Chapter 24 : I Wish That's Just a
Lie
(Setting :
HP 6)
"Hari ini
cukup sampai disini."
Nicole menurunkan tongkatnya dan
berusaha mengatur nafasnya agar kembali normal. Pelatihannya menjadi Auror
sudah dimulai, dan itu bukanlah hal yang mudah. Bulan yang lalu ia diterima
menjadi Auror. Dan itu juga bukan perjuangan yang mudah, mengingat Auror
terakhir yang diterima sebelumnya sekitar 4 tahun yang lalu.
Gawain Robards mendekati Nicole dan
menepuk pundak gadis itu. Auror yang sekaligus merupakan kepala dari departemen
itu adalah penanggung jawab sekaligus pelatih Nicole. Rufus Scrimgeour, ketua
sebelumnya yang sekarang menjadi Menteri Sihir, memastikan Nicole mendapat
pelatih terbaik. Tujuan Scrimgeour sebenarnya untuk mendapatkan dukungan
Dumbledore dengan menempatkan cucunya di posisi terbaik. Nicole dan Dumbledore
mengetahui hal itu, namun ini adalah kesempatan emas. Jadi, kenapa tidak?
"Luar biasa. Kau mungkin bisa
lulus pelatihan dalam waktu yang singkat, Ravensdale." Kata Robards.
Ekspresi puas menghiasi wajahnya.
"Kuharap begitu." Jawab
Nicole. Nafasnya mulai teratur kembali. "Kita tidak bisa membuang waktu
dengan keadaan seperti ini."
Robards mengangguk. "Jujur saja,
aku ingin meluluskanmu saat ini juga. Kau sudah memenuhi standar Auror dan
Kingsley pasti mendukungmu juga."
Nicole diam saja. Ia meragukan
kata-kata Robards. Apakah itu yang sebenarnya, atau hanya kata-kata manis yang
menjebak? Sejak kejadian dengan Umbridge, gadis berambut cokelat ini tidak pernah bisa mempercayai
petugas Kementrian lagi kecuali bila mereka adalah anggota Orde.
"Kau boleh pergi. Kita mulai lagi
besok dengan jam yang sama." Setelah Robards berkata begitu, Nicole
membungkuk pamit dan pergi meninggalkan Kementrian.
Ber-Apparate singkat, Nicole muncul di
salah satu taman di pinggir jalan. Gadis itu menatap sekelilingnya, memastikan
tidak ada muggle, sebelum berjalan keluar dari balik pohon tempat ia muncul
tadi. Kakeknya dan anggota Orde yang lain sudah melarangnya pergi ke tempat
ini, namun ia tidak bisa melakukannya. Ia harus mengunjungi tempat ini.
Gedung yang sudah berumur mendadak
muncul di depannya. Gedung yang dulunya menjadi markas Orde Phoenix, Grimmauld
Place nomor 12.
Setelah melewati beberapa penghalang
yang di pasang oleh Orde, Nicole akhirnya berdiri di depan sebuah pintu kamar
dengan tulisan 'Sirius Black' terpasang di depannya. Tanpa berkata apapun,
gadis itu masuk ke dalam ruangan dan duduk di tepi ranjang tua milik Sirius.
Nicole sudah melakukan hal ini sejak
masa pelatihan Aurornya dimulai. Hanya datang setiap ia mempunyai waktu, dan
duduk disana selama beberapa saat. Biasanya Kreacher selalu mengganggunya,
namun sejak awal minggu ini tampaknya prediksi kakeknya benar. Rumah Sirius di wariskan pada Harry,
otomatis Kreacher menjadi milik Harry juga. Sepertinya Dumbledore dan Harry
telah menyuruh Kreacher bekerja di Hogwarts.
Duduk di tepi
ranjang Sirius, sambil menatap ke sekelilingnya, mau tidak
mau gadis itu selalu teringat percakapan pribadinya yang terakhir dengan
Sirius.
"Kau sebaiknya menepati janji
itu."
***
Elly menatap bingung runtutan kejadian
yang baru saja ia alami. Dumbledore menjemputnya dan Harry dari rumah keluarga
Dursley, menemui calon guru baru Hogwarts lalu mengantar Harry ke rumah
keluarga Weasley. Dan sekarang gadis itu sedang berjalan di samping Dumbledore,
hanya berdua.
Berbeda dengan adiknya, Elly jarang
mengobrol berdua saja dengan sang kepala sekolah. Dan ketika ia mendapatkan
kesempatan itu sekarang, ia bingung apa yang harus di lakukan. Mereka ber-Apparate
dan muncul di Hogsmeade. Elly sendiri telah diterima sebagai nurse di rumah
sakit sekolah, menjadi asisten Madam Pomfrey.
"Profesor, Sir." Kata Elly.
Dumbledore menoleh ke arahnya. "Apakah Harry akan aman di rumah keluarga Weasley?”
Dumbledore
tersenyum dan menepuk pundak Elly dengan lembut. “Tenang saja. Kalian berdua
berada di tempat yang aman.” Elly diam saja mendengar jawaban Dumbledore, walau
ia senang Dumbledore menjawab dengan ‘mereka berdua’ dan bukan Harry saja.
Jujur, ia merasa sedikit ketakutan dengan runtutan kejadian yang bertambah
berbahaya ini.
Dumbledore
mengantar gadis berumur 18 tahun itu sampai ke rumah sakit sekolah, dimana
Madam Pomfrey sudah menunggunya untuk menjelaskan segala sesuatu yang perlu
Elly ketahui.
“Kau membuat
keputusan yang benar dengan memilih bekerja disini.”
Elly
mengalihkan perhatiannya dari kasur rumah sakit yang sedang ia rapihkan dan
menatap Madam Pomfrey dengan pandangan bingung.
“Kurasa
Hogwarts adalah tempat paling aman saat ini. Sejak Kau-Tahu-Siapa kembali,
tidak ada tempat yang aman lagi dimana-mana.”
Elly membalas
perkataan itu dengan senyuman tipis. Ia senang bila dirinya di tempat yang
aman. Adiknya juga akan kembali ke Hogwarts sebentar lagi. Namun bagaimana
dengan teman-temannya? Ia mengkhawatirkan Nicole, Gisselle, Si kembar dan Lee,
sahabat-sahabat terdekatnya.
“Cedric, Tolong lindungi mereka.”
***
“Nona
Scotthill, mulai sekarang kau bertugas di lantai tiga, di bawah bimbingan
Jullisa Torry.”
Gisselle
tersenyum lebar dan membungkuk dalam-dalam sebelum akhirnya pergi menuju lantai
tiga. Hari ini dia resmi menjadi seorang ‘Asisten
Healer’. Sebelumnya dia adalah ‘Trainee’
saja. Memang masih jauh sebelum ia bisa merawat seorang pasien sendiri atau bahkan
mempunyai asisten. Namun ini adalah sebuah permulaan bukan?
Jullisa Torry
adalah seorang wanita berambut ikal yang baik hati. Dengan cepat Gisselle
merasa akrab dengannya dan belajar banyak hal dari wanita itu.
"Gisselle,
kau mendapat surat lagi." Kata Jullisa seraya menunjukan sepucuk surat di
tangannya. Gisselle yang tadinya sedang sibuk membaca catatan-catatan mengenai
pasien-pasien, menoleh menatap healer ternama itu. Sejak kelulusannya, ia memang
sering bertukar surat dengan pacarnya. Siapa lagi jika bukan George Weasley?
Putra dari keluarga Weasley itu membuka toko dengan saudara kembarnya di Diagon
Alley walau Gisselle belum mempunyai waktu untuk mengunjunginya.
“Dari pacarmu
lagi?” Jullisa tersenyum jahil pada Gisselle yang sedang membaca suratnya untuk
yang kedua kalinya. Muka Gisselle memerah dan ia hanya mengangguk singkat.
Jullisa tertawa dan menepuk kepala gadis yang lebih muda itu. “Ah, masa muda.”
Katanya.
“Anda sudah
menikah, Ms. Torry?” Tanya Gisselle dengan sopan walau ia nyaris tidak bisa
menahan rasa penasarannya.
Jullisa
menggeleng, “Belum. Kenapa? Jangan bilang kau dan pacarmu berencana menikah?”
Kata-kata
Jullisa membuat muka Gisselle semakin memerah dan perkataannya menjadi
terbata-bata dan tidak jelas. Jullisa tertawa dan menepuk pundak Gisselle.
“Aku hanya
bercanda, kembalilah pada pekerjaanmu.”
Setelah
berkata begitu, Jullisa meninggalkan Gisselle sendirian. Muka gadis itu masih
merah padam memikirkan kata-kata Jullisa tadi. George memang sudah sering
bercanda mengenai ‘pernikahan’ namun yang benar saja, mereka berdua baru saja
menginjak usia 18 tahun!
Gisselle
menghela nafas. Lagipula, ia ingin sukses menjadi seorang healer terlebih
dahulu. Terutama di saat-saat yang tidak aman ini. Ia ingin menjadi seseorang
yang bisa membantu teman-temannya. Ia tidak pintar dalam pertarungan sehingga
ia tidak bisa membantu banyak di garis depan. Oleh karena itu ia berusaha untuk
membantu perjuangan ini dengan cara yang berbeda. Bila salah satu temannya
sakit atau terluka, ia bisa segera menyembuhkan mereka. Itulah tujuannya
menjadi Healer.
“Oke! Ayo
Gisselle, kamu pasti bisa!” Kata gadis brunette itu pada dirinya sendiri,
menyemangati diri untuk bekerja kembali.
***
“Kau yakin?”
Robards
mengangguk. “Dumbledore mengatakan bahwa kau dan Hagrid saja sudah cukup untuk
menjadi petugas keamanan untuk Harry Potter.” Pria itu tampaknya masih jengkel
dengan keputusan Dumbledore yang menolak sekelompok Auror sebagai petugas
keamanan Harry. Namun ia juga merasa sedikit lega karena dengan banyaknya
kekacauan yang di sebabkan oleh para Pelahap Maut, tenaga kerja para Auror
sangat kurang. Bahkan Nicole yang baru mendapat pelatihan sudah harus terjun ke
lapangan juga. Dan sekarang gadis itu harus melindungi Harry Potter, salah satu
orang terpenting di dunia sihir saat ini.
Mengikuti
perintah atasannya, Nicole menunggu di Leaky Cauldron esok paginya, bersama
Hagrid yang muncul beberapa saat setelah Nicole muncul. Pria berdarah raksasa
itu menjepit Nicole dalam pelukannya saat bertemu gadis itu lagi.
“Ah, itu
mereka. Harry!”
Mendengar
kata-kata Hagrid, Nicole menoleh ke arah yang sama dengannya dan menemukan
Harry, Ron dan Hermione berserta keluarga Weasley berjalan ke arah mereka.
Hagrid memeluk Harry sementara Nicole menyapa yang lain dengan sopan.
“Kau
memecahkan rekor dengan menjadi Auror yang turun ke lapangan tercepat, Nicole.”
Kata Mr. Weasley saat ia menjabat tangan Nicole.
“Terdesak oleh
situasi sebenarnya, Mr. Weasley.” Jawab Nicole.
“Jangan
merendah, sayang.” Timpal Mrs. Weasley. “Mereka tidak akan membiarkanmu turun
ke lapangan jika mereka tidak menganggap kau mampu.”
Nicole hanya
tersenyum saja, tidak mampu membalas perkataan sepasang suami istri Weasley
itu. Obrolan ringan menghiasi perjalanan mereka ke Diagon Alley, dimana
akhirnya rombongan terpecah menjadi dua. Atas desakan Mrs. Weasley, Nicole
menemani Harry, Ron dan Hermione ke Madam
Malkin’s.
“Kau sudah
bertemu kepala sekolah akhir-akhir ini, Nicole?”
Nicole menatap
Harry dengan bingung sekaligus penasaran. “Belum. Memangnya ada apa?” Namun
Harry hanya menggeleng dan mengatakan ‘tidak apa-apa’. Mereka berempat masuk
kedalam toko baju yang sepi itu sementara Hagrid menunggu di luar. Baru saja
mereka masuk, yang pertama mereka lihat adalah Draco Malfoy dan Ibunya.
"Kalau Ibu
bertanya-tanya bau apa ini, baru saja ada Darah-lumpur masuk," kata Malfoy, tampaknya pemuda itu tidak melihat Nicole
yang berdiri diam di dekat pintu, sedikit tersembunyi. Kata-kata Malfoy membuat Harry dan Ron
mengangkat tongkat mereka sebelum Hermione dan Nicole dapat menghentikan
mereka. Malfoy terus mengejek Hermione hingga Harry dan Ron sudah tampak akan
menyihir pemuda berambut pirang pucat itu.
Narcissa Malfoy lalu melangkah dari balik
rak pakaian. "Singkirkan tongkat sihir kalian," katanya dingin kepada
Harry dan Ron. "Jika kalian menyerang anakku lagi, akan kupastikan itu hal
terakhir yang kalian lakukan."
Ancaman itu tentu saja tidak
bisa diterima Nicole. Gadis itu menyeruak kedepan dan berdiri di depan Harry
dan Ron, dengan tongkat siaga. “Apakah itu ancaman, Malfoy?”
Melihat Nicole, Narcissa
sejenak membeku sebelum memasang muka angkuhnya kembali. “Hanya fakta,
Ravensdale.”
"Sungguh?" kata Harry yang maju melewati Nicole dan menatap Narcissa.
"Mau minta rekan-rekan Pelahap Maut untuk menangkap kami, ya?"
"Rupanya menjadi favorit Dumbledore
membuatmu gegabah merasa aman, Harry Potter. Tapi Dumbledore tak akan selalu
ada untuk melindungimu."
Harry memandang ke sekeliling toko dengan gaya
mengejek dan membalas perkataan Narcissa kembali.
Suasana menjadi tidak enak hingga akhirnya Malfoy dan ibunya berjalan keluar
dari toko, mengomel keras-keras mengenai seharusnya mereka pergi ke toko yang
lebih baik.
“Maaf atas kejadian
ini, Madam.” Kata Nicole seraya membantu Madam Malkin memungut jubah yang di
buang Malfoy tadi.
“Oh tidak apa-apa,
Nak. Tidak apa-apa.” Kata wanita itu walau jelas ia masih terguncang dengan
kejadian tidak mengenakan tadi. Setelah membeli jubah untuk Harry, Ron dan
Hermione, rombongan mereka kembali bertemu dengan rombongan Mrs. Weasley dan
bersama, mereka pergi ke toko milik Fred dan George.
Toko si kembar tampak
mencolok di tengah keadaan Diagon Alley yang suram, dan jelas, toko itu jugalah
yang penuh sesak. Nicole menemani yang lain masuk ke dalam toko, dengan siaga
tentunya karena..
“NICOLE!”
….itu.
Si kembar menembus
kerumunan dengan begitu cepat sehingga Nicole ragu mereka tidak menggunakan
sihir. Dengan satu gerakan kecil, gadis itu menghindar dari pelukan maut mereka.
“Tetap kejam seperti
biasanya.” Kata Fred, membuat dirinya mendapat satu jitakan dari Nicole. Namun
mereka bertiga kemudian tersenyum dan tertawa, bagaimana pun juga mereka adalah
sahabat sejak tahun pertama di Hogwarts.
“Tidak ku percaya, kau
yang mengunjungi kami pertama.” Kata George.
Nicole mengernyit
bingung. “Pertama? Elly dan Gisselle belum berkunjung?”
Si kembar menggeleng
bersamaan. “Kami bertukar surat, namun mereka belum sempat berkunjung.” Kata
Fred. “Dan ternyata teman tersibuk kami lah yang berkunjung pertama.”
“Aku juga sedang
bekerja kau tahu.” Nicole menggerakan kepalanya dan melirik sekilas ke arah
Harry. Fred dan George menoleh dan menatap Harry sebelum kembali ke Nicole.
“Yah, apapun
alasannya, senang bertemu denganmu lagi.” Kata Fred seraya merangkul Nicole. “Ayo,
Ms. Auror, kau harus melihat semua barang ciptaan kami!”
***
Bulan demi
bulan berlalu, tanpa sadar Nicole sudah bekerja di kantor Auror selama 4 bulan.
Musim panas berganti musim gugur dan sekarang musim dingin sudah hampir tiba
juga. Kerjaan gadis berambut cokelat tua itu bukannya semakin berkurang, malah
semakin bertambah.
“Nicole!!”
Gadis yang
namanya di panggil itu menoleh dan mendapati dua orang teman sekolahnya
berjalan mendekatinya, Robert Abernathy dan Calvin Cornelius. Nicole tahu bahwa
Robert dan Calvin juga bekerja di kementrian, sama seperti dirinya, namun ini
pertama kalinya mereka bertemu di tempat kerja.
Siang ini
Nicole memang mendapat ijin lebih awal. Ia mempunyai janji dengan kakeknya di
Hogwarts sehingga ia meninggalkan markas lebih awal dari biasanya. Siapa yang
tahu kalau ternyata gadis ini justru bertemu dengan kedua temannya setelah
melewati 4 bulan pelatihan.
“Aku tidak
pernah bertemu denganmu walau kita berada di lantai yang sama.” Kata Robert
ketika ia dan Calvin sudah cukup dekat. “Padahal aku sudah bekerja disini
selama 3 bulan.” Robert bekerja di Departemen Pelaksanaan Hukum Sihir,
kantornya terletak di lantai 2, sama seperti Markas Besar Auror.
“Kau sadar Ms.
Ravensdale memiliki kesibukannya sebagai Auror, Robert?” Kata Calvin seraya
menghembuskan nafas frustasi. Mereka sudah lulus dari sekolah namun tingkah
Robert masih saja sama dengan sejak pertama kali mereka bertemu. Nicole
tersenyum melihat tingkah mereka berdua. Robert dan Calvin bekerja di lantai
yang berbeda dan memiliki kesibukan masing-masing, namun persahabatan mereka
tetap dekat.
“Calvin, sudah
kubilang gunakan nama depanku saja. Tidak perlu sesopan itu.” Kata Nicole.
Calvin hanya tersenyum sopan pada Nicole. Tampaknya pemuda itu belum bisa
meninggalkan sopan-santunnya di depan Nicole, dan rasanya gadis itu bisa
mengetahui apa penyebabnya.
“Ngomong-ngomong,
pelatihanmu hari ini beres dengan cepat.” Kata Robert.
Nicole
menggeleng, “Seharusnya masih lama, namun aku ijin hari ini.”
“Oh, kau ada
perlu?”
“Aku ada janji
bersama kakekku.”
Robert
mengangguk-angguk mendengar perkataan Nicole. “Kalau begitu, ia tidak boleh di
biarkan menunggu! Sampai nanti Nicole!” Kata Robert. Calvin pun membungkuk
sopan sebelum keduanya meninggalkan Nicole sendirian. Kedua pemuda itu telah
bergabung dengan Orde sejak September lalu, yang sangat mengejutkan Nicole,
Elly dan Gisselle.
Nicole menatap
punggung kedua temannya hingga hilang dari pandangan sebelum berjalan ke
perapian untuk ber Apparate ke Hogsmeade. Beberapa pemilik toko di Hogsmeade
menyapanya, termasuk Madam Rosmerta dan Jayce. Sapaan kembali muncul saat ia
muncul di kawasan Hogwarts.
“Senang bisa
kembali juga.” Kata Nicole untuk kesekian kalinya. Ia masih harus
mengulang kata-kata itu hingga akhirnya ia sampai di ruang kepala sekolah,
ruangan kakeknya.
“Nicole.”
Dumbledore berjalan mendekati cucunya dan memeluknya dengan erat. Nicole
sendiri membalas pelukan kakeknya. Gadis ini sangat merindukan sosok yang sudah
menjadi panutannya sejak ia masih kecil. Langit sudah kemerahan ketika
Dumbledore mengajaknya berjalan-jalan di dekat danau yang sepi.
“Bagaimana
pelatihanmu?” Tanya Dumbledore.
“Mengerikan.”
Jawab Nicole, namun ia tersenyum. “Namun sepadan dengan—kakek, tanganmu
kenapa?” Mata Nicole melebar kaget ketika melihat tangan kakeknya. Ia belum
sempat bertemu kakeknya lagi sejak kelulusannya kemaren dan ini pertama kalinya
ia melihat tangan kakeknya yang menjadi hitam dan kisut.
“Ada
gilirannya aku yang bercerita, namun kali ini, aku ingin mendengar ceritamu.”
Kata Dumbledore dengan lembut, namun entah mengapa matanya menyiratkan
kesedihan. Nicole mengurungkan niatnya untuk bertanya lebih jauh dan memutuskan
untuk melakukan apa yang kakeknya inginkan. Ia menceritakan semua kejadian yang
ia alami, bagaimana ia mengikuti test masuk menjadi Auror,
pelatihan-pelatihannya, surat-suratnya dengan Oliver dan semua sahabatnya,
tidak ada yang terlewatkan.
“Dan Oliver
memba—kakek?” Cerita Nicole terhenti ketika ia melihat perubahan ekspresi
kakeknya. Dumbledore terlihat sangat sedih. Entah itu hanya pantulan cahaya
matahari senja atau memang mata kakeknya berkaca-kaca. Nicole tidak pernah
melihat kakeknya sesedih ini.
“Ada yang
salah dengan perkataanku?” Kata Nicole, sedikit panik melihat tingkah kakeknya.
Dumbledore menggeleng dan berhenti berjalan, yang segera di ikuti oleh Nicole.
“Aku senang
kau menjalani harimu dengan senyuman, Nicole.” Kata Dumbledore. “Sekarang
giliranku memberi tahumu sesuatu, tolong dengarkan.” Profesor itu kemudian
mengarahkan tongkatnya dan membuat di sekeliling mereka terdapat suatu
pelindung sehingga tidak ada yang bisa mencuri dengar.
Dan Dumbledore
mulai bercerita, tentang bagaimana mengalahkan Voldemort, tentang Hocrux,
tentang misinya dengan Harry, tentang tugas Harry, dan yang terakhir, tentang
kutukan yang ia derita dan rencananya dengan Snape. Nicole mendengarkan dengan
tenang, walau jelas ia tidak bisa menerima berita yang terakhir.
“A-apa maksud
kakek?” Nicole mengepalkan kedua tangannya. Suaranya bergetar. “Apa maksud
kakek dengan waktu kakek hanya sampai akhir tahun ajaran ini?!”
“Nicole..”
“Tidak!”
Nicole berjalan mundur, menghindari tangan kakeknya. “Ini bohong bukan? K-kakek
adalah penyihir terhebat di abad ini bukan”
Dumbledore
tersenyum sedih. “Bahkan penyihir terhebat pun mempunyai batas mereka
masing-masing.” Kata profesor tua itu. Ia sekali lagi meraih tangan cucunya dan
kali ini Nicole tidak menghindar.
“Jangan
bohong..”
Betapa
inginnya Dumbledore mengatakan bahwa itu hanyalah keusilannya, hanya sebuah
lelucon yang berlebihan. Nicole akan marah tentu, mungkin akan menolak
berbicara dengannya selama beberapa waktu, namun itu tidak seberapa dengan
harus meninggalkan gadis itu selamanya.
Dumbledore
menarik Nicole kepelukannya. Gadis itu tidak menangis, namun badannya bergetar,
jelas sekali ia menahan perasaannya. Tidak ada yang bisa ia lakukan lagi selain
itu. Ia sudah mendidik Nicole dan sekarang gadis itu telah tumbuh menjadi gadis
mandiri, melebihi harapannya sendiri.
“Kau tahu ini
harus di lakukan.” Kata Dumbledore dengan tegas.
Nicole menarik
nafas dan berusaha menahan air matanya. Ia tidak ingin terlihat lemah di depan
kakeknya. Tidak bila ini adalah saat terakhir dengan kakeknya. “A.. Aku
mengerti.”
Dumbledore
tersenyum lembut pada cucunya. “Tinggalah di Hogwarts malam ini.”
Sadar bahwa
mungkin ini adalah saat terakhir ia bisa makan bersama kakeknya, Nicole
mengangguk. Tentu saja ia akan tinggal selama mungkin disisi kakeknya jika ia
bisa, namun ia tahu Dumbledore pasti menginginkan ia kembali berlatih sehingga
bisa membantu perjuangan mereka melawan Voldemort nanti.
***
Gisselle duduk
berdua dengan Elly. Ia mendapat libur Natal dari pekerjaannya dan Elly juga
mendapatkan hal yang sama. Atas undangan si kembar, mereka berdua menghabiskan
Natal mereka di The Burrow. Kedua gadis itu baru saja mendapat surat mereka
dari sahabat mereka yang lain, Nicole Ravensdale.
“Bagaimana?”
Tanya Fred. Ia dan kembarannya berjalan masuk ke ruang keluarga, tempat
Gisselle dan Elly sedang duduk di sofa. Gisselle menggeleng. Undangan ke The
Burrow juga berlaku untuk Nicole, namun gadis itu mengatakan, atau lebih
tepatnya menjelaskan lewat suratnya, bahwa ia ingin menghabiskan Natal di
Hogwarts bersama kakeknya yang merupakan kepala sekolah disana.
“Ada apa
dengan gadis itu sebenarnya?” Kata George. “Gadis itu selalu menolak ajakan
kita!” Lanjutnya setelah mengingat-ingat bahwa Nicole tidak pernah berkunjung ke The
Burrow sekali pun sebelumnya.
“Ia pasti
punya alasannya sendiri.” Kata Elly. Si kembar hanya mengangkat bahu mereka dan
berjalan menuju halaman depan rumah.
“Kalian hendak
kemana?” Tanya Gisselle. Sedikit jengkel dan sedih melihat pacarnya yang hendak
pergi tanpa mengajaknya.
“Ke desa.
Kalian mau ikut?” Fred lah yang menjawab. Gisselle dan Elly berpandangan
sebelum meloncat berdiri dan menyusul kedua pemuda itu. Berempat, mereka
berjalan ke desa yang isinya adalah muggle alias manusia tanpa kemampuan sihir.
Perjalanan di isi canda tawa walau itu tidak membuat mood Gisselle bertambah
baik. Ia dan George sudah beberapa bulan tidak bertemu namun pemuda itu hanya
menunjukan reaksi pada saat pertama mereka bertemu di awal liburan, reaksi yang
kurang lebih sama untuk Elly dan hanya itu saja.
Desa itu penuh
dengan hiasan Natal. Beberapa penduduk mengenali si kembar dan menyapa mereka.
Semua lancar hingga mereka melewati toko kertas. Seorang gadis cantik yang
bekerja di toko itu segera keluar ketika melihat si kembar.
“George!”
Empat kepala
menoleh ke arah sumber suara dan semuanya mempunyai reaksi yang berbeda ketika
melihat siapa yang memanggil tadi. Wajah si kembar dihiasi senyuman, muka datar
Elly dan tentu saja, Gisselle yang merasa heran sekaligus kesal. Terlebih lagi
karena nama yang di panggil tadi adalah nama pacarnya.
“Talia, hey!”
Sapa George.
“Kau ingat
janjimu tentang pertunjukan sulap itu?” Kata Talia, sang gadis cantik tadi.
“Tentu saja!”
Melihat
pacarnya yang dekat dengan gadis lain, mau tidak mau Gisselle sudah tidak bisa
menahan kekesalannya. Gadis brunette itu berbalik dan berjalan pergi tanpa mengatakan
apapun lagi. Tingkahnya itu tentu mengundang pertanyaan dari tiga orang yang
bersamanya, walau Elly sudah bisa menebak apa yang terjadi.
Setelah
berjanji pada Talia akan menunjukan sulap di lain waktu, si kembar mengikuti
Elly untuk mencari Gisselle.
“Kenapa ia
tiba-tiba melakukan hal itu?” Tanya George yang bingung karena sikap pacarnya.
Elly mengerling dengan galak pada George.
“Kau ini idiot
atau benar-benar tidak tahu?” Kata Elly kesal. Melihat George yang tampaknya
benar-benar tidak tahu, ia melanjutkan.
“Ia kesal
karenamu.”
George
mengerjap-ngerjapkan matanya. “Karenaku?”
“Kau
bertingkah biasa saja walau kalian tidak bertemu berbulan-bulan. Dan kau baru
saja bertingkah dekat dengan gadis lain di depannya.” Jelas Elly. Mendadak
gadis itu berhenti berjalan, yang diikuti oleh Fred dan George, dan menunjuk ke
depan.
“Ubah sikapmu
dan minta maaf padanya.” Perintah Elly seraya menunjuk kedepan, dimana Gisselle
sedang berjalan pelan dan tidak menyadari keberadaan mereka bertiga. “Ia
pacarmu bukan?”
Tanpa harus di
suruh dua kali, George berlari ke depan, menghampiri Gisselle.
“Gisselle!”
Gisselle
menoleh, dan ketika melihat siapa yang memanggilnya, gadis itu berusaha
menutupi matanya yang sembab. Namun terlambat, George sudah melihatnya. Pemuda
itu memegang kedua tangan Gisselle dan menatap gadis itu tepat di matanya.
“Maafkan aku.”
Gisselle tidak
sempat mengatakan apa-apa sebagai balasan karena mendadak George memeluknya.
“Aku tidak
sadar kalau aku menyakitimu.” Kata George. “Ku kira kau lebih suka bila aku
bertindak seperti biasa..”
Bisa merasakan
bahwa pacarnya ini bersungguh-sungguh, Gisselle membalas pelukan George dan
mengelus punggung pemuda itu dengan lembut.
“Maafkan aku..”
Kata George sekali lagi, ia melepaskan pelukannya.
Gisselle
tersenyum. “Di maafkan.”
“Aku akan
berubah. Tenang saja.” Pemuda itu menggandeng tangan Gisselle dengan erat.
Gisselle hanya membalas dengan senyuman, namun itu sudah cukup bagi George.
Selama gadis itu tersenyum, ia tahu ia akan baik-baik saja. Selama Gisselle
tersenyum, ia juga akan bisa tersenyum.
“Tapi aku
senang aku melakukan hal itu..”
“A-apa
maksudmu?” Tanya Gisselle, sedikit shock dengan perkataan George barusan.
George
tersenyum jahil. “Aku jadi tahu kau benar-benar mencintaiku. Jika tidak, kau
tidak mungkin cemburu.”
Muka Gisselle
memerah dan ia diam saja. Hal itu membuat George tertawa.
“Kau mau aku
bertingkah seperti Oliver pada Nicole, Tuan Putri? Agar kau tidak cemburu lagi.”
Gisselle
memukul pelan lengan George, “Hentikan!”
George
tertawa. Pemuda itu malah menangkap tangan Gisselle dan mencium telapak tangan
Gisselle, membuat muka Gisselle merah padam.
“Tentu.
Keinginan Tuan Putri adalah perintah bagiku.” Kata George, yang lalu tertawa
melihat reaksi pacarnya. Demi Jenggot Merlin, ia benar-benar mencintai gadis
disebelahnya ini.
***TBC***
A/N : Potongan-potongan aneh
soalnya buku 6 itu memang buku terdatar buat gue, kecuali endingnya tentu saja.
Maaf kalo angstnya kurang ngena~~
Dan, mohon maaf apabila ada
kesalahan *bows*
Original Plot by : Our Queen, JK Rowling
The ‘new’ plot Made
by : Liz
Take out with full credits please~ ^^

0 komentar:
Posting Komentar