Selasa, 13 Mei 2014

Hogwarts' Beloved : Chapter 3

Chapter 3 : Her Faith
                                              (Setting : 2 years prior HP1 )

“Nicole! Ku pikir kau sudah kembali ke ruang rekreasi!” Seru Lee saat ia melihat Nicole, salah satu temannya berjalan pelan di depannya saat ia kembali dari perpustakaan. Lee sudah menyelesaikan tugasnya, sementara Gisselle masih berkutat mengajari si kembar Weasley dan Elly berkata dia akan menyapa temannya dahulu di perpustakaan. Membuat Lee tidak punya pilihan lain selain kembali ke ruang rekreasi sendirian.

“Eh? Apa?” Tanya Nicole yang menoleh tepat saat Lee menyusul di sebelah kanannya. Dengan sedikit perasaan curiga, Lee mengulangi pertanyaannya. Nicole hanya mengangguk angguk pelan, “Aku berjalan-jalan di sekitar sini tadi.”

Suara Nicole terdengar sedikit berbeda dari biasanya walau jelas gadis itu berusaha keras menutupinya. Karena masih mengingat kejadian tadi, Lee memutuskan untuk tidak bertanya apapun pada temannya itu. Nicole tidak mengatakan apa-apa selama perjalanan kembali ke ruang rekreasi bersama Lee, sehingga keheningan yang canggung ‘menggantung’ begitu saja di udara.

Balik di ruang rekreasi yang cukup sepi di sore hari itu, Nicole langsung bergumam kalau dia ingin istirahat sebentar sebelum makan malam nanti. Tentu saja Lee sama sekali tidak memprotes. Pemua berkulit hitam tersebut duduk di salah satu sofa merah yang ada sambil menunggu si kembar dan Gisselle kembali dari perpustakaan. Pemandangan yang cukup menyedihkan sebenarnya, seorang pemuda duduk sendirian menatap perapian yang menyala. Tepat setengah jam kemudian, Gisselle dan si kembar melangkah masuk ke ruang rekreasi.

“Dimana Nicole?” Tanya Fred ketika melihat pemandangan miris yang ada di ruang rekreasi, Lee duduk sendirian. Fred dan George serta Gisselle memandang sekeliling mereka, namun hanya ada mereka bertiga, Lee dan beberapa anak kelas 4 yang sedang mengobrol dan tidak mempedulikan mereka, sama sekali tidak ada tanda keberadaan Nicole disana.

“Dia berkata ingin beristirahat sebentar sebelum makan malam.” Jawab Lee.  Si kembar saling berpandangan satu dengan yang lain dengan bingung, sementara Gisselle menatap Lee dengan pandangan bertanya. “Entahlah!” Kata Lee lagi ketika melihat ekspresi teman-temannya. “Aku bertemu dengannya saat berjalan balik dari perpustakaan tadi, dan dia bersikap aneh sepanjang perjalanan kesini.”

“Bersikap aneh?” Ketiga teman Lee nyaris berbicara pada saat yang bersamaan.

“Tunggu, bukankah Nicole balik dari perpustakaan lebih cepat dari kita? Dan kurang lebih kau menghabiskan satu jam di perpustakaan kan Lee?” Kata George. “Bagaimana bisa kau bertemu dengan nya di jalan seperti itu?”

Lee mengangkat bahu, “Dia bilang dia berjalan-jalan tadi.”

“Mungkin dia kelelahan. Aku akan mengeceknya di kamar.” Kata Gisselle seraya bergegas ke kamar tempat dia dan Nicole tidur. Dengan langkah yang pelan dia berjalan ke kamar mereka dan membuka pintu. “Nicole?” Panggilnya pelan.

Nicole, yang tadinya tidur menghadap langit-langit, berguling kesamping sehingga memunggungi pintu masuk dan berpura-pura tidur. Setelah tidak mendengar jawaban dari Nicole, Gisselle mendekati ranjang milik Nicole namun tidak melakukan apa-apa. Ia jelas mengira Nicole tidur karena kemudian ia berbalik dan berjalan pergi dan menutup pintu.

“Dia tertidur..” Kata Gisselle, melapor pada ketiga pemuda yang menunggu di ruang rekreasi. “Aku tidak tega membangunkannya.”

“Yaa, mungkin kalau kita bangunkan dia akan membanting kita lagi.” Kata Fred, bergurau. Namun Gisselle tidak menganggapnya lucu sama sekali. Untuk pertama kalinya ia memandang Fred dengan pandangan marah, yang masih jauh kurang dari mengerikan seperti tatapan milik Nicole sebenarnya, lalu berjalan pergi keluar dari ruang rekreasi. Baik Lee dan George memandang Fred dengan tatapan ‘harusnya-kau-tidak-mengatakan-hal-itu’. Fred balas memandang dengan tatapan, ‘aku-kan-hanya-bercanda’.

***

Selama beberapa hari kedepan, sikap Nicole berubah drastis. Ia seakan-akan menghindari semua orang dan menjadi penyendiri. Semua teman-temannya, khususnya Gisselle, Lee dan si kembar Weasley merasa heran akan perubahan ini. Bahkan Elly dan Cedric yang berbeda asrama pun merasakan perubahan sikap teman mereka yang biasanya galak ini.

“Nicole?” Panggil Gisselle suatu hari di akhir kelas Ramuan. Semua anak Gryffindor dan Slytherin sudah keluar dari ruang bawah tanah tempat kelas tersebut berlangsung. Semua kecuali Nicole yang masih memandang kosong ke depan. Sikapnya yang sering bengong tidak terlalu memperngaruhi nilai-nilainya, namun ia menjadi sering berpikir begitu dalam sehingga tidak mendengar apapun juga.

“Eh? Apa?” Kata-kata yang sering sekali Nicole ucapkan akhir-akhir ini, terlontar lagi dari mulut gadis itu. Dengan sabar Gisselle member tahunya bahwa kelas sudah selesai dan sekarang saatnya mereka makan siang.

“Oh ya ya. Pergilah duluan. Aku akan menyusul nanti.” Ucap Nicole sambil tersenyum tipis pada temannya itu sebelum mulai membereskan barang-barangnya.

“Ku tunggu kau di depan?” Tawar Gisselle, gadis lembut itu luar biasa khawatir karena perubahan sikap Nicole.

“Tidak usah. Kau pergilah duluan. Kau tidak boleh telat makan kan?”

“Baiklah.”

Setelah berkata demikian, Gisselle berjalan keluar dari ruang kelas, dimana Fred, George dan Lee menunggunya. Sama seperti banyak pengalaman sebelumnya, Gisselle menggeleng, tanda bahwa Nicole tidak ingin di tunggu dan bahwa mereka duluan saja, sama seperti yang Nicole minta di hari-hari sebelumnya.

“Haruskah kita melapor kepada kepala sekolah? Maksudku kakeknya?” Kata Gisselle ketika mereka ber empat berjalan menuju Aula Utama untuk makan siang. Mereka sudah berulang kali membahas cara untuk mengembalikan sikap Nicole kembali seperti semula, atau sekedar mencari tahu permasalahannya, tapi tidak ada yang berhasil. Mereka tidak menemukan apa-apa ketika mereka menyelidikinya, dan ketika mereka menanyai Nicole, gadis itu selalu mengelak.

Ketiga pemuda terdiam. Mereka juga tidak jarang mempertimbangkan memberi tahu Dumbledore, satu-satunya angggota keluarga Nicole. Tapi tidak ada yang tahu bagaimana cara menghubunginya. Semakin sering mereka memikirkan jalan keluar, semakin frustasi mereka.

“Argh!” Teriak Fred frustasi. “Sebenarnya apa yang terjadi dengan gadis itu hah?!”

Tidak ada yang bisa menjawab ataupun membalas kata-kata Fred. Setelah teriakan Fred tadi, tidak ada yang berbicara lagi sampai mereka mencapai Aula Utama. Sementara itu Nicole, yang sudah membereskan barang-barangnya secepat yang ia bisa, sudah sampai setengah jalan menuju Aula Besar ketika ia kembali di hadang, persis seperti kejadian beberapa hari yang lalu.

“Sepertinya kau melakukan peranmu dengan baik sekali, Ravensdale.”

Pandangan Nicole menjadi dingin, “Apa mau kalian?” Di depannya saat ini berdiri lima pemuda yang jelas lebih tua dari Nicole, dan berasal dari Slytherin. Salah satu dari mereka, pemuda yang berdiri kedua dari kanan, tak lain tak bukan adalah Marcus Flint.

“Whoa. Jaga kata-katamu, Ravensdale. Kau lupa kesepakatan kita?” Kata pemuda yang berada di sebelah kiri seraya tertawa, yang lain mengikutinya. Nicole mengernyitkan keningnya dan mengambil nafas dalam-dalam untuk menenangkan amarahnya.

“Tentu saja aku tidak lupa. Dan kuharap kalian juga tidak lupa.” Jawab Nicole. Para pemuda Slytherin itu tertawa lagi.

“Tenang saja, kami tidak akan lupa.” Sahut pemuda yang berada di tengah, pemimpin gerombolan itu. Ia memiliki mata abu-abu yang sama sekali tidak hangat seperti mata Cedric, dan rambut hitam yang berantakan. “Tapi kami belum puas dengan perbuatanmu. Itu masih kurang.”

Kerutan di kening Nicole bertambah. “Aku akan berusaha sekuat tenaga kalau begitu. Permisi.” Ujar Nicole sambil menembus pemuda-pemuda tersebut. Si pemimpin mencegahnya pergi dengan memegang pundak Nicole lalu berbisik di telinganya sebelum membiarkannya pergi, atau tepatnya, mereka semua pergi sambil tertawa setelah si pemimpin tadi membisikan sesuatu di kuping Nicole.

Nicole mengepalkan tangannya sampai buku-buku jarinya memutih dan telapaknya mengeluarkan darah. Walau tidak banyak, luka tetaplah luka. Ketika ia menyadarinya, ia sudah sampai di meja Gryffindor.

“Ah sial.” Umpatnya ketika ia melihat luka di telapak tangannya. Gisselle yang duduk di sebelahnya, mendengarnya. Ia pun menoleh dengan khawatir pada Nicole. Namun Nicole lebih cepat, ia kembali mengepalkan tangannya untuk menyembunyikan lukanya.

“Ada apa?” Pertanyaan Gisselle membuat tidak hanya si kembar dan Lee yang menoleh, tapi teman-teman Gryffindor yang duduk di dekat mereka pun ikut menoleh. Nicole jelas tidak menyukai fakta bahwa dia saat ini menjadi pusat perhatian. Gadis tersebut menggeleng dan tersenyum.

“Tidak apa-apa. Aku melupakan sesuatu. Itu saja.” Jawab Nicole seraya berdiri walau dia belum makan apapun siang itu. “Sampai ketemu di kelas Transfigurasi nanti.” Nicole meraih tasnya dan segera berjalan pergi, mengabaikan berbagai protesan dari teman-temannya. Ia berjalan seakan-akan hendak kembali ke ruang bawah tanah, tempat kelas Ramuan tadi, selama beberapa saat sebelum akhirnya berhenti dan membuka kepalan tangannya dan meringis saat melihat lukanya. Ia tidak ingin ke rumah sakit sekolah karena Madam Pomfrey akan menanyainya berbagai hal dan dia sedang tidak ingin menjelaskan apapun pada siapapun saat ini. Dengan segera ia mencari kain atau apapun yang bisa ia temukan dalam tasnya untuk membungkus lukanya itu, sebelum orang lain melihatnya di lorong kosong itu.

“Nicole? Apa yang kau lakukan?”

Nicole melonjak kaget dan nyaris menjatuhkan tasnya ketika ia mendengar suara hangat yang selalu ia dengar sejak ia berumur 1 tahun, suara kakeknya. Ia menoleh dan mendapati Dumbledore tersenyum lembut padanya, yang membuat Nicole harus menahan diri agar tidak berlari dan memeluk kakeknya itu.

“Ada apa? Mengapa kau tidak makan di aula?”

Sejenak Nicole berpikir untuk membohongi dan mengelak dari kakeknya, namun sedetik kemudian ia menyadari bahwa hal itu tidak mungkin. Ia bisa saja berbohong pada temannya dan guru-gurunya, tapi tidak pada kakeknya. Maka Nicole menunjukan telapak tangannya yang terluka pada kakeknya. Dumbledore tersenyum sedih ketika ia melihatnya dan mendekati Nicole lalu memeriksa luka gadis itu secara teliti.

“Kau seorang perempuan, Nicole. Rawatlah tanganmu lebih hati-hati lagi.” Kata Dumbledore. Ia lalu mengeluarkan tongkatnya dan melambaikan tongkatnya. Dengan sekejap, luka milik Nicole menghilang, lenyap tanpa jejak.

“Terima kasih kakek.” Gumam Nicole. Dumbledore masih memegang tangan Nicole dan menatap cucunya itu lewat kacamata bulan-separo miliknya. Otomatis Nicole merasa tidak enak ketika kakeknya memandangnya seperti itu, tapi Dumbledore tidak menunjukan tanda-tanda akan melepaskan tangan Nicole.

“Kau memiliki masalah, sayangku.” Itu pernyataan, bukan pertanyaan. Seperti biasa, Dumbledore bisa melihat menembus Nicole. Dan kali ini Nicole sama sekali tidak berniat menyembunyikannya lagi, ia mengangguk.

“Mengetahui bahwa orang itu dapat di percaya, dan mempercayai seseorang itu hal yang berbeda.” Kata Dumbledore. “Dan kurasa, kau belum melakukan yang kedua.”

Nicole mengernyit, bingung dengan kata-kata kakeknya. Dumbledore melepaskan genggamannya atas tangan Nicole dan tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia hanya memberikan pandangan penuh arti sebelum berbalik dan berjalan pergi, meninggalkan gadis berambut cokelat tua itu terdiam heran di lorong yang sepi, walau akhirnya ia segera berlari pergi menuju kelas Transfigurasi agar tidak terlambat. Mengingat guru Transfigurasi adalah McGonagall, tentu saja dia tidak ingin telat.

Sepanjang hari, tidak hanya di kelas Transfigurasi, tapi di keseluruhan hari itu, Nicole memikirkan kata-kata kakeknya tadi, dan mencoba mengaitkannya dengan masalah yang sedang menimpanya. Hal itu membuat Nicole lebih diam, lebih dari akhir-akhir ini, dimana dia lebih diam dari biasanya, sehingga Gisselle, Lee dan si kembar menjadi tidak tahan lagi.

Malam hari, setelah makan malam, mereka ber empat bersama Elly, yang sudah di ceritakan masalah lengkapnya oleh yang lain, menarik Nicole kedalam kelas kosong, agar tidak ada yang menganggu mereka, dan memojokkannya. Jelas dari muka Nicole, gadis itu merasa luar biasa heran dan juga tidak menyangka. Sekilas ia juga terlihat tidak menyukai hal tersebut, namun dengan cepat ia menutupinya.

"Nicole." Kata Fred sambil mengelilingi Nicole dengan yang lain juga, walau pemuda itu menjaga jarak karena takut dibanting lagi.

"Ada apa ini?" Tanya Nicole, walau dia sudah mulai mengetahui maksud teman-temannya 'memojokkan' dirinya.

"Kau bertingkah aneh sejak beberapa hari yang lalu. Well yah.. tepatnya sejak membantingku." Kata George.

"Aku membanting Fred, bukan kau, George."

George nyengir, "Hanya mengecek apakah kau masih punya kemampuan membedakan kami, kemampuan yang cukup langka kau tahu. Bahkan ibu kami mengalami kesulitan melakukannya."

Nicole menatap George dengan datar, jelas sedang tidak ingin bercanda. Melihat hal itu, Elly langsung mengambil alih pembicaraan.

"Begini Nicole. Kau bersikap aneh sejak kau jalan-jalan sendirian beberapa hari yang lalu dan kami semua hanya ingin tahu kenapa." Jelas Elly, yang lain mengangguk-anggukkan kepala mereka, tanda setuju dengan kata-kata Elly.

"Apakah kau mendapat masalah dari Flint lagi?" Tanya Lee.

"Kau bisa bercerita pada kami." Kata Gisselle. Jelas skenario ini sudah dibuat sebelumnya karena Gisselle tidak segugup biasanya.

"Tidak ada masalah." Jawab Nicole pelan.

"Jangan bohong! Nicole, kumohon!" Kata Gisselle, jelas merasa sengsara karena sikap Nicole. Nicole membuang mukanya dan menolak untuk memandang teman-temannya. Fred dengan berani mendekati gadis itu dan mendorongnya ke tembok. Yang lain jelas kaget melihat tindakan 'ekstrim' itu, termasuk Nicole. Gadis itu begitu kaget sehingga tidak sempat melawan.

"Kita tidak sedang bermain-main sekarang, Nicole." Kata Fred tegas seraya meletakan satu tangannya di samping kepala Nicole sehingga kepalanya berdekatan dengan kepala Nicole. Yang lain hanya menonton dalam diam. “Kau bertingkah luar biasa aneh akhir-akhir ini dan kami ingin tahu kenapa. Kau tidak bisa pergi sebelum menjelaskannya pada kami.”

Nicole memandang langsung ke mata Fred dengan berani, lalu ia mengaitkan kaki kanannya pada kaki kiri Fred dan menariknya sedemikian rupa sehingga pemuda tersebut jatuh kebelakang, mengejutkan semua orang kecuali Nicole tentu saja.

“Siapa bilang aku tidak bisa?” Kata Nicole dingin, sambil melangkah melewati Fred dan menuju pintu keluar.

“Kami temanmu!” Teriak Fred, yang masih terbaring di lantai, ketika Nicole sampai di pintu dan hendak meraih gagangnya. “Kami temanmu bukan?! Kenapa kau tidak mempercayai kami?!” Kata-kata Fred membuat Nicole berhenti dari kegiatannya membuka pintu. Ia berbalik dan menatap Fred dengan marah.

“Apa?! Kau ingin menceramahiku?!” Teriak Fred lagi walau Gisselle sudah berusaha menghentikannya. “Aku tidak peduli kau akan menghajarku berapa kali pun, aku akan mengembalikanmu seperti semula!”

Nicole seperti hendak membalas berteriak pada Fred, tapi ia menahan kata-katanya dan berbalik lagi menghadap pintu, membukanya dan keluar dari sana.

Fred menghantamkan tinjunya ke lantai, “Sial!” Teriaknya. Gisselle sudah nyaris menangis ketika pintu tiba-tiba terbuka lagi. Semua kepala menoleh, mengira Nicole kembali masuk kedalam ruangan. Namun yang masuk bukanlah Nicole, tapi lima pemuda. Lima pemuda yang sama dengan yang menghadang jalan Nicole siang tadi.

“Apa yang kalian mau?” Kata Lee, melihat lima pemuda Slytherin yang berdiri di dekat pintu, memandang Lee dan yang lain dengan muka menghina. Fred berdiri dengan bantuan Gisselle dan membalas pandangan itu dengan pandangan yang hampir sama persis.

“Ingin memberi tahu apa yang terjadi sebenarnya dengan teman kalian.” Kata pemuda yang di tengah, si pemimpin. Dan kalimat itu langsung membuat kelima teman Nicole memusatkan perhatian mereka pada dirinya. “Oh? Kalian tertarik?” Katanya lagi. “Kalau begitu, dengarkan baik baik..”

***

Nicole memandang langit-langit kamar tidurnya. Pikirannya kembali melayang pada kejadian tadi. Ia menutup matanya selama sesaat, dan bayangan kejadian kembali melesat di depannya. Setelah beberapa saat ia membuka kembali matanya dan memutuskan untuk mencari udara segar di luar.

“Kau mau kemana, sayang?” Tanya si Nyonya Gemuk saat Nicole melangkah keluar. Nicole hanya tersenyum kecil sebagai jawaban sebelum melanjutkan langkahnya menuju halaman Hogwarts. Tanpa sadar, kakinya malah membawanya ke lapangan Quidditch, dimana dia duduk di salah satu bangku penonton dengan tatapan kosong di matanya. Angin musim gugur yang dingin menerpa wajahnya namun dia tidak peduli. Sekitar 15 menit dia duduk tidak bergerak ketika akhirnya seseorang menganggetkannya dengan duduk disampingnya.

Nicole sudah mengangkat tangannya untuk melindungi diri ketika suara orang tersebut menghentikannya. “Whoa whoa, hentikan. Ini aku, Oliver.” Oliver Wood duduk disampingnya, mengangkat kedua tangannya seakan-akan menyerah. “Tolong jangan tinju diriku.”

Nicole kembali menurunkan tangannya dan memandang Oliver dengan pandangan penuh tanya. "Sedang apa kau disini?" Tanyanya pelan.

Oliver tersenyum, "Aku bisa mengatakan hal yang sama denganmu." Balasnya seraya melepaskan syal yang melilit di lehernya dan memasangkannya pada leher Nicole. Nicole memandangnya lagi, lebih heran dari sebelumnya. Melihat hal itu muka Oliver memerah, "Uhm. K-kau bisa masuk angin jika kau tidak memakai syal."

"Kau juga bukan?" Kata Nicole sambil membetulkan letak syal yang di berikan Oliver. "Tapi terima kasih atas syalnya."

Setelah Nicole mengatakan hal tersebut, ia kembali terdiam dan menatap kejauhan, membuat suasana diantara mereka terasa canggung. Oliver mengacak rambutnya, bingung untuk memulai percakapan.

"Ku dengar dari Percy kalau kau bertengkar dengan adiknya? Si kembar itu?" Tanya Oliver. Nicole tidak menjawab dan hal itu membuat sang keeper Gryffindor semakin kebingungan. Ia mendesah dan menatap Nicole lekat-lekat. "Dengar, aku tahu aku tidak berhak mencampuri urusan kalian tapi--"

"Maka jangan." Ucap Nicole dengan suara datar, masih menatap ke kejauhan. Oliver mengernyit.

"Flint melakukan sesuatu lagi ya? Kau tidak perlu mendengarkan dirinya kau tahu."

"Aku tahu, tapi aku tidak punya pilihan." Jawab Nicole, membuat dirinya sendiri heran mengapa ia memutuskan menjawab Oliver. Mungkin karena dia berhasil menebak sebagian dari masalahnya.

"Kalau kau tahu, mengapa kau mengikutinya?"

"Sudah kubilang aku tidak punya pilihan."

"Tidak. Kau punya."

"Aku tidak punya."

"Kau punya."

Nicole berdiri dan menatap Oliver dengan berang. "Aku TIDAK punya pilihan kau dengar?! Mereka semua jauh lebih tua dariku dan tentu sudah mempelajari banyak hal!! Mereka semua laki-laki! Dan mereka mengancam akan menyergap Gisselle! Apa aku punya pilihan?! Memang ada! Yaitu untuk mengabaikan teman-temanku! Dan jelas aku TIDAK akan pernah melakukan hal itu!"

Mata Nicole mulai berair. Dia telah berjanji pada Flint dan kawan-kawannya untuk menjadi orang menyebalkan sehingga semua orang membencinya. Dan ia telah melakukan semuanya itu, menahan semuanya demi teman-temannya. Para pemuda Slytherin itu mengancam akan melukai Gisselle yang memiliki penyakit anemia, target terlemah. Tidak hanya Gisselle, tapi Fred, George, Lee bahkan Elly dan Cedric juga menjadi target. Nicole sudah siap menangis ketika sepasang lengan yang kuat menariknya, menariknya masuk ke dalam pelukan.

Nicole tidak suka menangis. Ketika ia menyadari Oliver lah yang memeluknya, ia segera menahan tangisnya dan mendorong Oliver. Oliver melepaskan pelukannya, tapi tidak menjauh dari gadis di depannya itu, melainkan meletakkan tangannya di atas kepala Nicole.

"Kau kuat bukan? Ku dengar kau bisa membanting Fred. Dan lagipula, kau tidak perlu melindungi mereka seperti itu. Bukankah lebih baik jika kalian menjaga satu dengan yang lain?"

Nicole membuka mulutnya untuk membalas, ketika suara langkah kaki mengangetkan mereka. Dari kejauhan tampak Fred, George, Lee, Elly dan Gisselle, dengan tampak berantakan, berlari ke arah Nicole dan Oliver. Oliver langsung mengambil langkah mundur sebelum yang lain sempat melihat dia berdiri terlalu dekat dengan Nicole tadi. Muka si kembar dan Lee penuh lebam dan luka, bahkan muka Elly dan Gisselle terdapat luka juga. Melihat muka Gisselle, Nicole merasa khawatir.

"Sial kau Ravensdale!!" Teriak George. "Siapa bilang kau boleh melindungi kami hah?!"

"Kami bisa melindungi diri kami sendiri!! Kami tidak butuh perlindunganmu!!" Teriak Lee.

"Buktinya kami telah memberi pelajaran pada semua anak Slytherin yang mengancammu itu!! Bahkan Gisselle menendang kaki Flint!!" Teriak Elly sementara Gisselle mengacungkan jempolnya pada Nicole.

"Kenapa...kalian..." Nicole kehabisan kata-kata sehabis mendengar teriakan teman-temannya. Fred berjalan mendekati Nicole dan mengalungkan lengannya di sekitar pundak gadis itu.

"Para brengsek itu mendatangi kami setelah kau pergi dan bercerita tentang kesepakatan kalian. Kami memberi mereka sedikit pelajaran sebelum menenggelamkan mereka dalam Bom Kotoran." Jelas Fred. "Kami akan mendapat masalah, tapi tidak apa-apa. Hal itu setimpal.."

Nicole sekali lagi merasakan dirinya akan menangis. Gisselle berjalan ke sebelahnya dan memeluk temannya itu. "Terima kasih telah melindungi kami, tapi kami lebih memilih Nicole kami kembali daripada selamat dari para anak Slytherin." Lee, Elly dan George juga berjalan mendekati Nicole dan memeluknya juga. Nicole mendapati dirinya menangis di depan mereka.

"Berjanjilah kau tidak akan melakukan hal itu lagi, Tuan Putri." Kata Fred sambil nyengir pada Nicole. Nicole menghapus air matanya dan mengangguk.

"Aku berjanji."

***

"Kalian di panggil Filch lagi?" Omel Nicole pada si kembar, yang sejak kejadian seminggu yang lalu, menjadi senang bermain main dengan Bom Kotoran. Nicole, Gisselle dan Lee sedang duduk di ruang rekreasi Gryffindor, dan si kembar baru saja balik dari detensi. Tidak ada yang membahas soal ancaman minggu lalu, dan Nicole telah kembali seperti semula. Mereka semua mendapat detensi tentu saja, tapi apa yang mereka dapatkan jauh lebih berharga daripada itu. Hubungan mereka pun bertambah dekat, lebih dari sebelumnya.

"Lupakan soal itu!" Kata George bersemangat. "Lihat apa yang kami temukan di kantor Filch!"

"Apa itu?" Tanya Lee penasaran ketika mereka berlima mengerumuni secarik perkamen yang di keluarkan George dari kantongnya.

"Kami menyangka ini semacam peta, tapi kami belum berhasil mengetahui bagaimana cara mengaktifkannya." Kata Fred, sama bersemangatnya dengan saudara kembarnya, George.

"Kupikir kalian seharusnya mengembalikannya.." Kata Gisselle. Ia sudah menjadi lebih berani di depan si kembar, walau jelas masih jauh dari bercakap-cakap panjang dengan mereka.

Sepanjang tahun itu berjalan dengan lancar. Anak-anak Slytherin selalu mencari cara untuk membalas Nicole dan teman-temannya, namun sejauh ini belum ada yang berhasil. Dan Nicole telah melakukan apa yang kakeknya katakan dulu, mempercayai orang sepenuhnya. Ya, dia mempercayai teman-temannya sepenuhnya untuk menjaga dirinya dan diri mereka masing-masing, mereka juga mempercayai Nicole untuk menjaga mereka dan mereka akan menjaga Nicole. Mereka mempercayai Nicole, maka Nicole juga akan melakukan hal yang sama.

***TBC***

A/N : Aneeehhh!! Argh! #plak 
Mohon maaf apabila ada kesalahan *bows*

Made by : Liz
Take out with full credits please~ ^^

0 komentar:

Posting Komentar