Chapter 27 : It Has Started
(Setting :
HP 7)
Suasana meriah di pesta ulang
tahun Harry yang ke 17 digantikan dengan suasana tegang karena Menteri Sihir,
Rufus Scrimgeour, memberikan mereka sebuah kunjungan mendadak. Nicole memandang
tajam Scrimgeour ketika pria itu tiba, yang di balas dengan lirikan sedikit
gugup dari sang Menteri Sihir. Ekspresinya lebih gugup lagi ketika Nicole ikut
berdiri dan mengatakan bahwa gadis itu akan ikut dengan Harry, Ron dan
Hermione.
“Kau tidak perlu ikut sebenarnya,
Ravensdale.” Kata Scrimgeour ketika
mereka sudah berada di ruang tamu The Burrows.
“Hanya memastikan.” Jawab Nicole
dengan santai. Scrimgeour hanya menaikan bahunya dan mulai membuka lembaran
perkamen yang Nicole kenali sebagai surat wasiat kakeknya. Scrimgeour membaca
kalimat pertama dan serempak tiga kepala menoleh bingung ke arah Nicole.
“Surat wasiat untukku sudah
kuterima beberapa minggu yang lalu.” Kata Nicole, menjawab pandangan bertanya
dari Harry, Ron dan Hermione. Scrimgeour hanya melirik gadis itu dan
melanjutkan. Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut Nicole selama pembagian
wasiat kepada Ron, Hermione dan Harry, hingga akhirnya topik tiba pada pedang
Gryffindor.
“Sejujurnya, itu menjadi hak
milik Nicole.” Kata Hermione setelah Scrimgeour menolak memberikan pedang itu
kepada Harry karena pedang itu bukan milik Dumbledore untuk di berikan.
Scrimgeour mengernyit. “Itu
adalah peninggalan sejarah.”
Hermione langsung menatap ke arah
Nicole, mencari dukungan, namun gadis yang lebih tua itu hanya menggeleng.
“Aku sudah pernah mencoba
berdebat tentang hal itu.” Kata Nicole. “Tapi dia keras kepala.” Nicole melirik
ke arah sang Menteri Sihir, yang masih berpegang teguh pada keputusannya.
Scrimgeour menggaruk
pipinya yang tidak tercukur rapi sambil mengamati Harry. "Menurutmu,
mengapa--"
"Mengapa
Dumbledore memberikan pedang itu padaku?" Potong Harry yang mencoba menahan amarahnya. "Mungkin Dumbledore
pikir akan bagus bila aku menjadikannya hiasan dinding."
"Jangan
bercanda, Potter!" geram Scrimgeour. "Apakah karena Dumbledore
percaya bahwa hanya pedang Godric Gryffindor yang dapat mengalahkan Ahli Waris
Slytherin? Apakah dia ingin memberikan pedang itu padamu, Potter, karena dia
percaya, seperti kebanyakan, bahwa kau adalah yang ditakdirkan untuk menghabisi
Dia Yang Tak Boleh Disebut?"
"Teori yang
menarik," kata Harry. "Apakah sudah ada yang pernah mencoba menusuk
Voldemort dengan pedang? Mungkin Kementrian harus menyuruh seseorang untuk
melakukannya, daripada membuang waktu meneliti Deluminator, atau menangkap
buronan dari Azkaban. Jadi ini yang kau lakukan, tuan Menteri, mengunci diri di
dalam kantor, mencoba membuka Snitch? Orang-orang sekarat di luar sana, dan aku
salah satu dari mereka. Voldemort terbang mengejarku dan membunuh Mad-Eye Moody,
dan Kementrian diam saja. Dan kau masih berharap kami akan bekerja sama
denganmu!"
"Keterlaluan!"
teriak Scrimgeour yang langsung berdiri. Harry pun melompat berdiri. Scrimgeour
melangkah maju dan menusukkan tongkatnya ke arah dada Harry dan meninggalkan
lubang kecil seperti bekas terbakar di kaus Harry.
"Oi!" kata Ron yang langsung berdiri dan mengangkat
tongkatnya, tapi Harry menahannya.
"Jangan! Jangan beri dia alasan untuk menangkap kita."
"Ingat bahwa kau tidak sedang di sekolah, hah?" kata Scrimgeour
mendengus di depan wajah Harry. "Ingat bahwa aku bukan Dumbledore yang
memaafkan semua penghinaan dan keangkuhanmu, Potter. Kau bisa saja menyandang
bekas lukamu seperti mahkota, Potter, tapi anak berumur tujuh belas tahun tidak
pantas memberi tahu apa yang harus kukerjakan! Sudah saatnya kau belajar
menghormati orang lain!"
"Dan saatnya kau belajar mendapatkannya," kata Harry.
“Cukup.”
Nada suara Nicole membuat kedua orang yang sedang
berdebat itu membeku sesaat. Nicole sudah berdiri dan berjalan ke arah Harry
dan Scrimgeour, memaksa mereka
berdua mundur dan menjauhi satu dengan yang lain.
“Jika urusan anda sudah selesai, tolong pergi sekarang
pak Menteri.” Lanjut Nicole, masih dengan nada dinginnya yang tadi.
Lantai bergetar, terdengar suara berlari, lalu pintu ruang duduk
terbuka. Mr. dan Mrs. Weasley berlari melewatinya.
"Kami – kami rasa kami mendengar…" kata Mr. Weasley yang langsung terdiam melihat Harry, Nicole dan Scrimgeour.
"… ada yang berteriak," kata Mrs. Weasley terangah-engah, melanjutkan kata-kata suaminya.
"Tidak – tidak ada apa-apa," geram Scrimgeour.
"Aku… kecewa atas kelakuanmu," katanya sambil menatap wajah Harry.
"Sepertinya kau menganggap bahwa Kementrian tidak memiliki keingingan yang
sama denganmu – dengan Dumbledore. Seharusnya kita bekerja sama."
"Aku tidak menyukai metodemu, Pak Menteri," kata Harry.
"Ingat ini?"
Harry mengacungkan kepalan tangan kanannya dan menunjukkan pada Scrimgeour bekas luka yang masih tampak jelas, bertuliskan aku tidak boleh berbohong. Wajah Scrimgeour mengeras. Ia berbalik dan meninggalkan ruangan tanpa satu kata pun. Mrs. Weasley bergegas mengikutinya. Harry dapat mendengar Mrs. Weasley berkata dari pintu belakang, "Dia sudah pergi!"
Harry mengacungkan kepalan tangan kanannya dan menunjukkan pada Scrimgeour bekas luka yang masih tampak jelas, bertuliskan aku tidak boleh berbohong. Wajah Scrimgeour mengeras. Ia berbalik dan meninggalkan ruangan tanpa satu kata pun. Mrs. Weasley bergegas mengikutinya. Harry dapat mendengar Mrs. Weasley berkata dari pintu belakang, "Dia sudah pergi!"
"Apa yang dia ingingkan?" tanya Mr. Weasley memandangi
Harry, Ron, Hermione dan Nicole.
"Memberikan peninggalan Dumbledore pada kami," kata
Harry. Mr. Weasley hanya mengangguk-angguk saja
dan menyuruh mereka kembali ke meja makan dan melanjutkan pesta yang sempat
terhenti itu.
“Kau tidak mendapatkan apa-apa?” Tanya Elly saat
Nicole kembali ke tempat duduknya. Benda-benda yang baru di terima Harry, Ron
dan Hermione sedang berpindah dari tangan ke tangan dan sibuk di bicarakan.
“Aku sudah mendapat warisanku beberapa minggu yang
lalu.” Jawab Nicole lagi. Ia memang sudah menerima barang-barang kakeknya,
termasuk rumah mereka di Godric’s Hollow yang sudah Nicole mantrai dengan
mantra Fidelius. Nicole adalah pemegang rahasianya, tentu saja.
Pesta ulang tahun Harry berjalan dengan singkat, semua
langsung beristirahat karena esoknya adalah perayaan pernikahan Bill dan Fleur.
Dan tepat pukul tiga sore keesokan harinya, Nicole sudah berdiri di dalam
bersama Elly, Calvin dan Oliver.
“Ini semua tampak merepotkan..” Komentar Nicole.
“Oh kau tidak boleh berkata begitu.” Sahut Elly sambil
tersenyum jahil. “Karena nanti kau akan melakukan hal yang sama.”
“Melakukan apa?”
“Menikah.”
Oliver langsung batuk dan mukanya serta muka Nicole
memerah, membuat Elly dan Calvin mau tidak mau tertawa melihat reaksi mereka.
Pesta pernikahan berlangsung dengan anggun. Tampaknya George sudah menemukan
senyumannya kembali, ia dan Fred sibuk membuat lelucon dimana-mana. Calvin
mengajak Elly berdansa dan mereka berdansa dengan anggun bersama pasangan yang
lain. Nicole pun menarik Oliver ke lantai dansa.
“Aku tidak bisa dansa kau tahu..” Bisik Oliver cemas.
“Tenang saja dan ikuti langkahku.” Balas Nicole.
“Kuharap aku tidak menginjak kakimu..” Komentar Oliver
membuat Nicole tertawa kecil. Namun tawanya terhenti ketika mendadak seekor lynx
perak mendarat di tengah-tengah lantai dansa. Tubuh gadis itu membeku. Ia
mengenali patronus siapa itu. Lynx perak itu adalah milik Kingsley dan
setahunya, Kingsley tidak akan mungkin mengirimkan patronusnya jika tidak ada
sesuatu yang darurat.
“Kementrian sudah di kuasai.” Suara Kingsley terdengar
dari lynx perak itu. “Scrimgeour mati. Mereka datang.”
Suasana mendadak hening. Semua orang menatap lynx
perak itu hingga menghilang. Lalu terdengar suara jeritan dan semuanya menjadi
berantakan. Terlatih menghadapi situasi panik, Nicole mengeluarkan tongkatnya.
Oliver juga melakukan hal yang sama dan mereka berdua segera mencari yang lain.
“Elly!!” Teriak Nicole. Namun alih-alih Elly, ia malah
bertemu dengan Harry dan Hermione yang sedang mencari Ron. Nicole menjatuhkan
salah satu sosok bertopeng yang mengepung tempat pesta itu dan menghampiri
kedua anak yang lebih muda itu sementara Oliver menghadapi sosok bertopeng yang
lain.
“Berhati-hatilah kalian. Lakukan pencarian tapi
tetaplah tersembunyi.” Kata Nicole dengan cepat. Mata Harry melebar karena
kaget.
“Kau tahu—“
“Ku jelaskan lain kali.” Nicole memotong perkataan
Harry. “Sekarang cepat pergi dari sini!”
Gadis itu mendorong Harry dan Hermione pergi sebelum
berbalik dan menjatuhkan sosok hitam lainnya. Perlu beberapa saat baginya dan
Oliver untuk menemukan Elly.
“Nicole! Oliver!” Elly berlari mendekati dengan Calvin
dibelakangnya. Tongkat mereka berdua siap di tangan.
“Kita harus pergi dari sini.” Nicole meraih tangan
Elly. Kedua gadis itu hendak memegang tangan para pemuda, namun baik Oliver
maupun Calvin menolaknya.
“Kami berdua berdarah murni, mereka tidak akan
menyakiti kami.” Kata Calvin.
“Tidak!” Seru Nicole, namun Oliver kembali menggeleng.
“Kami akan baik-baik saja Nic. Cepat, pergi..”
Mata hijau Nicole bertemu dengan mata cokelat pacarnya
dan gadis itu langsung tahu bahwa Oliver serius. Gadis itu memeluk Oliver
singkat sebelum kembali menggenggam tangan Elly.
“Berhati-hatilah kalian.” Dan ia membawa Elly
ber-Apparate.
Semuanya terasa berputar diantara mereka berdua
sebelum akhirnya mereka tiba di halaman rumah berlantai dua yang sederhana.
Nicole memimpin memasuki rumah itu.
“Kita berada dimana?” Tanya Elly.
“Rumahku dan kakekku.” Kata Nicole. “Mereka tidak akan
menemukan kita disini.” Setelah mengatakan itu, Nicole kemudian terdiam,
seakan-akan memikirkan sesuatu.
“Kau tidak sedang mempertimbangkan akan balik kesana
bukan?” Elly seakan-akan membaca pikiran Nicole. Nicole menatap sahabatnya.
“Aku seorang Auror, tapi aku tidak ada disana untuk
melindungi mereka.”
“Kau adalah cucu Dumbledore, dan keturunan Gryffindor.
Mereka akan berusaha menangkapmu seperti mereka menargetku.” Jawab Elly.
“Dengan apapun alasan yang mereka bisa lakukan.”
Elly menatap sahabatnya tepat dimatanya. Keheningan
menyelimuti selama beberapa saat hingga akhirnya Nicole mengangguk.
“Baiklah, kau menang.” Kata Nicole. “Ayo, kutunjukan
kamarmu dan ruangan lainnya.” Dan gadis itu memberikan tanda pada Elly untuk
mengikutinya ke lantai dua rumah itu.
“Rumah ini cukup luas, mengingat kalian hanya tinggal
berdua selama ini.” Komentar Elly setelah mereka sampai di lantai dua, tepatnya
di kamar tamu yang menjadi kamar Elly selama ia menginap di rumah itu.
“Kakek memang sengaja membuatnya besar. Ia bilang jika
aku menikah nanti, aku bisa tinggal disini bersamanya.”
“Jadi Oliver tidak perlu mencari rumah lagi..” Timpal
Elly sambil tersenyum jahil pada Nicole, membuat muka gadis yang bersangkutan merah
padam. Tanpa berkata apapun lagi, Nicole membawa Elly melihat-lihat rumahnya.
“Ini foto apa?” Tanya Elly.
Nicole menoleh dan melihat foto yang di tunjuk Elly.
Sebuah foto kursi malas dengan ukuran yang cukup besar. Pigura merah emas
menghiasi di sekitarnya.
“Oh itu.” Nicole tersenyum dan berjalan mendekat. “Ini
foto kakekku. Tapi tampaknya ia sedang tertidur di pigura fotonya di Hogwarts.”
Nicole menatap pigura foto itu selama beberapa saat, betapa ia ingin berbicara
dengan kakeknya saat ini. Namun jelas tidak semudah itu. Gadis itu lalu menoleh
ke arah Elly.
“Ayo, kita bahkan belum melihat dapur dan ruang
tengah.”
***
“Mereka benar-benar..”
“Tapi menurutku ini ide yang bagus..”
Nicole menatap Elly. Sahabatnya yang berambut merah
itu menatapnya balik dengan ekspresi muka bersemangat. Saat ini mereka sedang
membicarakan tentang ‘Potterwatch’, sebuah siaran radio yang akan mereka
lakukan untuk membantu semua orang yang melawan Voldemort. Nicole baru saja
mengetahui rencana ini ketika ia bertemu dengan Kingsley dan Mr. Weasley
beberapa hari yang lalu. Gadis itu bertemu dengan kedua pria yang lebih dewasa
itu untuk mengetahui kabar dan langkah selanjutnya.
“Kapan mereka akan melakukan siaran pertama?” Tanya
Elly yang tampaknya terlalu bersemangat mengenai rencana mereka ini.
“Setelah mereka memastikan mantra pelindungnya sudah
cukup aman.” Jawab Nicole untuk kesekian kalinya. Namun tampaknya itu tidak
membutuhkan waktu yang lama karena seminggu kemudian, kedua gadis itu diminta
untuk ikut siaran bersama anggota Orde lainnya di rumah persembunyian milik
Kingsley.
“Sebelumnya, kita memerlukan nama samaran untukmu.”
Kata Lee, yang sudah pasti menjadi penyiar saluran radio yang rahasia itu. Lee
tidak mengherankan, mengingat ia adalah komentator Quidditch yang hebat. Yang
membuat heran adalah Feli akan ikut serta dan juga penyiar tetap bersama Lee.
“Lioness.” Seakan-akan sudah menentukan sebelumnya,
Fred dan George menjawab di saat yang bersamaan seraya menatap Nicole dengan
cengiran jahil. Nicole sendiri mengernyit pada mereka berdua.
“Oh ayolah. Patronusmu singa.”
“Dan kau adalah cucunya cucu dari cucunya cucunya
cucunya cucunya Godric Gryffindor.”
“Dan kau perempuan.”
“Jadi Lioness sudah nama yang paling tepat.”
Fred dan George menjelaskan dengan berbicara sekompak
biasanya. Nicole hanya bisa menggeleng-geleng saja sebelum akhirnya menyetujui
ide si kembar itu. Elly sendiri akhirnya memutuskan untuk menggunakan
patronusnya sebagai nama samaran, ‘Doe’.
“Baiklah! Ayo kita mulai.” Kata Lee yang sudah siap
memulai siaran hari itu. Pemuda itu sendiri menggunakan ‘River’ sebagai nama
samaran, dan nama samaran Feli adalah ‘Marigold’.
Kegiatan siaran itu tidak berlangsung lama. Setelah
siaran selesai, semuanya duduk berkumpul di ruang tamu untuk menikmati minuman
dingin di hari yang panas itu.
“Aku masih tidak percaya Snape menjadi kepala sekolah.”
Gerutu Fred setelah ia menghabiskan minumannya dengan beberapa teguk saja. “Si
rambut minyak itu..”
Elly bergeriak tidak nyaman di tempat duduknya. Gadis
itu masih merasa walinya tidak bersalah, walau ia tidak tahu apa yang
sebenarnya benar-benar terjadi. Nicole, yang mengetahui semua hal itu,
memutuskan untuk diam saja dan melirik Elly dengan sudut matanya. Kakeknya
telah melarangnya untuk memberi tahu yang lain hingga semuanya selesai.
Pembicaraan berlanjut mengenai beberapa berita terbaru
dan ketika mereka membahas tentang anak-anak yang harus menghadiri Hogwarts
tanpa terkecuali, terlebih dengan kepala sekolah terburuk sepanjang masa, topik
pembicaraan beralih mengenai Harry, Ron dan Hermione.
“Mereka di Grimmauld Place.” Kata Lupin ketika semua
orang menerka-nerka dimana tiga sekawan itu berada sekarang.
Semua orang langsung diam dan menatap pria itu.
“Bagaimana kau tahu?” Tanya Kingsley.
Lupin terdiam sejenak, “Aku mengunjungi mereka
beberapa hari yang lalu.”
Elly otomatis berdiri dari tempatnya, namun Nicole
dengan cepat menahan tangan gadis itu, mengetahui betul apa yang akan di
lakukan gadis berambut merah itu. Tanpa perlu di katakan lagi, Elly pasti
hendak menyusul adiknya. Bagaimanapun juga, Harry adalah keluarga intinya yang
terakhir.
“Apa yang sebenarnya Dumbledore tugaskan pada mereka?”
Tanya Lupin setelah keheningan menyelimuti mereka selama beberapa saat.
Pandangan jatuh pada Nicole, yang hanya mengernyit dan menggeleng.
“Aku tidak bisa mengatakannya..” Jawab Nicole. Gadis
itu memang sudah berjanji lagi pada kakeknya untuk tidak menceritakan mengenai
tugas Harry pada siapapun, termasuk Elly dan anggota Orde.
“Ngomong-ngomong..” Kata Nicole lagi, berusaha
mengganti topik pembicaraan yang tidak menyenangkan itu. “Mereka masih mencari
diriku?”
“Masih.” Mr. Weasley lah yang kini menjawab. “Dengan
alasan untuk perlindungan dirimu, sang keturunan terakhir Godric Gryffindor.”
Fred dan George mendengus geli mendengar perkataan
ayah mereka sendiri mengenai Nicole, menghasilkan, tentu saja, deathglare dari
sang gadis yang bersangkutan.
“Aku tahu apa yang kau pikirkan..” Kata Lupin, seakan
membaca pikiran Nicole yang sudah ingin keluar dan berjuang bersama anggota
Orde lainnya. “Tapi ini terlalu berbahaya, bersabarlah bersembunyi beberapa
saat lagi.”
Feli, yang daritadi hanya diam saja, mulai bergerak
tidak nyaman di tempatnya. “Kuharap ini semua segera berakhir.”
“Kita juga mengharapkanhal yang sama..” Jawab Lee
sambil menepuk kepala Feli dengan lembut.
***
“Masuklah..”
Nicole memberi jalan untuk Lupin dan Kingsley yang
tampaknya luar biasa terburu-buru. Elly sendiri, yang tadinya berada di lantai
dua, segera berlari turun untuk melihat kedatangan kedua tamu mereka.
“Benarkah? Harry selamat dan berada di rumah Bill dan
Fleur?” Kata Elly, penuh dengan kecemasan. Terakhir mereka mendengar kabar
tentang tiga sekawan yang sedang berkelana itu adalah mereka tertangkap oleh
para Snatchers. Lupin mengangguk.
“Aku bertemu dengan mereka.”
Jawaban Lupin membuat Elly menghembuskan nafas lega.
Nicole juga tersenyum lega. Keadaan akhir-akhir ini bertambah parah, list orang
menghilang bertambah banyak, dimana-mana menjadi susah untuk melakukan sesuatu
tanpa ketahuan oleh Voldemort dan para pendukungnya.
“Oh iya.” Kata Nicole ketika kedua tamunya duduk di
ruang tamu miliknya. “Selamat atas kelahiran anakmu, Remus!”
“Terima kasih!” Lupin tersenyum lebar pada kedua gadis
itu. Elly lalu berjalan ke dapur dan mengambilkan pesanan Lupin, ramuan untuk
mengendalikan sifat manusia serigalanya. Gadis itu membuatnya sepanci besar
yang lalu di masukan kedalam botol yang sudah di perbesar secara sihir
tentunya.
“Ini..” Kata Elly.
“Banyak terima kasih. Kau memang mewarisi bakat ibumu.”
Kata Lupin. Sementara Lupin dengan hati-hati menyimpan botol itu di balik
jubahnya, Kingsley menoleh ke arah Nicole dan memberikan setumpuk kertas.
“Rincian berita akhir-akhir ini.” Jelas Kingsley. “Aku
tahu kau gatal karena tidak mengetahui apapun di luar sana.”
Nicole mengangguk. “Memang. Terima kasih Kingsley.”
“Bagaimana situasi keamanan rumah ini?”
“Beberapa pelahap maut berjalan di depan rumah
beberapa hari yang lalu, namun tidak ada apapun yang terjadi.”
“Mantra pelindungmu memang selalu susah ditembus.”
Cengiran mengembang di muka Nicole. “Trims.”
Elly melirik ke arah kertas-kertas yang sedang di baca
Nicole. Ekspresinya berubah menjadi mengernyit ketika ia membaca kertas
tersebut.
“Korbannya.. bertambah banyak.”
“Sang Pangeran Kegelapan sudah bergerak dengan leluasa
sekarang.” Jawab Kingsley. “Apapun yang Harry lakukan, kuharap itu bisa
selesai.”
“Tenang saja. Ia pasti bisa melakukannya.” Kata
Nicole. “Kakekku mempercayainya, kita juga harus.”
***
“Bosan.” Gerutu si kembar pada saat yang bersamaan.
“Jangan mengeluh terus.” Kata Mrs. Weasley seraya
melewati kedua anak kembarnya yang sedang duduk di sofa. Namun Fred dan George
mengabaikan perkataan ibunya.
“George, kau menyimpan apa di kantongmu?”
George menatap Fred dengan tatapan bingung. Fred, yang
tangannya berada dekat dengan kantong celana bagian kanan milik George menunjuk
kantong tersebut.
“Apa?”
“Kantong celanamu panas bung.”
George langsung merogoh kantong tersebut dan
mengeluarkan benda yang menyebabkan kantongnya panas namun tidak terbakar itu.
Ketika ia membuka kepalan tangannya, tampak sebuah koin emas, galleon.
“Ini..”
*
Elly sedang berada di kamar yang diubah menjadi
perpustakaan kecil oleh Dumbledore dan Nicole di lantai dua. Namun alih-alih
membaca buku, gadis itu malah sedang menatap sekeping Galleon emas di
tangannya. Bukan sembarang Galleon tentunya, tapi ini adalah tanda bahwa ia
adalah anggota LD.
Gadis itu menghela nafas dan hendak menyimpan kembali
koinnya ketika mendadak, koin itu terasa panas di tangannya dan angka-angka
serta tulisan di koin itu berganti. Mata cokelatnya melebar karena kaget dan ia
segera meloncat berdiri dari sofa tempat ia duduk tadi.
“Nicole! Nicole!!”
Gadis yang dipanggil menoleh dari tumpukan kertas yang
baru ia terima dari Kingsley kemarin. Apalagi jika bukan berita dan kabar dari
para anggota Orde di luar sana?
“Ada apa?” Tanya Nicole pada Elly yang berlari turun
menghampirinya. Elly tidak menjawab melainkan memberikan koin itu pada Nicole.
Gadis berambut cokelat itu menatap Galleon pemberian Elly dan menatap kembali
sahabatnya. Mereka berdua bertatapan selama beberapa saat sebelum berbicara
pada saat yang bersamaan.
“Hogwarts.”
Mereka di panggil.
Untuk perang terakhir.
***TBC***
A/N : Mohon maaf apabila ada
kesalahan *bows*
Buatnya sedikit buru-buru
wkwkwkwkw
Original Plot by : Our Queen, JK Rowling
The ‘new’ plot Made
by : Liz
Take out with full credits please~ ^^

0 komentar:
Posting Komentar