Chapter 3 : Her Faith
(Setting
: 2 years prior HP1 )
“Nicole!
Ku pikir kau sudah kembali ke ruang rekreasi!” Seru Lee saat ia melihat Nicole,
salah satu temannya berjalan pelan di depannya saat ia kembali dari
perpustakaan. Lee sudah menyelesaikan tugasnya, sementara Gisselle masih
berkutat mengajari si kembar Weasley dan Elly berkata dia akan menyapa temannya
dahulu di perpustakaan. Membuat Lee tidak punya pilihan lain selain kembali ke
ruang rekreasi sendirian.
“Eh?
Apa?” Tanya Nicole yang menoleh tepat saat Lee menyusul di sebelah kanannya.
Dengan sedikit perasaan curiga, Lee mengulangi pertanyaannya. Nicole hanya
mengangguk angguk pelan, “Aku berjalan-jalan di sekitar sini tadi.”
Suara
Nicole terdengar sedikit berbeda dari biasanya walau jelas gadis itu berusaha
keras menutupinya. Karena masih mengingat kejadian tadi, Lee memutuskan untuk
tidak bertanya apapun pada temannya itu. Nicole tidak mengatakan apa-apa selama
perjalanan kembali ke ruang rekreasi bersama Lee, sehingga keheningan yang
canggung ‘menggantung’ begitu saja di udara.
Balik
di ruang rekreasi yang cukup sepi di sore hari itu, Nicole langsung bergumam
kalau dia ingin istirahat sebentar sebelum makan malam nanti. Tentu saja Lee
sama sekali tidak memprotes. Pemua berkulit hitam tersebut duduk di salah satu
sofa merah yang ada sambil menunggu si kembar dan Gisselle kembali dari
perpustakaan. Pemandangan yang cukup menyedihkan sebenarnya, seorang pemuda
duduk sendirian menatap perapian yang menyala. Tepat setengah jam kemudian,
Gisselle dan si kembar melangkah masuk ke ruang rekreasi.
“Dimana
Nicole?” Tanya Fred ketika melihat pemandangan miris yang ada di ruang rekreasi,
Lee duduk sendirian. Fred dan George serta Gisselle memandang sekeliling
mereka, namun hanya ada mereka bertiga, Lee dan beberapa anak kelas 4 yang
sedang mengobrol dan tidak mempedulikan mereka, sama sekali tidak ada tanda
keberadaan Nicole disana.
“Dia
berkata ingin beristirahat sebentar sebelum makan malam.” Jawab Lee. Si kembar saling berpandangan satu dengan
yang lain dengan bingung, sementara Gisselle menatap Lee dengan pandangan
bertanya. “Entahlah!” Kata Lee lagi ketika melihat ekspresi teman-temannya.
“Aku bertemu dengannya saat berjalan balik dari perpustakaan tadi, dan dia
bersikap aneh sepanjang perjalanan kesini.”
“Bersikap
aneh?” Ketiga teman Lee nyaris berbicara pada saat yang bersamaan.
“Tunggu,
bukankah Nicole balik dari perpustakaan lebih cepat dari kita? Dan kurang lebih
kau menghabiskan satu jam di perpustakaan kan Lee?” Kata George. “Bagaimana
bisa kau bertemu dengan nya di jalan seperti itu?”
Lee
mengangkat bahu, “Dia bilang dia berjalan-jalan tadi.”
“Mungkin
dia kelelahan. Aku akan mengeceknya di kamar.” Kata Gisselle seraya bergegas ke
kamar tempat dia dan Nicole tidur. Dengan langkah yang pelan dia berjalan ke
kamar mereka dan membuka pintu. “Nicole?” Panggilnya pelan.
Nicole,
yang tadinya tidur menghadap langit-langit, berguling kesamping sehingga
memunggungi pintu masuk dan berpura-pura tidur. Setelah tidak mendengar jawaban
dari Nicole, Gisselle mendekati ranjang milik Nicole namun tidak melakukan
apa-apa. Ia jelas mengira Nicole tidur karena kemudian ia berbalik dan berjalan
pergi dan menutup pintu.
“Dia
tertidur..” Kata Gisselle, melapor pada ketiga pemuda yang menunggu di ruang
rekreasi. “Aku tidak tega membangunkannya.”
“Yaa,
mungkin kalau kita bangunkan dia akan membanting kita lagi.” Kata Fred,
bergurau. Namun Gisselle tidak menganggapnya lucu sama sekali. Untuk pertama
kalinya ia memandang Fred dengan pandangan marah, yang masih jauh kurang dari
mengerikan seperti tatapan milik Nicole sebenarnya, lalu berjalan pergi keluar
dari ruang rekreasi. Baik Lee dan George memandang Fred dengan tatapan
‘harusnya-kau-tidak-mengatakan-hal-itu’. Fred balas memandang dengan tatapan,
‘aku-kan-hanya-bercanda’.
***
Selama
beberapa hari kedepan, sikap Nicole berubah drastis. Ia seakan-akan menghindari
semua orang dan menjadi penyendiri. Semua teman-temannya, khususnya Gisselle,
Lee dan si kembar Weasley merasa heran akan perubahan ini. Bahkan Elly dan
Cedric yang berbeda asrama pun merasakan perubahan sikap teman mereka yang
biasanya galak ini.
“Nicole?”
Panggil Gisselle suatu hari di akhir kelas Ramuan. Semua anak Gryffindor dan
Slytherin sudah keluar dari ruang bawah tanah tempat kelas tersebut
berlangsung. Semua kecuali Nicole yang masih memandang kosong ke depan.
Sikapnya yang sering bengong tidak terlalu memperngaruhi nilai-nilainya, namun
ia menjadi sering berpikir begitu dalam sehingga tidak mendengar apapun juga.
“Eh?
Apa?” Kata-kata yang sering sekali Nicole ucapkan akhir-akhir ini, terlontar
lagi dari mulut gadis itu. Dengan sabar Gisselle member tahunya bahwa kelas
sudah selesai dan sekarang saatnya mereka makan siang.
“Oh
ya ya. Pergilah duluan. Aku akan menyusul nanti.” Ucap Nicole sambil tersenyum
tipis pada temannya itu sebelum mulai membereskan barang-barangnya.
“Ku
tunggu kau di depan?” Tawar Gisselle, gadis lembut itu luar biasa khawatir
karena perubahan sikap Nicole.
“Tidak
usah. Kau pergilah duluan. Kau tidak boleh telat makan kan?”
“Baiklah.”
Setelah
berkata demikian, Gisselle berjalan keluar dari ruang kelas, dimana Fred, George
dan Lee menunggunya. Sama seperti banyak pengalaman sebelumnya, Gisselle
menggeleng, tanda bahwa Nicole tidak ingin di tunggu dan bahwa mereka duluan
saja, sama seperti yang Nicole minta di hari-hari sebelumnya.
“Haruskah
kita melapor kepada kepala sekolah? Maksudku kakeknya?” Kata Gisselle ketika
mereka ber empat berjalan menuju Aula Utama untuk makan siang. Mereka sudah
berulang kali membahas cara untuk mengembalikan sikap Nicole kembali seperti
semula, atau sekedar mencari tahu permasalahannya, tapi tidak ada yang
berhasil. Mereka tidak menemukan apa-apa ketika mereka menyelidikinya, dan
ketika mereka menanyai Nicole, gadis itu selalu mengelak.
Ketiga
pemuda terdiam. Mereka juga tidak jarang mempertimbangkan memberi tahu
Dumbledore, satu-satunya angggota keluarga Nicole. Tapi tidak ada yang tahu
bagaimana cara menghubunginya. Semakin sering mereka memikirkan jalan keluar,
semakin frustasi mereka.
“Argh!”
Teriak Fred frustasi. “Sebenarnya apa yang terjadi dengan gadis itu hah?!”
Tidak
ada yang bisa menjawab ataupun membalas kata-kata Fred. Setelah teriakan Fred
tadi, tidak ada yang berbicara lagi sampai mereka mencapai Aula Utama.
Sementara itu Nicole, yang sudah membereskan barang-barangnya secepat yang ia
bisa, sudah sampai setengah jalan menuju Aula Besar ketika ia kembali di
hadang, persis seperti kejadian beberapa hari yang lalu.
“Sepertinya
kau melakukan peranmu dengan baik sekali, Ravensdale.”
Pandangan
Nicole menjadi dingin, “Apa mau kalian?” Di depannya saat ini berdiri lima
pemuda yang jelas lebih tua dari Nicole, dan berasal dari Slytherin. Salah satu
dari mereka, pemuda yang berdiri kedua dari kanan, tak lain tak bukan adalah
Marcus Flint.
“Whoa.
Jaga kata-katamu, Ravensdale. Kau lupa kesepakatan kita?” Kata pemuda yang
berada di sebelah kiri seraya tertawa, yang lain mengikutinya. Nicole
mengernyitkan keningnya dan mengambil nafas dalam-dalam untuk menenangkan
amarahnya.
“Tentu
saja aku tidak lupa. Dan kuharap kalian juga tidak lupa.” Jawab Nicole. Para
pemuda Slytherin itu tertawa lagi.
“Tenang
saja, kami tidak akan lupa.” Sahut pemuda yang berada di tengah, pemimpin
gerombolan itu. Ia memiliki mata abu-abu yang sama sekali tidak hangat seperti
mata Cedric, dan rambut hitam yang berantakan. “Tapi kami belum puas dengan
perbuatanmu. Itu masih kurang.”
Kerutan
di kening Nicole bertambah. “Aku akan berusaha sekuat tenaga kalau begitu.
Permisi.” Ujar Nicole sambil menembus pemuda-pemuda tersebut. Si pemimpin
mencegahnya pergi dengan memegang pundak Nicole lalu berbisik di telinganya
sebelum membiarkannya pergi, atau tepatnya, mereka semua pergi sambil tertawa
setelah si pemimpin tadi membisikan sesuatu di kuping Nicole.
Nicole
mengepalkan tangannya sampai buku-buku jarinya memutih dan telapaknya
mengeluarkan darah. Walau tidak banyak, luka tetaplah luka. Ketika ia
menyadarinya, ia sudah sampai di meja Gryffindor.
“Ah
sial.” Umpatnya ketika ia melihat luka di telapak tangannya. Gisselle yang
duduk di sebelahnya, mendengarnya. Ia pun menoleh dengan khawatir pada Nicole.
Namun Nicole lebih cepat, ia kembali mengepalkan tangannya untuk menyembunyikan
lukanya.
“Ada
apa?” Pertanyaan Gisselle membuat tidak hanya si kembar dan Lee yang menoleh,
tapi teman-teman Gryffindor yang duduk di dekat mereka pun ikut menoleh. Nicole
jelas tidak menyukai fakta bahwa dia saat ini menjadi pusat perhatian. Gadis
tersebut menggeleng dan tersenyum.
“Tidak
apa-apa. Aku melupakan sesuatu. Itu saja.” Jawab Nicole seraya berdiri walau
dia belum makan apapun siang itu. “Sampai ketemu di kelas Transfigurasi nanti.”
Nicole meraih tasnya dan segera berjalan pergi, mengabaikan berbagai protesan
dari teman-temannya. Ia berjalan seakan-akan hendak kembali ke ruang bawah
tanah, tempat kelas Ramuan tadi, selama beberapa saat sebelum akhirnya berhenti
dan membuka kepalan tangannya dan meringis saat melihat lukanya. Ia tidak ingin
ke rumah sakit sekolah karena Madam Pomfrey akan menanyainya berbagai hal dan
dia sedang tidak ingin menjelaskan apapun pada siapapun saat ini. Dengan segera
ia mencari kain atau apapun yang bisa ia temukan dalam tasnya untuk membungkus
lukanya itu, sebelum orang lain melihatnya di lorong kosong itu.
“Nicole?
Apa yang kau lakukan?”
Nicole
melonjak kaget dan nyaris menjatuhkan tasnya ketika ia mendengar suara hangat
yang selalu ia dengar sejak ia berumur 1 tahun, suara kakeknya. Ia menoleh dan
mendapati Dumbledore tersenyum lembut padanya, yang membuat Nicole harus
menahan diri agar tidak berlari dan memeluk kakeknya itu.
“Ada
apa? Mengapa kau tidak makan di aula?”
Sejenak
Nicole berpikir untuk membohongi dan mengelak dari kakeknya, namun sedetik
kemudian ia menyadari bahwa hal itu tidak mungkin. Ia bisa saja berbohong pada
temannya dan guru-gurunya, tapi tidak pada kakeknya. Maka Nicole menunjukan
telapak tangannya yang terluka pada kakeknya. Dumbledore tersenyum sedih ketika
ia melihatnya dan mendekati Nicole lalu memeriksa luka gadis itu secara teliti.
“Kau
seorang perempuan, Nicole. Rawatlah tanganmu lebih hati-hati lagi.” Kata
Dumbledore. Ia lalu mengeluarkan tongkatnya dan melambaikan tongkatnya. Dengan
sekejap, luka milik Nicole menghilang, lenyap tanpa jejak.
“Terima
kasih kakek.” Gumam Nicole. Dumbledore masih memegang tangan Nicole dan menatap
cucunya itu lewat kacamata bulan-separo miliknya. Otomatis Nicole merasa tidak
enak ketika kakeknya memandangnya seperti itu, tapi Dumbledore tidak menunjukan
tanda-tanda akan melepaskan tangan Nicole.
“Kau
memiliki masalah, sayangku.” Itu pernyataan, bukan pertanyaan. Seperti biasa,
Dumbledore bisa melihat menembus Nicole. Dan kali ini Nicole sama sekali tidak
berniat menyembunyikannya lagi, ia mengangguk.
“Mengetahui
bahwa orang itu dapat di percaya, dan mempercayai seseorang itu hal yang
berbeda.” Kata Dumbledore. “Dan kurasa, kau belum melakukan yang kedua.”
Nicole
mengernyit, bingung dengan kata-kata kakeknya. Dumbledore melepaskan
genggamannya atas tangan Nicole dan tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia hanya
memberikan pandangan penuh arti sebelum berbalik dan berjalan pergi,
meninggalkan gadis berambut cokelat tua itu terdiam heran di lorong yang sepi,
walau akhirnya ia segera berlari pergi menuju kelas Transfigurasi agar tidak
terlambat. Mengingat guru Transfigurasi adalah McGonagall, tentu saja dia tidak
ingin telat.
Sepanjang
hari, tidak hanya di kelas Transfigurasi, tapi di keseluruhan hari itu, Nicole
memikirkan kata-kata kakeknya tadi, dan mencoba mengaitkannya dengan masalah
yang sedang menimpanya. Hal itu membuat Nicole lebih diam, lebih dari
akhir-akhir ini, dimana dia lebih diam dari biasanya, sehingga Gisselle, Lee
dan si kembar menjadi tidak tahan lagi.
Malam
hari, setelah makan malam, mereka ber empat bersama Elly, yang sudah di
ceritakan masalah lengkapnya oleh yang lain, menarik Nicole kedalam kelas
kosong, agar tidak ada yang menganggu mereka, dan memojokkannya. Jelas dari
muka Nicole, gadis itu merasa luar biasa heran dan juga tidak menyangka.
Sekilas ia juga terlihat tidak menyukai hal tersebut, namun dengan cepat ia
menutupinya.
"Nicole." Kata Fred sambil mengelilingi Nicole dengan yang
lain juga, walau pemuda itu menjaga jarak karena takut dibanting lagi.
"Ada apa ini?" Tanya Nicole, walau dia sudah mulai
mengetahui maksud teman-temannya 'memojokkan' dirinya.
"Kau bertingkah aneh sejak beberapa hari yang lalu. Well yah..
tepatnya sejak membantingku." Kata George.
"Aku membanting Fred, bukan kau, George."
George nyengir, "Hanya mengecek apakah kau masih punya kemampuan
membedakan kami, kemampuan yang cukup langka kau tahu. Bahkan ibu kami
mengalami kesulitan melakukannya."
Nicole menatap George dengan datar, jelas sedang tidak ingin bercanda.
Melihat hal itu, Elly
langsung mengambil alih pembicaraan.
"Begini Nicole. Kau bersikap aneh sejak kau jalan-jalan sendirian
beberapa hari yang lalu dan kami semua hanya ingin tahu kenapa." Jelas
Elly, yang lain
mengangguk-anggukkan kepala mereka, tanda setuju dengan kata-kata Elly.
"Apakah kau mendapat masalah dari Flint lagi?" Tanya Lee.
"Kau bisa bercerita pada kami." Kata Gisselle. Jelas
skenario ini sudah dibuat sebelumnya karena Gisselle tidak segugup biasanya.
"Tidak ada masalah." Jawab Nicole pelan.
"Jangan bohong! Nicole, kumohon!" Kata Gisselle, jelas
merasa sengsara karena sikap Nicole. Nicole membuang mukanya dan menolak untuk
memandang teman-temannya. Fred dengan berani mendekati gadis itu dan
mendorongnya ke tembok. Yang lain jelas kaget melihat tindakan 'ekstrim' itu,
termasuk Nicole. Gadis itu begitu kaget sehingga tidak sempat melawan.
"Kita tidak sedang bermain-main sekarang, Nicole." Kata Fred
tegas seraya meletakan satu tangannya di samping kepala Nicole sehingga
kepalanya berdekatan dengan kepala Nicole. Yang lain hanya menonton dalam diam.
“Kau bertingkah luar biasa aneh akhir-akhir ini dan kami ingin tahu kenapa. Kau
tidak bisa pergi sebelum menjelaskannya pada kami.”
Nicole memandang langsung ke mata Fred dengan
berani, lalu ia mengaitkan kaki kanannya pada kaki kiri Fred dan menariknya
sedemikian rupa sehingga pemuda tersebut jatuh kebelakang, mengejutkan semua
orang kecuali Nicole tentu saja.
“Siapa
bilang aku tidak bisa?” Kata Nicole dingin, sambil melangkah melewati Fred dan
menuju pintu keluar.
“Kami
temanmu!” Teriak Fred, yang masih terbaring di lantai, ketika Nicole sampai di
pintu dan hendak meraih gagangnya. “Kami temanmu bukan?! Kenapa kau tidak
mempercayai kami?!” Kata-kata Fred membuat Nicole berhenti dari kegiatannya
membuka pintu. Ia berbalik dan menatap Fred dengan marah.
“Apa?!
Kau ingin menceramahiku?!” Teriak Fred lagi walau Gisselle sudah berusaha
menghentikannya. “Aku tidak peduli kau akan menghajarku berapa kali pun, aku
akan mengembalikanmu seperti semula!”
Nicole
seperti hendak membalas berteriak pada Fred, tapi ia menahan kata-katanya dan
berbalik lagi menghadap pintu, membukanya dan keluar dari sana.
Fred
menghantamkan tinjunya ke lantai, “Sial!” Teriaknya. Gisselle sudah nyaris
menangis ketika pintu tiba-tiba terbuka lagi. Semua kepala menoleh, mengira
Nicole kembali masuk kedalam ruangan. Namun yang masuk bukanlah Nicole, tapi
lima pemuda. Lima pemuda yang sama dengan yang menghadang jalan Nicole siang
tadi.
“Apa
yang kalian mau?” Kata Lee, melihat lima pemuda Slytherin yang berdiri di dekat
pintu, memandang Lee dan yang lain dengan muka menghina. Fred berdiri dengan
bantuan Gisselle dan membalas pandangan itu dengan pandangan yang hampir sama
persis.
“Ingin
memberi tahu apa yang terjadi sebenarnya dengan teman kalian.” Kata pemuda yang
di tengah, si pemimpin. Dan kalimat itu langsung membuat kelima teman Nicole
memusatkan perhatian mereka pada dirinya. “Oh? Kalian tertarik?” Katanya lagi.
“Kalau begitu, dengarkan baik baik..”
***
Nicole memandang langit-langit kamar tidurnya.
Pikirannya kembali melayang pada kejadian tadi. Ia menutup matanya selama sesaat, dan bayangan kejadian
kembali melesat di depannya. Setelah beberapa saat ia membuka kembali matanya
dan memutuskan untuk mencari udara segar di luar.
“Kau
mau kemana, sayang?” Tanya si Nyonya Gemuk saat Nicole melangkah keluar. Nicole
hanya tersenyum kecil sebagai jawaban sebelum melanjutkan langkahnya menuju
halaman Hogwarts. Tanpa sadar, kakinya malah membawanya ke lapangan Quidditch,
dimana dia duduk di salah satu bangku penonton dengan tatapan kosong di
matanya. Angin musim gugur yang dingin menerpa wajahnya namun dia tidak peduli.
Sekitar 15 menit dia duduk tidak bergerak ketika akhirnya seseorang
menganggetkannya dengan duduk disampingnya.
Nicole
sudah mengangkat tangannya untuk melindungi diri ketika suara orang tersebut
menghentikannya. “Whoa whoa, hentikan. Ini aku, Oliver.” Oliver Wood duduk
disampingnya, mengangkat kedua tangannya seakan-akan menyerah. “Tolong jangan
tinju diriku.”
Nicole
kembali menurunkan tangannya dan memandang Oliver dengan pandangan penuh tanya.
"Sedang apa kau disini?" Tanyanya pelan.
Oliver
tersenyum, "Aku bisa mengatakan hal yang sama denganmu." Balasnya
seraya melepaskan syal yang melilit di lehernya dan memasangkannya pada leher
Nicole. Nicole memandangnya lagi, lebih heran dari sebelumnya. Melihat hal itu
muka Oliver memerah, "Uhm. K-kau bisa masuk angin jika kau tidak memakai
syal."
"Kau
juga bukan?" Kata Nicole sambil membetulkan letak syal yang di berikan
Oliver. "Tapi terima kasih atas syalnya."
Setelah
Nicole mengatakan hal tersebut, ia kembali terdiam dan menatap kejauhan,
membuat suasana diantara mereka terasa canggung. Oliver mengacak rambutnya,
bingung untuk memulai percakapan.
"Ku
dengar dari Percy kalau kau bertengkar dengan adiknya? Si kembar itu?"
Tanya Oliver. Nicole tidak menjawab dan hal itu membuat sang keeper Gryffindor
semakin kebingungan. Ia mendesah dan menatap Nicole lekat-lekat. "Dengar,
aku tahu aku tidak berhak mencampuri urusan kalian tapi--"
"Maka
jangan." Ucap Nicole dengan suara datar, masih menatap ke kejauhan. Oliver
mengernyit.
"Flint
melakukan sesuatu lagi ya? Kau tidak perlu mendengarkan dirinya kau tahu."
"Aku
tahu, tapi aku tidak punya pilihan." Jawab Nicole, membuat dirinya sendiri
heran mengapa ia memutuskan menjawab Oliver. Mungkin karena dia berhasil
menebak sebagian dari masalahnya.
"Kalau
kau tahu, mengapa kau mengikutinya?"
"Sudah
kubilang aku tidak punya pilihan."
"Tidak.
Kau punya."
"Aku
tidak punya."
"Kau
punya."
Nicole
berdiri dan menatap Oliver dengan berang. "Aku TIDAK punya pilihan kau
dengar?! Mereka semua jauh lebih tua dariku dan tentu sudah mempelajari banyak
hal!! Mereka semua laki-laki! Dan mereka mengancam akan menyergap Gisselle! Apa
aku punya pilihan?! Memang ada! Yaitu untuk mengabaikan teman-temanku! Dan
jelas aku TIDAK akan pernah melakukan hal itu!"
Mata
Nicole mulai berair. Dia telah berjanji pada Flint dan kawan-kawannya untuk
menjadi orang menyebalkan sehingga semua orang membencinya. Dan ia telah
melakukan semuanya itu, menahan semuanya demi teman-temannya. Para pemuda
Slytherin itu mengancam akan melukai Gisselle yang memiliki penyakit anemia,
target terlemah. Tidak hanya Gisselle, tapi Fred, George, Lee bahkan Elly dan
Cedric juga menjadi target. Nicole sudah siap menangis ketika sepasang lengan
yang kuat menariknya, menariknya masuk ke dalam pelukan.
Nicole
tidak suka menangis. Ketika ia menyadari Oliver lah yang memeluknya, ia segera
menahan tangisnya dan mendorong Oliver. Oliver melepaskan pelukannya, tapi
tidak menjauh dari gadis di depannya itu, melainkan meletakkan tangannya di
atas kepala Nicole.
"Kau
kuat bukan? Ku dengar kau bisa membanting Fred. Dan lagipula, kau tidak perlu
melindungi mereka seperti itu. Bukankah lebih baik jika kalian menjaga satu
dengan yang lain?"
Nicole
membuka mulutnya untuk membalas, ketika suara langkah kaki mengangetkan mereka.
Dari kejauhan tampak Fred, George, Lee, Elly dan Gisselle, dengan tampak
berantakan, berlari ke arah Nicole dan Oliver. Oliver langsung mengambil
langkah mundur sebelum yang lain sempat melihat dia berdiri terlalu dekat
dengan Nicole tadi. Muka si kembar dan Lee penuh lebam dan luka, bahkan muka
Elly dan Gisselle terdapat luka juga. Melihat muka Gisselle, Nicole merasa
khawatir.
"Sial
kau Ravensdale!!" Teriak George. "Siapa bilang kau boleh melindungi
kami hah?!"
"Kami
bisa melindungi diri kami sendiri!! Kami tidak butuh perlindunganmu!!"
Teriak Lee.
"Buktinya
kami telah memberi pelajaran pada semua anak Slytherin yang mengancammu itu!!
Bahkan Gisselle menendang kaki Flint!!" Teriak Elly sementara Gisselle
mengacungkan jempolnya pada Nicole.
"Kenapa...kalian..."
Nicole kehabisan kata-kata sehabis mendengar teriakan teman-temannya. Fred
berjalan mendekati Nicole dan mengalungkan lengannya di sekitar pundak gadis
itu.
"Para
brengsek itu mendatangi kami setelah kau pergi dan bercerita tentang
kesepakatan kalian. Kami memberi mereka sedikit pelajaran sebelum menenggelamkan
mereka dalam Bom Kotoran." Jelas Fred. "Kami akan mendapat masalah,
tapi tidak apa-apa. Hal itu setimpal.."
Nicole
sekali lagi merasakan dirinya akan menangis. Gisselle berjalan ke sebelahnya
dan memeluk temannya itu. "Terima kasih telah melindungi kami, tapi kami
lebih memilih Nicole kami kembali daripada selamat dari para anak
Slytherin." Lee, Elly dan George juga berjalan mendekati Nicole dan
memeluknya juga. Nicole mendapati dirinya menangis di depan mereka.
"Berjanjilah
kau tidak akan melakukan hal itu lagi, Tuan
Putri." Kata Fred sambil nyengir pada Nicole. Nicole menghapus air
matanya dan mengangguk.
"Aku
berjanji."
***
"Kalian
di panggil Filch lagi?" Omel Nicole pada si kembar, yang sejak kejadian
seminggu yang lalu, menjadi senang bermain main dengan Bom Kotoran. Nicole,
Gisselle dan Lee sedang duduk di ruang rekreasi Gryffindor, dan si kembar baru
saja balik dari detensi. Tidak ada yang membahas soal ancaman minggu lalu, dan
Nicole telah kembali seperti semula. Mereka semua mendapat detensi tentu saja,
tapi apa yang mereka dapatkan jauh lebih berharga daripada itu. Hubungan mereka
pun bertambah dekat, lebih dari sebelumnya.
"Lupakan
soal itu!" Kata George bersemangat. "Lihat apa yang kami temukan di
kantor Filch!"
"Apa
itu?" Tanya Lee penasaran ketika mereka berlima mengerumuni secarik
perkamen yang di keluarkan George dari kantongnya.
"Kami
menyangka ini semacam peta, tapi kami belum berhasil mengetahui bagaimana cara
mengaktifkannya." Kata Fred, sama bersemangatnya dengan saudara kembarnya,
George.
"Kupikir
kalian seharusnya mengembalikannya.." Kata Gisselle. Ia sudah menjadi
lebih berani di depan si kembar, walau jelas masih jauh dari bercakap-cakap
panjang dengan mereka.
Sepanjang
tahun itu berjalan dengan lancar. Anak-anak Slytherin selalu mencari cara untuk
membalas Nicole dan teman-temannya, namun sejauh ini belum ada yang berhasil.
Dan Nicole telah melakukan apa yang kakeknya katakan dulu, mempercayai orang
sepenuhnya. Ya, dia mempercayai teman-temannya sepenuhnya untuk menjaga dirinya
dan diri mereka masing-masing, mereka juga mempercayai Nicole untuk menjaga
mereka dan mereka akan menjaga Nicole. Mereka mempercayai Nicole, maka Nicole
juga akan melakukan hal yang sama.
***TBC***
A/N : Aneeehhh!! Argh! #plak
Mohon maaf apabila ada kesalahan *bows*
Mohon maaf apabila ada kesalahan *bows*
Made
by : Liz
Take
out with full credits please~ ^^

0 komentar:
Posting Komentar