Chapter 26 : Everything Will Be Fine
(Setting :
HP 7)
Suara pintu yang dibanting
tertutup menggema di rumah milik keluarga Scotthill. Sekali lagi Gisselle
betengkar dengan kakak dan neneknya. Gadis itu menginginkan untuk sepenuhnya
turut serta dalam kegiatan Orde seperti Nicole, tapi kakek neneknya tidak
menyetujuinya dan meminta gadis itu tidak melakukan sesuatu yang membuatnya
terjebak dalam bahaya.
"Gisselle." Suara
neneknya terdengar dari balik pintu. "Ijinkan nenek masuk?"
Dengan enggan Gisselle berdiri
dan membuka pintu kamarnya. Neneknya tersenyum dan berjalan masuk. Keheningan
menyelimuti selama beberapa saat.
"Kau benar-benar
mengingatkanku pada kedua orang tuamu." Kata neneknya. Gisselle mematap
neneknya dengan bingung, biasanya nenek dan kakeknya selalu menolak
membicarakan orang tuanya.
"Kedua orang tuamu juga
memaksa untuk tetap ikut serta dalam perang." Kata neneknya. "Dan
mereka tidak pernah kembali lagi."
Gisselle terdiam. Ia menyadari
perasaan kakek dan neneknya yang tidak ingin kehilangan satu-satunya cucu yang
mereka punyai. Namun Gisselle tidak ingin hanya diam dan menunggu saja, tidak
saat semua orang yang ia sayangi bertarung mempertaruhkan nyawa di luar sana.
Gadis itu menoleh dan menatap neneknya, namun sebelum ia bisa mengatakan
apapun, neneknya memeluknya.
"Aku tahu kau akan tetap
pergi. Tatapan matamu sama persis dengan kedua orang tuamu waktu itu."
Kata neneknya. "Namun berjanjilah, kembali kesini dengan selamat."
Gisselle merasakan air matanya
mengalir. "Tentu saja. Aku berjanji."
***
George menatap berbagai anggota
Orde yang keluar masuk rumahnya. The Burrow memang sudah menjadi markas Orde
yang baru. Dengan semua pengamanan yang luar biasa ketat, pemuda berambut nerah
itu tidak bisa menghubungi sahabat-sahabatnya sama sekali. Ia bahkan belum
mendengar kabar dari Gisselle sejak pemakaman Dumbledore, sebulan yang lalu.
"Mengkhawatirkan
pacarmu?" Fred menepuk pundak kembarannya sebelum duduk tepat di
sebelahnya. "Tenang saja, ia kan berdarah murni. Para pelahap maut tidak
akan mengejarnya."
"Aku tahu.." Jawab
George. "Tapi ia bersikeras bergabung dengan Orde sepenuhnya. Kurasa ia
terpengaruh Nicole.."
"Nicole tidak akan
mengijinkannya.."
"Memang tidak." George
mengetuk-ngetukan jarinya di atas pangkuannya. "Tapi Gisselle tidak mau
menurut."
Fred mengangkat bahunya.
"Gisselle gadis yang pintar kawan, ia akan baik-baik saja."
George mengangguk, walau jelas
tidak bisa menyingkirkan perasaan buruk yang menghantuinya beberapa hari
terakhir. Pemuda itu lalu mengeluarkan sebuah box merah kecil dari kantong
celananya, hal yang ia bawa kemana-mana akhir-akhir ini, dan juga hal yang
paling ia jaga sejak ia membelinya di kota beberapa hari yang lalu.
Senyuman kecil mengembang di
wajahnya ketika mengingat kembali rencananya. George pun membuka box kecil itu,
menampilkan cicin perak indah yang berada di dalamnya. Ya, George Weasley akan
melamar Gisselle Scotthill setelah pernikahan kakaknya, Bill. Memang kesannya
terlalu terburu-buru, namun di saat seperti ini tidak ada yang pasti bukan?
Pemuda itu menyimpan box
cincinnya kembali dengan hati-hati di saku celananya dan menepuknya pelan. Semua
akan baik-baik saja, ya, mereka akan baik-baik saja.
***
"Kau yakin ini ide yang
terbaik?”
Gisselle menatap sahabatnya,
Nicole Ravensdale. Mereka baru saja selesai rapat mendadak milik Orde mengenai
carai menjemput Harry dan Elly. Terdapat perubahan rencana di saat-saat terakhir
dan mereka memutuskan untuk mengikuti usulan Mundungus yang mengatakan bahwa
akan ‘membuat’ enam Harry lainnya agar ia susah dikenali mana yang asli.
Mendengar usulan Mundungus yang diterima itu, Nicole juga mengusulkan hal yang
sama di lakukan pada Elly, walau tidak perlu menjadi tujuh seperti Harry, cukup
tiga saja.
“Entahlah. Namun ini lebih baik
daripada memindahkan Elly tanpa pengamanan sama sekali.” Jawab Nicole. Besok
malam mereka akan memulai misi mereka dan para anggota orde mulai berdatangan
untuk membantu. Oliver baru saja tiba beberapa jam yang lalu dan Robert akan
datang sore ini bersama Calvin. “Kau sendiri bagaimana? Kau yakin ikut serta
dalam hal ini?” Tanya Nicole pada Gisselle.
Gadis brunette itu mengangguk.
“Tentu saja. Jika kau dan Elly tergabung di dalamnya, aku tidak akan duduk diam
dan menunggu saja!”
Acara esok harinya berjalan
dengan lancar. Sesuai dengan rencana, mereka pergi ke rumah keluarga Dursley
untuk menjemput Harry dan Elly. Setelah perdebatan, karena baik Harry maupun
Elly menolak siapapun menyamar sebagai mereka dan membahayakan diri.
"Baiklah, kalian baru boleh
pergi dua jam setelah kami pergi. Lebih jika kau menganggap itu lebih
aman." Kata Moody pada Nicole. Ketujuh Harry sudah siap pergi sementara
Nicole dan Gisselle sudah memegang ramuan Polyjuice yang berisi rambut Elly.
"Kami mengerti. Semoga
berhasil." Kata Nicole. Salah seorang Harry menepuk pundak Gisselle dan
saat gadis itu menoleh, pemuda itu memeluknya.
"G-george?"
"Siapa lagi?" Kata
George yang sudah berubah menjadi Harry. "Berhati-hatilah okay?" Mata
pemuda itu dipenuh kekhawatiran.
Gisselle tersenyum. "Kau
yang harus berhati-hati. Kau sedang menyamar sebagai orang yang paling di cari
pelahap maut saat ini."
George nyengir dan menepuk kepala
Gisselle. "Aku ingin menciumu saat ini tapi pasti akan kelihatan aneh,
jadi kutunggu kau di The Burrrows nanti."
"Sudah cukup!" Suara
Moody menggelegar. "Ketujuh Potter, bersiap dengan pasangan masing-masing!
Kita akan berangkat!"
Enam orang yang tertinggal di
Private Drive nomor 4 itu mengawasi dari jendela, bagaimana 14 orang yang tadi
berangkat segera terpecah belah dan para pelahap maut bermunculan. Suara
ledakan-ledakan menghiasi malam itu.
"Kau tidak boleh
keluar!" Kata Nicole, menahan Elly yang hendak berlari ke pintu depan.
"Tapi Harry!"
"Akan lebih baik jika kau
tetap tersembunyi!" Nicole menolak untuk melepaskan tangan Elly.
"Jika sang Pangeran Kegelapan menangkapmu, ia akan menggunakanmu untuk
memancing Harry dan kalian berdua akan terbunuh!"
Elly terdiam dan gadis itu jatuh
terduduk. "Aku benci ini." Gumamnya setelah beberapa saat. "Aku
benci saat saat seperti ini."
Tidak ada yang berbicara. Para
pemuda yang bertugas menjaga 'Trio Elly' berdiri dengan awkward sementara
Gisselle membawa Elly ke ruang keluarga dan membuatkan gadis itu teh hangat.
Nicole sendiri melanjutkan mengawasi keadaan di luar. Ia harus memastikan
keadaan cukup aman sebelum membawa Elly pergi dari rumah itu.
Dua jam yang terasa sangat lama
akhirnya berlalu. Nicole dan Gisselle sudah memakai pakaian Elly dan minum
ramuan mereka, sehingga saat ini ada tiga Elly di ruang keluarga.
"Baiklah, Gisselle akan
pergi bersama Robert, Elly dengan Calvin." Kata Nicole yang saat ini
sedang menjadi Elly yang berdiri paling ujung, Oliver berdiri canggung
disebelahnya. "Kita akan menggunakan sapu dan menuju lokasi yang sudah di
tentukan." Lanjut Nicole. Kelima orang yang mendengarkan mengangguk
singkat sebelum berjalan ke depan rumah.
"Sampai nanti." Kata
Robert.
Gisselle memeluk Elly dan Nicole.
"Berhati-hatilah kalian." Kata gadis brunette itu.
"Kau juga." Jawab Elly.
"Sampai bertemu di The
Burrow." Lanjut Nicole.
Gisselle tersenyum dan menaiki
sapunya lalu menghilang bersama Robert di langit malam. Elly dan Calvin terbang
setelah Gisselle dan Robert, menyisakan Nicole dan Oliver.
"Mereka akan baik-baik
saja." Kata Oliver. Pemuda itu mengetahui betul apa yang menjadi
kekhawatiran pacarnya itu. Ia sudah mengenal Nicole tujuh tahun lebih. Nicole
mengangguk dan menaiki sapunya diikuti oleh Oliver dan mereka terbang ke langit
malam.
Sama dengan kejadian yang menimpa
Harry dan yang lain, Nicole dan Oliver juga bertemu dengan pelahap maut. Walau
tidak sebanyak yang mengejar Harry, tapi tetap saja mereka membuat Nicole dan
Oliver cukup kewalahan. Nicole nyaris saja tersambar mantra Crucio.
Para pelahap maut yang
mengejarnya semakin menipis, sebagian besar sudah terkalahkan dan yang lainnya
mundur, menyadari bahwa tidak ada gunanya mereka mengejar lagi.
"Jika ini menimpa kita, Elly
dan Gisselle.." Gumam Nicole. Oliver segera terbang kesampingnya untuk
menenangkan gadis itu.
"Tenang saja. Mereka akan
baik-baik saja." Kata pemuda berusia 21 tahun itu.
Nicole mengigit bibir bagian
bawahnya. "Kuharap begitu."
*
"Kau baik-baik saja?"
Tanya Calvin pada Elly. Mereka berdua baru saja di hadang sekelompok pelahat
maut, yang sama seperti Nicole dan Oliver, terkalahkan dan mundur.
Elly mengangguk namun ia memegang
erat tangan Calvin dengan satu tangan. Calvin balik menggenggamnya, menyadari
bahwa Elly masih terguncang. Gadis itu belum sepenuhnya pulih dari kejadian
tiga tahun yang lalu, saat Cedric Diggory tewas terbunuh. Tidak memerlukan
waktu yang lama sebelum mereka tiba di tempat portkey yang akan membawa mereka
ke The Burrow.
"Elly?" Suara Ginny
menyambutnya. Suasana rumah The Burrow tampak agak berantakan. George terbaring
di sofa dan Mrs. Weasley sedang merawatnya. Begitu melihat adiknya, Elly
langsung berlari dan memeluk Harry.
"Apa yang terjadi? Dimana
yang lain?" Kata Calvin, menyadari sebagian besar orang dewasa disana
tidak ada.
"Mad Eye tewas." Jawab
Fred yang duduk di dekat George. "Yang lain pergi untuk mencari
jenazahnya."
"Elly?" Panggil George
dengan suara pelan. Elly berjalan mendekat sambil tersenyum lemah.
"Aku bisa membedakan kalian
mulai sekarang." Kata gadis itu.
George terkekeh. "Terima
kasih telah melindungi sahabat kita, sobat." Kata George pada Calvin yang
membalasnya dengan anggukan singkat namun sopan.
"Dimana Gisselle?"
Tanya Hermione kemudian, menyadari ada sesuatu yang salah. "Bukankah ia
dan Robert seharusnya tiba sebelum kalian?"
"Seharusnya seperti
itu." Jawab Calvin. Ekspresinya yang biasanya tenang di penuhi
kekhawatiran. Robert adalah sahabatnya, tentu saja ia khawatir. “Portkey mereka
ada di depan jadi mungkin mereka ketinggalan portkey dan terpaksa terbang
kesini.”
Suara letupan ringan terdengar
dari luar dan otomatis semuanya berjalan keluar rumah, kecuali George dan Mrs.
Weasley tentunya.
"Nicole!" Teriak Elly
saat menyadari siapa yang tiba berikutnya. Nicole sudah kembali ke wujudnya
yang semula. Gadis berambut cokelat itu berlari dan memeluk Elly dengan erat.
"Nyaris tanpa luka pastinya,
Nona Auror." Kata Fred sambil terkekeh pelan namun pemuda itu memberikan
Nicole sebuah pelukan juga.
“Dimana George? Dan Gisselle?”
Tanya Nicole ketika dua dari sahabatnya menghilang. Fred dan Elly bertukar
pandangan cemas.
“George di dalam, sedang di rawat
oleh Mum.” Kata Fred. “Tapi Gisselle dan Robert belum kembali.”
Muka Nicole jelas menyiratkan
kekhawatiran dan tentu saja, panik. Gadis itu menjadi mudah takut kehilangan
seseorang sejak kematian kakeknya. Nicole nyaris saja berbalik dan hendak berjalan
pergi dengan linglung, lupa kalau akan susah baginya untuk mencari Gisselle dan
Roberth, jika Oliver tidak menahan tangannya.
“Kau hendak kemana?”
“Mencari Gisselle.” Kata Nicole
dengan singkat.
“Mencari kemana?” Balas Oliver
dengan pelan. “Tenanglah, dan kita tunggu mereka disini.”
Nicole menggigit bibir bawahnya, dan
selama beberapa waktu tidak membalas perkataan Oliver. Yang lain sudah cemas
gadis itu akan tetap memutuskan untuk mencari Gisselle. Tidak ada yang dapat
menghentikannya bila Nicole sudah memutuskan seperti itu.
“Baiklah.” Satu kata dari Nicole
dan semuanya langsung menghembuskan nafas lega. Mereka berhasil membujuk Nicole
untuk menunggu di dalam yang ternyata sebuah kesalahan besar. Menyatukan
Nicole, Elly dan George menambah kekhawatiran yang ada. Mrs. Weasley sudah
menyuruh mereka semua beristirahat namun tidak ada yang mau beranjak, terutama
George yang baru saja di rawat. Pemuda berambut merah itu tidak bergerak dari
sofa tempat ia duduk sama sekali.
Mendadak, bunyi ‘buk’ terdengar
dari luar, membuat semua orang otomatis berdiri dan berlari keluar. Nicole
adalah yang pertama keluar dari rumah, disusul oleh Elly, Calvin, Oliver dan
Fred. Setelah melihat apa yang menyebabkan bunyi tersebut, Nicole mempercepat
larinya dan berteriak meminta bantuan.
Yang gadis itu lihat adalah
Gisselle, gadis itu terbaring di tanah dengan tubuh yang penuh luka, kaleng
bekas yang menjadi Portkeynya tergeletak tidak jauh darinya. Calvin, pemuda
pertama yang tiba di sisi Nicole dan Elly, yang tiba kedua setelah Nicole,
segera mendekat dan mengangkat Gisselle selembut mungkin dan penuh
kehatian-hatian.
“Cepat, kedalam rumah.” Kata
Fred, mukanya pucat pasi.
George, yang menunggu di dalam
rumah, langsung terduduk begitu melihat Gisselle yang di bawa Calvin masuk ke
dalam rumah. Rasa pusing dan lemas karena kehilangan darah di lupakannya sama
sekali ketika ia mengambil Gisselle dari Calvin dan menaruhnya di pelukannya.
“Gisselle.” Kata George, tidak
lebih dari suara memanggilnya yang biasa, hanya saja kali ini sedikit bergetar.
Mukanya di penuhi dengan kekhawatiran.
Mendengar suara pacarnya,
Gisselle membuka matanya dengan perlahan dan tersenyum kecil ketika ia melihat
George, namun itu tidak membuat George menjadi lega.
“Gisselle! Apa yang terjadi?”
Tanya pemuda berambut merah itu.
“Tenang George. Kita harus
mengobati luka-luka Gisselle terlebih dahulu.” Kata Oliver, namun Gisselle
menggeleng.
“Luka-lukaku sudah tidak bisa di
rawat lagi.” Tangan Gisselle berpindah ke daerah perutnya, yang tampaknya
terluka paling parah di banding yang lain.
“Jangan berkata begitu!” Seru Nicole.
Gisselle menggeleng kembali. “Aku
tahu badanku lebih dari siapapun, Nicole. Aku tahu luka-luka ini sudah terlalu
parah. Dan ingat, aku adalah penyembuh di St. Mungo, aku tahu hal ini lebih
dari siapapun.”
“Tidak!” Kata George, Fred dan
Elly bersamaan.
“Gisselle…” Kata Calvin yang dari
tadi diam saja. “Robert.. dimana dia?”
Ekspresi muka Gisselle langsung
berubah. Gadis itu tampak seperti siap menangis. “Maafkan aku.” Katanya dengan
suara pelan. “Tapi..Robert..”
Semua orang menunggu Gisselle
melanjutkan kata-katanya. Si gadis brunette mengehela nafas panjang sebelum
melanjutkan,
“Robert tewas saat melindungiku.”
Keheningan kembali menyelimuti
mereka. Tidak ada yang berbicara selama beberapa saat hingga akhirnya Calvin
memecah keheningan.
“Bukan salahmu.” Kata Calvin,
suaranya tercekat. “Si bodoh itu memang seperti itu.”
Gisselle membuka mulutnya, hendak
mengatakan sesuatu namun alih-alih kata-kata yang keluar dari mulutnya, gadis
itu terbatuk, dan hal itu membuat George panik.
“Kita harus mengobatimu!” Seru
pemuda itu, namun Gisselle menggeleng lagi.
“Aku tidak punya waktu banyak.”
Ujar gadis itu dengan pelan. “Tolong biarkan aku melanjutkan..” Tambahnya
ketika ia melihat George dan yang lain sudah siap memprotes kata-katanya tadi.
Gadis itu meminta Nicole, Elly dan Fred mendekat, sementara tangan George ia
genggam dengan erat. Mrs. Weasley dan yang lain mundur, memberikan space untuk
Gisselle dan sahabat-sahabatnya. Air mata sudah mengalir dari mata Mrs. Weasley
“Terima kasih..” Gisselle menatap
sahabatnya satu persatu. Ia sangat menyesali tidak bisa melihat Lee untuk
terakhir kalinya, namun apa boleh buat. Gadis itu menarik nafas dalam dalam dan
melanjutkan. “Terima kasih, untuk saat-saat terbaik dalam hidupku.”
Suara Gisselle sudah lemah,
mukanya semakin pucat, dan George dapat merasakan tangan gadis itu semakin
lemas dalam genggamannya.
“Aku tidak pernah menyesal
bertemu kalian.” Lanjut gadis itu. “Nicole, Elly.. Jaga diri kalian. Jangan
berakhir seperti diriku.”
“Jangan berkata begitu gadis
bodoh, kau tidak akan kemana-mana.” Timpal Nicole. Gisselle hanya tertawa kecil
mendengar jawaban sahabatnya. Ia lalu menatap Oliver yang berdiri tidak jauh
dari Nicole.
“Jaga Nicole dengan baik, jika
tidak maka aku tidak akan memaafkanmu.”
Oliver mengangguk, “Tenang saja.”
Gisselle kembali memandang kedua
sahabat terdekatnya. “Tolong jangan menangis.” Katanya setelah melihat air mata
Elly yang sudah mengalir. “Aku tidak ingin berpisah dengan tangisan seperti
ini. Aku ingin melihat senyuman kalian sebagai yang terakhir, bukan tangisan.”
Tangan Gisselle yang lain terarah
kepada Fred, yang langsung di genggam lembut oleh pemuda itu. “Fred, tolong
jaga George ya?”
“Tentu saja.” Fred mengangguk
dengan mantab walau jelas pemuda itu juga sedang menahan tangisnya. Gisselle
tersenyum padanya dan terakhir, ia memandang George.
“George, dengar.” Kata Gisselle.
“George, aku tahu ini susah, tapi kumohon, setelah aku pergi..” Gadis itu
terdiam dan kembali menarik nafas. Air mata yang mengalir membuatnya susah
berkata-kata. “Setelah aku pergi, carilah gadis lain, bahagiakan dia.
Bahagialah.”
Air mata George sudah membanjir
keluar. Pemuda itu hanya bisa menggeleng karena ia tidak bisa menemukan
suaranya. Semua kata-kata tertahan di lehernya.
“Jangan terjebak dalam
kesedihan.” Gisselle tersenyum lemah walau air matanya masih mengalir. “Aku
mencintaimu..”
“Aku juga mencintaimu.” Kata
George dengan suara bergetar. “Sangat..”
Gisselle tidak menjawab, namun
senyumannya melebar.
“Jangan pergi.” George terisak
seperti anak kecil. “Gisselle, kumohon, jangan pergi.”
Senyuman Gisselle berubah menjadi
senyuman sedih. Gadis itu meletakan telapak tangannya di pipi George. “Maafkan
aku, dan terima kasih. Aku sayang kalian semua.” Pandangannya jatuh pada semua
orang yang berada disana. “Sampaikan sayangku pada yang lain.” Dan ia kembali
menatap George. “Selamat tingg—“
Belum selesai gadis itu
mengatakan kata-katanya, kehidupan meninggalkan tubuhnya. Tangannya yang
terangkat tadi kini terjatuh lemas di samping tubuhnya.
“Tidak..” George meraih tangan
Gisselle yang sudah lemas. “Tidak.. Gisselle! TIDAK JANGAN PERGI.” Pemuda itu
berteriak sekuat tenaga seraya memeluk tubuh pacarnya. Fred menahan saudara
kembarnya yang histeris walau ia sendiri menangis. Elly sudah jatuh terduduk
dan menangis histeris seperti George.
Namun Nicole tampak seperti habis
di tampar sesuatu. Ia menatap tubuh Gisselle selama beberapa saat sebelum
berjalan pelan ke luar rumah.
“Nicole? Kau hendak kemana?”
Tanya Oliver, satu-satunya yang menyadari Nicole berjalan ke luar rumah.
“Nicole!” Panggilnya karena Nicole tidak menjawabnya. “Nicole hey!!” Pemuda itu
mulai berlari mengejar Nicole yang jelas-jelas mengabaikan panggilan pacarnya
dan tetap berjalan dengan cepat.
“Apa yang hendak kau lakukan?”
Kata Oliver seraya menarik tangan Nicole. Nicole berusaha menarik kembali
tangannya namun genggaman Oliver lebih kuat.
“Lepaskan aku Oliver. Aku akan
mencari orang yang membuat Gisselle seperti itu.” Jawab Nicole sambil terus
memberontak.
“Apa?! Tidak!!”
“Jangan hentikan aku, Oliver. Aku
akan menyelesaikan semua ini. Aku tidak bisa kehilangan siapapun lagi.”
“Apa kau gila?!” Teriakan Oliver
membuat Nicole berhenti memberontak dan menatap pemuda itu. “Apa yang kau
pikirkan hah?! Menyelesaikan ini sendirian?!”
“Aku..” Kata Nicole terbata-bata.
“Kau pikir bagaimana perasaanku
jika aku yang berada di posisi George saat ini?!”
Nicole benar-benar terdiam saat
Oliver meneriakan kata-kata itu. Pikirannya kembali jernih dan air matanya
mulai mengalir.
“Maafkan aku..” Isak gadis itu.
Semua kesedihannya tertumpah. Ia menahannya dari sejak kehilangan kakeknya,
tidak, ia sudah menampungnya sejak Cedric pergi meninggalkan mereka. Oliver
menarik Nicole ke pelukannya, membiarkan gadis itu menangis disana. Perang ini
sudah mengambil nyawa banyak orang-orang terdekat mereka. Bahkan gadis kuat
yang dikenal Oliver sejak 9 tahun yang lalu ni pun menangis histeris.
***
Pemakaman Gisselle Scotthill
berlangsung dengan singkat dan sepi. Gadis itu di makamkan disebelah kuburan
kedua orang tuanya. Kakek dan Nenek Gisselle tidak bisa mengatakan apa-apa.
Kehilangan satu-satunya cucu mereka membuat mereka kehilangan kata-kata.
George duduk bersama Fred, yang
berusaha sekuat tenaga mensupport saudaranya itu. Semua keluarga Weasley juga
ada disana. Elly dan Harry, Nicole dan Oliver, Lee dan Feli, Calvin dan
beberapa anggota Orde lainnya juga hadir walau hal itu adalah suatu resiko yang
besar. Namun semua setuju resiko itu layak di ambil demi Gisselle.
Suasana di rumah keluarga Weasley
jelas memburuk sejak kepergian Gisselle. Persiapan pernikahan Bill dan Fleur,
yang tentunya tidak bisa di tunda walau mereka sedang berkabung, membuat
setidaknya semua orang sibuk sehingga tidak ada waktu untuk bersedih. Namun
tidak ada yang bisa mengubah mood George. Pemuda itu menjadi pendiam sejak
kepergian Gisselle. Bahkan Fred tidak bisa membantu saudara kembarnya itu.
Beberapa hari sebelum ulang tahun
Harry, George duduk di halaman rumah keluarga Weasley, memainkan tongkat
sihirnya dengan malas dan tidak bersemangat.
“Disana kau rupanya..”
George menoleh, saudara kembarnya
berdiri tidak jauh dari tempat ia duduk sekarang. Fred tersenyum tipis dan
berjalan mendekat lalu duduk disebelah George. Keheningan menyelimuti mereka
selama beberapa saat, hal yang sangat jarang terjadi mengingat mereka saudara
kembar yang tidak bisa diam sama sekali.
“George..”
“Hentikan.” Kata George, bahkan
sebelum Fred bisa mengatakan kata-kata lain. “Aku tahu apa yang hendak kau
katakan. Aku tidak bisa melakukannya. Melupakannya begitu saja.”
“Kami tidak memintamu
melupakannya, sobat.” Kata Fred. “Biarkan aku menyelesaikan kata-kataku
dahulu.” Dan George kembali terdiam, membiarkan Fred melanjutkan.
“Aku tahu ini memang susah,
kehilangan dirinya.” Fred melanjutkan dengan perlahan. Pemuda itu menatap rumah
mereka yang memang terletak di depan mereka berdua saat ini. “Tapi George, kau
tidak bisa murung terus seperti ini.” Ia lalu menoleh dan menatap George dengan
tegas. “Kau tahu berapa frustasinya kita melihatmu akhir-akhir ini?” Kata Fred.
“Ya bukan hanya diriku saja.” Katanya menjawab pandangan bertanya George.
“Seluruh keluarga, Elly, Nicole dan yang lain juga mengkhawatirkanmu!”
“Semua..?”
Fred mengangguk. “Bukan hanya kau
yang kehilangan Gisselle. Semua orang juga merasakannya. Nicole menjadi lebih
pendiam dan terus menerus tenggelam dalam pikirannya sendiri. Dia bahkan
bekerja dua kali lebih keras dari biasanya di kantor kata Dad. Dan Elly, ia
kembali seperti dirinya yang semula..” Fred terdiam sejenak, “..sebelum kita
kehilangan Cedric. Well, itu hal yang bagus sih, tapi tetap! Kau mengerti
maksudku kan?”
George hanya terdiam saja,
membuat Fred menjadi frustasi.
“Intinya, kau tidak bisa terus
menerus murung seperti ini! Bukan itu yang Gisselle inginkan!!” Kata Fred.
“Apa yang kau tahu tentang yang
dia inginkan?!” George tanpa sadar berteriak pada saudara kembarnya sendiri.
“Kau tidak tahu!! Tidak tahu apapun!!”
Tidak ada yang berbicara setelah
George berteriak seperti itu. Selama beberapa saat, kedua anak kembar itu hanya
berpandangan saja, hingga akhirnya George yang membuka mulut pertama kali.
“Maafkan aku.”
Fred tersenyum kecil. “Tidak
apa-apa kawan. Tapi kuharap kau mendengarkan kata-kataku tadi.” Ia lalu menepuk
pundak George dan berdiri lalu berjalan pergi, menuju rumah, meninggalkan
George untuk berpikir.
“Bodoh.” George mengarahkan
tinjunya pada tanah di sampingnya. Pemuda berambut merah itu meninju tanah
berulang kali hingga akhirnya ia berhenti untuk mengatur nafasnya. Air matanya
kembali mengalir ketika mengingat kematian orang yang paling ia cintai,
Gisselle.
“Kenapa kau harus pergi,
Gisselle.” Bisiknya. Tangannya lalu meraih kantong celananya dan mengeluarkan
box kecil berwarna merah, tempat ia menyimpan cincin yang seharusnya adalah
milik Gisselle, yang seharusnya akan terpasang di jari gadis itu.
George pun mengeluarkan cincin
itu dan menggenggamnya erat-erat. Air mata masih terus mengalir hingga
mendadak, entah dari mana, tubuh pemuda itu dipenuhi kehangatan, seakan-akan
ada yang memeluk tubuhnya dari belakang. Dengan cepat George menoleh, namun
tidak ada siapapun yang berdiri di belakangnya.
Entah mengapa pelukan tadi terasa
tidak asing baginya.
“Gisselle..?” Gumam George.
Pemuda itu tercengang selama beberapa saat sebelum berdiri dan mengelap air
matanya. Senyuman perlahan-lahan mengembang di wajahnya.
“Aku telah bertindak idiot ya?”
Katanya, seakan-akan Gisselle memang berada di depannya. “Aku mengerti, aku tidak
boleh seperti ini atau kau mungkin akan mulai menghantui dan membuat mimpiku di
malam hari menjadi mimpi buruk.” George tertawa dan mengeluarkan tongkatnya.
Dengan satu gerakan singkat, pemuda itu menyihir cincin itu sehingga sekarang cincin
itu tergantung di sebuah tali kalung terbuat dari rantai perak.
George mengenakan kalung
berbandul cincin itu. “Tenang saja Gisselle, pacarmu ini akan baik-baik saja.”
Tangan pemuda itu menggenggam cincinnya sekali lagi. “Kita semua akan baik-baik
saja, jadi jangan khawatir.”
***TBC***
A/N : Kaga angst jir hahahaha
Maaf jika bahasanya aneh,
kemampuan bahasa gue acak kadul..
Again, mohon maaf apabila ada
kesalahan *bows*
Original Plot by : Our Queen, JK Rowling
The ‘new’ plot Made
by : Liz
Take out with full credits please~ ^^

0 komentar:
Posting Komentar