Rabu, 15 Oktober 2014

You're My - Chapter 5

Disclaimer    : BTS and all Kpop artists are not mine. Jimin will be soon though (lol kidding).
OC belongs to their rightful owner, while the plot is mine.

Genre       : Romance, Friendship, Comedy, Fluff

"You’re My"
Chapter 5 : My Thoughts


Park Minra menghembuskan nafas panjang dan menopang kepalanya dengan satu tangan di meja. Sahabat gadis itu hanya bisa menatapnya dengan pandangan heran, belum pernah ia melihat Minra bertingkah seperti itu. Frustasi karena senior mereka, Mark? Pernah. Frustasi karena pelajaran? Sering. Tapi kali ini entah mengapa Soojin merasa alasan di balik tindakan gadis itu berbeda dari biasanya, dan belum pernah terjadi sebelum ini.

"Apa yang terjadi padamu?" Tanya Soojin akhirnya, tidak tahan melihat tingkah Minra yang aneh itu. Minra menatap sahabatnya selama beberapa waktu sebelum akhirnya membuka mulutnya.

"Sepertinya aku menyukai seseorang..."

Soojin nyaris tersedak minumannya sendiri. Apa kupingnya tidak salah mendengar? Park Minra? Park Minra sahabatnya? Gadis yang kadang kelakukan dan mentalnya tidak sesuai dengan umurnya itu baru saja mengatakan bahwa ia menyukai seseorang?

Minra mencubit tangan Soojin ketika melihat reaksi gadis itu yang sedikit berlebihan. “Kenapa? Apakah salah jika aku menyukai seseorang?”

“Tidak. Tentu saja tidak. Aku hanya kaget.” Jawab Soojin seraya mengelus-elus tangan yang baru di cubit Minra tadi. “Siapa yang kau suka? Tolong jangan jawab Mark sunbae-nim.”

“Yak!! Soojin!!” Minra memukul tangan temannya sementara yang di pukul hanya menghindar sambil tertawa puas. Setidaknya Minra tidak sepenuhnya melupakan sisi anak kecilnya ini. “Tidak mungkin aku menyukainya!!”

“Baiklah, baiklah..” Soojin berhenti tertawa dan menatap Minra. “Siapa kalau begitu?”

Minra terdiam sejenak, lalu mukanya langsung memerah. Gadis itu memegang pipinya dengan kedua tangan lalu menggelengkan kepalanya dengan keras. Soojin harus menahan dirinya untuk tidak tertawa gemas melihat tingkah Minra.

“Aku ragu kau mengenalnya, ia bukan dari universitas ini.”

“Baiklah, setidaknya beri tahu ia berasal dari universitas mana?”

“Ia bahkan belum masuk universitas.”

Dan Soojin nyaris tersedak untuk yang kedua kalinya. “Maksudmu.. Dia lebih muda?!” Kata Soojin dengan volume yang tidak bisa dibilang kecil itu. Minra harus menutupi mulut Soojin untuk mencegah gadis itu berteriak lebih lanjut.

Atas desakan Soojin, akhirnya Minra bercerita bagaimana ia bisa berkenalan dengan pemuda idamannya itu. Ketika mengetahui kalau mereka berdua sering pulang bersama, Soojin memutuskan untuk melihat pemuda yang di ceritakan Minra dengan kedua matanya sendiri.

“Soojin, kita tidak akan pulang sekarang?” Tanya Joongki yang hari itu menjemput adik semata wayangnya di universitas. Sang adik pun menggeleng keras.

“Maaf Oppa, tapi tolong tunggu sebentar.” Kata Soojin, di jawab kembali dengan gerutuan tidak jelas dari Joongki karena ia harus menunggu diam di depan stasiun subway karena Soojin telah memutuskan untuk mengikuti Minra sampai tempat dia dan ‘sang pemuda’ bertemu jika akan pulang bersama setiap harinya.

“Minra, mana dia?” Tanya Soojin. Minra diam saja dan memperhatikan sekelilingnya. Jungkook seharusnya sudah muncul di sebelah vending machine yang berada tidak jauh dari tempat ia dan Soojin serta Joongki bersembunyi beberapa menit yang lalu. Gadis itu sudah mulai putus ada dan menyangka Jungkook terlalu sibuk hari itu sehingga tidak bisa pulang bersama ketika akhirnya sosok yang ia tunggu datang juga.

“Mana? Yang mana?” Tanya Soojin lagi ketika ekspresi wajah Minra yang berubah secara mendadak itu. Muka Minra menjadi berseri-seri dan mukanya memerah. Minra mengangkat tangannya dengan malu-malu dan menunjuk pemuda yang bersandar di dinding sebelah vending machine. Jungkook menatap jam tangannya dan menoleh ke kanan dan ke kiri, jelas sekali sedang menunggu seseorang. Headphonenya yang berwarna merah dan hitam tergantung di lehernya.

Soojin tersenyum lebar ketika ia melihat pemuda yang di tunjuk Minra, namun senyumannya lama-lama menghilang dan di gantikan dengan ekspresi bingung bercampur tidak percaya. “Pemuda itu? Yang memakai headphone?” Tanya Soojin seakan-akan ia tidak percaya bahwa pemuda yang di maksud Minra adalah Jungkook.

“Iya itu.” Jawab Minra sambil mengangguk-angguk bersemangat. Soojin sudah hendak mengatakan sesuatu namun di potong dengan tindakan kakaknya sendiri yang menjulurkan kepalanya dan menatap ke arah yang sama dengan kedua gadis itu. Pemuda berumur 29 tahun itu juga melihat Jungkook dan ekspresinya sama seperti adiknya.

“Kau menyukai pemuda itu?” Tanya Joongki dan Minra kembali mengangguk. Mendadak Joongki keluar dari ‘persembunyian’ mereka dan melambaikan tangannya ke arah Jongkook. “Kookie!!” Teriak Joongki, membuat Minra dan Soojin hanya bisa berdiri diam kaget dan tidak bisa menghentikan tindakan pemuda itu.

Jungkook terlonjak kaget dan segera mencari sumber suara yang memanggilnya itu. Betapa kagetnya Minra ketika Jungkook tersenyum dan membungkuk ke arah Joongki sementara pemuda yang lebih tua itu menepuk-nepuk punggung Jungkook.

“Hyung! Tidak kusangka kita berdua akan bertemu disini!” Kata Jungkook. “Soojin noona bersamamu?”

Joongki mengangguk dan melambaikan tangan ke arah Soojin dan Minra, menyuruh kedua gadis itu mendekat. Setengah di seret Soojin, Minra ikut berjalan bersama sahabatnya ke arah Joongki dan Jungkook. Jelas sekali Jungkook kembali kaget ketika melihat Minra.

“Kau kaget?” Kata Joongki dan Jungkook mengangguk. “Kami juga. Tidak kusangka sepupuku sendiri mengenal sahabat adikku.” Joongki menepuk-nepuk punggung Jungkook lagi. “Mungkin tidak hanya sekedar mengenal eh?” Dan pemuda yang lebih tua itu tertawa, membuat Jungkook menatap dengan bingung, Minra menundukan kepala dengan malu, dan Soojin menatap dengan hopeless.

Setelah tertawa, Joongki menepuk punggung Jungkook sekali lagi lalu mengucapkan sampai nantinya dengan singkat kemudian menyeret Soojin pergi. Gadis yang di seret itu pun mengucapkan sampai nantinya dengan singkat sebelum hilang dari pandangan, meninggalkan Jungkook dan Minra yang melambai awkward.

“N-noona ternyata sahabat Soojin noona.” Kata Jungkook, memecah keheningan yang menggantung beberapa saat secara awkward diantara dia dan Minra.

“Aku juga tidak menyangka bahwa kau sepupu dari Soojin.” Jawab Minra

Dan. Hening. Lagi.

Awkward.

“Kita pulang?” Kata Jungkook. Minra hanya bisa mengangguk dengan awkward dan mereka berdua menunggu subway dalam keheningan. Setelah beberapa saat, Jungkook menoleh dengan tiba-tiba.

“Noona?”

“Y-ya?”

Jungkook mengacak-acak rambutnya dengan sedikit gugup. Senyuman manis namun tegang terpasang di wajahnya. “Ya.. Akan susah bila kita saling menunggu seperti tadi jadi..”

Minra merasakan nafasnya tertahan, sudah dapat mengira apa yang akan di katakan pemuda di sebelahnya ini.

“Noona, bisakah kita bertukaran nomor telepon?”

***

Pagi yang biasa untuk seluruh mahasiswa dan mahasiswi yang akan memulai kelas mereka. Biasa disini termasuk dengan teriakan kapten dari team baseball dan sepak bola yang frustasi dengan kedua anggota mereka, siapa lagi kalau bukan si kembar yang terkenal, Shin Dongho dan Shin Taehyung?

Bagaimana kejadiannya sehingga kedua anak itu membuat kekacauan sepagi itu? Mari kita kembali ke sekitar 30 menit yang lalu, saat Shin Dongho baru saja tiba di lapangan baseball.

"Shin Dongho!!" Kapten dari team baseball, seorang mahasiswa di tahun keempat yang memiliki nama Kang Daesung berjalan mendekat. Dari nada suara dan ekspresi di wajahnya, bisa dikatakan ia tidak datang dengan suasana hati yang senang. Namun Dongho tetap santai melihat itu semua. Pemuda itu meletakan barang-barangnya lalu menunggu kaptennya berjalan mendekatinya.

"Kau membolos latihan kemarin bukan?" Kata Daesung, jelas sudah kesal dengan tingkah pemuda yang sebenarnya 'Ace' dari team baseball itu. "Kau ini!" Daesung menyambar kuping Dongho tanpa menunggu jawaban apapun dan menjewernya dengan keras.

"Ampun! Papa ampun papa!!"

"Aku bukan ayahmu!!"

"Tapi namamu mirip dengannya!!"

Daesung melepaskan kuping Dongho dan mulai memukul tangan pemuda itu. "Sejak kapan Shin Daehyun dan Kang Daesung adalah nama yang mirip!!"

"Sejak aku mengenal nama panjangmu, Papa!!" Setelah berkata begitu, Dongho langsung berlari, meninggalkan Daesung yang menggeram kesal lalu mengejar pemuda itu. Seakan-akan sudah terencana, Dongho berlari dan berbelok ke arah lapangan sepak bola, tempat kembarannya berada.

"Taehyung!" Teriak Dongho sambil berlari ke arah pemuda yang sedang melakukan pemanasan itu. "Papa mengamuk! Tolong!"

Taehyung terdiam sejenak lalu segera mengerti apa yang Dongho maksud ketika melihat kaptem dari team baseball berlari menyusul di belakang kembarannya. Cengiran jahil terpasang di wajah pemuda itu dan ia berlari ke arah kaptennya sendiri, Choi Minho.

"Mama mama!! Tolong papa mengamuk!!" Teriak Taehyung saat ia sudah berada di dekat Minho. Teriakan Taehyung membuat ia mendapat satu jitakan keras di kepala dari Minho.

"Sudah kubilang jangan panggil aku itu!!" Geram Minho.

"Tapi kau mamaku!!"

"Mamamu bernama Choi Meeho, dan namaku Choi Minho!!"

"Mirip lah.."

Dan sebuat jitakan mendarat lagi di kepala pemuda itu. Sebuah jitakan lain menyusuk di kepala Dongho karena pemuda itu juga melakukan hal yang sama dengan Taehyung. Tidak lama kemudian Daesung pun menyusul mereka.

"Papa Mama jahat!!"

"Sudah pasangan homo, jahat lagi!" Lalu serempak, si kembar berlari kabur ke arah gedung kampus mereka di sertai dengan teriakan dari kedua kapten mereka. Dan itulah penyebab universitas itu sudah rusuh sejak pagi. Tidak ada yang menghentikan mereka karena satu-satunya yang bisa menghentikan mereka, Oh Haneul, sedang tidak ada di kampus saat itu.

Merasa aman karena Haneul tidak memiliki kelas pagi itu, Dongho dan Taehyung memanfaatkan kesempatan itu untuk mengejek kapten mereka habis-habisan walau itu artinya mereka akan di kejar mengelilingi universitas.

"Jika Haneul mengetahui hal ini, kalian akan mati." Kata Minho saat mereka berempat kehabisan nafas dan sejenak memutuskan untuk menghentikan kejar-kejaran mereka.

"Sayangnya, nona iblis bernama Haneul itu tidak mengetahuinya.." Kata Dongho dengan tenang.

"Tidak mengetahui apa? Dan sejak kapan panggilanku adalah Nona Iblis, Shin Dongho?"

Dongho dan Taehyung menoleh, dan seketika wajah mereka berubah menjadi pucat pasi. Oh Haneul berdiri dengan tangan terlipat di belakang mereka, memandang dengan galak. Daesung dan Minho berpandangan satu dengan yang lain dengan puas. Mereka nyaris bersorak ketika si kembar mendapat jitakan keras dari Haneul. Gadis itu ternyata sudah datang sejak tadi, namun tertahan di ruang SO. Walaupun begitu, itu tidak menutupi suara kekacauan yang dibuat oleh si kembar.

"Maafkan mereka." Kata Haneul sambil membungkuk pelan pada kedua kapten yang ada. Dongho dan Taehyung sudah berdiri manis, walau dengan muka cemberut, di sebelah kapten mereka, siap kembali untuk latihan.

"Entah apa yang akan kami lakukan jika tidak dibantu olehmu, Haneul." Kata Daesung. "Maaf mengganggumu, SO sedang sibuk dengan pemilihan ketua baru bukan?"

Haneul mengangguk, dia sendiri adalah salah satu tim sukses dari calon ketua berikutnya. Bukan sekedar anggota team malah, ia bisa di katakan 'tangan kanan' dari Son Gain, seniornya yang adalah calon ketua SO. Itulah sebabnya dia ada di kampus sepagi itu walau sebenarnya ia tidak mempunyai kelas pagi.

Setelah pamit dan membawa kedua anggota team mereka masing-masing, Daesung dan Minho pun berjalan pergi, kembali ke lapangan masing-masing, sementara Haneul memperhatikan hingga mereka berempat hilang dari pandangan sebelum berbalik dan berjalan pergi.

"Bagaimana?" Tanya Mark saat Haneul sudah kembali ke ruangan SO. Kedua orang itu diminta senior mereka mengawasi persiapan pemilihan ketua. Sama seperti Haneul, Mark bisa di katakan seorang 'tangan kanan' juga, hanya saja dari Jokwon, calon ketua lainnya.

"Beres. Kedua anak kembar itu sudah kembali latihan." Jawab Haneul sambil duduk di tempatnya, di seberang Mark, dan mulai mengerjakan kertas-kertas yang menjadi tugasnya lagi.

"Nampaknya kita sudah menemukan ketua SO tahun depan.." Kata Mark seraya tersenyum

Haneul mengernyit, "Siapa? Aku? Jangan bercanda."

"Jika tidak kau, lalu siapa?"

"Masih ada dirimu, Mark."

Mark memberikan cengiran geli pada Haneul. "Aku? Lebih tidak mungkin daripada dirimu, Haneul." Pemuda itu lalu membereskan barangnya lalu bangkit berdiri. Ia memang sudah bilang bahwa ia memiliki kelas pagi itu. "Lagi pula tampaknya aku akan lebih menikmati peran wakil ketua." Sampai pemuda itu hilang di balik pintu, cengirannya tidak luntur sama sekali dan hal itu membuat Haneul sebal.

Beberapa saat kemudian Haneul berdiri dan mulai membereskan barang-barangnya karena kelasnya akan dimulai. Semua berjalan seperti biasanya bagi gadis itu. Kelas, pertemuan SO, rapat pribadi bersama Gain, mengatur ini dan itu, hingga akhirnya ia diijinkan pulang oleh seniornya itu.

Langit sudah berwarna oranye kemerahan ketika Haneul melangkah keluar dari gedung kampus. Nyaris tidak ada orang lagi disekitar situ. 'Nyaris', karena Park Jimin yang tadinya sedang berdiri bersandar disalah satu pohon dekat gerbang universitas, menegakkan tubuhnya dan berjalan ke arah Haneul. Gadis itu hanya bisa mengernyit kesal ketika melihat pemuda itu, dan berharap semuanya berlalu dengan cepat karena ia sudah lelah.

"Apa lagi?" Tanya Haneul ketika Jimin berhenti tepat di depannya.

Jimin menatap gadis di depannya selama beberapa saat sebelum akhirnya membuka mulutnya. "Jackson, kau tahu siapa dia kan?" Haneul pun mengangguk sebagai jawaban. "Bagus." Lanjut Jimin. "Ia tidak bertanya hal apapun yang aneh kan? Dan jika ia menanyakan, ku larang kau menceritakan apapun."

Haneul tidak menjawab. Gadis itu lah yang kali ini menatap Jimin selama beberapa saat lalu menjawab dengan suara dingin. "Memangnya kau siapa, menyuruhku seperti itu?" Setelah berkata begitu, Haneul berjalan melewati Jimin dan sebelum pemuda itu dapat mengatakan apapun, ia menoleh dan menambahkan lagi. "Lagi pula apa yang mau kuceritakan? Tidak ada apa-apa yang terjadi."

Dan Oh Haneul meninggalkan Park Jimin yang terhenyak dan entah mengapa, merasa kalimat terakhir Haneul menganggunya.

***

Brak!

Seorang gadis nyaris melompat kaget ketika meja di depannya di pukul dengan kasar. Handphonenya tergeletak di meja karena terlepas dari genggamannya saat ia kaget tadi. Gadis itu mengira akan melihat anggota kelompok kakaknya, terutama Jackson yang selalu 'menganggunya' hampir setiap hari. Namun ternyata ia salah, Shin Taehyung menatapnya dengan cengiran yang biasa.

"Yo!" Kata pemuda itu sambil mengambil tenpat duduk di depan Jina. "Kau sedang apa?"

"Hanya bermain dengan handphoneku.." Jawab Jina. Ia mendadak risih karena stare yang berasal dari para gadis lain di sekitar mereka tidak nyaman. Taehyung sendiri tampaknya tidak menyadari hal itu, atau hanya sekedar mengabaikannya.

"Jika hanya bermain, muka mu tidak akan terlihat seperti orang kesusahan seperti itu.” Cengiran Taehyung bertambah lebar setelah ia mengatakan hal itu.

“Bisa saja karena game yang kumainkan memang susah.”

Taehyung menatap dengan alis terangkat, tidak menyangka akan mendengar jawaban seperti itu dari gadis di hadapannya ini. “Serius, apa yang sedang kau lakukan..” Tanpa bisa di cegah Jina, pemuda itu mengambil handphone Jina yang tergeletak di atas meja dan mulai membaca isinya.

“Kembalikan!” Kata Jina seraya berusaha merebut handphonenya. Tapi Taehyung lebih cepat. Untuk menghindari Jina, ia berdiri dan mulai berlari kecil sambil menghadap ke belakang, ke arah Jina yang mengejarnya.

“Kau sedang mencari pekerjaan?” Tanya Taehyung, masih berlari dengan posisi yang sama.

“Bukan urusanmu!” Jawab Jina. Panik karena ia harus mendapatkan handphonenya kembali namun ia sudah menjadi pusat perhatian di taman itu karena tingkah Taehyung yang menyusahkannya.

Mendadak Taehyung berhenti berlari, sehingga Jina yang masih berlari langsung menabraknya. Tangan Taehyung memegangi pundak gadis itu sehingga mereka berdua tidak jatuh. Jina dapat merasakan mukanya memerah, terlebih ketika Taehyung menatapnya langsung ke mata.

“Kalau begitu, aku punya ide yang bagus!”

Jina mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali namun ekspresi muka Taehyung masih sama di hadapannya. Bersemangat dengan cengiran lebar yang tidak lupa terpasang.

“Ide bagus?” Tanya Jina. Taehyung mengangguk beberapa kali lalu berbisik di kuping gadis itu.

“Tunggu di depan gerbang kampus jam 3 siang nanti,” Taehyung mengedip sekali lalu mengembalikan handphone milik Jina sebelum berlari pergi. “Sampai nanti!!”

Jina tidak bisa bereaksi sama sekali. Sekitar lima detik ia berdiri mematung, dan ketika akhirnya ia berhasil berbalik dan hendak pergi, segerombolan gadis menghadang jalannya, nampaknya mereka berasal di tahun yang sama namun Jina tidak mengenali satu orang pun.

“Apa hubunganmu dengan oppa kami?” Tanya gadis yang berdiri di tengah, nada suaranya sinis dan dingin. Jina mengernyit, inilah yang ia khawatirkan ketika Taehyung duduk di depannya. Fans pemuda itu pasti tidak akan tinggal diam. Universitas mereka mempunyai kelompok mengerikan lain selain kelompok preman yang di ketuai kakaknya, Jimin, yaitu fanclub dari si kembar yang merupakan ‘Pangeran Kampus’.

“Tidak ada apa-apa..” Jawab Jina, berusaha berjalan melewati gadis-gadis itu, namun pundaknya di dorong dan ia berjalan mundur kembali, ke tempatnya tadi lagi.

“Jangan bohong!” Teriak gadis yang lain. “Jangan menganggap karena kau adik dari Park Jimin kau bisa berbuat seenaknya!”

“Aku tidak—“

“Diam!” Kata-kata Jina di potong dengan tajam. Para gadis itu berjalan mendekat dengan muka yang bisa di bilang sangar. “Kami tidak ingin mendengar alasan, kami ingin mendengar yang sebenarnya.”

“Apa yang kalian lakukan?”

Serentak semuanya menoleh ke arah sumber suara dan tanpa di beri aba-aba apapun, gadis-gadis anggota fanclub itu langsung mundur beberapa langkah, menunduk sopan pada seseorang yang tidak bisa di lihat Jina karena tertutup oleh gadis-gadis itu, dan berjalan pergi dengan langkah cepat.

Oh Haneul memperhatikan hingga sekelompok gadis yang tingkahnya bisa lebih sangar daripada preman itu menghilang dari pandangan lalu menatap Jina. "Kau tidak apa-apa?"

"Bagaimana kau melakukan itu?" Tanpa sadar itulah kata-kata pertama Jina yang tampaknya kagum melihat reaksi kelompok gadis itu pada Haneul. Yang di tanya mengernyit dan Jina langsung menyadari ketidak sopanannya.

"Maafkan aku, aku seharusnya berterima kasih terlebih dahulu.” Kata Jina terburu-buru dan membungkuk pelan, namun Haneul melambaikan tangannya, menandakan ia tidak mempermasalahkan hal itu.

“Tidak apa-apa.” Kata Haneul. “Dan mengenai bagaimana aku melakukannya, entahlah.” Bahu gadis itu terangkat, “Mereka menjadi seperti itu sejak mereka kalah berdebat denganku tahun lalu.”

“Berdebat.”

Haneul mengangguk, “Berdebat. Seperti yang tadi mereka lakukan padamu.” Jina bisa melihat kilatan jahil di mata Haneul, yang entah mengapa, mengingatkannya pada kilatan di mata Taehyung. Bedanya, di mata Haneul hanya terlihat sesaat sementara Taehyung selalu memilikinya.

“Tindakan mereka suka berlebihan, jangan sungkan untuk datang padaku bila mereka mengganggu lagi.” Kata Haneul. Gadis itu mengatakannya sambil mengecek jam tangannya. “Aku harus pergi, sampai nanti Jina-ssi.” Dan Haneul juga menghilang dari pandangan, meninggalkan Jina yang masih sedikit bingung.

Jam-jam pun terlewati dengan cepat. Sesuai permintaan Taehyung, Jina menunggu di pintu gerbang pada jam 3 tepat. Lima menit, sepuluh menit, lima belas menit, namun Taehyung tidak kelihatan sama sekali. Jina sudah nyaris menyerah dan akan pulang ketika terdengar suara klakson mobil. Sebuah mobil Porsche silver melesat di sebelahnya. Atap mobil itu terbuka dan di dalamnya, di kursi supir, duduklah Taehyung dengan kacamata hitam menggantung longgar di wajahnya.

“Naiklah.” Kata Taehyung. Perlu sekitar lima detik bagi Jina untuk merespon perkataan pemuda itu. Baru saja Jina masuk dan duduk, Taehyung langsung menginjak gas dan melesat maju, mengabaikan pekikan protes Jina saat mobil itu melaju dengan luar biasa cepat.

“Kita akan kemana?” Tanya Jina. Taehyung hanya bergumam ‘rahasia’ dan terus menyetir mobilnya dengan cepat, membawa Jina sekali lagi ke tempat yang gadis itu sama sekali tidak tahu.

Akhirnya mobil Taehyung berhenti di sebuah toko roti besar dengan dinding berwarna putih. Tulisan nama toko roti itu, “Toxicomane” di cat dengan warna merah, membuat toko itu terlihat elegan. Pemuda itu turun dan masuk ke dalam toko, dengan Jina membuntut di belakangnya.

“Selamat datang Tuan Muda.” Seorang pemuda yang kurang lebih berumur 25 tahun itu sambil membungkuk sopan saat melihat Taehyung masuk.

“Hallo, Jaeseop!” Jawab Taehyung pada pemuda itu. “Kau sudah mendapat pesan dari Papa bukan?”

“Sudah Tuan Muda.”

Taehyung nyengir, “Bagus!” Tangannya lalu meraih tangan Jina dan menarik gadis itu ke depan, lalu mendorongnya mendekati Jaeseop, yang ternyata adalah manager utama toko roti milik keluarga Shin itu. “Ini dia, Park Jina. Perlakukan dia dengan baik.”

“Tentu saja, Tuan Muda.” Jaesop menjawab dengan senyuman lembut terpasang di mukanya. “Kim Jaeseop, manager toko ini. Senang berkenalan denganmu, Nona Park.”

“Park Jina, senang berkenalan denganmu juga.” Jawab Jina sambil membungkukkan badannya sedikit dan menyambut uluran tangan Jaeseop yang mengajaknya bersalaman.

“Kalau begitu, sampai nanti!” Kata Taehyung. Pemuda itu sudah berbalik dan hendak berjalan pergi ketika Jaeseop memanggilnya kembali.

“Maaf Tuan Muda, Ayah anda meminta saya untuk memperkerjakan anda juga.” Kata Jaeseop.

Taehyung berbalik dan menatap Jaeseop dengan tidak percaya, mulutnya terbuka lebar sebelum satu kata keluar dari mulutnya itu. “Apa?”

“Taehyung, tutup mulutmu, itu memalukan.” Seorang pria muncul dari pintu masuk dan berjalan mendekati mereka. Otomatis semua pekerja yang berada di toko itu membungkuk sopan pada pria yang baru masuk itu, termasuk di antaranya Jaeseop. Taehyung menoleh dengan kaget.

“Papa!”

Ayah dari si kembar, Shin Daehyun mengacak rambut anak bungsunya yang hanya berbeda dua menit dari saudara kembarnya, Dongho. “Kau harus bekerja disini juga, bagaimana pun juga sebentar lagi liburan musim panas bukan?” Kata Daehyun dengan cengiran yang persis sama dengan anaknya jika sedang jahil. “Jaeseop!”

“Ya Tuan?”

“Perlakukan dia dengan keras ya!”

“Baik Tuan.”

“Papaaa!!”

Jina hanya bisa bengong melihat kejadian yang begitu cepat di depannya, ayah dari si kembar tertawa terbahak-bahak melihat reaksi anaknya lalu mendadak menatap ke arah Jina.

“Park Jina-ssi?” Jina mengangguk dan Daehyun menepuk kepala Jina beberapa kali. “Selamat bekerja!” Setelah berkata begitu, Daehyun pergi begitu saja.

“Baiklah, kalian berdua bisa mulai bekerja sekarang.” Kata Jaeseop sambil menepuk tangannya sekali. Jina mengikuti pemuda itu ke arah dapur sementara Taehyung membuntut dengan enggan. Setelah beberapa penjelasan, kedua anak itu mulai bekerja. Berulang kali Taehyung membuat kesalahan konyol dan Jaeseop harus membantu dan mengomelinya beberapa kali, membuat pemuda yang tidak pernah bekerja sebelumnya itu merajuk kecil.

Melihat tingkah Taehyung yang seperti anak-anak itu, mau tidak mau Jina tertawa melihatnya. Pertama kalinya gadis itu tertawa di depan orang lain selain kakaknya untuk waktu yang cukup lama, dan jelas pertama kali di depan Taehyung. Pemuda itu tercengang dan memperhatikan Jina yang sedang tertawa.

“Ah.” Kata Jina, baru menyadari tingkahnya yang tidak biasa untuk dirinya itu. “Maafkan aku.”

Taehyung, yang masih tercengang, menggeleng. “Tidak apa-apa. Aku suka saat kau tertawa.”

Sedetik, dua detik, tiga detik dan muka Jina langsung berubah menjadi merah padam. Mereka berdua tidak mengatakan apa-apa lagi dan melanjutkan kegiatan mereka dalam diam, walau jelas pikiran mereka berada di tempat lain, Jina di perkataan Taehyung, dan Taehyung di bayangan Jina tertawa yang masih jelas di ingatannya itu.

***TBC***

A/N : The longest chapter so far.. Planning to speed this ff in order to make another one #slapped
 Mohon maaf bila ada kesalahan *bows*

Made by : Liz
Take out with full credits please~ ^^

0 komentar:

Posting Komentar