Chapter 30 : Happily Ever
After.
(Setting :
Years after HP 7)
“Aku masih kaget akhirnya ia
berani melakukannya.”
Gadis berambut cokelat cokelat
itu memutar badannya dan menatap temannya, sahabatnya sejak 11 tahun yang lalu.
“Maksudmu?”
Gadis yang di tatap, seorang
gadis berambut merah tersenyum dan mendekati sahabatnya, membetulkan letak
hiasan rambut gadis itu.
“Ia akhirnya melamarmu.”
Gadis berambut cokelat itu
tertawa pelan. “Itu enam bulan yang lalu.”
“Tetap saja aku tidak percaya.”
Elizabeth Potter menatap
sahabatnya, yang saat ini memakai gaun putih panjang yang indah, make-up,
hiasan di rambut dan heels perak di kakinya. Penampilan yang sangat berbeda
dari hari-hari biasanya. “Dan hari ini bahkan kau akan menikah.”
Sahabatnya itu tertawa lagi.
Ya, hari itu Nicole Ravensdale
akan menikah dengan Oliver Wood.
***
Tidak ada yang menyangka bahwa
Oliver melamar pacarnya, enam bulan yang lalu, satu setengah tahun setelah
perang Hogwarts berakhir. Walau mereka di sibukan dengan kegiatan masing-masing,
akhirnya pernikahan dapat di langsungkan, yaitu hari ini.
Semua sudah di rencanakan dengan
baik. Undangan sudah di sebar, tenda-tenda sudah di pasang. Dan sekarang adalah
saatnya.
“Siap?”
Nicole menoleh menatap sahabatnya
sekaligus bridesmaidnya hari ini, Elly. George lah yang akan mengantarkannya ke
podium, dimana Oliver sudah menunggu bersama sepupunya sebagai best mennya.
“Siap…” Jawab Nicole. “..kurasa.”
Elly tertawa mendengar jawaban
Nicole. Gadis itu menarik tangan sahabatnya dan menggenggamnya dengan erat. “Kau
akan baik-baik saja. Ayo, upcaranya sudah akan di mulai.” Masih menggenggam
tangan Nicole, Elly membawa gadis itu ke depan tenda acara, dimana para tamu
dan Oliver sudah menunggu disana. George harusnya menunggunya di depan tenda,
namun pemuda itu tidak ada dimana-mana.
“Tunggu saja disini.” Kata Elly.
Dia mengedip jahil pada Nicole sebelum masuk ke dalam tenda, meninggalkan
Nicole sendirian kebingungan.
“Maaf lama.”
Suara George terdengar di
belakangnya, Nicole menoleh dan sudah hendak memarahi pemuda itu karena telat
namun kata-kata tercekat di tenggorokannya. George tersenyum padanya. Pemuda
itu mengenakan jas yang sesuai, namun yang membuat Nicole terkejut adalah
pigura foto yang ia bawa.
Pigura foto kakeknya.
“Kurasa tetap harus kakekmu yang
menyerahkanmu pada Oliver di hari pernikahanmu, Nic.” Kata George.
Kakeknya hanya tersenyum di
piguranya. “Kau terlihat cantik, Nicole.”
George menatap Nicole, “Oh tidak,
jangan menangis nona.” Kata pemuda itu. “Ayo, pasang senyummu dan kita akan
masuk.”
“Kau merencanakan ini?”
“Kita semua sebenarnya.” Jawab
George. “Semua orang tahu kecuali dirimu.”
Nicole menyambut uluran tangan
George, sementara pemuda itu membawa pigura Dumbledore di tangan lainnya.
Iringan tepuk tangan menyertai mereka berdua saat mereka masuk kedalam tenda.
Benar kata George, tidak ada yang terkejut saat melihat pigura foto Dumbledore.
McGonagall malah jelas-jelas meneteskan air matanya di salah satu kursi
terdepan.
Oliver sendiri tersenyum di depan
podium, terlihat lebih menawan daripada biasanya. George menyerahkan tangan
Nicole pada Oliver.
“Ingat kawan, kau menyakiti
sahabat kami, seluruh Hogwarts akan melawanmu.” Kata George dengan riang.
Oliver tertawa.
“Tenang saja. Aku berjanji aku
akan membahagiakannya.”
Nicole merasakan mukanya memerah.
George tersenyum puas dan berjalan ke tempatnya, bersama dengan pigura
Dumbledore yang ia bawa dengan hati-hati.
Gadis itu mengaitkan tangannya ke
lengan Oliver, mata hijaunya bertemu dengan mata cokelat pemuda yang akan
menjadi suaminya itu, sebelum akhirnya menatap kedepan dengan yakin.
“Tuan dan Nyonya.” Kata pemimpin
acara pernikahan itu. “Kita berkumpul disini untuk merayakan penyatuan dua
jiwa..”
Nicole bisa mendengar McGonagall
dan Hagrid membuang ingus di saat yang bersamaan, dan gadis itu berusaha keras
untuk tidak tertawa. Walaupun tidak terlihat, Nicole tahu bahwa sama seperti
kakeknya, semua orang yang ia kasihi, yang tumbang di pertarungan satu setengah
tahun yang lalu, ada disana.
“…dan apakah kau, Nicole
Ravensdale, menerima Oliver Wood sebagai suamimu, dari saat
ini hingga seterusnya , dalam keadaan baik maupun buruk , dalam kaya maupun
miskin , dalam sehat maupun sakit , mendampinginya hingga maut memisahkan
kalian?"
Nicole menoleh dan menatap Oliver
kembali dan tersenyum.
“Ya.”
***
14 tahun kemudian, stasiun Kings Cross.
“Kau masih belum cukup umur
sayang.”
“Tapi Gisselle mau ikut dengan
kakak!”
Wanita berambut cokelat itu
berjongkok dan menatap putrinya, yang mewarisi kedua mata ayahnya, cokelat. “Tahun
depan, mama janji. Tahun depan.”
Nicole Ravensdale menatap anak
bungsunya yang baru berusia 10 tahun. Gisselle II Wood, dengan nama sebagai
kenangan terhadap sahabat dekatnya itu. Sementara Oliver berbicara pelan dengan
anak pertama mereka, Bertrand Wood.
Suara kereta api yang menandakan
sebentar lagi akan berangkat membuat Nicole dengan cepat menarik putranya ke
pelukan dan memberikan ciuman di dahi Bert.
“Jangan nakal dan jangan terlalu
sering bermain Quidditch sehingga melupakan pelajaranmu.”
Bert tersenyum. Kedua saran orang
tuanya selalu berbeda jika soal sekolah, dan jelas ia akan mengikuti saran sang
ayah. Namun ia mengangguk pada ibunya.
“Tentu saja, jangan khawatir Ma.”
Oliver mengacak rambut putranya, “Sudah
cepat naik sana. Kami akan melihatmu liburan natal nanti.”
Bert tersenyum, setelah
memberikan pelukan pada Gisselle, pemuda itu berlari dan naik ke atas kereta,
melambaikan tangannya pada keluarganya hingga akhirnya kereta itu hilang dari
pandangan.
“Kita pulang?” Kata Oliver sambil
merangkul istrinya. Nicole tersenyum, tangannya yang satu menggandeng Gisselle.
“Ayo, kita pulang.”
***END***
A/N : Chapter terpendek dan yang
terakhir wkwkwk
Mohon maaf bila ada kesalahan
Dan terima kasih sudah membaca
hingga akhir~ ❤
With Love, Liz.
Made by : Liz
Take out with full credits please~ ^^

0 komentar:
Posting Komentar