Chapter 25 : You Are And Always
Be My Pride
(Setting :
HP 6)
“Ia akan
baik-baik saja, tenanglah Harry.” Kata Elly, menenangkan adiknya. Harry baru
saja mengantar sahabatnya, Ron, kerumah sakit sekolah bersama Profesor
McGonagall dan Profesor Slughorn. Saat ini Madam Pomfrey sedang merawat pemuda
berambut merah yang keracunan itu. Elly menyuruh adiknya, Hermione dan Ginny
menunggu di luar sementara ia membantu Madam Pomfrey merawat Ron.
Jam delapan,
baru Madam Pomfrey mengijinkan ketiga anak tersebut mengunjungi Ron, di susul
dengan Fred dan George.
“Terima kasih
karena telah merawatnya, Elly.” Kata George.
Elly
menggeleng, “Aku tidak melakukan banyak, Madam Pomfrey nyaris melakukan
semuanya."
“Tapi tetap,
kau merawatnya. Terima kasih untuk hal itu.” Timpal Fred. Elly hanya tersenyum
sebelum Madam Pomfrey memanggilnya kembali.
Rumah sakit
sekolah hanya berisi Ron selama beberapa hari sehingga Elly hanya memiliki
sedikit pekerjaan selain belajar mantra-mantra dan ramuan penyembuh dari Madam
Pomfrey. Hingga beberapa hari kemudian, adiknya sendiri di rawat di rumah sakit
karena Bludger yang di pukul oleh anggota teamnya sendiri.
“Tidak, kau
tidak boleh menemuinya dan membuat masalah.” Larang Elly dengan tegas ketika
Harry mengatakan akan menghajar McLaggen, anggota teamnya yang bermasalah.
“Tenangkan dirimu, dan jangan ijinkan dia masuk ke dalam team lagi.”
Betapa
herannya Elly ketika Harry menerima perintahnya itu dengan cepat, walau jelas
pemuda itu tampaknya merencanakan sesuatu. Sebagai seorang kakak, tentu saja ia
cemas. Terutama setelah apa yang Snape katakan padanya, mengenai tingkah Harry
yang tampaknya mencurigai Profesor yang juga merupakan wali dari Elly itu.
Hermione
tampak berulang kali ingin menceritakan sesuatu pada gadis yang lebih tua itu,
namun pada akhirnya Hermione selalu berkata ‘tidak-jadi’ pada Elly, yang sudah
bisa menebak itu pasti ada hubungannya dengan Harry.
Mimpi buruknya
menjadi kenyataan ketika Draco Malfoy di bawa kerumah sakit dalam keadaan
berlumuran darah. Dan dari berita-berita yang tersebar, penyebabnya tak lain
tak bukan adalah Harry sendiri. Elly sudah mencoba berbicara dengan Snape,
namun sia-sia saja. Menurut Snape, Harry tetap harus di hukum walau dia adalah
adik dari Elly.
“Kau sendiri,
kenapa kau melakukan hal itu?”
Elly duduk
berdua dengan adiknya di halaman Hogwarts. Gadis berambut merah itu berusaha
menghibur adiknya yang tidak bisa mengikuti final Quidditchnya. Harry hanya
menggumamkan sesuatu yang tidak jelas dan menunjukan keengganan yang jelas
sekali untuk melanjutkan percakapan seperti itu.
Ternyata siapa
yang tahu? Team Quidditch Gryffindor ternyata berhasil memenangkan kejuaraan
dan Harry berpacaran dengan Ginny Weasley, sesuatu yang Gisselle bilang dalam
suratnya kepada Elly adalah cara Tuhan membuat mereka berdua, Gisselle dan
Elly, secara tidak langsung menjadi keluarga.
***
Nicole berjalan
dengan cemas. Ia belum siap tentang hal ini namun akhir tahun pelajaran di
Hogwarts semakin dekat dan surat panggilan dari kakeknya tiba di meja kerjanya
di kantor Auror. Gadis itu segera ber-Apparate ke Hogsmeade dan berjalan cepat
ke arah sekolah, berharap masih bisa melihat kakeknya sebelum terlambat.
Gadis berambut
cokelat itu menemukan kakeknya di ruangannya, sedang menatap halaman Hogwarts
melalui jendelanya. Tanpa membuang banyak waktu, gadis itu berlari dan memeluk
Dumbledore, yang tentu saja di balas oleh sang kepala sekolah.
“Aku takut ini
akhirnya. Draco akan melaksanakan rencananya malam ini.” Kata Dumbledore dengan
pelan.
“Tidak..”
“Nicole, kita
sudah membahas hal ini. Lagi pula waktuku benar-benar tinggal sedikit.”
Dumbledore mengangkat tangannya yang tampak terbakar itu. “Aku akan pergi
bersama Harry malam ini, ku minta kau, Remus, Bill dan Nymphadora berjaga-jaga
di Hogwarts.”
Air mata
Nicole menetes walau gadis itu dengan cepat mengelapnya dengan tangannya. “Aku
mengerti.”
“Terima
kasih.” Dumbledore mengelus rambut Nicole dengan lembut. “Maafkan aku tidak
menjadi kakek yang baik untukmu.”
Nicole
menggeleng. “Kau kakek terbaik yang pernah ada, jangan khawatir.”
Air mata
Dumbledore mengalir dan profesor itu bahkan tidak mengelap atau
menyembunyikannya. Profesor tua itu menarik Nicole ke pelukannya kembali dan
memberinya pelukan yang lama.
“Mendapatkanmu
sebagai cucu adalah anugrah yang tidak terhingga bernilainya.” Kata Dumbledore.
“Kau adalah, dan selalu menjadi kebanggaanku. Terima kasih karena telah menjadi
cucuku.” Dumbledore lalu mencium dahi Nicole dan menghapus air mata gadis itu,
yang jelas tidak bisa di tahan lagi oleh Nicole.
Nicole lalu
menegakkan tubuhnya dan menghapus sisa air mata sebelum tersenyum pada
kakeknya. Ia tidak mau kenangan terakhir dirinya adalah ia sedang menangis.
Dumbledore sendiri juga tersenyum padanya.
“Sekarang
pergilah.” Kata Dumbledore. Nicole mengangguk dan berjalan ke pintu. Gadis itu
menoleh tepat di ambang pintu untuk melihat kakeknya sekali lagi.
“Aku sayang
kakek.” Kata Nicole. Dumbledore tersenyum kembali.
“Aku juga
menyayangimu, Nicole.”
*
Berjam-jam
berlalu tanpa ada sesuatu yang mencurigakan. Jelas para guru sudah di peringati
oleh Dumbledore sehingga ia bisa melihat beberapa berjaga-jaga di
lorong-lorong. Keamanan di sekitar kastil juga sudah di jaga dengan ketat.
Nicole bergabung dengan Elly yang berjaga di daerah halaman kastil.
“Ada sesuatu
yang mengganggumu?” Tanya Elly ketika ia melihat ekspresi Nicole.
“Tidak. Tidak
ada apa-apa.” Jawab Nicole, berbohong pada sahabatnya. Elly jelas tidak
mempercayai jawabannya, namun gadis itu memutuskan untuk tidak memaksa Nicole
untuk bercerita lebih.
Mendekati
malam, suara teriakan terdengar dari dalam kastil. Baik Nicole dan Elly segera
berbalik dan berlari ke dalam kastil hanya untuk menemukan keadaan kastil yang
sudah mulai kacau balau. Para pelahap maut melawan guru-guru dan anggota Orde
yang telah di minta oleh Dumbledore. Nicole dan Elly sendiri segera bergabung
dalam pertarungan yang sebenarnya tidak berjalan lama.
Malfoy berlari
ke arah tangga, beberapa pelahap maut meluncurkan kutukan, Neville dan Lupin
yang terlempar karena mencoba mengejar Malfoy, Snape yang menyusul Malfoy.
Bermacam-macam kejadian berlalu dengan cepat di sekitar Nicole. Ketika Snape
dan Malfoy muncul di tengah pertarungan, saat itu Nicole tahu, entah bagaimana
ia bisa tahu, namun ia tahu begitu saja.
Kakeknya sudah
tiada.
Firasatnya di
perkuat dengan munculnya Harry dengan ekspresi marah dan segera mengejar Snape
dan Malfoy. Elly juga melihat adiknya, dan hendak mengejar pemuda itu ketika ia
kembali di hadang oleh salah satu pelahap maut. Nicole sendiri terlalu sibuk
mengusir pelahap maut sehingga ketika semuanya sudah selesai, ia baru bisa
berlari keluar. Seluruh kastil sudah bangun karena keributan yang di sebabkan
pertarungan mereka dan semuanya bergerak ke arah yang sama, ke kaki sebuah
menara.
Nicole menarik
nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya. Ia merasa belum siap walau ia tahu ia
harus menghadapinya. Ketika gadis itu mendekat, semua orang memberikannya jalan
tanpa ada kata-kata yang terlontarkan sama sekali.
Dan langkahnya
terhenti di depan tubuh kakeknya. Harry sudah berada disitu, berlutut disebelah
kakeknya dan menangis. Nicole berjalan pelan ke sebelah kakeknya dan jatuh
berlutut disana. Harry menyadari kehadiran Nicole dan menatap gadis itu dengan
mata yang basah karena air mata.
“Maafkan aku
Nicole. Maafkan aku…” Harry terus mengulangi kata-kata itu sambil terus
menangis. Nicole meraih tangan pemuda yang lebih muda itu dan menggeleng pelan.
“Itu bukan
salahmu..”
Kerumunan
semakin menipis dan Harry di bawa pergi oleh Ginny. Tidak ada yang berani
berbicara pada Nicole selain Harry tadi, dan gadis itu menghargainya. Ia takut
ia tidak bisa menahan kesedihannya jika ada seseorang yang mengajaknya
berbicara saat ini. Nicole menghabiskan beberapa waktu menatap wajah kakeknya
sebelum Hagrid datang dan menawarkan memindahkan tubuh Dumbledore.
Nicole menatap
wajah kakeknya sekali lagi dan mencium dahi kakeknya. “Selamat tinggal. Aku
sayang kakek.”
Ia bisa
mendengar Hagrid terisak di belakangnya. Nicole berdiri dan tersenyum lemah
pada Hagrid. “Tolong ya.” Katanya dengan suara serak. Hagrid hanya mengangguk
dan mengangkat tubuh Dumbledore, sementara Nicole memutuskan untuk berjalan
pelan di belakang Hagrid, dan akhirnya berhenti berjalan. Air mata yang dari
tadi ia tahan agar tidak tertumpah terlalu banyak kini mengalir tak berhenti.
Gadis itu
terisak tak terkendali selama beberapa saat. Kakeknya, satu-satunya
keluarganya, benar-benar telah pergi meninggalkannya. Ia berharap ia bisa
menerimanya sekuat permintaan kakeknya, namun ia tidak bisa. Perlu beberapa
lama untuk Nicole mengendalikan dirinya sepenuhnya dan mengelap air matanya. Ia
tidak bisa terlalu lama bersedih, Hogwarts membutuhkannya, dunia sihir masih
membutuhkan bantuannya.
Ketika
akhirnya Nicole mencapai kastil, ia bertemu dengan Hagrid, Flitwick, Sprout dan
Slughorn yang hendak pergi ke ruang kepala sekolah, ruangan kakeknya.
“Oh sayang.”
Kata Sprout yang langsung memeluk Nicole. Nicole hanya memeluk balik wanita
itu. Air matanya sudah habis sehingga ia tidak bisa menangis lagi. Tangannya
terus di genggam oleh Sprout ketika mereka berjalan ke ruangan kepala sekolah,
dimana McGonagall dan Harry sudah berada disana.
McGonagall
melakukan hal yang sama dengan Sprout ketika melihat Nicole. Mendadak terdengar
suara tajam berbicara dari tempat tinggi di dinding, penyihir laki-laki
bermuka pucat dengan poni pendek hitam baru saja berjalan memasuki kanvasnya
yang kosong.
"Minerva, Menteri akan datang sebentar lagi, dia baru saja
ber-Disapparate dari Kementerian."
"Terima kasih, Everard," kata McGonagall, dan dia cepat-cepat
berpaling kepada yang lain. "Aku ingin
membicarakan tentang apa yang terjadi pada Hogwarts sebelum mereka tiba di
sini," katanya cepat. "Aku pribadi tak yakin sekolah harus dibuka
lagi tahun depan. Kematian Kepala Sekolah di tangan salah satu rekan kerja kita
sungguh noda buruk bagi sejarah Hogwarts. Mengerikan."
"Aku yakin Dumbledore akan menginginkan sekolah tetap buka,"
kata Sprout. "Menurutku kalau ada satu murid saja yang ingin datang, maka
sekolah harus buka untuk murid itu."
"Tapi apakah akan ada murid setelah ini?" kata Slughorn,
sekarang mengusap keningnya yang berkeringat dengan saputangan sutra.
"Para orangtua akan menginginkan anak-anak mereka tetap di rumah dan tak
bisa kubilang aku menyalahkan mereka. Aku pribadi tidak berpendapat kita lebih
berbahaya di Hogwarts daripada di tempat lain, tapi kalian tak bisa mengharap
para ibu berpikir seperti itu. Mereka ingin keluarga mereka tetap berkumpul,
ini wajar."
"Aku setuju," kata McGonagall. "Lagi pula, tidak benar
mengatakan bahwa Dumbledore tidak pernah menghadapi situasi yang membuat
Hogwarts mungkin ditutup. Ketika Kamar Rahasia terbuka lagi dia
mempertimbangkan penutupan sekolah dan harus kukatakan bahwa pembunuhan
Profesor Dumbledore lebih mengerikan bagiku daripada adanya monster Slytherin
yang hidup tak terdeteksi di perut kastil ..."
"Kita harus berkonsultasi dengan pemerintah," kata Flitwick
dengan suaranya yang nyaring melengking; ada memar besar di dahinya, namun
selain itu tampaknya tak ada luka lain yang diakibatkan oleh pingsannya di
kantor Snape. "Kita harus mengikuti prosedur yang sudah ditetapkan. Jangan
membuat keputusan yang terburu-buru."
"Hagrid, kau belum mengatakan apa-apa," kata McGonagall.
"Bagaimana pandanganmu, haruskah Hogwarts tetap buka?"
Hagrid, yang sepanjang pembicaraan ini menangis diam-diam ke dalam
saputangan polkadotnya, sekarang mengangkat matanya yang merah dan bengkak dan
berkata parau, "Aku tak tahu, Profesor ... terserah keputusan para Kepala
Asrama dan Kepala Sekolah saja ...”
"Profesor Dumbledore selalu menghargai pandanganmu," kata
McGonagall dengan baik hati, "dan begitu juga aku."
"Yah, aku akan bertahan di sini," kata Hagrid, air mata besar-besar
masih mengalir dari sudut-sudut matanya dan menetes ke berewoknya yang kusut.
"Ini rumahku, ini sudah jadi rumahku sejak aku berumur tiga belas tahun.
Dan kalau ada anak-anak yang ingin aku mengajar mereka, akan kulakukan. Tapi
... entahlah ... Hogwarts tanpa Dumbledore ..."
Dia tersedu dan menghilang di balik saputangannya lagi. Suasana kembali menjadi hening dan semua pandangan tertuju pada Nicole,
yang sama seperti Hagrid, tidak berbicara sama sekali.
“Nicole, sayang. Bagaimana menurutmu?” Tanya
McGonagall dengan lembut.
Nicole berdeham, berusaha menjernihkan
suaranya. “Hogwarts harus tetap buka. Itu..yang diinginkan kakekku.” Kata gadis
itu, masih dengan suara yang serak.
"Baiklah." kata McGonagall setelah keheningan selama
beberapa saat. "Nah,
sedangkan soal memulangkan anak-anak ... ada pendapat dilakukan lebih cepat
lebih baik. Kita bisa mengatur supaya Hogwarts Express datang besok pagi kalau
perlu"
"Bagaimana dengan pemakaman Dumbledore?" tanya Harry, akhirnya
berbicara. Nicole merasakan matanya kembali memanas
karena air mata.
"Yah.." kata McGonagall, ketegarannya berkurang sedikit ketika
suaranya bergetar, "Aku.. Aku tahu bahwa keinginan Dumbledore-lah untuk
diistirahatkan di sini, di Hogwarts"
"Kalau begitu itu yang akan terjadi, kan?" kata Harry tegas.
"Kalau Kementerian menganggapnya tepat," kata McGonagall.
"Belum pernah ada kepala sekolah yang--"
"Belum pernah ada kepala sekolah lain yang memberi lebih banyak
kepada sekolah ini" geram Hagrid.
"Hogwarts harus jadi tempat peristirahatan terakhir
Dumbledore," kata Flitwick.
"Betul," kata Sprout.
“..Kumohon.” Ucapan Nicole tidak lebih dari
bisikan pelan, namun semua orang mendengarnya.
"Anda tak boleh mengirim murid-murid pulang sebelum pemakaman usai.” Kata Harry. “Mereka pasti ingin mengucapkan--" Suara pemuda itu mendadak menghilang. Nicole sendiri sudah mulai
menangis tanpa suara.
"..Selamat tinggal." Sprout melanjutkan
kata-kata Harry.
"Dikatakan dengan bagus sekali," Kata Flitwick.
"Sungguh dikatakan dengan bagus! Murid-murid kita harus memberikan
penghormatan terakhir, pantasnya begitu. Kita bisa mengatur transportasi untuk
pulang sesudahnya."
"Setuju," kata Sprout.
"Kurasa ... ya," kata Slughorn dengan suara agak gelisah,
sementara Hagrid menyatakan persetujuannya dengan isakan tertahan.
Setelah itu McGonagall mengatakan bahwa sang
Menteri sudah tiba, dan Harry langsung mengundurkan diri.
“Kau boleh beristirahat dahulu jika kau mau
Nicole.” Kata McGonagall.
Nicole menggeleng, "Aku baik-baik
saja." Katanya, walau jelas kondisinya saat ini mengatakan hal yang
sebaliknya.
Rufus Scrimgeour tiba bersama beberapa anak
buahnya. Pria itu mengucapkan bela sungkawanya pada Nicole dan segera
berdiskusi dengan McGonagall. Nicole hanya menonton dengan pandangan kosong
sambil duduk di kursi milik kakeknya. Hari sudah sangat larut ketika akhirnya
keputusan di buat. Nicole sendiri sudah jatuh tertidur di kursi tempat ia duduk
sehingga Hagrid harus menggendong Nicole ke kamar milik gadis itu.
Hari-hari berlalu begitu saja bagi Nicole.
Sementara murid yang lain berusaha menyelesaikan pendidikan mereka tahun itu
semaksimal mungkin, gadis itu tidak melakukan banyak hal selain berjalan-jalan
mengelilingi Hogwarts, kadang di temani Elly dan Gisselle, yang langsung pergi
ke Hogwarts esok hari setelah Dumbledore meninggal. Fred dan George juga
datang, dan mereka bahkan tidak banyak bicara ketika bersama Nicole.
Oliver datang sehari sebelum pemakaman
Dumbledore. Pemuda itu memeluk Nicole dengan erat. Tidak banyak kata-kata yang
tertukar, hanya saja pemuda itu jarang meninggalkan Nicole. Ia tahu Nicole
membutuhkan bantuannya saat itu.
Hari pemakaman pun tiba. Berbagai macam
penghuni dunia sihir tiba di Hogwarts untul memberikan salam terakhir mereka
pada penyihir terbesar pada jaman itu. Nicole sendiri sudah duduk di deretan
terdepan. Gadis itu tidak mengatakan apa-apa namun ia memegangi Oliver
sepanjang waktu, dan pemuda itu mengerti bahwa Nicole ingin di temani. Gisselle
dan Elly duduk bersama Fred dan George.
Scrimgeour dan
McGonagall bergabung dengan Nicole dan Oliver di baris terdepan. Sang Menteri
Sihir menatap Oliver dengan padangan heran sekaligus tidak setuju, mungkin
merasa bahwa Oliver bukan orang penting dan tidak layak duduk di barisan depan,
namun tidak mengatakan apa-apa karena Nicole tidak melepaskan tangan Oliver
sama sekali.
Suara nyanyian
para mermaid mengalun sedih dan Hagrid datang membawa tubuh Dumbledore. Oliver
pun melirik gadis yang duduk disebelahnya. Nicole tidak menangis, namun mukanya
pucat dan tubuh gadis yang biasanya kuat itu lemas, seakan-akan semangatnya
ikut pergi bersama Dumbledore. Melihat keadaan Nicole seperti ini membuat
Oliver tersiksa.
Seorang laki-laki
kecil yang memakai jubah hitam maju ke depan dan menyampaikan pidato panjang
yang bahkan setengahnya tidak di dengar oleh Nicole. Yang di pikirkan gadis itu
hanyalah kakeknya dan salah satu permintaan kakeknya yang terakhir, yang harus
ia laksanakan setelah ini.
“Nicole, Nic?”
Suara Oliver
mengagetkannya. Gadis itu menatap pacarnya dengan bingung dan Oliver
mengarahkan kepalanya ke arah Menteri Sihir, membuat Nicole menoleh dan menatap
Scrimgeour.
“Giliranmu
nak.” Kata Scrimgeour, dan Nicole langsung menyadari bahwa semua tatapan
orang-orang tertuju padanya. Laki-laki yang tadi berpidato di depan sudah
kembali ke tempat duduknya dan kali ini adalah giliran Nicole. Seraya
menghembuskan nafas panjang, Nicole berdiri dan berjalan ke tempat laki-laki
pendek tadi berpidato.
“Tidak banyak
yang bisa kukatakan sebenarnya,” Kata Nicole, memulai pidatonya. “Kalian pasti
mengenang kakekku dengan cara yang berbeda-beda. Entah kalian akan mengingatnya
sebagai sosok yang berwibawa, sosok yang lucu, sosok yang aneh..” Tatapan
matanya bertemu dengan Harry, dan gadis itu tersenyum lemah. “Bagiku sendiri,
ia adalah sosok yang tidak tergantikan. Ia mengadopsiku sejak aku berumur satu
tahun karena keluarga asliku terbunuh, semuanya.”
Nicole melirik
ke arah Scrimgeour dan Fudge sebelum melanjutkan. “Salah satu keinginan kakekku
adalah untuk menceritakan siapa keluargaku yang sebenarnya, di pemakamannya.”
Semua orang
bergerak tidak nyaman di kursi masing-masing. Bisikan-bisikan mulai terdengar
walau masih sayup-sayup.
“Di ulang
tahunku yang ke 17 kemarin, kakek menceritakan tentang keluarga asliku.” Kata
Nicole, membuat bisik-bisikan kembali menjadi sunyi. “Nama ayahku adalah Zayden
Ravensdale, dan ibuku adalah Arabella Selvaratnam.”
Persis setelah
Nicole menyebutkan nama keluarga ibunya, hampir seluruh orang dewasa yang hadir
berbisik-bisik dengan keras dan menunjukan muka terkejut tidak percaya. Namun
sebagian besar anak-anak dan kaum muda hanya menoleh ke kanan dan kiri dengan
muka bingung. Elly dan Gisselle bersama si kembar termasuk diantaranya.
“Kenapa mereka
kaget seperti itu Dad?” Tanya Fred pada ayahnya yang duduk tidak jauh dari
tempatnya duduk, namun baru saja Mr. Weasley akan menjawab, Nicole sudah
berbicara lagi sehingga semua orang langsung terdiam.
“Bukan sesuatu
yang mudah di percaya memang, seluruh keluarga Selvaratnam terbunuh dalam
perang pertama. Namun, kakekku, kakekku yang asli, Balthazar Selvaratnam adalah
teman baik Albus Dumbledore, dan ia menitipkan aku yang baru berumur satu tahun
ke tangan Dumbledore.”
Kerumunan
berbisik-bisik curiga. Keluarga Weasley, Elly dan Gisselle bisa melihat Nicole
melirik ke arah Menteri Sihir yang lalu bangkit dan berjalan ke sebelah Nicole.
“Hal itu
memang benar,” Kata Scrimgeour. “Menteri Sihir selalu diberi tahu dan di minta
merahasiakan hal ini.” Pria itu memandang ke arah Fudge. “Nama Selvaratnam
memang sudah tidak pernah di sebut lagi dan sedikit orang yang mengetahui
kebenarannya, namun keluarga ini adalah keturunan terakhir salah satu penyihir
terbesar sepanjang jaman.”
“Darah Selvaratnam mengalir di gadis ini,
membuat ia adalah keturunan terakhir yang masih hidup sampai saat ini.” Scrimgeour
melirik Nicole.
“Nicole
Ravensdale adalah keturunan terakhir Godric Gryffindor.”
***
“Benar-benar
susah di percaya.”
Fred berjalan
mendekati Nicole dan Oliver bersama George, Gisselle dan Elly setelah pemakaman
benar-benar berakhir. Nicole sendiri dikerumuni banyak orang setelah pidatonya
yang mengejutkan itu, namun tidak ada yang menentang berita itu, meskipun yang
meragukan masih banyak.
“Aku bahkan
aku bertanya ulang beberapa kali lagi pada kakek untuk akhirnya mempercayai hal
itu.” Jawab Nicole.
Fred
mengangkat bahunya, “Tapi hal itu cocok denganmu. Kau kan garang seperti singa.”
Kata-kata Fred membuat Nicole menginjak kaki pemuda itu.
“Aduh! Nona
anggunlah sedikit!!” Teriak Fred kesakitan. Nicole mengabaikan Fred dan menoleh
ke arah Elly.
“Apa rencanamu
setelah ini?”
“Entahlah..”
Kata Elly. “Harry tampaknya merencanakan sesuatu jadi sepertinya aku akan
kembali bersamanya selama liburan sekolah.”
“Dan lalu ke
rumah kami!” Kata si kembar bersamaan.
“Jangan lupa
Bill dan Fleur akan menikah musim panas ini, kalian semua di undang.” Kata
George seraya menggandeng tangan Gisselle dan mengedip riang ke arah gadis itu.
“Aku tidak sabar menunggu giliran kita seperti mereka, seperti Bill dan Fleur.”
Kata pemuda itu, membuat muka pacarnya merah padam.
“Kau sendiri,
apa yang akan kau lakukan setelah ini?” Tanya Fred yang mengabaikan saudara
kembarnya sendiri dan menatap Nicole.
“Kembali ke
kementrian dan menyelesaikan pelatihan Auror ku. Tapi aku akan datang ke
pernikahan, tenang saja.” Jawab Nicole.
“Dan kau akan
kembali ke Puddlemere United, Oliver?” Tanya Elly.
Oliver melirik
Nicole, “Sepertinya. Walau mungkin hanya sesaat.”
“Sesaat?”
Nicole menatap pacarnya dengan heran. “Kenapa cuma sesaat?”
“Situasi saat
ini tidak bisa di bilang cukup aman untuk bermain Quidditch. Entahlah, mungkin
aku akan bergabung dengan anggota Orde lain dan membantu perang.” Jawab Oliver.
Keheningan
menyelimuti mereka ketika semuanya sadar bahwa jaman-jaman tenang seperti saat
mereka di sekolah dulu sudah tidak ada lagi, dan perang akan terjadi kapan
saja. Entah apa yang akan terjadi di masa depan, tidak ada yang tahu dengan
pasti.
“Fred! George!”
Suara Mrs.
Weasley yang memanggil kedua putranya membuat keheningan pecah. Si kembar pun
pamit dan berjalan pulang bersama keluarga mereka. Gisselle pun pamit dan
menyusul kakek neneknya sementara Elly menyusul adiknya yang sudah berjalan ke
arah stasiun.
“Kau akan
baik-baik saja?” Tanya Oliver. Nicole, yang tadinya sedang menatap pusara
pualam putih, tempat peristirahatan terakhir kakeknya, menoleh menatap Oliver.
“Aku sudah
berjanji pada kakek,” Jawab Nicole seraya tersenyum lemah. “Jadi aku akan
baik-baik saja.”
***TBC***
A/N : Pendek.. huehuehue
**no comment about Nic’s true
family bye** #kabur
Mohon maaf apabila ada kesalahan
*bows*
Original Plot by : Our Queen, JK Rowling
The ‘new’ plot Made
by : Liz
Take out with full credits please~ ^^

0 komentar:
Posting Komentar