Jumat, 24 Juli 2015

Hogwarts' Beloved : Chapter 30 [END]



Chapter 30 : Happily Ever After.
                                                (Setting : Years after HP 7)



“Aku masih kaget akhirnya ia berani melakukannya.”

Gadis berambut cokelat cokelat itu memutar badannya dan menatap temannya, sahabatnya sejak 11 tahun yang lalu.

“Maksudmu?”

Gadis yang di tatap, seorang gadis berambut merah tersenyum dan mendekati sahabatnya, membetulkan letak hiasan rambut gadis itu.

“Ia akhirnya melamarmu.”

Gadis berambut cokelat itu tertawa pelan. “Itu enam bulan yang lalu.”

“Tetap saja aku tidak percaya.”

Elizabeth Potter menatap sahabatnya, yang saat ini memakai gaun putih panjang yang indah, make-up, hiasan di rambut dan heels perak di kakinya. Penampilan yang sangat berbeda dari hari-hari biasanya. “Dan hari ini bahkan kau akan menikah.”

Sahabatnya itu tertawa lagi.

Ya, hari itu Nicole Ravensdale akan menikah dengan Oliver Wood.

***

Tidak ada yang menyangka bahwa Oliver melamar pacarnya, enam bulan yang lalu, satu setengah tahun setelah perang Hogwarts berakhir. Walau mereka di sibukan dengan kegiatan masing-masing, akhirnya pernikahan dapat di langsungkan, yaitu hari ini.

Semua sudah di rencanakan dengan baik. Undangan sudah di sebar, tenda-tenda sudah di pasang. Dan sekarang adalah saatnya.

“Siap?”

Nicole menoleh menatap sahabatnya sekaligus bridesmaidnya hari ini, Elly. George lah yang akan mengantarkannya ke podium, dimana Oliver sudah menunggu bersama sepupunya sebagai best mennya.

“Siap…” Jawab Nicole. “..kurasa.”

Elly tertawa mendengar jawaban Nicole. Gadis itu menarik tangan sahabatnya dan menggenggamnya dengan erat. “Kau akan baik-baik saja. Ayo, upcaranya sudah akan di mulai.” Masih menggenggam tangan Nicole, Elly membawa gadis itu ke depan tenda acara, dimana para tamu dan Oliver sudah menunggu disana. George harusnya menunggunya di depan tenda, namun pemuda itu tidak ada dimana-mana.

“Tunggu saja disini.” Kata Elly. Dia mengedip jahil pada Nicole sebelum masuk ke dalam tenda, meninggalkan Nicole sendirian kebingungan.

“Maaf lama.”

Suara George terdengar di belakangnya, Nicole menoleh dan sudah hendak memarahi pemuda itu karena telat namun kata-kata tercekat di tenggorokannya. George tersenyum padanya. Pemuda itu mengenakan jas yang sesuai, namun yang membuat Nicole terkejut adalah pigura foto yang ia bawa.

Pigura foto kakeknya.

“Kurasa tetap harus kakekmu yang menyerahkanmu pada Oliver di hari pernikahanmu, Nic.” Kata George.

Kakeknya hanya tersenyum di piguranya. “Kau terlihat cantik, Nicole.”

George menatap Nicole, “Oh tidak, jangan menangis nona.” Kata pemuda itu. “Ayo, pasang senyummu dan kita akan masuk.”

“Kau merencanakan ini?”

“Kita semua sebenarnya.” Jawab George. “Semua orang tahu kecuali dirimu.”

Nicole menyambut uluran tangan George, sementara pemuda itu membawa pigura Dumbledore di tangan lainnya. Iringan tepuk tangan menyertai mereka berdua saat mereka masuk kedalam tenda. Benar kata George, tidak ada yang terkejut saat melihat pigura foto Dumbledore. McGonagall malah jelas-jelas meneteskan air matanya di salah satu kursi terdepan.

Oliver sendiri tersenyum di depan podium, terlihat lebih menawan daripada biasanya. George menyerahkan tangan Nicole pada Oliver.

“Ingat kawan, kau menyakiti sahabat kami, seluruh Hogwarts akan melawanmu.” Kata George dengan riang. Oliver tertawa.

“Tenang saja. Aku berjanji aku akan membahagiakannya.”

Nicole merasakan mukanya memerah. George tersenyum puas dan berjalan ke tempatnya, bersama dengan pigura Dumbledore yang ia bawa dengan hati-hati.

Gadis itu mengaitkan tangannya ke lengan Oliver, mata hijaunya bertemu dengan mata cokelat pemuda yang akan menjadi suaminya itu, sebelum akhirnya menatap kedepan dengan yakin.

“Tuan dan Nyonya.” Kata pemimpin acara pernikahan itu. “Kita berkumpul disini untuk merayakan penyatuan dua jiwa..”

Nicole bisa mendengar McGonagall dan Hagrid membuang ingus di saat yang bersamaan, dan gadis itu berusaha keras untuk tidak tertawa. Walaupun tidak terlihat, Nicole tahu bahwa sama seperti kakeknya, semua orang yang ia kasihi, yang tumbang di pertarungan satu setengah tahun yang lalu, ada disana.

“…dan apakah kau, Nicole Ravensdale, menerima Oliver Wood sebagai suamimu, dari saat ini hingga seterusnya , dalam keadaan baik maupun buruk , dalam kaya maupun miskin , dalam sehat maupun sakit , mendampinginya hingga maut memisahkan kalian?"

Nicole menoleh dan menatap Oliver kembali dan tersenyum.

“Ya.”

***

14 tahun kemudian, stasiun Kings Cross.

“Kau masih belum cukup umur sayang.”

“Tapi Gisselle mau ikut dengan kakak!”

Wanita berambut cokelat itu berjongkok dan menatap putrinya, yang mewarisi kedua mata ayahnya, cokelat. “Tahun depan, mama janji. Tahun depan.”

Nicole Ravensdale menatap anak bungsunya yang baru berusia 10 tahun. Gisselle II Wood, dengan nama sebagai kenangan terhadap sahabat dekatnya itu. Sementara Oliver berbicara pelan dengan anak pertama mereka, Bertrand Wood.

Suara kereta api yang menandakan sebentar lagi akan berangkat membuat Nicole dengan cepat menarik putranya ke pelukan dan memberikan ciuman di dahi Bert.

“Jangan nakal dan jangan terlalu sering bermain Quidditch sehingga melupakan pelajaranmu.”

Bert tersenyum. Kedua saran orang tuanya selalu berbeda jika soal sekolah, dan jelas ia akan mengikuti saran sang ayah. Namun ia mengangguk pada ibunya.

“Tentu saja, jangan khawatir Ma.”

Oliver mengacak rambut putranya, “Sudah cepat naik sana. Kami akan melihatmu liburan natal nanti.”

Bert tersenyum, setelah memberikan pelukan pada Gisselle, pemuda itu berlari dan naik ke atas kereta, melambaikan tangannya pada keluarganya hingga akhirnya kereta itu hilang dari pandangan.

“Kita pulang?” Kata Oliver sambil merangkul istrinya. Nicole tersenyum, tangannya yang satu menggandeng Gisselle.

“Ayo, kita pulang.”


***END***


A/N : Chapter terpendek dan yang terakhir wkwkwk
Mohon maaf bila ada kesalahan
Dan terima kasih sudah membaca hingga akhir~

With Love, Liz.


Made by : Liz
Take out with full credits please~ ^^

0 komentar:

Posting Komentar