Minggu, 11 Mei 2014

Hogwarts' Beloved : Chapter 2

Chapter 2 : It May Have Blossomed
                                                        (Setting : 2 years prior HP1 )

Sudah nyaris sebulan sejak Nicole mulai bersekolah di Hogwarts, dan ia menjalin persahabatan yang erat dengan Gisselle, Lee dan, walau dia tidak mau mengakuinya, si kembar Weasley. Tentu saja ia juga masih berteman dengan Elly dan Cedric walau mereka berbeda asrama. Musim gugur telah mencapai puncaknya dan udara mulai bertambah dingin seiring hari berjalan. Musim pertandingan Quidditch sudah akan dimulai dan setiap asrama mulai mempersiapkan anggota team nya masing-masing.

Hari itu hari Sabtu, setelah sarapan pagi, Nicole diajak, setengah di paksa sebenarnya, untuk menonton latihan pertama team Quidditch Gryffindor oleh Fred dan George. Dan tentu saja Lee serta Gisselle ikut menonton bersama mereka. Setelah mengambil tempat duduk mereka di bangku penonton, secara otomatis Fred dan George duduk di sebelah kanan dan kiri Nicole, mencegahnya untuk kabur.

“Kenapa kalian duduk mengapitku seperti ini..” Omel Nicole melirik ke kanan kirinya. Fred dan George hanya nyengir dan menjawab bersamaan.

“Agar kau tidak kabur.”

Nicole mengernyit  dan segera bangkit berdiri untuk duduk di sebelah Giselle yang duduk di samping Fred, “Aku bukan kriminal. Dan aku tidak akan melarikan diri.” Protes gadis bermata hijau cerah itu sambil mendesak Gisselle yang tampaknya sedikit malu-malu duduk di sebelah Fred. Gadis brunette itu bergeser sedikit ke arah Fred, membuat Nicole harus mendesaknya lagi agar dia bisa duduk di samping Gisselle.

“Geser sedikit Gisselle, aku tidak bisa duduk.” Nicole mendorong temannya sekali lagi agar lebih ‘menempel’ pada Fred. Muka Gisselle sedikit memerah ketika ia bergeser sekali lagi, namun sayangnya tidak ada yang melihatnya karena tepat pada saat itu ada yang menyapa mereka ber lima.

“Fred! George!”

Seorang pemuda yang memiliki muka mirip dengan si kembar namun dengan tubuh yang lebih berisi dan tegap, terbang mendekati mereka. Rambut merahnya berkibar tertiup angin musim gugur yang dingin.

“Charlie!” Seru si kembar bersamaan, menyapa kakak kedua tertua mereka yang merupakan kapten dari team Quidditch Gryffindor. Charlie nyengir pada mereka berdua.

“Kalian harus masuk team di tahun kedua kalian, okay?” Kata Charlie, setengah berteriak untuk mengatasi suara angin yang cukup keras. Si kembar berteriak ya sambil mengacungkan jempolnya yang dibalas dengan jempol dari Charlie sebelum pemuda itu terbang kembali ke teamnya.

“Kalian hendak mendaftar tahun depan?” Betapa herannya mereka ketika yang berbicara adalah Gisselle. Itu adalah kalimat terpanjang hari ini yang ia katakana pada si kembar. Ia tidak memiliki masalah mengobrol dengan Nicole dan Lee, namun tampaknya ia selalu kehilangan kata-kata di depan si kembar.

Fred menoleh ke arah Gisselle dengan cepat, nyaris membuat gadis itu melonjak mundur dan menabrak Nicole. Nicole dapat melihat ekspresi Fred dan George yang tampaknya sama sekali tidak menyadari Gisselle yang biasanya diam di hadapan mereka itu.

“Tepat sekali! Kami akan menjadi beater!”

Gisselle menoleh ke arah Nicole, meminta penjelasan sekaligus sebagai alasan mengalihkan pandangannya dari Fred.

“Dua pemain yang membawa pentungan. Tugas mereka adalah menjaga pemain lainnya agar tidak terluka dari serangan Bludger.” Penjelasan Nicole membuat Gisselle mengumamkan ‘ooo’ yang pelan sementara ketiga pemuda yang bersama mereka kembali memperhatikan lapangan Quidditch.

Team Gryffindor memulai latihan mereka dengan terbang mengelilingi tiang-tiang gawang yang berada di dua sisi lapangan, lalu Charlie melepas Snitch serta Bludger dan latihan yang sesungguhnya pun dimulai. Si kembar berteriak-teriak rusuh seakan sedang menonton pertandingan yang sebenarnya, Lee seperti sedang berlatih menjadi komentator, Gisselle tampak kehabisan nafas duduk di sebelah Fred, mukanya merah sekali, sementara Nicole hanya menyilangkan kaki dan berpangku tangan, terlihat bosan.

Latihan berlangsung selama satu jam setengah, yang sebenarnya akan berlangsung lebih lama jika cuaca tidak mendadak bertambah dingin. Sambil ‘menyeret’ Nicole kembali, si kembar berjalan menuju ruang ganti. Gisselle dan Lee menyusul di belakang mereka.

“Keren!!” Komentar si kembar bersamaan ketika pintu ruang ganti terbuka dan Charlie muncul dari balik pintu tersebut. Charlie nyengir dan merangkul kedua adiknya. Dengan segera mereka bertiga bercakap-cakap seru sambil berjalan menuju Aula Utama, melupakan Nicole dan Gisselle sementara Lee sudah lari menyusul si kembar. Gisselle ragu sejenak sebelum ia berlari juga menyusul si Kembar dan Lee. Nicole berdecak tidak sabar dan melangkah maju menyusul teman-temannya ketika seseorang menghadang jalannya. Nicole tidak mengenal muka pemuda tersebut, tapi dapat dipastikan dari seragamnya, dia berasal dari Slytherin.

“Membiasakan diri dengan kehidupan sekolahmu, Ravensdale?”

Suaranya terdengar sinis dan penuh sindiran. Pemuda itu tampaknya 3 atau 4 tahun lebih tua dari Nicole. Badannya besar dan ukuran giginya tidak kalah besar, yang tampak lebih besar lagi karena dia menyeringai sekarang, sambil berjalan pelan mendekati Nicole.

“Aku sudah terbiasa.” Jawab Nicole mantab, tidak berusaha lari ataupun mundur. Dia sudah berjanji pada dirinya sendiri kalau dia tidak akan mundur ketika seseorang menggertaknya tanpa alasan seperti itu. Sejak ia mendapat surat dari Hogwarts yang sebenarnya tidak perlu itu, dia sudah tahu bahwa nantinya dia akan banyak mendapat gretakan, hinaan dan sindiran.

“Oh? Merasa berani kau Ravensdale? Merasa tangguh karena kepala sekolah akan selalu ada mendukungmu?”

Kening Nicole mengkerut, tangannya mengepal, berusaha menahan amarahnya. Ini pertama kalinya ia di sindir se ekstrim itu. Biasanya hanya sindiran sindiran kecil dan hanya di belakang punggungnya saja. Tapi pemuda ini melakukannya persis di depan mukanya.

“Apa mau mu Flint?”

Baik Nicole maupun pemuda itu, Flint, mengalihkan pandangan mereka kea rah sumber suara, di belakang Nicole. Oliver Wood berdiri disana, menatap ke arah Flint dengan pandangan dingin.

“Wood.” Sapa Flint dengan suara yang sinis juga. “Hanya menyapa bintang kecil kita, tidak ada maksud apapun..”

Oliver berjalan ke sebelah Nicole, seakan-akan siap untuk adu tinju dengan Flint kapan saja walau jelas Flint lebih besar darinya. Tapi untungnya sebelum kedua pemuda tersebut dapat mendekat satu dengan yang lain, Madam Hooch mendekati mereka. Madam Hooch adalah instruktur terbang, wasit sekaligus pelatih Quidditch di Hogwarts. Sebelum Nicole masuk ke Hogwarts sebagai murid, Madam Hooch sering melatih Nicole menaiki sapu sekolah.

“Ada apa? Apakah ada masalah?” Tanya Madam Hooch seraya memandang Nicole, Oliver dan Flint bergantian.

Nicole, yang pertama menyadari bahwa hal ini harus segera di bereskan, menyahut dengan cepat. “Tidak ada apa-apa, Madam. Semuanya baik-baik saja.” Jawabnya sambil tersenyum yang sebenarnya agak dibuat-buat. “Kami baru saja akan menuju Aula Utama untuk makan siang.” Setelah berkata begitu, Nicole menarik lengan Oliver dan menyeretnya pergi dari lokasi itu.

Setelah memastikan baik Flint maupun Madam Hooch tidak mengikuti mereka berdua, Nicole melepaskan tangan Oliver dan berbalik memandangnya.

“Kenapa kau menantanginya seperti itu?” Protes Nicole mengenai tindakan Oliver tadi. Oliver mengernyit, tidak menyangka kalau Nicole akan berkata seperti itu pertama kali.

“Untuk membantumu?”

“Dan membuat asrama kita nyaris kehilangan poin.”

“Tapi ia bertindak keterlaluan!”

Nicole menghela nafas, ketika seperti ini kadang ia merasa Oliver justru lebih muda darinya. “Memang, tapi tidak perlu membuat pose seakan kau menantangnya berkelahi seperti itu.” Ujar Nicole seraya membalikan badan, memunggungi Oliver dan menghadap ke pintu masuk Aula Utama. Oliver terdiam mendengar kata-kata gadis itu.

Nicole berjalan satu dua langkah sebelum tiba-tiba berbalik dan tersenyum tipis pada Oliver. “Tapi, terima kasih telah membelaku.” Dan ia melanjutkan langkahnya ke Aula Utama, meninggalkan Oliver yang jelas-jelas tercengang kaget.

***

“Kau dari mana saja?” Tanya Lee ketika Nicole duduk di antaranya dan Gisselle di meja Gryffindor.

“Apa?” Tanya Nicole, tidak mendengar pertanyaan Lee karena bisingnya suasana. Lee mengulangi pertanyaannya sementara si kembar dan Gisselle menatap Nicole cemas.

“Oh ya ya..” Jawab Nicole acuh tak acuh sambil mengambil makan siangnya, “Aku di hadang senior bernama Flint tadi. Tapi tidak apa-apa, tidak terjadi hal yang perlu di khawatirkan.”

“Flint?” Charlie tiba-tiba menyahut dari tempat duduk disebelah George. “Marcus Flint? Anak Slytherin itu?” Nicole hanya mengangguk sebagai jawaban, sedikit terkejut mengenai fakta bahwa Charlie mengenal senior yang menghadang nya tadi.

“Kau mengenalnya?” Tanya Fred pada kakaknya itu, mengutarakan pertanyaan yang terngiang di kepala ke empat anak yang lain.

Charlie mengangguk dengan muka masam, “Tentu saja aku mengenalnya. Ia sudah mencoba menjatuhkanku dari sapu entah berapa kali.” Melihat pandangan bingung dari yang lain, Charlie melanjutkan dengan suara datar, “Flint adalah Chaser team Slytherin. Pemain Quidditch paling tidak sportif yang pernah kutemui.”

Setelah mendengarkan penjelasan kakaknya, George langsung berpaling ke Nicole yang duduk tepat di depannya, membuat gadis itu menjatuhkan garpunya. “Kau yakin kau tidap apa-apa? Dia tidak melakukan apa apa?” Pemuda berambut merah tersebut memandang Nicole dengan khawatir, dan tidak hanya dia, tapi Fred, Gisselle dan Lee bahkan Charlie memandangnya dengan khawatir. Gadis berambut cokelat tua itu menggeleng sambil tersenyum menenangkan.

“Ia hanya berkicau tidak jelas saja. Bukan sesuatu yang layak dipikirkan.” Ucap Nicole, dan dari nadanya, ia dengan jelas mengakhiri topik tersebut. Gisselle kembali menatap makan siangnya, Charlie tampaknya sedang sibuk berpikir, mungkin merencanakan bagaimana menjatuhkan Flint dari sapunya lain kali. Si kembar berdiskusi seru, kemungkinan besar mengenai aksi kejailan mereka yang berikutnya. Lee sesaat tampak bingung, sebelum akhirnya ia mengambil porsi kedua makan siangnya.

Nicole menunduk untuk mengambil garpu yang tadi ia jatuhkan, dan ketika ia meluruskan badannya lagi, secara tidak sengaja pandangannya beradu dengan pandangan Oliver yang duduk lima tempat dari tempat Charlie duduk. Oliver melemparkan senyum awkward dan lalu mengalihkan pandangannya, dengan sedikit terburu-buru sebenarnya. Nicole menaikkan alis, heran dengan tingkah pemuda itu, walau pada akhirnya ia kembali memfokuskan dirinya pada makan siangnya.

Setelah makan siang, Si kembar, Lee, Gisselle dan Nicole pamit pada Charlie dan berjalan keluar dari Aula Utama. Si kembar kelihatan luar biasa senang ketika Elly berjalan mendekati mereka.

“Bagus!” Seru mereka berdua secara serempak, membuat tidak hanya ketiga gadis yang ada, tapi juga Lee tercengang kaget.

“Kalian..” Kata Fred seraya menunjuk Nicole, Gisselle dan Elly satu persatu. “…akan membantu kami..” Sekarang ia menunjuk dirinya sendiri, George dan Lee. “…menyelesaikan tugas tugas kami.”

Ketiga gadis yang di tunjuk tadi menatap si kembar dan Lee, yang sekarang sudah tidak bingung dan justru malahan menjadi bersemangat mendengar kata-kata Fred, dengan tatapan antara tidak percaya dan heran. Melihat ekspresi mereka, para pemuda pun segera menarik para gadis ke perpustakaan. Fred dan George menggapit Nicole di antara mereka, Lee menarik Elly, dan sementara kedua temannya di giring ke perpustakaan, Gisselle tentu akan pergi kesana bersama mereka,

Rencana si kembar dan Lee tampak berjalan lancar hingga mereka mencapai belokan tepat sebelum perpustakaan. Nicole tiba-tiba menarik lengan Fred dan membanting pemuda itu, yang masih belum mengetahui apa yang terjadi sebenarnya, ke lantai. Hal itu membuat saudara kembarnya langsung menjauh dari gadis yang bersangkutan.

“Kerjakan tugas kalian sendiri, dan jangan perlakukan diriku seperti semacam tawanan atau semacamnya.” Kata Nicole tegas.

Fred mengerang kesakitan, “Sejak kapan kau bisa membanting orang seperti itu?”

“Sejak kecil.”

Setelah berkata begitu, Nicole langsung berbalik dan berjalan pergi. Lee langsung melepaskan Elly, takut gadis itu akan membantingnya ke lantai sepeti Nicole membanting Fred. Tapi Elly juga sama kagetnya seperti yang lain, demikian juga Gisselle. Setelah keheningan yang cukup tidak mengenakan, suara mungil Gisselle memecah aura tidak enak yang menggantung di udara itu.

“A-aku tidak keberatan membantu kalian. Tapi kalian tidak boleh menyalinnya begitu saja.” Kata Gisselle pada si kembar dan seketika mereka berdua sudah mengelilingi Gisselle dan menggiring gadis itu ke perpustakaan. Elly menatap punggung mereka bertiga sementara Lee meliriknya dengan sedikit takut.

“Oh ayolah kita susul mereka. Bayangan meninggalkan Gisselle pada dua pengacau itu, serta pikiran bahwa kau akan mendapat detensi mengusik hati nuraniku.” Kata Elly sambil berjalan ke arah perpustakaan dengan Lee mengikuti di belakang.

Mengajari tiga pemuda yang malas bukan hal yang mudah, apalagi dalam pelajaran yang sedikit rumit seperti Sejarah Sihir. Gisselle, dengan muka merah padam, duduk di perpustakaan dengan si kembar menempel erat di kanan dan di kirinya, berusaha mendengarkan penjelasan Gisselle yang tergagap-gagap karena ia tegang dan malu. Sementara Elly memberikan Lee sebuah buku untuk mengerjakan sebagian karangan sejarah sihir selagi ia mencari buku lainnya di beberapa rak tidak jauh dari tempat mereka berlima duduk.

Elly menjulurkan lengannya untuk meraih sebuah buku yang sebenarnya agak terlalu tinggi untuknya. Dengan nekat dia memanjat sebuah kursi untuk mengambilnya. Tentu saja dengan diam-diam agar Madam Pince tidak mengetahuinya. Ketika ia sudah mendapatkan bukunya, ia terlalu senang sehingga kehilangan keseimbangan dan selama sesaat, sepertinya dia sudah akan jatuh jika sepasang tangan tidak dengan sigap menangkapnya.

“Cedric?!” Kata Elly tidak percaya siapa yang baru saja menyelamatkannya itu. Cedric dengan lembut ‘memeluk’ pinggang Elly agar gadis itu tidak terjatuh. Sahabat Elly dari awal pertama masuk yang satu asrama dengannya itu menurunkannya dengan hati-hati dengan penuh kelembutan, kualitas yang sama sekali jarang ditemui di pemuda-pemuda lain.

“Kenapa kau nekat memanjat Elly?” Tanya Cedric seraya melirik buku di genggaman Elly. Elly mengikuti arah pandangnya dan tersenyum pada sahabatnya itu.

“Aku membutuhkan buku ini untuk membantu Lee dengan tugas karangannya.” Jawab Elly. Ia pun membuka buku tersebut dan melihat halaman demi halaman. “Terima kasih telah membantuku tidak mendapat benjolan di kepala, Ced.” Ujar Elly lagi, kali ini sambil memandang Cedric dengan senyuman khasnya.

Cedric mengacak rambut Elly dengan pelan sambil tertawa kecil mendengar nama panggilan yang di berikan oleh gadis berambut merah itu. “Lain kali berhati-hatilah. Aku tidak mau kau terluka.” Ucap Cedric. Pemuda yang dapat dikatakan tampan ini memandang langsung ke mata berwarna hazel milik Elly, membuat gadis itu memerah. Cedric tersenyum lagi dan berjalan pergi sambil melambai pada Elly. Elly terdiam sejenak sebelum terburu-buru membalas lambaiannya.

Sementara itu, balik di meja dimana mereka berlima berkumpul, tampak Lee yang sepertinya kebingungan tanpa bimbingan Elly. Gisselle sudah hendak berdiri dan menawarkan bantuannya pada Lee saat baik Fred dan George menggenggam tangannya. Otomatis muka Gisselle memerah.

“Kau milik kami hari ini. Jangan kemana mana sampai kami beres.” Kata mereka berdua dengan sinkronisasi yang sangat sempurna. Alhasil muka Gisselle semakin memerah, tapi kata-kata itu berhasil membuat gadis itu duduk lagi di tempatnya.

“Dan sekarang mari kita mulai dengan tugas yang ini..” Kata George pada Gisselle sambil menunjuk tugasnya dan tugas Fred yang terabaikan entah sejak kapan.

***

Nicole berjalan dengan mantab melintasi halaman Hogwarts. Pikirannya setengah melayang pada bantingan yang baru saja ia berikan pada Fred. Khawatir apakah setelah ini teman-temannya akan memandangnya dengan pandangan lain. Namun setengah lagi melayang pada kejadian yang menimpanya sebelum ini. Berapa banyak anak yang menganggapnya seperti Flint tadi? Kalau dia memanfaatkan kakeknya?

Seraya merapatkan lilitan syalnya, ia berbelok dan hendak masuk kembali ke lorong Hogwarts dan menuju ruang rekreasi Gryffindor, yaitu sebuah pintu yang di jaga oleh sebuah lukisan wanita gemuk yang sering di panggil Nyonya Gemuk. Anak-anak Gryffindor harus menyebutkan kata sandi sebelum Nyonya Gemuk mau membukakan pintunya. Mendadak langkah Nicole terhenti, di lorong yang sepi itu, dia tidak sendirian.

“Nicole Ravensdale, kita perlu berbicara.”


Dan perasaan Nicole menjadi tidak enak. Hatinya mengatakan bahwa masalah ini lebih besar daripada dua hal yang tadi dia pikirkan sebelumnya.

***TBC***

A/N : Mohon maaf apabila ada kesalahan *bows*

Made by : Liz
Take out with full credits please~ ^^

0 komentar:

Posting Komentar