Disclaimer : BTS and all Kpop artists are not mine.
Jimin will be soon though (lol kidding).
OC belongs to
their rightful owner, while the plot is mine.
Genre : Romance, Friendship, Comedy, Fluff
"You’re My"
Chapter 11 : My Promise
“Jadi kau tidak
akan menari dengan Mark sunbae-nim?”
Minra
mengangguk. Sejak Jungkook mengatakan ‘jangan pergi’ padanya (atau begitu
menurut pendapatnya), gadis itu memutuskan untuk menolak ajakan seniornya
walaupun itu berarti ada kemungkinan ia tidak akan menari sama sekali. Soojin
hanya menatap Minra dengan pandangan tidak percaya sebelum akhirnya
menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Baiklah.
Dongho oppa mengajakku berdansa dari awal. Kau akan baik-baik saja ku tinggal
sendirian kan?”
Minra
tersenyum jahil dan menyenggol tangan Soojin. “Pergi dan berdansalah dengan
pacarmu itu!” Gadis itu tertawa ketika muka Soojin memerah mendengar kata
‘pacar’ yang di katakan Minra tadi.
Festival kampus mereka pun
mencapai hari terakhirnya. Aula dalam kampus sudah di hias sedemikian rupa oleh
para panitia dan sekarang adalah saat-saat yang paling di tunggu semua orang,
pesta dansa. Tanpa terkecuali, semua pasangan berdansa di acara yang meriah
itu.
“Aku tidak bisa berdansa..” Gumam
Jimin saat Haneul menariknya ke tengah ruangan. Haneul mengabaikannya. Gadis
itu sudah berencana membuat semua orang mengubah pandangan mereka terhadap
pacarnya. Dan salah satu bagian dari rencananya adalah memaksa Jimin mengikuti
acara-acara kampus yang selalu di lewatkannya.
Tidak jauh dari Haneul dan Jimin,
Dongho sedang menari dengan Soojin, diiringi dengan beberapa pandangan iri dari
para gadis yang jelas menyimpan perasaan terhadap sang pangeran kampus.
Taehyung juga melakukan hal yang sama dengan saudara kembarnya. Ia menari
dengan lincah sementara Jina berusaha mengikuti langkahnya dengan susah payah.
Minra tidak melihat Jungkook sama
sekali, sementara Mark sudah menari dengan gadis lain walau jelas sekali ia
mencuri-curi pandang ke arah Minra.
“Kau tidak berdansa?”
Minra menoleh dan menatap Jin,
yang menyapanya tadi lalu menggeleng. “Tidak, kau sendiri?”
Jin menoleh ke arah Soojin dan
tampak sedih. “Tidak. Gadis yang ingin ku ajak berdansa sudah memiliki
pasangannya.”
Minra mengikuti arah pandang
pemuda itu dan langsung mengerti maksud dari kata-katanya. Jin menyukai Soojin
sejak lama, namun sekarang gadis itu memiliki pacar. Pemuda itu bahkan belum
sempat menyatakan perasaannya pada Soojin. Minra sendiri entah mengapa dapat
mengerti hal itu. Ia menyukai Jungkook, namun ia tidak yakin perasaan pemuda
yang lebih muda itu kepadanya. Jungkook memintanya untuk tidak menari bersama
Mark, sehingga Minra mau tidak mau mengira Jungkook akan mengajaknya, namun
pemuda itu tidak kelihatan sama sekali.
Ataukah kata-kata itu hanya
pikiran Minra saja? Jeon Jungkook, apa yang sebenarnya kau rasakan? Apakah sama
dengan Minra?
***
“Nona, Tuan Besar memanggil
anda.”
Haneul meletakan kertas-kertas
tugasnya dari SO dan menatap salah satu butler rumahnya yang paling tua.
Akhir-akhir ini ia sibuk dengan acara pemilihan SO yang akan berlangsung
sebentar lagi. Prediksi semua orang ternyata benar, ia dan Mark lah yang
memperebutkan kursi ketua SO. Mark sendiri tampaknya tidak peduli dan hampir
saja mundur dari pemilihan jika tidak di cegah Haneul.
“Ayah memanggilku?” Kata Haneul
dengan bingung. Namun gadis itu tetap bangun dari kursinya dan berjalan
mengikuti butler tua tersebut ke arah ruang kerja ayahnya, Oh Hyunseok. Gadis
itu mengetok pintu dan menunggu ayahnya mengijinkan ia masuk, baru lalu masuk
ke dalam ruangan besar milik ayahnya itu.
Oh Hyunseok berdiri di depan meja
kayu besar yang merupakan meja kerjanya. Tangannya terlipat di belakang
tubuhnya. Ayah dari Haneul ini merupakan pria yang tegas dan cukup galak,
bahkan si kembar takut terhadap pria ini.
Di sebelah Hyunseok berdirilah
Hwang Eunhee, ibu dari Haneul, wanita yang lembut namun bisa tegas bila ia mau.
Hwang Eunhee dan ibu dari Jin adalah kakak beradik, dari situlah Haneul dan Jin
bersaudara.
"Kita perlu bicara,
Haneul." Kata Hyunseok. Mukanya tidak menunjukan ekspresi sama sekali.
Haneul mengernyit. Rasanya ia
tidak melakukan kesalahan apapun. Gadis itu diam saja, menunggu ayahnya
melanjutkan kata-katanya.
"Kabar terdengar mengenai
kau dan seorang pemuda bernama Park Jimin."
Kata-kata ayahnya berikutnya membuat jantung
Haneul terasa berhenti sesaat. Darimana ayahnya mengetahui hal itu? Ia sudah
berusaha sebisa mungkin menyembunyikan hal itu dari keluarganya. Si kembar
tidak mungkin melaporkannya. Walaupun kedua pemuda itu suka iseng dan
mengerjainya, Haneul tahu mereka bukan tipe pelapor. Jin juga tidak mungkin
melakukannya. Siapa?
Melihat Haneul yang terdiam,
Eunhee melanjutkan perkataan suaminya. "Kami mendengar kabar bahwa kau dan
Jimin berpacaran, dan ketika kami mencari tahu tentang pemuda itu.."
"Ia bukan pemuda baik-baik
dan kau harus memutuskan segala hubungan dengannya." Lanjut Hyunseok
dengan tegas. Sesaat keheningan yang tegang menggantung di ruangan itu, sebelum
Haneul akhirnya menghembuskan nafas dalam-dalam.
"Tidak."
Hyunseok mengerutkan keningnya.
"Apa?"
"Tidak, ayah." Ulang Haneul.
"Aku tidak akan memutuskan Jimin ataupun menjauh darinya."
"Tapi Haneul.."
"Ini pilihanku." Lanjut Haneul lagi.
"Jika hanya itu yang kalian ingin bicarakan, aku permisi terlebih
dahulu."
Haneul berjalan keluar ruangan dengan cepat,
tidak mempedulikan suara teriakan ayahnya yang mulai marah. Gadis itu setengah
berlari ke kamar tidurnya lalu mengunci pintunya dari dalam. Jatungnya masih
berdetak dengan cepat. Ini pertama kalinya ia menentang ayahnya. Dan anehnya,
ia tidak menyesali hal itu.
Ayahnya jelas berusaha sekuat
tenaga menjauhkan Haneul dari Jimin. Ia meminta para butler mengantar-jemputnya
ke kampus, membuat Haneul berhenti dari kerja sambilannya dan banyak hal lain.
Jimin sudah bertanya padanya apa yang terjadi sehingga gadis itu berhenti
bekerja, namun sejauh ini Haneul berhasil menghindar dari mengatakan yang
sebenarnya dengan alasan pemilihan ketua SO yang akan berlangsung.
Tapi itu tidak bertahan lama.
Pemilihan ketua SO pun berlalu
dengan kemenangan Haneul. Kali ini yang menjadi alasan Haneul adalah tugasnya
yang menumpuk.
"Kau belum menceritakan
kepadanya?"
Haneul menatap pemuda yang
merupakan bendahara SO sekaligus adalah sepupunya sendiri, Kim Seokjin. Hanya
ada mereka berdua di ruang SO. Mark, wakilnya, dan Son Naeun yang menjadi
sekretaris sedang mengambil berkas-berkas di gudang sekolah.
"Menceritakan apa kepada
siapa?" Tanya Haneul.
"Tentang penolakan ayahmu,
kepada Jimin hyung."
Mendengar jawaban Jin, Haneul
terdiam. "Kau harusnya menceritakannya. Jimin hyung harus tahu mengenai
larangan ayahmu." Lanjut Jin. Namun setelahnya, pemuda itu tidak
mengatakan apapun lagi. Haneul sendiri terdiam dan menatap kertas-kertas di
depannya dengan pandangan kosong hingga Mark dan Naeun kembali dari gudang
sekolah.
Pekerjaan mereka berjalan lancar,
namun tetap memakan waktu yang cukup banyak. Para anggota sudah pulang terlebih
dahulu, dan Haneul, sebagai ketua, adalah orang terakhir yang meninggalkan
ruangan SO sekaligus yang mengunci pintu. Ia dan Mark mempunyai kunci mereka
masing-masing sementara anggota SO yang lain menggunakan kunci dosen yang harus
di kembalikan ke ruangan dosen sebelum jam lima sore.
“Aku lapar.” Gumam Mark yang
berjalan disebelah Haneul itu.
“Maka makanlah.”
“Aku ingin makan bersama Minra.
Hey Haneul kau tahu apak—“ Kata-kata Mark terhenti ketika ia melihat Jimin yang
bersandar di dinding tidak jauh dari tempat mereka. Pemuda itu menepuk punggung
Haneul dengan riang dan mengedip jahil. “Baiklah, sampai nanti ketua!” Dan
pemuda itu pun berjalan pergi ke arah yang lain. Haneul memperhatikan Mark
dengan bingung hingga akhirnya melihat apa penyebabnya.
“Sudah kubilang kau tidak perlu
menungguku hari ini.” Kata Haneul sambil mendekati pacarnya itu. Jimin menoleh
dan menatap Haneul dengan tatapan yang berbeda dari biasanya.
“Tidak apa-apa. Aku juga ingin
membicarakan sesuatu denganmu.” Kata Jimin seraya menegakkan tubuhnya. Haneul
hanya menatap dengan bingung seraya menunggu Jimin melanjutkan kata-katanya.
“Kenapa kau tidak bercerita
padaku?” Pertanyaan Jimin menganggetkan Haneul. Namun kata-kata berikutnya
lebih membuat Haneul terkejut.
“Ayahmu menentang hubungan kita,
kenapa kau tidak bercerita tentang hal itu?”
“Darimana kau—“
“Dari si kembar. Aku tidak
sengaja mendengar percakapan mereka.” Jawab Jimin. Ia tampak sedikit sedih dan kecewa.
“Aku tidak bermaksud
menyembunyikannya. Aku hanya ingin menyelesaikannya sendiri.”
Jimin meraih kedua tangan Haneul dan
menempelkan dahinya ke dahi gadis itu. “Mendapatkan persetujuan ayahmu adalah
tugasku. Jangan khawatirkan hal itu.”
“Apa maksudmu?” Tanya Haneul.
Namun Jimin hanya tersenyum kecil dan mencium bibir Haneul sekilas.
“Rahasia. Tapi tenang saja, aku
akan mengatasinya.” Kata Jimin. “Dengan cara yang benar tentunya.” Lanjutnya
dengan cepat setelah melihat ekspresi pacarnya.
***
Jungkook mengetuk-ngetukan
pensilnya dengan asal ke buku notesnya. Ia tidak bisa berpikir jernih sejak
festival yang lalu. Bayangan apa yang ia katakan pada Minra tetap menghantuinya
dan ia mendapati akhir-akhir ini, tanpa sadar, ia suka mencari sosok gadis itu
dimana saja, kapan saja.
“Jungkook? Kau sedang apa?”
Jungkook menoleh dengan cepat dan
melihat sepupunya, Soojin berdiri di sebelahnya di taman yang cukup sepi siang
itu. Pemuda itu menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari sosok teman sepupunya itu
namun tampaknya Soojin sendiri.
“Jika kau mencari Minra, ia
berada di kelas.” Kata Soojin, berhasil menebak isi pikiran Jungkook dengan
tepat. Jungkook merasakan mukanya memerah dan tidak berani menatap Soojin tepat
di matanya.
“Jungkook.”
“Y-ya Noona?”
“Kau menyukai Minra bukan?”
Pensil kayu di tangan Jungkook
nyaris patah karena pemuda itu mendadak menggenggamnya dengan kuat. Soojin
hanya tersenyum dan mengawasi Jungkook yang mukanya sudah merah padam.
“Kenapa kau tidak mengatakan
padanya? Perasaanmu.” Soojin duduk di sebelah Jungkook. Pemuda itu tampaknya
kehilangan kemampuan berbicara selama beberapa waktu sebelum akhirnya membalas
dengan malu-malu.
“A-aku tidak berani.”
Soojin menjitak pelan kepala
Jungkook. “Kau ini laki-laki atau bukan! Cepat nyatakan!”
“Noona mendukungku?” Tanya
Jungkook. Soojin tersenyum.
“Tentu saja, aku malah punya
rencana untukmu.”
*
Hari sudah sore ketika Minra
meninggalkan perpustakaan. Soojin tidak bersamanya karena gadis itu mempunyai
janji dengan Dongho. Mau tidak mau sebenarnya Minra merasa sedikit cemburu.
Bukan karena ia menyukai Dongho, itu tidak mungkin tentu saja, melainkan karena
sahabatnya sudah mempunyai pacar.
Betapa ia membayangkan ia
mempunyai pacar. Ia dan Jungkook bisa berjalan bersama di taman sambil
bergandengan tangan..
Tunggu.
Muka Minra memerah. Kenapa ia
langsung memikirkan Jungkook tanpa sadar? Seraya menghembuskan nafas frustasi,
Minra menepuk-nepuk pipinya dengan pelan. Ia memang menyukai Jungkook sejak
lama, namun ia tidak tahu apakah pemuda yang lebih muda itu menyukainya juga
atau itu hanya perasaannya saja.
Gadis itu memeluk buku pelajarannya dan berjalan
melintasi halaman depan kampus yang jelas sudah sepi. Tampaknya gadis itu
melamun karena sebuah suara yang memanggilnya dari tadi tidak ia dengar hingga
orang tersebut memanggil ketiga kalinya.
“Minra Noona!”
Minra nyaris menjatuhkan semua
bukunya karena kaget. Ia lalu menoleh dan alih-alih melihat Jungkook, yang
memanggilnya tadi, ia melihat bunga mawar berwarna merah dan putih tepat di
depan matanya.
“J-Jungkook? Kau kah itu?” Tanya
Minra, mengecek bahwa yang memanggilnya memang pemuda itu.
“Noona.” Jungkook menjawab dari
balik bunga mawar yang jumlahnya tidak sedikit itu. “Noona
maukahkaumenjadipacarku?” Kata Jungkook super cepat sehingga Minra tidak bisa
menangkap kata-katanya dengan baik.
“A-apa?” Walau Minra tidak bisa
mengerti dengan jelas, gadis itu sudah bisa menebak perkataan Jungkook tadi.
Muka Minra sudah memerah.’
Jungkook menurunkan buket bunga
mawar yang ia pegang tadi sehingga Minra bisa melihat wajah pemuda itu yang
merahnya nyaris senada dengan mawar yang ia pegang. “N-noona. Aku mencintaimu.”
Kata Jungkook. Minra menahan nafasnya sementara Jungkook meneruskan dengan
malu-malu. “Mau kah kau menjadi pacarku?”
Perlu tiga detik (yang terasa
lama bagi Jungkook) bagi Minra untuk mencerna perkataan Jungkook. Muka gadis
itu menjadi lebih merah daripada mawar dan ia menunduk malu sebelum akhirnya
mengangguk.
Jungkook melihat anggukan jelas
itu. “B-benarkah? N-Noona mau?”
“Ya, aku mau Jungkook.”
Jungkook memegang buket mawarnya
dengan satu tangan sementara tangan lainnya menarik Minra ke dalam pelukannya.
Tubuh Jungkook memang lebih besar walaupun ia lebih muda dari pada Minra.
“Terima kasih karena telah
menerima ku, Noona.” Bisik Jungkook. Minra hanya bisa mengangguk lagi.
Pengakuan cinta dari Jungkook sudah nyaris membuatnya kehabisan nafas, dan
sekarang pemuda itu memeluknya, rasanya ia mau pingsan saja.
Ketika Jungkook melepaskan
pelukannya, pemuda itu memberikan bunga mawar itu pada Minra dan menggandeng
tangan gadis itu.
“Kita pulang?”
Minra tidak percaya, apa yang ia
bayangkan beberapa saat yang lalu menjadi kenyataan pada saat ini juga. Ia
mengangguk dan berjalan bersama Jungkook ke arah stasiun tempat pertama kali
mereka bertemu.
***
Haneul dan Naeun bertukar pandang
pasrah. Mereka semua sedang di sibukan dengan acara wisuda senior-senior mereka
namun Mark dan Jin tampak seakan-akan tidak bernyawa sama sekali. Haneul bisa
mengerti perasaan mereka. Mark menyukai Minra, adik kelas mereka yang
akhir-akhir ini baru saja berpacaran dengan pemuda bernama Jeon Jungkook. Sementara
Jin menyukai Soojin, gadis yang lama ia sukai namun pada akhirnya jadian dengan
Dongho.
“Mark, Jin. Kerjakan tugas
kalian.” Kata Haneul. Ia merasa kasihan pada dua pemuda itu namun apa daya,
tugas SO menumpuk karena acara wisuda sudah di depan mata. Baik si kembar
maupun Jimin lulus tepat pada waktunya. Sikap Jimin pun berubah sedikit demi
sedikit. Kelompok preman miliknya juga menjadi lebih baik seiring waktu
berlalu.
Walau melelahkan dan jelas
membuat pusing, acara wisuda berhasil berjalan dengan lancar. Orang tua dan
wali pada senior pun datang, termasuk orang tua si kembar dan ibu dari Jimin.
Haneul membungkuk sopan ketika Jimin mengenalkan dirinya pada ibunya. Daehyun
memeluk erat kedua anak kembarnya lalu menyapa Soojin dan Jina dengan riang. Berbagai
pemandangan serupa terjadi dimana-mana.
“Ada apa?” Kata Haneul. Ia di
tarik oleh Jimin ke tempat yang jauh dari kerumunan.
Jimin menggenggam kedua tangan
Haneul dan menatap gadis itu. “Aku akan pergi jauh setelah ini. Kecil
kemungkinannya kita akan bertemu lagi.”
Haneul mengerutkan keningnya.
“Apakah kau bermaksud untuk memutus—“
“Tidak!” Kata Jimin panik. “Tidak
aku tidak berniat memutuskanmu. Aku hanya mengatakan..” Pemuda itu terlihat
gelisah. “Maukah kau menungguku? Sampai aku kembali? Walau aku tidak tahu
sampai kapan.”
Haneul menatap pemuda itu dalam
diam sehingga Jimin merasa tidak enak.
“Jika kau tidak mau juga tidak
apa-apa. Aku sadar permintaanku sedikit tidak mung—“
“Baiklah.”
Jimin menatap Haneul dengan tidak
percaya. Gadis ini berniat menunggunya walau tidak jelas berapa lama? Apakah
benar gadis itu akan menunggunya? Berbagai kekhawatiran memenuhi Jimin. Namun
setelah melihat tatapan Haneul, pemuda itu menjadi lebih tenang. Jimin lalu
merogoh kantongnya dan mengeluarkan sebuah cincin yang sangat sederhana.
“Untukmu. Ini ku beli menggunakan
gajiku.” Kata Jimin seraya mengenakannya di jari Haneul. “Tunggulah aku.”
“Tentu saja.” Jawab Haneul.
✪ END ✪
A/N : KILL ME NOW THIS IS THE WEIRDEST ENDING
Please read the Epilog as well
ha..hahaha OTL
Anyway, mohon maaf bila ada kesalahan *bows*
Made by : Liz
Take out with full credits
please~ ^^

0 komentar:
Posting Komentar