Minggu, 26 Oktober 2014

You're My - Chapter 7

Disclaimer    : BTS and all Kpop artists are not mine. Jimin will be soon though (lol kidding).
OC belongs to their rightful owner, while the plot is mine.

Genre       : Romance, Friendship, Comedy, Fluff

"You’re My"
Chapter 7 : My Confession


Park Jina keluar dari rumahnya dengan senyuman lebar terpasang di wajahnya. Ia telah mendapat kerja yang menetap dengan gaji yang lumayan untuk membantu keuangan ibunya. Kakaknya juga sudah sedikit berubah, walaupun masih jarang berada di rumah, setidaknya Jimin sudah jarang membuat kekacauan bahkan sekarang memiliki pekerjaan paruh waktu.

Hari ini ia mendapat libur di toko tempat ia bekerja dan dengan cepat ia memutuskan untuk membeli sesuatu dengan gajinya. Sesuatu yang walau murah, dibeli dengan uangnya sendiri. Jina memutuskan untuk menbeli tiga barang. Untuk ibunya, kakaknya, dan seseorang yang akhir-akhir ini menjadi penting untuknya, Shin Taehyung.

Akhirnya gadis itu sampai di toko aksesoris yang sering ia datangi. Baru sebentar ia melihat benda-benda yang di pajang di rak, matanya di tutup dari belakang oleh seseorang. Panik, Jina menepuk tangan yang menutupi matanya itu. Sang pemilik tangan hanya tertawa dan melepaskan kepala Jina sehingga gadis itu bisa berbalik dan melihat siapa yang mengerjainya barusan, Jackson Wang.

“Kau terlalu panikan.” Kata Jackson, masih nyengir mengingat reaksi Jina. Pemuda itu ikut melihat-lihat di rak yang sedang di lihat Jina tadi.

“Kau sendiri mengejutkanku seperti itu.”

Jackson tertawa dan mengusap kepala Jina. “Jadi, nona, apa yang sedang kau lakukan disini?”

Dengan cepat Jina dan Jackson mengobrol dengan riang dan pemuda itu membantu Jina memilih berbagai aksesoris. Perilaku Jackson yang berbeda kepadanya membuat Jina merasa nyaman dan tanpa sadar mulai bercerita tentang dirinya sendiri, hal yang tidak pernah ia lakukan pada siapapun bahkan pada kakaknya sendiri.

Setelah berbelanja, mereka berdua duduk di depan toko es krim, menikmati dinginnya es krim di tengah musim panas yang menyengat. Mendadak Jackson menyodorkan es krim miliknya ke depan mulut Jina, mukanya tersenyum lebar dan dari kilatan matanya, Jina bisa tahu bahwa pemuda itu menyuruh dia mencoba es krim pemuda itu. Jina menggeleng tanda ia tidak mau melakukan hal itu namun Jackson menyodorkan es krim itu lagi dan kali ini ke dalam mulut Jina langsung, membuat mulut gadis itu berlumuran es krim juga.

“Oppa!” Ya, Jackson juga telah meminta Jina memanggilnya dengan panggilan dekat seperti itu. Melihat mulut Jina yang berlumuran es krim, Jackson tertawa terbahak-bahak sebelum meraih tissue dari meja di samping mereka dan mengelap mulut gadis itu dengan lembut.

Muka Jina memerah karena itu dan Jackson kembali tertawa melihatnya. Kesal dengan pemuda yang tidak berhenti tertawa di sebelahnya itu, Jina ‘menabrakan’ es krimnya sendiri ke mulut Jackson dan kini gantian Jina yang tertawa melihat muka terkejut pemuda itu saat es krim yang dingin memenuhi bibir dan sekeliling bibirnya.

Jackson yang tersadar dari keterkejutannya , tersenyum iseng dan melumurkan es krimnya kembali ke bibir Jina. Pemuda itu menunjukan cengiran ‘nakal’nya lalu mengedip pada Jina lalu memakan es krimnya kembali saat Jina sibuk membersihkan es krim di daerah bibirnya.

Dengan cepat kedua es krim mereka telah selesai dilahap oleh mereka berdua. Berlaku selayaknya seorang gentleman, Jackson mengantar Jina hingga depan rumahnya, bersikeras mengatakan bahwa Jimin tidak akan marah tentang hal itu. Bagaimana pun juga Jackson adalah salah satu tangan kanan dari Jimin, orang kepercayaannya.

“Jina.”

Jina menoleh. Gadis itu sudah berada di depan pintu rumahnya sementara Jackson hanya mengantar sampai pagar saja. Jina melihat Jackson memasukan kedua tangannya ke dalam kantong dan memandang Jina dengan kilatan mata jahil yang bagi Jina saat itu luar biasa menarik.

“Jina.” Panggil Jackson lagi. Kali ini Jina benar-benar berbalik dan menghadap ke arah Jackson.

“Ya Oppa?”

Senyuman Jackson melebar, “Jadilah pacarku, okay?”

***

Hari ini Soojin tidak memiliki acara apapun. Kedua sahabatnya, Minra dan Jin, memiliki acara yang berbeda dengan keluarga masing-masing saat itu. Terutama Jin yang sibuk sejak awal liburan musim panas karena acara dengan keluarganya. Akhirnya gadis itu memutuskan untuk mengunjungi cafe milik kakaknya, walau sedikit jauh dari tempat mereka, menurutnya cafe kakaknya selalu layak di kunjungi.

Namun baru saja Soojin bebelok ke arah cafe kakaknya, sesosok Shin Dongho muncul di pandangannya, berjalan dari arah yang berlawanan darinya, menuju ke arahnya. Gadis itu hanya berharap sang pemuda tidak melihatnya, namun sayangnya Dongho langsung melihat Soojin dan bahkan sudah melambaikan tangannya ke arah gadis itu.

“Soojin!!” Dan Dongho pun berlari ke arah gadis itu. Soojin memasang muka datarnya, yang mengingatkan Dongho pada muka datar Haneul saat gadis itu sudah sebal padanya. Namun Dongho mengabaikan ekspresi muka Soojin dan tetap tersenyum pada gadis itu. “Kau hendak kemana? Bagaimana kalau kita ke cafe disitu?” Tanya Dongho tanpa basa-basi sama sekali, dan menunjuk ke arah cafe. Cafe yang sama dengan cafe milik Joongki, dan tentu saja, bagi Dongho itu hanyalah cafe tempat Haneul bekerja.

Merasa tidak bisa mengelak sama sekali, Soojin mengangguk. “Aku memang hendak pergi kesana.” Kata gadis itu.

“Bagus!” Dongho tersenyum lebar. “Ayo!” Dan pemuda itu dengan santainya berjalan di sebelah Soojin seakan akan mereka berteman baik sejak lama. Gadis itu berharap di dalam cafe itu tidak ada kakaknya. Akan panjang lagi permasalahannya jika Joongki melihatnya dengan seorang pemuda berjalan berdua ke dalam cafe.

Keinginan Soojin terkabul. Di dalam cafe, Joongki tidak terlihat sama sekali. Dongho juga tidak melihat Haneul berdiri di belakang counter juga, berarti hari itu bukanlah hari kerja gadis itu. Jimin juga tidak ada disana, walau baik Dongho maupun Soojin tidak mengetahui kenyataan bahwa Jimin bekerja disitu juga.

Dongho bersandar di counter dan mengedip riang pada gadis yang bekerja disitu, membuat muka gadis itu merona, lalu menatap Soojin. "Aku yang bayar hari ini, kau mau apa?" Tanya pemuda itu. Soojin mengernyit kesal dan menatap ke arah menu yang terpajang di dinding belakang counter. Tadinya ia mau memberi tahu Dongho bahwa kakaknya adalah pemilik cafe itu sehingga mereka berdua tidak perlu bayar. Namun tingkah Dongho membuatnya kesal dan memutuskan untuk membiarkan pemuda itu membayar saja.

Setelah mendapat pesanan mereka, Dongho menarik Soojin ke salah satu meja yang kosong dan duduk berhadap-hadapan walau sang gadis jelas enggan dengan ajakkan itu.

"Sayang Haneul tidak bekerja hari ini.." Kata Dongho sambil menoleh ke arah counter kembali. Soojin menaikan alisnya, menatap Dongho dengan pandangan penuh tanya.

"Haneul? Oh Haneul? Dia pacarmu?"

Dongho nyaris menyemburkan minumannya sendiri ke muka Soojin. "Pacar?! Ti-dak mung-kin!!" Katanya dengan nada yang luar biasa tegas, tidak lupa dengan penekanan di tiap katanya. Ekspresi pemuda itu terlalu lucu sehingga Soojin pun tidak bisa menahan tawanya. Dongho masih mengulangi kata-kata yang sama beberapa kali sehingga Soojin mengangguk dengan tegas dan mengeraskan suaranya agar bisa menandingi suara Dongho.

"Iya. Iya!! Aku mengerti!! Iya!!" Soojin juga mengulangi kata-kata itu hingga Dongho kembali tenang. "Kau benar-benar sensitif tentang hal ini." Komentar gadis itu lagi.

"Ayahku sering sekali membahas hal itu dan itu membuatku muak. Haneul dan aku hanya sahabat sejak kecil, itu saja." Kata Dongho seraya mengaduk minumannya dengan sedotan. "Dan lagi pula, aku tidak ingin kau salah paham..." Lanjut pemuda itu dengan suara kecil.

Mata Soojin melebar. Tidak percaya apa yang ia baru dengar. Apakah ia salah dengar? Suara Dongho terlalu kecil sehingga ia sendiri tidak yakin apa yang ia dengar itu benar atau hanya perasaannya saja.

"Maaf, apa?" Tanya Soojin akhirnya.

"Haneul dan aku hanya sahabat sejak kecil."

"Bukan, setelahnya."

Dongho diam sejenak, lalu membuang pandangan ke arah lain, menolak untuk melihat Soojin. "Aku tidak berkata apa-apa lagi setelahnya."

"Ya kau mengatakan sesuatu. Apa itu?" Soojin melipat kedua tangannya.

Dongho cemberut dan menggeleng. "Lupakan saja itu." Sekali lagi pemuda itu menampilkan ekspresi yang menurut Soojin lucu. Walau mungkin kalau bagi Haneul itu adalah ekspresi menjijikan dari Dongho, entah mengapa saat itu muka pemuda di hadapannya cukup menggemaskan.

"Baiklah, akan kulupakan." Kata Soojin. "Tapi kau harus memberiku sesuatu sebagai gantinya."

Dongho berpikir sejenak sebelum mengeluarkan senyuman mempesonanya, "Nomor teleponku?" Katanya pemuda itu seraya memajukan badannya sehingga posisi wajahnya dekat dengan Soojin, lalu mengedip seksi. Soojin mendorong wajah pemuda itu dan memasang ekspresi sebal walau sebenarnya hatinya berdegup dengan cukup cepat.

"Hey aku serius." Kata Dongho, kelihatan terluka karena di dorong oleh Soojin. "Aku jarang berbagi nomor teleponku pada orang lain."

"Tapi aku tidak mau nomor teleponmu."

"Kalau begitu berikan nomor teleponmu."

Mata Soojin melebar karena kaget. Dia lalu mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali sebelum berhasil menemukan kemampuan berbicaranya kembali. "A-apa?”

Dongho meletakan kepalanya di telapak tangannya yang berada di meja dan menatap Soojin dengan pandangan seksi. “Nomor teleponmu. Aku ingin tahu nomor teleponmu.”

“Kau gila.”

“Aku waras kok.”

“Tidak, kau gila.”

Dongho nyengir, sementara perasaan Soojin berkecamuk antara terpukau pada muka pemuda itu dan keinginan untuk menabok muka yang sama. Dongho tidak sempat membalas kata-kata Soojin karena saat itu sepasang meja menggebrak meja mereka berdua dengan suara yang cukup keras.

Seorang pria muda, berumur kurang lebih di akhir 20, tersenyum yang sebenarnya agak mengerikan, pada Dongho. Ia pernah melihat orang ini, dia adalah boss Haneul yang suka ada saat gadis itu sedang bekerja. Soojin tentu mengenai pemuda ini juga. Dia adalah Joongki, kakak dari Soojin.

“Selamat siang.” Kata Joongki. Dongho nyaris merinding ketika mendengar nada suara dari pria itu. Joongki tersenyum pada Soojin lalu kembali menatap Dongho. Senyuman di muka Joongki terkesan dingin dan agak sadis sehingga Dongho berharap ia bisa berlari pergi saat itu juga.

“S-siang.” Kata Dongho.

“Bisa ku tanya ada urusan apa dengan adikku? Tolong jangan mengganggunya atau aku akan—“ Joongki berkata dengan cepat, senyumannya makin menghilang di tiap katanya hingga akhirnya Soojin menyela perkataan kakaknya dengan cara memukul pelan tangan Joongki.

“Dia tidak mengangguku, kakak. Kami hanya mengobrol dan akan pergi sebentar lagi.” Kata gadis itu, kesal dengan tingkah kakaknya yang selalu galak terhadap semua temannya yang bergender laki-laki. Jika begini caranya, ia tidak akan punya teman laki-laki apalagi pacar. “Ayo, oppa.”

Dongho mengikuti Soojin berdiri dan berjalan keluar cafe sambil mencuri-curi pandang ke arah Joongki, yang di balas dengan deathglare. Joongki tidak menyusul atau mempermasalahkan tentang hal itu lebih jauh lagi, karena ia tahu jika ia melakukan itu, Soojin akan mendiamkannya selama seminggu.

Helaan nafas di keluarkan Soojin ketika mereka sampai di luar cafe dan berjalan pelan ke arah yang tidak jelas. “Maaf kan kakakku.” Kata gadis itu pada Dongho. “Ia selalu begitu pada semua pemuda yang kelihatan dekat denganku.”

“Tidak apa-apa. Lagi pula aku senang.”

Soojin menaikan alisnya, “Senang?”

Dongho nyengir dan melirik menatap Soojin. Pemuda itu lalu dengan iseng menempatkan mukanya di depan muka Soojin, dengan jarak yang sangat dekat. “Kau memanggilku oppa tadi.”

***

Jina berguling di tempat tidurnya. Ia tidak bisa tidur karena kata-kata Jackson tadi. Mukanya kembali memanas ketika mengingat kejadian di sore hari itu. Apa yang harus ia lakukan? Jackson mengatakan bahwa ia akan menunggu jawaban Jina besok pagi dan sekarang sudah jam 2 pagi namun gadis itu belum bisa menentukan perasaannya sendiri. Jackson sangat baik padanya, namun ia merasa ada yang mengganjalnya, dan beberapa kali pikirannya terbang ke seseorang yang bernama Shin Taehyung.

“Mungkin ku terima saja..” Gumam gadis itu sebelum akhirnya tertidur. Tidak ada salahnya bukan? Lagi pula ia tidak pernah berpacaran sebelum ini karena kakaknya selalu menjadi orang yang di takuti sehingga tidak ada yang berani mendekatinya.

Akhirnya Jina tertidur nyenyak dan bangun di paginya karena ketukan di kamarnya. Seperti biasanya ibunya membangunkannya untuk masuk kerja lagi hari itu. Sambil mengusap matanya yang masih setengah tertutup, gadis itu meraih handphone yang terletak di meja di sebelah ranjangnya. Ada tiga misscall dari satu nama yang sama. Jackson Wang. Ia dan Jackson memang sudah bertukaran kontak jauh sebelumnya, sejak mereka makan siang bersama dulu.

Ketika Jina sibuk melamun, handphonenya mendadak berdering lagi dan gadis itu nyaris menjatuhkan handphonenya ke lantai. Jackson meneleponnya lagi. Dengan gugup gadis itu mengangkat teleponnya.

“H-halo?”

Jina dapat mendengar Jackson tertawa kecil di ujung sana. “Selamat pagi nona. Bagaimana tidurmu? Nyenyak? Memimpikan diriku?”

Gadis itu mengangguk walau jelas Jackson tidak akan pernah melihatnya. “Selamat pagi, Oppa. Tidurku nyenyak, bagaimana denganmu?”

“Sama sekali tidak nyenyak. Bayanganmu menghantuiku semalaman.”

Jantung Jina berdegup dengan cepat, terlebih ketika Jackson akhirnya menanyainya mengenai jawaban dari pertanyaannya kemarin.

“Jadi, bagaimana?”

Jina menahan nafasnya sendiri, “Aku mau. Aku mau menjadi pacarmu, Oppa.”

*

Shin Taehyung menatap ke kanan dan ke kiri. Park Jina belum terlihat juga, padahal sebentar lagi sudah saatnya mereka berdua mulai bekerja. Pemuda itu sudah akan menelepon gadis itu, ya mereka juga sudah bertukar kontak beberapa hari yang lalu, ketika suara motor yang kemudian berhenti tidak jauh dari tempatnya bediri, di depan toko roti, menarik perhatiannya. Dan ketika pemuda itu menoleh, ia sangat berharap ia tidak perlu melakukan hal itu.

Jina turun dari motor yang di kendarai oleh Jackson. Gadis itu tersenyum lebar walau malu-malu dengan muka yang memerah. Jackson sendiri tersenyum dan meletakan tangannya di pipi gadis itu, lalu menarik muka Jina dan mencium kening gadis itu. Keduanya bertukar ‘sampai-nanti’ dengan singkat dan Jackson pergi dengan motornya, sementara Jina berbalik dan melihat Taehyung.

“Selamat pagi!” Sapa Jina dengan riang, walau ada perasaan aneh di dalam dirinya. Entah mengapa ia tidak ingin Taehyung melihatnya bersama Jackson. Muka Taehyung tidak menunjukan ekspresinya yang biasa, ekspresi penuh senyum, melainkan ekspresi datar yang tidak bisa di tebak. Tanpa berkata apapun, pemuda itu berbalik dan masuk ke dalam toko roti.

Mendadak rasa sakit menjalar di hati Jina. Ia seharusnya tidak boleh merasakan hal itu karena ia adalah pacar Jackson, bukan Taehyung, Namun kenapa sikap Taehyung yang menjauhinya lebih menyakitinya dari apapun? Selama sehari itu Taehyung yang tadinya dekat dengannya menjadi diam saja, dan melakukan tugasnya dengan benar, tanpa bercanda dan lelucon-lelucon aneh yang terlontar.

“Kau..”

Jina menoleh. Jam kerja mereka berdua sudah selesai dan Jina sedang menunggu Jackson menjemputnya, ketika Taehyung mendadak berbicara padanya lagi dari dalam mobil yang terparkir di depannya.

“Kau, dan dia.. pacaran?”

Jina menggigit bibir bagian bawahnya, ia sangat tidak ingin Taehyung mengetahui hubungannya dengan Jackson namun ia tidak punya alasan untuk menyembunyikan hal itu. Akhinya gadis itu mengangguk. Taehyung sendiri tidak berkata apapun. Pemuda itu hanya menatap Jina selama beberapa saat sebelum menyalakan mobilnya dan melaju pergi. Melihat reaksi Taehyung, Jina merasa ia ingin menangis.

Taehyung sendiri mengemudi dengan cepat, bukan ke arah rumahnya sendiri, melainkan ke arah rumah sahabatnya sejak kecil, Oh Haneul. Dengan mudah pemuda itu ‘menerobos’ masuk dan menemui Haneul di ruang bacanya, yang memandang Taehyung dengan pandangan kaget dan kesal.

“Shin Taehyung! Kau tahu apa yang kau lakukan it—“ Haneul baru memulai omelannya, yang lalu terhenti ketika melihat ekspresi Taehyung. “Kau kenapa?” Tanya Haneul. Yang di tanya tidak menjawab, melainkan menjatuhkan dirinya ke sebelah Haneul dan bersandar sambil menutupi matanya dengan tangannya sendiri.

“Haneul, kau membaca buku-buku medis kan?” Pertanyaan Taehyung membuat Haneul bingung, namun gadis itu tetap menjawabnya.

“Tentu saja. Memangnya ada apa?”

Taehyung mengintip Haneul dari balik tangannya, “Kau tau cara menyembuhkan sakit hati?”

“Kau sakit? Sejak kap—Tunggu, apa katamu tadi? Sakit apa?”

“Sakit hati.”

“Kau yakin bukan kepalamu yang terbentur, Shin Taehyung?” Tanya Haneul, tidak percaya dengan apa yang baru di tanyakan oleh temannya itu. Taehyung menggeleng. Akhirnya Haneul meletakan buku yang tadi sedang di bacanya dan berbalik menatap Taehyung.

“Ceritakan padaku, ada apa sebenarnya..” Perintah Haneul. Taehyung sudah membuka mulutnya ketika pintu ruang baca Haneul kembali terbanting terbuka dan Shin Dongho melangkah masuk ke dalam ruangan.

“Haneul! Kau harus membantuku!” Teriak Dongho sambil berlari mendekat, kemudian ia baru menyadari kehadiran saudara kembarnya yang duduk di sebelah Haneul. “Oh? Taehyung? Kau juga ada disini?”

Kesal karena tampaknya Taehyung tidak akan mau bercerita setelah di ganggu oleh Dongho seperti itu, Haneul melempar bukunya ke arah Dongho, yang berhasil di tangkap dengan sukses.

“Yak!! Haneul!! Kenapa kau melempariku dengan buku?!”

***

Pikiran Haneul akhir-akhir ini terbagi antara masalah Dongho dan masalah Taehyung. Belum lagi keluarganya yang sudah ribut karena Haneul selalu menolak pemuda yang mereka ‘sodorkan’ dalam acara-acara keluarga. Tampaknya Jin juga mengalami masalah yang sama dengan keluarganya.

Semua stress yang di alami gadis itu tampaknya dapat teratasi dengan fakta bahwa ia akan bekerja di cafe. Gadis itu juga tidak tahu kenapa ia menjadi sangat menyukai bekerja di cafe itu. Apakah karena adanya Jimin? Haneul menggeleng, tidak mungkin. Itu sangat tidak mungkin walaupun mereka berdua memang menjadi dekat sejak kejadian es krim, begitu Jimin menyebutnya.

Liburan musim panas hampir berakhir. Kabar bahwa Jackson Wang dan Park Jina berpacaran sudah sampai ke telinganya. Jimin tampaknya terganggu mengenai kabar itu, walau pemuda itu tidak melakukan apapun mengenaninya. Haneul sendiri tidak berani bertanya karena takut Jimin malah akan meledak.

Pagi itu, Joongki meminta dia dan Jimin menjaga cafe sejak pagi. Kunci cafe di berikan pada Haneul dan saat ini gadis itu sedang berjalan ke arah cafe. Ia memang selalu di antar menggunakan mobil pribadi dan supir, namun selalu meminta di turunkan beberapa blok sebelum cafe tempat ia bekerja itu.

Belokan terakhir pun di lewati dan cafe sudah terlihat di depan mata. Jalanan masih sepi karena sebagian besar orang memilih untuk bangun siang. Haneul dapat melihat Jimin berdiri di depan cafe, berpakaian kaos tanpa lengan dan celana selutut, bersandar di pintu cafe. Ketika gadis itu semakin mendekat, ia bisa melihat dan mendengar bahwa Jimin sedang menyanyi. Potongan lagu milik Bruno Mars di nyanyikan dengan indah oleh pemuda itu, walau pelafalannya salah di sana dan disini.

“Suaramu indah.” Kata Haneul. Jimin melonjak kaget dan segera menoleh ke arah Haneul. Pemuda itu tampaknya lega ketika melihat Haneul lah yang menyapanya itu, lalu mengganti ekspresinya dengan muka marah dan kesal, yang Haneul sudah kebal akibat terlalu sering melihatnya.

“Jangan beri tahu siapapun tentang hal itu.” Gerutu Jimin saat Haneul membuka pintu cafe dan mereka berdua masuk.

“Kenapa? Kurasa itu adalah bakat yang indah.”

“Aku tidak suka ada orang yang mengetahuinya.” Kata Jimin seraya meletakan tasnya di dalam lokernya, Haneul sudah melakukan hal yang sama sebelumnya dan sekarang gadis itu sedang berganti baju menjadi seragam di kamar mandi. Mereka berdua sudah biasa melakukan hal ini. Haneul berganti baju di kamar mandi, sementara Jimin di luar, di depan lokernya, namun mereka tetap berdebat tanpa halangan.

“Boss bilang ia sedang mencari penyanyi, kenapa tidak kau saja?” Ujar Haneul seraya memasang celemeknya lalu membantu Jimin, untuk kesekian kalinya, memasang celemeknya sendiri. Jika Jaemee atau siapapun melihat hal ini, mereka selalu mengejek mereka berdua, yang tentu saja langsung berhenti ketika Jimin memberikan pandangan marah.

“Heh. Kau gila..”

“Kau akan mendapat uang tambahan dari itu!”

“Tidak terima kasih.”

“Tapi aku ingin melihat kau menyanyi lagi.”

Mendadak hening, dan Haneul menyadari bahwa kata-katanya yang terakhir sedikit aneh untuk ia katakan pada Jimin. Muka gadis itu memerah lalu langsung mengakhiri perdebatan mereka disitu dan berjalan ke arah pintu, untuk memasang tanda bahwa mereka sudah buka. Sementara Jimin masih berdiri, kaget dengan kata-kata yang tidak terduga dari gadis yang selalu bertengkar dengannya itu.

***

Kilat bagi sebagian besar orang, lambat bagi sebagian kecil, dan biasa saja bagi yang lain, musim panas pun berakhir dan sudah saatnya sekolah, universitas dan kantor kembali memulai kegiatan mereka. Rumor Jackson dan Jina sudah menyebar pesat hingga hampir tidak ada orang yang terkejut ketika mereka berdua berjalan bersama.

Bulan berganti bulan dan musim gugur sudah sampai di puncaknya. Dengan cepat Jina terbiasa dengan fakta bahwa dia adalah pacar Jackson walau tingkah Taehyung yang berubah 180 derajat masih membuatnya terluka setiap kali melihat pemuda itu. Berusaha menghilangkan Taehyung dari pikirannya, Jina sudah mempersiapkan syal rajutannya sendiri sebagai hadiah anniversarynya dengan Jackson.

Hari yang di tunggu-tunggu pun tiba. Untungnya hari itu, universitas di liburkan karena hari itu adalah hari jadi dari universitas mereka. Jina berjalan riang ke arah taman di mana Jackson biasa berkumpul dengan teman-temannya. Ia memang sengaja tidak memberi tahu Jackson ia akan datang mengunjunginya karena ia ingin ini menjadi kejutan.

Gadis itu sudah bisa melihat pacarnya dari kejauhan, bersama teman-temannya yang tidak di kenali oleh Jina. Mereka tertawa-tawa dan suara mereka sangat keras sehingga Jina hanya perlu beberapa langkah lagi untuk dapat mendengar percakapan di antara mereka.

“Sampai kapan kau akan memacari gadis itu, Jackson?” Tanya seorang teman dari Jackson. Jackson hanya tersenyum dan menaikkan kedua bahunya.

“Entahlah.”

“Kau tidak bosan?”

Jackson tertawa, “Sedikit, hanya saja aku memerlukannya untuk menjatuhkan kakaknya.”

Langkah Jina terhenti. Apakah yang ia baru saja dengar itu benar?

“Kau benar-benar pria licik, Jackson. Mengelabui Park Jina dengan bermanis-manis dengannya hanya untuk menjatuhkan kakaknya.” Kata seorang gadis yang duduk di sebelah Jackson. Mata Jina melebar ketika Jackson mencium gadis itu.

“Sudah kukatakan sejak awal aku tidak pernah tertarik pada gadis itu. Ia hanya ‘batu pijakan’ku saja.” Jawab Jackson. Pemuda itu tertawa bersama teman-temannya hingga akhirnya melihat Jina yang berdiri diam tidak jauh dari mereka dengan ekspresi terkejut luar biasa.

“Kau..Kau..” Jina tidak bisa berkata-kata. Matanya penuh dengan air mata dan bibirnya bergetar. Kedua lengannya lurus di sisi tubuhnya dengan tangan terkepal erat. Jackson sudah turun dari tempat duduknya dan berjalan cepat ke arah Jina. Ketika Jackson mendepat, gadis itu menampar Jackson dan berlari pergi sambil menangis.

Suara Jackson yang marah bisa terdengar di belakangnya, namun Jina tidak berhenti. Ia telah tertipu selama ini dan sekarang ia merasa sangat sakit, sakit tidak tertahankan. Baru saja beberapa detik gadis itu berlari, Jackson berhasil menyusul dan menarik tangan Jina dengan keras sehingga gadis itu meringis kesakitan.

“Kau..” Nafas Jackson terengah-engah. “..mendengar semuanya bukan? Jawab aku!!” Jackson mendorong dan menarik Jina dengan kasar sementara air mata gadis itu sudah mengalir deras di pipinya.

“Jawab aku sialan!” Dengan keras Jackson menampar Jina, dan gadis itu terjatuh di aspal yang keras. Pergelangan tangan yang terkilir, pipi yang merah, kini lengannya pun tergores aspal. Entah apa yang akan Jackson lakukan lagi jika sesosok pemuda tidak berlari maju dan menendang perut Jackson sehingga pemuda itu mundur.

Jina tidak bisa melihat dengan jelas akibat air mata memenuhi matanya, namun ketika pemuda itu menawarkan tangannya dan berbicara, ia langsung bisa mengenalinya.

“Kau bisa bangun? Ayo pergi dari sini.” Shin Taehyung membantu Jina berdiri dengan lembut dan menariknya pergi dari situ setelah menonjok Jackson di tambah dengan sebuah tendangan cepat di kaki. Taehyung menggenggam tangan Jina dengan lembut, membuat Jina menyadari betapa ia merindukan Taehyung berbicara dan berjalan sedekat ini dengannya.

Tanpa sadar, Taehyung menuntun Jina ke arah cafe dimana Jimin dan Haneul bekerja. Saat itu Haneul baru saja akan memasang tanda bahwa cafe itu akan buka ketika Taehyung berteriak ke arah gadis itu. Haneul memekik kaget dan hal itu membuat Jimin berjalan keluar, penasaran akan apa yang membuat sang Ice Queen memekik seperti itu. Mata Jimin melebar ketika melihat adiknya yang terluka, dan Jackson yang mengejar di belakangnya.

“JACKSON WANG!!” Jimin berteriak marah dan langsung berlari ke arah Jackson. Perkelahian tidak bisa di hindari lagi sementara Haneul membantu Taehyung membawa masuk Jina ke dalam cafe.

“Cukup!! Jimin cukup!!” Haneul mengeluarkan seluruh tenaganya untuk menarik Jimin mundur. Setelah berhasil menarik Jimin mundur dari Jackson yang tergeletak di aspal, jelas kalah melawan pemimpinnya sendiri, Haneul menatap Jackson dengan tajam.

“Kejadian ini tidak akan di bahas lagi, tapi kau tidak boleh mendekati Jina, Jimin ataupun kelompokmu yang lama dan semua teman-temanku.” Kata gadis itu seraya memegang lengan Jimin, menahannya agar tidak menerjang Jackson kembali. “Aku adalah anggota SO, dan kau tahu sendiri keluargaku. Kau akan menyesal bila tidak mengambil tawaranku ini.”

Jackson mengelap luka di daerah bibirnya lalu meludah ke tanah, dekat di kaki Haneul namun gadis itu tidak bergerak sama sekali selain menatap Jackson dengan tatapan yang tegas. Lain dengan Jimin yang sudah akan menonjok Jackson lagi setelah ia meludah di depan Haneul.

“Jimin!” Haneul harus memeluk lengan Jimin dan menariknya agar tidak menyerang Jackson lagi. Jackson sendiri berbalik dan berjalan pergi tanpa mengatakan apapun. Haneul akhirnya berhasil menyeret Jimin masuk ke dalam cafe dan memaksanya duduk di sebelah Jina.

“Aku akan membuatkan teh lalu merawat lukamu, Jina-ssi.” Kata Haneul sebelum menghilang ke dalam dapur dan balik beberapa saat kemudian, membawa nampan dengan tiga teh mengepul di atasnya. Setelah memastikan Jina, Jimin dan Taehyung menyesap teh mereka setidaknya sekali, Haneul baru mengobati luka-luka Jina dengan kotak P3K yang ada di cafe itu.

“Terima kasih.” Kata Jina setelah Haneul merawat luka-lukanya. Gadis itu tersenyum dan membereskan kotak P3Knya sebelum berdiri dan menatap kedua kakak beradik Park itu.

“Kalian pulanglah.” Kata gadis itu, “Aku bisa menjaga cafe ini sendirian, akan ku jelaskan pada boss nanti mengenai hal ini.” Lanjutnya sambil menatap Jimin. Namun Jimin menggeleng dan berdiri.

“Tidak. Aku tidak akan membiarkan kau sendirian disini setelah apa yang baru saja terjadi.”

Kata-kata Jimin membuat tiga orang yang lain menatap dengan bingung. Taehyung lalu berdeham dan berdiri.

“Aku akan mengantar Jina pulang, tenang saja.” Setelah itu pemuda itu menawarkan tangannya pada Jina, yang di sambut gadis itu. Jimin menatap Taehyung dengan tajam hingga Taehyung dan adiknya keluar dari cafe, namun tidak mengatakan apapun. Pemuda bermarga Park itu tampaknya lebih mempercayai Taehyung, terlebih setelah yang terjadi hari ini.

Tidak ada kata-kata yang tertukar selama perjalanan menuju mobil Taehyung yang di parkir tidak jauh dari tempat berkumpul Jackson. Hanya tangan Taehyung yang menggenggam erat tangan Jina, menenangkan gadis itu selama perjalanan. Di mobil pun tidak ada yang berbicara, dan tangan Taehyung tidak sekalipun melepaskan tangan Jina.

Akhirnya mereka berdua sampai di depan rumah Jina dan Jimin. Taehyung mengikuti gadis itu sampai ke ruang tamu mereka yang sederhana, dimana mendadak Jina terjatuh dan semua kesedihannya tertumpah disana. Merasa bingung dengan kejadian yang tiba-tiba itu, Taehyung hanya bisa berlutut di sebelah Jina dan membiarkan gadis itu menangis di pelukannya.

“If it was me, I will never hurt you.”

Bisikan dari Taehyung membuat tangisan Jina berhenti. Gadis itu menegakkan tubuhnya dan menatap Taehyung. Taehyung sendiri menatap Jina langsung di matanya, dengan pandangan yang tidak pernah ia berikan kepada siapapun sebelumnya.

“Forget him and be with me.”

Jina mengerjap-ngerjapkan matanya, tidak tahu harus berbuat apa di situasi seperti ini. Jantungnya berdebar dengan cepat. Apakah Shin Taehyung baru saja menyatakan cintanya?

Taehyung tertawa ringan, “Bagaimana menurutmu Park Jina? Apakah aku tidak cukup menggantikan Jackson Wang?” Pemuda itu tertawa, tapi rona merah di wajahnya terlihat jelas oleh Jina. Saat itulah ia menyadari bahwa selama ini dia salah, perasaannya bukan terletak pada Jackson dan topeng indahnya itu, tapi pada Shin Taehyung yang sedang bersamanya ini.

“Cukup?” Kata Jina. “Apa kau gila Shin Taehyung?”

Taehyung menggigit bibir bagian bawahnya, merasa cemas akan jawaban Jina. Namun lalu Jina tersenyum walau air mata masih menggenang di matanya. Bukannya menjadi lega, Taehyung malah menjadi semakin panik.

“Tidak! Jangan menangis!” Kata Taehyung panik seraya menyeka air mata Jina dengan kedua jarinya. Gadis itu menggeleng dan memegang tangan Taehyung yang terletak di pipinya.

“Aku menangis karena aku baru menyadari bertapa bodohnya diriku.” Kata Jina. “Bukan Jackson yang selama ini kusuka, tapi dirimu.”

Taehyung terdiam selama beberapa detik lalu membuka mulutnya lebar-lebar. “Maaf?”

“Aku menyukaimu Shin Taehyung, apakah tawaranmu tadi masih berlaku?”

Detik berikutnya Taehyung menarik Jina ke dalam pelukannya, dan gadis itu balas memeluk pemuda itu dengan erat.

“Katakan sekali lagi?” Kata Taehyung. Muka Jina memerah dan bergumam pelan yang tidak bisa di dengan siapapun. Taehyung tertawa melihat tingkah gadis di pelukannya itu, lalu mendekatkan kepalanya ke kuping Jina dan berbisik.

“I love you Park Jina, don’t ever look at other boys again.”

***TBC***

A/N : CHEESY AND WEIRD
I’m sucks at romance, especially confession part.
Sorry for a few part of the conversation that in English because it’ll sounds super weird in Indonesian.
Anyway,  mohon maaf bila ada kesalahan *bows*

Made by : Liz
Take out with full credits please~ ^^

0 komentar:

Posting Komentar