Senin, 10 November 2014

You're My : Chapter 8

Disclaimer    : BTS and all Kpop artists are not mine. Jimin will be soon though (lol kidding).
OC belongs to their rightful owner, while the plot is mine.

Genre       : Romance, Friendship, Comedy, Fluff

"You’re My"
Chapter 8 : My Protection


"Itu tidak bijaksana."

Haneul menoleh ke arah counter dan menatap Jimin. Cafe sudah sepi dan saat itu Haneul sedang membersihkan meja dari pelanggan terakhir. Pemuda yang di tatap Haneul itu memang menepati janjinya dan bekerja hingga akhir walau adiknya tadi terkena masalah dengan anggota kelompoknya sendiri.

"Apanya yang tidak bijaksana?" Jawab Haneul seraya menegakkan tubuhnya dan membawa gelas-gelas kosong ke dalam dapur. Jimin mengikuti gadis itu dan berdiri bersandar di pintu sementara Haneul mencuci gelas-gelas yang kosong itu.

“Tindakanmu terhadap Jackson tadi. Kau hanya mencari masalah dengan berkata begitu padanya.” Kata Jimin. Nada dalam perkataannya berbeda dari biasanya, apakah ia mengkhawatirkan Haneul? Gadis itu tidak bisa menebak nada bicara pemuda itu.

“Tenang saja, ia tidak akan berani melakukan apapun. Aku sudah mengancamnya.” Jawab Haneul tanpa menoleh dari cuciannya sehingga tidak melihat Jimin mengacak-acak rambutnya karena frustasi.

“Bukan itu maksudku.”

Haneul menoleh seraya mengeringkan tangannya, “Lalu?” Gadis itu tidak menunggu jawaban dari pemuda itu dan berjalan melewatinya, menuju counter depan. Jimin mengeluarkan erangan frustasi dengan volume yang kecil dan bergumam pelan sehingga hanya ia yang tahu apa yang ia katakan.

“Aku hanya tidak ingin melihat kau terluka..”

***

Shin Dongho membanting tangannya ke meja makan di mana ia dan saudara kembarnya sedang beristirahat di jam makan siang. Taehyung mengernyit mendengar suaranya keras yang di sebabkan Dongho dan segera memukul tangan saudaranya itu. Dongho malah semakin menatap Taehyung dengan tatapan tajam dan sama sekali tidak bergeming saat di pukuli.

“Kau..bercanda..” Kata Dongho.

Taehyung mukul pipi Dongho dengan pelan, “Aku tidak bercanda dan tolong jangan membesar-besarkan hal ini.” Kata pemuda itu dengan nada pelan walau cengiran jahilnya terpasang di wajahnya. Mata Dongho semakin melebar dan tampaknya ia sudah siap berteriak keliling sekolah karena hal itu.

“Tunggu sampai Haneul tahu..” Kata Dongho akhirnya serasa mengacungkan jari telunjuknya ke muka Taehyung.

“Sampai aku tahu apa?” Haneul mendadak muncul dan duduk di sebelah Dongho, membuat pemuda itu melonjak terkejut. Pemuda itu lalu menatap Haneul dengan tatapan protes karena gadis itu mendadak muncul di belakangnya, yang tentu saja di abaikan oleh gadis yang bersangkutan.

Akhirnya Dongho menyerah berusaha memprotes Haneul dan melirik Taehyung sebelum menatap Haneul lagi. "Kau tahu Haneul, Taehyung punya pacar!" Setelah mengatakan hal itu, pemuda itu menunggu reaksi terkejut Haneul yang ternyata tidak muncul-muncul. Gadis itu hanya mengangguk dan menatap Dongho seakan-akan ia hanya memberi tahu cuaca hari itu.

"Lalu?" Tanya Haneul.

Tanpa sadar, Dongho membuka mulutnya selama beberapa saat, terkejut melihat reaksi Haneul yang biasa saja itu. "K-kau tidak terkejut?!" Kata pemuda itu. Pada akhirnya yang kaget tetaplah Shin Dongho.

"Taehyung memberi tahuku kemarin."

Mulut Dongho terbuka lebih lebar dari sebelumnya. Ia lalu menoleh ke arah Taehyung dengan pandangan marah dan tersinggung. "Kau memberi tahu Haneul lebih dahulu daripada diriku?!"

"Itu karena Haneul lebih bisa di percayai soal hal ini." Jawab Taehyung, cengiran riang yang iseng miliknya sudah kembali setelah menghilang beberapa lama akibat berita Jina berpacaran dengan Jackson. Dongho mengerang protes, yang membuat kedua temannya malah semakin geli dengan tingkah pemuda itu.

Jam makan siang pun selesai, Haneul harus kembali ke kelasnya sementara Taehyung mempunyai janji dengan Jina dan jadilah Dongho di tinggal sendiri. Pemuda itu dengan bosan mengitari kampusnya, malas untuk pulang ke rumah namun tidak memiliki kegiatan apapun di kampusnya. Mendadak sesosok yang familiar tertangkap pandangan matanya. Park Soojin sedang mengobrol bersama seorang pemuda yang Dongho kenali sebagai Kim Seokjin, sepupu Haneul dan sang 'pangeran kampus' berikutnya setelah ia dan Taehyung lulus.

Otomatis Dongho berhenti di bawah tangga, dimana di ujung tangga itu berdiri Soojin yang sedang tertawa bersama Jin. Ia tidak bermaksud menguping atau apapun, namun entah mengapa ia merasa tidak senang ketika Soojin sedekat itu dengan Jin, walau dia seharusnya tidak mempunyai hak untuk hal itu. Tidak lama kemudian Jin menatap jam tangannya dan melambai kepada Soojin sebelum berjalan pergi, yang membuat Dongho, entah mengapa, senang melihatnnya.

"Oi." Kata Dongho, menyapa Soojin yang masih berada di atas tangga. Gadis yang di panggil menoleh dan setelah menemukan sumber suara, ekspresi wajahnya berubah kesal.

"Kau menguping?"

Dongho nyengir dan mulai menaiki tangga. "Itukah caramu menyapa seorang senior?" Pemuda itu hanya berhenti beberapa anak tangga di bawah Soojin dan memasukan kedua tangannya ke kantong celananya. "Kau berteman baik dengan Seokjin?" Lanjut pemuda itu seraya menggerakkan kepalanya dengan asal ke arah yang sama dengan arah Jin pergi tadi.

Soojin menatap tajam Dongho sebelum mengangguk perlahan. "Kau mengenal Jin? Memangnya kenapa kalau aku dekat dengannya?" Balas Soojin, dengan nada yang sinis pula. Bukannya merasa tertekan ketika mendengar nada Soojin, cengiran Dongho malah semakin lebar.

"Ia sepupu dari Haneul, aku melihatnya beberapa kali di pesta yang ku datangi." Jawab Dongho, setengah menyombong bahwa dia adalah orang penting dari keluarga ternama.

"Sepupu dari Haneul sunbae-nim?" Alis Soojin terangkat. Ia memang pernah mendengar dari Jin kalau sepupu pemuda itu adalah salah satu anggota SO, namun ia tidak menyangka sepupu sahabatnya itu adalah  salah satu calon ketua SO berikutnya.

Dongho naik satu langkah lagi, mendekati Soojin, dengan cengiran lebar. “Kau tidak tahu? Wah wah..”

Kesal dengan tindakan pemuda itu, Soojin melangkah turun, mendekati Dongho. Ekspresi wajah yang galak di pasangnya untuk menghadapi seniornya yang satu itu. Namun baru saja ia melangkahkan satu kakinya ke bawah, pijakannya goyah dan ia kehilangan keseimbangan. Otomatis gadis itu memekik kaget dan hal itu juga membuat Dongho luar biasa kaget.

Soojin menutup matanya, mempersiapkan diri untuk terjatuh berulang kali di tangga sebelum akhirnya tergeletak di lantai bagian bawah. Pikiran-pikiran buruk sudah memenuhi kepalanya, apakah ia akan terluka arah atau tidak? Bagaimana nasibnya nanti?, ketika akhirnya ia menyadari ia sama sekali tidak terbentur lantai dingin ataupun merasa sakit, walaupun jelas ia merasa jatuh ke bawah.

Perlahan namun pasti, akhirnya Soojin membuka kedua matanya, dan hal pertama yang dia lihat adalah muka Shin Dongho. Pemuda itu nyengir sarkastik namun jelas matanya menyiratkan kekhawatiran. Cairan berwarna merah mengalir dari sekitar pelipisnya, membuat Soojin menahan keinginan untuk berteriak.

“Hati-hati kalau berjalan lain kali, nona.” Kata Dongho dengan nada yang sarkastik. “Kau tidak apa-apa kan?” Lanjutnya dengan nada yang berbeda. Soojin tidak bisa menjawab dengan kata-kata, seakan-akan kemampuannya untuk berbicara hilang selama sesaat. Namun gadis itu mengangguk, dan hal itu sudah cukup untuk Dongho.

“Baguslah.”

Mata Dongho lalu tertutup dan Soojin langsung menyadari apa yang baru saja terjadi. Dongho menangkapnya saat ia terjatuh tadi dan melindunginya agar tidak terluka. Tangan pemuda itu masih terletak di punggung Soojin, melindungi gadis itu walaupun sekarang ia sudah jelas pingsan.

Dengan cepat, namun berhati-hati agar tidak melukai Dongho lebih jauh, Soojin berdiri dan segera berteriak meminta bantuan. Gedung kampus saat itu cukup sepi dan Soojin sudah nyaris putus asa ketika ia mendengar suara langkah kaki yang berlari mendekat. Gadis itu hampir terkena serangan jantung ketika melihat muka yang sama persis dengan Dongho muncul dari kejauhan. Shin Taehyung berlari mendekat, seakan-akan dia bisa menyadari saudara kembarnya baru saja mengalami kecelakaan.

“Ada apa? Ada apa? Kenapa kau berteriak?” Kata Taehyung seraya berlari mendekat. Muka pemuda itu memucat saat melihat kembarannya tergeletak di lantai dengan kepala yang berdarah. Pemuda itu langsung meneriakan nama kembarannya dan berlari melewati Soojin, ke arah Dongho.

“Apa yang terjadi? Apa yang terjadi padanya?!” Suara Taehyung meninggi karena panik, namun Soojin tidak bisa menjawab. Gadis itu sudah siap menangis ketika suara langkah kaki kembali terdengar. Betapa leganya Taehyung ketika wajah teman masa kecil mereka lah yang muncul. Haneul dan Mark muncul dari atas tangga, keduanya membawa map SO.

“Haneul!!” Teriak Taehyung.

Haneul, yang belum melihat Dongho, mengernyit ketika Taehyung berteriak kepadanya. Namun gadis itu kemudian melihat Dongho dan ekspresi wajahnya memucat, sama seperti Taehyung. Mark juga melihatnya karena dengan cepat ia mengambil map dari Haneul agar gadis itu bebas berlari turun ke arah Dongho.

“Apa yang terjadi?” Tanya Haneul. Suaranya bergetar namun gerak-geriknya mantab saat memeriksa luka Dongho.

“Tanya dia!” Kata Taehyung sambil menunjuk Soojin. Jelas sekali pemuda itu panik karena melihat saudara kembarnya terluka.

“Aku.. aku..” Soojin terbata-bata.

"Sudah, jangan membentaknya." Kata Mark seraya menyimpan kembali handphonenya. Pemuda itu dengan tanggap menelepon ambulans untuk Dongho, mengingat kemungkinan besar Taehyung dan Soojin terlalu panik untuk melakukan itu sementara Haneul terlalu sibuk memberikan pertolongan pertama. Tidak lama kemudian Dongho sudah di bawa pergi dengan ambulans. Taehyung dan Haneul ikut bersama pemuda itu sementara Mark tinggal untuk mengurus perihal kecelakaan itu dengan pihak sekolah. Soojin sendiri berhasil ikut bersama Taehyung dan Haneul setelah berhasil membujuk mereka berdua.

"Akan ku urus pembayaran dan hal lainnya." Kata Haneul setelah Dongho sudah mendapat perawatan dan sekarang masih terbaring pingsan di ranjang rumah sakit yang berwarna putih. Setelah berkata begitu, gadis itu melangkah pergi dari kamar. Taehyung sendiri sudah pergi duluan untuk menelepon orang tua mereka. Dan tinggalah Soojin sendirian menemani Dongho.

Gadis itu sedang menatap tangannya yang terkepal di pangkuannya ketika terdengar suara erangan Dongho yang menandakan pemuda itu sudah sadar dari pingsannya. Dengan cepat gadis itu berdiri, membuat kursi yang tadi ia duduki terjatuh ke belakang, dan mendekati Dongho dengan muka khawatir terpasang di wajahnya.

"Ada apa dengan mukamu itu.." Kata Dongho. Suaranya masih lemah namun nada sarkastik tidak menghilang dari suaranya. Soojin terjebak antara ingin memeluk pemuda itu dan ingin meninjunya. Namun gadis itu merasa lega mendengar suara Dongho, yang membuktikan bahwa pemuda itu baik-baik saja.

Tanpa sadar air mata lega Soojin mengalir, dan melihat hal itu Dongho malah menjadi panik. Pemuda itu memaksakan diri untuk duduk, menyebabkan erangan kesakitan keluar dari mulutnya dan pemuda itu memegang kepalanya dengan kedua tangannya.

"Kau masih belum sembuh benar!" Pekik Soojin panik sementara Dongho masih memegangi kepalanya, kesakitan akibat tindakannya sendiri tadi.

"Menurutmu kenapa aku melakukan itu?!" Balas Dongho. Pemuda itu menatap tajam Soojin dengan tatapan kesal. "Karena kau menangis seperti itu aku jadi panik!!"

Soojin tidak membalas selama beberapa saat, dan kemudian gadis itu malah jatuh berlutut lalu melipat kedua lengannya di atas kasur Dongho dan menyembunyikan mukanya di antara lengannya itu. Hal itu membuat Dongho menghentikan tatapan kesalnya dan kembali menjadi panik.

"Hoy! Jangan menangis lagi!" Kata pemuda itu, setengah bingung setengah panik dengan apa yang harus ia lakukan saat itu.

"Aku kira kau akan mati atau kenapa.." Gumam gadis itu.

Dongho terhenyak sejenak, lalu pemuda itu meletakan tangannya di atas kepala Soojin, membuat gadis itu mengangkat kepalanya dan menatap Dongho. "Kau ini.." Kata Dongho dengan lembut seraya mengusap pelan kepala Soojin. "Aku tidak selemah itu."

Soojin merasakan mukanya memerah. Gadis itu menenggelamkan kepalanya lagi dan menggumamkan sesuatu. Namun suaranya terlalu kecil sehingga Dongho harus memintanya mengulang kata-katanya. Bukannya mengulang perkataannya dengan suara yang lebih jelas, Soojin malah berdiri, mencium pipi Dongho dengan kecepatan kilat lalu berjalan ke arah pintu dan menoleh tepat di ambang pintu, sebelum ia keluar dari ruangan.

"Kubilang, terima kasih telah menyelamatkanku, Oppa."

Dongho berani bersumpah ia melihat muka Soojin memerah sebelum gadis itu berlari keluar ruangan. Pemuda itu juga merasakan mukanya memanas, seakan-akan sedang di rendam dengan air panas.

"Aaargh!!" Seru pemuda itu sambil menjatuhkan dirinya hingga berbaring lagi di kasur. Namun bukan Shin Dongho namanya bila ia tidak bertingkah bodoh. Kepala pemuda itu yang di balut perban terkena ujung ranjang sehingga pemuda itu berguling ke kanan dan ke kiri di atas kasurnya sambil kembali mengerang kesakitan.

***

Jeon Jungkook merapikan peralatannya yang berserakan di atas meja. Pensil, penghapus, penggaris, semua peralatan untuk menggambar miliknya berserakan di atas meja. Pemuda yang baru saja memulai tahun pertamanya sebagai mahasiswa jurusan arsitektur itu menghembuskan nafas berat, dosennya baru saja memberikannya tugas yang merepotkan, dan bahannya susah untuk di dapatkan.

Setelah akhirnya berhasil merapikan semua barangnya ke dalam tas, Jungkook meraih tasnya dan berjalan keluar dari gedung kampusnya. Ia baru saja berjalan melintasi taman ketika dua sosok yang sedang duduk berhadapan, yang di kenalnya menarik perhatiannya. Tanpa sadar senyumnya mengembang di wajahnya dan kakinya melangkah ke arah dua orang itu, Park Soojin, sepupunya dan tentu saja, Park Minra.

Soojin lah yang pertama kali menyadari bahwa Jungkook sedang berjalan ke arah dirinya dan Minra. Mendadak sebuah ide iseng melintas di pikirannya dan sebuah cengiran kecil muncul di mukanya, yang buru-buru ia tutupi dengan batuk kecil. Minra sendiri sibuk menatap majalah yang ia dan Soojin sedang baca sehingga tidak menyadari ada yang mendekati mereka.

“Ah, Jungkook!” Kata Soojin, membuat Minra terlonjak kaget dan menoleh dengan cepat ke arah Soojin memandang. Jungkook juga terkejut ketika sepupunya sendiri menyapa dengan tiba-tiba, namun pemuda itu langsung melambaikan tangannya sebagai sapaan balik dan mempercepat langkahnya.

“Geser.” Perintah Soojin pada Minra, menyuruh gadis itu memberikan ruang di sebelahnya untuk Jungkook.

Muka Minra memerah, "Kau saja yang geser.” Balas gadis itu. Soojin hanya menggeleng dan terus menatap Minra dengan tajam sehingga akhirnya gadis itu menggeser tempat duduknya dan memberikan tempat tepat pada waktunya untuk Jungkook saat pemuda itu tiba di depan mereka.

“Hey.” Sapa pemuda itu dan dengan canggung ia duduk di sebelah Minra, membuat Soojin harus menyembunyikan cengirannya dengan batuk kecil lagi. "Kalian sedang apa?" Lanjut pemuda itu, berusaha memancing percakapan.

"Membaca majalah yang baru kami beli tadi." Jawab Soojin karena tampaknya Minra tidak bisa berkata-kata. Gadis itu lalu pura-pura mengecek handphonenya lalu meraih tasnya dan bangkit berdiri. "Aku harus pulang sekarang, kakakku memintaku pulang cepat. Sampai nanti!!" Dan Soojin pun melesat pergi sebelum Minra dapat memprotes tindakan gadis itu.

Berkat ulah cerdik (dan iseng) dari Soojin, Minra duduk bersebelahan, berdua saja, bersama Jungkook. Selama beberapa saat tidak ada kata-kata yang tertukar di antara mereka, hanya ada keheningan yang menggantung di udara. Hingga akhirnya Jungkook kembali berusaha memancing percakapan dengan Minra.

“Bagaimana dengan kelasmu?” Tanya Jungkook dengan senyuman gugup di mukanya. Pemuda itu menatap Minra walau gadis itu tidak berani menatap balik dan hanya berani mencuri-curi pandang dengan sembunyi-sembunyi.

“Berjalan seperti biasa, bagaimana denganmu?” Kata Minra. “Sudah mulai terbiasa dengan kehidupan di universitas ini?”

Jungkook mengangguk dan tertawa kecil, “Lumayan, walau masih agak berat untuk membiasakan diri.” Ia pun mulai bercerita dan lama-lama Minra tidak menjadi terlalu canggung lagi duduk di sebelah pemuda itu. Bahkan Minra sudah mulai gantian menceritakan kehidupan sekolahnya, yang membuat Jungkook menatap gadis itu dalam diam, walau senyumannya tidak pernah meninggalkan wajahnya.

Minra menyadari tingkah pemuda itu. Gadis itu berhenti bercerita dan menatap Jungkook dengan bingung. “Ada apa?” Tanya Minra. Mengetahui bahwa ia tertangkap basah sedang menatap muka Minra, muka Jungkook berubah menjadi merah dan menggeleng dengan cepat.

“Tidak ada apa-apa, lanjutkan lah.” Kata Jungkook seraya membuang muka selama beberapa saat, berusaha membuat ekspresi mukanya kembali normal. Minra tidak melanjutkan dan malah tetap melihat Jungkook.

“Kau yakin tidak apa-apa?” Kata gadis itu. Jungkook berulang kali mengangguk dengan bersemangat, kelewat bersemangat sebenarnya, agar Minra berhenti menatapnya seperti itu. Ia bisa merasakan mukanya memanas dengan cepat.

Jantung Jeon Jungkook nyaris berhenti ketika Minra meletakan satu tangannya di kening pemuda itu dan tangan lainnya di kening miliknya sendiri. Gadis itu mengecek suhu pemuda yang berada di sebelahnya itu, khawatir pemuda itu terkena demam. Dan bukannya bertambah sembuh, muka Jungkook malah semakin memerah.

“Aneh, tampaknya kau tidak demam.” Kata Minra, masih tidak menyadari bahwa dialah penyebab muka pemuda disebelahnya memerah. Jungkook kehilangan kata selama beberapa saat, dan hanya bisa mengangguk saja sebagai jawaban untuk Minra.

“Ngomong-ngomong!” Jungkook tiba-tiba berkata dengan suara yang cukup keras, membuat Minra terlonjak kecil. “Kau ada waktu minggu ini?”

“Minggu ini? Sepertinya ada..” Jawab Minra sejujurnya.

“Bagus. Maukah kau pergi bersamaku minggu ini?”

Perlu lima detik bagi Park Minra untuk menyadari maksud Jungkook kepadanya. Muka gadis itu otomatis memerah ketika menyadari apa yang baru saja Jungkook katakan. Apakah pemuda itu baru saja mengajaknya kencan?

“K-kalau kau tidak mau juga tidak apa-apa.” Kata Jungkook dengan cepat ketika Minra tidak menjawab. “A-aku hanya berpikir, mungkin.. err.. kau..err..” Pemuda itu berpikir keras, mencari alasan untuk mengajak Minra jalan-jalan. “Oh! Aku hanya berpikir kau mungkin bisa membantuku membeli peralatan kuliah.. Tapi kalau kau sibuk—“

“Aku mau!”

Kata-kata Jungkook terhenti dan kali ini dia yang membutuhkan waktu lima detik untuk memahami kata-kata Minra. Senyuman lebar mengembang di wajahnya. “Kalau begitu, di depan stasiun jam 9?” Dan Minra mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Jungkook tadi.

Tanpa menghilangkan senyuman lebar dari wajahnya, Jungkook berdiri dan mengedip riang. “Sampai ketemu nanti kalau begitu, Park Minra.” Dan pemuda itu berjalan pergi dengan senyuman yang seakan-akan masih akan bertahan hingga hari minggu, hari minggu yang akan menjadi hari yang paling di tunggu-tunggu oleh Park Minra dan Jeon Jungkook.

***


Musik pelan mengalun dengan indah di dalam cafe milik Park Joongki itu. Hari ini adalah hari anniversary dari cafe itu dan sekarang sang pemilik sedang mengadakan pesta kecil yang tertutup, hanya untuk kalangan tertentu yang di undang. Tentu saja yang di undang bisa membawa orang lain ke pesta kecil itu. Park Haneul adalah salah satu dari orang yang di minta Joongki untuk hadir. Ia dan semua pegawai lainnya.

Bahkan Dongho dan Taehyung juga ada di dalam pesta kecil itu, dan dengan jelas menarik perhatian semua gadis yang ada. Taehyung tentu saja tidak mempedulikan gadis manapun dan hanya memandang pacarnya, Jina. Dongho sendiri sibuk menarik perhatian Soojin, walau gadis itu berusaha keras mengabaikan pemuda itu.

“Sejak kapan teman masa kecilmu mendekati adikku.” Park Joongki bersandar di meja, di sebelah Haneul yang sedang menatap sekeliling seraya memegang minuman miliknya. Haneul tertawa kecil, bossnya itu memang sangat protective terhadap adik kesayangannya. Haneul sendiri melihat bahwa Dongho dan Soojin menjadi semakin dekat sejak kejadian kecelakaan Dongho itu.

Dongho bercanda lalu akhirnya Soojin tertawa dan mulai mengobrol bersama pemuda itu, membuat Joongki menggumam kesal dan mulai mendekati adiknya dan pemuda itu. Haneul hanya bisa menggeleng dan menyesap minumannya kembali lalu segera menaruhnya di meja. Ia tidak bisa minum alkohol dengan baik dan minumannya itu mengandung alcohol. Nyaris semua minuman disana beralkohol di pesta itu. Joongki sengaja mengaturnya seperti itu.

Haneul baru saja akan duduk ketika Jaemee mendekati gadis itu dengan muka panik. “Penyanyi yang kita pesan mendadak tidak bisa hadir, bagaimana ini?” Kata Jaemee. Teman Haneul itu tahu bahwa Joongki bisa mengamuk jika tidak ada penyanyi yang mengisi acara.

“Akan kuurus.” Jawab Haneul. Kepalanya sudah mulai pusing akibat dari minumannya tadi. “Akan kucari penyanyi lain.” Dan entah mengapa, yang pertama muncul di pikiran gadis itu adalah Park Jimin. Namun pemuda yang dimaksud itu tidak kelihatan sama sekali sejak Haneul melihatnya datang bersama Jina. Dengan cepat Jimin menghilang dari kerumunan orang-orang begitu pesta di mulai.

“Aku akan segera kembali.” Kata Haneul pada Jaemee dan gadis itu pun membelah kerumunan, mencari Jina yang ternyata juga tidak tahu dimana kakaknya berada. Setelah beberapa saat, akhirnya Haneul menyimpulkan bahwa Jimin tidak berada di dalam cafe itu dan memutuskan untuk mencari pemuda itu di luar cafe.

Pesta di mulai sore hari sehingga ketika Haneul keluar, langit sudah gelap dan jalanan sudah cukup sepi. Alkohol diminumannya tadi pasti cukup kuat, atau memang hari ini dia tidak fit sehingga pikirannya tidak bekerja dengan jernih. Gadis itu mengomel pelan mengenai minumannya tadi, ia seharusnya tidak menerima sodoran dari si kembar yang memaksanya minum tadi.

"Park Jimin! Aku tahu kau di sekitar sini!" Kata Haneul dengan suara yang cukup keras. Ia tahu Jimin tidak akan jauh-jauh dari cafe sementara adik kesayangannya masih berada disana. Haneul menunggu selama beberapa saat sebelum meneriakan kata-kata yang sama lagi hingga akhirnya pemuda yang ia panggil muncul juga, dengan muka sedikit kesal.

"Apa?" Kata pemuda itu dengan kesal. Haneul berkacak pinggang dan balas menatap dengan tajam.

"Disitu kau rupanya. Kabar buruk, penyanyi yang kita sewa mendadak tidak bisa datang." Kata Haneul.

"Lalu?"

"Aku mengusulkan kau saja yang menyanyi."

Ekspresi Jimin seakan-akan ia baru saja menerima musibah besar. Pemuda itu berjalan dengan cepat ke arah Haneul dan setengah membanting gadis itu ke dinding terdekat. "Kau memberi tahu orang lain tentang hal itu?" Suara pemuda itu dipenuh kemarahan. Haneul menepis tangan Jimin di pundaknya lalu mendorong pemuda itu, walau sia-sia karena Jimin tidak mau bergerak dari tempatnya.

"Tidak. Aku tidak bilang pada siapapun. Tapi aku masih berpikir bahwa kau bisa menjadi penyanyi yang hebat." Jawab Haneul dengan tenang, walau kepalanya mulai berdenyut sakit. "Setidaknya jadilah penyanyi di acara ini."

"Tidak." Kata Jimin. Pemuda itu akhirnya mundur dan berbalik pergi. "Pergi dan nikmati saja pesta mu itu. Jangan ganggu aku lagi."

"Hey! Hey!!" Haneul memanggil berulang kali namun Jimin tidak menoleh sama sekali, meninggalkan gadis itu sendirian di jalan yang sudah sepi. "Ada apa dengannya." Gerutu Haneul. Gadis itu berusaha menegakkan tubuhnya namun baru saja tiga langkah ia berjalan, Haneul harus memegang dinding sebagai bala bantuan. Kepalanya sangat pusing sehingga bahkan pandangannya saja sudah mengabur.

"Hai Nona."

Sebuah suara membuat Haneul berbalik dan menatap orang yang memanggilnya tadi. Gadis itu tidak bisa melihat dengan jelas, namun ada sekitar lima pemuda di hadapannya.

"Tampaknya kau dekat dengan Park Jimin." Kata salah satu pemuda itu. Mereka berjalan mendekati Haneul. "Bagaimana kalau kau ikut dengan kami?"

Otak Haneul bekerja secepat yang ia bisa dalam keadaan hampir mabuk itu. Para pemuda di depannya ini pasti preman-preman musuh Jimin yang hendak memanfaatkannya. "Tidak ada gunanya aku ikut dengan kalian. Park Jimin bukan siapa-siapa bagiku dan diriku baginya bukan siapa-siapa juga. Jadi, sampai nanti." Haneul berbalik pergi dan berjalan beberapa langkah kembali sebelum tangannya di tarik dari belakang.

"Oh ya?" Kata preman itu. "Mari kita buktikan kalau begitu." Setelah mengucapkan hal itu, preman-preman itu mendorong Haneul hingga gadis itu terjatuh ke tanah. "Bagaimana kalau kau teriak? Mungkin dia akan menolongmu." Kata salah satu preman itu. Pemuda itu menarik rambut Haneul mendekatinya, memaksa gadis itu mengangkat kepalanya.

Kesal, Haneul meludah ke muka pemuda itu dengan berani. Tamparan keras diterima sebagai akibatnya, membuat bibirnya berdarah saking terlalu kerasnya tamparan itu.

"Gadis yang berani rupanya kau ini. Pantas saja Park Jimin menyukaimu."

Kata-kata itu terngiang-ngiang di telinga Haneul. Mungkin itu hanya bualan mereka namun entah kenapa jantungnya berdebar keras ketika mendengar hal itu. Tamparan lain di terima oleh Haneul karena gadis itu diam saja. Beberapa pemuda teman preman itu tertawa melihat Haneul. Penampilan gadis itu sudah berantakan. Tanah menempel di baju dan badannya, rambutnya, yang masih di tarik oleh preman itu, berantakan tidak karuan.

"Teriaklah! Panggil Park Jimin kesini!!" Kata preman itu. Namun Haneul menutup mulutnya rapat-rapat. Ia tidak ingin menyeret Jimin ke situasi seperti ini. Lima lawan satu orang, jelas bukan pertandingan yang seimbang.

"Mungkin kau kurang keras." Kata preman yang lain. Ia mendekati Haneul dan menendang perut gadis itu. Tendangan itu cukup membuat Haneul mengerang kesakitan. Melihat cara membuat Haneul mengeluarkan suara, pemuda itu menendang berulang kali lagi.

Haneul yakin tubuhnya sudah biru sekarang. Pandangannya sudah buram dan ia yakin tidak lama lagi ia akan jatuh pingsan. Walaupun begitu, ia tersenyum puas. Setidaknya para preman itu tidak mendapatkan apa yang mereka inginkan.

*

Jimin berjalan pelan. Sedikit menyesali kata-katanya pada Haneul tadi. Dan tentu saja, ia merasa tidak enak meninggalkan gadis itu sendirian setelah mencarinya malam-malam begini di jalanan yang sepi. Langkah Jimin akhirnya terhenti dan ia menghembuskan nafas berat lalu berbalik ke tempat ia meninggalkan Haneul tadi. Ia hanya akan mengantarkan Haneul ke cafe saja, hanya itu. Lagi pula tampaknya tadi gadis itu sedikit mabuk sehingga ia pasti memerlukan bantuannya.

Mendadak sebuah suara tertangkap olehnya. Suara itu tidak asing lagi dan Jimin mempunyai feeling buruk mengenai hal itu. Pemuda itu mempercepat langkahnya dan bahkan akhirnya berlari ke arah sumber suara. Matanya melebar ketika akhirnya melihat sang sumber suara. Oh Haneul tergeletak nyaris tak sadarkan diri di tanah, sementara lima orang pemuda yang di kenalinya sebagai preman dari geng musuhnya mengelilingi gadis itu.

Tidak bisa menahan amarahnya lagi, Jimin melompat ke preman terdekat dan melayangkan tinjunya. Hal yang sama ia lakukan kepada preman di sebelahnya dan tendangan kepada preman lainnya. Pertarungan singkat yang hanya berlangsung beberapa menit itu di menangkan oleh Jimin. Biasanya, ia mungkin akan menemukan kesulitan melawan mereka berlima, namun pada saat itu, melihat apa yang mereka lakukan pada Haneul, sudah cukup bagi Jimin untuk menghajar mereka lebih dari biasanya.

"Haneul!" Teriak Jimin setelah semua lawannya lari terpontang-pating. Pemuda itu berlutut di sebelah Haneul dan dengan hati-hati mengangkat gadis itu kepelukannya. "Haneul!!"

Mata Haneul nyaris tertutup, namun ia masih bisa menebak siapa yang baru saja menyelamatkannya itu. Namun kata-kata tidak bisa ia keluarkan dari mulutnya.

"Gadis bodoh, kenapa kau tidak berteriak minta tolong?" Kata Jimin, masih sedikit panik melihat kondisi Haneul yang sangat jauh dari biasanya itu. Mata Haneul perlahan tertutup, gadis itu jatuh pingsan bahkan sebelum memastikan yang membantunya adalah Jimin.

Tangan Jimin mencengkram lengan Haneul dengan kuat seraya mengangkat gadis itu lalu berjalan balik ke arah cafe. Tepat saat itu Dongho dam Taehyung berjalan ke arah Jimin, mereka berdua mencari Haneul yang tidak kunjung balik. Bagaimana pun juga Haneul sudah bagaikan adik perempuan mereka.

"Oh? Jimin?" Kata Taehyung ketika melihat Jimin mendekat. "Apakah kau meli--" Perkataan Taehyung terhenti ketika melihat siapa yang berada di tangan Jimin. Kedua pemuda kembar itu berlari bersamaan ke arah Haneul, namun sementara Taehyung mengambil Haneul dari Jimin, Dongho memukul mundur Jimin. Ekspresi kedua pemuda itu tidak bisa di bilang ramah.

"Jelaskan." Kata Dongho. Suaranya tidak pernah sedingin ini. "Jelaskan padaku kenapa Haneul bisa seperti ini?!"

Jimin tidak menjawab. Pemuda itu hanya menatap Haneul yang sekarang sedang di gendong Taehyung. Setelah hening beberapa saat, akhirnya Jimin membuk mulutnya.

"Ini semua salahku." Jawabnya dengan suara kecil. Mendengar jawaban itu, Dongho memukul Jimin sekali lagi.

"Bajingan. Jangan pernah kau dekati sahabat kami lagi." Kata Dongho. Kemarahannya sampai di puncaknya. Tanpa berkata apapun lagi, pemuda itu berjalan pergi bersama Taehyung, yang membawa Haneul, ke arah mobilnya, hendak membawa Haneul ke rumah sakit secepat yang mereka bisa.

Bunyi mobil melaju pergi sudah menghilang namun Jimin masih belum beranjak dari tempatnya. Ia menatap kedua tangannya yang tadi sempat memeluk Haneul lalu mengepalkan tangannya dengan keras hingga buku-buku jarinya memutih.

"Mungkin ini yang harus aku lakukan sejak dulu." Gumam pemuda itu dengan pelan. Larangan dari Dongho tentang bagaimana ia harus menjauhi Haneul menjadi suatu perintah untuknya. Ia tahu ia seharusnya memang tidak mendekatkan diri pada gadis itu, pada siapapun. Seharusnya mudah menjauhkan diri dari Haneul mengingat mereka hanyalah partner kerja saja.

Namun kenapa rasanya memikirkan hal itu saja sudah cukup menyakitkan?


***TBC***

A/N : HAHAHAHA *flip table*
Anehanehanehaneh orz
Anyway,  mohon maaf bila ada kesalahan *bows*

Made by : Liz

Take out with full credits please~ ^^

0 komentar:

Posting Komentar