Senin, 16 Februari 2015

Hogwarts' Beloved : Chapter 25



Chapter 25 : You Are And Always Be My Pride
                                                (Setting : HP 6)


“Ia akan baik-baik saja, tenanglah Harry.” Kata Elly, menenangkan adiknya. Harry baru saja mengantar sahabatnya, Ron, kerumah sakit sekolah bersama Profesor McGonagall dan Profesor Slughorn. Saat ini Madam Pomfrey sedang merawat pemuda berambut merah yang keracunan itu. Elly menyuruh adiknya, Hermione dan Ginny menunggu di luar sementara ia membantu Madam Pomfrey merawat Ron.

Jam delapan, baru Madam Pomfrey mengijinkan ketiga anak tersebut mengunjungi Ron, di susul dengan Fred dan George.

“Terima kasih karena telah merawatnya, Elly.” Kata George.

Elly menggeleng, “Aku tidak melakukan banyak, Madam Pomfrey nyaris melakukan semuanya."

“Tapi tetap, kau merawatnya. Terima kasih untuk hal itu.” Timpal Fred. Elly hanya tersenyum sebelum Madam Pomfrey memanggilnya kembali.

Rumah sakit sekolah hanya berisi Ron selama beberapa hari sehingga Elly hanya memiliki sedikit pekerjaan selain belajar mantra-mantra dan ramuan penyembuh dari Madam Pomfrey. Hingga beberapa hari kemudian, adiknya sendiri di rawat di rumah sakit karena Bludger yang di pukul oleh anggota teamnya sendiri.

“Tidak, kau tidak boleh menemuinya dan membuat masalah.” Larang Elly dengan tegas ketika Harry mengatakan akan menghajar McLaggen, anggota teamnya yang bermasalah. “Tenangkan dirimu, dan jangan ijinkan dia masuk ke dalam team lagi.”

Betapa herannya Elly ketika Harry menerima perintahnya itu dengan cepat, walau jelas pemuda itu tampaknya merencanakan sesuatu. Sebagai seorang kakak, tentu saja ia cemas. Terutama setelah apa yang Snape katakan padanya, mengenai tingkah Harry yang tampaknya mencurigai Profesor yang juga merupakan wali dari Elly itu.

Hermione tampak berulang kali ingin menceritakan sesuatu pada gadis yang lebih tua itu, namun pada akhirnya Hermione selalu berkata ‘tidak-jadi’ pada Elly, yang sudah bisa menebak itu pasti ada hubungannya dengan Harry.

Mimpi buruknya menjadi kenyataan ketika Draco Malfoy di bawa kerumah sakit dalam keadaan berlumuran darah. Dan dari berita-berita yang tersebar, penyebabnya tak lain tak bukan adalah Harry sendiri. Elly sudah mencoba berbicara dengan Snape, namun sia-sia saja. Menurut Snape, Harry tetap harus di hukum walau dia adalah adik dari Elly.

“Kau sendiri, kenapa kau melakukan hal itu?”

Elly duduk berdua dengan adiknya di halaman Hogwarts. Gadis berambut merah itu berusaha menghibur adiknya yang tidak bisa mengikuti final Quidditchnya. Harry hanya menggumamkan sesuatu yang tidak jelas dan menunjukan keengganan yang jelas sekali untuk melanjutkan percakapan seperti itu.

Ternyata siapa yang tahu? Team Quidditch Gryffindor ternyata berhasil memenangkan kejuaraan dan Harry berpacaran dengan Ginny Weasley, sesuatu yang Gisselle bilang dalam suratnya kepada Elly adalah cara Tuhan membuat mereka berdua, Gisselle dan Elly, secara tidak langsung menjadi keluarga.

***

Nicole berjalan dengan cemas. Ia belum siap tentang hal ini namun akhir tahun pelajaran di Hogwarts semakin dekat dan surat panggilan dari kakeknya tiba di meja kerjanya di kantor Auror. Gadis itu segera ber-Apparate ke Hogsmeade dan berjalan cepat ke arah sekolah, berharap masih bisa melihat kakeknya sebelum terlambat.

Gadis berambut cokelat itu menemukan kakeknya di ruangannya, sedang menatap halaman Hogwarts melalui jendelanya. Tanpa membuang banyak waktu, gadis itu berlari dan memeluk Dumbledore, yang tentu saja di balas oleh sang kepala sekolah.

“Aku takut ini akhirnya. Draco akan melaksanakan rencananya malam ini.” Kata Dumbledore dengan pelan.

“Tidak..”

“Nicole, kita sudah membahas hal ini. Lagi pula waktuku benar-benar tinggal sedikit.” Dumbledore mengangkat tangannya yang tampak terbakar itu. “Aku akan pergi bersama Harry malam ini, ku minta kau, Remus, Bill dan Nymphadora berjaga-jaga di Hogwarts.”

Air mata Nicole menetes walau gadis itu dengan cepat mengelapnya dengan tangannya. “Aku mengerti.”

“Terima kasih.” Dumbledore mengelus rambut Nicole dengan lembut. “Maafkan aku tidak menjadi kakek yang baik untukmu.”

Nicole menggeleng. “Kau kakek terbaik yang pernah ada, jangan khawatir.”

Air mata Dumbledore mengalir dan profesor itu bahkan tidak mengelap atau menyembunyikannya. Profesor tua itu menarik Nicole ke pelukannya kembali dan memberinya pelukan yang lama.

“Mendapatkanmu sebagai cucu adalah anugrah yang tidak terhingga bernilainya.” Kata Dumbledore. “Kau adalah, dan selalu menjadi kebanggaanku. Terima kasih karena telah menjadi cucuku.” Dumbledore lalu mencium dahi Nicole dan menghapus air mata gadis itu, yang jelas tidak bisa di tahan lagi oleh Nicole.

Nicole lalu menegakkan tubuhnya dan menghapus sisa air mata sebelum tersenyum pada kakeknya. Ia tidak mau kenangan terakhir dirinya adalah ia sedang menangis. Dumbledore sendiri juga tersenyum padanya.

“Sekarang pergilah.” Kata Dumbledore. Nicole mengangguk dan berjalan ke pintu. Gadis itu menoleh tepat di ambang pintu untuk melihat kakeknya sekali lagi.

“Aku sayang kakek.” Kata Nicole. Dumbledore tersenyum kembali.

“Aku juga menyayangimu, Nicole.”

*

Berjam-jam berlalu tanpa ada sesuatu yang mencurigakan. Jelas para guru sudah di peringati oleh Dumbledore sehingga ia bisa melihat beberapa berjaga-jaga di lorong-lorong. Keamanan di sekitar kastil juga sudah di jaga dengan ketat. Nicole bergabung dengan Elly yang berjaga di daerah halaman kastil.

“Ada sesuatu yang mengganggumu?” Tanya Elly ketika ia melihat ekspresi Nicole.

“Tidak. Tidak ada apa-apa.” Jawab Nicole, berbohong pada sahabatnya. Elly jelas tidak mempercayai jawabannya, namun gadis itu memutuskan untuk tidak memaksa Nicole untuk bercerita lebih.

Mendekati malam, suara teriakan terdengar dari dalam kastil. Baik Nicole dan Elly segera berbalik dan berlari ke dalam kastil hanya untuk menemukan keadaan kastil yang sudah mulai kacau balau. Para pelahap maut melawan guru-guru dan anggota Orde yang telah di minta oleh Dumbledore. Nicole dan Elly sendiri segera bergabung dalam pertarungan yang sebenarnya tidak berjalan lama.

Malfoy berlari ke arah tangga, beberapa pelahap maut meluncurkan kutukan, Neville dan Lupin yang terlempar karena mencoba mengejar Malfoy, Snape yang menyusul Malfoy. Bermacam-macam kejadian berlalu dengan cepat di sekitar Nicole. Ketika Snape dan Malfoy muncul di tengah pertarungan, saat itu Nicole tahu, entah bagaimana ia bisa tahu, namun ia tahu begitu saja.

Kakeknya sudah tiada.

Firasatnya di perkuat dengan munculnya Harry dengan ekspresi marah dan segera mengejar Snape dan Malfoy. Elly juga melihat adiknya, dan hendak mengejar pemuda itu ketika ia kembali di hadang oleh salah satu pelahap maut. Nicole sendiri terlalu sibuk mengusir pelahap maut sehingga ketika semuanya sudah selesai, ia baru bisa berlari keluar. Seluruh kastil sudah bangun karena keributan yang di sebabkan pertarungan mereka dan semuanya bergerak ke arah yang sama, ke kaki sebuah menara.

Nicole menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya. Ia merasa belum siap walau ia tahu ia harus menghadapinya. Ketika gadis itu mendekat, semua orang memberikannya jalan tanpa ada kata-kata yang terlontarkan sama sekali.

Dan langkahnya terhenti di depan tubuh kakeknya. Harry sudah berada disitu, berlutut disebelah kakeknya dan menangis. Nicole berjalan pelan ke sebelah kakeknya dan jatuh berlutut disana. Harry menyadari kehadiran Nicole dan menatap gadis itu dengan mata yang basah karena air mata.

“Maafkan aku Nicole. Maafkan aku…” Harry terus mengulangi kata-kata itu sambil terus menangis. Nicole meraih tangan pemuda yang lebih muda itu dan menggeleng pelan.

“Itu bukan salahmu..”

Kerumunan semakin menipis dan Harry di bawa pergi oleh Ginny. Tidak ada yang berani berbicara pada Nicole selain Harry tadi, dan gadis itu menghargainya. Ia takut ia tidak bisa menahan kesedihannya jika ada seseorang yang mengajaknya berbicara saat ini. Nicole menghabiskan beberapa waktu menatap wajah kakeknya sebelum Hagrid datang dan menawarkan memindahkan tubuh Dumbledore.

Nicole menatap wajah kakeknya sekali lagi dan mencium dahi kakeknya. “Selamat tinggal. Aku sayang kakek.”

Ia bisa mendengar Hagrid terisak di belakangnya. Nicole berdiri dan tersenyum lemah pada Hagrid. “Tolong ya.” Katanya dengan suara serak. Hagrid hanya mengangguk dan mengangkat tubuh Dumbledore, sementara Nicole memutuskan untuk berjalan pelan di belakang Hagrid, dan akhirnya berhenti berjalan. Air mata yang dari tadi ia tahan agar tidak tertumpah terlalu banyak kini mengalir tak berhenti.

Gadis itu terisak tak terkendali selama beberapa saat. Kakeknya, satu-satunya keluarganya, benar-benar telah pergi meninggalkannya. Ia berharap ia bisa menerimanya sekuat permintaan kakeknya, namun ia tidak bisa. Perlu beberapa lama untuk Nicole mengendalikan dirinya sepenuhnya dan mengelap air matanya. Ia tidak bisa terlalu lama bersedih, Hogwarts membutuhkannya, dunia sihir masih membutuhkan bantuannya.

Ketika akhirnya Nicole mencapai kastil, ia bertemu dengan Hagrid, Flitwick, Sprout dan Slughorn yang hendak pergi ke ruang kepala sekolah, ruangan kakeknya.

“Oh sayang.” Kata Sprout yang langsung memeluk Nicole. Nicole hanya memeluk balik wanita itu. Air matanya sudah habis sehingga ia tidak bisa menangis lagi. Tangannya terus di genggam oleh Sprout ketika mereka berjalan ke ruangan kepala sekolah, dimana McGonagall dan Harry sudah berada disana.

McGonagall melakukan hal yang sama dengan Sprout ketika melihat Nicole. Mendadak terdengar suara tajam berbicara dari tempat tinggi di dinding, penyihir laki-laki bermuka pucat dengan poni pendek hitam baru saja berjalan memasuki kanvasnya yang kosong.

"Minerva, Menteri akan datang sebentar lagi, dia baru saja ber-Disapparate dari Kementerian."

"Terima kasih, Everard," kata McGonagall, dan dia cepat-cepat berpaling kepada yang lain. "Aku ingin membicarakan tentang apa yang terjadi pada Hogwarts sebelum mereka tiba di sini," katanya cepat. "Aku pribadi tak yakin sekolah harus dibuka lagi tahun depan. Kematian Kepala Sekolah di tangan salah satu rekan kerja kita sungguh noda buruk bagi sejarah Hogwarts. Mengerikan."

"Aku yakin Dumbledore akan menginginkan sekolah tetap buka," kata Sprout. "Menurutku kalau ada satu murid saja yang ingin datang, maka sekolah harus buka untuk murid itu."

"Tapi apakah akan ada murid setelah ini?" kata Slughorn, sekarang mengusap keningnya yang berkeringat dengan saputangan sutra. "Para orangtua akan menginginkan anak-anak mereka tetap di rumah dan tak bisa kubilang aku menyalahkan mereka. Aku pribadi tidak berpendapat kita lebih berbahaya di Hogwarts daripada di tempat lain, tapi kalian tak bisa mengharap para ibu berpikir seperti itu. Mereka ingin keluarga mereka tetap berkumpul, ini wajar."

"Aku setuju," kata McGonagall. "Lagi pula, tidak benar mengatakan bahwa Dumbledore tidak pernah menghadapi situasi yang membuat Hogwarts mungkin ditutup. Ketika Kamar Rahasia terbuka lagi dia mempertimbangkan penutupan sekolah dan harus kukatakan bahwa pembunuhan Profesor Dumbledore lebih mengerikan bagiku daripada adanya monster Slytherin yang hidup tak terdeteksi di perut kastil ..."

"Kita harus berkonsultasi dengan pemerintah," kata Flitwick dengan suaranya yang nyaring melengking; ada memar besar di dahinya, namun selain itu tampaknya tak ada luka lain yang diakibatkan oleh pingsannya di kantor Snape. "Kita harus mengikuti prosedur yang sudah ditetapkan. Jangan membuat keputusan yang terburu-buru."

"Hagrid, kau belum mengatakan apa-apa," kata McGonagall. "Bagaimana pandanganmu, haruskah Hogwarts tetap buka?"

Hagrid, yang sepanjang pembicaraan ini menangis diam-diam ke dalam saputangan polkadotnya, sekarang mengangkat matanya yang merah dan bengkak dan berkata parau, "Aku tak tahu, Profesor ... terserah keputusan para Kepala Asrama dan Kepala Sekolah saja ...

"Profesor Dumbledore selalu menghargai pandanganmu," kata McGonagall dengan baik hati, "dan begitu juga aku."

"Yah, aku akan bertahan di sini," kata Hagrid, air mata besar-besar masih mengalir dari sudut-sudut matanya dan menetes ke berewoknya yang kusut. "Ini rumahku, ini sudah jadi rumahku sejak aku berumur tiga belas tahun. Dan kalau ada anak-anak yang ingin aku mengajar mereka, akan kulakukan. Tapi ... entahlah ... Hogwarts tanpa Dumbledore ..."

Dia tersedu dan menghilang di balik saputangannya lagi. Suasana kembali menjadi hening dan semua pandangan tertuju pada Nicole, yang sama seperti Hagrid, tidak berbicara sama sekali.

“Nicole, sayang. Bagaimana menurutmu?” Tanya McGonagall dengan lembut.

Nicole berdeham, berusaha menjernihkan suaranya. “Hogwarts harus tetap buka. Itu..yang diinginkan kakekku.” Kata gadis itu, masih dengan suara yang serak.

"Baiklah." kata McGonagall setelah keheningan selama beberapa saat.  "Nah, sedangkan soal memulangkan anak-anak ... ada pendapat dilakukan lebih cepat lebih baik. Kita bisa mengatur supaya Hogwarts Express datang besok pagi kalau perlu"

"Bagaimana dengan pemakaman Dumbledore?" tanya Harry, akhirnya berbicara. Nicole merasakan matanya kembali memanas karena air mata.

"Yah.." kata McGonagall, ketegarannya berkurang sedikit ketika suaranya bergetar, "Aku.. Aku tahu bahwa keinginan Dumbledore-lah untuk diistirahatkan di sini, di Hogwarts"

"Kalau begitu itu yang akan terjadi, kan?" kata Harry tegas.

"Kalau Kementerian menganggapnya tepat," kata McGonagall. "Belum pernah ada kepala sekolah yang--"

"Belum pernah ada kepala sekolah lain yang memberi lebih banyak kepada sekolah ini" geram Hagrid.

"Hogwarts harus jadi tempat peristirahatan terakhir Dumbledore," kata Flitwick.

"Betul," kata Sprout.

“..Kumohon.” Ucapan Nicole tidak lebih dari bisikan pelan, namun semua orang mendengarnya.

"Anda tak boleh mengirim murid-murid pulang sebelum pemakaman usai.” Kata Harry. “Mereka pasti ingin mengucapkan--" Suara pemuda itu mendadak menghilang. Nicole sendiri sudah mulai menangis tanpa suara.

"..Selamat tinggal." Sprout melanjutkan kata-kata Harry.

"Dikatakan dengan bagus sekali," Kata Flitwick. "Sungguh dikatakan dengan bagus! Murid-murid kita harus memberikan penghormatan terakhir, pantasnya begitu. Kita bisa mengatur transportasi untuk pulang sesudahnya."

"Setuju," kata Sprout.

"Kurasa ... ya," kata Slughorn dengan suara agak gelisah, sementara Hagrid menyatakan persetujuannya dengan isakan tertahan.

Setelah itu McGonagall mengatakan bahwa sang Menteri sudah tiba, dan Harry langsung mengundurkan diri.

“Kau boleh beristirahat dahulu jika kau mau Nicole.” Kata McGonagall.

Nicole menggeleng, "Aku baik-baik saja." Katanya, walau jelas kondisinya saat ini mengatakan hal yang sebaliknya.

Rufus Scrimgeour tiba bersama beberapa anak buahnya. Pria itu mengucapkan bela sungkawanya pada Nicole dan segera berdiskusi dengan McGonagall. Nicole hanya menonton dengan pandangan kosong sambil duduk di kursi milik kakeknya. Hari sudah sangat larut ketika akhirnya keputusan di buat. Nicole sendiri sudah jatuh tertidur di kursi tempat ia duduk sehingga Hagrid harus menggendong Nicole ke kamar milik gadis itu.

Hari-hari berlalu begitu saja bagi Nicole. Sementara murid yang lain berusaha menyelesaikan pendidikan mereka tahun itu semaksimal mungkin, gadis itu tidak melakukan banyak hal selain berjalan-jalan mengelilingi Hogwarts, kadang di temani Elly dan Gisselle, yang langsung pergi ke Hogwarts esok hari setelah Dumbledore meninggal. Fred dan George juga datang, dan mereka bahkan tidak banyak bicara ketika bersama Nicole.

Oliver datang sehari sebelum pemakaman Dumbledore. Pemuda itu memeluk Nicole dengan erat. Tidak banyak kata-kata yang tertukar, hanya saja pemuda itu jarang meninggalkan Nicole. Ia tahu Nicole membutuhkan bantuannya saat itu.

Hari pemakaman pun tiba. Berbagai macam penghuni dunia sihir tiba di Hogwarts untul memberikan salam terakhir mereka pada penyihir terbesar pada jaman itu. Nicole sendiri sudah duduk di deretan terdepan. Gadis itu tidak mengatakan apa-apa namun ia memegangi Oliver sepanjang waktu, dan pemuda itu mengerti bahwa Nicole ingin di temani. Gisselle dan Elly duduk bersama Fred dan George.

Scrimgeour dan McGonagall bergabung dengan Nicole dan Oliver di baris terdepan. Sang Menteri Sihir menatap Oliver dengan padangan heran sekaligus tidak setuju, mungkin merasa bahwa Oliver bukan orang penting dan tidak layak duduk di barisan depan, namun tidak mengatakan apa-apa karena Nicole tidak melepaskan tangan Oliver sama sekali.

Suara nyanyian para mermaid mengalun sedih dan Hagrid datang membawa tubuh Dumbledore. Oliver pun melirik gadis yang duduk disebelahnya. Nicole tidak menangis, namun mukanya pucat dan tubuh gadis yang biasanya kuat itu lemas, seakan-akan semangatnya ikut pergi bersama Dumbledore. Melihat keadaan Nicole seperti ini membuat Oliver tersiksa.

Seorang laki-laki kecil yang memakai jubah hitam maju ke depan dan menyampaikan pidato panjang yang bahkan setengahnya tidak di dengar oleh Nicole. Yang di pikirkan gadis itu hanyalah kakeknya dan salah satu permintaan kakeknya yang terakhir, yang harus ia laksanakan setelah ini.

“Nicole, Nic?”

Suara Oliver mengagetkannya. Gadis itu menatap pacarnya dengan bingung dan Oliver mengarahkan kepalanya ke arah Menteri Sihir, membuat Nicole menoleh dan menatap Scrimgeour.

“Giliranmu nak.” Kata Scrimgeour, dan Nicole langsung menyadari bahwa semua tatapan orang-orang tertuju padanya. Laki-laki yang tadi berpidato di depan sudah kembali ke tempat duduknya dan kali ini adalah giliran Nicole. Seraya menghembuskan nafas panjang, Nicole berdiri dan berjalan ke tempat laki-laki pendek tadi berpidato.

“Tidak banyak yang bisa kukatakan sebenarnya,” Kata Nicole, memulai pidatonya. “Kalian pasti mengenang kakekku dengan cara yang berbeda-beda. Entah kalian akan mengingatnya sebagai sosok yang berwibawa, sosok yang lucu, sosok yang aneh..” Tatapan matanya bertemu dengan Harry, dan gadis itu tersenyum lemah. “Bagiku sendiri, ia adalah sosok yang tidak tergantikan. Ia mengadopsiku sejak aku berumur satu tahun karena keluarga asliku terbunuh, semuanya.”

Nicole melirik ke arah Scrimgeour dan Fudge sebelum melanjutkan. “Salah satu keinginan kakekku adalah untuk menceritakan siapa keluargaku yang sebenarnya, di pemakamannya.”

Semua orang bergerak tidak nyaman di kursi masing-masing. Bisikan-bisikan mulai terdengar walau masih sayup-sayup.

“Di ulang tahunku yang ke 17 kemarin, kakek menceritakan tentang keluarga asliku.” Kata Nicole, membuat bisik-bisikan kembali menjadi sunyi. “Nama ayahku adalah Zayden Ravensdale, dan ibuku adalah Arabella Selvaratnam.”

Persis setelah Nicole menyebutkan nama keluarga ibunya, hampir seluruh orang dewasa yang hadir berbisik-bisik dengan keras dan menunjukan muka terkejut tidak percaya. Namun sebagian besar anak-anak dan kaum muda hanya menoleh ke kanan dan kiri dengan muka bingung. Elly dan Gisselle bersama si kembar termasuk diantaranya.

“Kenapa mereka kaget seperti itu Dad?” Tanya Fred pada ayahnya yang duduk tidak jauh dari tempatnya duduk, namun baru saja Mr. Weasley akan menjawab, Nicole sudah berbicara lagi sehingga semua orang langsung terdiam.

“Bukan sesuatu yang mudah di percaya memang, seluruh keluarga Selvaratnam terbunuh dalam perang pertama. Namun, kakekku, kakekku yang asli, Balthazar Selvaratnam adalah teman baik Albus Dumbledore, dan ia menitipkan aku yang baru berumur satu tahun ke tangan Dumbledore.”

Kerumunan berbisik-bisik curiga. Keluarga Weasley, Elly dan Gisselle bisa melihat Nicole melirik ke arah Menteri Sihir yang lalu bangkit dan berjalan ke sebelah Nicole.

“Hal itu memang benar,” Kata Scrimgeour. “Menteri Sihir selalu diberi tahu dan di minta merahasiakan hal ini.” Pria itu memandang ke arah Fudge. “Nama Selvaratnam memang sudah tidak pernah di sebut lagi dan sedikit orang yang mengetahui kebenarannya, namun keluarga ini adalah keturunan terakhir salah satu penyihir terbesar sepanjang jaman.”

 “Darah Selvaratnam mengalir di gadis ini, membuat ia adalah keturunan terakhir yang masih hidup sampai saat ini.” Scrimgeour melirik Nicole.

“Nicole Ravensdale adalah keturunan terakhir Godric Gryffindor.”

***

“Benar-benar susah di percaya.”

Fred berjalan mendekati Nicole dan Oliver bersama George, Gisselle dan Elly setelah pemakaman benar-benar berakhir. Nicole sendiri dikerumuni banyak orang setelah pidatonya yang mengejutkan itu, namun tidak ada yang menentang berita itu, meskipun yang meragukan masih banyak.

“Aku bahkan aku bertanya ulang beberapa kali lagi pada kakek untuk akhirnya mempercayai hal itu.” Jawab Nicole.

Fred mengangkat bahunya, “Tapi hal itu cocok denganmu. Kau kan garang seperti singa.” Kata-kata Fred membuat Nicole menginjak kaki pemuda itu.

“Aduh! Nona anggunlah sedikit!!” Teriak Fred kesakitan. Nicole mengabaikan Fred dan menoleh ke arah Elly.

“Apa rencanamu setelah ini?”

“Entahlah..” Kata Elly. “Harry tampaknya merencanakan sesuatu jadi sepertinya aku akan kembali bersamanya selama liburan sekolah.”

“Dan lalu ke rumah kami!” Kata si kembar bersamaan.

“Jangan lupa Bill dan Fleur akan menikah musim panas ini, kalian semua di undang.” Kata George seraya menggandeng tangan Gisselle dan mengedip riang ke arah gadis itu. “Aku tidak sabar menunggu giliran kita seperti mereka, seperti Bill dan Fleur.” Kata pemuda itu, membuat muka pacarnya merah padam.

“Kau sendiri, apa yang akan kau lakukan setelah ini?” Tanya Fred yang mengabaikan saudara kembarnya sendiri dan menatap Nicole.

“Kembali ke kementrian dan menyelesaikan pelatihan Auror ku. Tapi aku akan datang ke pernikahan, tenang saja.” Jawab Nicole.

“Dan kau akan kembali ke Puddlemere United, Oliver?” Tanya Elly.

Oliver melirik Nicole, “Sepertinya. Walau mungkin hanya sesaat.”

“Sesaat?” Nicole menatap pacarnya dengan heran. “Kenapa cuma sesaat?”

“Situasi saat ini tidak bisa di bilang cukup aman untuk bermain Quidditch. Entahlah, mungkin aku akan bergabung dengan anggota Orde lain dan membantu perang.” Jawab Oliver.

Keheningan menyelimuti mereka ketika semuanya sadar bahwa jaman-jaman tenang seperti saat mereka di sekolah dulu sudah tidak ada lagi, dan perang akan terjadi kapan saja. Entah apa yang akan terjadi di masa depan, tidak ada yang tahu dengan pasti.

“Fred! George!”

Suara Mrs. Weasley yang memanggil kedua putranya membuat keheningan pecah. Si kembar pun pamit dan berjalan pulang bersama keluarga mereka. Gisselle pun pamit dan menyusul kakek neneknya sementara Elly menyusul adiknya yang sudah berjalan ke arah stasiun.

“Kau akan baik-baik saja?” Tanya Oliver. Nicole, yang tadinya sedang menatap pusara pualam putih, tempat peristirahatan terakhir kakeknya, menoleh menatap Oliver.

“Aku sudah berjanji pada kakek,” Jawab Nicole seraya tersenyum lemah. “Jadi aku akan baik-baik saja.”

***TBC***

A/N : Pendek.. huehuehue
**no comment about Nic’s true family bye** #kabur
Mohon maaf apabila ada kesalahan *bows*

Original Plot by : Our Queen, JK Rowling
The ‘new’ plot Made by : Liz
Take out with full credits please~ ^^

0 komentar:

Posting Komentar