Rabu, 11 Februari 2015

You're My : Chapter 11 [END]



Disclaimer    : BTS and all Kpop artists are not mine. Jimin will be soon though (lol kidding).
OC belongs to their rightful owner, while the plot is mine.

Genre : Romance, Friendship, Comedy, Fluff


"You’re My"
Chapter 11 : My Promise



“Jadi kau tidak akan menari dengan Mark sunbae-nim?”

Minra mengangguk. Sejak Jungkook mengatakan ‘jangan pergi’ padanya (atau begitu menurut pendapatnya), gadis itu memutuskan untuk menolak ajakan seniornya walaupun itu berarti ada kemungkinan ia tidak akan menari sama sekali. Soojin hanya menatap Minra dengan pandangan tidak percaya sebelum akhirnya menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Baiklah. Dongho oppa mengajakku berdansa dari awal. Kau akan baik-baik saja ku tinggal sendirian kan?”

Minra tersenyum jahil dan menyenggol tangan Soojin. “Pergi dan berdansalah dengan pacarmu itu!” Gadis itu tertawa ketika muka Soojin memerah mendengar kata ‘pacar’ yang di katakan Minra tadi.

Festival kampus mereka pun mencapai hari terakhirnya. Aula dalam kampus sudah di hias sedemikian rupa oleh para panitia dan sekarang adalah saat-saat yang paling di tunggu semua orang, pesta dansa. Tanpa terkecuali, semua pasangan berdansa di acara yang meriah itu.

“Aku tidak bisa berdansa..” Gumam Jimin saat Haneul menariknya ke tengah ruangan. Haneul mengabaikannya. Gadis itu sudah berencana membuat semua orang mengubah pandangan mereka terhadap pacarnya. Dan salah satu bagian dari rencananya adalah memaksa Jimin mengikuti acara-acara kampus yang selalu di lewatkannya.

Tidak jauh dari Haneul dan Jimin, Dongho sedang menari dengan Soojin, diiringi dengan beberapa pandangan iri dari para gadis yang jelas menyimpan perasaan terhadap sang pangeran kampus. Taehyung juga melakukan hal yang sama dengan saudara kembarnya. Ia menari dengan lincah sementara Jina berusaha mengikuti langkahnya dengan susah payah.

Minra tidak melihat Jungkook sama sekali, sementara Mark sudah menari dengan gadis lain walau jelas sekali ia mencuri-curi pandang ke arah Minra.

“Kau tidak berdansa?”

Minra menoleh dan menatap Jin, yang menyapanya tadi lalu menggeleng. “Tidak, kau sendiri?”

Jin menoleh ke arah Soojin dan tampak sedih. “Tidak. Gadis yang ingin ku ajak berdansa sudah memiliki pasangannya.”

Minra mengikuti arah pandang pemuda itu dan langsung mengerti maksud dari kata-katanya. Jin menyukai Soojin sejak lama, namun sekarang gadis itu memiliki pacar. Pemuda itu bahkan belum sempat menyatakan perasaannya pada Soojin. Minra sendiri entah mengapa dapat mengerti hal itu. Ia menyukai Jungkook, namun ia tidak yakin perasaan pemuda yang lebih muda itu kepadanya. Jungkook memintanya untuk tidak menari bersama Mark, sehingga Minra mau tidak mau mengira Jungkook akan mengajaknya, namun pemuda itu tidak kelihatan sama sekali.

Ataukah kata-kata itu hanya pikiran Minra saja? Jeon Jungkook, apa yang sebenarnya kau rasakan? Apakah sama dengan Minra?

***

“Nona, Tuan Besar memanggil anda.”

Haneul meletakan kertas-kertas tugasnya dari SO dan menatap salah satu butler rumahnya yang paling tua. Akhir-akhir ini ia sibuk dengan acara pemilihan SO yang akan berlangsung sebentar lagi. Prediksi semua orang ternyata benar, ia dan Mark lah yang memperebutkan kursi ketua SO. Mark sendiri tampaknya tidak peduli dan hampir saja mundur dari pemilihan jika tidak di cegah Haneul.

“Ayah memanggilku?” Kata Haneul dengan bingung. Namun gadis itu tetap bangun dari kursinya dan berjalan mengikuti butler tua tersebut ke arah ruang kerja ayahnya, Oh Hyunseok. Gadis itu mengetok pintu dan menunggu ayahnya mengijinkan ia masuk, baru lalu masuk ke dalam ruangan besar milik ayahnya itu.

Oh Hyunseok berdiri di depan meja kayu besar yang merupakan meja kerjanya. Tangannya terlipat di belakang tubuhnya. Ayah dari Haneul ini merupakan pria yang tegas dan cukup galak, bahkan si kembar takut terhadap pria ini.

Di sebelah Hyunseok berdirilah Hwang Eunhee, ibu dari Haneul, wanita yang lembut namun bisa tegas bila ia mau. Hwang Eunhee dan ibu dari Jin adalah kakak beradik, dari situlah Haneul dan Jin bersaudara.

"Kita perlu bicara, Haneul." Kata Hyunseok. Mukanya tidak menunjukan ekspresi sama sekali.

Haneul mengernyit. Rasanya ia tidak melakukan kesalahan apapun. Gadis itu diam saja, menunggu ayahnya melanjutkan kata-katanya.

"Kabar terdengar mengenai kau dan seorang pemuda bernama Park Jimin."

Kata-kata ayahnya berikutnya membuat jantung Haneul terasa berhenti sesaat. Darimana ayahnya mengetahui hal itu? Ia sudah berusaha sebisa mungkin menyembunyikan hal itu dari keluarganya. Si kembar tidak mungkin melaporkannya. Walaupun kedua pemuda itu suka iseng dan mengerjainya, Haneul tahu mereka bukan tipe pelapor. Jin juga tidak mungkin melakukannya. Siapa?

Melihat Haneul yang terdiam, Eunhee melanjutkan perkataan suaminya. "Kami mendengar kabar bahwa kau dan Jimin berpacaran, dan ketika kami mencari tahu tentang pemuda itu.."

"Ia bukan pemuda baik-baik dan kau harus memutuskan segala hubungan dengannya." Lanjut Hyunseok dengan tegas. Sesaat keheningan yang tegang menggantung di ruangan itu, sebelum Haneul akhirnya menghembuskan nafas dalam-dalam.

"Tidak."

Hyunseok mengerutkan keningnya. "Apa?"

"Tidak, ayah." Ulang Haneul. "Aku tidak akan memutuskan Jimin ataupun menjauh darinya."

"Tapi Haneul.."

"Ini pilihanku." Lanjut Haneul lagi. "Jika hanya itu yang kalian ingin bicarakan, aku permisi terlebih dahulu."

Haneul berjalan keluar ruangan dengan cepat, tidak mempedulikan suara teriakan ayahnya yang mulai marah. Gadis itu setengah berlari ke kamar tidurnya lalu mengunci pintunya dari dalam. Jatungnya masih berdetak dengan cepat. Ini pertama kalinya ia menentang ayahnya. Dan anehnya, ia tidak menyesali hal itu.

Ayahnya jelas berusaha sekuat tenaga menjauhkan Haneul dari Jimin. Ia meminta para butler mengantar-jemputnya ke kampus, membuat Haneul berhenti dari kerja sambilannya dan banyak hal lain. Jimin sudah bertanya padanya apa yang terjadi sehingga gadis itu berhenti bekerja, namun sejauh ini Haneul berhasil menghindar dari mengatakan yang sebenarnya dengan alasan pemilihan ketua SO yang akan berlangsung.

Tapi itu tidak bertahan lama.

Pemilihan ketua SO pun berlalu dengan kemenangan Haneul. Kali ini yang menjadi alasan Haneul adalah tugasnya yang menumpuk.

"Kau belum menceritakan kepadanya?"

Haneul menatap pemuda yang merupakan bendahara SO sekaligus adalah sepupunya sendiri, Kim Seokjin. Hanya ada mereka berdua di ruang SO. Mark, wakilnya, dan Son Naeun yang menjadi sekretaris sedang mengambil berkas-berkas di gudang sekolah.

"Menceritakan apa kepada siapa?" Tanya Haneul.

"Tentang penolakan ayahmu, kepada Jimin hyung."

Mendengar jawaban Jin, Haneul terdiam. "Kau harusnya menceritakannya. Jimin hyung harus tahu mengenai larangan ayahmu." Lanjut Jin. Namun setelahnya, pemuda itu tidak mengatakan apapun lagi. Haneul sendiri terdiam dan menatap kertas-kertas di depannya dengan pandangan kosong hingga Mark dan Naeun kembali dari gudang sekolah.

Pekerjaan mereka berjalan lancar, namun tetap memakan waktu yang cukup banyak. Para anggota sudah pulang terlebih dahulu, dan Haneul, sebagai ketua, adalah orang terakhir yang meninggalkan ruangan SO sekaligus yang mengunci pintu. Ia dan Mark mempunyai kunci mereka masing-masing sementara anggota SO yang lain menggunakan kunci dosen yang harus di kembalikan ke ruangan dosen sebelum jam lima sore.

“Aku lapar.” Gumam Mark yang berjalan disebelah Haneul itu.

“Maka makanlah.”

“Aku ingin makan bersama Minra. Hey Haneul kau tahu apak—“ Kata-kata Mark terhenti ketika ia melihat Jimin yang bersandar di dinding tidak jauh dari tempat mereka. Pemuda itu menepuk punggung Haneul dengan riang dan mengedip jahil. “Baiklah, sampai nanti ketua!” Dan pemuda itu pun berjalan pergi ke arah yang lain. Haneul memperhatikan Mark dengan bingung hingga akhirnya melihat apa penyebabnya.

“Sudah kubilang kau tidak perlu menungguku hari ini.” Kata Haneul sambil mendekati pacarnya itu. Jimin menoleh dan menatap Haneul dengan tatapan yang berbeda dari biasanya.

“Tidak apa-apa. Aku juga ingin membicarakan sesuatu denganmu.” Kata Jimin seraya menegakkan tubuhnya. Haneul hanya menatap dengan bingung seraya menunggu Jimin melanjutkan kata-katanya.

“Kenapa kau tidak bercerita padaku?” Pertanyaan Jimin menganggetkan Haneul. Namun kata-kata berikutnya lebih membuat Haneul terkejut.

“Ayahmu menentang hubungan kita, kenapa kau tidak bercerita tentang hal itu?”

“Darimana kau—“

“Dari si kembar. Aku tidak sengaja mendengar percakapan mereka.” Jawab Jimin. Ia tampak sedikit sedih dan kecewa.

“Aku tidak bermaksud menyembunyikannya. Aku hanya ingin menyelesaikannya sendiri.”

Jimin meraih kedua tangan Haneul dan menempelkan dahinya ke dahi gadis itu. “Mendapatkan persetujuan ayahmu adalah tugasku. Jangan khawatirkan hal itu.”

“Apa maksudmu?” Tanya Haneul. Namun Jimin hanya tersenyum kecil dan mencium bibir Haneul sekilas.

“Rahasia. Tapi tenang saja, aku akan mengatasinya.” Kata Jimin. “Dengan cara yang benar tentunya.” Lanjutnya dengan cepat setelah melihat ekspresi pacarnya.

***

Jungkook mengetuk-ngetukan pensilnya dengan asal ke buku notesnya. Ia tidak bisa berpikir jernih sejak festival yang lalu. Bayangan apa yang ia katakan pada Minra tetap menghantuinya dan ia mendapati akhir-akhir ini, tanpa sadar, ia suka mencari sosok gadis itu dimana saja, kapan saja.

“Jungkook? Kau sedang apa?”

Jungkook menoleh dengan cepat dan melihat sepupunya, Soojin berdiri di sebelahnya di taman yang cukup sepi siang itu. Pemuda itu menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari sosok teman sepupunya itu namun tampaknya Soojin sendiri.

“Jika kau mencari Minra, ia berada di kelas.” Kata Soojin, berhasil menebak isi pikiran Jungkook dengan tepat. Jungkook merasakan mukanya memerah dan tidak berani menatap Soojin tepat di matanya.

“Jungkook.”

“Y-ya Noona?”

“Kau menyukai Minra bukan?”

Pensil kayu di tangan Jungkook nyaris patah karena pemuda itu mendadak menggenggamnya dengan kuat. Soojin hanya tersenyum dan mengawasi Jungkook yang mukanya sudah merah padam.

“Kenapa kau tidak mengatakan padanya? Perasaanmu.” Soojin duduk di sebelah Jungkook. Pemuda itu tampaknya kehilangan kemampuan berbicara selama beberapa waktu sebelum akhirnya membalas dengan malu-malu.

“A-aku tidak berani.”

Soojin menjitak pelan kepala Jungkook. “Kau ini laki-laki atau bukan! Cepat nyatakan!”

“Noona mendukungku?” Tanya Jungkook. Soojin tersenyum.

“Tentu saja, aku malah punya rencana untukmu.”

*

Hari sudah sore ketika Minra meninggalkan perpustakaan. Soojin tidak bersamanya karena gadis itu mempunyai janji dengan Dongho. Mau tidak mau sebenarnya Minra merasa sedikit cemburu. Bukan karena ia menyukai Dongho, itu tidak mungkin tentu saja, melainkan karena sahabatnya sudah mempunyai pacar.

Betapa ia membayangkan ia mempunyai pacar. Ia dan Jungkook bisa berjalan bersama di taman sambil bergandengan tangan..

Tunggu.

Muka Minra memerah. Kenapa ia langsung memikirkan Jungkook tanpa sadar? Seraya menghembuskan nafas frustasi, Minra menepuk-nepuk pipinya dengan pelan. Ia memang menyukai Jungkook sejak lama, namun ia tidak tahu apakah pemuda yang lebih muda itu menyukainya juga atau itu hanya perasaannya saja.

 Gadis itu memeluk buku pelajarannya dan berjalan melintasi halaman depan kampus yang jelas sudah sepi. Tampaknya gadis itu melamun karena sebuah suara yang memanggilnya dari tadi tidak ia dengar hingga orang tersebut memanggil ketiga kalinya.

“Minra Noona!”

Minra nyaris menjatuhkan semua bukunya karena kaget. Ia lalu menoleh dan alih-alih melihat Jungkook, yang memanggilnya tadi, ia melihat bunga mawar berwarna merah dan putih tepat di depan matanya.

“J-Jungkook? Kau kah itu?” Tanya Minra, mengecek bahwa yang memanggilnya memang pemuda itu.

“Noona.” Jungkook menjawab dari balik bunga mawar yang jumlahnya tidak sedikit itu. “Noona maukahkaumenjadipacarku?” Kata Jungkook super cepat sehingga Minra tidak bisa menangkap kata-katanya dengan baik.

“A-apa?” Walau Minra tidak bisa mengerti dengan jelas, gadis itu sudah bisa menebak perkataan Jungkook tadi. Muka Minra sudah memerah.’

Jungkook menurunkan buket bunga mawar yang ia pegang tadi sehingga Minra bisa melihat wajah pemuda itu yang merahnya nyaris senada dengan mawar yang ia pegang. “N-noona. Aku mencintaimu.” Kata Jungkook. Minra menahan nafasnya sementara Jungkook meneruskan dengan malu-malu. “Mau kah kau menjadi pacarku?”

Perlu tiga detik (yang terasa lama bagi Jungkook) bagi Minra untuk mencerna perkataan Jungkook. Muka gadis itu menjadi lebih merah daripada mawar dan ia menunduk malu sebelum akhirnya mengangguk.

Jungkook melihat anggukan jelas itu. “B-benarkah? N-Noona mau?”

“Ya, aku mau Jungkook.”

Jungkook memegang buket mawarnya dengan satu tangan sementara tangan lainnya menarik Minra ke dalam pelukannya. Tubuh Jungkook memang lebih besar walaupun ia lebih muda dari pada Minra.

“Terima kasih karena telah menerima ku, Noona.” Bisik Jungkook. Minra hanya bisa mengangguk lagi. Pengakuan cinta dari Jungkook sudah nyaris membuatnya kehabisan nafas, dan sekarang pemuda itu memeluknya, rasanya ia mau pingsan saja.

Ketika Jungkook melepaskan pelukannya, pemuda itu memberikan bunga mawar itu pada Minra dan menggandeng tangan gadis itu.

“Kita pulang?”

Minra tidak percaya, apa yang ia bayangkan beberapa saat yang lalu menjadi kenyataan pada saat ini juga. Ia mengangguk dan berjalan bersama Jungkook ke arah stasiun tempat pertama kali mereka bertemu.

***

Haneul dan Naeun bertukar pandang pasrah. Mereka semua sedang di sibukan dengan acara wisuda senior-senior mereka namun Mark dan Jin tampak seakan-akan tidak bernyawa sama sekali. Haneul bisa mengerti perasaan mereka. Mark menyukai Minra, adik kelas mereka yang akhir-akhir ini baru saja berpacaran dengan pemuda bernama Jeon Jungkook. Sementara Jin menyukai Soojin, gadis yang lama ia sukai namun pada akhirnya jadian dengan Dongho.

“Mark, Jin. Kerjakan tugas kalian.” Kata Haneul. Ia merasa kasihan pada dua pemuda itu namun apa daya, tugas SO menumpuk karena acara wisuda sudah di depan mata. Baik si kembar maupun Jimin lulus tepat pada waktunya. Sikap Jimin pun berubah sedikit demi sedikit. Kelompok preman miliknya juga menjadi lebih baik seiring waktu berlalu.

Walau melelahkan dan jelas membuat pusing, acara wisuda berhasil berjalan dengan lancar. Orang tua dan wali pada senior pun datang, termasuk orang tua si kembar dan ibu dari Jimin. Haneul membungkuk sopan ketika Jimin mengenalkan dirinya pada ibunya. Daehyun memeluk erat kedua anak kembarnya lalu menyapa Soojin dan Jina dengan riang. Berbagai pemandangan serupa terjadi dimana-mana.

“Ada apa?” Kata Haneul. Ia di tarik oleh Jimin ke tempat yang jauh dari kerumunan.

Jimin menggenggam kedua tangan Haneul dan menatap gadis itu. “Aku akan pergi jauh setelah ini. Kecil kemungkinannya kita akan bertemu lagi.”

Haneul mengerutkan keningnya. “Apakah kau bermaksud untuk memutus—“

“Tidak!” Kata Jimin panik. “Tidak aku tidak berniat memutuskanmu. Aku hanya mengatakan..” Pemuda itu terlihat gelisah. “Maukah kau menungguku? Sampai aku kembali? Walau aku tidak tahu sampai kapan.”

Haneul menatap pemuda itu dalam diam sehingga Jimin merasa tidak enak.

“Jika kau tidak mau juga tidak apa-apa. Aku sadar permintaanku sedikit tidak mung—“

“Baiklah.”

Jimin menatap Haneul dengan tidak percaya. Gadis ini berniat menunggunya walau tidak jelas berapa lama? Apakah benar gadis itu akan menunggunya? Berbagai kekhawatiran memenuhi Jimin. Namun setelah melihat tatapan Haneul, pemuda itu menjadi lebih tenang. Jimin lalu merogoh kantongnya dan mengeluarkan sebuah cincin yang sangat sederhana.

“Untukmu. Ini ku beli menggunakan gajiku.” Kata Jimin seraya mengenakannya di jari Haneul. “Tunggulah aku.”

“Tentu saja.” Jawab Haneul.

END

A/N : KILL ME NOW THIS IS THE WEIRDEST ENDING
Please read the Epilog as well ha..hahaha OTL
Anyway,  mohon maaf bila ada kesalahan *bows*

Made by : Liz
Take out with full credits please~ ^^

0 komentar:

Posting Komentar