Selasa, 09 Juni 2015

Hogwarts' Beloved : Chapter 27



Chapter 27 : It Has Started
                                                (Setting : HP 7)



Suasana meriah di pesta ulang tahun Harry yang ke 17 digantikan dengan suasana tegang karena Menteri Sihir, Rufus Scrimgeour, memberikan mereka sebuah kunjungan mendadak. Nicole memandang tajam Scrimgeour ketika pria itu tiba, yang di balas dengan lirikan sedikit gugup dari sang Menteri Sihir. Ekspresinya lebih gugup lagi ketika Nicole ikut berdiri dan mengatakan bahwa gadis itu akan ikut dengan Harry, Ron dan Hermione.

“Kau tidak perlu ikut sebenarnya, Ravensdale.”  Kata Scrimgeour ketika mereka sudah berada di ruang tamu The Burrows.

“Hanya memastikan.” Jawab Nicole dengan santai. Scrimgeour hanya menaikan bahunya dan mulai membuka lembaran perkamen yang Nicole kenali sebagai surat wasiat kakeknya. Scrimgeour membaca kalimat pertama dan serempak tiga kepala menoleh bingung ke arah Nicole.

“Surat wasiat untukku sudah kuterima beberapa minggu yang lalu.” Kata Nicole, menjawab pandangan bertanya dari Harry, Ron dan Hermione. Scrimgeour hanya melirik gadis itu dan melanjutkan. Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut Nicole selama pembagian wasiat kepada Ron, Hermione dan Harry, hingga akhirnya topik tiba pada pedang Gryffindor.

“Sejujurnya, itu menjadi hak milik Nicole.” Kata Hermione setelah Scrimgeour menolak memberikan pedang itu kepada Harry karena pedang itu bukan milik Dumbledore untuk di berikan.

Scrimgeour mengernyit. “Itu adalah peninggalan sejarah.”

Hermione langsung menatap ke arah Nicole, mencari dukungan, namun gadis yang lebih tua itu hanya menggeleng.

“Aku sudah pernah mencoba berdebat tentang hal itu.” Kata Nicole. “Tapi dia keras kepala.” Nicole melirik ke arah sang Menteri Sihir, yang masih berpegang teguh pada keputusannya.

Scrimgeour menggaruk pipinya yang tidak tercukur rapi sambil mengamati Harry. "Menurutmu, mengapa--"

"Mengapa Dumbledore memberikan pedang itu padaku?"  Potong Harry yang mencoba menahan amarahnya. "Mungkin Dumbledore pikir akan bagus bila aku menjadikannya hiasan dinding."

"Jangan bercanda, Potter!" geram Scrimgeour. "Apakah karena Dumbledore percaya bahwa hanya pedang Godric Gryffindor yang dapat mengalahkan Ahli Waris Slytherin? Apakah dia ingin memberikan pedang itu padamu, Potter, karena dia percaya, seperti kebanyakan, bahwa kau adalah yang ditakdirkan untuk menghabisi Dia Yang Tak Boleh Disebut?"

"Teori yang menarik," kata Harry. "Apakah sudah ada yang pernah mencoba menusuk Voldemort dengan pedang? Mungkin Kementrian harus menyuruh seseorang untuk melakukannya, daripada membuang waktu meneliti Deluminator, atau menangkap buronan dari Azkaban. Jadi ini yang kau lakukan, tuan Menteri, mengunci diri di dalam kantor, mencoba membuka Snitch? Orang-orang sekarat di luar sana, dan aku salah satu dari mereka. Voldemort terbang mengejarku dan membunuh Mad-Eye Moody, dan Kementrian diam saja. Dan kau masih berharap kami akan bekerja sama denganmu!"

"Keterlaluan!" teriak Scrimgeour yang langsung berdiri. Harry pun melompat berdiri. Scrimgeour melangkah maju dan menusukkan tongkatnya ke arah dada Harry dan meninggalkan lubang kecil seperti bekas terbakar di kaus Harry.

"Oi!" kata Ron yang langsung berdiri dan mengangkat tongkatnya, tapi Harry menahannya.

"Jangan! Jangan beri dia alasan untuk menangkap kita."

"Ingat bahwa kau tidak sedang di sekolah, hah?" kata Scrimgeour mendengus di depan wajah Harry. "Ingat bahwa aku bukan Dumbledore yang memaafkan semua penghinaan dan keangkuhanmu, Potter. Kau bisa saja menyandang bekas lukamu seperti mahkota, Potter, tapi anak berumur tujuh belas tahun tidak pantas memberi tahu apa yang harus kukerjakan! Sudah saatnya kau belajar menghormati orang lain!"

"Dan saatnya kau belajar mendapatkannya," kata Harry.

“Cukup.”

Nada suara Nicole membuat kedua orang yang sedang berdebat itu membeku sesaat. Nicole sudah berdiri dan berjalan ke arah Harry dan Scrimgeour, memaksa mereka berdua mundur dan menjauhi satu dengan yang lain.

“Jika urusan anda sudah selesai, tolong pergi sekarang pak Menteri.” Lanjut Nicole, masih dengan nada dinginnya yang tadi.

Lantai bergetar, terdengar suara berlari, lalu pintu ruang duduk terbuka. Mr. dan Mrs. Weasley berlari melewatinya.

"Kami – kami rasa kami mendengar…" kata Mr. Weasley yang langsung terdiam melihat Harry, Nicole dan Scrimgeour.

"… ada yang berteriak," kata Mrs. Weasley terangah-engah, melanjutkan kata-kata suaminya.

"Tidak – tidak ada apa-apa," geram Scrimgeour. "Aku… kecewa atas kelakuanmu," katanya sambil menatap wajah Harry. "Sepertinya kau menganggap bahwa Kementrian tidak memiliki keingingan yang sama denganmu – dengan Dumbledore. Seharusnya kita bekerja sama."

"Aku tidak menyukai metodemu, Pak Menteri," kata Harry. "Ingat ini?"

Harry mengacungkan kepalan tangan kanannya dan menunjukkan pada Scrimgeour bekas luka yang masih tampak jelas, bertuliskan aku tidak boleh berbohong. Wajah Scrimgeour mengeras. Ia berbalik dan meninggalkan ruangan tanpa satu kata pun. Mrs. Weasley bergegas mengikutinya. Harry dapat mendengar Mrs. Weasley berkata dari pintu belakang, "Dia sudah pergi!"

"Apa yang dia ingingkan?" tanya Mr. Weasley memandangi Harry, Ron, Hermione dan Nicole.

"Memberikan peninggalan Dumbledore pada kami," kata Harry. Mr. Weasley hanya mengangguk-angguk saja dan menyuruh mereka kembali ke meja makan dan melanjutkan pesta yang sempat terhenti itu.

“Kau tidak mendapatkan apa-apa?” Tanya Elly saat Nicole kembali ke tempat duduknya. Benda-benda yang baru di terima Harry, Ron dan Hermione sedang berpindah dari tangan ke tangan dan sibuk di bicarakan.

“Aku sudah mendapat warisanku beberapa minggu yang lalu.” Jawab Nicole lagi. Ia memang sudah menerima barang-barang kakeknya, termasuk rumah mereka di Godric’s Hollow yang sudah Nicole mantrai dengan mantra Fidelius. Nicole adalah pemegang rahasianya, tentu saja.

Pesta ulang tahun Harry berjalan dengan singkat, semua langsung beristirahat karena esoknya adalah perayaan pernikahan Bill dan Fleur. Dan tepat pukul tiga sore keesokan harinya, Nicole sudah berdiri di dalam bersama Elly, Calvin dan Oliver.

“Ini semua tampak merepotkan..” Komentar Nicole.

“Oh kau tidak boleh berkata begitu.” Sahut Elly sambil tersenyum jahil. “Karena nanti kau akan melakukan hal yang sama.”

“Melakukan apa?”

“Menikah.”

Oliver langsung batuk dan mukanya serta muka Nicole memerah, membuat Elly dan Calvin mau tidak mau tertawa melihat reaksi mereka. Pesta pernikahan berlangsung dengan anggun. Tampaknya George sudah menemukan senyumannya kembali, ia dan Fred sibuk membuat lelucon dimana-mana. Calvin mengajak Elly berdansa dan mereka berdansa dengan anggun bersama pasangan yang lain. Nicole pun menarik Oliver ke lantai dansa.

“Aku tidak bisa dansa kau tahu..” Bisik Oliver cemas.

“Tenang saja dan ikuti langkahku.” Balas Nicole.

“Kuharap aku tidak menginjak kakimu..” Komentar Oliver membuat Nicole tertawa kecil. Namun tawanya terhenti ketika mendadak seekor lynx perak mendarat di tengah-tengah lantai dansa. Tubuh gadis itu membeku. Ia mengenali patronus siapa itu. Lynx perak itu adalah milik Kingsley dan setahunya, Kingsley tidak akan mungkin mengirimkan patronusnya jika tidak ada sesuatu yang darurat.

“Kementrian sudah di kuasai.” Suara Kingsley terdengar dari lynx perak itu. “Scrimgeour mati. Mereka datang.”

Suasana mendadak hening. Semua orang menatap lynx perak itu hingga menghilang. Lalu terdengar suara jeritan dan semuanya menjadi berantakan. Terlatih menghadapi situasi panik, Nicole mengeluarkan tongkatnya. Oliver juga melakukan hal yang sama dan mereka berdua segera mencari yang lain.

“Elly!!” Teriak Nicole. Namun alih-alih Elly, ia malah bertemu dengan Harry dan Hermione yang sedang mencari Ron. Nicole menjatuhkan salah satu sosok bertopeng yang mengepung tempat pesta itu dan menghampiri kedua anak yang lebih muda itu sementara Oliver menghadapi sosok bertopeng yang lain.

“Berhati-hatilah kalian. Lakukan pencarian tapi tetaplah tersembunyi.” Kata Nicole dengan cepat. Mata Harry melebar karena kaget.

“Kau tahu—“

“Ku jelaskan lain kali.” Nicole memotong perkataan Harry. “Sekarang cepat pergi dari sini!”

Gadis itu mendorong Harry dan Hermione pergi sebelum berbalik dan menjatuhkan sosok hitam lainnya. Perlu beberapa saat baginya dan Oliver untuk menemukan Elly.

“Nicole! Oliver!” Elly berlari mendekati dengan Calvin dibelakangnya. Tongkat mereka berdua siap di tangan.

“Kita harus pergi dari sini.” Nicole meraih tangan Elly. Kedua gadis itu hendak memegang tangan para pemuda, namun baik Oliver maupun Calvin menolaknya.

“Kami berdua berdarah murni, mereka tidak akan menyakiti kami.” Kata Calvin.

“Tidak!” Seru Nicole, namun Oliver kembali menggeleng.

“Kami akan baik-baik saja Nic. Cepat, pergi..”

Mata hijau Nicole bertemu dengan mata cokelat pacarnya dan gadis itu langsung tahu bahwa Oliver serius. Gadis itu memeluk Oliver singkat sebelum kembali menggenggam tangan Elly.

“Berhati-hatilah kalian.” Dan ia membawa Elly ber-Apparate.

Semuanya terasa berputar diantara mereka berdua sebelum akhirnya mereka tiba di halaman rumah berlantai dua yang sederhana. Nicole memimpin memasuki rumah itu.

“Kita berada dimana?” Tanya Elly.

“Rumahku dan kakekku.” Kata Nicole. “Mereka tidak akan menemukan kita disini.” Setelah mengatakan itu, Nicole kemudian terdiam, seakan-akan memikirkan sesuatu.

“Kau tidak sedang mempertimbangkan akan balik kesana bukan?” Elly seakan-akan membaca pikiran Nicole. Nicole menatap sahabatnya.

“Aku seorang Auror, tapi aku tidak ada disana untuk melindungi mereka.”

“Kau adalah cucu Dumbledore, dan keturunan Gryffindor. Mereka akan berusaha menangkapmu seperti mereka menargetku.” Jawab Elly. “Dengan apapun alasan yang mereka bisa lakukan.”

Elly menatap sahabatnya tepat dimatanya. Keheningan menyelimuti selama beberapa saat hingga akhirnya Nicole mengangguk.

“Baiklah, kau menang.” Kata Nicole. “Ayo, kutunjukan kamarmu dan ruangan lainnya.” Dan gadis itu memberikan tanda pada Elly untuk mengikutinya ke lantai dua rumah itu.

“Rumah ini cukup luas, mengingat kalian hanya tinggal berdua selama ini.” Komentar Elly setelah mereka sampai di lantai dua, tepatnya di kamar tamu yang menjadi kamar Elly selama ia menginap di rumah itu.

“Kakek memang sengaja membuatnya besar. Ia bilang jika aku menikah nanti, aku bisa tinggal disini bersamanya.”

“Jadi Oliver tidak perlu mencari rumah lagi..” Timpal Elly sambil tersenyum jahil pada Nicole, membuat muka gadis yang bersangkutan merah padam. Tanpa berkata apapun lagi, Nicole membawa Elly melihat-lihat rumahnya.

“Ini foto apa?” Tanya Elly.

Nicole menoleh dan melihat foto yang di tunjuk Elly. Sebuah foto kursi malas dengan ukuran yang cukup besar. Pigura merah emas menghiasi di sekitarnya.

“Oh itu.” Nicole tersenyum dan berjalan mendekat. “Ini foto kakekku. Tapi tampaknya ia sedang tertidur di pigura fotonya di Hogwarts.” Nicole menatap pigura foto itu selama beberapa saat, betapa ia ingin berbicara dengan kakeknya saat ini. Namun jelas tidak semudah itu. Gadis itu lalu menoleh ke arah Elly.

“Ayo, kita bahkan belum melihat dapur dan ruang tengah.”

***

“Mereka benar-benar..”

“Tapi menurutku ini ide yang bagus..”

Nicole menatap Elly. Sahabatnya yang berambut merah itu menatapnya balik dengan ekspresi muka bersemangat. Saat ini mereka sedang membicarakan tentang ‘Potterwatch’, sebuah siaran radio yang akan mereka lakukan untuk membantu semua orang yang melawan Voldemort. Nicole baru saja mengetahui rencana ini ketika ia bertemu dengan Kingsley dan Mr. Weasley beberapa hari yang lalu. Gadis itu bertemu dengan kedua pria yang lebih dewasa itu untuk mengetahui kabar dan langkah selanjutnya.

“Kapan mereka akan melakukan siaran pertama?” Tanya Elly yang tampaknya terlalu bersemangat mengenai rencana mereka ini.

“Setelah mereka memastikan mantra pelindungnya sudah cukup aman.” Jawab Nicole untuk kesekian kalinya. Namun tampaknya itu tidak membutuhkan waktu yang lama karena seminggu kemudian, kedua gadis itu diminta untuk ikut siaran bersama anggota Orde lainnya di rumah persembunyian milik Kingsley.

“Sebelumnya, kita memerlukan nama samaran untukmu.” Kata Lee, yang sudah pasti menjadi penyiar saluran radio yang rahasia itu. Lee tidak mengherankan, mengingat ia adalah komentator Quidditch yang hebat. Yang membuat heran adalah Feli akan ikut serta dan juga penyiar tetap bersama Lee.

“Lioness.” Seakan-akan sudah menentukan sebelumnya, Fred dan George menjawab di saat yang bersamaan seraya menatap Nicole dengan cengiran jahil. Nicole sendiri mengernyit pada mereka berdua.

“Oh ayolah. Patronusmu singa.”

“Dan kau adalah cucunya cucu dari cucunya cucunya cucunya cucunya Godric Gryffindor.”

“Dan kau perempuan.”

“Jadi Lioness sudah nama yang paling tepat.”

Fred dan George menjelaskan dengan berbicara sekompak biasanya. Nicole hanya bisa menggeleng-geleng saja sebelum akhirnya menyetujui ide si kembar itu. Elly sendiri akhirnya memutuskan untuk menggunakan patronusnya sebagai nama samaran, ‘Doe’.

“Baiklah! Ayo kita mulai.” Kata Lee yang sudah siap memulai siaran hari itu. Pemuda itu sendiri menggunakan ‘River’ sebagai nama samaran, dan nama samaran Feli adalah ‘Marigold’.

Kegiatan siaran itu tidak berlangsung lama. Setelah siaran selesai, semuanya duduk berkumpul di ruang tamu untuk menikmati minuman dingin di hari yang panas itu.

“Aku masih tidak percaya Snape menjadi kepala sekolah.” Gerutu Fred setelah ia menghabiskan minumannya dengan beberapa teguk saja. “Si rambut minyak itu..”

Elly bergeriak tidak nyaman di tempat duduknya. Gadis itu masih merasa walinya tidak bersalah, walau ia tidak tahu apa yang sebenarnya benar-benar terjadi. Nicole, yang mengetahui semua hal itu, memutuskan untuk diam saja dan melirik Elly dengan sudut matanya. Kakeknya telah melarangnya untuk memberi tahu yang lain hingga semuanya selesai.

Pembicaraan berlanjut mengenai beberapa berita terbaru dan ketika mereka membahas tentang anak-anak yang harus menghadiri Hogwarts tanpa terkecuali, terlebih dengan kepala sekolah terburuk sepanjang masa, topik pembicaraan beralih mengenai Harry, Ron dan Hermione.

“Mereka di Grimmauld Place.” Kata Lupin ketika semua orang menerka-nerka dimana tiga sekawan itu berada sekarang.

Semua orang langsung diam dan menatap pria itu.

“Bagaimana kau tahu?” Tanya Kingsley.

Lupin terdiam sejenak, “Aku mengunjungi mereka beberapa hari yang lalu.”

Elly otomatis berdiri dari tempatnya, namun Nicole dengan cepat menahan tangan gadis itu, mengetahui betul apa yang akan di lakukan gadis berambut merah itu. Tanpa perlu di katakan lagi, Elly pasti hendak menyusul adiknya. Bagaimanapun juga, Harry adalah keluarga intinya yang terakhir.

“Apa yang sebenarnya Dumbledore tugaskan pada mereka?” Tanya Lupin setelah keheningan menyelimuti mereka selama beberapa saat. Pandangan jatuh pada Nicole, yang hanya mengernyit dan menggeleng.

“Aku tidak bisa mengatakannya..” Jawab Nicole. Gadis itu memang sudah berjanji lagi pada kakeknya untuk tidak menceritakan mengenai tugas Harry pada siapapun, termasuk Elly dan anggota Orde.

“Ngomong-ngomong..” Kata Nicole lagi, berusaha mengganti topik pembicaraan yang tidak menyenangkan itu. “Mereka masih mencari diriku?”

“Masih.” Mr. Weasley lah yang kini menjawab. “Dengan alasan untuk perlindungan dirimu, sang keturunan terakhir Godric Gryffindor.”

Fred dan George mendengus geli mendengar perkataan ayah mereka sendiri mengenai Nicole, menghasilkan, tentu saja, deathglare dari sang gadis yang bersangkutan.

“Aku tahu apa yang kau pikirkan..” Kata Lupin, seakan membaca pikiran Nicole yang sudah ingin keluar dan berjuang bersama anggota Orde lainnya. “Tapi ini terlalu berbahaya, bersabarlah bersembunyi beberapa saat lagi.”

Feli, yang daritadi hanya diam saja, mulai bergerak tidak nyaman di tempatnya. “Kuharap ini semua segera berakhir.”

“Kita juga mengharapkanhal yang sama..” Jawab Lee sambil menepuk kepala Feli dengan lembut.

***

“Masuklah..”

Nicole memberi jalan untuk Lupin dan Kingsley yang tampaknya luar biasa terburu-buru. Elly sendiri, yang tadinya berada di lantai dua, segera berlari turun untuk melihat kedatangan kedua tamu mereka.

“Benarkah? Harry selamat dan berada di rumah Bill dan Fleur?” Kata Elly, penuh dengan kecemasan. Terakhir mereka mendengar kabar tentang tiga sekawan yang sedang berkelana itu adalah mereka tertangkap oleh para Snatchers. Lupin mengangguk.

“Aku bertemu dengan mereka.”

Jawaban Lupin membuat Elly menghembuskan nafas lega. Nicole juga tersenyum lega. Keadaan akhir-akhir ini bertambah parah, list orang menghilang bertambah banyak, dimana-mana menjadi susah untuk melakukan sesuatu tanpa ketahuan oleh Voldemort dan para pendukungnya.

“Oh iya.” Kata Nicole ketika kedua tamunya duduk di ruang tamu miliknya. “Selamat atas kelahiran anakmu, Remus!”

“Terima kasih!” Lupin tersenyum lebar pada kedua gadis itu. Elly lalu berjalan ke dapur dan mengambilkan pesanan Lupin, ramuan untuk mengendalikan sifat manusia serigalanya. Gadis itu membuatnya sepanci besar yang lalu di masukan kedalam botol yang sudah di perbesar secara sihir tentunya.

“Ini..” Kata Elly.

“Banyak terima kasih. Kau memang mewarisi bakat ibumu.” Kata Lupin. Sementara Lupin dengan hati-hati menyimpan botol itu di balik jubahnya, Kingsley menoleh ke arah Nicole dan memberikan setumpuk kertas.

“Rincian berita akhir-akhir ini.” Jelas Kingsley. “Aku tahu kau gatal karena tidak mengetahui apapun di luar sana.”

Nicole mengangguk. “Memang. Terima kasih Kingsley.”

“Bagaimana situasi keamanan rumah ini?”

“Beberapa pelahap maut berjalan di depan rumah beberapa hari yang lalu, namun tidak ada apapun yang terjadi.”

“Mantra pelindungmu memang selalu susah ditembus.”

Cengiran mengembang di muka Nicole. “Trims.”

Elly melirik ke arah kertas-kertas yang sedang di baca Nicole. Ekspresinya berubah menjadi mengernyit ketika ia membaca kertas tersebut.

“Korbannya.. bertambah banyak.”

“Sang Pangeran Kegelapan sudah bergerak dengan leluasa sekarang.” Jawab Kingsley. “Apapun yang Harry lakukan, kuharap itu bisa selesai.”

“Tenang saja. Ia pasti bisa melakukannya.” Kata Nicole. “Kakekku mempercayainya, kita juga harus.”

***

“Bosan.” Gerutu si kembar pada saat yang bersamaan.

“Jangan mengeluh terus.” Kata Mrs. Weasley seraya melewati kedua anak kembarnya yang sedang duduk di sofa. Namun Fred dan George mengabaikan perkataan ibunya.

“George, kau menyimpan apa di kantongmu?”

George menatap Fred dengan tatapan bingung. Fred, yang tangannya berada dekat dengan kantong celana bagian kanan milik George menunjuk kantong tersebut.

“Apa?”

“Kantong celanamu panas bung.”

George langsung merogoh kantong tersebut dan mengeluarkan benda yang menyebabkan kantongnya panas namun tidak terbakar itu. Ketika ia membuka kepalan tangannya, tampak sebuah koin emas, galleon.

“Ini..”

*

Elly sedang berada di kamar yang diubah menjadi perpustakaan kecil oleh Dumbledore dan Nicole di lantai dua. Namun alih-alih membaca buku, gadis itu malah sedang menatap sekeping Galleon emas di tangannya. Bukan sembarang Galleon tentunya, tapi ini adalah tanda bahwa ia adalah anggota LD.

Gadis itu menghela nafas dan hendak menyimpan kembali koinnya ketika mendadak, koin itu terasa panas di tangannya dan angka-angka serta tulisan di koin itu berganti. Mata cokelatnya melebar karena kaget dan ia segera meloncat berdiri dari sofa tempat ia duduk tadi.

“Nicole! Nicole!!”

Gadis yang dipanggil menoleh dari tumpukan kertas yang baru ia terima dari Kingsley kemarin. Apalagi jika bukan berita dan kabar dari para anggota Orde di luar sana?

“Ada apa?” Tanya Nicole pada Elly yang berlari turun menghampirinya. Elly tidak menjawab melainkan memberikan koin itu pada Nicole. Gadis berambut cokelat itu menatap Galleon pemberian Elly dan menatap kembali sahabatnya. Mereka berdua bertatapan selama beberapa saat sebelum berbicara pada saat yang bersamaan.

“Hogwarts.”

Mereka di panggil.

Untuk perang terakhir.

***TBC***

A/N : Mohon maaf apabila ada kesalahan *bows*
Buatnya sedikit buru-buru wkwkwkwkw

Original Plot by : Our Queen, JK Rowling
The ‘new’ plot Made by : Liz
Take out with full credits please~ ^^

0 komentar:

Posting Komentar