Kamis, 22 Mei 2014

Hogwarts' Beloved : Chapter 8

Chapter 8 : Just Admit It
                                            (Setting : HP 1 )

“Dia…”

Baru saja Gisselle akan menyebutkan nama George, pemuda berambut merah itu mengangkat tangannya dan menempatkan jari telunjuknya di bibir Gisselle.

"Cukup. Kau tidak perlu memaksakan diri." Kata George. "Kau tidak perlu mengatakannya padaku." Ia lalu tertawa pelan dan kembali memainkan tongkatnya. Sayang sekali ia tidak melihat muka kecewa Gisselle yang kehilangan kesempatannya.

"Sungguh, tidak apa-apa." Kata Gisselle tapi George menggeleng.

"Istirahatlah. Aku akan menjengukmu dengan yang lain nanti."

Setelah berkata begitu, George mengusap kepala Gisselle dan berjalan pergi, meninggalkan gadis tersebut.

"Yang kusukai.." Gumam Gisselle ketika George hilang dari pandangan. "..adalah dirimu bodoh."

***

"Hng? Fred?" Nicole mengusap-usap matanya dan mengejap bingung ketika melihat sesosok pemuda yang dikenalinya berada di depannya.

Fred tertawa, "Bahkan dalam kondisi setengah tidur pun, kau bisa membedakan kami berdua."

"Sedang apa kau disini?"

"Mengawasi sang putri tidur."

Jawaban Fred sebenarnya bisa membuatnya terkena jitakan dari Nicole. Tapi karena gadis itu baru bangun, ia merasa malas untuk berjalan mendekati Fred dan menjitaknya. Gadis itu malah menguap dan menengok ke arah jendela. Betapa terkejutnya dia ketika langit di luar sudah gelap.

"Dimana Gisselle?" Tanya Nicole ketika ia menyadari bahwa hanya ada Fred disana.

Fred mengerang kecewa, "Kau bahkan mengabaikanku dan menanyakan Gisselle. Aku tersinggung."

Nicole hanya melemparkan pandangan kesal pada Fred dan bangkit berdiri. "Aku akan mencari Gisselle dan memastikannya makan malam." Dan dia pun benar-benar berjalan keluar dari ruang rekreasi, meninggalkan Fred.

"Apa aku ini masokis ya. Bisa menyukai orang seperti itu.." Gumam Fred seraya menggeleng. Ia langsung berdiri dan berlari mengejar Nicole. Di luar ruang rekreasi, di koridor, mereka langsung berpaspasan dengan George yang baru saja balik dari rumah sakit.

"George, dimana Gisselle?" Tanya Nicole, dan George menjelaskan kondisi Gisselle. Setelah berhasil meyakinkan Nicole bahwa sahabatnya baik-baik saja, si kembar mengapit Nicole dan 'menggiringnya' ke Aula Utama untuk makan malam. Beberapa pertanyaan muncul karena Nicole tidak muncul bersama sahabatnya, Gisselle, sehingga baik Nicole maupun si kembar harus berulang kali menjelaskan dimana Gisselle berada.

Makan malam berlangsung seperti biasa. Nicole, Fred dan George duduk dekat tempat Ron dan Harry yang membicarakan tentang pelajaran terbang mereka yang entah kapan dilaksanakan. Langsung saja Fred dan George mulai mengoceh tentang kualitas sapu sekolah yang jauh dari kategori bagus. Mereka berdua telah mengeluh pada Nicole sejak pertama kali mereka memegang sapu sekolah.

Merasa bosan dengan ocehan si kembar yang duduk di sebelah kirinya, walau Ron dan Harry sama-sama mendengarkan mereka berdua dengan seksama, Nicole memandang ke arah kanan dan bertemu pandang dengan Oliver untuk pertama kalinya di semester ini. Tampaknya keduanya berpikiran hal yang sama, kejadian di akhir tahun ajaran yang lalu karena baik muka Nicole maupun muka Oliver memerah dan langsung mengalihkan pandangan masing-masing.

Nicole menghabiskan makan malamnya dengan cepat lalu berdiri dan berjalan keluar dari Aula Utama. Ia berkata pada si kembar dan yang lain bahwa dia akan mengunjungi Gisselle sebelum terlalu malam. Pada saat yang bersamaan pula, Oliver bangkit dari tempat duduknya dan berjalan bersama Nicole keluar dari Aula Utama.

“Eh.” Kata Oliver berusaha memecah keheningan yang canggung. “Bagaimana musim panasmu?”

“Tidak ada yang spesial. Bagaimana denganmu?”

“Hmm, biasa saja.”

Hening.

“Ku dengar kau menjadi ketua team Quidditch kita, selamat.”

“Terima kasih.”

“Sama-sama.”

Hening lagi.

Oliver mendadak berteriak frustasi, membuat Nicole melonjak kaget dan menatap pemuda disebelahnya itu dengan tatapan terkejut dan heran.

“Oke ini canggung. Kita harus meluruskan sesuatu.” Pemuda berumur 15 tahun itu mendorong Nicole ke dinding terdekat dan memandang langsung ke matanya.Tentu saja Nicole tidak sempat melakukan apa-apa karena ia masih terkejut. Pandangan Oliver bertahan selama beberapa detik sebelum dia akhirnya membuang muka dan melepaskan Nicole.

“Eh maaf. Maksudku bukan itu. Eh, maksudku itu.. tapi bukan seperti itu.” Gumamnya bingung. Ekspresi terkejut Nicole digantikan ekspresi geli. Gadis itu tertawa melihat tingkah pemuda yang lebih tua darinya itu.

“Aku mengerti. Aku akan melupakan kejadian waktu itu.” Kata Nicole setelah berhasil mengendalikan tawanya.

“Jangan di lupakan! Eh tapi abaikan saja, ya, jangan lupakan tapi abaikan saja!”

Mendengar kata-kata yang masih aneh bagi dirinya, Nicole tertawa lagi sambil mengangguk-angguk. “Baiklah, akan aku abaikan.” Dan Oliver menghembuskan nafas lega.

“Maaf aku tiba-tiba berteriak dan mendorongmu seperti itu.” Oliver berjalan mundur, malu akan tingkahnya tadi.

Nicole menggeleng, “Tidak apa-apa. Aku tidak keberatan.” Dan seketika itu juga kecanggungan di antara mereka menghilang, walau tidak sepenuhnya. Sepanjang perjalanan mereka mengobrol dan bercanda, walau kadang masih terasa canggung karena umur mereka yang berbeda dan tentu saja, sebuah rasa yang masih menjadi rahasia masing-masing.

“Kau tidak kembali ke ruang rekreasi?” Kata Oliver ketika Nicole berbelok ke arah kanan dan bukannya ke kiri seperti jika mereka hendak pergi ke ruang rekreasi. Maka Nicole menjelaskan maksudnya mengunjungi Gisselle sebelum terlalu malam. Ucapan sampai nanti Nicole segera di potong oleh Oliver.

“Akan kutemani. Berbahaya bila kau berjalan sendirian. Bagaimana jika Flint memutuskan untuk menyerangmu?”

Oliver tampak begitu serius sehingga Nicole tidak tega untuk tertawa. Ia nyaris mengatakan bahwa dia bisa melindungi dirinya sendiri dan tidak akan tertipu dengan ancaman lagi, tapi ketika melihat muka Oliver, Nicole berpikir, tidak ada salahnya ia bertingkah seperti perempuan lainnya saat ini.

Mendadak ia menepuk kedua pipinya, Astaga, apa yang baru saja ia pikirkan. Ia telah berjanji pada dirinya sendiri bukan?

***

“Nicole.”

Sabtu pagi yang cerah, Nicole, Elly dan Gisselle sedang duduk di bangku di halaman sekolah, namun tampaknya pikiran Nicole terbang ke tempat lain dan tidak mendengarkan kata-kata dari kedua sahabatnya.

“Nicole.” Panggil Elly lagi, dengan suara yang lebih keras, sementara Gisselle melambaikan tangannya di depan gadis berambut cokelat tua itu. Nicole tersentak kaget dan menjatuhkan buku-buku yang ada di pangkuannya. Baik Elly dan Gisselle mendengus kesal sementara Nicole mengambil kembali buku-bukunya.

“Ada apa denganmu? Akhir-akhir ini kau menjadi tidak fokus.” Tanya Elly, setengah kesal karena kata-kata sebelumnya tidak di dengar oleh Nicole, setengah khawatir karena sahabatnya ini bertingkah aneh.

“Apakah Flint atau anak Slytherin lain mengancammu?” Gisselle menggenggam kedua tangan Nicole dengan ekspresi khawatir dan takut. Ia tidak ingin kejadian di tahun pertama mereka terulang lagi.

Elly tersenyum, menyadari sesuatu, “Atau..ini tentang seseorang?”

Pertanyaan, yang sebenarnya lebih mirip pernyataan, dari Elly itu membuat Nicole menoleh ke arah Elly dan menggeleng dengan cepat. Reaksi Nicole yang sangat mudah dibaca itu membuat kedua temannya tertawa.

“Tidak perlu menyembunyikannya. Kami juga tidak akan menyembunyikan apapun.” Ujar Elly sambil memberikan pandangan berarti pada Gisselle, yang dibalas dengan anggukan dari si gadis brunette. Mereka berdua sudah membicarakan hal ini sebelumnya. Bagaimana pun juga, melihat Nicole dengan muka memerah adalah sesuatu yang pantas di usahakan.

“Apa maksud kalian?” Jelas Nicole telah memusatkan perhatiannya pada Elly dan Gisselle sekarang. Gadis itu menunjukan ekspresi bingung, tapi rona wajahnya mengkhianatinya. Mukanya yang merah hanya berarti satu hal, dia tahu apa dan siapa yang teman-temannya bicarakan.

“Kita mulai dari.. Gisselle!” Kata Elly, mengabaikan pertanyaan Nicole. Gisselle yang di tunjuk langsung memberikan Elly pandangan tidak percaya.  Elly membalasnya dengan senyuman dan tatapan ‘ayolah-ini-kan-idemu.’

Menyerah, Gisselle menghela nafas dan menghembuskannya lalu menatap Nicole. “Aku menyukai seseorang, salah satu teman dekat kita.”

Mata Nicole melebar kaget, dia tidak pernah menyadari bahwa sahabatnya itu menyukai teman dekat mereka. Well, antara tidak menyadari atau tidak peka berbeda tipis. “Kau menyukai Lee?” Tebak Nicole, membuat Elly mendadak tertawa dan Gisselle sedikit kesal.

“Bukan!!” Sangkal gadis itu dengan cepat. “Kenapa banyak orang yang mengira aku menyukai Lee?!”

“Karena kau tidak pernah merasa gugup jika bersama pemuda itu. Kau sendiri yang bilang dulu.” Balas Nicole yang sekarang ikut tertawa bersama Elly. Gisselle menggeleng keras.

“Tapi bukan berarti aku menyukainya!” Mukanya merah karena malu dan kesal. Ia pasti sudah mengumpulkan banyak keberanian untuk memberi tahu Nicole dan Elly, tapi hal itu buyar karena candaan kedua temannya.

“Baiklah. Jika bukan Lee, lalu siapa?”

Muka Gisselle bertambah merah ketika Nicole bertanya hal tersebut. Dengan menunduk malu, ia menggumamkan nama yang tak lain tak bukan adalah George. Tapi karena suara Gisselle terlewat kecil, Nicole harus bertanya lagi.

“George! George Weasley!” Kata Gisselle nyaris berteriak karena luar biasa malu. Nicole memandang gadis yang duduk disebelah kirinya itu dengan tatapan tidak percaya. Gisselle Scotthill, sahabatnya yang lemah lembut itu bisa menyukai pemuda iseng seperti George Weasley? Baru saja Nicole membuka mulut untuk memastikannya, tiga pasang tangan menutupi mata ketiga gadis.

“S-siapa ini?” Tanya Gisselle kaget ketika matanya tiba-tiba ditutup. Sebagai jawaban, tiga suara tawa yang sudah akrab terdengar dari arah belakang mereka dan otomatis Gisselle serta Elly dan Nicole mengetahui siapa yang berada di belakang mereka.

Nicole lah yang paling cepat bertindak. Sedetik setelah ia mendengar suara tawa itu, ia melayangkan sikutnya kebelakang, tempat yang dia pikir adalah perut sang pelaku yang menutupi matanya itu. Dari erangan yang terdengar, sikutan Nicole bisa dibilang jitu. Merasa tidak puas, gadis itu juga mencubit tangan yang berada di kedua matanya.

“Nicole! Hentikan! Ampun aku menyerah!” Suara Fred Weasley terdengar dari belakangnya dan kini Nicole sudah bisa melihat lagi. Ia meloncat berdiri dan berbalik untuk memandang ‘penyerang’nya.

Fred Weasley balas memandangnya dengan cengiran dan ekspresi kesakitan gara-gara sikutan dan cubitan Nicole tadi. Pemuda itu memegangi perutnya dan memberi Nicole tanda peace dengan kedua jarinya. Melihat Fred yang kesakitan, George dan Lee melepaskan Gisselle dan Elly.

“Kami kemari karena mendengar nama kami disebut!” Kata Lee membela diri. Pemuda itu mengangkat kedua tangannya seakan-akan Nicole sedang menodongnya dengan pistol. Nicole melemparkan pandangan sinis ke arah ketiga pemuda malang itu.

“Lalu kenapa kalian harus mengendap-endap dari belakang dan menutupi mata kami seperti itu?”

Fred dan George dengan kompak menunjuk Lee, “Itu idenya!” Seru mereka berdua. Lee yang pertamanya mengangguk-angguk karena mengira si kembar mengatakan bahwa itu ide mereka, langsung menoleh dengan terkejut. Mulutnya terbuka lebar karena kaget.

“Lee..” Kata Nicole.

“Bukan! Itu bukan ideku! Itu ide mereka! Serius!”

Nicole menghentakan kaki seakan-akan hendak mengejar Lee dan pemuda itu tertipu karena ia langsung berlari pergi secepat yang ia bisa. Fred dan George yang tertawa terbahak-bahak melihat Lee juga tidak terlalu berbeda. Nicole hanya perlu berbalik dan menghadap mereka lalu berlari maju dua langkah dan si kembar langsung mengibrit pergi.

“Itu akan membuat mereka pergi selama beberapa saat.” Kata Nicole seraya menepuk-nepuk kedua tangannya seakan-akan di tangannya terdapat debu dan kembali duduk diantara Elly dan Gisselle.

“Kau baru saja mengusir orang yang disukai Gisselle.” Kata Elly.

“Aku yakin Gisselle tidak mau rahasianya ketahuan di depan Fred dan Lee.”

“Tapi Lee sudah tahu.” Gumam Gisselle. Nicole sepertinya siap memprotes karena Lee lebih tahu duluan daripada Nicole ketika Gisselle langsung menjawab protesan Nicole tanpa mendengarnya. Entah kebetulan atau Gisselle memang sudah mengetahuinya.

“Aku sempat mengira kalau kau menyukai George juga.” Kata Gisselle, memandang Nicole dengan pandangan meminta maaf. “Tapi setelah membaca suratmu, kuputuskan kau tidak menyukai George lebih dari teman.”

Nicole mendengus geli. “Aku? Menyukai George? Tidak mungkin.”

“Jadi siapa yang kausukai?” Kata Elly sambil menyenggol pelan pundak Nicole dengan pundaknya. Nicole berhasil mengendalikan ekspresinya untuk tetap tenang dan menatap Elly.

“Kau dulu. Pasti ada yang kau sukai bukan? Biar kutebak, Cedric?” Kata Nicole sambil tersenyum jahil. Ketika mendengar nama Cedric, muka Elly langsung memerah dan ia menutupinya dengan kedua tangannya.

“Bagaimana kau tahu?” Tanyanya dari sela-sela jari.

Nicole mengangkat kedua bahunya, “Jika Gisselle menyukai salah satu teman dekatnya, kutebak kau juga. Jadi,” Nicole menatap Elly dengan tatapan jahil yang sekilas mirip dengan tatapan si kembar. “..sejak kapan kau menyukainya. Ini pertanyaan untukmu juga Gisselle.”

“Kelas satu.” Jawab mereka berdua dengan serempak, dengan muka yang merah tentu saja. Nicole sudah mau mengomentari mereka ketika lagi-lagi percakapan mereka diganggu oleh seseorang.

“Elly! Ternyata kau berada disini.” Siapa lagi jika yang memanggil gadis berambut merah itu bukan Cedric Diggory. Ada apa dengan hari ini, pertama George muncul setelah Gisselle bercerita dan sekarang Cedric muncul setelah Elly selesai bercerita.

“C-ced!” Sapa Elly dengan gugup, buru-buru meletakan kembali tangannya di pangkuannya. Cedric melangkah mendekat dengan senyuman menawan miliknya terpasang di wajahnya. Pemua tampan itu mengangguk ke arah dua gadis yang lain dan menyapa mereka yang dibalas oleh Nicole dan Gisselle. Kedua gadis itu harus menahan tawa melihat reaksi Elly ketika melihat Cedric.

“Bisakah kau membantuku dengan tugas dari Professor Snape?” Tanya Cedric. “Nanti malam saja di ruang rekreasi, aku harus latihan Quidditch sebentar lagi.” Dengan cepat Elly meng-iya-kan permintaan Cedric. Setelah mengucapkan terima kasih dan pamit kepada tiga gadis tersebut, Cedric berjalan pergi menuju lapangan Quidditch.

“Dan kau masih bertanya kenapa aku tidak mengetahuinya..” Gumam Nicole yang membuat Gisselle tidak bisa menahan tawanya lagi.

“Tapi kau tidak mengetahui jika Gisselle menyukai George!” Muka Elly merah padam

“Itu karena dia selalu malu-malu kepada semua orang kecuali kita dan Lee.” Balas Nicole sementara kini giliran muka Gisselle yang memerah karena nama George disebut lagi.

“Oke. Kini giliranmu Nicole.” Kata Elly sambil menatap Nicole lekat-lekat. Muka Nicole tidak memerah, tapi jelas ia menjadi salah tingkah karena Gisselle juga menatapnya lekat-lekat bersama dengan Elly.

“Seperti yang kukatakan di suratku, aku tidak yakin.” Jawab Nicole.

“Menurutku, dalam surat itu kau terdengar seperti gadis yang sedang jatuh cinta.” Komentar Gisselle. Elly mengangguk-angguk tanda setuju dan Nicole menjadi lebih salah tingkah dari sebelumnya.

“Aku..” Nicole tidak sempat melengkapi kata-katanya karena pada saat itu Oliver dan beberapa teman kelas limanya berjalan melewati Nicole, Elly dan Gisselle. Oliver melihat Nicole dan segera melambaikan tangannya dengan bersemangat. Langsung saja Elly dan Gisselle bertukar pandang dan terkikik geli sementara Nicole, berusaha mengabaikan reaksi kedua temannya, memasang muka senormal mungkin dan membalas lambaian Oliver.

“Kau menyukainya, itu jelas sekali Nicole.” Kata Elly setelah Oliver dan teman-temannya telah menghilang dari pandangan mereka.

Nicole menatap kea rah Oliver pergi tadi dan menggeleng, “Entahlah, kurasa yang kurasakan ini bukan seperti itu.”

Elly menepuk dahinya dengan frustasi, temannya ini memang agak lambat mengenai hal seperti ini. Gisselle menatap Elly dan mereka melakukan kesepakatan tanpa satu kata pun terucap, yaitu mereka akan berusaha membuat Nicole mengakui perasaannya terhadap Oliver.

***

McGonagall memanggil Nicole saat pelajarannya berakhir di hari kamis sore. Gisselle memandang temannya dengan tatapan khawatir, tapi Nicole lebih mengenal McGonagall lebih dari murid manapun dan mengetahui dari ekspresi wanita itu kalau dirinya tidak akan terkena masalah.

“Kau duluan saja.” Kata Nicole pada Giselle, si kembar dan Lee. Mereka semua mengangguk dan berjalan pergi sementara Nicole mendekati McGonagall.

“Ada apa professor?” McGonagall memandangnya dengan tajam, namun ekspresinya menunjukan sedikit kekhawatiran.

“Nicole.” Hampir semua guru di Hogwarts memanggil Nicole dengan nama depannya jika mereka hanya berdua dengan gadis itu. Di katakan hampir, karena kakeknya, sang kepala sekolah, selalu memanggilnya dengan nama depan tidak peduli di depan siapapun. Nicole menelengkan kepalanya ke kiri, tanda ia mendengarkan.

“Apakah mungkin bila kepala sekolah bisa melonggarkan peraturan?” Pertanyaan McGonagall membuat Nicole menaikan alisnya dengan bingung. Kepala Asrama Gryffindor, yang paling tegas tentang peraturan, menanyai Nicole apakah kakeknya bisa melonggarkan peraturan? Terdengar agak tidak mungkin. Tapi itu benar-benar terjadi karena McGonagall baru saja menanyainya hal itu.

“Jika menurutnya itu layak dilakukan, atau menyenangkan, ia akan melakukannya.” Jawab Nicole. McGonagall menghembuskan nafas lega. Setelah ia dipersilahkan pergi, Nicole berjalan keluar dari ruangan kelas dan menemukan bahwa keempat temannya telah pergi ke Aula Utama untuk makan malam. Maka Nicole memutuskan untuk langsung berjalan ke Aula Utama menyusul mereka.

Baru saja ia melangkah beberapa langkah, terdengar suara seperti orang berlari ke arahnya. Nicole menoleh tepat pada waktunya untuk melihat Oliver berlari ke arahnya dan mengangkat gadis itu ke udara lalu memutarnya.

“O-o-oliver?!” Pekik Nicole kaget. Oliver menurunkannya dan menguncangkan pundak Nicole dengan bersemangat.

“Kita mendapat seorang Seeker! Harry Potter! Di pilih sendiri oleh McGonagall! Dia berkata Charlie Weasley bahkan kalah darinya!” Oliver terlihat luar biasa senang dan terus menerus mengguncang pundak Nicole, membuat gadis itu menjadi pusing.

“Aku mengerti, aku mengerti. Oliver tolong hentikan!” Kata Nicole berusaha membebaskan diri dari Oliver. Setelah beberapa saat, akhirnya kapten baru Gryffindor melepaskan Nicole. Gadis itu terhuyung mundur dan berusaha mengendalikan nafasnya.

“Maaf. Aku terlalu bersemangat.” Kata Oliver seraya memegang tangan Nicole agar gadis itu tidak jatuh. Ia masih tersenyum lebar, jelas masih bahagia mendengar kabar dari McGonagall.

“Jadi itu sebabnya McGonagall menanyakan hal itu..” Gumam Nicole.

“Apa?”

Nicole menggeleng, “Tidak. Lupakan.” Ia lalu tersenyum. “Selamat! Apakah kau sudah memberi tahu yang lain?” Mereka berdua berjalan berdampingan menuju Aula Utama karena ternyata Oliver juga hendak berjalan kesana ketika ia melihat Nicole dan memutuskan untuk memberitahukan kepadanya kabar bahagia miliknya.

“Baru si kembar. Aku bermaksud menjadikanmu orang pertama yang tahu, tapi saat si kembar lewat, aku tidak bisa menahan diri untuk tidak memberi tahu mereka.” Nicole merona saat Oliver mengatakan bahwa dia bermaksud memberi tahu Nicole yang pertama. Gadis itu langsung menghindari bertatap muka dengan Oliver.

“Kurasa.. ini akan menjadi rahasia? Antar pemain dan beberapa orang saja?” Tanya Nicole. Oliver mengangguk dan menjelaskan rencananya mengenai membuat Harry sebagai senjata rahasia team Gryffindor, taktik-taktik yang akan mereka pelajari dan berbagai hal lainnya. Nicole tidak bisa menahan senyumannya ketika melihat Oliver begitu bersemangat membicarakan Quidditch dan segala hal yang berkaitan dengan permainan itu.

“Maaf.” Kata Oliver. Ia telah menyadari senyuman dimuka Nicole dan salah mengartikannya. “Aku terlalu asik berbicara Quidditch sehingga lupa diri.”

“Tidak. Menurutku kau menarik.” Kata Nicole, tidak sadar pilihan kata-katanya bisa diartikan salah. Dan memang itu yang terjadi. Oliver salah mengartikannya dan sekarang muka pemuda itu merah padam.

“Eh, terima kasih.” Setelah berkata begitu, Oliver tidak bisa merangkai kalimat yang panjang-panjang karena di otaknya sekarang hanya ada ucapan dari Nicole tadi. Sepanjang perjalanan menuju Aula Utama, pemuda itu menjadi gugup dan hanya menjadi pendengar yang kadang menimpali dengan satu dua kata sementara Nicole berbicara.

“Nicole?”

“Hm?”

Oliver tampak ragu untuk mengatakan sesuatu, dan pada akhirnya ia tidak jadi mengatakannya. Pemuda itu menepuk kepala Nicole dengan lembut lalu berjalan dengan terburu-buru ke meja Gryffindor dan duduk diantara teman-temannya. Nicole mengejapkan matanya dengan heran sebelum berjalan ke tempat duduknya, di sebelah Gisselle.

“Kau sudah dengar?” Kata Gisselle saat Nicole duduk. “Harry ditunjuk McGonagall menjadi Seeker baru Gryffindor. George baru saja memberitahuku sebelum ia pergi bersama Fred dan Lee.”

Nicole mengangguk dan menceritakan pertanyaan McGonagall tadi, serta berita dari Oliver. Mendengar nama Oliver disebut Nicole, Gisselle tersenyum lagi.

“Apa?” Tanya Nicole saat melihat senyuman Gisselle, namun sahabatnya itu hanya menggeleng dan kembali memusatkan perhatian pada makanannya.

***

Sebulan telah berlalu dan Halloween sudah berada di depan mata. Dimana-mana persiapan menyambut pesta Halloween sudah terlihat di Hogwarts. Bagi anak kelas tiga, ada hal lain yang menjadi topik hangat diantara mereka ; kunjungan pertama mereka ke Hogsmeade, walau tentu saja, bagi Nicole itu tidak terlalu spesial karena ia sering main di desa sihir itu sejak ia kecil.

“Apakah kakekmu juga memberikan formulir pada suratmu?” Tanya Lee penasaran. Nicole selalu mendapat surat layaknya murid lain walau dia selalu berada di Hogwarts selama musim panas. Nicole mengangguk sebagai jawaban untuk pertanyaan Lee.

“Dan dia terlihat luar biasa senang ketika aku meminta tanda tangannya. Ia bahkan menggunakan pena bulu terbaiknya!” Kata Nicole setengah kesal setengah geli ketika mengingat tingkah kakeknya yang kadang konyol seperti anak kecil. Teman-temannya tertawa.

Saat itu mereka sedang makan malam, langit-langit Aula Utama pada hari itu adalah langit malam penuh bintang yang indah. Saat makanan penutup bermunculan, Elly menyusup ke meja Gryffindor dan duduk diantara Nicole dan Gisselle.

“Elly!” Bisik Nicole ketika Elly menyuruhnya bergeser dan menyediakan tempat duduk untuknya. “Sedang apa kau disini?”

Elly menempatkan jari telunjuknya di depan bibir, meminta Nicole dan Gisselle untuk diam. Seraya melirik ke arah meja guru, berharap tidak ada guru yang menyadari tindakannya, Elly berbisik pada kedua sahabatnya. “Cedric mengajakku pergi ke Hogsmeade berdua dengannya.”

Elly harus meletakan tangan di depan mulut Gisselle untuk menahan gadis itu agar tidak mengeluarkan pekikan. Nicole nyengir jahil dan menyenggol pundak Elly.

“Jadi dia mengajakmu kencan.”

Muka Elly memerah dan dengan malu-malu ia mengangguk. “Bisa dikatakan begitu bukan?”

Setelah mereka mengobrol beberapa saat, Elly kembali ke tempat duduknya di meja Hufflepuff. Nicole dan Gisselle juga menyelesaikan makan malam mereka dengan cepat dan bangkit berdiri. Rencananya, mereka akan menyelesaikan tugas karangan Ramuan malam itu. Setengah jalan menaiki tangga menuju ruang rekreasi, Nicole harus berbalik dan membiarkan Gisselle berjalan menuju ruang rekreasi sendirian karena Oliver memanggilnya dari dasar tangga.

“Ada apa?” Tanya Nicole ketika ia sudah berdiri didepan pemuda yang tampak gugup itu.

Muka Oliver tampak seperti sedang berusaha menelan batu. Ia berulang kali menghembuskan nafas sebelum akhirnya mengatakan apa yang ia ingin katakan.

“Maukah kau pergi denganku ke Hogsmeade? Berdua saja.”

Perlu beberapa detik untuk Nicole agar ia bisa sepenuhnya mencerna perkataan Oliver. Astaga, apakah Oliver Wood baru saja mengajaknya berkencan?

***TBC***

A/N : Mohon maaf apabila ada kesalahan *bows*

Original Plot by : Our Queen, JK Rowling
The ‘new’ plot Made by : Liz
Take out with full credits please~ ^^

0 komentar:

Posting Komentar