Disclaimer : BTS and all Kpop artists are not mine.
Jimin will be soon though (lol kidding).
OC belongs to their rightful owner, while the plot is
mine.
Genre :
Romance, Friendship, Comedy, Fluff
"You’re My"
Chapter 5 :
My Thoughts
Park Minra menghembuskan nafas panjang
dan menopang kepalanya dengan satu tangan di meja. Sahabat gadis itu hanya bisa
menatapnya dengan pandangan heran, belum pernah ia melihat Minra bertingkah
seperti itu. Frustasi karena senior mereka, Mark? Pernah. Frustasi karena
pelajaran? Sering. Tapi kali ini entah mengapa Soojin merasa alasan di balik
tindakan gadis itu berbeda dari biasanya, dan belum pernah terjadi sebelum ini.
"Apa yang terjadi padamu?"
Tanya Soojin akhirnya, tidak tahan melihat tingkah Minra yang aneh itu. Minra
menatap sahabatnya selama beberapa waktu sebelum akhirnya membuka mulutnya.
"Sepertinya aku menyukai
seseorang..."
Soojin nyaris tersedak minumannya
sendiri. Apa kupingnya tidak salah mendengar? Park Minra? Park Minra
sahabatnya? Gadis yang kadang kelakukan dan mentalnya tidak sesuai dengan
umurnya itu baru saja mengatakan bahwa ia menyukai seseorang?
Minra mencubit tangan Soojin ketika
melihat reaksi gadis itu yang sedikit berlebihan. “Kenapa? Apakah salah jika
aku menyukai seseorang?”
“Tidak. Tentu saja tidak. Aku hanya
kaget.” Jawab Soojin seraya mengelus-elus tangan yang baru di cubit Minra tadi.
“Siapa yang kau suka? Tolong jangan jawab Mark sunbae-nim.”
“Yak!! Soojin!!” Minra memukul tangan
temannya sementara yang di pukul hanya menghindar sambil tertawa puas.
Setidaknya Minra tidak sepenuhnya melupakan sisi anak kecilnya ini. “Tidak
mungkin aku menyukainya!!”
“Baiklah, baiklah..” Soojin berhenti
tertawa dan menatap Minra. “Siapa kalau begitu?”
Minra terdiam sejenak, lalu mukanya
langsung memerah. Gadis itu memegang pipinya dengan kedua tangan lalu
menggelengkan kepalanya dengan keras. Soojin harus menahan dirinya untuk tidak
tertawa gemas melihat tingkah Minra.
“Aku ragu kau mengenalnya, ia bukan
dari universitas ini.”
“Baiklah, setidaknya beri tahu ia
berasal dari universitas mana?”
“Ia bahkan belum masuk universitas.”
Dan Soojin nyaris tersedak untuk yang
kedua kalinya. “Maksudmu.. Dia lebih muda?!” Kata Soojin dengan volume yang
tidak bisa dibilang kecil itu. Minra harus menutupi mulut Soojin untuk mencegah
gadis itu berteriak lebih lanjut.
Atas desakan Soojin, akhirnya Minra
bercerita bagaimana ia bisa berkenalan dengan pemuda idamannya itu. Ketika
mengetahui kalau mereka berdua sering pulang bersama, Soojin memutuskan untuk
melihat pemuda yang di ceritakan Minra dengan kedua matanya sendiri.
“Soojin, kita tidak akan pulang
sekarang?” Tanya Joongki yang hari itu menjemput adik semata wayangnya di
universitas. Sang adik pun menggeleng keras.
“Maaf Oppa, tapi tolong tunggu
sebentar.” Kata Soojin, di jawab kembali dengan gerutuan tidak jelas dari
Joongki karena ia harus menunggu diam di depan stasiun subway karena Soojin
telah memutuskan untuk mengikuti Minra sampai tempat dia dan ‘sang pemuda’
bertemu jika akan pulang bersama setiap harinya.
“Minra, mana dia?” Tanya Soojin. Minra
diam saja dan memperhatikan sekelilingnya. Jungkook seharusnya sudah muncul di
sebelah vending machine yang berada tidak jauh dari tempat ia dan Soojin serta
Joongki bersembunyi beberapa menit yang lalu. Gadis itu sudah mulai putus ada
dan menyangka Jungkook terlalu sibuk hari itu sehingga tidak bisa pulang
bersama ketika akhirnya sosok yang ia tunggu datang juga.
“Mana? Yang mana?” Tanya Soojin lagi
ketika ekspresi wajah Minra yang berubah secara mendadak itu. Muka Minra
menjadi berseri-seri dan mukanya memerah. Minra mengangkat tangannya dengan
malu-malu dan menunjuk pemuda yang bersandar di dinding sebelah vending
machine. Jungkook menatap jam tangannya dan menoleh ke kanan dan ke kiri, jelas
sekali sedang menunggu seseorang. Headphonenya yang berwarna merah dan hitam
tergantung di lehernya.
Soojin tersenyum lebar ketika ia
melihat pemuda yang di tunjuk Minra, namun senyumannya lama-lama menghilang dan
di gantikan dengan ekspresi bingung bercampur tidak percaya. “Pemuda itu? Yang
memakai headphone?” Tanya Soojin seakan-akan ia tidak percaya bahwa pemuda yang
di maksud Minra adalah Jungkook.
“Iya itu.” Jawab Minra sambil
mengangguk-angguk bersemangat. Soojin sudah hendak mengatakan sesuatu namun di
potong dengan tindakan kakaknya sendiri yang menjulurkan kepalanya dan menatap
ke arah yang sama dengan kedua gadis itu. Pemuda berumur 29 tahun itu juga
melihat Jungkook dan ekspresinya sama seperti adiknya.
“Kau menyukai pemuda itu?” Tanya
Joongki dan Minra kembali mengangguk. Mendadak Joongki keluar dari ‘persembunyian’
mereka dan melambaikan tangannya ke arah Jongkook. “Kookie!!” Teriak Joongki,
membuat Minra dan Soojin hanya bisa berdiri diam kaget dan tidak bisa
menghentikan tindakan pemuda itu.
Jungkook terlonjak kaget dan segera
mencari sumber suara yang memanggilnya itu. Betapa kagetnya Minra ketika
Jungkook tersenyum dan membungkuk ke arah Joongki sementara pemuda yang lebih
tua itu menepuk-nepuk punggung Jungkook.
“Hyung! Tidak kusangka kita berdua
akan bertemu disini!” Kata Jungkook. “Soojin noona bersamamu?”
Joongki mengangguk dan melambaikan
tangan ke arah Soojin dan Minra, menyuruh kedua gadis itu mendekat. Setengah di
seret Soojin, Minra ikut berjalan bersama sahabatnya ke arah Joongki dan
Jungkook. Jelas sekali Jungkook kembali kaget ketika melihat Minra.
“Kau kaget?” Kata Joongki dan Jungkook
mengangguk. “Kami juga. Tidak kusangka sepupuku sendiri mengenal sahabat
adikku.” Joongki menepuk-nepuk punggung Jungkook lagi. “Mungkin tidak hanya
sekedar mengenal eh?” Dan pemuda yang lebih tua itu tertawa, membuat Jungkook
menatap dengan bingung, Minra menundukan kepala dengan malu, dan Soojin menatap
dengan hopeless.
Setelah tertawa, Joongki menepuk
punggung Jungkook sekali lagi lalu mengucapkan sampai nantinya dengan singkat
kemudian menyeret Soojin pergi. Gadis yang di seret itu pun mengucapkan sampai
nantinya dengan singkat sebelum hilang dari pandangan, meninggalkan Jungkook
dan Minra yang melambai awkward.
“N-noona ternyata sahabat Soojin
noona.” Kata Jungkook, memecah keheningan yang menggantung beberapa saat secara
awkward diantara dia dan Minra.
“Aku juga tidak menyangka bahwa kau
sepupu dari Soojin.” Jawab Minra
Dan. Hening. Lagi.
Awkward.
“Kita pulang?” Kata Jungkook. Minra
hanya bisa mengangguk dengan awkward dan mereka berdua menunggu subway dalam
keheningan. Setelah beberapa saat, Jungkook menoleh dengan tiba-tiba.
“Noona?”
“Y-ya?”
Jungkook mengacak-acak rambutnya
dengan sedikit gugup. Senyuman manis namun tegang terpasang di wajahnya. “Ya..
Akan susah bila kita saling menunggu seperti tadi jadi..”
Minra merasakan nafasnya tertahan,
sudah dapat mengira apa yang akan di katakan pemuda di sebelahnya ini.
“Noona, bisakah kita bertukaran nomor
telepon?”
***
Pagi yang biasa untuk seluruh
mahasiswa dan mahasiswi yang akan memulai kelas mereka. Biasa disini termasuk
dengan teriakan kapten dari team baseball dan sepak bola yang frustasi dengan
kedua anggota mereka, siapa lagi kalau bukan si kembar yang terkenal, Shin
Dongho dan Shin Taehyung?
Bagaimana kejadiannya sehingga kedua
anak itu membuat kekacauan sepagi itu? Mari kita kembali ke sekitar 30 menit
yang lalu, saat Shin Dongho baru saja tiba di lapangan baseball.
"Shin Dongho!!" Kapten dari
team baseball, seorang mahasiswa di tahun keempat yang memiliki nama Kang
Daesung berjalan mendekat. Dari nada suara dan ekspresi di wajahnya, bisa
dikatakan ia tidak datang dengan suasana hati yang senang. Namun Dongho tetap
santai melihat itu semua. Pemuda itu meletakan barang-barangnya lalu menunggu
kaptennya berjalan mendekatinya.
"Kau membolos latihan kemarin
bukan?" Kata Daesung, jelas sudah kesal dengan tingkah pemuda yang
sebenarnya 'Ace' dari team baseball itu. "Kau ini!" Daesung menyambar
kuping Dongho tanpa menunggu jawaban apapun dan menjewernya dengan keras.
"Ampun! Papa ampun papa!!"
"Aku bukan ayahmu!!"
"Tapi namamu mirip
dengannya!!"
Daesung melepaskan kuping Dongho dan
mulai memukul tangan pemuda itu. "Sejak kapan Shin Daehyun dan Kang
Daesung adalah nama yang mirip!!"
"Sejak aku mengenal nama
panjangmu, Papa!!" Setelah berkata begitu, Dongho langsung berlari,
meninggalkan Daesung yang menggeram kesal lalu mengejar pemuda itu. Seakan-akan
sudah terencana, Dongho berlari dan berbelok ke arah lapangan sepak bola,
tempat kembarannya berada.
"Taehyung!" Teriak Dongho
sambil berlari ke arah pemuda yang sedang melakukan pemanasan itu. "Papa
mengamuk! Tolong!"
Taehyung terdiam sejenak lalu segera
mengerti apa yang Dongho maksud ketika melihat kaptem dari team baseball
berlari menyusul di belakang kembarannya. Cengiran jahil terpasang di wajah
pemuda itu dan ia berlari ke arah kaptennya sendiri, Choi Minho.
"Mama mama!! Tolong papa
mengamuk!!" Teriak Taehyung saat ia sudah berada di dekat Minho. Teriakan
Taehyung membuat ia mendapat satu jitakan keras di kepala dari Minho.
"Sudah kubilang jangan panggil
aku itu!!" Geram Minho.
"Tapi kau mamaku!!"
"Mamamu bernama Choi Meeho, dan
namaku Choi Minho!!"
"Mirip lah.."
Dan sebuat jitakan mendarat lagi di
kepala pemuda itu. Sebuah jitakan lain menyusuk di kepala Dongho karena pemuda
itu juga melakukan hal yang sama dengan Taehyung. Tidak lama kemudian Daesung
pun menyusul mereka.
"Papa Mama jahat!!"
"Sudah pasangan homo, jahat
lagi!" Lalu serempak, si kembar berlari kabur ke arah gedung kampus mereka
di sertai dengan teriakan dari kedua kapten mereka. Dan itulah penyebab
universitas itu sudah rusuh sejak pagi. Tidak ada yang menghentikan mereka
karena satu-satunya yang bisa menghentikan mereka, Oh Haneul, sedang tidak ada
di kampus saat itu.
Merasa aman karena Haneul tidak
memiliki kelas pagi itu, Dongho dan Taehyung memanfaatkan kesempatan itu untuk mengejek
kapten mereka habis-habisan walau itu artinya mereka akan di kejar mengelilingi
universitas.
"Jika Haneul mengetahui hal ini,
kalian akan mati." Kata Minho saat mereka berempat kehabisan nafas dan
sejenak memutuskan untuk menghentikan kejar-kejaran mereka.
"Sayangnya, nona iblis bernama
Haneul itu tidak mengetahuinya.." Kata Dongho dengan tenang.
"Tidak mengetahui apa? Dan sejak
kapan panggilanku adalah Nona Iblis, Shin Dongho?"
Dongho dan Taehyung menoleh, dan
seketika wajah mereka berubah menjadi pucat pasi. Oh Haneul berdiri dengan
tangan terlipat di belakang mereka, memandang dengan galak. Daesung dan Minho
berpandangan satu dengan yang lain dengan puas. Mereka nyaris bersorak ketika
si kembar mendapat jitakan keras dari Haneul. Gadis itu ternyata sudah datang
sejak tadi, namun tertahan di ruang SO. Walaupun begitu, itu tidak menutupi
suara kekacauan yang dibuat oleh si kembar.
"Maafkan mereka." Kata
Haneul sambil membungkuk pelan pada kedua kapten yang ada. Dongho dan Taehyung
sudah berdiri manis, walau dengan muka cemberut, di sebelah kapten mereka, siap
kembali untuk latihan.
"Entah apa yang akan kami lakukan
jika tidak dibantu olehmu, Haneul." Kata Daesung. "Maaf mengganggumu,
SO sedang sibuk dengan pemilihan ketua baru bukan?"
Haneul mengangguk, dia sendiri adalah
salah satu tim sukses dari calon ketua berikutnya. Bukan sekedar anggota team
malah, ia bisa di katakan 'tangan kanan' dari Son Gain, seniornya yang adalah
calon ketua SO. Itulah sebabnya dia ada di kampus sepagi itu walau sebenarnya
ia tidak mempunyai kelas pagi.
Setelah pamit dan membawa kedua
anggota team mereka masing-masing, Daesung dan Minho pun berjalan pergi,
kembali ke lapangan masing-masing, sementara Haneul memperhatikan hingga mereka
berempat hilang dari pandangan sebelum berbalik dan berjalan pergi.
"Bagaimana?" Tanya Mark saat
Haneul sudah kembali ke ruangan SO. Kedua orang itu diminta senior mereka
mengawasi persiapan pemilihan ketua. Sama seperti Haneul, Mark bisa di katakan
seorang 'tangan kanan' juga, hanya saja dari Jokwon, calon ketua lainnya.
"Beres. Kedua anak kembar itu
sudah kembali latihan." Jawab Haneul sambil duduk di tempatnya, di
seberang Mark, dan mulai mengerjakan kertas-kertas yang menjadi tugasnya lagi.
"Nampaknya kita sudah menemukan
ketua SO tahun depan.." Kata Mark seraya tersenyum
Haneul mengernyit, "Siapa? Aku?
Jangan bercanda."
"Jika tidak kau, lalu
siapa?"
"Masih ada dirimu, Mark."
Mark memberikan cengiran geli pada
Haneul. "Aku? Lebih tidak mungkin daripada dirimu, Haneul." Pemuda itu
lalu membereskan barangnya lalu bangkit berdiri. Ia memang sudah bilang bahwa
ia memiliki kelas pagi itu. "Lagi pula tampaknya aku akan lebih menikmati
peran wakil ketua." Sampai pemuda itu hilang di balik pintu, cengirannya
tidak luntur sama sekali dan hal itu membuat Haneul sebal.
Beberapa saat kemudian Haneul berdiri
dan mulai membereskan barang-barangnya karena kelasnya akan dimulai. Semua
berjalan seperti biasanya bagi gadis itu. Kelas, pertemuan SO, rapat pribadi
bersama Gain, mengatur ini dan itu, hingga akhirnya ia diijinkan pulang oleh
seniornya itu.
Langit sudah berwarna oranye kemerahan
ketika Haneul melangkah keluar dari gedung kampus. Nyaris tidak ada orang lagi
disekitar situ. 'Nyaris', karena Park Jimin yang tadinya sedang berdiri bersandar
disalah satu pohon dekat gerbang universitas, menegakkan tubuhnya dan berjalan
ke arah Haneul. Gadis itu hanya bisa mengernyit kesal ketika melihat pemuda
itu, dan berharap semuanya berlalu dengan cepat karena ia sudah lelah.
"Apa lagi?" Tanya Haneul ketika
Jimin berhenti tepat di depannya.
Jimin menatap gadis di depannya selama
beberapa saat sebelum akhirnya membuka mulutnya. "Jackson, kau tahu siapa
dia kan?" Haneul pun mengangguk sebagai jawaban. "Bagus." Lanjut
Jimin. "Ia tidak bertanya hal apapun yang aneh kan? Dan jika ia
menanyakan, ku larang kau menceritakan apapun."
Haneul tidak menjawab. Gadis itu lah
yang kali ini menatap Jimin selama beberapa saat lalu menjawab dengan suara
dingin. "Memangnya kau siapa, menyuruhku seperti itu?" Setelah berkata
begitu, Haneul berjalan melewati Jimin dan sebelum pemuda itu dapat mengatakan
apapun, ia menoleh dan menambahkan lagi. "Lagi pula apa yang mau
kuceritakan? Tidak ada apa-apa yang terjadi."
Dan Oh Haneul meninggalkan Park Jimin
yang terhenyak dan entah mengapa, merasa kalimat terakhir Haneul menganggunya.
***
Brak!
Seorang gadis nyaris melompat kaget
ketika meja di depannya di pukul dengan kasar. Handphonenya tergeletak di meja
karena terlepas dari genggamannya saat ia kaget tadi. Gadis itu mengira akan
melihat anggota kelompok kakaknya, terutama Jackson yang selalu 'menganggunya'
hampir setiap hari. Namun ternyata ia salah, Shin Taehyung menatapnya dengan
cengiran yang biasa.
"Yo!" Kata pemuda itu sambil
mengambil tenpat duduk di depan Jina. "Kau sedang apa?"
"Hanya bermain dengan
handphoneku.." Jawab Jina. Ia mendadak risih karena stare yang berasal dari para gadis lain di sekitar mereka tidak
nyaman. Taehyung sendiri tampaknya tidak menyadari hal itu, atau hanya sekedar
mengabaikannya.
"Jika hanya bermain, muka mu
tidak akan terlihat seperti orang kesusahan seperti itu.” Cengiran Taehyung
bertambah lebar setelah ia mengatakan hal itu.
“Bisa saja karena game yang kumainkan memang susah.”
Taehyung menatap dengan alis
terangkat, tidak menyangka akan mendengar jawaban seperti itu dari gadis di
hadapannya ini. “Serius, apa yang sedang kau lakukan..” Tanpa bisa di cegah
Jina, pemuda itu mengambil handphone Jina yang tergeletak di atas meja dan
mulai membaca isinya.
“Kembalikan!” Kata Jina seraya berusaha
merebut handphonenya. Tapi Taehyung lebih cepat. Untuk menghindari Jina, ia
berdiri dan mulai berlari kecil sambil menghadap ke belakang, ke arah Jina yang
mengejarnya.
“Kau sedang mencari pekerjaan?” Tanya
Taehyung, masih berlari dengan posisi yang sama.
“Bukan urusanmu!” Jawab Jina. Panik
karena ia harus mendapatkan handphonenya kembali namun ia sudah menjadi pusat
perhatian di taman itu karena tingkah Taehyung yang menyusahkannya.
Mendadak Taehyung berhenti berlari,
sehingga Jina yang masih berlari langsung menabraknya. Tangan Taehyung
memegangi pundak gadis itu sehingga mereka berdua tidak jatuh. Jina dapat
merasakan mukanya memerah, terlebih ketika Taehyung menatapnya langsung ke
mata.
“Kalau begitu, aku punya ide yang
bagus!”
Jina mengerjap-ngerjapkan matanya
beberapa kali namun ekspresi muka Taehyung masih sama di hadapannya.
Bersemangat dengan cengiran lebar yang tidak lupa terpasang.
“Ide bagus?” Tanya Jina. Taehyung
mengangguk beberapa kali lalu berbisik di kuping gadis itu.
“Tunggu di depan gerbang kampus jam 3
siang nanti,” Taehyung mengedip sekali lalu mengembalikan handphone milik Jina
sebelum berlari pergi. “Sampai nanti!!”
Jina tidak bisa bereaksi sama sekali.
Sekitar lima detik ia berdiri mematung, dan ketika akhirnya ia berhasil
berbalik dan hendak pergi, segerombolan gadis menghadang jalannya, nampaknya
mereka berasal di tahun yang sama namun Jina tidak mengenali satu orang pun.
“Apa hubunganmu dengan oppa kami?”
Tanya gadis yang berdiri di tengah, nada suaranya sinis dan dingin. Jina
mengernyit, inilah yang ia khawatirkan ketika Taehyung duduk di depannya. Fans
pemuda itu pasti tidak akan tinggal diam. Universitas mereka mempunyai kelompok
mengerikan lain selain kelompok preman yang di ketuai kakaknya, Jimin, yaitu fanclub dari si kembar yang merupakan ‘Pangeran
Kampus’.
“Tidak ada apa-apa..” Jawab Jina,
berusaha berjalan melewati gadis-gadis itu, namun pundaknya di dorong dan ia
berjalan mundur kembali, ke tempatnya tadi lagi.
“Jangan bohong!” Teriak gadis yang
lain. “Jangan menganggap karena kau adik dari Park Jimin kau bisa berbuat
seenaknya!”
“Aku tidak—“
“Diam!” Kata-kata Jina di potong
dengan tajam. Para gadis itu berjalan mendekat dengan muka yang bisa di bilang
sangar. “Kami tidak ingin mendengar alasan, kami ingin mendengar yang
sebenarnya.”
“Apa yang kalian lakukan?”
Serentak semuanya menoleh ke arah
sumber suara dan tanpa di beri aba-aba apapun, gadis-gadis anggota fanclub itu langsung mundur beberapa
langkah, menunduk sopan pada seseorang yang tidak bisa di lihat Jina karena
tertutup oleh gadis-gadis itu, dan berjalan pergi dengan langkah cepat.
Oh Haneul memperhatikan hingga
sekelompok gadis yang tingkahnya bisa lebih sangar daripada preman itu
menghilang dari pandangan lalu menatap Jina. "Kau tidak apa-apa?"
"Bagaimana kau melakukan
itu?" Tanpa sadar itulah kata-kata pertama Jina yang tampaknya kagum
melihat reaksi kelompok gadis itu pada Haneul. Yang di tanya mengernyit dan
Jina langsung menyadari ketidak sopanannya.
"Maafkan aku, aku seharusnya
berterima kasih terlebih dahulu.” Kata Jina terburu-buru dan membungkuk pelan,
namun Haneul melambaikan tangannya, menandakan ia tidak mempermasalahkan hal
itu.
“Tidak apa-apa.” Kata Haneul. “Dan
mengenai bagaimana aku melakukannya, entahlah.” Bahu gadis itu terangkat, “Mereka
menjadi seperti itu sejak mereka kalah berdebat denganku tahun lalu.”
“Berdebat.”
Haneul mengangguk, “Berdebat. Seperti
yang tadi mereka lakukan padamu.” Jina bisa melihat kilatan jahil di mata
Haneul, yang entah mengapa, mengingatkannya pada kilatan di mata Taehyung.
Bedanya, di mata Haneul hanya terlihat sesaat sementara Taehyung selalu
memilikinya.
“Tindakan mereka suka berlebihan,
jangan sungkan untuk datang padaku bila mereka mengganggu lagi.” Kata Haneul.
Gadis itu mengatakannya sambil mengecek jam tangannya. “Aku harus pergi, sampai
nanti Jina-ssi.” Dan Haneul juga menghilang dari pandangan, meninggalkan Jina
yang masih sedikit bingung.
Jam-jam pun terlewati dengan cepat.
Sesuai permintaan Taehyung, Jina menunggu di pintu gerbang pada jam 3 tepat.
Lima menit, sepuluh menit, lima belas menit, namun Taehyung tidak kelihatan
sama sekali. Jina sudah nyaris menyerah dan akan pulang ketika terdengar suara
klakson mobil. Sebuah mobil Porsche silver melesat di sebelahnya. Atap mobil
itu terbuka dan di dalamnya, di kursi supir, duduklah Taehyung dengan kacamata
hitam menggantung longgar di wajahnya.
“Naiklah.” Kata Taehyung. Perlu
sekitar lima detik bagi Jina untuk merespon perkataan pemuda itu. Baru saja
Jina masuk dan duduk, Taehyung langsung menginjak gas dan melesat maju,
mengabaikan pekikan protes Jina saat mobil itu melaju dengan luar biasa cepat.
“Kita akan kemana?” Tanya Jina.
Taehyung hanya bergumam ‘rahasia’ dan terus menyetir mobilnya dengan cepat,
membawa Jina sekali lagi ke tempat yang gadis itu sama sekali tidak tahu.
Akhirnya mobil Taehyung berhenti di
sebuah toko roti besar dengan dinding berwarna putih. Tulisan nama toko roti
itu, “Toxicomane” di cat dengan warna merah, membuat toko itu terlihat elegan.
Pemuda itu turun dan masuk ke dalam toko, dengan Jina membuntut di belakangnya.
“Selamat datang Tuan Muda.” Seorang
pemuda yang kurang lebih berumur 25 tahun itu sambil membungkuk sopan saat
melihat Taehyung masuk.
“Hallo, Jaeseop!” Jawab Taehyung pada
pemuda itu. “Kau sudah mendapat pesan dari Papa bukan?”
“Sudah Tuan Muda.”
Taehyung nyengir, “Bagus!” Tangannya
lalu meraih tangan Jina dan menarik gadis itu ke depan, lalu mendorongnya
mendekati Jaeseop, yang ternyata adalah manager utama toko roti milik keluarga
Shin itu. “Ini dia, Park Jina. Perlakukan dia dengan baik.”
“Tentu saja, Tuan Muda.” Jaesop
menjawab dengan senyuman lembut terpasang di mukanya. “Kim Jaeseop, manager
toko ini. Senang berkenalan denganmu, Nona Park.”
“Park Jina, senang berkenalan denganmu
juga.” Jawab Jina sambil membungkukkan badannya sedikit dan menyambut uluran
tangan Jaeseop yang mengajaknya bersalaman.
“Kalau begitu, sampai nanti!” Kata
Taehyung. Pemuda itu sudah berbalik dan hendak berjalan pergi ketika Jaeseop
memanggilnya kembali.
“Maaf Tuan Muda, Ayah anda meminta
saya untuk memperkerjakan anda juga.” Kata Jaeseop.
Taehyung berbalik dan menatap Jaeseop
dengan tidak percaya, mulutnya terbuka lebar sebelum satu kata keluar dari
mulutnya itu. “Apa?”
“Taehyung, tutup mulutmu, itu
memalukan.” Seorang pria muncul dari pintu masuk dan berjalan mendekati mereka.
Otomatis semua pekerja yang berada di toko itu membungkuk sopan pada pria yang
baru masuk itu, termasuk di antaranya Jaeseop. Taehyung menoleh dengan kaget.
“Papa!”
Ayah dari si kembar, Shin Daehyun
mengacak rambut anak bungsunya yang hanya berbeda dua menit dari saudara
kembarnya, Dongho. “Kau harus bekerja disini juga, bagaimana pun juga sebentar
lagi liburan musim panas bukan?” Kata Daehyun dengan cengiran yang persis sama
dengan anaknya jika sedang jahil. “Jaeseop!”
“Ya Tuan?”
“Perlakukan dia dengan keras ya!”
“Baik Tuan.”
“Papaaa!!”
Jina hanya bisa bengong melihat
kejadian yang begitu cepat di depannya, ayah dari si kembar tertawa
terbahak-bahak melihat reaksi anaknya lalu mendadak menatap ke arah Jina.
“Park Jina-ssi?” Jina mengangguk dan
Daehyun menepuk kepala Jina beberapa kali. “Selamat bekerja!” Setelah berkata
begitu, Daehyun pergi begitu saja.
“Baiklah, kalian berdua bisa mulai
bekerja sekarang.” Kata Jaeseop sambil menepuk tangannya sekali. Jina mengikuti
pemuda itu ke arah dapur sementara Taehyung membuntut dengan enggan. Setelah
beberapa penjelasan, kedua anak itu mulai bekerja. Berulang kali Taehyung
membuat kesalahan konyol dan Jaeseop harus membantu dan mengomelinya beberapa
kali, membuat pemuda yang tidak pernah bekerja sebelumnya itu merajuk kecil.
Melihat tingkah Taehyung yang seperti
anak-anak itu, mau tidak mau Jina tertawa melihatnya. Pertama kalinya gadis itu
tertawa di depan orang lain selain kakaknya untuk waktu yang cukup lama, dan
jelas pertama kali di depan Taehyung. Pemuda itu tercengang dan memperhatikan
Jina yang sedang tertawa.
“Ah.” Kata Jina, baru menyadari
tingkahnya yang tidak biasa untuk dirinya itu. “Maafkan aku.”
Taehyung, yang masih tercengang,
menggeleng. “Tidak apa-apa. Aku suka saat kau tertawa.”
Sedetik, dua detik, tiga detik dan
muka Jina langsung berubah menjadi merah padam. Mereka berdua tidak mengatakan
apa-apa lagi dan melanjutkan kegiatan mereka dalam diam, walau jelas pikiran
mereka berada di tempat lain, Jina di perkataan Taehyung, dan Taehyung di
bayangan Jina tertawa yang masih jelas di ingatannya itu.
***TBC***
A/N : The longest chapter so far.. Planning to speed
this ff in order to make another one #slapped
Mohon maaf bila
ada kesalahan *bows*
Made by : Liz
Take out with full credits
please~ ^^

0 komentar:
Posting Komentar