Chapter 2 : It May Have Blossomed
(Setting
: 2 years prior HP1 )
Sudah
nyaris sebulan sejak Nicole mulai bersekolah di Hogwarts, dan ia menjalin
persahabatan yang erat dengan Gisselle, Lee dan, walau dia tidak mau
mengakuinya, si kembar Weasley. Tentu saja ia juga masih berteman dengan Elly
dan Cedric walau mereka berbeda asrama. Musim gugur telah mencapai puncaknya
dan udara mulai bertambah dingin seiring hari berjalan. Musim pertandingan
Quidditch sudah akan dimulai dan setiap asrama mulai mempersiapkan anggota team
nya masing-masing.
Hari
itu hari Sabtu, setelah sarapan pagi, Nicole diajak, setengah di paksa sebenarnya,
untuk menonton latihan pertama team Quidditch Gryffindor oleh Fred dan George.
Dan tentu saja Lee serta Gisselle ikut menonton bersama mereka. Setelah
mengambil tempat duduk mereka di bangku penonton, secara otomatis Fred dan
George duduk di sebelah kanan dan kiri Nicole, mencegahnya untuk kabur.
“Kenapa
kalian duduk mengapitku seperti ini..” Omel Nicole melirik ke kanan kirinya.
Fred dan George hanya nyengir dan menjawab bersamaan.
“Agar
kau tidak kabur.”
Nicole
mengernyit dan segera bangkit berdiri
untuk duduk di sebelah Giselle yang duduk di samping Fred, “Aku bukan kriminal.
Dan aku tidak akan melarikan diri.” Protes gadis bermata hijau cerah itu sambil
mendesak Gisselle yang tampaknya sedikit malu-malu duduk di sebelah Fred. Gadis
brunette itu bergeser sedikit ke arah Fred, membuat Nicole harus mendesaknya
lagi agar dia bisa duduk di samping Gisselle.
“Geser
sedikit Gisselle, aku tidak bisa duduk.” Nicole mendorong temannya sekali lagi
agar lebih ‘menempel’ pada Fred. Muka Gisselle sedikit memerah ketika ia
bergeser sekali lagi, namun sayangnya tidak ada yang melihatnya karena tepat
pada saat itu ada yang menyapa mereka ber lima.
“Fred!
George!”
Seorang
pemuda yang memiliki muka mirip dengan si kembar namun dengan tubuh yang lebih
berisi dan tegap, terbang mendekati mereka. Rambut merahnya berkibar tertiup
angin musim gugur yang dingin.
“Charlie!”
Seru si kembar bersamaan, menyapa kakak kedua tertua mereka yang merupakan
kapten dari team Quidditch Gryffindor. Charlie nyengir pada mereka berdua.
“Kalian
harus masuk team di tahun kedua kalian, okay?” Kata Charlie, setengah berteriak
untuk mengatasi suara angin yang cukup keras. Si kembar berteriak ya sambil
mengacungkan jempolnya yang dibalas dengan jempol dari Charlie sebelum pemuda
itu terbang kembali ke teamnya.
“Kalian
hendak mendaftar tahun depan?” Betapa herannya mereka ketika yang berbicara
adalah Gisselle. Itu adalah kalimat terpanjang hari ini yang ia katakana pada
si kembar. Ia tidak memiliki masalah mengobrol dengan Nicole dan Lee, namun
tampaknya ia selalu kehilangan kata-kata di depan si kembar.
Fred
menoleh ke arah Gisselle dengan cepat, nyaris membuat gadis itu melonjak mundur
dan menabrak Nicole. Nicole dapat melihat ekspresi Fred dan George yang tampaknya
sama sekali tidak menyadari Gisselle yang biasanya diam di hadapan mereka itu.
“Tepat
sekali! Kami akan menjadi beater!”
Gisselle
menoleh ke arah Nicole, meminta penjelasan sekaligus sebagai alasan mengalihkan
pandangannya dari Fred.
“Dua
pemain yang membawa pentungan. Tugas mereka adalah menjaga pemain lainnya agar
tidak terluka dari serangan Bludger.” Penjelasan Nicole membuat Gisselle
mengumamkan ‘ooo’ yang pelan sementara ketiga pemuda yang bersama mereka
kembali memperhatikan lapangan Quidditch.
Team
Gryffindor memulai latihan mereka dengan terbang mengelilingi tiang-tiang
gawang yang berada di dua sisi lapangan, lalu Charlie melepas Snitch serta
Bludger dan latihan yang sesungguhnya pun dimulai. Si kembar berteriak-teriak
rusuh seakan sedang menonton pertandingan yang sebenarnya, Lee seperti sedang
berlatih menjadi komentator, Gisselle tampak kehabisan nafas duduk di sebelah
Fred, mukanya merah sekali, sementara Nicole hanya menyilangkan kaki dan
berpangku tangan, terlihat bosan.
Latihan
berlangsung selama satu jam setengah, yang sebenarnya akan berlangsung lebih
lama jika cuaca tidak mendadak bertambah dingin. Sambil ‘menyeret’ Nicole
kembali, si kembar berjalan menuju ruang ganti. Gisselle dan Lee menyusul di
belakang mereka.
“Keren!!”
Komentar si kembar bersamaan ketika pintu ruang ganti terbuka dan Charlie
muncul dari balik pintu tersebut. Charlie nyengir dan merangkul kedua adiknya.
Dengan segera mereka bertiga bercakap-cakap seru sambil berjalan menuju Aula
Utama, melupakan Nicole dan Gisselle sementara Lee sudah lari menyusul si
kembar. Gisselle ragu sejenak sebelum ia berlari juga menyusul si Kembar dan
Lee. Nicole berdecak tidak sabar dan melangkah maju menyusul teman-temannya
ketika seseorang menghadang jalannya. Nicole tidak mengenal muka pemuda
tersebut, tapi dapat dipastikan dari seragamnya, dia berasal dari Slytherin.
“Membiasakan
diri dengan kehidupan sekolahmu, Ravensdale?”
Suaranya
terdengar sinis dan penuh sindiran. Pemuda itu tampaknya 3 atau 4 tahun lebih
tua dari Nicole. Badannya besar dan ukuran giginya tidak kalah besar, yang
tampak lebih besar lagi karena dia menyeringai sekarang, sambil berjalan pelan
mendekati Nicole.
“Aku
sudah terbiasa.” Jawab Nicole mantab, tidak berusaha lari ataupun mundur. Dia
sudah berjanji pada dirinya sendiri kalau dia tidak akan mundur ketika
seseorang menggertaknya tanpa alasan seperti itu. Sejak ia mendapat surat dari
Hogwarts yang sebenarnya tidak perlu itu, dia sudah tahu bahwa nantinya dia
akan banyak mendapat gretakan, hinaan dan sindiran.
“Oh?
Merasa berani kau Ravensdale? Merasa tangguh karena kepala sekolah akan selalu
ada mendukungmu?”
Kening
Nicole mengkerut, tangannya mengepal, berusaha menahan amarahnya. Ini pertama
kalinya ia di sindir se ekstrim itu.
Biasanya hanya sindiran sindiran kecil dan hanya di belakang punggungnya saja.
Tapi pemuda ini melakukannya persis di depan mukanya.
“Apa
mau mu Flint?”
Baik
Nicole maupun pemuda itu, Flint, mengalihkan pandangan mereka kea rah sumber
suara, di belakang Nicole. Oliver Wood berdiri disana, menatap ke arah Flint
dengan pandangan dingin.
“Wood.”
Sapa Flint dengan suara yang sinis juga. “Hanya menyapa bintang kecil kita,
tidak ada maksud apapun..”
Oliver
berjalan ke sebelah Nicole, seakan-akan siap untuk adu tinju dengan Flint kapan
saja walau jelas Flint lebih besar darinya. Tapi untungnya sebelum kedua pemuda
tersebut dapat mendekat satu dengan yang lain, Madam Hooch mendekati mereka. Madam
Hooch adalah instruktur terbang, wasit sekaligus pelatih Quidditch di Hogwarts.
Sebelum Nicole masuk ke Hogwarts sebagai murid, Madam Hooch sering melatih
Nicole menaiki sapu sekolah.
“Ada
apa? Apakah ada masalah?” Tanya Madam Hooch seraya memandang Nicole, Oliver dan
Flint bergantian.
Nicole,
yang pertama menyadari bahwa hal ini harus segera di bereskan, menyahut dengan
cepat. “Tidak ada apa-apa, Madam. Semuanya baik-baik saja.” Jawabnya sambil
tersenyum yang sebenarnya agak dibuat-buat. “Kami baru saja akan menuju Aula
Utama untuk makan siang.” Setelah berkata begitu, Nicole menarik lengan Oliver
dan menyeretnya pergi dari lokasi itu.
Setelah
memastikan baik Flint maupun Madam Hooch tidak mengikuti mereka berdua, Nicole
melepaskan tangan Oliver dan berbalik memandangnya.
“Kenapa
kau menantanginya seperti itu?” Protes Nicole mengenai tindakan Oliver tadi.
Oliver mengernyit, tidak menyangka kalau Nicole akan berkata seperti itu
pertama kali.
“Untuk
membantumu?”
“Dan
membuat asrama kita nyaris kehilangan poin.”
“Tapi
ia bertindak keterlaluan!”
Nicole
menghela nafas, ketika seperti ini kadang ia merasa Oliver justru lebih muda
darinya. “Memang, tapi tidak perlu membuat pose seakan kau menantangnya
berkelahi seperti itu.” Ujar Nicole seraya membalikan badan, memunggungi Oliver
dan menghadap ke pintu masuk Aula Utama. Oliver terdiam mendengar kata-kata
gadis itu.
Nicole
berjalan satu dua langkah sebelum tiba-tiba berbalik dan tersenyum tipis pada
Oliver. “Tapi, terima kasih telah membelaku.” Dan ia melanjutkan langkahnya ke
Aula Utama, meninggalkan Oliver yang jelas-jelas tercengang kaget.
***
“Kau
dari mana saja?” Tanya Lee ketika Nicole duduk di antaranya dan Gisselle di
meja Gryffindor.
“Apa?”
Tanya Nicole, tidak mendengar pertanyaan Lee karena bisingnya suasana. Lee
mengulangi pertanyaannya sementara si kembar dan Gisselle menatap Nicole cemas.
“Oh
ya ya..” Jawab Nicole acuh tak acuh sambil mengambil makan siangnya, “Aku di
hadang senior bernama Flint tadi. Tapi tidak apa-apa, tidak terjadi hal yang
perlu di khawatirkan.”
“Flint?”
Charlie tiba-tiba menyahut dari tempat duduk disebelah George. “Marcus Flint?
Anak Slytherin itu?” Nicole hanya mengangguk sebagai jawaban, sedikit terkejut
mengenai fakta bahwa Charlie mengenal senior yang menghadang nya tadi.
“Kau
mengenalnya?” Tanya Fred pada kakaknya itu, mengutarakan pertanyaan yang
terngiang di kepala ke empat anak yang lain.
Charlie
mengangguk dengan muka masam, “Tentu saja aku mengenalnya. Ia sudah mencoba
menjatuhkanku dari sapu entah berapa kali.” Melihat pandangan bingung dari yang
lain, Charlie melanjutkan dengan suara datar, “Flint adalah Chaser team
Slytherin. Pemain Quidditch paling tidak sportif yang pernah kutemui.”
Setelah
mendengarkan penjelasan kakaknya, George langsung berpaling ke Nicole yang
duduk tepat di depannya, membuat gadis itu menjatuhkan garpunya. “Kau yakin kau
tidap apa-apa? Dia tidak melakukan apa apa?” Pemuda berambut merah tersebut
memandang Nicole dengan khawatir, dan tidak hanya dia, tapi Fred, Gisselle dan
Lee bahkan Charlie memandangnya dengan khawatir. Gadis berambut cokelat tua itu
menggeleng sambil tersenyum menenangkan.
“Ia
hanya berkicau tidak jelas saja. Bukan sesuatu yang layak dipikirkan.” Ucap Nicole,
dan dari nadanya, ia dengan jelas mengakhiri topik tersebut. Gisselle kembali
menatap makan siangnya, Charlie tampaknya sedang sibuk berpikir, mungkin
merencanakan bagaimana menjatuhkan Flint dari sapunya lain kali. Si kembar
berdiskusi seru, kemungkinan besar mengenai aksi kejailan mereka yang
berikutnya. Lee sesaat tampak bingung, sebelum akhirnya ia mengambil porsi
kedua makan siangnya.
Nicole
menunduk untuk mengambil garpu yang tadi ia jatuhkan, dan ketika ia meluruskan badannya
lagi, secara tidak sengaja pandangannya beradu dengan pandangan Oliver yang
duduk lima tempat dari tempat Charlie duduk. Oliver melemparkan senyum awkward
dan lalu mengalihkan pandangannya, dengan sedikit terburu-buru sebenarnya.
Nicole menaikkan alis, heran dengan tingkah pemuda itu, walau pada akhirnya ia
kembali memfokuskan dirinya pada makan siangnya.
Setelah
makan siang, Si kembar, Lee, Gisselle dan Nicole pamit pada Charlie dan
berjalan keluar dari Aula Utama. Si kembar kelihatan luar biasa senang ketika
Elly berjalan mendekati mereka.
“Bagus!”
Seru mereka berdua secara serempak, membuat tidak hanya ketiga gadis yang ada,
tapi juga Lee tercengang kaget.
“Kalian..”
Kata Fred seraya menunjuk Nicole, Gisselle dan Elly satu persatu. “…akan
membantu kami..” Sekarang ia menunjuk dirinya sendiri, George dan Lee. “…menyelesaikan
tugas tugas kami.”
Ketiga
gadis yang di tunjuk tadi menatap si kembar dan Lee, yang sekarang sudah tidak
bingung dan justru malahan menjadi bersemangat mendengar kata-kata Fred, dengan
tatapan antara tidak percaya dan heran. Melihat ekspresi mereka, para pemuda
pun segera menarik para gadis ke perpustakaan. Fred dan George menggapit Nicole
di antara mereka, Lee menarik Elly, dan sementara kedua temannya di giring ke
perpustakaan, Gisselle tentu akan pergi kesana bersama mereka,
Rencana
si kembar dan Lee tampak berjalan lancar hingga mereka mencapai belokan tepat
sebelum perpustakaan. Nicole tiba-tiba menarik lengan Fred dan membanting
pemuda itu, yang masih belum mengetahui apa yang terjadi sebenarnya, ke lantai.
Hal itu membuat saudara kembarnya langsung menjauh dari gadis yang
bersangkutan.
“Kerjakan
tugas kalian sendiri, dan jangan perlakukan diriku seperti semacam tawanan atau
semacamnya.” Kata Nicole tegas.
Fred
mengerang kesakitan, “Sejak kapan kau bisa membanting orang seperti itu?”
“Sejak
kecil.”
Setelah
berkata begitu, Nicole langsung berbalik dan berjalan pergi. Lee langsung
melepaskan Elly, takut gadis itu akan membantingnya ke lantai sepeti Nicole
membanting Fred. Tapi Elly juga sama kagetnya seperti yang lain, demikian juga
Gisselle. Setelah keheningan yang cukup tidak mengenakan, suara mungil Gisselle
memecah aura tidak enak yang menggantung di udara itu.
“A-aku
tidak keberatan membantu kalian. Tapi kalian tidak boleh menyalinnya begitu
saja.” Kata Gisselle pada si kembar dan seketika mereka berdua sudah
mengelilingi Gisselle dan menggiring gadis itu ke perpustakaan. Elly menatap punggung
mereka bertiga sementara Lee meliriknya dengan sedikit takut.
“Oh
ayolah kita susul mereka. Bayangan meninggalkan Gisselle pada dua pengacau itu,
serta pikiran bahwa kau akan mendapat detensi mengusik hati nuraniku.” Kata
Elly sambil berjalan ke arah perpustakaan dengan Lee mengikuti di belakang.
Mengajari
tiga pemuda yang malas bukan hal yang mudah, apalagi dalam pelajaran yang
sedikit rumit seperti Sejarah Sihir. Gisselle, dengan muka merah padam, duduk
di perpustakaan dengan si kembar menempel erat di kanan dan di kirinya,
berusaha mendengarkan penjelasan Gisselle yang tergagap-gagap karena ia tegang
dan malu. Sementara Elly memberikan Lee sebuah buku untuk mengerjakan sebagian
karangan sejarah sihir selagi ia mencari buku lainnya di beberapa rak tidak
jauh dari tempat mereka berlima duduk.
Elly
menjulurkan lengannya untuk meraih sebuah buku yang sebenarnya agak terlalu
tinggi untuknya. Dengan nekat dia memanjat sebuah kursi untuk mengambilnya.
Tentu saja dengan diam-diam agar Madam Pince tidak mengetahuinya. Ketika ia
sudah mendapatkan bukunya, ia terlalu senang sehingga kehilangan keseimbangan
dan selama sesaat, sepertinya dia sudah akan jatuh jika sepasang tangan tidak
dengan sigap menangkapnya.
“Cedric?!”
Kata Elly tidak percaya siapa yang baru saja menyelamatkannya itu. Cedric
dengan lembut ‘memeluk’ pinggang Elly agar gadis itu tidak terjatuh. Sahabat
Elly dari awal pertama masuk yang satu asrama dengannya itu menurunkannya
dengan hati-hati dengan penuh kelembutan, kualitas yang sama sekali jarang
ditemui di pemuda-pemuda lain.
“Kenapa
kau nekat memanjat Elly?” Tanya Cedric seraya melirik buku di genggaman Elly.
Elly mengikuti arah pandangnya dan tersenyum pada sahabatnya itu.
“Aku
membutuhkan buku ini untuk membantu Lee dengan tugas karangannya.” Jawab Elly.
Ia pun membuka buku tersebut dan melihat halaman demi halaman. “Terima kasih
telah membantuku tidak mendapat benjolan di kepala, Ced.” Ujar Elly lagi, kali
ini sambil memandang Cedric dengan senyuman khasnya.
Cedric
mengacak rambut Elly dengan pelan sambil tertawa kecil mendengar nama panggilan
yang di berikan oleh gadis berambut merah itu. “Lain kali berhati-hatilah. Aku
tidak mau kau terluka.” Ucap Cedric. Pemuda yang dapat dikatakan tampan ini
memandang langsung ke mata berwarna hazel milik Elly, membuat gadis itu
memerah. Cedric tersenyum lagi dan berjalan pergi sambil melambai pada Elly.
Elly terdiam sejenak sebelum terburu-buru membalas lambaiannya.
Sementara
itu, balik di meja dimana mereka berlima berkumpul, tampak Lee yang sepertinya
kebingungan tanpa bimbingan Elly. Gisselle sudah hendak berdiri dan menawarkan
bantuannya pada Lee saat baik Fred dan George menggenggam tangannya. Otomatis
muka Gisselle memerah.
“Kau
milik kami hari ini. Jangan kemana mana sampai kami beres.” Kata mereka berdua
dengan sinkronisasi yang sangat sempurna. Alhasil muka Gisselle semakin
memerah, tapi kata-kata itu berhasil membuat gadis itu duduk lagi di tempatnya.
“Dan
sekarang mari kita mulai dengan tugas yang ini..” Kata George pada Gisselle
sambil menunjuk tugasnya dan tugas Fred yang terabaikan entah sejak kapan.
***
Nicole
berjalan dengan mantab melintasi halaman Hogwarts. Pikirannya setengah melayang
pada bantingan yang baru saja ia berikan pada Fred. Khawatir apakah setelah ini
teman-temannya akan memandangnya dengan pandangan lain. Namun setengah lagi
melayang pada kejadian yang menimpanya sebelum ini. Berapa banyak anak yang
menganggapnya seperti Flint tadi? Kalau dia memanfaatkan kakeknya?
Seraya
merapatkan lilitan syalnya, ia berbelok dan hendak masuk kembali ke lorong
Hogwarts dan menuju ruang rekreasi Gryffindor, yaitu sebuah pintu yang di jaga
oleh sebuah lukisan wanita gemuk yang sering di panggil Nyonya Gemuk. Anak-anak
Gryffindor harus menyebutkan kata sandi sebelum Nyonya Gemuk mau membukakan
pintunya. Mendadak langkah Nicole terhenti, di lorong yang sepi itu, dia tidak
sendirian.
“Nicole
Ravensdale, kita perlu berbicara.”
Dan
perasaan Nicole menjadi tidak enak. Hatinya mengatakan bahwa masalah ini lebih
besar daripada dua hal yang tadi dia pikirkan sebelumnya.
***TBC***
A/N : Mohon maaf
apabila ada kesalahan *bows*
Made
by : Liz
Take
out with full credits please~ ^^

0 komentar:
Posting Komentar