Chapter 8 : Just
Admit It
(Setting
: HP 1 )
“Dia…”
Baru
saja Gisselle akan menyebutkan nama George, pemuda berambut merah itu
mengangkat tangannya dan menempatkan jari telunjuknya di bibir Gisselle.
"Cukup.
Kau tidak perlu memaksakan diri." Kata George. "Kau tidak perlu
mengatakannya padaku." Ia lalu tertawa pelan dan kembali memainkan
tongkatnya. Sayang sekali ia tidak melihat muka kecewa Gisselle yang kehilangan
kesempatannya.
"Sungguh,
tidak apa-apa." Kata Gisselle tapi George menggeleng.
"Istirahatlah.
Aku akan menjengukmu dengan yang lain nanti."
Setelah
berkata begitu, George mengusap kepala Gisselle dan berjalan pergi,
meninggalkan gadis tersebut.
"Yang
kusukai.." Gumam Gisselle ketika George hilang dari pandangan.
"..adalah dirimu bodoh."
***
"Hng?
Fred?" Nicole mengusap-usap matanya dan mengejap bingung ketika melihat
sesosok pemuda yang dikenalinya berada di depannya.
Fred
tertawa, "Bahkan dalam kondisi setengah tidur pun, kau bisa membedakan
kami berdua."
"Sedang
apa kau disini?"
"Mengawasi
sang putri tidur."
Jawaban
Fred sebenarnya bisa membuatnya terkena jitakan dari Nicole. Tapi karena gadis
itu baru bangun, ia merasa malas untuk berjalan mendekati Fred dan menjitaknya.
Gadis itu malah menguap dan menengok ke arah jendela. Betapa terkejutnya dia
ketika langit di luar sudah gelap.
"Dimana
Gisselle?" Tanya Nicole ketika ia menyadari bahwa hanya ada Fred disana.
Fred
mengerang kecewa, "Kau bahkan mengabaikanku dan menanyakan Gisselle. Aku
tersinggung."
Nicole
hanya melemparkan pandangan kesal pada Fred dan bangkit berdiri. "Aku akan
mencari Gisselle dan memastikannya makan malam." Dan dia pun benar-benar
berjalan keluar dari ruang rekreasi, meninggalkan Fred.
"Apa
aku ini masokis ya. Bisa menyukai orang seperti itu.." Gumam Fred seraya menggeleng.
Ia langsung berdiri dan berlari mengejar Nicole. Di luar ruang rekreasi, di
koridor, mereka langsung berpaspasan dengan George yang baru saja balik dari
rumah sakit.
"George,
dimana Gisselle?" Tanya Nicole, dan George menjelaskan kondisi Gisselle. Setelah
berhasil meyakinkan Nicole bahwa sahabatnya baik-baik saja, si kembar mengapit
Nicole dan 'menggiringnya' ke Aula Utama untuk makan malam. Beberapa pertanyaan
muncul karena Nicole tidak muncul bersama sahabatnya, Gisselle, sehingga baik
Nicole maupun si kembar harus berulang kali menjelaskan dimana Gisselle berada.
Makan
malam berlangsung seperti biasa. Nicole, Fred dan George duduk dekat tempat Ron
dan Harry yang membicarakan tentang pelajaran terbang mereka yang entah kapan
dilaksanakan. Langsung saja Fred dan George mulai mengoceh tentang kualitas
sapu sekolah yang jauh dari kategori bagus. Mereka berdua telah mengeluh pada
Nicole sejak pertama kali mereka memegang sapu sekolah.
Merasa
bosan dengan ocehan si kembar yang duduk di sebelah kirinya, walau Ron dan
Harry sama-sama mendengarkan mereka berdua dengan seksama, Nicole memandang ke
arah kanan dan bertemu pandang dengan Oliver untuk pertama kalinya di semester
ini. Tampaknya keduanya berpikiran hal yang sama, kejadian di akhir tahun
ajaran yang lalu karena baik muka Nicole maupun muka Oliver memerah dan
langsung mengalihkan pandangan masing-masing.
Nicole
menghabiskan makan malamnya dengan cepat lalu berdiri dan berjalan keluar dari
Aula Utama. Ia berkata pada si kembar dan yang lain bahwa dia akan mengunjungi
Gisselle sebelum terlalu malam. Pada saat yang bersamaan pula, Oliver bangkit
dari tempat duduknya dan berjalan bersama Nicole keluar dari Aula Utama.
“Eh.”
Kata Oliver berusaha memecah keheningan yang canggung. “Bagaimana musim panasmu?”
“Tidak
ada yang spesial. Bagaimana denganmu?”
“Hmm,
biasa saja.”
Hening.
“Ku
dengar kau menjadi ketua team Quidditch kita, selamat.”
“Terima
kasih.”
“Sama-sama.”
Hening
lagi.
Oliver
mendadak berteriak frustasi, membuat Nicole melonjak kaget dan menatap pemuda
disebelahnya itu dengan tatapan terkejut dan heran.
“Oke
ini canggung. Kita harus meluruskan sesuatu.” Pemuda berumur 15 tahun itu
mendorong Nicole ke dinding terdekat dan memandang langsung ke matanya.Tentu
saja Nicole tidak sempat melakukan apa-apa karena ia masih terkejut. Pandangan
Oliver bertahan selama beberapa detik sebelum dia akhirnya membuang muka dan
melepaskan Nicole.
“Eh
maaf. Maksudku bukan itu. Eh, maksudku itu.. tapi bukan seperti itu.” Gumamnya
bingung. Ekspresi terkejut Nicole digantikan ekspresi geli. Gadis itu tertawa
melihat tingkah pemuda yang lebih tua darinya itu.
“Aku
mengerti. Aku akan melupakan kejadian waktu itu.” Kata Nicole setelah berhasil
mengendalikan tawanya.
“Jangan
di lupakan! Eh tapi abaikan saja, ya, jangan lupakan tapi abaikan saja!”
Mendengar
kata-kata yang masih aneh bagi dirinya, Nicole tertawa lagi sambil
mengangguk-angguk. “Baiklah, akan aku abaikan.” Dan Oliver menghembuskan nafas
lega.
“Maaf
aku tiba-tiba berteriak dan mendorongmu seperti itu.” Oliver berjalan mundur,
malu akan tingkahnya tadi.
Nicole
menggeleng, “Tidak apa-apa. Aku tidak keberatan.” Dan seketika itu juga
kecanggungan di antara mereka menghilang, walau tidak sepenuhnya. Sepanjang
perjalanan mereka mengobrol dan bercanda, walau kadang masih terasa canggung
karena umur mereka yang berbeda dan tentu saja, sebuah rasa yang masih menjadi
rahasia masing-masing.
“Kau
tidak kembali ke ruang rekreasi?” Kata Oliver ketika Nicole berbelok ke arah
kanan dan bukannya ke kiri seperti jika mereka hendak pergi ke ruang rekreasi.
Maka Nicole menjelaskan maksudnya mengunjungi Gisselle sebelum terlalu malam.
Ucapan sampai nanti Nicole segera di potong oleh Oliver.
“Akan
kutemani. Berbahaya bila kau berjalan sendirian. Bagaimana jika Flint memutuskan
untuk menyerangmu?”
Oliver
tampak begitu serius sehingga Nicole tidak tega untuk tertawa. Ia nyaris
mengatakan bahwa dia bisa melindungi dirinya sendiri dan tidak akan tertipu
dengan ancaman lagi, tapi ketika melihat muka Oliver, Nicole berpikir, tidak
ada salahnya ia bertingkah seperti perempuan lainnya saat ini.
Mendadak
ia menepuk kedua pipinya, Astaga, apa yang baru saja ia pikirkan. Ia telah
berjanji pada dirinya sendiri bukan?
***
“Nicole.”
Sabtu
pagi yang cerah, Nicole, Elly dan Gisselle sedang duduk di bangku di halaman
sekolah, namun tampaknya pikiran Nicole terbang ke tempat lain dan tidak
mendengarkan kata-kata dari kedua sahabatnya.
“Nicole.”
Panggil Elly lagi, dengan suara yang lebih keras, sementara Gisselle
melambaikan tangannya di depan gadis berambut cokelat tua itu. Nicole tersentak
kaget dan menjatuhkan buku-buku yang ada di pangkuannya. Baik Elly dan Gisselle
mendengus kesal sementara Nicole mengambil kembali buku-bukunya.
“Ada
apa denganmu? Akhir-akhir ini kau menjadi tidak fokus.” Tanya Elly, setengah
kesal karena kata-kata sebelumnya tidak di dengar oleh Nicole, setengah
khawatir karena sahabatnya ini bertingkah aneh.
“Apakah
Flint atau anak Slytherin lain mengancammu?” Gisselle menggenggam kedua tangan
Nicole dengan ekspresi khawatir dan takut. Ia tidak ingin kejadian di tahun
pertama mereka terulang lagi.
Elly
tersenyum, menyadari sesuatu, “Atau..ini tentang seseorang?”
Pertanyaan,
yang sebenarnya lebih mirip pernyataan, dari Elly itu membuat Nicole menoleh ke
arah Elly dan menggeleng dengan cepat. Reaksi Nicole yang sangat mudah dibaca
itu membuat kedua temannya tertawa.
“Tidak
perlu menyembunyikannya. Kami juga tidak akan menyembunyikan apapun.” Ujar Elly
sambil memberikan pandangan berarti pada Gisselle, yang dibalas dengan anggukan
dari si gadis brunette. Mereka berdua sudah membicarakan hal ini sebelumnya.
Bagaimana pun juga, melihat Nicole dengan muka memerah adalah sesuatu yang
pantas di usahakan.
“Apa
maksud kalian?” Jelas Nicole telah memusatkan perhatiannya pada Elly dan
Gisselle sekarang. Gadis itu menunjukan ekspresi bingung, tapi rona wajahnya
mengkhianatinya. Mukanya yang merah hanya berarti satu hal, dia tahu apa dan
siapa yang teman-temannya bicarakan.
“Kita
mulai dari.. Gisselle!” Kata Elly, mengabaikan pertanyaan Nicole. Gisselle yang
di tunjuk langsung memberikan Elly pandangan tidak percaya. Elly membalasnya dengan senyuman dan tatapan ‘ayolah-ini-kan-idemu.’
Menyerah,
Gisselle menghela nafas dan menghembuskannya lalu menatap Nicole. “Aku menyukai
seseorang, salah satu teman dekat kita.”
Mata
Nicole melebar kaget, dia tidak pernah menyadari bahwa sahabatnya itu menyukai
teman dekat mereka. Well, antara tidak menyadari atau tidak peka berbeda tipis.
“Kau menyukai Lee?” Tebak Nicole, membuat Elly mendadak tertawa dan Gisselle
sedikit kesal.
“Bukan!!”
Sangkal gadis itu dengan cepat. “Kenapa banyak orang yang mengira aku menyukai
Lee?!”
“Karena
kau tidak pernah merasa gugup jika bersama pemuda itu. Kau sendiri yang bilang
dulu.” Balas Nicole yang sekarang ikut tertawa bersama Elly. Gisselle
menggeleng keras.
“Tapi
bukan berarti aku menyukainya!” Mukanya merah karena malu dan kesal. Ia pasti
sudah mengumpulkan banyak keberanian untuk memberi tahu Nicole dan Elly, tapi
hal itu buyar karena candaan kedua temannya.
“Baiklah.
Jika bukan Lee, lalu siapa?”
Muka
Gisselle bertambah merah ketika Nicole bertanya hal tersebut. Dengan menunduk
malu, ia menggumamkan nama yang tak lain tak bukan adalah George. Tapi karena
suara Gisselle terlewat kecil, Nicole harus bertanya lagi.
“George!
George Weasley!” Kata Gisselle nyaris berteriak karena luar biasa malu. Nicole
memandang gadis yang duduk disebelah kirinya itu dengan tatapan tidak percaya.
Gisselle Scotthill, sahabatnya yang lemah lembut itu bisa menyukai pemuda iseng
seperti George Weasley? Baru saja Nicole membuka mulut untuk memastikannya,
tiga pasang tangan menutupi mata ketiga gadis.
“S-siapa
ini?” Tanya Gisselle kaget ketika matanya tiba-tiba ditutup. Sebagai jawaban,
tiga suara tawa yang sudah akrab terdengar dari arah belakang mereka dan
otomatis Gisselle serta Elly dan Nicole mengetahui siapa yang berada di
belakang mereka.
Nicole
lah yang paling cepat bertindak. Sedetik setelah ia mendengar suara tawa itu,
ia melayangkan sikutnya kebelakang, tempat yang dia pikir adalah perut sang pelaku
yang menutupi matanya itu. Dari erangan yang terdengar, sikutan Nicole bisa
dibilang jitu. Merasa tidak puas, gadis itu juga mencubit tangan yang berada di
kedua matanya.
“Nicole!
Hentikan! Ampun aku menyerah!” Suara Fred Weasley terdengar dari belakangnya
dan kini Nicole sudah bisa melihat lagi. Ia meloncat berdiri dan berbalik untuk
memandang ‘penyerang’nya.
Fred
Weasley balas memandangnya dengan cengiran dan ekspresi kesakitan gara-gara
sikutan dan cubitan Nicole tadi. Pemuda itu memegangi perutnya dan memberi
Nicole tanda peace dengan kedua jarinya. Melihat Fred yang kesakitan, George
dan Lee melepaskan Gisselle dan Elly.
“Kami
kemari karena mendengar nama kami disebut!” Kata Lee membela diri. Pemuda itu
mengangkat kedua tangannya seakan-akan Nicole sedang menodongnya dengan pistol.
Nicole melemparkan pandangan sinis ke arah ketiga pemuda malang itu.
“Lalu
kenapa kalian harus mengendap-endap dari belakang dan menutupi mata kami
seperti itu?”
Fred
dan George dengan kompak menunjuk Lee, “Itu idenya!” Seru mereka berdua. Lee
yang pertamanya mengangguk-angguk karena mengira si kembar mengatakan bahwa itu
ide mereka, langsung menoleh dengan terkejut. Mulutnya terbuka lebar karena
kaget.
“Lee..”
Kata Nicole.
“Bukan!
Itu bukan ideku! Itu ide mereka! Serius!”
Nicole
menghentakan kaki seakan-akan hendak mengejar Lee dan pemuda itu tertipu karena
ia langsung berlari pergi secepat yang ia bisa. Fred dan George yang tertawa
terbahak-bahak melihat Lee juga tidak terlalu berbeda. Nicole hanya perlu
berbalik dan menghadap mereka lalu berlari maju dua langkah dan si kembar
langsung mengibrit pergi.
“Itu
akan membuat mereka pergi selama beberapa saat.” Kata Nicole seraya menepuk-nepuk
kedua tangannya seakan-akan di tangannya terdapat debu dan kembali duduk
diantara Elly dan Gisselle.
“Kau
baru saja mengusir orang yang disukai Gisselle.” Kata Elly.
“Aku
yakin Gisselle tidak mau rahasianya ketahuan di depan Fred dan Lee.”
“Tapi
Lee sudah tahu.” Gumam Gisselle. Nicole sepertinya siap memprotes karena Lee
lebih tahu duluan daripada Nicole ketika Gisselle langsung menjawab protesan
Nicole tanpa mendengarnya. Entah kebetulan atau Gisselle memang sudah
mengetahuinya.
“Aku
sempat mengira kalau kau menyukai George juga.” Kata Gisselle, memandang Nicole
dengan pandangan meminta maaf. “Tapi setelah membaca suratmu, kuputuskan kau
tidak menyukai George lebih dari teman.”
Nicole
mendengus geli. “Aku? Menyukai George? Tidak mungkin.”
“Jadi
siapa yang kausukai?” Kata Elly sambil menyenggol pelan pundak Nicole dengan
pundaknya. Nicole berhasil mengendalikan ekspresinya untuk tetap tenang dan
menatap Elly.
“Kau
dulu. Pasti ada yang kau sukai bukan? Biar kutebak, Cedric?” Kata Nicole sambil
tersenyum jahil. Ketika mendengar nama Cedric, muka Elly langsung memerah dan
ia menutupinya dengan kedua tangannya.
“Bagaimana
kau tahu?” Tanyanya dari sela-sela jari.
Nicole
mengangkat kedua bahunya, “Jika Gisselle menyukai salah satu teman dekatnya,
kutebak kau juga. Jadi,” Nicole menatap Elly dengan tatapan jahil yang sekilas
mirip dengan tatapan si kembar. “..sejak kapan kau menyukainya. Ini pertanyaan
untukmu juga Gisselle.”
“Kelas
satu.” Jawab mereka berdua dengan serempak, dengan muka yang merah tentu saja.
Nicole sudah mau mengomentari mereka ketika lagi-lagi percakapan mereka
diganggu oleh seseorang.
“Elly!
Ternyata kau berada disini.” Siapa lagi jika yang memanggil gadis berambut
merah itu bukan Cedric Diggory. Ada apa dengan hari ini, pertama George muncul
setelah Gisselle bercerita dan sekarang Cedric muncul setelah Elly selesai bercerita.
“C-ced!”
Sapa Elly dengan gugup, buru-buru meletakan kembali tangannya di pangkuannya.
Cedric melangkah mendekat dengan senyuman menawan miliknya terpasang di
wajahnya. Pemua tampan itu mengangguk ke arah dua gadis yang lain dan menyapa
mereka yang dibalas oleh Nicole dan Gisselle. Kedua gadis itu harus menahan
tawa melihat reaksi Elly ketika melihat Cedric.
“Bisakah
kau membantuku dengan tugas dari Professor Snape?” Tanya Cedric. “Nanti malam
saja di ruang rekreasi, aku harus latihan Quidditch sebentar lagi.” Dengan
cepat Elly meng-iya-kan permintaan Cedric. Setelah mengucapkan terima kasih dan
pamit kepada tiga gadis tersebut, Cedric berjalan pergi menuju lapangan
Quidditch.
“Dan
kau masih bertanya kenapa aku tidak mengetahuinya..” Gumam Nicole yang membuat
Gisselle tidak bisa menahan tawanya lagi.
“Tapi
kau tidak mengetahui jika Gisselle menyukai George!” Muka Elly merah padam
“Itu
karena dia selalu malu-malu kepada semua orang kecuali kita dan Lee.” Balas Nicole
sementara kini giliran muka Gisselle yang memerah karena nama George disebut
lagi.
“Oke.
Kini giliranmu Nicole.” Kata Elly sambil menatap Nicole lekat-lekat. Muka
Nicole tidak memerah, tapi jelas ia menjadi salah tingkah karena Gisselle juga
menatapnya lekat-lekat bersama dengan Elly.
“Seperti
yang kukatakan di suratku, aku tidak yakin.” Jawab Nicole.
“Menurutku,
dalam surat itu kau terdengar seperti gadis yang sedang jatuh cinta.” Komentar
Gisselle. Elly mengangguk-angguk tanda setuju dan Nicole menjadi lebih salah
tingkah dari sebelumnya.
“Aku..”
Nicole tidak sempat melengkapi kata-katanya karena pada saat itu Oliver dan
beberapa teman kelas limanya berjalan melewati Nicole, Elly dan Gisselle.
Oliver melihat Nicole dan segera melambaikan tangannya dengan bersemangat.
Langsung saja Elly dan Gisselle bertukar pandang dan terkikik geli sementara
Nicole, berusaha mengabaikan reaksi kedua temannya, memasang muka senormal
mungkin dan membalas lambaian Oliver.
“Kau
menyukainya, itu jelas sekali Nicole.” Kata Elly setelah Oliver dan teman-temannya
telah menghilang dari pandangan mereka.
Nicole
menatap kea rah Oliver pergi tadi dan menggeleng, “Entahlah, kurasa yang
kurasakan ini bukan seperti itu.”
Elly
menepuk dahinya dengan frustasi, temannya ini memang agak lambat mengenai hal
seperti ini. Gisselle menatap Elly dan mereka melakukan kesepakatan tanpa satu
kata pun terucap, yaitu mereka akan berusaha membuat Nicole mengakui
perasaannya terhadap Oliver.
***
McGonagall
memanggil Nicole saat pelajarannya berakhir di hari kamis sore. Gisselle
memandang temannya dengan tatapan khawatir, tapi Nicole lebih mengenal
McGonagall lebih dari murid manapun dan mengetahui dari ekspresi wanita itu
kalau dirinya tidak akan terkena masalah.
“Kau
duluan saja.” Kata Nicole pada Giselle, si kembar dan Lee. Mereka semua
mengangguk dan berjalan pergi sementara Nicole mendekati McGonagall.
“Ada
apa professor?” McGonagall memandangnya dengan tajam, namun ekspresinya
menunjukan sedikit kekhawatiran.
“Nicole.”
Hampir semua guru di Hogwarts memanggil Nicole dengan nama depannya jika mereka
hanya berdua dengan gadis itu. Di katakan hampir, karena kakeknya, sang kepala
sekolah, selalu memanggilnya dengan nama depan tidak peduli di depan siapapun. Nicole
menelengkan kepalanya ke kiri, tanda ia mendengarkan.
“Apakah
mungkin bila kepala sekolah bisa melonggarkan peraturan?” Pertanyaan McGonagall
membuat Nicole menaikan alisnya dengan bingung. Kepala Asrama Gryffindor, yang paling
tegas tentang peraturan, menanyai Nicole apakah kakeknya bisa melonggarkan
peraturan? Terdengar agak tidak mungkin. Tapi itu benar-benar terjadi karena
McGonagall baru saja menanyainya hal itu.
“Jika
menurutnya itu layak dilakukan, atau menyenangkan, ia akan melakukannya.” Jawab
Nicole. McGonagall menghembuskan nafas lega. Setelah ia dipersilahkan pergi,
Nicole berjalan keluar dari ruangan kelas dan menemukan bahwa keempat temannya
telah pergi ke Aula Utama untuk makan malam. Maka Nicole memutuskan untuk
langsung berjalan ke Aula Utama menyusul mereka.
Baru
saja ia melangkah beberapa langkah, terdengar suara seperti orang berlari ke
arahnya. Nicole menoleh tepat pada waktunya untuk melihat Oliver berlari ke
arahnya dan mengangkat gadis itu ke udara lalu memutarnya.
“O-o-oliver?!”
Pekik Nicole kaget. Oliver menurunkannya dan menguncangkan pundak Nicole dengan
bersemangat.
“Kita
mendapat seorang Seeker! Harry Potter! Di pilih sendiri oleh McGonagall! Dia
berkata Charlie Weasley bahkan kalah darinya!” Oliver terlihat luar biasa
senang dan terus menerus mengguncang pundak Nicole, membuat gadis itu menjadi
pusing.
“Aku
mengerti, aku mengerti. Oliver tolong hentikan!” Kata Nicole berusaha
membebaskan diri dari Oliver. Setelah beberapa saat, akhirnya kapten baru
Gryffindor melepaskan Nicole. Gadis itu terhuyung mundur dan berusaha
mengendalikan nafasnya.
“Maaf.
Aku terlalu bersemangat.” Kata Oliver seraya memegang tangan Nicole agar gadis
itu tidak jatuh. Ia masih tersenyum lebar, jelas masih bahagia mendengar kabar
dari McGonagall.
“Jadi
itu sebabnya McGonagall menanyakan hal itu..” Gumam Nicole.
“Apa?”
Nicole
menggeleng, “Tidak. Lupakan.” Ia lalu tersenyum. “Selamat! Apakah kau sudah
memberi tahu yang lain?” Mereka berdua berjalan berdampingan menuju Aula Utama
karena ternyata Oliver juga hendak berjalan kesana ketika ia melihat Nicole dan
memutuskan untuk memberitahukan kepadanya kabar bahagia miliknya.
“Baru
si kembar. Aku bermaksud menjadikanmu orang pertama yang tahu, tapi saat si
kembar lewat, aku tidak bisa menahan diri untuk tidak memberi tahu mereka.”
Nicole merona saat Oliver mengatakan bahwa dia bermaksud memberi tahu Nicole
yang pertama. Gadis itu langsung menghindari bertatap muka dengan Oliver.
“Kurasa..
ini akan menjadi rahasia? Antar pemain dan beberapa orang saja?” Tanya Nicole.
Oliver mengangguk dan menjelaskan rencananya mengenai membuat Harry sebagai
senjata rahasia team Gryffindor, taktik-taktik yang akan mereka pelajari dan
berbagai hal lainnya. Nicole tidak bisa menahan senyumannya ketika melihat
Oliver begitu bersemangat membicarakan Quidditch dan segala hal yang berkaitan
dengan permainan itu.
“Maaf.”
Kata Oliver. Ia telah menyadari senyuman dimuka Nicole dan salah
mengartikannya. “Aku terlalu asik berbicara Quidditch sehingga lupa diri.”
“Tidak.
Menurutku kau menarik.” Kata Nicole, tidak sadar pilihan kata-katanya bisa
diartikan salah. Dan memang itu yang terjadi. Oliver salah mengartikannya dan
sekarang muka pemuda itu merah padam.
“Eh,
terima kasih.” Setelah berkata begitu, Oliver tidak bisa merangkai kalimat yang
panjang-panjang karena di otaknya sekarang hanya ada ucapan dari Nicole tadi.
Sepanjang perjalanan menuju Aula Utama, pemuda itu menjadi gugup dan hanya
menjadi pendengar yang kadang menimpali dengan satu dua kata sementara Nicole
berbicara.
“Nicole?”
“Hm?”
Oliver
tampak ragu untuk mengatakan sesuatu, dan pada akhirnya ia tidak jadi
mengatakannya. Pemuda itu menepuk kepala Nicole dengan lembut lalu berjalan
dengan terburu-buru ke meja Gryffindor dan duduk diantara teman-temannya.
Nicole mengejapkan matanya dengan heran sebelum berjalan ke tempat duduknya, di
sebelah Gisselle.
“Kau
sudah dengar?” Kata Gisselle saat Nicole duduk. “Harry ditunjuk McGonagall menjadi
Seeker baru Gryffindor. George baru saja memberitahuku sebelum ia pergi bersama
Fred dan Lee.”
Nicole
mengangguk dan menceritakan pertanyaan McGonagall tadi, serta berita dari
Oliver. Mendengar nama Oliver disebut Nicole, Gisselle tersenyum lagi.
“Apa?”
Tanya Nicole saat melihat senyuman Gisselle, namun sahabatnya itu hanya
menggeleng dan kembali memusatkan perhatian pada makanannya.
***
Sebulan
telah berlalu dan Halloween sudah berada di depan mata. Dimana-mana persiapan
menyambut pesta Halloween sudah terlihat di Hogwarts. Bagi anak kelas tiga, ada
hal lain yang menjadi topik hangat diantara mereka ; kunjungan pertama mereka ke
Hogsmeade, walau tentu saja, bagi Nicole itu tidak terlalu spesial karena ia
sering main di desa sihir itu sejak ia kecil.
“Apakah
kakekmu juga memberikan formulir pada suratmu?” Tanya Lee penasaran. Nicole
selalu mendapat surat layaknya murid lain walau dia selalu berada di Hogwarts
selama musim panas. Nicole mengangguk sebagai jawaban untuk pertanyaan Lee.
“Dan
dia terlihat luar biasa senang ketika aku meminta tanda tangannya. Ia bahkan
menggunakan pena bulu terbaiknya!” Kata Nicole setengah kesal setengah geli
ketika mengingat tingkah kakeknya yang kadang konyol seperti anak kecil.
Teman-temannya tertawa.
Saat
itu mereka sedang makan malam, langit-langit Aula Utama pada hari itu adalah
langit malam penuh bintang yang indah. Saat makanan penutup bermunculan, Elly
menyusup ke meja Gryffindor dan duduk diantara Nicole dan Gisselle.
“Elly!”
Bisik Nicole ketika Elly menyuruhnya bergeser dan menyediakan tempat duduk
untuknya. “Sedang apa kau disini?”
Elly
menempatkan jari telunjuknya di depan bibir, meminta Nicole dan Gisselle untuk
diam. Seraya melirik ke arah meja guru, berharap tidak ada guru yang menyadari
tindakannya, Elly berbisik pada kedua sahabatnya. “Cedric mengajakku pergi ke
Hogsmeade berdua dengannya.”
Elly
harus meletakan tangan di depan mulut Gisselle untuk menahan gadis itu agar
tidak mengeluarkan pekikan. Nicole nyengir jahil dan menyenggol pundak Elly.
“Jadi
dia mengajakmu kencan.”
Muka
Elly memerah dan dengan malu-malu ia mengangguk. “Bisa dikatakan begitu bukan?”
Setelah
mereka mengobrol beberapa saat, Elly kembali ke tempat duduknya di meja
Hufflepuff. Nicole dan Gisselle juga menyelesaikan makan malam mereka dengan
cepat dan bangkit berdiri. Rencananya, mereka akan menyelesaikan tugas karangan
Ramuan malam itu. Setengah jalan menaiki tangga menuju ruang rekreasi, Nicole
harus berbalik dan membiarkan Gisselle berjalan menuju ruang rekreasi sendirian
karena Oliver memanggilnya dari dasar tangga.
“Ada
apa?” Tanya Nicole ketika ia sudah berdiri didepan pemuda yang tampak gugup
itu.
Muka
Oliver tampak seperti sedang berusaha menelan batu. Ia berulang kali
menghembuskan nafas sebelum akhirnya mengatakan apa yang ia ingin katakan.
“Maukah
kau pergi denganku ke Hogsmeade? Berdua saja.”
Perlu
beberapa detik untuk Nicole agar ia bisa sepenuhnya mencerna perkataan Oliver.
Astaga, apakah Oliver Wood baru saja mengajaknya berkencan?
***TBC***
A/N : Mohon maaf
apabila ada kesalahan *bows*
Original Plot by : Our Queen, JK Rowling
The ‘new’ plot Made
by : Liz
Take
out with full credits please~ ^^

0 komentar:
Posting Komentar