadak punggungnya terdorong sesuatu dan keseimbangannya hilang. Gadis itu
sudah akan jatuh dan mencium lantai jika sebuah tangan tidak menahannya.
“Kau tidak apa-apa?”
Minra menoleh dan mendapati seorang
pemuda tampan sedang memegangi tangannya agar ia tidak terjatuh. Dari
pakaiannya, pemuda itu adalah murid SMA yang cukup terkenal di daerah itu.
Minra merasakan mukanya memanas dan dengan terburu-buru meluruskan badannya
kembali.
“T-terima kasih!” Kata Minra dengan
terburu-buru. Pemuda itu mengucapkan ‘sama sama’nya sambil tersenyum lebar,
membuat muka Minra mau tidak mau semakin memerah. Siapa sih yang tidak blushing
saat seorang pemuda tampan tersenyum padamu?
Merasa awkward dan malu, Minra
buru-buru mohon diri dan berlari pergi, meninggalkan pemuda itu yang
memperhatikan Minra dengan bingung dan terkejut. Gadis itu berhasil mendapatkan
subway pertama yang datang setelah kejadian itu, dan sepanjang perjalanan, ia
tidak bisa melupakan muka pemuda itu. Siapakah dia?
***
Jimin menatap jam tangannya dan
berulang kai berjalan mondar-mandir di depan pintu gerbang universitas.
Adiknya, Jina, belum muncul juga dan itu membuatnya cemas. Teman-temannya
sering mengatakan bahwa ia memiliki masalah ‘sister-complex’ namun baginya ini
hanyalah insting seorang kakak untuk adiknya.
Ketika pemuda ini sedang memandang
jamnya untuk kesekian kalinya, terdengar langkah kaki dan secara otomatis ia
menoleh, berharap Jina lah yang datang ke arahnya. Sayang sekali ia harus di
kecewakan dengan kenyataan bahwa Oh Haneul yang datang, dengan ekspresi
mengernyit terpasang di wajahnya. Jelas gadis itu juga tidak menyangka akan
bertemu Jimin, terutama setelah kejadian di kantin beberapa hari yang lalu.
Keheningan yang mencengkam menyelimuti
selama beberapa saat sebelum Haneul mengangkat tinggi dagunya dan berjalan
dengan tegas, hendak melewati Jimin begitu saja, seakan-akan Jimin tidak lebih
dari pohon yang berada di dekat mereka.
Mau tidak mau Jimin mengagumi
keberanian Haneul. Tidak ada satu pun yang berani melakukan hal itu padanya di
universitas ini. Di luar universitas? Banyak. Ia mempunyai banyak musuh di luar
sana, tapi di daerah ini, dia adalah bosnya. Namun seberapa mengagumkannya perilaku
Haneul, ini bisa menjadi contoh buruk bagi yang lain.
“Merasa tangguh?” Jimin tersenyum
seraya menghantamkan tangannya ke pohon di sebelah Haneul, persis di depan muka
gadis itu dan menghentikan langkahnya. Jika Haneul dibiarkan bertindak
seenaknya saja, reputasinya bisa turun.
Haneul melirik tajam Jimin lewat sudut
matanya. Ekspresi gadis itu sedatar biasanya ketika ia harus menghadapi hal-hal
yang tidak mengenakan seperti ini. Senyuman ‘jahat’ Jimin mengembang dan ia memposisikan dirinya
di depan Haneul.
“Perilakumu bisa membawa masalah
untukku, kau tahu?” Kata Jimin sambil memegang dagu Haneul, memaksa gadis itu
melihatnya tepat di mata. Namun baru saja beberapa detik ia memegangnya, Haneul
sudah menepis tangan Jimin ke samping.
“Bukan urusanku. Aku hanya menjadi
diriku sendiri.” Jawab Haneul dengan nada dingin. “Jika hanya itu yang ingin
kau katakan, permisi.” Dengan langkah tegap Haneul berjalan melewati Jimin
tanpa menoleh kebelakang sama sekali.
Jimin sendiri memperhatikan gadis itu
hingga hilang dari pandangan. Tidak pernah ia menemukan gadis yang menarik
seperti itu.
“Tidak ada salahnya jika aku
bermain-main dengannya selama beberapa saat.” Gumam Jimin, senyumannya masih
terdapat di wajahnya.
***TBC***
A/N : HAI~
Ya gue tahu harusnya gue selesain fanfic yang lain
sebelum mulai yang baru..
Tapi ya.. maaf ya #plak
Mohon maaf bila ada kesalahan~ ;)
Made by : Liz
Take out with full credits
please~ ^^

0 komentar:
Posting Komentar