Jumat, 06 Februari 2015

Hogwarts' Beloved : Chapter 24



Chapter 24 : I Wish That's Just a Lie
                                                (Setting : HP 6)

"Hari ini cukup sampai disini."

Nicole menurunkan tongkatnya dan berusaha mengatur nafasnya agar kembali normal. Pelatihannya menjadi Auror sudah dimulai, dan itu bukanlah hal yang mudah. Bulan yang lalu ia diterima menjadi Auror. Dan itu juga bukan perjuangan yang mudah, mengingat Auror terakhir yang diterima sebelumnya sekitar 4 tahun yang lalu.

Gawain Robards mendekati Nicole dan menepuk pundak gadis itu. Auror yang sekaligus merupakan kepala dari departemen itu adalah penanggung jawab sekaligus pelatih Nicole. Rufus Scrimgeour, ketua sebelumnya yang sekarang menjadi Menteri Sihir, memastikan Nicole mendapat pelatih terbaik. Tujuan Scrimgeour sebenarnya untuk mendapatkan dukungan Dumbledore dengan menempatkan cucunya di posisi terbaik. Nicole dan Dumbledore mengetahui hal itu, namun ini adalah kesempatan emas. Jadi, kenapa tidak?

"Luar biasa. Kau mungkin bisa lulus pelatihan dalam waktu yang singkat, Ravensdale." Kata Robards. Ekspresi puas menghiasi wajahnya.

"Kuharap begitu." Jawab Nicole. Nafasnya mulai teratur kembali. "Kita tidak bisa membuang waktu dengan keadaan seperti ini."

Robards mengangguk. "Jujur saja, aku ingin meluluskanmu saat ini juga. Kau sudah memenuhi standar Auror dan Kingsley pasti mendukungmu juga."

Nicole diam saja. Ia meragukan kata-kata Robards. Apakah itu yang sebenarnya, atau hanya kata-kata manis yang menjebak? Sejak kejadian dengan Umbridge, gadis berambut cokelat ini tidak pernah bisa mempercayai petugas Kementrian lagi kecuali bila mereka adalah anggota Orde.

"Kau boleh pergi. Kita mulai lagi besok dengan jam yang sama." Setelah Robards berkata begitu, Nicole membungkuk pamit dan pergi meninggalkan Kementrian.

Ber-Apparate singkat, Nicole muncul di salah satu taman di pinggir jalan. Gadis itu menatap sekelilingnya, memastikan tidak ada muggle, sebelum berjalan keluar dari balik pohon tempat ia muncul tadi. Kakeknya dan anggota Orde yang lain sudah melarangnya pergi ke tempat ini, namun ia tidak bisa melakukannya. Ia harus mengunjungi tempat ini.

Gedung yang sudah berumur mendadak muncul di depannya. Gedung yang dulunya menjadi markas Orde Phoenix, Grimmauld Place nomor 12.

Setelah melewati beberapa penghalang yang di pasang oleh Orde, Nicole akhirnya berdiri di depan sebuah pintu kamar dengan tulisan 'Sirius Black' terpasang di depannya. Tanpa berkata apapun, gadis itu masuk ke dalam ruangan dan duduk di tepi ranjang tua milik Sirius.

Nicole sudah melakukan hal ini sejak masa pelatihan Aurornya dimulai. Hanya datang setiap ia mempunyai waktu, dan duduk disana selama beberapa saat. Biasanya Kreacher selalu mengganggunya, namun sejak awal minggu ini tampaknya prediksi kakeknya benar. Rumah Sirius di wariskan pada Harry, otomatis Kreacher menjadi milik Harry juga. Sepertinya Dumbledore dan Harry telah menyuruh Kreacher bekerja di Hogwarts.

Duduk di tepi ranjang Sirius, sambil menatap ke sekelilingnya, mau tidak mau gadis itu selalu teringat percakapan pribadinya yang terakhir dengan Sirius.

"Kau sebaiknya menepati janji itu."

***

Elly menatap bingung runtutan kejadian yang baru saja ia alami. Dumbledore menjemputnya dan Harry dari rumah keluarga Dursley, menemui calon guru baru Hogwarts lalu mengantar Harry ke rumah keluarga Weasley. Dan sekarang gadis itu sedang berjalan di samping Dumbledore, hanya berdua.

Berbeda dengan adiknya, Elly jarang mengobrol berdua saja dengan sang kepala sekolah. Dan ketika ia mendapatkan kesempatan itu sekarang, ia bingung apa yang harus di lakukan. Mereka ber-Apparate dan muncul di Hogsmeade. Elly sendiri telah diterima sebagai nurse di rumah sakit sekolah, menjadi asisten Madam Pomfrey.

"Profesor, Sir." Kata Elly. Dumbledore menoleh ke arahnya. "Apakah Harry akan aman di rumah keluarga Weasley?”

Dumbledore tersenyum dan menepuk pundak Elly dengan lembut. “Tenang saja. Kalian berdua berada di tempat yang aman.” Elly diam saja mendengar jawaban Dumbledore, walau ia senang Dumbledore menjawab dengan ‘mereka berdua’ dan bukan Harry saja. Jujur, ia merasa sedikit ketakutan dengan runtutan kejadian yang bertambah berbahaya ini.

Dumbledore mengantar gadis berumur 18 tahun itu sampai ke rumah sakit sekolah, dimana Madam Pomfrey sudah menunggunya untuk menjelaskan segala sesuatu yang perlu Elly ketahui.

“Kau membuat keputusan yang benar dengan memilih bekerja disini.”

Elly mengalihkan perhatiannya dari kasur rumah sakit yang sedang ia rapihkan dan menatap Madam Pomfrey dengan pandangan bingung.

“Kurasa Hogwarts adalah tempat paling aman saat ini. Sejak Kau-Tahu-Siapa kembali, tidak ada tempat yang aman lagi dimana-mana.”

Elly membalas perkataan itu dengan senyuman tipis. Ia senang bila dirinya di tempat yang aman. Adiknya juga akan kembali ke Hogwarts sebentar lagi. Namun bagaimana dengan teman-temannya? Ia mengkhawatirkan Nicole, Gisselle, Si kembar dan Lee, sahabat-sahabat terdekatnya.

“Cedric, Tolong lindungi mereka.”

***

“Nona Scotthill, mulai sekarang kau bertugas di lantai tiga, di bawah bimbingan Jullisa Torry.”

Gisselle tersenyum lebar dan membungkuk dalam-dalam sebelum akhirnya pergi menuju lantai tiga. Hari ini dia resmi menjadi seorang Asisten Healer’. Sebelumnya dia adalah Trainee’ saja. Memang masih jauh sebelum ia bisa merawat seorang pasien sendiri atau bahkan mempunyai asisten. Namun ini adalah sebuah permulaan bukan?

Jullisa Torry adalah seorang wanita berambut ikal yang baik hati. Dengan cepat Gisselle merasa akrab dengannya dan belajar banyak hal dari wanita itu.

"Gisselle, kau mendapat surat lagi." Kata Jullisa seraya menunjukan sepucuk surat di tangannya. Gisselle yang tadinya sedang sibuk membaca catatan-catatan mengenai pasien-pasien, menoleh menatap healer ternama itu. Sejak kelulusannya, ia memang sering bertukar surat dengan pacarnya. Siapa lagi jika bukan George Weasley? Putra dari keluarga Weasley itu membuka toko dengan saudara kembarnya di Diagon Alley walau Gisselle belum mempunyai waktu untuk mengunjunginya.

“Dari pacarmu lagi?” Jullisa tersenyum jahil pada Gisselle yang sedang membaca suratnya untuk yang kedua kalinya. Muka Gisselle memerah dan ia hanya mengangguk singkat. Jullisa tertawa dan menepuk kepala gadis yang lebih muda itu. “Ah, masa muda.” Katanya.

“Anda sudah menikah, Ms. Torry?” Tanya Gisselle dengan sopan walau ia nyaris tidak bisa menahan rasa penasarannya.

Jullisa menggeleng, “Belum. Kenapa? Jangan bilang kau dan pacarmu berencana menikah?”

Kata-kata Jullisa membuat muka Gisselle semakin memerah dan perkataannya menjadi terbata-bata dan tidak jelas. Jullisa tertawa dan menepuk pundak Gisselle.

“Aku hanya bercanda, kembalilah pada pekerjaanmu.”

Setelah berkata begitu, Jullisa meninggalkan Gisselle sendirian. Muka gadis itu masih merah padam memikirkan kata-kata Jullisa tadi. George memang sudah sering bercanda mengenai ‘pernikahan’ namun yang benar saja, mereka berdua baru saja menginjak usia 18 tahun!

Gisselle menghela nafas. Lagipula, ia ingin sukses menjadi seorang healer terlebih dahulu. Terutama di saat-saat yang tidak aman ini. Ia ingin menjadi seseorang yang bisa membantu teman-temannya. Ia tidak pintar dalam pertarungan sehingga ia tidak bisa membantu banyak di garis depan. Oleh karena itu ia berusaha untuk membantu perjuangan ini dengan cara yang berbeda. Bila salah satu temannya sakit atau terluka, ia bisa segera menyembuhkan mereka. Itulah tujuannya menjadi Healer.

“Oke! Ayo Gisselle, kamu pasti bisa!” Kata gadis brunette itu pada dirinya sendiri, menyemangati diri untuk bekerja kembali.

***

“Kau yakin?”

Robards mengangguk. “Dumbledore mengatakan bahwa kau dan Hagrid saja sudah cukup untuk menjadi petugas keamanan untuk Harry Potter.” Pria itu tampaknya masih jengkel dengan keputusan Dumbledore yang menolak sekelompok Auror sebagai petugas keamanan Harry. Namun ia juga merasa sedikit lega karena dengan banyaknya kekacauan yang di sebabkan oleh para Pelahap Maut, tenaga kerja para Auror sangat kurang. Bahkan Nicole yang baru mendapat pelatihan sudah harus terjun ke lapangan juga. Dan sekarang gadis itu harus melindungi Harry Potter, salah satu orang terpenting di dunia sihir saat ini.

Mengikuti perintah atasannya, Nicole menunggu di Leaky Cauldron esok paginya, bersama Hagrid yang muncul beberapa saat setelah Nicole muncul. Pria berdarah raksasa itu menjepit Nicole dalam pelukannya saat bertemu gadis itu lagi.

“Ah, itu mereka. Harry!”

Mendengar kata-kata Hagrid, Nicole menoleh ke arah yang sama dengannya dan menemukan Harry, Ron dan Hermione berserta keluarga Weasley berjalan ke arah mereka. Hagrid memeluk Harry sementara Nicole menyapa yang lain dengan sopan.

“Kau memecahkan rekor dengan menjadi Auror yang turun ke lapangan tercepat, Nicole.” Kata Mr. Weasley saat ia menjabat tangan Nicole.

“Terdesak oleh situasi sebenarnya, Mr. Weasley.” Jawab Nicole.

“Jangan merendah, sayang.” Timpal Mrs. Weasley. “Mereka tidak akan membiarkanmu turun ke lapangan jika mereka tidak menganggap kau mampu.”

Nicole hanya tersenyum saja, tidak mampu membalas perkataan sepasang suami istri Weasley itu. Obrolan ringan menghiasi perjalanan mereka ke Diagon Alley, dimana akhirnya rombongan terpecah menjadi dua. Atas desakan Mrs. Weasley, Nicole menemani Harry, Ron dan Hermione ke Madam Malkin’s.

“Kau sudah bertemu kepala sekolah akhir-akhir ini, Nicole?”

Nicole menatap Harry dengan bingung sekaligus penasaran. “Belum. Memangnya ada apa?” Namun Harry hanya menggeleng dan mengatakan ‘tidak apa-apa’. Mereka berempat masuk kedalam toko baju yang sepi itu sementara Hagrid menunggu di luar. Baru saja mereka masuk, yang pertama mereka lihat adalah Draco Malfoy dan Ibunya.

"Kalau Ibu bertanya-tanya bau apa ini, baru saja ada Darah-lumpur masuk," kata Malfoy, tampaknya pemuda itu tidak melihat Nicole yang berdiri diam di dekat pintu, sedikit tersembunyi.  Kata-kata Malfoy membuat Harry dan Ron mengangkat tongkat mereka sebelum Hermione dan Nicole dapat menghentikan mereka. Malfoy terus mengejek Hermione hingga Harry dan Ron sudah tampak akan menyihir pemuda berambut pirang pucat itu.

Narcissa Malfoy lalu melangkah dari balik rak pakaian. "Singkirkan tongkat sihir kalian," katanya dingin kepada Harry dan Ron. "Jika kalian menyerang anakku lagi, akan kupastikan itu hal terakhir yang kalian lakukan."

Ancaman itu tentu saja tidak bisa diterima Nicole. Gadis itu menyeruak kedepan dan berdiri di depan Harry dan Ron, dengan tongkat siaga. “Apakah itu ancaman, Malfoy?”

Melihat Nicole, Narcissa sejenak membeku sebelum memasang muka angkuhnya kembali. “Hanya fakta, Ravensdale.”

"Sungguh?" kata Harry yang maju melewati Nicole dan menatap Narcissa. "Mau minta rekan-rekan Pelahap Maut untuk menangkap kami, ya?"

"Rupanya menjadi favorit Dumbledore membuatmu gegabah merasa aman, Harry Potter. Tapi Dumbledore tak akan selalu ada untuk melindungimu."

Harry memandang ke sekeliling toko dengan gaya mengejek dan membalas perkataan Narcissa kembali. Suasana menjadi tidak enak hingga akhirnya Malfoy dan ibunya berjalan keluar dari toko, mengomel keras-keras mengenai seharusnya mereka pergi ke toko yang lebih baik.

“Maaf atas kejadian ini, Madam.” Kata Nicole seraya membantu Madam Malkin memungut jubah yang di buang Malfoy tadi.

“Oh tidak apa-apa, Nak. Tidak apa-apa.” Kata wanita itu walau jelas ia masih terguncang dengan kejadian tidak mengenakan tadi. Setelah membeli jubah untuk Harry, Ron dan Hermione, rombongan mereka kembali bertemu dengan rombongan Mrs. Weasley dan bersama, mereka pergi ke toko milik Fred dan George.

Toko si kembar tampak mencolok di tengah keadaan Diagon Alley yang suram, dan jelas, toko itu jugalah yang penuh sesak. Nicole menemani yang lain masuk ke dalam toko, dengan siaga tentunya karena..

“NICOLE!”

….itu.

Si kembar menembus kerumunan dengan begitu cepat sehingga Nicole ragu mereka tidak menggunakan sihir. Dengan satu gerakan kecil, gadis itu menghindar dari pelukan maut mereka.

“Tetap kejam seperti biasanya.” Kata Fred, membuat dirinya mendapat satu jitakan dari Nicole. Namun mereka bertiga kemudian tersenyum dan tertawa, bagaimana pun juga mereka adalah sahabat sejak tahun pertama di Hogwarts.

“Tidak ku percaya, kau yang mengunjungi kami pertama.” Kata George.

Nicole mengernyit bingung. “Pertama? Elly dan Gisselle belum berkunjung?”

Si kembar menggeleng bersamaan. “Kami bertukar surat, namun mereka belum sempat berkunjung.” Kata Fred. “Dan ternyata teman tersibuk kami lah yang berkunjung pertama.”

“Aku juga sedang bekerja kau tahu.” Nicole menggerakan kepalanya dan melirik sekilas ke arah Harry. Fred dan George menoleh dan menatap Harry sebelum kembali ke Nicole.

“Yah, apapun alasannya, senang bertemu denganmu lagi.” Kata Fred seraya merangkul Nicole. “Ayo, Ms. Auror, kau harus melihat semua barang ciptaan kami!”

***

Bulan demi bulan berlalu, tanpa sadar Nicole sudah bekerja di kantor Auror selama 4 bulan. Musim panas berganti musim gugur dan sekarang musim dingin sudah hampir tiba juga. Kerjaan gadis berambut cokelat tua itu bukannya semakin berkurang, malah semakin bertambah.

“Nicole!!”

Gadis yang namanya di panggil itu menoleh dan mendapati dua orang teman sekolahnya berjalan mendekatinya, Robert Abernathy dan Calvin Cornelius. Nicole tahu bahwa Robert dan Calvin juga bekerja di kementrian, sama seperti dirinya, namun ini pertama kalinya mereka bertemu di tempat kerja.

Siang ini Nicole memang mendapat ijin lebih awal. Ia mempunyai janji dengan kakeknya di Hogwarts sehingga ia meninggalkan markas lebih awal dari biasanya. Siapa yang tahu kalau ternyata gadis ini justru bertemu dengan kedua temannya setelah melewati 4 bulan pelatihan.

“Aku tidak pernah bertemu denganmu walau kita berada di lantai yang sama.” Kata Robert ketika ia dan Calvin sudah cukup dekat. “Padahal aku sudah bekerja disini selama 3 bulan.” Robert bekerja di Departemen Pelaksanaan Hukum Sihir, kantornya terletak di lantai 2, sama seperti Markas Besar Auror.

“Kau sadar Ms. Ravensdale memiliki kesibukannya sebagai Auror, Robert?” Kata Calvin seraya menghembuskan nafas frustasi. Mereka sudah lulus dari sekolah namun tingkah Robert masih saja sama dengan sejak pertama kali mereka bertemu. Nicole tersenyum melihat tingkah mereka berdua. Robert dan Calvin bekerja di lantai yang berbeda dan memiliki kesibukan masing-masing, namun persahabatan mereka tetap dekat.

“Calvin, sudah kubilang gunakan nama depanku saja. Tidak perlu sesopan itu.” Kata Nicole. Calvin hanya tersenyum sopan pada Nicole. Tampaknya pemuda itu belum bisa meninggalkan sopan-santunnya di depan Nicole, dan rasanya gadis itu bisa mengetahui apa penyebabnya.

“Ngomong-ngomong, pelatihanmu hari ini beres dengan cepat.” Kata Robert.

Nicole menggeleng, “Seharusnya masih lama, namun aku ijin hari ini.”

“Oh, kau ada perlu?”

“Aku ada janji bersama kakekku.”

Robert mengangguk-angguk mendengar perkataan Nicole. “Kalau begitu, ia tidak boleh di biarkan menunggu! Sampai nanti Nicole!” Kata Robert. Calvin pun membungkuk sopan sebelum keduanya meninggalkan Nicole sendirian. Kedua pemuda itu telah bergabung dengan Orde sejak September lalu, yang sangat mengejutkan Nicole, Elly dan Gisselle.

Nicole menatap punggung kedua temannya hingga hilang dari pandangan sebelum berjalan ke perapian untuk ber Apparate ke Hogsmeade. Beberapa pemilik toko di Hogsmeade menyapanya, termasuk Madam Rosmerta dan Jayce. Sapaan kembali muncul saat ia muncul di kawasan Hogwarts.

“Senang bisa kembali juga.” Kata Nicole untuk kesekian kalinya. Ia masih harus mengulang kata-kata itu hingga akhirnya ia sampai di ruang kepala sekolah, ruangan kakeknya.

“Nicole.” Dumbledore berjalan mendekati cucunya dan memeluknya dengan erat. Nicole sendiri membalas pelukan kakeknya. Gadis ini sangat merindukan sosok yang sudah menjadi panutannya sejak ia masih kecil. Langit sudah kemerahan ketika Dumbledore mengajaknya berjalan-jalan di dekat danau yang sepi.

“Bagaimana pelatihanmu?” Tanya Dumbledore.

“Mengerikan.” Jawab Nicole, namun ia tersenyum. “Namun sepadan dengan—kakek, tanganmu kenapa?” Mata Nicole melebar kaget ketika melihat tangan kakeknya. Ia belum sempat bertemu kakeknya lagi sejak kelulusannya kemaren dan ini pertama kalinya ia melihat tangan kakeknya yang menjadi hitam dan kisut.

“Ada gilirannya aku yang bercerita, namun kali ini, aku ingin mendengar ceritamu.” Kata Dumbledore dengan lembut, namun entah mengapa matanya menyiratkan kesedihan. Nicole mengurungkan niatnya untuk bertanya lebih jauh dan memutuskan untuk melakukan apa yang kakeknya inginkan. Ia menceritakan semua kejadian yang ia alami, bagaimana ia mengikuti test masuk menjadi Auror, pelatihan-pelatihannya, surat-suratnya dengan Oliver dan semua sahabatnya, tidak ada yang terlewatkan.

“Dan Oliver memba—kakek?” Cerita Nicole terhenti ketika ia melihat perubahan ekspresi kakeknya. Dumbledore terlihat sangat sedih. Entah itu hanya pantulan cahaya matahari senja atau memang mata kakeknya berkaca-kaca. Nicole tidak pernah melihat kakeknya sesedih ini.

“Ada yang salah dengan perkataanku?” Kata Nicole, sedikit panik melihat tingkah kakeknya. Dumbledore menggeleng dan berhenti berjalan, yang segera di ikuti oleh Nicole.

“Aku senang kau menjalani harimu dengan senyuman, Nicole.” Kata Dumbledore. “Sekarang giliranku memberi tahumu sesuatu, tolong dengarkan.” Profesor itu kemudian mengarahkan tongkatnya dan membuat di sekeliling mereka terdapat suatu pelindung sehingga tidak ada yang bisa mencuri dengar.

Dan Dumbledore mulai bercerita, tentang bagaimana mengalahkan Voldemort, tentang Hocrux, tentang misinya dengan Harry, tentang tugas Harry, dan yang terakhir, tentang kutukan yang ia derita dan rencananya dengan Snape. Nicole mendengarkan dengan tenang, walau jelas ia tidak bisa menerima berita yang terakhir.

“A-apa maksud kakek?” Nicole mengepalkan kedua tangannya. Suaranya bergetar. “Apa maksud kakek dengan waktu kakek hanya sampai akhir tahun ajaran ini?!”

“Nicole..”

“Tidak!” Nicole berjalan mundur, menghindari tangan kakeknya. “Ini bohong bukan? K-kakek adalah penyihir terhebat di abad ini bukan”

Dumbledore tersenyum sedih. “Bahkan penyihir terhebat pun mempunyai batas mereka masing-masing.” Kata profesor tua itu. Ia sekali lagi meraih tangan cucunya dan kali ini Nicole tidak menghindar.

“Jangan bohong..”

Betapa inginnya Dumbledore mengatakan bahwa itu hanyalah keusilannya, hanya sebuah lelucon yang berlebihan. Nicole akan marah tentu, mungkin akan menolak berbicara dengannya selama beberapa waktu, namun itu tidak seberapa dengan harus meninggalkan gadis itu selamanya.

Dumbledore menarik Nicole kepelukannya. Gadis itu tidak menangis, namun badannya bergetar, jelas sekali ia menahan perasaannya. Tidak ada yang bisa ia lakukan lagi selain itu. Ia sudah mendidik Nicole dan sekarang gadis itu telah tumbuh menjadi gadis mandiri, melebihi harapannya sendiri.

“Kau tahu ini harus di lakukan.” Kata Dumbledore dengan tegas.

Nicole menarik nafas dan berusaha menahan air matanya. Ia tidak ingin terlihat lemah di depan kakeknya. Tidak bila ini adalah saat terakhir dengan kakeknya. “A.. Aku mengerti.”

Dumbledore tersenyum lembut pada cucunya. “Tinggalah di Hogwarts malam ini.”

Sadar bahwa mungkin ini adalah saat terakhir ia bisa makan bersama kakeknya, Nicole mengangguk. Tentu saja ia akan tinggal selama mungkin disisi kakeknya jika ia bisa, namun ia tahu Dumbledore pasti menginginkan ia kembali berlatih sehingga bisa membantu perjuangan mereka melawan Voldemort nanti.

***

Gisselle duduk berdua dengan Elly. Ia mendapat libur Natal dari pekerjaannya dan Elly juga mendapatkan hal yang sama. Atas undangan si kembar, mereka berdua menghabiskan Natal mereka di The Burrow. Kedua gadis itu baru saja mendapat surat mereka dari sahabat mereka yang lain, Nicole Ravensdale.

“Bagaimana?” Tanya Fred. Ia dan kembarannya berjalan masuk ke ruang keluarga, tempat Gisselle dan Elly sedang duduk di sofa. Gisselle menggeleng. Undangan ke The Burrow juga berlaku untuk Nicole, namun gadis itu mengatakan, atau lebih tepatnya menjelaskan lewat suratnya, bahwa ia ingin menghabiskan Natal di Hogwarts bersama kakeknya yang merupakan kepala sekolah disana.

“Ada apa dengan gadis itu sebenarnya?” Kata George. “Gadis itu selalu menolak ajakan kita!” Lanjutnya setelah mengingat-ingat bahwa Nicole tidak pernah berkunjung ke The Burrow sekali pun sebelumnya.

“Ia pasti punya alasannya sendiri.” Kata Elly. Si kembar hanya mengangkat bahu mereka dan berjalan menuju halaman depan rumah.

“Kalian hendak kemana?” Tanya Gisselle. Sedikit jengkel dan sedih melihat pacarnya yang hendak pergi tanpa mengajaknya.

“Ke desa. Kalian mau ikut?” Fred lah yang menjawab. Gisselle dan Elly berpandangan sebelum meloncat berdiri dan menyusul kedua pemuda itu. Berempat, mereka berjalan ke desa yang isinya adalah muggle alias manusia tanpa kemampuan sihir. Perjalanan di isi canda tawa walau itu tidak membuat mood Gisselle bertambah baik. Ia dan George sudah beberapa bulan tidak bertemu namun pemuda itu hanya menunjukan reaksi pada saat pertama mereka bertemu di awal liburan, reaksi yang kurang lebih sama untuk Elly dan hanya itu saja.

Desa itu penuh dengan hiasan Natal. Beberapa penduduk mengenali si kembar dan menyapa mereka. Semua lancar hingga mereka melewati toko kertas. Seorang gadis cantik yang bekerja di toko itu segera keluar ketika melihat si kembar.

“George!”

Empat kepala menoleh ke arah sumber suara dan semuanya mempunyai reaksi yang berbeda ketika melihat siapa yang memanggil tadi. Wajah si kembar dihiasi senyuman, muka datar Elly dan tentu saja, Gisselle yang merasa heran sekaligus kesal. Terlebih lagi karena nama yang di panggil tadi adalah nama pacarnya.

“Talia, hey!” Sapa George.

“Kau ingat janjimu tentang pertunjukan sulap itu?” Kata Talia, sang gadis cantik tadi.

“Tentu saja!”

Melihat pacarnya yang dekat dengan gadis lain, mau tidak mau Gisselle sudah tidak bisa menahan kekesalannya. Gadis brunette itu berbalik dan berjalan pergi tanpa mengatakan apapun lagi. Tingkahnya itu tentu mengundang pertanyaan dari tiga orang yang bersamanya, walau Elly sudah bisa menebak apa yang terjadi.

Setelah berjanji pada Talia akan menunjukan sulap di lain waktu, si kembar mengikuti Elly untuk mencari Gisselle.

“Kenapa ia tiba-tiba melakukan hal itu?” Tanya George yang bingung karena sikap pacarnya. Elly mengerling dengan galak pada George.

“Kau ini idiot atau benar-benar tidak tahu?” Kata Elly kesal. Melihat George yang tampaknya benar-benar tidak tahu, ia melanjutkan.

“Ia kesal karenamu.”

George mengerjap-ngerjapkan matanya. “Karenaku?”

“Kau bertingkah biasa saja walau kalian tidak bertemu berbulan-bulan. Dan kau baru saja bertingkah dekat dengan gadis lain di depannya.” Jelas Elly. Mendadak gadis itu berhenti berjalan, yang diikuti oleh Fred dan George, dan menunjuk ke depan.

“Ubah sikapmu dan minta maaf padanya.” Perintah Elly seraya menunjuk kedepan, dimana Gisselle sedang berjalan pelan dan tidak menyadari keberadaan mereka bertiga. “Ia pacarmu bukan?”

Tanpa harus di suruh dua kali, George berlari ke depan, menghampiri Gisselle.

“Gisselle!”

Gisselle menoleh, dan ketika melihat siapa yang memanggilnya, gadis itu berusaha menutupi matanya yang sembab. Namun terlambat, George sudah melihatnya. Pemuda itu memegang kedua tangan Gisselle dan menatap gadis itu tepat di matanya.

“Maafkan aku.”

Gisselle tidak sempat mengatakan apa-apa sebagai balasan karena mendadak George memeluknya.

“Aku tidak sadar kalau aku menyakitimu.” Kata George. “Ku kira kau lebih suka bila aku bertindak seperti biasa..”

Bisa merasakan bahwa pacarnya ini bersungguh-sungguh, Gisselle membalas pelukan George dan mengelus punggung pemuda itu dengan lembut.

“Maafkan aku..” Kata George sekali lagi, ia melepaskan pelukannya.

Gisselle tersenyum. “Di maafkan.”

“Aku akan berubah. Tenang saja.” Pemuda itu menggandeng tangan Gisselle dengan erat. Gisselle hanya membalas dengan senyuman, namun itu sudah cukup bagi George. Selama gadis itu tersenyum, ia tahu ia akan baik-baik saja. Selama Gisselle tersenyum, ia juga akan bisa tersenyum.

“Tapi aku senang aku melakukan hal itu..”

“A-apa maksudmu?” Tanya Gisselle, sedikit shock dengan perkataan George barusan.

George tersenyum jahil. “Aku jadi tahu kau benar-benar mencintaiku. Jika tidak, kau tidak mungkin cemburu.”

Muka Gisselle memerah dan ia diam saja. Hal itu membuat George tertawa.

“Kau mau aku bertingkah seperti Oliver pada Nicole, Tuan Putri? Agar kau tidak cemburu lagi.”

Gisselle memukul pelan lengan George, “Hentikan!”

George tertawa. Pemuda itu malah menangkap tangan Gisselle dan mencium telapak tangan Gisselle, membuat muka Gisselle merah padam.

“Tentu. Keinginan Tuan Putri adalah perintah bagiku.” Kata George, yang lalu tertawa melihat reaksi pacarnya. Demi Jenggot Merlin, ia benar-benar mencintai gadis disebelahnya ini.

***TBC***

A/N : Potongan-potongan aneh soalnya buku 6 itu memang buku terdatar buat gue, kecuali endingnya tentu saja.
Maaf kalo angstnya kurang ngena~~
Dan, mohon maaf apabila ada kesalahan *bows*

Original Plot by : Our Queen, JK Rowling
The ‘new’ plot Made by : Liz
Take out with full credits please~ ^^

0 komentar:

Posting Komentar