Chapter 28 : Our Final Battle
(Setting :
HP 7)
”Tapi bagaimana
kita bisa kesana?” Elly menatap Nicole
saat mereka berdua sedang bersiap-siap menuju Hogwarts. Tidak banyak yang harus
mereka persiapkan sebenarnya, namun Nicole memaksa untuk menulis surat terlebih
dahulu dan mengirimkannya.
“Lewat
Hogsmeade.” Jawab Nicole. Gadis itu membuka pintu rumahnya dan berjalan
melintasi halaman depannya, diikuti oleh Elly dari belakang, masih dengan
ekspresi bingung. Kedua gadis itu berjalan hingga depan gerbang rumah Nicole,
tempat perbatasan sebelum mereka keluar dari wilayah mantra Fidelius.
“Kau tahu cara
untuk datang tanpa terdeteksi?” Tanya Elly.
“Tenang saja.”
Nicole mengulurkan tangannya pada Elly, yang di sambut gadis itu dan mereka
berdua ber Apparatte. Dalam sekejap, kedua gadis itu muncul di ambang pintu
sebuah bar kumuh yang Elly kenali sebagai Hog’s Head.
“Hog’s Head?”
Bisik Elly pada Nicole. Nicole hanya mengangguk dan memimpin jalan masuk ke
dalam bar itu, yang mau tidak mau diikuti oleh Elly.
“Nicole.”
Suara pria yang
serak mengagetan Elly, walau Nicole tidak kaget. Jelas sekali gadis itu sudah
tahu bahwa ia akan disapa seperti itu. Nicole mengangguk sopan ke arah sumber
suara.
“Ab.”
Pria tua dengan
rambut berantakan dan berubun berjalan mendekati kedua gadis itu. Matanya
menatap dengan tajam, sepasang mata yang sama persis dengan milik seseorang
yang sangat Nicole rindukan.
“Potter?” Ab
mengarahkan kepalanya ke arah Elly dan Nicole mengangguk.
“Elly, kenalkan
ini adalah Aberforth. Dan Ab, seperti yang kau tebak, Elizabeth Potter.” Nicole
memperkenalkan mereka berdua, satu dengan yang lain. Ab hanya mengangguk
singkat, namun Elly jelas terkejut. Pria tua itu adalah Aberforth, adik dari
kepala sekolah mereka yang dulu, Dumbledore.
Ab memberi
tanda untuk mengikutinya masuk kedalam ruang tengah. “Kalian yang kedua tiba.”
“Setelah Harry
kan?”
Betapa kagetnya
Nicole ketika Ab menggeleng. “Ada dua anak tiba terlebih dahulu. Luna dan
seorang lagi entah siapa, seorang pemuda.”
Mereka baru
saja masuk dan mendekati pigura foto besar di dekat perapian ketika suara
letupan keras terdengar dari belakang mereka. Otomatis Nicole menjadi siaga dan
mengeluarkan tongkatnya lalu mengarahkannya ke sumber suara letupan tadi. Hanya
untuk mendapat jawaban berupa suara tawa tiga orang pemuda.
“Nic, jangan
bunuh kami dahulu.”
“Kami terlalu
ganteng untuk mati sekarang.”
Fred dan George
Weasley berjalan mendekat dan nyengir kepada gadis berambut cokelat pendek yang
sekarang menatap dengan kaget. Dibelakang si kembar, Lee, Feli dan Ginny
menyusul. Lee jelas habis tertawa, namun Feli dan Ginny hanya tersenyum lebar
pada Nicole, Elly dan Ab. Melihat teman-temannya, Nicole menurunkan tongkatnya
dan tersenyum juga.
“Ayo cepat.”
Kata Ab dengan tidak sabar. Pria itu menunjukan jalan untuk mereka melalui
lukisan itu dan mereka ber tujuh berjalan melaluinya untuk bertemu kerumunan
yang lebih ramai lagi. Teriakan dan sorakan mengikuti kemunculan mereka.
“Nicole! Itu
Nicole!”
“Elly!”
Harry berbalik,
berlari dan memeluk kakaknya, yang tentu saja di balas langsung oleh Elly.
Rasanya seperti semua orang meneriakan nama mereka. Fred dan George malah
melambaikan tangan mereka seakan-akan mereka adalah artis.
"Aberforth mulai sedikit nampak seperti tikus," sahut Fred
mengangkat tangannya membalas beberapa teriakan menyambutnya, "dia tidak
bisa tidur katanya, dan barnya berubah nenjadi stasiun kereta api!"
"Jadi, apa rencananya, Harry?" tanya George.
"Tidak ada rencana," sahut Harry, terlihat bingung setelah menyadari apa yang kakaknya dan rombongan anak
yang lain datang seperti ini.
"Biarkan saja berjalan sendiri, kan? Kesukaanku!" sahut Fred, menghasilkan satu deathglare ia terima dari Nicole
"Kau harus menghentikan ini!" sahut Harry pada Neville.
"Kenapa kau memanggil mereka? Kau gila—"
"Kita akan bertempur, kan?" sahut Dean, mengacungkan Galleon
palsunya, "Pesannya berbunyi Harry kembali, dan kita akan bertempur. Walau
aku harus mendapat tongkat dulu—“
"Kau belum dapat tongkat—" Seamus mulai berbicara. Semua anak juga tampak bersemangat karena mengetahui mereka
akan melawan balik, semuanya sudah lelah dengan di tindas seperti itu di
sekolah mereka sendiri. Sementara sebagian besar anak sibuk berdiskusi seru, Nicole
menatap Harry yang tampaknya tidak setuju, namun Ron dan Hermione menarik
pemuda itu untuk berdiskusi dan akhirnya mereka tampak seperti mempunyai satu
kesepakatan.
“Ok.” Kata Harry dengan keras. Membuat seluruh
anak menatap ke arahnya. "Ada sesuatu yang harus kami temukan," lanjut
Harry, "Sesuatu yang akan membantu kita menyingkirkan Kau-Tahu-Siapa. Ada
di sini di Hogwarts, tapi kami tak tahu di mana. Mungkin kepunyaan Ravenclaw.
Apakah ada yang pernah mendengar benda semacam itu? Misalnya, apa ada yang
pernah melihat sesuatu dengan elang Ravenclaw padanya?"
Harry menatap sekelompok anak Ravenclaw lalu
ke arah Nicole. Namun jawaban tidak muncul dari gadis itu melainkan dari Luna
yang sedang bertengger di lengan kursi yang Ginny duduki.
"Well,
ada diademnya yang hilang. Aku pernah bilang tentangnya, inget kan, Harry?
Diadem Ravenclaw yang hilang? Daddy sedang berusaha menirunya." Kata Luna.
"Yeah,
tapi diadem yang hilang itu," Sahut Michael Corner
memutar matanya.
"Kapan
hilangnya?" tanya Harry.
"Kata
mereka sih berabad-abad lalu," Jawab Cho". Profesor
Flitwick bilang, diadem itu lenyap bersamaan dengan Ravenclaw sendiri. Orang-orang
sudah mencari, tapi.." Cho memandang rekan-rekan Ravenclawnya mencari
dukungan, "tak seorangpun yang pernah menemukan bahkan jejaknya, benar
kan?" Dan teman-temannya
menggeleng sebagai jawaban.
Keheningan menyelimuti hingga akhirnya Ron bersuara. "Sorry, diadem itu
apa?"
"Semacam
mahkota," Terry Boot menjawabnya dengan sabar. Perdebatan singkat di lakukan hingga akhirnya
Harry akan pergi bersama Luna untuk mengecek replika diadem Ravenclaw yang di
percayai Harry adalah sebuah Hocrux. Keadaan di ruangan menjadi tegang,
semuanya bersemangat sekaligus cemas membayangkan apa yang akan terjadi. Tidak
ada yang membuat suara, hanya beberapa bisikan sayup-sayup di penjuru ruangan.
Nicole bersandar di tembok dekat pigura Ariana, yang menjadi satu-satunya
jalan masuk dan keluar dari Hogwarts bagi mereka saat ini. Elly duduk di bangku
yang berada di dekat sahabatnya itu. Namun tidak ada kata yang tertukar di
antara mereka. Fred dan George sibuk mengobrol tidak jauh dari mereka, dengan
muka yang kelewat bersemangat. Lee dan Feli menempati bangku lain, dimana Lee
duduk dan Feli bersandar di lengan kursi pemuda itu, mengobrol dengan suara
pelan.
Suara pigura yang mendadak terbuka mengejutkan mereka semua. Nicole
langsung berdiri tegak dengan tongkat siap siaga. Tidak ada yang bisa
menyalahkannya, dia di latih untuk siaga seperti itu.
“Tahan, Nicole.”
Suara berat namun menenangkan milik Kingsley Shacklebolt menyapa
semuanya. Elly melompat berdiri dengan senyuman mengembang, Fred dan George
bersorak, namun Nicole tidak menurunkan tongkatnya.
“Buktikan kalau begitu.” Kata Nicole.
Pria bertubuh tegap itu melompat turun dari lobang di balik pigura. Kedua
tangannya berada di udara, menandakan ia tidak bermaksud buruk.
“Kingsley Shacklebolt, Yang Mulia.” Kata Kingsley dengan senyuman
mengembang di wajahnya. “Anggota Orde Phoenix, Auror dan yang memberikan berita
setiap dua minggu sekali pada hari senin padamu di Godric’s Hollow, Yang
Mulia.”
“Sebut sekali lagi aku dengan ‘Yang Mulia’ dan aku akan menyerangmu
beneran, Shacklebolt.” Kata Nicole. Namun gadis itu tersenyum dan menurunkan
tongkatnya. “Aku sudah takut kau tidak menerima pesanku.”
“Kau yang memanggil mereka?” Fred bertanya. Nicole mengangguk, sebelum
menatap kembali ke arah Kingsley.
Kingsley menaikan bahunya. “Maaf, perlu waktu untuk mengumpulkan mereka
semua.”
“Mereka?”
Kingsley menunjuk belakangnya. Di mana tampak Lupin yang sedang melompat
turun, diikuti dengan Bill, Fleur, Mr. dan Mrs. Weasley, beberapa teman lama
mereka, Calvin dan kemudian..
“Oliver!”
Oliver tertawa pelan saat Nicole berlari ke arahnya. Pemuda itu
memberikan pacarnya pelukan erat yang lama, membuat Fred dan George langsung
ramai dengan teriakan-teriakan mereka. Pasangan itu tidak melepaskan pelukan
mereka hingga Lupin berdeham pelan, yang membuat Nicole langsung menarik
dirinya dan menegakkan tubuh. Rona merah yang tipis ada di pipinya saat ia
kembali memandang yang lain. Fred dan George sudah tertawa geli di pojokan,
membuat Nicole melempar ‘deathglare’nya.
Dan sekarang suara rusuh dari arah pintu masuk membuat mereka terkejut.
Harry dan Luna berlari masuk.
"Harry, apa yang terjadi?" Tanya Lupin, mengabaikan
pandangan bingung Harry saat melihat ruangan mendadak penuh sesak dengan
orang-orang.
"Voldemort sedang dalam perjalanan ke
mari, guru-guru sedang membuat pertahanan di sekolah, Snape melarikan diri.” Jawab Harry dengan
cepat, jelas masih belum mencerna apa yang terjadi di Kamar Kebutuhan itu. “Apa
yang sedang kalian lakukan? Bagaimana kalian tahu?"
"Kami mengirim pesan." Fred menjelaskan, "Kau
tak bisa mengharapkan bahwa mereka akan senang ketinggalan sesuatu yang seru,
Harry, dan Nicole memberi
tahu Orde Phoenix, dan mereka berkumpul, lalu
begitulah... menggelinding membesar seperti bola salju."
"Sekarang apa yang duluan, Harry?"
tanya George, "Apa yang
terjadi?"
"Guru-guru sedang mengevakuasi anak-anak
yang lebih muda, dan semua orang berkumpul di Aula Besar agar mudah mengorganisirnya,"
sahut Harry, "Kita akan bertempur."
Gumaman bersemangat mulai terdengar, namun
suara gemuruh di belakang Harry mengalihkan perhatian mereka semua. Dengan
tongkat yang siaga di tangan, mereka semua berlari keluar, melewati Harry dan
menuju keributan yang berada di depan. Nicole salah satu yang berada di depan,
bersama Kingsley. Elly, Calvin dan Oliver menyusul mereka tepat di belakang.
Mereka mengikuti anak-anak yang berlari menuju Aula Utama, dimana semua
penghuni Hogwarts sudah berada disana. Ketika McGonagall melihat Nicole, wanita
itu menarik gadis yang lebih muda kedalam pelukannya. Ia sudah menganggap
Nicole sebagai anaknya sendiri. Tidak lama setelah semuanya berkumpul,
McGonagall mengarahkan evakuasi, sementara Nicole menatap sekelilingnya. Wajah
pada murid di hiasi ekspresi bingung, cemas dan ketakutan. Bukan hal yang
mengherankan lagi.
Nicole bertukar pandang cemas dengan Oliver yang berdiri di sebelahnya.
Tidak, ia tidak cemas karena pertarungan yang akan berlangsung, namun ia
mencemaskan murid-murid Hogwarts. Mereka bingung dan tidak tahu apa-apa. Beberapa anak kelas satu sudah nyaris
menangis karena ketakutan. Tangan Oliver meraih tangan pacarnya, menggenggamnya
dengan erat ketika ia melihat pandangan mata Nicole.
Suara McGonagall menggema di Aula Utama, namun mendadak suara
yang tinggi, dingin dan jelas terdengar. Tak diketahui darimana asalnya.
Tampaknya keluar dari dinding itu sendiri. Seperti monster yang pernah
dikuasainya, suara itu mungkin telah berada disana selama berabad-abad.
"Aku tahu kalian bersiap untuk
bertempur." Terdengar jeritan diantara siswa-siswa, beberapa diantaranya
saling mencengkeram, mencari-cari sumber suara dalam kengerian. "Usaha
kalian sia-sia, kalian tidak bisa melawanku. Aku tidak ingin membunuh kalian. Aku
sangat menghormati guru-guru Hogwarts. Aku tidak ingin menumpahkan darah
sihir."
Aula sunyi senyap sekarang, kesunyian yang
menantang gendang telinga, yang terlalu berat untuk disangga oleh dinding.
"Berikan Harry Potter padaku," kata
suara Voldemort, "dan mereka tak akan disakiti. Berikan Harry Potter
padaku, dan aku akan meninggalkan sekolah tanpa menyentuhnya. Berikan Harry
Potter padaku dan kalian akan diberi penghargaan."
Hening kembali. Dan itu benar-benar
memberikan suasana mencekam.
"Kalian mempunyai waktu hingga tengah
malam."
Tidak ada yang bersuara. Semua mata yang
ada di Aula Utama mencari sosok Harry yang hanya bisa diam membeku di
tempatnya.
Mendadak Pansy Parkinson berdiri dan
menunjuk Harry. “Tapi dia disini! Potter disini! Tangkap dia!” Teriaknya.
“Tidak!!”
Elly berteriak dan berlari mendekati
adiknya, berdiri sedemikian rupa di depan Harry, dengan tongkat terarah ke
Pansy.
“Tidak ada yang akan menyerahkan adikku!”
Teriak Elly lagi. Dan serentak suara banyak orang berdiri dari tempat duduknya.
Sebelum Harry atau Elly bisa mengatakan apapun lagi, murid-murid Gryffindor,
Hufflepuff dan Ravenclaw berdiri di depan mereka, menghadap ke arah Pansy,
melindungi Harry Potter.
"Terima kasih, Nona Parkinson," kata
Prof. McGonagall dengan suara tercekat. "Kau boleh meninggalkan aula
duluan bersama Mr. Filch, jika anggota asramamu sanggup mengikuti."
Suara orang-orang bergerak dari tempat duduknya
memenuhi aula tersebut, dan akhirnya hanya murid-murid yang diijinkan dan mau
bertarung yang bertahan di tempat duduk mereka, meja Gryffindor, Hufflepuff dan
Ravenclaw. Tidak ada satu anak pun yang bertahan di meja Slytherin.
“Kita harus membagi tugas.” Kata Kingsley. Ia
berdiri di sebelah Nicole yang lain, sehingga gadis itu diapit oleh Oliver dan
Kingsley. Nicole mengangguk dan mengawasi saat pria itu naik ke atas podium,
mengambil tempat McGonagall tadi.
"Kita
hanya punya waktu setengah jam hingga tengah malam, jadi kita harus bergerak
cepat. Rencana pertempuran telah disetujui antara guru-guru Hogwarts dengan
Orde Phoenix. Prof. Flitwick, Sprout dan Mc. Gonagall akan memimpin
kelompok-kelompok pejuang naik ke tiga menara tertinggi , Ravenclaw, Astronomi
dan Gryffindor, yang sudut pandangnya paling bagus, posisi yang sempurna untuk
melancarkan mantra. Sementara Remus..“ Kingsley menunjuk Lupin, "..Arthur.." menunjuk Mr.
Weasley yang duduk di meja Gryffindor. "…dan aku,
akan memimpin kelompok di bawah.”
Tidak ada yang membantah ataupun mempertanyakan pria itu. Kingsley memang
mempunyai bakat memimpin.
“Kita perlu seseorang
untuk mengorganisir pertahanan di pintu-pintu masuk atau jalan tembus menuju
sekolah.." Lanjut Kingsley.
"Kedengarannya
seperti pekerjaan untuk kita," kata Fred, menunjuk dirinya dan George, dan
Kingsley mengangguk setuju.
“Nicole, tolong pergi bersama mereka.” Dan kali ini Nicole yang
mengangguk setuju atas permintaan Kingsley.
"Baiklah,
para pemimpin kesini dan kita akan memencar pasukan!"
***
“Berhati-hatilah.” Kata Nicole pada Oliver, Elly
dan Calvin yang akan berada di pasukan lain, berbeda dengan gadis itu dan si
kembar. Feli dan Lee sendiri sudah duluan pergi bersama rombongan McGonagall,
yang menjaga menara Gryffindor. Oliver, Elly dan Calvin akan berada di
rombongan Kingsley.
“Kau yang berhati-hati.” Oliver tersenyum dan
mencium kening pacarnya dengan lembut. Nicole hanya tersenyum lembut sebelum
akhirnya berbalik dan menyusul Fred dan George.
“Semua akan baik-baik saja.” Kata Elly. Gadis
berambut merah itu tahu bahwa Oliver mengkhawatirkan Nicole. Namun gadis itu
justru mungkin lebih bisa melindungi diri daripada mereka, ia adalah Auror
tentu saja.
Oliver mengangguk. Ia mempercayai Nicole, namun
tetap saja ia tidak bisa berhenti mengkhawatirkan pacarnya. Namun ia tidak
punya banyak waktu untuk melakukan hal itu. Pertarungan mereka baru saja di
mulai. Suara ledakan terdengar dari arah luar, teriakan-teriakan seperti orang
kesurupan mengikuti.
Perang terakhir mereka di mulai.
Elly tidak bisa mengingat banyak setelahnya. Ia
hanya mengingat Calvin selalu berada tidak jauh darinya ketika ia pertarungan
terjadi. Ia tidak mengingat siapa yang ia lawan, atau berapa yang ia jatuhkan.
Oliver sudah berada entah dimana, Elly tidak punya waktu untuk memikirkan
apapun lagi.
“Kau baik-baik saja?” Calvin menanyai Elly di tengah-tengah perang yang terjadi. Elly
tersenyum pada pemuda itu. Calvin memang selalu memberinya perhatian lebih dan
ia tahu alasannya, walau ia belum bisa menerima perasaan pemuda itu. Belum,
belum saatnya. Namun harus Elly akui, Calvin sudah membua hatinya kembali
sedikit demi sedikit. Hati yang ia tutup setelah kepergian Cedric.
“Tentu saja.” Jawab Elly.
Calvin tersenyum lembut pada gadis berambut merah
itu. “Elly, aku sadar aku tidak pernah mengatakannya.”
“Mengatakan apa?”
“Maukah kau menjadi pacarku?”
Jantung Elly seakan berhenti sejenak. Mata
cokelatnya menatap ekspresi tenang Calvin, yang justru tidak membuatnya tenang
namun menjadi lebih berdebar dari sebelumnya. Astaga apa yang baru saja Calvin
katakan padanya. Gadis itu bisa merasakan mukanya memerah, mungkin lebih merah
dari rambutnya sendiri sekarang. Demi Jenggot Merlin yang putih! Mereka berada
di tengah perang saat ini!
“Aku tidak meminta kau menjawabnya sekarang.”
Lanjut pemuda itu. Ia mengenal Elly dengan baik dan tahu saat ini gadis yang
berdiri di hadapannya sedang kebingungan. Tangannya meraih rambut Elly dengan
lembut. “Akan ku tunggu jawabanmu setelah semua ini berakhir.”
Seakan-akan ia sendiri yang mengaturnya, Calvin
menoleh ke sisi kanannya, tongkatnya sudah terayun dan mantra terucapkan. Walau
masih terkejut dengan pernyataan yang baru saja ia terima, Elly mau tidak mau
harus kembali fokus ke pertarungan yang masih berada di sekitarnya. Setengah
menggerutu karena Calvin membuatnya bingung seperti itu, anak pertama dari
pasangan James dan Lily Potter itu kembali melawan Pelahap Maut yang
menargetnya.
Setelah semua ini selesai? Jawaban apa yang akan
ia berikan? Elly sendiri tidak mengetahui akan menjawab apa. Siapa Calvin
baginya? Ia tahu kata sesederhana ‘teman’ saja tidak cukup bagi pemuda yang
selalu berada di sisinya itu, walaupun jelas Elly menyukai Cedric dahulu.
Calvin tidak menyerah ataupun menjauhinya.
Mungkinkah? Mungkinkah ia memberikan kesempatan
untuk Calvin? Untuk pemuda itu mengobati luka hatinya yang sudah sakit hingga
tidak lagi terasa apapun sejak 3 tahun yang lalu. Bisakah Calvin mengobatinya?
Elly menjatuhkan satu lagi lawannya. Nafasnya
terengah-engah.
Jawabannya..
“Elly!”
Mendengar namanya di panggil, gadis itu menoleh
dengan cepat. Ia melihat sesosok pria dengan jubah hitam mengarahkan tongkatnya
padanya. Ia tidak mengenali orang itu, namun jelas bahwa dia adalah seorang
Pelahap Maut. Dan detik berikutnya ia bisa melihat Calvin berlari ke arahnya,
suara pemuda itulah yang tadi meneriakkan namanya. Elly lalu bisa melihat
kilatan hijau dan setelahnya.
Semua menjadi gelap.
Elly tidak tahu apa yang terjadi. Apakah ia sudah
meninggal? Apakah ia akan menyusul Cedric? Ia tidak tahu bahwa ia akan mati
secepat ini. Namun suara-suara di sekitarnya menyadarkannya kembali.
Teriakan-teriakan mantra itu, tidak mungkin ia sudah mati.
Perlahan ia membuka matanya, dan merasakan bahwa
sebuah tubuh menindihnya. Ia mungkin jatuh pingsan tadi karena kepalanya terkena
lantai. Bagian belakang kepalanya terasa sakit sekarang.
Gadis itu menggeser badan yang berada di atasnya
dan duduk. Menggerutu pelan, ia menoleh ke arah orang yang menindihnya itu.
Dan orang itu adalah Calvin.
Ekspresi pemuda itu tampak tegas, seakan-akan
sudah menetapkan hatinya pada sesuatu. Badannya masih hangat, kulitnya belum
pucat, namun jelas sinar kehidupan telah meninggalkan kedua bola matanya.
Elly membeku di tempatnya. Tidak, ini tidak
benar-benar terjadi kan? Tangannya terulur, meraih wajah Calvin. Jari-jarinya
mengelus pipi pemuda itu, seakan-akan jika ia melakukan itu Calvin akan bangun
kembali dan mengucapkan maaf karena telah membuatnya kaget dengan caranya yang
gentle seperti biasa.
Namun jelas hal itu tidak akan terjadi. Calvin
sudah meninggalkannya, meninggalkannya seperti Cedric dulu. Dari posisi pemuda
itu yang menindihnya tadi, Elly menyimpulkan bahwa pemuda itu melindunginya,
menerima mantra pencabut nyawa sebagai di posisi dirinya.
Sekali lagi, apakah ia di kutuk? Elly tidak bisa
menahan tangisnya lagi. Air matanya mengalir turun seraya kedua tangannya
memeluk tubuh Calvin yang mulai mendingin. Ia tidak peduli dengan keramaian
perang di sekitarnya hingga akhirnya tangan-tangan dengan lembut namun tegas
menariknya. Gadis itu tidak ingat apapun lagi selain jeritan histeris yang ia
keluarkan. Sudah cukup ia kehilangan terlalu banyak orang yang berharga
untuknya; Cedric, Gisselle dan sekarang Calvin. Ia ingat ia sempat memberontak
pada orang-orang yang menariknya pergi dari tempat Calvin, dan bagaimana air
mata menghalangi pandangannya pada wajah Calvin. Namun setelah itu ia tidak
ingat apa-apa. Semuanya menggelap kembali.
***TBC***
A/N : Sorry for waiting long dan
bahkan angstnya gagal sobs.
Dan pendek karena saya ngotot mau di tamatin di chapter 30 hahahaha
Anyway, mohon maaf apabila ada
kesalahan *bows*
Original Plot by : Our Queen, JK Rowling
The ‘new’ plot Made
by : Liz
Take out with full credits please~ ^^

0 komentar:
Posting Komentar