Rabu, 10 Desember 2014

You're My - Chapter 9

Disclaimer    : BTS and all Kpop artists are not mine. Jimin will be soon though (lol kidding).
OC belongs to their rightful owner, while the plot is mine.

Genre       : Romance, Friendship, Comedy, Fluff

"You’re My"
Chapter 9 : My Resolvement


Oh Haneul membuka matanya dan mendapati langit-langit ruangan berwarna putih menyapa pandangannya pertama kali. Kepalanya terasa sangat sakit dan daerah sekitar perutnya lebih sakit lagi. Gadis itu berusaha bangun ketika sebuah tangan dengan lembut menahan pundaknya untuk tetap berbaring.

"Kau harus tetap berbaring sayang."

Haneul menoleh dan menatap Hwang Eunhee, ibunya sendiri sedang menatapnya dengan kedua matanya yang menyiratkan kekhawatiran sekaligus cukup lega melihat anak tunggalnya sudah sadar dari pingsannya. "Akan kupanggil dokter dan mengatakan bahwa kau sudah siuman." Kata ibunya kembali seraya berdiri dan berjalan keluar dari kamar.

Jelas mengabaikan kata-kata ibunya tadi, Haneul mengernyit kesakitan saat ia berusaha duduk di kasurnya. Kepalanya masih sangat sakit namun itu tidak menghalangi dirinya mengingat apa yang terjadi. Preman-preman memukulinya, ia nyaris pingsan ketika ia akhirnya di tolong seseorang. Siapakah orang itu, Haneul hanya bisa menebak walau ia tidak yakin.

"Haneul!" Pintu terbuka dan dua muka yang sama persis muncul dari balik pintu itu. Shin Dongho dan Shin Taehyung menunjukan ekspresi lega mereka yang sama persis dan berjalan, setengah berlari, masuk ke arah kasur Haneul. Keduanya sudah hendak memeluk Haneul ketika mendadak berhenti dan menyadari bahwa gadis itu akan kesakitan bila menerima pelukan mereka.

"Bagaimana kabarmu sobat?" Tanya Taehyung. Ia duduk di kursi tempat Eunhee duduk tadi sementara Dongho duduk di tepi kasur Haneul.

"Baik-baik saja." Jawab Haneul.

Dongho mendorong pelan kening Haneul dengan jari telunjuknya. "Jangan berbohong, Nona Oh. Kau tidak sadarkan diri selama sehari lebih dan membuat kami semua khawatir setengah mati." Kata Dongho. "Aku dan Taehyung tidak bisa tidur dan makan karenamu!!

"Diamlah.." Kata Haneul. Namun ia tersenyum karena walau Dongho melebih-lebihkan perkataannya, gadis itu tahu bahwa kedua sahabatnya itu memang mengkhawatirkannya. "Ngomong-ngomong, apa yang terjadi? Bagaimana aku bisa sampai di rumah sakit?"

"Itu harusnya pertanyaan kami, Haneul. Darimana kau mendapat semua luka itu?" Tanya Taehyung dengan tatapan tajam.

"Pertanyaanku d--"

"Pertanyaan kami dulu." Kata si kembar secara bersamaan. Ekspresi serius yang sangat jarang muncul di wajah mereka membuat Haneul bingung. Tidak biasanya mereka seperti ini. Gadis itu menghela nafas dan akhirnya memutuskan untuk menceritakan segalanya pada kedua pemuda itu, bagaimana ia mencari Jimin dan berakhir terkena masalah dengan preman-preman. Namun tentu saja ia menyembunyikan tentang kemampuan Jimin menyanyi.

Setelah Haneul selesai bercerita, Taehyung bersandar ke punggung kursinya dan Dongho mengepalkan kedua tangannya yang terletak di atas pahanya itu. Kedua pemuda kembar itu tidak mengatakan apa-apa selama beberapa saat, dan Haneul menunggu salah satu dari mereka berbicara dan berkomentar.

"Jangan bergaul dengan Park Jimin lagi. Jauhi dia." Kata-kata Dongho membuat Haneul kaget. Gadis itu membayangkan pemuda itu akan mengomelinya tentang kecerobohannya, atau akan meminta maaf karena memaksa Haneul minum. Kata-kata protes sudah akan keluar ketika mata Haneul bertemu dengan mata Dongho. Pemuda itu tidak bercanda soal hal ini.

"Tidak. Kalian salah paham." Kata Haneul. Gadis itu menoleh ke arah Taehyung, berharap pemuda itu bisa mengerti maksudnya.

Taehyung menghembuskan nafas panjang. "Kau di hajar habis-habisan hanya karena kau terlihat dekat dengan Jimin. Bagaimana kalau hal ini terulang lagi dan tidak ada yang dapat menolongmu?" Kata pemuda itu.

"Tapi yang menolongku adalah Jimin bukan?"

Pertanyaan Haneul membuat kedua temannya membeku. Gadis itu menatap tajam Taehyung, yang lebih tidak tahan tatapannya dari kedua pemuda kembar itu.

"Kurasa 'Tolong' bukan kata yang tepat." Kata Taehyung akhirnya. "Ia yang membawamu ke arah cafe, kepada kami. Namun belum tentu ia menolongmu. Bisa saja ia menunggu hingga preman-preman itu pergi baru pergi ke arahmu."

Haneul menggeleng, "Aku yakin dia yang menolongku kemarin."

Dongho mengerang frustasi, "Sudah, jauhi dia saja oke?"

"Tidak."

"Haneul.."

Ekspresi Haneul malah semakin keras. "Tidak. Kenapa aku harus melakukan itu? Yang terjadi padaku bukan kesalahannya."

"Kau akan tetap terancam bahaya bila tetap di dekatnya, Haneul!! Kami tidak mau hal-hal mengerikan menimpamu jadi tolong jauhi dia!!" Suara Dongho meninggi dan volumenya nyaris bisa di bilang setara dengan suara teriakan. Haneul sudah akan membalas ketika Taehyung lebih cepat darinya.

"Kami hanya ingin kau baik-baik saja Haneul." Suara Taehyung lebih tenang daripada suara Dongho tadi. "Hanya itu. Tolong mengerti kami."

Lagi-lagi kesempatan Haneul membalas perkataan kedua sahabatnya di ganggu oleh pintu kamar yang terbuka kembali. Hwang Eunhee dan Oh Hyunseok, ayah Haneul, melangkah masuk kedalam kamar, di ikuti oleh seorang dokter dan suster.

"Kurasa kami pergi dulu." Kata Taehyung seraya berdiri dari kursinya. Dongho juga melakukan hal yang sama. Keduanya tersenyum dan menyapa singkat orang tua Haneul sebelum pamit dan berjalan keluar kamar, meninggalkan Haneul yang sebenarnya masih ingin protes.

***

Kondisi Haneul telah membaik dan tampaknya Jimin menepati janjinya untuk tidak dekat-dekat dengan gadis itu membuat Shin Dongho bernafas lega. Namun ada satu hal yang masih 'mengganjal' di pikirannya. Seorang bernama Park Soojin jelas telah merebut perhatiannya sepenuhnya.

"Tidak."

"Oh ayolah Kwonnie."

Karena frustasi tidak berhasil mendapatkan kontak gadis itu langsung dari orangnya, Dongho akhirnya memutuskan untuk menanyakan salah satu petinggi SO. Ia tidak mau bertanya pada Haneul karena gadis itu pasti masih memprotes mengenai larangan bertemu Jimin itu. Akhirnya mau tidak mau, ia bertanya pada Jokwon, wakil ketua SO dan teman seangkatannya.

"Akan ku traktir kau roti selama seminggu penuh, bagaimana?" Pinta Dongho.

"Kau pikir aku ini maniak roti? Tidak!"

"Kwonnieeeee.."

Setelah berjam-jam, ya berjam-jam penuh rengekan dari Dongho, yang sudah pasti membuat siapapun hilang kesabaran, akhirnya Jokwon menyerah dan memberikan apa yang pemuda itu inginkan, secarik kertas bertuliskan kontak Soojin. Pemuda itu menatap kertas 'keramat' itu dengan pandangan gugup. Semua rencana yang sudah ia susun demikian rupa di otaknya tadi, runtuh sudah.

Akhirnya dengan berani ia mengirim sebuah pesan. Ia terlalu gugup untuk menelepon sehingga sebuah sms menjadi jalur pemecahan.

Park Soojin sendiri sedang duduk di perpustakaan, mengerjakan tugasnya bersama Minra dan Jin, ketika pesan dari Dongho masuk ke hpnya. "Darimana pemuda ini mengetahu kontakku.." Gumam Soojin, namun secara otomatis senyum gadis itu mengembang, dan hal itu tidak luput dari mata Jin dan Minra.

"Ada apa?" Tanya Jin.

"Kau mendadak tersenyum seperti orang gila saat membaca pesan di hpmu. Yang jelas itu bukan dari kakakmu kan?" Timpal Minra.

Soojin menggeleng. "Aku tidak tersenyum seperti orang gila."

"Tapi pesan itu dari seorang laki-laki dan dia bukan kakakmu kan?"

Gadis yang di tanyai menggigit bibirnya sebelum akhirnya mengangguk, membuat Minra nyengir dan ekspresi Jin sedikit menggelap. Soojin jelas mengabaikan pertanyaan Minra yang bertubi-tubi mengenai siapa yang mengirimnya pesan itu hingga mereka berpisah di jalan. Tentu saja ia juga tidak menceritakannya pada kakaknya yang super protective itu. Tidak ada yang tahu selain dirinya sendiri bahwa ia sedang bertukar pesan dengan Shin Dongho, selain tentu saja, pemuda itu sendiri.

Entah sudah berapa puluh sms dari pemuda itu menemaninya hingga larut malam, bahkan hingga paginya dan beberapa hari kemudian. Pemuda itu berulang kali mengajaknya makan siang bersama, namun Soojin terlalu takut (dan gengsi) untuk menerimanya.

From : Shin Dongho
To : Park Soojin
Sampai kapan kau akan menolak ajakan makanku?

--

From : Park Soojin
To : Shin Dongho
Aku hanya enggan dilihat oleh seluruh sekolah. Kau tahu bahwa penggemarmu itu mengerikan? Rumor mengenai Park Jina sunbae-nim yang di labrak  karena pacaran dengan kembaranmu sudah menyebar luas kau tahu?

--

From : Shin Dongho
To : Park Soojin
Kalau begitu, kalau aku mengajakmu ke tempat yang jarang murid sekolah kita, kau akan ikut?

--

From : Park Soojin
To : Shin Dongho
Kemana?

--

From : Shin Dongho
To : Park Soojin
Besok pagi akan ku jemput kau jam 9 di depan stasiun dekat rumahmu. Jangan telat!

--

Soojin menatap layar hpnya dan membaca pesan terakhir Dongho sekitar sepuluh kali lebih dan masih terus memikirkannya dari awal kelas hingga siang hari ketika ia duduk di dalam mobil kakaknya.

"Soojin."

Soojin tersentak dari lamunannya dan menoleh ke arah kakaknya. Gadis itu juga baru menyadari kalau mobil yang di naikinya sudah berhenti dan mereka sudah sampai di depan rumah. Joongki mengerutkan keningnya dan menatap adiknya dengan pandangan penuh tanya sekaligus khawatir.

"Kau tidak apa-apa? Kau melamun sepanjang perjalanan pulang." Tanya Joongki. Soojin otomatis langsung menggeleng dan keluar dari mobil, hal yang sama yang di lakukan oleh Joongki setelahnya. Pemuda yang berusia 29 tahun itu hanya bisa menatap bingung adiknya yang bertingkah aneh sepanjang hari itu. Soojin tidak banyak bicara dan menghabiskan waktunya membongkar lemari bajunya.

"Kau tidak hendak kencan dengan seseorang kan?" Kata Joongki. Pemuda yang bersandar di ambang pintu kamar Soojin itu akhirnya tidak mampu menahan rasa penasarannya lagi. Soojin melonjak terkejut dan langsung menggeleng kepada kakaknya.

"Tidak!! A-aku hanya ada acara besok.." Kata gadis itu, namun wajahnya mengkhianatinya. Pipinya merona merah dan ia tidak berani menatap mata kakaknya secara langsung.

"Mau kuantar besok pa--"

Soojin kembali menggeleng dengan cepat. "Tidak perlu. Aku bisa sendiri. Lagi pula oppa harus berangkat pagi besok bukan?"

Mau tidak mau Joongki mengalah kepada adiknya walau ia sangat ingin mengetahui apa yang adiknya lakukan besok pagi. Sayangnya perkataan gadis itu benar, ia harus bekerja besok dari pagi untuk mengurus cabang cafenya yang berada cukup jauh dari rumah mereka.

"Baiklah. Bersenang-senanglah besok." Setelah berkata begitu, kepala Soojin di usap pelan oleh Joongki dan pemuda itu melangkah pergi. Soojin sendiri menjatuhkan dirinya ke ranjangnya dan memandang langit-langit kamarnya. Setengah menunggu setengah mengkhawatirkan hari esok.

Jam 9 kurang esok harinya, Soojin tiba di depan stasiun, tempat ia dan Dongho sudah berjanji untuk bertemu. Namun sampai jam 9 lewat, tidak ada tanda-tanda Dongho dan hal itu jelas membuat gadis itu kesal. Ia sudah hendak mengirim pesan kepada Dongho ketika sebuah mobil McLaren merah berhenti di depannya dan pintunya terbuka ke atas, membuat gadis itu bisa melihat siapa pengendaranya. Shin Dongho duduk di kursi supir dengan kacamata hitam menggantung longgar di ujung hidungnya. Cengiran lebar terpasang di wajahnya.

"Masuklah." Kata pemuda itu. Melihat sosok Dongho yang tidak bisa di sangkal lagi penampilan mengaggumkannya  itu, mau tidak mau jantung Soojin sedikit berdegup lebih cepat. Gadis itu segera masuk ke dalam mobil demi menghindari pandangan dari orang-orang dan Dongho langsung menutup pintu mobilnya kemvali secara otomatis dan menjalankan mobilnya kembali.

"Kau tahu kau telat?" Kata Soojin seraya berpura-pura marah pada pemuda di sampingnya itu. Dongho melirik gadis di sebelahnya, cengiran tidak menghilang dari wajahnya dari tadi.

"Maaf, aku bingung menentukan baju yang harus kupakai hari ini. Bagaimana menurutmu pakaianku?"

Soojin memperhatikan pemuda itu dari atas sampai bawah dan dalam hati mengakui bahwa style pemuda itu hari ini mengejutkan. Namun karena gengsi, Soojin hanya menjawab dengan anggukan singkat, "Lumayan." Katanya dengan singkat namun sudah mampu membuat Dongho tersenyum lebar.

"Ngomong-ngomong, kita hendak kemana?"

"Rahasia." Jawab Dongho. Soojin sudah berusaha mengorek informasi dari pemuda itu namun Dongho hanya menggeleng dan menutup mulutnya rapat-rapat, atau mengalihkan pembicaraan dengan mudah. Akhirnya Soojin pun menyerah dan memutuskan untuk duduk diam saja di sebelah Dongho, berpura-pura marah pada pemuda itu walau sebenarnya gagal total karena Dongho selalu berhasil membuatnya menjawab pertanyaan atau bahkan tertawa kecil.

Akhirnya mobil tersebut berhenti dan mereka berdua keluar dari mobil. Soojin mengenali dimana mereka berada. Mereka berdiri di depan pintu masuk salah satu amusment park yang cukup terkenal, yang anehnya, saat itu sedang sepi. Soojin menatap sekeliling sebelum menoleh ke Dongho yang baru saja menyerahkan kunci mobilnya pada seorang pria.

"Kenapa kita disini?" Tanya Soojin. Dongho berjalan dan berhenti di sebelah Soojin, menatap sekeliling dengan pandangan bangga.

"Bagaimana menurutmu? Tidak ada murid sekolah kita yang akan melihat kita disini bukan?" Kata Dongho.

"Tentu saja tidak ada karena amusment park ini di tutup untuk hari ini!" Jawab Soojin seraya menunjuk papan pengumuman yang tidak jauh dari mereka. Dongho hanya nyengir dan menggeleng lalau berjalan menuju pintu masuk. Soojin mau tidak mau mengikuti pemuda itu walau dalam hati ia mengomel karena Dongho tidak percaya bahwa amusment park itu di tutup untuk umum hari ini.

"Selamat datang Tuan Muda." Salah satu petugas disana membungkuk rendah pada Dongho ketika pemuda itu mendekat, membuat Soojin menatap dengan heran. Dongho membalas sapaan petugas itu lalu menoleh ke arah Soojin.

"Kau mau masuk atau tidak?"

Soojin hanya terdiam sementara Dongho, tanpa menoleh lagi, masuk ke dalam amusment park itu. Petugas yang tadi menyapa Dongho tersenyum pada Soojin. "Tuan muda menyewa seluruh amusment park ini hari ini khusus untuk anda, Nona Park." Kata petugas itu. "Silahkan masuk dan nikmati waktu anda."

Soojin pun akhirnya melangkah masuk, dimana Dongho sudah menunggunya di depan penjual es krim. Pemuda itu menjulurkan sebuah es krim rasa strawberry pada Soojin sementara dia sendiri memakan es krim rasa cokelat. Tampaknya Soojin masih kehilangan kata-kata karena ia menerima es krim itu sambil menatap Dongho dengan tatapan menuntut penjelasan.

"Jadi bagaimana menurutmu?" Kata Dongho. Pemuda itu memakan es krimnya sambil tersenyum bangga. "Tidak perlu mengantri, berdesak-desakan dan yang terpenting tidak akan ada yang mengenali kita disini."

"Bagaimana caranya kau bisa menyewa seluruh tempat ini?" Tanya Soojin yang akhirnya mulai memakan es krimnya.

Dongho melebarkan senyumannya dan menegakkan tubuhnya dengan bangga. "Karena 'tempat ini' adalah milik keluargaku."

Soojin mengerjap-ngerjapkan matanya saat menatap Dongho selama beberapa detik. "Apa?" Katanya, merasa tidak dapat mempercayai apa yang baru saja ia dengar.

"Seluruh tempat ini milikku." Kata Dongho dengan santai. Pemuda itu menghabiskan sisa es krimnya dengan satu gigitan lalu menarik tangan Soojin yang tidak sedang memegang es krim dan mengajak gadis itu berjalan. "Hari ini seluruh tempat ini untuk kita berdua. Hanya saja ada satu peringatan sebelum kita mulai bermain." Kata Dongho.

"Apa itu?"

Dongho tersenyum, "Berhati-hatilah atau kau bisa jatuh cinta kepadaku."

***

"Kau yakin kau baik-baik saja?"

Haneul mengalihkan pandangannya dari tumpukan tugas yang ia tinggalkan selama di rawat di rumah sakit beberapa hari yang lalu. "Sudah berapa kali ku katakan Mark, aku baik-baik saja."

"Kau yakin?"

"Hentikan menanyakan hal yang sama atau tumpukan kertas ini akan melayang tepat ke arah mukamu."

Mark dengan segera mengatupkan kedua mulutnya walau jelas ia masih khawatir tentang keadaan partnernya itu. Berita soal Haneul di serang sekelompok preman sudah menyebar dan hal itu membuat semua orang khawatir akan keadaan gadis itu. Mereka semua takut Haneul akan di serang lagi. Namun gadis yang bersangkutan malah tidak memikirkan hal itu sama sekali. Hanya ada satu hal yang mengusik pikiran Oh Hanreul, dan itu adalah Park Jimin.

Sejak kejadian malam itu, jelas sekali Jimin menghindarinya. Pemuda itu bahkan tidak masuk kerja dan ketika Haneul melihatnya di lorong gedung kampus, pemuda itu berjalan dengan cepat dan tidak meliriknya sama sekali. Jelas sekali sikap itu membuat Haneul bingung, walau ia tahu salah satu penyebabnya adalah si kembar.

"Bukankah itu hal yang bagus?" Kata Taehyung ketika Haneul menanyakan hal itu pada kedua teman masa kecilnya. Mereka bertiga sedang duduk di bangku taman, menikmati jam kosong yang jarang mereka dapatkan di waktu yang sama. Haneul menatap tajam Taehyung, yang hanya membuang muka ke arah lain, menghindari bertatap mata bersama Haneul.

“Ia hanya akan membahayakanmu.” Gumam Dongho dan tampaknya ia hendak menyudahi topik yang sudah berulang kali di bahas Haneul. Melihat bahwa tidak ada gunanya berdebat dengan kedua pemuda yang keras kepala itu, Haneul mengambil tasnya dan bangkit berdiri.

“Terserah kalian saja kalau begitu.” Kata Haneul. Baru saja ia berjalan menaiki tangga, menuju kelas berikutnya ketika dari arah yang berlawanan, Park Jimin menuruni tangga yang sama. Reaksi pemuda itu sama dengan sebelumnya. Ketika melihat Haneul, Jimin mengalihkan pandangan ke arah lain dan berjalan dengan cepat.

Namun kali ini Haneul tidak akan membiarkan pemuda itu lewat begitu saja. Oh tidak kali ini Haneul akan menghentikannya dan memaksa pemuda itu memberikan penjelasan. Gadis itu berdiri tepat di depan Jimin, dan karena pemuda itu menatap ke arah lain, ia tidak melihat bahwa sekarang Haneul berdiri di depannya. Nyaris saja Haneul di tabraknya jika ia tidak melirik ke depan dan berhenti tepat pada waktunya.

“Park Jimin." Kata Haneul dengan suara tenang. Jimin tidak mempunyai kesempatam menghindari lagi karena gadis itu menatap langsung ke matanya dan memegang tangannya dengan erat. "Aku perlu berbicara denganmu."

"Tapi aku tidak." Jawab Jimin. Kata-kata pertama yang di ucapkannya pada Haneul setelah berhari-hari. "Jadi, sampai nanti." Pemuda itu menepiskan tangan Haneul dan hendak berjalan pergi lagi sebelum pundaknya di tarik kembali oleh Haneul. Kesal dengan tindakan gadis itu, Jimin kembali menepiskan tangan Haneul dengan kasar lalu berbalik dan mendorong gadis itu ke dinding.

"Dengan Oh Haneul.." Kata pemuda itu, berusaha terdengar sedingin mungkin walau sebenarnya ia tidak ingin melukai gadis itu lagi. "Jangan ganggu aku lagi mengerti? Aku muak dengan wajahmu itu." Jimin lalu melepaskan Haneul dan berbalik pergi tanpa menoleh lagi, walaupun ia sendiri merasa jijik dengan perkataannya barusan. Namun ini demi gadis itu, ia tidak bisa menghindarinya lagi. Jika ia ingin Haneul baik-baik saja, berapapun sakitnya itu, ia harus melakukannya.

***

Park Jina menatap bingung kakaknya yang biasanya bersemangat untuk bekerja di akhir minggu namun kali ini hanya tiduran malas di atas kasurnya. Jimin hanya menatap hpnya berulang kali, menggelengkan kepalanya dan menaruh kembali hpnya ke sebelah kepalanya. Namun kemudian ia mengambil hpnya lagi, melihatnya dan siklus kembali terulang.

"Oppa, kau tidak bekerja hari ini?" Tanya Jina yang akhirnya tidak tahan untuk tidak bertanya pada kakaknya itu. Jimin hanya menoleh sekilas menatap Jina lalu kembali menatap langit-langit kamarnya.

"Aku akan berganti pekerjaan jadi tidak, aku tidak masuk hari ini."

Oke ini aneh, sebelumnya, walau Jimin tidak mengatakan dengan sejujurnya, Jina dapat melihat kalau pemuda itu sangat menikmati pekerjaannya. Namun gadis itu tidak sempat bertanya lebih jauh karena suara ketukan di pintu membuatnya melonjak kaget.

"Sebentar!" Kata Jina seraya berjalan ke pintu, di ikuti oleh Jimin yang memang selalu was-was jika ada yang mengetuk pintu rumah mereka. Pintu pun di buka dan muka Taehyung muncul dengan senyuman yang lebar di wajahnya.

"Sudah siap?" Kata Taehyung. Ia dan Jina memang mempunyai janji kencan hari itu. Muka Jina berubah merah dan menggeleng dengan panik. Mereka sudah resmi jadian beberapa lama namun tetap saja Jina mudah tersipu di depan Taehyung. Gadis itu berlari masuk ke dalam rumah lagi, meninggalkan Jimin dan Taehyung dengan suasana awkward.

"Kau tidak bekerja?" Tanya Taehyung. Jimin menggeleng.

"Tidak. Aku akan berhenti bekerja di cafe itu dan mencari pekerjaan lain. Tenang saja." Jawab Jimin. Ia langsung berbalik dan berjalan masuk ke dalam kamarnya dan hanya menjawab dengan sahutan ketika Jina pamit kepadanya. Selama sejam kedepan, pemuda itu sama sekali tidak melakukan apa-apa selain berbaring dan menatap langit-langit kamarnya. Hp nya sudah berbunyi sekitar tiga kali, semuanya dari bossnya yang tidak dia angkat. Tidak ada telepon dari Haneul. Seharusnya ia merasa lega karena gadis itu mengikuti perintahnya, namun ada bagian kecil dari dirinya yang sedikit kecewa sang Ice Queen menurut begitu saja.

Akhirnya pemuda itu bangkit berdiri dan memutuskan untuk memulai mencari pekerjaan baru. Rumah di kuncinya dan ia mulai melangkahkan kakinya. Dengan sengaja ia memilih tempat yang jauh dari cafe tempat Haneul bekerja namun tampaknya mencari pekerjaan tidak semudah sebelumnya. Setelah beberapa saat mengelilingi daerah yang ia pilih itu, Jimin belum menemukan tempat bekerja satupun juga.

Akhirnya, karena frustasi dan juga lelah, pemuda itu beristirahat di taman terdekat. Entah sudah berapa lama ia tidur di rerumputan sambil menatap langit yang lama kelamaan berubah warna menjadi oranye. Matanya sudah nyaris tertutup dan akan tertidur ketika sepasang kaki yang berhenti berjalan tepat di sebelahnya menarik perhatiannya. Jimin menoleh dan melirik ke atas hanya untuk melihat Oh Haneul menatap balik padanya.

"Kenapa kau menghindariku seperti itu? Ini tidak seperti dirimu yang biasa." Kata Haneul tanpa basa-basi lagi. Jimin duduk namun menolak untuk menatap Haneul walau gadis itu terang-terangan melotot kepadanya.

"Kau berkata seolah kau mengenalku dengan baik." Jawab Jimin dengan dingin. Ia tidak bisa menatap ekspresi Haneul ketika ia mengatakan hal ini karena ia sendiri merasa sakit ketika mengatakan hal itu.

"Memang. Atau setidaknya aku pikir aku mengenalmu."

Jawaban Haneul lebih terasa berat dari yang ia pikirkan. Sebelum kejadian itu, Jimin memang telah membuka diri sedikit demi sedikit pada gadis itu, walau sebagian besar tidak ia sadari.

"Baiklah jika kau memang ingin menjauhiku. Tapi jangan berhenti dari pekerjaanmu, biar aku saja yang berhenti." Jimin merasakan Haneul berbalik dan berjalan pelan menjauhi dirinya. Pemuda itu menatap tangannya yang dari tadi ia kepalkan. Apakah ini benar-benar yang ia inginkan? Ia bisa merasakan bahwa Haneul merasakan sakit yang sama dengannya.

Tidak. Bukan ini.

Park Jimin bangkit berdiri dan berlari, menyusul Haneul yang belum berjalan jauh dar tempatnya duduk tadi. Dengan tegas namun selembut mungkin, pemuda itu menarik tangan Haneul, membuat gadis itu menatapnya. Ekspresi bingung dan terkejut jelas terpasang di wajahnya.

"Tidak."

Haneul mengerutkan keningnya. Tidak? Apa maksud pemuda itu dengan kata 'Tidak'? Apakah dia tetap ingin mengundurkan diri dari pekerjaannya? Namun sebelum Haneul sempat bertanya, Jimin melanjutkan kata-katanya.

"Aku tidak ingin menjauhi atau menghindarimu. Aku.." Jimin menghela nafas dan menghembuskannya kembali. "I just don't want you to be hurt."

Tanpa sadar, Haneul menahan nafasnya. "Explain."

"All this time, I have put you into danger, and i didn't realize that until..... that night." Kata Jimin. "I-if I get close to you, you'll just getting hurt more and more."

Haneul bisa merasakan genggaman tangan Jimin semakin erat. Gadis itu lalu meletakan satu tangannya di pipi pemuda itu, membuatnya menatapnya langsung tepat di mata.

"I don't mind getting hurt by you. For you." Jawab Haneul. Selama beberapa detik mereka berdua berpandangan seperti itu, hingga akhirnya Jimin melangkah maju, mendekati Haneul dan akhirnya mencium gadis itu, tepat di bibir. Haneul tidak menyangka Jimin akan melakukan hal itu, walau ia juga tidak mendorong pemuda itu menjauh.

"Don't regret this choice, Oh Haneul." Kata Jimin saat ia melepaskan ciumannya. Mukanya memerah walau jelas ia berusaha tetap bersikap cool.

"I won't." Jawab Haneul sambil tersenyum. "Ever."

***TBC***

A/N : Hngg.. no comment #plak
Anyway,  mohon maaf bila ada kesalahan *bows*

Made by : Liz
Take out with full credits please~ ^^

0 komentar:

Posting Komentar